AKUNTANSI SUMBER DAYA MANUSIA PADA INDUSTRI
SEPAK BOLA
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA AKUNTANSI
DEPARTEMEN AKUNTANSI PROGRAM STUDI AKUNTANSI
DIAJUKAN OLEH
MOCH. FAHRIZAL ANANI
NIM: 041013170
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT penulis panjatkan karena hanya dengan berkah, rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Akuntansi Sumber Daya Manusia pada Industri Sepak Bola”.
Skripsi ini disusun dalam upaya memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Sarjana Strata-1. Semoga dengan terselesaikannya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dan juga pihak-pihak yang berkepentingan serta dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu akuntansi.
Proses penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, serta kerja sama banyak pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung selama penulisan skripsi. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. H. Muslich Anshori, SE., Msc., Ak., selaku Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
2. Dr. Ardianto, SE, M.Si., Ak., CA., selaku Dosen Pembimbing yang telah
bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, nasihat, petunjuk serta arahan baik sejak awal penulisan hingga penyelesaian skripsi ini.
3. Drs. Agus Widodo Mardijuwono, M.,Si., Ak., CMA., selaku Ketua Program
4. Novrys Suhardianto, S.E., Ak., selaku Dosen Wali yang mendukung penulis selama menjalankan studi di Universitas Airlangga.
5. Seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga, yang telah memberikan bantuan dan bimbingan selama penulis menimba ilmu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.
6. Kedua orang tua penulis, Ayah Sandiko, M.Pd., dan Ibu Riyani atas segala
kasih sayang, perhatian, pengertian, bantuan, semangat, dukungan dan doa yang tiada henti selama ini.
7. Adik penulis, Akhmad Haydar Alfarizqi, juga seluruh saudara penulis, atas
doa dan dukungan serta hiburan yang telah diberikan.
8. Sahabat dekat, teman curhat dan teman hidup, Dewi Agustina, atas doa,
bantuan pikiran dan tenaga serta dukungan moril kepada penulis.
9. Sahabat-sahabat penulis sejak di SMPN 26 Surabaya: Adit, Edgar, Nurdin,
10. Kerabat dan teman-teman penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam kesempatan ini.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan yang tidak disengaja. Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bermanfaat dari pembaca, sehingga penulisan karya ilmiah ini menjadi bermanfaat bagi kita semua.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan akuntansi terhadap pemain sepak bola sebagai sumber daya manusia yang dimiliki oleh klub sepak bola yang berkompetisi di Liga Inggris. Pemain sepak bola merupakan aset penting bagi klub dalam mencapai tujuannya berprestasi baik di tingkat regional maupun dunia. Maka dari itu, pemain sepak bola harus diukur dan dilaporkan dalam laporan keuangan klub agar laporan keuangan klub menjadi kredibel serta akuntabel. Sampel yang dipilih merupakan empat klub yang berkompetisi di Liga Inggris yaitu Arsenal, Everton, Manchester United dan West Ham United. Dengan menggunakan konten analisis melalui jurnal ilmiah yang membahas akuntansi pemain sepak bola dan laporan keuangan yang dilaporkan klub tiap akhir musim, diketahui bahwa keempat klub tersebut melaporkan pemain yang dimilikinya
sebagai aset tidak berwujud dalam pos player’s registration. Meskipun masih
banyak terjadi perdebatan, tetapi karakteristik dari pemain sepak bola dapat dikategorikan sebagai aset tidak berwujud jika dilihat dari IAS 38 dan FRS 10 yang menjadi acuan pencatatan di Inggris. Hampir seluruh klub besar di daratan
Eropa melaporkan pemainnya sebagai aset tidak berwujud daripada
membebankan ke pos biaya.
ABSTRACT
This study aims to determine the accounting treatment of football players as human resources owned by the football club competing in the Premier League. Football players is an important asset for the club to do well in achieving its objectives in the region and the world. Therefore, football players should be measured and reported in the financial statements of the club so that the club's financial statements to be credible and accountable. The selected sample is four clubs competing in the Premier League is Arsenal, Everton, Manchester United and West Ham United. By using content analysis through scientific journals that discuss football players accounting and financial statements are reported to the club each end of the season, it is known that the club's fourth report of its player as an intangible asset in a post player's registration. Although there are still a lot of debate, but the characteristics of football players can be categorized as intangible assets when viewed from IAS 38 and FRS 10 is the reference recording in the UK. Almost all the big clubs in mainland Europe to report players as intangible assets rather than charge to the cost center.
DAFTAR ISI
Halaman Judul... i
Halaman Persetujuan Skripsi ... ii
Pernyataan Orisinalitas Skripsi ... iii
Kata Pengantar ... iv
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
1.5 Sistematika Skripsi ... 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 11
2.2. Akuntansi Sumber Daya Manusia ... 11
2.2.1. Sejarah Akuntansi Sumber Daya Manusia ... 11
2.2.2. Pengertian Akuntansi Sumber Daya Manusia ... 13
2.2.3. Tujuan Akuntansi Sumber Daya Manusia... 15
2.2.4. Metode Pengukuran Akuntansi Sumber Daya Manusia... 16
2.3.Human Capital... 18
2.5. Akuntansi untuk Pemain Sepak Bola ... 22
2.5.1 Pengakuan Pemain Sepak Bola sebagai Aktiva Tak Berwujud ... 24
2.5.2. Pengukuran Kapitalisasi Pemain Sepak Bola sebagai Aktiva ... 28
2.5.3. Amortisasi dan Revaluasi Pemain Sepak Bola... 30
2.5.4. Penghentian (Retirement) dan Pelepasan Pemain Sepak Bola... 31
2.5.5. Pengungkapan Pemain Sepak Bola ... 32
2.6. Penelitian Sebelumnya... 33
2.7. Kerangka Konseptual... 35
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian... 37
3.2. Jenis dan Sumber Data... 39
3.2.1. Profil Subjek Penelitian ... 40
3.2.1.1. Arsenal ... 40
3.2.1.2. Everton ... 42
3.2.1.3. Manchester United ... 44
3.2.1.4. West Ham United... 45
3.3. Prosedur Pengumpulan Data... 47
3.4. Teknik Analisis Data ... 48
BAB 4 PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian... 49
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian ... 50
4.2.2. Pemain Sepak Bola sebagaiHuman Capitaldalam Industri
Sepak Bola... 52
4.2.3. Karakteristik Pemain Sepak Bola sebagai Aset... 56
4.3. Hasil Penelitian... 61
4.3.1. Kebijakan Akuntansi untuk Pemain Sepak Bola... 61
4.3.2. Pengakuan Pemain Sepak Bola sebagai Aktiva ... 62
4.3.3. Pengukuran dan Penilaian Pemain Sepak Bola ... 63
4.3.4. Pelepasan Pemain Sepak Bola... 64
4.3.5. Pengungkapan Pemain Sepak Bola ... 65
4.4. Industri Sepak Bola di Indonesia... 65
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 68
5.2. Keterbatasan Penelitian ... 70
5.3. Saran ... 71
Daftar Pustaka
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB 1
PENDAHULUAN
Setiap penelitian memiliki titik pemicu tersendiri sehingga satu objek penelitian menjadi menarik untuk diteliti. Bab ini memberikan informasi mengenai mengapa penulis tertarik untuk meneliti mengenai pengukuran dan
pelaporan pemain sepak bola sebagaihuman capitaldalam laporan keuangan klub
sepak bola. Kemudian, peneliti menampilkan rumusan masalah, dimana fokus penelitian merujuk pada perlakuan akuntansi terhadap pemain sepak bola. Pada bagian brikutnya tujuan dan manfaat penelitian diberikan sebelum sistematika penulisan laporan penelitian di akhir bab ini.
1.1. Latar Belakang
Sumber daya manusia memiliki peranan yang sangat penting dalam perencanaan, pelaksanaan dan pencapaian tujuan suatu entitas bisnis. Manusia menjadi sumber daya yang sangat penting bagi terlaksananya kegiatan usaha entitas. Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu indikator penting untuk menentukan keberhasilan pencapaian tujuan suatu entitas. Sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki semangat profesionalisme merupakan nilai tambah dan salah satu kunci sukses dalam pencapaian tujuan entitas.
sebagaimana mesin atau faktor produksi lainnya. Hal ini karena SDM mempunyai karakteristik yang berbeda dengan faktor produksi lain. Karakteristik yang menjadikan SDM berbeda adalah karena secara kodrati Sumber Daya Manusia memiliki daya pikir dan daya fisik yang dimiliki oleh seorang manusia (Warno, 2011). Sumber daya manusia memiliki kontribusi yang besar terhadap pihak manajemen suatu entitas, yakni mengembangkan, mengalokasikan, menghemat, memanfaatkan, dan mengevaluasi tujuan entitas.
Besarnya peranan manusia pada perkembangan bisnis dan perekonomian
secara keseluruhan mendorong sejumlah besar riset dirancang untuk
mengembangkan konsep dan metode akuntansi guna mengakui dan mencatat manusia sebagai aset bagi entitas. Perkembangan akuntansi sumber daya manusia tidak lepas dari dukungan para ilmuwan untuk mengkapitalisasikan investasi sumber daya manusia dan mengelompokkannya pada akun aset. Banyak pihak yang masih meragukan konsep akuntansi sumber daya manusia dan bahkan menentang dikelompokkannya sumber daya manusia sebagai aset. Hal ini terlihat dari praktik pelaporan keuangan selama ini yang sering kali mengabaikan informasi penting yaitu informasi tentang sumber daya manusia sebagai suatu aset (human assets) dan perlakuan akuntansi konvensional terhadap pengeluaran untuk sumber daya manusia selalu dianggap sebagai beban.
non fisik. Pengeluaran atas investasi non fisik akan dicatat sebagai biaya bukan dilaporkan sebagai aset atau sumber daya perusahaan yang nantinya akan mendatangkan keuntungan ekonomis di masa depan. Hal ini disebabkan belum semua investasi non fisik tersebut dapat memenuhi kriteria sebagai aset dan masih diperdebatkan relevansi dan keandalannya.
Beberapa industri yang ada tidak bisa dilepaskan dari aset non fisik seperti Sumber Daya Manusia karena aset tersebut memiliki peranan yang signifikan terhadap perusahaan. Salah satu industri yang menjadikan aset non fisik sebagai aset yang paling penting adalah industri olahraga khususnya industri sepak bola. Data statistik FIFA (Fédération Internationale de Football Association)mencatat bahwa turnamen Piala Dunia sepak bola yang diselenggarakan pada tahun 2002 menjadi permainan olahraga yang paling banyak menarik perhatian masyarakat dunia. Penonton pertandingan tersebut hampir 49,2 miliar orang diseluruh dunia dan disiarkan di 213 negara di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa sepak bola memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan sosial, agama, hiburan, teknologi informasi dan ekonomi. Antusias masyarakat dunia terhadap permainan ini menjadikan sepak bola yang awalnya hanya merupakan permainan olahraga, sekarang telah berkembang dan membuka kesempatan bisnis yang dapat memberikan keuntunganfinancial.
hal yang sangat penting. Laporan keuangan yang telah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dapat memudahkan pengguna internal maupun eksternal
klub untuk membuat kebijakan financial dan mengawasi keberlangsungan klub
tersebut.
Industri sepak bola menjadikan pemain sepak bola sebagai aset penting yang dimiliki oleh klubnya. Pemain menjadi salah satu sumber daya yang sangat besar manfaatnya terhadap suatu klub sepak bola. Real Madrid yang berasal dari Spanyol merupakan salah satu klub yang dikenal paling royal dalam bursa transfer pemain. Klub tersebut rela mengeluarkan uang dalam jumlah yang fantastis demi membentuk sebuah tim yang berisikan deretan pemain bintang. Tujuannya agar Real Madrid dapat berprestasi baik di liga lokal dan daratan Eropa serta tingkat dunia. Karena banyaknya pemain bintang yang ada Real Madrid sampai dijuluki
Los Galacticos yang artinya tim bertabur bintang. Data yang diperoleh dari situs www.transfermarkt.de, rekor pemain termahal dunia saat ini dipegang oleh Gareth Bale pemain sepak bola asal Wales yang bermain untuk Real Madrid. Dia dibeli dari klub Inggris Tottenham Hotspur dengan harga 84,5 juta poundsterling.
penutupan bursa transfer sebesar 140 juta poundsterling yang diakibatkan oleh kepanikan klub-klub tersebut.
Besarnya dana transfer yang dikeluarkan oleh klub-klub sepak bola ini menunjukkan bahwa pemain merupakan aset penting yang dimiliki untuk membangun sebuah klub yang solid dan hebat. Dana akan dikeluarkan secara besar apabila klub melihat pemain yang dianggap berkualitas dan mampu memberikan dampak yang signifikan bagi klub di masa yang akan datang. Tidak hanya membeli dan meminjam pemain di bursa transfer saja, klub juga melatih para pemain muda yang ada di akademinya agar menjadi pesepakbola handal yang nantinya akan mengantar klub menuju kesuksesan.
Negara-negara maju di Eropa dan Amerika telah mengembangkan pencatatan akuntansi terhadap transfer pemain dalam klub sepak bola seperti halnya penjualan, pembelian, dan pemberian kontrak seperti gaji atau bonus dan sebagainya. Sedangkan di Indonesia sendiri belum terdapat sistem akuntansi yang memadai dalam transfer pemain sepak bola di Liga Super Indonesia. Maka dari itu penulis ingin memberikan referensi sistem akuntansi terhadap transfer pemain klub sepak bola dengan mengacu pada salah satu liga terbesar di eropa yaitu Liga primer Inggris. Laporan keuangan sebuah klub sepak bola dirilis setiap bulan maupun setiap tahun, laporan tahunan klub biasanya dirilis setelah musim liga telah berakhir sekitar bulan Juni.
manfaat masa depan yang diterima atas transaksi akuisisi kontrak pemain sepak bola. Tetapi jika tidak mengakui pemain sebagai aset klub dan membebankan
biaya transfer pemain ke dalam income statement, maka nilai aset dari klub
tersebut akan menjadi tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Selain itu industri sepak bola memiliki karakteristik yang unik sehingga memungkinkan mengakui pemain sebagai asetnya.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, fenomena dan masih sedikitnya penelitian tentang human capital pada industri sepak bola,
peneliti membuat suatu penelitian dengan judul “Akuntansi Sumber Daya
Manusia pada Industri Sepakbola”.
1.2. Rumusan Masalah
Mengacu pada laporan keuangan tahun 2012-2013 sesuai dengan uraian permasalahan di atas, maka perumusan masalah-masalah pokok yang akan dibahas lebih lanjut secara terperinci dalam penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimana metode pengukuran yang digunakan oleh klub sepak bola Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC dan West Ham United FC untuk melaporkan pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub periode 2012-2013?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah sebelumnya, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan kajian mengenai bagaimana metode pengukuran yang dilakukan oleh Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC dan West Ham United FC untuk melaporkan pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub periode 2012-2013.
2. Memberikan kajian mengenai bagaimana pelaporan pemain sepak bola oleh Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC dan West Ham United FC dalam laporan keuangan klub periode 2012-2013.
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak. Manfaat tersebut diantaranya adalah:
1. Manfaat teori, penelitian ini diharapkan bisa memberikan suatu pengetahuan baru dalam penjelasan dan perbaikan teori yang telah ada tentang pelaporan
dan pengukuranhuman capitaldalam laporan keuangan klub sepakbola.
2. Manfaat praktis, diharapkan hasil yang didapat dalam penelitian ini bisa digunakan dalam praktik nyata atau paling tidak untuk memperbaiki pelaporan
dan pengukuranhuman capitalyang sudah dijalankan selama ini kepada pihak
klub sepakbola.
pengukuran human capital dalam laporan keuangan klub sepak bola secara menyeluruh.
1.5. Sistematika Skripsi
Penelitian dengan judul “Akuntansi Sumber Daya Manusia pada Industri
Sepak Bola” ini disusun berdasarkan sistematika penulisan yang ditentukan
dalam buku pedoman penulisan skripsi Universitas Airlangga Surabaya. Bab 1: PENDAHULUAN
Bab ’Pendahuluan’ ini memberikan informasi mengenai mengapa penulis tertarik untuk meneliti mengenai perlakuan akuntansi bagi
pemain sepak bola sebagai human capital dalam laporan keuangan
klub sepak bola. Peneliti menampilkan rumusan masalah, dimana fokus penelitian merujuk pada pengukuran dan pelaporan pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC dan West Ham United FC. Pada bagian berikutnya tujuan dari penelitian yaitu untuk mendapat jawaban atas rumusan masalah yang ditimbulkan, dan manfaat penelitian adalah untuk menambah referensi pada penelitian di bidang akuntansi sumber daya manusia, khususnya terkait perlakuan akuntansi terhadap pemain sepak bola. Bagian akhir dari bab ini mengulas singkat tentang sistematika penulisan laporan penelitian.
Bab 2: TINJAUAN PUSTAKA
Literatur penelitian yang keseluruhan merupakan penelitian terdahulu akan dipaparkan untuk mendukung analisis penelitian. Kerangka pemikiran pada penelitian ditampilkan pada sub-bab akhir bab ini. Adapun dukungan teori yang dipaparkan terkait penelitian ini meliputi : Akuntansi Sumber Daya Manusia,Human Capital, dan Akuntansi untuk Pemain Sepak Bola.
Bab 3: METODE PENELITIAN
Dalam bab ini berisi cara dilakukannya penelitian. Penelitian pada skripsi ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui metode penelitian kepustakaan (library research), dan teknik analisa menggunakan metode analisis isi (content analysis). Adapun yang menjadi subjek penelitian dalam skripsi ini yaitu jurnal-jurnal ilmiah, artikel, handbook dan laporan keuangan klub
yang diambil dari website klub sepak bola tersebut. Sedang objek
dalam penelitian ini yaitu informasi mengenai konsep pengukuran
dan pelaporan pemain sepak bola sebagai human capital pada
laporan keuangan klub. Bab 4: HASIL DAN PEMBAHASAN
human capital; Pemain sepak bola sebagai human capital dalam industri sepak bola; dan Karakteristik pemain sepak bola sebagai aset. Pokok bahasan yang menjadi sorotan utama terkait rumusan masalah ditampilkan melalui pengukuran dan pelaporan pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC dan West Ham United FC.
Bab 5: KESIMPULAN DAN SARAN
Adapun kesimpulan kesimpulan hasil pada penelitian ini yaitu Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC, dan West Ham United FC melakukan hal yang sama dalam hal pelaporan dan pengukuran pemain sepak bola yang dimilikinya. Keempat klub
tersebut mengukur nilai pemain sepak bola menggunakan historical
value sebesar nilai akuisisi pemain tersebut kemudian
melaporkannya sebagai player’s registration dalam pos aset tidak
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menampilkan teori-teori dasar yang diperoleh peneliti melalui literatur atau sumber lain di sekitar objek penelitian saat ini. Literatur penelitian yang keseluruhan merupakan penelitian terdahulu akan dipaparkan untuk mendukung analisis penelitian. Kerangka pemikiran pada penelitian ini juga akan ditampilkan pada sub-bab akhir.
2.1. Landasan Teori
Landasan teori adalah alur logika yang masuk akal tentang konsep, definisi, dan proporsi yang disusun secara sistematis. Penelitian ini menggunakan beberapa teori untuk menyampaikan konsep akuntansi sumber daya manusia,
konsep human capital, metode pengukuran human capital, dan perlakuan
akuntansi terhadap pemain sepak bola. Kemudian, teori-teori tersebut dapat membantu menjelaskan bagaimana pengukuran dan pelaporan pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub.
2.2. Akuntansi Sumber Daya Manusia
2.2.1. Sejarah Akuntansi Sumber Daya Manusia
model, dan metode akuntansi bagi manusia sebagai aktiva organisasional. Bidang tersebut telah dikenal sebagai “Akuntansi Sumber Daya Manusia” (Warno,2011). Berdasarkan sejarah perkembangan akuntansi sumber daya manusia, Flamholtz membagi perkembangan sejarah di bidang ini ke dalam lima tahap (Arfan, 2008). Tahapan tersebut dimulai sejak tahun 1960-an sampai tahun 1980-an. Adapun tahapan-tahapan tersebut meliputi :
1. Tahap pertama (1960-1966)
Tahap ini dimulai dengan adanya minat terhadap akuntansi sumber daya manusia dan asal mula mengenai konsep-konsep dasar akuntansi sumber daya manusia dan kerangka teori yang berhubungan.
2. Tahap kedua (1966-1971)
Tahap ini merupakan tahap periode riset akademik untuk mengembangkan dan menilai validitas dari model-model pengukuran biaya sumber daya manusia (biaya historis atau biaya pengganti) dan nilai (moneter atau non moneter). 3. Tahap ketiga (1971-1976)
Tahap ini mencakup banyak riset akademik di seluruh dunia Barat, Australia dan Jepang, dalam masa ini terjadi peningkatan usaha untuk menerapkan akuntansi sumber daya manusia dalam usaha organisasi.
4. Tahap keempat (1976-1980)
5. Tahap kelima (1980-sekarang)
Tahap ini mencakup awal kebangkitan minat dalam teori dan praktek akuntansi sumber daya manusia.
Praktek akuntansi sumber daya masih sangat jarang diterapkan di Indonesia, tetapi perhatian terhadap sumber daya manusia itu sendiri sebenarnya cukup besar (Tunggal,1995). Hal ini terbukti dengan semakin maraknya kasus pembajakan buku-buku, lagu-lagu, dan lain-lain. Kejadian tersebut menjadikan kaum usahawan sadar bahwa sumber daya manusia yang berkualitas akan mampu
mengelola perusahaan secara efisien sehingga perusahaan tidak segan
memberikan apresiasi tinggi untuk sumber daya manusia tersebut. Perusahaan juga bisa memperoleh keuntungan setiap tahunnya di mana dana yang dikeluarkan untuk sumber daya manusia bertujuan untuk memberikan manfaat pada masa mendatang yang lebih besar dari dana yang telah dikeluarkan.
2.2.2. Pengertian Akuntansi Sumber Daya Manusia
Akuntansi sumber daya manusia (Human Resource Accounting)
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa akuntansi sumber daya manusia merupakan suatu proses pengukuran dan pelaporan biaya serta nilai manusia sebagai sumber daya organisasi dan pelaporan hasil-hasilnya kepada pihak yang berkepentingan. Dengan demikian pada proses akuntansi sumber daya manusia terdapat unsur pengukuran, pelaporan, data tentang manusia dan organisasi. Data tentang manusia dalam hal ini berupa biaya-biaya untuk seleksi, penerimaan, pelatihan dan pengembangan kemampuan pegawai serta informasi lainnya yang berupa tingkat pendidikan, pengalaman, usia, keadaan kesehatan dan lain sebagainya.
Flamhotz (1974) dalam Tunggal (1994), menyebutkan bahwa “human
resource accounting means accounting for people as an organizational resource”
(akuntansi sumber daya manusia berarti akuntansi untuk manusia sebagai suatu sumber daya organisasi). Akuntansi Sumber Daya Manusia menurut Komite
Akuntansi Sumber Daya Manusia dari American Accounting Association yaitu
merupakan suatu proses identifikasi dan pengukuran data mengenai sumber daya
manusia serta pengomunikasian informasi ini ke pihak-pihak yang
berkepentingan. Pengertian lainnya menurut Work Institute of America (WIA)
pada tahun 1978 dalam Baridwan (2000: 492) yaitu Akuntansi Sumber Daya Manusia merupakan pengembangan perspektif teoritis untuk menjelaskan sifat dan penentu nilai manusia ke dalam organisasi formal; pengembangan metode
yang valid dan dapat dipercaya untuk mengukur cost dan nilai manusia pada
2.2.3. Tujuan Akuntansi Sumber Daya Manusia
Flamholtz (1974) dalam Tunggal (1995), menyatakan bahwa tujuan dari penerapan akuntansi sumber daya manusia adalah :
1. Menyediakan kerangka kerja untuk membantu manajer dalam menggunakan sumber daya manusia secara efektif dan efisien.
2. Menyediakan informasi yang dibutuhkan bagi user dalam memperoleh,
mengembangkan, menempatkan, mengkonversi, menggunakan, mengevaluasi dan menghargai sumber daya manusia.
3. Menyediakan alat ukur biaya (cost) dan nilai (value) dari manusia bagi
organisasi untuk digunakan dalam pengambilan keputusan.
4. Memotivasi manajer untuk menghargai segala akibat dari pengambilan keputusan usaha atas sumber daya manusia (human resource).
Tunggal (1995) menyebutkan bahwa fungsi akuntansi sumber daya manusia secara keseluruhan yaitu :
1. Akuntansi sumber daya manusia merupakan suatu cara berfikir mengenai manajemen dari sumber daya manusia suatu organisasi paradigma ini didasarkan pada pemikiran bahwa manusia merupakan sumber daya organisasi yang mempunyai nilai.
2. Akuntansi sumber daya manusia merupakan sistem yang memberi manajemen informasi yang diperlukan untuk mengelola sumber daya manusia secara efektif dan efisien.
Tujuan Perlakuan Akuntansi Sumber Daya Manusia menurut Brummet
Human Resource Accounting (HRA)
Human Resource Value Accounting (HRVA) Human Resource Cost
Accounting (HRCA)
Personal Cost Human Asset
meningkatkan manfaat laporan keuangan karena memberikan informasi kuantitatif atas sumber daya manusia bagi pemakainya yang bervariasi misalnya manajemen dan investor dalam pengambilan keputusan; (2) Metode penelitian, untuk memberikan metode penilaian terhadap utilisasi sumber daya manusia dan (3) Teori dan Model, untuk memberikan suatu teori dari variabel-variabel yang relevan untuk menjelaskan nilai manusia terhadap organisasi formal, untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang relevan, dan untuk mengembangkan model yang ideal untuk pengelolaan sumber daya manusia.
2.2.4. Metode Pengukuran Akuntansi Sumber Daya Manusia
Skema bagian dari Akuntansi Sumber Daya Manusia menurut Flamholtz (1974) adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1 Skema Bagian Sumber Daya Manusia
Metode pengukuran moneter dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengeluaran yang terjadi dan dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu mengukur
besarnya biaya (cost) yang terjadi (Human Resource Cost Accounting) dan
besarnya nilai (value) yang terjadi (Human Resource Value Accounting),
sementara itu dengan metode non moneter dilakukan untuk mengetahui prestasi kerja karyawan dan evaluasi atas karyawan.
Human Resource Cost Accounting (HRCA) merupakan metode
pengukuranHuman Resource Accounting(HRA) yang mengukur dan melaporkan
seluruh biaya yang timbul untuk pencarian, pengembangan dan penggantian tenaga sebagai sumber daya organisasi (Tunggal, 1994). Pada dasarnya pada metode HRCA terdapat dua metode pengukuran yaitu Metode Biaya Historis (Historical Cost of Human Resource) dan Metode Biaya Pengganti (Replacement Cost of Human Resource).
Metode Historical Cost of Human Resource menghitung nilai atas semua
biaya sumber daya manusia yang telah dikeluarkan untuk memperoleh (acquisition cost) dan mengembangkan (development cost) sumber daya manusia
dari suatu organisasi. Sedangkan metode Replacement Cost of Human Resource
mencakup semua biaya yang akan dikeluarkan perusahaan untuk menggantikan sumber daya manusia yang sekarang dipekerjakannya. Dasar metode pengukuran
Human Resource Value Accounting(HRVA) terdiri dari dua metode, yaitu : 1. Metode Moneter tujuannya adalah menyediakan sebuah cara untuk pengukuran
dua dimensi utama dari harga perseorangan di sebuah organisasi perusahaan
pengukuran yang menggunakan ukuran-ukuran moneter adalah Historical
(Original Cost Method), Replacement Cost Method, Current Cost Method,
Opportunity Cost Method, Compensation Model, Adjusted Discounted Future
Wages Method, danGoodwill method.
2. Metode pengukuran non moneter pada Human Resource Accounting (HRA)
menggunakan variabel-variabel tertentu dalam menyajikan informasi mengenai nilai sumber daya manusia, seperti inventarisasi keterampilan dan kemampuan pekerja, dan pengukuran sikap atau tingkah lakunya, pengukuran ini lebih relevan digunakan untuk pihak intern terutama untuk mengukur prestasi kerja level manajemen dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Beberapa metode menilai sumber daya manusia dengan teknik non moneter adalah mendaftar kemampuan dan keahlian seseorang, pembuatan rating atau ranking atas prestasi seseorang, penilaian terhadap potensi seseorang, pengukuran sikap,
subjective expected utility dan model likert-bowers.
2.3. Human Capital
Intellectual capital merupakan aset tidak berwujud (intangible asset) yang dimiliki oleh perusahaan, dan merupakan salah satu aset terbesar yang dimiliki
oleh perusahaan. Human capital memiliki arti sebagai manusia itu sendiri yang
Human capital merupakan bagian penting dari entitas karena menjadi
sumber inovasi dan pengembangan strategi yang diperoleh dari brainstorming
melalui riset laboratorium, impian manajemen, process reengineering, dan
perbaikan atau pengembangan keterampilan pekerja. Selain itu, human capital
juga memberikan nilai tambah bagi perusahaan melalui motivasi, komitmen, kompetensi serta efektivitas kerja tim. Nilai tambah untuk perusahaan yang diperoleh dari pekerja yaitu pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan, pemindahan pengetahuan dari pekerja ke perusahaan serta perubahan
budaya manajemen (Mayo, 2000 dalam Rachmawatiet al.2004).
Human capital merupakan kombinasi dari pengetahuan, keterampilan,
inovasi dan kemampuan seseorang untuk menjalankan tugasnya sehingga dapat menciptakan suatu nilai untuk mencapai tujuan. Tambahan nilai yang diperoleh
dari human capital dalam proses menjalankan tugas dan pekerjaannya akan
memberikan sustainable revenue di masa yang akan datang bagi suatu entitas
(Malhotra, 2003 dalam Rachmawati dan Wulani, 2004). Menurut Totanan (2004) jika perusahaan dikelola oleh orang yang berbeda akan menghasilkan kinerja yang berbeda juga. Artinya, suatu aset yang sama tetapi dikelola oleh manusia yang berbeda nantinya memiliki nilai tambah yang berbeda. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa aset berwujud perusahaan bersifat pasif tanpa adanya sumber daya manusia yang dapat mengelola dan menghasilkan nilai bagi suatu perusahaan.
Stewart, et al. (1998) dalam Sawarjuwono dan Kadir (2003) mengatakan
innovation dan improvement, tetapi merupakan komponen yang sulit untuk
diukur. Human capital menggambarkan kemampuan kolektif perusahaan dalam
menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang yang ada di dalam perusahaan tersebut, yang akan meningkat jika dalam prosesnya perusahaan mampu memanfaatkan dengan baik pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya. Fitz-Enz (2000) dalam Setyanto (2004) menjelaskan
human capital sebagai kombinasi dari tiga faktor, yaitu: (1) karakter atau sifat yang dibawa ke pekerjaan, misalnya intelegensi, energi, sikap positif, keandalan, dan komitmen; (2) kemampuan seseorang untuk belajar, yaitu kecerdasan, imajinasi, kreatifitas dan bakat dan (3) motivasi untuk berbagi informasi dan pengetahuan, yaitu semangat tim dan orientasi tujuan.
2.4. Penyajian Laporan Keuangan
Penyusunan IAS 1 oleh IASB tentang Presentation of Financial
Statements bertujuan untuk memenuhi karakteristik yang dapat diperbandingkan.
IAS 1 mengatur tentang hal-hal yang dipersyaratkan dalam penyajian laporan keuangan secara menyeluruh, petunjuk untuk struktur dari laporan keuangan serta persyaratan minimum mengenai isi dari laporan keuangan. IAS 1 terakhir kali direvisi pada 6 September 2007 dan mulai berlaku untuk periode akuntansi yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2009. Adopsi lebih awal sebelum tanggal 1 Januari 2009 juga diperbolehkan.
1. Statement of financial positionpada akhir periode. Pada IAS versi sebelumnya laporan ini menggunakan judul “balance sheet”, sedangkan pada IAS 1 revisi 2007 menggunakan judul “statement of financial position”.
2. Statement of comprehensive income untuk satu periode. Komponen dariprofit
atau loss dapat disajikan sebagai bagian dari statement of comprehensive
income, atau disajikan dalam income statement yang terpisah. Jika income
statement disajikan, maka laporan tersebut menjadi bagian dari laporan
keuangan yang lengkap.
3. Statement of change in equityuntuk satu periode.
4. statement of cash flow untuk satu periode. IAS 1 versi sebelumnya
menggunakan judul “cash flow statement”, sedangkan pada IAS 1 revisi
menggunakan judul “statement of cash flow”.
5. Catatan (Notes), yang terdiri dari rangkuman kebijakan akuntansi yang penting dan informasi penjelas lainnya.
Perusahaan diperbolehkan untuk menggunakan judul untuk laporan keuangan mereka di luar yang dinyatakan oleh IAS 1 tersebut. Selain itu IAS 1
juga mengatur beberapa hal lain seperti penggunaan asumsi going concern,
accrual basis of accounting (kecuali untuk laporan arus kas), pelarangan
melakukan offsetting,frekuensi pelaporan, informasi komparatif serta konsistensi dalam pelaporan. Beberapa konsep penyajian yang disebutkan di dalam IAS 1
diantaranya adalah materiality and aggregation yang menyatakan bahwa dalam
tidak serupa boleh digabungkan hanya jika secara individual tidak material.
Konsep yang lain adalah offsetting dimana aktiva dan kewajiban, serta
penghasilan dan beban, tidak diperbolehkan untuk di-offset kecuali diminta atau diperbolehkan oleh IFRS.
IAS 1 juga mensyaratkan bahwa informasi komparatif harus diungkapkan sehubungan dengan periode sebelumnya untuk seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan, kecuali standar menentukan lain. Jika jumlah informasi komparatif diubah atau diklasifikasi ulang, maka diperlukan pengungkapan atas hal tersebut.
2.5. Akuntansi untuk Pemain Sepak Bola
Setiap pemain pada sebuah klub, baik yang diperoleh dengan cara pembelian, peminjaman maupun berasal dari pembinaan pemain muda, terikat dengan sebuah kontrak yang mengikat secara hukum dalam jangka waktu tertentu dan dapat diperpanjang jika telah habis jangka waktunya. Pemain yang terikat
kontrak berkewajiban untuk memberikan jasanya kepada klub dengan
berkontribusi dalam pertandingan. Pemain tersebut tidak dapat berhenti bermain atau berpindah klub tanpa seizin klub pemilik.
Berdasarkan paparan di atas, Devi (2004) berpendapat bahwa pemain sepak bola adalah aset berharga bagi sebuah klub sepak bola sehingga semestinya pemain tersebut dilaporkan pada neraca sebuah klub sepak bola. Namun dalam
beberapa tahun belakangan ini terdapat perdebatan mengenai apakah human
capital seperti pemain sepak bola dapat menjadi aset perusahaan. Menurut Devi
(2004) dalam industri sepak bolahuman capitalseperti pemain dapat memberikan nilai tambah bagi klub tempatnya bermain. Bahkan nilai kontrak dari pemain sepak bola bisa mencapai setengah dari nilai aset bersih klub. Sehingga jika klub tidak melaporkannya sebagai aset dalam neraca, maka hal tersebut menjadikan nilai klub atau perusahaan tidak digambarkan sesuai dengan yang sebenarnya.
Sehubungan dengan hal tersebut Krohn dan Knivsfla (2000) menyatakan bahwa sumber daya tidak berwujud harus dicatat untuk memaksimalkan relevansi informasi laporan keuangan kepada pengguna, terutama saat ini dan calon investor.
Namun masalah paling besar terhadap sebagian besar aset yang tidak berwujud adalah bahwa mereka sulit untuk diidentifikasi serta manfaat masa depan yang diharapkan sering jauh lebih tidak pasti daripada aset berwujud. Dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan berbagai kriteria pengakuan aset, organisasi penetapan standar dan regulator lainnya telah enggan untuk mengakui beberapa sumber daya tidak berwujud sebagai aset. Meski begitu, belakangan ini organisasi penetapan standar, seperti IASB dalam IAS 38, lebih bersedia untuk mengubah fokus mereka dari kehati-hatian menuju pengakuan (recognition).
2.5.1. Pengakuan Pemain Sepak bola sebagai Aktiva Tak berwujud
Pertanyaan mengenai apakah pemain sepak bola dapat dikategorikan sebagai aset dan dilaporkan di neraca merupakan sebuah perdebatan. Pemain sepakbola harus memenuhi kriteria pengakuan sebagai aset agar dapat dilaporkan sebagai aset. Menurut FASB sebagaimana disebutkan dalam SFAC no 6 tentang
Elements of Financial Statements mendefinisikan aktiva sebagai kemungkinan
tidak memiliki eksistensi secara fisik karenanya nilai dari aktiva tersebut ditunjukkan dengan hak yang dijamin bagi perusahaan untuk menggunakan aktiva tersebut dan bukan instrumen keuangan.
Kieso et al., (2008) mengklasifikasikan intangible assets ke dalam enam
kategori besar yaitu marketing-related intangible asset, customer-related
intangible asset, artistic-related intangible asset, contract-related intangible
asset, technology-related intangible asset, goodwill.Sementara itu IAS 38 tentang aktiva tidak berwujud mendefinisikan aktiva tidak berwujud merupakan aktiva non-moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai bentuk fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya atau untuk tujuan administratif. Yang dimaksud dengan aktiva moneter sendiri adalah kas dan setara kas serta aktiva yang akan diterima dalam bentuk kas yang jumlahnya pasti atau dapat ditentukan.
IAS 38 menjelaskan bahwa dalam definisi aktiva tidak berwujud terdapat kriteria bahwa keteridentifikasian aktiva tidak berwujud harus bisa dibedakan
secara jelas dengan muhibah (goodwill). Suatu aktiva tidak berwujud dapat
Perusahaan dikatakan “mengendalikan suatu aktiva” apabila perusahaan mempunyai kemampuan untuk memperoleh manfaat ekonomis masa depan yang timbul dari aktiva tersebut dan dapat membatasi akses pihak lain dalam
memperoleh manfaat ekonomis tersebut. Kemampuan perusahaan untuk
mengendalikan manfaat ekonomis masa depan dari suatu aktiva tidak berwujud biasanya timbul dari hak hukum yang dapat ditegakkan dalam suatu pengadilan. Manfaat ekonomis masa depan dapat timbul dari pengetahuan atas pasar atau pengetahuan teknis. Perusahaan mengendalikan manfaat ekonomis tersebut jika, misalnya, perusahaan memiliki suatu pengetahuan yang dilindungi oleh hak hukum, seperti hak cipta dan pembatasan perjanjian dagang (sepanjang diijinkan oleh peraturan) atau oleh kewajiban hukum bagi pegawai untuk menjaga kerahasiaan.
Manfaat ekonomis masa depan yang timbul dari aktiva tidak berwujud dapat mencakup pendapatan dari penjualan barang atau jasa, penghematan biaya, atau manfaat lain yang berasal dari penggunaan aktiva tersebut oleh perusahaan. Misalnya, penggunaan hak kekayaan intelektual dalam suatu proses produksi tidak meningkatkan pendapatan masa depan, tetapi menekan biaya produksi masa depan.
1. Kemungkinan manfaat ekonomis masa depan dari aktiva tersebut akan dimiliki oleh perusahaan.
2. Biaya perolehan dari aktiva tersebut dapat diukur secara andal.
Sementara itu, menurut FRS 10 yang diterbitkan oleh ASB (Accounting
Standard Boards), lembaga pembuat standar di Inggris, tentang Goodwill and
Intangible asset, item-item tidak berwujud (intangible) dapat disebut sebagai aset ketika terdapat akses kepada keuntungan ekonomis di masa depan yang dikendalikan oleh entitas pelapor, baik itu melalui kustodian maupun perlindungan hukum. Batasan intangible item ini mulai dari dapat diidentifikasi dan dapat diukur terpisah dari goodwill,sampai pada hal-hal yang secara esensial mirip dengangoodwill.Dengan kriteria tersebut FRS 10 dianggap sebagai standar yang paling memberi peluang bagi kemungkinan pengakuan pemain sepakbola sebagai aset.
Berdasarkan dari beberapa kriteria tersebut, menurut Devi (2004) pemain sepakbola dapat dikategorikan sebagai aset. Hal ini didasarkan penilaian bahwa pemain sepak bola dapat diidentifikasi dengan jelas, sehingga dapat dijual, disewakan dan dipertukarkan secara terpisah. Klub sepak bola memiliki kendali atas pemain sepak bola karena pemain tersebut hanya boleh berpindah klub sesuai dengan izin dari klub pemiliknya melalui kontrak hukum yang mengikat antara klub dengan pemain yang bersangkutan sehingga dikatakan klub memiliki kontrol atau kendali terhadap pemainnya.
Keuntungan yang diberikan oleh pemain sepak bola adalah sesuatu yang bersifat
intangibleyaitu kontribusi atau jasanya pada pertandingan untuk kesuksesan klub. Karena apabila klub memiliki pemain yang bagus dan menjadi sebuah tim yang solid maka kemungkinan untuk memenangi pertandingan dan meraih prestasi akan lebih besar dan pada akhirnya akan berdampak bertambahnya keuntungan bagi klub baik melalui meningkatnya pemasukan dari penjualan tiket, hak siar televisi maupun penjualan merchandise. Selain itu, dengan adanya bursa transfer
untuk pemain sepakbola yang dibuka setiap awal dan pertengahan musim suatu kompetisi, maka harga perolehan aktiva dapat diukur secara andal dengan melihat nilai transfernya.
Amir dan Livne (2005) menyatakan bahwa FRS 10 yang dikeluarkan ASB pada tahun 1997 dan berbagai standar akuntansi internasional yang lain (IAS 38
tentang intangible assets yang diterbitkan IASB tahun 1998 dan SFAS 142 yang
di keluarkan FASB tahun 2001) mengisyaratkan dilakukannya kapitalisasi atas kontrak pemain sepakbola. Standar-standar tersebut secara umum mensyaratkan bahwa aktiva yang diperoleh dalamarm’s length transactionharus dikapitalisasi. Alasan rasionalnya adalah bahwa harga transaksi memberikan bukti yang andal mengenai nilai wajar dariassets.
2.5.2. Pengukuran Kapitalisasi Pemain Sepak bola sebagai Aktiva
bahwa pembelian aktiva tidak berwujud dari pihak lain dicatat sebesar harga perolehan. Harga perolehan termasuk seluruh biaya untuk mendapatkan dan pengeluaran-pengeluaran lain yang diperlukan untuk membuat aktiva tersebut siap digunakan.
IAS 38 menjelaskan bahwa suatu aktiva tidak berwujud apabila diperoleh secara terpisah, biaya aktiva tidak berwujud biasanya dapat diukur secara andal. Hal itu akan tampak jelas jika pembayaran dilakukan dalam bentuk uang tunai atau aktiva moneter lainnya. Biaya perolehan suatu aktiva tidak berwujud terdiri dari harga beli, termasuk bea masuk (impor), pajak yang sifatnya tidak dapat di restitusi dan semua biaya yang dikeluarkan yang berhubungan langsung dalam proses persiapan aktiva tersebut untuk digunakan sesuai dengan tujuannya. Biaya perolehan untuk aktiva tidak berwujud yang diperoleh melalui pertukaran dengan aktiva sejenis yang memiliki kegunaan yang sama dalam lini usaha yang sama dan memiliki nilai wajar yang sama pula diukur sebesar nilai wajar aktiva yang diterima, yang sama dengan nilai wajar aktiva yang diserahkan. Sedangkan Kieso
et al., (2008) berpendapat bahwa harga perolehan dari aktiva tidak berwujud yang diperoleh dari pertukaran adalah nilai wajar dari aktiva yang diserahkan atau nilai wajar dari aktiva yang diterima, mana yang lebih bisa ditentukan.
1. Pengeluaran tersebut besar kemungkinannya akan meningkatkan manfaat ekonomis masa depan sehingga menjadi lebih besar daripada standar kinerja yang diperkirakan semula.
2. Pengeluaran tersebut dapat diukur dan dikaitkan dengan aktiva secara andal. Pengeluaran setelah perolehan harus ditambahkan kepada biaya perolehan aktiva tak berwujud apabila kedua syarat sebelumnya sudah terpenuhi. Sementara jika pengeluaran setelah perolehan dilakukan dengan maksud untuk memelihara aktiva tidak berwujud supaya beroperasi pada standar kerja yang telah direncanakan, maka pengeluaran tersebut diakui sebagai beban.
2.5.3. Amortisasi dan Revaluasi Pemain Sepakbola
kembali dari aktiva tersebut. Pada umumnya masa manfaat suatu aktiva tak berwujud tak akan melebihi 20 tahun. Amortisasi dimulai sejak tanggal aktiva siap digunakan.
Mengenai metode amortisasi yang digunakan, IAS 38 menjelaskan bahwa metode amortisasi harus mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomis oleh perusahaan. Jika pola tersebut tak dapat ditentukan secara andal, maka harus digunakan metode garis lurus. Selain metode garis lurus, terdapat berbagai metode amortisasi untuk mengalokasi jumlah yang dapat diamortisasi dari suatu aktiva atas dasar yang sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode-metode itu meliputi metode garis lurus, metode saldo menurun dan metode jumlah unit produksi. Sementara itu nilai sisa suatu aktiva tidak berwujud seharusnya diasumsikan sama dengan nol, kecuali ada komitmen dari pihak ketiga untuk membeli aktiva tersebut pada akhir masa manfaatnya dan ada pasar aktif bagi aktiva tersebut.
2.5.4. Penghentian (Retirement) dan Pelepasan Pemain Sepakbola
jumlah penerimaan bersih dari pelepasan aktiva dan nilai tercatat aktiva tersebut, serta diakui sebagai keuntungan atau kerugian dalam laporan laba rugi.
2.5.5. Pengungkapan Pemain Sepak bola
Ketika pemain sepakbola sudah diakui sebagai aset perusahaan, maka pemain tersebut harus diungkapkan dalam laporan keuangan. IAS 38 memberikan arahan bahwa laporan keuangan harus mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap golongan aktiva tidak berwujud, dengan membedakan antara aktiva tidak berwujud yang dihasilkan secara intern dan aktiva tak berwujud lainnya:
1. Masa manfaat atau tingkat amortisasi yang digunakan. 2. Metode amortisasi yang digunakan.
3. Nilai tercatat bruto dan akumulasi amortisasi pada awal dan akhir periode. 4. Unsur pada laporan keuangan yang didalamnya terdapat amortisasi aktiva tidak
berwujud.
5. Rekonsiliasi nilai tercatat pada awal dan akhir periode diantaranya dengan menunjukkan:
a. Penambahan aktiva tidak berwujud yang terjadi, dengan mengungkapkan secara terpisah penambahan yang berasal dari pengembangan di dalam perusahaan dan dari penggabungan usaha.
b. Penghentian dan pelepasan aktiva tidak berwujud.
c. Rugi penurunan nilai yang diakui pada laporan laba rugi periode berjalan. d. Amortisasi yang diakui selama periode berjalan.
f. Perubahan lainnya dalam nilai tercatat selama periode berjalan. Informasi komparatif tidak dibutuhkan.
2.6. Penelitian Sebelumnya
Penelitian sudah banyak dilakukan baik dari dalam maupun luar negeri sehubungan dengan perlakuan akuntansi terhadap pemain sepak bola. Secara umum penelitian yang paling banyak ditemukan membahas tentang pemain sepak
bola sebagai human capital atau sebagai modal intelektual bagi klub, sehingga
penelitian tersebut sering kali dihubungkan dengan akuntansi untuk aktiva tidak berwujud. Untuk itu penelitian yang banyak disebutkan di bawah ini berhubungan dengan akuntansi untuk aktiva tidak berwujud, terutama untuk pemain sepak bola. Lisvery dan Ginting (2004) melakukan penelitian yang bertujuan melihat sejauh mana perlakuan akuntansi untuk aktiva tak berwujud yang telah ditetapkan oleh standar akuntansi dan implementasinya. Hal ini dilatarbelakangi oleh terdapatnya berbagai kesulitan seperti kapan aktiva tidak berwujud diakui serta bagaimana penilaian, pengukuran dan pelaporannya dalam neraca. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan perlakuan akuntansi untuk aktiva tidak berwujud sering kali masih menimbulkan kesulitan dalam teori akuntansi, terutama dalam hal pengakuan aktiva tidak berwujud dan adanya ketidakpastian mengenai pengukuran nilai dan masa manfaat dari aktiva tersebut. Ciri yang melekat pada aktiva jenis tersebut justru menyebabkan perdebatan panjang terhadap perlakuan akuntansinya.
neraca, karena sistem akuntansi konvensional dianggap tidak mengizinkan kapitalisasi dan pelaporan atas modal intelektual sehingga laporan keuangan tidak memadai lagi untuk menilai kinerja dan nilai potensial perusahaan. Indikator pengukuran seperti ROI dan ROE jadi mengambang karena denominatornya tidak mencakup nilai dari aktiva tidak berwujud.
Kesimpulan yang diambil dari penelitian di atas adalah terdapat dua macam pengukuran yang telah diperkenalkan para ahli akuntansi untuk menilai modal intelektual, yaitu dalam bentuk moneter dan non-moneter. Meski secara moneter dimungkinkan, namun penilaian terhadap angka-angka yang tersaji masih sulit dilakukan bahkan dikhawatirkan akan dapat membuka celah bagi manipulasi laba. Penilaian secara non-moneter diperkirakan akan lebih dapat menggambarkan kinerja perusahaan atas modal intelektual yang dimiliki. Penilaian non-moneter
yang telah dikembangkan salah satunya adalah balance scorecard. Penyajian
laporan keuangan yang dilengkapi dengan suplemen berupa balance scorecard
dinilai akan memberikan gambaran yang lebih kongkrit tidak hanya mengenai
financial performance namun juga financial performance dari modal intelektual
yang merupakan aset utama perusahaan, terutama untuk perusahaan yang berbasis pada penggunaan modal intelektual.
Penelitian selanjutnya yang secara spesifik berhubungan dengan dunia sepakbola, yaitu penelitian mengenai akuntansi untuk pemain sepakbola yang dilakukan oleh Astri Prima Devi. Seperti halnya penelitian untuk modal
intelektual, Devi (2004) bertujuan untuk melihat kemungkinan pelaporan human
neraca perusahaan. Penelitian tersebut berkesimpulan bahwa pelaporan human
capital dalam laporan keuangan masih kurang terakomodasi sesuai standar yang
ada karena terhambat dengan keandalan pengukurannya. Pada industri sepak bola, pemain dianggap sebuah aset karena dapat menambah nilai bagi klub. Adanya bursa transfer pemain dan nilai perolehan secara jelas memungkinkan pemain sepak bola diakui sebagai aset. Sehingga diharapkan adanya aturan yang mengatur
tentang pengakuanhuman capitaldalam sebuah laporan keuangan.
Berdasarkan beberapa penelitian diatas saat disimpulkan bahwa aktiva
tidak berwujud seperti human capital dan modal intelektual lainnya memiliki
peran penting dalam memberi manfaat ekonomi masa depan kepada perusahaan, meski demikian terdapat kendala dalam pengakuan sebagai aset terkait dengan keandalan pengukurannya. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi pemain sepak bola, karena dalam industri sepak bola seorang pemain dapat diukur dengan jelas sehingga dapat diperjualbelikan, disewakan dan dipertukarkan. Selain itu dalam hal transaksi untuk pemain sepak bola juga terdapatactive transfer market dengan nilai perolehan yang jelas sehingga pengukurannya sebagai aset dapat dilakukan secara andal. Kemudian pemain sepak bola juga berperan dalam hal meningkatkan nilai klub dan memberi manfaat ekonomi di masa depan bagi sebuah klub. Berdasar alasan-alasan tersebut maka pemain sepak bola dapat memenuhi kriteria sebagai aset.
2.7. Kerangka Konseptual
Berdasarkan tujuan, teori-teori yang melandasi serta penelitian
Akuntansi Sumber Daya Manusia Intellectual Capital
Human Capital
Pengakuan Human Capital sebagai aset di industri sepak bola Pengukuran
Human Capital
Pelaporan Human Capital
BAB 3
METODE PENELITIAN
Bab ini akan membahas tentang metodologi penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penyelesaian skripsi ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan pengumpulan data melalui metode penelitian kepustakaan (library research), dan teknik analisa menggunakan metode analisis isi (content analysis). Adapun yang menjadi subjek penelitian dalam skripsi ini adalah empat klub yang berkompetisi di Liga Inggris yaitu Arsenal, Everton, Manchester United, dan West Ham. Objek dalam penelitian ini yaitu informasi mengenai pelaporan dan pengukuran pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub.
3.1. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif dengan
menggunakan metode library research atau penelitian kepustakaan. Anselm dan
Corbin (2003) menjelaskan penelitian kualitatif sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Karakteristik penelitian kualitatif bersifat induktif, humanistis, serta memahami manusia dari sudut pandang mereka sendiri (Iskandar 2009).
Sawarjuwono dan Kadir (2003) menjelaskan bahwa Library research
menjelaskan bahwa langkah-langkah dari library research berkaitan dengan organisasi perpustakaan, jenis bahan yang tersedia, akses informasi, dan strategi penelitian. Hasil dari proses tersebut berupa synthesis paper, yang dinilai melalui
gaya penulisan karya ilmiah, topik makalah, penulisan outline dan pengenalan,
format kutipan, mengedit, dan membuat presentasi lisan. Subjek yang diteliti dalam penelitian ini adalah klub sepak bola Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC, dan West Ham United FC yang berkompetisi di Liga Inggris serta yang menjadi objek penelitian adalah pengukuran dan pelaporan pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub.
Pendekatan kualitatif dipilih dalam penelitian ini karena perlakuan akuntansi terhadap pemain sepak bola yang berhubungan dengan akuntansi sumber daya manusia merupakan bahasan baru dalam treatment akuntansi, yang sebelumnya belum pernah Peneliti pelajar secara intensif, terlebih jangkauan akan penelitian-penelitian dalam bidang tersebut masih cukup awam bagi kawasan
dimana Peneliti berada. Metode pengumpulan data melalui library research
digunakan untuk menjamin kualitas dari informasi yang dibutuhkan. Jurnal-jurnal
ilmiah, artikel, handbook yang dipublikasikan maupun karya ilmiah lain yang
3.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berbentuk angka-angka yang didapat dari laporan keuangan klub sepak bola yang berkompetisi di Liga Inggris. Sampel diambil dari 4 klub yang berkompetisi di kasta teratas sepak bola Liga Inggris yaitu Arsenal FC, Everton FC, Manchester United dan West Ham United. Sementara data kualitatif atau data non digit diperoleh dari jurnal dan artikel serta sumber referensi lainnya yang membahas tentang pengukuran dan pelaporan pemain sepak bola sebagai aset dalam laporan keuangan klub.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yakni data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa laporan keuangan klub sepak bola yang berasal dariwebsiteklub. Data kualitatif berupa sumber tertulis atau literatur yang berasal dari perpustakaan maupun penelusuran dataonline.
Tabel 3.1 Daftar Data yang Diteliti
Nama Klub Data yang Diteliti Periode
Arsenal FC Statement of account
and annual report 1 Juni 2012 – 31 Mei 2013
Everton FC annual report and
account 1 Juni 2012 – 30 Juni 2013
Manchester United FC annual financial
report 1 Juni 2012 – 31 Mei 2013
West Ham United FC report and financial
3.2.1. Profil Subjek Penelitian
3.2.1.1. Arsenal FC
Arsenal Football Club (dikenal pula sebagai Arsenal atau The Gunners)
adalah klub profesional Inggris yang berbasis di daerah London Utara, London. Klub ini kini bermain di Liga Utama Inggris. Arsenal didirikan di daerah Woolwich, bagian tenggara kota London pada 1886 dengan nama Dial Square, lalu dengan cepat berganti nama menjadi Royal Arsenal. Tahun 1891 nama mereka diganti menjadi Woolwich Arsenal. Pada tahun 1913, klub ini pindah ke wilayah utara, tepatnya di daerah Highbury dan membangun Stadion Highbury, yang menjadi markas baru mereka. Saat pindah lokasi itulah, nama depan klub mereka, yaitu Woolwich dihapus sehingga hanya nama Arsenal yang tersisa. Selain itu karena lokasi stadion Arsenal dekat dengan markas Tottenham Hotspur, maka tak heran jika pertandingan Arsenal vs Tottenham Hotspur disebut "North London derby" dan merupakan salah satuderbyterpanas di London.
Kedatangan pelatih Arsène Wenger ke Arsenal pada tahun 1996 berhasil membuat Arsenal kembali berjaya dan berhasil merusak dominasi Manchester United di Liga Utama Inggris pada saat itu. Arsenal pun dibawanya berhasil menjadi runner-up di ajang Piala UEFA pada tahun 2000 setelah melawan Galatasaray lewat adu penalti 4-1 setelah kedudukan imbang. Pada musim 2003-04 hingga awal musim 202003-04-05, Arsenal berhasil mencetak rekor 49 pertandingan tak terkalahkan dan mematahkan rekor milik Nottingham Forest F.C. (42 kali) yang merupakan rekor tak terkalahkan terpanjang di dalam sejarah sepak bola Inggris. Pada musim 2005-06, Arsenal kembali meraih prestasi di kancah Eropa dengan menjadi finalis Liga Champions setelah dikalahkan FC Barcelona 2-1 di Stade de France, Paris.
Setelah mencapai final Liga Champions pada tahun 2006, prestasi terbaik Arsenal hanyalah mencapai babak final pada tahun 2007 dan 2011 pada Piala Liga Inggris, kalah 2–1 dari Chelsea dan kalah dengan skor yang sama dari Birmingham City. Arsenal sudah tidak pernah meraih piala semenjak gelar Piala FA yang didapat pada tahun 2005. Arsenal dikenal sebagai klub yang sering mencetak pemain hebat. Mendidik pemain lewat akademi ataupun membeli pemain dengan harga murah nantinya pemain tersebut dijual dengan harga mahal.
Stadion Highbury adalah Liga Utama Inggris, yaitu Arsenal vs Wigan Athletic yang berhasil dimenangkan oleh Arsenal dengan skor 4-2 dengan tiga gol dari Thierry Henry. Stadion ini diganti, dikarenakan kapasitasnya yang terlalu kecil dibanding stadion klub-klub lain, seperti Chelsea. Sejak bulan Juli 2006 sampai sekarang, klub ini menempati markas barunya, Stadion Emirates yang berkapasitas 60.500 kursi dan terletak di Ashburton Grove dan peresmian pemakaian Stadion Emirates sekaligus pertandingan pertama yang digelar adalah dengan diadakannya sebuah pertandingan persahabatan antara Arsenal dengan para pemain legenda Belanda untuk perpisahan Dennis Bergkamp, seorang mantan penyerang Arsenal.
3.2.1.2. Everton FC
Everton F.C. adalah sebuah klub sepak bola profesional yang bermarkas di Kota Liverpool, Inggris, dan merupakan klub rival dari klub sekota Liverpool. Didirikan pada tahun 1878 dan menjadi salah satu pendiri dari Liga Sepak Bola (Football League) pada tahun 1888 serta Liga Primer pada tahun 1992. Saat ini berkompetisi di Liga Utama Inggris, divisi teratas Liga Inggris. Mereka telah berkompetisi di divisi teratas dengan rekor 108 musim, menjadi klub yang paling lama bermain di divisi teratas kompetisi sepak bola Inggris.
kemudian, agar bisa menampung orang dari luar jamaah yang ingin berpartisipasi. Seragam “Royal Blue” baru dikampanyekan penggunaannya pada musim 1901/1902.
Gelar liga pertama mereka raih pada musim 1890-91. Bergabungnya Dixie Dean pada tahun 1925 mempengaruhi kesuksesan "The Toffees" menjuarai kompetisi musim 1927-28. Dan setelah lima gelar liga dan dua trofi Piala FA kemudian, pretasi Everton seperti berhenti dan baru bangkit lagi pada tahun 1960-an. Dua gelar liga dan satu trofi Piala FA menjadi bukti kesuksesan pada periode tersebut. Pada tahun 1980-an, Everton kembali menikmati periode keemasan. Setelah penunjukan manajer Howard Kendall pada tahun 1981, Toffees berhasil meraih dua gelar liga pada musim 1984-85 dan 1986-87 dan satu trofi Piala FA 1984. Gelar domestik tersebut dilengkapi pula dengan trofi Piala Winners UEFA 1984-85, yang menjadi satu-satunya gelar Eropa yang pernah direngkuh Everton hingga saat ini. Akibat Tragedi Heysel, Everton tidak dapat ikut berkompetisi di Eropa. Tragedi tersebut membuat klub-klub Inggris tidak diperbolehkan mengikuti kompetisi Eropa selama lima tahun. Everton pun gagal memperoleh peluang mengulangi sukses tim-tim Inggris di kejuaraan antarklub Eropa selama periode 1980-an.
hingga akhirnya David Moyes datang. Manajer asal Skotlandia ini menyelamatkan Everton dari ancaman degradasi pada musim 2001-02. Tangan dingin Moyes berhasil mengangkat kembali penampilan tim.
3.2.1.3. Manchester United FC
Manchester United Football Club merupakan sebuah klub sepak bola profesional Inggris yang berbasis di Old Trafford, Manchester Raya, yang bermain di Liga Premier Inggris. Didirikan dengan nama Newton Heath LYR Football Club pada tahun 1878, kemudian berganti nama menjadi Manchester United pada 1902 dan pindah ke Old Trafford pada tahun 1910. Stadion utama dari Manchester United yaitu Old Trafford Stadium yang mendapat julukan
Theatre of Dreams.
Manchester United yang memiliki julukan “Setan Merah” atau “The Reds
Devils” termasuk klub sukses di Inggris bersaing dengan Liverpool karena telah memenangkan banyak trofi di sepak bola Inggris maupun Eropa, termasuk rekor 20 gelar Liga, rekor 11 Piala FA, empat Piala Liga dan rekor 20 FA Community Shield. Klub ini juga telah memenangkan tiga Piala Eropa, Piala UEFA satu Piala Winners UEFA, satu Piala Super UEFA, satu Piala Interkontinental dan satu Piala Dunia Antarklub FIFA. Pada 1998-1999, klub memenangkan treble dari Liga Premier, Piala FA dan Liga Champions, prestasi yang belum pernah diraih oleh klub Inggris sebelumnya. Pertemuan Manchester United dengan Liverpool sering disebutDerbyterpanas di Inggris Raya.
delapan pemain. Pada tahun 1968, di bawah manajemen Matt Busby, Manchester United adalah klub sepak bola Inggris pertama yang memenangkan Piala Eropa. Alex Ferguson merupakan manajer tersukses yang pernah menangani Manchester United setelah memenangkan 28 penghargaan utama, dan 38 secara total, dari bulan November 1986 sampai Mei 2013. Beliau pensiun setelah mengabdikan diri selama 26 tahun di klub. Kemudian menunjuk rekan sesama Skotlandia yaitu David Moyes untuk menggantikannya pada tanggal 9 Mei 2013.
Manchester United adalah klub sepak bola terkaya ketiga di dunia untuk
2011-12 dalam hal pendapatan, dengan pendapatan tahunan sebesar €395.9 juta,
dan klub kedua paling bernilai tahun 2013, dengan nilai sebesar $3.165 miliar. Manchester United juga merupakan salah satu tim sepak bola yang mempunyai banyak pendukung di dunia. Setelah sahamnya tercatat di London Stock Exchange pada tahun 1991, klub itu dibeli oleh Malcolm Glazer pada Mei 2005 di kesepakatan menilai klub di hampir £800 juta. Pada bulan Agustus 2012, Manchester United melakukan penawaran umum perdana di Bursa Efek New York.
3.2.1.4 West Ham United FC
League dan West League sebelum akhirnya bergabung dengan Football League pada tahun 1919. Kemudian klub mendapat jatah promosi ke liga teratas untuk musim 1923. Pada tahun 1923 juga klub masuk final pertama pada Piala FA berhadapan dengan Bolton Wanderers yang digelar di stadion Wembley.
Klub memenangkan Football League Cup pertama kali pada tahun 1940. West Ham United telah memenangkan Piala FA sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 1964, 1975 dan 1980 serta menjadi runner-up dua kali, pada tahun 1923 dan 2006. Pada tahun 1965, mereka memenangkan Piala Winners Eropa, dan pada tahun 1999 mereka memenangkan Piala Intertoto. Mereka adalah salah satu dari delapan klub ada tak pernah turun di bawah tingkat kedua sepakbola Inggris, menghabiskan 55 dari 87 musim liga di Divisi 1 sampai 2013. Namun, tidak seperti tujuh lainnya (Arsenal Chelsea, Everton, Liverpool, Manchester United, Newcastle united dan Tottenham Hotspur), klub tidak pernah memenangkan gelar liga. Posisi liga akhir terbaik di klub adalah tempat ketiga di Divisi Pertama 1985-1986.
Tabel 3.2 Daftar Subjek Penelitian
Nama Negara Nama Liga Nama Klub
Inggris Premier League Arsenal FC
Inggris Premier League Everton FC
Inggris Premier League Manchester United FC
Inggris Premier League West Ham United FC
3.3. Prosedur Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data merupakan cara peneliti mendapatkan data yang selanjutnya akan dianalisis lebih lanjut sesuai hal yang berkaitan dengan penelitian yang akan dikaji. Berikut merupakan prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini :
1. Pencarian buku-buku literatur terkait konsep dasar akuntansi sumber daya manusia yang didapatkan peneliti di perpustakaan.
2. Studi teoritis lebih lanjut mengenai pengukuran dan pelaporan pemain sepak bola yang didapat dari jurnal-jurnal,handbookdan artikel terkait.
3.4. Teknik Analisis Data
Peneliti melakukan teknik analisis data sesuai prosedur penelitian
kualitatif dengan menggunakancontent analysis. Teknik ini digunakan untuk
memperoleh data yang valid sesuai konteks dan bertujuan memberikan
pengetahuan, wawasan baru, representasi fakta dan panduan praktis untuk
bertindak (Krippendorff, 1980 dalam Elo dan Kyngas, 2008). Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengumpulkan dan mengidentifikasi referensi konsep pengakuan pemain sepak bola dalam laporan keuangan. Melakukan kegiatan resume untuk mendapatkan informasi yang intensif mengenai pokok bahasan seperti konsep
human capital sebagai aset, metode pengukuran human capital, pelaporan
pemain sepak bola sebagai human capital dalam laporan keuangan klub, dan
relevansi juga kritik terhadap konsephuman capitalsebagai aset.
2. Mempelajari referensi khusus yang berkaitan dengan konsep pengakuan pemain sepak bola sebagai aset bagi klub serta melihat bentuk pelaporan pemain sepak bola dalam laporan keuangan klub.
3. Membandingkan dengan kondisi industri sepak bola di Indonesia,
BAB 4
PEMBAHASAN
Bab ini akan menjelaskan mengenai hasil studi literatur yang Peneliti gunakan dalam “Akuntansi Sumber Daya Manusia pada Industri Sepak Bola” beserta beberapa ulasan fakta-fakta yang Peneliti temukan dalam penelitian. Dimulai dengan menyajikan gambaran umum literatur perlakuan akuntansi terhadap pemain sepak bola, kemudian dilanjutkan dengan: Konsep dan
Pengukuran Human Capital dalam Akuntansi Sumber Daya Manusia; Pemain
Sepak Bola sebagaiHuman Capitaldalam Industri Sepak Bola; dan Karakteristik
Pemain Sepak Bola sebagai Aset yang akhirnya menuju pada pengukuran dan pelaporan pemain sepak bola yang dilakukan oleh klub Arsenal FC, Everton FC, Manchester United FC, dan West Ham United FC.
4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian
Penelitian ini menggunakan sampel laporan keuangan 4 klub yang bermain di kasta teratas sepak bola Liga Inggris sebagai salah satu data yang diteliti. Klub tersebut adalah Arsenal FC, Everton FC, Manchester United dan West Ham United. Pembahasan dilakukan dengan menampilkan literatur utama kemudian
diikuti dengan konsep dan pengukuran human capital dalam akuntansi sumber
daya manusia, pemain sepak bola sebagai human capital dalam industri sepak
bola dan karakteristik pemain sepak bola sebagai aset klub sepak bola.
4.2. Deskripsi Hasil Penelitian
4.2.1. Konsep dan Pengukuran Human Capital dalam Akuntansi Sumber
Daya Manusia
Human capital memiliki arti sebagai manusia itu sendiri yang secara
personal dipinjamkan kepada perusahaan dengan kemampuan daya pikir dan daya fisik yang dimiliki (Stewart, 1997 dalam Totanan, 2004). Daya pikir merupakan kecerdasan yang dibawa sejak lahir dan kecakapan yang diperoleh dari suatu pembelajaran maupun pelatihan. Sedangkan daya fisik adalah kekuatan dan ketahanan yang dimiliki manusia dalam melakukan suatu pekerjaan yang lama ataupun berat.
Mayo (2000) dalam Rachmawati et al. (2004) menjelaskan bahwa human
capital merupakan bagian penting dari entitas karena menjadi sumber
pengetahuan dan inovasi serta pengembangan strategi melalui suatu penelitian, pelatihan dan pengembangan keterampilan. Perusahaan akan memiliki nilai
sumber daya manusia yang bekerja pada perusahaan. Tambahan nilai yang
diperoleh dari human capital dalam proses menjalankan tugas dan pekerjaannya
akan memberikan sustainable revenue di masa yang akan datang bagi suatu
entitas. Perusahaan yang dikelola oleh orang yang berbeda akan menghasilkan sesuatu yang berbeda juga. Artinya, jika suatu aset perusahaan yang sama tetapi dikelola oleh individu yang berbeda nantinya akan memiliki nilai tambah yang berbeda. Sumber daya manusia yang dimiliki perusahaan juga merupakan suatu
penggerak bagi aset berwujud yang dimiliki perusahaan untuk dapat
menghasilkan nilai tambah bagi perusahaan.
Terdapat dua metode menurut Flamholtz (1974) dalam Tunggal (1995)
untuk mengukur human capital yaitu Metode Biaya Historis (Historical Cost of
Human Resource), yang menghitung nilai atas semua biaya sumber daya manusia
yang telah dikeluarkan untuk memperoleh (acquisition cost) dan mengembangkan
(development cost) sumber daya manusia dari suatu organisasi, serta Metode
Biaya Pengganti (Replacement Cost of Human Resource) yang mencakup semua
biaya yang akan dikeluarkan perusahaan untuk menggantikan sumber daya
manusia yang sekarang dipekerjakannya. Dasar metode pengukuran nilai Human
Capitalterdiri dari dua metode, yaitu :
1. Metode Moneter tujuannya adalah menyediakan sebuah cara untuk pengukuran dua dimensi utama dari harga perseorangan di sebuah organisasi perusahaan
(Expected Conditional Value dan Realizable Value). Metode-metode
pengukuran yang menggunakan ukuran-ukuran moneter adalah Historical