HUKUM PERSAINGAN USAHA
Integrasi Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Penulis :
Mohamad Tohari, S.H., M.H
Editor :
Farkhani, S.H., M.H
ISBN :
978-602-52161-2-1
Diterbitkan oleh: Penerbit Taujih
Jl. Merak 51 Gonilan Kartosuro 57162 Email : [email protected] Cetakan I, Juli 2018
Dicetak oleh :
Percetakan IVORIE, Solo
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan buku ini dengan judul: “HUKUM PERSAINGAN USAHA: Studi Tentang Integrasi Pasar Tradisional dan Pasar Modern”. Buku ini didasarkan dari hasil pengembangan kajian Hibah Penelitian Disertasi Doktor (PPD), tahun 2018 dengan dibiayai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Buku ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kajian sosiologi hukum khususnya persaingan yang terjadi antara pasar tradisional dengan pasar modern dalam perspektif hukum persaingan usaha.
Eksistensi pasar menjadi sangat penting untuk diperbincangkan, mengingat pasar merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, proses bertemunya pembeli dan penjual ini menjadi indikator tingkat perekonomian masyarakat. Semakin besar volume transaksi yang terjadi di pasar menunjukkan perekonomian yang stabil dan lebih jauh lagi kegiatan ekonomi yang terjadi di pasar merupakan cerminan tingkat kesejahteraan masyarakat
Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Tertentu di Bidang Penanaman Modal. Keberadaan Keppres ini mengundang masuk retailer asing untuk membuka usahanya di Indonesia. Pada Keppres tersebut, untuk sektor perdagangan, bisnis perdagangan eceran skala besar (mall, supermarket, department store, pusat pertokoan/perbelanjaan) dan perdagangan besar (distributor/wholesaler, perdagangan ekspor dan impor) dikeluarkan dari negative list bagi penanaman modal asing (PMA).
Pada dasarnya tidak sulit untuk menafsirkan fenomena merosotnya kinerja dan pangsa pasar tradisional yang terjadi dalam satu dekade terakhir. Institue for Defelopment of Economics and Finance (INDEF) tahun 2007 mencatat, telah terjadi penurunan omset, perputaran barang, marjin harga, bahkan penurunan jumlah kios aktif di pasar tradisional. Bagi orang yang berpikiran positif kemungkinan besar akan bersikap, bahwa “pasar tradisional telah kehilangan daya saing”, karena infrastruktur dan sistem perpasaran jauh tertinggal di tengah serbuan peritel pasar modern. Namun dari mana memulai langkah, ketika banyak pihak melihatnya dari sisi buruk dampak keberadaan ritel pasar modern, dan karena itu perijinannya harus dibatasi.
Bagi orang yang berpikiran positif tentunya akan menyatakan “tidaklah arif menyusun suatu kebijakan berdasarkan argumen ada atau tidak adanya dampak dari suatu situasi”, untuk itu, suatu pendekatan sederhana sesungguhnya sangat mudah dipahami, bahwa penguatan/pengembangan pasar tradisional harus berangkat dari tuntutan ekspektasi konsumen.
pelaku pasar tradisional, ketegasan sikap dari pemerintah, dan kemauan dari pengusaha pasar modern untuk merangkul pelaku pasar tradisional. Fenomena maraknya pembangunan pasar modern dan semakin tersingkirnya pasar tradisional menjadi salah satu keprihatinan bersama, perlu dicari solusi dimana pasar modern dapat berkembang tanpa harus mematikan eksistensi pasar tradisional.
Tidak lupa saya sampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang telah memberikan dana hibah Penelitian Disertasi Doktor (PDD) yang menjadi dorongan untuk menerbitkan buku ini sebagai bagian capaian luaran wajib, dan ucapan terima kasih saya tujukan kepada Kementrian Ristek-Dikti. Dalam kesempatan ini dengan sepenuh hati yang tulus, penulis menucapkan terimakasih yang tak terhingga dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat:
Bapak Dr. H. Sofyan Anif, M.Si selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memberikan kesempatan penulis untuk dididik dan menimba ilmu pada Program Doktor Ilmu Hukum UMS.
Bapak Prof. Dr. Bambang Sumardjoko selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Bapak Prof. Dr. Khudzaifah Dimyati, SH, M.Hum sebagai Promotor penulis yang berkenan untuk memberikan bimbingan penuh kesabaran dengan segala kepakarannya dan memberikan motivasi untuk segera menyelesaikan disertasi ini sesuai dengan timeline.
motivasi untuk segera menyelesaikan disertasi ini.
Bapak Dr. Nurhadiantomo selaku Co-Promotor 2 yang senantiasa meluangkan waktu untuk membimbing dan memotivasi serta mengarahkan penulisan disertasi ini.
Akhirnya penulis berharap semoga buku ini dapat memperkaya bahan bacaan tentang seluk beluk kebijakan, pengelolaan pasar tradisional dan pasar modern dalam perspektif hukum persaingan usaha, sehingga dapat memberikan sumbangan referensi baik untuk keperluan studi dan kajian akademik, serta untuk keperluan praktisi pemerintahan yang menggeluti bidang ini. Untuk kalangan akademik, buku ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan bagi kuliah dan penelitian yang mengambil tema pasar tradisional dan pasar modern, pengembangan potensi modal sosial dan sumber daya pedagang pasar tradisional. Untuk keperluan praktis, buku ini dapat menjadi tambahan bacaan bagi perencana, dan pengambil kebijakan, baik dari kalangan pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pasar tradisional.
Akhirnya dengan kerendahan hati, tak ada gading yang tak retak, saran, kritik , dan tegur sapa, penulis terima dan sambut dengan gembira guna penyempurnaan buku ini pada edisi berikutnya.
Ungaran, Agustus 2018
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 3
DAFTAR ISI ... 4
BAB I PENDAHULUAN ... 10
A. Latar Belakang ... 10
B. Rumusan Masalah ... C. Tujuan Penelitian... D. Manfaat Penelitian ... E. Alur Kerangka Pemikiran ... BAB II PENGANTAR HUKUM PERSAINGAN USAHA... 21
A. Mengenal Hukum Persaingan Usaha………. ... 21
B. Sejarah Hukum Persaingan Usaha ……….…. ... 36
C. Pemikiran Terbentuknya UU No.5 Tahun 1999. ... 45
BAB III TATA KELOLA PASAR DAN KEBUTUHAN
TERHADAP HUKUM ... 78
A. Analisis Ekonomi Terhadap Hukum ... 78
B. Peran Negara dalam Mekanisme Pasar ... 82
C. Hukum Ekonomi ... 94
D. Sistem dan Konsep Ekonomi Pasar ... 96
BAB IV PERJANJIAN YANG DILARANG ... 105
A. Perjanjian yang Bersifat Oligopoli ... 109
B. Perjanjian Penetapan Harga ... 113
C. Perjanjian Pembagian Wilayah Pemasaran atau Alokasi Pasar ... 121
D. Perjanjian Pemboikotan ... 123
E. Perjanjian Kartel ... 124
F. Perjanjian Trust ... 126
G. Perjanjian Oligoposi ... 127
H. Perjanjian Integrase Vertical ... 129
I. Perjanjian Tertutup ... 130
J Perjanjian dengan Pihak Luar Negeri ... 137
BAB V KEGIATAN YANG DILARANG ... 140
A. Kegiatan yang Bersifat Monopoli ... 142
B. Kegiatan yang Bersifat Monopsoni ... 143
C. Kegiatan yang Bersifat Penguasaan Pasar ... 144
E. Kegiatan Penetapan Biaya Produksi Secara Curang ... 146 F. Kegiatan Persekongkolan ... 147
BAB VI PRAKTEK PERSAINGAN USAHA PASAR
TRADISIONAL DAN PASAR MODERN ... 150 A. Pasar dan Realitas Budaya ... 150 B. Pasar Modern: Ancaman Terhadap Eksistensi
Pasar Tradisional ... 155 C. Potret Persaingan Usaha Pasar Tradisional dan Pasar Modern D. Penganturan Pasar Tradisional dan Pasar Modern ... 159 BAB VII KONSEP HUKUM PERSAINAGAN USAHA INTEGRASI PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN ... 172
A. Tipologi Hukum Persaingan Usaha yang
Mengatur Pasar Tradisional dan Pasar Modern ... 172 B. Konsep Integrasi Pasar Tradisional
dan Pasar Modern ... 188
BAB VIII PENUTUP ... A. Simpulan ... B. Saran/Rekomendasi ...
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan dalam hidupnya, dan kebutuhan itu berfungsi untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan-kebtuhan tersebut merupakan syarat agar manusia itu bisa bertahan hidup di dunia ini. Semakin baik kebutuhan-kebutuhan itu bisa dipenuhi, semakin sejahtera pula hidupnya, demikian pula sebaliknya.1 Untuk memenuhi kebutuhannya, salah satu cara yang digunakan oleh manusia adalah dengan melakukan kegiatan usaha diantaranya melalui kegiatan jual beli yang secara umum dilakukan di pasar. Pada dasarnya kegiatan tersebut bertujuan baik, yaitu untuk membawa pertumbuhan ekonomi bagi suatu negara, dalam kegiatan jual beli, keberadaan pasar merupakan salah satu hal yang paling penting karena merupakan tempat untuk melakukan kegiatan tersebut selain menjadi salah satu indikator paling nyata kegiatan ekonomi masyarakat di suatu wilayah.
Eksistensi pasar menjadi sangat penting untuk diperbincang-kan, mengingat pasar merupakan tempat bertemunya pembeli dan penjual dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, proses bertemunya pembeli dan penjual ini menjadi indikator tingkat perekonomian masyarakat. Semakin besar volume transaksi yang terjadi di pasar menunjukkan perekonomian yang stabil dan lebih jauh lagi kegiatan ekonomi yang terjadi di
pasar merupakan cerminan tingkat kesejahteraan masyarakat.2 Dalam perkembangannya, pasar yang berkembang dalam masyarakat ada dua yaitu pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah Daerah, sedangkan pasar modern/pusat perbelanjaan adalah suatu area tertentu yang terdiri dari satu atau beberapa bangunan yang didirikan secara vertikal dari satu atau beberapa bangunan yang didirikan secara vertikal maupun horizontal, yang dijual atau disewakan kepada pelaku usaha atau dikelola sendiri untuk melakukan kegiatan perdagangan barang.3 Pasar modern juga dapat diartikan sebagai pasar yang dikelola dengan manajemen modern, umumnya terdapat di kawasan perkotaan, sebagai penyedia barang dan jasa dengan mutu dan pelayanan yang baik kepada konsumen (umumnya anggota masyarakat kelas menengah ke atas).
Persaingan dalam pasar modern telah melanda negara-negara maju sejak beberapa dekade, khususnya di Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat. Menjelang dekade akhir millennium, persaingan semakin meluas hingga ke negara-negara berkembang, dimana deregulasi sektor usaha ritel yang bertujuan untuk meningkatkan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) telah berdampak pada pengembangan jaringan ritel modern seperti supermarket dan minimarket.
Di Indonesia, pasar modern dalam kategori supermarket lokal telah ada sejak 1970-an, meskipun masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Pemberlakukan liberalisasi sektor ritel pada 1998 menjadi awal masuknya ritel asing ke pasar dalam negeri. Akibatnya, persaingan dunia perdaganganpun semakin sengit. Meningkatnya persaingan telah mendorong kemunculan pasar modern dalam kategori supermarket di kota-kota yang
2 Afif Noor, “Perlindungan Terhadap Pasar Tradisional di Tengah Ekspansi Pasar
Ritel Modern”, Jurnal Economica UIN Walisonggo Semarang, Volume IV, Edisi 2, Nopember 2013, hlm, 110
lebih kecil dalam rangka untuk mencari pelanggan baru dan terjadinya perang harga. Akibatnya, persaingan bukan hanya antar sesama pasar modern, pasar tradisional pun menjadi korban persaingan ini. Sebab, supermarket tidak hanya mengincar pasar kelas menengah ke atas, tetapi juga kelas bawah.
Keberadaan pasar modern mempunyai dampak bagi keberadaan pasar tradisional yang eksistensinya mengalami penurunan, hal itu dapat dimaklumi karena adanya perbedaan yang mencolok antara pasar tradisional dan pasar modern terutama dari segi kualitas produk dan kenyamanan yang diberikan. Kondisi ini semakin terasa, setelah dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 96/2000 (yang telah beberapa kali diperbaharui dan terakhir diperbaharui dengan Keputusan presiden 44 Tahun 2016) tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Tertentu di Bidang Penanaman Modal. Keberadaan Keppres ini mengundang masuk retailer asing untuk membuka usahanya di Indonesia.4 Pada Keppres tersebut, untuk sektor perdagangan, bisnis perdagangan eceran skala besar (mall, supermarket, department store, pusat pertokoan/perbelanjaan) dan perdagangan besar (distributor/wholesaler, perdagangan ekspor dan impor) dikeluarkan dari negative list bagi penanaman modal asing (PMA).5
Munculnya pasar-pasar modern memang menguntungkan bagi konsumen, tapi merupakan suatu acaman bagi keberadaan pasar-pasar tradisional. Hasil survai AC Nielsen6 tahun 2005 menyatakan jumlah pasar tradisional di Indonesia sekitar 13.450 unit dengan jumlah pedagang sebanyak 12.626.000
4 Ahmad Erni Yunita, 2008, “Refleksi Kompetisi Hypermarket dan Pasar
Tradisional, Jurnal Bisinis & Ekonomi Politik, Institue for Defelopment of Economics and Finance (INDEF)”, Volume 9 Nomor 2, April 2008, hlm, 1.
5 Edy Priyono & Erlinda Ekaputri, “Analisis Cost-Benefit Kehadiran Pengecer
Besar, Jurnal Bisinis & Ekonomi Politik, Institue for Defelopment of Economics and Finance (INDEF)”, Volume 9 Nomor 2, April 2008, hlm, 10.
6 Herman Malono, Selamatkan Pasar Tradisional, Gramedia Pustaka Utama,
orang. Hal ini menunjukkan di setiap pasar tradisional rata-rata menampung 939 pedagang. Data itu belum mencakup pedagang kaki lima (PKL) yang memadati areal pasar, lokasi parkir, dan ruas jalan. Sementara itu menurut Herman Malano pertumbuhan pasar modern mencapai mencapai 31,4%, sedangkan pasar tradisional pertumbuhannya minus 8,1%. Pada diskusi Forum Wartawan Perdagangan (Forward) bertajuk “Mencari Bentuk Ideal Sinergi Pemerintah dan Swasta dalam Pembangunan Pasar Tradisional”, di Kantor Kemendag, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi sebagaimana yang dikutip oleh Tri Widodo & Bertha Kusuma Wardani7 mengatakan pertumbuhan itu, menurut mantan wakil menteri perdagangan, pasar tradisional di Indonesia hingga kini (tahun 2012) berjumlah 10 ribu. Sedangkan, pasar modern sudah melebihi total pasar tradisioanal, yakni 14 ribu.
Untuk Jawa Tengah, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Afif Noor8 didapatkan data bahwa jumlah pasar tradisional pada tahun 2004 mencapai 1.496 pasar, sedangkan pasar modern berjumlah 232. Bila dibandingkan dengan data pada tahun 2008, jumlah pasar tradisional hanya 1.443 pasar, sedangkan untuk pasar moden mencapai 399. Berangkat dari data tersebut menunjukan, pasar tradisional mengalami pertumbuhan negatif, karena jika diprosentase pada tahun 2004 pasar tradisional 86,5 %, sedangkan pasar modern 13,5%. Pada tahun 2008, pasar tradisional mengalami penurun menjadi 78,3% sedangkan pasar modern tumbuh menjadi 21,7%, ini berarti pasar tradisional mengalami penurunan sebesar 8,2%. Persoalan ini tentu juga dialami di negara berkembang lainnya. Kendati persaingan antar supermarket (pasar modern) secara teoritis menguntungkan konsumen, tetapi hal ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan roda perekonomian.
7 Tri Widodo & Bertha Kusuma Wardani, “Strategi Equilibrium Pasar Tradisional
Mensiasati Kepungan Pasar Modern”, Jurnal, Among Makarti STIE AMA Salatiga, Volume 5, Nomor 10, Desember 2012.
Pesatnya pertumbuhan pasar modern tidak hanya berpengaruh secara kwantitas terhadap keberadaan pasar tradisional, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap pendapatan para pedagang di pasar tradisional, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh AC. Nielsen, kontribusi penjuaalan pasar tradisional mengalami penurunan, bila pada tahun 2002, dominasi penjualan di segmen pasar tradisional mencapai 75%, maka pada tahun 2007 turun menjadi hanya 70%. Khusus di Pasar Legi Kota Surakarta berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maritfa Nika Andriani dan Muhammad Mukti Ali9 disebutkan bahwa pendapatan pedagang di pasar tradisional mengalami penurunan mencapai 50%. Hal tersebut juga dipengaruhi karena semakin berkurangnya jumlah pembeli/konsumen yang telah beralih untuk berbelanja di pasar modern, sehingga berdampak pada menurunya omzet penjualan dan pendapat pedagang. Untuk kota Surakarta saat ini jumlah pasar tradisional sebanyak 44 pasar, sedangkan pasar modern sudah mencapai 88 yang terdiri dari 18 pasar dalam kategori trade Center, Hypermarket, Mall/ Plaza, dan Supermarket dan 70 pasar dalam kategori minimarket.
Kapitalisme Barat yang relatif modern, muda dan agresif – terutama dibangun di kota-kota besar – menghadapi tradisi-tradisi prakapitalis yang tua dan arif berakar di desa-desa, dijumpai pada kekerabatan suku, adat setempat dan agama. Aspek ekonomi dari pemilahan sosial serta perbenturan antara dua prinsip hidup ini menciptakan perekonomian dualistis. Dualistis pada konsep ini berarti dua sisi, bersifat heterogen. Dimana dualistis ini berkuasa, keselarasan sosial serta kesatuan ekonomi tidak ada, tidak ada kedamaian internal sejati. Keseimbangan ekonomi terguncang tanpa berhenti.
Di dalam perekonomian mikro peran pasar tradisional penting sebagai pusat perputaran uang, karena setiap hari
9 Maritfa Nika Andriani dan Muhammad Mukti Ali, “Kajian Eksistensi pasar
banyak sekali transaksi di dalam pasar. Pasar tradisional di setiap wilayah berbeda, ini diakibatkan oleh bentuk komoditi, nilai transaksi, kondisi sosial, budaya dan potensi alam di wilayah sekitarnya. Sebagai contoh pasar di wilayah Papua berbeda dengan pasar di wilayah Jawa. Beberapa pasar di Papua sampai saat ini masih menggunakan barter dan lokasi pasar masih terpencar-pencar, pasar di Jawa pada abad VIII sudah memiliki pola Macapat, dan sudah mengenal mata uang sehingga peluang untuk menggunakan barter kecil.
Munculnya dikotomi antara pasar modern dan pasar tradisional di Indonesia oleh J.H. Boeke10 dilihat ada dua bentuk sistem ekonomi yang sama-sama kuat dan berdampingan satu sama lain. Dua sistem ekonomi tersebut bukan sistem ekonomi transisi dimana sifat yang satu menjadi makin lemah dan satunya makin kuat, akan tetapi keduanya berdampingan dengan sifat-siat yang berbeda.
Dua sistem ekonomi yang berbeda dan berdampingan sama kuat itulah yang oleh J.H. Boeke disebut sebagai sistem ekonomi dualistik atau dualistische economic (Bahasa Belanda). Dua bentuk sistem ekonomi yang ada di Indonesia tersebut yang satu adalah sistem ekonomi yang dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia asli yang masih (karena dipengaruhi jalan pikiran Werner Sombart) prae-kapitalistik, dan yang lain adalah sistem ekonomi yang diimpor atau dibawa dari Barat yang telah berbentuk kapitalisme, sosialisme atau komunisme. Jadi dualisme itu lebih bersifat kemasyarakatan atau sosial dualism atau dualistic society (Bahasa Inggris lebih sering digunakan dual society). Sistem ekonomi pra-kapitalistik dapat kita jumpai banyak beraktifitas di pasar-pasar tradisional, sedangkan sistem ekonomi kapitalistik yang berasal dari luar banyak kita temukan aktifitasnya di pasar-pasar modern.
10 J. H. Boeke, Prakapitalisme di Asia (Terjemahan), Sinar Harapan, Jakarta,
Keberadaan pasar, merupakan salah satu indikator paling nyata dalam kegiatan ekonomi masyarakat suatu wilayah. Pemerintah harus memperhatikan keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu sarana publik yang mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Perkembangan jaman dan perubahan gaya hidup yang dipromosikan begitu hebat oleh berbagai media telah membuat eksistensi pasar tradisional menjadi terancam. Namun demikian, pasar tradisional ternyata masih mampu untuk bertahan dan bersaing di tengah serbuan pasar modern dalam berbagai bentuk.11
Oleh karena itu pengaturan terhadap persaingan usaha merupakan hal yang esensial agar tidak terjadi proses saling sikut-menyikut dan penumpukan kekayaan pada kalangan tertentu. Di sinilah peran pemerintah sebagai penyelenggara negara menjadi penting untuk memberikan titik keseimbangan antara perkembangan suatu usaha dengan pemerataan pendapatan dari warganya. Pemerintah harus membuat aturan yang di satu sisi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan di sisi lain dapat mengajak semua pihak untuk turut serta dalam kegiatan usaha berdasarkan perannya masing-masing. Menurut Johny Ibrahim12 dalam aktifitas bisnis dapat dipastikan selalu terjadi persaingan diantara pelaku usaha. Pelaku usaha akan cenderung berusaha untuk menciptakan, memberi nilai tambah, serta memasarkan produk berupa barang atau jasanya sebaik mungkin agar diminati oleh masyarakat. Persaingan usaha pada hakikatnya dapat berimplikasi postif untuk dapat saling mengembangkan kemampuan bagi para pelaku usaha, namun juga dapat berdampak negatif jika dijalankan dengan perilaku negatif dan dengan sistem ekonomi yang tidak kompetitif.
11 Indrakh, Pasar Tradisional di Tengah Kepungan Pasar Modern,http://indrakh.
wordpress. com. diakses pada tanggal 3 Juni 2016.
12 Johny Ibrahim, Hukum Persaingan Usaha (Filosofi, Teori, dan Implikasi
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, implementasi hukum persaingan usaha bukanlah pekerjaan yang mudah. Terlebih masih adanya anggapan dikalangan negara berkembang yang mengatakan bahwa implementasi hukum persaingan usaha yang berlebihan dapat mengganggu aktifitas bisnis pelaku usaha, dan kurang menguntungkan bagi perusahaan-perusahaan nasional, ditambah biaya yang dibutuhkan dalam proses investigasi dugaan praktek anti persaingan juga tidaklah murah.13
Kemudian Maria Vagliasindi14 dalam kajiannya menyimpulkan bahwa implementasi efektif dari hukum persaingan merupakan tugas yang sulit, serta memerlukan tingkat pengetahuan dan keahlian yang tinggi. Kondisi struktur awal yang terjadi dalam ekonomi transisi dari proteksi ke liberalisasi, khususnya pada negara berkembang membuat implementasi hukum persaingan menjadi tugas yang lebih menantang daripada implementasi hukum persaingan pada negara maju. Hambatan masuk yang timbul dari konsentrasi pasar yang tinggi; kontrol dan kepemilikan pemerintah; hambatan administratif, semuanya tinggi di ekonomi transisi. Dan tidak hanya itu, menurut Luis Tineo15 implementasi hukum persaingan usaha juga tidak akan terlepas dari tekanan secara politik maupun sosial.
13 Won-Joon Kim, “Korea’s Experiences in Adoption & Enforcement of Competition
Law and Implication for Developing Countries,” makalah disampaikan pada 2nd ASEAN CONFERENCE ON COMPETITION LAW & POLICY yang diselenggarakan oleh KPPU, Sekretariat ASEAN dan ASEAN Consultative Forum for Competition, di Bali pada tanggal 14-16 June 2006.
14 Maria Vagliasindi, “Competition Across Transition Economies: an Enterprise-level Analsis of The Main Policy and Structural Determinants.” Working
paper No.68, European Bank. Londan, 2001. dikutif dari Ine Minara S. Ruky, “Implementasi Kebijakan Persaingan Melalui Hukum Persaingan dan Liberalisasi Perdagangan”, Desertasi Doktor, Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004, hlm, 6.
15 Luis Tineo, “Indonesia: Promoting Effecinet Markets Trhrough the Effective
Pasar modern dengan wajah industri ritel adalah salah satu industri yang sekarang ini sedang mengalami tingkat persaingan yang begitu tinggi, hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya pusat-pusat ritel yang bermunculan layaknya “jamur di musim hujan”. Kondisi seperti ini sudah barang tentu disambut gembira oleh masyarakat/konsumen, konsumen diberikan banyak pilihan dalam berbelanja belum lagi manfaat yang di dapatkan oleh konsumen dari perang harga yang dilakukan di antara sesama peritel, bahkan sekarang tempat berbelanja sudah dapat dianggap oleh sebagian konsumen sebagai salah satu tempat berekreasi, dikarena fasilitas-faslitas yang disediakan oleh pusat-pusat perbelanjaan yang layaknya seperti pusat hiburan. Pasar modern dengan wajah industri ritel Industri ritel adalah salah satu bentuk industri yang dapat dikatakan mendekati apa yang disebutkan di dalam teori ilmu organisasi industri sebagai perwujudan dari pasar yang bersaing. Dimana di dalam industri ini banyak sekali terdapat penjual dan pembeli. Dan masing-masing penjual dan pembeli tidak ada yang dapat mempengaruhi kondisi pasar, produk yang terstandarisasi, mudah untuk masuk dan keluar, serta cukup tersedia banyak informasi lengkap dan jelas.
Implementasi hukum persaingan usaha sesungguhnya memiliki karakteristik yang berbeda dengan implementasi hukum pada bidang hukum yang lain, dimana biasanya efektifitas implementasi dari suatu produk hukum dapat dilihat dari adanya korelasi secara langsung dengan terjadinya perubahan sikap dari pihak-pihak yang diatur oleh produk hukum tersebut. seperti misalnya efektifitas implementasi dari peraturan lalu lintas dapat terlihat dari perilaku pengemudi di jalan raya yang lebih tertib, atau efektifitas implementasi hukum anti korupsi dapat tercermin dari berkurangnya angka korupsi yang terjadi di dalam masyarakat.16
16 Ditha Wiradiputra, “Mengkaji Efektifitas Implementasi Hukum Persaingan
Pada hukum pesaingan usaha, efektifitas dari implementasinya tidak dapat dilihat dengan mudah dilapangan, seperti halnya yang terjadi pada bidang hukum yang lain. Pada hukum persaingan usaha, sebagian besar pengaturannya dirumuskan secara rule of reason, sehingga perbuatan atau perilaku yang diatur tersebut bukanlah perbuatan atau perilaku yang mutlak atau secara otomatis dilarang, pelaku usaha dapat melakukan perbuatan atau perilaku sebagaimana yang diatur di dalam pasal-pasal rule of reason tersebut, asalkan dari perbuatan atau perilaku itu tidak mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Dan konsekuensinya, sebanyak apapun putusan yang dihasilkan oleh aparatur penegak hukum seperti KPPU, Pengadilan negeri atau Mahkamah Agung kecil kemungkinannya dapat mempengaruhi pelaku usaha lain untuk tidak melakukan perbuatan atau perilaku yang sama.
Pada dasarnya tidak sulit untuk menafsirkan fenomena merosotnya kinerja dan pangsa pasar tradisional yang terjadi dalam satu dekade terakhir. Institue for Defelopment of Economics and Finance (INDEF) tahun 200717 mencatat, telah terjadi penurunan omset, perputaran barang, marjin harga, bahkan penurunan jumlah kios aktif di pasar tradisional. Bagi orang yang berpikiran positif kemungkinan besar akan bersikap, bahwa “pasar tradisional telah kehilangan daya saing”, karena infrastruktur dan sistem perpasaran jauh tertinggal di tengah serbuan peritel pasar modern. Namun dari mana memulai langkah, ketika banyak pihak melihatnya dari sisi buruk dampak keberadaan ritel pasar modern, dan karena itu perijinannya harus dibatasi.
terhadap kajian implementasi UU No.5 Tahun 1999 di bidang Industri Ritel Tahun 2007 yang diselenggarakan KPPU.
17 Umar Hidayat, “Preferensi Konsumen: Strategi Pengembangan Pasar
Bagi orang yang berpikiran positif tentunya akan menyatakan “tidaklah arif menyusun suatu kebijakan berdasarkan argumen ada atau tidak adanya dampak dari suatu situasi”, untuk itu, suatu pendekatan sederhana sesungguhnya sangat mudah dipahami, bahwa penguatan/pengembangan pasar tradisional harus berangkat dari tuntutan ekspektasi konsumen,
BAB II
PENGANTAR HUKUM PERSAINGAN USAHA
A. Mengenal Hukum Persaingan Usaha
Secara umum dapat dikatakan bahwa hukum persaingan usaha adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan persaingan usaha, adapun istilah-istilah yang digunakan untuk bidang hukum ini, selain istilah hukum persaingan usaha (competition law), yaitu hukum antimonopoli (antimonopoly law), hukum antitrust (antitrust law),18 dan di Amerika Serikat pada tahun 1890, atas inisiatif senator Jhon Sherman dari Partai Republik, Konggres Amerika Serikat mengesahkan sebuah undang-undang yang berjudul “Act to Protect Trade and Commerce Against Unlawful Restrainst and Monopolies”,19 undang-undang tersebut lebih dikenal sebagai Sherman Act sesuai dengan penggagasnya.
Persaingan usaha mencakup mengenai segala tindakan pelaku usaha dalam pasar, oleh karena itu hukum persaingan usaha (competition law) ialah hukum yang mengatur pasar (law regulating the markets or the set of laws and regulations governing
18 Susanti Adi Nugroho, Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia (Dalam Teori dan Praktik serta Penerapan Hukumnya), Jakarta, Kencana Prenadamedia
Group, 2014, Cetakan ke-2, hlm. 1. Lihat pula Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Persaingan Usaha Di Indonesia, Jakarta, Kencana Prenada Media
Group, 2008, hlm. 1.
19 Johnny Ibrahim, Hukum Persaingan Usaha (Filosofi, Teori, dan Implikasi
market behavior).20 Berdasarkan pemahaman di atas pengertian persaingan usaha sangat luas dan mencakup segala tindakan pelaku usaha dalam pasar, termasuk diantaranya tindakan persaingan tidak sehat.
Hukum persaingan usaha adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan persaingan usaha. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentu pengertian hukum persaingan usaha yang demikian itu tidaklah mencukupi. Oleh karenanya, perlu dikemukakan beberapa pengertian hukum persaingan usaha dari para ahli hukum persaingan usaha.
Menurut Arie Siswanto,21 dalam bukunya yang berjudul “Hukum Persaingan Usaha”, yang dimaksud dengan hukum persaingan usaha (competition law) adalah instrumen hukum yang menentukan tentang bagaimana persaingan itu harus dilakukan. Selanjutnya dalam Kamus Lengkap Ekonomi yang ditulis oleh Christopher Pass dan Bryan Lowes sebagaimana dikutip oleh Hermansyah,22 yang dimaksud dengan competition laws (hukum persaingan) adalah bagian dari perundang-undangan yang mengatur tentang monopoli, penggabungan dan pengambilalihan, perjanjian perdagangan yang membatasi dan praktik anti persaingan.
Menurut Boner dan Krueger yang di kutip oleh Thee Kian Wie23 menyatakan bahwa kebijakan persaingan mencakup semua kebijakan pemerintah untuk mempertahankan dan melindungi persaingan diantara pembeli dan penjual di pasar bebas yang relatif tidak dikendalaikan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan konsumen dengan mendorong
20 Dedie S. Martadisastra, “Persaingan Usaha Ritel Modern dan Dampaknya
Terhadap Pedagang Kecil Tradisional” Jurnal Persaingan Usaha KPPU, Edisi 4
Tahun 2010, hlm, 71.
21 Arie Siswanto, Hukum Persaingan Usaha, Jakarta, Ghalia Indonesia, 2001,
hlm. 15.
22 Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Cetakan
ke-1, Kencana Prenada Media group, Jakarta, 2008, hlm, 2.
alokasi sumber-sumber masyarakat secara efisien, yang didasarkan atas prinsip fundamental bahwa dalam kondisi kompetitif perusahaan memberi konsumen harga dan mutu yang baik.24
Persaingan antar pelaku usaha di dunia bisnis dan ekonomi adalah sebuah keharusan. Persaingan usaha dapat diamati dari dua sisi, yaitu sisi pelaku usaha atau produsen dan sisi konsumen.25 Dari sisi produsen, persaingan usaha berbicara mengenai bagaimana perusahaan menentukan strategi bersaing, apakah dilakukan secara sehat atau saling mematikan.
Persaingan dalam dunia usaha merupakan hal yang biasa terjadi, bahkan dapat dikatakan persaingan dalam dunia usaha itu (meminjam istilah yang di gunakan oleh Satjipto Rahardjo) merupakan conditio sine qua non atau persyaratan mutlak bagi terselenggaranya ekonomi pasar. Walaupun harus diakui bahwa ada kalanya persaingan usaha itu sehat (fair competition), dan dapat juga tidak sehat (unfair competition).26 Pesatnya perkembangan dunia usaha adakalanya tidak diimbangi dengan penciptaan rambu-rambu pengawasan. Dunia usaha yang berkembang terlalu pesat sehingga meninggalkan rambu-rambu yang ada, jelas tidak akan menguntungkan pada akhirnya.27 Hukum dituntut untuk merespon segala seluk beluk kehidupan dunia usaha yang melingkupinya sebagai suatu fenomena atau kenyataan sosial. Itu berarti, peran hukum menjadi semakin penting dalam menghadapai problema-problema dunia usaha yang timbul seperti monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
24 Thee Kian Wie, Pembangunan, Kebebasan, dan “Mukjizat” Orde Baru: Esai-Esai, Cetakan 1, Kompas, Jakarta, 2004, hlm. 177.
25 Sukarmi, “Peran UU Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat dalam meningkatkan persaingan usaha di Era AFTA”, Jurnal Persaingan Usaha KPPU, Edisi 4 Tahun 2010, hlm, 2.
26 Hermansyah, Op. Cit., hlm. 8-9
Profesor Organsky28 berpendapat bahwa bangsa-bangsa modern sekarang ini menjalani tiga tahap pembangunan, yaitu politik unifikasi, politik industrialisasi ,dan politik kesejahteraan sosial. Tahap pertama masalah utama adalah integrasi politik dalam rangka menciptakan persatuan nasional. Tahap kedua adalah perjuangan untuk modernisasi politik dan ekonomi. Pada tahap ini fungsi utama pemerintah adalah mendorong terjadinya akumulasi modal. Sedangkan pada tahap ketiga, pekerjaan utama pemerintah adalah melindungi rakyat dari penderitaan yang timbul sebagai akibat dari kehidupan industrialisasi.
Organsky29 menjelaskan tahap-tahap perkembangan politik, yakni, tahap politik unifikasi primitif, politik industrialisasi, politik kesejahteraan nasional dan Politik Berkelimpahan. Bangsa-bangsa yang tumbuh lebih dahulu di negara-negara Eropa dan Amerika Utara pada umumnya mengalami tahap pertumbuhan ini selangkah demi selangkah. Sehingga dapat dikatakan bahwa Teori Organsky tentang tahap-tahap pembangunan politik terjadi dihampir semua negara. Di Eropa barat dan Amerika Utara kentara sekali bahwa tahap perkembangan negara di mulai dari tahap unifikasi primitif, Organsky30 menyebutkan perkembangan yang terjadi di Eropa Barat mulai terjadi pada abad ke 16, juga dibelahan dunia lain, asal mula negara ditandai dengan munculnya koloni-koloni Eropa. Tentunya dengan berbagai keunikan yang berbeda-beda dari suatu negara.
Organsky31 juga menyebutkan tahap selanjutnya setelah tahap Unifikasi Primitif yaitu negara masuk pada tahap Politik
28 Organsky dalam Erma Rajagukuguk, “Perubahan Hukum Indonesia: Persatuan Bangsa, Pertumbuhan Ekonomi dan Kesejahteraan sosial “, Jakarta: LDF dan
Fak.Hukum UI, 2004, hlm, 6-7.
29 Organsky dalam Rita Yani Iyan, “Peran Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”,
jurnal Sosial Ekonomi Pembangunan, Tahun II Nomor 5, Maret 2012, hlm, 169-170.
30 Ibid.
Industrialisasi, dimana negara mulai membangun dan berupaya memperkuat perekonomian dengan industrialisasi, pola pembangunan lewat industrialisasi merupakan pilihan yang ideal yang harus ditempuh, terutama oleh negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa Barat. Perkembangan ini ditandai oleh proses industrialisasi di Inggris. Abad ke 18 merupakan titik kemajuan proses industrialisasi di Inggris dimana ditemukan berbagai inovasi terutama inovasi teknologi yang mendorong ditemukan mesin-mesin industri pabrik. Pilihan melakukan industrialisasi merupakan yang terbaik karena keunggulan komparatif negara-negara barat terletak pada produk-produk industri dan teknologi. Politik industrialisasi secara implisit masih terjadi di Indonesia, dimana proses industrialisasi dan pembangunan infrastruktur pendukung industri terus dilakukan, terlebih Krisis yang melanda Indonesia tahun 1998 membuat Indonesia bertahan lebih lama di fase ini. Tahap selanjutnya menurut Organsky adalah politik kesejahteraan nasional, politik kesejahteraan nasional merupakan politik bangsa-bangsa industri sepenuhnya, tahap ini menurut Organsky adalah tahap dimana telah terjadi saling tergantungan antara rakyat dengan pemerintah yang selanjutnya menjadi lengkap.
pemerintahan adalah mensejahterakan rakyatnya dengan berbagai macam fasilitas publik, pendidikan dan kesehatan.32
Berbeda dengan negara-negara modern lainnya di dunia seperti Inggris,33 Amerika34 dan Jepang,35 Indonesia tampaknya ingin mencapai tiga tahap tersebut dalam waktu bersamaan. Indikasinya terlihat, sejak reformasi bergulir pada tahun 1998 tidak kurang 242 undang-undang, 11 Perpu, 608 Peraturan Pemerintah, 1003 Keputusan Presiden dan 82 Instruksi Presiden lahir baik yang mengatur dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial, yang tujuan-tujuannya adalah merekat negara kesatuan Republik Indonesia, mengatasi krisis ekonomi dan mengembangkan kesejahteraan sekaligus.36
Salah satu produk undang-undang yang dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Undang-undang ini menarik untuk dianalisis tidak saja karena semangat yang diembannya sungguh jauh berbeda dengan semangat pembangunan ekonomi yang dianut oleh orde baru, namun lebih jauh dari itu
32 Rita Yani Iyan, “Peran Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi”, jurnal Sosial
Ekonomi Pembangunan, Tahun II Nomor 5, Maret 2012, hlm, 169-170.
33 Inggris masuk pada tahap pertama pada zaman Henry II (1154-1189) ditandai
antara lain lahirnya common law dan terbentuknya Inggris Raya. Inggris menunggu hingga 500 tahun sampai terjadinya revolusi industri untuk masuk pada tahap kedua. Baru pada paruh abad ke dua puluh Inggris masuk pada
tahap ketiga.
34 Amerika masuk pada tahap pertama mulai lahirnya konstitusi Amerika tahun
1776. setelah 60 tahun merdeka Amerika masuk pada tahap kedua, era industrialisasi. Rostow menyebut negara ini mulau take of di tahun 1840. barulah pada tahun 1930 Amerika Serikat masuk pada tahap ketiga “welfare state”.
35 Jepang memasuki tahap pertama ketika keluarga Tokugawa di bawah berapa
Shogun mempersatukan Jepang dari tahun 1603 sampai 1867. Barulah dengan restorasi Meiji tahun 1868, Jepang memasuki tahap kedua, industrialisasi. Setelah perang dunia II, Jepang bangkit dan memasuki tahap ‘welfare state”.
36 Azhari Akmal Tarigan, “Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
dalam Perspektif Hukum Ekonomi dan Hukum Islam”, Jurnal Mercatoria, Vol. 9
undang-undang ini diharapkan dapat mendorong terjadinya pertumbuhan ekonomi yang lebih demokratis. Dengan kata lain, melalui undang-undang ini, seluruh rakyat diberi kesempatan yang sama untuk mengembangkan potensi ekonominya.
Undang-undang Persaingan Usaha atau yang lebih dikenal sebagai undang-undang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat (UU No. 5 Tahun 1999) adalah sebuah undang-undang yang didasarkan pada praktik pasar bebas atau liberalism. Pasar bebas atau liberalisme adalah sebuah praktik perdagangan yang mengagungkan kebebasan persaingan dalam sebuh sistem ekonomi pasar. Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang begitu takjub akan keberhasilan sistem ekonomi pasar yang lebih mengedepankan persaingan ini. Sehingga regulasi yang dikembangkan dan dihasilkannya lebih mengarah pada praktik liberalisme.
Perkembangan produk legislasi yang mengarah pada pasar bebas terus berlanjut sehingga berakibat banyaknya produk asing yang bebas masuk pasar Indonesia. Masuknya produk asing dalam jumlah besar telah mematikan industri lokal yang tidak mampu bersaing baik dari segi mutu maupun harga, serta masuknya pedagang dengan modal besar telah berhasil menggeser peran pedagang kecil di kampung-kampung dan di pasar-pasar tradisional menjadi tidak mampu berdagang lagi karena pelanggannya telah pindah ke tempat yang menawarkan kenyamanan dan kemewahan dalam berbelanja.37
Pelaksanaan persaingan yang demikian ini yakni tanpa memikirkan yang lemah baik dari segi modal maupun kreativitas usaha yang menjadi ciri sebagian besar rakyat Indonesia kiranya telah menjadi kelemahan bawaan dari UU persaingan usaha sebagaimana tertera dalam Pasal 3 UU No. 5 Tahun 1999 adalah sebagai berikut:
Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat;
Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil;
Mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan
Terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.
Kelemahan bawaan tersebut jelas terlihat dari ketentuan Pasar 3 angka 2 yang menyatakan “Mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil”. Berdasarkan pasal ini dapat diketahui bahwa semua pelaku usaha baik besar, menengah, maupun kecil dianggap setara.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dapat dan harus membantu dalam mewujudkan struktur ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UUD 1945. Dalam penjelasan Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945, yang menyatakan bahwa ”ekonomi diatur oleh kerjasama berdasarkan prinsip gotong royong”, termuat pikiran demokrasi ekonomi, yang dimaksudkan ke dalam Pasal 2 UU No. 5 Tahun 1999. Demokrasi ciri khasnya diwujudkan oleh semua anggota masyarakat untuk kepentingan seluruh masyarakat, dan harus mengabdi kepada kesejahteraan seluruh rakyat. Pikiran pokok tersebut termuat dalam pasal 2, yang dikaitkan dengan huruf a dan huruf b dari pembukaannya, yang berbicara tentang pembangunan ekonomi menuju kesejahteraan rakyat sesuai dengan UUD dan demokrasi ekonomi. Disetujui secara umum bahwa negara harus menciptakan peraturan persaingan usaha untuk dapat mencapai tujuan demokrasi ekonomi. Oleh karena terdapat tiga sistem yang bertentangan dengan tujuan tersebut, yaitu: 1) ”liberalisme perdagangan bebas”, yang pada masa lalu telah melemahkan kedudukan Indonesia dalam ekonomi internasional; 2) sistem penganggaran belanja yang menghambat kemajuan dan perkembangan ekonomi; dan 3) sistem pengkonsentrasian kekuatan ekonomi, oleh karena segala monopoli akan merugikan rakyat. Hanya perundang-undangan antimonopoli yang dapat mencegah timbulnya ketiga sistem tersebut, karena melindungi proses persaingan usaha, menjamin tata persaingan usaha dan mencegah terjadinya dominasi pasar.
dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; b) mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; c) mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan d) terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.
Dengan diundangkannya UU Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, UU No. 5 Tahun 1999, ini merupakan langkah awal bagi Indonesia dalam rangka membawa bisnis dan perdagangan ke arah yang lebih adil (fair) dan yang berlandaskan kepada prinsip-prinsip persaingan pasar secara sehat, yang diharapkan dapat memberikan rasa keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum bagi pelaku usaha, konsumen, dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan lahirnya undang-undang larangan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat ini, maka perangkat hukum yang mengatur mengenai praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, jauh lebih baik dari yang diatur oleh peraturan perundang-undangan yang sebelumnya.38
Dengan menyimak kerangka pikir Roscoe Pound, apakah kehadiran UU Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ini dapat diumpamakan sebagai “a tool of sosial control and a tool of sosial engineering” Roscoe Pound39 menyatakan bahwa dalam memfungsikan hukum sebagai alat perekayasa sosial harus mampu melindungi tiga kepentingan dasar, yakni kepentingan umum, kepentingan sosial, dan kepentingan perorangan. Dalam menilai prospek UU Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, jika
38 Susanti Adi Nugroho, Op. Cit., hlm, 15.
39 Roscoe Pound, Interpretation of Legal History, Chater 7, dikutip dari W.
dilihat dari tujuannya, undang-undang ini dianggap memenuhi harapan sebagai “alat kontrol sosial”. UU persaingan usaha juga berusaha menjaga kepentingan umum dan mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat.
Pembangunan bidang ekonomi Indonesia diarahkan kepada terwujudnya perekonomian yang lebih adil, merata dan makmur, berdaya saing dengan basis efisiensi, serta menjamin keberlanjutan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Arah kebijakan pembangunan bidang ekonomi antara lain,dengan cara mengembangkan sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan sehat dan memperhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai-nilai keadilan, kepentingan sosial, kualitas hidup, pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan sehingga terjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja, perlindungan hak-hak konsumen, serta perlakuan yang adil bagi seluruh masyarakat.40 Hal ini sejalan dengan amanat dan cita-cita Pancasila dan Undang Dasar Tahun 1945. Karena itu dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, ditetapkan asas demokrasi ekonomi sebagai dasar pembangunan bidang ekonomi. Artinya, pelaku usaha di Indonesia dalam menjalankan kegiatan usahanya harus berasaskan demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum. Jadi, pasal ini mensyaratkan asas demokrasi ekonomi yang juga menjadi dasar bagi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia.
Tujuan yang hendak dicapai dengan diundangkannya berbagai undang-undang mengenai larangan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, sebagaimana dilakukan oleh negara-negara maju yang telah sangat berkembang masyarakat korporasinya, seperti Amerika Serikat dan Jepang,
40 Baca Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) 2000-2004, Bidang
adalah untuk menjaga kelangsungan persaingan (competition). Persaingan perlu dijaga eksistensinya demi terciptanya efisiensi, baik efisiensi bagi masyarakat konsumen maupun bagi setiap perusahaan. Dengan terciptanya efisiensi bagi setiap perusahaan, maka pada gilirannya efisiensi tersebut akan menciptakan pula efisiensi bagi masyarakat konsumen.41 Terdapat dua efisiensi yang ingin dicapai oleh undang-undang antimonopoli, yaitu efisiensi bagi para produsen (productive efficiency) dan efisiensi bagi masyarakat (allocative efficiency).42
Productive efficiency adalah efisiensi bagi perusahaan dalam menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa. Perusahaan dikatakan efisien apabila dalam menghasilkan barang dan atau jasa perusahaan tersebut dilakukan dengan biaya yang serendah-rendahnya karena dapat menggunakan sumber daya yang sekecil mungkin. Sedangkan allocative efficiency adalah efisiensi bagi masyarakat konsumen. Dikatakan masyarakat konsumen efisien apabila para produsen dapat membuat barang-barang yang dibutuhkan oleh konsumen dan menjualnya pada harga yang para konsumen itu bersedia untuk membayar harga barang yang dibutuhkan itu.43
Ketentuan dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, telah menetapkan tujuan pembentukan undang-undang tersebut adalah untuk: a) menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat; b) mewujudkan iklim usaha yang kondusif melalui pengaturan persaingan usaha yang sehat sehingga menjamin adanya
41 Sutan Remy Sjahdeini, “Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat”, Jurnal Hukum Bisnis Volume 10, Yayasan Pengembangan
Hukum Bisnis, Jakarta: 2000, hlm, 8.
42 Sukarni, “Peran UU Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat Dalam Meningkatkan Persaingan Usaha di Era AFTA”, Jurnal Persaingan Usaha KPPU, Edisi 4, tahun 2010, hlm, 2.
43 Ernest Gellhorn & William E. Kovacic, dalam Sutan Remy Sjahdeini, Loc.Cit.,
Baca Pula Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Cetakan
kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi pelaku usaha besar, pelaku usaha menengah, dan pelaku usaha kecil; c) mencegah praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan oleh pelaku usaha; dan d) terciptanya efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha.
Sementara itu, dalam Penjelasan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 disebutkan pula mengenai tujuan pembentukan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tersebut, antara lain:
“Undang-undang ini disusun berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta berasaskan kepada demokrasi ekonomi dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pelaku usaha dan kepentingan umum dengan tujuan untuk : menjaga kepentingan umum dan melindungi konsumen; menumbuhkan iklim usaha yang kondusif melalui terciptanya persaingan usaha yang sehat, dan menjamin kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi setiap orang; mencegah praktek-praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan pelaku usaha; serta menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha dalam rangka meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat”.
Jadi pada prinsipnya tujuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 ini ada dua, yaitu tujuan dalam bidang ekonomi, dan tujuan diluar bidang ekonomi. Apabila tujuan bidang ekonomi tercapai, yaitu meningkatkan ekonomi nasional, maka tujuan di luar ekonomi juga akan tercapai, yaitu meningkatnya kesejahteraan rakyat.44 Dengan demikian, semua pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan undang-undang antimonopoli dan persaingan usaha tidak sehat tersebut mempunyai arah
44 M. Udin Silalahi, Undang-Undang Antimonopoli Indonesia: Peran dan Fungsinya di Dalam Perekonomian Indonesia, Jurnal Hukum Bisnis Volume
dan tujuan yang sama, yaitu meningkatkan ekonomi nasional dan kesejahteraan rakyat Indonesia, yang merupakan tujuan dari Undang-Undang Dasar Tahun 1945.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, memuat aturan tentang dua kegiatan yang dilarang, yaitu terkait dengan perjanjian dan kegiatan yang dilarang. Di bagian berikut ini dipaparkan perjanjian dan kegiatan yang dilarang dalam undang-undang persaingan usaha.
Sebelum diperkenalkannya istilah perjanjian yang ada dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, maka istilah perjanjian secara umum telah lama dikenal oleh masyarakat. Prof. Wirjono45 menafsirkan perjanjian sebagai perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak dalam hal mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan suatu hal, sedang pihak lainnya berhak menuntut pelaksanaan dari perjanjian itu. Sedangkan Prof. Subekti46 menyatakan bahwa perjanjian adalah suatu peristiwa, dimana seseorang berjanji kepada orang lain, atau dimana dua orang saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.
Selanjutnya Pasal 1313 KUH Perdata menyatakan bahwa suatu persetujuan atau perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Selain dari perjanjian, dikenal pula istilah perikatan. Namun, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak merumuskan apa itu suatu perikatan. Oleh karenanya doktrin berusaha merumuskan apa yang dimaksud dengan perikatan yaitu suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak berdasarkan mana pihak yang
45 Wirjono Prodjodikoro, Azas-azas Hukum Perjanjian, PT. Eresto, Bandung, 1989, hlm, 9.
satu berhak menutut sesuatu hal (prestasi) dari pihak lain yang berkewajiban memenuhi tuntutan tersebut.47 Dari defenisi tersebut dapat diketahui bahwa perjanjian merupakan salah satu sumber dari perikatan. Pasal 1233 KUH Perdata dikatakan bahwa suatu perikatan ada yang lahir karena perjanjian dan ada yang dilahirkan karena undang-undang. Suatu prestasi dalam suatu perikatan menurut Pasal 1234 KUH Perdata dapat berupa 3 macam. Pertama kewajiban untuk memberikan sesuatu; Kedua, kewajiban untuk berbuat sesuatu; dan ketiga kewajiban untuk tidak berbuat sesuatu.
Dalam sistem hukum perjanjian, maka dianut sistem terbuka, artinya para pihak mempunyai kebebasan yang sebesar-besarnya untuk mengadakan perjanjian yang berisi dan berbentuk apa saja, asalkan tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan. Hal ini dapat kita lihat dalam Pasal 1338 KUH Perdata yang pada intinya menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai Undang-Undang bagi mereka yang membuatnya. Selanjutnya Pasal 1320 KUH Perdata menyatakan bahwa untuk sahnya suatu perjanjian harus memenuhi 4 syarat. Pertama, sepakat mereka untuk mengikatkan diri. Kedua, kecakapan untuk membuat suatu perjanjian. Ketiga, suatu hal tertentu, dan keempat, suatu sebab (causa) yang halal.
Ketentuan-ketentuan mengenai perjanjian dalam KUH Perdata ini merupakan asas-asas dan ketentuan-ketentuan umum yang berlaku untuk semua perjanjian secara umum. Disamping itu suatu Undang-Undang khusus dapat saja mengatur secara khusus yang hanya berlaku untuk ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang khusus tersebut. Hal ini dapat ditemui dalam UU No. 5 Tahun 1999 yang mengatur secara khusus apa yang dimaksud dengan perjanjian dalam UU ini. Menurut Pasal 1 ayat (7) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, perjanjian didefinisikan sebagai: “Suatu perbuatan satu
atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis.”
Dengan adanya definisi perjanjian yang dirumuskan oleh Undang-undang No.5 Tahun 1999, dapat diketahui bahwa Undang-Undang No. 5 tahun 1999 merumuskan bahwa perjanjian dapat dalam bentuk tertulis maupun tidak tertulis, kedua-duanya diakui atau digunakan sebagai alat bukti dalam kasus persaingan usaha. Sebelumnya perjanjian tidak tertulis umumnya dianggap tidak begitu kuat sebagai alat bukti di pengadilan, karena hukum acara perdata yang berlaku pada saat ini lebih menekankan dan menganggap bukti tertulis dan otentik sebagai alat bukti yang kuat.
Pengakuan dan masuknya perjanjian yang tidak tertulis sebagai bukti adanya kesepakatan yang dilakukan oleh para pelaku usaha dalam Hukum Persaingan Usaha adalah sangat tepat dan telah sesuai dengan rezim Hukum Persaingan Usaha yang berlaku di berbagai negara. Pada umumnya para pelaku usaha tidak akan begitu ceroboh untuk memformalkan kesepakatan diantara mereka dalam suatu bentuk tertulis, yang akan memudahkan terbuktinya kesalahan mereka. Oleh karenanya perjanjian tertulis diantara para pelaku usaha yang bersekongkol atau yang bertentangan dengan Hukum Persaingan Usaha akan jarang ditemukan.
B. Sejarah Hukum Persaingan Usaha
Bagi negara yang ingin mengeliminir atau setidaknya mengurangi konsentrasi kegiatan perekonomian yang mendasarkan pada kondisi pasar yang tidak ideal, dan penuh dengan persaingan curang, Undang-Undang Antimonopoli merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga48.
Bahkan begitu pentingnya Undang-Undang Antimonopili bagi suatu negara sehingga pengaturan mengenai Antitrust Law bagi Amerika Serikat adalah seperti Magna Charta bagi free enterprise untuk menjaga kebebasan ekonomi dan sistem free enterprise atau seperti Bill of Right bagi hak asasi manusia dalam rangka melindungi kebebasan-kebebasan pribadi yang sangat fundamental 49.
Dibandingkan dengan sejarah hukum yang lain, sejarah tentang antimonopoli ini relatif lebih baru. Baik sejarahnya dalam dunia internasional, maupun sejarahnya di Indonesia, bahkan Indonesia sudah sangat ketinggalan start bila dibandingkan dengan banyak negara lainnya50.
Di Amerika Serikat, sudah lama sekali berlaku undang-undang yang melarang praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Bahkan sebelum berlakunya undang-undang itu, pengadilan Amerika Serikat telah memberikan putusan-putusan mengenai larangan praktik-praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat berdasarkan common law51.
Diawali dengan The Sherman Antitrust Act pada tahun 1890, yang mengatur hukum antimonopoli dan persaingan usaha pertama kali di Amerika Serikat, yang kemudian diperbaharui dan dilengkapi berturut-turut dengan perundang-undangan lainnya dengan The Clayton Antitrust Act dan The Federal Trade Commision Act pada tahun 1914, The Robinson Patman Act pada tahun 1936, Emergency Price Control Act pada tahun 1942, Defence Production Act di tahun 1950, The Celler Kefauver Anti Merger Act pada tahun 1950 dan Economic Stabilization Act 1970. Ditambah lagi dengan peraturan antimonopoli yang dibuat beberapa negara bagian Amerika Serikat.
49 Sutan Remy Sjahdeini, “Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat”, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 10, Jakarta, Yayasasan Pengembangan Hukum Binis, 2000: 5
50 Munir Fuady, Hukum Antimonopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat, PT.
Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hlm, 35 dan Sutan Remy Sjahdeini, 2000: 5.
Pada sejarah hukum monopoli di Amerika Serikat, sebenarnya munculnya The Sherman Antitrust pada tahun 1890, merupakan jawaban terhadap menjamurnya trust dalam sejarah bisnis di sana. Lahirnya The Sherman Antitrust Act tersebut sebagai jawaban atas historical cry dari masyarakat bisnis dalam sejarah di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, memang ketakutan terhadap monopoli telah lama terjadi dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia sejarah mereka. Hal ini disebabkan karena begitu maraknya monopoli dari bisnis dalam bentuk kartel terutama setelah perang saudara. Akan tetapi, di Amerika Serikat, sedikit demi sedikit dominasi bisnis dalam bentuk trust atau kartel tersebut lama kelamaan menjadi kurang populer, untuk kemudian diganti tempatnya oleh kombinasi bisnis lewat holding company sehingga memunculkan konsentrasi bisnis dengan terbentuknya bisnis-bisnis raksasa dalam satu holding, yakni berupa jaringan bisnis-bisnis konglomerasi52.
Di samping itu, karena juga semakin gencar dengan adanya begitu banyak kartel dagang atau trust, maka kartel-kartel dagang atau trust tersebut dilarang dengan berdasarkan pada doktrin-doktrin penghambat perdagangan (restraint of trade) dan monopoli, serta dengan menggunakan doktrin hukum tentang ultra vires (berbuat di luar batas lingkup anggaran dasar) dari perusahaan-perusahaan yang melakukan kombinasi itu. Pada tahun 1892, The Supreme Court di negara Bagian Ohio, Amerika Serikat memberikan putusan bahwa The Standar Oil Trust dengan berdasarkan kepada alasan bertentangan dengan kepentingan umum dan ultra vires. Putusan ini diputus dalam kasus State v. Standard Oil Company (1892). Selain itu, adapun pada saat, seakan-akan “efisiensi ekonomi” menjadi satu-satunya tujuan mengapa persaingan pasar harus diatur, tetapi dalam sejarah hukum antitrust di Amerika Serikat, terdapat faktor lain yang juga dipertimbangkan, yaitu struktur
dan organisasi dari kompetisi; efisiensi dan alokasi produksi; kompleksitas dari behavior pasar yang dinamis; dan nilai-nilai serta kebutuhan sosial lainnya53.
Pada awal pengaturan monopoli dalam hukum Inggris, ada tiga aspek yang dilarang sehubungan dengan restriksi terhadap perdagangan (restrictions of trade). Ketiga aspek tersebut, yaitu: 1. kejahatan mengenai:
a. pengontrolan (dan atau pembelian) barang-barang di jalan yang sedang menuju ke pasar untuk dijual dengan harga yang tinggi di pasar (forestalling).
b. pembelian barang tertentu dalam jumlah besar untuk kemudian dijual kembali dengan harga yang sangat tinggi (engrossing), dan
c. Pembelian barang tertentu di pasar dan dijual kembali dengan harga yang tinggi (regrating).
2. tindakan monopoli pasar;
3. kontrak yang menghalang-halangi perdagangan (restraint of trade)54.
Pada abad ke-19 di Inggris, doktrin restraint of trade semakin diperluas seirama dengan mulai fleksibelnya penafsiran terhadap ketertiban umum (public policy). Sementara di Amerika Serikat saat itu, doktrin sempit tentang restraint of trade diperluas dengan mulai diterapkannya doktrin rule of reason. Akan tetapi, sebenarnya sejak abad ke-17, untuk kasus-kasus monopoli ini, pengadilan-pengadilan di Inggris telah mulai menerapkan doktrin konspirasi kriminal terhadap suatu kombinasi dagang atau monopoli. Penerapan doktrin seperti ini mencapai puncaknya di Inggris pada abad ke-18. Hal yang
53 Munir Fuady, ibid.
54 Munir Fuady, Hukum Antimonopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat, PT.
sama juga terjadi di Amerika Serikat, di mana doktrin “konspirasi untuk monopoli” ini juga dibawa dan diterapkan di sana. Hanya saja, di Amerika Serikat, penerapannya tidak terlalu ditekankan kepada unsur pidananya, melainkan lebih diarahkan kepada unsur perbuatan melawan hukum dalam bidang hukum perdata (tort), sehingga penerapan doktrin tersebut di Amerika Serikat dapat sejalan dengan penerapan doktrin “kombinasi yang menghambat perdagangan” (combination in restraint of trade).
Setelah berabad-abad di Inggris, di mana hukum antimonopoly (tertulis dan tidak tertulis) ditujukan terhadap persaingan pasar yang “fair” dan pencegahan eksploitasi kekuatan pasar oleh kekuatan perusahaan tunggal secara monopoli atau oleh kartel, maka di awal abad ke-20, kebijakan mengenai hukum monopoli yang demikian sudah ditinggalkan. Bahkan pada waktu krisis di sekitar tahun 1920-an dan 1930-an, kebijakan pemerintah mengenai antimonopoli ini cenderung menyukai konsentrasi bisnis oleh perusahaan-perusahaan besar, yang merupakan kebijakan yang antitesis terhadap kebijakan persaingan pasar. Akan tetapi, pengaruh dari perusahaan kartel terhadap bisnis di Inggris segera terlihat, dan berbagai upaya untuk mengatur akibat dari bisnis kurtel tersebut dilaksanakan, Akhirnya sejak tahun 1948, dikeluarkan undang-undang yang merupakan tonggak dari kebijakan antimonopoli dan persaingan curang, seperti yang saat ini dipratekkan di Inggris. Undang-Undang Tahun 1948 tersebut adalah Undang-Undang Monopoli dan Praktik Pembatasan, yang memberikan legitimasi kewenangan kepada pemerintah in casu Presiden, Dewan Perdagangan di samping kepada Komisi Monopoli dan Praktik Pembatasan untuk mengawasi praktik monopoli dan persaingan ini.
kriteria sosial dan ekonomi, yakni yang selalu dikaitkan dengan kepetingan umum, tidak hanya semata-mata didasarkan pada faktor persaingan saja. Perjanjian pembatasan terhadap kepetingan umum sebenarnya telah diperkenalkan oleh Undang-Undang Pembatasan Praktik Perdagangan, Sampai kemudian di tahun 1970-an, di mana dikeluarkan tiga undang yang berusaha menggabungkan beberapa undang-undang sebelumnya disertai dengan berbagai perubahan. Ketiga undang-undang tersebut, yaitu :
1. Undang-Undang Perdagangan Wajar tahun 1973 yang lebih ditujukan kepada monopoli dan merger;
2. Undang-Undang Praktik Pembatasan Perdagangan lahun 1976; dan
3. Undang-Undang Harga Jual Kembali Tahun 1976.
Di samping itu, di Inggris juga sudah lama dikenal sistem monopoli oleh Kerajaan Inggris yang merupakan cikal bakal sistem paten, dan sistem ini sudah dikenal sejak abad ke-13. Namun demikian, di abad ke-17 terjadi konflik yang berkepanjangan antara pihak parlemen di Inggris dengan pihak kerajaan mengenai hak untuk mendapatkan perpanjangan hak monopoli dari kerajaan atau hak paten tersebut. Kemudian konflik tersebut dapat diselesaikan dengan dikeluarkannya Undang-Undang Monopoli pada Tahun 1623, yang memberikan hak paten sebagai monopoli perorangan sampai dengan jangka waktu 21 tahun.
pula mengatur tentang ketentuan antimonopoli ini. Traktat Roma tersebut merupakan dasar dengan mana Masyarakat Ekonomi Eropa terbentuk.
Larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat di Jepang diatur dengan Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1947, yaitu law Relating to Prohibition of Profit Monopoly and Methods of Preserving Fair Trade tanggal 14 April 1947, sebagaimana seringkali diubah (telah mengalami perubahan sebanyak 44 kali) dan yang terakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 tanggal 6 April 1991. Undang-Undang tersebut disebut pula sebagai The Antimonopoly Law55.
Di Thailand, peraturan perundang-undangan yang mengatur pengendalian praktik-praktik dagang restriktif, termuat dalam “The Price Fixing and Antimonopoly Act 1979”.
Tidak banyak yang dicatat dalam sejarah Indonesia di seputar kelahiran dan perkembangan hukum antimonopoli ini. Banyak dicatat dalam sejarah justru tindakan-tindakan atau perjanjian dalam bisnis yang sebenarnya mesti dilarang oleh Undang-Undang Antimonopoli56.
Pada sejarah kontemporer Indonesia, praktek monopoli pertama kali secara resmi dimulai pada tanggal 20 Maret 1602, yaitu saat Pemerintah Belanda atas persetujuan State General memberikan hak (octrooi) untuk berdagang sendiri (monopoli) pada VOC di wilayah Indonesia (Hindia Timur). Hak monopoli dimaksud meliputi sembilan macam, yaitu: (1) dianggap sebagai wakil pemerintah Beianda di Asia; (2) monopoli perdagangan; (3) mencetak dan mengedarkan uang sendiri; (4) mengadakan perjanjian; (5) melakukan perang dengan negara lain; (6) menjalankan kekuasaan kehakiman; (7) pemungutan pajak; (8)
55 Sutan Remy Sjahdeini, “Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat”, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 19, Jakarta, Yayasasan Pengembangan Hukum Binis, 2002: 8.
56 Munir Fuady, Hukum Antimonopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat, PT.
memiliki angkatan perang; dan (9) mengadakan pemerintahan sendiri. Tujuan pembentukan VOC yang dipegang oleh dewan yang beranggotakan 17 tuan-tuan pedagang besar Belanda tidak lain untuk menghindari persaingan antara sama pedagang Belanda, serta mampu menghadapi persaingan dengan bangsa lain terutama Spanyol dan Portugis sebagai musuhnya57.
Cara VOC melakukan praktek monopoli perdagangan di Indonesia, sebagai berikut:
1. Melakukan pelayaran Hongi untuk memberantas penyelundupan. Tindakan VOC adalah merampas setiap kapal pendudukan yang menjual langsung rempah-rempah kepada pedagang asing seperti Inggris, Prancis, dan Denmark karena dianggap melanggar monopoli dagang VOC. Hal ini banyak dijumpai di pelabuhan bebas Makasar. Kapal Hongi adalah nama sejenis perahu di Maluku yang bentuknya panjang, yang dipakai untuk patroli laut Belanda yang didayung secara paksa oleh penduduk setempat. 2. Melakukan ekstirpasi, yaitu penebangan tanaman milik
rakyat. Tujuannya mempertahankan agar harga rempah-rempah tidak merosot apabila hasil panen berlebihan (over produksi).
3. Penyerahan wajib yang disebut Verplichte Leverantien, yuitu perjanjian dengan raja-raja setempat terutama yang kalah perang, wajib menyerahkan hasil bumi yang dibutuhkan VOC dengan harga yang ditetapkannya.
4. Contingenten, yaitu rakyat wajib menyerahkan hasil bumi sebagai pajak.
Dalam melaksanakan pemerintahannya, VOC banyak mempergunakan tenaga Bupati yang digaji oleh pemerintah, sedangkan bangsa Cina dipercaya untuk pemungutan pajak
57 Suhasril dan Mohammad Taufik Makarao, Hukum Larangan Praktek Monopoli dan Persaaingan Usaha Tidak Sehat di Indonesia, Ghalia Indonesia, Bandung,
dengan cara menyewakan desa untuk beberapa tahun lamanya58.
Nusantara Indonesia yang merupakan kongsi dagang yang dipimpin oleh “de XVII Heeren” atau ke-17 Tuan-Tuan” juga mengawasi perdagangan yang terbentang di Tanjung Harapan di ujung Afrika hingga Sri Lanina dan Jepang. Sejarah telah mencatat, meskipun telah memperoleh keuntungan yang berlipat-lipat dari praktik monopoli perdagangan tersebut, namun ternyata VOC mengalami kebangkrutan, serta menemui ajalnya pada tanggal 1 Januari 1800, yaitu sejak Pemerintah Belanda pada waktu itu (Bataafsche Republiek) membentuk suatu badan resmi yang dinamakan dengan “Aziatische Raad” untuk mengambil alih pemerintahan atas daerah-daerah bekas jajahan VOC.
Sepeninggal VOC, pemerintahan daerah jajahan sejak dari gubernur jenderal yang pertama, Daendels (1808-181 1), diselingi oleh Raffles (1811-1816) sampai dengan Gubernur Jenderal Thomas Stamford akhir Tjarda van Starkenborgh Stachouwer mengadakan kapitulasi dengan penguasa pendudukan Jepang di Kalijati, tanggal 9 Maret 1942, bahkan sampai pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Selama kurun waktu berada di bawah kekuasaan penjajah Belanda, Inggris, dan Jepang tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung, sebagian maupun secara keseluruhan, praktik monopoli dalam perdagangan secara terus-menerus dilakukan di Indonesia. Hal ini dapat dimaklumi bahwa selama periode interregnum tersebut, ukuran dan batasan terbadap persaingan yang sehat dan persaingan yang tidak sehat adalah kabur dan tidak jelas59.
Di masa pemerintahan Orde Baru, di masa itu sangat banyak terjadi monopoli, oligopoli dan perbuatan lain yang menjurus kepada persaingan curang, seperti monopoli terigu,
58 Ibid, hlm. 24.
monopoli cengkeh, monopoli jeruk, monopoli pengedaran film, dan masih banyak lagi. Bahkan dapat dikatakan bahwa keberhasilan beberapa konglomerat besar di Indonesia juga bermula dari tindakan monopoli dan persaingan curang lainnya, yang dibiarkan saja bahkan didorong oleh pemerintah saat itu60.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika cukup banyak para praktisi maupun teoritisi hukum dan ekonomi saat itu yang menyerukan agar segera dibuat sebuah Undang-Undang Antimonopoli. Seruan-seruan tersebut terasa tidak bergeming sampai dengan lengsernya rezim mantan Presiden Soeharto, di mana baru pada masa reformasi diundangkan sebuah Undang Antimonopoli sebagaimana termuat dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.
Diundangkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 ini, secara historis berawal dari belum tersedianya secara cukup suatu Undang-Undang yang secara komprehensif dan memadai yang mengatur mengenai persaingan usaha di Indonesia. Selama ini, pelaku usaha masih bersikap ambiguitas dalam menentukan langkah dalam melaksanakan, mengurus, serta mengatur kegiatan usahanya karena acapkali masih kita jumpai, bahwa masih ada pelaku usaha yang bingung, apakah kegiatan usaha yang dilakukan itu nantinya akan mengganggu atau berdampak buruk atau negatif pada kegiatan usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha lainnya.
C. Pemikiran Terbentuknya UU Nomor 5 Tahun 1999
Secara umum dapat dikatakan bahwa hukum persaingan usaha adalah hukum yang mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan persaingan usaha, adapun istilah-istilah yang digunakan dalam bidang hukum ini selain istilah hukum