BAB III METODE PENELITIAN DAN ANALISIS. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis yang dilakukan

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN DAN ANALISIS

3.1. Metode Penelitian 3.1.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis yang dilakukan dengan metode, survai.

3.1.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah Kabupaten Banjarnegara, penelitian dilakukan selama 1 bulan pengamatan terhadap tanggapan konsumen air minum mineral.

3.1.3. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah pemberi atau sumber informasi yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. Subyek penelitiannya adalah konsumen air minum mineral di wilayah Kabupaten Banjarnegara. 3.1.4. Obyek Penelitian

Obyek penelitian adalah perilaku brand switching konsumen produk air minum mineral di wilayah kabupaten Banjarnegara.

3.1.5. Sumber Data a. Data Primer

Adalah data yang diperoleh secara, langsung atas obyek penelitian yang berkaitan dengan penelitian dan merupakan data utama.

(2)

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan data primer adalah data hasil pengisian kuesioner yang telah dibagikan.

b. Data Sekunder

Adalah data yang tidak diperoleh secara langsung dari obyek penelitian, sumber data ini digunakan sebagai pelengkap data primer. Data ini diperoleh dari studi pustaka dan informasi lain yang berkaitan dengan penelitian.

3.1.6. Populasi dan Sampel Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mempergunakan sampel sebanyak 100 orang (responden) untuk mewakili konsumen air minum mineral di wilayah Kabupaten Banjarnegara. Adapun metode pengambilan sampelnya adalah menggunakan Purposive Sampling, yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan pada kriteria dan tujuan tertentu saja (Sugiyono, 2003). Kriteria tersebut adalah responden yang melakukan pembelian secara tetap baik mingguan ataupun bulanan pada distributor atau toko yang sama dan berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara.

Untuk mengetahui seberapa banyak responden yang mewakili populasi pelanggan maka digunakan rumus sebagai berikut (Husein Umar, 2000) : 2 2 / 4 1      = E Z n α

(3)

Keterangan

n = Ukuran sampel yang diduga Z = Confidence coefficient E = Standar error

Dalam penelitian ini nilai dari

Confidence coefficient (Z) adalah 95%, dalam tabel bernilai 1,96. Standar error yang diterima (E) adalah 5%

Jadi perhitungannya adalah

n = 2 05 , 0 2 / 96 , 1 4 1      = 96,04 ≈ 100 (pembulatan)

Peneliti mengambil sampel sebanyak 100 orang agar dapat memenuhi syarat pengambilan sampel yaitu minimal jumlah sampel sebanyak 96 orang

3.1.7. Metode Pengumpulan Data a. Interview

Yaitu wawancara langsung dengan responden. Metode ini dianggap baik karena sebagian data yang dibutuhkan diperoleh secara langsung melalui jawaban-jawaban sumber.

b. Kuesioner

Yaitu pengumpulan data melalui beberapa pertanyaan yang diajukan kepada responden dalam bentuk angket.

(4)

c. Studi Pustaka

Yaitu dengan jalan mengumpulkan informasi melalui penelaahan literatur-literatur yang mendukung dan memuat informasi khususnya mengenai perilaku konsumen, untuk memperoleh dasar teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

3.1.8. Definisi Operasional Variabel

a. Variabel Terikat Brand switching (Y)

Brand switching adalah perilaku untuk berpindah merek, indikator dalam penelitian ini pembelian ulang air minum mineral dengan merek yang berbeda dengan pembelian sebelumnya, dengan menggunakan item kuesioner.

b. Variabel Bebas Harga (XI)

Harga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah strategi penetapan harga produk air minum mineral yang mencakup indikator : harga yang tinggi, kenaikan harga, penetapan harga yang tidak wajar dan praktik penipuan harga

c. Variabel Bebas Inconvenience / ketidakenakan (X2)

Inconvenience / ketidakenakan yaitu semua kejadian kritis dimana konsumen merasa dirugikan dengan indikator lokasi penyedia produk, waktu layanan, menunggu waktu layanan, menunggu waktu membuat janji.

(5)

d. Variabel Bebas Core service failure (X3)

Core service failure atau yang disebut dengan kegagalan inti layanan mencakup indikator-indikator : kesalahan dalam layanan, kesalahan dalam pembayaran dan layanan yang membahayakan.

e. Variabel Bebas Service Encounterfailure (X4)

Service Encounter failure adalah kegagalan layanan yang didefinisikan sebagai interaksi antara konsumen dengan perusahaan penyedia produk. Variable ini ditandai dengan indikator-indikator ketidakpedulian karyawan penyedia produk yang meliputi ; tidak peduli, tidak sopan, tidak reaksi dan tidak berpendidikan.

f. Variabel Bebas Employe Responses to Service Failure (X5)

Employe Responses to Service Failure diartikan sebagai kegagalan respon karyawan dalam memberi layanan, dalam penelitian ini menggunakan indikator : keengganan merespon, kegagalan untuk merespon dan respon negatif yang jelas terlihat.

g. Variabel Bebas Attraction by competitor (X6)

Attraction by competitor adalah perilaku daya tarik dari pesaing produk yang sama, dalam penelitian ini menggunakan indikator penelitian produk yang lebih menarik, lebih dapat dipercaya dan menyediakan produk dengan kualitas yang lebih tinggi.

h. Variabel Bebas Ethical Problems (X7)

Ethical Problems dapat diartikan berarti keadaan-keadaan dimana konsumen memandang suatu penyimpangan terhadap permasalahan

(6)

etis, dalam penelitian ini menggunakan indikator sikap yang tidak jujur, perilaku mengintimidasi, praktik yang tidak aman atau tidak sehat dan konflik kepentingan.

i. Variabel Bebas Involuntari Switching (X8)

Involuntari Switching adalah suatu perilaku konsumen dalam melakukan perpindahan merek produk tanpa sengaja karena diluar jangkauan konsumen atau penyedia jasa, yang dalam penelitian ini digunakan indikator karena perpindahan lokasi penyedia jasa maupun konsumen.

3.2. Validitas dan Reliabilitas 3.2.1. Skoring

Dalam penelitian ini kuesioner disusun dalam bentuk pernyataan tertutup (close-ended question) dan responden diminta untuk menjawabnya dengan memberikan tanda (X) atas jawaban yang dipilih. Untuk mengukur jawaban responden tersebut digunakan skala likert. Penggunaan skala likert didasarkan atas pendapat Kinnear (dalam Umar, 2002) bahwa skala likert berhubungan dengan pernyataan sikap seseorang terhadap sesuatu obyek tertentu. Skala likert yang digunakan adalah skala likert dengan lima opsi, yaitu: sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Skor jawaban responden dapat dinyatakan dalam bentuk nilai sebagai berikut :

(7)

Jawaban Skor

Sangat setuju (SS) 5

Setuju (S) 4

Ragu-ragu (RR) 3

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat Tidak Setuju (STS) 1

3.2.2. Pengujian item kuesioner

Untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas item kusioner ditentukan pre test (pilot test) dengan menggunakan 30 responden. Adapun uji item kuesioner meliputi

a. Uji Validitas,

Dalam menguji validitas item kuesioner digunakan rumus teknik korelasi product moment (Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi, 1995).

Keterangan :

R = Koefisien korelasi product moment X = Nilai dari item

Y = Nilai dari total item N = Banyaknya item

(8)

Dengan target kebebasan (n-2) dan α = 0.05, maka bila Rhitung > R tabel berarti dinyatakan valid

Rhitung < R tabel berarti item tersebut dinyatakan tidak valid.

b. Reliabilitas adalah tingkat kestabilan suatu alat ukur dalam mengukur suatu gejala (Masri Singarimbun dan Sofyan Efendi, 1995). Untuk mengukur reliabilitas item nomor yang valid, kemudian dicari dengan rumus korelasi product moment

Keterangan :

R = Koefisien korelasi product moment X = Nilai valid nomor ganjil

Y = Nilai valid nomor genap N = Jumlah sampel

Setelah itu menguji reliabilitas yang digunakan Spearman Brown :

xx . r 1 xx) . (r 2 rtot + = Keterangan : Rxx = Koefisien reliabilitas

R = Koefisien korelasi product moment Jika :

Rxx > Rtabel berarti kuisioner tidak memenuhi syarat reliabilitas.

(9)

3.2.3. Analisis regresi linear berganda

Untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel yang diteliti terhadap keputusan (brand switching) perpindahan merek, digunakan alat analisis regresi berganda sebagai berikut (Supranto, 2000)

Y = a + b1x1 + b2x2 + b3x3 + b4x4 + b5x5 + b6x6 + b7x7 + b8x8

Keterangan:

y : Perilaku (brand switching) perpindahan merek a : Konstanta

x1... x8 : Variabel bebas : harga (price), ketidakenakan (inconvenience),

kegagalan inti layanan (core service failure), kegagalan layanan (service encounter failure), tanggapan atas layanan (response to service), daya tarik pesaing (attraction by competitor), persoalan-persoalan etis (ethical problems), dan perpindahan tanpa sengaja (involuntary switching)

b1... b8 : Koefisien regresi variabel bebas

3.2.4. Uji Asumsi Klasik

Sebelum suatu model regresi digunakan maka perlu dilakukan uji asumsi klasik, karena suatu model regresi dapat digunakan atau dianggap baik jika model regresi telah memenuhi beberapa asumsi klasik yaitu, uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heterokedastisitas.

(10)

a. Uji Normalitas

Uji yang dilakukan untuk mengecek apakah error penelitian kita berasal dari populasi yang sebarannya normal. Uji ini perlu dilakukan karena semua perhitungan statistik parametrik memiliki asumsi normalitas. Dalam regresi yang diuji normalitas, bukan skor variabel independen atau dependennya, melainkan residual atau errornya. Untuk mendeteksi bahwa distribusi error dalam keadaan normal, maka dilakukan uji kolmogorov smirrov dengan alat bantu SPSS ver 10. Distribusi dikatakan normal apabila nilai asymptotic significance lebih besar dari 0.05.

b. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah suatu situasi adanya korelasi antara, variabel bebas atau terdapat hubungan sempurna antara beberapa variabel independen. Bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan hubungan antara variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.

Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi, maka dapat digunakan beberapa cara :

1) Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel yang cukup tinggi (umumnya diatas 0,90 ).

2) Menganilisa, dan melihat nilai VIF (variance inflation factor) dan nilai toleransi dari masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.

(11)

Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah mempunyai nilai VIF disekitar angka. 1 dan mempunyai angka toleransi mendekati 1 atau jika niali VIF tidak lebih dari 10.

c. Uji Heterokedastisitas

Heterokedastisitas berarti varian gangguan berbeda dari suatu observasi ke observasi lainnya. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastistias digunakan uji Glejser dengan cara :

1) Mendapatkan nilai residual atau kesalahan pengganggu dari persamaan ragresi, kemudian nilai residual tersebut diabsolutkan. 2) Melakukan regresi antara nilai absolute residual dengan tiap-tiap

variabel independen. Apabila terdapat hubungan yang signifikan dari hasil regresi atau jika thitung > ttable, maka disimpulkan telah

terjadi heterokedastisitas. d. Uji Autokorelasi

Autokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode sebelumnya dari serangkaian data atau pengamatan yang bersusun dalam rangkaian waktu (time series dan cross section). Penyimpangan pada, uji ini biasanya muncul pada observasi yang menggunakan data time series. Uji Durbin-Watson (DW) dengan ketentuan sebagai berikut (Algifari, 2000):

Nilai DW Kesimpulan

Kurang dari 1,10 Ada autolorelasi 1,10 sampai 1,54 Tanpa kesimpulan 1,55 sampai 2,46 Tidak ada autokorelasi

(12)

2,47 sampai 2,90 Tanpa kesimpulan Lebih dari 2,91 Ada autokorelasi 3.2.5. Uji F

Alat analisis ini digunakan untuk menguji keberartian koefisien regresi berganda dengan rumus (Supranto, 2000).

F =

(

)

(

1 R

) (

/ n K

)

1 K / R2 − − − Keterangan:

K : Jumlah variabel bebas n : Jumlah responder r : Korelasi sederhana Perumusan hipotesis

Ho: bj ≤ 0 (secara simultan tidak terdapat pengaruh yang berarti dan variabel x1…x8 terhadap variabel Y).

Ha: bj > 0 (secara simultan terdapat pengaruh yang berarti dari variabel x1…x8 terhadap varibel Y).

Dengan menggunakan tingkat keyakinan sebesar 95% (a= 0,05) dan derajat kebebasan (k-1) (n-K) maka;

F hitung < F tabel maka Ho diterima atau Ha ditolak F hitung > F tabte maka Ho ditolak atau Ha diterima 3.2.6. Uji t

Analisis ini digunakan untuk mengetahui signifikan atau tidaknya pengaruh antara variabel dependent (X) secara parsial terhadap variabel independent (Y) dengan rumus (J. Supranto, 2000).

(13)

t = j

βj

Ho : βj = 0 : Secara parsial tidak terdapat pengaruh yang berarti dari variabel X (variabel bebas : harga (price), ketidakenakan (inconvenience), kegagalan inti layanan (core service failure), kegagalan layanan (service encounter failure), tanggapan atas layanan (response to service), daya tarik pesaing (attraction by competitor), persoalan-persoalan etis (ethical problems), dan perpindahan tanpa sengaja (involuntary switching) terhadap variabel Y (perilaku brand switching / perpindahan merek)

Ha : βj ≠ 0 : Secara parsial terdapat pengaruh yang berarti dari variabel X (variabel bebas : harga (price), ketidakenakan (inconvenience), kegagalan inti layanan (core service failure), kegagalan layanan (service encounter failure), tanggapan atas layanan (response to service), daya tarik pesaing (attraction by competitor), persoalan-persoalan etis (ethical problems), dan perpindahan tanpa sengaja (involuntary switching) terhadap variabel Y (perilaku brand switchingl perpindahan merek).

Dengan menggunakan tingkat keyakinan sebesar 95% (a=0,05) dan derajat kebebasan (K-1) (n-k) maka kriteria penerimaan hipotesis:

H0 diterima apabila –t tabel < t hitung < t tabel

(14)

3.2.7. Uji elastisitas

Untuk mengetahui pengaruh yang paling dominan antara ketidakpuasan konsumen, karakteristik kategori produk dan kebutuhan mencari variasi terhadap keputusan perpindahan merek digunakan rumus ( Pindyck dan Ruben field, 1976).

Ej = y j x bj Keterangan: Ej = Elastisitas ke j Bj = Koefisien korelasi Ke ... j Xj = Rata-rata variabel tidak bebas Y = Rata-rata variabel tidak bebas Kriteria penerimaan. hipotesis

Hipotesis diterima, jika E8 > El, E2, E3, E4, E5, E6, E7 yang berari variabel bebas involuntary switching / perpindahan tanpa sengaja mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap, perilaku brand switching / keputusan perpindahan merek, dibandingkan variabel bebas lainnya.

Hipotesis ditolak, jika E8 < El, E2, E3, E4, E5, E6, E7 yang berari variabel bebas involuntary switching / perpindahan tanpa sengaja mempunyai pengaruh yang paling kecil terhadap perilaku brand switching / keputusan perpindahan merek, dibandingkan variabel bebas lainnya.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :