• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 81/PUU-VIII/2010

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 81/PUU-VIII/2010"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI

REPUBLIK INDONESIA

---

RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 81/PUU-VIII/2010

PERIHAL

PERMOHONAN PENGUJIAN

UU NOMOR 21 TAHUN 2001 TENTANG

OTONOMI DAERAH KHUSUS BAGI PROVINSI

PAPUA SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU NO.

35 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN PERPU

NO. 1 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS

UU NO. 21 TAHUN 2001 TENTANG OTONOMI

DAERAH KHUSUS PROVINSI PAPUA

TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR

NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

ACARA

PEMERIKSASAN PERMOHONAN

(I)

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 81/PUU-VIII/2010

PERIHAL

Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Daerah Khusus bagi Provinsi Papua sebagaimana diubah dengan UU No. 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Perpu No. 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Daerah Khusus Provinsi Papua terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

PEMOHON - John Ibo, dkk.

ACARA

Pemeriksasan Permohonan (I)

Selasa, 4 Januari 2011, Pukul 09.50 - 10.30 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Achmad Sodiki (Ketua)

2) Harjono (Anggota)

3) Hamdan Zoelva (Anggota)

(3)

Pihak yang Hadir: Pemohon:

- Jimmy Demianus Ijie

Kuasa Hukum Pemohon: - Bambang Widjojanto - Iskandar Sonhaji

(4)

KETUK PALU 3X 1. KETUA: ACHMAD SODIKI

Sidang Perkara Nomor 81/PUU-VIII/2010, dengan ini saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.

Baik, Assalamualaikum wr. wb., selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Saya persilakan Saudara Pemohon untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu, siapa yang hadir pada kesempatan ini.

2. KUASA HUKUM PEMOHON: BAMBANG WIDJOJANTO Terima kasih, Pak Ketua.

Pada hari ini yang hadir menemani kami adalah Pak Wakil Ketua DPRP Papua Barat, Pak Jimmy Demianus Ijie, tapi Beliau juga didampingi oleh Pak Weynand Watori sebelah kiri, dan Pak Amal Saleh, ini Beliau adalah DPRP Papua tapi sesunguhnya Prinsipalnya itu ada dua, Pak. Yang Pertama, dari Papua dan yang satu dari Papua Barat. Yang dari Papua itu, Pak John Ibo Ketua DPRP Papua Barat. Beliau..., Ketua DPRP Papua, Beliau tidak hadir. Dan yang lainnya adalah Yoseph Yohan Auri dan Robert Melianus, itu Pimpinan DPRP Papua Barat, tapi Beliau juga tidak hadir. Jadi yang hadir pada saat ini hanya Pak Jimmy Demianus Ijie, Beliau dari Wakil Ketua atau Wakil Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Papua Barat.

Selain Prinsipal, kami juga didampingi oleh salah seorang Penasihat Hukum Pak Iskandar Sonhaji dan saya sendiri Bambang Widjojanto. Begitu, Pak Ketua. Terima kasih.

3. KETUA: ACHMAD SODIKI

Baiklah, silakan Saudara Kuasa Hukum untuk memaparkan nilai atau pokok dari permohonan Saudara ini. Oke, silakan.

4. KUASA HUKUM PEMOHON: BAMBANG WIDJOJANTO

Terima kasih, Pak Ketua. Permohonan ini untuk menguji Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas

(5)

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua.

Sebelum masuk di alasan-alasan permohonan, Pak Ketua izinkan dua, tiga menit menyampaikan makna substantif dari otonomi khusus ini, Pak. Di dalam undang-undang, baik di dalam penjelasan, di dalam risalah-risalah yang memuat mengenai Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 mengenai Otsus, itu disebutkan bahwa “Kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan yang sentralistik, belum memenuhi cita-cita dan tujuan penyatuan Papua menjadi bagian dari Negara RI”, disebutkan di situ, bahkan kemudian disebut secara khusus, Ketetapan MPR Nomor 4 Tahun 1999 tentang GBHN 1999 sampai 2004 jo. Ketetapan MPR Nomor 4 Tahun 2000 tentang Rekomendasi Kebijakan dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Hal lainnya juga yang dikemukakan, di dalam peraturan yang tadi saya sebut adalah otonomi khusus ini, dimaksudkan untuk membangun kepercayaan rakyat kepada pemerintah dan juga untuk melakukan langkah strategis untuk meletakkan kerangka dasar pada upaya penuntasan dan penyelesaian masalah di Papua.

Apa yang khas dan khusus di dalam Undang-Undang Otonomi Khusus itu? Di dalam undang-undang itu diberikan kewenangan yang luas bagi Pemerintahan Daerah dan rakyat untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri, menyelenggarakan pemerintahan, dan mengatur pemanfaatan kekayaan alamnya serta pemberian peran yang memadai bagi orang asli Papua.

Ada berbagai lembaga Pak Ketua, yang ada di Pemerintahan Daerah Papua yang disebut memiliki kekhasan tertentu. Misalnya ada Majelis Rakyat Papua yang itu tidak ada di wilayah lain di Provinsi Republik Indonesia ini. Ada pengadilan adat, di sana, ada partai politik lokal yang boleh dibentuk, Perwakilan Komnas Ham juga bisa dibentuk, serta adanya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Begitupun dengan Dewan Perwakilan Rakyat Papua. Itu, menurut kami ada beberapa lembaga yang mempunyai kekhasan di situ.

Dalam konteks Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Majelis Hakim yang kami hormati. Itu disebutkan ada kewajiban hak tugas dan wewenang yang juga khas dan spesifik. Sehingga ini bisa disebut atau kami menyebutnya dikualifikasi sebagai sesuatu kekhususan dari satuan pemerintah daerah. Misalnya saja kewajiban DPRP itu secara eksplisit disebutkan mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan RI serta membina demokrasi dan penyelenggaraan pemerintahan. Dan juga yang disebut secara spesifik dalam tugas dan wewenang DPRP adalah memilih gubernur dan wakil gubernur, menetapkan Perdasi dan Perdasus, menyusun pola dasar pembangunan Propinsi Papua, mengawasi pelaksanaan kerjasama internasional di Papua dan memilih para utusan DPRP yang terdiri dari anggota yang dipilih dan diangkat.

(6)

Bahkan ada satu haknya yang menurut saya agak khas di situ, mengadakan penyelidikan serta mengadakan penyusunan pengesahan, perubahan dan penghitungan anggaran belanja. Jadi penyelidikannya itu sesuatu yang khas menurut saya.

Nah, kami sekarang masuk di alasan permohonan. Ada dua alasan permohonan yang diajukan. Alasan permohonan yang bagian pertama adalah mengenai penghapusan tugas dan wewenang dari Pemohon sesuai Pasal 7 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 oleh Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Otsus, kami mengkualifikasinya adalah sebagai tindakan inkonstitusional, argumennya adalah demikian.

Penyebutan dan pengakuan atas nama DPR Papua saja, pada saat penyusunan Undang-Undang Otsus itu sudah dilakukan dengan perdebatan yang cukup intensif dan cukup panjang. Ada perdebatan mendalam di dalam Panja mengenai tugas, wewenang dan hak serta kewajiban dari DPRP. Di dalam rumusannya juga rumusan tugas, cakupan kewenangan, itu juga kalau dibaca risalah-risalahnya itu ada perdebatan yang cukup panjang dan pada akhirnya DPRP secara eksplisit mempunyai salah satu kewenangan yaitu memilih gubernur dan wakil gubernur sesuai Pasal 7 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001.

Majelis yang kami hormati, bila dilakukan legal analysis content, itu juga ada beberapa yang cukup menarik yang bisa disebut dikualifikasi sebagai kekhasan. Pasal 7 ayat (1) huruf a itu ternyata mempunyai kaitan erat dengan pasal-pasal lainnya didalam Undang-Undang Otsus misalnya saja sebut Pasal 11 ayat (3) dan Pasal 12 huruf a. Dimana sifat kekhususannya itu, ternyata disitu dirumuskan tata cara pemilihan gubernur dan wakil gubernur itu ditetapkan dengan Perdasus sesuai dengan peraturan perundangan dan yang dapat dipilih menjadi Gubernur dan wakil Gubernur adalah warga Negara Repubilk Indonesia dengan syarat orang asli Papua, ini yang ada khas disini jadi untuk level Gubernur itu syaratnya sangat ketat sekali ada disebut orang asli Papua.

Di dalam Pasal 78 Undang-Undang Otsus misalkan disebutkan, pelaksanaan undang-undang ini dievaluasi setiap tahun dan untuk pertama kalinya dilakukan pada akhir tahun ketiga sudah berlakunya undang-undang ini. Hal yang lainnya yang bisa disebut juga dengan hal-hal yang menarik untuk disebutkan sebagai spesifik adalah ada perdebatan di dalam risalah pembahasan mengenai hal-hal yang spesifik itu. Nah, ketika undang-undang ini dirubah menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 yang didahului dengan Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008, itu ternyata kalau di baca dengan teliti dan agak cermat perubahan dari Perpu maupun undang-undang itu di tujukan untuk memberikan justifikasi atau kepastian hukum bagi keberadaan Provinsi Papua Barat untuk dapat diakomodasi dan diberi payung oleh Undang-Undang Nomor 21. Itu di Pasal di angka

(7)

satunya seperti itu. Jadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan pertimbangan dan dasar seta justifikasi untuk menghapus Pasal 7 ayat (1) Huruf a Undang-Undang Otsus. Kalau mau dilihat lebih teliti lagi di dalam hal menimbang dalam Perpu Nomor 1 Tahun 2008, itu disebutkan bahwa keberadaan Provinsi Papua Barat belum dapat diberlakukan otonomi khusus berdasarkan Undang-Undang Otsus. Walaupun telah menjalankan urusan Pemerintahan dan pembangunan serta memberikan pelayanan kepada masyarakat sejak tahun 2003. Pemberlakuan Otsus bagi Provinsi Papua Barat memerlukan kepastian hukum yang sifatnya mendesak dan segera, agar tidak menimbulkan hambatan percepatan pembangunan khususnya bidang sosial, ekonomi, politik, serta infrastruktur. Dalam Perpu itu lagi-lagi tidak ada justifikasi untuk mengubah, argumen dasar menimbangnya itu Pasal 7 ayat (1) huruf a. Begitupun di dalam Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang tentang penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2008, itu disebutkan bahwa Propinsi Irian Jaya Barat sudah dibentuk pada tanggal 4 Oktober 1999 dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999, tapi kemudian ada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 01 PUU Tahun…, PUU/1 Tahun 2003 yang menyatakan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, tapi di sisi yang lain eksistensi dan keberadaan Propinsi Irian Jaya Barat yang selanjutnya Papua Barat, itu ada disebutkan, tetap berlangsung, jadi undang-undangnya dinyatakan bertentangan, tapi kemudian eksistensinya masih ada.

Nah, untuk itu, kemudian diberikanlah melalui Undang-Undang Nomor 35 itu, Papua…, Provinsi Papua Barat itu, dimasukkan menjadi bagian dari Undang-Undang Otsus.

Jadi, eksistensi Provinsi Papua Barat yang sudah kehilangan dasar hukum dan legalitasnya, itu kemudian dianggap sebagai satu kondisi darurat yang mendesak sehingga perlu adanya perundangan sebagai dasar hukum untuk menjamin suatu kepastian hukum. Di situlah dibentuk apa yang dimaksud dengan Perpu Nomor 1 tahun 2008.

Kalau dilihat lagi, misalnya, Laporan Komisi III DPR dalam rangka pembicaraan Tingkat III pada pengembalian Keputusan RUU, itu disebutkan juga beberapa dasar hukum. Misalnya keberadaan Provinsi Irian Barat…, Irian Jaya Barat, yang berubah menjadi Papua Barat, dalam kenyataannya telah menjalankan urusan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan masyarakat sejak tahun 2003, namun belum diberlakukan otonomi khusus tahun 2001 Nomor 21 tahun 2001.

Untuk itu, dalam rangka optimalisasi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di Papua Barat, perlunya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 itu diberlakukan sebagai dasar hukum pelaksanaan otonomi khusus.

Di sini, lagi-lagi sebenarnya yang disebut adalah akomodasi Provinsi Papua Barat ke dalam Undang-Undang Otsus, tidak ada justifikasi

(8)

untuk mengubah Pasal 7 ayat (1) huruf a yang merupakan kewenangan dari DPRP.

Kalau kemudian diteliti Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2008, di dalam bagian menimbangnya, di bagian penjelasannya, itu kemudian jelas sekali bahwa semuanya ditujukan untuk mengakomodasi Provinsi Papua Barat.

Jadi, kesimpulan dari argumen alasan di bagian A ini adalah tidak ada yang dapat dijadikan pertimbangan dasar dan justifikasi untuk melakukan penghapusan atas keberadaan dari Pasal 7 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus.

Pasal a quo adalah salah satu pasal yang dapat dikualifikasi bersifat khusus, karena ada …, diatur secara spesifik mengenai kewajiban, kewenangan, dan hak yang ada di dalam pasal tersebut.

Tindakan penghapusan atas Pasal 7 ayat (1) huruf a, undang-undang a quo yang tidak didahului oleh evaluasi atas pelaksanaan pasal a quo, ini sebagaimana disebut di dalam Pasal 78 Undang-Undang Otsus, itu menurut kami dapat dikualifikasi sebagai tindakan inkonstitusional atau perbuatan melanggar hukum.

Mengapa demikian? Ada kewajiban dari negara untuk mengakui dan menghormati satuan-satuan Pemerintah Daerah yang bersifat khusus, serta negara juga tidak dapat melakukan suatu tindakan yang menyebabkan diabaikan atau dilanggarnya hak atas jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama di muka hukum.

Majelis Hakim yang kami hormati, jadi ini Pasal 7 ayat (1) huruf a itu akan kami uji dengan Pasal 18B ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

Yang Pasal 18B yang mengatakan, “Pelanggaran atas hak dari para anggota maupun lembaga negara DPRP yang dijamin secara tegas.”

Dan Pasal 28D ayat (1) mengenai, “Setiap orang berhak atas pengakuan jaminan perlindungan dan kepastian hukum yang adil.”

Jadi yang 18B itu mengenai pengakuan terhadap satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus.

Argumen yang ke-2 itu, pemilihan Gubernur Kepala Pemerintah Daerah, Menurut kami dilakukan secara demokratis.

Putusan MK Nomor 22 PUU VII tahun 2009 itu telah memberikan…, Mahkamah telah memberikan pendapat mengenai sistim pemilihan Kepala Daerah secara langsung dan tidak langsung dengan menyatakan, “Sistim pemilihan tidak langsung tidak bukan tidak dapat dikualifikasi, tidak atau kurang demokratis bila dibandingkan dengan sistem langsung, begitupun dengan sebaliknya.”

Pada konteks Papua, proses Pemilukada di tingkat kabupaten yang terjadi pada tahun 2010 ini, mengemukakan beberapa temuan. Yaitu, antara lain sebagian besar Pemilukada bermasalah karena adanya faktor

(9)

inkompetensi dan integritas dari penyelenggara Pemilu, maraknya politik uang.

Bagian ke-2, pengawasan yang dilakukan tidak dengan sangat optimal, dan bagian yang ke-3, yang juga menarik dalam konteks Papua, adanya konflik horizontal yang potensial menciptakan segrigasi sosial, yang pada akhirnya bisa menyebabkan disintegritasi horizontal di masyarakat Papua.

Dan yang juga menarik adalah, Mahkamah ini telah pernah pula memutus sistem pemilihan model noken, yang dapat dimaknai …, sebenarnya dalam sistim noken ini bukan sekedar vote tapi juga musyawarah dari masyarakat sebelum mereka melakukan vote secara bersama-sama. Itu yang khas yang kami tangkap dari sistim pemilihan noken terutama dipegunungan tinggi, Pak Ketua.

Di dalam pegunungan tinggi dengan sistim noken itu, pemilih bermusyawarah dulu menentukan siapa yang mau dipilih, baru kemudian menentukan pilihannya. Jadi, bukan sekedar vote tapi ada musyawarah.

Dan menurut hemat kami, DPRP jangan-jangan adalah sistem pemilihan noken itu, karena dia mendapatkan approval awal dari MRP dan beberapa syarat tertentu, jadi musyawarah awal sudah dilakukan. Mungkin ini juga bisa disebut dengan semi noken, saya enggak tahu, tapi nanti bisa dielaborasi lebih lanjut. Kami menyimpulkan seperti itu.

Hal lain yang juga penting disitu, Pak Ketua, bahwa di dalam argumen kami, kami juga menyatakan bahwa sekarang berkembang apa yang disebut dengan Konstitusional atau Konstitusi Pluralis.

Sebenarnya, Undang-Undang Dasar di Indonesia Pasal 18B, jangan-jangan itu adalah bagian dari apa yang disebut dengan Konstitusional Pluralis yang sekarang sebenarnya berkembang di Eropa. Jadi, ada diversifikasi pengakuan dari masing-masing masyarakat di situ, tapi kemudian mereka membangun itu jadi sebuah bagian dari Konstitusi.

Nah, itulah argumen kedua dari alasan permohonan kami. Sebelum masuk kepada Petitum, Majelis Hakim Konstitusi yang kami hormati, tahapan Pemilukada Gubernur di Papua itu sudah dimulai. Sehingga dimohonkan oleh kami, untuk diajukan permohonan profesional, proses dari Pemilukada Gubernur di Papua itu dihentikan untuk sementara, selama proses pengujian Undang-Undang a quo sedang dilakukan.

Pasal 63 Undang-Undang MK, khususnya untuk perkara Sengketa Kewenangan Lembaga Negara, itu memberikan kewenangan kepada Mahkamah untuk menghentikan sementara suatu pelaksanaan tindakan hukum yang terkait dengan perkara yang sedang diuji oleh Mahkamah Konstitusi. Tapi ini adalah yang berkaitan dengan kewenangan MK untuk menyelesaikan Sengketa Kewenangan Lembaga Negara.

Dan menurut kami, MK dapat mengeluarkan penetapan yang memerintahkan pada Pemohon dan atau Termohon untuk menghentikan sementara, walaupun ini Hak Uji Materil Undang-Undang, untuk

(10)

menghentikan sementara pelaksanaan kewenangan yang disengketakan sampai ada Putusan Mahkamah Konstitusi ini.

Dan sebenarnya dalam kasus Uji Undang-Undang terhadap Undang-Undang 30 Tahun 2002 mengenai KPK, permohonan profesional ini juga pernah diajukan dan dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Jadi, meskipun Pasal a quo di atas terkait dengan sengketa Kewenangan Lembaga Negara, namun ketentuan ini, menurut hemat kami, dapat menjadi rujukan bahwa MK dapat memerintahkan penghentian sementara waktu satu pelaksanaan tindakan hukum yang terkait dengan Perkara yang sudah diuji.

Pak Ketua dan Anggota Majelis Hakim Konstitusi, bagian terakhir mengenai Petitum, kami mengajukan dua Petitum.

Yang pertama dalam provisi, menerima dan mengabulkan permohonan provisi para Pemohon, memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Papua, walaupun ada dua provisi tapi di sana hanya satu KPU…, sudah dua, ya? KPU Papua dan Papua Barat, berarti nanti kami harus perbaiki, Pak, karena dalam Petitum kami hanya disebut Komisi Pemilihan Umum Papua. Memerintahkan Komisi Pemilihan Umum Papua dan Papua Barat untuk menghentikan pelaksanaan tahapan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Provinsi Papua sampai adanya Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perkara a quo yang berkekuatan Hukum tetap.

Petitum yang kedua dalam Pokok Perkara, menerima dan mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya, menyatakan penghapusan Pasal 7 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otsus, bagi Provinsi Papua yang diubah oleh Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008, yang kemudian sudah ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang, bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 khususnya Pasal 18B ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1).

Menyatakan bahwa penghapusan pasal 7 sebagaimana tersebut diatas, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, dengan akibat hukumnya, memerintahkan pemuatan Putusan Mahkamah Konstitusi atas permohonan a quo dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, dan bila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, mohon sudilah kiranya agar perkara a quo dapat diputuskan seadil-adilnya atau ex aequo et bono.

Pak Ketua dan Anggota Majelis Hakim Konstitusi yang kami hormati, itulah pokok-pokok permohonan kami, dan Petitum yang kami ajukan. Terima kasih.

(11)

5. KETUA: ACHMAD SODIKI

Baiklah, jadi Saudara sudah memaparkan dengan sangat jelas tentang pokok-pokok dari permohonan Saudara. Saya persilakan Pak Hakim Harjono.

6. HAKIM ANGGOTA: HARJONO

Baik. Jadi Saudara Kuasa Pemohon, kesempatan pagi hari ini adalah wajib bagi Mahkamah Konstitusi melalui Sidang Pemeriksaan Pendahuluan, untuk memberi nasihat kepada Pemohon, untuk dimanfaatkan bagi penyempurnaan dari permohonan ini.

Kewajiban itu tentu akan dilaksanakan sebaik mungkin, tapi apa isi dari nasihat akan jadi substansi perbaikan, seluruhnya terserah pada Pemohon untuk mempertimbangkan.

Dari uraian tersebut, ada hal-hal yang menurut saya, perlu untuk dieksplisitkan.

Pengeksplisitan, terutama posisi atau kualifikasi dari Pemohon. Memang disebutkan di situ sebagai perorangan warga negara tapi juga bisa sebagai Badan hukum Publik.

Ini supaya dieksplisitkan saja, karena dua-dua pilihan dari salah satu itu akan mempunyai konsekuensi terhadap macam Hak Konstitusional yang digunakan landasan untuk mengajukan permohonan. Kalau itu diskus sebagai perseorangan. Maka, Pasal yang jadi dasar pengujinya yang kemudian muncul di posita…, di dalam duduk pokok perkara, petitumnya itu, 28D ayat (1) karena memang 28D ayat (1) itu memang bunyinya “setiap orang”. Jadi 28D ayat (1) itu bunyinya adalah…, a, b, c, d. “Setiap orang berhak”…, sebentar. “Atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil, setiap perlakuan yang sama di hadapan hukum.

Persoalannya adalah kalau Pasal 28D itu bercerita tentang “setiap orang”, sedangkan yang kemudian dimohonkan adalah justru tidak setiap orang karena itu anggota DPRD saja yang bisa memilih Gubernur dan Wakil Gurbenur itu. Ini kolerasinya gimana nih? Kalau akan menggunakan setiap orang, ketimbang menggunakan DPRD, kan mustinya pilihan langsung itulah “setiap orang”. Padahal ini kapasitasnya sebagai Anggota DPR Papua itu ya, ini enggak sinkron, ya kan? Enggak sinkron dengan dalil yang diambil dari Undang-undang Dasar yang bunyinya adalah “setiap orang berataskan pengakuan”, tapi justru yang menamakan diri setiap orang Pemohon berdua ini. Maka, tidak memohonkan agar setiap orang bisa memilih, tapi malah memohonkan hanya DPR Papua saja yang bisa memilih, ya enggak? Itu kalau landasan, kualifikasinya sebagai setiap orang. Tapi kualifikasinya sebagai Badan Hukum Publik, maka tentu hak-haknya tidak muncul dari hak-hak yang diberikan kepada “setiap orang”.

(12)

Kalau dia dari Badan Hukum Publik, maka DPR itu pernah diakui sebagai DPRD Lembaga Negara, ya kan? Kalau itu memang memposisikan sebagai Lembaga Negara, maka persyaratan-persyaratan bahwa apa yang disampaikan di dalam permohonan itu adalah sebagai pencerminan dari kelembagaan, itu harus dipenuhi, apakah Pimpinan dan Ketua itu secara otomatis bisa ngomong atas dasar kelembagaan? Ya kan? Memang Pimpinan dan Ketua mewakili keluar, tapi apakah dia bisa secara otomatis bias mengatasnamakan kelembagaan, karena Pimpinan dan Ketua ini kalau di Indonesia dinamakan Pimpinan dan Ketua untuk DPR dan DPRD. Kalau di luar negeri dinamakan speaker. Nah, speaker itu tidak punya kewenangan langsung, ya ini harus di konstruksilah.

Saya kira itu yang harus ditajamkan, untuk mendasarkan diri supaya punya legal standing. Itu yang, saya masuk saja persoalan intinya legal standing, hak-hak Konstitusional, kemudian juga pendasaran Hak Konstitusional atas perlindungan-perlindungan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar. Kalau itu 18B, itu bunyinya kan persoalan-persoalan “pemerintah menghormati, dan mengakui adanya pemerintah yang bersifat khusus dan istimewa” itu, diposisikan dimana di dalam hal 18B itu? Ini yang belum nampak dalam permohonannya, itu belum nampak secara jelas, padahal dasar permohonannya saya kira itulah tumpuannya, saya kira paham benar apa yang saya sampaikan mengingat Kuasa Hukum Termohon ini sudah seringkali beracara di Mahkamah Konstitusi, jadi hal-hal yang saya sampaikan secara global pasti bisa dipahami. Saya kira begitu Pak Ketua. Terima Kasih.

7. HAKIM ANGGOTA: HAMDAN ZOELVA

Saudara Pemohon, dalam Petitum Permohonan yang dipersoalkan adalah penghapusan Pasal 7, jadi kalau kita mencermati Petitum ini, maka yang hendak dimintakan kepada Mahkamah adalah untuk menilai penghapusan itu. Padahal di Mahkamah ini kan, untuk menilai Norma yang lahir dari Undang-Undang, jadi bukan tindakannya. Karena itu, ini mungkin lebih tepat kalau Perpu itu yang menjadi obyek tumlitis bukan penghapusan itu sendiri dan Penetapan Undang-Undang mengenai Penetapan Perpu. Ya, karena dengan itu terhapuslah tindakan penghapusannya itu, kembali ke status semula, ini mungkin perlu sehingga mengenai juga, mengenai Perpu ini memang yang ada hanya dalam pertimbangannya, pertimbangan yang mengenai Papua Barat tapi dalam kontennya tidak ada. Mungkin juga persoalan-persoalan itu juga bisa menjadi kait-mengkait antara satu dengan yang lain sehingga ini menjadi persoalan Konstitusional itu, coba dianalisis kesana. Saya kira itu yang pertama.

Kemudian yang kedua saya pikir ini menarik, Saudara tidak mengajukan batu ujinya adalah Pasal 18 tapi Pasal 18B ayat (1), jadi tidak

(13)

mengajukan Pasal 18 ayat (4) kalau tidak salah ya? Pemilihan secara demokratis ya? Pasal berapa itu? Lah masih ada empat. Jadi dengan demikian, fokusnya ini adalah, fokusnya adalah mengenai kekhususan, apakah, pertanyaan pokoknya apakah dengan demikian memang Pemilihan Langsung oleh rakyat itu bertentangan dengan kekhususan Papua, kan itu menjadi pertanyaan Konstitusionalnya bertentangan dengan kekhususan Papua dari sisi Konstitusi, ya kan itu yang menjadi persoalan pokok.

Lalu mungkin juga harus ada alasan-alasan yang lebih jelas dengan kenapa lahirnya Perpu, apakah lahirnya, lahirnya Perpu juga perlu dilihat asal-usul dan latar belakangnya, saya tidak tahu persis, seingat saya ada permintaan pada saat itu juga dari Papua, masa provinsi yang lain dipilih langsung sementara Papua tidak? Dengan perkembangan-perkembangan paksa itu, mungkin juga apakah sudah ada perubahan, perubahan apa, perubahan situasi socio kultural yang secara konstitusional merubah keadaan konstitusional itu, dulu juga kan atas permintaan dan aspirasi masyarakat sehingga keluar Perpu, dihapus ayat (1) itu, dan butir (a) itu, di Pasal 7, dipilih oleh DPRP. Harus ada gambaran secara jelas bahwa memang ada perubahan gitu, ini perlu untuk membuat pertimbangan-pertimbangan, alasan-alasan permohonan ini menjadi memang layak gitu, bahwa ada perubahan-perubahan yang signifikan yang berbeda dengan saat kenapa Perpu itu harus keluar. Saya kira itu yang bisa sampaikan, terima kasih.

8. KETUA: ACHMAD SODIKI

Saya kira begitulah Saudara Pemohon, saran-saran dari Majelis, dan Saudara diberi kesempatan 14 hari kerja sidang ini untuk bisa menyempurnakan permohonan Saudara, ya gitu, ada hal lain yang perlu di kemukakan?

9. KUASA HUKUM PEMOHON: BAMBANG WIDJOJANTO

Terima kasih Pak Ketua, dua. Apa..., hal penting yang dikemukakan tadi soal legal standing, dan nampaknya kami akan memilih legal standing Lembaga Negara, bukan... tapi kayaknya nanti kami rumuskan lagi.

Terus yang kedua yang juga menarik yang diajukan oleh hakim anggota yang lain adalah soal kontennya itu, memang di dalam Petitum di sebutkan penghapusan, tapi memang kalau dilihat sebagian konstruksinya itu ingin mempersoalkan Undang-Undang 35, yang isinya memang hanya dua pasal itu sebenarnya, memasukkan Papua Barat menjadi bagian dari Otsus, tapi kemudian menghilangkan Pasal 7 ayat (1) huruf a. Soal yang

legal standing, betul..., Prof. Harjono mengatakan, sebagai house of

(14)

untuk mengajukan permohonan ini, mungkin saya meminta secara khusus baik Papua Barat maupun di Papua untuk membuat rapat paripurna, dan kemudian rapat paripurna baru menunjuk, kalau di Papua Barat ditunjuk tiga orang, kalau di Papua ditunjuk satu orang, itu yang jadi Prinsipal kami, jadi empat orang itu, jadi itu betul tapi kami akan periksa lagi.

Yang menarik juga adalah, yang tadi soal yang berkaitan dengan, dengan soal Petitum penghapusan itu, memang nanti kami akan rubah konstruksinya supaya yang ditekankan adalah Undang-Undang Nomor 35-nya. Tapi kalau di baca di Perpu, Pak Dr. Hamdan, itu Perpu itu baik di dalam pembahasan, rancangan pembahasan maupun di dalam penjelasan Perpu itu sendiri, konteksnya itu semuanya di dalam hal menimbang maupun di penjelasan umum itu hanya mengakomodasi saja itu, Papua Barat, jadi tidak ada hal yang berkaitan dengan khusus, apa namanya, penghapusan kewenangan DPRP. Nah, itu yang kemudian kami juga cek, apakah ada naskah akademisnya mengenai itu. Sebagai syarat seperti disebutkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004. Itu memang tidak kami temui. Kami membaca risalah-risalah, tidak ada risalah-risalah yang di dalam Perpu itu. Begitupun di dalam Undang-Undang Nomor 35, itu tidak ada. Tapi nanti kami akan coba konstruksi lagi.

Nah, kami akan coba bangun argumennya dan mengonstruksikan lagi, cuma di sini, Pak Ketua, ada salah seorang…, Pak Jimmy Ijie ini, salah seorang Prinsipal, Mantan Ketua DPRP Papua Barat, yang pada saat itu juga memperjuangkan soal Perpu Nomor 1 Tahun 2008 itu. Mungkin bisa Jimmy sedikit saja, sekitar 2, 3 menit saja untuk menjelaskan.

10. PEMOHON: JIMMY DEMIANUS IJIE

Izin Pak Ketua, terkait soal mengenai Pemilukada ini, sebenarnya bagi kami di Papua, mau dipilih langsung oleh rakyat atau dipilih oleh DPRP, yang penting muaranya. Pertama adalah rakyat Papua sejahtera dan NKRI semakin mantap, itu saja persoalannya. Tapi sampai hari ini setelah dipilih langsung, angka kemiskinan Papua Barat dan Papua, dua provinsi ini, Papua Barat menjadi provinsi termiskin pertama dari 33 Provinsi dan Papua nomor urut kedua dari 33 Provinsi.

Satu, ironi miskin dalam kekayaan alam. Miskin di atas bantuan negara yang tidak sedikit. Sudah hampir 28 triliun anggaran negara yang dialokasikan selama otonomi khusus ini. Kenapa itu terjadi? Tidak ada tadi sebagaimana disebutkan, lost of control…, pengawasan DPRD tidak ada karena Kepala Daerah dengan begitu arogannya, bahwa dia dipilih secara langsung oleh rakyat. Padahal Undang-Undang Otsus Pasal 18 ayat (1) mengatakan, “Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Daerah dan Kepala Pemerintahan Provinsi Papua bertanggung jawab kepada DPRP” . Itu persoalan yang kami hadapi. Kami tidak bisa melaksanakan hak kami sebagaimana Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21. Di situ, hak

(15)

kami meminta pertanggung jawaban gubernur. Tapi kami dipasung dengan Undang-Undang Nomor 32 itu.

Nah, terkait soal ini. Dalam pembahasan PP Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan Kepala Daerah, dalam kapastias sebagai Ketua DPRD Irian Jaya Barat ketika itu, saya menolak pembahasan di Hotel Ibis, untuk menggabungkan Papua dan Papua, Irian Jaya Barat, dalam menggunakan pemilihan Kepala Daerah secara langsung itu. Dengan pertimbangan faktor geografis, faktor tingkat melek huruk rakyat Papua dan banyak faktor yang memengaruhi ketika itu. Sikap itu kami pertahankan sampai pada pertemuan di Jayapura tanggal 16 Februari 2008, yang dipimpin oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla. Yang tadi…, Pak dr. Hamzah [Sic!] sampaikan tadi bahwa ada usulan. Sampai hari ini kami belum pernah menerima satu usulan masyarakat Papua kepada DPR Papua maupun Papua Barat terkait soal Pemilukada langsung. Tapi DPRD sebagai lembaga itu, mengalami hal-hal yang menurut kami, orang lain menikmati keuntungan, DPRD menjadi tempat untuk menampung segala keluh kesah rakyat Papua. Mulai dari kegagalan Otsus dan segala macam. Rakyat tidur di kantor DPRD tidak di kantor gubernur.

Nah, itu yang menjadi dasar pertimbangan kami bahwa kami diberikan kewenangan secara konstitusi untuk memilih gubernur dan wakil gubernur, tapi dihilangkan saja hanya karena takut dibilang tidak demokratis. Apakah ukuran demokrasi itu hanya karena orang bisa memilih langsung atau tidak langsung? Kalau begitu, pertanyaan kami, mengapa PPRA Tahun 1969 tidak dilaksanakan secara langsung oleh seluruh rakyat Papua? Itu jadi ukuran kami, karena faktor pertimbangan, melek huruk dan lain sebagainya.

Tapi hari ini kita lihat di kasus, mungkin kemarin Bapak baru mengadili perkara Manokwari. Ya, kami berada di Manokwari. Bagaimana kepala-kepala kampung itu, bisa saja mengunakan, mengatasnamakan rakyat untuk mencoblos. Tapi ya karena MK sudah memutuskan, kami hormat kepada putusan itu, karena kami tidak diundang sebagai saksi, begitu. Tetapi ini adalah pelajaran kami di daerah, karena kami berhadapan langsung dengan masyarakat. Tetapi satu yang memprihatinkan bagi kami adalah, bagaimana penguatan kewenangan lembaga DPRD itu, yang diatur dalam Undang-Undang itu, supaya kami bisa melaksanakan mekanisme check and balances, terutama dalam mengamankan kepentingan-kepentingan bangsa dan negara di tanah Papua. Kami capek kalau semua kesalahan itu lalu ditumpahkan kepada DPRD, padahal kewenangan kami diamputasi. Itu sebenarnya yang menjadi pemikiran kami untuk mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi supaya ada kepastian soal ini, gitu.

Nah, jadi dalam pertemuan di Jayapura pada tanggal 16 Februari 2008 dipimpin oleh wapres, dengan tegas saya mengatakan sikap bahwa, tidak menandatangani kesepakatan ini terkait penghapusan kewenangan

(16)

DPR untuk memilih gubernur dan wakil gubernur. Dan terbukti dokumennya yang ada di pemerintah hari ini, saya tidak menandatangani dalam kapasitas sebagai Ketua DPRD Papua Barat. Terima kasih.

11. KETUA: ACHMAD SODIKI

Ya baik, saya apresiasi keterangan Saudara dan Saudara Pemohon diminta untuk menyempurnakan permohonan ini sesuai dengan apa yang Saudara anggap sebagai masukan yang bisa menyempurnakan (suara tidak terdengar jelas) tersebut, Saudara diberi waktu 14 hari, bias sekarang, dan akan dibuka sidang-sidang selanjutnya.

Dan dengan demikian, sidang dinyatakan sudah cukup, selesai dan ditutup.

Jakarta, 4 Januari 2011

Kepala Biro Administrasi Perkara dan Persidangan, t.t.d.

Kasianur Sidauruk NIP. 19570122 198303 1001

KETUK PALU 3X

SIDANG DITUTUP PUKUL 10.30 WIB

Risalah persidangan ini adalah bentuk tertulis dari rekaman suara pada persidangan di Mahkamah Konstitusi, sehingga memungkinkan adanya kesalahan penulisan dari rekaman suara aslinya.

Referensi

Dokumen terkait

Abstrak: Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan atau badan usaha perorangan. Salah satunya ialah home industry/ rumah usaha produk barang atau juga perusahaan

Penerapan metode AHP dan PSO dalam penentuan lokasi baru Wifi.id Corner Telkom Kediri yaitu dengan mengoptimasi nilai bobot matriks perbandingan pada AHP

Tujuan penyelenggaraan Sayembara Desain Arsitektur Gedung LKPP yaitu untuk mewujudkan ide atau gagasan paling optimal sesuai dengan program ruang yang dibutuhkan serta dapat

ang mana rancangan faktorial adalah suatu tindakan terhadap satu variabel atau lebih yang dimanipulasi secara simultan agar dapat mempelajari pengaruh setiap variabel terhadap

an  padi  selengkapnya  dapat  dilihat  pada:    edangkan vegetatif 2 mendominasi di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam yaitu               

Dalam hal ini, responden yang diberikan intervensi berupa pemberian buku pedoman kesehatan ibu hamil dengan preeklamsia, informasinya akan bertambah yang membuat

Pranata Komputer Pelaksana melaksanakan operasi teknologi informasi dan implementasi teknologi informasi yang meliputi perekaman data, pemasangan dan pemeliharaan

Tanti Novianti, S.P., M.Si Wakil Dekan Bidang Sumberdaya, Kerjasama dan Pengembangan FEM Gigih Budiarto, SIP, MM. Kepala Bagian Tata Usaha