• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Paradigma Penelitian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "G. Paradigma Penelitian"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

42  

G. Paradigma Penelitian

Mencari Pasangan Hidup Membina Kehidupan Rumah Tangga

Meniti Karier utk memenuhi kehidupan ekonomi Rumah Tangga

Menjadi Warga Negara yg Bertanggung Jawab Dewasa Awal Tugas Perkembangan Pacaran Ta’aruf Romantic Love Agama Menikah Suami Istri KEPUASAN PERNIKAHAN

(2)

LAMPIRAN VERBATIM Responden 1 (Pacaran) Wawancara I Tanggal: 28 maret 2008 Pukul : 08.30 – 09.00 Wib Durasi : ± 30 Menit Subjek : Suami

Pelaku Verbatim Pemaknaan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

Waktu menikah, usia abang berapa tu? Waktu menikah...29

29 tahun ya bang ya. Terus, apa alasan abang menikah di usia tersebut?

Pertimbangan satu, karena abang dan kakak kan sudah lama pacaran. Terus pun memang saatnya aja, karena umurnya sudah mencukupi, karena kalau ditunggu-tunggu lagi umurnya makin bertambah.

Sekarang usia pernikahannya sudah berapa bang?

Bulan juli ini masuk dua tahun.

Flashback, kembali ke belakang ya bang, kemarin gimana sih proses perkenalan abang dengan kakak?

Prosesnya itu ya, kebetulan itu ya kami satu kampus, satu stambuk, satu kelas, jadi memang waktu di kuliah itu aja.

Kan pacaran, prosesnya?

Prosesnya, ya, kayak pacaran biasa aja. Ada putus sambung, putus sambungnya gitu. Setelah tamat ada sekitar satu tahun gitu dia ke Jakarta, abang tetap di sini. Baru dia kembali kemari, gak berapa lama di sini dia berangkat ke Bogor untuk kuliah lagi, lanjut S2 nya. Terus udah sekitar dua atau tiga tahun, dia kembali kemari untuk penelitian, penelitiaanya di sini. Setelah selesai, baru kami menikah. Sekitar tiga bulan menikah, dia balik lagi ke Bogor untuk menyelesaikan studinya. Kan udah penelitian, nyusun tesis ya kan.

Tinggal sidangnya? Iya, tinggal sidangnya. Tapi, udah menikah duluan

Udah. Jadi sekitar tiga bulan atau empat bulan menikah, dia balik lagi ke sana. Jadi, abang tetap di sini dulu.

Berapa lama tuh bang pisahnya?

Dia bulan 12, sekitar bulan empat kalau tidak

Usia saat menikah

Alasan menikah di usia tersebut karena sudah lama berpacaran dan merasa sudah cukup umur.

Usia pernikahan saat ini setahun lebih.

Proses perkenalan responden dengan pasangan, karena bertemu

di satu kampus saat kuliah.

Hubungan responden dan pasangannya sempat putus sambung-putus sambung sebelum menikah. Setelah menikah, responden sempat berpisah sekitar lima

bulan dengan pasangannya karena pasangannya kembali ke Jawa menyelesaikan S2 nya.

(3)

41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter

salah, abang nyusul ke sana. Lima bulanlah. Berapa lama tuh bang prosesnya dari pacaran sampai akhirnya menikah?

Coba hitung, dari 1998 sampai 2006. Sekitar delapan tahun.

Apa pertimbangannya kemarin milih kakak jadi istrinya?

Sebenarnya, kalo dari latar belakangnya itu ya biasa aja sih, dari kedekatan, sering sama-sama, sering curhat-curhatan gitulah kan, sering cerita. Dari semua kawan, kawan ceweklah, sama dia abang memang sering cerita. Dia pun sering cerita sama abang, jadi ya, awalnya dari itu aja.

Kedekatan emosional ya.

Sering bersama, sering curhat-curhat gitulah, ujungnya ya pacaran, ya jadi.

Sampai akhirnya menikah ya bang ya.

Iya. Gak ada yang aneh sih dari proses kejadiannya.

Teruskan bang, gimana hubungan abang dulu pas masih pacaran dengan kakak? kan ada yang berantem-berantemnya, atau apa?

Ya biasa, kalo berantem ya sering juga berantem. Sampai terus putus, habis tu berapa minggu kemudian sambung lagi, Cuma walaupun putus gak sampe bulanan gitu, gak. Sekitar berapa hari atau berapa minggu dah balik lagi.

Pas masih pacaran kan pasti ada sifat-sifat dan karakter-karakter yang kita kenal dari pasangan kita. Kalo abang kenalnya gimana dulu waktu masih pacaran? Kakak tuh orangnya seperti ini?

Ini menurut pandangan abanglah, menurut abang tu dia ringan tangan gitu. Maksudnya mudah memberi pada kawan-kawan yang membutuhkan, peng-iba-lah gitu, pemurah. Kalo kita cerita, cerita tentang masalah, dia pande bantu cari solusinya gimana. Sederhanalah.

Itulah yang buat abang seneng ya?

Ya... yang buat abang seneng itu, dia mudah membantu orang lain. Gitu aja. Karena kan banyak kawan-kawan kami yang butuh bantuan, cepet dia, responnya cepet.

Teruskan bang, kita kan punya harapan-harapan, standard tentang pasangan kita. Misalnya, saya pengennya istri saya seperti ini. Kalo abang gimana?

Proses pacaran sampai menikah selama delapan tahun.

Alasan memilih pasangan menjadi istri karena ada

kedekatan secara emosional, sering

curhat-curhatan.

Hubungan responden dan pasangan saat masa pacaran sempat ada putus sambungnya, dan juga sering ada pertengkaran-pertengkaran.

Responden mengenal pasangan sebagai seorang yang ringan tangan, suka membantu orang lain, pintar mencari solusi atas permasalahan orang lain dan sederhana.

(4)

91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 Itee Iter Itee Iter Itee Iter

Kalo abang, simpelnya lah, ya kalo untuk standard manusia dah sempurna. Di samping ada kekurangan dan kelebihannya. Menurut abang dia sudah cukup sempurnalah bagi abang.

Masa pacaran kan beda dengan setelah menikah. Kalo masih pacaran kan masih mungkin ada batasan-batasannya, kalo dah menikah kan dah milik seutuhnya. Apa saja perbedaan-perbedaan yang abang rasakan, waktu masih pacaran dengan setelah menikah. Misal dari segi hubungan atau sifat-sifat pasangan?

Kalo sifat, karena dah kenal sekian lama, lebih kurang sifatnya dah nampak. Lagian kami dari pacaran dah punya komitmen jangan ada sifat-sifat yang ditutup-tutupi. Kalo ada, bilang aja dek. Kalo suka tentang ini, bilang, kalo gak suka bilang. Cuma perubahannya itu, soal perhatiannya kan lebih intens. Yang pasti dulu, ngurus badan sendiri, gosok, makan, nyuci sendiri, sekarang dah ada yang ngurus. Abang rasa sih itu. Sampai sekarang pun sifat-sifat yang dahulu gak muncul, sekarang muncul itu gak ada. Karena dulu itu bisa dibilang dah tau semua lah. Udah terbukalah sifat-sifatnya semua. Jadi, sekarang gak ada sifat yang aneh, sifat tambahan lainlah yang kemungkinan bisa buat masalah.

Kalo waktu awal-awal pernikahan bang? Kalo sekarang mungkin sudah ada penyesuaian. Awal-awal nikah itu, yang menjadi masalahnya itu, abang harus mikirin, kami bakal jauhan lagi. Karena kan dari dia mulai penelitian kami udah bicarakan, nanti kalo menikah sekarang, dia kan harus balik lagi kesitu, gimana. Pasti kami harus berjauhan, abang pun gak mungkin ikut ke sana, karena pun kalo ke sana, apa yang mau dikerjain. Jadi, abang pun harus tetap di sini, sedangkan dia harus ke sana. Jadi, memang harus kami terima kondisi itu. Awal menikah, itu yang abang pikirin sampe hari “H” nya dia berangkat. Beberapa bulan abang di sini ya, walaupun gak terbiasa juga, tapi ya harus dihadapi. Itu aja sih ya kendala.

Dalam pacaran kan sudah cukup mengenal pasangan dengan baik. Apa aja misalnya hal-hal baru dari pasangan abang yang baru abang

Menurut responden, pasangannya saat ini sudah cukup sempurna baginya.

Perubahan yang dirasakan setelah menikah dari diri pasangan yakni dari segi perhatiaan pasangan yang semakin intens. Dari segi sifat, tidak ada yang berubah, sama saja dengan saat masih pacaran.

Di awal pernikahan, masalah yang dihadapi responden adalah karena memikirkan pasangannya yang akan pergi ke luar kota untuk melanjutkan kuliahnya, sehingga harus terpisah jarak dengan responden.

(5)

141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter

temui setelah menikah. Misal kebiasaan-kebiasaannya yang baru kelihatan.

Gak ada sih kebiasaan dia yang baru yang lain dari yang dulu. Satu contoh misalnya, pemarah. Dia kalo memang gak suka ama sifat abang, ada misalnya sesuatu yang dia gak suka, dia memang dari dulu bilang, dia orangnya kayak gini, dia gak suka nengok abang kayak gini. Memang gak ada sih sifat-sifatnya yang baru, yang sekarang ni baru muncul. Ya...mungkin kalo..., gak ada lah, ya menurut abang sih gak ada.

Bilang aja bang.

Ya gak ada sebenarnya yang baru tu sifatnya apa. Ya gak ada. Kayaknya yang abang nampak yang baru. Mungkin satu ya.. ya...tapi mungkin...tapi ya abang rasa itu bukan sifat aslinya sih.

Misalnya?

Maksud abang gini kan, itu mungkin sifat dia, tapi waktu pacaran disembunyikan dia. Tapi sekarang baru muncul. Menurut abang itu bukan sifat aslinya dia. Cuma kalo menurut abang itu, hmm... rasa manja dia aja. Kalo menurut abang dulu dia orangnya tegar, kuatlah dalam menghadapi masalah. Sekarang dia lebih, lebih cemana ya, lebih gampang sedih ngadapi masalah. Makanya, abang ngerasa itu bukan sifat asli dia. Cuma sekarang karna sudah ada abang, mungkin ada tempatnya untuk apa. Kalo menurut abang bukan sifat aslinya.

Yang lain bang?

Yang lain, Cuma itulah. Gampang sedih, gampang nangis. Kalo dulu seberat apapun masalah, dia pasti gak gampang sesedih itu. Itu aja sih.

Selain itu bang dari perilakunya? Apa ya?

Yang abang rasakan selama ini? Gampang jajan.

Apa?

Suka jajan. Abang rasa gak ada lah. Gak ada lagi sifat-sifatnya yang lain. Abang pun bingung nyarinya, karena dari pacaran dulu ya udah itu dia. Kalo dia cerewet, ya dari dulu dia memang suka nyerewetin abang, dia suka marah sama abang. kalo abang buat salah, dia memang marah. Gak ada sih, gak ada.

Kita kan pasti ada perbedaan-perbedaan sifat

Dari segi kebiasaan, secara umum tidak ada perubahan yang dirasakan responden dari diri pasangannya. Kebiasaan-kebiasaan pasangannya saat ini, memang sudah seperti itulah yang ia kenal dari dahulu saat masa pacaran.

Sifat pasangan yang baru muncul setelah menikah yakni bahwa pasangannya saat ini lebih mudah sedih dibandingkan dahulu.

(6)

191 192 193 194 195 196 197 198 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 Itee

dengan pasangan kita, latar belakangnya kan berbeda. Gimana abang menyikapi perbedaan-perbedaan itu?

Kalo abang sih sudah biasa ngadapinya, karena dari pacaran dulu kami memang gak seide. Kalo abang itu orangnya cuek dek, kalo dia orangnya semuanya itu harus terkendali. Kalo abang orangnya gak pedulian, jadi, udah memang dari awal pacaran kami memang tidak satu ide. Sampe sekarang pun tetap sering berdebat. Ujung-ujungnya kalo kami berdebat karena tidak satu ide itu, kalo ujung-ujungnya tidak selesai. Ya udah, ya tetap, diyakini dia, dengan diyakini abang. Cuma jangan sampe itu jadi masalah yang dibesar-besarkan. Itu aja. Jadi kalo hmm, masalah yang apa tu...merokok, dia kan memang gak suka. Ya udah, dari pacaran dulu dia tetap. Boleh dibilang dia tidak suka sama abang seperti itu. Pernah dulu masih sekitar dua ato tiga tahun pacaran, abang masih juga seperti itu. Pas pula di tas abang dia ketemu rokok sebungkus, padahal baru satu batang tu abang isap. Ada sekitar 15 batang lagilah. Ya udah, diambilnya, di bagi-bagikannya ke yang duduk di situ. Ya udah, seperti itulah dia tidak sukanya. Dan sampe sekarang pun dia tetap tidak suka dan tidak berubah. Kadang-kadang kan ada pasangan yang waktu pacaran memang tidak suka, tapi begitu udah menikah, dia bisa terima kalo suaminya seperti itu. Dia tetap gak terima sampe sekarang, sampe hari ini. Jadi solusinya, di rumah abang tidak merokok, di luar pun ya abang masih merokok. Cuma dia pun tahu kondisinya seperti itu. Teruspun dulu memang udah komitmen sih, Cuma ya pengertian kami aja. Abang pun nerima itu. Kalo misal memang abang lagi ama dia, abang gak merokok, tapi kalo dia memang gak ada ya terserah abang. Itu sih. Tapi itu ya, memang dari dulu sampe sekarang gak berubah-berubah.

Setelah menikah, responden tidak lagi mengalami kesulitan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan

dengan pasangannya, karena responden sudah biasa menghadapinya saat masa pacaran dulu.

Responden dan pasangan sering tidak satu ide sehingga ini memicu perdebatan diantara keduanya.

Responden dan pasangannya tetap bertahan dengan ide masing-masing.

Dalam menyikapi perbedaan dengan pasangan, responden tetap

menjaga agar perbedaan-perbedaan yang ada tidak sampai menjadi masalah yang dibesar-besarkan.

Responden dan pasangannya berusaha untuk saling pengertian tentang hal-hal yang tidak mereka sepakati, misal dalam hal merokok.

(7)

VERBATIM Responden 1 (Pacaran) Wawancara II Tanggal: 8 April 2008 Pukul : 08.30 – 08.50 Wib Durasi : ± 20 Menit Subjek : Suami

Pelaku Verbatim Pemaknaan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

Jadinya usia pernikahan abang dah berapa lama bang?

Ya...Satu tahun, udah setahun lebih lah, bulan tujuh ini pas dua tahun.

Terus, bagaimana penilaian abang terhadap pernikahan abang saat ini?

Ya, kalo sampe sekarang belum, ya masih berjalan normal lah, masih biasa aja. Ya, belum ada yang kalo dibilang aneh-aneh terjadi belum ada. Masih berjalan normal seperti biasa ajalah.

Terus, bagaimana pernilaian abang terhadap istri abang?

Ya seperti yang abang...seperti dulu juga, gak, gak ada yang berubah juga. Dia pun masih seperti itu.

Terus, mengenai komunikasi kan bang, bagaimana komunikasi abang dengan pasangan abang?

Ya, komunikasi lancar. Ya, cuma mungkin karena abang pigi kerja dari pagi, kadang-kadang pulang habis maghrib, malam gitu kan, jadi mungkin kuantitasnya aja yang kurang, tapi kalo kualitasnya ya, lancar sih, gak ada masalah.

Terus, bagaimana perasaan abang ketika berkomunikasi dengan kakak?

Ya, perasaannya seperti abang bilang, seperti berbicara, berkomunikasi sama dia, mungkin contohnya seperti abang berbicara tentang kondisi yang abang alami hari ini gitu kan di tempat kerja, abang senang bercerita sama dia, sharing tentang apa yang abang alami dan itu sesuatu yang menyenangkan bagi abang.

Terus, bagaimana kejujuran abang terhadap pasangan?

Kalo, e..., mungkin ada satu hal yang memang harus abang tutupi sama dia, karena mungkin ada sesuatu hal yang menurut abang sih gak, gak

Usia pernikahan responden sudah setahun

lebih.

Responden menilai pernikahannya saat ini masih berjalan normal-normal saja.

Responden menilai pasangannya sama seperti dulu, tiada yang berubah dari diri pasangannya.

Komunikasi responden dengan pasangan lancar.

Responden merasa senang saat berkomunikasi dengan pasangannya.

(8)

41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

harus abang ceritakan sama dia. Itu abang rasa, bukan berarti abang bohong sama dia tapi kalo untuk hal-hal lain abang rasa udah, walaupun belum, belum bisa di bilang 100% jujur, Cuma abang rasa, abang udah berusaha ke tahap itulah, untuk jujur sama dia semuanya. Yang perlu, yang gak perlu abang tutupi, gak perlu abang tutupi, kan gitu, Cuma mungkin ya, ya masih , ya tahap, belum 100% jujur gitu.

Kendala-kendalanya bang, yang buat abang belum 100% jujur?

Ya, kayak gini, kalo itu, itu abang ceritai seperti adanya kan gitu kan, abang merasa itu akan jadi apa, konflik, konflik diantara kami, kan gitu. Jadi, untuk sekarang abang tutupi aja dulu. Tapi itu, e..., bukan masalah yang terlalu penting kali sih untuk ditakutkan akan menjadi masalah, Cuma ya, menurut abang itu aja, belum saatnya harus abang ceritakan. Terus, mengenai kepercayaan abang terhadap istri, gimana?

Ya, sangat percaya abang ma dia, bahkan kalo bisa terlalu percaya, dan abang yakin kepercayaan abang itu gak akan disalah gunakannya.

Terus kan bang, kita kan sering punya waktu luang, abang misalnya punya waktu luang, bagaimana abang memanfaatkan waktu luang abang itu?

Ya...memang sih, walaupun sampai sekarang waktu luang abang itu belum sepenuhnya ada untuk dia, cuma ada memang sesekali, ada waktu luang, biasanya ya abang habiskan paling ya di rumah aja abang habisin, kalo dia pun gak ada aktifitas di rumah ini, utama, ya kami berdua di kamar, entah buat kesibukan apa-apa, ya, cerita-cerita, terus mungkin ya beresin kamar bersama, gitu.

Gitu ya. Terus kan sekarang dah nikah kan bang. Gimana perbandingan religiusitasnya antara sebelum menikah dengan sesudah menikahan dalam hal keagamaannya?

O..eh, ini abang ya kan? Abang.

Mungkin kalo dari abang, masalah shalat apa gitu kan, yang pasti lebih, memang ada peningkatan dari abang sebelum menikah. Kalo dulu memang sebelum menikah, satu mungkin karena gak ada yang mengingatkan,

Responden berusaha untuk selalu jujur dengan pasangannya, walaupun ada hal-hal yang masih responden tutupi dari pasangannya.

Responden menutupi tentang suatu hal dari pasangannya karena khawatir bila diceritakan dapat menimbulkan konflik dengan pasangannya. Responden percaya sepenuhnya pada pasangannya.

Responden mengisi waktu

luangnya bersama pasangannya dengan melakukan berbagai aktifitas bersama di rumah.

(9)

91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter

walaupun orangtua sering juga mengingatkan, kan gitu, gak sepenuhnya orangtua itu bisa mengawasi, kan gitu. Terus pun kalo misalnya untuk shubuh itu, biasanya pun shubuh udah agak siang baru bisa shubuh, sekarang kan karena sudah ada istri, pagi-pagi itu dia kan sudah bangun, gitu adzan dia pasti bangunin, langsung shalat abang, dah ada peningkatan. Terus, ehm...yang untuk misal mengaji, ya kan, itu memang yang bisa dibilang gak pernah sama sekali, jarang gitu kan, jarang sekali. Terus sekarang, minimal setipa habis shalat maghrib pasti ngaji, kalo dia lagi gak bisa ngaji, berdua, kalo gak abang sendiri. Terus yang pasti ada peningkatan aja.

Terus kan bang, dalam rumah tangga itu kan wajar ada konflik, biasanya konflik-konflik apa saja yang sering terjadi?

Yang pasti salah pengertian aja, istilahnya terkait suatu masalah, abang berpikirnya ke arah sini, dia kemari, gitu kan, dua-dua tetap bertahan, ujung-ujungnya ya, agak keras-kerasan sikit. Gitu. Dan biasanya memang ya,

memang sampai sekarang pun memang, ya

walaupun gak sedang bermasalah seperti itu, tapi e.. biasanya memandang suatu masalah itu kami memang beda persepsinya.

Tetap pada pendirian masing-masing. He-e

Penilaian abang terhadap masalah itu sendiri gimana bang? Tanggapan abang terhadap adanya suatu masalah. Bagaimana pengeruh adanya suatu masalah terhadapa diri abang? Kalo abang sih ya gak terlalu, gak terlalu ehm...apa ya istilahnya. Gak mau terlalu menganggap masalah itu jadi besar. Ya udah kalo memang itu jadi masalah, gak terlalu abang pikirkan kali. Ya, selagi memang masalah bisa abang jalani apa adanya tanpa ada solusi terhadap masalah itu, ya udah abang jalani aja

terus. Sebatas, sampai dia memang

mengganggu betul, itu baru abang pikirin gimanan solusinya. Misal masalah itu gak ada solusinya tapi masih bisa abang jalani terus gitu kan, gak jadi penghambat bagi abang, ya udah gak akan abang pikirin kali, biar aja seperti itu.

Terus, misalnya lah ada masalah gitu, bagaimana solusi atau strategi yang abang lakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut?

Religiusitas dan ibadah-ibadah responden semakin

meningkat setelah menikah.

Masalah yang sering muncul dengan pasangan karena adanya salah pengertian dan perbedaan persepsi antara keduanya, masing-masing bertahan dengan pemikirannya sendiri.

Responden tidak terlalu memikirkan tentang uatu masalah yang timbul, cenderung

mengabaikannya saja kecuali bila masalah tersebut sudah sangat mengganggau baru responden mencari solusinya.

(10)

141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

Ya, pertama kalo menurut abang masalah itu, menurut abang, abang perlu membicarakan dengan istri abang, ya abang bicarakan sama dia, dan biasanya memang dia, dia selalu abang suruh cari solusinya, karena abang sendiri pun gak terlalu mau memikirkan mencari solusi itu gimana gitu. Jadi mungkin dari dia misalnya dah dapat, menurut dia solusinya seperti ini, mungkin abang pertimbangin, abang pikirin, cocok gak kalo misalnya itu pun abang laksanakan seperti yang dia bilang, dan biasanya abang, bisa dibilang jaranglah abang memikirkan sendiri, apa, tentang suatu masalah itu, pasti selalu abang ceritakan ke dia.

Diselesaikan bersama. Terus, bagaimana penilaian abang tentang kondisi ekonomi abang saat ini?

Ya, mungkin belum bisa dibilang mapan, tapi

kalo menurut abang masih bisa mencukupi

gitu karena pun ya kebutuhannya pun belum begitu besar saat ini ya, tapi mungkin kedepannya kalo masih seperti ini aja ya mungkin gak bakal mencukupi, tapi untuk saat ini masih mencukupilah penghasilan kami. Terus, siapa bang yang mengelola keuangan? 100% istri abang.

Istri abang ya.

Karena ehm...Ketika menerima gaji, sepenuhnya abang kasih ke dia. Nanti, entah abang perlu duit berapa, abang minta saja sama dia. Jadi, 100% dialah yang mengelola, dan abang gak pernah mau memusingkan hal itu.

Kepercayaan abang dalam hal, kan kakak yang mengelola keuangan, gimana kepercayaan abang terhadap kakak dalam mengelola keuangan? O.. Ya pasti abang lebih percaya istri orang daripada istri abang sendiri, hehehe, enggaklah. Jadi ya, sesungguhnya abang percaya sepenuhnya sama dia, biar dia mampu untuk itu, dan dia pasti bisa, daripada abang yang mengelola pasti ya entah gimana jadinya.

Percaya aja. He-e.

Terus, bagaimana hubungan abang dengan kerabat-kerabat abang? Dengan keluarga dari pihak istri maupun pihak abang sendiri?

Ya, sampai sekarang sih memang gak ada masalah, gak ada masalah dengan keluarga, baik keluarga disini maupun keluarga disana.

Responden umumnya selalu berbagi, menceritakan dan meminta pasangannya untuk membantu mencarikan solusi bila ada suatu masalah yang terjadi.

Kondisi ekonomi responden saat ini masih

mencukupi.

Keuangan keluarga sepenuhnya dikelola oleh istri responden.

Responden percaya sepenuhnya pada istrinya

(11)

191 192 193 194 195 196 197 198 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

Walaupun jarang ketemu, komunikasi jarang, cuma, gak ada permasalahan lah. Berjalan normal aja.

Bagaimana perasaan abang dalam berhubungan dengan pihak keluarga?

Ya, ya pasti karena kita udah, jumlah keluarga pasti bertambah, kan gitu ya kan. Pasti itu, ya menambah rasa bahagia kita kan. Keluarga kita dah bertambah, misalnya kita entah ke keluarga abang, ada keluarga juga, terus abang balik kemari pun tetap ada keluarga abang, kan

gitu. Tetap senang kita, merasa ada keluarga

baru.

Terus, bagaimana kepedulian abang terhadap pihak keluarga?

Mungkin abang memang belum sepenuhnya bisa ngasih, baik keluarga istri maupun keluaga abang sendiri, kan gitu. Cuma, abang memang masih berusaha untuk bisa, karena memang pada dasarnya abang belum mempunyai apa istilahnya ya, kepekaan gitu lah kan. Itulah, abang masih berusaha untuk menunjukkan kepedulian abang kepada keluarga abang keseluruhannya. Mungkin sekarang ini walaupun belum bisa dibilang 100% abang bisa memberi perhatian pada keluarga abang, Cuma masih menuju kesitulah. Belajar.

Gitu ya.

Masih berusaha menunjukkan kepedulian sama keluarga.

Terus bang, beralih ke masalah seksualitas. Bagaimana abang dengan pasangan abang terkai dengan masalah seksualitas?

Yang pasti, ehm...setiap berhubungan sama istri pasti kita bahagia, karena istri juga menunjukkan kasih sayang dia, kan gitu. Cuma yang pasti, mungkin yang menjadi, walaupun gak boleh sebenarnya dijadikan beban, cuma secara tidak langsung menjadi beban, menjadi bebannya kadang-kadang menjadi target kan gitu kan. Target setiap berhubungan itu ya masalah belum punya anak itu, gitu. Walaupun setelah itu, gak harus jadi masalah, kan gak, karena kalo kita pikirin jadi beban pikiran, nah itu kan, larinya kan ke kualitas hubungan itu kan gitu kan. Cuma ya, secara tidak langsung seperti itu jadinya kondisinya saat ini. Tapi kalo setiap berhubungan pasti seneng, gitu. Sabar dalam

keuangan keluarga.

Hubungan responden dengan pihak keluarga baik-baik saja, tidak ada masalah.

Responden merasa senang dan bahagia dalam berhubungan dengan keluarga, apalagi setelah menikah, keluarganya jadi semakin bertambah.

Responden belum memiliki kepekaan terhadap keluarga, namun responden masih berusaha untuk dapat menunjukkan kepeduliannya kepada keluarganya.

Responden merasa senang dan bahagia saat berhubungan seksual dengan pasangannya, hanya saja saat ini mereka didorong oleh target ingin segera memiliki anak, sehingga target ini mempengaruhi kualitas

mereka dalam behubungan seksual.

(12)

242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

menjalani itu. Seperti itu.

Terus, bagaimana respon pasangan abang dalam membaca keinginan-keinginan abang?

Yah, mungkin gini ya, mungkin... Ya, responnya sih ya cemana kita bilang, karena selama ini memang ya kan, dari dia dulu yang apa, yang memberi apalah kan itu, baru abang yang merespon, seperti itu biasanya.

Iya ya. Terus bagaimana kesetiaan abang terhadap pasangan abang?

Ya, alhamdulillah sampai sekarang abang berusaha untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Saya berusaha menyadari, kondisi abang sekarang ini sudah punya istri, jadi ya abang selalu berusaha menjaga itu dan sampai sekarang belum ada, belum ada godaan-godaan yang berartilah, yang mengganggu kesetiaan itu.

Bagaimana perasaan abang, saat ini kan belum memiliki anak. Gimana perasaannya?

Ya gitu, yang pasti e...setiap manusia, kita pasti ingin kan punya anak. Cuma selagi bisa, itu gak abang jadikan beban, gak abang, gak menjadi beban pikiran abang, gak abang bebanin. Ya udah, abang berusaha untuk menjalani kondisi itu aja. Ya, mungkin, ya sekarang memang belum, belum dikasih, belum dikasih kepercayaan untuk ehm...memelihara anak, kan gitu. Ya kalo dari istri abang, mungkin gak tau ya gimana perasaan

dia. Cuma dari diri abang, gak menjadikan

itu sebagai beban, tapi mungkin sesekali mungkin timbul keinginan itu kok belum. Cuma ya abang tetap berusaha gak memikirkan itu. Itu aja. Ya mungkin berusaha, berusaha, berusaha, apa yang bisa dibuat. Ya, kalo memang belum juga, ya seperti itulah ya, ya kan.

Terus, bagaimana pengaruhnya belum hadirnya anak itu terhadap hubungan abang dengan istri? Ya, enggak. Menurut abang sampai sekarang itu gak jadi masalah diantara kami. Kami memang itu ya, memang gak seharusnya menjadi permasalahan dalam kehidupan berdua. Ya itulah, kalo memang belum dikasih, mau kita apain. Berusaha apapun kalo belum dikasih ya mau gimana lagi. Yang penting kami berdua dah berusaha, dah mencoba berobat, kan gitu kan. Ya, sampai sekarang walaupun belum nampak hasilnya, yang penting

Responden dapat membaca dan merespon

keinginan seksual pasangannya dengan baik.

Responden berusaha untuk selalu menjaga kesetiaannya pada istrinya.

Responden berusaha untuk tidak memikirkan dan tidak menjadikan sebagai beban karena belum hadirnya anak dalam rumah tangganya, walaupun sesekali pikiran itu tetap juga muncul.

Responden terus berusaha melakukan apa yang dapat dilakukan untuk mendapatkan anak.

Responden tetap berpikiran positif pada

yang kuasa walau belum juga mendapat anak, mungkin Allah belum memberi kepercayaannya saat ini.

Belum hadirnya anak tidak menjadi pemicu munculnya masalah

(13)

292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 Iter Itee Iter Itee

kami dah berusaha. Itu aja.

Terus bang, mengenai kepribadian, bagaimana abang menyesuaikan diri dengan kepribadian pasangan abang?

Ya, mungkin karena kami pacaran dah lama, dah delapan tahun itu. Setelah menikah pun gak da hal-hal khusus yang harus dilakukan untuk menyesuaikan kita dengan pasangan kita, karena dah terlalu panjang kan proses penyesuaiannya, gitu, dengan tambah lagi putus sambung, putus sambung, jadi udah tau, dia gak sukanya ini, kan gitu kan. Ya udah, kita coba perbaiki diri, itu, selama delapan tahun itu kan bukan proses yang singkat, tiap hari jumpa, tiap hari belajar sama, satu kelas, kan gitu. Ya gitu, sampai sekarang pun gak da hal khusus yang dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan pasangan.

Terus, mengenai peran kan bang, bagaimana perasaan abang terhadap pembagian peran-peran dalam rumah tangga, misalnya sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga?

Yang pasti mungkin kan walaupun sejak menikah gak da secara langsung lah kita bilang, aku ngerjai ini, kamu ngerjai ini, walaupun gak ada, cuma ya mungkin masing-masing ya lebih kerjanya sih, yang lebih mengerti posisi, peran dan seperti apa, apa yang harus dikerjainya, seperti itu. Jadi ya berjalan dengan sendiri aja. Dia lebih mengerti apa yang harus dikerjai, apa tugas dia, abang pun, apa yang harus abang kerjai, ya abang ya seperti itu aja, gak da langsung pembagian peran secara legal kita bilang gak, kau tugasnya ini, ini, ini, gak, gak seperti itu, berjalan sendiri aja. Yang pasti, mengerti sendiri aja gitu sambil proses belajar kan, aku harus seperti ini.

antara responden dan pasangannya.

Responden sudah saling

mengenal dan menyesuaikan diri dengan

pasangannya sejak masa pacaran, sehingga tidak lagi mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan pasangan setelah menikah.

Responden mengerti akan peran-perannya dalam rumah tangga.

(14)

VERBATIM Responden 1 (Pacaran) Wawancara III Tanggal: 23 Mei 2008 Pukul : 08.30 – 09.30 Wib Durasi : ± 60 Menit Subjek : Suami

Pelaku Verbatim Pemaknaan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

Kemaren kan abang ada bilang kalo baru-baru nikah itu sempat pisah beberapa bulan.

Oh, karena kakak sekolah lagi.

Iya betul, lanjut S2. Itu gimana bang perasaannya dalam menjalani hubungan yang jarak jauh seperti itu?

Ya kalo tengok perasaan paling dalam sih gak terima kan gitu, bukan gak terima apa, maksudnya ya cemana istilahnya, gak enaklah. Cuma kan memang harus dijalani, karena pun sebelum nikah pun, sebelum resmi nikah, dah ada pertimbangan kesitu. Kalo pun kita nikah sekarang kan belum selesai kuliah, berarti habis nikah mungkin ntah dua bulan ya kita bakal jauhan lagi. Dah ada, dah dapat gambaran di awal. Jadi ya, dah lumayan siaplah ngadapin hubungan jarak jauh setelah menikah itu. Jadi ya, bukan jadi kendala, bukan jadi masalah kali. Ya sesekali ada rasa rindu, rasa apa, wajar. Mungkin itu aja. Terus bang, kendala-kendala yang dihadapi saat hubungan jarak jauh itu seperti apa?

Ya kendalanya mungkin abang rasa mungkin kalo pingin ketemu, ntah kita pingin pergi, aturnya bisa berdua, terpaksa sendiri. Kalo kendala komunikasi sih gak ada karena kan dah ada HP sekarang kan kalo komunikasi ya lebih lancar. Tapi ya setidaknya dua malam ato tiap malam ada lah nanya kabar gimana. Komunikasi gak ada masalah.

Terus ada gak bang, kalo jarak jauh gitu kan biasa ada kecurigaan-kecurigaan. Itu ada gak sih?

Enggak kok, kalo abang sendiri kan dah dari dulu sebelum menikah dulu, udah, abang dah ma dia, abang pun dah sangat percaya ma dia. Jadi curiga, contohnya ntah dia selingkuh ntah apa gitu, alhamdulillah belum pernah muncul di benak abang karena dah dari awal dari

Responden merasa tidak enak dengan hubungan jarak jauh saat istrinya melanjutkan kuliah ke luar kota setelah menikah. Namun karena sudah mendapat gambaran di awal tentang hal ini maka ia sudah lebih siap dalam menghadapi hubungan jarak jauh tersebut.

Hubungan jarak jauh membuat hal-hal yang ingin responden lakukan berdua bersama istri terpaksa hanya ia lakukan sendiri.

Menurut responden tidak ada masalah yang terjadi dalam hubungan jarak jauh ini karena ia selalu menjaga komunikasi dengan istrinya.

(15)

40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

waktu pacaran, abang dah percaya ma dia. Jadi kalo kecurigaan-kecurigaan itu alhamdulillah gak pernah ada terpikir sama abang.

Terus apa tu bang, kira-kira yang buat abang percaya sama kakak sampai sekarang?

Karena kita pacaran panjang ya kan, sekitar delapan tahun. Jadi setidaknya abang udah tau dia gimana, terus pun dia kan, satu, dia gak gampang bisa suka sama orang gitu. Abang dah memang dari awal dah sedikit banyak tau tentang dia, itulah yang bisa membuat kepercayaan abang sama dia muncul gitu.

Iya ya. Kemaren waktu wawancara sebelumnya, bahwa menurut abang kakak itu dah sempurnalah bagi abang.

Sempurna dalam konteks manusia gitu ya. Iya. Itu dalam artian sempurna itu seperti apa bang?

Sebenarnya satu gini, kalo untuk tugas rumah tangga dia sangat mengerti, tau dia tugas-tugasnya itu apa-apa aja. Terus kalo untuk perhatiannya, apa dia, udah, udah selama ini sama abang sudah cukup banyak. Kalo apanya, kerjaan di rumah dia ngerti, tentang karir dia, tentang apapun dia ngerti. Jadi banyak yang kalo

apa, bisa kita bilang banyak yang dia bisa.

Terus pun orangnya memang mudah, cepat belajar,mengetahui sesuatu. Itulah yang abang anggap dia sempurna, di rumah bisa, di luar pun dia ilmunya lumayan kan gitu, pengetahuannya bagus, itu yang buat abang apa. Terus pun dia itu macam yang tadi, kalo di rumah itu dia tau tugas tanggung jawab dia itu apa, untuk melayani abang selama ini dah, cukup besarlah perhatian dia.

Jadi karena kakak bisa menjalani peran-perannya dengan baik.

He-e.

Terus kan bang, kemaren abang ada bilang, setelah nikah kakak jadi lebih mudah sedih ketika menghadapi masalah jadi lebih mudah sedih. Padahal waktu pacaran yang abang tau cukup tegar. Itu gimana bang, perasaan abang menghadapi perubahan, perubahan sifat kakak? Awal-awalnya dulu mungkin ya heran juga, lho kok seperti ini dia. Tapi belakangan-belakangan, abang berpikir, satu ya kan, dulu mungkin sebelum menikah ya mungkin

sepenuhnya pada istrinya walaupun jarak mereka berjauhan, ia tidak merasa curiga dengan istrinya yang jauh disana.

Kepercayaan responden pada istri sudah terbentuk sejak mereka pacaran, dan dari situ responden sudah mengenal bagaiman sifat dan karakter istrinya, itulah yang membuatnya percaya pada istrinya kini.

Responden merasa istrinya sudah sempurna

baginya karena menurutnya, selama ini

istrinya dapat menjalankan seluruh peran, tugas dan tanggung jawabnya dengan baik.

(16)

90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

memang seperti itu, cuma kan kami gak intens bertemu. Kalo kondisinya di rumah kan abang gak tau, pas gak sama abang, mungkin di rumah itu dia sedih, pas ketemu sama abang mungkin ya dia berusaha untuk tegar, menahankan. Satu itu. Yang kedua pertimbangan abang, mungkin dulu itu memang, memang udah tegar kian, Cuma karena dia beranggapan, dia belum punya siapa-siapa yang untuk bisa tempat dia curhatlah, membagi kesedihan dia. Jadi dia harus belajar tegar untuk menghadapi masalah dia. Sekarang mungkin karena sudah ada abang suaminya, ada tempat dia bercerita masalah dia. Ha... itu mungkin pertimbangan abang, antara dua itu aja.

Terus gimana perasaan abang?

Ya kalo perasaan abang sendiri ya, awal-awal itu ya itu, abang memang agak sedih juga. Cuma belakangan ini udah abang terima. Cuma sesekali memang abang nasehati aja, “udah, gak usah, setiap masalah itu gak usah terlalu dipikirin.” Cuma sedikit nasehat aja yang abang kasih. Cuma ya memang, kalo lagi sedih ya, abang sebagai suami harus berusaha mengurangi beban dia, karena kan sekarang ini masalah dia, masalah abang juga, masalah keluarga kan gitu ya.

Terus bang abang bilang dari dulu dari masa pacaran dulu kan, seringnya banyak tidak seidenya dengan kakak ya.

Iya.

Sampai sekarang pun terkadang masih seperti itu. Itu gimana bang perasaannya? Beda persepsi?

Karena dah tau dari awal dia kek mana, abang kek mana, walaupun sekali-sekali jadi masalah cuma kami berusaha gak kami perpanjang. Mungkin kalo lagi berdebat gitu, gak ketemu titik temunya, ya udah gak usah dibahas, diberhentikan aja. Cuma gak pernah jadi masalah yang besar yang sampe apa gitu. Paling ya itu aja, gak usah kita bahas gitu, dibahas pun gak ada ujungnya. Itu terkait dengan masalah-masalah apa bang seringnya tidak seide itu?

Gimana ya, satu mengenai kerjaan abang, kan

gitu. Kalo abang kan kalo kerjaan sama

abang tu abang kalo kerjaan di kantor belum selesai itu, pingin abang tu abang kerjai dulu

Responden merasa heran dan sedih dengan perubahan sifat istrinya yang kini setelah menikah menjadi lebih mudah sedih dibandingkan dulu saat masih pacaran.

Responden kini sudah mulai menerima an memahami sifat istrinya yang jadi lebih mudah sedih.

Sebagai suami responden berusaha untuk dapat membantu mengurangi beban masalah yang dirasakan istrinya.

Responden sudah terbiasa bila berbeda pendapat dengan pasangannya sejak dari pacaran dulu, jadi itu tidak lagi mengganggu dirinya. Hanya saja responden berusaha menjaga agar perbedaan pandangan tersebut tidak menjadi masalah yang dibesar-besarkan.

Menurut responden, selama ini yang sering menimbulkan perbedaan

(17)

140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 Iter Itee Iter Itee Iter

sampai selesai. Itulah kadang-kadang abang harus pulang agak telat, kalo menurut abang yang seperti seperti itu wajarlah sebagai tanggung jawab pekerjaan. Tapi kalo menurut dia itu gak seperti itu, itu dibodoh-bodohi pekerjaan menurut dia. Jadi seperti –seperti itu. Dan memang biasanya, terkait hal inilah, ya mengenai menghadapi kerjaan itu yang sering beda pandangan lah gitu. Terus tentang, tentang kerjaanlah pokoknya. Apapun macam-macam masalahnya, intinya itu mengenai pekerjaan itu yang lebih banyak berbeda pandangannya.

Terus cara mengatasinya gimana bang, ketika misalnya tidak seide, seperti yang tadi abang bilang?

Ya kalo dia kan kekeh seperti itu, abang pun ya, abang pun ya akhir-akhir ini menurut abang sih ada betulnya yang dia bilang mengenai sisitem bekerja abang. Sekarang ini abang cuma sedikit-sedikit berusaha mengikuti apa yang dijelasin dia, kerjaan itu gimana. Udah abang ikutin, abang berusaha pulang sesuai jadwal, gak malam tapi yah pulang apa, sore, jam jam lima jam enam abang kalo bisa dah

pulang. Cuma dari abang sendiri sebetulnya

masih belum bisa abang bekerja seperti itu. Kerjaan hari ini ya harus abang lanjuti besok hari. Walaupun dari abang belum bisa sepenuhnya, ya seberat apapun daripada menjadi masalah, ya abang merubah sikit-sikit lah. Mungkin abang kerja datang lebih pagi, jadi dah bisa selesai satu hari itu kerjaannya. Kalo biasanya kan abang kerja jam sepuluh, sekarang abang jam jam delapan dah ke

kantor. Jadi mungkin abang ubah jadi seperti

itu aja, supaya gak pulang malam. Itu gimana respon kakak?

Ya pasti kalo memang abang pulangnya agak cepat gitu ya dia senang. Cuma kalo pulang malam lagi sekali-sekali, tetap dipertanyakan dia lagi, gitu aja kalo menurut abang, dia senang. Cuma kalo menurut abang belum begitu nampak sih. Abang berusaha kesitu. Pas pula belakangn belakangan ini kerjaannya lagi banyak gitu.

Terus kemaren abang juga bilang bahwa komunikasi abang dengan kakak sedikit, karena kan abang kerja dari pagi sampe malam, kuantitasnya itu kurang.

pendapat diantara ia dan istrinya yakni terkait

dengan masalah pekerjaannya, yang terkadang membuat ia harus pulang malam.

Responden mulai berusaha merubah kebiasaan kerjanya selama ini agar ia bisa pulang lebih awal, walaupun berat dengan perubahan kebiasaan kerja ini, ia tetap berusaha melakukannya agar ini tidak lagi menimbulkan masalah antara ia dengan istri.

Istri responden merasa senang bila ia pulang lebih awal, namun bila ia kembali pulang malam, istrinya tetap konsisten mempertanyakannya.

(18)

190 191 192 193 194 195 196 197 198 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Ya

Gimana tu bang efeknya terhadap hubungan abang dengan kakak?

Ya sesekali memang jadi masalah juga. Karena kan dia pasti nuntut, karena memang hak istri kan memperoleh waktu yang wajar dari suami, kan gitu. Cuma ya abang memang sampai sekarang belum bisa memenuhi itu seluruhnya. Cuma abang berusaha pelan-pelan, kalo yang dulu dulu, yang awalnya abang kerja, sekali-sekali abang hari libur masih ke kantor terus, abang usahakanlah hari libur itu gak usah ke kantor. Terus kan abang bilang kemaren kan, abang merasa senang gitu ketika bercerita dengan kakak kan, misalnya tentang masalah kerja. Itu kenapa bang merasa senang?

Sebetulnya kita karena ada tempat kita berbagi pengalaman. Apalagi udah ada istri tempat kita bercerita. Walaupun waktunya singkat, ya itu aja, bisa menceritakan pengalaman abang hari ini. Itu aja yang buat senang, kita bisa membagi cerita. Itu aja.

Terus bang, ada beberapa hal yang tidak abang ceritakan ke kakak. Ada beberapa hal ato masalah yang tidak abang ceritakan ke kakak. Takutnya kalo diceritakan malah menimbulkan konflik. Itu kenapa bang? Kira-kira masalahnya itu apa?

Gini kan, kan gini, abang kan sikit banyak dah tau sifatnya kayak mana. Jadi abang paham kira-kira masalah yang kayak mana yang kira-kira dia gak suka, mana yang suka dia bisa nerima. Jadi ya alasannya ya seperti itu. Abang tau kalo ini abang ceritai pasti dia marah. Contoh apanya itu ya, biasanya memang terkait pekerjaan abang juga. Kan memang sih yang abang alami di kantor itu mungkin ntah karena kepercayaan bos ataupun memang kawan yang dianggap bos abang itu agak gak bisa mengerjakan sesuatu itu, kan ada bos bosnya, di atas abang ini kan ada monek, monek ini kan jabatannya diatas abang. Jadi terus diatas kami ini ada bos lagi, manajer

programnya. Kebetulan kan kerjaan yang

abang kerjakan sekarang itu porsi untuk moneknya itu. Cuma karena selama ini moneknya itu ada pertimbangan tertentu lagi mungkin dari program manajer, jadi banyak dilimpahkan ke abang semua. Jadi seperti

Waktu responden yang cukup sedikit bersama istri membuat ini sering menimbulkan masalah, karena istri responden terkadang menuntut haknya untuk bisa lebih sering bersama suami.

Responden merasa senang saat bercerita dengan istrinya karena ia merasa ada seseorang yang bisa menjadi tempat baginya untuk berbagi pengalaman tentang apa yang ia alami.

Responden tidak menceritakan suatu masalah kepada istrinya karena ia tau bila hal itu diceritakan akanmembuat istrinya marah atau proters, misalnya tentang ketidakadilan dalam pembagian kerja yang ia alami di kantor.

(19)

241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 Iter Itee Iter Itee Iter

seperti itu. Sedangkan kalo kita lihat sistim penggajiannya ya monek ini pasti lebih besar dari abang, cuma kerja ke abang selama ini ya macam-macam seperti itu yang abang kerjai. Kalo abang ceritai ke dia pasti dia protes dan itu memang pernah terjadi, pas abang coba ceritai itu, dia memang protes. Ya wajar, kalo abang dipersusah, protes. Cuma abang beranggapan ya udah selagi yang abang kerjai itu gak nyusahi abang, ya udah abang jalani aja seperti itu. Walaupun sekarang ini sudah beberapa kali abang pertanyakan juga, udah agak berubahlah sistemnya itu, dah

benarlah. Ya gitu gitu itu. Biasanya memang

masalah masalah yang menyangkut ketidakadilan di kantor itu yang tidak abang ceritai.

Terus kan waktu masa pacaran abang bilang sifat kakak itu mudah membantu orang lain, ringan tangan. Kalo sekarang udah menikah gimana?

Ya, tidak berubah sih, tetep, tidak berubah. Malah pun kalo misalnya di kantor itu kan sering ada event, acara gitu. Dia malah sering diminta orang kantor langsung untuk diajak, “bang ajak kakak untuk bantu-bantu.” Iya, walaupun gak dikasih imbalan gitu tetep dia seneng membantu. Di keluarga ini apa-apa yang diminta bantu, dia mau gitu. Gak pernah merengut, gak pernah apa. Ya kalo itu gak berubah, masih seperti dulu, masih seperti itu dia.

Setelah menikah kan pasti beda dengan masa-masa pacaran kan bang. Kalo dalam hubungan abang dengan kakak gimana tu, perbedaan mendasarnya, saat pacaran dengan sesudah menikah. Gimana aja perbedaannya?

Ya pasti intensitas pertemuannya lebih sering, komunikasi lebih sering. Menurut abang ya lebih baik. Perubahannya yang lebih baik dari dulu pas pacaran dulu, lebih banyak waktu saling berbagi apa. Kalo dulu kan kalo kita mau kemari pun suka-suka kita. Sekarang itu semua harus dilakukan bersama. Kalo sekarang lebih banyak yang harus dipertimbangkan untuk kepentingan berdua. Jadi sekarang, senang berdua, susah juga berdua.

Jadi menurut abang mana lebih menyenangkan, masa-masa pacaran ato setelah menikah?

Sifat istri responden yang suka membantu orang lain, dari masa pacaran sampai sekarang sudah menikah tetap seperti itu, tidak berubah.

Responden merasa lebih dekat dengan istrinya setelah menikah, sekarang

semuanya harus dipikirkan dan dilakukan

bersama, tidak lagi sendiri sendiri seperti saat masih pacaran.

(20)

291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 Itee Iter Itee Iter Itee

Ya kalo sekarang ini ya, sekarang ini menurut abang lebih enakan sekarang ini, karena satu, ada tempat abang berbagi terus ada tempat abang merasa bertanggung jawab. Disisi lain ada yang memberi perhatian khusus sama abang. Yang selama ini semuanya abang sendiri apa semua, sekarang ada yang membantu, ada yang nyiapkan. Pokoknya ya lebih seneng sekarang ini. Cuma kan posisinya itu beda, kalo dulu senengnya ya seneng senengan, kalo sekarang senengnya seneng bertanggung jawab.

Sudah ada komitmen gitu ya. He-e.

Kemaren abang juga ada bilang kalo lagi ada masalah biasanya abang tidak terlalu membebani itu gitu. Cenderung kalo misalnya masih bisa gak abang pikirkan, ya gak abang pikirkan. Itu kenapa bang, kenapa gak langsung diselesaikan aja masalahnya?

Sebenarnya kan gini, kan ada, kita kan tau sih masalah mana yang memang harus dipikirin , dicari jalan keluar, mana masalah apa yang memang apa. Walaupun awalnya masih tetap, bisa dibilang ke depan itu bukan jadi masalah. Kita ambil contoh masalah di kantor aja lagi ya. Di kantor itu misalnya masalah pembagian kerja itu tadi ya. Makanya kalo menurut abang ke depannya itu masih seperti itu tapi gak mengganggu, ya udah, kalo aku pun masih bisa menjalaninya, gak terlalu mengganggu waktu ku kali, ya udah gak abang pikirin. Dan mungkin pun kalo kemaren itu istri abang itu gak komplain, ini, mungkin abang pun gak abang tanyakan ke atasan, kenapa harus ngerjai ini. Itulah latar belakang makanya abang tanya ke atasan. Jadi ya seperti itu. Kalo menurut abang gak perlu dipikirin, gak perlu dibahas, mungkin entah masalaha kedepannya gimana, kalo kita gini gini aja mungkin kedepan itu kita gak bisa menjadi apa yang kita cita-citakan. Kalo yang seperti itu ya harus kita pikirkan. Cuma ya masalah masalah yang menurut abang yang kedepannya gak akan mengganggu, gak pernah abang pikirin. Misalnya juga masalah kenaikan BBM nanti, kalo toh dipikirin juga gak akan membuat BBM itu turun, ya udah gak usah dipikirin. Paling kalo nanti gak cukup beli minyaknya ya, sekali sekali aja pake keretanya.

Responden merasa lebih senang setelah menikah dibanding dulu saat masih pacaran.

Responden merasa tidak perlu memikirkan suatu masalah yang ke depannya itu tidak akan mengganggu dirinya, kecuali memang bila masalah itu akan mempengaruhi masa depannya maka itu harus ia pikirkan bagaimana solusinya.

(21)

341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Seperti itu.

Terus bang, gimana bang harapan abang dengan ekonomi abang kedepannya?

Ya kalo sekarang ini mungkin tetap dijalani. Walaupun agak tersendat-sendat juga akhir bulan pun dah simpanan pun dah menipis. Kalo sekarang ini masih bisa dijalani berdua. Cuma ya kedepannya pun abang masih cari alternatif yang lebih baik. Dia pun ya, berusaha mencari penghasilan tambahan gitu. Dia pun gak abang larang untuk bekerja, berkarir. Ya udah kita sama-sama berkarir. Ya selagi gak menganggu tanggung jawab di rumah ya silahkanlah apa yang bisa dikerjai, kerjai. Dan kedepannya itu ya tetap mencari yang lebih baik. Karena kalo mengharapkan kondisi saat ini kedepan nanti abang pun gak yakin, satu tahun dua tahun mendatang pasti kami gak bisa ngadapi lagi dengan penghasilan seperti ini.

Gini bang, sekarang kan dah dua tahun nikah belum diberi anak. Bagaimana perasaannya, itu ada gak memicu konflik gitu dalam rumah tangga?

Abang berusaha menekankan ke dia, kita sekarang belum punya anak, tapi itu jangan dijadikan masalah, karena kalo kita jadikan masalah, ya kan, itu bakal mengganggu hubungan kita sendiri. Jadi kalo apa jalani aja. Toh walaupun kita gak punya anak kita bisa mengadopsi anak, itu bisa jadi amal gitu. Jadi kalo bisa peringan, ngapai kita berat-beratin. Toh dari awal tujuan menikah itu bukan Cuma ingin punya anak. Ya masih banyak cara. Ya cuma memang manusiawi kita pingin punya anak dari diri kita sendiri kan. Tapi jangan terlalu kita jadikan beban. Dia pun gak terlalu menjadikan itu beban.

Bagaimana pengaruhnya belum hadirnya anak terhadap hubungan seksual kakak dengan abang, ntah ada target-target?

Sekali kali mungkin ada. Cuma kalo dari waktu yang panjang selama ini gak menganggu sih ya itu. Abang cerita juga ma dia bahwa anak itu jangan dijadikan target dalam kita berhubungan. Ya udah mengalir aja. Berhubungan itu ya kita anggap aja itu salah satu cara kita menyalurkan kasih sayang. Tapi gak usah berhubungan harus jadi, jadi anak, gak usah seperti itu. Karena apapun yang, konsultasi

Responden merasa bila keuangannya kedepan masih seperti ini maka ia tidak akan mampu menghadapi kondisi di masa yang akan datang. Saat ini ia berusaha untuk

mencari alternatif pekerjaan yang lebih baik.

Responden memberi izin untuk istrinya berkarir, selama itu tidak mengganggu tanggung jawabnya sebagai istri.

Responden sudah menekankan pada istrinya

agar belum hadirnya anak jangan dijadikan sebagai beban ataupun masalah, karena bila dijadikan beban maka itu akan mengganggu hubungan itu sendiri.

Responden menilai bahwa hubungan seksual akan menjadi tidak maksimal bila pikiran kita terbebani, misal terbebani oleh keinginan ingin punya anak dari hubungan

(22)

391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 Iter Itee Iter Itee

sama orang yang , yang memang awal pun lama punya anak kan gitu, mereka umumnya bilang kalo kita berhubungan kalo yang kita pikiri harus jadi anak, nah itu bakal mengganggu hubungan itu sendiri. Satu, mengganggu mental kita kan gitu, kita jadi seakan dikejar-kejar target untuk dapat anak, jadi tidak relaks. Kita berhubungan kan kalo belum tentu jadi, kan nanti jadi beban. Itu juga mengganggu apanya sendiri, kesehatan ovum dan spermanya itu. Ya udah kita jalani aja, jadi ya jadi, enggak ya enggak, kan gitu. Cuma ya kita tetap berusaha, kemaren itu kami berdua dah berobat, setidaknya target kami itu tahu ada gak masalah diantara kita, ternyata dia sehat, abang pun sehat, mungkin kalo abang sih ada beberapa yang apa, cuma kata dokter ya gak berpengaruh kali ini sih. Secara umum kami sehat. Kita tau seperti itu, ya udah, jalani seperti adanya aja karena kalo dari kesehatannya, sehat dua-duanya kan gitu.

Menurut abang seberapa besar sih peran agama dalam rumah tangga?

Ya pasti yang utama agama. Karena satu kalo misalnya abang walaupun agama abang saat ini kurang tapi kalo kurang sama sekali kan gitu mungkin abang gak bertanggung jawab seperti ini sama keluarga. Walaupun belum maksimal, setidaknya abang tahu kewajiban abang kepada istri apa, kewajiban sebagai suami apa, istri pun ya walaupun untuk pengetahuan agamanya secara umum masih lebih jauh dia lebih dari abang, dia pun dengan pengetahuannya seperti itu dia pun tahu apa kewajiban dia kepada suami, apa yang harus dilakukan sebagai kewajiban kepada keluarga. Ya seperti itu. Sebenarnya ya memang peran agama itu nomor satu, harus kita utamakan karena itu dasar kita unutk membina hubungan.

Terus bang menurut abang bagaimana sih pengaruh pendidikan kita selama ini dalam kita bersikap dalam rumah tangga?

Ya kalo dalam menjalani kehidupan rumah tangga sehari-hari ya kan pengetahuan pendidikan dalam konteks pengetahuan yang umumlah, pendidikan agama itu kan. Kalo pendidikan itu ya ada sih, faktor penentu dalam rumah tangga, terutama dalam

tersebut, karena pikiran ini akan mengganggu mental dan kesehatan ovum dan sperma itu sendiri, jadi menurut responden hubungannya dilakukan dengan mengalir saja tanpa beban.

Responden dan istri sudah berobat memeriksakan kesehatan mereka dan ternyata keduanya sehat.

Menurut responden, agama sangat berperan dalam membimbing kita menjalani rumah tangga, sehingga kita tahu apa saja kewajiban-kewajiban kita, baik sebagai suami maupun istri.

(23)

441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 4469 470 471 472 473 474 475 476 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 Iter Itee Iter Itee Iter Itee

berhubungan sehari-hari. Misalnya kalo kita gak punya pendidikan kita gak tau gimana proses berhubungan itu. Kalo gak ada pendidikan kita gak tau gimana cara berhubungan yang sehat, yang baik yang gak membahayakan keduanya, gitu. Cuma ya itu pun pendidikan yang tinggi itu gak menjadi faktor utama dalam membina hubungan yang baik kan gitu. Makanya yang jadi patokan itu sebenarnya agama, karena rumah tangga yang baik yang saling memahami keduanya, yang muncul saling menghormati itu. Karena banyak kita lihat orang yang makin tinggi pendidikan, misal istrinya tinggi tapi pengetahuan agamanya kurang, dia bisa semena-mena sama suaminya, kan gitu. Tetap agama yang utama, walaupun pendidikan menentukan, cuma gak begitu jadi faktor penentu dalam membina keluarga yang baik. Terus bang selama ini yang abang rasakan apa aja manfaatnya dari peran agama tadi?

Satu, kalo dari istri abang menjalani tugasnya itu,dia tahu apa aja gitu yang menjadi kewajiban seorang istri kepada suami itu. Dan itu menjadi pedoman dia untuk menjadi istri yang baik, kan gitu. Dan dengan pengetahuannya itu dai pun bisa memberi nasehat kepada abang, kita gak boleh seperti ini, seperti ini, gitu. Jadi ya dampaknya sangat besar dengan adanya pengetahuan agama yang baik itu.

Menurut abang, setelah menikah gimana bang ibadah-ibadah abang dibandingkan sebelum menikah dulu, perbedaan-perbedaannya?

Ya pasti, memang lebih baik. Dulu memang biasanya, contoh satulah ya, dulu memang jarang kalilah abang habis shalat mengaji, sekarang, walaupun bukan kegiatan rutin tapi dah jauh lebih seringlah dari yang dulu, gitu. Ibadahnya jadi lebih baik.

Kira-kira apa penyebabnya bang, sekarang menjadi lebih meningkat ibadah-ibadahnya? Satu mungkin, awalnya dulu karena ada istri yang sering ngajak, mengingatkan. Jadi kan awal-awal itu di ajak, jadi kan sekarang jadi biasa. Kalo saat ini lebih sering untuk ngaji, itulah, diajak. Ya udah belakangan belakangan jadi kebiasaan, kebiasaan sendiri, sekarang itu habis maghrib isya gitu abang ngaji. Dulu biasa shalat sendiri-sendiri,

utama yang berperan dlam membina rumah tangga adalah faktor

agama, karena menurutnya pendidikan

yang tinggi jika tidak dibarengi dengan pengetahuan agama akan

membuat orang jadi semena-mena dalam bertindak.

Responden merasakan besarnya peran agama dalam ia menjalani pernikahannya selama ini, misalnya dari kepatuhan

istrinya dalam menjalankan tugasnya,

serta kemampuan istri dalam memberikan nasehat-nasehat padanya.

Responden merasa setelah menikah, ibadah-ibadahnya jadi semakin meningkat dan lebih baik.

Peningkatan ibadah responden saat ini karena ada peran istri yang sering

mengajak dan mengingatkannya dalam

beribadah, sehingga lama

kelamaan menjadi kebiasaan sendiri pada

(24)

492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 Iter Itee Iter Itee Iter Itee

sekarang shalat sering berjamaah, walaupun maghrib atau isya. Yang penting ada sedikit perbaikan ibadah dari dulu walaupun belum maksimal, tapi ada lah arah kesitunya, lebih baik.

Kita kan belajar dari pengalaman, misal pengalaman orangtua kita. Kalo abang gimana bang pengaruhnya ke abang, dari pernikahan orangtua abang dalam abang menyikapi pernikahan abang?

Ya, kalo abang sendiri sih ya. Yang pasti abang melihat gimana pernikahan orangtua abang, gimana mereka menjalani rumah tangga mereka. Ya itu mungkin sedikit banyak memberi pengaruh sama abang dalam menjalani rumah tangga abang. Cuma ya lebih banyak ya

memang, itu pun gak menjadi faktor yang

apa, lebih banyak dari diri abang sendiri daripada dari keluarga. Selama ini abang lihat bapak abang memperlakukan ibu ya kan, jadi itulah yang lebih banyak memberi pengaruh abang bagaimana memperlakukan istri abang.

Maksudnya bang?

Kalo orangtua abang itu dia, bapak kan misalnya dia dapat gaji bulanan itu ya utuh, itu bersih dikasih seperti itu. Jadi amplopnya itu pun gak terbuka. Jadi ya seperti itulah abang berusaha untuk istri abang. Jadi berapa pun yang abang dapat dari kerjaan, itu abang kasih ke dia semua. Jadi ya paling kalo ada perlu baru abang minta. Jadi abang gak mau, ntah pun abang kasih, abang bagi, dia sekian, abang sekian, gak. Itu abang kasih semua, dia yang mengelola, ya kan. Nanti seberapa abang perlu tinggal abang minta. Ya mungkin itu abang lihat dari gimana bapak abang bertindak sama istrinya. Seperti itu. Terus kan, bagaimana sekarang, kan pernikahannya sudah dua tahun. Bagaimana harapan abang dengan pernikahan abang kedepan?

Yang pasti ya kita berharap menjadi keluarga bahagia, lengkap dengan semua atributnya, ayah, istri, anak dan semua semua, kan gitu kan. Pasti harapan kita kan pengen lebih bahagia dari sekarang. Cuma kita jalani ajalah, bahwa ke depan itu gimana, sambil berusaha ke arah seperti itu, gitu. Kalo untuk anak, seperti abang bilang tadi, kalo

diri responden untuk beribadah.

Responden merasa ada pengaruh dari melihat contoh pernikahan orangtuanya dulu dalam

ia menyikapi pernikahannya saat ini,

tapi menurutnya itu bukanlah faktor utama.

Dari pernikahan orangtuanya, responden berusaha mencontoh bagaimana sikap bapaknya dalam memperlakukan istri, misal dalam memberikan keseluruhan gaji untuk dikelola istri, itu salah satu yang ia contoh dari ayahnya.

Responden berharap agar kedepan keluarganya lebih bahagia dan lebih baik lagi dari sekarang, dan dikaruniai anak, sehingga semakin lengkaplah keluarganya.

(25)

542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 589 590 591 592 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee

memang ya sampe dah lama memang pun gak dikasih rezejki ya udah, masih banyak anak-anak lain yang bisa kita hidupi. Meskipun harapan kita kalo kita bisa memperoleh hidup yang bahagia, kan gitu. Kalo gak bisa anak sendiri, ya kenapa gak anak orang yang gak bisa memperoleh kemampuan unutk hidup layak. Itulah yang mungkin bisa membuat hiburansama kami. Toh kalo untuk ambil anak yatim pun, amal ibadahnya kan lebih baik. Kalo harapan untuk bahagia sih, manusiawi kita ingin lebih baik ke depan.

Terus, bagaimana menurut abang dari pernikahan ini, masa-masa mana yang paling, paling menyenangkan? Masa awal, tengah ato yang baru-baru ini?

Yang pasti sekarang, karena awal pernikahan kami jauhan, sekarang-sekarang inilah ya masa yang membahagiakan dari awal pernikahan.

Yang lebih baik dari awal?

Bisa dibilang lebih baik, karena kalo dari sisi perekonomian, abang kan awal menikah, abang kan baru keluar dari pekerjaan, sampai kakak ke Bogor pun abang pun belum punya kerja yang tetap. Satu lagi, awal menikah beberapa bulan, kami berjauhan setelah dia balik ke Bogor, beberapa bulan disini abang dapat pekerjaan. Itulah kalo dari sisi perekonomian, masih lebih baik dari sekarang. Terus dari kondisi rumah tangga, ya lebih normal sekarang daripada yang awal. Yang awal rumah tangga, abang dimana, dia dimana. Jadi masih lebih bagus sekarang ini daripada yang awal.

Oh gitu, yang belakangan ini berarti ya bang. He-e.

Beralih ke masalah kesetiaan kan bang. Misalnya kalo ada goda-godaan dari wanita lain, bagaimana abang menanggapinya?

Sampai sekarang abang belum menemukan yang seperti itu. Abang digoda yang apa, ya memang kita harus berhubungan dengan orang lain, ya kan. Kita berhubungan kan gak harus sama pria aja kan gitu. Meskipun abang ya dikantor pun kami lebih banyak yang cewek-ceweknya. Ya berhubungannya ya masih berhubungan manusiawi, ya sama kawan kerja, kalo sekali sekali ejek-ejekan, saling ganggu ya wajar kan. Cuma kalo lebih spesifik ke arah

Bagi responden, masa-masa sekarang ini adalah masa yang paling menyenangkan dan lebih baik dibandingkan masa sebelumnya baik ditinaju dari segi ekonomi maupun kestabilan dalam keluarga.

Responden berusaha untuk menjaga pergaualan dan memilih-milih teman wanita, sehingga dapat

(26)

593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter Itee Iter

menggoda, belum pernah abang alami sampai sekarang. Ya mudah-mudahan kedepannya pun jangan sampe, kan gitu. Itulah yang bisa abang buat. Abang pun harus lebih selektif dalam memilih kawan cewek yang bisa abang temeni, kan gitu. Jangan sampe yang sembarangan yang kita kawani, karena itulah yang bisa jadi pintu masuk ke arah seperti itu.

Jadi pande-pande jaga pergaulan.

Ha-a. Cuma ya sampe sekarang belum ada lah abang temui yang seperti itu, menggoda goda. Mudah-mudahan kedepan juga gak ada. He-e. Mudah-mudahan gak ada.

Terus bang, satu lagi, kemaren abang bilang waktu luang abang belum sepenuhnya ada untuk kakak, karena pekerjaan abang yang menyibukkan. Terus bagaimana tanggapan kakak?

Yang pasti, dia protes. Di gak suka. Dan itu memang dah beberapa kali jadi masalah. Udah beberapa kali juga dipertanyakan dia. “Abang kerja sampe malam, libur pun kerja lagi”, katanya. Ya jadi memang, itu yang lebih jadi masalah selama ini, gitu. Makanya yang seperti abang bilang tadi, ya sekarang ini mungkin abang sedikit-sedikit lah abang perbaiki. Yang selama ini dah abang buat,

mungkin, kalo pun abang masih sesekali

pulang malam, masih sering, cuma sekarang ini abang berusaha agar hari libur itu abang gak kerja. Tapi sekali-kali mungkin kalo memang ada tugas dari kantor langsung, ya abang harus apa. Cuma yang seperti itu dia masih mengerti. Karena kan selama ini abang libur pun ke kantor, itu memang gak ada tugas khusus kantor, cuma karena memang abang pengen menyelesaikan pekerjaan sendiri, jadi inisiatif sendiri lah, kan gitu. Cuma kalo dari kantor, besok sabtu harus pigi kemari, ya abang harus pergi, dan itu, seperti itu dia mengerti. Ya kalo memang apa, ya jadi masalah sih, karena memang sering ditanya dia, dia sih merasa komplain dengan masalah itu.

Kalo dari diri abang sendiri gitu bang, ada gak keinginan supaya ada waktu luang bersama istri? Kalo pengennya ya, kalo bisa pun seminggu itu entah tiga hari empat hari di rumah aja. Cuma ya seperti itu tadi, gak, gak bisa abang seperti itu. Kenapa bang?

mencegah terjadinya perselingkuhan.

Responden merasa belum

mmpu dalam memanajemen waktunya,

sehingga waktu untuk istri sangat sedikit, ini membuat istri sering komplain dan protes padanya, khususnya apabila responden pulang kerja malam.

(27)

643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 Itee Iter Itee

Ya, mungkin yang jadi faktor utama itu, pekerjaan itu. Walaupun sebetulnya pekerjaan itu gak harus abang jalani seperti itu. Cuma memang masalahnya itu mungkin dari abang sendiri yang belum, belum begitu bisa membagi waktu dengan baik dalam pekerjaan itu karena memang pun abang kerja pagi, ya udah nanti siang pun abang gak mood ngerjai apa apa di kantor ya abang duduk duduk aja. Begitu jam empat sore itu dah muncul lagi moodnya, abang kerja lagi. Makanya kalo bisa, intens dari pagi sampe sore itu kan tugasnya bisa selesai hari itu juga. Cuma mungkin kesulitan itu memang pembagian kerja abang di kantor itu yang belum bisa abang atur dengan baik.

Berarti lebih ke manajemen waktunya. Iya.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini tidak ditemukan dalam kasus karena pasien hanya mengalami fraktur tibia fibula sinistra dan sebagian anggota gerak yang lain dapat digerakkan dengan normal kecuali

Dari empat calon legislatif tersebut hanya tiga orang yang bersedia untuk diwawancara, yakni Nurharto, Tomy Santoso Wibowo P dan Heru Eko Pramono. Ketiga calon legislatif

Pengaruh Motivasi terhadap Behavioral Intention Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkkan bahwa dari variabel motivasi, dimensi potential in saving dan country

Domineering (juga disebut Stop-Gate ) adalah sebuah permainan matematika yang dimainkan pada selembar kertas graf, yaitu kertas yang dicetak dengan garis-garis yang

Dari data yang ditunjukkan di atas dapat dikatakan bahwa kegiatan bernyanyidapat meningkatkan kemampuan anak dalam penguasaan kosa kata bahasaInggris jika kegiatan bernyanyi

Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh batu apung dan tongkol jagung sebagai matriks immobil untuk mengikat enzim pullulanase dan CGTase pada

Kaura 1983: Kevätäestetty maa antoi suurimman sadon (n. 4 % suurempi sato kuin kynnetyllä maalla), satoero kynnetyn maan ja syysäestetyn maan satoihin ei kuitenkaan ollut

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, dengan ini menyetujui untuk memberikan ijin kepada pihak Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknik Universitas Muria Kudus