Laporan Praktik Kerja PROYEK PENGEMBANGAN BANDARA AHMAD YANI SEMARANG (PPSRG) PAKET – 1

108 

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh : Mukhamad Sukarno Putro

12.12.0063

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(2)

Disusun Oleh : Mukhamad Sukarno Putro

12.12.0063

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(3)

Disusun Oleh :

Mukhamad Sukarno Putro 12.12.0063

Telah diperiksa dan disetujui,

Semarang,……….

Ketua Program Studi Teknik Sipil Dosen Pembimbing

(4)

Tanggal : 07 Oktober 2013

Tentang : PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN PRAKTIK KERJA PROYEK

PROYEK PENGEMBANGAN BANDARA

AHMAD YANI SEMARANG

(PPSRG)

PAKET

1

PERNYATAAN KEASLIAN PRAKTIK KERJA

Dengan ini kami menyatakan bahwa dalam laporan praktik kerja yang berjudul “Proyek Pengembangan Bandara Ahmad Yani Semarang (PPSRG) Paket-1” ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh nilai mata kuliah praktik kerja, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila dikemudian hari ternyata terbukti bahwa laporan praktik kerja ini sebagian atau seluruhnya hasil plagiasi, maka saya rela untuk dibatalkan, dengan segera akibat hukumnya sesuai peraturan yang berlaku pada Univesitas Katolik Soegijapranata dan/atau peraturan perundang –

undangan yang berlaku.

Semarang,

(5)

karena berkat-NYA saya dapat menyelesaikan laporan praktik kerja megenai Pembangunan Proyek Pengembangn Bandara Ahmad Yani Semarang (PPSRG) Paket-1 dengan konsentrasi Struktur. Laporan praktik kerja ini dibuat sebagai laporan pertanggungjawaban selama 90 (Sembilan Puluh) hari kalender atas apa yang dilakukan selama berada di lokasi proyek / lapangan. Selain itu, laporan ini dibuat untuk memenuhi penilaian mata kuliah praktik kerja serta sebagai salah satu syarat mengikuti Tugas Akhir (TA).

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak – pihak yang telah membantu saya dalam proses praktik kerja serta pembuatan laporan ini.

1. PT. Angkasa Pura 1 selaku owner Proyek pengembangan bandara Ahmad Yani Semarang (PPSRG) yang telah mengijinkan saya untuk praktik kerja di proyek beliau.

2. Andri Nugraha dan Ardiaz K Nuryadin ,Non Terminal Section Head

yang membimbing saya selama proses praktik kerja berlangsung, serta pengetahuan–pengetahuan dari beliau yang disampaikan secara lisan. Baik pengetahuan berupa akademik ataupun non

akademik (moral).

3. Ir. Widija Suseno, MT selaku dosen pembimbing praktik kerja yang membimbing saya baik selama proses praktik kerja serta penyusunan laporan, serta banyak memberikan masukkan–

masukkan untuk saya ketika berada di lokasi proyek.

(6)

kerja ini, baik dari segi teori, gambar, ataupun informasi – informasi mengenai pelaksanaan proyek pengembangan bandara Ahmad Yani Semarang (PPSRG)Paket-1. Maka kritik dan saran saya harapkan agar laporan ini menjadi lebih baik lagi.

Hormat Saya,

(7)
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
(13)
(14)

KATA PENGANTAR... v

KARTU ASISTENSI... vii

SURAT PERMOHONAN IJIN KERJA PRAKTEK... ix

SURAT PERINTAH KERJA... x

SURAT BIMBINGAN KERJA PRAKTEK... xi

SURAT KETERANGAN SELESAI KERJA PRAKTEK... xii

SURAT UCAPAN TERIMA KASIH... xiii

DAFTAR ISI... xiv

DAFTAR GAMBAR... xvi

DAFTAR LAMPIRAN... xix

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang Proyek ... 1

1.2 Lokasi Proyek ... 2

1.3 Fungsi Bangunan ... 3

1.4 Data Proyek ... 3

BAB II PENGELOLA PROYEK... 7

2.1 Pemilik Proyek (Owner)... 7

2.2 Konsultan... 8

2.2.1 Konsultan Perencana ... 8

2.2.2 Konsultan Pengawas / Konsultan MK... 9

2.3 Kontraktor Pelaksana... 10

2.4 Kontraktor Pendukung... 11

2.5 Hubungan Kerja Antar Unsur Pengelola Proyek... 12

BAB III PELAKSANAAN... 16

3.1 Uraian Umum ... 16

3.2 Strukrur Bangunan... 17

3.2.1 Tiang pancang... 17

3.2.2Capping Beam... 19

3.2.3Mortar Pad... 23

3.2.4Bearing Pad... 24

3.2.5 BalokGirder... 26

3.2.6 BalokDiafragma... 28

3.2.7 BalokJoint... 33

3.2.8Slab Deck... 37

3.2.9SlabLantai ... 40

3.2.10BerrieratauParapet... 48

3.3 Alat-alat ... 53

3.4 Bahan ... 61

3.5 Pengendalian Proyek ... 71

3.5.1 Pengendalian Mutu ... 71

(15)

BAB IV PENUTUP... 87

4.1 Kesimpulan ... 87

4.2 Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA... 89

(16)

Gambar 1.2Peta Google Satelit Lokasi Proyek Bandara Ahmad Yani ... 2

Gambar 2.1Bagan Hubungan Kerja... 12

Gambar 2.2Bagan Struktur Organisasi Angkasa Pura 1 (Owner) ... 13

Gambar 2.3Bagan Struktur Organisasi Kontraktor ... 14

Gambar 2.4Bagan Struktur Organisasi Konsultan ... 15

Gambar 3.1Tiang Pancang ... 17

Gambar 3.2TulanganUpperTiang Pancang ... 18

Gambar 3.3Isian Beton Tiang PancangUpper... 18

Gambar 3.4Capping Beam... 19

Gambar 3.5PembesianCapping Beam... 19

Gambar 3.6BekistingCapping Beam... 21

Gambar 3.7PengecoranCapping Beam... 22

Gambar 3.8Pembongkaran BekistingCapping Beam... 22

Gambar 3.9Mortar Pad... 23

Gambar 3.10BekistingMortar Pad... 24

Gambar 3.11PengecoranMortar Pad... 24

Gambar 3.12Bearing Pad... 25

Gambar 3.13Bearing Pad... 26

Gambar 3.14Erection Bearing Pad... 26

Gambar 3.15BalokGirder... 26

Gambar 3.16ErectionBalokGirder... 27

Gambar 3.17BalokGirder... 27

Gambar 3.18BalokDiafragmaTengah ... 28

Gambar 3.19BalokDiafragmaUjung ... 28

Gambar 3.20Pembesian BalokDiafragmaTengah... 29

Gambar 3.21Pembesian BalokDiafragmaUjung... 29

(17)

Gambar 3.27BalokJoint... 33

Gambar 3.28Pembesian BalokJoint ... 34

Gambar 3.29Bekisting BalokJoint... 35

Gambar 3.30Pengecoran BalokJoint ... 36

Gambar 3.31Pengecoran BalokJoint ... 36

Gambar 3.32PembesianSlab Deck... 37

Gambar 3.33PengecoranSlab Deck... 38

Gambar 3.34PengecoranSlab Deck... 38

Gambar 3.35PengangkutanSlab Deck... 39

Gambar 3.36PemasanganSlab Deck... 39

Gambar 3.37PemasanganSlab Deck... 40

Gambar 3.38SlabLantai ... 40

Gambar 3.39BekistingKantilever SlabLantai... 41

Gambar 3.40BekistingKantilever SlabLantai... 42

Gambar 3.41BetonDecking SlabLantai ... 43

Gambar 3.42Cakar AyamSlabLantai... 43

Gambar 3.43Saluran Pembuangan Air ... 44

Gambar 3.44Pengukuran Kemiringan Jalan... 44

Gambar 3.45Angkur dan Pipa Pembatas Elevasi CorSlabLantai... 45

Gambar 3.46PengecoranSlabLantai ... 46

Gambar 3.47Pembongkaran BekistingKantilever... 46

Gambar 3.48Pembongkaran BekistingKantilever... 47

Gambar 3.49Perawatan Beton dengan Karpet... 47

Gambar 3.50Perawatan Beton denganCuring Compond... 48

Gambar 3.51BerrieratauParapet... 48

Gambar 3.52PembesianBerrieratauParapet... 49

(18)

Gambar 3.58Genset ... 55

Gambar 3.59Gerinda Potong ... 55

Gambar 3.59Gerinda Potong ... 56

Gambar 3.61Theodolite... 57

Gambar 3.62Bar Cutter... 57

Gambar 3.63Waterpass... 58

Gambar 3.64Crawler Crane... 59

Gambar 3.65Concrete Pump Truck... 59

Gambar 3.66Excavator... 60

Gambar 3.67MobilCrane... 60

Gambar 3.68Truck Mixer... 61

Gambar 3.69Besi Tulangan ... 62

Gambar 3.70BetonReady Mix... 63

Gambar 3.71Sikagrout215... 64

Gambar 3.72PrecastBalokGirder... 64

Gambar 3.73Wiremesh... 65

Gambar 3.74Bearing Pad... 66

Gambar 3.75Agregat Halus ... 67

Gambar 3.76Agregat Kasar ... 67

Gambar 3.77Tandon Air... 68

Gambar 3.78Cakar Ayam ... 69

Gambar 3.79BetonDecking... 69

Gambar 3.80Kawat Bendrat ... 70

Gambar 3.81TestSlump... 72

(19)

Laporan Mingguan ... 91

Laporan Bulanan ... 95

Laporan Monitoring Pengecoran... 112

Laporan Uji Kuat Tarik dan Bengkok Besi Tulangan ... 116

Laporan Uji Kuat Tekan Beton ... 120

(20)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Proyek

Kehadiran pengembangan Bandara Ahmad Yani akan meningkatkan kapasitas penumpang hingga 4 juta penumpang per tahun, dari sebelumnya hanya 800.000 penumpang. Luas terminal penumpang akan menjadi 55.000 meter persegi dari sebelumnya hanya 6.108 meter persegi dan area parkir akan diperluas menjadi 43.634 meter persegi.

Proyek pengembangan Bandara Ahmad Yani yang berlokasi di jalan Puad Ahmad Yani Semarang. Merupakan proyek pengembangan Bandara Ahmad Yani yang dibagi 4 paket. paket 1 yaitu jalan akses Bandara, paket 2 Apron pesawat, paket 3 terminal Bandara, dan paket 4 yaitu fasilitas penunjang Bandara.

Bandara Ahmad Yani yang dibangun di tanah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) kemudian akan dipindahkan di sebelah utara landasan pacu pesawat. Bertujuan agar latihan Militer Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) tidak terganggu oleh pesawat komersial Bandara Ahmad Yani. Disamping itu Bandara Ahmad Yani akan dikembangkan menjadi Bandara bertaraf internasional yang membutuhkan lahan yang sangat luas.

(21)

1.2 Lokasi Proyek

Lokasi proyek pengembangan Bandara Ahmad Yani Beralamat di jalan Puad Ahmad Yani Semarang – Jawa Tengah, selain itu informasi mengenai

proyek ini dapat diakses langsusng melalui website

http://www.angkasapura1.co.id .

Gambar 1.1Peta Lokasi Proyek

Sumber: google maps

Gambar 1.2Peta Google Satelit Lokasi Proyek Bandara Ahmad Yani

(22)

Gambar 1.2 ini diambil dari google satelit pada saat proyek pengembangan Bandara Ahmad Yani masih dalam tahap pemasangan balok girder dan slab lantai. Lokasi proyek ini berada di atas tanah rawa yang jauh dari perkotaan agar tidak menggangu lalu lintas penerbangan pesawat.

1.3 Fungsi Bangunan

Fungsi Jalan akses Bandara Ahmad Yani secara umum berguna untuk akses keluar dan masuk ke terminal, perkantoran, parkiran, dan fasilitas Bandara yang lain, selain itu untuk meningkatkan pelayan terhadap pengguna jasa Bandara agar keberangkatan dan kedatangan sesuai dengan jadwal dan tepat waktu.

1.4 Data Proyek

Dalam proyek ini dilakukan sistem pelelangan dikarenakan untuk mencari kontraktor dan pihak-pihak terkait yang berpengalaman dibidang tersebut yaitu sebagai berikut :

a. Data Pihak Terkait:

Angkasa Pura 1 (Owner)

1) Manajer proyek : Mma.Indah Preastuty

2) Kepala departemen fasilitas Bandara : I Ketut Aryana

3) Kepala bagian terminal : Agus Supriyanto

4) Kepala bagian non-terminal : Andry Nugraha,S.T

5) Kepala bagian listrik mekanik : Moh. Taufik Ismail

6) Kepala bagian elektronik : Sugeng Raharjo

7) Kepala departemen layanan bersama : Prasetyo,Drs.

8) Kepala bagian akuntansi dan penyusunan

Anggaran : Halik, S.E

9) Kepala bagian Sumber daya manusia

dan urusan umum : Tri Yudi Anshary,S.T.

10)Kepala bagian keuangan : Wantoha

11) Sekretaris proyek : I Gst.Ngr.Agung W,S.T.

(23)

13) Spesialis kontrak : Prasojo Nur Putranto, S.T.

14) Kepala bagian operasi : Muhammad Nazir, S.E.

15) Petugas keamanan terminal dan airside : Dzulkifli

Hutama Karya dan Nindya Karya (Kontraktor)

1) Manajer Proyek : Oktovianus S., ST., MT 2) Wakil Manajer Proyek : Wiwik S.,ST

3) PSMK3L dan PPDM : Anita Prasetya N 4) Keselamatan : Ari W

5) TTD : Bromo Waluko U., ST 6) Site ADM Manager : H. Ahmad Jaelani 7) Site Operasional Manager : Ferry Febriyanto, ST 8) SEM Internal : Suyanta

9) Pajak/Keuangan : B. Mudjiman 10) Pelaksana : H. Subowo 11) Logistik : Eko Budi P 12) Peralatan : Tatang Suhendi 13) SEM Ekternal : Bromo Waluko U., ST 14) Drafter : Asril Asra dan Arif H.S 15) Quality Qontrol : Roby

16) Quantity Engineer : Herlambang D.N 17) Site Enginer : Ferry K., ST 18) Surveyor : Fernando H

19) Ass. Surveyor : Robert M., Pery M., dan Harmoko

CM Jaya (Konsultan)

1) Manajer proyek : Tulus Tambunan

2) Kepala tim : Agus Giyanto

3) Staf administrai pendukung : Lastib

(24)

5) Teknik geodesi : Didik Nugroho

6) Teknik hidrologi : Haryanto Nugroho

7) Koordinator lapangan : Arif Budi Permono

8) Pengawas geodesi : David Prasetyo

9) Pengawas sipil : Supadi

10)Pengawas kuantitas : Budhi Aprianty

b. Data Proyek:

1) Nama Proyek : Pengembangan Bandara Ahmad Yani 2) Alamat Proyek : Puad Ahmad Yani Semarang, Jawa Tengah 3) Waktu Pelaksanaan : 24 April 2014 - Februari 2017

4) Pemilik Proyek : PT. Angkasa Pura I (Persero)

5) Kontraktor Pelaksana : PT. Hutama Karya dan PT. Nindya Karya-KSO

6) Konsultan Perencana : PT. Portal-GDMI 7) Konsultan Pengawas : PT. Jaya CM

8) Sumber Dana : PT. Angkasa Pura I (Persero) 9) Nilai Kontrak : Rp

286.420.200.000,-c. Data Teknis

1.) Luas Tanah / Lahan :±159997,3379 m 2.) Jenis Pondasi : Tiang Pancang 3.) Jumlah Titik Tiang Pancang : 1345 titik 4.) Panjang Jembatan : 1418 m

d. Pekerjaan Proyek Pengembangan Bandara Ahmad Yani paket 1 1) Pekerjaan Persiapan

(25)

5) Pekerjaan Galian Saluran Air 6) Pekerjaan Pondasi Sumuran 7) Pekerjaan Sheet Pile

8) Pekerjaan Jalan Utama

9) Pekerjaan Jalan Pada Area Toll Gate 10) Pekerjaan Pot Bunga

11) Pekerjaan Pipa Drainase

12) Pekerjaan Jalan Akses dan Parkir 13) Pekerjaan Pengamplasan

14) Pekerjaan Marka

15) Pekerjaan Pompa Sirkulasi

(26)

BAB II

PENGELOLA PROYEK

2.1 Pemilik Proyek (Owner)

Owner yang artinya pemilik, baik dari perseorangan maupun kelompok yang menanamkan modalnya untuk pembangunan sebuah proyek yang bersifat komersial. Modal awal untuk memulai sebuah pembangunan proyek berasal dari pihakowner. Tahan dalam proses pembangunan proyek yaitu menentukan pihak Managemen Kontruksi yang dipilih oleh pihak owner, kemudian pihak Managemen Kontruksi mengadakan lelang untuk pembangunan proyek yang sudah dipersiapkan oleh pihakowner.

Pada tahap pelelangan proyek, Managemen Kontruksi akan menentukan pihak kontraktor atau pelaksana yang akan melaksanakan pembangunan proyek yang sudah dimenangkannya. Dalam persoalan ini proyek Proyek Pengembangan Bandara Ahmad Yani Paket 1telah menyelenggarakan lelang dan di menangkan oleh kontraktor Hutama Karya dan Nindya Karya untuk melaksanan pembangunan proyek tersebut.

2.1.1 Tugas Pemilik Proyek

a. Mencari sumber dana atau menyediakan sejumlah dana yang diperlukan untuk terwujudnya suatu proyek,

b. Membuat acuan perencanaan dibantu oleh konsultan perencanaan guna mewujudkan gagasan yang ada,

c. Mengangkat kontraktor pelaksana, pengawas proyek yang telah terpilih melalui mekanisme lelang,

d. Menjadi penyemangat dan media bagi pihak-pihak yang ingin berkembang supaya pihak yang dimaksud bisa bekerja dengan maksimal untuk selanjutnya,

(27)

f. Menerima dan memeriksa berita acara penyerahan kontrak,

g. Menetapkan pekerjaan tambah serta kurang dengan pertimbangan dan saran yang diberikan oleh Konsultan Pengawas (MK),

2.2Konsultan

Konsultan adalah lembaga yang keahliannya memberikan nasihat dan pelayanan dibidang pengetahuan yang dikuasai. Dalam suatu pembangunan proyek, peranan konsultan sangat diperlukan untuk mebantu proses pembangunan proyek agar dapat terlaksana dengan cepat, tepat, dan sesuai dengan kualitas.

Konsultan memiliki beberapa macam diantaranya konsultan pengawas, konsultan perencana, konsultan managemen proyek, konsultan mekanikal elektrikal, konsultan pajak, akuntansi, dan lain sebagainya. Proyek pengembangan Bandara Ahmad Yani untuk Paket 1 terdapat dua konsultan yaitu konsultan perencana dan konsultan pengawas.

2.2.1 Konsultan Perencana

Konsultan perencana adalah pihak yang ditunjuk oleh owner / pemilik proyek melalui wakilnya guna bertindak sesuai perencana dengan keahliannya, dalam proyek ini sebagai konsultan perencana adalah PT. Portal-GDMI. Perencana bertugas menyiapkan pekerjaan perencanaan menurut keahlian masing-masing organisasi berdasarkan kesepakatan dengan pemilik proyek dan konsultan pengawas.

1. Perencana Struktur Bangunan

Tugas dan wewenang konsultan perencana sebagai berikut:

a. Membuat perhitungan seluruh proyek berdasarkan teknis yang telah ditetapkan serta membuat perhitungan struktur,

b. Mengadakan pengawasan berkala sejak dimulainya proyek hingga berakhirnya proyek,

(28)

d. Mempertahankan desain dalam hal adanya pihak-pihak pelaksana bangunan yang melaksanakan perkerjaan tidak sesuai rencana, e. Menentukan jenis material yang akan dihinakan dalam

pelasanaan pembangunan proyek ini. 2. Konsultan Perencana Arsitektur

Perencanaan arsitektur adalah pihak yang ditunjuk yang telah ditetapkan oleh pemilik proyek melalui wakilnya untuk bertindak sebagai perencana bentuk, dimensi, dan tata letak bangunan utama dan bangunan perlengkapnya.

3. Perencana ME

Perencanaan Mekanikal dan Elektrikal (M&E) mrupakan suatu badan atau organisasi yang ahli dalam bidang tersbut. Adapun tugas-tugas Mekanikal dan Elektrikal ini sebagai berikut :

a. Merencanakan instalasi yang menggunakan tenaga mesin dan listrik serta perlengkapan seperti pendingin ruangan, penerangan,

plumbing, generator, pemadam kebakaran dan telepon,

b. Ikut serta dalam rapat untuk memberikan penjalasan mengenai perencanaan Mekanikal dan elektrikal yang akan dibutuhkan dalam proyek.

4. Quantity Surveyor

Perencana bertugas menyiapkan pekerjaan perencanaan menurut keahlian masing-masing berdasarkan kesepakatan dengan pemilik proyek dan konsultan pengawas.

2.2.2 Konsultan Pengawas / Konsutan MK

(29)

teknis yang dibuat oleh konsultan perencana, dan dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Konsultan pengawas pada proyek ini adalah PT. Jaya CM, dan tugas wewenag serta tanggung jawab konsultan pengawas sebagain berikut :

a. Mengawasi kontraktor pelaksana dalam menjalankan kewajibannya dengan mengacu pada spesifikasi teknis, terjadwal, dan perencanaan proyek yang telah ada,

b. Memeriksa dan memberikan rekomendasi tentang material yang boleh dipakai ataupun tidak,

c. Mengontrol dan memberikan penilaian untuk kemudian ditindak lanjuti atas hasil pekerjaan kontraktor pelaksana,

d. Mencari dan memberikan solusi atas permasalahan yang timbul dalam pelaksanaan proyek dan konsultan juga harus berkonsultasi dengan pihak pemilik proyek,

e. Mempelajari dan menerapakan cara, teknik, urutan atau prosedur pelaksanaan.

2.3 Kontraktor Pelaksana

Kontraktor bertugas melaksanakan tugas proyek pembangunan yang diberikan oleh pemilik atau pemberi tugas(owner)secara langsung dilapangan. Kontraktor merupakan pihak yang diberikan tugas sangat berat oleh pemilik (owner) dikarenakan sebagai pelaksanan lapangan. Kontraktor harus bisa bekerja dengan tekanan, ketangguhan, visioner, kreatifitas dan keegasan dalam menjalankan tugas.

(30)

2.3.1 Tugas Kontraktor

a. Menjalankan pekerjaan lapangan yang sudah diberikan oleh pemilik (owner)

b. Memberikan laporan perkembangan pekerjaan seacara real dan dilaporkan setiap harian, mingguan, dan bulanan.

c. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan qualitas dan quantitas yang sudah ditentukan oleh konsultan ataupun pemilik (owner)

d. Menjamin keselamatan dan keamanan bagi tenaga, tukang, mandor dan sebagainya pada saat di lapangan dengan menyediakan perlekapan keselamatan (safety).

e. Pekerjaan harus diselesaikan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan.

2.4 Kontraktor Pendukung (Sub Kontraktor)

Sub Kontrator melaksanakan pekerjaan khusus dari proyek sesuai dengan keahliannya (spesialisasi). Kontraktor pendukung ini dipilih oleh kontraktor utama (setelah mengajukan penawaran) berdasarkan pengalaman dalam bidangnya dan bukti-bukti hasil pekerjaannya. Oleh karena itu sub kontraktor bertanggung jawab terhadap kontraktor utama, dan kontraktor utama mempunyai kebebasan untuk menentukan berapa jumlah sub kontraktor yang akan bekerja sama dengan kontraktor utama.

Adapun hak dan kewajiban sub kontraktor sebagai berikut :

a. Bertanggung jawab langsung terhadap kontraktor utama tentang segala sesuatu hasil dari pekerjaan yang telah dilaksanakan,

b. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan spesialisasinya dan menyerahkan hasil pekerjaan kepada kontraktor utama sesuai dengan batas waktu yang telah disepakati dalam kontrak kerja sama,

(31)

2.5 Hubungan Kerja Antar Unsur Pengelola Proyek

Secara garis besar konsep hubungan kerja sama antara unsur pengelola proyek diatur sebagai berikut :

a. Konsultan dengan Pemilik Proyek, ikatan berdasarkan kontrak. Konsultan memberikan layanan konsultasi berupa produk yang dihasilkan berupa gambar-gambar perencanaan, peraturan dan syarat-syarat pelaksanaan proyek, sedangkan pemilik proyek memberikan biaya atas jasa konsultasi kepada konsultan.

b. Kontraktor dengan Pemilik Proyek, ikatan berdasarkan kontrak. Kontraktor memberikan layanan jasa profesionalnya berupa bangunan guna merealisasikan dari keinginan pemilik proyek yang telah direncanakan dalam gambar rencana dan syarat-syarat yang diberikan oleh konsultan, pemilik proyek memberikan biaya atas kerja profesional kontraktor dalam merealisasikan keinginan pemilik proyek.

c. Konsultan dengan Kontraktor, ikatan berdasarkan peraturan pelaksanaan. Konsultan memberikan gambar rencana serta peraturan dan syarat-syarat guna pembangunan proyek dapat berlangsung secara maksimal, kemudian kontraktor harus merealisasikan gambar tersebut menjadi sebuah bangunan.

Gambar 2.1Bagan Hubungan Kerja

Sumber: dokumentasi pribadi Owner

(32)

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI ANGKASA PURA 1 (OWNER) BANDARA INTERNASIONAL AHMAD YANI SEMARANG

Gambar 2.2Bagan Struktur Organisasi Angkasa Pura 1 (Owner)

(33)

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI

HUTAMA KARYA DAN NINDYA KARYA (KONTRAKTOR) BANDARA INTERNASIONAL AHMAD YANI SEMARANG

Gambar 2.3Bagan Struktur Organisasi Kontraktor

(34)

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI JAYA CM (KONSULTAN) BANDARA INTERNASIONAL AHMAD YANI SEMARANG

Gambar 2.4Bagan Struktur Organisasi Konsultan

(35)

BAB III

PELAKSANAAN PROYEK

3.1 Uraian Umum

Suatu pekerjaan proyek pelaksanaan perlu mempunyai keahlian di bangunan yang dikerjakan agar mengetahui bagaimana mengatur jalannya setiap item pekerjaan, sehingga akan mempercepat waktu dan menghasilkan kualitas bangunan yang bagus.

Pada proyek berskala besar seperti jembatan perlu adanya pengelompokan lebih rinci sehingga terdapat tenaga ahli dalam bidang tertentu seperti pelaksana alat berat, pelaksana pondasi, pelaksana pembesian, pelaksana cor, pelaksanaBekisting, dan pelaksanafinishing.

Tujuan yang jelas akan memperoleh hasil yang sesuai dengan perencanaan, selain itu pelaksanaan pekerjaan harus memperhatikan alat, bahan, dan tenaga kerja yang diperlukan. Koordinasi yang baik diantara pihak-pihak yang ada didalamnya diperlukan agar pekerjaan tersebut berjalan dengan lancar sehingga permasalahan yang timbul dilapangan dapat diatasi.

(36)

Dalam pelaksanaan terdapat ketentuan yang harus dipatuhi dalam pelaksanaannya, yaitu :

a. Rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) b. Gambar rencana

c. Berita acara penjelasan pekerjaan

d. Penjelasan dan petunjuk dari pengawas pekerjaan selama pelaksanaan pekerjaan

3.2 Struktur Bangunan

3.2.1 Tiang Pancang

Bagian struktur yang berguna untuk menerima dan menyalurkan beban dari struktur atas ke tanah penunjang yang terletak pada kedalaman tertentu. Jalur akses Bandara Ahmad Yani Semarang yang sekarang sedang dikerjakan menggunakan tiang pancang diameter 45 cm dan panjang 12 meter. Kedalam tiang pancang yaitu 33 meter sampai 36 meter dengan strukturbottom, middle, danupper.

Berbeda dengan struktur tiang pancang yang lain, struktur tiang pancangupper diisi dengan beton K250 dan tulangan D 16 (tulangan ulir diameter 16 mm).

Gambar 3.1Tiang Pancang

(37)

Gambar 3.2TulanganUpperTiang Pancang

Sumber : Dokumen Konsultan

(38)

3.2.2 Capping Beam

Gambar 3.4Capping Beam Sumber : Dokumen Pribadi

Capping Beam adalah balok yang menyatukan tiang pancang yang berfungsi menyalurkan beban struktur atas ke struktur bawah yaitu tiang pancang dan untuk menompang struktur balokGirder,Slab

lantai, danBerrier.Capping Beam.

1. PembesianCapping Beam

(39)

Pada gambar 3.5 merupakan tulangan Capping Beam, tulangan yang digunakan untukCapping Beamadalah D13, D16, D19 (tulangan ulir diameter 13, 16, dan 19 mm), dan tulangan polos diameter 20 mm. dengan jarak antar sengkang 25 cm.

Pengerjaan penulangan Capping Beam dilakukan disetiap

Joint, Capping Beam berguna sebagai pondasi yang mengikat tiang pancang yang terpasang dengan strukturCapping Beam.

Sebelum besi tulangan dipasang scaffolding dan base form

diletakkan terlebih dahulu beton Decking bottom 10 cm dan dinding 7 cm dengan mutu beton sama dengaan Capping Beam

K350. Setelah itu besi tulangan di pasang sesuai dengan gambar kerja dan kondisi besi harus bersih dari kotoran.

2. Bekisting Capping Beam

Setelah dilakukan pembesian, kemudian pelaksaanBekisting Capping Beam. Scaffolding dan base form yang sudah dipasang kemudian pelaksaan Bekisting untuk dinding Capping Beam.

Bekistingmenggunakanmultiplex phenolix12 mm–20 mm.

Pembesian dan Bekisting sudah dilakukan kemudian dilakukan pengecekan side form dan end form untuk mengecek

DimensidanCenter Lineyang mengacu pada gambar rencana. Sebelum proses pengecoran, dilakukanfinal checkmengenai pemasangan pembesian,Bekisting,support side formdanend form

(40)

Gambar 3.6Bekisting Capping Beam Sumber : Dokumen Pribadi

3. PengecoranCapping Beam

Setelah Final check dilakukan kemudian dilaksanakan proses pengecoran, pengecoran dibantu dengan truck Concrete Pumpdan dilaksanakan layer per layer, tiap layer ± 50 cm diikuti dengan pemadatan menggunakanVibrator.

Tinggi jatuh beton ke dalam Bekisting tidak lebih dari 1,5 meter yang dapat menyebabkan segregrasi. Jika pengecoran sudah mencapai akhir permukaan beton dibuat rata mengikuti bentuk

(41)

Gambar 3.7PengecoranCapping Beam Sumber : Dokumen Pribadi

4. Pembongkaran BekisitngCapping Beam

Gambar 3.8PembongkaranBekisting Capping Beam Sumber : Dokumen Pribadi

(42)

5. PerawatanCapping Beam

Perawatan beton dilaksanakan setelah pengecoran selesai dan terus dilakukan hingga 7 hari menggunakan curing compoundagar hasil pengecoran bagus.

3.2.3 Mortar Pad

Gambar 3.9Mortar Pad Sumber : Dokumen Pribadi

Mortar Pad adalah struktur yang berfungsi untuk menompang balok Girder dan kemudian bebannya didistribusikan ke Capping Beamdan struktur bawah. Bahan yang digunakan adalahSikagrout215 yang berfungsi sebagai bahan perekat dengan kapasitas tinggi dan untuk kecepatan tinggi.

(43)

Gambar 3.10Bekisting Mortar Pad Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3.11PengecoranMortar Pad Sumber : Dokumen Pribadi

(44)

3.2.4 Bearing Pad

Gambar 3.12Bearing Pad Sumber : Dokumen Pribadi

Elastomer Bearing Pad terbuat dari karet alam yang berfungsi sebagai peredam guncangan dan getaran pada jembatan yang bersifat sangat fleksibel terhadap gayahorizontaldan gayavertikal.

Elastomer Bearing Pad berfungsi sebagai perletakan balok

Girder jembatan. Setiap perletakan Bearing Padharus berada di atas seluruh bidang kontak atau alas (Mortar Pad) dan posisi harus benar berada pada perletakan yang rata.

PerletakanBearing Paddilakukan sebelum pelaksanaanErection

(45)

Gambar 3.13Bearing Pad Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3.14Erection Bearing Pad Sumber : Dokumen Pribadi

3.2.5 BalokGirder

(46)

Balok Girderadalah balok yang berada diantara dua penyangga (Capping Beam) yang berfungsi untuk menompang struktur diatasnya (Super Structure) dan diperkuat oleh balokDiafragmadan balokJoint. Proyek Pengembangan Bandara Ahmad Yani menggunakan balok Precast buatan PT. WIKA dengan mutu beton K-350 dengan tulangan D 20 (Tulangan ulir diameter 20 mm).

Saat dilakukan proses pabrikasi oleh pihak produsen, direksi pekerjaan rutin mengunjungi pabrik untuk melakukan quality control

atas bahan yang sedang diproduksi.

Gambar 3.16ErectionBalokGirder Sumber : Dokumen Pribadi

(47)

3.2.6 BalokDiafragma

Gambar 3.18BalokDiafragmaTengah

Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3.19BalokDiafragmaUjung

Sumber : Dokumen Pribadi

Balok yang menghubungkan antar balok Girder pada arah melintang jembatan, balokDiafragmaberfungsi untuk menjaga balok

Girder agar tidak memuntir atau menekuk akibat dari beban yang dipikulnya dan memberikan kestabilan pada masing-masing balok

(48)

BalokDiafragmapada proyek ini terdapat dua balok Diafragma

yaitu:

1. DiafragmaTengah 2. DiafragmaUjung

1. Pembesian BalokDiafragma

Setelah dilakukan Erection balok Girder selesai kemudian pekerjaan pembesian balok Diafragma dapat dimulai. Untuk memastikan bahwa pembesian tidak berubah maka besi tulangan diikat menggunakan kawat bendrat pada bagian persilangan.

Tulangan yang digunakan untuk balok Diafragma yaitu D18 (tulangan ulir diameter 18 mm) dengan jarak antar sengkang 20 mm. pekerjaan pembesianDiafragmaini dilakukan untuk mengikat antar balokGirder.

Gambar 3.20Pembesian BalokDiafragmaTengah

Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3.21Pembesian BalokDiafragmaUjung

(49)

Gambar 3.22AngkurMove Sumber : Dokumen Pribadi

Pekerjaan Balok Diafragma Ujung pada proyek ini berbeda pada balok Diafragma tengah, karena didalam balok Diafragma

ujung ini yang didalamnya terdapat pipagalvanisberisi silent aspal, pasir, dan diluarnya pipa galvanis terdapat besi spriral. Pada

Diafragma ujung ini ada dua pipa galvanis yaitu pipa galvanis

berdiameter 2inchyang disebut angkurMove.

2. BekistingBalokDiafragma

Setelah pekerjaan pembesian selesai selanjutnya dilakukan pekerjaan Bekisting. Diletakkan beton Decking bottom 10 cm dan dinding 7 cm dengan mutu sama dengan balok Diafragma K350.

Bekistingmenggunakan bahanmultiplex Phenolix12 mm–20 mm

dan kayu balok 6/12.

Setelah pekerjaan pembesian dan Bekisting dilaksanakan kemudian dilakukan pengecekan, pembersihan Bekisting

(50)

Pengecekanside formdanend formdilakukan untuk mengecek

Dimensi dan Center Line yang mengacu pada gambar. Sebelum pengecoran dilaksanakan, dilakukan final check mengenai pembesian, Bekisting, dan kebersihan dengan direksi pekerja atau konsultan.

Gambar 3.23BekistingBalokDiafragmaUjung

Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3.24BekistingBalokDiafragmaTengah

Sumber : Dokumen Pribadi

3. Pengecoran BalokDiafragma

Sebelum pengecoran dilaksanakan terlebih dahulu menyiapkan peralatan pengecoran seperti Concrete Pumpdan Vibrator. Setelah perlengkapan lengkap dilaksanakan pengecoran yang dibantu oleh

(51)

Gambar 3.25Pengecoran BalokDiafragma Sumber : Dokumen Pribadi

Sebelum pengecoran dilaksanakan terlebih dahulu menyiapkan peralatan pengecoran seperti Concrete Pumpdan Vibrator. Setelah perlengkapan lengkap dilaksanakan pengecoran yang dibantu oleh

Concrete Pump dengan diikuti Vibrator untuk pemadatan dan pemerataan beton.

Tinggi jatuh pengecoran tidak lebih dari 1,5 meter agar tidak menyebabkan segregasi. Jika pengecoran sudah mencapai akhir permukaan beton maka harus dibuat rata mengikuti bentuk balok

Diafragmasesuai dengan gambar desain.

4. PembongkaranBekisting

(52)

Gambar 3.26PembongkaranBekistingBalokDiafragma Sumber : Dokumen Pribadi

5. Perawatan BalokDiafragma

Perawatan beton dilaksanakan setelah pengecoran selesai dan terus dilakukan sampai dengan 7 hari, perawatan beton Diafragma

dilakukan dengan memakaicuring coumpond.

3.2.7 BalokJoint

(53)

Balok Joint adalah tumpuan struktur jembatan yang mampu menahan gaya horizontal maupun vertikal. Balok Joint berfungsi mengikat sisi ujung antar balokGirderdenganCapping Beamdan plat

Slabuntuk menstabilkan struktur dan mendistribusikan bebanvertikal

danhorizontalke struktur bawah.

Balok Joint memakai material K-350, D19 (Tulangan ulir diameter 19 mm), dan tulangan polos diameter 10 mm.

1. Pembesian BalokJoint

Setelah dilakukanErectionbalokGirderuntuk 2 span selesai, kemudian pengerjaan pembesian balok Joint dapat dilaksanakan. Untuk memastikan tulangan tidak berubah maka besi tulangan diikat menggunakan kawat bendrat pada bagian persilangan.

Pembesian Balok Joint menggunakan besi D19 (Tulangan besi ulir diameter 19 mm) dan tulangan polos diameter 10 mm dengan jarak antar sengkang 20 mm.

Setelah pekerjaan pembesian selesai dilaksanakan pengecekan agar sesuai dengan gambar kerja. Pengecekan dilakukan oleh direksi pekerjaan dan konsultan.

(54)

2. BekistingBalokJoint

Pekerjaan bekisting dilakukan setelah pekerjaan dan final checkpembesian selesai. Setelah itu dilaksanakanbekistingdinding dengan diletakkan betonDeckingbottom 10 cm dan dinding 7 cm dengan mutu beton sama dengan balokJointK350.

Gambar 3.29BekistingBalokJoint Sumber : Dokumen Pribadi

Bekisting menggunakanmultiplex phenolix12 mm –20 mm

dan kayu balok 6/12. Setelah pemasangan pembesian danbekisting

selesai kemudian dilaksanakan pembesihan base form

menggunakan Compressor untuk membersihkan kawat sisa penulangan, dan mengecekside formdanend formuntuk mengecek

DimensidanCenter Lineyang mengaju pada gambar kerja.

Sebelum pengecoran dilakukan final check mengenai pembesian, Bekisting, dan kebersihan sesuai dengan gambar kerja secara bersama-sama dengan konsultan dan direksi pekerjaan.

3. Pengecoran BalokJoint

Sebelum pengecoran dilaksanakan terlebih dahulu menyiapkan peralatan pengecoran seperti Concrete Pump dan

(55)

yang dibantu oleh Concrete Pump dengan diikuti Vibrator untuk pemadatan dan pemerataan beton.

Gambar 3.30Pengecoran BalokJoint Sumber : Dokumen Pribadi

Tinggi jatuh pengecoran tidak lebih dari 1,5 meter agar tidak menyebabkan segregasi. Jika pengecoran sudah mencapai akhir permukaan beton maka harus dibuat rata mengikuti bentuk balok

Diafragmasesuai dengan gambar desain.

(56)

4. PembongkaranBekisting

Pembongkaran bekisting dapat dilaksanakan setelah 7 x 24 jam sejak selesainya pengecoran atau sesuai dengan instruksi direksi pekerja atau konsultan

5. Perawatan BalokJoint

Perawatan beton Joint dilaksanakan setelah pengecoran selesai dan terus dilakukan sampai dengan 7 hari, perawatan beton

Jointdilakukan dengan memakaicuring coumpond.

3.2.8 Slab Deck

Slab Deck merupakan elemen non structural yang berfungsi sebagai lantai kerja dan bekistinguntuk Slablantai jembatan. Slab Deckmemakai material K-350 danWiremeshM6.

1. Pembesian danBekisting Slab Deck

Pembesian danbekisting Slab Deckini dilakukan pada tempat yang bernamadireksi kitatau bengkel besi yang berfungsi sebagai tepat fabrikasi penulangan. Pembesian Slab Deck menggunakan

WiremeshM6.

(57)

2. PengecoranSlab Deck

Setelah dilakukan pembesian dan bekisting kemudian dilakukan pengecoran.Slab Deckmenggunakan bahan K350 agar mutu beton sama denganSlabLantai.Slab Deckmempunyai tebal 7 cm, lebar 50 cm, dan panjang 1 m.

Gambar 3.33PengecoranSlab Deck Sumber : Dokumen Pribadi

(58)

3. Erection Slab Deck

Erection Slab Deckadalah pemasanganSlab Deckke struktur bangunan yang sesuai dengan gambar kerja. Slab Deck di pasang sebagai lantai kerja dan diletakkan diantara balokGirder.

Gambar 3.35PengangkutanSlab Deck Sumber : Dokumen Pribadi

(59)

Gambar 3.37PemasanganSlab Deck Sumber : Dokumen Pribadi

3.2.9 SlabLantai

Gambar 3.38SlabLantai

(60)

Jalan akses Bandara Ahmad Yani Semarang menggunakan sistem

Slab pracetak, sistem pracetak yaitu pekerjaan cor di tempat setelah penulangan danbekistingselesai dikerjakan.

Keuntungan dari pracetak yaitu hubungan antar segmen lebih homogen, harga pembangunan lebih murah atau dapat ditekan, dan kualitas bahan yang dipergunakan dapat terkontrol dengan baik.

Kekuarangan atau kendala cor pra cetak yaitu waktu pelaksanaan tidak dapat dipastikan, pembuatannya dipegaruhi waktu, cuaca, kualitas beton dapat berubah, dibutuhkan ketelitian dan kemahiran.

Slab Lantai memakai material beton mutu K-350 dan D-16 (tulangan ulir diameter 16 mm)

1. Bekisting Kantilever SlabLantai

Setelah Slab Deck terpasang kemudian dilaksanakan pemasangan bekiting Kantilever Slab lantai, bekisting

menggunakan multiplex phenolix 12 mm – 20 mm, balok kayu

10/10, 5/7, dan 6/10

Gambar 3.39Bekisting Kantilever SlabLantai

(61)

Gambar 3.40Bekisting Kantilever SlabLantai

Sumber : Dokumen Pribadi

2. PembesianSlabLantai

Setelah bekisting Kantilever terpasang dalam satu span dengan kondisi yang baik dan benar kemudian dilakukan pekerjaan pembesianSlab lantai, pekerjaan pembesian dilakukan ditempat sesuai dengan gambar kerja. Tulangan yang digunakan adalah D16 (tulangan besi ulir diameter 16 mm) dengan jarak antar tulangan 20 cm.

Pengerjaan penulanganSlablantai dilakukan per span, yaitu jarak antara lima balok Capping Beam selanjutnya, hal ini dilakukan agar memudahkan pengerjaan pengecoran dan perpotonganSlablantai.

(62)

Gambar 3.41BetonDecking SlabLantai

Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3.42Cakar AyamSlabLantai

(63)

Cakar Ayam berfungsi untuk memberikan jarak antara tulangan bawah dan tulangan atas agar menghasilkan ketebalan

SlabLantai sebesar 25 cm.

Gambar 3.43Saluran Pembuangan Air

Sumber : Dokumen Pribadi

Setelah itu melakukan pengukuran elevasi untuk menentukan kemiringan jalan yang berfungsi menstabilkan kendaraan saat kendaraan melalui daerah tikungan agar tidak terjadi kecelakaan dan mempercepat laju air hujan ke sisi jalan atau ke saluran pembuangan.

Gambar 3.44Pengukuran Kemiringan Jalan

(64)

Gambar 3.45Angkur dan Pipa PembatasElevasiCorSlabLantai

Sumber : Dokumen Pribadi

Saat dilakukan pengukuran ketebalan dan kemiringan Slab

lantai, dilakukan pengelasan angkur untuk pembatas ketebalan pengecoran, dan diberikan pipa besi sebagai pijakan tukang saat prosesgrooving.

3. PengecoranSlabLantai

Setelah penulangan besi kemudian dilakukan pembersihan sisa kawat bendrat dengan menggunakanCompressor. Setelah itu dilakukanfinal checkmengenaielevasi, pembesian,Bekisting, dan kebersihan sesuai dengan gambar kerja secara bersama-sama dengan direksi pekerjaan dan konsultan.

Sebelum melakukan pengecoran dilakukan persiapan peralatan, sepertiConcrete Pump Truck,Vibrator, alat penghalus beton, dan alat penggaruk beton ataugrooving. Mutu beton yang digunakan yaitu K350 dan tidak menggunakan zat adiktif.

(65)

Vibrator. Tinggi jatuh beton dari Concrete Pump tidak boleh melebihi 1,5 meter agar tidak menyebabkan segregasi. Setelah mencapai akhir dari permukaan beton yang direncanakan kemudian dibuat rata mengikuti bentuk desain sesuai gambar kerja. Apabila pengecoran berhenti atau terhenti maka dibuatstop cortegak lurus terhadap bidang datar.

Gambar 3.46PengecoranSlabLantai

Sumber : Dokumen Pribadi

4. PembongkaranBekisting Kantilever

PembongkaranBekisting Kantileverdilakukan setelah 7 x 24 jam sejak selesainya pengecoran dan dari mutu yang direncanakan (65%) atau sesuai dengan instruksi direksi pekerja atau konsultan.

(66)

Gambar 3.48PembongkaranBekisting Kantilever Sumber : Dokumen Pribadi

5. PerawatanSlabLantai

Perawatan beton segera dilaksanakan setelah pengecoran selesai dan terus dilakukan sampai dengan 7 hari. Perawatan dilakukan dengan menutup Slab lantai dengan karpet dan kemudian dicuring compound.

Gambar 3.49Perawatan Beton dengan Karpet

(67)

Gambar 3.50Perawatan Beton denganCuring Compond Sumber : Dokumen Pribadi

3.2.10 BerrieratauParapet

Gambar 3.51BerrieratauParapet Sumber : Dokumen Pribadi

(68)

BerrieratauParapetmenggunakan mutu beton K-250, Tulangan D13 (Tulangan ulir diameter 13 mm) dan tulangan polos diameter 10 mm.

1. PembesianBerrieratauParapet

Pembesian Berrier atau Parapet dilaksanakan setelah pembesian Slab lantai dan sebelum pengecoran Slab lantai. Pekerjaan pembesian dilakukan ditempat sesuai dengan gambar kerja. Tulangan yang digunakan adalah tulangan D13 (Tulangan ulir diameter 13 mm) dan tulangan polos diameter 10 mm dengan jarak antar tulangan 20 cm.

Pengerjaan penulangan Berrier atau Parapet dilakukan per span, yaitu jarak antara 5 balokCapping Beamselanjutnya, hal ini dilakukan agar memudahkan pengerjaan pengecoran dan perpotonganBerrieratauParapet.

(69)

2. Bekisting BerrieratauParapet

Pekerjaan Bekisting dilakukan setelah pekerjaan dan final check pembesian selesai. Setelah itu dilaksanakan Bekisting

dinding. Bekisting menggunakan multiplex phenolix 12 mm – 20

mm,tierod, besi pipa, dan kayu balok 6/12.

Setelah pemasangan pembesian dan Bekisting selesai kemudian dilaksanakan pengecekan mengenai side form dan end formuntuk mengecekDimensidanCenter Lineyang mengacu pada gambar kerja.

Sebelum pengecoran dilakukan final check mengenai pembesian, Bekisting, dan kebersihan sesuai dengan gambar kerja secara bersama-sama dengan konsultan dan direksi pekerjaan.

Gambar 3.53Bekisting BerrieratauParapet Sumber : Dokumen Pribadi

Bekisting Berrier atau Parapet diperkencang menggunakan

(70)

Gambar 3.54PengecekanDimensidanCenter Line Berrier Sumber : Dokumen Pribadi

3. PengecoranBerrieratauParapet

Setelah penulangan besi kemudian dilakukan pembersihan sisa kawat bendrat dengan menggunakan Compressor. Setelah itu dilakukanfinal checkmengenaielevasi, pembesian,Bekisting, dan kebersihan sesuai dengan gambar kerja secara bersama-sama dengan direksi pekerjaan dan konsultan.

(71)

Gambar 3.55PengecoranBerrieratauParapet Sumber : Dokumen Pribadi

Pengecoran dilakukan dengan alat bantu Concrete Pump Truck, dan pengecoran dilaksanakan terus menerus diikuti dengan

Vibrator. Tinggi jatuh beton dari Concrete Pump tidak boleh melebihi 1,5 meter agar tidak menyebabkan segregasi. Setelah mencapai akhir dari permukaan beton yang direncanakan kemudian dibuat rata mengikuti bentuk desain sesuai gambar kerja.

4. PembongkaranBerrieratauParapet

(72)

Gambar 3.56PembongkaranBekisting BerrieratauParapet Sumber : Dokumen Pribadi

5. PerawatanBerrieratauParapet

(73)

3.3 Alat–Alat

Peralatan dan alat berat merupakan perlengkapan yang penting dalam proses pembangunan proyek, peralatan digunakan untuk membantu tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan pembangunan. Peralatan dan alat berat mempermudah pekerjaan dan mempercepat waktu agar lebihefisien.

Pada proyek-proyek berskala bersar, banyak jenis peralatan dan alat berat yang dibutuhkan berdasarkan fungsi dan kegunaannya. Kontraktor akan memilih alat berat dan peralatan yang digunakan sesuai dengan pekerjaan pembangunan dan sesuai dengan kondisi dilapangan.

Penggunaan peralatan dan alat berat harus sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) yang efisiensi dansafety. Adapun peralatan dan alat berat yang digunakan di proyek pengembangan Bandara Ahmad Yani Semarang sebagai berikut :

3.3.1 Peralatan

a. Concrete Pump

Gambar 3.57Concrete Vibrator Sumber : Dokumen Pribadi

(74)

pemadatan diusahakan tidak menyentuh tulangan untuk menghindari kawat bendrat lepas dan berubahnya struktur tulangan.

b. Genset

Ketersediaan Listrik yang minim sangat dibutuhkan genset sebagai pengganti Listrik PLN, genset berbahan bakar bensin yang menghasilkan daya maksimal hingga 10 Kw atau 10.000 watt ini digunakan untuk pengelasan, lampu, dan alat gerinda.

Gambar 3.58Genset

Sumber : Dokumen Pribadi

c. Gerinda Potong

Gambar 3.59Gerinda Potong

(75)

Gerinda potong digunakan untuk memotong besi tulangan dan angkur untuk mempercepat proses pengerjaan dibandingkan dengan pemotongan manual.

Mesin ini memerlukan bahanNippon resibonsebagai bahan untuk memotong besi, berbentuk seperti piringan hitam yang berguna untuk memotong besi dengan ukuran tertentu dan dapat diganti setelah piringan hitam tersebut menipis atau habis.

d. Steel Bar Bending Machine

Alat ini digunakan untuk membengkokan besi tulangan dengan jumlah yang banyak secara cepat dengan berbagai macam sudut sesuai dengan rencana atau gambar kerja. Sistem kerja otomatis dari mesin ini sangat dibutuhkan untuk efisiensi waktu.

Gambar 3.60Steel Bar Bending Machine

Sumber : Dokumen Pribadi

e.Alat ukur (TS/Theodolite)

(76)

Dalam penggunaannya terdapat mirror polygon yang ditembak denganTheodoliteuntuk memperoleh koordinat danelevasinya.

Gambar 3.61Theodolite Sumber : Dokumen Pribadi

f.Bar Cutter

Bar Cutter sama seperti gerinda potong tetapi tidak mempunyai piringan hitam Nippon Resibon, alat ini untuk memotong besi tulangan secara massal agar lebih menyingkat waktu pengerjaan pembesian.

(77)

g. Waterpass

Gambar 3.63Waterpass Sumber : Dokumen Pribadi

Waterpass digunakan untuk mengukur dan menentukan posisi elevasi dalam arah memanjang ke posisi ke dua untuk mengetahui perbedaan elevasi. Alat ini tidak menggunakan

battery sehingga sangat efisien saat digunakan dilapangan dan dilokasi jauh dari listrik.Waterpassmempunyai kekurangan tidak dapat bekerja secara maksimal pada malam hari.

3.3.2 Alat Berat

a. Crawler Crane

(78)

Gambar 3.64Crawler Crane Sumber : Dokumen Pribadi

b. Concrete Pump Truck

Gambar 3.65Concrete Pump Truck Sumber : Dokumen Pribadi

(79)

c. Excavator

Alat berat yang berfungsi untuk memudahkan penggalian dan pengerukan serta mempercepat pekerjaan untuk mengefisiensi waktu. Pada umumnya alat berat Excavator digerakkan dengan tenaga hidrolis, Excavator menggunakan roda rantai untuk mempermudah melaju dalam segala kondisi lapangan.Excavator

bisa dibilang alat berat multifungsi karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam pekerjaan berat.

Gambar 3.66Excavator Sumber : Dokumen Pribadi

d. MobilCrane

(80)

Digunakan untuk mengangkut material yang mempunyai beban berat. Mobil ini saat dilapangan berfungsi untuk pengangkutanSlab Deck, besi tulangan, dan sebagainya.

e. Truck Mixer

Gambar 3.68Truck Mixer Sumber: Dokumen Pribadi

Alat berat yang digunakan untuk mengangkut beton dari pabrikmixer beton ke proyek atau lokasi pengecoran. Kapasitas truk mixer ini yaitu sebesar 7 m3. Pengisian beton ke dalam truk mixer perlu diperhatikan dari segi pengiriman, misalnya pengiriman ke lokasi daerah yang menanjak tidak boleh Truck Mixerdiisifullbeton karena akan berakibat tumpah.

(81)

3.4 Bahan

Bahan-bahan merupakan komponen utama yang diperlukan dalam pembangunan bangunan. Komponen ini saling melengkapi sehingga dibutuhkan lebih dari satu bahan dalam sebuah pembangunan. Bahan bangunan juga harus diperhatikan tempat penyimpanannya, karena setiap bahan bangunan mempunyai karakteristik berbeda terhadap lingkungan.

a. besi baja

Gambar 3.69Besi Tulangan

Sumber : Dokumen Pribadi

Digunakan untuk penulangan pada balokJoint, Capping Beam, balok Diafragma, barrier, Slab Deck dan bagian-bagian lainnya yang membutuhkan penulangan.

Besi baja ini memiliki dua jenis dan diameter yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dilapangan. Jenis besi baja diantaranya besi polos dan besi ulir. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Pada Proyek Pengembangan Bandara Udara Ahmad Yani (paket 1) Semarang. Adaun diameter dari besi yang digunakan adalah:

(82)

3. D19 (ulir diameter 19mm) 4. Polos 10mm

Mutu tulangan kekuatan leleh (yield strenght) untuk tulangan ≥ D13

adalah 4,000 kg/cm2. Sedangkan untuk baja tulangan polos dan >13 adalah 2,400 kg/cm2.

b. betonReady Mix

Gambar 3.70BetonReady Mix Sumber : Dokumen Pribadi

Digunakan untuk pengecoran pada isian tiang pancang, Capping Beam, balok Joint, balok Diafragma, Slab Deck, plat lantai dan barier. Beton ini bersifatReady Mixyang dalam artian sudah dicampur oleh pihak

suppliersehingga pelaksana proyek tinggal menuangkan betonReady Mix

pada area yang akan dicor beton.

Pada Proyek Pengembangan Bandar Udara Ahmad Yani Semarang (Paket 1) yang menggunakan mutu beton K350 dan K250.

c. Sikagrout215

(83)

biasa. Pada jembatanSikagrout215 dipakai sebagai dudukanBearing Pad

(Mortar Pad), juga direkomendasikan untuk perbaikan struktur bawah tanah dan grouting di area pasang surut. Untuk pengaplikasian Sikagrout

215 bisa untuk perbaikan pada jembatan dermaga, tiang beton, dinding pelabuhan.

Keuntungan memakaiSikagrout adalah kekuatan tekan tinggi, tahan terhadap penyusutan, tahan terhadap benturan dan getaran, kekuatan awal sangat cepat, konsistensi dapat diatur dan karakteristik mudah diatur

Gambar 3.71Sikagrout215

Sumber : Dokumen Pribadi

d. preacast balokGirder

(84)

Balok Girder adalah balok yang berada diantara dua penyangga (Capping Beam) yang berfungsi untuk menompang struktur diatasnya (Super Structure) dan diperkuat olehDiafragma.

Proyek Pengembangan Bandara Ahmad Yani paket 1 menggunakan balok Precast buatan PT. WIKA dengan mutu beton K-350 dengan tulangan D 20 (Tulangan ulir diameter 20 mm).

e. Wiremesh

Wiremesh digunakan sebagai pengganti tulangan pelat yang konsepnya sama dengan flySlab sudah dalam bentuk jadi. Lebar dari

flySlab dan Wiremesh ini beraneka ragam sesuai kebutuhan dilapangan. PadaflySlabterdapat rongga pada bagian sisi pinggir depan dan sisi pinggir belakang yang berfungsi untuk mengaitkanflySlabpada balok.

Pada Proyek Pengembangan Bandar Udara Ahmad Yani Paket 1 SemarangWiremeshdigunakan untuk pengganti tulangan padaSlab Deck

(85)

f. Bearing Padatau Elastomer

Gambar 3.74Bearing Pad Sumber : Dokumen Pribadi

Elastomer / Bearing Pad terbuat dari karet alam maupun karet

chloroprene sebagai bahan baku polymere. yang berfungsi sebagai peredam guncangan dan getaran pada jembatan yang bersifat sangat fleksibel terhadap gayahorizontaldan gayavertikal.

Bearing Pad berada di atas mortal dan digunakan untuk menerima beban balokJoint rollyang didistribusikan ke struktur bawah. Jalur akses Bandara Ahmad Yani Semarang menggunakanBearing Paddengan benda uji sebesar 28.439 ton. Perletakan Bearing Pad dilakukan sebelum pelaksanaan Erection Balok Girder, Bearing Pad harus diletakkan sebagaimana yang ditunjukkan dalam gambar dan harus direkatkan ke mortar untuk mencegah terjadinya pergeseran.

g. Agregat Halus

(86)

Ada berbagai jenis pasir yang ada di alam dan berbagai jenis pasir tersebut memiliki keunggulan tersendiri sesuai komponen yang terkandung.

Gambar 3.75Agregat Halus

Sumber : Dokumen Pribadi

h. Agregat Kasar

Gambar 3.76Agregat Kasar

Sumber : Dokumen Pribadi

(87)

ukuran agregat kasar yang tidak uniform atau sama akan mengakibatkan mutu dan kekuatan dari beton tersebut rendah. Selain itu mengakibatkan beton menjadi keropos karena ukuran agregat yang berbeda-beda.

i. Air

Gambar 3.77Tandon Air

Sumber : Dokumen Pribadi

Digunakan sebagai campuran bahan lainnya seperti plesteran, beton, pemotongan keramik, pengeboran beton, dan lain sebagainya. Dilihat dari fungsi air yang hampir digunakan sebagai campuran untuk semua bahan, air merupakan komponen terpenting.Selain itu, air juga sebagai komponen terpenting dalam kebersihan diproyek itu sendiri.

j. Cakar Ayam

Digunakan untuk memisahkan tulanganSlablantai bagian bawah dan atas sesuai jarak yang diperlukan. Pemberian nama cakar ayam ini dikarenakan bentuk dari besi yang menyerupai cakar ayam.

(88)

Gambar 3.78Cakar Ayam

Sumber : Dokumen Pribadi

k. BetonDecking

Digunakan untuk memberi jarak tulangan terhadap Bekisting atau disebut juga sebagai selimut beton yang memberikan jarak antara tulangan dengan bagian terluar.

Pemberian beton Decking ini sangat penting karena memengaruhi kekuatan dari beton bertulang itu sendiri. Tahu beton ini memiliki diameter 5 cm dan ketebalan yang bervariasi sesuai kegunaannya. betonDeckingini beberapa perlu diberikan kawat. Pemebrian kawat pada betonDeckingini dilakukan untuk mempermudah pemasangan betonDecking terhadap sisi kolom.

(89)

l. Kawat Bendrat

Gambar 3.80Kawat Bendrat

Sumber : Dokumen Pribadi

(90)

3.5 Pengendalian Proyek

Pengendalian Proyek adalah suatu pengawasan pekerjaan pada proyek guna meminimalkan penyimpangan untuk mengendalikan mutu, waktu, dan biaya agar pekerjaan selesai tepat waktu dan sesuai dengan rencana.

3.5.1 Pengendalian Mutu (Quality Control)

Pengendalian mutu merupakan pekerjaan mengecek kualitas bahan sesuai dengan mutu rencana kerja dan syarat-syarat (RKS) agar hasil yang dikerjakan maksimal.

a. SlumpTest

Slump Test merupakan pengendalian terhadap kualitas beton, uji slamp dilakukan sebelum dimulainya pengecoran. Kegunaan uji

Slump ini yaitu untuk mengetahui nilai yang dihasilkan setelah melakukan uji Slump yang diambil dari tingkat kekentalan pada beton tersebut.

Ketentuan dari nilai Slump antara 8-12 cm, jika nilai yang dihasilkan kurang dari 8 cm maka beton tersebut menandakan terlalu padat sedangkan untuk nilaiSlumpyang dihasilkan lebih dari 12 cm maka beton tersebut menandakan terlalu cair.

Alat yang digunakan untuk melakukan ujiSlumpadalah kerucut Abrams dengan ukuran diameter bagian bawah 20 cm dan diameter atas 10 cm dengan tinggi 30 cm yang harus dibasahi terlebih dahulu kemudian diletakan pada plat baja yang permukaannya datar. Beton dimasukkan kedalam kerucut Abrams dengan cara bertahap yang dibagi menjadi tiga lapis supaya beton yang masuk kedalam kerucut merata dan padat, setiap lapisan beton dipadatkan menggunakan batang besi yang berdiameter 16 mm dan panjang 60 cm.

(91)

dan diukur penurunan yang terjadi pada tinggi beton tersebut, penurunan yang terjadi adalah yang menjadi nilaiSlumppada beton.

Gambar 3.81TestSlump Sumber : Dokumen Pribadi

b. Uji Kuat Tekan Beton

Tes kuat Tekan beton dilakukan untuk mengecek mutu beton yang digunakan. Tes kuat tekan beton dilakukan sebelum melakukan pengecoran dengan menggunakan sampel beton yang dicetak menggunakan tabung yang memiliki tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.

(92)

Gambar 3.82Test Kuat Tekan Beton

Sumber : Dokumen Pribadi

c. Pengawasan Pekerjaan Pembesian

Pengawasan pembesian merupakan pekerjan yang harus diperhatikan adalah jumlah tulangan yang sudah sesuai dengan rencana kerja dan memperhatikan bahwa tulangan tersebut sudah diikat dengan bendrat. Pekerjaan pembesian ini dikerjakan oleh direksi pekerjaan.

d. Laporan Pelaksanaan

(93)

dilakukan, dan alat bahan yang digunakan. Setelah laporan harian dikerjakan maka akan dilakukan laporan mingguan kemudian dilanjutkan laporan bulanan yang akan diberikan padaOwner.

e. Pengadaan Rapat

Pengadaan rapat rutin yang dihadiri oleh kontraktor pelaksana, manajemen konstruksi dan Owner untuk membahas permasalahan dalam pelaksanaan proyek serta mengevaluasi laporan yang sudah diserahkan kepadaOwner tentang pekerjaan yang sudah terlaksana dan pekerjaan yang akan datang.

3.5.2 Pengendalian Waktu

Pengendalian waktu pada proyek adalah bagian dari pengendalian yang berupa penjadwalan pelaksanaan pekerjaan agar proyek tersebut selesai sesuai dengan yang rencana, untuk melihat pekerjaan yang akan dilaksanakan maka dibuattime schedule.Time schedule merupakan perencanaan waktu tiap pekerjaan, yang berfungsi untuk mengontrol pelaksanaan durasi pekerjaan dari awal pekerjaan hingga rencana akhir pekerjaan.

a. Laporan Harian

(94)

b. Laporan mingguan

Laporan mingguan adalah laporan hasil pekerjaan yang sudah dicapai selama satu minggu. Laporan mingguan dikerjakan oleh kontraktor pelaksana atau konsultan pengawas yang kemudian diserahkan kepadaOwner.

c. Laporan Bulanan

Laporan bulanan adalah laporan hasil pekerjaan yang dicapai dalam satu bulan. Setelah itu dibuat rekapitulasi dari laporan harian dan laporan mingguan yang berisi hasil pekerjaan selama satu bulan dan didokumentasikan pelaksanaan pekerjaannya.

Untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada pekerjaan maka akan dilakukan beberapa rapat koordinasi yang bertujuan untuk mencari solusi dari permasalahan yang timbul agar didapatkan solusi yang tepat dan sesuai dengan standar.

Rapat rutin ini biasanya dihadiri oleh pimpinan proyek, kontraktor pelaksana, serta konsultan perencana. Seminggu sekali dilaksanakan pada hari selasa jam 10.00 WIB - selesai. Rapat rutin biasanya membahas pelaksanaan pekerjaan yang ada dilapangan atau mengevaluasi pekerjaan yang sudah dikerjakan untuk mencapai suatu pekerjaan maksimal dan efisien.

3.5.3 Pengendalian Biaya

(95)

Agar anggaran tidak mengalami pembengkakan maka pada saat pemakaian bahan dan alat yang dibutuhkan, dilakukan dengan berhati-hati agar tidak merusak kualitas bahan, jika bahan tersebut mengalami kerusakan maka bahan tersebut akan digantikan barang yang baru dan akan mengeluarkan biaya tambahan.

a. Bahan

Pemakaian bahan pada proyek diusahakan memakai dengan seefisien mungkin agar tidak ada yang terbuang secara sia-sia. Pengecoran Slab Deckyang masih ditambah dengan air saat pengecoran menjadikan beton tersebut hasilnya tidak maksimal,Slab Deckmasih sering retak atau pecah, maka harus diganti diganti dengan Slab Deck yang baru yang harus menambah biaya untuk memperbaikinya.

b. Alat

Pemakaian alat harus digunakan sebaik-baiknya dan dilakukan perawatan secara berkala agar alat tersebut tidak rusak yang mengakibatkan berhentinya pekerjaan. Crawler Crane

yang tidak dioptimalkan dalam pekerjaannya karena keterlambatan pengiriman balokGirderke lokasi proyek.

c. Tenaga Kerja

Tenaga kerja harus disesuaikan dengan volume pekerjaan untuk mengefisiensi pemakaian tenaga kerja, mengoptimalkan pekerjaan, dan meminimalkan pengeluaran biaya.

3.6 Permasalahan

(96)

kenyataan dilapangan banyak masalah-masalah yang sering muncul dari berbagin faktor, yang diantaranya faktor alam, manusia dan alat. Masalah yang timbul harus segera diselesaikan agar pekerjaan berjalan dengan lancar dan selesai sebelum waktu yang ditentukan. Permasalahan yang ada di proyek Pengembangan Bandara Ahmad Yani Semarang terdiri dari beberapa faktor yaitu :

3.6.1 Faktor Alam

Pada Proyek Pengembangan Bandara Ahmad yani paket satu atau pembuatan jalan utama mengalami permasalahan dalam penyediaan bahan baku pasir untuk pengecoran beton, pasir yang memenuhi persyaratan tidak memenuhi syarat untuk pekerjaan pengecoran, akibat dari kelangkaan bahan baku pasir mengakibatkan keterlambatan pengecoran dan tidak sesuai dengan yang dijadwalkan.

3.6.2 Faktor Manusia

a. Pada suatu proyek, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan salah satu bagian yang terpenting untuk menjaga diri pada saat melaksanakan pekerjaan lapangan, yaitu dengan memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang berupa sepatu safety

proyek, helm proyek, dan Sarung Tangan. Namun pada kenyataanya ada beberapa pekerja yang kurang memperhatikan keselamatannya sendiri dengan tidak memakai APD saat bekerja dilapangan. Untuk itu para pekerja harus diberi peringatan atau sanksi.

(97)

diangkut untuk dipindahkan ketempak pembuangan atau lokasi yang akan memakai kembaliBekistingtersebut.

c. Pembuangan sisa cor di proyek seharusnya lebih diperhatikan lagi karena bisa menghambat pekerjaan lain. Tempat pembuangan sisa cor sudah disediakan tetapi masih sering membuang sisa cor di sembarang tempat. Akibat dari pembuangan sisa cor yang sembarang ini mengakibatkan kendaraan yang melintasi jalan tersebut mengalami kesusahan.

d. beton yang mengalami pengeroposan atau retak yaitu disebabkan karena kurang maksimal dalam pemadatan saat menuangkan beton kedalamBekistingsehinnga banyak beton yang mengalami retak-retak atau keropos.

3.6.3 Faktor Alat

a. Crawler Crane pernah tidak bisa digunakan karena umur mesin yang sudah tua dan alat yang sering digunakan dan kurang nya perawatan pekerjaan seperti pengangkatan balok Girder sempat terhenti untuk beberapa jam, Crawler Crane harus sering dilakukan perawatan agar pekerjaan dapat berjalan dengan lancar dan tepat waktu.

b. Concrete Pump Truckpernah tidak bisa digunakan karena pompa macet. Akibatnya pekerjaan pengecoran sempat tertunda beberapa jam. Teknsisi harus memperbaiki pompa tersebut dan kemudian para pekerja melanjutkan pekerjaan cor hingga larut malam.

Figur

Gambar Struktur Proyek ..............................................................................
Gambar Struktur Proyek . View in document p.19
Gambar 1.1 Peta Lokasi Proyek
Gambar 1 1 Peta Lokasi Proyek. View in document p.21
Gambar 1.2 ini diambil dari google satelit pada saat proyek pengembangan
Gambar 1 2 ini diambil dari google satelit pada saat proyek pengembangan. View in document p.22
Gambar 2.1 Bagan Hubungan Kerja
Gambar 2 1 Bagan Hubungan Kerja. View in document p.31
Gambar 2.2 Bagan Struktur Organisasi Angkasa Pura 1 (Owner)
Gambar 2 2 Bagan Struktur Organisasi Angkasa Pura 1 Owner . View in document p.32
Gambar 3.9 Mortar Pad
Gambar 3 9 Mortar Pad. View in document p.42
Gambar 3.30 Pengecoran Balok Joint
Gambar 3 30 Pengecoran Balok Joint. View in document p.55
Gambar 3.32 Pembesian Slab Deck
Gambar 3 32 Pembesian Slab Deck. View in document p.56
Gambar 3.34 Pengecoran Slab Deck
Gambar 3 34 Pengecoran Slab Deck. View in document p.57
Gambar 3.35 Pengangkutan Slab Deck
Gambar 3 35 Pengangkutan Slab Deck. View in document p.58
Gambar 3.37 Pemasangan Slab Deck
Gambar 3 37 Pemasangan Slab Deck. View in document p.59
Gambar 3.39 Bekisting Kantilever Slab Lantai
Gambar 3 39 Bekisting Kantilever Slab Lantai. View in document p.60
Gambar 3.40 Bekisting Kantilever Slab Lantai
Gambar 3 40 Bekisting Kantilever Slab Lantai. View in document p.61
Gambar 3.41 Beton Decking Slab Lantai
Gambar 3 41 Beton Decking Slab Lantai. View in document p.62
Gambar 3.43 Saluran Pembuangan Air
Gambar 3 43 Saluran Pembuangan Air. View in document p.63
Gambar 3.45 Angkur dan Pipa Pembatas Elevasi Cor Slab Lantai
Gambar 3 45 Angkur dan Pipa Pembatas Elevasi Cor Slab Lantai. View in document p.64
Gambar 3.46 Pengecoran Slab Lantai
Gambar 3 46 Pengecoran Slab Lantai. View in document p.65
Gambar 3.49 Perawatan Beton dengan Karpet
Gambar 3 49 Perawatan Beton dengan Karpet. View in document p.66
Gambar 3.51 Berrier atau Parapet
Gambar 3 51 Berrier atau Parapet. View in document p.67
Gambar 3.52 Pembesian Berrier atau Parapet
Gambar 3 52 Pembesian Berrier atau Parapet. View in document p.68
gambar kerja.
gambar kerja. View in document p.69
Gambar 3.54 Pengecekan Dimensi dan Center Line Berrier
Gambar 3 54 Pengecekan Dimensi dan Center Line Berrier. View in document p.70
Gambar 3.55 Pengecoran Berrier atau Parapet
Gambar 3 55 Pengecoran Berrier atau Parapet. View in document p.71
Gambar 3.56 Pembongkaran Bekisting Berrier atau Parapet
Gambar 3 56 Pembongkaran Bekisting Berrier atau Parapet. View in document p.72
Gambar 3.57 Concrete Vibrator
Gambar 3 57 Concrete Vibrator. View in document p.73
Gambar 3.58 Genset
Gambar 3 58 Genset. View in document p.74
Gambar 3.60 Steel Bar Bending Machine
Gambar 3 60 Steel Bar Bending Machine. View in document p.75
Gambar 3.61 Theodolite
Gambar 3 61 Theodolite. View in document p.76
Gambar 3.63 Waterpass
Gambar 3 63 Waterpass. View in document p.77
Gambar 3.64 Crawler Crane
Gambar 3 64 Crawler Crane. View in document p.78

Referensi

Memperbarui...