• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Depan Pekerjaan Sosial dari berbaga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Masa Depan Pekerjaan Sosial dari berbaga"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

menjadi profesi utama yang berperan dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial di Indonesia. Secara konseptual, Pekerja Sosial telah didefinisikan oleh Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI), Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial Indonesia (IPPSI), serta lembaga-lembaga

pendidikan Pekerjaan Sosial. Kita juga telah memiliki berbagai perangkat yang mendukung yaitu lembaga dan asosiasi pendidikan, Asosiasi Pekerja Sosial, lembaga sertifikasi dan akreditasi, serta Konsorsium Pekerjaan Sosial yang mewadahi sepuluh pilar organisasi Pekerjaan Sosial atau Kesejahteraan Sosial.

Banyak tantangan yang perlu dihadapi pekerja sosial baik di lingkungan internal maupun eksternal. Beberapa tantangan tersebut menurut Harry Hikmat (2013) antara lain:

1) Pertama, Perundang-undangan Praktek Pekerjaan Sosial masih berada pada tahap pengkajian secara mendalam, masih diperlukan usaha keras untuk mewujudkannya. Undang-undang ini juga perlu disertai oleh peraturan pemerintah yang mengatur operasionalisasi pelaksanaan undang-undang.

2) Kedua, Lembaga Sertifikasi Pekerjaan Sosial (LSPS) maupun Badan Akreditasi Lembaga Kesejahteraan Sosial (BALKS) masih berada pada usia yang sangat muda, masih belum memiliki mekanisme maupun prosedur kerja yang baku. Selain itu, lembaga-lembaga ini juga masih memiliki jangkauan

pelayanan secara terbatas. Masih diperlukan komitmen kuat serta kerja keras dalam mendewasakan lembaga sertifikasi ini. Kemudian diperlukan juga action plan secara komprehensif dalam pengembangan lembaga sertifikasi ini.

3) Ketiga, terbatasnya tempat praktek pekerja sosial. Para alumni pendidikan Pekerjaan Sosial belum sepenuhnnya terjun dalam bidang praktek Pekerjaan Sosial. Praktek pekerjaan sosial masih dilakukan sangat terbatas, kurang lengkap, serta kurang ditunjang oleh sistem evaluasi dan supervisi Pekerjaan Sosial. Kondisi ini kurang menunjang bagi pelaksanaan praktek

Pekerjaan Sosial yang akuntabel.

4) Keempat, Indonesia adalah negara multikultur. Sedikitnya terdapat 300 etnik atau suku-bangsa di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan kompleksitas masalah sehingga menuntut para Pekerja Sosial untuk memiliki kompetensi Pekerjaan Sosial dengan masyarakat multikultur agar dapat bekerja dengan

(2)

mereka. Hal ini menantang lembaga pendidikan Pekerjaan Sosial untuk juga responsif terhadap kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia.

5) Kelima, rasio jumlah pekerja sosial dengan penyandang masalah kesejahteraan sosial masih timpang. Saat ini, jumlah pekerja sosial di Indonesia berkisar 15.522 orang yang harus melayani lebih dari 15,5 juta keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial, artinya satu orang pekerja sosial harus melayani lebih dari 1000 keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial.

6) Keenam, peran serta masyarakat atau swasta, serta dunia usaha yang belum mencukupi, mengakibatkan terpusatnya tumpuan pelayanan pada kemampuan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. Kondisi ini mengakibatkan kurang optimalnya pelayanan yang diberikan. Disamping itu, sistem politik desentralisasi juga belum berkembang secara positif dalam mendorong kemampuan pemerintah daerah untuk menyelanggarakan pelayanan sosial sesuai kebutuhan masyarakat.

7) Ketujuh, Komunitas ASEAN 2015. Terbukanya peluang pasar Pekerja Sosial antar negara selayaknya menantang Pekerja Sosial Indonesia untuk

meningkatkan profesionalistasnya dan nilai kompetitifnya. Apalagi untuk aspek kesejahteraan sosial dan perlindungan sosial, para pemimpin negara-negara ASEAN telah menegaskan “ASEAN is committed to enhancing the well-being and the livelihood of the peoples of ASEAN through alleviating poverty,

ensuring social welfare andprotection, building a safe, secure and drug free environment, enhancing disaster resilience and addressing health development concerns”. Pernyataan tersebut merupakan peluang dan tantangan besar bagi para Pekerja Sosial Indonesia.

Untuk merespon masalah sosial, kebutuhan terkait pentingnya profesi pekerjaan sosial, dan tantangan bagi perkembangan pekerja sosial di Indonesia maka hal yang perlu diperhatikan adalah dengan mengoptimalkan, membangun, mempertahankan dan meningkatkan kualitas pendidikan pekerjaan sosial yang sesuai dengan kompetensi dan dapat menjadi agen perubahan yang mampu merespon isu-isu persoalan atau tantangan-tantangan tersebut.

Isu utama yang dijadikan acuan bahasan pada makalah ini adalah optimalisasi kompetensi pekerja sosial dalam menyiapkan dirinya untuk menghadapi tantangan kebijakan RUU Praktik Pekerja Sosial di Indonesia yang belum disahkan.

B. Pekerja Sosial dengan Pendidikan Pekerjaan Sosial di Indonesia

(3)

Pengurus Wanita Kristen (BPWK) pada tahun 1957. Penyelenggaraan pendidikan ini dikhususkan kepada keterampilan peserta program dalam membantu anak dan perempuan. Penyelenggaraan pendidikan pekerjaan sosial secara lebih maju kembali diselenggarakan pada tahun 1960, yakni ketika Akademi Sosial Kristen (AKS) Widuri menyelenggarakan pendidikan pekerjaan sosial tiga tahun.

Pendidikan ini melibatkan utusan gereja dari seluruh Indonesia, walaupun utusan pendidikan ini dari kalangan gereja tidak mengakibatkan peran pekerjaan sosial menjadi sempit. Sebab, para pekerja sosial hasil dari program pendidikan ini tetap memberikan pelayanan yang universal kepada masyarakat.

Tenaga pengajar pekerjaan sosial Indonesia yang mendidik di luar negeri dan didukung oleh sejumlah pekerja sosial dan berbagai lembaga kerja sama gereja di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia dengan intensif mengacu proses pendidikan di STISIP Widuri. Demikian juga halnya dengan tenaga-tenaga pendidik dari kalangan pemerintah dan perguruan tinggi negeri yang lain. Fokus pendidikan pekerjaan sosial saat itu dan dalam perkembangannya sampai sekarang diletakkan pada aspek Praktikum yang tersupervisi bagi mahasiswa agar mereka dapat mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilannya serta nilai-nilai profesi di berbagai lembaga pelayanan sosial. Ada banyak pula institusi lain yang

menyelenggarakan pendidikan pekerjaan sosial, seperti STKS Bandung atau Universitas Muhammadiyah Jakarta pada tahun 1960an.

Praktik pekerjaan sosial juga pada masa-masa awal sudah diselenggarakan di Indonesia. Namun demikian dilakukan secara individual dan keluarga dan berbasis institusi. Pelaksanaan praktik ini belum terorganisir secara baik. Jika pun sudah terorganisis, dalam konteks ini belum mengenal dan mempraktikan

pekerjaan sosial secara definitif. Misalnya Muhammadiyah sejak tahun 1912an telah menyelenggarakan praktik pekerjaan sosial, namun tidak menamakan kegiatannya sebagai pekerjaan sosial. Akan tetapi, Muhammadiyah diakui sebagai pelopor penting penyelenggaraan pekerjaan sosial di Indonesia pada masa-masa awal. Dewasa ini, perkembangan Pekerjaan Sosial berlangsung cepat. Sony A. Nulhaqim (2013) menyatakan bahwa level pendidikan pekerja sosial di Indonesia dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 1.1

Tingkatan Pendidikan Pekerjaan Sosial di Indonesia N

o NQF Academic Applied Profesi

1 Level 9 Doctor Applied Doctor Specialist 2

2 Level 8 Master Applied Master Specialist 1

(4)

4 Level 6 Bachelor - Diploma IV

5 Level 5 - - Diploma III

Sumber: LSPS, 2013

Dalam meningkatkan kualitas pendidikan pekerjaan sosial, sebuah sistem pendidikan pekerjaan sosial sangat penting bagi pekerja sosial untuk memiliki kompetensi yang sesuai dengan standar. Pada saat ini, di Indonesia terdapat 37 (tiga puluh tujuh) perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi Pekerjaan Sosial atau Kesejahteraan Sosial, baik yang dimiliki pemerintah maupun swasta yang diikat dalam Ikatan Pendidikan Pekerjaan Sosial (IPPSPI).

Perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi Pekerjaan Sosial atau Kesejahteraan Sosial pada saat itu telah berkembang pesat sejak tahun 1975, terus bertambah keanggotaannya serta semakin menguat. Anggota IPPSI telah mengembangkan praktik pekerjaan sosial secara terstruktur dan berlandaskan ilmu pekerjaan sosial, tentunya pendidikan pekerjaan sosial ini mengembangkan standar yang khas pekerjaan sosial. IPPSI menyepakati standar pendidikan pekerjaan sosial dan praktik pekerjaan sosial. standar ini adalah body of knowledge, body of skills, dan body of values yang dibangun bersama demi pengembangan standar kurikulum minimal dalam pendidikan pekerjaan sosial di Indonesia.

Rudy S. Darwis (2013) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan pekerjaan sosial maka hal yang perlu diperhatikan adalah kompetensi dan spesialisasi dengan semua aspek gencar dalam melakukan kompetensi dan spesialisasi serta diperlukan penyusunan kompetensi kurikulum. Selain

kompetensi dan spesialisasi, hal lain yang diperlukan adalah Input of Students for each level education, kualifikasi dosen, hubungan dengan universitas, jaringan IPPSPI, serta regulasi hukum di sistem pendidikan pekerja sosial.

Dalam perkembangannya praktik pekerjaan sosial di Indonesia mulai fokus pada praktik yang bersifat makro. Misalnya dalam setting masyarakat

(5)

Pelaksanaan praktik pekerjaan sosial di Indonesia yang tidak begitu berkembang dengan baik pada masa-masa awal antara lain diakibatkan adanya sistem natural helping profession. Tingginya semangat gotong royong dan kasih sayang antar sesama manusia yang ada di Indonesia, menjadikan masing-masing masyarakat gemar memberikan pertolongan. Kondisi ini menjadikan pekerjaan sosial seolah-olah kurang dibutuhkan. Walaupun, untuk masa sekarang ini sangat diperlukan profesi yang profesional dalam bidang pekerjaan sosial untuk

menangani masalah sosial tersebut.

Perlu diakui bahwasanya ilmu pekerjaan sosial bukan berasal dari Indonesia. Sehingga sangat diperlukan adanya kontekstualisasi khususnya terhadap teori-teori ataupun nilai-nilai yang mendasari praktik. Dalam usaha kontekstualisasi inilah, tampaknya diperlukan bagi pekerja sosial di Indonesia untuk menjadikan praktik-praktik terbaik yang pernah dilakukan di Indonesia sebagai pelajaran atau dasar dalam upaya pengembangan praktik.

Praktik terbaik ini perlu mendapatkan perhatian khusus, misalnya dikembangkan secara keilmuan sehingga diperoleh suatu teori yang relevan dengan kondisi dan budaya masyarakat Indonesia yang sangat beragam, karena keefektifan praktik pekerjaan sosial justru terletak pada manusia dan konteks lingkungannya. Artinya pengembangan dari medical ke social model, yang menekankan pengaruh kekuatan-kekuatan individu maupun ekternal yang mempengaruhi kehidupannya, lebih banyak digali dan didayagunakan untuk mendukung penyelesaian masalah. Jika hal ini mampu dilakukan, bukan tidak mungkin pekerjaan sosial di Indonesia akan berkembang pesat, sebab pekerjaan sosial menjadi profesi yang benar-benar mengakar di masyarakat.

C. Pekerja Sosial: Agen Perubahan dalam Menghadapi Tantangan Era Globalisasi

Era globalisasi yang terjadi sekarang ini sungguh sangat luar biasa

eksistensinya terhadap kehidupan manusia. Era globalisasi dalam dunia teknologi dan informasi (IT) dapat dirasakan manfaat dan dampaknya terhadap kehidupan manusia tersebut. Hampir tidak ada batas waktu, antara belahan dunia Utara dan Selatan, Timur dan Barat, dan lain sebagainya. Semua dengan mudah diakses, tidak lagi dalam hitungan jam tetapi menit bahkan detik. Peristiwa yang terjadi di belahan dunia Barat dapat langsung diakses oleh belahan dunia Timur dan

(6)

teknologi akan menguasai dunia dan sebaliknya negara yang tidak bisa menguasai akan tertinggal dan tertindas. Pertanyaan sekarang apakah pekerja sosial tersebut mampu memanfaatkan teknologi informasi tersebut dalam rangka pengembangan eksistensi profesi pekerjaan sosial.

Dalam perkembangan ekonomi juga terjadi hal yang sama. Munculnya perdagangan bebas, sekalipun konteks blok-blok seperti yang terjadi pada beberapa kelompok negara, seperti: Uni Eropa (European Union) yang terjadi di Eropa, NAFTA (North American Free Trade Area) yang terjadi di Amerika Utara, AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang terjadi di Asia Tenggara, Asia Pasific Economic Co-operation yang terjadi di Asia Pasifik, dan FTA (Free Trade Asia) yang terjadi di Asia. Khusus untuk Asia perdagangan bebas (free trade) sudah dimulai sejak 1 Januari 2010, yang berarti bahwa barang-barang dan jasa dari negara Asia akan bebas masuk ke negara Indonesia dan sebaliknya barang-barang dan jasa Indonesia akan bebas masuk ke negara Asia sesuai ketentuan-ketentuan yang berlaku di negara masing-masing. Bagi suatu negara yang sudah siap, perdagangan bebas ini sangat menguntungkan dan akan mempercepat negara tersebut untuk maju, tetapi bagi negara yang belum siap akan semakin tertinggal.

Dengan konsep perdagangan bebas ini selain barang, jasa-jasa dari negara lain akan masuk ke Indonesia, seperti jasa guru, konsultan, perawat, dokter, konselor, pekerja sosial, termasuk tenaga-tenaga pendamping yang sudah memiliki kompetensi dan kualifikasi. Mereka pada umumnya sudah memiliki standar ISO. Tentunya bila kita tidak memperkuat standar dan sertifikasi profesi terkait dengan pelayanan jasa tersebut, mereka akan bebas dengan leluasa keluar masuk ke Indonesia sepanjang aturan, kriteria, atau standar aturannya belum ada.

(7)

Pekerja sosial perlu memiliki kesiapan dalam menghadapi hal tersebut karna jasa praktik pekerjaan sosial termasuk salah satu dalam konteks perdagangan bebas, apa lagi pada tahun 2015 telah diadakan Komunitas ASEAN dan tahun-tahun berikutnya dapat diadakan kembali, sehingga terbukanya peluang pasar Pekerja Sosial antar negara selayaknya menantang Pekerja Sosial Indonesia untuk meningkatkan profesionalitasnya dan nilai kompetitifnya. Keberadaan pekerja sosial sudah ada sejak lama di Indonesia akan tetapi belum mampu berkembang dan merespon kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu para alumni pekerja sosial atau kesejahteraan sosial dan semua stakeholder terkait untuk itu harus secara bersama-sama menyiapkan profesi pekerjaan sosial dama masuk dalam era globalisasi ini.

Langkah awal yang sangat mendasar dan strategis yang dapat kita lakukan adalah memperkuat Lembaga Sertifikasi Pekerjaan Sosial dengan meningkatkan kualitas SDM di bidang praktik pekerjaan sosial, meningkatkan mutu atau kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, filter dalam kompetensi terhadap jasa pelayanan yang mungkin datang dari negara lain dan meningkatkan kualitas keilmuan praktik pekerjaan sosial serta langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah perihal akreditasi terhadap lembaga-lembaga pelayanan sosial.

D. Meningkatkan Mutu Kompetensi dan SDM Pekerjaan Sosial Kompetensi pekerja sosial mutlak diperlukan dan syarat agar bisa terselenggara pelayanan sosial yang baik. Saat ini Kementerian Sosial telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Hal ini ditujukkan agar tersedianya sumber daya manusia (SDM) pekerja sosial yang memiliki kompetensi.

Mengingat permasalahan sosial semakin kompleks dan dinamis. Luasnya cakupan masalah sosial, membutuhkan keterlibatan profesional dan kerja sama untuk menumbuhkan harapan dan meningkatkan kualitas hidup. Kondisi struktur sosial masyarakat masih dilingkupi oleh masalah kemiskinan, ketidakberdayaan, eksklusi sosial dan penyalahgunaan obat. Selain itu itujukan untuk menghadapi masalah sosial lintas batas sebagai dampak keterbukaan interaksi di era global. Misalnya,terkait pekerja migran, adopsi antar-negara secara ilegal, serta perdagangan manusia.

Kompleksitas masalah sosial tidak mungkin diatasi secara maksimal dengan sumber daya manusia bidang kesejahteraan sosial terbatas. Oleh karena itu, keterbatasan melahirkan tuntutan terhadap pendidikan pekerjaan sosial, penelitian dan pelatihan. Harry Hikmat (2013) menyatakan bawa hingga kini, masih

(8)

profesional yang memiliki kompetensi yang mampu menterjemahkan kebijakan pembangunan kesejahteraan sosial ke dalam pelayanan nyata untuk kesejahteraan.

Penambahan SDM pekerja sosial juga harus didukung strategi perbaikan remunerasi pekerja sosial seiring reformasi birokrasi. Pendidikan, penelitian dan pelatihan merupakan elemen strategis transformasi kesejahteraan sosial. Kerja sama turut mendorong generasi muda percaya diri, menimba keterampilan dan meningkatkan pendidikan untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan sosial dan kehidupan lebih baik. Kerja sama yang dilakukan, perlu dipertahankan dan ditingkatnya untuk mendorong perumusan rencana untuk memodernisasi akademisi, peneliti dan pelatih dalam bidang pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial serta mentransformasikan menjadi sumber keunggulan.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah sertifikasi dan payung hukum yang jelas bagi pekerja sosial. Saat ini Lembaga Sertifikasi dan Badan Akreditasi diharapkan dapat bekerja secara maksimal untuk memberikan hak-hak pekerja sosial yang profesional yang sudah melengkapi syarat-syaratnya, walaupun usia LSPS dan BALKS terbilang masih cukup muda. Akan tetapi kita perlu optimis bahwa kedepannya peluang untuk profesi pekerja sosial masih terbuka lebar dan pengakuan masyarakat akan jelas terlihat.

Dengan pelaksanaan Sertifikasi Pekerja Sosial dan Akreditasi Lembaga Kesejahteraan Sosial ini, diharapkan mampu mengembangkan profesi pekerjaan sosial di Indonesia, sehingga dapat mewujudkan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang berkualitas untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Hal tersebut juga dilandaskan dengan pengaturan pekerja sosial profesional dalam Peraturan Perundang-undangan, seperti Undang Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Undang Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin dan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem

Peradilan Anak menjadi landasan kuat untuk menyediakan Pekerja Sosial profesional di Indonesia.

Keberadaan Pekerja Sosial Indonesia sendiri saat ini tergabung dalam Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) dan resmi menjadi anggota IFSW (International Federation of Social Workers). IFSW adalah wadah

(9)

Indonesia. Domain utama dari para Pekerja Sosial adalah dalam bidang kesejahteraan (Welfare). Di Indonesia bidang ini sering kita sebut sebagai pembangunan kesejahteraan sosial, yakni serangkaian aktivitas yang terencana dan melembaga yang ditujukan untuk meningkatkan standar dan kualitas kehidupan manusia. Dewasa ini salah satu kebijakan mengenai kesejahteraan sosial yang banyak diperbincangkan adalah RUU Praktik Pekerja Sosial.

Edi Suharto (2005:71) menyatakan bahwa model kebijakan indikatif merupakan kebijakan sosial yang mengupayakan kesamaan visi dan aspirasi seluruh masyarakat. Dalam kaitan ini maka akan diulas mengenai Rancangan Undang Undang (RUU) Praktik Pekerja Sosial. Sampai dengan saat ini RUU tentang Praktek Pekerja Sosial (Lampiran: Sistematika Naskah Akademik dan Draft RUU Praktek Pekerjaan Sosial) telah dibentuk, yang merumuskan secara legal definisi pekerjaan sosial dan praktek pekerjaan sosial, persyaratan, jenjang pendidikan, kedudukan, tugas dan fungsinya, sertifikasi, Asosiasi Pendidikan pekerjaan Sosial, Asosiasi Pekerja Sosial serta kewajiban bagi lembaga pelayanan sosial menggunakan pekerja sosial bersertifikasi.

Sebetulnya, besar harapan pada tahun 2014 Rancangan Undang Undang tersebut sudah dapat disahkan menjadi Undang Undang. Akan tetapi hal tersebut belum dapat direalisasikan dengan optimal yang dikarenakan Komisi VIII masih belum menyepakati RUU Praktik Pekerja Sosial. Agar Rancangan Undang Undang tersebut disahkan, memang pada akhirnya kita harus memulai semuanya kembali dari awal. Fakta ini harus dapat kita jadikan sebagai tantangan bagi seluruh pihak, agar harapan kita menjadi sebuah kenyataan.

(10)

Gambar 1.1

Siklus Minat Pekerjaan Sosial dalam Menghadapi Tantangan dan Mewujudkan Harapan

Mengacu pada Gambar 1.1 bahwa sebagai generasi muda pekerja sosial penting bahwasanya untuk memberikan penguatan bagi perkembangan profesi pekerja sosial di Indonesia. Ini merupakan langkah awal bagi generasi muda untuk membentuk masa depan pekerja sosial menjadi lebih baik, yang berarti bahwa pondasi awal dari masa depan pekerja sosial berasal dari minat dan passion individu kepada profesi pekerja sosial untuk memberikan penguatan dan pengembangan bagi profesi tersebut.

Sejatinya bahwa setiap individu merupakan makhluk sosial yang memiliki perasaan empati dan simpati kepada sesamanya. Ketika ia peduli mengenai pada penyakit jantung atau kanker maka akan memilih sebagai dokter, ketika ia peduli pada keamanan masyarakat maka akan memilih sebagai polisi, namun ketika ia peduli pada masalah sosial maka ia tidak begitu memahami profesi apa yang harus ditekuninya. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi yang bersifat komprehensif untuk memberikan informasi mengenai profesi yang menangani masalah sosial dengan fokus utama adalah keberfungsian sosial.

(11)

mahasiswa baru, maka sosialisasi perlu dilakukan dengan sebaik mungkin karna ini merupakan salah satu momentum untuk memberikan info mengenai profesi pekerja sosial pada generasi muda. Sosialisasi tidak hanya dilakukan di lembaga-lembaga dibawah naungan Kementerian Sosial, namun sosialisasi juga diperlukan di SMA atau SMK yang tujuan adalah untuk menemukan generasi muda yang berminat pada profesi pekerja sosial.

Ketika sosialisasi sudah dilakukan maka hal kedua yang perlu dilakukan adalah optimalisasi dalam hal rekrutmen calon pekerja sosial. Salah satu

contohnya ketika STKS Bandung sudah menampung calon mahasiswa maka tidak ada lagi istilah ‘calon mahasiswa titipan’ yang dipastikan diterima di STKS Bandung dengan test tulis atau wawacara yang hanya sekedar formalitas. Istilah tersebut kerap didengar mengingat STKS Bandung adalah lembaga pendidikan di bawah Kementerian Sosial sehingga banyak orangtua yang berharap anaknya dapat bekerja di Kementerian Sosial atau sebagai Pegawai Negeri Sipil atau mendapatkan status Ikatan Dinas (ID) yang sebetulnya anak-anaknya belum tentu menyukai profesi pekerja sosial.

Pada tahun 2012, STKS Bandung telah memperketat syarat kelulusan untuk calon mahasiswa dengan jalur penerima beasiswa, tugas belajar dan mandiri. Sistem baru tersebut membuat siapa pun dapat menerima beasiswa dan orangtua yang mencoba menitipkan anaknya kepada pihak STKS Bandung agar diterima dapat diminimalisir. Dari pengamatan penulis bahwa sistem tersebut dapat berdampak positif pada generasi muda calon pekerja sosial. Hal ini ditunjukkan dari kualitas kompetensi mahasiswa yang meningkat dari angkatan sebelumnya. Kualitas mahasiswa STKS Bandung menjadi lebih baik dari sebelumnya dari mulai mereka dapat bersaing dengan positif bersama teman-temannya untuk mendapatkan beasiswa, prestasi di dalam maupun di luar kampus dan kemampuan mahasiswa dalam berbahasa asing.

(12)

Dari ketujuh tantangan yang dikemukakan oleh Kementerian Sosial maka hal tersebut sebetulnya dapat berdampak pada motivasi belajar dari para generasi muda pekerja sosial misalnya. Salah satu contohnya ketika mahasiswa STKS Bandung sering berhadapan dengan masyarakat yang belum mengetahui profesi pekerja sosial dan memandang profesi tersebut dengan sebelah mata. Ketika generasi muda tersebut tidak memiliki passion dan ketahanan diri akan tantangan-tantangan yang dihadapinya maka bukan hal yang tidak mungkin ia akan

menyerah sebagai pekerja sosial dan memilih bekerja sebagai profesi lain. Namun ketika generasi muda tersebut memiliki minat dan passion yang kuat terhadap profesi pekerja sosial maka ia pun akan memiliki strategi, inovasi dan motivasi tersendiri untuk menghadapi segala macam tantangan yang dihadapinya sebagai pekerja sosial.

Penulis yakin dimasa depan bahwa animo atau minat, mutu pendidikan dan persaingan pekerjaan bagi profesi pekerja sosial dapat meningkat dari sebelumnya sehingga Undang Undang Praktik Pekerja Sosial pada tahun 2016 dapat disahkan dan harapan-harapan lain dapat diwujudkan. Dalam hal ini, penulis berpesan bahwa banyaknya tantangan bukan berarti menjadi penghalang perkembangan pekerjaan sosial dan banyaknya harapan bukan berarti seluruh tantangan tidak bisa kita hadapi.

E. Rekomendasi

Hasil dari pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa dalam menghadapi tantangan bagi profesi pekerja sosial dan kebijakan-kebijakan bagi pekerja sosial diperlukan langkah awal yang dapat memberikan solusi agar tujuan awal dapat tercapai. Sehingga bila di jabarkan menjadi satu persatu maka beberapa masukan tentang langkah awal dalam mengoptimalkan kompetensi pekerjaan sosial agar dapat melahirkan generasi emas pekerjaan sosial adalah sebagai berikut:

1. Pekerja sosial diwajibkan mampu memadukan keterkaitan komponen pengetahuan, nilai dan keterampilan pekerjaan sosial. Hal ini dikarenakan pengetahuan pekerjaan sosial tidak mudah begitu saja untuk

diimplementasikan, namun harus disaring dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang ada, dan kemudian diterapkan dengan keterampilan yang dimiliki. Tingkat kemampuan pekerja sosial dalam mengintergrasikan ketiga komponen tersebut akan menunjang keberhasilan pelaksanaan visi dan misi

profesionalnya.

(13)

3. Alumni pekerja sosial atau kesejahteraan sosial dan semua stakeholder secara bersama-sama menyiapkan profesi pekerjaan sosial siap untuk masuk dalam era globalisasi.

4. Memperkuat Lembaga Sertifikasi Pekerjaan Sosial dengan meningkatkan kualitas SDM di bidang praktik pekerjaan sosial, meningkatkan mutu atau kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat, filter dalam kompetensi terhadap jasa pelayanan yang mungkin datang dari negara lain dan

meningkatkan kualitas keilmuan praktik pekerjaan sosial serta langkah selanjutnya yang tidak kalah penting adalah perihal akreditasi terhadap lembaga-lembaga pelayanan sosial.

5. Penambahan SDM pekerja sosial harus didukung melalui strategi perbaikan remunerasi pekerja sosial seiring reformasi birokrasi dan kerja sama yang dilakukan dengan beberapa pihak perlu dipertahankan dan ditingkatnya untuk mendorong perumusan rencana untuk memodernisasi akademisi, peneliti dan pelatih dalam bidang pekerjaan sosial dan kesejahteraan sosial serta

mentransformasikan menjadi sumber keunggulan.

6. Perlunya diperhatikan dari para calon pekerja sosial terkait dengan minat dan animo terhadap ilmu pekerja sosial atau kesejahteraan sosial. Dalam hal perekrutan dapat menjadi momen untuk menyeleksi dan mengetahui SDM yang benar-benar minat dengan ilmu pekerja sosial atau kesejahteraan sosial. Selain itu diperlukan juga sosialisasi terkait dengan jurusan pekerja sosial atau kesejahteraan sosial melalui berbagai program yang mampu menunjang informasi ilmu tersebut agar masyarakat memiliki pengetahuan tentang jurusan pekerja sosial atau kesejahteraan sosial di Indonesia sehingga eksistensinya dapat meningkat dengan optimal.

Gambar

Tabel 1.1Tingkatan Pendidikan Pekerjaan Sosial di Indonesia
Gambar 1.1 Siklus Minat Pekerjaan Sosial dalam Menghadapi

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan dari iklim sosial keluarga terhadap orientasi masa depan dalam bidang pekerjaan dan karir

Predictors: (Constant), Jabatan, Usia, Jenis kelamin, Masa kerja, Kontrol pekerjaan, Dukungan sosial pekerjaan, Tuntutan pekerjaan, Tuntutan pekerjaan*Kontrol pekerjaan,

Dengan materi- materi tersebut diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami praktek pekerjaan sosial serta dapat menumbuhkan kesadaran bagi mahasiswa sebagai calon

Pekerja sosial profesional adalah seseorang yang bekerja, baik di lembaga pemerintah maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, dan kepedulian

Namun demikian, dalam sudut pandang pekerjaan sosial, hal tersebut sangatlah penting karena terkait dengan bahwa sejauh ini klien pekerjaan sosial umumnya berada

Kapabilitas dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan dari pihak-pihak yang terlibat dalam praktik pekerjaan sosial, termasuk klien yang ditangani oleh pekerja sosial. Di

Dalam praktik pekerjaan sosial baik dalam setting lembaga pelayanan sosial maupun dalam setting casework seorang pekerja sosial dapat menggunakan metode crowdfunding sebagai salah

dikembangkan di Malaysia • Green Social Work/Environmental Social Work – Isu climate change menjadi trend dalam dunia pekerjaan sosial global • Health Social Work – lebih spesifik