• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILOSOFI PEKERJAAN SOSIAL DI INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FILOSOFI PEKERJAAN SOSIAL DI INDONESIA"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: Furqon

Mahasiswa Pascasarjana Kosentrasi Pekerjaan Sosial Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta

Weblog: tuntifurqon.wordpress.com Email: [email protected]

Dahulu orang orang memilih pengabdian terhadap masyarakat dan sesama manusia sebagai pengabdian tugasnya. Menurut para ahli psikologi, pertolongan atau pemberian bantuan semacam itu merupakan salah satu bentuk sublimasi daripada dorongan tertentu yang tidak terpenuhi semuanya. Pekerjaan sosial adalah semua tugas yang dilaksanakan untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik ragawi maupun rohani. Misalnya

 Para ulama yang berdakwah untuk perbaikan moral dan rohani dapat disebut pekerjaan sosial.

 Para guru yang mempersiapkan anak didik dalam proses sosialisasi dapat juga disebut sebagai pekerjaan sosial.

Dari sedikit penjelasan diatas muncul pertanyaan dari para pembaca, sebenarnya apa sih Pekerjaan Sosial yang profesional itu?

baik kita scrol ke bawah biar tau penjelasannya

1. Pekerjaan Sosial yang Profesional

Berbeda dengan pekerjaan sosial yang dilakukan oleh warga masyarakat seperti dengan yang di contohkan diatas professional. Yaitu pekerjaan :

 Pemberian pertolongan terarah, selektif, terprogram sehingga perubahan yang dilakukan merupakan perubahan yang terencana.

 pertolongan tidak semata mata didorong oleh sentiment kemaasyarakatan pekerjaan sosial disini merupakan lapangan tersendiri dan patut diberikan jabatan dan

kewenangan pada yang melakukannya.

 Pemberian pertolongan yang ilmiah. DIlakukan seperti perhitungan yang cermat dengan sistematika.

 Pekerjaan sosial itu merupakan pemberian pertolongan yang paedagogis, yaitu pemberian pertolongan yang bersifat mendidik, mengusahakan agar yang ditolong dapat menolong dirinya sendiri juga pemberian pertolongan yang agagogis. Artinya pemberian kepada individu, kelompok maupun masyarakat yang menyandang masalah dalam rangka resosialisasi maupun revalidasi.

 Pekerjaan sosial merupakan komponen politik sosial, yaitu merupakan satuan/ sistim utama yang dapat menopang untuk mencapai kesejahteraan sosial

(2)

Metode pendekatannya pekerjaan sosial mengalami perubahan sebagai berikut:

1. Dari pendekatan kasus pendekatan administrative ( perencanaan kebijaksanaan, sosial).

2. Dari pendekatan mikro ( perorangan, keluarga kelompok kecil). Kepada pendekatan makro (intervensi pada public decision).

3. Dari pendekatan kuratif rebslitatif kepada pendekatan yang bersifat pencegahan dan pengembangan (preventif dan promotif).

4. Dari pendekatan spesifik kepada pendekataan generalitik.

1. FILSAFAT KHUSUS PEKERJAAN SOSIAL DI INDONESIA

1. Menurut sejarahnya pekerjaan sosial yang masih bersifat charity dan pilantropi di Indonesia telah menjadi watak dan mendarah daging. Bangsa Indonesia dalam semangat gotong royong dankekeluargaan.oleh sebab itu tujuan dan sunmber layanan kesejahteraan sosial adalah Pancasila dan undang undang dasar 1954

2. Kesejahteraan sosial itu pada hakikatnya merupakan pengejantuhan keadilan sosial dalam pancasila. Tujuan dari usaha kesejahteraan sosial identik dengan tujuan pembangunan nasional yaitu membangun manusia

3. Pendekatan system ada beberapa system yang terkait:

1. System pelaksanaan perubahan(change agent) yaitu pekerja sosial sendiri

2. System klien atau penyandang masalah

3. System sumber yaitu sumber danaa maupoun sumber daya

4. System kegiatan yaitu lembaga lembaga yang menyelenggarakan kegiatan demi tercapainya kesejahteraan sosial

5. System nilai dan norma yaitu pandangan dan aturan leluhur yang dijadikan landasan pokok dan tujuan dari berbagai usaha kesejahteraan sosial

(3)

7. Dari segi akademik atau masyarakat akademik pekerjaan sosial ini masih kurang dikenal , sama halnya di lingkungan dunia awam. Hal itu disebabkan oleh berbagai factor, diantaranya:

1. Masih sangat langkanya/belum Adanya ilmuwan di bidang ini, belum ada satupun Doktor pekerjaan sosial. Tingkat masterpun masih dapat dihitung dengan jari

2. Pada tahun 1982/1983 masih di bawah 500 orang

3. Terpaku pada nama dan konsep pekerjaan sossial tradisional yang bertumpu pada kepekaan hati sertya kemampuan rasa untuk ikut serta merasakan pendekatan orang lain

4. Masih langkanya untuk tidak dikatakan tidak sma sekali, arfena dan sarana komunikasi serta publikasi tentang pekerjaan sosial

5. Belum adanya organisasi profesi pekerja sosial yang mantap

6. Belum memadainya perhatian pemerintah dalam hal ini departemen pendidikan dan kebudayaan terhadap

pembangunan pendidikan profesi pekerjaan sosial di Negara kita ini.

1. KONSEP DASAR PEKERJAAN SOSIAL

1. Manusia sebagai makhluk sosial tak terpisahkan dari masyarakatnya.

2. Adanya saling ketergantungan antara orang dan masyarakat, Dalam pembentukan kepribadian dan tingkah laku manusia sebagai individu, mempunyai factor pembawaan (genetis) yang biasa kita sebut dengan factor intrinsic, dan dunia luar yang biasanya kita sebut ekstrinsik.

3. Adanya kebutuhan umum yang sama, Kebutuhan umum ini dalam ilmu pekerjaan sosial disebut dengan comen needs. Meskipun individu masing masinbg berbeda tapi mempunyai comen needs yang sama. Namun demikian mempunyai dasar yang samayang disebut motivasi. Motivasi ini didasarkan pada:

1. Kecendrungan dasar untuk mempertahankan diri.

2. Aktualisasi potensi potensinya. Motivasi ini dapat menggejala sebagai kebutuhan fisik biologis, rohani/psycologis dan sosial. Motivasi dapat merupakan kebutuhan psychologis sosial.

(4)

4. Keserasian : merupakan yang timbul apabila orang dapat memecahkan masalah dan dapat memnuhi kebutuhannya.

5. Kasih sayang : dihayati oleh anak kecil sebagai pemuas kebutuhan adanya rasa kasih sayang dan perlindungan.

6. Pengakuan masyarakat : penerimaan oleh masyarakat merupakan kebutuhan yang pemuasannya berasal dari poengakuan masyarakat.

7. Rasa harga diri : suatu penilaian yang tinggi mengenai dirinya sendiri dan suatu perasaan akan harga diri.

Prinsip- prinsip dan nilai pekerja sosial

Proses pekerjaan sosial

Setiap ahli memiliki pandangan yang beragam mengenai proses pekerjaan sosial Latar belakang budaya, bidang garapan dan objek pekerjaan sosial yang berbeda di antara para ahli tersebut sehingga menghasilkan proses pekerjaan sosial yang berbeda Menurut Dean H. Hepworth & Jo Ann Larsen

 Eksplorasi, perencanaan penilaia

 Pelaksanaan pencapaian tujuan

 Evaluasi pelepasan

Menurut Max Siporin

 Pembuatan perjanjian dan kontrak

 Penilaian

 Perencanaan

 Evaluasi dan terminasi

Menurut Lawrance M. Bremmer.

 Membangun hubungan : masuk, klarifikasi, sruktur, hubungan

 Memfasilitasi dengan tindakan positif,eksporasi, konsolidasi, perencanaan, pelepasan

Nilai-nilai dasar

Nilai-nilai dasar pekerjaan sosial berdasarkan pada nilai-nilai masyarakat demokratis, yang seperti dikemukakan oleh Helen Northen, mengandung makna bahwa:

(5)

 Setiap orang bebas untuk menjaga kerahasiaan dirinya.

 Setiap orang bebas berpartisipasi di dalam pembuatan keputusan yang menyangkut kepentingan pribadinya.

 Setiap orang berkewajiban untuk mengarahkan kehidupan pribadinya secara bertanggung jawab agar dapat bertindak secara konstruktif dalam kehidupan masyarakat.

 Setiap individu dan kelompok punya tanggung jawab sosial untuk meningkatkan kehidupan masyarakat.

Prinsip-prinsip praktik

1. Penerimaan merupakan prinsip Pekerja Sosial yang fundamental yaitu dengan menunjukkan sikap toleran terhadap keseluruhandimensi klien

2. Tidak memberikan penilaian, hal ini berarti Pekerja Sosial menerima klien dengan apa adanya di sertai prasangka atau penilaian

3. Individualisasi berarti memandang dan mengapresiasi sifat unik dari klien

(Bistek,1957). Setiap klien memiliki karakteristik kepribadian dan pemahaman yang unik, yang berbeda dengan setiap individu yang lain.

4. Menentukan sendiri, ialah memberikan kebebasan mengambil keputusan oleh klien.

5. Tampil apa adanya, berarti Pekerja SOsial sebagai seorang manusia yang berperan apa adanya, alami, tidak memakai topeng, pribadi yang asli dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

6. Mengontrol keterlibatan emosional, berati Pekerja Sosial mampu bersikapobjektif dan netral.

7. Kerahasiaan, Pekerja Sosial harus menjaga kerahasiaan informasi seputar identitas, isi pembicaraan dengan klien, pendapat proffesional lain atau catatan-catatan kasus mengenai diri klien.

Sistem dasar

 Sistem pelaksana perubahan

Sistem pelaksana perubahan adalah sekelompok orang yang tugasnya memberi bantuan atas dasar keahlian yang berbeda-beda dan bekerja dengan sistem yang berbeda-beda pula ukurannya.Seorang pekerja sosial dapat disebut sebagai pelaksana perubahan sementara itu lembaga-lembaga kesejahteraan sosial yang memperkerjakannya disebut sebagai sistem pelaksana perubahan.

(6)

Merupakanindividu, kelompok, keluarga, organisasi atau masyarakat yang meminta bantuan atau pelayanan kepada sistem pelaksana perubahan. Sistem Klien adalah yang bermanfaat bagi klien, yang seluruhnya berfokus pada kekuatan dan sumber-sumber klien.

 Sistem Sasaran

adalah pihak-pihak yang dapat dijadikan sasaran perubahan, atau dijadikan media yang dapat mempengaruhi proses pencapaian tujuan pertolongan.

 Sistem Kegiatan

menunjukkan pada orang-orang yang bekerjasama dengan pekerja sosial untuk melakukan usaha-usaha perubahan melalui pelaksanaan tugas-tugas atau program kegiatan.

Fokus Praktik

adalah memberdayakan klien dan memantapkan hubungan pertolongan yang

kolaboratif.Dalam praktik pekerjaan sosial berbasis-kekuatan, suatu hubungan pertolongan kolaboratif dibentuk antara seorang profesional dan seorang individu, atau keluarga, atau kelompok, atau sebuah organisasi, atau suatu masyarakat dengan tujuan memberdayakan dan meningkatkan keadilan sosial dan ekonomi.

 Fokus Praktik Pekerja Sosial

Mikro adalah meningkatkan keberfungsian dan keberdayaan klien.

 Fokus Praktik Pekerja Sosial Makro

adalah pada perubahan keorganisasian dan komunitas/ masyarakat.

Macam- macam klien

 Klien sukarela

adalah klien yang mencari pelayanan dari pekerja sosial atau badan-badan sosial atas dasar keinginan sendiri karena mereka memang membutuhkan bantuan yang berhubungan dengan sejumlah aspek kehidupannya sendiri.

 Klien tidak sukarela

adalah klien yang ditekan atau dipaksa untuk mencari bantuan oleh seseorang yang mereka kenal dekat, bisa anggota keluarga ataupun bukan. Mereka tidak memperoleh mandat dari pengadilan atau hukum atau badan sosial untuk memperoleh bantuan

 Klien bukan sukarela

(7)

 Penelitian Pekerjaan Sosial diharapkan dapat mengembangkan konsep, teori atau pengetahuan yang valid bagi keperluan Praktik Pekerja Sosial dalam bentuk metoda-metoda praktik yang ilmiah yang memenuhi persyaratan standar ilmiah.

 Para pekerja sosial dan pelaksana pelayanan pekerja sosial lainnya diharapkan lebih memahami dan membaca berbagai hasil Penelitian Pekerja Sosial serta menerapkan konsep, teori dan pengetahuan yang dikembangkan oleh peneliti Pekerja Sosial, kedalam praktik-praktik pertolongan Pekerjaan Sosial.

Kodek Etik Dalam Pekerjaan Sosial

Pekerja Sosial merupakan sebuah profesi yang membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah sosialnya dengan memanfaatkan sumber yang ada untuk meningkatkan keberfungsian sosialnya. Pekerjaan Sosial bertujuan untuk

meningkatkan keberfungsian sosial individu-individu, baik secara individual maupun kelompok , dimana kegiatannya difokuskan kepada relasi sosial mereka khususnya interaksi orang-orang dengan lingkungannya.

Pekerja sosial sebagai profesi memiliki kode etik dimana kode etik tersebut terdiri dari beberapa unsur, atau bagian. Nilai etika merupakana salah satu nilai yang terkandung didalam profesionalisme. Pada dasarnya orang yang professional adalah orang yang tau akan keahlian, meluangkan waktunya untuk pekerjaan ataua kegiatan itu dan bangga akan pekerjaannya itu.

Pekerjaan social sebagai suatu profesi memiliki ciri – ciri atau sifat umum. Ciri – ciri atau sifat umum yang pertama adalah adanya pengetahuan khusus dimana suatu profesi selalu mengandalkan adanya suatu pengetahuan atau keterampilan khusus yang dimiliki oleh sekelompok orang yang professional untuk melaksanakan tugasnya. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi merupakan ciri atau sifat umum yang kedua dari sebuah profesi. aturan permainan ini disebut sebagai kode etik. kode etik ini harus ditaati oleh semua anggota profesi yang bersangkutan.

Ciri atau sifat umum yang ketiga adalah pengabdian kepada kepentingan masyarakat. hal ini menyiratkan bahwa profesi harus dapat meletakkan kepentingan pribadinya di bawah

kepentingan masyarakat. Dan ciri dan sifat umum yang keempat adalah ada izin khusus untuk bisa menjelaskan sesuatu profesi serta adanya suatu organisasi profesi.Hal inilah yang

melandaskan pekerjaan social sebagai suatu profesi yang harus tunduk pada nilai – nilai dan kode etik. Kode etik dalam sebuah pekerjaan social professional memiliki peran yang sangat penting dalam implementasinya Fungsi dan tujuan kode etik pekerjaan social dalam

pelayanan social adalah memberikan bimbingan dan inspirasi kepada anggota-anggotanya, sebagai pengakuan akan pentingnya kode etik itu bagi status profesi di dalam komunitas dan masyarakat, serta untuk mengokohkan akar perilaku yang profesional dari

anggota-anggotanya. Karena apabila terjadi deviasi yang dilakukan oleh satu orang saja dapat menodai seluruh anggota se-profesi yang lain.

Kode Etik Pekerjaan Sosial

1. Perilaku dan Intergritas pribadi Pekerja Sosial Profesional Prinsip etiknya adalah pekerja sosial harus mempunyai perilaku yang dapat dipercaya. Dalam batas tertentu, profesi pekerja sosial adalah seperti dokter, ‘mengobati’ dan ‘menyembuhkan’

(8)

perilaku yang dapat dipercaya, pekerja sosial tidak dapat menjalankan profesi tersebut dengan baik. Integritas setidaknya ditunjukkan dengan konsistensi pekerja sosial dengan misi profesional, nilai, dan prinsip etika, dan standar etika dalam aktivitas pertolongan yang dilakukannya. Pekerja sosial harus memelihara standard perilaku dan integritas pribadi dalam kapasitas atau identitas sebagai pekerja sosial.

2. Tanggung jawab Etis Pekerja Sosial Proefsional Terhadap Kelayan Tanggung jawab utama pekerjaan sosial adalah terhadap klien. Dimana tanggungjawab pelayanan terhadap klien disesuaikan dengan prioritas kebutuhan yang klien perlukan.Prinsip etiknya adalah pekerja sosial harus mengutamakan tujuan untuk membantu

masyarakat yang membutuhkan dan memusatkan pada permasalahan sosial.

3. Tanggung jawab etis Pekerja Sosial Profesional Terhadap Kolega dan Profesi Lain Pekerja sosial sebaiknya memperlakukan kolega dengan penuh penghargaan, hormat dan adil serta percaya. Pekerja sosial harus bekerjasama dengan koleganya untuk meningkatkan kepentingan professional serta menjaga kerahasiaan yang dikemukakan oleh koleganya dalam kaitan dan hubungan dan transaksi profesional mereka. Sebagai pekerja sosial profesional kita harus menghormati dan menjalin kerjasama dengan kolega dari profesi lain agar mereka melakukan hal sama terhadap kolega pekerja sosial. Seorang pekerja sosial akan di uji dalam menyelesaikan permasalahan agar tidak mendapatkan permasalahan dalam pertanggung jawaban terhadap klien dan kolega.

4. Tanggung jawab etis pekerja sosial profesional terhadap lembaga yang

mempekerjakannya Pekerja sosial tentu saja harus bertanggung jawab terhadap lembaga yang mempekerjakannnya dan harus mengikuti aturan-aturan yang ada/berlaku di lembaga dengan kata lain harus berkomitmen terhadap lembaga tempatnya bekerja. Pekerja sosial harus selalu berusaha untuk mencegah serta menghilangkan adanya bentuk dikriminasi dalam sebuah kebijakan dan sebagai pekerja sosial yang profesional harus selalu berupaya dapat meningkatakan kualitas kebijakan dan prosedur pelayanan lembaga dimana tempat dia bekerja serta mampu menggunakan sumber – sumber organisasi secara tepat menurut tujuannya.

5. Tanggung jawab etis pekerja sosial profesional terhadap profesi pekerjaan sosial Di dalam tanggung jawab pekerja sosial terhadap profesinya ada tiga point yang harus di tingkatkan yaitu pertama bagaimana pekerja sosial profesional memelihara intergritas profesinya yaitu, seorang pekerja sosial hendaknya memegang teguh dan memajukan nilai-nilai, etika, pengetahuan dan misis profesi, yang kedua yaitu dalam pelayanan masyarakat dimana seorang pekerja sosial harus membantu profesi dalam usahanya menciptakan ketersediaan pelayanan bagi masyarakat, dan yang terakhir atau yang ketiga adalah pengembangan pengetahuan, yaitu seorang pekerja sosial harus mampu memegang tanggung jawab dalam mengidentifikasi , mengembangkan dan

memanfaatkan sebesar-besarnya pengetahuan bagi praktek profesional.

(9)

menciptakan kondisi kondisi yang mendorong muunculnya rasa hormat terhadap keanekaragaman budaya .

DILEMA ETIK DALAM PEKERJA SOSIAL

A. Dilema etis dalam pekerja sosial

Dalam setiap menangani aksus, baik dalam setting praktik langsung maupun praktik tidak langsung pekerja sosial di tuntut untuk membuat suatu keputusan etik yang tepat tetapi masalah nya keputusan etik yang tepat tidak mudah di bayangkan sebab pada kenyataan nya oekerja sosial dihadapkan kepada dilema- dilema etik yang sangat sulit untuk di putuskan.

1. Dilema etik dalam praktik langsung

Dalam praktik langsung, menurut Reamer (1999:93) dilema etik paling tidak menyangkut tema-tema etik berikut sebagai berikut :

1. Kerahasiaan dan Privacy

2. Self- Determination dan paternalism

3. Membagi loyalitas

4. Batas profesionalitas dan konflik kepentingan

5. Antara nilai profesional dan nilai personal

6. Dilema etik dalam praktik tidak langsung

7. Keterbatasan sumber

8. Antara tanggung jawab pemerintah dan personal

9. Patut terhadap peraturan dan hukum

10. Dilema menagemen lembaga

11. Memperingatkan teman sekerja.

.PRINSIP- PRINSIP HAM

(10)

Prinsip HAM yang satu ini dibagi menjadi dua pemahaman, universal dan tidak dapat dicabut. Jika ditarik dari akar bahasanya, maka universal berasal dari katauniverse, yang mana pemahaman atas kata universe ini sendiri terbagi menjadi tiga, yaitu alam semesta, keseluruhan bidang, dan semua.

2. alam semesta yang berarti “di seluruh dunia”. HAM ada di mana-mana dan tidak ada satu pun jengkal tanah dan lautan di dunia ini yang tidak menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Misalnya, kalau kita lagi di Jakarta, kita punya HAM. Begitu kita pergi ke Semarang, HAM itu hilang.. Kemanapun kita pergi, HAM itu tetap melekat pada kita.

3. seluruh Bidang”. HAM mencakup keseluruhan bidang atau sisi-sisi hidup manusia. Ada HAM untuk kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, pribadi. Tidak ada satu pun bidang kehidupan manusia yang tidak terdapat HAM di dalamny

4. HAM untuk semua manusia. Tidak peduli kita kulit putih atau hitam, orang Jawa atau Minang,. Intinya, HAM itu dimiliki orang karena mereka manusia. Ia berlaku untuk siapa saja, kapan saja, di mana saja, dan dalam sisi kehidupan mana saja.

2. Saling Terkait

Tiap hak asasi yang dimiliki oleh manusia, hak untuk hidup, menyatakan pendapat, memilih agama dan kepercayaan, menjadi bagian dalam masyarakat, dan hak lainnya, adalah hak-hak yang mempunyai keterikatan satu dengan yang lainnya dan membentuk HAM secara keseluruhan. Prinsip Saling Terkait mempunyai dua unsur, yaitu interdependence (saling membutuhkan) dan interrelatedness (saling terhubung).

3. Tidak Dapat Dibagi

Prinsip ini sebenarnya merupakan pengembangan dari prinsip Saling Terkait. Secara logika, apabila hak-hak asasi yang kita miliki terkumpul menjadi satu kesatuan, akan jelas bahwa HAM itu tidak dapat dibagi,Sebagai analogi, seorang manusia tidak bisa hanya menerima hak politik tanpa menerima hak sosial dan budaya. Atau seseorang mustahil hanya mempunyai hak pribadi tanpa memiliki hak ekonomi.

4. Kesetaraan dan Non-Diskriminatif

Semua manusia terlahir bebas dan memiliki kesetaraan dalam hak asasi manusiaPrinsip non-diskriminasi itu sederhana. Kita memperlakukan orang lain secara setara tanpa melihat perbedaan status sosial, ekonomi, gender, budaya, politik, maupun agama.

5. Partisipasi dan Inklusif

setiap orang memiliki hak untuk turut serta dalam pemerintahan tanpa memandang atribut-atribut yang melekat kepadanya.Selain itu, partisipasi juga menegaskan bahwa setiap manusia harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk diterima dalam suatu komunitas atau masyarakat. Hal ini berkaitan dengan prinsip setara dan non-diskriminasi.

(11)

Dua prinsip terakhir ini lebih mengarah kepada pemerintah kita biar mereka tidak seenaknya me-’modif’ hak-hak kseseorang kedua prinsip ini jadi landasan untuk menuntut pemerintah dalam melindungi hak asasi kita sebagai warga negara.

Pelayanan Pekerja Sosial Berbasis HAM

Pekerja sosial adalah bidang keahlian yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan berbagai upaya guna meningkatkan kemampuan orang dalam melaksanakan fungsi-fungsi sosialnya melalui interaksi; agar orang dapat menyesuaikan diri dengan situasi kehidupannya secara memuaskan. Kekhasan pekerja sosial adalah pemahaman dan keterampilan dalam memanipulasi perilaku manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam profesi pekerja sosial terdapat pelayanan-pelayanan yang berbasis HAM, dalam artian seorang pekerja sosial tidak boleh melewati batasan-batasan HAM,

Berikut adalah bentuk Pelayanan Pekerja sosial berbasis HAM, yaitu :

1. Diskriminasi. Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain. Seorang pekerja sosial tidak boleh memperlakukan Klien nya secara tidak adil, baik dipandang dari karakteristik suku, antar golongan, agama, jenis kelamin kepercayaan (Agama) , aliran politik ataupun kondisi fisik klien nya.

2. Affirmative Action (tindakan Afirmatif). Affirmative action (tindakan afirmatif) adalah kebijakan yang diambil yang bertujuan agar kelompok/golongan tertentu (gender ataupun profesi) memperoleh peluang yang setara dengan

kelompok/golongan lain dalam bidang yang sama. Dalam hal ini seorang pekerja sosial tidak boleh membeda-bedakan klien nya dalam menyelesaikan masalah, karena klien nya tersebut bisa jadi dari kumpulan adat terpencil ataupun berasal dari kaum minoritas baik dari segi apapun, pekerja sosial harus melayani klien nya tersebut.

3. Anti Kekerasan. Dalam hal ini pelayanan yang diberikan oleh seorang pekerja sosial tidak boleh dalam bentuk kekerasan, baik dari perkataan, sikap dan hal-hal lain yang termasuk dalam kategori kekerasan.

4. State Obligation (Kewajiban Negara).

Referensi:

1. Budi Wibhawa, Santoso Tri Raharjo & Meilany Budiarti. 2010. Dasar-Dasar Pekerja Sosial. Bandung: Widya Padjadjaran.

(12)

Referensi

Dokumen terkait

 Pada pembiayaan preventive maintenance yang dilakukan pada saat nilai kenadalan mencapai 70%, 60% dan 50% berturut-turut diperoleh pada masing-masing komponen..

Hasil ini tampak bertentangan dengan pandangan umum yang menyatakan bahwa nilai tukar rupiah berpengaruh terhadap kebijakan penentuan tarif BPIH mengingat komponen terbesar

Chapter II Literature Review, including description of basic theory of the research which are about science virtual test, paper-based test, students critical

Keterampilan non-teknis yang mampu diterima di era Industri 4.0 setidaknya harus mengandung unsur Knowledge Work yang memiliki peran mediasi produktivitas pekerja

Etika dan aturan konservasi Pengelolaan sumber daya alam secara tradisional telah dilakukan oleh masyarakat suku asli yang berada dalam kawasan taman nasional wasur

1. Untuk mengetahui bagaimana proses yang dilakukan dalam pembelajaran materi himpunan dengan metode kooperatif tipe TAI. siswa kelas VII A SMP

Dosen Pengampu : Wiwit Ariyani, SH, Mhum. Di susun oleh kelompok : Ketua

Quantum Teaching untuk Meningkatkan Hasil Belajar Al- Qur’an Hadits Siswa Kelas VB MI Al Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan Tulungagung”.. Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang