SOSIOLOGI POLITIK
MEMIKIRKAN KEMBALI SISTEM PEMERINTAHAN
Disusun Oleh Kelompok 6:
Diah Perwitasari
(4115133783)
Gilang Ahmad
(4115133801)
Khoirun Nisa
(4115133774)
May Rinta Sari
(4115133787)
Muhammad Hanif
(4115133781)
Tyas Ayu Karyasih
(4115137055)
Yulia Najeges
(4115137050)
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga berhasil menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Memikirkan Kembali Sistem Pemerintahan”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Sosioologi Poltik.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Penulisan...2
BAB II PEMBAHASAN A. Teori-Teori Kontemporer Tentang Negara dan Masyarakat Sipil...3
B. Peralihan Post-Modern...3
C. Konsep Konservatisme...5
D. Giddens: melampaui Kiri dan Kanan...5
E. Beck : Masyarakat Risiko dan Penemuan Kembali Politik...8
F. Penilaian Kritis terhadap Giddens dan Beck...10
K. Memikirkan Kembali Kiri...12
L. Penilaian Kritis terhadap Miliband dan Wainwright...13
M. Pluralisme Radikal: Menuiu Konvergensi Teoretis...16
N. Pemerintahan Global...21
O. Teori Hubungan dan Risiko Global...22
P. Dilema Keamanan Baru...23
Q. Menuju Pemerintahan Global...24
R. Rezim Rezim Internasional...25
S. Perserikatan Bangsa Bangsa...27
T. Masyarakat Sipil Global...31
BAB III KESIMPULAN...36
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Para sosiologi kontemporer telah memahami hubungan antara negara dan masyarakat sipil dan telah berusaha menangkap persoalan yang dimunculkan oleh hubungan ini terhadap pemerintahan manusia dan juga telah bergulat dengan masalah tentang bagaimana hubungan negara dan masyarakat sipil dapat direformasi agar bisa secara efektif menghadapi perubahan sosial.
Fokus utama sosiologi politik adalah relasi kekuasaan yang saling tergantung antara negara dan masyarakat sipil. Kesimpulan ini akan mencakup tinjauan terhadap elemen-elemen utama argumen ini, sekaligus pembahasan singkat tentang cara-cara yang bisa ditempuh sosiologi politik untuk menjawab persoalan kontemporer dalam pemerintahan.
Pertanyaan yang harus selalu dijawab oleh sosiologi politik adalah: bagaimanakah kekuasaan didistribusikan dan dilembagakan dalam masyarakat? Jika kita hendak menjawab pertanyaan ini, maka teks ini berpenierian bahwa sangatlah penting untuk mengakui sentralisasi negara. Hal ini karena negara-lah yang merupakan institusi politik yang paling mampu memusatkan semua sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kekuasaan ekonomi, komunikasi, dan militer. Namun, arti penting negara belum dapat diterima oleh semua sosiologi politik.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori-Teori Kontemporer Tentang Negara dan Masyarakat Sipil
Proses perubahan sosial bukan hanya menunjukkan berlanjutnya kekuasaan negara, namun juga memperlihatkan betapa probelematis dan kontradiktifnya hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Jika pemerintahan hendak diperbaiki, kemampuan negara untuk memusatkan kekuasaan harus diakui dan dilawan. Relevansi berbagai ideologi kaum modernis dalam membentuk sistem pemerintahan masa depan. Bagi Giddens dan Beck, liberalisme dan sosialisme telah kehabisan tenaga, ketika berbagai proyek pencerahan telah menemui keterbatasannya. Miliband dan Mainwright mempertahankan esensi sosialisme sebagai teori emansipatoris (pembebasan).
Teori-teori ini melalui adaptasi besar-besaran terhadap teoriteori klasik, telah mengalami konvergensi (pengerucutan) menuju posisi pluralis radikal, dengan int berupa demokratisasi negara dan masyarakat sipil. Teori demokrasi asosiatif oleh Paul Hirst, teorinya merupakan contoh tepat mengenai pluralisme radikal dan uoaya paling menarik untuk memikirkan kembali hubungan negara-masyarakat sipil. Pada awal abad ke-20 ini paling tepat digambarkan sebagai dunia post-modern, dan karenanya berada di luar kemampuan logika kaum modernis untuk menerangkannya.
B. Peralihan Post-Modern
Post-modernisime melontarkan kritikan tajam terhadap semua proyek teoritis
Untuk menggantikan individualisme statis dalam liberalisme, dan kolektivisme opresif Marxisme, post-modernisme menekankan fragmentasi, reativisme, dan multi-identitas −¿ yang seringkali saling bertentangan. Mengistimewakan satu identitas, satu fragmen, atau satu ‘kebenaran ' , berarti menindas posisi lain yang sama-sama sahih.
Sebagaimana identitas, kekuasaan dipahami mempunyai aneka segi. Seperti dinyatakan Foucault, kekuasaan hadir dalam ‘institusi sosial, ketimpangan ekonomi, bahasa, pada tubuh kita masing-masing ' (Foucaut, 1980). Setiap sistem pengetahuan, yang oleh kaum post-modernis disebut wacana (diskursus), niscaya melibatkan pendayagunaan kekuasaan. Oleh karena itu, sifat kekuasaan yang selalu-hadirdalam hubungan manusia, maka usaha untuk menetapkan sumber utama kekuasaan −¿ misalnya pada negara, suatu kelas, atau kelompok korporasi −¿ akan sia-sia.
Post-modernisme memiliki kekuatan. Marxisme dan liberalisme di permukaan terlihat emansipatoris, namun bertumpu pada konsep-konsep keadilan, peramaan hak, dan persaudaraan yang jelas-jelas bernuansa gender. Dalam menegaskan bahwa kekuasaan dijalankan d tingkat mikro selain juga makro, karya para penulis seperti Foucault terkait erat denan gagasan kaum feminis tentang ‘pribadi adalah juga politik ' . Konsep wacana kekuasaan yang beroperasi melalui bahasa juga bermanfaat dalam analisis terminologi seksis yang demikian merata, dan membantu mengkondisikan interaksi anatra pria dan wanita dalam kehidupan sehari-hari, namun kontribusinya dari segi perhatian sentral sosiologi politik bersifat terbatas. Hal ini karena kaum post-modernis sangat kuat dalam kritik (tentang gagasan universalitas dan keterbatasan meta-naratif) tetapi tidak banyak menawarkan jalan alternatif yang konstruktif terhadap pendapat kaum modernis yang mereka cela.
relativisme yang ekstrim dan nihilistik, yang kembali kepada fatalisme pra-modern, atau mengarah pada perebutan kekuasaan a la Nietzsche, di mana yang kuat yang berjaya atas yang lemah. Kedua, kritik post-modern terhadap liberalisme ironisnya justru memberikan suatu perspektif libertarian yang radikal, ketika satu-satunya yang penting adalah kebebasan untuk memilih, bukannya hakikta atau akibat pilihan itu sendiri.
C. Konsep Konservatisme
Giddens (1994) dan Beck (1992, 1997) mengakui keterbatasan post-moderisme dalam mengenali persoalan pemerintahan yang dihadapi oleh masyarakat modern. Bagi Giddens (1994), post-modernsime berujung pada ‘pengakan tentang ketidakberdayaan dalam menghadapi kekuatan yang lebih besar dibanding diri kita ' . Beck lebih melihat potensi dalam post-modernisme, namun Ia sependapat tentang gagasan kemodernan yang diskonstekstualkan kembali bukannya sekadar asumsi kaum post-modernis bahwa perubahan sosial yang mempengaruhi modernisasi lebih menandakan kematiannya dibandingkan perubahannya enuju sebuah bentuk baru.
Kedua pemikir ini ingin memisahkan penyerupaan modernisasi semata-mata dengan agasan industrialisme. Proses globalisasi dan tumbuhnya kesadaran sosial berarti bahwa kemodernan mengandung benih-benih pembaruannya sendiri, selain potensi penghancurannya. Seperti telah ditulis Beck (1977), ‘ada banyak kemungkinan modernitas ' . Kemiripan teori antara Giddens dan Beck sangat mencolok.
D. Giddens: melampaui Kiri dan Kanan
komunitas-komunitas local dan proses global kemodernan. Produk-produk masyarakat moderb, seperti telekomunikasi, mikrokomputer, dan satelit, telah memungkinkan modernisasi menjadi sadar-diri, dan Giddens menggunakan istilah refleksifitas sosial (social reflexivity)untuk menyebut proses ini.
Masalah pokok yang kita hadapi adalah ketidakpastian buatan (manufactured uncertainty), yang berisi bahaya-bahaya yang kita buat sendiri, ‘pencapaian’ modernisasi dalam menciptakan teknologi pemusnahan dan komunikasi yang semakin canggih, berarti bahwa kita dalam waktu bersamaan mengalami resiko kepunahan yang lebih besar dan semakin sadar bahwa kemungkinan ini memamng ada. Marxisme maupun liberalisme tidak dapat memberikan sebuah program perubahan yang koheren, oleh karena itu diperlukan upaya melepaskan diri dar dogma kiri an kanan. Sosialisme tidak menawarkan sebuah alternatif; dengan runtuhnya komunisme, kaum kiri terdesak ke sikap ideologis defensif, yang berpusat pada visi negara kesejahteraan yang ketinggalan jaman.
Peran politik generatif adalah mendirikan institusi yang menumbuhkan otonomi pribadi maupun tanggung jawab individu kepada diri sendiri dan kepada masyarakat yang lebih luas. Demokrasi yang dipahami bukan sebagai pembelaan kepentingan golongan seperti dalam pendapat kaum pluralis klasik, melainkan sebagai suatu proses yang mengedepankan ‘kepercayaan aktif ' , toleransi dan keanekaragaman, melalui pembahasan masalah pemerintaan secara kolektif. Demokasi seperti ini tidak dapat dibatasi sekadar pada institusi-institusi demokrasi liberal (meskipun Giddens memandang semua ini tetap penting artinya), tetapi juga meluas kepada gerakan sosial dan kelompok-kelompok swadaya (delf help); ‘peleton-peleton kecil ' ini (meminjam ungkapan Burke) membantu membangun keercayaan-diri dan kesehatan mental yang menjadi inti keberhasilan politik kehidupan.
Perkembangan solidaritas tidak dapat dipuouk dalam masyarakat sipil yang direvitalisasi. Pertama, hak ini karena intensifikasi globalisasi berarti bahwa tidaklah praktis merevitalisasi sebuah komsep yang terikat erat dengan negara yang semakin ketinggalan zaman. Kedua, jika dimungkinkan untuk meningkatkan otonomi masyarkat sipil, ia bisa menjadi dasar yang kuat bagi penegasan kaum fundamentalis atas keanekaragaman bangsa dan etnis, yang bertentangan dengan prinsip demokrasi dialogis.
Adanya ancaman ketidakadilan kekuasaan besar-besaran yang dihadapi masyarakat modern. Namun, sistem kesejahteraan seperti yang dipertahankan oleh sosialisme perlu diberi politik generatif dosis tinggi; ia tidak lagi memadai untuk menghadapi masalah ketika timbul nanti. Sebaliknya, kesejahteraan harus dipikirkan kembali sebagau pencegahan dan kehati-hatian. Hal ini mengharuskan dekonstruksi terhadap kesejahteraan model statis, dan sebaliknya melibatkan sebuah proses mendalam di antara berbagai penyedia kesejahteraan dan penerima manfaat, untuk merancang bantuan tersebut guna memaksimalkan otonomi pribadi.
kemakmuran dan peluang bagi banyak orang, sekaligus meningkatkan resiko bagi kita semua. Hal ini menuntut kita untuk secara radikal meninjau kembali pemahaman kita tentang pemerintahan, dan ironisnya memkasa kita untuk menilai ulang kritik konservatif terhadap modernitas dan mengatur skeptisme sehatnya untuk kondisi dunia saat ini.
E. Beck : Masyarakat Risiko dan Penemuan Kembali Politik
Beck memiliki kecemasan terhadap semakin menguatnya risiko dalam moderenitas mutakhir. Oleh karena itu, pokok pertanyaanya politik dimasa sekarang adalah “Bagaimana resiko dan bahaya yang secara sistematis diproduksi sebagai bagian moderenisasi bisa dicegah, diminimalisir, didramatisasi ataupun disalurkan?”
Efek samping industrilisasi dan sains telah menggantikan konflik kelas sebvagai penggerak baru sejarah, menurut Back para penyokong ideologi moderenisasi seperti orang buta yang sedang membahas warna”. Perjuangan atas persamaan hak digantikan oleh pemeliharaan jaminan hidup. Seperti yang diungkapkan Beck efek samping produksionis dan eksperimen para ilmuan yang secara politik tidak dapat di pertanggungjawabkan memperlihatkan tidak adanya rasa hormat terhadap batasan-batasan manusia, entah itu bersifat sosial ataupun geografis. Bagi Beck negara telah kehilangan kredibelitasnya karena ia gagal melindungi warganya dari resiko yang ia sendiri telah membantu menciptakannya, tertib hukum tidak lagi memupuk kedamaian sosial karena menenggang bahayanya berarti menyetujui dan melegitimasi kemunduran masyarakat secara umum.
terhadap risiko-risiko peradaban, karena jelas terlibat dalam awal mula dan berkembangnya semua resiko tadi.
Kaidah panduan bagin politik kontemporer haruslah berupa apa yang disebut Beck sebagai “seni keraguan” optimisme solusi manusia untuk persoalan global yang ditemukan dalam ideologi pencerahan liberalisme dan sosialisme harus digantikan oleh skeptisme baru. Bahkan bagi Beck ‘Program politik untuk kemoderenan yang teradikalisasi adalah skeptisme’. Skeptis disini pada gilirannya harus diilhami oleh ide konservatif tentang harmoni umat manusia dengan alam. Seperti ungkapan Beck, moderenitas refleksi melibatkan ‘berakhirnya anti-tesis antara alam dan masyarakat’. Etos moderenisasi tentang menguasai alam harus memberi jalan bagi etika perawatan, perbaikan, dan konservasi.
telah menghilang. Akibatnya, sub-politik telah mengambil alih peran penting dari politik dalam membentuk masyarakat.
Dengan berkembangnya masyarakat risiko, dan pendefinisian ulang politik yang terkait dengannya, Beck menyatakan bahwa individu sedang dibebaskan dari bentuk-bentuk sosial dalam masyarakat industri. NSMs sangat penting dalam proses penghubungan antara aktualisasi diri individu dengan situasi risiko baru. Dalam perlawananya terhadap negara dan intervensi perusahaan kedalam ranah privat, NSMs (menurut Back), bisa menciptakan basis baru bagi pemerintahan yang didirikan bukan diatas peran sosial yang telah tergariskan namun muncul dari identitas diri yang dirancang secara dasar.
F. Penilaian Kritis terhadap Giddens dan Beck
Dalam penekanan mereka atas individualisasi kedua pemikiran ini, mengabaikan alasan-alasan struktural yang menyebabkan ketidak adilan dan masalah politik. Persoalan terus menerus dalam kapitalisme dan pembagian kelas masyarakat sipil menjadi inti pendapat kaum sosialis seperti Miliband. Namun selain kurang memperhitungkan dampak negatif kapitalisme, Giddens dan Beck juga gagal memberi cukup perhatian terhadap masalah negara. Giddens berakhir pada pandangan yang sangat liberal tentang hubungan negara liberal menciptakan kondisi-kondisi umum legitimasi, namun suatu negara yang menyandarkan legitimasi pada kekerasan itu sangat bermasalah. Bahan dalam konteks lain Giddens mengakui bahwa ada kontradiksi antara kekerasan dan legitimasi, karena legitimasi mengisyaratkan adanya komunikasi dan persetujuan.
Giddens juga berasumsi bahwa sebagian besar aspek kehidupan harus benar-benardijauhkan dari ranah publik, sebab jika tidak, negara akan cenderung menjangkau mereka dan menjadi suatu otokrasi. Teori Giddens yang tersirat leberal tentang negara menjadikan waspada terhadap masyarakat sipil yang terlepas dari kemampuan mengatur seperti negara. Namun, hal ini bertentangan dengan dukungannya terhadap politik generatif dan demokrasi deliberatif. Kontradiksi ini muncul daloam teori Giddens, karena ia memahami masyarakat sipil hanya dalam pengertian liberal, sebagai sisi lain dari negara. sehingga ketika negara dihilangkan dari persamaan Giddens berasumsi bahwa ketegangan laten, yang dimasa lalu diredakan oleh negara, akan diakibatkan pada ‘meningkatnya potensi kekerasan.
antara teknologi, kapitalisme, dan negara. Namun dengan penolakan terhadap kritik sosialis dan penegasanya tas individualisasi Beck agak nmengabaikan konteks struktural yang menjadi inti dari kegagalan negara kapitalis liberal. Oleh karena itu ia gagal membangun logika pendapatnya secara utuh.
G. Memikirkan Kembali Kiri
Bagi Miliband dalam Socialism for a sceptical Age (1994), dan Wainwright dalam Argument for a new left (1994), ketimpangan kapitalisme lah yang menjadikan sosialisme sebagai satu-satunya alernatif yang masih koheren dan benar-benar radikalterhadap liberalisme. Bahkan ia menyatakan bahwa sosialisme ini adalah suatu penolkan terhadap Marxisme klasik dan menunjukan bahaya suatu hegemoni baru pengunduran diri di mana kita berusaha hidup dengan sistem liberal yang sudah cacat sejak awal. Dalam usaha merevitalisasi pemikiran sosialis klasik berkaitan dengan perubahan sosial Miliband berusaha memberikan sebuah visi alternatif tentang pemerintahan.
kekuasaan. Untuk itu millband lebih setuju jika unsur-unsur industri berada dibawah pengawasan lembaga publik.
Winwirght salah satu yang menyokong solusi sosialis, ia menawarkan sebuah visi pemerintahan yang lebih terpusat pad pergerakan sosial dan lebih sekeptis terhadap peran negara dibanding teori Milband, dia berpendapat bahwa pendekatan seperti itu khusunya relevan dengan konteks Eropa Timur, dimana pengalaman komunisme yang negara sentris telah menggoda banyak orang untuk beralih pada kritik neo liberal terhadap negara an meyokong pasar bebas sebagai jalan keluar menuju kebebasannya.
Benang merah pendapat Wainwright adalah kritik terhadap teori pengetahuan yang didukung oleh kaum neo-liberal. Menurut Wainwirght NSMs(gerkan sosial baru) menegaskan produksi pengetahuan yang pada dasarnya bersifat sosial. Melalui kampanye-kampanye lokal, struktur kekuasaan yang terdesentraisasi dan tidak hierarkis serta pengambilan yang hati-hati, gerakan bukan hanya membangun kepercayaan diri para anggotanya, melainkan juga produksi bentuk pengethaun baru dan menciptakan cara berfikir baru tentang persoaln pemerintah. Jalan maju bagi Wainwirght adalah desentralisasi srtruktur kekuasaan untuk memungkikan lebih besarnya sewakelola politik dalam ekonomi. Pengethuan inovatif NSMs juga harus terbangun di dalam sistem perwakilan yang lebih luas.
H. Penilaian Kritis terhadap Miliband dan Wainwright
negara sebagai suatu faktor yang sangat penting dalam menciptakan jurang pemisah, baik di dalam maupun antarnegara.
Khususnya, ada kecenderungan dalam pendapatannya bahwa Marxisme tidak terkait dengan praktik negara komunis di Uni Soviet dan Eropa Timur. la mengakui bahaya negara otoriter, model Soviet, namun gagal menjelaskan mengapa negara seperti ini telah muncul di semua negara yang telah mengklaim Marxisme sebagai cahaya pemandunya. Jika hal ini karena para individu yang salah menggunakan atau salah menafsirkan Marx, maka siapa yang bisa mengatakan hal ini tidak akan terjadi lagi? Pandangan seperti itu berarti mengabaikan lemahnya pandangan Marx tentang politik dan metode transisi komunisme Persoalan konsep negara dalam karya Miliband digambarkan dalam pembicaraannya tentang Nazi Jerman dan Perang Dingin.
Meski mengakui bahwa rencana Nazi didasarkan pada banyak dorongan hati yang berbeda-beda, Miliband berpendapat bahwa hubungan erat antara Sosialisme Nasional dan bisnis 'bertahan hingga berakhirnya rezim Nazi' (Miliband, 1994: 36). Namun, banyaknya catatan sejarah dalam periode tersebut menunjukkan bahwa Miliband meremehkan ketegangan antara tujuan negara Nazi dan kepentingan bisnis. Seperti ditulis Kershaw (1993: 49), “momentun irasional rezim Nazi yang pada akhirnya menghancurkan diri sendiri (menegasikan)....potensi sistem sosial-ekonomi untuk mereproduksi dirinya sendiri”. Hubungan antara bisnis dan rezim negara adalah sangat kompleks dan melibatkan pergeseran dinamika kekuasaan antarberbagai sayap partai Nazi dan berbagai bidang bisnis sebelum dan selama perang. Namun, tahun-tahun terakhir perang memperlihatkan 'semakin memuncaknya nihilisme Nazisme radikal di atas kepentingan ekonomi “rasional” (Kershaw, 1993:58). Hal ini menunjukkan bahwa Nazisme adalah sebuah fenomena yang terbatas pada masalah kekuasaan negara alih-alih persoalan kapitalisme: isu-isu militerisme negara dan rasisme negara adalah sentral dalam memahami fenomena Nazi.
pemain utama yang inheren dalam setiap sistem negara, entah ada pembagian ideologis yang mendalam ataupun tidak (Millband, 1994:36-42). Dalam kasus Perang Dingin, seperti dalam analisisnya tentang rezim Nazi, Miliband berada dalam bahaya ekonomisme, yang ikut andil dalam tiadanya teori yang maju tentang negara dan pemerintahan dalam Marxisme
Kenyataan bahwa ada kekosongan dalam Marxisme mengenai pemerintahan dalam suatu masyarakat pasca kapitalis, diakui secara tersirat ketika Millband menegaskan bahwa “penolakan atas pernisahan antara legislatif dan eksekutif” oleh Marx dan Lenin adalah “tidak realistis” (Miliband, 1994:82). Jawaban Miliband terhadap masalah ini adalah dipertahankannya mekanisme demokrasi liberal (meskipun sangat direformasi). Harapan Miliband terhadap sosialisme pada akhirnya bersandar pada pergeseran dalam masyarakat industri menuju dukungan pemilih kepada partai sosialis. Miliband membahas kemungkinan penciptaan mesin media yang bias dan penggunaan kekuasaan darurat jika diperlukan, untuk mengakhiri resistensi yang tak sah, ketika sosialisme berkuasa. Solusi statis Miliband terhadap berbagai persoalan ini tentunya untuk mengucilkan banyak kelompok radikal di blok kiri yang diidentifikasi oleh Wainwright sebagai mewakili potensi baru metode desentralisasi pemerintahan sosialis. Salah satu alasan mengapa harapan Miliband untuk suatu pemerintah sosialis radikal dan terpilih tampaknya mustahil adalah kegagalan partai sosialis untuk memperhitungkan kebutuhan akan sebuah jenis baru politik “generatife” yang diteorisasikan oleh Giddens dan didukung oleh penegasan Wainwright atas sifat sosial pengetahuan manusia. Seperti dijelaskan oleh Wainwright, agen-agen individulah yang harus menjalankan tanggung jawab penciptaan masyarakat alternatif (Wainwright, 1994:122).
adalah pernyataan yang dilebih-lebihkan (Wainwright, 1994: 241). Kesulitan ekonomi dan politik Uni Soviet dalam mempertahankan gudang persenjataan militer yang banyak jauh melebihi tekanan apapun dari kelompok-kelompok seperti Kampaye untuk Perlucutan Senjata Nuklir. Meski demikian, sosialisme Wainwright adalah menarik dalam segi konvergensi atau pengerucutannya menuju unsur-unsur pluralisme dan dalam penerimaan parsialnya terhadap kritik atas negara yang dilontarkan oleh kalangan neo-liberal dan NSMs. Namun, dilema NSMs, yang ingin mengadakan perubahan sosial radikal, dan sekaligus berada di luar struktur politik tradisonal, menunjukkan pentingnya suatu metode untuk mengkombinasikan struktur terdesentralisasi gerakan seperti itu dengan sistem pemerintahan yang lebih tersentralisasi.
I. Pluralisme Radikal: Menuiu Konvergensi Teoretis
Argumen Wainwright tentang sosialisme secara tegas menyerukan kebutuhan akan pertimbangan kembali hubungan antara liberalisme dan sosialisme, dan antara negara dan masyarakat sipil. Dia menulis perlunya “suatu jenis kiri baru: di mana suatu liberalisme yang telah bergerak melampaui individualisme bekerja-sama dan bersaing dengan suatu bentuk sosialisme yang tidak lagi bergantung pada negara bangsa” (Wainwright, 1994: 16). Argumen seperti ini mewakili kecenderungan umum di antara banyak sosiolog politik yang menjadi lebih beragam dalam pendekatan mereka terhadap persoalan hubungan negara dengan masyarakat sipil. Kegagalan negara sosialisme, munculnya NSMs, post-modernisme, dan neoliberalisme sebagai tantangan radikal terhadap statisme dan diakuinya proses internasionalisasi, atau bahkan globalisasi, telah menjadi sebagian alasan utama untuk konvergensi teoretis ini.
politik dalam demokrasi liberal. Sejumlah pengarang, terutama Etzioni-Halevy (1993), bahkan telah membuat pembelaan kuat atas landasan normatif, dan juga praktis, untuk melindungi otonomi elit, yang menurutnya telah menjadi basis keberhasilan demokrasi liberal. Namun, semua teoretisi yang dikaji dalam bab ini secara implisit maupun eksplisit menentang dipertahankannya kekuasaan elit, Bahkan dalam karya Giddens dan Miliband, di mana konsep negara amat problematis dalam argumen mereka, ada penerimaan atas kebutuhan untuk pendekatan yang lebih bottom-up terhadap persoalan pemerintahan, di mana individu memainkan peranan yang jauh lebih aktif dan bertanggung jawab. Sebagian besar pemikir sekarang ini menerima bahwa keliru jika mengidentifikasi kekuasaan sebagai terletak pada suatu bagian tunggal dalam masya- rakat sipil, dan mereka menggunakan pendirian pluralis tentang keanekaragaman, sebagai benteng pertahanan statisme otoritarian.
Sebagai akibat perubahan sosial yang sangat cepat, relasi yang tepat antara negara dan masyarakat sipil telah menjadi sangat problematis. Hasilnya adalah ketertarikan yang lebih besar kepada demokrasi, bukan hanya sekadar sarana untuk meraih tujuan, namun sebagai suatu kebaikan itu sendiri. Misalnya, Giddens dan Wainwright menekankan bagaimana perdebatan dan partisipasi demokratis dapat membangun keyakinan dan kepercayaan antarindividu. Seperti telah kita lihat, bahkan Miliband (dalam rekomendasi konstitusionalnya) menerima potensi ketegangan antara Marxisme dan demokrasi. Jadi, sebagian besar pemikir kontemporer mengecilkan demokrasi sebagai suatu pencarian kebenaran tunggal, dan sebaliknya menekankan proses pertimbangan dan pembangunan konsensus sebagai hal yang berharga. Semua pemikir yang telah dikaji juga mendukung pendekatan pluralis terhadap ekonomi. Bahkan pengamat Marxis sekarang ini cenderung menyokong suatu ekonomi campuran, atau setidaknya yang sangat terdesentralisasi, dan sebagian besar telah menolak pandangan deterministik sederhana tentang hubungan antara ekonomi dan jenis-jenis kekuasaan yang lain.
Marxisme saat ini. Jessop menyatakan bahwa yang dibutuhkan adalah analisis tentang hubungan antara negara dan masyarakat, dimana tak satu pun dari keduanya yang diberi signifikansi secara a priori. Jessop menyatakan bahwa kekuasaan negara, “tidak bisa direduksi menjadi suatu realisasi sederhana dari apa yang diakui sebagai kebutuhan atau kepentingan modal” (Jessop, 1990: 354). Dalam pendekatan “strategi rasionalnya”, Jessop dengan sadar berpindah dari ekonomisme ke suatu pandangan pluralis radikal tentang dinamika negara-masyarakat sipil. Baik negara maupun institusi negara-masyarakat sipil memiliki sumber daya independen yang menjadikan dominasi total satu terhadap yang lainnya menjadi mustahil. Oleh karena itu, “negara membentuk masyarakat dan kekuatan sosial membentuk negara” (Jessop, 1990:361-2).
Tugas yang dijalankan oleh pengamat pluralis radikal seperti Hirst (1994) adalah berusaha mengatasi paradoks tadi dengan secara parsial melepaskan hubungan antara negara dan masyarakat sipil. Dalam bukunya Associative Democracy (1994), Hirst membuat satu usaha yang paling menarik untuk mendamaikan negara dan masyarakat sipil melalui seruan perubahan fundamental terhadap hubungan keduanya. Menurut Hirst, tantangannya adalah membangun di atas dasar ide-ide liberal seperti otonomi individu, kebebasan, dan keragaman dengan menjadikan nilai-nilai tersebut riil bagi seluruh anggota masyarakat.
Khususnya, dampak destruktif kemiskinan dan ketidakberdayaan atas kehidupan individu perlu disoroti. Namun, pada saat yang sama, Hirst mencatat bahaya solusi sosialis yang berusaha menyelesaikan masalah tadi melalui intervensi negara. Pendekatan penganut statis ini berarti “pemberlakuan aturan dan standar pelayanan yang sama terhadap tujuan yang semakin beragam dan pluralistik dari anggota masyarakat modern” (Hirst, 1994:6). Oleh karena itu, Hirst setuju dengan Beck dan Giddens tentang perlunya mengakui eksistensi penduduk refleksif dalam masyarakat industri, dan karenanya keniscayaan untuk mengadopsi model politik generatif. Apa yang ditawarkan Hirst adalah usaha untuk menyusun politik generatif melalui gagasan asosiasionalisme:
Asosiasionalisme memungkinkan lagi demokrasi representatif yang bertanggung jawab, dengan membatasi jangkauan administrasi negara, tanpa mengurangi pemberian bantuan sosial. Hal ini memungkinkan masyarakat berbasis-pasar untuk mewujudkan tujuan sebenarnya yang dikehendaki oleh warga negara, dengan melekatkan sistem pasar ke dalam jaringan sosial institusi-institusi yang koordinatif dan teregulasi (Hirst, 1994: 12).
menyediakan dana publik untuk perkurnpulan-perkumpulan ini, Sejumlah tugas, seperti pertahanan nasional, masih perlu beroperasi di tingkat negara. Namun, pemerintahan akan semakin melibatkan warga negara dalam membuat keputusan, dan negara menetapkan sebuah kerangka regulasi dan standar umum (Hirst, 1994:24). Menurut Hirst, permasalahan dalam sistem politik representatif bukanlah representasi itu sendiri, namun lebih pada jangkauannya.
Dalam perhitungan Hirst, desentralisasi demokrasi akan membantu mencegah tirani mayoritas di tingkat negara. Hal ini juga akan meningkatkan komunikasi antara berbagai tingkat pemerintahan, dan dengannya menggali pengetahuan yang dihasilkan di tingkat lokal yang biasanya diabaikan atau dilangkahi dalam sistem yang lebih terpusat. Perkumpulan sukarela, yang diberdayakan dengan uang publik, bisa juga menjadi suatu cara yang lebih sesuai untuk meningkatkan hubungan dengan kelompok serupa di negara lain. Oleh karena itu, asosiasionalisme mungkin lebih siap dibanding negara antagonistik dalam menghadapi tantangan dunia semakin saling-tergantung (Hirst, 1994: 71), Asosiasi-asosiasi yang dipromosikan oleh Hirst akan sangat beraneka-ragam, meliputi organisasi gereja, kelompok sukarela, dan NSM. Masing-masing akan mampu mengorganisasi diri mereka sendiri dengan cara apapun yang mereka pilih, asalkan mereka tidak melanggar hak-hak asasi individu, termasuk hak untuk keluar dari kelompok.
menekuni kegiatan budaya, melakukan kerja sukarela atau membangun kerjasama yang inovatif.
Dipandang dari segi ekonomi, Hirst membayangkan demokratisasi perusahaan-perusahaan yang akan didorong untuk menjadi asosiasi-asosiasi yang memerintah diri sendiri (Hirst, 1994: 146). Hirst menyarankan berbagai macam undang-undang pemberian dana dan insentif pajak yang akan memberikan kontrol lebih besar oleh tenaga kerja terhadap perusahaan. Keterbatasan ruang tidak memungkinkan saya untuk memerinci hal ini di sini, tapi poin intinya adalah bahwa sebuah ekonomi asosiatif akan berupa ekonomi di mana “doktrin pengelolaan ekonorni yang lebih terdesentralisasi dan bergantung pada mekanisme politik yang mengupayakan koordinasi dan pemenuhan regulasi melalui kerjasama aktor-aktor ekonomi” akan membantu mengurangi ketegangan antara negara dan masyarakat sipil (Hirst, 1994:96).
Teori Hirst bukanlah tanpa persoalan. Khususnya, para kkritikus bisa menunjuk pada kekuatan perlawanan terhadap serangan atas keistimewaan yang muncul akibat perubahan oleh asosiasionalisme, yang mungkin telah diremehkan oleh Hirst. Para elit tradisional akan cenderung berusaha menghalangi metode pemerintahan yang lebih kooperatif dan egaliter, terutama terhadap undang-undang radikal seperti jaminan penghasilan. Para penganut sosialis mungkin juga ingin menyatakan bahwa ketidakadilan pada tingkat global hanya dapat dilawan dengan komitmen pada sosialisasi struktur ekonomi yang lebih radikal dibanding yang dipertimbangkan oleh Hirst.
Namun, bentuk asosiasionalisme yang diteorisasikan oleh Hirst memang menyajikan versi pluralisme radikal yang paling menjanjikan. Pluralisme radikal menghasilkan penekanan yang lebih besar terhadap keagenan manusia, pengakuan terhadap persoalan negara, dan kebutuhan akan struktur ekonomi dan politik yang mencerminkan keanekaragaman masyarakat sipil. Gagasan-gagasan seperti itu menyiratkan adanya satu titik konvergensi teoretis bagi yang sosiolog politik kontemporer.
Globalisasi menyebabkan terjadinya berbagai resiko, negara pun ikut bertanggung jawab sepenuhnya dalam penciptaan berbagai risiko yang terjadi akibat global misalnya melalui penguayaan persenjataan yang semakin modern, dan penggalakan liberalisasi telah menimbulkan ketidakadilan global dan semakin memburukya kondisi lingkungan, negara juga tetap sebagai actor poitik yang paling cakap dalam melawan risiko-risiko tadi.
Beberapa kelemahan dalam teori hubungan internasional sebagai sebuah disiplin akademis yang paling berurusan dengan politik global merupakan eksplorasi sejauh mana institusi pemerintahan global telah mulai berkembang.
K. Teori Hubungan dan Risiko Global
Teori hubungan internasional berkenaan dengan kekuatan-kekuatan yang membentuk politik diluar batas suatu negara. Periode pasca-perang, alur teoretis yang dominan dalam disiplin ini adalah Realisme. Bagi kaum realis, negara adalah actor utama dalam hubungan dunia. Bagi penganut realis klasik, seperti Morgenthau konflik adalah ciri yang selalu hadir dalam sistem negara, karena ini ciri sifat manusia yang selalu ada. Gambaran yang dilukiskan Morgenthau tentang hubungan anarkis sistem internasional itu serupa dengan teori Hobbes tentang watak negara, yang menggambarkan ketidakamanan masyarakat tanpa negara. Bagi Hobbes, individu seperti halnya negara didorong oleh pencarian kepentingan sendiri dan akrenanya selalu ada kemungkinan adanya apa yang disebut Hobbes sebagai suatu “perang semua melawan semua”.
menyoroti irasionalitas yang mendasari pondasi logika tentang satu dunia yang terbagi menjadi negara-negara. Persoaan teori hubungan hubungan internasional mainstream terutama terletak dalam pemahamannya tentang kedaulatan dan keamanan negara.
Kedaulatan negara telah menjadi pondasi di antara sistem negara semenjak Treaty of Westphalia. Gambaran kaum realis klasik tentang sistem negara itu ibarat sejumlah bola bilyar yang terpisah dan keras, yang kadangkala bertabrakan dan tidak mampu membangun kepentingan bersama. Gambaran bola bilyar yang padat pun tersingkir digantikan oleh kiasan tentang negara ‘yang berlubang-lubang’. Dan negara tidak boleh dipandang dalam segi atomistiknya, yang mana proses globalisasi semakin menghubungkan persoalan masyarakat.
L. Dilema Keamanan Baru
Perlindungan atas keamanan masyarakat merupakan janji utama negara. Taraf memenuhi janji negara tergantung variasi pada penguasaannya atas sumber daya kekuasaan. Demokrasi liberal telah membanggakan diri atas perlindungan mereka terhadap hak dan partisipasi warga secara internal, namun dalam area internasional mereka mendukung negara yang mengingkari hak ini bagi warganya dimana kebebasan tadi hanya khayalan semata. Konsep kedaulatan telah memberikan kedok bagi diktator berupa legalitas internasional, yang menyembunyikan hak asasi manusia.
global memiliki banyak konsekuensi yang berdampak pada negara kaya maupun miskin. Salah satu tragedy dramatis yaitu ledakan jumlah pengungsi untuk mencari perlindungan. Kelemahan lain dalam konsepsi tradsional tentang kedaulatan dan keamanan, yaitu kebanyakan orang menderita dan dalam keadaan bahaya lebih disebabkan oleh pemerintah mereka sendiri daripada pemerintah asing.
Perpindahan jutaan orang menjadi titik fokus kestabilan regional dan peningkatan jumlah senjata nuklir mengandung arti konflik regional semakin sulit diatasi. Hal tersebut menyebabkan isu-isu kejahatan global menjadi genre baru ancaman keamanan nasional. Seperti halnya banyak dilemma baru, ketidakadila global adalah akar dari banyak aktivitas kejahatan yang paling merusak. Kemiskinan dan ketidakadilan juga meningkatkan kerusakan lingkungan. Yang dibutuhkan untuk menangkal kerusakan lingkungan dan keamana lain adalah pendekatan global terhadap pemerintahan.
M. Menuju Pemerintahan Global
Dalam bulan Mei 1998, G-8 bertemu di Birmingham Inggris untuk membahas serangkaian persoalan global, yang banyak diantaranya mencerminkan dilemma kemanan baru yang diulas di atas. Poin utama pembicaraan meliputi implementasi persetujuan Kyoto tahun 1997 (yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca) masalah penggangguran global, pengenalan pembangunan berkelanjutan dan pengintegrasian negara negara sedang berkembang ke edalam ekonomi dunia, keharusan untuk meregformasi arsitektur financial global untuk menghadapi krisis seperti ambruknya mata uang Asia yang dimulai tahun 1997, dan kutukan terhadap tes nuklir India baru baru ini (Guardian 1998).
banyak institusi pemerintahan internasional, yang hampir selalu dikuasai oleh elite lit dari negara barat. Karena itu tidak mengherankan jika prinsip prinsip yang mendorong pemerintahan global adalah neo liberalisme dan kedaulatan negara.
Meskipun demikian, adlaah jelas, seperti dinyatakan Shaw (1994) bahwa bahkan negar anegara kuat telah mulai menyadari keterbatasan kedaulatan mereka, dan telah mengupayakan kerjasama yang lebih besar dengan negara lain. Meski dalam satu segi para penganut realis benar ketika mengidentifikasi tingginya kadar kepentingan pribadi dalam perkembangan ini, namun nyatanya, seperti telah diindikasikan, dikotomi antara kepentingan pribadi dan morealitas semakin tidak tepat. Semakin negara negara menyadari bahwa pendekatan global bagi persoalan dunia paling besar kemungkinannya untuk memastikan keterlibatan, dan bahwa ketertiban ini harus didasari oleh etika keadilan dan tanggung jawab bersama; semakin kita cenderung melihat diversifikasi institusi pemerintahan.
Proses ini sudah berjalan dan digambarkan oleh tumbuhnya organisasi internasional dan munculnya embrio masyarakat sipil global. Namun kita tidak dapat sekedar menarik garis lurus dari pemerintahan yang berpusat pada negara menuju sebuah jenis baru pemerintahan pada tingkat global. Organisais dan actor actor ini telah berkembang sebagian besar dengan cara ad hoc, penuh kontradiksi serta sering tidak mempunyai visi pemerintahan di luar capaian jangka pendek dan manajemen krisis.
N. Rezim Rezim Internasional
peran konsultatif untuk masyarakat sipil global. Bagi kaum liberal, melalui institusi pemerintahan yang meski didominasi oleh negara tersusun dari multi actor dan melibatkan peran konsultatif untuk masyarakat sipil global. Bagi kaum liberal melalui institusi pemerintahan seperti inilah persoalan dunia dapat diatur tanpa mengambil jalan perubahan lebih radikan terhadap sistem internaisonal.
Rezim yang paling penting “mengatur” ekonomi dunia. Ada banyak organisasi yang ada untuk mengaswasi dan memajukan perdagangan serta stabilitas financial. G-8 telah disebutkan tadi namun ada juga Bank Dunia, Internasional Monetary Fund, World Trade Organisation dan Organisation for Ecomnomic Coperation and Development (OECD). Walaupun organisasi organisasi ini mempunyai independensi tertentu dari engara negara dan berinteraksi dengan actor non negara seperti MNC, namun negara yang paling kuat sajalah yang menyediakan hubungan di antara mereka. Secara keseluruhan, berbagai organisais ini membentuk suatu rezim manajemen ekonomi yang begitu berpengaruh dalam membentuk ekonomi dunia sehingga salah saut komentator telah menyebutnya pemerintahan dunia secara de facto. Permaslaahan berkaitan EMR adalah ia didominasi oleh ideologi neo liberal yang menurut Chomsky dirancang untuk melayani kepentingan TNC, bank bank dan perusahaan inverstasi.
Tentunya EMR tampak didorong oleh syarat syarat kepentingan korporasi dan negara Barat. Ia telah dengan gigih menjaga hak barat atas kekayaan intelektual dengan cara demikian mempertahankan control negara meaju terhadpa kemajuan teknologi. Di waktu yang sama ia telah menggembar gemborkan liberalisasi perdagangan di kawan kawasan yang menguntungkan bagi negara maju. Yang mendasari EMR dan memperkuat argument para kritikus seperti Chomsky.
seperti Korea Selatan melalui persyaratan keras yang disodorkan sebagia paket paket penyelamatan financial untuk menggunakan sistem deregulasi financial a la neo liberal, terlepas dari fakta bahwa tidak adanya regulasi yang efektif di sector financial dan sector lain dalam ekonomi lah yang terutama menyebabkan persoalan di banyak negara Asia. Bagi Wade dan Venerovo taktik taktit semacam itu mencerminkan konflik terus menerus antar sistem ekonomi yang salin bersaing dengan EMR berusaha mendirikan suatu rezim mobilitas modal skala dunia untuk kepentingan Anglo Amerika yang mendominasi sistem ekonomi neo liberal.
Kedua EMR telah berusaha meliberalisasi investasi asing dengan cara yang paling dramatis melalui pengajuan multilateral agreement on investment. Hal ini pertama kali dibicarakan oleh OECD pada 1995 namun macet tahun 1998 sebagian karena tekanan dari kelompok kelompok lingkungan dan kekhawatiran beberapa negara sedang berkembang. MAIs telah disebut sebagai Bill of RIghtsnya MNC. Mereka akan melucuti kekuasaan bangsa bangsa dalam melindungi diri dari investasi asing yang tidak berkelanjutan dan memberikan hak yang sangat luas kepada korporasi multinasional dan investor lain. Jika diimplementasikan kesepakatan ini akan mengubah keseimbangan kekuasaan antara negara sedang berkembang dan MNC dengna cenderung pad aperusahaan multinasonal ini.
Negara negara akan tak mampu menghalangi perusahaan asing dann karenanya MAIS bisa menghalangi perkembangan perusahaan local skala kecil di negara yang lebih miskin yang bisa merupakan satu satunya langkah realistis menuju perkembangan yang berkelanjutan. Di bawah MAIs dikhawatirkan juga bahwa perusahaan asing akan dibebaskan dair ektentuan upah minimum dan legislasi perlindungan konsumen. Berbagai gerakan sosial juga telah mengungkapkan keprihatianna tentang melemahnya regulasi lingkungan dan juga implikasi negatif MAIS terhadap demokrasi.
Kuhsusnya dominasi ideologi neo liberal dalam kebijakan ekonomi telah menghalangi keberhasilan manajemen atas banyak poin ketegangan di dalam sistem global, seperti krisis utan, pengangguran dunia, ketidakstabilan sistem financial dunia, dan kerusakan lingkungan. Watak elitis dan tak demokratis dari rezim rezim seperti itu juga telah memunculkan pertanyaan tentang hak mereka untuk mengatur aspek apapun dalam hubungan dunia.
O. Perserikatan Bangsa Bangsa
PBB menawarkan bahan mentah yang lebih menjanjikan untuk membangun sebuah sistem pemerintahan global, dibandingkan rezim internasional lainnya. Hal ini sebagian karena ia menjadi satu satunya abdna hukum internasional yang mempunyai keanggotaan hampir universal dari negara negara di dunia. PBB berbeda dengan kebanyakan organisasi internasional lainnya, juga memiliki unsure partisipatoris yang signifikan. Sidang umum PBB beroperasi berdasarkan prinsip satu negara satu suara dna semua anggota mempunyai kesempatan untuk menyuarakan opininya tentang hubungan dunia. Namun PBB adalah sebuah institusi kontradiktif yang semakin melangkan arah tak pasti dari pemerintahan global.
Di satu sisis, piagam PBB memperkuat doktrin kedaulatan engara. Pasal 2 ayat 7 menegaskan PBB atas doktrin tanpa campur tangnan dalam urusan domestic negara negara dan badan hukum paling penting di PBB, Dewan Keamanan, didominasi oleh lima anggota permanennya: AS, China, Rusia, Inggris, dan Perancis. Struktur negara sentrisnya mencerminkan tujuan awal dan utama PBB yakni menyediakan sarana di mana agresi militer oleh satu negara terhadap negara lainnya bisa diselesaikan secara kolektif. Namun di sisi lain PBB berpotensi subversive terhadpa sistem negara melalui perannya sebagai pengajur HAM, yang diabadikan dalam Universal Declaration of Human Rights pada 1948.
dingin dengan efektik menempatkan PBB dalam kerangkeng karenana negara kapitalis barat maupun kekuatan komunis akan menggunakan hak vetonya untuk menentang resolusi lawannya. Deengan kejatuhan komunisme, penggunaan hak veto oleh anggota permanen dewan keamanan sangat menurun dan terciptan kesempatan bagi PBB untuk memainkan peran lebih proaktif dalam hubungan dunia. Akhir akhir ini PBB telah meningkatkan operasinya di akwaasan yang mengaburkan perbedaan antar apemajuan HAM olehnya dan penghormatannya pada kedaulatan negara.
Sejak tahun 1990 PBB telah berspekulasi ke wilayah yang tidak secara jelas tercakup dalam piagamnya. Kuhsusnya PBB telah mengembangkan peranan baru dalam menjaga perdamaian di negara seperti Somalia dan Yugoslabia yang telah terkoyak oleh perang saudara. Namun konsep menjaga perdamaian bahkan tidak disebutkan dalam dokumen pendirian PBB. Doktrin baru tentang penjaga perdamaian ini telah diperluas menjadi gerakan penciptaan lokasi perlindungan di Utara Irak tahun 1991 untuk melindungi rakyat suku Kurdi yang telah menderita penganiayaan di tangan pemerintahan Saddam Husain. Doktri menjaga perdamaian mencerminkan realitas dileman keamanan baru yang semakin melibatkan perkmbangan ancaman terhadap perdamaian dalam batas batas negara. Namun PBB telah lumpuh dalam peran barunya karena sejimlah keterbatasan. Khususnya PBB mengalami kekurangan legitimasi dan sumber daya.
Legitimasi PBB juga dipertanyakan berdasar komposisi dewan kemanan. Dominasi Dewan oleh Barat harus dikurangni dengan menambah jumlah anggota permanen, melalui masuknya wakil wakil dari negara sedang berkembang : Nigeria, Brazil dan India sering disebut sebagai calon calonnya. Namun yang lebih mendasar, PBB perlu menjawab perubahan sifat isu negara anggota. isu keamanan dan menyusun kembali piiagamnya agar secara jelas menentukan tujuan tujuannya. Menurut sejumlah pengamat proses pembentukan PBB harus melibatkan peran yang lebih besar bagi masyarakat sipil global. Bannyak yang menyarankan adnaya forum organisasi non pemerintah atua bahkan sejenis majelis rakyat yang anggota anggotanya dipilih secara demokratis untuk berkerja berdampingan dengna sidang umum: dewan terpilih tersebut setidaknya mempunyai peran konsultatif tentang aktivitas PBB.
Pesatnya pertumbuhan aktivitas PBB belum diiringi peningkatan dana iuran anggota. Nyatanya beberapa negara dan khususnya AS tidak membayar iurannya pada PBB pada Agustus 1997 AS berhutan 1.4 Miliar dolar. Penunggakan ini ternyata didasari alasan yang meragukan. Misalnya partai republiik yang mendominasi senat AS telah menyebut bahwa dukungan PBB terhadap aborsi yang dianjurkan dalam sejumlah keadaan sebagai bagian dari usaha PBB untuk melawan ledakan pertumbuhan penduduk global sebagai alasan tak mau membayar iuran ini.
PBB juga terus menerus kekurangan sumber daya manusia untuk menjalankan aktifitas menjaga perdamaian. Setelah kegagalan operasi penjagaan perdamaian di negar aseperti Somalia, berbagia negara enggan mengirim tetearanya karena khawatir menjadi korban, yang bisa merusak popularitas pemerintah di dalam negeri. Bahkan pada Mei 1994 Presiden Clinton menyatakan bahwa AS hanya akan berpartisipasi dalam operasi operasi PBB jika melibatkan kepentingan AS di dalamnya.
misalnya: Dewan keamanan memutuskan dengan suara bulat bahwa dibutuhkan 5500 tentara untuk di kirim ke Rwanda namun diperllukan waktu 6 bulan bagi negara anggota untuk mengirim pasukannya. Pasukan permanen tersebut juga akna membantuk menyelesaikan masalah struktur komando dan pembuatan keputusan strategis ketika pasukan PBB ditempatkan di lapangan. Di masa lalu hal ini menjadi persoalan rumit karena keengganan di antara negara untuk menempatkan pasukannya di bawah komandan langsung PBB.
PBB memang menawarkan sebuah titik focus penting bagi pemerintahan global dan ia telah mempunyai beberapa catatan keberhasilan dalam emmulihkan stabilitas di negara negara seperti kamboja dan angola pada tahun 1990 an. Reformasi terhadap piagam PBB dan rasionalisasi terhadpa organisasinya tak diragukan lagi akan membantu meningkatkan kekukuhannya dan mungkin mendrong beberapa negara untuk membayar tunggakan iuran yang belum dilunasi.
Namun peran masa depan PBB akan ditentukan oleh kemauan negara negara, dan khususnya persepsi AS terhadpa kemampuannya sendiri untuk menghadapi dilemma kemanan baru yang diidentifikasi dalam bab ini. Meski mungkin benar bahwa dalam berhubungan dengna negara lain, AS dengna ekonomi yang sangat kuat dan begitu banyak perlengkapan senjata militer lebih kuat daripada yang sudah sudah namun benar juga bahwa dalam bidang bidang keamanan yang penting semua negara berada dalam posisi yang lemah dan karenanya perlu mencari metode kerjasama yang lebih berhasil di masa depan.
P. Masyarakat Sipil Global
seperti diperlihatkan oleh peran yang dimainkan dalam mendukung intervensi kemanusiaan oleh Negara barat dalam krisis Somalia dan bosnia pada awal 1990-an. MNCs umumnya telah dipandang lebih negative.
Mereka sering dianalisis dalam segi konflik mereka dengan actor lain dalam masyarakat sipil, dan sebagai symbol kebutuhan akan pemerintah global yang lebih baik untuk mengatur efek samping kapitalisme tak terkontrol yang sering kali berbahaya (Sklair, 1995). Jadi MNCs telah berada dalam konflik dengan serikat kerja perihal pengangguran yang timbul akibat perpindahan produksi ke wilayah yang lebih murah dan buruhnya kurang bersatu.
Namun organisasi non pemerintah (NGO-)lah yang menjadi focus banyak pembicaraan mengenai masyarakat sipil. Dalam segi angka belaka, NGO telah tumbuh menjamur dewasa ini. pada tahun 1909, ada sekitar 109 NGOs yang beroperasi di sedikitnya tiga Negara; pada 1993 jumlahnya menjadi 28.900. contoh-contoh NGO meliputi kelompok lingkungan seperti, World wildlife fund dan greenpeace, keloompok HAM seperti Amnesty dan human right watch, serta organisasi-organisasi yang peduli dengan ketertinggalan dan kemiskinan, seperti Christian Aid dan Oxfan. NGO cenderung non profit dan menjaga jarak dengan Negara. Bahkan telah dikatakan bahwa aktifis NGO merupakan tantangan yang paling serius terhadap ketentuan-ketentuan Negara dibidang integritas teritoral, keamanan, otonomi, dan penghasilan.
NGO memiliki kekuasaan komunikatif yang besar, dan telah memainkan peran penting dalam memunculkan kesadaran terhadap ketidakadilan global, krisis lingkungan, dan pelanggaran HAM di seluruh dunia. NGO juga memainkan peran penting ekonomi dalam politik global, dan menerima semakin banyak persentase bantuan puublik, dan juga pendapatan yang besar dari sumbangan pribadi.
menjadikan mereka sangat birokratis dan tak tersentuh. Masalah ini ada pada NGO barat yang memainkan peran pembangunan didaerah miskin di dunia. Kesan yang timbul adalah NGO telah menampilkan hubungan paternalistic dengan penerima bantuannya, dan lebih giat memberikan pelayanan dari pada membangun partisipasi.
Hulme dan Edwards berpendapat bahwa alasan mengapa Negara semakin banyak memanfaatkan NGO sejak tahun 1980-an adalah terkait dengan dominasi pendekatan neo-luberal terhadap pemerintahan. Yang memprioritaskan solusi suka rela dan pasar terhadap kemiskinan disbanding intervensi Negara. Akibatnya NGO menjadi subkontraktor Negara dan pelaksana keputusan pihak donor. Hal ini memungkinkan Negara untuk melepaskan diri dari kewajibanya terhadap komunitas global. Namun, persoalannya adalah bahwa aksi NGO yang tak terkoordinasi dan Ad hoc bukanlah pengganti aksi kolektif pemerintah untuk meringankan akar penyebab ketidakadilan global.
Sifat aktifis NGO yang tak terkoordinasi ditambah lagi oleh fakta ketergantungan mereka terhadap donor mendorong mereka bersaing satu sama lain demi bantuan dana. Hal ini menuntut mereka hadir secara fisik ditempat kekacauan diseluruh dunia. Agar para pemberi bantuan dapat melihat bahwa uang mereka digunakan segera untuk mengatasi kelaparan atau bencana lingkungan. Namun karena kompleksitas bantak persoalan global, respon tergesa-gesa oleh NGOmalah memperburuk keadaan, bukannya menyelesaikan krisis. NGO malah bersaing untuk dapat diberitakan di media dunia, untuk menentramkan para donor bahwa mereka telah berbuat sesuatu adalah jelas bukan pendekatan yang produktif untuk diambil.
dijalankan oleh kepentingan elit-elit dari Negara-negara kuat, sedangkan actor non-negara dalam masyarakat global tidak mempunyai koherensi dan legitimasi untuk berhasil melaksanakan pemerintahan oleh diri mereka sendiri. Terlebih lagi, dominasi neo-liberalisme terhadap ekonomi dunia telah meningkatkan ketidakadilan global, yang menjadi akar dari banyak permasalahan dunia. Ambruknya kekaisaran soviet dan Yugoslavia, bangkitnya islam fundamentalis ditimur tengah dan ketegangan mengenai perbatasan Negara pasca-kolonial di afrika, semuannya telah ikut andil menjadikan perebutan penguasaan wiilayah dan kebutuhan akan kenegaraan sebagai cirri pokok dunia kontemporer.
Hungtington menyatakan bahwa, bukannya menciptakan kepentingan bersama dan manjadi basis pemerintahan global, globalisasi malah mempertegas perbedaan kultural yang telah lama mapan, seperti antara Kristen dan islam. Teori demokrasi cosmopolitan yang diusulkan oleh para penulis seperti Held dan Linklater, ada lagi usaha yang paling penting untuk membangun sebuah teori pemerintahan global. Teori ini sangat penting bagi sosiologi politik kontemporer karena ia kembali menyoroti kontradiksi hubungan masyrakat sipil-negara, dan berusaha mengeksplorasi bagaimana perubahan sosial kontemporer bisa menciptakan peluang untuk mengatasinya.
Oleh karenanya pembahasan tentang demokrasi cosmopolitan akan mengembalikan kita kepada akar pokok bagi para pemikirnya yang paling penting. Bagaimana pembahasan demokrasi cosmopolitan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang relasi problematic dan pasar. Relasi antara Negara dan masyarakat sipil adalah inti dari persoalan pemerintahan global.
Kedua, demokrasi cosmopolitan adalah sebuah teori pasca liberal. Ia berusaha menggunakan konsep-konsep liberal seperti kewarganegaraan demokratis dan mewujudkannya untuk semua orang, tanpa memandang keanggotaan mereka pada Negara tertentu. Oleh karenanya disini diituntut agar konsep tersebut tidak dilepaskan dari Negara yang telah menciptakan identitasnya melalui praktik eksklusi dan meluas ke tingkat global. Hukum cosmopolitan yang pada pokoknya mencakup hak-hak demokratis dan kewarganegaraan harus berlaku untuk masyarakat universal. Hal ini telah menyingkap kemunafikan Negara liberal yang telah menggembor-gemborkan hak-hak didalam negeri, namun juga mempertahannkan pengguna kekuatan diluar negeri. Ia juga menyoroti sifat relasional dari konsep kewarganegaraan dan demokrasi, terkecuali hak yang terkait dengan gagasan ini diperluas secara global, mereka selalu bersifat parsial dan oleh karenanya rentan.
BAB III
KESIMPULAN
Pada bagian I, kebanyakan sosiologi politik pada periode pasca-perang di dominasi oleh perspektif yang mengabaikan atau menyangkal negara, atau memperlakukan negara sebagai suatu yang tanpa masalah atau kurang signifikan dibanding institusi lainnya. Bagi penganut behavioralisme, negara adalah entitas yang terlalu rumit dan abstrak untuk didefinisikan. Oleh karena itu, negara tidak berguna untuk menjelaskan distribusi kekuasaan. Dalam teori elit, negara tidak terlalu signifikan, hanya mempresentasikan satu institusi diantara banyak lainnya, dimana para elit bisa menguasai massa. Menurut marxisme klasik, negara hanya memiliki arti sekunder
Namun, pada tahun 1970an, negara menjadi pusat perhatian dalam sosiologi politik. Hal ini terutama sekali karena fakta bahwa di dunia nyata, negara lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Yang sangat penting, para penulis seperti Giddens (1985) dan Mann (1986:1993) mengingatkan kita perihal pentingnya definisi Max Weber tentang negara, yang menekankan signifikansi dominan negara atas kekuasaan koersif. Namun, dalam bagian I telah diperjelas bahwa negara harus dipahami dalam relasinya dengan asosiasi-asosiasi masyarakat sipil dan dalam konteks proses perubahan sosial yang terjadi di dalam dan di luar batas-batasnya. Terlebih lagi, tidaklah cukup untuk sekedar mengakui kekuasaan negara. Yang penting pula adalah menantang kekuasaan negara. Oleh karena itu, keinginan Marx untuk melihat ke luar negara tetap relevan saat ini.
negara liberal niscaya ditentang oleh kelompok-kelompok yang tidak mampu menentukan hak-hak yang dijanjikan oleh liberalisme. Dengan dibangun di atas kritik Marx, saya telah menyatakan bahwa hubungan negara-masyarakat sipil tidak dapat secara efektif memecahkan persoalan inheren manusia berupa pemerintahan, yang saya definisikan sebagai manajemen persoalan abadi mengenai tertib sosial dan distribusi sumber daya.
Sejak tahun 1980-an, bagi sejumlah pakar perubahan sosial yang sangat cepat telah menggerogoti negara, sampai taraf bahwa sistem alternatif pemerintahan yang lain saat ini akan lebih tepat. Teori-teori ekstrem tentang globalisasi telah berlebihan dalam menilai perkembangan ekonomi dan budaya global sejati yang tidak berakar serta tidak dibatasi oleh negara. Dalam realitas, globalisasi budaya menegaskan perbedaaan antara masyarakat dan pada saat yang sama melampaui perbedaan ini, sedangkan globalisasi ekonomi adalah hasil interaksi antara negara dan asosiasi-asosiasi ekonomi masyarakat sipil. Inti utamanya, bahwa jika ada kemauan politik negara dapat mengatur ekonomi dunia lebih efektif lagi. Yang benar adalah, peraturan semacam itu sekarang ini tidak disukai oleh banyak negara kuat.
Neoliberalisme telah menjadi sangat berpengaruh dalam membangun ekonomi dunia, karena ia telah menekankan kebutuhan untuk memulangkan kembali negara dan sebaliknya membiarkan hukum permintaan dan penawaran yang menciptakan tertib sosial serta distribusi sumber daya.
Globalisasi mengandung manfaat, ini dibuktikan dalam konteks politik. Yakni, globalisasi menunjuk pada semakin menyatunya persoalan global. Persoalan keamanan baru ini membutuhkan solusi di tingkat global. Demokratisasi pemerintahan bisa menjadi kunci untuk mencapai tertib sosial dan distribusi sumber daya secara adil, karena demokrasi menandakan persetujuan, keadilan, serta keunggulan politik diatas keuntungan ekonomi.