• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Tender Proyek Desain (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Proses Tender Proyek Desain (1)"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Penulisan

Proses desain, mungkin sudah dimengerti secara baik oleh mahasiswa

mahasiswi desain interior. Namun dalam proyek sesungguhnya, terkadang

banyak proses yang ternyata diluar dari pembelajaran yang didapatkan dari

universitas. Salah satunya adalah proses bagaimana memperebutkan suatu

proyek dan berkompetisi dengan desainer lainnya.

Mendesain untuk perusahaan besar dan perusahaan yang terbuka, harus

terlebih dahulu mengikuti seleksi atau yang dinamakan tender. Tanpa

pengetahuan atau pengalaman terlebih dahulu, maka tentu akan

membingungkan untuk mengikuti proses tender tersebut.

Mengikuti tender adalah hal yang sangat penting dan harus betul-betul

dipahami seorang desainer. Karena proyek yang diperebutkan merupakan

proyek yang skalanya cukup besar, dan cukup dikenal. Apabila seorang

desainer tidak terlebih dahulu memiliki pengetahuan tentang proses tender,

maka belum tentu seorang desainer tersebut dapat mengikuti prosesnya

dengan baik. Padahal, pada masa kini tentu penting untuk seorang desainer

berkompetisi dengan desainer lainnya agar meningkatkan kemampuan dan

kreativitas, karena harus selalu memperbaharui diri agar lebih baik lagi.

1.2Maksud dan Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dibuatnya laporan proses tender ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui prosedur yang tepat dalam suatu proses tender

2. Memahami time schedule suatu proses tender

3. Memahami dokumen apa saja yang perlu diteliti untuk tender

(2)

1.3Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data adalah sebagai berikut :

1. Studi literatur

Melakukan studi terlebih dahulu dari beberapa sumber pustaka.

2. Wawancara

Melakukan wawancara kepada pihak yang sering mengikuti

proses tender dan membandingkannya.

3. Observasi

Melihat secara langsung bagaimana pengerjaan dokumen untuk

proses tender.

1.4Sistematika Penulisan

Penyusunan laporan khusus ini terdiri dari beberapa bab dan

masing-masing bab berisi uraian singkat dan gambaran tentang kerja

profesi. Hal ini dimaksudkan agar pembahasan lebih spesifik sesuai

dengan topic. Laporan ini terdiri dari 4 bab , yaitu :

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini terdiri dari latar belakang penulisan,

pengertian dan ruang lingkup penulisan, maksud dan tujuan penulisan,

metode pengumpulan data dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN DATA

Bab ini berisi tentang tinjauan data tentang proses tender

yang baik dan benar seperti apa.

BAB III ANALISA MASALAH

Dalam bab ini berisi data dan analisis tentang proses tender

kantor PT.Pertamina

BAB IV PENUTUP

Bab terakhir ini berisi kesimpulan dan saran yang

(3)

BAB II

TINJAUAN DATA

2.1 TINJAUAN UMUM

A. Pengertian Tender

Tender atau pelelangan pekerjaan (bidding), adalah salah satu sistim

pengadaan barang atau jasa. Dalam kaitannya dengan jasa konstruksi,

pelelangan pekerjaan umumnya dilakukan untuk menyeleksi pelaksana

jasa konstruksi yang dilakukan oleh pemilik proyek (owner), untuk

memperoleh pelaksana jasa konstruksi yang mampu melaksanakan

pekerjaan sesuai persyaratan yang telah ditentukan dengan harga yang

dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi mutu maupun waktu

pelaksanaannya. Tender pekerjaan jasa konstruksi secara umum dapat

dibagi menjadi 2 (dua) berdasarkan kepemilikannya, yaitu proyek yang

dimiliki oleh Pemerintah, dan proyek yang dimiliki oleh swasta.

B. Jenis-jenis Tender

Tender pekerjaan jasa konstruksi secara umum dapat dibagi menjadi 2

(dua) berdasarkan kepemilikannya, yaitu proyek yang dimiliki oleh

Pemerintah, dan proyek yang dimiliki oleh swasta.

1. Tender Proyek Pemerintah

Tender proyek milik Pemerintah, harus mengacu pada Keputusan

Presiden (Keppres) No.18 Tahun 2000 mengenai Pedoman Pelaksanaan

Pengadaan Bahan/Jasa Instasi Pemerintah, yang secara umum dapat

dilakukan melalui 3 (tiga) cara, yaitu: Pelelangan umum, Pemilihan

langsung dan Penunjukan Langsung.

Pelelangan umum yang dimaksud dalam Keppres No.18 Tahun 2000

adalah serangkaian kegiatan untuk menyediakan kebutuhan barang/jasa

dengan cara menciptakan persaingan yang sehat di antara penyedia

(4)

cara tertentu yang telah ditetapkan dan diikuti oleh pihak-pihakyang terkait

secara taat asas sehingga terpilih penyedia barang/jasa terbaik.

Pemilihan langsung dan penunjukan langsung, dapat dilakukan apabila

pelelangan umum sulit dilaksanakan, seperti target waktu yang singkat

ataupun spesifikasi barang atau jasa yang hanya dapat dipenuhi oleh

sedikit pemasok.

Sumber pendanaan ada kalanya mempengaruhi cara tender yang dipilih,

misal untuk proyek-proyek yang didanai oleh pinjaman luar negeri

umumnya harus dilakukan International Competitive Biding (ICB) dan

harus melibatkan kontraktor internasional, atau walaupun pendanaan oleh

pinjaman luar negeri, namun pesertanya dibatasi hanya kontraktor dalam

negeri, atau yang dikenal sebagai Local Competitive Bidding (LCB).

Adapun proyek-proyek yang didanai oleh APBN, APBD atau instansi

BUMN, biasanya mengacu pada Keppres No.18 Tahun 2000 tersebut.

2. Tender Proyek Swasta

Ketentuan mengenai tender proyek milik swasta biasanya diatur sendiri

oleh masing-masing pemilik, meskipun demikian, ketentuan tersebut tetap

mengacu pada standar kontrak tertentu seperti Federation Internationale

Des Ingenieurs Conseils (FIDIC), Joint Contract Tribunal (JCT) dari

RIBA atau Article & Conditions of Building Contract (ACBC) dari

Singapore/Hong Kong Institute of Architech.

Ada kalanya pemilik (owner) mengundang terlebih dahulu beberapa

calon kontraktor untuk melakukan presentasi mengenai kemampuan dan

juga portfolio dari masing-masing kontraktor sebelum diundang untuk

mengikuti tender. Tahap ini sering disebut sebagai tahap pra-kualifikasi.

Berdasarkan cara pembukaan dokumen penawaran yang diajukan oleh

peserta, tender dapat dibagi menjadi 2 (dua), yaitu tender terbuka, dimana

pembukaan dan bembacaan dokumen penawaran dari peserta tender

(5)

harga penawaran pesaingnya. Sedangkan tender tertutup, adalah

kebalikannya.

Kejujuran, fairness, kehati-hatian dan kesetaraan (apple to apple)

adalah prinsip yang harus dipegang dalam penyelenggaraan lelang.

C. Tahap-tahap dalam Proses Tender (Dari sudut pandang bidder)

Skema 2.1 Tahap Proses dalam Tender Sumber : Assaf, Sadi

1. Tahap Pengumuman Pelelangan/ Tender

Pengumuman lelang biasanya mudah ditemukan, sehingga para kontraktor dan

konsultan memiliki peluang yang sangat besar untuk mengikuti tender. Informasi

atau pengumuman tender bisa dilihat atau dicari melalui media masa, internet, dan

pengumuman langsung di instansi pemerintah atau bisa juga melalui undangan

atau telepon untuk metode pelelangan tertentu.

Pengumuman Tender

• Pemberitahuan/Undangan

Penjelasan Pekerjaan

Tender

• Rapat Aanwizing

Seleksi Peserta Tender

• Pengerjaan dokumen tender • Proses Seleksi

• Presentasi

• Proses Seleksi akhir

Penetapan & Pembuatan

Dokumen

• Kick Off meeting

(6)

Berdasarkan surat Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas untuk tahun

2009 sampai 2010, koran harian umum media Indonesia menjadi surat kabar yang

mengumumkan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Pada Rubrik "Info

Lelang", dapat ditemukan berbagai macam jenis tender yang ditawarkan oleh

pemerintah, di antaranya mengenai pembangunan gedung, pembangunan

jembatan, Pembangunan Jalan, pengawasan pembangunan, pengadaan barang,

pengadaan alat-alat, dan pengadaan barang serta jasa, pembangunan dan

pengawasan lainnya dari berbagai instansi pemerintah. Namun tidak menutup

kemungkinan peluang tender dapat ditemukan, dicari, dan dilihat di koran-koran

harian umum nasional atau daerah lainnya.

Selain melalui media masa, informasi melalui internet bisa dilihat di situs

milik pemerintah atau BUMN, juga dengan membuka situs layanan Pengadaan

secara elektronik Nasional di www.pengadaannasional-bappenas.go.id

Tujuan pengumuman lelang melalui internet adalah :

1. Memudahkan Souring, proses pengadaan, dan pembayaran.

2. Komunikasi Online antara buyers dengan vendors.

3. mengurangi biaya proses dan administrasi pengadaan.

4. Menghemat biaya dan mempercepat proses

Tahap Pendaftaran & Pengambilan Dokumen Tender

Setelah informasi tender tersebar, jika para kontraktor atau konsultan berminat

untuk mengikuti tender, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, di antaranya :

1. Tender harus sesuai dengan kompetensi pengadaan barang dan jasa yang ada.

2. Jangan membuang waktu tender yang tidak sesuai dengan kompetensi

pengadaan barang dan jasa yang dimiliki.

3. Tenggat waktu pendaftaran yang tidak mepet.

4. Kelengkapan dokumen sebagai syarat tender

5. Alamat Pendaftaran Tender yang harus diingat agar tidak salah alamat.

Untuk para Kontraktor atau konsultan yang berminat mengikuti tender

diwajibkan mendatangi tempat pendaftaran sesuai dengan pengumuman lelang,

(7)

Panitia biasanya memberikan syarat-syarat pendaftaran, persyaratan

tersebut biasanya telah tercantum dalam pengumuman lelang, diantaranya :

1. Pendaftaran harus dilakukan langsung oleh pemimpin perusahan.

2. Surat kuasa jika diwakilakn

3. Akta pendirian perusahan dan perubahannya

4. Surat Izin Usaha

5. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku.

6. Dan Persyaratan-persyaratan lainnya yang ditentukan oleh panitia tender.

Sebagai bukti bahwa perusahan telah terdaftar sebagai peserta tender, maka

ada formulir pendaftaran yang harus diisi. Selain itu, pendaftaran dapat dilakukan

dengan men-download di sebuah situs/website sesuai dengan pengumuman lelang

yang tersebar di media masa.

Mengikuti tender di Internet, kontraktor atau konsultan terlebih dahulu harus

mendaftarkan perusahannya secara online dan mengisi data-data yang diminta.

setelah itu, kontraktor atau konsultan akan menerima user-id atau password. Jika

pendaftaran disetujui, kontraktor atau konsultan bisa mengikuti pendaftaran dan

pengambilan dokumen melalui internet.

Namun ada juga owner yang memberikan undangan secara langsung kepada

perusahaan yang ditunjuk, misalnya 5 atau beberapa perusahaan untuk

dipertanyakan bersedia/ tidak untuk mengikuti tender, sehingga tidak dibuka

secara umum. Dalam hal ini, dokumen akan dikirimkan secara langsung kepada

konsultan.

2. Tahap Penjelasan Pekerjaan dalam Tender

Dokumen tender yang diterima pada saat pendaftaran, adalah dokumen yang

menjelaskan secara spesifik pekerjaan yang akan ditenderkan. Didalamnya

menjelaskan perincian secara teknis dan pekerjaan yang akan dikerjakan oleh para

kontraktor atau konsultan, di antaranya :

1. Metode Pengadaan

2. Cara penyampaian penawaran memakai satu sampul, dua sampul, atau dua

(8)

3. Dokumen apa saja yang harus dilampirkan dalam dokumen penawaran.

4. Acara Pembukaan dokumen tender

5. Metode evaluasi

6. Hal-hal yang menggugurkan penawaran

7. Jenis kontrak yang digunakan

8. Ketentuan harga atas oenggunaan produk dalam ngeri.

9. Ketentuan dan cara subkontak sebagai pekerjaan kepada usaha kecil, termasuk

koperasi kecil.

10. Besaran, masa berlaku, dan penjamin yang dapat mengeluarkan jaminan

penawaran.

Dokumen tender tersebut dapat diperoleh secara cuma-cuma atau dengan

membayar sesuai dengan harga yang telah ditentukan oleh panitia atau dengan

men-download di sebuah situs sesuai dengan pengumuman lelang yang tersebar di

media masa. selain itu, untuk pelelangan tertentu pengambilan dokumen tender

bisa dilakukan melalui surat undangan dari panitia pengadaan barang dan jasa.

Dokumen tender yang telah dimiliki akan dijelaskan oleh panitian pada

saat penjelasan dokumen tender ( Aanwijziing). penjelasan tender dilakukan di

tempat dan pada waktu yang telah ditentukan dan wajib di hadiri oleh para peserta

tender yang terdaftar dalam Daftar Peserta Lelang.

Kehadiran Kontraktor atau konsultan peserta tender pada penjelasan lelang

bertujuan untuk menciptakan persamaan persepsi dan menghindari kekeliruan

dalam pengajuan penawaran. Jika pada saat penjelasan tender kontraktor atau

konsultan tidak hadir, maka perusahan tersebut akan dianggap gagal dalam tender

tersebut.

Undangan penjelasan dokumen tender biasanya telah tercantum dalam

pengumuman lelang, pada waktu pendaftaran dan pengambilan dokumen tender

atau melalui undangan yang dikirim langsung.

Pada saat penjelasan dokumen tender, para kontraktor atau konsultan

tender diperbolehkan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami atas

dokumen tender yang dimiliki, Maka diwajibkan bagi Kontraktor atau Konsultan

(9)

atau melengkapi dokumen tender. Pengisian atau pelengkapan dokumen tender

dilakukan setelah acara penjelasan dokumen lelang dan pengumpulannyapun akan

diberitahu oleh panitia pada saar penjelasan dokumen tender.

Pertanyaan dan jawaban antara peserta tender dan panitian harus ditulis

pada sebuah kertas dan dituangkan dalam berita acara serta ditandatangani oleh

panitia dan wakil peserta yang hadir pada saat penjelasan dokumen tender.

hasilnya akan dibagikan kepada para peserta tender.

3. Tahap Seleksi Peserta Tender

Dalam tahap ini peserta tender akan mulai mengerjakan dokumen yang

dibutuhkan untuk tender, dan akan ada proses seleksi mana yang akan dipilih oleh

owner/panitia. Semua peserta yang tidak dapat menyelesaikan sesuai dengan

tenggat waktu akan dianggap gugur. Bidder yang terpilih harus melakukan

presentasi kepada owner.

4. Tahap Penetapan dan Pembuatan Dokumen.

Dalam tahap ini peserta tender yang terpilih akan mengikuti kick off

meeting dan mengikuti penjelasan lebih lanjut, sehingga dapat menyelesaikan

dokumen yang dibutuhkan

D. Tahap Evaluasi dalam menentukan pemenang Tender (Dari sudut Owner)

D.1 Evaluasi penawaran peserta lelang proyek

Evaluasi penawaran harus dilakukan oleh panitia tender yang memiliki tugas

untuk memeriksa, menilai, dan melakukan analisis seluruh penawaran

(Administrasi, Teknis, dan harga) yang masuk, yang telah diusulkan oleh calon

kontraktor atau konsultan peserta tender.

Pada tahap awal, panitia tender dapat melakukan koreksi aritmatik

terhadap semua penawaran yang masuk dan melakukan evaluasi

(10)

Sistem atau metode penilaian yang dapat panitia pakai adalah :

1. Sistem Gugur

Sistem ini dapat dilakukan untuk hampir seluruh pengadaan barang dan jasa

pemborong atau jasa lainnya.

2. Sistem Nilai ( Merit Point System)

Sistem ini digunakan untuk pengadaan barang atau jasa pemborong atau jasa

lainnya yang memperhitungkan keunggulan teknis sepadan dengan harganya

(Mengingat penawaran harga sangat dipengaruhi oleh kualitas teknis)

3. Sistem Penilaian Biaya selama Umur ekonomi ( Economi Life ycle cost.)

Sistem ini dilakukan untuk pengadaan barang yang memperhitungkan

faktor-faktor umur ekonomi, harga, biaya operasional, dan pemeliharaan dalam

jangkan waktu operasi tertentu.

4. Berdasarkan kualitas

Sistem atau metode ini digunakan untuk pengadaan jasa konsultan yang

kompleks dan menggunakan teknologi tinggi. Kualitas usulan merupakan

faktor yang menentukan terhadap outcome secara keseluruhan dan lingkup

pekerjaan sulit ditetapkan dalam KAK.

5. Berdasarkan Kualitas Teknis dan Biaya

Evaluasi penilaian ini digunakan untuk pengadaan jasa Konsultasi yang

lingkup, output, waktu penugasan, dan lain-lainnya dapat diperkirakan dengan

baik di KAK, serta besar biaya dapat ditentukan dengan tepat.

6. Pagu anggaran

Evaluasi penawaran yang menggunakan metode pagu anggaran ini digunakan

(11)

didefinisikan, diperinci dengan tepat, dan anggarannya tidak melampui pagu

tertentu.

7. Biaya terendah

Pengadaan jasa konsultasi yang bersifat sederhana dan standar.

8. Penunjukan langsung

Metode ini digunakan untuk evaluasi yang hanya terdiri dari satu penawaran

jasa konsultasi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan

dan memiliki pembiayaan yang wajar.

D.2 Evaluasi sistem penawaran

Dibawah ini akan membahas beberapa metode yang digunakan oleh Owner

untuk meng-evaluasi penawaran yang diajukan oleh para bidder dalam tender

proyek . Proyek diawali dengan proses tender yang dilakukan oleh Owner.

Ada beberapa cara untuk memilih peserta tender :

1. competitive bidding / tender terbuka

2. negotiated bidding / hanya kontraktor tertentu yang diundang

3. kombinasi dari kedua metode di atas Setelah melalui beberapa tahapan,

akhirnya Owner akan sampai pada evaluasi penawaran untuk menentukan

pemenang tender.

Berikut akan dibahas metode evaluasi penawaran dengan menggunakan sistem

lowest bid, non lowest bid dan sistem best value. Yang disebut terakhir baru

dikembangkan dua dasawarsa belakangan ini.

1. Lowest Bid System

Sesuai namanya, lowest bid system akan memenangkan bidder yang mengajukan

harga penawaran paling rendah. Sistem ini didasarkan pada asumsi bahwa para

(12)

kondisi kontrak yang sama. Kadang begitu detailnya dokumen kontrak sehingga

tender dokumen tidak hanya memberi rincian apa yang harus di bangun, tetapi

juga memberi rincian bagaimana cara membangunnya. Dengan demikian, maka

penawaran komersial merupakan satu-satunya faktor yang perlu di-evaluasi oleh

Owner dari berbagai bid offer yang diterima.

Harga penawaran terendah menunjukkan bahwa bidder tersebut paling efektif

dan inovatif dalam mengelola biaya proyek dibanding bidder lain. Tetapi juga

dimungkinkan bahwa harga penawaran rendah disebabkan oleh faktor lain, seperti

keuntungan geografis dari bidder terhadap lokasi proyek, sehingga mobilisasi

lebih dekat dan lebih murah. Atau juga dimungkinkan ada bidder yang tim

proyek-nya sedang bekerja di lokasi, jika tender tersebut adalah untuk perluasan

fasilitas.

Keuntungan dari sistem lowest bid adalah :

1. Proses persiapan tender-nya relatif sederhana, walaupun butuh banyak waktu

untuk menyiapkan dan me-review dokumen tender yang lengkap.

2. Proses seleksinya sederhana, pemenang adalah penawar paling rendah.

3. Keputusan akhir tidak mudah di-protes oleh peserta tender.

Kerugian dari sistem ini adalah :

1. Keputusan pemenang tender murni berdasarkan penawaran harga, bukan

berdasar atas pertimbangan kualitas.

2. Penawaran diajukan dengan asumsi bahwa design & spesifikasi dari Owner

sempurna.

3. Kontraktor pemenang tender akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan

minimum yang diminta oleh Owner. Memberikan hasil kerja yang lebih baik

dari spesifikasi / waktu yang diminta, tidak akan memberikan keuntungan

apapun bagi Kontraktor.

4. Sistem ini bisa memenangkan bidder yang under estimate pekerjaan, atau

bidder yang “belanja pekerjaan / bid shopping ” dengan cara memberikan

(13)

kerja bisa terjadi banyak perselisihan mengenai permintaan variation work /

pengajuan claim atau waktu penyelesaian proyek terlambat.

2. Non Lowest Bid System

Memperhatikan kelemahan sistem lowest bidder, terutama untuk menghindari

under estimate offer, maka dikembangkan sistem non lowest bid. Keputusan

pemenang tender masih tetap berdasarkan kepada penawaran komersial.

Ada berbagai sistem non lowest bid, dua diantaranya dibahas dibawah ini :

Nearest to the average of all bids received. Owner akan menghitung nilai

rata-rata dari seluruh penawaran yang diterima. Pemenang tender adalah

yang nilai penawarannya terdekat diatas nilai rata-rata.

Danish system. Dalam sistem ini, Owner akan mencoret penawaran

terendah dan penawaran tertinggi. Kemudian dihitung nilai rata-rata dari

semua penawaran tersisa. Selanjutnya dihitung nilai rata-rata baru

berdasarkan persamaan berikut :

NA = ( NH+4A+NL) / 6

dimana :

NA : new average / nilai rata rata baru

NH : new highest offer / harga tertinggi dari penawaran tersisa

NL : new lowest offer / harga tertendah dari penawaran tersisa

A : average / nilai rata-rata dari penawaran tersisa

Pemenang tender adalah yang nilai penawarannya terdekat diatas nilai

rata-rata baru ini.

3. Best Value System.

Sistem ini dikembangkan tahun 1992 oleh US Army Corps of Engineers – Europe

(14)

gunakan. Pengamatan terhadap 4 proyek bermasalah di Germany & Turkey

menunjukkan hal berikut :

1. semua proyek behind schedule

2. semua proyek melebihi nilai kontrak awal

3. kualitas pekerjaan menurun selama proses pekerjaan konstruksi

4. semua proyek dimenangkan oleh “marginal contractors” yang menawarkan

harga rendah.

Penelitian terhadap proses tender pada proyek-proyek bermasalah tersebut

menunjukkan bahwa kontraktor-kontraktor pemenang tender seharusnya bisa

dicoret dari daftar peserta, seandainya saja EUD menggunakan kriteria & strategi

bidding yang lebih tepat. Salah satu kontraktor bermasalah diketahui mempunyai

problem finansial dan dikenal sebagai bid shopper, walaupun secara teknis baik.

Kontraktor lain ternyata belum pernah mengerjakan proyek internasional. Juga

ditemui kontraktor yang over loaded, pekerjaan yang ditangani melebihi kapasitas

finansial dan management mereka.

EUD kemudian mengembangkan best value contracting system. Sistem yang

quality based ini memilih bidder yang memberikan penawaran paling

menguntungkan bagi Owner. Selain pertimbangan harga proyek, kriteria

pemilihan pemenang tender antara lain juga akan didasarkan pada hal berikut :

1. kemampuan teknis

2. kemampuan management

3. kemampuan finansial

4. kualifikasi personil

5. pengalaman di proyek sejenis

6. prestasi di proyek-proyek sebelumnya

(15)

8. aspek lain yang ditawarkan

9. resiko terhadap Owner.

Untuk mendukung keberhasilan sistem best value, Owner perlu melakukan hal

berikut :

1. Menentukan dari awal key parameter dari proyek Performance / kualitas

proyek, tanggal penyelesaian, security requirement ( jaminan keamanan), dst.

ditentukan secara dini.

2. Menyusun performance requirements. Owner hanya menyusun key project

criteria. Dengan meminimalkan project requirements, bidder yang

berpengalaman akan mendapat kesempatan untuk mengajukan usulan inovatif

atau pilihan alternatif yang menguntungkan.

3. Menyusun kriteria evaluasi tender Owner harus menyusun kriteria penilaian

pemenang yang mengacu pada hasil akhir proyek dan memberi kesempatan

untuk mengkalkulasikan antara keuntungan teknis yang didapat dengan biaya

proyek. Biaya proyek yang lebih tinggi harus memberikan nilai lebih kepada

proyek tersebut.

Keuntungan dari sistem best value :

1. Owner & Kontraktor memahami secara dini tentang kriteria penting dari

proyek yang akan dilaksanakan.

2. Hubungan kontraktual berfokus terhadap kualitas dan “nilai proyek”, tidak

sekedar mempertimbangkan biaya konstruksi.

3. Sistem ini memungkinkan bidder untuk memberikan usulan inovatif atau

menawarkan proposal alternatif.

4. Sistem ini memilih bidder yang paling mampu memenuhi requirements

Owner.

Kerugian dari sistem best value :

1. Persiapan dokumen tender butuh waktu lama dan usaha lebih banyak.

(16)

3. Hasil keputusan mungkin mengundang protes dari peserta tender, sehingga

contract award (penyerahan kontrak) menjadi terlambat.

Untuk menghindari kemungkinan protes terhadap keputusan pemenang tender,

disarankan agar kriteria penilaian juga diketahui oleh peserta tender. Secara

umum, kriteria penilaian akan dipusatkan pada :

1. technical evaluation

2. project execution plan

3. commercial evaluation

Biasanya evaluasi teknis dan komersial dilakukan terpisah. Evaluasi teknis

dilakukan terlebih dahulu, agar anggota tim evaluasi tidak terpengaruh dengan

harga penawaran yang diajukan. Weight factor yang diterapkan untuk setiap item

akan tergantung pada kondisi spesifik proyek. Pemenang tender adalah bidder

yang meraih skor tertinggi.

D.3 Hal penting dalam proses tender yang perlu diingat owner

Saat ini masih banyak panitia lelang atau Pokja ULP ( Kelompok Kerja Unit

Layanan Pengadaan) yang belum memahami tata cara evaluasi penawaran. Panitia

lelang atau Pokja ULP yang demikian paling sering menggugurkan penawaran

peserta lelang karena kesalahan-kesalahan yang tidak substansial. Bagi mereka,

semua kesalahan akan menggugurkan. Padahal, yang benarnya tidak demikian.

Terhadap kesalahan atau penyimpangan, ketentuannya masih diberikan toleransi,

(17)

Lampiran III Perpres 54/2010 menyebutkan:

Ketentuan umum dalam melakukan evaluasi sebagai berikut :

Penawaran yang memenuhi syarat adalah penawaran yang sesuai dengan

ketentuan, syarat-syarat, dan spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam Dokumen

Pemilihan, tanpa ada penyimpangan yang bersifat penting/pokok atau penawaran

bersyarat. Penyimpangan yang bersifat penting/pokok atau penawaran bersyarat

adalah penyimpangan dari Dokumen Pemilihan yang mempengaruhi lingkup,

kualitas dan hasil/kinerja pekerjaan.

Jika penyimpangan atau kesalahan yang ditemukan pada saat evaluasi

dokumen penawaran, yang ketentuan tentang penyimpangan tersebut cukup jelas

dinyatakan dalam peraturan perundang-undang, penyimpangan yang

demikian merupakan penyimpangan yang bersifat penting/pokok, meskipun

penyimpangan tersebut tidak mempengaruhi lingkup, kualitas dan hasil/kinerja

pekerjaan. Sifat penting/pokok tersebut karena terkait dengan asas kepastian

hukum.

Berikut ini merupakan penyimpangan yang bersifat penting/pokok karena

menyimpang dari ketentuan Perpres 54/2010:

Pada Tahap Evaluasi Administrasi:

1. Terkait dengan surat penawaran:

1. Surat penawaran ditanda tangani oleh orang yang namanya tidak

disebutkan dalam akte pendirian atau perubahannya;

2. Jangka waktu berlakunya surat penawaran kurang dari waktu yang

ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan;

3. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditawarkan melebihi jangka

waktu yang ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan;

4. Surat penawaran tidak ada tanggal.

2. Terkait dengan jaminan penawaran:

1. Surat jaminan penawaran diterbitkan oleh bukan bank umum atau

(18)

asuransi kerugian (suretyship) yang sebagaimana ditetapkan

oleh Menteri Keuangan;

2. Masa laku surat jaminan penawaran kurang dari waktu yang ditetapkan

dalam Dokumen Pemilihan;

3. Nama peserta tidak sama dengan nama yang tercantum dalam surat

Jaminan Penawaran;

4. Nilai Jaminan Penawaran kurang dari nilai jaminan yang ditetapkan

dalam Dokumen Pemilihan;

5. Besaran nilai Jaminan Penawaran tidak dicantumkan angka, atau tidak

dicantumkan huruf;

6. Nama ULP yang menerima Jaminan Penawaran tidak sama dengan

nama ULP yang mengadakan pelelangan; dan

7. Paket pekerjaan yang dijamin tidak sama dengan paket pekerjaan yang

dilelangkan.

Pada Tahap Evaluasi Teknis:

1. Metode pelaksanaan pekerjaan yang ditawarkan tidak

memenuhi persyaratan substantif yang ditetapkan dalam Dokumen

Pemilihan, atau tidak menggambarkan penguasaan dalam

penyelesaian pekerjaan;

2. Jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditawarkan melampaui

batas waktu yang ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan;

3. Jenis, kapasitas, komposisi dan jumlah peralatan minimal yang

disediakan tidak sesuai dengan yang ditetapkan dalam Dokumen

Pemilihan;

4. Spesifikasi teknis tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam

Dokumen Pemilihan;

5. personil inti yang akan ditempatkan secara penuh tidak sesuai dengan

persyaratan yang ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan, atau

posisinya dalam manajemen pelaksanaan pekerjaan tidak

(19)

6. Bagian pekerjaan yang akan disubkontrakkan tidak sesuai dengan

persyaratan yang ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan.

Pada Tahap Evaluasi Harga:

1. Ditemukan harga yang tidak wajar pada dokumen penawaran peserta

yang menawar di bawah 80% HPS (Harga Perkiraan Sendiri) .

Pada Tahap Evaluasi Kualifikasi:

1. Formulir isian kualifikasi ditandatangani oleh orang yang namanya

tidak disebutkan dalam akte pendirian atau perubahannya;

2. Izin usaha pekerjaan konstruksi tidak sesuai dengan

peraturan perundang-undangan;

3. Tidak menyampaikan pernyataan/pengakuan tertulis bahwa

perusahaan yang bersangkutan dan manajemennya tidak dalam

pengawasan pengadilan, tidak bangkrut dan tidak sedang dihentikan

kegiatan usahanya;

4. Salah satu dan/atau semua pengurus atau badan usahanya atau peserta

perorangan masuk dalam Daftar Hitam;

5. Tidak memiliki NPWP atau tidak memenuhi kewajiban perpajakan

tahun pajak terakhir (SPT Tahunan), atau 3 (tiga) bulan terakhir tidak

melaporankan pajak bulanan PPh atau PPN (bagi Pengusaha Kena

Pajak);

6. Tidak memperoleh pekerjaan sebagai penyedia dalam kurun waktu 4

(empat) tahun terakhir. Ketentuan ini dikecualikan bagi perusahaan

baru yang belum mencapai 3 (tiga) tahun;

7. Tidak memiliki kemampuan pada sub bidang pekerjaan yang

sesuai untuk usaha non kecil, atau tidak memiliki kemampuan pada

bidang pekerjaan yang sesuai untuk usaha kecil;

8. Tidak memiliki kemampuan menyediakan fasilitas dan peralatan

serta personil yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan;

9. Sedang mengerjakan pekerjaan tetapi tidak menyampaikan daftar

(20)

10.Tidak memiliki surat keterangan dukungan keuangan dari

bank pemerintah/swasta untuk mengikuti pengadaan

pekerjaan konstruksi;

11.Peserta tidak mempunyai perjanjian Kerja Sama Operasi/kemitraan,

sementara peserta tersebut melakukan kemitraan;

12.Tidak memiliki Kemampuan Dasar (KD) pada pekerjaan yang

sejenis dan kompleksitas yang setara bagi usaha non kecil.

Jika dalam evaluasi dokumen penawaran Pokja ULP menemukan

penyimpangan atau kesalahan seperti yang tersebut diatas, maka dokumen

penawaran yang demikian akan dinyatakan gugur. Selain itu, bila menyimpang

dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dari Perpres

54/2010, dokumen penawarannya juga dinyatakan gugur.

Sementara penyimpangan dari ketentuan yang telah ditetapkan dalam dokumen

pemilihan selain yang disebutkan diatas, tidak akan menggugurkan

penawarannya, kecuali jika penyimpangan tersebut akan mempengaruhi lingkup,

kualitas dan hasil/kinerja pekerjaan.

D. Penyimpangan yang tidak substansif/pokok

Penawaran yang memenuhi syarat adalah penawaran yang sesuai dengan

ketentuan, syarat-syarat dan spesifikasi teknis yang ditetapkan dalam Dokumen

Pemilihan, tanpa ada penyimpangan yang bersifat penting/pokok atau penawaran

bersyarat. Dengan demikian peserta tidak dinyatakan gugur jika penyimpangan

yang dilakukan bukan merupakan penyimpangan yang substantif (penting/pokok).

1. Peserta yang tidak menyampaikan data yang sudah disampaikan pada

dokumen kualifikasi tidak perlu diminta kembali sebagai persyaratan

teknis. Hal itu bukan merupakan penyimpangan yang substantif karena

tidak mempengaruhi pencapaian output dari pekerjaan itu. Karena

menggunakan sistem satu sampul, semua dokumen dimaksud menjadi satu

(21)

2. Kesalahan penulisan nomor atau hal yang kurang jelas dapat diklarifikasi

dengan tidak merubah substansi penawaran. Misalnya kekeliruan

penulisan nomor pengumuman di surat penawaran didukung dengan data

lain pada dokumen penawaran yang dapat digunakan untuk memperjelas

maksud penawaran tersebut.

3. Salah ketik tanggal pengumuman pada surat penawaran bukan

penyimpangan yang substansial bila data lainnya mendukung maksud

penawaran

4. Kesalahan lokasi paket pekerjaan pada lampiran surat penawaran (pada

jadwal pelaksanaan) tetapi benar pada dokumen lainnya, dapat dilakukan

klarifikasi tanpa mengubah substansi penawaran.

5. Kekurangan dalam penulisan data penyedia pada sampul luar dokumen

penawaran bukan merupakan penyimpangan yang substantif mengenai tata

cara evaluasi penawaran. Demikian pula halnya dengan peserta yang tidak

melakukan pemisahan antara dokumen rekaman dan dokumen asli,

maupun peserta yang hanya memasukkan dokumen asli. Kedua hal

tersebut tidak menggugurkan penawaran, namun bila dokumen yang

disampaikan semuanya adalah rekaman tanpa disertai dokumen asli, maka

penawaran dinyatakan gugur.

6. Dalam hal Penyedia menjadikan rumah menjadi kantor bukan merupakan

pelanggaran yang substansial yang dapat menggugurkan, sepanjang ijin

usaha yang berlokasi pada alamat tersebut sudah diterbitkan oleh instansi

yang berwenang.

7. Jika peserta yang mengirimkan dokumen yang salah alamat tersebut sudah

mendaftar dan hadir pada saat pembukaan penawaran, maka Panitia dapat

membuka amplop tersebut dan mengecek, apakah penawaran tersebut

memang ditujukan kepada Panitia yang bersangkutan. dengan demikian

kesalahan penulisan alamat pada amplop luar dapat dikategorikan sebagai

penyimpangan yang tidak substantif.

8. Jika perbedaan penulisan alamat ULP dalam surat penawaran tersebut

(22)

penawaran tersebut sudah diterima oleh ULP, meskipun terdapat

perbedaan alamat.

9. Kesalahan penulisan angka/huruf dalam jaminan penawaran bukan

merupakan hal yang substantif. Mengingat kesalahan tersebut

kemungkinan dilakukan oleh penerbit jaminan. Oleh karena itu Pokja ULP

melakukan klarifikasi kepada penerbit jaminan terhadap hal yang kurang

jelas dan meragukan tersebut. Jika penerbit jaminan bersedia memberikan

jaminan sesuai dengan ketentuan dokumen pengadaan, maka penawaran

tidak dinyatakan gugur.

10.Penulisan nama APIP (Aparat Pengawas Internal Pemerintah) dalam Pakta

Integritas seharusnya diisi oleh Pokja ULP dalam format Pakta Integritas

yang terdapat dalam dokumen pengadaan. Penyedia yang salah dalam

menuliskan nama APIP untuk tempat penyampaian sanggah banding tidak

dinyatakan gugur, karena bukan merupakan penyimpangan yang

substantif.

11.Apakah peserta seleksi yang tidak mencantumkan nama paket pekerjaan

dan nama panitia seleksi pada surat penawaran dapat dinyatakan gugur?

Jika penawaran tersebut disertai dengan surat jamninan penawaran yang

sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan dokumen lainnya yang dapat

memperjelas maksud pertanyaan, maka evaluasi administrasi dapat

dilanjutkan kepada tahap berikutnya. Namun jika jaminan penawaran tidak

sesuai dengan ketentuan yang berlaku (tidak sah), maka penawaran

dinyatakan gagal.

12.Jika persyaratan peralatan tetentu merupakan persyaratan yang wajib

dipenuhi dan berpengaruh terhadap pencapaian output pekerjaan nantinya,

maka persyaratan tersebut harus dipenuhi oleh peserta jika sudah

dicantumkan dalam dokumen pengadaan.

13.Dalam hal penawaran peserta terdapat hal yang kurang jelas, maka pokja

ULP dapat melakukan klarifikasi tanpa mengubah substansi penawaran.

Penyedia yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai ketentuan dalam

kontrak dikenai sanksi sesuai ketentuan pasal 93 ayat (2), setelah terlebih dahulu

(23)

2.2 Tinjauan Khusus

Proses Tender Desain Interior PT. Pertamina Office (Sumber : Bpk. Donny

Wenas, Manager Divisi Interior PT.Tetra Desaindo) adalah sebagai berikut :

1. Pemberitahuan dan undangan untuk perusahaan terpilih untuk mengikuti tender

Perusahaan yang merupakan Tbk atau perusahaan terbuka, pasti akan

membuka tender, agar keputusan siapa yang akan mendesain dapat diputus

secara adil, tidak hanya ditentukan oleh salah satu pihak saja, yang akan

merugikan para investornya. Berbeda halnya dengan perusahaan kecil,

yang dapat menunjuk desainer secara langsung tanpa melalui proses tender

terlebih dahulu. Bidders atau perusahaan yang mengikuti tender, biasanya

jumlahnya terbatas , dalam kasus desain PT. Pertamina Office, owner

mengundang 6 perusahaan salah satunya adalah PT.Tetra Desaindo. Surat

undangan untuk tender diberikan melalui email , dan desainer perlu untuk

memberikan tanda tangan untuk di fax kembali kepada PT.Pertamina

sebagai tanda bersedia mengikuti tender. Dan saat PT. Tetra menyetujui

untuk mengikuti mengikuti proses tender tersebut, maka PT.Tetra

Desaindo otomatis perlu untuk mengikuti rapat aanwizing dengan jadwal

yang ditentukan oleh procurement committee , atau orang-orang yang

mengurus proses tender secara langsung, dan bertanggung jawab untuk

menghubungi serta mengatur jadwal pertemuan dengan bidders.

2. Rapat Aanwizing

Rapat Aanwizing merupakan rapat untuk semua bidders agar mengetahui

secara rinci informasi yang diperlukan untuk pembuatan konsep

selanjutnya. Semua hal yang diperlukan untuk pembuatan konsep desain

akan diinfokan pada rapat ini. TOR atau Term of Reference diberikan

langsung dalam bentuk hard copy dan dibagikan kepada semua bidders.

Semua informasi seperti struktur organisasi, desain yang diinginkan,

semua akan diinfokan di meeting ini. Meeting diadakan pada tanggal 20

(24)

klarifikasi, atau pertanyaan bisa ditanyakan maksimal 5 hari setelah rapat,

dan akan dijawab oleh owner 1 hari sesudah batas waktu pertanyaan. Pada

rapat ini, beberapa hal yang dipresentasikan representatives adalah :

a. Pertamina commitment to HSE

b. Code of conduct

c. Pedoman tata kelola perusahaan

d. Etika perusahaan dengan penyedia barang dan jasa

e. Sanction

f. Meeting rules and etiquette

g. General instructions for bidders

h. Scope of Service

i. Building location and condition

j. Building Layout

k. HSSE for interior design

l. Design objective

m. Technical requirement

3. Pengerjaan dan pengiriman Konsep dan Quotation

Pengerjaan konsep diberi waktu selama 2 minggu, dan harus selesai

sebelum batas waktu yang ditentukan, yaitu tanggal 3 April 2014, paling

lambat pukul 2 siang. Konsep yang sudah selesai, di email kepada

procurement, untuk dinilai. Konsep terdiri dari image of reference,

furniture concept, zoning, layout, 3D beberapa ruangan penting. Quotation

juga harus dikirimkan agar owner dapat mengetahui berapa biaya yang

perlu dikeluarkan. Quotation menggunakan perhitungan lump sump dan

harus menggunakan rupiah. Apabila melewati tenggat waktu yang

ditentukan, bidder tidak dapat menyelesaikan konsep , bidder dianggap

mundur.

4. Proses Seleksi.Awal

4 hari setelah waktu pengumpulan, owner memberikan pengumuman

(25)

perusahaan yang mengikuti tender, dan ada proses seleksi pengurangan

jumlah bidder menjadi 3. Setelah itu adiseleksi menjadi 1 bidder saja.

Bidder yang gagal diberi fee sekitar 5 juta rupiah untuk fee pembuatan

konsep.

5. Presentasi Konsep

PT.Tetra Desaindo selaku bidder menyediakan konsep dalam bentuk panel

A3, sesuai dengan tanggal yang disepakati oleh bidder dan procurement,

untuk bidder mempresentasikan konsepnya secara langsung. Presentasi ini

merupakan penilaian dan bagi bidder yang konsepnya dinilai kurang

memuaskan, atau memiliki harga yang terlalu tinggi, akan gugur.

6. Proses Seleksi Lanjutan

Setelah beberapa bidder gugur dalam proses seleksi awal dan

presentasi, dan tersisa 3 company yang diundang presentasi, maka

PT.Tetra Desaindo akhirnya terpilih, dan tepat 3 hari setelah presentasi,

owner mengirimkan invitation untuk PT.Tetra Desaindo.

7. Kick Off Meeting

Setelah terpilih bidder terbaik, akan diadakan kick off meeting untuk

menyamakan persepsi semua pihak terkait, dan merupakan tanda sebuah

proyek dimulai. Pada kick off meeting akan dibahas hal-hal mengenai:

a. Garis besar tujuan proyek

b. Organisasi dan matriks tanggung jawab

c. Prosedur Komunikasi

d. Prosedur Approval

e. Time Schedule

f. Report

g. Perijinan

h. Procedure Delivery Material

i. Garis besar aspek teknis

(26)

Dalam kick off meeting tersebut, dihadiri oleh tim inti , yaitu pemilik

proyek, pengelola proyek, kontraktor, sub-kontraktor.

8. Penyempurnaan Konsep

Setelah proyek dimulai, maka konsep diperbaiki kembali agar benar benar

matang dan sesuai keinginan owner.

9. Pembuatan Drawing for Tender

Setelah konsep matang, dibuat Drawing for tender, apabila sudah selesai,

diikuti dengan drawing for construction, dan terakhir diikuti dengan shop

drawing saat sudah ada di tangan kontraktor. Pembangunan dilaksanakan

(27)

BAB III ANALISA DATA

Berdasarkan data diatas, maka perlu dilakukan analisa apakah proses tender

PT.Pertamina Office sudah sesuai dengan tahap dan ketentuan yang ada. Berikut

adalah analisanya :

Tabel 3.1 Analisa Tahap Tender PT.Pertamina Office

NO NAMA

melalui media Koran, dan lain-lain

namun hanya mengundang 6

perusahaan untuk mengikuti proses

tender karena PT.Pertamina

merupakan perusahaan tbk. Proses

tahap awal ini sudah sesuai dengan

proses yang tertera di teori, karena

ini merupakan tahap awal yang

penting sebelum tender dimulai.

dalam tahap rapat aanwizing , dan

sudah sesuai dengan teori, karena

bidder terlebih dahulu harus

memahami bagaimana desain yang

harus dibuat, ketentuan apa saja

(28)

luas dan kondisi bangunan, serta

berbagai hal lain yang diperlukan

informasinya sebagai data untuk

Pada tahap ini, sebanyak 1 tahap

pada teori sudah mencakup 4 tahap

tender PT.Pertamina Office, dan

sudah sesuai secara teoritis. Tahap

ini adalah tahap penentuan dimana

dokumen dibuat, dan akan diseleksi

oleh pembuka tender. Proses ini

yang akan menentukan konsultan

sudah terpilih, dan akan masuk ke

tahap terakhir yaitu tahap dimana

proyek akan jatuh ke pada

konsultan, dan harus kembali

menyesuaikan konsep yang telah

ada, agar kemudian lebih dirinci

secara detail dan disesuaikan

dengan permasalahan dan

ketentuan yang ada. Setelah

melakukan kick off meeting, dan

melakukan berbagai

(29)

maka kemudian akan dibuat

dokumen untuk tender, yang

nantinya akan diberi tenggat waktu.

Dalam hal ini, proses juga sudah

benar secara teoritis.

Selain menganalisa proses tender dari sisi bidder, diperlukan juga analisa

evaluasi oleh owner. Berdasarkan analisis secara teoritis, dari sudut pandang

owner / representatives perlu juga dipahami mengapa tender ini dimenangkan

oleh PT.Tetra Desaindo, agar sebagai desainer, dapat mengerti apa yang menjadi

pertimbangan owner dalam memilih bidder terbaik. Berikut adalah evaluasinya :

Tabel 3.2 Analisa Evaluasi Tender PT.Pertamina Office

NO TAHAP

EVALUASI

EVALUASI PT.TETRA DESAINDO

1 Administrasi 1. Surat penawaran ditanda tangani oleh orang

yang namanya disebutkan dalam akte

pendirian atau perubahannya;

2. Jangka waktu berlakunya surat

penawaran tidak kurang dari waktu yang

ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan

3. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang

ditawarkan tidak melebihi jangka waktu yang

ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan

4. Surat penawaran mencantumkan tanggal

5. Surat-surat dan dokumen yang dibutuhkan

(30)

2 Teknis 1. Metode pelaksanaan pekerjaan yang

ditawarkan memenuhi persyaratan substantif

yang ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan,

atau tidak menggambarkan penguasaan dalam

penyelesaian pekerjaan

2. Jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan yang

ditawarkan tidak melampaui batas waktu yang

ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan

3. Jenis, kapasitas, komposisi dan jumlah

peralatan minimal yang disediakan

sesuai dengan yang ditetapkan

dalam Dokumen Pemilihan;

4. Spesifikasi teknis memenuhi persyaratan yang

ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan;

5. Personil inti yang akan ditempatkan secara

penuh sesuai dengan persyaratan yang

ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan, atau

posisinya dalam manajemen

pelaksanaan pekerjaan tidak sesuai dengan

organisasi pelaksanaan yang diajukan;

6. Bagian pekerjaan yang akan

disubkontrakkan sesuai dengan persyaratan

yang ditetapkan dalam Dokumen Pemilihan

3 Harga 1. Tidak adanya kecurangan dan harga tidak

wajar

2. Tidak ada harga yang hanya berdasarkan

perkiraan sendiri

3. Harga masuk dengan kriteria

4 Kualifikasi 1. Formulir isian kualifikasi ditandatangani

oleh orang yang namanya juga

disebutkan dalam akte pendirian.

(31)

peraturan perundang-undangan

3. Tidak ada satupun personil yang masuk dalam

Daftar Hitam

4. Memiliki NPWP dan memenuhi kewajiban

perpajakan tahun pajak terakhir (SPT

Tahunan), atau 3 (tiga) bulan terakhir.

5. Memiliki kemampuan menyediakan fasilitas

dan peralatan serta personil yang diperlukan

untuk pelaksanaan pekerjaan

6. Memiliki kemampuan dan portfolio yang baik

dalam bidang desain interior

7. Hasil desain untuk tender baik dan sesuai

dengan semua ketentuan, dan gaya yang

diinginkan.

Berdasarkan factor-faktor diatas, maka PT.Tetra Desaindo dapat menjadi

bidder terpilih dalam proses tender tersebut. Dari segi bidder, semua tahap sudah

dilewati dengan proses yang sesuai dan teratur, serta menepati peraturan dan

jangka waktu yang ada. Dari segi evaluasi penyelenggara pun, dapat dilewati

(32)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Proses tender PT.Pertamina Office yang dilakukan oleh PT.Tetra

Desaindo sudah memenuhi ketentuan , syarat dan melalui tahap yang

sudah sesuai. Terpilihnya PT.Tetra Desaindo sebagai konsultan desain

interior untuk proyek tersebut, juga dikarenakan banyak factor yang

menjadi nilai tambah di mata penyelenggara. Proses tender yang diikuti

dengan baik dan benar, dan mengikuti semua ketentuan yang ada, akan

membuat bidder menjadi pertimbangan kuat oleh penyelenggara.

B. SARAN

Sebagai seorang desainer, penting untuk juga memahami bukan

sekadar proses tender semata, namun juga evaluasi apa yang dilakukan

oleh owner sehingga dapat membuat peluang bidder memenangkan proyek

(33)

DAFTAR PUSTAKA

Assaf, Sadi & Bubshait, Abdulaziz, Bid Awarding Systems : An Overview, Cost

Engineering, 1998

Chen, Mark T., Selecting the Right Engineer, Contractor and Supplier, AACE

Transactions, 2000

Gransberg, Douglas & Ellicot, Michael E., Best Value Contracting : Breaking the

Low Bid Paradigm, AACE Transactions, 1996

http://www.konsultasi.lkpp.go.id/index.php?mod=browseP&pid=34 diakses pada

Gambar

Tabel 3.1 Analisa Tahap Tender PT.Pertamina Office
Tabel 3.2 Analisa Evaluasi Tender PT.Pertamina Office

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua produk generik dan produk merk dagang telah memenuhi persyaratan yang ditentukan, baik uji mutu fisik tablet maupun uji disolusi. Hasil

Untuk dapat melaksanakan suatu proyek sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka kontraktor perlu meningkatkan produktivitas suatu pekerjaan salah satunya pekerjaan dinding

Pelelangan yang gagal karena hal – hal sebagai berikut : tidak ada penawaran yang memenuhi syarat yang ditentukan dalam dokumen lelang ; tidak ada penawaran yang harga

wisatawan akan mendapatkan suatu kenangan akan budaya yang mempesona, baik dari segi variasi, mutu dan kontinyuitas maupun waktu yang tepat. Kenangan dari segi

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan meluangkan waktu untuk kami baik dari segi moril, maupun materil,

Pekerjaan proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu waktu yang sudah ditentukan sesuai kontrak yang disepakati. Pengendalian waktu ini dilakukan dengan adanya

Survey Harga Satuan Pekerjaan Dalam penentuan harga satuan pekerjaan baik harga satuan untuk material maupun harga satuan upah tenaga kerja untuk analisa Rencana Anggaran

Untuk menghasilkan luaran proyek sistem informasi yang bermutu dalam arti sesuai dengan persyaratan, baik yang didefinisikan oleh pemberi kerja maupun mengikuti standar yang ditentukan