1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Kejahatan genosida mulai dikenal sejak tahun 1944. Terminologi genosida pertama kali diperkenalkan oleh seorang pengacara berkebangsaan Polandia bernama Raphael Lemkin. Genosida digunakan untuk mendeskripsikan sebuah pembantaian sistematik terhadap suatu golongan etnis ataupun agama. Genosida berasal dari penggabungan kata
Genos (ras) dari bahasa Yunani dan Cidium (membunuh) dari bahasa Latin.
Beberapa contoh kasus kejahatan genosida yang pernah terjadi dan menjadi perhatian internasional antara lain, Simele Massacre di Irak pada tahun 1933 dan
Holocaust oleh Nazi di Eropa pada tahun 1940. Dua kejahatan genosida di atas merupakan dua kejahatan yang paling menggeparkan pada masa itu. Sehingga pada tahun 1948 melalui Majelis Umum PBB disepakatilah The Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (Konvensi tentang Pencegahan dan Hukuman Kejahatan Genosida), yang akhirnya berjalan efektif pada 1951. Konvensi ini secara garis besar berisikan tentang definisi genosida, ketentuan hukum, mekanisme penghukuman, dan lain-lain.
Perang Bosnia yang terjadi dalam rentang tahun 1992-1995 adalah salah satu kasus genosida besar yang terjadi pasca dibentuknya konvensi mengenai genosida ini. Dalam perang ini pihak Bosnia Serb dan Bosnia Croat menyerang Bosnia Herzegovina, terutama yang berada di wilayah Bosnia Timur. Pihak Bosnia Serb dan Bosnia Croat melakukan
ethnic cleansing terhadap Bosnia Herzegovina dengan metode pengurungan, pembunuhan, perkosaan, pelecehan seksual, penyiksaan, pemukulan, perampokan dan perlakuan tidak manusiawi terhadap penduduk sipil, penembakan terhadap warga sipil yang melanggar hukum, penggunaan tidak sah dan menjarah aset nyata dan pribadi, penghancuran rumah dan bisnis, dan penghancuran tempat ibadah.1
Sebagai upaya penyelesaian Perang Bosnia ini, akhirnya dibentuk pulalah The International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) sebagai badan di bawah PBB yang berfungsi membantu menyelesaikan konflik di Balkan. Kejahatan genosida di Bosnia Timur ini mengundang berbagai tanggapan internasional terhadap aksi kekejaman yang terjadi di sana.
1“
2 Berdasarkan uraian di atas, penulis akan membahas bagaimana posisi The Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide dalam penyelesaian kasus genosida di Bosnia Timur dan bagaimana dampak dari genosida tersebut terhadap masyarakat Bosnia saat ini, serta bagaimana peran ICTY dalam membantu menyelesaikan konflik genosida tersebut.
1.2Rumusan Masalah
Sebuah permasalahan utama yang akan dibahas pada paper ini ialah “Bagaimana posisi The Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide dalam penyelesaian kasus genosida di Bosnia Timur?”
1.3Landasan Konseptual
Untuk menjelaskan peristiwa genosida di Bosnia ini, ada beberapa konsep yang penulis pergunakan. Konsep pertama adalah konsep mengenai genosida. Jika merujuk pada UN Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide, pengertian tentang genosida tercantum dalam pasal 2 yang menyatakan bahwa genosida berarti suatu tindakan yang dimaksudkan untuk menghancurkan, secara keseluruhan atau sebagian, suatu suku bangsa, etnis, ras maupun kelompok-kelompok keagamaan tertentu melalui pembunuhan anggota kelompoknya, membuat luka fisik maupun mental yang parah, sengaja menimbulkan kondisi untuk menghancurkan fisik secara sebagian maupun keseluruhan, melakukan tindakan yang dimaksudkan untuk mencegah kelahiran di suatu kelompok, dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok ke kelompok lain.2 Sedangkan dalam pasal 1 yang menyatakan bahwa pihak-pihak yang telah menyetujui konvensi ini menyatakan bahwa genosida itu, baik yang dilakukan dalam waktu damai atau dalam waktu perang, merupakan suatu kejahatan atas hukum Internasional yang diusahakan untuk dicegah dan dihukum.3 Selain itu, penulis juga menggunakan konsep Humanitarian Intervention untuk menjelaskan bagaimana permasalahan genosida di Bosnia bisa diselesaikan. Sedangkan pengertian intervensi kemanusiaan menurut Holzgrefe adalah peringatan atau penggunaan kekuatan di seluruh perbatasan negara oleh satu negara atau lebih yang bertujuan untuk mencegah atau menghentikan pelanggaran
2
Francis Anthony Boyle, The Bosnian People Charge : Genocide (Amherst, Massachusetts: Aletheia Press, 1996), hlm. 13
3 yang serius dan tersebar luas dari hak asasi manusia yang mendasar dari individu daripada warganya sendiri tanpa meminta izin dari negara yang dimana pelanggarannya terjadi di wilayahnya.4 Intervensi kemanusiaan bertujuan untuk menegakkan hak asasi manusia yang dilanggar oleh suatu negara. Negara lain dapat melakukan intervensi ini tanpa harus meminta izin kepada negara yang bersangkutan dan biasanya menggunakan kekuatan militernya. Penyelesaian masalah genosida ini tidak terlepas dari adanya desakan-desakan dari negara-negara di dunia untuk menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia berat.
1.4Hipotesis
Hipotesis dalam paper ini ialah bahwa Konvensi Anti Genosida memegang posisi penting sebagai dasar acuan dalam melihat kejahatan genosida yang terjadi pada Perang Bosnia. Selain itu, masyarakat internasional melalui PBB memberikan kontribusi yang berarti dalam penyelesaian konflik yang terjadi di Bosnia ini. Salah satunya dengan disetujuinya Resolusi PBB Nomor 827 Tahun 1993 sebagai upaya menyelesaikan konflik dan juga mengadili pihak-pihak yang terlibat, dibentuklah International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY). Peran ICTY juga dinilai berhasil dalam proses penyelesaian perang yang berujung kepada genosida ini.
4
4 BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Singkat Perang Bosnia
Pada 3 Maret 1992, melalui sebuah referendum, rakyat Bosnia Herzegovina secara mayoritas menyepakati pemisahan diri dari Yugoslavia dan mendirikan Republik Bosnia Herzegovina. Pemerdekaan diri Bosnia ini menjadi awal dari perang etnis terbesar dalam sejarah Eropa kontemporer. Perang ini terjadi karena etnis Serbia yang bermukim di Bosnia memboikot referendum tersebut dan atas dukungan tentara Serbia di bawah pimpinan Slobodan Milosevic, meletuslah perang antara Serbia dan Bosnia. Tentara Serbia melakukan pembunuhan massal terhadap warga muslim Bosnia. Perang ini berlangsung selama 43 bulan dan menewaskan 250.000 warga muslim Bosnia, dan 1,5 juta lainnya terpaksa hidup di pengungsian.
Secara rinci, perang di Bosnia berlangsung antar tahun 1992 hingga tahun1995. Di masa awal perang, tentara Bosnia-Serbia melakukan serangan ke berbagai desa muslim Bosnia dan Bosnia Kroasia yang menyebabkan banyak korban jiwa sedangkan yang selamat dipaksa pergi. Pecahnya konflik bersenjata antara pihak Serbia Bosnia dan Kroat Bosnia dimulai dari serangan pihak Kroat Bosnia, di bawah pimpinan dari golongan ekstrim kanan Kroasia, terhadap penduduk Serbia Bosnia di desa Sijekovac dekat kota Bosanski Brod (bagian utara Bosnia Herzegovina) yang menewaskan 29 orang penduduk sipil Serbia Bosnia Herzegovina, 7 orang wanita Serbia Bosnia menderita perkosaan dan 3 di antaranya dibunuh.5
Perkembangan situasi politik di Bosnia Herzegovina turut memengaruhi perkembangan situasi militer. Kegagalan-kegagalan usaha-usaha perdamaian yang disponsori oleh masyarakat internasional telah mendorong meningkatnya pertempuran-pertempuran di antara pihak-pihak yang bertikai di Bosnia Herzegovina. Meningkatnya pertempuran antara pasukan Muslim Bosnia dan Kroat Bosnia melawan pasukan Serbia Bosnia, antara lain di samping sebagai akibat terbentuknya Federasi Muslim Bosnia dengan Kroat Bosnia sesuai inisiatif Washington pada bulan Maret 1994, juga dikarenakan adanya persetujuan-persetujuan gencatan senjata yang tidak dipatuhi oleh pihak-pihak yang bertikai. Dengan kata lain, satu pihak mematuhi akan tetapi pihak lainnya melakukan pelanggaran-pelanggaran dan memanfaatkan gencatan senjata sebagai momentum yang
5“Penjahat Perang Bosnia Dihukum 27 Tahun”,
5 baik untuk melancarkan operasi-operasi militernya.6 Rumitnya pertikaian yang terjadi antara Muslim Bosnia, Serbia-Bosnia dan Kroat-Bosnia menyebabkan perang ini sulit diselesaikan dan menimbulkan korban yang cukup banyak, terutama dari kalangan Muslim Bosnia, yang dikenal dengan kejahatan genosida.
2.2 Penyelesaian Konflik
Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi Nomor 827 Tahun 1993 dan laporan dari Sekretaris Jendral PBB, Boutros Boutros Ghali, Dewan Keamanan menyetujui pendirian
International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY), berupa pengadilan ad hoc yang bertempat di Den Haag, Belanda.7 Resolusi ini dikeluarkan karena dunia internasional masih terkejut dengan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional di wilayah yang dulu disebut Yugoslavia, terutama di Bosnia dan Herzegovina, termasuk pembunuhan massal, penghukuman sistematis dan pemerkosaan wanita dan pemusnahan etnis. Resolusi tersebut menyatakan bahwa situasi tersebut memberikan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional, dan menyatakan komitmennya untuk mengakhiri kriminal tersebut dan membawa keadilan bagi para korban.8
ICTY telah menuntut lebih dari 160 orang atas kasus yang terjadi dari tahun 1991 sampai 2001 terhadap anggota dari kelompok etnis Kroasia, Bosnia dan Herzegovina, Serbia, Kosovo dan Former Yugoslav Republic of Macedonia. Lebih dari 60 orang telah dihukum dan sekarang lebih dari 40 orang masih dalam proses. Baik orang-orang Serbia dan Kroasia didakwa dan dihukum atas kejahatan perang sistematis, sedangkan orang-orang Bosnia didakwa dan dihukum atas kejahatan individu. Beberapa pemimpin politik
Serbia tingkat tinggi (Momčilo Krajišnik and Biljana Plavšić) juga yang dari Kroasia (Dario Kordić) dihukum atas kejahatan perang, sedangkan beberapa yang lain masih dalam
pemeriksaan di ICTY (Radovan Karadžić,Vojislav Šešelj and Jadranko Prlić).9 Termasuk
Slobodan Milošević dituntut dengan kejahatan perang sehubungan dengan perang di
6
“ICTY:Conflict between Bosnia and Herzegovina and the Federal Republic of Yugoslavia", http://hrw.org/ reports/ 2004/ij/icty/2.htm#Toc62882595, accessed on 15/04/2011.pkl.21.09.WIB
7
Magdalena M. Martín Martínez, National Sovereignty and International Organizations (Martinus Nijhoff Publishers: 1996), hlm. 279
8 Robert Cryer,
An Introduction to International Criminal Law and Procedure (Cambridge University Press : 2007), hlm. 103
9
6 Bosnia, termasuk atas pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa10, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Figur lainnya yang dicurigai seperti Ratko Mladić dan Goran
Hadžić sekarang dalam status buron.11
Sejak berdirinya tahun 1993, ICTY telah mengubah dengan tetap hukum humaniter
internasional dan menyediakan kesempatan bagi para korban untuk menyuarakan „horor‟
mereka atas kejadian yang mereka saksikan dan alami. Dalam aturan pengambilan keputusan tentang genosida, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, ICTY telah menunjukkan bahwa jabatan atau posisi individu terdahulu tidak dapat menyelamatkan pelaku dari hukuman. Tribunal ini telah memberikan dasar bagi apa yang sekarang diterima sebagai norma-norma dalam resolusi konflik dan pengembangan pasca konflik di seluruh dunia, secara khusus dalam kasus di mana para pemimpin yang dicurigai atas kejahatan massal yang harus menghadapi hukum. Tribunal ini telah membuktikan keadilan internasional yang efisien dan transparan itu memungkinkan. Tribunal ini juga telah membuktikan bahwa pembantaian massal di Srebrenica adalah genosida. Para hakim juga menyatakan bahwa pemerkosaan digunakan oleh angkatan bersenjata pihak Bosnia Serbia sebagai alat untuk meneror. Dalam banyak kasus yang sering terdengar bersalah adalah pihak dari orang Serbia dan Bosnia Serbia.
Sesuai dengan statusnya yang ad hoc, diperkirakan pada November 2010, 10 kasus diadili, 4 kasus akan diselesaikan tahun 2011 dan 5 kasus akan diselesaikan tahun 2012.
Kasus atas Radovan Karadžić diharapkan akan selesai pada akhir 2013. Semua kasus
direncanakan akan diselesaikan pada akhir tahun 2014. ICTY telah menghukum para pemimpin yang bersalah, memberikan keadilan bagi para korban. Memberikan kesempatan bagi para korban untuk bersuara, mengungkapkan kenyataan atau fakta yang terjadi, mengembangkan hukum internasional dan memperkuat rule of law.12
2.3 Analisis Masalah
Wilayah yang dulu disebut sebagai Federal Republic of Yugoslavia telah menandatangani dan meratifikasi Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide pada tanggal 11 Desember 1948 dan 29 Agustus 1950. Kemudian pada tanggal 15 Juni 1993 Sekretaris Jendral PBB menerima komunikasi dari pihak Yugoslavia
10
Konvensi Jenewa teridiri dari 4 traktat dan 3 protokol yang mengatur standar hukum internasional dalam hukum internasional mengenai perlakuan humanitarian bagi korban perang.
11 BBCNews, “Milosevic charged with Bosnia genocide”
, http://news.bbc.co.uk/2/hi/europe/1672414.stm, accessed on 16/04/2011.pkl.14.24.WIB
7 bahwa,
"Considering the fact that the replacement of sovereignty on the part of the
territory of the Socialist Federal Republic of Yugoslavia previously comprising the
Republic of Bosnia and Herzegovina was carried out contrary to the rules of
international law, the Government of the Federal Republic of Yugoslavia herewith
states that it does not consider the so-called Republic of Bosnia and Herzegovina a
party to the Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide,
but does consider that the so-called Republic of Bosnia and Herzegovina is bound by
the obligation to respect the norms on preventing and punishing the crime of genocide
in accordance with general international law irrespective of the Convention on the
Prevention and Punishment of the Crime of Genocide.” 13
(Mempertimbangkan fakta bahwa pergantian kekuasaan di wilayah Socialist Federal
Republic of Yugoslavia, yang di mana dulu Republic of Bosnia and Herzegovina merupakan
bagian di dalamnya, berlangsung tidak sesuai dengan hukum internasional, dengan ini
Government of the Federal Republic of Yugoslavia menyatakan bahwa, apa yang kemudian
disebut Republic of Bosnia and Herzegovina, bukan bagian dari Convention on the Prevention
and Punishment of the Crime of Genocide, tetapi tetap mempertimbangkan Republic of Bosnia
and Herzegovina terikat atas dasar kewajiban untuk menghormati norma-norma dalam
mencegah dan menghukum kejahatan genosida sejalan dengan hukum internasional umum,
terlepas dari Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide).
Walaupun begitu, pihak Serbia dalam kasus ini masih disalahkan karena telah gagal dalam upaya untuk menghindari aksi genosida. Meskipun tidak secara langsung dinyatakan terikat dengan konvensi anti genosida tersebut. Namun, Serbia tetap memiliki tanggungjawab untuk menghindari tindakan genosida, karena bagaimana pun ketika Serbia bagian dari Yugoslavia, Yugoslavia telah meratifikasi konvensi tersebut, yang secara tidak langsung juga mengikat masyarakat Serbia. Sesuai dengan artikel II (b) dari Konvensi Wina 1969 tentang ratifikasi, Yugoslavia (dengan Serbia di dalamnya) tetap berkewajiban untuk mematuhi Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide
karena telah meratifikasinya pada tahun 1948 dan 1950.
13
8
…
(b) “ratification”, “acceptance”, “approval” and “accession” mean in each case the international act so named whereby a State establishes on the international plane its consent to be bound by a treaty;14
Dengan begitu, Serbia yang dulu bagian dari Yugoslavia dianggap telah melanggar
Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide karena telah gagal menghindari aksi genosida di wilayahnya.
Selain itu, tindakan NATO yang mengebom Bosnia dan Herzegovina pada tahun 1995 atau yang dikenal dengan kode nama NATO Operation Deliberate Force, dilancarkan dalam rangka meruntuhkan kemampuan militer dari Army of the Republika Srpska yang mengancam dan menyerang „daerah aman‟ milik PBB di Bosnia selama
Perang Bosnia. Operasi ini dilaksanakan antara 30 Agustus dan 20 September 1995. Tindakan NATO ini dapat digolongkan sebagai humanitarian intervention.
Humanitarian intervention mengandung banyak definisi, kesimpulan yang bisa ditarik dari definisi tersebut adalah, sebagai berikut:15
1) Penggunaan kekuatan militer: meskipun beberapa ahli memilih untuk menggunakan kata non-forcible dalam definisinya, tetapi mayoritas menggunakan kata tersebut. Argumen utama dalam memasukkan dimensi militer adalah fakta bahwa antar pihak yang berperang biasanya menyebabkan kekerasan, maka penguasaan atau penyelesaiannya juga memerlukan keterlibatan militer.
2) Tidak adanya izin dari negara yang ditargetkan: ini adalah poin utama, yang menyebabkan aksi ini disebut humanitarian intervention dan membedakannya dengan peacekeeping. Hal ini juga berarti dalam maksud intervensi dilakukan dalam kasus adanya kekerasan yang membabi buta yang disebabkan oleh negara itu sendiri atau negara tersebut sudah hancur, di mana tidak ada kekuasaan yang berlaku.
3) Tujuannya adalah untuk membantu non-warga negara, yaitu orang-orang yang bukan warga negara negara tersebut tetapi sedang tinggal di negara tersebut.16
4) Agen intervensi (memasukkan intervensi dalam payung PBB).
14“Vienna Covention on the Law of Treaties”,
http://untreaty.un.org/ilc/texts/instruments/english/ conventions/1_1_1969.pdf, accessed on 15/04/2011.pkl.18.32.WIB
15“Humanitarian Intervention: The Evolution of the Idea and Practice” http://www.sam.gov.tr/perceptions/ Volume6/June-July2001/kardas09.PDF, accessed on 15/04/2011.pkl.18.36.WIB
16“
9 Dalam poin keempat, mengenai agen intervensi, keberadaan ICTY, selain sejalan dengan bab VII Piagam PBB seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, juga sesuai dengan tujuan pada artikel III, IV, V, VI dan VIII dari Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide yang intinya berbunyi bahwa aksi genosida harus mendapat hukuman.17
Article III: The following acts shall be punishable:
(a) Genocide;
(b) Conspiracy to commit genocide;
(c) Direct and public incitement to commit genocide;
(d) Attempt to commit genocide;
(e) Complicity in genocide.
Sesuai dengan artikel III, dalam Perang Bosnia terjadi pembunuhan 8000 Muslim Bosnia, penghukuman tidak berdasarkan hukum, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan atau penyerangan seksual, penyiksaan, pemukulan, perampokan dan perilaku tidak manusiawi terhadap penduduk sipil dan tindakan-tindakan lainnya dalam satu paket ethnic cleansing atau genosida.
Article IV: Persons committing genocide or any of the other acts enumerated in
article III shall be punished, whether they are constitutionally responsible rulers,
public officials or private individuals.
Sesuai dengan pasal ini, orang-orang yang bertanggung jawab atau para pelaku harus dihukum entah mereka pemimpin, petugas atau individu-individu yang bertanggung jawab. Hal ini dapat dilihat dengan ditahan dan diprosesnya (dan dijatuhi hukuman) Slobodan Milosevic, Radislav Krstić, Ljubiša Beara dan banyak pelaku lainnya.
Article V: The Contracting Parties undertake to enact, in accordance with their
respective Constitutions, the necessary legislation to give effect to the provisions of
the present Convention, and, in particular, to provide effective penalties for persons
guilty of genocide or any of the other acts enumerated in article III.
Semua negara yang terlibat dalam Konvensi Genosida ini seharusnya mengharmonisasikan konvensi ini dengan hukum nasionalnya, dalam arti bila terjadi pelanggaran terhadap konvensi ini maka pelaku di negara tersebut dapat dihukum dengan hukum nasional sesuai dengan ratifikasi konvensi genosida ini. Tetapi walaupun Federal
17
Prevent Genocide International, “Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide”, http://www.preventgenocide.org/law/convention/text.htm, accessed on
10
Republic of Yugoslavia sudah meratifikasi Konvensi Genosida ini, Federal Republic of Yugoslavia tetap mengelak dengan berbagai cara agar tidak terkesan melanggar Konvensi Genosida ini. Padahal ketika Yugoslavia telah meratifikasi, maka secara tidak langsung Serbia ikut terikat. Oleh karena itu Serbia bertanggungjawab untuk mendukung konvensi ini. Bahkan harus menyesuaikan dengan hukum nasionalnya bagi para pelanggar. Dalam kasus ini, Serbia yang baru memisahkan diri dari Yugoslavia, masihlah memiliki ketidakstabilan politik dan hukum yang mengakibatkan banyaknya pelanggaran HAM terutama genosida yang dilakukan masyarakatnya. Sehingga PBB dalam hal ini memiliki wewenang untuk mencampuri urusan tersebut terkait humanitarian intervention. Yang selanjutnya direalisasikan dalam bentuk lembaga yang bernama ICTY.
Article VI: Persons charged with genocide or any of the other acts enumerated in
article III shall be tried by a competent tribunal of the State in the territory of which
the act was committed, or by such international penal tribunal as may have
jurisdiction with respect to those Contracting Parties which shall have accepted its
jurisdiction.
Article VIII: Any Contracting Party may call upon the competent organs of the
United Nations to take such action under the Charter of the United Nations as they
consider appropriate for the prevention and suppression of acts of genocide or any of
the other acts enumerated in article III.
Pasal VI dan VIII ini menjelaskan alasan keberadaan ICTY. Berdirinya ICTY sangat sesuai atau sejalan dengan maksud dari pasal tersebut.
11 Herzegovina dan aksi ini adalah genosida, dilakukan oleh anggota Army of Republic
Srpska di Srebrenica dari 13 Juli 1995.18
Mahkamah Internasional menemukan bahwa Serbia tidak langsung bertanggung jawab atas genosida Srebrenica, tidak juga terlibat di dalamnya, tetapi termasuk melakukan pelanggaran terhadap Konvensi Genosida karena gagal mencegah genosida Srebrenica, untuk tidak berkooperasi dengan ICTY dalam menghukum para pelaku (terutama Ratko
Mladić) dan untuk melanggar kewajibannya dalam menuruti perintah yang diberikan Mahkamah Internasional.19
Dalam kasus yang ada hubungannya dengan aplikasi Konvensi Genosida ini, Bosnia-Herzegovina menanyakan pada Mahkamah Internasional untuk mengintervensi melawan Federal Republic of Yugoslavia (termasuk Serbia di dalamnya) dengan tuduhan pelanggaran terhadap konvensi. Segera setelah melaporkannya, Bosnia-Herzegovina meminta persetujuan Mahkamah Internasional atas beberapa ketentuan untuk menjaga hak-haknya. Untuk bagiannya, Yugoslavia juga meminta beberapa ketentuan tertentu. Setelah menyatakan bahwa Mahkamah Internasional punya yurisdiksi yang cukup, 8 April 1993 Mahkamah Internasional mengindikasikan bahwa Yugoslavia dapat memberlakukan beberapa ketentuan khusus. Lebih lanjut Mahkamah Internasional menyatakan bahwa Yugoslavia dan Bosnia-Herzegovina harus tidak melakukan tindakan apapun (dan Mahkamah Internasional harus memastikan kedua belah pihak tidak melakukan aksi apa-apa) yang dapat mendorong atau memancing atau menambah parah konflik yang sedang terjadi.
Mahkamah Internasional menahan proses untuk menyetujui/menyatakan/merespon 7 bantahan dari pemerintah Federal Republic of Yugoslavia (termasuk Serbia di dalamnya) berhubungan dengan penerimaan aplikasi terhadap Bosnia-Herzegovina dan yurisdiksi Mahkamah Internasional untuk memproses kasus tersebut. Federal Republic of Yugoslavia
mengklaim (1) Kejadian di Bosnia-Herzegovina merupakan perang saudara dan bukanlah konflik atau perselisihan internasional menurut makna pasal IX dari Konvensi Genosida (Article IX: Disputes between the Contracting Parties relating to the interpretation, application or fulfilment of the present Convention, including those relating to the
18“
The Application of the Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (Bosnia and Herzegovina v. Serbia and Montenegro) [2007] Judgment, ICJ General List No. 91, hlm. 108, par. 297, http://www.icj-cij.org/docket/files/91/13685.pdf, accessed on 22/04/2011.pkl.14.21.WIB
19The New York Times, “
Court Declares Bosnia Killings Were Genocide”,
12
responsibility of a State for genocide or for any of the other acts enumerated in article III,
shall be submitted to the International Court of Justice at the request of any of the parties
to the dispute) (2) Otoritas untuk melakukan pemrosesan berangkat atau berasal dari pelanggaran terhadap peraturan hukum domestik (3) Bosnia-Herzegovina bukanlah bagian dari Konvensi Genosida dan (5) Konvensi tidak operatif antara negara-negara sebelum 14 Desember 1995 dan pastinya tidak untuk kejadian-kejadian yang terjadi sebelum 18 Maret 1993. Pendeknya, Mahkamah Internasional kekurangan yurisdiksi.
Dalam keputusannya tanggal 11 Juli 1996, Mahkamah Internasional menolak bantahan terdahulu dari Federal Republic of Yugoslavia, menyatakan bahwa semua kondisi yang diperlukan untuk yurisdiksinya telah terpenuhi. Mahkamah Internasional juga menyatakan bahwa konflik yang legal terjadi antara pihak-pihak dan tidak satu makna pun dari pasal I dari Konvensi Genosida yang membatasi Mahkamah Internasional untuk mengambil langkah kepada siapa saja yang melakukan genosida. Konvensi genosida tidak mengandung klausa apa pun yang dapat membatasi yurisdiksi dari Mahkamah Internasional.
Selanjutnya pada 2 Juli 1999, Kroasia mempresentasikan aplikasi melawan Federal Republic of Yugoslavia karena telah melanggar Konvensi Genosida. Dengan statusnya yang dalam beberapa bagian masih belum jelas, Federal Republic of Yugoslavia diterima atau diakui oleh PBB. Dalam aplikasi yang dilaporkan atau diberikan pada 23 April 2001, PBB menanyakan pada Mahkamah Internasional untuk merevisi keputusan terdahulunya, dengan dasar bahwa hanya dengan penerimaan Federal Republic of Yugoslavia oleh PBB sebuah kondisi seperti dalam pasal 61 Statuta Mahkamah Internasional dapat terpenuhi. Karena Federal Republic of Yugoslavia bukan anggota dari PBB sebelum 1 November 2001, Federal Republic of Yugoslavia berargumen bahwa Federal Republic of Yugoslavia
bukan bagian dari statuta dan dengan begitu bukan bagian pula dari Konvensi Genosida. Mahkamah Internasional menolak/membantah/melawan argumen Federal Republic of Yugoslavia. Mahkamah Internasional mengobservasi bahwa di bawah makna pasal 61 paragraf 1 dari statutanya, aplikasi dari keputusan yang direvisi hanya dapat dibuat ketika didasarkan pada penemuan fakta yang tidak diketahui saat keputusan tersebut dulu diambil. Menurut Mahkamah Internasional, “Fakta yang terjadi beberapa tahun setelah
13 dapat diterima. Dengan begitu Mahkamah Internasional punya yurisdiksi untuk mengajudikasi dalam kasus klaim genosida.20
Dari keseluruhan proses yang panjang dan rumit itulah, akhirnya para penjahat genosida berhasil dijatuhi hukuman dan diadili atas dasar The Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (Konvensi tentang Pencegahan dan Hukuman Kejahatan Genosida).
20“
Genocide and Crimes Against Humanity: International Court of Justice”,
14 BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dari paper ini ialah bahwasanya Perang Bosnia yang berlangsung antara tahun 1992 hingga 1995 merupakan salah satu contoh bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di dunia. Pada perang tersebut terjadi pelanggaran HAM berupa kejahatan genosida antara Bosnia-Herzegovina, Bosnia-Kroat dan Bosnia-Serb. Pihak Bosnia-Serb bermaksud melakukan ethnic cleansing terhadap Muslim Bosnia dengan cara pembunuhan 8000 Muslim Bosnia, penghukuman tidak berdasarkan hukum, pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan atau penyerangan seksual, penyiksaan, pemukulan, perampokan dan perilaku tidak manusiawi terhadap penduduk sipil dan tindakan-tindakan lainnya dalam satu paket yang disebut dengan ethnic cleansing atau genosida.
Sesuai dengan hipotesis penulis, bahwasanya dari sudut pandang hukum internasional, kejahatan genosida ini merupakan tindakan pelanggaran hukum yang harus diselesaikan dan diadili para pelakunya. Untuk mencapai tujuan tersebut, The Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide (Konvensi tentang Pencegahan dan Hukuman Kejahatan Genosida) merupakan sebuah instrumen hukum internasional yang dijadikan landasan dalam menentukan tindakan-tindakan kognitif maupun afirmatif dalam menyelesaikan kasus genosida pada Perang Bosnia ini.
Selain itu, masyarakat internasional di bawah naungan PBB memiliki kontribusi yang sangat besar bagi penyelesaian sengketa ini. Masyarakat internasional melalui PBB telah melakukan upaya intervensi kemanusiaan untuk membantu menyelesaikan sengketa genosida yang terjadi. Realisasinya dalam bentuk tribunal yang bernama The International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY) sebagai badan di bawah PBB yang membantu menyelesaikan sengketa perang tersebut. Dalam posisinya, ICTY juga dinilai efektif dalam menyelesaikan kasus ini. Hal tersebut dibuktikan dengan penangkapan dan pemberian hukuman terhadap aktor-aktor yang dinilai sebagai penjahat-penjahat utama kejahatan genosida terhadap Muslim Bosnia, contohnya Slobodan Milošević.