0
PENGARUH CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP
KINERJA KEUANGAN PERBANKAN SYARIAH DAN KONVENSIONAL
YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN
2013-2015
Draft Skripsi
Oleh:
Irma Heriani
01.13.3020
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanggung jawab sosial semakin menjadi perhatian bagi dunia bisnis. Hal ini berkaitan dengan adanya kesadaran suatu perusahaan atau institusi untuk tidak hanya menghasilkan laba setinggi-tingginya, tetapi juga bagaimana laba tersebut dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. Konsep Corporate Social Responsibility mengarah kepada transparansi yang diungkapkan tidak hanya informasi keuangan perusahaan saja, tetapi juga diharapkan mengungkapkan informasi mengenai dampak sosial serta lingkungan hidup yang diakibatkan oleh aktivitas.
Perusahaan harus berjalan sesuai dengan nilai sosial lingkungan karena banyaknya pihak yang memberikan tekanan terhadap perusahaan. Upaya tersebut dilakukan agar perusahaan memperoleh dukungan serta pengakuan masyarakat.1 Untuk itu perusahaan hendaknya menjaga reputasi dengan selalu mempertimbangkan faktor sosial sebagai wujud kepedulian dan keberpihakan terhadap masalah masyarakat.2
Menurut John Elkington dalam buku yang berjudul “Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Busines” pada tahun 1997 menyebutkan pemahaman CSR dengan 3P yaitu profit (Mencari Laba), people (Mensejahterahkan Orang), planet (Menjamin kelangsungan planet).3
Konsep ini memuat pengertian bahwa bisnis tidak hanya sekedar mencari keuntungan (profit) melainkan juga kesejahteraan orang (people) dan
1 Nor Hadi, Corporate Social Responsibility, ([t.cet]; Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), h. 91.
2 Nor Hadi, Corporate Social …, h. 95.
3 Edi Suharto, Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat CSR (Corporate Social Responsibility), ([t.cet]; Bandung: Alfabet, 2009), h. 107.
2
menjamin keberlangsungan hidup planet. Konsep CSR berkaitan erat dengan keberlangsungan atau suistainbility perusahaan. Konsep CSR mengharuskan perusahaan untuk mengambil keputusan dan melaksanakan aktivitas perusahaan tidak hanya mengacu pada profitabilitas saja melainkan juga berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan untuk saat ini maupun masa yang akan datang.
Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang mewajibkan korporasi, khususnya yang bergerak dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) mengeluarkan dana untuk tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR). Hal ini secara eksplisit diungkapkan dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), yang beberapa waktu lalu dikuatkan oleh Mahkamah Konstitusi untuk segera diberlakukan. Meskipun belum dibuat peraturan perundang-undangan di bawahnya sebagai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis secara hukum perusahaan-perusahaan di Indonesia telah terikat dengan UU tersebut.4
Dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, pada bab IV, bagian kedua, pasal 66 (2), poin c yang mengatur tentang laporan tahunan, disebutkan bahwa direksi harus menyampaikan laporan tahunan yang sekurang-kurangnya memuat laporan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan.5
Penelitian mengenai mengenai pengaruh CSR terhadap kinerja perusahaan telah banyak dilakukan oleh orang-orang di Indonesia salah satu diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Danu Candra Indrawan pada
4 Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP), Buku Panduan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility-CSR) ([t.t]: TTPS 2010), h. 1.
3
tahun 2011, dalam penelitiannya membuktikan bahwa CSR berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan diukur dengan salah satu indikator rasio profitabilitas yakni ROE (Return On Equity).
Corporate Social Responsibility dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan, dimana dengan melakukan aktivitas CSR perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk perusahaan sehingga reputasi perusahaan juga meningkat dimata masyarakat. Jadi masyarakat akan berkeinginan untuk membeli produk perusahaan. Semakin laku produk perusahaan di pasaran maka laba (profit) yang dapat dihasilkan perusahaan akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya profit akan dapat menarik investor, karena profitabilitas menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam keputusan investasinya. Hal ini akan secara signifikan mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan.6
Penelitian yang akan penulis lakukan didasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Danu Candra Indrawan tahun 2011. Dalam penelitian Danu Candra Indrawan tahun 2011 terdapat beberapa keterbatasan diantaranya periode penelitian hanya 1 tahun. Periode penelitian yang pendek menyebabkan pengaruh CSR tidak nampak karena pada dasarnya pengungkapan CSR bertujuan untuk jangka panjang. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada tahun penelitian dan sampel yang digunakan. Sampel yang digunakan oleh Danu Candra Indrawan yakni perusahaan Manufaktur yang terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia) pada tahun 2007 sedangkan sampel penelitian penulis adalah Perbankan Syariah dan Perbankan Konvensional tahun 2013-2015 dan indikator pengukuran yang digunakan yakni ROE (Return On Equity) dan ROA (Return On Asset).
4
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Apakah Corporate Social Responsibility berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan diukur melalui Return On Equity (ROE) ?
2. Apakah Corporate Social Responsibility berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan diukur melalui Return On Assets (ROA) ?
C. Definisi Operasional
Untuk menghindari kekeliruan dalam memahami makna yang terkandung dalam skripsi ini, penulis merasa perlu memberikan definisi operasional yang terdapat pada judul skripsi ini.
Bank dunia (World Bank) mendefinisikan CSR sebagai berikut : "CSR is the commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives, the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good for development",7 yang berarti bahwa definisi CSR adalah komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi perkembangan ekonomi yang berkelanjutan dengan karyawan dan perwakilannya, komunitas lokal dan masyarakat yang luas untuk meningkatkan kualitas hidup, melalui jalan bisnis dan perkembangan yang baik.
Financial Performance (kinerja keuangan) dapat menggambarkan kondisi keuangan dan kesejahteraan perusahaan pada periode waktu tertentu. Penilaian kinerja keuangan biasanya dilakukan melalui Analisis rasio
7
5
keuangan. Analisis rasio keuangan digunakan untuk mengukur dan menilai baik, buruknya prestasi kerja di bidang keuangan suatu perusahaan dalam periode tertentu.8
Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah, adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan bunga. Bank Syariah adalah lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw. atau dengan kata lain, bank Syariah adalah lembaga keuangan yang bahasa pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam.9
Bank Konvensional, dalam mencari keuntungan dan menentukan harga kepada nasabahnya, bank yang berdasarkan prinsip konvensional menggunakan dua metode, yaitu a) Menetapkan bunga sebagai harga, baik untuk produk simpanan maupun untuk pinjamannya ditentukan berdasarkan tingkat suku bunga tertentu. b) untuk jasa-jasa bank lainnya pihak perbankan barat menggunakan atau menerapkan berbagai biaya-biaya dalam nominal atau persentase tertentu.10
Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan bursa hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Demi efektivitas operasional dan transaksi, Pemerintah memutuskan untuk menggabung Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan Bursa Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivatif.11
8Kadek Rosiliana, dkk, “Pengaruh Corporate Social Responsibility…, h. 3.
9 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, ([t.cet]; Jakarta: Rajawali Pers, 2014), h. 2.
10
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Ed. Revisi (Cet.II; Jakarta: Rajawali Pers. 2015), h. 36-37.
6
D. Tujuan dan Kegunaan
1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui apakah Corporate Social Responsibility memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan yang diukur melalui Return On Equity.
b. Untuk mengetahui apakah Corporate Social Responsibility memiliki pengaruh positif terhadap kinerja keuangan yang diukur melalui Return On Assets.
2. Kegunaan Penelitian
a. Secara Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan sebagai sumber bacaan atau referensi yang dapat memberikan informasi teoritis dan empiris pada pihak-pihak yang akan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan ini serta menambah sumber pustaka yang telah ada.
b. Secara Praktis
7
mengenai hubungan Corporate Social Responsibility terhadap kinerja keuangan perusahaan sehingga perusahaan tidak ragu lagi dalam menjalankan Corporate Social Responsibility.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam melakukan penelitian tentu saja harus bisa menunjukkan perbedaan antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan. Oleh karenanya tinjauan terkait penelitian sebelumnya yang memiliki kesamaan baik dari segi objek maupun variabel perlu dilakukan untuk menunjukkan bahwa penelitian yang akan dilakukan bukan tindakan plagiat.
Adapun penelitian terdahulu yang ditemukan adalah sebagai berikut: a. Penelitian yang dilakukan oleh Danu Candra Indrawan tahun 2011 mengenai
8
b. Aldina Dewi Indarwati tahun 2013 mengenai Analisis Pengungkapan Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Perusahaan Otomotif Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini tidak berhasil membuktikan kedua hipotesis penelitian yaitu pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap Return On Assets (ROA) dan pengungkapan CSR berpengaruh positif terhadap Return On Equity (ROE). Hal tersebut menunjukkan bahwa pengungkapan CSR tidak berpengaruh positif terhadap Return On Assets (ROA) dan Return On Equity (ROE).
c. I Dewa Ketut tahun 2011 mengenai Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Corporate Social Responsibility secara parsial yaitu dalam aspek sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Asset Turnover (ATO). Secara simultan CSR hanya berpengaruh terhadap kinerja jangka panjang Market to Book Ratio.
9
40 tahun 2007 ternyata tidak mempengaruhi aktivitas pengungkapan CSR pada perusahaan perbankan.
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang penulis akan lakukan terletak pada sampel yang digunakan dan tahun penelitian. Sampel yang akan penulis gunakan adalah seluruh perusahaan perbankan baik konvensional maupun syariah yang mengungkap kegiatan CSR dalam annual reportnya untuk periode 2013 sampai 2014.
F . Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka pada bagian ini diuraikan kerangka berpikir yang dijadikan landasan berpikir dalam melaksanakan penelitian. Pada dasarnya kerangka berpikir akan menjelaskan secara teoritis hubungan antar variabel (variabel independen dan dependen) yang akan diteliti.
G. Hipotesis
Berdasarkan penjelasan landasan teori dan kerangka berfikir diatas maka dapat dihipotesiskan sebagai berikut:
1. Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan.
2. Corporate Social Responsibility berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan.
Coorporate Social
10
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, karena data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk angka-angka dan bersifat menguji hubungan antar variabel.
2. Pendekatan Penelitian
Adapun pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan positivistik dan pendekatan ekonomi Islam. Pendekatan positivistik adalah suatu pendekatan yang mengandalkan sistem berpikir yang spesifik, berpikir empirik melalui pengamatan yang terukur. Pendekatan positivistik juga diartikan sebagai pendekatan penelitian untuk menganalisis fakta-fakta dan data-data empiris, untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi/menyebabkan terjadinya sesuatu hal. Sumber data yang demikian akan sangat menguntungkan peneliti dalam menganalisis, karena langsung dapat diterapkan metode analisis yang lebih bersifat objektif.12
Menurut pemikiran paham positivisme, ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari empirik. Dengan pendekatan positivisme dalam metodologi penelitian kuantitatif, menuntut adanya rancangan penelitian yang menspesifikkan objeknya secara eksplisit, dipisahkan dari objek-objek lain yang tidak diteliti. Metode penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivistik. Metodologi penelitian kuantitatif mempunyai batasan-batasan pemikiran yaitu: korelasi, kausalitas,
dan interaktif; sedangkan objek data, ditata dalam tata pikir kategorisasi,
interfalisasik dan kontinuasi.13
12
Sukandar Rumidi, Metodologi Penelitian (Cet. 4; Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2012), h. 45.
11
Dalam penelitian ini, pendekatan positivistik digunakan untuk
menganalisis fakta-fakta dan data-data empiris untuk mengidentifikasi pengaruh CSR terhadap kinerja keuangan perusahaan yang di ukur dengan Return On Equity (ROE) dan Return On Asset (ROA) perbankan Syariah dan perbankan konvensional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2013-2015.
3. Lokasi, Populasi dan Sampel
a. Lokasi
Penelitian ini dilaksanakan di Bursa Efek Indonesia melalui website resmi BEI dan website resmi OJK dan Yahoo Finance Indonesia.
b. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.14 Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang akan menjadi bahan penelitian.15 Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto, populasi adalah keseluruhan dari subyek penelitian.16 Jadi, populasi meliputi obyek dan benda-benda alam lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi keseluruhan karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.17 Populasi
14 Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis (Cet. 10; Bandung: CV Alfabeta, 2007), h. 72. 15 Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 132.
16 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktek (Cet. 12; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002), h. 108.
17
12
pada penelitian ini yaitu seluruh perusahaan Perbankan baik Konvensional maupun Syariah yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2013 sampai 2015.
c. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah yang dimiliki oleh populasi. Apabila populasi banyak maka peneliti tidak mungkin mengambil semua data yang ada pada populasi. Untuk itulah, dibutuhkan sampel yang diambil dari populasi yang representatif (mewakili) populasi.18 Menurut Supardi, sampel merupakan bagian dari populasi yang dijadikan subyek penelitian yang mewakili populasi.19
Pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan purposive sampling method. Yang dimaksud dengan purposive sampling method adalah suatu teknik penentuan sampel dengan melakukan pertimbangan tertentu untuk dapat memberikan informasi yang diperlukan.20 Jadi, sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang akan mewakili populasi untuk mendapatkan informasi. Pemilihan sampel pada penelitian ini berdasarkan dua kriteria, yaitu sebagai berikut:
1. Perusahaan Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2013-2015.
2. Perusahaan Perbankan yang menerapkan prinsip CSR.
3. Perusahaan Perbankan yang mengungkap CSR dalam annual reportnya.
18
Sugiyono, Metode Penelitian, h. 72.
19 Supardi, Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis (Cet. 1; Yogyakarta: UII Press, 2005), h. 103.
20
13
4. Data dan Sumber Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder ialah data yang diperoleh secara tidak langsung, terdiri dari dokumen-dokumen, surat, dokumen-dokumen resmi dari instansi pemerintah, laporan keuangan, dan lain sebagainya yang berupa arsip perusahaan.21 Data sekunder sangat bermanfaat untuk menghemat waktu dan biaya karena data telah tersedia.
5. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen penelitian yang digunakan yaitu mengamati hasil dokumentasi, dan studi pustaka yang menunjang penelitian ini.
6. Teknik Pengumpulan Data
Adapun metode yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi
Metode observasi digunakan untuk memperoleh informasi tentang tingkah laku manusia yang terjadi dalam kenyataan dan mengetahui kebenaran ilmu. Observasi adalah alat pengumpulan data yang sistematis, yang artinya kegiatan observasi mulai dari pencatatan dilakukan menurut prosedur dan aturan-aturan tertentu sehingga dapat diulangi kembali oleh peneliti lain. Selain itu hasil observasi harus memberi kemungkinan untuk menafsirkan sesuatu secara ilmiah.22 Dalam penelitian ini, metode
21 S. Nasution, Metode Research: Penelitian Ilmiah, (Cet. 3; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000), h. 143.
22
14
observasi digunakan untuk mengumpulkan dan memperoleh informasi mengenai CSR dalam kinerja keuangan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2013-2015.
b. Dokumentasi
Dokumentasi adalah proses pengumpulan data berupa data-data tertulis yang mengandung keterangan dan penjelasan serta pemikiran tentang fenomena yang masih akurat dan sesuai dengan masalah penelitian.23 Wujud metode dokumentasi dalam penelitian ini yaitu berupa data-data mengenai perusahaan perbankan yang menerapkan CSR tahun 2013-2015, data-data tersebut berupa laporan-laporan keuangan, yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2013-2015.
c. Studi Pustaka
Metode studi pustaka digunakan untuk mengumpulkan data-data dengan melakukan penelusuran dari berbagai jenis kepustakaan untuk memperoleh berbagai teori, konsep, dalil-dalil, variabel, hubungan variabel, hasil-hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan materi penelitian serta data-data sekunder sebagai langkah awal kegiatan penelitian.24 Dalam penelitian ini, metode ini digunakan untuk mengumpulkan data melalui penelusuran pustaka yang meliputi pencarian teori dan konsep yang berkaitan CSR dan kinerja keuangan.
7. Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data, penulis menggunakan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jenis penelitian survei data sekunder. Metode deskriptif merupakan suatu prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek/objek
23 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, h. 206. 24
15
penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak, serta sebagai suatu langkah untuk mendeskripsikan fakta tentang gejala-gejala yang terdapat di dalam masalah yang diselidiki.25 Selain itu, metode deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan data yang terkumpul.26 Teknik analisis data ini meliputi beberapa hal, yaitu:
a. Rancangan Analisis Data
Dalam melakukan penelitian, peneliti harus merumuskan alat dan langkah untuk menganalisis data penelitian, agar masalah penelitian terpecahkan dan hipotesis penelitian dapat diuji kebenarannya.27 Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini disesuaikan dengan metodologi yang digunakan, yaitu:
1. Mencari data-data yang berkaitan dengan pengujian hipotesis, yaitu data mengenai perusahaan yang menerapkan prinsip CSR.
2. Mendeskripsikan data dilihat dari perusahaan yang menerapkan prinsip CSR.
3. Mengkuantifikasi variabel independen yaitu kinerja keuangan dengan mengkonversi bentuk huruf ke bentuk angka interval.
4. Menentukan hari penerbitan setiap perusahaan atau event period. 5. Menentukan periode pengamatan yaitu 1 hari sebelum penerbitan
dan saat hari penerbitan. Periode pengamatan ini dianggap cukup memadai untuk menggambarkan harga saham dan waktu tersebut menjadi suatu informasi yang dipublikasikan, yaitu pengumuman sudah diterima investor dan dianggap cukup bagi investor untuk
25
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial (Cet. 9; Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2001), h. 63.
26 Sugiyono, Metode Penelitian, h. 142. 27
16
melakukan reaksi terhadap publikasi penerbitan tersebut. Periode waktu pengamatan ini juga bisa menggambarkan ada atau tidaknya abnormal return saham yang terjadi atau pengumuman suatu peristiwa.
6. Menghitung Earning After Tax. Earning After Tax adalah pendapatan yang diperoleh setelah dikurangi dengan pajak.
7. Menghitung shareholders’ equity atau modal sendiri.
8. Menghitung Return On Equity perusahaan yang dijadikan sampel. 9. Menghitung Laba atau pendapatan perusahaan dari tahun 2013
sampai 2015.
10. Menghitung Total Aktiva perusahaan dari tahun 2013 sampai 2015. 11. Menghitung Return On Asset perusahaan perbankan yang dijadikan
sampel.
12. Melakukan uji prasyarat regresi untuk menguji kelayakan data agar dapat dilanjutkan pada uji statistik, dalam hal ini uji regresi linear berganda
13. Melakukan pengujian statistik untuk menguji hipotesis serta menginterpretasikan dan menganalisis hasil pengujian hipotesis 14. Melakukan penarikan kesimpulan berdasarkan hasil pengujian
statistik.
b. Uji Prasyarat Regresi
17
menggunakan Software SPSS Statistik 21 for windows. Uji prasyarat regresi ini terdiri dari:
1. Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan syarat yang sangat penting pada pengujian statistik, karena apabila data pengamatan tidak berdistribusi normal maka analisis parametrik tidak dapat digunakan, karena analisis parametrik diturunkan dari distribusi normal. Uji normalitas digunakan dengan tujuan untuk menganalisis apakah dalam sebuah model regresi data yang dipakai berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas dilakukan dengan teknik One-Sample Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria untuk nilai signifikansinya yaitu > 0,1. Jika > 0,1 data berdistribusi normal, dan jika < 0,1 data tidak berdistribusi normal.28
2. Uji Linearitas
Uji linearitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang berbentuk linear atau tidak secara signifikan. Jika data berbentuk linear, maka penggunaan analisis regresi linear berganda pada pengujian hipotesis dapat dipertanggungjawabkan akan tetapi jika tidak linear, maka harus digunakan analisis regresi non linear.29 Untuk memastikan data bersifat linear atau tidak dapat dilihat dari nilai signifikansi linearity. Apabila < 0,1 (Deviation from Linearity > 0,1) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen bersifat linear, jika > 0,1
28 Dwi Priyatno, Mandiri Belajar SPSS (Statistical Product and Service Solution); Untuk Analisis Data dan Uji Statistik (Cet. 2; Yogyakarta: MediaKom, 2008), h. 28.
29
18
(Deviation from Linearity < 0,1) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen bersifat tidak linear.
3. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya variabel independen yang memiliki kemipiran dengan variabel independen lain dalam satu model.30 Dapat pula diartikan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan linear antarvariabel independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas.31
Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF) dari hasil analisis menggunakan SPSS. Apabila nilai tolerance value > 0,1 atau VIF <10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas. Bila terjadi multikolinearitas, maka salah satu cara yang dilakukan adalah membuang salah satu variabel independen.32
c. Uji Autokorelasi
Autokorelasi merupakan pelanggaran uji prasyarat regresi yang menyatakan bahwa dalam pengamatan-pengamatan yang berbeda tidak terdapat korelasi antara error term. Autokolerasi timbul pada data yang berdifat runtut waktu, karena berdasarkan sifatnya, data masa sekarang dipengaruhi oleh data pada masa sebelumnya. Meskipun demikian, tetap memungkinkan autokorelasi dijumpai pada
30
Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS (Yogyakarta: Andi Offset, 2005), h. 58.
31 Dwi Priyatno, Mandiri Belajar, h. 39. 32
19
data yang bersifat antar objek (cross section).33 Uji autokorelasi bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel pengganggu (et) pada periode tertentu dengan variabel pengganggu periode sebelumnya (et-1). Autokorelasi sering terjadi pada sampel dengan data time series dengan n-sampel adalah periode waktu. Adapun cara yang mudah dilakukan untuk mendeteksi autokorelasi dengan uji Durbin Watson. Model regresi linear berganda terbebas dari autokorelasi jika nilai Durbin Watson hitung terletak di daerah No Autocorelasi.34
Oleh karena itu, autokorelasi terjadi pada kebanyakan serangkaian data runtun waktu. Bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu (time series) karena gangguan pada individu/kelompok yang sama pada periode berikutnya.
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui dan menguji terjadinya perbedaan variance residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah model regresi yang memiliki persamaan variance residual suatu periode pengamatan dengan periode pengamatan yang lain. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas.35
33
Wing Wahyu Winarno, Analisis Ekonometrika dan Statistik dengan Eviews (Cet. I; Yogyakarta: UPP STIM YKPN, 2007), h. 5.24-5.25.
34 Bhuono Agung Nugroho, Strategi Jitu, h. 59. 35
20
e. Uji Regresi Linear Berganda
Analisis regresi linear berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen dengan variabel dependen.36 Analisis ini dugunakan untuk mengetahui arah hubungan variable independen (CSR (x)) dengan variabel dependen (kinerja pasar (y)), apakah masing-masing variabel independen (CSR) berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen (kinerja keuangan) apabila nilai variabel independen (CSR) mengalami kenaikan atau penurunan. Uji ini digunakan apabila datanya berskala interval dan rasio.37
Jadi, analisis regresi linear berganda pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan antara variabel independen (CSR) dengan variabel dependen (kinerja keuangan) dengan tujuan mengestimasi atau memprediksi rata-rata populasi atau nilai rata-rata variabel berdasarkan nilai variabel independen yang diketahui.
f. Uji Hipotesis
Hipotesis berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari akar kata hypo dan thesis. “Hypo” berarti kurang dari dan “thesis” berarti jawaban. Dengan demikian, hipotesis didefinisikan sebagai pendapat, jawaban, atau dugaan yang bersifat sementara dan kebenarannya masih perlu untuk dibuktikan.38 Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, untuk itu rumusan masalah penelitian dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
36
Dwi Priyatno, Mandiri Belajar, h. 73. 37 Dwi Priyatno, Mandiri Belajar, h. 73.
21
Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan masih didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris.39
Adapun cara yang dilakukan dalam pengujian hipotesis pada penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Uji Ttest (Uji Secara Parsial)
Uji ini digunakan untuk melihat tingkat signifikansi variabel independen (CSR) mempengaruhi variabel dependen (kinerja keuangan) secara individu/sendiri-sendiri.40 Dengan melihat nilai probabilitasnya, apabila ≤ 0,1 (10%) berarti signifikan, begitupun
sebaliknya.
2. Uji Ftest(Uji Secara Serempak)
Uji F dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh semua variabel independen (CSR) secara bersama-sama dapat mempengaruhi variabel dependen (kinerja keuangan) perusahaan.41 Jika nilai probabilitas Ftest ≤ 0,1 (10%), maka variabel-variabel independen (CSR) penelitian ini berpengaruh signifikan secara simultan terhadap variabel dependennya (kinerja keuangan) perusahaan, demikian pula sebaliknya.
g. Penetapan Tingkat Signifikan
Tingkat signifikan adalah besarnya risiko kekeliruan. Dalam penelitian ini yaitu kekeliruan dalam menerima hipotesis alternatif (Ha) padahal yang seharusnya hipotesis Nol (Ho) yang seharusnya
39
Sugiyono, Metode Penelitian, h. 51.
40 Anton Bawono, Multivariate Analysis dengan SPSS (Cet. 2; Salatiga: STAIN Salatiga Press, 2006), h. 28.
41
22
diterima. Pengujian hipotesis akan dilakukan dengan menggunakan tingkat signifikansi sebesar 0,1 (α = 0) atau tingkat keyakinan sebesar 0,90 dan sebesar 0,10 (α = 0) atau tingkat keyakinan sebesar 0,90
karena tingkat signifikansi itu yang umum digunakan.
h. Pengolahan Data Statistik
Pengolahan data statistik berkaitan dengan penghitungan statistik. Penghitungan statistik yang digunakan dalam penelitian ini akan dihitung menggunakan Software Eviews versi 15 sebagai alat dalam melakukan perhitungan dan analisis statistik yang kemudian akan menjadi dasar dalam penarikan kesimpulan.
i. Penarikan Kesimpulan
23
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
1. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)
Menurut Undang-undang Perseroan Terbatas No.40 tahun 2007 pasal 1 ayat 3.
“Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.”42
Menurut Lingkar Studi CSR Indonesia, defenisi CSR adalah upaya sungguh-sungguh dari entitas bisnis meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif operasinya terhadap seluruh pemangku kepentingan dalam ranah ekonomi, sosial dan lingkungan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.43
Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial didefinisikan sebagai komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerja sama dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka, komunitas setempat, maupun masyarakat umum untuk meningkatkan kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat bagi bisnis sendiri maupun untuk pembangunan.44
42 Undang-Undang Perseroan Terbatas Tahun 2007.
43Sutarto “Good Corporate Governance (GCG): Corporate Social Responsibility (CSR)
dan Pemberdayaan UMKM”, http://www.diskopjatim.go.id/,terakhir kali diakses tanggal 5 Februari 2017.
44 Rika Nurlaelah dan Islahuddin, “Pengaruh
Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan Kepemilikan Manajemen Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada
Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”, Simposium Nasional Akuntansi XI,
Pontianak, 23-24 Juli 2008.
24
Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat diikuti dengan berbagai peraturan yang harus ditaati oleh perusahaan salah satunya adalah CSR (Tanggung jawab sosial) yang harus diungkapkan oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya selama satu periode. Perkembangan CSR untuk konteks Indonesia (terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan CSR untuk kategori discretionary responsibilities) dapat dilihat dari dua perspektif yang berbeda. Pertama, pelaksaaan CSR memang merupakan praktek bisnis secara sukarela (discretionary business practice) artinya pelaksanaan CSR lebih banyak berasal dari inisiatif perusahaan dan bukan merupakan aktivitas yang dituntut untuk dilakukan perusahaan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku di negara Republik Indonesia. Kedua, pelaksanaan CSR bukan lagi merupakan discretionary business practice, melainkan pelaksanaannya sudah di atur oleh undang-undang (bersifat mandatory).
Undang-undang perseroan terbatas yang ditetapkan oleh pemerintah memberikan gambaran bahwa adanya dukungan pemerintah dalam penerapan CSR. Undang-undang Perseroan Terbatas No.40 tahun 2007 pasal 74:
1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan TanggungJawab Sosial dan Lingkungan.
2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.45
45
25
Upaya untuk menyesuaikan antara model pengukuran kinerja dengan strategi organisasi/perusahaan belum dipandang cukup oleh masyarakat. Perusahaan perlu membangun citra mereka dan kepedulian masyarakat terhadap kinerja mereka. Masyarakat tidak begitu saja percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh perusahaan, sehingga perusahaan perlu membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan dan capai tersebut memang terbukti nyata memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Sarana pembuktian tersebut berupa data pengukuran yang valid yang sebaiknya juga menyangkut kepentingan masyarakat, misalnya berupa penerapan ranking secara nasional, standar kinerja internasional, akreditasi, sertifikasi, pengembangan komunitas sekitar perusahaan, dsb. Kepedulian perusahaan terhadap lingkungan menjadi begitu penting karena apa yang dilakukan oleh perusahaan sering kali harus melibatkan dan dipantau oleh masyarakat. Oleh karena itu, ukuran yang mendapat banyak perhatian diantaranya adalah ukuran dari variabel yang menunjukkan sejauh mana perusahaan melakukan aktivitas yang dapat dirasakan oleh masyarakat (Corporate social responsibility). Ukuran ini terbukti membawa pengaruh positif bagi perusahaan berupa peningkatan reputasi, posisi dalam persaingan, dan pengurangan risiko terhadap kegagalan usaha.46
Selain dari beberapa konsep tersebut, sebenarnya dalam pandangan Islam sendiri kewajiban melakukan CSR bukan hanya menyangkut pemenuhan kewajiban secara hukum dan moral tetapi juga strategi agar perusahaan dan masyarakat tetap survive dalam jangka panjang. Jika CSR tidak dilaksanakan maka akan terdapat lebih banyak biaya yang ditanggung perusahaan. Sebaiknya jika perusahaan melaksanakan CSR dengan baik dan
26
aktif bekerja keras mengimbangi hak-hak dari semua stakeholders berdasarkan kewajaran, martabat, dan keadilan, dan memastikan distribusi kekayaan yang adil, akan benar-benar bermanfaat bagi perusahaan dalam jangka panjang.47
CSR dalam perspektif Islam merupakan konsekuensi inhern dari ajaran Islam itu sendiri. Tujuan dari syariat Islam (Maqashid al syariah) adalah maslahah sehingga bisnis adalah upaya untuk menciptakan maslahah bukan sekedar mencari keuntungan.48
Definisi tanggung jawab sosial dalam suatu perusahaan biasanya menghadapi empat hal yang harus dipertimbangkan, yaitu:
1. Tanggung jawab terhadap lingkungan.
Tanggung jawab terhadap lingkungan merupakan kepedulian suatu perusahaan dalam mengendalikan operasionalnya agar tidak merugikan masyarakat dan lingkungan sekitar, tetapi seharusnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Misalnya, kepedulian atas polusi udara, polusi air, polusi air, polusi tanah, pembuangan limbah beracun, daur ulang dan sebagainya.
2. Tanggung jawab terhadap konsumen
Tanggung jawab sosial pada umumnya terbagi atas dua kategori, sebagai berikut: menyediakan produk-produk berkualitas dan menetapkan harga-harga secara adil. Perusahaan yang tidak bertanggung jawab terhadap pelanggannya akan kehilangan kepercayaan dalam bisnisnya.
3. Tanggung jawab terhadap karyawan
47 M.B. Hendrie dan Dwi Retni Astuti, “Persepsi Stakeholders Terhadap Pel
aksanaan Corporate Social Responsibility Kasus Pada Bank Syariah DIY”, Sinergi: Kajian Bisnis dan Manajemen, Vol. 10 No. 1, Januari 2008.
27
Bentuk tanggung jawab sosial terhadap karyawan didasarkan pada aktivitas manajemen sumber daya manusia dalam melancarkan fungsi-fungsi bisnis seperti proses perekrutan, penerimaan, pelatihan, promosi dan pemberian kompensasi. Perusahaan yang mengabaikan tanggung jawab ini akan kehilangan karyawan yang produktif dan bermotivasi tinggi. Mereka juga membiarkan dirinya menghadapi tuntutan hukum. 4. Tanggung jawab terhadap investor
Perusahaan bertanggung jawab terhadap para investor dengan cara mengelola sumber daya investor dan memperhatikan status keuangan para investor secara jujur. Menghindari tindakan-tindakan yang kurang bertanggung jawab misalnya memberikan keterangan menyimpang mengenai sumber daya perusahaan seperti manajemen finansial yang tidak wajar, cek kosong, perdagangan orang dalam dan penyimpangan orang dalam.49
Keterlibatan perusahaan dalam tanggung jawab sosial dan moral dapat diimplementasikan dalam kegiatan bisnis perusahaan. Asumsinya, supaya tanggung jawab sosial dan moral itu benar-benar terlaksana. Implementasi tersebut agar dapat dilaksanakan maka perusahaan harus mengetahui kondisi internal tertentu yang memungkinkan terwujudnya tanggung jawab sosial dan moral tersebut.
Griffin dan Ebert mengemukakah empat tipe pendekatan dari tanggung jawab sosial perusahaan, sebagai berikut:
1. Sikap Obstruktif, yaitu pendekatan terhadap tanggung jawab sosial yang melibatkan tindakan seminimal mungkin dan mungkin melibatkan usaha-usaha menolak atau menutupi pelanggaran yang dilakukan.
28
2. Sikap Defensif, yaitu pendekatan tanggung jawab sosial yang ditandai dengan perusahaan hanya memenuhi persyaratan hukum secara minimum atas komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.
3. Sikap Akomodatif, yaitu pendekatan tanggung jawab sosial yang diterapkan suatu perusahaan, dengan melakukannya apabila diminta melebihi persyaratan hukum minimum dalam komitmennya terhadap kelompok dan individu dalam lingkungan sosialnya.
4. Sikap Proaktif, yaitu pendekatan tanggung jawab sosial yang diterapkan suatu perusahaan, yaitu aktif mencari peluang untuk menyumbang demi kesejahteraan kelompok atau individu dalam lingkungan sosialnya.50
2. Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan atau investasi. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.51
Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas manajemen perusahaan secara keseluruhan, yang ditunjukkan dengan besarnya laba yang diperoleh perusahaan. Rasio profitabilitas dianggap sebagai alat yang paling valid dalam mengukur hasil pelaksanaan operasi perusahaan, karena rasio profitabilitas merupakan alat pembanding pada berbagai alternatif investasi yang sesuai dengan tingkat risiko.
50 Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah …, h. 185.
29
Semakin besar risiko investasi, diharapkan profitabilitas yang diperoleh semakin tinggi pula.
Terdapat dua jenis pengukuran profitabilitas yang digunakan dalam mengevaluasi suatu pusat laba, sama halnya seperti dalam mengevaluasi perusahaan secara keseluruhan. Pertama adalah pengukuran kinerja manajemen, yang memiliki fokus pada hasil kerja para manajer. Yang kedua adalah ukuran kinerja ekonomis, yang memiliki fokus pada bagaimana kinerja pusat laba sebagai suatu intensitas ekonomi.52
Kinerja keuangan perusahaan dari sisi manajemen, mengharapkan laba bersih sebelum pajak (earning before tax) yang tinggi karena semakin tinggi laba perusahaan semakin flexible perusahaan dalam menjalankan aktivitas operasional perusahaan. Sehingga EBT perusahaan akan meningkat bila kinerja keuangan perusahaan meningkat. Laba sebelum pajak adalah laba bersih dari kegiatan operasional sebelum pajak. Sedangkan rata-rata total aset merupakan rata-rata volume usaha atau aktiva.53
Rasio profitabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan mendapatkan hasil selama satu periode produksi.54 Rasio profitabilitas ada beberapa yaitu gross profit margin, net profit margin, return on ivestmen (ROI), return on net work atau return on equity (ROE) dan return on Asset (ROA).55 Namun untuk penelitian ini indikator yang dipakai adalah return on equity (ROE) dan return on Asset (ROA).
a. Return On Equity (ROE)
52 Robert Anthony, Manajemen Control System, Terj. Wijay Vijay Govindarajan, Sistem Pengendalian Manajemen, ([t.cet[; Jakarta: Salemba Empat, 2009), Jil. 11, h. 248.
53 Lyla Rahma Adyani, Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas (ROA), 2011. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang. h. 23.
54 Said Kelana, FINON (F inance For Nonfinance) Manajemen Keuangan Untuk Non Keuangan, (Cet. I; Jakarta: Rajawali Pers, 2015), Edisi 1, h. 26.
55
30
Return On Equity (ROE) atau disebut juga dengan laba atas equity atau disebut juga rasio total Asset turnover atau perputaran total aset. Rasio ini mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu untuk memberikan laba atas ekuitas.56
ROE merupakan alat yang paling sering digunakan investor dalam pengambilan keputusan investasi. ROE dapat memberikan gambaran mengenai tiga hal pokok, yaitu:57
a. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profitability) b. Efisiensi perusahaan dalam mengelola asset (assets management) c. Utang yang dipakai dalam melakukan usaha (financial leverage)
Untuk mengetahui lebih mendalam terkait dengan ROE, berikut adalah rumus Return On Equity (ROE):
ROE =
Earning After Tax (EAT)
Shareholders' Equity
Dimana :
ROE : Return On Equity atau laba atas ekuitas Earning After Tax (EAT) : Pendapatan Setelah Pajak
Shareholders’ Equity : Modal Sendiri
Kemungkinan yang terjadi dalam penggunaan indikator ROE, pertama diasumsikan bahwa ROE di masa yang akan datang merupakan perkiraan dari ROE yang lalu. Tetapi ROE yang rendah atau tinggi di
56 Irham Fahmi, Pengantar Manajemen Keuangan…, h. 80
31
masa yang lalu tidak akan menjamin ROE yang akan datang juga akan tinggi atau sebaliknya.
b. Return On Asset (ROA)
Return On Asset adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengelola dana yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva yang menghasilkan keuntungan. ROA adalah gambaran produktivitas perusahaan dalam mengelola dana sehingga menghasilkan keuntungan. Berikut adalah rumus ROA:58
Return On Asset =
Laba
Total Aktiva
Return On Asset di beberapa referensi lainnya juga ditulis dengan Return On Investmen (ROI) atau pengembalian investasi. Rasio ini melihat sejauh mana investasi yang telah ditanamkan mampu memberikan pengembalian keuntungan sesuai dengan yang diharapkan dan investasi tersebut sebenarnya sama dengan asset perusahaan yang ditanamkan atau ditempatkan.
32
Budi Cahyono, P engaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Perusahaan Dengan Kepemilikian Asing Sebagai Variabel Moderating, Skripsi Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, 2011. Bursa Efek Indonesia, https://id.wikipedia.org/wiki/Bursa_Efek_Indonesia,
Terakhir Diakses Pada Tanggal 22 Februari 2017.
Darmawan Wibisono, Manajemen Kinerja Konsep, Desain, Dan Teknik Meningkatkan Daya Saing Perusahaan, Jakarta:Erlangga, [t.th].
Dwi Priyatno, Mandiri Belajar SPSS (Statistical Product and Service Solution); Untuk Analisis Data dan Uji Statistik, Cet. 2; Yogyakarta: MediaKom, 2008.
Edi Suharto, Pekerjaan Sosial di Dunia Industri: Memperkuat CSR (Corporate Social Responsibility), Bandung: Alfabet, 2009.
Eko AdhyKurnianto, Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, 2011.
Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cet. 9; Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2001.
Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP), Buku P anduan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility-CSR), [t.t]: TTPS 2010.
Irham Fahmi, Pengantar Manajemen Keuangan Teori Dan Soal Jawab, Cet.II; Bandung: Alfabeta, 2013.
Kadek Rosiliana, dkk, “Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan”, Universitas Pendidikan Ganesha, Vol. 2 No. 3, 2014.
Kasmir, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Cet.II; Jakarta: Rajawali Pers. 2015.
Lyla Rahma Adyani, Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas (ROA), Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, Semarang, 2011.
33
M.B. Hendrie dan Dwi Retni Astuti, “Persepsi Stakeholders Terhadap Pelaksanaan Corporate Social Responsibility Kasus Pada Bank Syariah DIY”, Sinergi: Kajian Bisnis dan Manajemen, Vol. 10 No. 1, Januari 2008.
Muhammad Teguh, Metodologi Penelitian Ekonomi Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005.
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, [t.cet]; Jakarta: Rajawali Pers, 2014.
Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder, Jakarta: Rajawali Pers, 2011.
Noeng Muhadjir, Metodologi Keilmuan, Yogyakarta: Penerbit Rake Sarasin, 2007.
Nor Hadi, Corporate Social Responsibility, Yogyakarta: Graha Ilmu, 201.
Rika Nurlaelah dan Islahuddin, Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan Kepemilikan Manajemen Sebagai Variabel Moderating (Studi Empiris Pada Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Simposium Nasional Akuntansi XI, Pontianak, 23-24 Juli 2008.
Robert Anthony, Manajemen Control System, Terj. Wijay Vijay Govindarajan, Sistem Pengendalian Manajemen, Jakarta: Salemba Empat, 2009.
S. Nasution, Metode Research: Penelitian Ilmiah, Cet. 3; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2000.
Said Kelana, FINON (Finance For Nonfinance) Manajemen Keuangan Untuk Non Keuangan, Cet. I; Jakarta: Rajawali Pers, 2015.
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis Cet. 10; Bandung: CV Alfabeta, 2007.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktek, Cet. 12; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2002.
Sukandar Rumidi, Metodologi Penelitian, Cet. 4; Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2012.
Supardi, Metodologi Penelitian Ekonomi dan Bisnis, Cet. 1; Yogyakarta: UII Press, 2005.
Sutarto “Good Corporate Governance (GCG): Corporate Social Responsibility
(CSR) dan Pemberdayaan UMKM”,
http://www.diskopjatim.go.id/,terakhir kali diakses tanggal 5 Februari
2017.