I. Judul
Profiling dan Pengukuran Ketinggian Objek
II. Tujuan
1. Mampu melakukan pengukuran profil dan menyajikan penampang melintang suatu relief.
2. Mampu melakukan pengukuran tinggi obyek sederhana.
III. Alat dan Bahan
Abney level adalah sebuah alat yang dipakai untuk mengukur ketinggian yang terdiri dari skala busur derajat. Beberapa kelebihan abney level adalah mudah untuk digunakan, relative murah dan akurat.
Abney level digunakan untuk mengukur derajat dan elevasi topografi. Alat ini berupa teropong yang dilengkapi dengan busur setengah lingkaran. Dalam pengukuran profil suatu relief, beberapa alat yang diperlukan antara lain:
•GPS, untuk mendapatkan data posisi titik pengukuran
•Directional compass; untuk mendapatkan data arah orientasi pengukuran
•Abney level; untuk mengukur sudut kemiringan
•Yallon; sebagai penanda sementara titik yang diukur
Dari gambar ilustrasi di atas maka rumus untuk mendapatkan hasil tinggi target yaitu : Tinggi target = tinggi mata + J.Tan alpha.
Perhitungan tinggi pohon memerlukan penggunaan trigonometri dasar: h= Tan A x d, dimana h adalah tinggi pohon, d adalah jarak dari pohon, dan A adalah sudut keatas pohon. Karena pengukuran dilakukan di tingkat mata, kita perlu tahu ketinggian mata (ketinggian mata anda diatas tanah). Persamaan kemudian menjadi
h=Tan A x d + tinggimata.
Pangkal pohon dikaburkan atau disembunyikan dari pandangan
Seringkali hambatan seperti semak, batu, atau pohon tumbang dapat mengaburkan pangkal pohon dari pandangan. Dalam situasi ini kita dapat mengukur sudut dari ketinggian dikenal di atas tanah. Metode termudah adalah untuk menandai tinggi mata Anda pada truk pohon dan mengukur sudut untuk menandai ini. Ketinggian mata Anda kemudian ditambahkan ke total tinggi pohon.
Bekerja di lerengan curam
Posisi mendatar (sumbu x) untuk jarak horisontal antara titik dengan skala yang telah ditentukan, misal 1:100. Posisi tegak (sumbu y) untuk ketinggian dengan skala 10x skala horisontal, misal 1:100. Dari gambar ketinggian , hubungkan titik-titik tersebut secara beruntun sehingga membentuk profil memanjang.
Bagian bawah tersedia kolom yang disesuaikan dengan kebutuhan perhitungan selanjutnya. Misalnya perhitungan ketinggian,kemiringan, sehingga dapat dihitung untuk out/fill. Pada umumnya terdapat berbagai kolom antara lain: kolom nama titik, kolom jarak, dan kolom elevasi.
V. Cara Kerja
Metode pengukuran profil dengan abney level di lapangan yaitu:
1. Pegang alat abney level, letakkan lubang tempat membidiknya di mata
2. Bidikan ke suautu sasaran yang lebih tinggi dari mata kita
3. Atur atau gerakan setengah lingkaran berskalanya ke atas atau ke bawah sampai
gelembung nivo yang terlihat di teropong tepat di benang mendatar
4. Lihat angka skala pada setengah lingkaran tadi. angka tersebut menunjukkan kemiringan atau bidikan yang kita lakukan.
5. Ukurlah jarak mendatar/miring (tergantung dari kondisi reliefnya) antara dua yallon, yaitu yallon pengamat dan yallon obyek. 6. Hitung ketinggian obyek berdasarkan rumus yang telah dijelaskan Metode pengukuran profil, yaitu:
3. Hitung beda tinggi berdasarkan rumus yang telah dijelaskan 4. Hitung elevasi obyek berdasarkan rumus yang telah dijelaskan
5. Gambarkan penampang melintang (profil) suatu relief yang diukur dengan dilengkapi matriks informasi pelengkap
VI. Hasil Praktikum
1. Data hasil pengukuran beda tinggi suatu obyek 2. Data hasil pengukuran profil
3. Penampang melintang (profil) suatu relief pada kertas block milimeter dan kalkir (layout)
VII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini akan membahas mengenai penampang melintang (profil tanah). Profiling merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui tingkat kemiringan bidang tanah. Ketika mengamati topografi suatu wilayah dengan tingkat kecuraman lembah/lereng, maka daerah tersebut merupakan daerah yang rawan terjadi longsor ataupun tidak. Penampang profil juga bermanfaat dalam bidang rekonstruksi jalan. Apabila jalan yang dibangun di daerah yang curam, tidak memungkinkan kendaraan berat akan mampu menanjak/bergerak menaiki di jalan yang curam.
Dalam pengukuran kemiringan, tingkat kemiringan di lembah masih tergolong landai karena tidak adanya perbandingan kemiringan yang sangat mencolok yakni pada segmen 1 (8050’), segmen 2 (4040’), segmen 3 (3020’), segmen 4 (6040’), segmen 5
(3020’) segmen 6 (14020’) segmen 7 (11050’), dan segmen 8 (2040’).
Penentuan beda tinggi dilakukan untuk menentukan perbandingan ketinggian objek yang akan diukur. Misalnya penentuan ketinggian pohon ataupun menara akan lebih mudah ketika mengukur ketinggian menggunakan alat yang berupa abney level daripada harus bersusahpayah memanjat pohon/menara terlebih dahulu yang kemudian merentangkan pita ukur dan diukut ketinggiannya. Hal ini juga memudahkan dalam menentukan beda tinggi pengukur dan objek yang diukur.
menentukan tingkat kedataran bidang tanah tersebut agar lantai rumahnya tidak miring ataupun bergelombang.
VIII. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa ; 1. Lembah MIPA masih tergolong landai
2. Perhitungan beda tinggi lebih praktis daripada harus memanjat objek yang akan ditentukan beda tingginya.
IX. Daftar Pustaka
Rusydi, Alfi Nur. 2015. Petunjuk Praktikum Handasah. Malang: Universitas Negeri Malang
Slamet, Basuki. 2011. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press