• Tidak ada hasil yang ditemukan

206676267 Studi Komparasi Prestasi Belajar Siswa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "206676267 Studi Komparasi Prestasi Belajar Siswa"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata

Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1

Pogalan Trenggalek)

SKRIPSI

Oleh:

Alif Dyah Yunitasari 06110054

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK

IBRAHIM MALANG

(2)

Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata

Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1

Pogalan Trenggalek)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana

Malik Ibrahim Malang Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna

Memperoleh Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:

Alif Dyah Yunitasari 06110054

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK

IBRAHIM MALANG

(3)

STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR SISWA

(Analisis Komparatif Prestasi Belajar Siswa yang Berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata Pelajaran Pendidikan

Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek)

Oleh:

Alif Dyah Yunitasari 06110054

Telah Disetujui pada Tanggal 29 Maret 2010

Dosen Pembimbing,

Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I NIP. 196512051994031003

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI),

(4)

(Analisis Komparatif Prestasi Belajar Siswa yang Berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata Pelajaran Pendidikan

Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek) SKRIPSI

Dipersiapkan dan disusun oleh Alif Dyah Yunitasari (06110054)

telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 19 April 2010 dengan nilai A

dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memeperoleh gelar strata satu Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

pada tanggal 24 April 2010.

Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

(5)

HALAMAN

PERSEMBAHAN

Syukur Alhamdulillah hamba panjatkan kepada

Allah SWT atas terselesaikannya Skripsi ini tepat

Waktu

Karya ini saya persembahkan kepada

Ayah dan Ibu tercinta

(Drs. H. Kuwat M. Turkan dan Hj. Subekti,

S.Pd)

Yang telah sabar, mendidik dan menyayangi dengan

penuh kasih sayang

Adikku tersayang Muhamad Nizar Zulmi

yang selalu memberiku semangat, dukungan dan

menemaniku disaat suka maupun duka

Para Guru dan Dosen yang telah mendidikku

Sahabat-sahabatku PAI Angkatan 2006

(6)

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat:

13).1

1

(7)

NOTA DINAS PEMBIMBING

Hal : Skripsi Alif Dyah Yunitasari Malang, 24 Maret 2010

Lamp. : 6 (enam) Eksemplar

Kepada Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

di

Malang

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa, maupun tehnik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di bawah ini:

Nama : Alif Dyah Yunitasari

NIM : 06110054

Jurusan : Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi : STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR SISWA

(Analisis Komparatif Prestasi Belajar Siswa yang Berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek)

(8)

Dengan ini saya menyatakan, bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan

tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis

diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar rujukan.

Malang, 30 Maret 2010

(9)

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang

telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya berkat rahmat dan petunjuknya,

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Sholawat serta

salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhamad SAW yang

telah membawa petunjuk kebenaran seluruh umat manusia yaitu Agama Islam

yang kita harapkan syafaatnya di Dunia dan di Akhirat.

Suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi penulis karena dapat

menyelesaikan skripsi ini tepat waktu. Penulis menyadari bahwa dalam

menyelesaikan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan dan arahan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis ingin

menyampaikan rasa hormat, ucapan terimakasih, serta penghargaan

setinggi-tingginya kepada:

1. Ayah dan Ibu tercinta (Drs. H. Kuwat M. Turkan dan Hj. Subekti, S.Pd)

yang sangat penulis hormati dan sayangi, karena limpahan kasih sayang

dan doanya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adikku tersayang

(Muhamad Nizar Zulmi) yang selalu memberikan motivasi agar penulisan

skripsi ini cepat selesai. Dan seluruh keluarga besar di Trenggalek yang

selalu memberikan semangat agar cepat lulus dari Program S1 ini dengan

nilai yang bail.

2. Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku rektor Universitas Islam Negeri

(10)

3. Dr. H. M. Zainuddin, MA, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah yang telah

mengizinkan menimba ilmu di Fakultas Tarbiyah.

4. Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama

Islam sekaligus sebagai dosen pembimbing yang senantiasa memberikan

wawasan keilmuan, saran, kritik, motivasi, arahan dan bimbingan yang

bermakna dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Seluruh Dosen Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Universitas

Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang telah

memberikan wawasan keilmuan selama menempuh program S1 ini.

6. Semua Guru TK Idhata Ngetal II, SDN Ngetal II, MTsN Model

Trenggalek dan SMAN 1 Trenggalek yang telah memberikan ilmunya

selama ini.

7. Seluruh Guru dan Siswa SMP Negeri 1 Pogalan yang telah mengizinkan

dan membantu dalam penelitian sehingga terselesaikannya skripsi ini tepat

waktu.

8. Seluruh Tata Usaha Fakultas Tarbiyah yang senantiasa memberikan

layanan administrasi yang baik selama penyelesaian program S1 ini.

9. Seluruh teman-teman Jurusan PAI angkatan 2006 yang senasib

seperjuangan, (Miladus Sholihan, Lailatul Faizah, Nuriyah Ula Masluhi,

Faizatul Husniyah, Nur Asyiah Sholihah, Nur Shodicoh, Amirotun

(11)

10. Teman-teman kos Sumbersari IA 51 (Qarid, Leli, Tutus, Hanifa, Ulfa, Afi,

Tatik, Maul, Evi, Shofi, Hartin, Faiza, Yuli, Aida, Didin, Hilmi, ifa, Nia,

Mbak Dewi), yang selalu memberikan semangat dalam penyelesaian

skripsi ini.

11. Semua pihak yang ikut membantu penulis baik dalam hal moril, materil,

ataupun spiritual, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna.

Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi

terwujudnya karya yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Sebagai ucapan

terimakasih semoga bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan yang

setimpal dari Allah. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Malang, 28 Maret 2010

(12)

2.1 Stuktur kurikulum SD/MI (model 1) ... 51

2.2 Stuktur kurikulum SD/MI (model 2) ... 51

2.3 Struktur Kurikulum SMP/MTs ... 52

4.1 Struktur Organisasi di SMP Negeri 1 Pogalan... 70

4.2 Kualifikasi Pendidikan, Status, Jenis Kelamin, dan Jumlah Guru ... 71

4.3 Daftar Guru SMP Negeri 1 Pogalan ... 71

4.4 Jumlah guru dengan tugas mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikan (keahlian) ... 73

4.5 Pengembangan kompetensi/profesionalisme guru... 73

4.6 Prestasi guru ... 74

4.7 Guru Billingual (RSBI) ... 74

4.8 Pengembangan kompetensi/profesionalisme guru Billingual... 74

4.9 Tenaga Pendukung ... 75

4.10 Data Siswa (empat tahun terakhir) siswa reguler ... 75

4.11 Data Siswa (empat tahun terakhir) siswa Billingual (RSBI) ... 76

4.12 Prestasi Akademik: NUAN ... 76

4.13 Prestasi Akademik: Peringkat rerata NUAN... 76

4.14 Prestasi Akademik: Nilai Ujian Sekolah (US) ... 76

4.15 Angka Kelulusan dan Melanjutkan... 77

4.16 Perolehan Kejuaraan/Prestasi Akademik: Lomba-lomba ... 77

(13)

4.20 Alasan lulusan SMP tidak melanjutkan ke SMA/SMK/sederajat... 78

4.21 Pekerjaan orangtua/wali siswa ... 79

4.22 Penghasilan orangtua/wali (gabungan kedua orangtua) siswa... 79

4.23 Tingkat kesejahteraan orangtua/wali siswa... 79

4.24 Data Ruang Belajar (Kelas) ... 80

4.25 Keterangan kondisi: ... 81

4.26 Data Ruang Belajar Lainnya ... 81

4.27 Data Ruang Kantor... 81

4.28 Data Ruang Penunjang... 81

4.29 Lapangan Olahraga dan Upacara ... 82

4.30 Perabot ruang kelas (belajar) ... 83

4.31 Perabot ruang belajar lainnya... 83

4.32 Perabot Ruang Kantor ... 84

4.33 Perabot Ruang Penunjang ... 84

4.34 Koleksi Buku Perpustakaan ... 85

4.35 Fasilitas Penunjang Perpustakaan ... 85

4.36 Alat/Bahan di Laboratorium/Ruang Keterampilan/Ruang Multimedia... 85

4.37 Sumber Dana 2 (dua) tahun terakhir ... 86

4.38 Alokasi Dana 2 (dua) tahun terakhir ... 86

4.39 Daftar Nilai Siswa yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) ... 87

(14)

4.43 Penyajian Data ... 92

4.45 Histogram ... 93

5.1 Uji Normalitas ... 91

5.2 Uji Homogenitas ... 92

5.3 Nilai Siswa yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) ... 92

5.4 Perbandingan nilai akhlak dan kepribadian siswa yang berasal dari SD dan MI... 99

5.5 Uji Validitas ... 101

(15)

Foto 1. SMP Negeri 1 Pogalan

Foto 2. Foto dengan Bapak Siswoyo, S.Pd selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 1

Pogalan

Foto 3. Foto dengan Ibu Maelah, S.Pd selaku Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri

1 Pogalan

Foto 4. Foto dengan siswa kelas VII E pada waktu mengisi angket di

Laboratorium Komputer

Foto 5. Foto dengan Bapak Nurudin, BA selaku Guru Pendidikan Agama Islam

Kelas VII A,B,C,D,E pada waktu wawancara

Foto 6. Foto dengan Bapak Kusnan, S.Pd.I selaku Guru Pendidikan Agama Islam

Kelas VII F, G pada waktu wawancara.

Foto 7. Foto dengan Bapak Drs. Jausan selaku Guru Pendidikan Agama Islam

Kelas VII H pada waktu wawancara

(16)

Lampiran I Instrumen Penelitian

Lampiran II Uji Normalitas dan Homogenitas

Lampiran III Uji T

Lampiran IV Angket

Lampiran V Hasil Angket

Lampiran VI Uji Validitas

Lampiran VII Angket yang Valid

Lampiran VIII Hasil Angket yang Valid

(17)

Halaman

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PERSETUJUAN

HALAMAN PENGESAHAN

HALAMAN PERSEMBAHAN

HALAMAN MOTTO

HALAMAN NOTA DINAS

HALAMAN PERNYATAAN

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

DAFTAR ISI ... ix

ABSTRAK ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Kegunaan Penelitian ... 9

E. Hipotesis Penelitian ... 10

(18)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Prestasi Belajar ... 14

1. Pengertian Prestasi Belajar ... 14

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ... 17

3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Prestasi Belajar Turun 29 4. Upaya untuk Meningkatkan Prestasi Belajar ... 34

B. Tinjauan Tentang Sekolah ... 45

1. Sekolah Dasar (SD) ... 45

2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) ... 46

3. Sekolah Menengah Pertama (SMP) ... 47

C. Kurikulum Pendidikan Agama Islam ... 47

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ... 54

B. Jenis Penelitian ... 54

C. Data dan Sumber Data ... 55

D. Populasi dan Sampel ... 56

E. Instrumen Penelitian ... 57

F. Pengumpulan Data ... 59

G. Analisis Data ... 61

(19)

2. Visi, Misi dan Tujuan SMP Negeri 1 Pogalan . 67

3. Struktur Organisasi di SMP Negeri 1 Pogalan 70

4. Keadaan Guru dan Tenaga Pendukung di SMP

Negeri 1 Pogalan ... 71

5. Keadaan Siswa di SMP Negeri 1 Pogalan ... 75

6. Sarana Prasarana di SMP Negeri 1 Pogalan ... 80

b. Prestasi Belajar Siswa yang berasal dari Sekolah Dasar

(SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pada Mata

Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP

Negeri 1 Pogalan ... 87

BAB V ANALISIS DATA

A. Pengujian Hipotesis... 94

BAB VI PENUTUP

A. Kesimpulan ... 109

B. Saran... 110

DAFTAR RUJUKAN

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(20)

(Analisis Komparatif Prestasi Belajar Siswa yang Berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama

Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek). Skripsi, Jurusan

Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Drs. H. Moh. Padil, M.Pd.I

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, anggota masyarakat, Warga Negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Sehingga pendidikan dasar sangat diperhatikan karena Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah menggalakkan Wajib belajar 9 (Sembilan) tahun.

Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah (MI) sama dengan kurikulum Sekolah Dasar (SD), hanya saja pada Madrasah Ibtidaiyah (MI) terdapat porsi lebih banyak mengenai Pendidikan Agama Islam. Selain mengajarkan mata pelajaran sebagaimana Sekolah Dasar (SD), juga ditambah dengan pelajaran-pelajaran seperti: Alquran Hadits, Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab. Materi/bahan kajian mata pelajaran pendidikan Agama Islam antara siswa yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dengan siswa yang berasal dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) sangat berbeda dalam hal keluasan maupun kedalamannya. Madrasah lebih unggul dalam bidang agamanya, namun dari segi kualitas Madrasah masih rendah dibandingkan Sekolah Umum. Hal itu karena jumlah terbesar dari lembaga pendidikan Madrasah berstatus sebagai Madrasah Swasta.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR SISWA (Analisis Komparatif Prestasi Belajar Siswa yang Berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek)”. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan prestasi belajar siswa yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan.

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek. Penelitian

ini menggunakan pendekatan Kuantitatif dengan jenis penelitianNon Eksperimen,

Rancangan yang dipakai adalah Ekpose Faktodengan bentukCausal Comparative

Studies. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi,

angket dan wawancara. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis

(21)

yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek adalah 75,93. Sedangkan siswa yang berasal dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah 78,03. Nilai keduanya sama-sama tergolong cukup baik karena di atas nilai KKM yaitu 70. Setelah di analisis menggunakan uji-t juga menyimpulkan bahwa

(2,004), maka diterima. Jadi tidak ada perbedaan yang significan antara

prestasi belajar siswa yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan. Sedangkan perbandingan akhlak dan kepribadian antara siswa yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah tidak ada perbedaan yang significant pula.

Untuk mengetahui factor-faktor yang menyebabkan prestasi belajar keduanya tidak ada perbedaan, peneliti menggunakan angket dan dikuatkan dengan wawancara. Hasilnya adalah Guru Pendidikan Agama Islam sudah tepat dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa yang mempunyai latar belakang sekolah berbeda, Guru paham tentang karakter masing-masing siswa, Siswa bersemangat rajin belajar di rumah, Siswa mendapatkan pelajaran agama tambahan dengan mengikuti TPA/TPQ/Madrasah Diniyah, Siswa ada yang tinggal di lingkungan Pondok Pesantren atau Masjid dan Siswa mendapat bimbingan dari orangtua di rumah. Jika ada factor lain yang belum disebutkan penulis, maka hal itu dapat dijadikan sebagai masukan atau tambahan agar skripsi ini terus berkembang dan tidak berhenti sampai disini.

Kata Kunci : Komparasi, Prestasi Belajar, Sekolah Dasar (SD), Madrasah

(22)

Nama : Alif Dyah Yunitasari

NIM : 06110054

Tempat Tanggal Lahir : Trenggalek, 23 Juni 1988

Fak./Jur./Prog. Studi : Tarbiyah/Pendidikan Agama Islam

Tahun Masuk : 2006

Alamat Rumah : RT/RW I/I, Dusun Grojogan, Desa Ngadirenggo,

Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Jawa

Timur

Alamat Malang : Sumbersari IA 51

No Telp. Rumah/HP : (0355)797012/ 085736005462

Pendidikan : SDN Ngetal II

MTsN Model Trenggalek

SMAN I Trenggalek

Malang, 30 Maret 2010

Mahasiswa

(23)

1 A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,

serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan

Negara (Pasal 1 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun

2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Kegiatan pendidikan selalu

berlangsung di dalam suatu lingkungan. Lingkungan yang sengaja

diciptakan untuk mempengaruhi anak adalah lingkungan keluarga,

lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketiga lingkungan

tersebut disebut lembaga pendidikan atau satuan pendidikan.1

Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang

menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal

pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan formal terdiri dari

pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar

kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai

pribadi, anggota masyarakat, Warga Negara dan anggota umat manusia

1

(24)

serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah

(pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 Tentang Pendidikan

Dasar).2

Siswa yang telah lulus dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah

Ibtidaiyah (MI) harus melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP)

atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), karena Departemen Pendidikan

Nasional (Depdiknas) telah menggalakkan Wajib belajar 9 (Sembilan)

tahun. Wajib belajar adalah program pendidikan minimal yang harus

diikuti oleh Warga Negara Indonesia atas tanggung jawab pemerintah dan

Pemerintah Daerah (Pasal 1 Undang Undang Republik Indonesia Nomor

20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional). Program ini

mewajibkan setiap warga negara Indonesia untuk bersekolah selama 9

(sembilan) tahun pada jenjang pendidikan dasar, yaitu dari tingkat kelas I

Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga kelas IX

Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs).

Angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs terkait dengan

sejumlah faktor. Pertama, adanya kesadaran dari siswa lulusan SD/MI

maupun orangtuanya akan pentingnya pendidikan di tingkat SMP/MTs.

Kedua, adanya SMP/MTs yang bisa dijangkau dari tempat tinggalnya.

Ketiga, secara ekonomi mereka tidak kesulitan mendapatkan biaya

sekolah. Keempat, anak-anak tidak terhambat oleh budaya setempat untuk

melanjutkan ke SMP/MTs. Empat faktor ini perlu mendapat perhatian

2

(25)

serius dalam rangka mendorong anak-anak lulusan SD/MI melanjutkan

pendidikan ke SMP/MTs, sehingga pada gilirannya mendorong suksesnya

program Wajib Belajar Sembilan Tahun.3

Oleh karena itu siswa di SMP/MTs berasal dari lulusan SD/MI.

Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan

formal di Indonesia, setara dengan Sekolah Dasar, yang pengelolaannya

dilakukan oleh Departemen Agama. Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah (MI)

sama dengan kurikulum Sekolah Dasar (SD), hanya saja pada Madrasah

Ibtidaiyah (MI) terdapat porsi lebih banyak mengenai Pendidikan Agama

Islam. Selain mengajarkan mata pelajaran sebagaimana Sekolah Dasar

(SD), juga ditambah dengan pelajaran-pelajaran seperti: Alquran Hadits,

Aqidah Akhlak, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab.

Sesuai ketetapan SKB 3 Menteri 1975, bahwa Madrasah dengan

beban kurikulum 70% umum dan 30% agama. Posisi ini kemudian

dikukuhkan oleh ketentuan UU No.2 tahun 1989 tentang Sistem

Pendidikan Nasional yang mengharuskan kurikulum Madrasah sama

dengan kurikulum Sekolah Umum biasanya. Artinya Madrasah adalah

Sekolah Umum, hanya berciri khas Agama Islam saja. Dengan keharusan

itu maka beda antara Madrasah dengan Sekolah Umum hanyalah pada

jumlah pelajaran agama yang menjadikannya sebagai ciri khas.4

3

Saiful Anam, Indra Djati Sidi dari ITB untuk Pembaruan Pendidikan (Bandung: Teraju, 2005) hlm. 200-201

4

(26)

Fakta bahwa pembelajaran agama di Sekolah Umum (juga

Madrasah) yang hanya sebagian kecil (2 jam dari sekitar 48 jam

seminggu). Sementara ajaran islam meliputi 30 juz kitab Al-Qur’an dan 23

tahun sejarah kenabian, masih ditambah seluruh sejarah kehidupan

pemeluk islam di dunia. Karena itu bagaikan “besar pasak daripada tiang”

jika mengharapkan 2 jam pembelajaran agama harus mewarnai 46 jam

lainnya.5

Menurut catatan Balitbang Dediknas (2000) dari 171.651 Sekolah

Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah maka 21.454 atau 12% di antaranya adalah

Madrasah. Dari 30.716 Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah

Tsanawiyah maka 9.850 atau 32% diantaranya adalah Madrasah.6

Madrasah menyumbangkan angka yang signifikan dalam

pendidikan, maka dengan mudah dibaca kualitas pendidikan Madrasah

akan memberikan konstribusi yang signifikan pula bagi kualitas

sumberdaya manusia ke depan. Namun jumlah terbesar dari lembaga

pendidikan Madrasah berstatus sebagai Madrasah Swasta. Sebagai contoh,

Sekolah Dasar yang ada 92,5% nya adalah Negeri sementara yang

berstatus Sekolah Dasar Swasta hanya 7,5%. Kebalikan dengan ini

Madrasah Ibtidaiyah justru 93,9 nya swasta dan hanya 6,1% yang berstatus

5

Ibid., hlm. 60

6

(27)

Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Ini berarti Madrasah tampak sekali sebagai

korban diskriminasi pendidikan.7

Apabila dilihat dari sisi persekolahan yang diselenggarakan secara

klasikal, maka rata-rata siswa pada Madrasah Ibtidaiyah swasta antara

80-100 siswa dengan rata-rata siswa setiap kelas antara 18-20 siswa, pada

Madrasah Ibtidaiyah Negeri antara 300-530 siswa dengan rata-rata siswa

setiap kelasnya antara 38-40 siswa dengan kelas paralel antara 2-3 kelas.8

Meskipun demikian kehadiran Madrasah Swasta merupakan

satu-satunya pilihan masyarakat yang rendah daya dukung ekonominya, di

tengah mahalnya biaya pendidikan. Hal ini karena secara geografis,

penyebaran Madrasah lebih banyak di pedesaan dan kalangan masyarakat

miskin. Kebanyakan orangtua siswa Madrasah adalah petani yang hidup

secara tradisional, berpendidikan rendah dan kebanyakan hidup didaerah

pedesaan atau di pinggiran kota.

Sarana prasarana Madrasah masih sangat sederhana, perlengkapan

seadanya, kemampuan manajemen rendah dan tenaga guru kebanyakan

dilatar belakangi oleh semangat ibadah yang sangat tidak selektif terhadap

persyaratan yang diperlukan. Keadaan demikian mengakibatkan Madrasah

sulit berkembang dan tidak mapu bersaing dengan sekolah lainnya.9

7

Ibid., hlm. 14

8

Abdul Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa Visi, Misi dan Aksi

(Jakarta: PT Raja Grafindo persada, 2004), hlm.28

9

(28)

Masyarakat yang memilih Madrasah lebih didorong oleh motif

praktis, yakni selain biayanya murah, juga mengajarkan ilmu-ilmu

akademik dasar, seperti baca, tulis dan hitung. Di samping itu juga bisa

memenuhi kebutuhan dasar masyarakat di bidang pengetahuan dan

ketrampilan praktis keagamaan.10

Berdasarkan hal tersebut diatas maka jelaslah bahwa materi/bahan

kajian mata pelajaran pendidikan Agama Islam antara siswa yang berasal

dari Sekolah Dasar (SD) dengan siswa yang berasal dari Madrasah

Ibtidaiyah (MI) sangat berbeda dalam hal keluasan maupun kedalamannya.

Madrasah lebih unggul dalam bidang agamanya, namun dari segi kualitas

Madrasah masih rendah dibandingkan Sekolah Umum.

Pada tahun 2005 Munfaridatun Nurul H melakukan penelitian

dengan judul “Studi Perbandingan Prestasi Belajar Pendidikan Agama

Islam Siswa yang berasal dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di

MTs Negeri Mojoroto Kediri”. Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa

rata-rata nilai Pendidikan Agama Islam siswa yang dari Sekolah Dasar

adalah 71,99 sedangkan rata-rata nilai Pendidikan Agama Islam siswa

yang dari Madrasah Ibtidaiyah adalah 71,45 sama-sama tergolong cukup

baik. Jadi tidak ada perbedaan yang significant antara siswa yang berasal

10

(29)

dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di MTs Negeri Mojoroto

Kediri.11

Adapun penelitian sekarang dilakukan di SMP Negeri 1 Pogalan

yang merupakan salah satu sekolah terfavorit di Trenggalek. Buktinya

sekarang SMP Negeri 1 Pogalan telah menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf

Internasional (RSBI). Berdasarkan pengamatan, siswa SMP Negeri 1

Pogalan dari segi kuantitas menurun, namun dari segi kualitas meningkat.

Hal ini disebabkan karena jumlah siswa dalam kelas diperkecil dari 36

siswa perkelas menjadi 24 siswa perkelas untuk kelas Sekolah Bertaraf

Internasional (SBI).

Dengan jumlah siswa yang sedikit maka proses belajar mengajar

akan lebih efektif apabila dibandingkan dengan jumlah yang besar.

Sehingga dengan jumlah guru yang sekian mampu melayani dengan baik,

sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di SMP

Negeri 1 Pogalan.

Namun di Kabupaten Trenggalek ini hampir seluruh Madrasah

Ibtidaiyah berstatus Swasta, dan hampir seluruh Sekolah Dasar berstatus

Negeri. Sehingga siswa di SMP Negeri 1 Pogalan berasal dari Mayoritas

Sekolah Dasar Negeri dan Madrasah Swasta. Perbedaan latar belakang

darimana siswa berasal kemungkinan berpengaruh terhadap prestasi

belajar. Walaupun berasal dari Madrasah namun untuk prestasi belajar

11

Munfaridatun Nurul H, “Studi Perbandingan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa yang berasal dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah di MTs Negeri Mojoroto Kediri”,

(30)

Pendidikan Agama Islam, belum tentu siswa yang berasal dari Madrasah

Ibtidaiyah nilainya lebih tinggi dari siswa Sekolah Dasar.

Pada saat peneliti melakukan observasi di SMP Negeri 1 Pogalan,

Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Pogalan menjelaskan bahwa sebenarnya

nilai siswa yang berasal dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) tidak layak untuk

diteliti.12 Hal ini berarti bahwa nilai siswa yang berasal dari Madrasah

Ibtidaiyah (MI) lebih rendah dari pada siswa yang berasal dari Sekolah

Dasar (SD).

Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang

berjudul “STUDI KOMPARASI PRESTASI BELAJAR SISWA (Analisis

Komparatif Prestasi Belajar Siswa yang Berasal dari Sekolah Dasar (SD)

dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama

Islam Kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan Trenggalek)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan

masalah sebagai berikut:

1. Apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa yang berasal dari Sekolah

Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan?

12

(31)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penelitian

ini adalah:

1. Untuk mengetahui ada atau tidak perbedaan prestasi belajar siswa

yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI)

pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMP

Negeri 1 Pogalan.

D. Kegunaan Penelitian:

Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kegunaan dari

penelitian ini adalah:

1. Bagi lembaga SMP Negeri 1 Pogalan:

Untuk mengetahui karakter setiap murid dengan memperhatikan dari

mana mereka berasal (Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah),

sehingga dapat menentukan metode belajar yang cocok, dapat

meningkatkan prestasi belajar siswa dan meningkatkan kualitas

sebagai pendidik.

2. Bagi peneliti:

Sebagai bahan masukan bagi peneliti untuk menambah dan

memperkaya khasanah ilmu pengetahuan serta kreativitas berfikir

(32)

3. Bagi lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang:

Sebagai bahan referensi untuk peneliti selanjutnya dalam bidang yang

sama, sekaligus diharapkan hasil penelitian berikutnya lebih

sempurna.

E. Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan

penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

Ha= Ada perbedaan prestasi belajar siswa yang berasal dari Sekolah Dasar

(SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan.

H0 = Tidak ada perbedaan prestasi belajar siswa yang berasal dari Sekolah

Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan.

F. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini digunakan sebagai pembatasan

masalah yang diteliti sehingga penelitian yang dilakukan tidak

menyimpang dari tujuan. Ruang lingkup penelitian ini hanya terbatas

pada:

1. Siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Pogalan yang terdiri dari 30 siswa

yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan 30 siswa Madrasah

Ibtidaiyah (MI).

2. Prestasi belajar Pendidikan Agama Islam kelas VII di SMP Negeri 1

(33)

Islam kelas VII Semester I di SMP Negeri 1 Pogalan pada tahun

2009/2010.

G. Definisi Operasional

Untuk mempermudah pemahaman dan kejelasan tentang arah

penulisan skripsi ini, maka penulis memaparkan definisi yang tertera di

dalam judul penulisan ini yaitu:

Studi adalah pelajaran, penggunaan waktu dan pikiran untuk memperoleh

ilmu pengetahuan.13

Komparasiperbandingan sebagai penjelasan.14

Prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut

pengetahuan atau ketrampilan yang dinyatakan sesudah hasil

penelitian.15

Analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dll) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab

musabab, duduk perkara, dsb).16

Komparatif adalah berkenaan atau berdasarkan perbandingan.17

13

W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia(Jakarta: PN Balai Pustaka, 1982), hlm. 965

14

M. Dahlan dkk, Kamus Induk Istilah Ilmiah(Surabaya: Target Press, 2003), hlm. 903

15

Syaiful Bakhri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru (Surabaya: Usaha Nasional, 1994), hlm. 24

16

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 32

17

(34)

Sekolah Dasar (SD) adalah satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan enam tahun, yang merupakan bagian dari pendidikan

dasar.18

Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan Sekolah Dasar, yang

pengelolaannya dilakukan oleh Departemen Agama.19

Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus Sekolah Dasar

(atau sederajat).20

H. Sistematika Pembahasan

Supaya pembahasan dalam skripsi nanti terdapat kesinambungan

dan sistematis, maka dalam penulisannya ini mencangkup VI BAB,

berdasarkan pembahasan sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Berisi tentang Latar Belakang, Rumusan Masalah,

Tujuan Penelitian, Kegunaan Penelitian, Hipotesis,

Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian, Definisi

Operasional, dan Sistematika Pembahasan.

18

Ibrahim Bafadal, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar Dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi(Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm. 3

19

Wikipedia, Madrasah Ibtidaiyah(http://id.wikipedia.org/wiki/Madrasah_Ibtidaiyah, di Akses 21 november 2009

20

Wikipedia, Sekolah Menengah Pertama

(35)

BAB II : Kajian Pustaka

Berisi tentang Pengertian Prestasi Belajar, Tinjauan

Tentang Sekolah, dan Kurikulum Pendidikan Agama

Islam.

BAB III : Metode Penelitian

Berisi tentang Lokasi Penelitian, Pendekatan dan Jenis

Penelitian, Data dan Sumber Data, Populasi dan Sampel,

Instrument Penelitian, Pengumpulan Data, dan Analisis

Data.

BAB IV : Hasil Penelitian

Berisi tentang Diskripsi Data, Latar Belakang SMP

Negeri 1 Pogalan dan Pemaparan data Prestasi Belajar

Siswa yang berasal dari Sekolah Dasar (SD) dan

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pada Mata Pelajaran

Pendidikan Agama Islam Kelas VII di SMP Negeri 1

Pogalan

BAB V : Pembahasan Hasil Penelitian

Berisi tentang Pengujian Hipotesis dan Faktor-faktor

yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa.

BAB VI : Penutup

(36)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Prestasi Belajar

Prestasi belajar terdiri dari dua kata yang mempunyai pengertian

sendiri-sendiri yakni prestasi dan belajar, tetapi dalam pembahasan ini

kedua kata tersebut sangat berhubungan.

1. Pengertian Prestasi Belajar

Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia Prestasi adalah hasil,

kinerja.21 Adapun pengertian prestasi menurut WJS. Poerdaminta

adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan

sebagainya) dan menurut Mas’ud Khasan Abdul Qohar dalam kamus

ilmiah populer, prestasi adalah apa yang telah diciptakan, hasil

pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan

keuletan kerja.22

Sedangkan Belajar dalam Tesaurus Bahasa Indonesia adalah

menuntut ilmu, bersekolah, berlatih. Untuk menjelaskan apa yang

dimaksud dengan belajar disini dipaparkan pengertian belajar:23

21

Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia(Jakarta: Gramedia Pustaka, 2007), hlm. 317

22

W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia(Jakarta: PN Balai Pustaka, 1982), hlm. 768

23

(37)

a. Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku manusia sebagai hasil

dari pengalaman, tingkah laku dapat bersifat jasmaniah

(kelihatan) dapat juga bersifat intelektualatau merupakan suatu

sikap sehingga tidak dapat dilihat.

b. Belajar merupakan suatu proses timbulnya atau berubahnya

tingkah laku melalui latihan (pendidikan) yang membedakan dari

perubahan oleh faktor-faktor yang tidak dapat digolongkan dalam

latihan (pendidikan)

c. Belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah

perilakunya sebagai akibat dari pengalaman.

Jadi belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan

melalui pengalaman dan proses perubahan tingkah laku individu

melalui interaksi dengan lingkungan.24Dalam Q.S. Al-Nahl: 78 Allah

berfirman: tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

24

(38)

Prestasi belajar merupakan simbol dari keberhasilan seorang

siswa dalam studinya. Menurut Bloom salah satu tokoh Humanistik

menyebutkan bahwa prestasi belajar adalah sebagai perubahan tingkah

laku meliputi tiga ranah yang disebut Taksonomi. Tiga ranah dalam

Taksonomi Bloom adalah:25

a. Domain kognitif, terdiri atas enam tingkatan: Pengetahuan,

Pemahaman, Aplikasi, Analisis, Sintesis, Evaluasi

b. Domain psikomotor, terdiri atas lima tingkatan: Peniruan,

Penggunaan, Ketepatan, Perangkaian, Naturalisasi

c. Domain afektif terdiri atas lima tingkatan: Pengenalan, Merespon,

Penghargaan, Pengorganisasian, Pengamalan

Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari

pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor Kognitif,

Afektif dan Psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran yang

diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen yang

relevan. Prestasi belajar adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan

siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut

pengetahuan atau ketrampilan yang dinyatakan sesudah hasil

penelitian.26

Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian

usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun

25

Asri Budiningsih, Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran(Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm.75

26

(39)

kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak

pada periode tertentu.27

Dalam kegiatan pendidikan formal tes prestasi belajar dapat

berbentuk ulangan harian, Ujian Tengah Semester, Ujian Akhir

Semester bahkan Ujian Akhir Nasional dan ujian-ujian masuk

Perguruan Tinggi. Dalam Q.S. Al-Hujurat: 13 Allah Berfirman:

”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa

adalah sebagai berikut:

a. Faktor yang berasal dari diri sendiri (Internal), terdiri dari factor

fisiologis, psikologis dan kematangan.

27

Sunarto, Pengertian Prestasi Belajar

(40)

1) Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan maupun

yang diperoleh (kesehatan).

Kondisi tubuh yang lemah dapat menurunkan kualitas

ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajari kurang

dipahami. Untuk mempertahankan jasmani yang sehat maka

siswa dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman

yang bergizi. Selain itu siswa juga dianjurkan memilih pola

istirahat dan olah raga ringan yang berkesinambungan.

Tingkat kesehatan indera pendengar dan indera penglihat

juga mempengaruhi siswa dalam menyerap informasi dan

pengetahuan. Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah

mata dan telinga, maka sebaiknya guru bekerjasama dengan

sekolah untuk memperoleh bantuan pemeriksaan rutin dari dinas

kesehatan. Kiat lain adalah menempatkan siswa yang

penglihatan dan penglihatan dan pendengarannya kurang

sempurna di deretan bangku terdepan secara bijaksana.28

2) Faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang

diperoleh (intelegensi, perhatian, sikap siswa, bakat, minat,

motivasi)

a) Intelegensi

Menurut William Stern, Intelegensi adalah

kesanggupan untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan

28

(41)

baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir yang sesuai

dengan tujuannya.29 Tingkat intelegensi siswa sangat

menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Semakin

tinggi kemampuan intelegensi siswa maka semakin besar

peluangnya meraih sukses, demikian pula sebaliknya.

b) Perhatian

Gazali dalam slameto (1991) menyatakan bahwa

perhatian merupakan keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa

itupun semata-mata tertuju kepada suatu objek atau

benda-benda atau sekumpulan objek. Untuk memperoleh hasil

belajar yang baik maka guru harus mengusahakan bahan

pelajaran yang menarik perhatian sesuai dengan hobi dan

bakatnya. Proses timbulnya perhatian ada dua cara, yaitu

perhatian yang timbul dari keinginan (volitional attention)

dan bukan dari keinginan atau tanpa kesadaran kehendak

(nonvolitional attention).30

c) Sikap

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif

berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon

dengan cara yang relative tetap terhadap objek orang,

29

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 52

30

(42)

barang dan sebagainya baik secara positif maupun negative.

Untuk mengantisipasi sikap negative guru dituntut untuk

lebih menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri

dan mata pelajarannya. Selain menguasai bahan-bahan yang

terdapat dalam bidang studinya, tetapi juga meyakinkan

siswa akan manfaat bidang studi itu bagi kehidupan mereka.

Sehingga siswa merasa membutuhkannya, dan muncullah

sikap positif itu.

d) Bakat

Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki

seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang

akan datang. Hendaknya orangtua tidak memaksakan

anaknya untuk menyekolahkan anaknya ke jurusan tertentu

tanpa mengetahui bakat yang dimiliki anaknya. Siswa yang

tidak mengetahui bakatnya, sehingga memilih jurusan yang

bukan bakatnya akan berpengaruh buruk terhadap kinerja

akademik atau prestasi belajarnya.31

e) Minat

Minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang

tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Siswa

yang menaruh minat besar terhadap kesenian akan

memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada yang lain.

31

(43)

Pemusatan perhatian itu memungkinkan siswa untuk belajar

lebih giat dan mencapai prestasi yang diinginkan.32

f) Motivasi

Motivasi belajar merupakan kekuatan, daya

pendorong, atau alat pembangun kesediaan dan keinginan

yang kuat dalam diri siswa untuk belajar secara aktif,

kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka

perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif,

maupun psikomotor. Motivasi ada dua jenis, intrinsic dan

ekstrinsik. Motivasi intrinsic adalah motivasi yang datang

secara alamiah dari diri siswa itu sendiri sebagai wujud

adanya kesadaran diri dari lubuk hati paling dalam.

Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang datangnya

disebabkan factor-faktor di luar diri peserta didik, seperti

adanya pemberian nasihat dari gurunya, hadiah, kompetisi

sehat antarpeserta didik, hukuman dsb.33

32

E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 194

33

(44)

3) Faktor kematangan fisik maupun psikis (kesiapan, kelelahan)34

a) Kematangan

Kematangan merupakan suatu tingkatan atau fase

dalam pertumbuhan seseorang, di mana seluruh organ-organ

biologisnya sudah siap untuk melakukan kecakapan baru.

Anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan

kecakapannya sebelum belajar. Belajar akan lebih berhasil

apabila anak sudah siap (matang) untuk belajar. Dalam

konteks proses pembelajaran kesiapan untuk belajar sangat

menentukan aktivitas belajar siswa.

b) Kesiapan

Kesiapan atau readiness merupakan kesediaan untuk

memberi respons atau bereaksi. Kesediaan itu datang dari

dalam diri siswa dan juga berhubungan dengan kematangan.

Kesiapan amat perlu diperhatikan dalam proses belajar,

karena jika siswa belajar dengan kesiapan, maka hasil

belajarnya akan lebih baik.

c) Kelelahan

Kelelahan ada dua macam, yaitu kelelahan jasmani

(fisik) dan kelelahan rohani (psikis). Kelelahan jasmani

terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan muncul

kecenderungan untuk membaringkan tubuh (beristirahat).

34

(45)

Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya

kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan

untuk berbuat sesuatu termasuk belajar menjadi hilang.

b. Faktor yang berasal dari luar (eksternal) diantaranya:

1) Faktor social yang terdiri atas:35

a) Lingkungan sekolah

Lingkungan social sekolah meliputi guru, para staf

administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi

semangat belajar siswa. Guru yang menunjukkan sikap dan

perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri tauladan

yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, dapat

menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar

siswa.

b) Lingkungan masyarakat

Lingkungan masyarakat adalah tetangga dan

teman-teman sepermainan disekitar perkampungan siswa. Kondisi

masyarakat di lingkungan kumuh yang serba kekurangan

dan banyak pengangguran akan mempengaruhi aktivitas

belajar siswa. Paling tidak siswa akan kesulitan ketika

memerlukan teman belajar atau berdiskusi atau meminjam

alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.

35

(46)

c) Lingkungan keluarga

Lingkungan keluarga adalah orangtua dan keluarga

siswa itu sendiri. Sifat-sifat orangtua, praktek pengelolaan

keluarga, ketegangan keluarga, letak rumah, semuanya

dapat memberi dampak baik dan buruk terhadap kegiatan

belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.

2) Factor non social

Factor-faktor yang termasuk lingkungan non social

adalah gedung sekolah, rumah tempat tinggal keluarga siswa

dan letak-letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu

belajar yang digunakan siswa. Factor-faktor ini dipandang turut

menentukan tingkat keberhasilan siswa.36

c. Pendekatan dan Metode Belajar

1) Pendekatan Belajar

Banyak pendekatan belajar yang dapat diajarkan kepada

siswa untuk mempelajari materi pelajaran yang sedang mereka

tekuni. Pendekatan belajar yang dianggap mampu mewakili

yang klasik dan modern adalah:37

(47)

mempratekkan materi pelajaran akan lebih mudah

memanggil kembali memori lama yang berhubungan

dengan materi yang sedang dia tekuni. Menurut hokum ini

belajar dengan kiat 3 x 5 lebih baik dari 5 x 3, walaupun

hasil perkalian keduanya sama.

Mempelajari materi dengan alokasi waktu 3 jam

perhari selama 5 hari lebih efektif daripada 5 jam sehari

tetapi hanya selama 3 hari. Pendekatan belajar dengan

mencicil ini masih dipandang cukup berhasil terutama untuk

materi yang bersifat hafalan.

b) Pendekatan Ballard dan Clanchy

Menurut Ballard dan Clanchy (1990), pendekatan

belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap

terhadap ilmu pengetahuan. Ada dua macam siswa dalam

menyikapi ilmu pengetahuan, yaitu:

(1) Sikap melestarikan apa yang sudah ada (conserving)

Pada umumnya siswa yang bersifat conserving

menggunakan pendekatan belajar “reproduktif” (bersifat

menghasilkan kembali fakta dan informasi).

(2) Sikap memperluas (extending)

Siswa yang bersikap extending biasanya

menggunakan pendekatan belajar “analistis”

(48)

informasi). Bahkan banyak juga yang menggunakan

pendekatan belajar yang lebih ideal yaitu spekulatif

(berdasarkan pemikiran mendalam), yang bukan saja

bertujuan menyerap pengetahuan melainkan juga

mengembangkannya.

c) Pendekatan Biggs

Menurut hasil penelitian Biggs (1991), pendekatan

belajar siswa dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk

dasar, yaitu:

(1) Pendekatan surface(permukaan/bersifat lahiriah)

Siswa yang menggunakan pendekatan surface,

misalnya mau belajar karena dorongan dari luar

(ekstrinsik) antara lain takut tidak lulus yang

mengakibatkan dia malu. Gaya belajarnya santai, asal

hafal, dan tidak mementingkan pemahaman yang

mendalam.

(2) Pendekatan deep (mendalam)

Siswa yang menggunakan pendekatan deep

biasanya mempelajari materi karena memang dia

tertarik dan merasa membutuhkannya (intrinsic). Gaya

belajarnya serius dan berusaha memahami materi

secara mendalam serta memikirkan cara

(49)

penting, namun lebih penting memiliki pengetahuan

yang cukup banyak dan bermanfaat bagi kehidupannya.

(3) Pendekatan achieving(pencapaian prestasi tinggi)

Siswa yang menggunakan pendekatan achieving

pada umumnya dilandasi oleh motif ekstrinsik yang

berciri khusus, disebut ego-enhancement. Yaitu ambisi

pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi

keakuan dirinya dengan cara meraih prestasi

setinggi-tingginya.

Gaya belajar ini lebih serius dari pada yang

menggunakan pendekatan lain. Dia memiliki

ketrampilan belajar (study skill) dalam arti sangat

cerdik dan efisien dalam mengatur waktu belajarnya.

Baginya berkompetisi dengan teman-teman dalam

meraih nilai tertinggi adalah penting, sehingga dia

sangat disiplin, rapi dan sistematis serta berencana maju

ke depan (plans ahead).

2) Metode Belajar

a) Metode SQ3R

Metode SQ3R dikembangkan oleh Francis P.

Robinson di Universitas Negeri Ohio Amerika Serikat.

Metode tersebut bersifat praktis dan dapat diaplikasikan

(50)

merupakan singkatan langkah-langkah mempelajari teks

yang meliputi:38

(1) Survey, adalah memeriksa, meneliti atau

mengidentifikasi seluruh teks;

(2) Question, adalah menyusun daftar pertanyaan yang

relevan dengan teks;

(3) Read, adalah membaca teks secara aktif untuk mencari

jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah

tersusun;

Metode PQ4R adalah ciptaan Thomas dan Robinson

(1972) yang dapat meningkatkan kinerja memori dalam

memahami substansi teks. Menurut Anderson (1990)

langkah-langkah PQ4R adalah:

(1) Preview, adalah menentukan topic umum dalam Bab

yang akan dipelajari kemudian diidentifikasi

subbabnya;

38

(51)

(2) Question, adalah menyusun pertanyaan yang relevan

dengan subbab;

(3) Read, adalah membaca dengan cermat sambil mencari

jawaban untuk pertanyaan yang telah disusun tadi;

(4) Reflect, adalah memahami isi bacaan dan

menghubungkan dengan pengetahuan yang dimilikinya;

(5) Recite, adalah mengingat informasi dalam bacaan,

kalau ada jawaban yang kurang memuaskan hendaknya

dibaca lagi;

(6) Review, adalah menanamkan materi Bab dalam memori

dengan mengingat intisarinya. Kemudian jawab lagi

seluruh pertanyaan yang berhubungan dengan subbab

dari Bab tersebut.

3. Factor-faktor Yang Menyebabkan Prestasi Belajar Siswa Turun Adapun factor-faktor yang menyebabkan prestasi belajar siswa

turun adalah:

a. Kurangnya minat dan motivasi dalam belajar

Siswa kadang mengalami situasi ingin terus santai,

malas-malasan dan tidak mempunyai gairah untuk belajar. Semua ini

mengakibatkan menumpuknya materi pelajaran yang belum dikuasai

(52)

akhirnya akan menjerumuskan siswa dalam kegagalan atau

setidaknya tidak berprestasi.

b. Sulit memahami materi pelajaran

Sebagian siswa mengalami kesulitan dalam memahami

sebagian materi pelajaran. Ada yang disebabkan oleh sulitnya

materi dan ada pula karena ketidakmampuan guru dalam

menyampaikan materi kepada siswa dengan gaya bahasa yang

mudah dan sederhana. Selanjutnya bisa juga karena rendahnya kadar

kecerdasan siswa atau kebencian siswa terhadap suatu mata

pelajaran.

c. Hubungan kurang baik dengan guru

Terkadang hubungan siswa dengan guru menjadi buruk

karena beraneka ragamnya masalah yang mengakibatkan situasi

tidak akrab antara keduanya. Situasi ini memuncak jika siswa tidak

menghadiri proses belajar mengajar atau tidak mampu memahami

pelajaran yang mungkin karena perlakuan keras sang guru pada

siswanya, ketika membentak siswa tersebut dihadapan

teman-temannya.39

39

(53)

d. Peristiwa lupa dalam belajar

Lupa adalah hilangnya kemampuan untuk menyebut atau

memproduksi kembali apa-apa yang sebelumnya telah dipelajari.

Factor-faktor penyebab lupa adalah:40

1) Adanya gangguan konflik antara item-item informasi atau

materi yang ada dalam system memori siswa, misalnya materi

lama yang sudah tersimpan di akal mengganggu masuknya

materi pelajaran baru

2) Adanya tekanan terhadap item yang telah ada baik sengaja atau

tidak, misalnya informasi kurang menyenangkan sehingga

dengan sengaja menekannya hingga ke alam bawah sadar

3) Perubahan lingkungan antara waktu belajar dan waktu

mengingat kembali

4) Adanya perubahan sikap dan minat siswa terhadap proses dan

situasi belajar tertentu

5) Materi yang telah dikuasai tidak pernah digunakan atau

dihafalkan siswa

6) Perubahan urat syaraf otak, misalnya kecanduan alcohol, gegar

otak dsb.

Pada prinsipnya apabila materi pelajaran yang disajikan

kepada siswa dapat diserap, diproses dan disimpan dengan baik oleh

system memori mereka, maka peristiwa lupa mungkin tidak terjadi.

40

(54)

Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara

meningkatkan daya ingat akal siswa.

e. Jenuh dalam belajar

Jenuh adalah padat atau penuh sehingga tidak mampu lagi

memuat apapun dan jemu atau bosan. Seorang siswa yang

mengalami kejenuhan belajar merasa seakan-akan pengetahuan dan

kecakapan yang diperolehnya dari hasil belajar tidak ada kemajuan.

Kejenuhan belajar dapat melanda siswa yang kehilangan motivasi,

keletihan, bosan dan konsolidasi salah satu tingkat ketrampilan

tertentu sebelum sampai pada tingkat ketrampilan berikutnya. Upaya

mengatasi atau menghilangkan kejenuhan adalah dengan terlebih

dahulu mencari penyebab timbulnya kejenuhan, barulah selanjutnya

memberikan solusi terhadap kejenuhan itu.41

f. Kesulitan belajar

Fenomena kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak

jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya.

Factor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri dari:42

1) Factor intern yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul

dari dalam diri siswa sendiri. Meliputi gangguan atau

kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yaitu:

41

Tohirin, op. cit., hlm. 140-142

42

(55)

a) Yang bersifat kognitif seperti rendahnya kapasitas intelegensi

siswa

b) Yang bersifat afektif seperti labilnya emosi dan sikap

c) Yang bersifat psikomotor seperti terganggunya alat indera

penglihat dan pendengar

2) Factor ekstern yaitu segala keadaan yang datang dari luar diri

siswa. Meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar

yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa, yaitu:

a) Lingkungan keluarga, contohnya ketidakharmonisan

orangtua

b) Lingkungan masyarakat, contohnya lingkungan kumuh

c) Lingkungan sekolah, contohnya letak sekolah yang dekat

pasar

g. Malas belajar

Menurut Sarwono S.W, factor-faktor yang menyebabkan

anak malas belajar adalah tidak mempunyai kebiasaan belajar yang

teratur, tidak mempunyai catatan pelajaran yang lengkap, tidak

membuat PR, sering membolos sekolah maupun les, sering

mengharap soal bocoran ujian dan menyontek untuk mendapatkan

nilai yang bagus.43

43

(56)

h. Frustasi

Frustasi (kecewa) adalah keadaan batin seseorang,

ketidakseimbangan dalam jiwa, suatu perasaan tidak puas karena

hasrat/dorongan yang tidak dapat terpenuhi. Menurut Woodworth

ada 4 hal yang menyebabkan frustasi:44

1) Yang disebabkan bukan manusia, misalnya kereta yang telat

datang.

2) Yang disebabkan orang lain, misalnya teman yang menghina

nilainya.

3) Pertentangan antara motif positif dengan motif positif. Misalnya

seorang ibu yang tidak ingin anaknya pergi ke pesta padahal dia

sebenarnya dia ingin membahagiakan anaknya.

4) Pertentangan antara motif positif dengan motif negative yang

terdapat dalam diri orang itu. Misalnya dia ingin menjadi juara

kelas tapi sangat malas belajar.

4. Upaya Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan prestasi

belajar:

a. Meningkatkan pemahaman siswa dengan cara:45

1) Menambah waktu khusus untuk mempelajari materi-materi yang

sulit

44

Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 127-129

45

(57)

2) Meminta bantuan teman untuk bekerjasama dalam memahami

pelajaran yang sulit atau belajar bersama

3) Meminta bantuan guru sekalipun dalam meminta tambahan

penjelasan atau privat

4) Belajar ditempat yang jauh dari keramaian, tempat bermain,

tempat berlalu-lalang dll.

b. Membina hubungan baik antara guru dan siswa, dengan cara:46

1) Menghentikan perselisihan dan pertentangan antara guru dan

siswa

2) Siswa meminta maaf jika bersalah dan mendengarkan dari sudut

pandang sang guru, selanjutnya keduanya berupaya untuk saling

mengerti.

3) Hendaknya siswa meyakini bahwa guru mempunyai kedudukan

dan posisi berharga yang sifatnya simbolis.

c. Membangkitkan motivasi belajar siswa dengan cara:47

1) Siswa memperoleh pemahaman yang jelas mengenai proses

pembelajaran

2) Siswa memperoleh kesadaran diri terhadap pembelajaran

3) Menyesuaikan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan peserta

didik secara link and match.

4) Memberikan sentuhan lembut, hadiah, pujian dan penghormatan

46

Ibid., hlm. 75

47

(58)

5) Siswa mengetahui prestasi belajarnya

6) Adanya iklim belajarnya yang kompetitif secara sehat

7) Belajar menggunakan multimedia dan multi metode

8) Guru yang kompeten dan humoris

9) Suasana lingkungan sekolah yang sehat

d. Kiat mengurangi lupa dalam belajar

Kiat terbaik untuk mengurangi lupa adalah dengan cara

meningkatkan daya ingat akal siswa. Banyak ragam kiat yang dapat

dicoba siswa dalam meningkatkan daya ingatannya, antara lain

menurut Barlow (1985), Reber (1988), dan Anderson (1990),

adalah:48

1) Over learning

Over learning(belajar lebih) artinya upaya belajar yang melebihi

batas penguasaan dasar atas materi pelajaran tertentu. Contohnya

pembacaan teks Pancasila setiap hari senin memungkinkan

ingatan siswa terhadap materi PPKN lebih kuat.

2) Extra studi time

Extra studi time (tambahan waktu belajar) adalah upaya

penambahan alokasi waktu belajar atau penambahan frekuensi

aktivitas belajar.

48

(59)

3) Mnemonic device

Mnemonic device (muslihat memori) adalah kiat khusus yang

dijadikan alat pengait mental untuk memasukkan item-item

informasi ke dalam system akal siswa. Ragam muslihat memori

antara lain:

a) Rima

Rhyme adalah sajak yang dibuat isinya terdiri atas kata dan

istilah yang harus diingat siswa.

b) Singkatan

Singkatan terdiri atas huruf awal nama atau istilah yang harus

diingat siswa.

c) System kata pasak

System kata pasak (Peg word system) menggunakan

komponen yang sebelumnya telah dikuasai sebagai pasak

(paku) pengait memori baru.

d) Metode losai

Metode losai (Method of loci) menggunakan tempat-tempat

khusus dan terkenal sebagai sarana penempatan kata dan

istilah tertentu yang harus diingat siswa.

e) System kata kunci

System kata kunci (Key word system) biasanya direkayasa

secara khusus untuk mempelajari kata dan istilah asing dan

(60)

4) Pengelompokan

Pengelompoan adalah menata ulang item-item materi menjadi

kelompok-kelompok kecil yang dianggap lebih logis dalam arti

bahwa item-item tersebut memiliki signifikasi dan lafal yang

sama atau sangat mirip.

5) Latihan terbagi

Lawan latihan terbagi (distributed practice) adalah latihan

terkumpul yang sudah dianggap tidak efektif karena mendorong

siswa melakukan cramming(penumpukan pelajaran).

6) Pengaruh letak bersambung

Untuk memperoleh efek positif dari pengaruh letak bersambung

(the serial position effect), siswa dianjurkan menyusun daftar

kata-kata yang diawali dan diakhiri dengan kata-kata yang harus

diingat.

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh guru dalam

menanggulangi kemungkinan terlupakannya materi yang telah

disajikan kepada mereka, yaitu:

1) Tingkatkan motivasi belajar siswa dengan menjelaskan manfaat

materi pelajaran bagi kehidupan mereka.

2) Demonstrasi dengan alat peraga atau memberi tanda khusus pada

(61)

3) Menyajikan materi yang berkaitan dengan sebelumnya, karena

kesinambungan antar pokok bahasan mempermudah proses

pengolahan materi dalam system akal siswa.

4) Memberi pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang

telah disajikan kepada siswa.

e. Kiat mengatasi kejenuhan dalam belajar

Keletihan mental yang menyebabkan munculnya kejenuhan

belajar itu lazimnya dapat diatasi dengan menggunakan kiat-kiat

sebagai berikut:49

1) Melakukan istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman

yang bergizi dengan takaran yang cukup banyak

2) Pengubahan atau penjadwalan kembali jam-jam dari hari-hari

belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa belajar lebih

giat

3) Pengubahan atau penataan kembali lingkungan belajar siswa

(meja tulis, lemari, rak buku, perlengkapan belajar dsb) yang

memungkinkan siswa merasa berada di sebuah kamar baru yang

lebih menyenangkan untuk belajar.

4) Memberikan motivasi dan stimulasi baru agar siswa merasa

terdorong untuk belajar lebih giat.

5) Siswa jangan pantang menyerah, dengan cara mencoba belajar

dan belajar lagi.

49

Referensi

Dokumen terkait

Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui adanya perbedaan prestasi belajar pada siswa yang belajar kelompok dengan

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/Mi), Sekolah

Implementasi kurikulum pada sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs), sekolah menengah atas/madrasah aliyah

Dari sekolah dasar swasta seperti Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Dasar swasta lainnya, sekolah dasar negeri juga Madrasah Ibtidaiyah (MI), hasilnya

Kurikulum 2013 KOMPETENSI DASAR Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI).Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.. Argumentasi

1) Mengetahui apakah terdapat perbedaan prestasi belajar statistika ditinjau dari minat belajar mahasiswa. 2) Mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata prestasi

Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut “Terdapat perbedaan yang positif dalam prestasi belajar Mata Pelajaran Rumpun Agama Kelas I–V di Madrasah Ibtidaiyah

STANDAR BIAYA OPERASI NONPERSONALIA TAHUN 2009 UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTs), SEKOLAH..