I. Pendahuluan - View of Analisis Keterbacaan Buku Ajar Bahasa Jawa Kelas Iv Sekolah Dasar Di Kabupaten Madiun

13 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

107 | P a g e

Analisis Keterbacaan Buku Ajar Bahasa Jawa

Kelas Iv Sekolah Dasar Di Kabupaten Madiun

Endang Sri Maruti PGSD, FKIP, Universitas PGRI Madiun

endangmaruty@yahoo.co.id

Rissa Prima Kurniawati

PGSD, FKIP, Universitas PGRI Madiun rissaprimakurniawati14@gmail.com

Abstract

Based on the observation result, the sixth graders of elementary school in Madiun City have not been able to master the material content in Javanese text book used in the class. For that, in this study analyzed the level of legibility of textbooks, especially Java language class IV SD, whether it is in accordance with the class level or not. Data were analyzed with Fry Graph and Clos technique. The result of the research shows that the Javanese textbook used in Madiun is not in accordance with the fourth grade of elementary school, because the result of the analysis is too high, that is for grades 7 and 8, it means that the textbook is suitable for junior high school level.

Keywords:legibility of textbooks Javanese language, class IV SD, Madiun City

Abstrak

Berdasarkan hasil observasi, siswa kelas VI SD di Kota Madiun banyak yang belum mampu menguasai isi materi pada buku teks bahasa Jawa yang digunakan di kelas. Untuk itu, dalam penelitian ini dianalisis tingkat keterbacaan buku ajar khususnya Bahasa Jawa kelas IV SD, apakah sudah sesuai dengan jenjang kelas atau belum. Data dianalisis dengan Grafik Fry dan teknik Klos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku ajar Bahasa Jawa yang digunakan di Kota Madiun belum sesuai dengan jenjang kelas IV SD, karena hasil analisisnya terlalu tinggi, yaitu untuk kelas 7 dan 8, hal itu berarti buku ajar itu sesuai untuk tingkat SMP.

Kata Kunci: keterbacaan buku ajar Bahasa Jawa, kelas IV SD, Kota Madiun

I. Pendahuluan

(2)

108 | P a g e Sebagai sarana dalam upaya mencerdaskan bangsa, buku memegang peranan yang sangat penting. Permasalahannya adalah buku teks yang dipersiapkan dengan matang seringkali menyulitkan siswa untuk memahaminya. Hal itu dibuktikan dari data hasil nilai siswa yang mengerjakan contoh soal dari buku ajar Bahasa Jawa diperoleh tidak memenuhi KKM. Karena itu, yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar adalah kalimat karena kalimat-kalimat merupakan satu-satuan kebahasaan yang sangat penting. Pemilihan kalimat tepat dengan diksi yang sesuai dengan tingkatannya menjadi penentu keterbacaan buku tersebut.

Agar buku ajar memenuhi syarat dan tujuan yang diharapkan, tingkat keterbacaannya harus sesuai dengan tingkat kemampuan dan penalaran siswa. Kesesuaian tingkat keterbacaan suatu buku sangat penting karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap motivasi dan minat siswa untuk membaca. Untuk menghindari permasalahan seperti itu, diperlukan suatu penelitian tentang keterbacaan buku ajar, khususnya buku ajar tematik tingkat sekolah dasar. Keterbacaan diperlukan untuk mengetahui tingkat kesulitan atau kemudahan suatu teks dipahami oleh siswa. Penelitian ini akan dibatasi pada keterbacaan buku ajar bahasa Jawa kelas 4 yang digunakan oleh SD di Kota Madiun mengingat kota ini memiliki kesamaan buku yang digunakan.

Indikator keterbacaan suatu teks bukan dialog adalah keterbacaan masing-masing paragrafnya. Untuk dapat memahami suatu teks perlu pemahaman yang utuh terhadap masing-masing paragraf pembentuk teks. Cacah kalimat dalam suatu paragraf dapat dijadikan indikator sederhana-tidaknya atau kompleks-tidaknya pokok pikiran yang dikembangkan dalam sebuah paragrap (Pranowo, 2000:8). Ini berarti bahwa cacah kalimat berpengaruh terhadap tingkat keterbacaan paragraf. Semakin berkurangnya cacah kalimat dari batas tertentu dalam suatu paragraf dapat dijadikan indokator bahwa paragraf yang bersangkutan semakin padat dan informasi yang disampaikan secara eksplisit semakin sedikit. Sebaliknya, bila cacah kalimatnya lebih banyak dari yang dibutuhkan, di dalam paragraf itu akan terjadi keterulangan (redundansi) kalimat yang akhirnya akan mempengaruhi proses pemahaman pembaca terhadap paragraf tersebut.

Formula keterbacaan saat ini kebanyakan menggunakan dua tolok ukur, yakni (a) panjang-pendeknya kalimat, dan (b) tingkat kesulitan kata (Laksono, 2007:4.5). Semakin panjang kalimat dan semakin panjang kata-kata maka bahan bacaan yang dimaksud semakin sukar. Begitu pula sebaliknya, apabila kalimat dan katanya pendek-pendek maka wacana yang dimaksud tergolong wacana yang mudah.

Dalam menentukan keterbacaan suatu teks pelajaran dilakukan kajian pada tiga hal, yaitu keterbacaan teks, latar belakang pembaca, dan interaksi antara teks dengan pembaca. Hal ini sesuai dengan konsep dasar yang diungkapkan Rusyana (1984:213) bahwa keterbacaan berhubungan dengan peristiwa membaca yang dilakukan seseorang, sehingga akan bertemali dengan aspek (1) pembaca; (2) bacaan; dan (3) latar. Ketiga komponen tersebut akan dapat menerangkan keterbacaan buku teks pelajaran.

(3)

109 | P a g e Keterbacaan yang dimaksud adalah kemampuan berinteraksi penggunaan Bahasa Jawa dalam buku teks dengan peserta didik sebagai pembaca.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat keterbacaan buku ajar Bahasa Jawa yang digunakan siswa kelas IV SD di Kota Madiun. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keterbacaan buku ajar Bahasa Jawa yang digunakan siswa kelas IV SD di Kota Madiun, apakah sudah sesuai dengan jenjang kelas IV SD atau belum.

II. Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk pada jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan penghitungan-penghitungan menurut rumus yang sudah ditentukan. Objek penelitian ini adalah keterbacaan buku teks mata pelajaran bahasa Jawa kelas IV tingkat Sekolah Dasar se-Kota Madiun sedangkan subjek penelitiannya adalah buku ajar bahasa Jawa kelas IV tingkat Sekolah Dasar se-Kota Madiun. Sesuai dengan asumsi dasar dan data awal maka penelitian ini mengambil sampel masing-masing dua sekolah pada tiap kecamatan di Kota Madiun. Setiap sampel SD dianalisis buku paket dan LKS Bahasa Jawa yang digunakan.

Sesuai dengan data dan sumber data di lapangan maka teknik pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) data buku teks (buku paket dan atau LKS) pembelajaran bahasa daerah (Jawa) diambil dengan teknik pustaka; dan (2) data evaluasi diambil dengan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan formula keterbacaan Fry dan dengan prosedur klose.

III. Hasil dan Pembahasan

Dalam sub-bab analisis data dari Kota Madiun ini, disajikan secara berurutan, yakni: (1) wacana lengkap; (2) penghitungan dan analisis wacana berdasarkan grafik Fry; dan (3) simpulan. Di Kota Madiun diambil dua sampel bahan ajar berupa 1 buku teks (buku paket) dan 1 lagi berupa LKS. Untuk buku paket karena lebih tebal maka diambil tiga sampel bacaan, yaitu bacaan di awal, tengah dan di akhir buku. Sementara untuk LKS, karena lebih tipis maka diambil dua sampel bacaan saja yakni di bagian awal dan di bagian akhir.

A. Analisis Keterbacaan Buku Paket

Yang dimaksud wacana lengkap di sini adalah potongan wacana yang akan dihitung tingkat keterbacaannya dengan menggunakan Grafik Fry. Seperti yang telah dijelaskan Fry, bahwa langkah pertama adalah dengan mengambil sebanyak 100 kata pada setiap bagian buku. Karena buku teks yang akan dihitung dalam tulisan ini termasuk buku tebal, maka dalam setiap buku hanya akan dipilih tiga bagian wacana yang dianggap representatif, yakni bagian awal, tengah, dan bagian akhir saja. Hal ini dimaksudkan supaya hasil yang diperoleh lebih komprehensif.

Berikut ini potongan wacana dalam setiap buku ajar Bahasa Jawa kelas IV SD di Kota Madiun.

1. Bagian Awal

(4)
(5)

111 | P a g e

(6)

112 | P a g e Selanjutnya adalah penghitungan jumlah suku kata per 100 kata. Berikut ini hasil penghitungannya.

Ing jaman kuna biyen, ana sawijining kraton gedhe jenenge

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Majalengka (1). Sing jumeneng ratu Prabu Erlangga lan

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

kagungan Senopati aran Butolocoyo (2). Senopati Butolocoyo

37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59

kagungan putra loro jenenge Joko Ludro lan Singo Ludro (3).

60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78

Kawulo Majalengka nggilut Agama Brahma kang ngagungake

79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97

Hyang Brahmani iya Dewi Durga (4).

98 99 100 1 2 3 4 5 6 7

Ing sawijining dina, Senopati Butolocoyo dhawuh marang

8 9 10 11 12 13 14 45 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27

abdine supaya nimbali kekaro marak ing ngarsane (5). Ora

28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47

antara suwe, bocah lelorone padha sowan, nanging nganggo

48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 67

sandhangan kang nganeh-anehi, yaiku iket sing ditata dadi kaya

68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89

sungu kebo (6).

90 91 92 93

Nyumurupi sandhangane putrane sing aneh, Senopati

94 95 96 97 98 99 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Butolocoyo ora karenan penggalihe (7). Senopati kang sekti

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32

mandraguna kuwi alok: “Joko Ludro, geneya ngadhep ramamu

33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

nganggo sandhangansing ora pantes, kaya sungu kebo!” (8)

53 54 55 56 57

Setelah semua penghitungan selesai, baru dimasukkan ke dalam rumus, yaitu sebagai berikut.

Rata-rata jumlah kalimat kalimat Jumlah suku kata = 257 x 0,6 = 154,2 = 154 suku kata

Setelah dilihat pada grafik Fry, maka titik temunya ada di wilayah 8. Perkiraan tingkat keterbacaan = (8-1), 8, (8+1)

3. Bagian Akhir

Setelah ditentukan data sampel, data lalu dianalisis sesuai petunjuk Fry. Dalam hal ini ada dua langkah, yakni: pertama, menghitung rata-rata jumlah kalimat per 100 kata; kedua, menghitung rata-rata jumlah suku kata per 100 kata, baru dimasukkan ke rumus. Berikut ini hasil rata-rata jumlah per 100 kata.

Kejaba njagakake asile tetanen, kanggo nambah

1 2 3 4 5 6

penghasilan, Pak Kardi uga ngingu pitik watara ana selawe (1).

(7)
(8)

114 | P a g e Setelah semua penghitungan selesai, baru dimasukkan ke dalam rumus, yaitu sebagai berikut.

Rata-rata jumlah kalimat kalimat Jumlah suku kata = 236 x 0,6 = 141,6 = 142 suku kata

Setelah dilihat pada grafik Fry, maka titik temunya ada di wilayah 7. Perkiraan tingkat keterbacaan = (7-1), 7, (7+1)

Perhitungan total tingkat keterbacaan dari teks awal sampai akhir adalah sebagai berikut.

Wacana sampel (100 kata) Jumlah Suku kata Jumlah Kalimat

Bagian awal 142 9,4

Bagian tengah 154 7,7

Bagian akhir 142 6,6

Jumlah 438 23,7

Rata-rata 146 7,9

Rata-rata jumah kalimat ⁄ ⁄ kalimat

Jumlah suku kata ⁄ ⁄ suku kata

Setelah dilihat pada grafik Fry, maka titik temunya ada di wilayah 7 Perkiraan tingkat keterbacaan = (7-1), 7, (7+1)

Dengan demikian, buku ajar tersebut cocok untuk siswa kelas 6, 7, dan 8 (SMP).

Selain dianalisis berdasarkan grafik fry, buku teks di atas juga dianalisis berdasarkan teknik klos. Adapun metode analisis pada teknik ini adalah dengan cara menghilangkan kata kelima dari setiap kalimat dimulai pada kalimat kedua, kemudian teks yang rumpang ini diisi oleh beberapa siswa sampel kelas IV SD di SD sampel di Kota Madiun. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut.

NO NAMA JUMLAH KATEGORI

1 Nely Najwa A. Frustasi

2 Aulia Friska A. F. Frustasi 3 Febri Cantika K. Frustasi

Rata-rata 29 % Frustasi

Berdasarkan tabel di atas, subjek kelas IV SD memiliki tingkat keterbacaan yang frustasi. Itu artinya buku teks ini belum tepat sasaran atau belum sesuai dengan kelasnya.

Berdasarkan hasil kedua teknik analisis keterbacaan di atas, dapat disimpulkan bahwa buku teks yang dikembangkan dan digunakan di Kota Madiun belum tepat sasaran karena belum sesuai dengan tingkat pembacanya, sehingga peserta didik selaku pembaca belum paham dengan isi buku teks tersebut.

B. Analisis Keterbacaan LKS (Lembar Kerja Siswa)

(9)

115 | P a g e dijelaskan Fry, bahwa langkah pertama adalah dengan mengambil sebanyak 100 kata pada setiap bagian buku. Karena LKS yang dihitung dalam tulisan ini termasuk buku tipis, maka dalam setiap buku hanya akan dipilih dua bagian wacana yang dianggap representatif, yakni bagian awal dan bagian akhir saja. Hal ini dimaksudkan supaya hasil yang diperoleh lebih valid.

Berikut ini potongan wacana dalam setiap LKS Bahasa Jawa kelas IV SD di Kota Madiun.

1. Bagian awal

Setelah ditentukan data sampel, data lalu dianalisis sesuai petunjuk Fry. Dalam hal ini ada dua langkah, yakni: pertama, menghitung rata-rata jumlah kalimat per 100 kata; kedua, menghitung rata-rata jumlah suku kata per 100 kata, baru dimasukkan ke rumus. Berikut ini hasil rata-rata jumlah per 100 kata.

Alam semesta iki ciptaane Tuhan Yang Maha Esa kanggo kabutuhane

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

manungsa supaya dijaga lan dilestarikake (1). Lingkungan alam ora

11 12 13 14 15 16 17 18

pareng dirusak manungsa yaiku manungsa dilarang nebangi wit-witan

19 20 21 22 23 24 25 26

sembarangan sing akibate rusake keseimbangan lingkungan ora apik (2).

27 28 29 30 31 32 33 34

Tuladhane desa wilangan rusak, amarga wit-witan lan alase ditebangi

35 36 37 38 39 40 41 42 43

tanpa petungan alias syukur nebang wae (3). Wis bola-bali desa kono

44 45 46 47 48 49 50 51 52 53

katrajang bencana banjir, tanah longsor, lan sapanunggalane (4). Yen wis

54 55 56 57 58 59 60 61 62

kaya mangkene panguripane warga desa wilangan sangsaya memelas (5).

63 64 65 66 67 68 69 70

Yen ana kedadeyan kaya ngene iki sapa sing nanggung?(6)

71 72 73 74 75 76 77 78 79

Mula iku, kita urip kudu ngati-ati yen arep tumindak (7). Weruhana

80 81 82 83 84 85 86 87 88 89

tumindak kang tanpa dipikir sing mateng bisa nuwuhake kasusahan wong

90 91 92 93 94 95 96 97 98 99

akeh (8).

100

Selanjutnya adalah penghitungan jumlah suku kata per 100 kata. Berikut ini hasil penghitungannya.

Alam semesta iki ciptaane Tuhan Yang Maha Esa kanggo kabutuhane

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

manungsa supaya dijaga lan dilestarikake (1). Lingkungan alam ora

26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48

pareng dirusak manungsa yaiku manungsa dilarang nebangi wit-witan

49 50 51 52 53 54 55 56 575859 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71

sembarangan sing akibate rusake keseimbangan lingkungan ora apik (2).

72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95

Tuladhane desa wilangan rusak, amarga wit-witan lan alase ditebangi

(10)

116 | P a g e

tanpa petungan alias syukur nebang wae (3). Wis bola-bali desa kono

21 22 23 24 25 262728 29 30 31 32 33 34 35 36 37 3839 40 41 42 43

katrajang bencana banjir, tanah longsor, lan sapanunggalane (4). Yen wis

44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64

kaya mangkene panguripane warga desa wilangan sangsaya memelas (5).

65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87

Yen ana kedadeyan kaya ngene iki sapa sing nanggung?(6)

88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99100 1 2 3 4 5

Mula iku, kita urip kudu ngati-ati yen arep tumindak (7). Weruhana

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1314 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

tumindak kang tanpa dipikir sing mateng bisa nuwuhake kasusahan wong

25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47

akeh (8).

48 49

Setelah semua penghitungan selesai, baru dimasukkan ke dalam rumus, yaitu sebagai berikut.

Rata-rata jumlah kalimat kalimat

Jumlah suku kata = 249 x 0,6 = 149,4 = 149 suku kata

Setelah dilihat pada grafik Fry, maka titik temunya ada di wilayah 7. Perkiraan tingkat keterbacaan = (7-1), 7, (7+1)

2. Bagian akhir

Setelah ditentukan data sampel, data lalu dianalisis sesuai petunjuk Fry. Dalam hal ini ada dua langkah, yakni: pertama, menghitung rata-rata jumlah kalimat per 100 kata; kedua, menghitung rata-rata jumlah suku kata per 100 kata, baru dimasukkan ke rumus. Berikut ini hasil rata-rata jumlah per 100 kata.

Theng… theng…., bel sekolah wis muni (1). Kuwi pratanda mlebu

1 2 3 4 5 6 7 8 9

sekolah (2). Bocah-bocah enggal padha mlebu menyang kelase

10 11 12 13 14 15 16

dhewe-dhewe (3). Dina kuwi padha seneng amarga arep nampa rapot (4).

17 18 19 20 21 22 23 24 25

Akeh sing padha seneng amarga arep nampa rapot (5). Akeh sing padha

26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

mbayangake wis bisa munggah ana kelas sing luwih dhuwur (6). Kanggone

37 38 39 40 41 42 43 44 45 47

Toni rapotan iki paling-paling ora nyenengake atine, amarga Toni ora tau

48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58

sinau, saben dinane dolanan wae (7). Nalika Ibu Guru Wati mlebu nggawa

59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69

satumpuk rapot ing njero kelas, Toni dheg-dhegan (8).

70 71 72 73 74 75 76

Sadurung nyerahake rapot, Ibu Guru Wati ngendika ana ngarep kelas (9).

77 78 79 80 81 82 83 84 85 86

“Bocah-bocah, dina iki dina pembagian rapot kenaikan kelas (10). Ibu

88 89 90 91 92 93 94 95 96

mesen marang kowe kabeh supaya sing munggah kudu sinau luwih sregep

97 98 99 100

(11)

117 | P a g e

sregep maneh kanggo ngoyak ketinggalanmu.” (11)

Selanjutnya adalah penghitungan jumlah suku kata per 100 kata. Berikut ini hasil penghitungannya.

Theng… theng…., bel sekolah wis muni (1). Kuwi pratanda mlebu

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

sekolah (2). Bocah-bocah enggal padha mlebu menyang kelase

17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34

dhewe-dhewe (3) Dina kuwi padha seneng amarga arep nampa rapot (4).

35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55

Akeh sing padha seneng amarga arep nampa rapot (5). Akeh sing padha

56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76

mbayangake wis bisa munggah ana kelas sing luwih dhuwur (6). Kanggone

77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97

Toni rapotan iki paling-paling ora nyenengake atine, amarga Toni ora tau

98 99 100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 151617 18 19 20 21 22 23 24 2526

sinau, saben dinane dolanan wae (7). Nalika Ibu Guru Wati mlebu nggawa

272829 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52

satumpuk rapot ing njero kelas, Toni dheg-dhegan (8).

53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Sadurung nyerahake rapot, Ibu Guru Wati ngendika ana ngarep kelas (9).

68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 8586 87 88 89 90 91

“Bocah-bocah, dina iki dina pembagian rapot kenaikan kelas (10). Ibu

92 93 94 95 96 97 9899100 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 1415

mesen marang kowe kabeh supaya sing munggah kudu sinau luwih sregep

16 17 18 19 20 21 22 23

maneh dene sing ora munggah kelas ibu pesen supaya uga sinau sing luwih

sregep maneh kanggo ngoyak ketinggalanmu.” (11)

Setelah semua penghitungan selesai, baru dimasukkan ke dalam rumus, yaitu sebagai berikut.

Rata-rata jumlah kalimat kalimat Jumlah suku kata = 223 x 0,6 = 133,8 = 134 suku kata

Setelah dilihat pada grafik Fry, maka titik temunya ada di wilayah 4. Perkiraan tingkat keterbacaan = (4-1), 4, (4+1)

Perhitungan total tingkat keterbacaan dari teks awal sampai akhir adalah sebagai berikut.

Wacana sampel (100 kata) Jumlah Suku Kata Jumlah Kalimat

Bagian awal 149 8

Bagian akhir 134 10,2

Jumlah 283 18,2

Rata-rata 141,5 9,1

(12)

118 | P a g e Jumlah suku kata = ⁄ ⁄ suku kata

Setelah dilihat pada grafik Fry, maka titik temunya ada di wilayah 6. Perkiraan tingkat keterbacaan = (6-1), 6, (6+1)

Dengan demikian, buku LKS tersebut cocok untuk siswa kelas 5, 6, dan 7 (SMP).

Selain dianalisis berdasarkan grafik fry, buku LKS di atas juga dianalisis berdasarkan teknik klos. Adapun metode analisis pada teknik ini adalah dengan cara menghilangkan kata kelima dari setiap kalimat dimulai pada kalimat kedua, kemudian teks yang rumpang ini diisi oleh beberapa siswa sampel kelas IV SD di SD sampel di Kota Madiun. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut.

NO. NAMA JUMLAH KATEGORI

1. Kayla Widianti Frustasi 2. Anton Wahyu M. Frustasi 3. Alfreda Favian N. Frustasi

Rata-rata Frustasi

Berdasarkan tabel di atas, subjek kelas IV SD memiliki tingkat keterbacaan yang frustasi. Itu artinya buku LKS ini belum tepat sasaran atau belum sesuai dengan kelasnya.

Berdasarkan hasil kedua teknik analisis keterbacaan di atas, dapat disimpulkan bahwa LKS yang dikembangkan dan digunakan di Kota Madiun belum tepat sasaran karena belum sesuai dengan tingkat pembacanya, sehingga peserta didik selaku pembaca belum paham dengan isi LKS tersebut.

Berdasarkan hasil kedua teknik analisis keterbacaan dari kedua buku sampel yang diambil di atas, dapat disimpulkan bahwa buku ajar yang dikembangkan dan digunakan di Kota Madiun belum tepat sasaran karena belum sesuai dengan tingkat pembacanya, sehingga peserta didik selaku pembaca belum paham dengan isi buku tersebut. Adapun gambarannya nampak pada diagram di bawah ini.

Gambar 1. Hasil Keterbacaan Buku Ajar di Kota Madiun

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Grafik Fry Teknik Klos

Buku Paket

LKS

(13)

119 | P a g e Berdasarkan diagram di atas, dapat disimpulkan bahwa buku ajar yang digunakan di Kota Madiun belum tepat sasaran, karena berdasarkan penghitungan buku ajar tersebut cocok untuk siswa kelas 6 (SD), 7 dan 8 (SMP).

IV. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik simpulan bahwa buku ajar baik berupa buku paket maupun LKS yang dipakai di Kota Madiun belum sesuai sasaran karena berdasarkan kedua teknik analisis keterbacaan, hasil keduanya menunjukkan hal yang sama yakni buku ajar yang dipakai saat ini belum sesuai. Berdasarkan hasil analisis dengan grafik Fry, buku ajar tersebut sesuai untuk kelas 6 (SD), 7 dan 8 (SMP), sedangkan berdasarkan teknik klos, buku ajar tersebut berkategori frustasi, yang artinya buku itu tidak sesuai karena terlalu sulit untuk dipahami siswa kelas IV SD. Hal itu cukup menjadi perhatian bagi tim KKG khususnya di Kota Madiun dalam merancang buku ajar atau memilih buku ajar Bahasa Jawa yang sudah siap digunakan, perlu lebih diperhatikan lagi pemilihannya agar sesuai dengan jenjang kelas sehingga siswa lebih mudah memahami dan prestasi yang baik pun akan tercapai.

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 2012. Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

Chaniago, Sam Mukhtar et al. 1996. Aspek Keterpaduan dan Keterbacaan Wacana Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk Kelas I SMU. Jakarta: IKIP Jakarta.

Depdiknas. 2000. Keterbacaan Kalimat Bahasa Indonesia dalam Buku Pelajaran SLTP. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Harjasujana, A.S. dan Mulyati Y. 1996. “Bahan Ajar Membaca dan Keterbacaan” dalam

Membaca 2. Jakarta:Ditjen Dikdasmen.

Laksono, Kisyani, dkk. 2007. Membaca 2. Jakarta: Universitas Terbuka

Pranowo, Dwiyanto Joko. 2007. “Alat Ukur Keterbacaan Teks Berbahasa Indonesia” dalam

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/131764502/ Artikel%20TESIS%20S2%20JOKO.pdf .Diunduh tgl 20 Januari 2017

Sulastri, I. 2008. “Teknik Isi Rumpang: Pemanfaatannya untuk Mengestimasi Keterbacaan

Figur

Grafik FryTeknik Klos
Grafik FryTeknik Klos. View in document p.12
Gambar 1. Hasil Keterbacaan Buku Ajar di Kota Madiun
Gambar 1 Hasil Keterbacaan Buku Ajar di Kota Madiun . View in document p.12

Referensi

Memperbarui...