• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewajiban Berdakwah Power Point

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Kewajiban Berdakwah Power Point"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Keniscayaan

Berdakwah &

Urgensinya

Karya: Dr. Taufiq Al-Wa’iy

Disiapkan Sebagai Penunjang Materi Taklim Rutin Pekanan di CIBITUNG

Oleh: DATA PURA

(4)

Muqaddimah

Ketika manusia berada di atas muka bumi ini, langsung disertai

pertolongan Allah swt dalam bentuk rizki dan hidayah.

Tentang rizki Allah swt tunjukkan pada stok rizki yang ada di bumi

yang telah disiapkan bagi umat manusia.

Rizki ini tersedia sesuai dengan apa yang manusia sukai dan cari

agar merasa senang dan menikmati kehidupan dunia

Hal ini untuk semakin menyempurnakan nikmat dan kebahagiaan,

mengharmoniskan orang-orang beriman dengan alam semesta

yang tegak di atas prinsip kebenaran, yang berjalan dengan sistem

yang sangat detail, pengendalian yang bijak, taat dan penuh

hidayah (petunjuk).

Maka da’wah adalah keniscayaan manusia sebagaimana

(5)

KETERBATASAN AKAL MANUSIA

MENANGKAP KEBENARAN

1. kenyataan manusia yang memiliki akal dan nafsu.

Akalnya terbatas dalam menangkap banyak

kebenaran, dan nafsunya yang menggebu sering

melewati batas kebenaran dan memaksa akal

mengikuti keinginannya (QS. Yusuf: 53, QS. Asy

Syams: 7-10

2. Maka harus ada aturan dan petunjuk dari Pencipta

manusia, Yang Maha Mengetahui apa yang

(6)

Contoh keterbatasan akal manusia:

1. sepanjang sejarah beberapa pemikir berusaha

menemukan perkembangan makhluk dan siapa

Penciptanya? Maka hasil pencariannya itu sampai pada

penyembahan baru, bintang atau hewan. Menyembahnya

selain Allah, padahal semua itu adalah yang ditundukkan

untuk manusia

2. ada sebagian lain yang mencoba membuat tatanan sosial.

Ada yang membuat madzhab yang membuat celaka dan

terpecah belahnya masyarakat. Peraturan yang

menghalalkan khamar, judi, hubungan seks menyimpang,

mebuat para gadis melakukan perbuatan keji dan

kemunkaran, menanggalkan kehormatan. Akal yang

melenceng dari jalan kebenaran dan kebaikan, melukai

fitrah manusia untuk memuaskan sisi hewani dan

(7)

KEBUTUHAN PERSONIL BAGI

NILAI KEBAIKAN

1. Kebaikan tidak akan dapat bergerak sendirian. Ia

hanyalah pemahaman yang dipraktekkan, dibawa,

dan diserukan kepada makhluk Allah. Maka untuk

menjadikan kebaikan sebagai nilai dominan harus

dibawa oleh para da’i, para penyuluh, prajurit dan

komunitas besar (QS. Al Mujadilah: 22, Al An’am: 90,

Al Ahzab: 23, Ali Imran: 146, Al Anfal: 64, Yusuf: 108)

2. Maka harus ada para penyeru kebaikan yang

membawa da’wah ini ke seluruh penjuru dunia

3. Maka da’wah adalah standar hidup setiap orang dan

setiap jama’ah, pilar tegaknya umat, salah satu

(8)

PERBEDAAN SELERA DAN

KECENDERUNGAN

1. Ada seseorang yang menganggap baik sesuatu yang dianggap buruk orang lain

2. sesuatu yang dalam satu momentum memiliki dua sisi yang saling bertentangan (QS. 2: 219  Khamr)

3. menjelaskan sisi maslahatnya seirng tidak riil bagi kebanyakan orang. Bahkan kemungkinan ada sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang tetapi berbahaya bagi orang lain

4. mendominasi, pandangan menjadi sempit, akal sangat relatif, pilihan berbeda-beda, dan banyak hal yang tidak jelas sisi manfaatnya

5. Maka manusia membutuhkan hidayah (bimbingan), para pembimbing, aturan yang mengatur akal, menerangi mata hati sehingga umat

manusia selamat dari kehancuran dan kesesatan

(9)

PENETAPAN KEYAKINAN

TENTANG BALASAN AMAL

1. Ketika meyakini adanya kebangkitan setelah mati, perhitungan amal yang pernah dilakukan shalih atau salah, maka harus diketahui jalan yang selamat, petunjuk kebenaran yang membimbing kepada yang hak dan jalan yang lurus

2. Dan Allah Yang Maha Hakim (bijak) telah menerangi jalan manusia ini, membuka matanya kepada yang benar, agar tidak ada lagi alasan dan udzur (QS. An Nisa: 165).

3. keadilan dan standar Allah swt yang tidak akan memperhitngkan seseorang atau umat kecuali setelah pernah datang kepadanya

hidayah (QS. Al Isra: 15) (QS. Al Qashash: 59) (QS. Asy Syu’ara: 208-209)

4. Maka ada kewajiban menyampaikan peringatan dan petunjuk Allah sehingga amal perbuatan itu diperhitungkan

5. da’wah menjadi keniscayaan manusia dalam hidupnya, dunia akhirat; agar tampak hikmah penciptaan manusia di muka bumi, agar

(10)

Kesimpulan

1. da’wah menjadi keniscayaan manusia dalam hidupnya, dunia akhirat; agar tampak hikmah penciptaan manusia di muka bumi, agar kehidupan menjadi lurus tampak keadilan Ilahiyah di dunia dan akhirat

2. meski masa kenabian telah berlalu,manusia masih saja membutuhkan

orang yang mau mengajarinya apa yang ia tidak ketahui, menunjukinya jika tersesat, mengingatkannya jika lupa, menegurnya jika berbelok,

mencegahnya jika melampau batas

3. tidak henti-hentinya zaman ini melahirkan para penyesat, pembangkang, penyimpang dan penipu yang mengharuskan adanya orang-orang yang meluruskan penyimpangannya, menjelakan kekaburannya, menolak keburukannya

4. tidak henti-hentinya ahli kebatilan berusaha memperdaya kebenaran dan para penyerunya. Berusaha untuk memperlemah rengkuhannya,

menggoyang ajarannya dan mencitra burukkan peradabannya. Dari itulah menjadi keharusan harus ada para jundi yang terlatih untuk melawan

(11)
(12)

Muqaddimah

1. Setiap umat yang ingin hancur dan roboh pilar-pilarnya, hilang

pengaruhnya, hilang eksistensinya pasti berawal dari diamnya para da’inya, lirih suaranya, rancu risalahnya, kehilangan tujuan utamanya, hancur peninggalannya.

2. Dan umat manapun yang ingin naik dan tinggi maka harus memahami

kebenaran da’wahnya, kesucian tujuan utamanya, keagungan risalahnya, para da’inya memiliki titik tolak di muka bumi untuk membangun pilar dan da’wahnya, memiliki suara bergaung, dan syi’ar (slogan) yang bergema, para da’I yang vokal, mulut yang lancara bicara, pena yang lancar menulis, informasi yang merata, propaganda yang menguasai telinga, pemikiran yang menguasi akal fikiran, pengetahuan yang mengendalikan akal dan

pemahaman.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman

(13)

Ta’rif Al Wajib

1. Al wajib adalah

perintah Allah yang harus dikerjakan

manusia dengan perintah keharusan, dengan indikasi

bahwa perintah itu menunjukkan keharusan

pelaksanaannya, seperti dalam bentuk kata perintah, atau

ancaman hukuman bagi yang meninggalkannya, atau

indikasi lainnya

2. Wajib menurut para ulama ushul (fiqh) adalah segala yang

ditetapkan dengan dalil

a) qath’iyyutstsubut

(pasti ketetapannya)

b) qath’iyyudilalah

(pasti petunjuknya) atau

qath’iyyuddilalah

c) zhanniyyutstsubut

( ketetapannya bersifat asusmsi) atau

zhanniyuddilalah

(petunjukkan bersifat asumsi) dan

(14)

Dalil Kewajiban Da’wah

1. Allah mengambil janji untuk bertabligh

(menyampaikan)

2. Perintah tegas bertabligh

3. Keharusan untuk memisahkan antara yang

hak dan yang bathil.

4. Tabligh adalah tanda iman seseorang

5. Jihad dan Melindungi diri dari kehancuran

6. Kehinaan bagi orang yang meninggalkan

amar ma’ruf

(15)

Allah mengambil janji untuk

bertabligh (menyampaikan)

(QS. Ibrahim: 4)

(QS. An Nahl: 44)

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang

yang Telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kamu

menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu

menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu

[4]

ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya

dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang

mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu menyangka,

(16)

Perintah tegas

bertabligh

1. Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak

menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[5]

(QS. Al Maidah: 67)

2. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[6] dan pelajaran yang baik (QS. An Nahl: 125)

3. Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (QS. Thaha: 132)

4. Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang

diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. Al Hijr: 94)

5. (QS. Al Maidah: 63) 6. (QS. Yusuf: 108)

7. ” ناَميِ للا فَعلضَأ َكِلَذَو , ِهِبللَقِبَف لعِطَتلسَي لمَل لنِإَف , ِهِناَسِلِبَف لعِطَتلسَي لمَل لنِإَف ِهِدَيِب ُهلِريَغُيللَف اًَِكلنُم لمُكلنِم ىَأَر لنَم “

“Barangsiapa yang melihat kemunkaran maka hendaklah ia rubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan mulutnya, jika tidak mampu maka dengan hatinya.

(17)

Keharusan untuk memisahkan

antara yang hak dan yang bathil

1. Ada keharusan untuk mengetahui yang hak dan yang batil, dan agar jelas mana jalan orang beriman yang disinari dengan cahaya kebenaran,

memancarkan fajar hidayah menyingkap selaput penutup mata: (QS. Al Anfal: 42)

2. Harus ada para rasul, harus ada para da’i, mata hati harus dibuka, suara amanah harus dikumandangkan. Dari itulah ada risalah para rasul:(QS. Ibrahim: 4) & (QS. An Nahl: 44)

3. Jiwa manusia yang melawan dan kabur setelah mendengar hidayah adalah jiwa yang menyukai dan terbiasa dengan kehinaan, telah dikendalikan

syetan kemunkaran, menolak cara hidup manusia untuk mengambil cara hidup hewan (QS. Muhammad: 25)

4. Dan harus ada bukti untuk mematahkan alasan orang-orang yang berkelit, agar tidak berkata di hadapan Allah seperti yang dikatakan Al Qur’an: (QS. Thaha: 134)

 Maka harus ada da’wah, harus ada para da’i, harus ada al bayan

(18)

Tabligh adalah tanda iman

seseorang

1. Umat Islam adalah umat risalah, umat da’wah, maka tidak ada

manfaatnya tanpa menunaikan risalahnya, tidak ada kebaikan yang dapat diharapkan tanpa da’wah

2. Umat ini menghabiskan hidupnya untuk risalah itu, mengerahkan

seluruh kemampuannya untuk membebaskan manusia dari kegelapan (QS. Ali Imran: 110)

3. Tidak termasuk umatku, orang yang tidak dapat menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua, memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. HR Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Hibban.

4. Dari Ibnu Umar ra dari Nabi Muhammad saw bersabda:

دمحأ دنسم مُهلنِم َِرُُُُّ لدَقَف ٌمِلاَظ َتلنَأ َككنِإ ُهَل َلُُقَُ لنَأ َمِلاَظللا ُباَهَُ ىِتكمُأ لمُتليَأَر اَذِإ

– (206 ص / 14 ج)

Jika kamu melihat umatku takut berkata kepada orang yang berbuat zhalim dengan kata: “Hai zhalim, maka sungguh telah

(19)

Jihad dan Melindungi diri dari

kehancuran

1. Sebagaimana jihad itu dilakukan dengan pedang, senjata

dan perang, maka jihad juga dilakukan dengan kalimat (QS.

At Taubah: 73, QS. Al furqan: 52

2.

مكتنسلأو مكسفنأو مكلاُمأب نيكِشملا اودهاج

“Perangilah orang-orang

musyrik dengan harta, jiwa dan lesanmu”

. HR Ahmad dan

Abu Daud

3. ِئاَج ٍناَطللُس َدلنِع َّح ُةَمِلَك

ٍٍ Kalimatul haq (perkataan yang benar) di hadapan

penguasa yang zhalim”.HR Ibnu Majah dengan sanad shahih

4. Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul

Muththalib, dan orang yang berdiri di hadapan penguasa

zhalim, menyuruhnya (kebaikan) lalu dibunuh. HR At

(20)

Kehinaan bagi orang yang

meninggalkan amar ma’ruf

1. Melakukan perbuatan munkar adalah kehinaan dan

lemah kepribadian, jauh dari istiqamah, merendahkan

diri sendiri, membuat manusia bertentangan dengan

fitrahnya sendiri, membunuh kehormatannya

“ Janganlah salah seorang di antaramu menghina diri

sendiri! Dia mengetahui bahwa Allah memiliki ucapan

atas dirinya kemudian ia tidak mengatakannya, lalu

Allah bertanya kepadanya di hari kiamat: Apa yang

menghalangimu untuk berkata karena Aku

begini-begini? Ia menjawab: “Takut manusia”. Allah

berfirman: “Hanya kepada-Ku lah kamu berhak takut”.

HR Ibnu Majah

(21)

Kutukan bagi yang

meninggalkan amar ma’ruf

1. Perbuatan ma’siyat, dosa dan pelanggaran kadang terjadi di suatu

masyarakat, kadang menjadi kebiasaan orang-orang jahat, perusak dan menyimpang

2. Masyarakat shalih akan menjadi benteng kuat di hadapan kerusakan,

penyimpangan, kejahatan dengan memberikan hukuman, peringatan, dan penolakan

3. “Ketika Bani Israil jatuh ke dalam perbuatan ma’siyat, para ulama’nya mencegahnya lalu mereka tidak berhenti, mereka mempersilahkan para ulama itu duduk di majlisnya, dijamu makan dan minum, maka Allah menimpakan permusuhan antara mereka, dan Allah mengkutuk mereka lewat lesan Daud dan Isa bin Maryam ..(yang demikian itu karena mereka berbuat ma’siyat dan mereka melamaui batas) Rasulullah ketika itu tidur-tiduran kemudian duduk dan bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sehingga kamu meluruskannya di atas kebenaran dengan sungguh-sungguh lurus

Referensi

Dokumen terkait