Kontruksi Makna Gambar Peringatan Bahaya Merokok di Dalam Kemasan Rokok: Analisis Simiotik Pada Kemasan Bungkus Rokok
Ahmad Septian Nugraha NIM : 13071082
Mata Kuliah : Metode Penelitian Sosial (Kelas Pagi) Email: [email protected]
Abstrak
Ketetapan pemerintah mengenai bahaya merokok merujuk pada diambilnya suatu keputusan kepada para produsen rokok untuk mencantumkan beberapa gambar yang berkaitan dengan penyakit-penyakit yang ditimbulkan akibat bahaya merokok. adalah salah satu produsen rokok yang juga merubah kemasanya akibat ketetapan pemerintah itu. Bagaimana tranmisi pesan yang diciptakan gambar peringatan merokok ? Apa yang terjadi dalam dinamika psikologi komunikasi setelah melihat gambar peringatan merokok itu? Berapa besar efektifitas semiotika yang diterima oleh si penerima pesan gambar peringatan merokok?. Pertanyaan ini menjadi dasar untuk beberapa penjelasan yang nanti akan dibahas. Pembahasan ini dibagi menjadi 3 bagian penjelasan. (1) Proses analisis semiotik (2) Kontruksi makna (3) Aspek psikologi komunikasi. Pertama, dari sudut pandang si penerima, bagaimana semiotik ini menjadi suatu pesan yang dapat diterima dalam gagasanya. Kedua ,Dalam perubahanya apa saja aspek psikologi yang terjadi dalam diri/kejiwaan si penerima ketika dihadapkan dengan gambar bahaya merokok itu. Dinamika psikologi yang terjadi menjadi dasar analisis dalam proses simiotik yang terjadi. Dan makna pesan apa yang diterima.
BAB I
PENDAHULUAN
Gambar menjadi salah satu pesan yang mudah dimengerti oleh kebanyakan orang. Dari pemahaman itulah banyak pesan-pesan yang terkandung dalam setiap gambar yang ditujakan khusus untuk merubah sikap dan prilaku khalayak dengan penanaman makna pesan yang dengan sengaja di buat sesuai tujuanya.
Dalam disiplin ilmu simiotik gambar menjadi bagian dalam proses penerimaan makna.tujuan-tujuan khusus di sengaja ditanam dalam gambar, seperti gambar peringatan merokom ini yang sengaja di pasang dalam kemasan rokok dengan tujuan dapat memberikan makna baik secara langsung ataupun lewat aspek-aspek psikologi lain yang akan diterima para konsumen rokok tersebut.
Produsen rokok merupakan alat untuk menanamkan informasi bahaya merokok karena memiliki pasar sendiri yang sengaja di upayakan bisa menurunkan tingkat konsumsi rokok. Bergerak darisana pemerintah mencoba menananamkan pengetahuan bahaya meroko karena mereka menyadari tingkat konsumsi rokok yang terus meningkat dan itu semua akan berdampak negatif untuk kesehatan masyarakat.
Berangkat dari beberapa masalah diatas,terdapat beberapa rumusan masalah diantaranya yaitu: (1) Bagaimana proses kontruksi makna dan simiotik yang diciptakan dalam kemasan rokok yang bergambar peringatan merokok? (2) Bagaimana gejala psikologis yang diterima oleh para penerima pesan saat melihat gambar peringatan merokok?. Penelitian ini bertujuan yaitu : Pertama ,
BAB II
KERANGKA TEORI
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan megidentifikasi tujuan dari penggunaan gambar peringatan merokok. Yaitu dalam lingkup kajian semiotika dalam menekan tingkat konsumsi rokok yang semakin meningkat dari tahun ketahunya.
Semiotik mengkaji makna konsep pokok sebagai alat untuk menganalisis gejala yang salah satunya adalah gejala psikologi komunikasi. Dalam kajian semiotik menjelaskan bahwa tanda merupakan ‘hal-hal’ yang menyesatkan karena tidak secara langsung ‘mewakili’ kenyataan, melainkan pendekatan mental padanya yang diidealisasikan. Plato (428M-347M). Gambar memberikan pesan yang sederhana dalam memaknainya melalui beberapa simbol tulisan yang mewakili pesan yang ingin disampaikanya.
Dalam kajian psikologi komunikasi citra merupakan peta yang membuat gambar peringatan merokok menjadi memiliki makna khusus yang diartikan oleh para penerima pesan sebagai bentuk pesan yang dapat merubah sikap menurut presepsi kita. WalterLippman (1965) menyebutnya “Picture in our head”. Roberts (1977) “Komunikasi tidak secara langsung menimbulkan perilaku tertentu”, “tetapi cenderung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita tentang lingkungan , dan cara inilah yang mempengaruhi cara kita berprilaku.”
BAB III
PEMBAHASAN
1.Semiotik
Pembahasana dimulai dari analisis gambar peringatan merokok yang sengaja diterapkan pihak pemerintah guna menekan tingkat konsumsi rokok.. Pertanyaanya seberapa efektifkah gambar itu dapat dikontruksi maknanya oleh seseorang perokok.
Dalam penyampaianya gambar ini analisisnya bahwa teknik semiotika konotasi dengan mengeluarkan makna-makna oposisi didalamnya. Karena pada gambar peringatan merokok sengaja dibuat dengan tujuan membangkitkan perasaan dan presepsi perokok tentang merokok itu dapat membunuhmu.1 Peranya sangat kuat karena gambar itu dapat seolah-olah menjadi bentuk artistik yang memiliki kekuatan tertentu karena kita ‘merasa’ bahwa mereka memiliki banyak hal yang bisa dikatakan kepada kita, jauh lebih kuat memberikan makna daripada yang kelihatanya.
Konotasi merupakan suatu mode operatif dalam pembentukan dan penyandian teks dengan sengaja dirancang untuk membangkitkan makna. Teknik lainya dengan oposisi , teknik ini biasa dipakai dalam semiotika untuk mengeluarkan makna-makna konotatif yang terbangun di dalam berbagai tanda . Sebagai contoh sederhana kita ambil perbedaan konotatif yang terkait dengan dikotomi “hitam-putih” . Warna ‘putih’ mengkonotasikan ‘kebersihan’,’kemurnian’,’keadaan tanpa dosa’ dan sebagainya. Sedangkan lawan katanya,yaitu ‘hitam’ mengkonotasikan ‘ketidakbersihan’,’ketidakmurnian’,’ketidakjujuran’, dan sebagainya. Serupa dengan pesan peringatan merokok ini mereka mengkonotasikan gambar yang memilik penyakit kanker paru yang mengkonotasikan seorang perokok itu ‘penyakitan’,’tidaksehat’.’merusak’ dan sebagainya.
1 Konotasi itu cukup kuat karena membangkitkan perasaan dan presepsi tentang segala sesuatu, seperti yang dikemukakan filsuf amerika serikat, Susanne Langer (1948)
diterapkan di dalam teknik ini adalah mengemukakan sekumpulan pertanyaan tentang suatu konsep tertentu kepada para subjek ‘apakah itu baik atau buruk? Lemah atau kuat? Dan sebagainya dalam skala yang terbagi menjadi tujuh bagian, dengan meletakan kata sifat yang berlawanan di ujung-ujungnya.2
Selain itu hal berlawanan disebut juga paradigmatik yang digunakan dalam teknik semiotika nya. 3 Contoh gambar dengan pria yang memiliki penyakit kanker jelas menggambarkan bawha tanda itu bermakna dalam hubungan dengan tanda lainya, seperti, ‘kanker adalah penyakit’, ‘penyakit kanker akibat merokok’, ‘merokok membunuhmu’, dan ‘berhintlah merokok’, mungkin itu yang menjadi proses hubungan makna yang terjadi sesuai dengan tujuanya
Dalam gambar Peringatan merokok ini juga terdapat beberapa tanda atau semcam simbol seperti paru-paru yang menadakan kehidupan jadi konotasi tandanya “jika kita ingin hidup maka harus menjaga paru-paru”.”dan jika inging paru-paru sehat maka jangan merokok”.
2. Model Komunikasi
Model komunikasi yang terjadi dalam proses ini adalah ‘model mata banteng’ karena pihak pengirim didefinisikan sebagai pihak yang mnegrahkan pesan
3 Paradigmatik adalah istilah teknis yang pada dasarnya menunjukan bahwa tanda itu bermakna dalam hubunganya dengan tanda yang lainnya.
3. Aspek Psikologis Komunikasi
Ada beberapa gejala psikologis yang diterima dalam mengkontruksi pesan dari gambar itu diantaranya adalah yang telah saya analisis :
A.Kognitif
Efek yang diterima perokok saat kemasanya dirubah dan ada gambar peringatan merokok yang dapat membunuhmu dengan berbagai macam gambar-gambar mengerikan tentang bahaya merokok dipasang dikemasannya secara gamblang. Ada beberapa pengelompokanya sesuai dengan efek apa yang terjadi pada si perokok ini.
1.Efek prososial
Gejala ini terjadi jika bila kita setelah melihat gambar itu lalu memperoleh manfaat dan pengetahuan , sebagaimana informasi yang dapat diterima masyarakat.
2.Efek prososial kognitif
Apabila gambar peringatan bahaya merokok itu membuat anda lebih menegerti betapa pentingnya kesehatan dan bagaimana cara agar menjaga kesehatan itu.
B.Afektif
Adalah pembentukan dan perubahan sikap. Dalam pesan yang disamapaikan oleh gambar peringatan merokok ini tentu ada dari beberapa perokok yang menentukan sikapnya apakah tetap merok atau berhenti setelah dia menerima efek kognitif yang ia simpulkan lewat sikapnya.
Efek prososial afektif adalah, bila gambar peringatan merokok itu menyajikan berbagai kerusakan organ-organ tubuh bagian dalam yang dapat mengganggu kesehatan si perokok, lalu si perokok memilih untuk berhenti merokok maka gambar itu telah menghasilkan efek prososial afektif.
Tidak ada ukuran khusus dalam mengatahui seberapa takut dan khawatirnya si penerima pesan karena peneliti kesukaran dalam mengukur emosi. Tetapi para peneliti telah berhasil menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi rangsangan emosional pada beberapa media, faktor itu antara lain, suasana,skema kognitif,suasana terapan,predisposisi individual , dan tingkat identifikasi khalayak.4
4Lihat, Rakhmat, Djalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya 2009
hal.234
BAB IV
Berangkat dali ilmu memahami simbol atau simiotik manusai dapat mencerna dan memahami tindakan dan apa yang harus dilakukan. Gambar peringatan merokok merupakan suatu gambar yang sangat memiliki makna terhadap isi pesan yang sengaja ditujukan kepada si penerima pesan dengan berbagai macam tujuanya.
Teknik penyampaian pesanya dengan menggunakan teknik konotasi simiotika dengan oposisi sebagai perbandingan anatara yang sehat ‘tidak merokok’ dan yang akan tidak sehat ‘perokok’. Lalu ada paradigmatik yang sengaja disisipkan lewat gambar tersebut, agar si penerima pesan menyadari akan keterkaitan dan sebab akibat ‘ akibat merokok’ dan sebab ‘kerusakan paru-paru’
Model komunikasi yang digunakan dengan model mata banteng karena dianggap lebih mengarahkan pesan pada sipenerima agar lebih efektif dalam mengkontruksi makna pesan yang ingin disampaikan pihak pengirim pesan.
Tidak hanya pesan yang sengaja ditujukan kepada sipenerima pesan, gambar peringatan merokok ini yang di cantumkan pada kemasan-kemasan bungkus rokok memang sengaja diharapkan mendapat timbal balik tindakanya. Maksudnya adanya aspek penggerak seperti aspek psikologi afektif yang mendorong para perokok untuk berhenti merokok setelah mencerna makna gambar ini.
Efek kognitif dan afektif menjadi efek yang terjadi dalam kejiwaan penerima pesan (perokok) tentang bahayanya merokok. Karena dari gambar peringatan bahaya merokok di serap menjadi sebuah pengetahun akan bahaya merokok yang merujuk nantinya pada pola hidup untuk menentukan akankah merokok/masih merokok dengan resiko penyakit paru-paru sebagaimana resiko yang di dapat dari memaknai gambar itu, atau tidak merokok/berhenti merokok karena tidak ingin memiliki penyakit sebagaimana gambar telah menampilkanya.
BAB V
Danesi, Marcel 2002. Understanding Media Semiotics. London: Arnold Publisher. Terjemahan Admiranto, A Gunawan.2010 Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta:Jalausutra.
Rakhmat, Djalaluddin. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya 2009.