DAMPAK LOKASI PASAR TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT PENDAPATAN
PEDAGANG (STUDI PADA RELOKASI PASAR DINOYO MENJADI PASAR
MERJOSARI KOTA MALANG)
Puspa Ratnaningrum Suwarduki, Ainur Rochmah, Wahyu Satrio Aulia, Ahmad Fakhrudin, Afif Mahardika Setiawan, Anita Wijayanti, Bildiosta Sappar.
ABSTRACT
PERMENDAG of 2008 confirms that the market is an area where the sale and purchase of goods by the seller over a number of well known as shopping malls , traditional markets , shops , plaza , center of commerce and other designations . A trader not only receive the benefit of the other party received the goods , but there is a social need which creates a reciprocal relationship and emotional personal relations . Relocation markets will certainly bring out the pros and cons of the parties involved. This is because tra ders refuse relocation to reason there will be a traffic jam due to the narrowness of the roads in the area Merjosari . In addition , difficult road toward Merjosari which can result in a lonely visitors so the impact on revenue decreases traders changed . This study will explain how much influence the amount of population support , accessibility of distance , completeness facilities to the level of market income Merjosari
Keyword : Market, Merchant, Market Relocation
ABSTRAK
PERMENDAG tahun 2008 menegaskan bahwa pasar adalah area tempat jual beli barang dengan jumlah penjual lebih dari satu baik yang disebut sebagai pusat perbelanjaan, pasar tradisional, pertokoan, plasa, pusat perdagangan maupun sebutan lainnya . Seorang pedagang tidak hanya menerima keuntungan dari pihak lain yang menerima barang, tetapi terdapat kebutuhan sosial yang menciptakan hubungan timbal balik dan terjalinnya hubungan personal secara emosional. Relokasi pasar dapat dipastikan akan menghasilkan pro dan kontra dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, hal ini dikarenaka n para pedagang menolak adanya relokasi dengan alasan nantinya akan terjadi kemacetan ka rena sempitnya jalan di daerah Merjosari. Selain itu, sulitnya jalan menuju ke arah Merjosari yang dapat berakibat pada sepinya pengunjung, sehingga berdampak pada pendapatan pedagang yang berubah menurun. Penelitian ini akan menjelaskan seberapa besar pengaruh jumlah penduduk pendukung, aksesibilitas, jarak, kelengkapan fasilitas terhadap tingkat pendapatan pasar Merjosari.
Kata kunci: Pasar, Pedagang, Relokasi Pasar
PENDAHULUAN
Peranan pasar sangatlah penting dalam kegiatan perekonomian yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mencapai kepuasan dalam proses transaksi ekonomi berupa barang dan jasa. Pasar adalah suatu wilayah tertentu yang menghubungkan antara produsen dan konsumen untuk melakukan transaksi jual beli. Jenis pasar dibedakan menjadi pasar tradisional dan pasar modern. Pasar memiliki berbagai fungsi dan peran, salah satunya adalah sebagai tempat berkumpul atau interaksi sosial dan berkreasi (Nuswantoro, 1993: 40). Pola pengelolaan lokasi pasar dilakukan dengan banyak cara, antara lain adalah pemugaran, stabilitas/pengaturan, dan relokasi/pemindahan. Adapun upaya pemindahan lokasi pasar sering kali terdapat kendala, yaitu rancangan bangunan yang tidak sesuai dan faktor finansial yang terkait dengan tarif sewa ruang di dalam pasar. Sehingga apabila
dilakukan upaya memindahkan pasar, maka pertimbangannya adalah rancangan bangunan pasar yang sesuai dan akomodatif, tingkat harga sewa yang memadai, rencana yang terperinci dan jarak lokasi berjualan dari tempat lokasi berjualan semula.
Pemilihan lokasi pasar haruslah tepat karena menjadi pemacu biaya yang signifikan dan memiliki kekuatan untuk membuat strategi dalam bisnis. Menurut Diana (dalam Indah, 2013:16) faktor-faktor penentu berkembangnya lokasi perdagangan meliputi: jumlah penduduk, aksesibilitas, jarak dan kelengkapan fasilitas perdagangan. Pemindahan lokasi pasar tentunya akan mempengaruhi jumlah pendapatan yang diperoleh pedagang. Menurut Bintari dan Suprihatin (dalam Agung, 2011:37) faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan meliputi: kesempatan kerja yang tersedia, kecakapan dan keahlian, motivasi, keuletan bekerja, dan banyak sedikitnya modal yang digunakan.
mengetahui dampak lokasi pasar terhadap perubahan tingkap pendapatan pedagang. Model konseptual yang digunakan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
Sumber: Olahan Penulis, 2013
Gambar 1. Model Konseptual
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Lokasi Perdagangan (X)
Sumber: olahan penulis
Gambar 2. Model Hipotesis METODE
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif (Sugiono, 2008:13). Adapun penelitian ini menggunakan metode eksplanatori. Singarimbun dalam Singarimbun dan Effendi (Ed, 2008: 5) menyebutkan bahwa penelitian eksplanatori digunakan apabila peneliti menjelaskann hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis.
Peneliti melakukan penelitian mengenai dampak lokasi pasar terhadap perubahan tingkat pendapatan pedagang yang ada pada pasar relokasi sementara dari Pasar Dinoyo yang terletak di lingkungan Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. Variabel yang digunakan dalam penelitan ini adalah varibel independen dan dependen yang meliputi penduduk pendukung, aksesibilitas, jarak, kelengkapan fasilitas dan tingkat pendapatan dengan menggunakan skala likert sebagai skala pengukurannya. Menurut Sugiyono (2011:93) skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan nonprobability sampling dengan metode sampling purposive. Jumlah populasi dalam penelitian tidak dapat diketahui oleh peneliti, sehingga penentuan jumlah sampel dapat dicari dengan menggunakan
rumus Malhorta yaitu minimal minimal 4 atau 5 dikalikan jumlah indikator atau jumlah pertanyaan yang ada (Widayat dalam Skripsi Hendro Eko Efendy, 2012:49). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner dalam proses penggumpulan data. Analisis yang digunakan dalam adalah uji validitas dan reliabilitas, analisis statistik deskriptif, uji asumsi klasik, dan analisis linear berganda.
HASIL
Lokasi penelitian yang dipilih adalah pasar Merjosari, Pasar Merjosari merupakan salah satu pasar tradisional yang terletak di kawasan persawahan di Kecamatan Lowokwaru. Pasar Merjosari merupakan Pasar Penampungan Sementara (PPS) dari Pasar Dinoyo. Secara teknis pengelolaan pasar ini diserahkan sepenuhnya oleh Persatuan Pedagang Pasar Dinoyo Kota Malang (P3DKM) dibawah naungan Dinas Pasar Kota Malang. Daerah ini merupakan salah satu tempat yang dianggap kurang strategis oleh sebagian pedagang.
Berdasarkan kuesioner yang disebarkan kepada responden yaitu sejumlah 60 pedagang Pasar Merjosari yang sebelumnya merupakan pedagang dari Pasar Dinoyo Kota Malang maka gambaran karekteristik responden yang diteliti meliputi jenis kelamin, umur, pendapatan dan jenis dagangan sebagai berikut :
Tabel 1. Jenis Kelamin Responden
Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)
Laki-laki 32 53,3
Perempuan 28 46,7
Jumlah 60 100
Sumber: Olahan Penulis, Tahun 2013
Tabel 2. Umur Responden
Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
17 s/d 24 5 8.3
25 s/d 32 10 16.7
33 s/d 40 14 23.3
41 s/d 48 13 21.7
49 s/d 56 12 20.0
57 s/d 64 5 8.3
65 s/d 72 1 1.7
Jumlah 60 100
Sumber: Olahan Penulis, Tahun 2013
Tabel 3. Pendapatan Responden
Pendapatan Jumlah (orang) Persentase (%)
Rp 0,- s/d Rp 500.000,-
7 11,7
Rp 500.000,- s/d Rp 1.000.000,-
15 25
Rp 1.000.000,- s/d Rp 1.500.000,-
11 18,3
Dampak lokasi Pasar
Penduduk Pendukung (X1)
Jarak (X3) Aksesibilitas
(X2)
Kelengkapan Fasilitas (X4)
Rp 1.500.000,- s/d Rp 2.000.000,-
4 6,7
> Rp 2.000.000,- 23 38,3
Jumlah 60 100
Sumber: Olahan Penulis, Tahun 2013
Tabel 4. Jenis Dagangan
Jenis Dagangan Jumlah (orang) Persentase (%)
Sepatu/sandal 6 10
Pakaian 16 26,7
Buah 4 6,7
Kue 3 5
Kosmetik 2 3,3
Warung 3 5
Sayuran 6 10
Pecah belah 2 3,3
Emas 5 8,3
Lain-lain 13 21,7
Jumlah 60 100
Sumber: Olahan Penulis, Tahun 2013
Statistik deskriptif juga digunakan untuk memberikan gambaran mengenai jawaban responden atas variabel-variabel penelitian. Distribusi frekuensi variabel penduduk pendukung Pasar Dinoyo (X1) menunjukkan bahwa sebanyak 46,7% tanggap responden menyatakan jumlah penduduk pendukung sangat tinggi, 38,3% jawaban responden menyatakan penduduk pendukung tinggi, 6,7% jawaban responden menyatakan penduduk pendukung sedang, 8,3% jawaban responden menyatakan penduduk pendukung rendah, 0% jawaban responden menyatakan sangat rendah.
Distribusi frekuensi variabel aksesibilitas Pasar Dinoyo (X2) menunjukkan bahwa sebanyak 58,4% jawaban responden menyatakan aksebilitas sangat tinggi, 32.2% jawaban responden menyatakan aksesbilitas tinggi, 3,37% jawaban responnden menyatakan aksesbilitas sedang, 8,3% jawaban responden menyatakan aksesbilitas rendah, 0,6% jawaban responden menyatakan sangat rendah. Distribusi variabel jarak Pasar Dinoyo (X3) menunjukkan bahwa sebanyak 43,3% tanggap responden menyatakan jarak tinggi, 48,3% jawaban responden menyatakan jarak sangat tinggi, 6,7% jawaban responnden menyatakan jarak sedang 1,7% jawaban responden menyatakan jarak rendah, 0% jawaban responden menyatakan sangat rendah.
Distribusi frekuensi variabel kelengkapan fasilitas Pasar Dinoyo (X4) menunjukkan bahwa sebanyak 35% tanggap responden menyatakan kelengkapan fasilitas sangat tinggi, 25% jawaban responden menyatakan kelengkapan fasilitas tinggi, 21,7% jawaban responnden menyatakan kelengkapan fasilitas sedang 13% jawaban responden menyatakan kelengkapan fasilitas rendah, 5% jawaban responden menyatakan sangat rendah. Distribusi frekuensi variabel tingkat pendapatan Pasar Dinoyo menunjukkan bahwa sebanyak
35,425% tanggap responden menyatakan tingkat pendapatan sangat tinggi, 44,375% jawaban responden menyatakan tingkat pendapatan tinggi, 13,342% jawaban responden menyatakan tingkat pendapatan sedang 60,583 % jawaban responden menyatakan tingkat pendapatan rendah, 0,825% jawaban responden menyatakan sangat rendah.
Berikut ini adalah distribusi frekuensi untuk Pasar Merjosari:
Distribusi frekuensi penduduk pendukung Pasar Merjosari (X1) menunjukkan bahwa sebanyak 33,9% tanggap responden menyatakan aksebilitas sangat tinggi, 23,9% jawaban responden menyatakan aksesbilitas tinggi, 16,633% jawaban responnden menyatakan aksesbilitas sedang, 12,767% jawaban responden menyatakan aksesbilitas rendah, 12,8% jawaban responden menyatakan sangat rendah. Jawaban responden atas aksesibilitas juga tergambarkan dalam distribusi frekuensi variabel aksesiblitas Pasar Merjosari (X2) yang menunjukkan bahwa sebanyak 33,9% tanggap responden menyatakan aksebilitas sangat tinggi, 23,9% menyatakan aksesbilitas tinggi, 16,633% menyatakan aksesbilitas sedang, 12,767% menyatakan aksesbilitas rendah, 12,8% menyatakan sangat rendah.
Jawaban responden atas variabel jarak tergambar dalam distribusi frekuensi varibel jarak Pasar Merjosari (X3) yang menunjukkan bahwa sebanyak 28,8% tanggap responden menyatakan jarak sangat tinggi, 25,4% menyatakan jarak tinggi, 22% jarak sedang 13,6% menyatakan jarak rendah, 10,2% menyatakan sangat rendah. Distribusi frekuensi variabel kelengkapan fasilitas perdagangan Pasar Merjosari (X4) menunjukkan bahwa sebanyak 28,3% tanggap responden menyatakan kelengkapan fasilitas tinggi, 20% kelengkapan fasilitas sangat tinggi, 20% menyatakan kelengkapan fasilitas sedang 18,3% jawaban responden menyatakan kelengkapan fasilitas rendah, 13,3% jawaban responden menyatakan sangat rendah.
Jawaban responden atas variabel tingkat pendapatan tergambar dalam distribusi frekuensi variabel tingkat pendapatan Pasar Merjosari yang menunjukkan bahwa sebanyak 38,911% tanggap responden menyatakan tingkat pendapatan sangat tinggi, 20,022% menyatakan tingkat pendapatan tinggi, 15,278% menyatakan tingkat pendapatan sedang 14,7 % menyatakan tingkat pendapatan rendah, 11,089% menyatakan sangat rendah.
yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Valid tidaknya suatu item instrumen dapat diketahui dengan membandingkan rhitung dengan rtabel (dengan n sebesar 60 didapatkan rtabel sebesar 0,2542). Apabila rhitung > rtabel dan apabila nilai signifikansi lebih kecil dari pada 0,05 maka dapat dinyatakan item pertanyaan tersebut valid dan sebaliknya. Berikut adalah hasil uji validitas dari kedua pasar:
Tabel 5. Hasil Uji Validitas Variabel Lokasi pasar Pasar Dinoyo
Sumber : Olahan Penulis, Tahun : 2013
Tabel 6. Hasil Uji Validitas Variabel Lokasi pasar Pasar Merjosari
Sumber : Olahan Penulis, Tahun : 2013
Tabel diatas dapat disimpulkan bahwa rhitung lebih besar dari rtabel sehingga kuesioner dapat dikatakan valid karena lebih dari 0,254.
Penelitian ini menggunakan uji reliabilitas. Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Pengujian reabilitas tiap item pernyataan dari variabel, digunakan alpha cronbach’s. Instrumen
dapat dikatakan andal (reliable) bila memiliki koefisien keandalan reliabilitas sebesar 0,60 atau lebih, untuk uji reabilitas sebagai berikut:
Tabel 7. Reability Statistics Pasar Dinoyo
Sumber : Olahan Penulis, Tahun : 2013
Tabel 8. Reability Statistics Pasar Merjosari
Sumber : Olahan Penulis, Tahun : 2013
Berdasarkan data tabel diatas dapat ketahui bahwa nilai Cronbach’s Alpha 0,642 dan 0,910 dengan jumlah item pertanyaan sebanyak 12. Suatu kuesioner dapat dikatakan reliabel jika nilai Cronbach’s Alpha reliabel > 0,60. Disimpulkan bahwa kuesioner tersebut dikatakan reliable karena memiliki koefisien keandalan reliabilitas > 0,60.
Model regresi yang baik merupakan model regresi yang memiliki sebaran jawaban variabel bebas dan variabel terikat yang normal atau bila digambarkan dalam diagram P-P Plot membentuk garis lurus diagonal. Semakin pola sebaran menyerupai garis maka semakin bagus model regresi untuk dilakukan pengujian, dan mengurangi resiko tidak adanya signifikansi pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat. Pengujian asumsi ini, dapat digunakan metode Kalmogorov-Sminorv. Berdasarkan pengujian Kolmogorov-Sminorov, didapatkan nilai signifikan sebesar 0,871 untuk Pasar Dinoyo dan didapatkan nilai signifikan sebesar 0,996 untuk Pasar Merjosari, nilai tersebut lebih besar daripada a = 0,05. Dikarenakan nilai signifikansi lebih besar daripada a =0,05, maka dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas residual telah terpenuhi atau juga dapat dikatakan populasi berdistribusi normal.
Model regresi yang baik adalah tidak terjadi multikolinearitas. Ada tidaknya multikolinearitas dapat dilihat dari variance Inflation Factor (VIF). Apabila nilai VIF > 10 maka menunjukkan adanya multikolinearitas. Sebaliknya, multikolinearitas VIF < 10 maka menunjukkan tidak adanya multikolinearitas. Hasil perhitungan diatas untuk Pasar Dinoyo didapatkan nilai VIF variabel penduduk pendukung (X1), variabel aksesibilitas (X2), variabel jarak (X3), variabel kelengkapan fasilitas (X4) secara berturut-turut adalah 1,543; 1,439; 1,481; 1,070, nilai tersebut menujukkan bahwa nilai VIF lebih kecil dari 10, yang artinya tidak terjadi multikolinearitas. Sedangkan Variabel Item rhitung Sig. Keterangan
1 2 3 4 5
Lokasi Pasar X1.1 .676 000 Valid X2.1 .556 000 Valid X2.2 .563 000 Valid X2.3 .351 006 Valid X3.1 .574 000 Valid X4.1 .355 005 Valid Pendapatan Y1.1 .530 000 Valid Y1.2 .583 000 Valid Y1.3 .391 002 Valid Y1.3.1 .510 000 Valid Y1.4 .502 000 Valid Y1.4.1 .444 000 Valid
Variabel Item rhitung Sig. Keterangan
1 2 3 4 5
Lokasi Pasar X1.1 .791 000 Valid X2.1 .689 000 Valid X2.2 .767 000 Valid
X2.3 .635 000 Valid X3.1 .709 000 Valid X4.1 .703 000 Valid Pendapatan Y1.1 .808 000 Valid Y1.2 .720 000 Valid Y1.3 .713 000 Valid Y1.3.1 .781 000 Valid Y1.4 .660 000 Valid Y1.4.1 .533 000 Valid
Cronbach’s Alpha N of item
0,642 12
Cronbach’s Alpha N of item
didapatkan nilai Toleransi variabel penduduk pendukung (X1), variabel aksesibilitas (X2), variabel jarak (X3), variabel kelengkapan fasilitas (X4) secara berturut-turut adalah 0,648; 0,695; 0,675; 0,935, nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai Toleransi lebih dari 0,10 yang artinya tidak terjadi multikolonieritas.
Sedangkan hasil perhitungan untuk Pasar Merjosari didapatkan nilai VIF variabel penduduk pendukung (X1), variabel aksesibilitas (X2), variabel jarak (X3), variabel kelengkapan fasilitas (X4) secara berturut-turut adalah 1,879; 2,481; 1,904;1,523, nilai tersebut menujukkan bahwa nilai VIF lebih kecil dari 10, yang artinya tidak terjadi multikolinearitas. Sedangkan didapatkan nilai Toleransi variabel penduduk pendukung (X1), variabel aksesibilitas (X2), variabel jarak (X3), variabel kelengkapan fasilitas (X4) secara berturut-turut adalah 0,532; 0,403; 0525; 0657, nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai Toleransi lebih dari 0,10 yang artinya tidak terjadi multikolonieritas.
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk melihat model regresi yang akan diuji terdapat ketidaksamaan varian. Model regresi yang baik adalah dimana terdapat kesamaan varian pada model regresi yang ditandai dengan pola menyebebar pada grafik Scatterplot. Berdasarkan grafik Scatterplot, baik pada grafik Scatterplot Pasar Dinoyo maupun pada grafik Scatterplot Pasar Merjosari terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y. Dapat disimpulkan dari pengujian yang dilakukan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.
Gambar 3. Grafik Scatterplot Pasar Dinoyo Sumber : Olahan Penulis, Tahun : 2013
Gambar 4. Grafik Scatterplot Pasar Merjosari Sumber : Olahan Penulis, Tahun : 2013
Uji autokorelasi bertujuan menguji ada tidaknya korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi juga disebut Independent Errors. Regresi Berganda mengasumsikan residu observasi seharusnya tidak berkorelasi (atau bebas). Asumsi ini bisa diuji dengan teknik statistik Durbin-Watson, yang menyelidiki korelasi berlanjut antar error (kesalahan). Durbin-Watson menguji residual yang berdekatan saling berkorelasi. Statistik pengujian bervariasi antara 0 hingga 4 dengan nilai 2 mengindikasikan residu tidak berkorelasi. Nilai > 2 mengindikasikan korelasi negatif antar residu, nilai < 2 mengindikasikan korelasi positif.
Berdasarkan uji autokorelasi Pasar Dinoyo diperoleh nilai DW=1,804. Sementara nilai dL= 1,444 dan dU= 1,727. Sehingga DW berada diantara dU dan 4-dU, yaitu 1,727<1,804<2,273. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi. DW lebih besar daripada 2-dL, yaitu 1,804>0,556 yang berarti terjadi autokorelasi negatif. Sedangkan untuk uji autokorelasi Pasar Merjosari diperoleh nilai DW=1,316. Sementara nilai dL= 1,444 dan dU= 1,727. Sehingga DW berada diantara dU dan 4-dU, yaitu 1,727<1,316<2,273. Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi. Hasil pengujian menunjukkan DW lebih besar daripada 2-dL, yaitu 1,316>0,556 yang berarti terjadi autokorelasi negatif.
pedagang (Y). Adapun hasil dari analisis regresi linier berganda Pasar Dinoyo menunjukkan bentuk persamaan sebagai berikut : Y = 15.731+ 0, 889 (X1) + 0. 375 (X2) + 0.175 (X3) - 0.165 (X4)
Berikut penjelasan berdasarkan persamaan regresi linier berganda yang terbentuk yaitu:
1. Konstanta diketahui sebesar 15,731 berarti bahwa seorang pedagang tetap dapat meningkatkan pendapatannya sebesar nilai konstanta meskipun seluruh variabel independen bernilai nol.
2. Koefisien variabel penduduk pendukung ( X1), variabel aksesibilitas (X2) dan variabel jarak (X3) sama-sama memiliki nilai positif. Hal ini berarti, tingkat pendapatan akan semakin meningkat apabila terjadi peningkatan penduduk/ pembeli pasar dan aksesbilitas. Sedangkan variabel kelengkapan fasilitas (X4) memiliki nilai min yang hal ini akan menghambat perkembangan pedagang pasar dalam mengembangkan usaha.
3. Koefisien regresi untuk variabel penduduk pendukung (X1) didapatkan nilai sebasar 0, 889. Hal ini, mengasumsikan variabel kualitas pedagang akan naik sebesar 0, 889 apabila terjadi kenaikan sebesar satu-satuan pada variabel pendukung pedagang.
4. Koefisien regresi untuk variabel aksesibilitas (X2) didapatkan nilai sebesar 0. 375. Hal ini, mengasumsikan bahwa variabel kualitas pedagang akan naik sebesar 0. 375 apabila aksesibilitas mengalami kenaikan satu-satuan. 5. Koefisien regresi untuk variabel koefisien
jarak (X3) didapatkan nilai sebesar 0.175. Hal ini, mengasumsikan bahwa variabel kualitas pedagang akan naik sebesar 0.175 apabila jarak pencapaian lokasi mengalami kenaikan satu-satuan.
6. Koefisien regresi untuk variabel kelengkapan fasilitas (X4) didapatkan nilai sebasar -0.165. Hal ini, mengasumsikan bahwa variabel kualitas pedagang akan turun sebesar -0.165 apabila Ketersediaan fasilitas mengalami penurunan satu-satuan.
Hasil analisis regresi linier berganda Pasar Merjosari menunjukkan bentuk persamaan sebagai berikut: Y = 7.715 + 1.425 (X1) + 0.615 (X2) - 0.046 (X3) + 0.915 (X4). Berikut penjelasan berdasarkan persamaan regresi linier berganda yang terbentuk yaitu:
1. Konstanta diketahui sebesar 7.715 berarti bahwa seorang pedagang tetap dapat meningkatkan pendapatannya sebesar nilai
konstanta meskipun seluruh variabel independen bernilai nol.
2. Koefisien variabel penduduk pendukung (X1), variabel aksesibilitas (X2) dan variabel kelengkapan fasilitas (X4) sama-sama memiliki nilai positif. Hal ini berarti, tingkat pendapatan akan semakin meningkat apabila terjadi peningkatan penduduk/ pedagang pasar dan aksesbilitas. Sedangkan variabel Jarak (X3) memiliki nilai min yang hal ini akan menghambat perkembangan pedagang pasar dalam mengembangkan usahanya.
3. Koefisien regresi untuk variabel penduduk pendukung (X1) didapatkan nilai sebasar 1.425. Hal ini, mengasumsikan variabel kualitas pedagang akan naik sebesar 1.425 apabila terjadi kenaikan sebesar satu-satuan pada variabel jumlah penduduk/ pedagang pasar.
4. Koefisien regresi untuk variabel aksesibilitas (X2) didapatkan nilai sebesar 0.615. Hal ini, mengasumsikan bahwa variabel kualitas pedagang akan naik sebesar 0.615 apabila aksesibilitas mengalami kenaikan satu-satuan. 5. Koefisien regresi untuk variabel koefisien
jarak (X3) didapatkan nilai sebasar -0.046. hal ini, mengasumsikan bahwa variabel kualitas pedagang akan turun sebesar -0.046 apabila jarak pencapaian lokasi mengalami penurunan satu-satuan.
6. Koefisien regresi untuk variabel kelengkapan fasilitas (X4) didapatkan nilai sebasar 0.915. hal ini, mengasumsikan bahwa variabel kualitas pedagang akan naik sebesar 0.915 apabila ketersediaan fasilitas mengalami kenaikan satu-satuan
(bersama-sama) variabel penduduk pendukung (X1), aksesibilitas (X2), jarak (X3), dan kelengkapan fasilitas (X4) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel pendapatan (Y).
Uji t dilakukan untuk mengukur besarnya pengaruh tiap variabel bebas terhadap variabel terikat. Hasil perhitungan dari uji t pada Pasar Dinoyo adalah sebagai berikut :
a) Penduduk pendukung (X1) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.091 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.091>0.05 sehingga H0 diterima dan H1 ditolak, hal ini bearti bahwa secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara variabel Penduduk pendukung (X1) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y).
b) Aksesibilitas (X2) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.168 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.168>0.05 sehingga H0 diterima, hal ini berarti secara parsial tidak ada pengaruh secara signifikan antara variabel aksessibilitas (X2) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y).
c) Jarak (X3) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.796 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.796>0.05 sehingga H0 diterima, hal ini berarti secara parsial tidak ada pengaruh secara signifikan antara variabel jarak (X3) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y).
d) Kelengkapan fasilitas (X4) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.608 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.608>0.05 sehingga H0 diterima, hal ini berarti secara parsial tidak ada pengaruh secara signifikan antara variabel kelengkapan kasilitas (X4) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y).
Berdasarkan hasil perhitungan uji parsial uji (t) pada Pasar Dinoyo maka dapat dijelaskan hasilnya sebagai berikut:
a. Penduduk pendukung (X1) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.003 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.003<0.05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, hal ini berarti bahwa secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara variabel penduduk pendukung (X1) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y).
b. Aksesibilitas (X2) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.009 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.009<0.05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima, hal ini bearti bahwa secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara variabel aksessibilitas (X2) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y). c. Jarak (X3) mempunyai nilai signifikansi sebesar
0.918 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.918>0.05 sehingga H0 diterima, hal ini berarti secara parsial tidak ada pengaruh secara
signifikan antara variabel Jarak (X3) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y).
d. Kelengkapan fasilitas (X4) mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.031 dan alpha (α) sebesar 0.05 maka 0.031<0.05 sehingga H0 diterima, hal ini berarti secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara variabel kelengkapan fasilitas (X4) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y)
PEMBAHASAN
Data yang diperoleh peneliti merupakan hasil dari penyebaran sejumlah 60 kuesioner kepada koresponden yang berasal dari pedagang yang berada di Pasar Merjosari dengan menggunakan perhitungan dari rumus Malhorta untuk menentukan proporsi sampel yang tepat, dengan asumsi peneliti bahwa jumlah sampel yang digunakan dapat mewakili dari populasi pedagang. Penggunaan jumlah sampel tersebut dkarenakan dari pihak Dinas Pasar Kota Malang ataupun pihak Persatuan Pedagang Pasar Dinoyo Kota Malang (P3DKM) peneliti tidak mendapatkan data yang valid dari jumlah dan jenis barang jualan pedagang yang berada di Pasar Merjosari. Kriteria utama dalam pengambilan responden adalah pedagang yang menjadi koresponden dari kuesioner haruslah pedagang berasal dari Pasar Dinoyo yang lalu dipindahkan ke Pasar Merjosari, dengan maksud data yang didapatkan dari kuesioner dapat menjawab dari rumusan masalah.
Gambaran umum koresponden, peneliti memberikan gambaran terhadap kondisi pedagang dari distrbusi jenis kelamin, umur, pendapatan, jenis dagangan responden. Dilanjutkan dengan statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran atas jawaban koresponden atas variabel yang jabarkan dalam kuesioner, yang terdiri dari variable lokasi perdagangan (X) sebagai variable independen dan variabel pendapatan (Y) sebagai variabel dependen.Penggunaan uji kualitas data yang terdiri dari uji validitas dan uji relibilitas, dalam uji validitas dimaksudkan untuk data dari sampel yang terkumpul dapat dinyatakan valid atau tidak valid dengan membandingkan rhitung dan rtabel (dengan n sebesar 60 didapatkan rtabel sebesar 0,2542), hasil yang diujikan didapati bahwa variabel yang dugunakan pada hasil uji validitas untuk lokasi Pasar Dinoyo dan Merjosari, keseluruhan dari item yang digunakan dinyatakan valid. Uji relibilitas dimaksudkan untuk menunjukan alat ukur yang tepat untuk item dari variabel dengan menggunakan alpha
Uji asusmsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Uji normalitas dituangkan dalam sebuah grafik P-P Plot, maka terlihat plot dari residual tersebut membentuk suatu pola yang mendekati garis lurus. Pola pada kedua grafik P-P Plot dari Pasar Dinoyo dan Merjosari diidentifikasi bahwa residual memiliki distribusi normal karena plot dari residual tersebut membentuk pola garis lurus. Uji multikolinier yang kuat pada variabel terikat untuk mendeteksi multikolinearitas dapat dilihat dari Variance Inflation Factor (VIF), dinyatakan bahawa nilai VIF variabel independen (X) Pasar Dinoyo bahwa nilai VIF tidak terjadi multikolinearitas, untuk nilai Toleransi menunjukkan tidak terjadi multikolonieritas, sedangkan untuk Pasar Merjosari secara nilai VIF tidak terjadi multikolinearitas. Nilai Toleransi menunjukkan tidak terjadi multikolonieritas. Sedangakan Uji Heteroskedastistas dengan melihat grafik Scatterplot, baik pada grafik scatterplot Pasar Dinoyo maupun pada grafik scatterplot Pasar Merjosari terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Berdasarkan tabel autokorelasi Pasar Dinoyo dan Pasar Merjosari dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi, tabel autokorelasi Pasar Dinoyo diperoleh DW (1,804) > 2-dL (0,556) dan Pasar Merjosari DW (1,316) >2-dL (0,556), yang berarti dari kedua tabel autokorelasi menunjukan terjadi autokorelasi negatif.
Dilanjutkan dengan penggunaan analisis regresi linear berganda dengan menggunakan tabel Coeficients, terdiri juga atas uji parsial (uji T) menggunakan tabel Coeficients dan uji simultas (uji F) menggunakan tabel ANOVA. Berdasarkan penggunaan analisis regresi linier berganda diketahui tingkat pendapatan Pasar Dinoyo akan semakin meningkat apabila terjadi peningkatan penduduk/ pembeli pasar dan aksesbilitas. Hal ini ditunjukkan, koefisien variabel penduduk pendukung 0, 889 (X1), variabel aksesibilitas 0. 375 (X2),dan variabel jarak 0.175 (X3) sama-sama memiliki nilai positif. Sedangkan variabel kelengkapan fasilitas -0.165 (X4) memiliki nilai minus yang hal ini akan menghambat perkembangan pedagang pasar dalam mengembangkan usahanya. Diperoleh hasil dari perhitungan uji simultan untuk Pasar Dinoyo menunjukkan bahwa signifikansi hasil penelitian variabel penduduk pendukung (X1), aksesibilitas (X2), jarak (X3), dan kelengkapan fasilitas (X4) berpengaruh secara signifikan terhadap variabel pendapatan (Y) sebesar 0.028 dan alpha (α) yang
digunakan dalam penelitian ini adalah 0.05 sehingga signifikansi 0.028<0.05. Hasil pengujian untuk Pasar Merjosari menunjukkan variabel penduduk pendukung (X1), aksesibilitas (X2), jarak (X3), dan kelengkapan fasilitas (X4) juga berpengaruh secara signifikan terhadap variabel pendapatan (Y) sebesar 0,000 dan alpha (α) yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0.05 sehingga signifikansi 0,000<0.05.
Berdasarkan hasil perhitungan uji parsial (uji t) pada Pasar Dinoyo maka dapat dijelaskan secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara variabel penduduk pendukung 0.091>0.05 (X1) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y), yang ditunjukkan H0 diterima dan H1 ditolak. Sedangkan 0.168>0.05 (X2), 0.796>0.05 (X3), 0.608>0.05 (X4) H0 diterima sehingga, tidak ada pengaruh secara signifikan antara variabel jarak terhadap variabel tingkat pendapatan (Y). Pengujian ini jika dibandingkan dengan dengan Pasar Merjosari dapat dijelaskan secara parsial ada pengaruh secara signifikan antara variabel penduduk pendukung 0.003<0.05 (X1), 0.009<0.05 (X2), 0.031<0.05 (X4) terhadap variabel tingkat pendapatan (Y), yang ditunjukkan H0 ditolak dan H1 diterima. Sedangkan, 0.918>0.05 (X3) H0 diterima sehingga, tidak ada pengaruh secara signifikan antara variabel jarak terhadap variabel tingkat pendapatan (Y).
1. Pengaruh lokasi pasar terhadap tingkat pendapatan di Pasar Dinoyo
Sesuai pengujian yang telah dilakukan peneliti bentuk pengaruh variabel lokasi perdagangan (X1) mulai dari penduduk pendukung, aksesibilitas, jarak, dan kelengkapan fasilitas dinyatakan tidak ada pengaruh terhadap variabel tingkat pendapatan (Y1) yang terdiri atas kesempatan kerja, kecakapan dan keahlian, keuletan bekerja dan modal.
2. Pengaruh lokasi pasar terhadap tingkat pendapatan di Pasar Merjosari
Pengujian yang telah dilakukan menunjukan pengaruh variabel lokasi perdagangan (X1) untuk penduduk pendukung, aksesibilitas dan kelengkapan fasilitas tidak ada pengaruh terhadap tingkat pendapatan (Y1) yang terdiri atas kesempatan kerja, kecakapan dan keahlian, keuletan bekerja dan modal. Sedangkan untuk jarak tidak ada pengaruh terhadap tingkat pendapatan.
3. Dampak Lokasi Pasar Terhadap Perubahan Tingkat Pendapatan Pedagang
setuju, sedangkan untuk di Pasar Merjosari hanya 15% menjawab sangat setuju. Sehingga untuk jumlah penduduk/pembeli lebih ramai di Pasar Dinoyo. Kesimpulan menurun.
b. Akses untuk mencapai lokasi: Aksesbilitas di Pasar Dinoyo 58,4% responden menjawab sangat setuju, sedangkan di Pasar Merjosari hanya 12,67% menjawab setuju. Sehingga aksesbilitas untuk mencapai lokasi lebih mudah ke Pasar Dinoyo. Kesimpulan menurun.
c. Jarak: Jarak lokasi untuk Pasar Dinoyo 43,3% responden menjawab sangat setuju, sedangkan untuk Pasar Merjosari hanya 13,6% responden yang menjawab sangat setuju. sehingga jarak lokasi pasar lebih dekat ke Pasar Dinoyo. Kesimpulan menurun.
d. Kelengkapan fasilitas Kelengkapan fasilitas yang ada di Pasar Dinoyo 35% responden menjawab sangat setuju, sedangkan untuk Pasar Merjosari menunjukkan bahwa secara keseluruhan atau sebanyak 20% tanggap responden menyatakan kelengkapan fasilitas sangat setuju. Sehingga fasilitas yang disediakan oleh Dinas di Pasar Merjosari lebih lengkap. Kesimpulan menurun.
e. Pendapatan: Pendapatan pedagang untuk Pasar Dinoyo secara keseluruhan atau sebanyak 35,425% tanggap responden menjawab sangat setuju, sedangkan untuk Pasar Merjosari menunjukkan bahwa secara keseluruhan atau sebanyak 14,7% tanggap responden menyatakan tingkat pendapatan sangat tinggi. Sehingga pendapatan yang diperoleh pedagang lebih tinggi di Pasar Merjosari. Kesimpulan menurun.
Menunjukkan bahwa jumlah pembeli, akses untuk mencapai lokasi, jarak, serta kelengkapan fasilitas dari Pasar Dinoyo ke Pasar Merjosari mengalami penurunan, sehingga hal itu akan berdampak pada tingkat pendapatan pedagang yang juga mengalami penurunan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Pengaruh lokasi perdagangan Pasar Dinoyo mulai dari penduduk pendukung, aksesibilitas, jarak, dan kelengkapan fasilitas tidak ada pengaruh terhadap tingkat
pendapatan. Sehingga hasil penjualan baik barang dan jasa di Pasar Dinoyo dapat dikatakan stagnan atau tidak ada dampak yang mendasar.
2. Jika dibandingkan dengan Pasar Dinoyo, lokasi Pasar Merjosari baik dari penduduk pendukung, aksesibilitas dan kelengkapan fasilitas terdapat pengaruh pada tingkat pendapatan. Sedangkan untuk jarak tidak ada pengaruh terhadap tingakt pendapatan, hal ini karena jarak antara Pasar Dinoyo dan Pasar Merjosari yang tidak terlalu jauh.
3. Perbandinngan dampak lokasi antara Pasar Dinoyo dan Pasar Merjosari terhadap perubahan tingkat pendapatan pedagang penduduk pendukung, aksesibilitas, jarak, dan kelengkapan fasilitas pengaruh terhadap tingkat pendapatan masing-masing variabel mengalami penurunan. Sahingga mengakibatkan sebagian pedagang pasar memilih untuk segera kembali lagi ke Pasar Dinoyo setelah dilakukannya renovasi / pembangunan kembali Pasar Dinoyo.
Adapun saran – saran yang diajukan oleh penelitidari penelitian yang telah dilakukan tersebut antara lain:
1. Pedagang diharapkan untuk meningkatkan profesionalisme dan daya saing dalam penjualan, karena dengan kemampuan profesionalisme yang tinggi dapat meningkatkan kualitas penjualan. Sikap profesionalisme penjualan dapat ditingkatkan dengan melakukan pelatihan dan pendampingan mengenai pemahaman menganai implementasi sistem marketing sederhana yang tentunya sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan dan kredibilitas kemampuan perdagangan. 2. Peneliti salanjutnya hendaknya dapat
mempertimbangkan pemahaman variabel lainnya selain penduduk pendukung, aksesibilitas dan kelengkapan fasilitas terdapat pengaruh pada tingkat pendapatan agar dapat diketahui seberapa besar pengaruhnya terhadap pendapatan pedagang baik Pasar Dinoyo dan Pasar Merjosari.
DAFTAR PUSTAKA Buku
Alwi, Hasan. (2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Yunus, Auliya I. 2011. Potret Kehidupan Sosial Ekonomi Pedagang Kaki Lima di Kota Makassar (Kasus Penjual Pisang Epe di Pantai Losari. Makassar:Universitas Hasanuddin.
Damsar. 2009. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana Prenata Media Group. Soekanto, Soejono. 2006. Sosiologi Suatu
Pengantar, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Sukirno, Sadoko. 1998. Pengantar Teori Mikroekonomi. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Tarigan, R. (2006), Perencanaan Pembangunan Wilayah, Edisi Revisi. Jakarta: . Bumi Aksara, Jurnal
Irawan, Johan W. 2012. Dampak Relokasi Pasar Babat Terhadap Kondisi Fisik Pasar dan Sosial Ekonomi Pedagang dan Pembeli. Malang: Universitas Brawijaya
Nelson dalam Abdul Hamdi Nur. 1996. Halaman 3. Teori Lokasi Kegiatan Perdagangan
Haryanto, Doddy A. 2011. Da mpak Relokasi Kampus Universitas Diponegoro Terha dap Usaha Makanan di Sekitarnya (Studi Kasus: Pleburan dan Tembalang). Semarang: Universitas Diponegoro.
Pratiwi, Azizah. 2010. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Terhadap Kesuksesan Usaha Jasa (studi pada usaha jasa mikro-kecil di sekitar kampuss undip pleburan). Semarang: Universitas Diponegoro.
Mattanete, Hastan. 2008. Analisis Kepuasan Pedagang terhadap pengelolaan pasar dan strategi pengembangan pasar (kasus di pasar citeureup I Kabupaten bogor). Bogor: Institut Pertanian Bogor
Triyaningsih, SL. Dan Wibowo, Edi. 2012. Analisis Tingkat Pendapatan Bersih Para Pedagang Ditnjau Dari Karaktaristik Pedagang (Studi Pada Pedagang Yang Menetap Di Pasar Klithikan Notoharjo Surakarta). Palembang: Universitas Sriwijaya.
Ayuningsasi, Anak Agung Ketut. 2011. Analisis Pendapatan Pedaganag Sebelum Dan Sesudah Program Revitalisasi Pasar Tradisional Di Kota Denpasar (Studi Kasus Pasar Sudha Merta Desa Sidakarya). Bali: Universitas Udayana.
Mayasari, Indah. 2013. Pengaruh Keberadaan Mall Wiltop Trade Center (WTC) Batanghari Terhadap Kondisi Sosial dan Ekonomi Masyarakat di Kota Jambi. Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia.
Suranto. 2010. Manajemen Dan Tingkat Kepuasan Pedagang Penggunapada Subterminal Agribisnis Sewukan Di Kabupaten Magelang. Semarang: Universitas Diponegoro
Diana. 2013. dalam Indah,:16 Fa ktor-Faktor Penentu Berkembangnya Lokasi pasar.
Internet
PERMENDAG. 2008. Nomor 53 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional , Pusat Perbelanjaan dan Pasar Modern. Online,. Website : www.kemendag.go.id, diakses : 20 Mei 2013
Catatan
1. Pendahuluan(latar belakang, rumusan masalah, tujuan jadi satu di
pendahuluan
2. tinjauan pustaka (masukkan teori yg dipakek analisis saja)
3. metpen gak usah secara lengkap, singkat2 aja
4. pembahasan diperbaiki
5. kesimpulan dan saran
daftar pustaka dicantumkan yang ada dalam jurnal saja, jgn dicopas semua