PENGARUH PELABELAN PERINGATAN KESEHATAN TERHADAP POLA KONSUMSI ROKOK
OLEH
ANITA NURUL HUDA A14103513
PROGRAM EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
▸ Baca selengkapnya: tidak mudah terpengaruh bilangan 14 ayat 25 sampai 30
(2)PENGARUH PELABELAN PERINGATAN KESEHATAN TERHADAP POLA KONSUMSI ROKOK
OLEH:
ANITA NURUL HUDA A14103513
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar SARJANA PERTANIAN
Pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Dengan ini kami menyatakan bahwa skripsi yang disusun oleh: Nama : Anita Nurul Huda
NRP : A1410513
Program Studi : Ekstensi Manajemen Agribisnis Pertanian
Judul : Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan Terhadap Pola Konsumsi Rokok
Dapat diterima sebagai syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Muhammad Firdaus, PhD NIP. 132.158.758
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Tasikmalaya pada tanggal 21 Oktoer 1982. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak Dayat, BA dan Ibu Iceu Nurhaida. Penulis mengawali pendidikan pada tahun 1988 di SDN Lampegan. Pada tahun 1994, penulis melanjutkan pend idikan di SMP N 3 Sukaraja. Pada tahun 1997 penulis melanjutkan pendidikan di SMU N 3 Tasikmalaya lulus tahun 2000. Pada tahun yang sama penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada Program Diploma III Analisis Lingkungan, lulus pada tanggal 16 Agustus 2003. Pada ulan September penulis diterima deprogram Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skrispsi ini. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari kegelapan ke alam yang penuh pengetahuan.
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan terhadap Pola Konsumsi Rokok” merupakan salah satu syarat kelulusan untuk memperoleh ge lar Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Pelabelan menjadi sangat penting terhadap suatu produk, supaya konsumen bisa leih mengetahui kandungan dari produk yang dikonsumsi. Perusahaan juga harus lebih detail dalam melakukan pelabelan terhadap suatu produk, supaya konsumen bisa lebih mengetahui dampak dan manfaat yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk tersebut.
Penulis menyadari skripsi ini masih anyak kekurangan, sehingga saran dan kritik dari semua pihak sangat berguna bagi penulis. Akhir kata terima kasih pada semua pihak yang telah memberikan masukan sehingga skripsi ini selesai, dan semoga bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.
Bogor, 6 Juni 2008
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kepada Allah SWT berkat rahmat dan hidayah-Nya dan Shalawat salam semoga senantiasa terlimpah pada Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan pegangan dan kekuatan dalam menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu selama masa perkuliahan dan juga dalam menyelesaikan skripi ini, yaitu:
1. Apa dan Mamah yang telah menunjukkan indahnya hidup didunia ini serta atas semua kasih saying, do’a, kesabaran dan dorongan moril maupun material yang diberikan pada penulis.
2. Bapak Muhammad Firdaus, PhD Selaku dosen pemimbing skripsi atas bimbingan dan kesabarannya dalam mengarahkan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
3. Ibu Netti Tinaprilla, MM yang telah memberikan masukan selaku dosen Evaluator.
4. Ibu dan Bapak yang telah memberikan semangat dan motivasi.
5. Suamiku yang memberikan semangat, dorongan serta bantuan. Terima kasih selalu menemani saat suka dan duka.
6. Adik – adikku semua yang telah memberikan motivasi.
RINGKASAN
ANITA NURUL HUDA. Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan Te rhadap Pola Konsumsi Rokok . Di Bawah Bimbingan MUHAMMAD FIRDAUS
Konsumsi rokok di Indonesia termasuk lima tertinggi di dunia, konsumsi rokok Indonesia juga memiliki kecenderungan yang meningkat. Tentang bahaya rokok, hampir tidak ada orang yang tidak tahu, akan tetapi hal itu tidak menyurutkan niat orang untuk merokok dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolelir oleh masyarakat. Rokok merupakan tantangan kesehatan yang berbeda dari yang lain. Jika virus atau bakteri dihindari manusia, rokok justru dibutuhkan konsumennya.
Perkembangan pasar produk rokok akhir – akhir ini cukup pesat. Tanda – tanda ini terlihat dari konsumen pemakainya yang semakin meluas dari kalangan dewasa sampai remaja, bahkan segmen pasarnya sudah menjalar ke setiap golongan dan kelompok umur, kalau dahulu mayoritas konsumennya adalah pria dewasa,tetapi sekarang konsumennya telah meluas melewati batas jender, dan meluas ke kelompok remaja dan wanita. Profil pelabelan produk pangan termasuk rokok, terpilih sebagai topik bahasan dalam penelitian ini menunjukkan adanya beberapa pelanggaran terhadap beberapa ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, baik Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 02240/B/SK/VIII/1991 tentang Pedoman Persyaratan Mutu serta Label dan Periklanan Makanan, maupun Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan.
Tujuan dari penelitian pengaruh pelabelan peringatan kesehatan terhadap pola konsumsi rokok, adalah: (1). Mendeskripsikan pola konsumsi dan kesadaran konsumen rokok terhadap pelabelan kesehatan. (2). Membandingkan karakteristik konsumen yang terpengaruh dan tidak terpengaruh oleh pelaelan kesehatan.
Secara keseluruhan responden memiliki umur kurang dari 40 tahun sebesar 60 % dan sisanya 40 % yang berumur lebih dari 40 tahun. berdasarkan jenis kelamin ternyata kaum laki- laki lebih dominan sebesar 78, 34 % sedangkan untuk jenis kelamin perempuan sebanyak 21,66 % . Presentase tigkat pendidikan terbesar responden adalah Diploma sebanyak 30 %, sedangkan untuk responden yang paling kecil yaitu pasca sarjana sebanyak 1,66 %.
Untuk pembelian rokok setiap hari paling banyak 1 bungkus sebanyak 36 orang (60%) responden dan untuk kurang dari 1 bungkus sebanyak 13 orang (21,67%) responden. sebagian besar responden akan menambah jumlah konsumsi rokok sebanyak 36 orang (60%) menyatakan akan menambah jumlah konsumsi rokok sedangkan responden yang mengurangi jumlah konsumsi rokok sebanyak 24 orang ( 40%) responden.
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN SKRIPSI SAYA YANG BERJUDUL PENGARUH PELABELAN PERINGATAN KESEHATAN TERHADAP POLA KONSUMSI ROKOK BENAR – BENAR MERUPAKAN HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Bogor, Agustus 2008
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI……… i
DAFTAR TABEL……… iv
DAFTAR GAMBAR……… v
DAFTAR LAMPIRAN……… vi
I. PENDAHULUAN Latar Belakang……… 1
Perumusan Masalah………... 2
Tujuan Penelitian……… 5
Kegunaan Penelitian………... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Rokok………... 6
Label………... 6
Fungsi Pelabelan………. 7
Penelitian Terdahulu……… 8
III. KERANGKA PEMIKIRAN Pengaruh Iklan Rokok di Televisi Terhadap Konsumen…. 10 Pelabelan Terhadap Produk Rokok………. 12
3.3. Kerangka Pemikiran Operasiona l……… 15
IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian………... 17
Jenis dan Sumber Data……… 17
Cara Penga mbilan dan pengumpulan data……….. 17
Metode Analisis Data ………. 18
Uji Korelasi Spearman……..………..……… 18
V. GAMBARAN UMUM RESPONDEN DAN KESADARAN KONSUMEN PEROKOK TERHADAP PELABELAN KESEHATAN Karakteristik Responden……… 20
Usia……….. 20
Jenis Kelamin………. 20
Tingkat Pendidikan……… 21
Pekerjaan……… 21
Pendapatan……… 22
Pengeluaran dalam Konsumsi Rokok……… 23
Pengatahuan Produk Rokok Yang Dikonsumi………... 23
VI. KARAKTERISTIK KONSUMEN PEROKOK YANG TERPENGARUH DAN TIDAK TERPENGARUH OLEH PELABELAN PERINGATAN KESEHATAN TERHADAP POLA KONSUMSI ROKOK Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan Terhadap Pola Konsumsi Rokok... 26
Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 27
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 28
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 29
Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 30
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 31 Hubungan Antara Variabel Terpengaruh dan Tidak
Dengan Uji Korelasi Spearman... 32 6.7.1. Hubungan Antara Variabel Jenis Kelamin
Yang Terpengaruh Dan Tidak Terpengaruh
Terhadap Pelabelan Peringatan Kesehatan... 32 6.7.2. Hubungan Antara Variabel Usia Yang
Terpengaruh Dan Tidak Terpengaruh
Terhadap Pelabelan Peringatan Kesehatan... 33
6.7.3. Analisis Variabel Yang Tidak Memiliki Pengaruh Yang Signifikan Terhadap Pelabelan
Peringatan Kesehatan... 33
VII. KESIMPULAN
7.1 Kesimpulan... 35 7.2. Saran……… 35
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Kinerja Produksi Industri Rokok Nasional Tahun 2000-2005... 3
2. Sebaran Responden Menurut Usia... 20
3.Sebaran Responden Menurut jenis Kelamin... 21
4. Sebaran Responden Menurut pendidikan... 21
5. Sebaran Responden Menurut Pekerjaan... 22
6. Sebaran Responden Menurut Pendapatan... 22
7. Sebaran Responden Menurut Pengeluaran... 23
8. Pengetahuan Produk Yang Dikonsumsi... 23
9. Jenis Rokok Yang Dikonsumsi... 24
10. Frekuensi Dalam Konsumsi Rokok... 24
11. Jumlah Konsumsi Rokok... 24
12. Anggaran Dala m Pembelian Rokok Per Hari... 25
13. Respon terhadap adanya Label Peringatan Kesehatan terhadap Rokok. 26 14. Penilaian Responden terhadap Perusahaan dalam Melakukan Pelabelan terhadap Rokok... 27
15. Tingkat Kepentingan Label Peringatan Kesehatan terhadap Rokok.... 27
16. Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 28
17. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 28
18. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 29
19. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 31
20. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Terhadap Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan... 31
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Teks Halaman
1. Keterangan Label Pangan dan Fungsinya... 40 2. Tabel Peraturan Undang – Undang Yang Mengatur Ketentuan
Label Pangan... 43 3. Kuisioner Penelitian... 45
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rokok merupakan tantangan kesehatan yang berbeda dari yang lain. Jika virus atau bakteri dihindari manusia, rokok justru dibutuhkan konsumennya. Tentang bahaya rokok, hampir tidak ada orang yang tidak tahu, akan tetapi hal itu
tidak menyurutkan niat orang untuk merokok dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolelir oleh masyarakat. Konsumsi rokok di Indonesia
termasuk lima tertinggi di dunia, konsumsi rokok Indonesia juga memiliki kecenderungan yang meningkat. Upaya – upaya untuk mengendalikan konsumsi rokok telah dilakukan oleh pemerintah selaku pembuat kebijakan, serta dilakukan
pula oleh WHO sebagai badan kesehatan dunia.
Individu yang menghisap rokok ditenggelami dengan iklan – iklan yang
begitu menarik dan mutu tambahan pada tembakau menjadikan mereka ketagihan. Diperkirakan 2,5 juta manusia di seluruh dunia meninggal dalam tempo 1 tahun
akibat berbagai penyakit yang ada kaitan dengan tabiat merokok, sedangkan perusahaan terus menerus mendapatkan keuntungan besar. Sakit jantung dan stroke adalah penyakit yang seringkali menyebabkan kematian dikarenakan menghisap rokok (www.wit.online.org).
Hak untuk diberitahukan kepada konsumen, termasuk juga mengelakkan
penipuan dan melindungi pengguna dari iklan – iklan ya ng menyeleweng, pelabelan yang mengelirukan yang tidak beretika. Pelabelan menjadi begitu penting dan berharga kepada pengguna dan kembali lagi kepada bagaimana pengguna menggunakannya dan bagaimana tanggapan pengguna terhadap pelabelan tersebut. Semua ini tergantung pada pelabelan tersebut dilakukan secara benar dan tepat, dapat diterima, dapat dipahami dan nyata adanya
(www.geocities.com).
Bila melihat ragam iklan rokok yang ada dapat dikatakan segmen pasar
pinggir jalan serta mensponsori berbagai kegiatan yang ditujukan bagi remaja
misalnya mengadakan kontes band, atau mensponsori acara musik dan tour di berbagai kota, dan masih banyak kegiatan lainnya yang memang ditujukan untuk segmen remaja.
Perkembangan periklanan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya taraf perekonomian suatu negara. Pesatnya perkembangan sektor industri berpengaruh sangat besar terhadap kemajuan dunia periklanan. Seiring
dengan perjalanannya waktu, situasi tersebut memunculkan suatu keadaan dimana keterkaitan satu dengan yang lain, antara iklan dan industri, bersifat saling
membutuhkan. Industri membutuhkan iklan untuk dapat menjalankan dan mengembangkan usahanya dan iklan butuh industri agar dapat hidup dan berkembang.
Iklan dan promosi roduk tembakau serta pemberian sponsor pada kegiatan olahraga dan kesenian bertujuan untuk menciptakan lingkungan dimana merokok
menjadi hal yang biasa dan dapat diterima. Ini akan mendorong anak – anak dan remaja untuk mencoba merokok. Larangan parsial terhadap iklan produk
tembakau berdampak kecil atau bahkan sama sekali tidak mempunyai dampak apapun, karena industri tembakau akan mencari cara lain untuk mengiklankan, misalnya dengan cara yang lebih halus membayar iklan – iklan dalam film.Semua perusahaan tembakau di Indonesia memberikan sponsor untuk kegiatan olahraga dan kesenian. Iklan tembakau selalu mengaitkan merokok dengan citra
keberhasilan, sukses dan kebahagiaan, sehingga membuat konsumen perokok merasa aman dalam mengkonsumsinya.
1.2. Perumusan Masalah
Konsumsi rokok di Indonesia dipenuhi oleh berbagai jenis produk. Mulai dari rokok klembak kemenyan, klobot, kretek, hingga rokok putih. Masyarakat pedesaan umumnya mengkonsumsi rokok klembek kemenyan sedangkan
mengganggu kesehatan, baik kesehatan orang yang mengkonsumsi (perokok aktif)
maupun orang yang tidak mengkonsumsi (perokok pasif).
Tingkat produksi dan konsumsi rokok di Indonesia termasuk yang sangat besar di dunia. Untuk tingkat konsumsi, Indonesia termasuk dalam urutan kelima. Menurut data dari WHO tahun 2002 (Survey Kesehatan Rumah Tangga Depkessos, dalam Indrajit, 2004), Indonesia setiap tahunnya mengkonsumsi 215 Miliar batang rokok, Cina mengkonsumsi 1.643 Miliar batang, Amerika Serikat
sebanyak 451 Miliar batang, Jepang 328 Miliar batang, dan Rusia 258 Miliar batang. Indonesia memiliki kecenderungan konsumsi rokok yang terus meningkat.
Mengacu data departemen perindustrian dan perdagangan tahun 2005, produksi dan konsumsi rokok memiliki kecenderungan meningkat. Data tersebut dapat dilihat pada Tabel. 1.
Tabel 1. Kinerja Produksi Industri Rokok Nasional Tahun 2000-2005 Jenis
Rokok
Produksi ( Miliar Batang)
2000 2001 2002 2003 2004 2005
Kretek 213,74 198,71 186,3 173,41 194,02 203,0 Non
Kretek 25,76 24,67 27,73 18,93 15,61 17
Total 239,50 223,38 214,03 192,34 209,63 220
Sumber : Departemen Perindustrian Dan Perdagangan Tahun 2005
Perkembangan pasar produk rokok akhir – akhir ini cukup pesat. Tanda –
tanda ini terlihat dari konsumen pemakainya yang semakin meluas dari kalangan dewasa sampai remaja, bahkan segmen pasarnya sudah menjalar ke setiap golongan dan kelompok umur, kalau dahulu mayoritas konsumennya adalah pria
dewasa, tetapi sekarang konsumennya telah meluas melewati batas jender, dan meluas ke kelompok remaja dan wanita. Hal ini terlihat dari banyaknya
bermunculan produk rokok seperti Star Mild, Mild Sampoerna dan rokok rasa Menthol.
Undang-undang yang ada di Indonesia mensyaratkan peringatan kesehatan untuk rokok, tapi tidak pada produk tembakau lainnya. Tidak ada peraturan tentang ukuran minimum tanda peringatan; dan hanya satu pesan saja yang digunakan. Masyarakat begitu terbiasa melihat pesan yang sama di semua merk sehingga pesan itu malah menjadi semacam iklan tembakau. Sebagian besar
tertinggi (73,3%) terdapat pada laki- laki tanpa pendidikan dan yang tidak lulus SD
(www.tobacco.org).
Tanda peringatan kesehatan pada bungkus dan iklan produk tembakau membantu memberikan informasi kepada konsumen mengenai dampak negatif penggunaan tembakau. Efektifitas peringatan kesehatan tergantung pada ukuran pesan, warna dan jenis huruf, serta apakah pesan itu selalu sama atau berganti-ganti.
Menurut dokumen Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Indonesia, beberapa artikel pokok FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) yang
harus diberlakukan di negara anggota adalah pengendalian harga dan pajak termasuk cukai produk tembakau, larangan total iklan, pemberian sponsor, dan promosi produk tembakau sesuai hukum di negara bersangkutan, dan pelabelan
peringatan bahaya merokok yang diisyaratkan minimal 30 persen dari area pajang produk tembakau.
Tembakau mengandung nikotin, suatu zat yang sangat adiktif. Efektifitas peringatan kesehatan tergantung pada ukuran pesan, warna, jenis huruf dan
gambar; serta apakah pesan tersebut selalu sama atau berganti – ganti. Pernyataan yang menyesatkan, termasuk “light” dan “mild”, serta “rendah tar”. Pernyataan tersebut bertujuan untuk menyamarkan bahaya kesehatan yang berkaitan dengan tembakau. Menyebut rokok sebagai “light” dan “rendah tar” adalah suatu teknik pemasaran yang bertujuan untuk meyakinkan perokok bahwa mereka merokok
produk yang kurang berbahaya. Saat ini metoda untuk mengukur kadar tar dan nikotin didasarkan pada standar industri tembakau dan tidak mencerminkan dampak kesehatannya (www.wit online.org.)
Profil pelabelan produk pangan termasuk rokok, terpilih sebagai topik bahasan dalam penelitian ini menunjukkan adanya beberapa pelanggaran terhadap beberapa ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah, baik Keputusan Direktur
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 02240/B/SK/VIII/1991 tentang Pedoman Persyaratan Mutu serta Label dan Periklanan Makanan, maupun
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian pengaruh pelabelan peringatan kesehatan terhadap pola konsumsi rokok, adalah:
1. Mendeskripsikan pola konsumsi dan kesadaran konsumen rokok terhadap pelabelan peringatan kesehatan.
2. Membandingkan karakteristik konsumen yang terpengaruh dan tidak terpengaruh oleh pelabelan peringatan kesehatan.
1.4. Kegunaan Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Rokok
Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tobacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau
tanpa bahan tambahan. Nikotin adalah zat, atau bahan senyawa pirrolidin yang terdapat dalam Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau
sintesisnya yang bersifat adiktif dan dapat mengakibatkan ketergantungan. Tar adalah senyawa polinuklir hidrokarbon aromatika yang bersifat karsinogenik. Pengamanan rokok merupakan setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan dalam
rangka mencegah dan atau menangani dampak penggunaan rokok baik langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan.
Rokok merupakan suatu barang konsumsi yang sudah tidak asing lagi. Rokok telah menjadi konsumsi rutin bagi para perokok, dimana mereka
mengkonsumsi setiap hari. Bagi para perokok, merokok adalah kebiasaan yang sulit ditinggalkan.Pada kenyataannya kebiasaan merokok ini jarang diakui orang sebagai suatu kebiasaan buruk. Rokok telah menjadi bagian dari budaya masyarakat.
Peraturan pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok
Bagi Kesehatan yang telah menetapkan bahwa batas kadar maksimum kandungan nikotin dan tar pada setiap batang rokok yang beredar di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1.5 mg dan kadar kandungan tar 20 mg.
2.2 Label
Secara umum label dapat diartikan sebagai suatu tanda dengan tulisan, gambar, atau dengan cara lain pada suatu kemasan (Yeni Suryani, 2001). Menurut
Lebih lanjut dinyatakan di dalam PP No. 69/1999, bahwa suatu label
berisikan keterangan menge nai pangan yang bersangkutan, sekurang – kurangnya memuat nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat pihak yang memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia. Sementara itu pada lampiran Keputusan Dirjen POM No. 02240/B/SK/VII/1991, dinyatakan bahwa pada label makanan secara umum juga harus terdapat nomor pendaftaran produk. Adapun untuk makanan tertentu, harus
dilakukan pencantuman kode produksi, tanggal kadaluwarsa, petunjuk atau cara penyimpana n, petunjuk atau cara penggunaan, nilai gizi, serta tulisan atau
pernyataan khusus.
Selanjutnya dinyatakan bahwa pada label tidak boleh dicantumkan kalimat, kata – kata, tanda, nama, lambang, gambar dan sebagainya yang
menyesatkan, mengacaukan atau ditafsirkan salah perihal asal, sifat, isi, komposisi, mutu atau kegunaan makanan, baik secara langsung maupun tidak,
atau mengacaukan suatu produk dengan produk lain, sehingga dapat membingungkan pembeli atau konsumen (Yani Suryani, 2001).
Pada label juga tidak boleh dicantumkan referensi, nasihat, peringatan atau pernyataan dari siapapun, yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan, baik secara langsung atau tidak langsung.
2.3. Fungsi Pelabelan
Sebenarnya label dan iklan itu memiliki beberapa fungsi, antara lain: 1. Sebagai sumber informasi. Tentunya, produsen sangat mengharapkan
penjualan produknya meningkat sehingga selalu berusaha memasukkan unsur- unsur yang dapat memikat atau membujuk konsumen untuk membelinya.Iklan dan label tidak boleh hanya menginformasikan hal – hal yang hanya menguntunkan dari sisi produsen saja. Informasi yang benar, jelas, dan jujur harus disampaikan pada konsumen sesuai ketentuan pasal 4 UU No. 8 Tahun
1999 (UUPK).
3. Label dapat digunakan sebagai sarana mengikat transaksi. Dalam penjelasan
UUPK disebutkan bahwa iklan atau label harus bersifat mengikat. Artinya apa yang diinformasikan dalam label dan dijanjikan dalam iklan, harus dapat dibuktikan kebenarannya dan bersedia dituntut apabila ternyata tidak benar. Keterangan tentang label dan fungsinya dapat dilihat pada Lampiran 1.
Standar yang digunakan untuk mengukur kadar tar dan nikotin saat ini adalah berdasarkan standar industri tembakau yang tidak mencerminkan dampak
kesehatan.Saat ini penelitian tar, nikotin dan karbon monoksida pada rokok ditentukan melalui tes mesin (standar ISO) yang dipromosikan oleh industri
tembakau.
Metode untuk menilai tar, nikotin dan karbon monoksida ini tidak meramalkan masukan sebenarnya atau perilaku perokok yang dikaitkan dengan
kadar nikotin dari rokok. Rokok rendah tar mempunyai kadar nikotin yang rendah pula. Namun karena orang merokok adalah untuk mencapai kadar nikotin tertentu
yang dapat memuaskan rasa ketagihannya, maka rokok yang menunjukkan kadar "tar rendah" bahkan akan mengakibatkan isapan lebih dalam dan konsumsi rokok
yang lebih banyak lagi.
2.4. Penelitian Terdahulu
Taruli (2002) melakukan penelitian tentang Analisis Peluang Ekspor Agribisnis Cengkeh Indonesia dengan menggunakan metode Timeseries, informasi yang diperoleh dari penelitiannya bahwa perkembangan volume dan nilai ekspor cengkeh Indonesia secara keseluruhan meningkat. Rata –rata pada
periode 1981 – 1990 adalah 32,72% dan 1991 – 2000 adalah 79,02%. Dilihat dari pasar cengkeh domestik, pasar cengkeh internasional, sumberdaya Indonesia dan perkembangan produk, ekspor cengkeh Indonesia mempunyai peluang yang cukup baik.
Penelitian lainnya dilakukan oleh Rigowo (1998) tentang Evaluasi
tembakau daun basah; sedangkan pada saat kemitraan berasal dari penjualan
tembakau krosok dau kering yang merupakan hasil pengolahan pasca panen tembakau daun basah. Dengan asumsi bahwa petani mitra tetap menjual daun basah pada saat kemitraan, maka penerimaan petani mitra saat kemitraan meningkat sebesar 71,25% dari sebelum kemitraan.
Penelitian yang dilakukan oleh Wachizin (2006) Mengenai Preferensi Konsumen Rokok Kretek dan Rokok non Kretek di Kota Bogor. Hasil penelitian
menjelaskan bahwa berdasarkan analisis terhadap pola konsumsi rokok, sebagian besar sampel konsumen kretek mengkonsumsi rokok untuk mengusir kejenuhan,
memiliki anggaran untuk membeli rokok antara Rp. 5001 – Rp. 10000/ Hari mengkonsumsi rokok 11 – 20 batang/hari sangat bergantung pada rokok (96,7 %). Sementara itu sebagian besar sampel konsumen non kretek mengkonsumsi rokok
agar pikiran segar, menganggarkan dana Rp. 5001 – Rp. 10000/hari, mengkonsumsi 11-20 batang/hari sangat bergantung pada rokok (91,7%).
Adapun alat analisis yang digunakan pada penelitian yang dilakukan oleh Wachidin (2006) adalah dengan uji analisis Chi Square, hasilnya menunjukkan bahwa, baik pada sampel konsumen kretek maupun sampel konsumen non kretek, variabel umur, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan dan variabel jumlah anggota keluarga tidak berpengaruh terhadap preferensi, hanya variabel pendidikan yang berpengaruh negatif terhadap preferensi, baik pada sampel konsumen kretek, maupun pada sampel konsumen non kretek.
Pada penelitian ini akan dibahas pelabelan terhadap rokok, yang membedakan dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh M. Indrajit Roy (2005) yang meneliti tentang Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Rokok Kretek di Indonesia, tetapi tidak dibahas tentang pelabelannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Tribella Kembaren (2004), mengenai Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Pola Makan Mahasiswa memperoleh
faktor – faktor yang telah dianalisis dan memiliki hubungan yang signifikan yaitu jenis kelamin responden, asal suku bangsa, agama dan sosialisasi keluarga. Uji
BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN
Indonesia berada dalam urutan tertinggi kelima di antara negara-negara di dunia dengan konsumsi rokok sebanyak 182 miliar batang pada tahun 2002. Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan, Achmad Sujudi, dalam sambutan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Senin (31/5), di Gedung
Departemen Kesehatan, Jakarta(www.periklanan.co.id). Pada tahun 2004, nilai impor rokok nasional mencapai US$.998.907 atau meningkat sebesar 467 persen
dari nilai impor rokok pada tahun 2003 sebesar US$.176.699 (Biro Pusat Statistika, 2004).
3.1. Pengaruh Iklan Rokok di Televisi Terhadap Konsumen
Iklan semula diciptakan untuk merangsang pembelian atau konsumsi misal
akibat produksi yang dilakukan secara massal. Produksi masal tersebut dilakukan
untuk menghemat biaya satuan produksi, sehingga iklan memiliki fungsi
menginformasikan produk – produk yang diproduksi secara massal kepada
masyarakat (Dianasari 2005).
Fungsi iklan kemudian lambat laun berubah. Sebuah iklan, menurut White
(1981) dalam Dianasari 2005, tidak hanya menjual, tetapi juga menginformasikan,
membujuk, mengingatkan, mempengaruhi, merubah pendapat, serta mungkin
dapat merubah sikap dan perasaan. Iklan tidak hanya sekedar menjual barang
namun menginformasikan, membujuk, menawarkan status, membangun citra dan
bahkan menjual mimpi, iklan juga merekayasa kebutuhan dan menciptakan
ketergantungan psikologis.
Pilihan media dalam mengiklankan produk bagi pemasar juga kemudian
menjadi hal penting. Televisi dijadikan sebagai media utama pengiklan dalam
mengiklankan produknya karena keunggulan-keunggulan televisi yang
membedakannya dengan media komunikasi lainnya. Menurut Jeffers (1997),
manusia biasanya memerlukan lebih dari satu indera untuk mengerti sesuatu.
Televisi adalah media yang membua t orang menggunakan dua inderanya, yaitu
Apalagi saat ini, pertelevisian di Indonesia sudah menerima kembali
kehadiran tayangan iklan di layar kaca, termasuk stasiun televisi milik
pemerintah, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Saat ini dunia pertelevisian
Indonesia diwarnai oleh 11 stasiun televisi swasta yang berlingkup nasional, yaitu
RCTI, SCTV, TPI, ANTEVE, Indosiar Visual Mandiri (IVM), Trans TV, Metro
TV, Global TV, TV 7, Lativi, serta satu stasiun TV milik pemerintah, TVRI yang
sejak tahun 1999 terbuka kembali untuk iklan komersial setelah sejak 1981
meniadakan iklan pada program siarannya.
Mengamati ratusan iklan yang menjajali televisi setiap hari, Iklan rokok
tampil sebagai anomali. Jika iklan lain tampil dengan begitu vulgar, pesan yang sampai begitu jelas dan segar, iklan rokok justru tersembunyi, pesan lebih sebagai penyiasatan. Ini memang ada kaitannya dengan peraturan pemerintah agar
pengiklan tak menampilkan rokok dalam bentuk aslinya dan jam tayang hanya boleh diatas jam 9 malam. Akibatnya pesan datang dengan cara yang melingkar,
memainkan kekuatan gambar dan imaji. Tak heran dalam iklan rokok, kreativitas mendapat ujian yang tinggi (www.periklanan.go.id).
Akar kreativitas iklan rokok sepertinya harus merujuk pada iklan Marlboro. Marlboro menampilkan iklan rokok yang konsisten mengiklankan dirinya dengan figur alam savana lengkap dengan koboi dan kudanya. Liar alam, ruap kopi, pagi merah wortel, ringkik kuda, dan lemparan laso menjadi bagian dari serial iklan ini: suasana ketika hening mencapai bening. Kemudian hari,
keliaran ala mini menjadi unsur vital, ketika imaji petualangan makin dijual Marlboro: Gairah bertualang di gersang Padang, dingin es di Amerika Utara.
Barangkali tak ada iklan rokok yang lebih menyita perhatian penonton selain kelucuan Gang Hijau yang mengiklankan Sampoerna Hijau. Iklan mereka versi memancing, memukul bedug, minta Krisdayanti, kijang mogok, banjir sampai yang terakhir nasi goreng sangat menghibur. Meskipun yang terakhir
mulai nampak tingkat penurunan kelucuan. Gang hijau yang dikontrak secara eksklusif pun mengakui dalam beberapa roadshow mereka bahwa iklan “minta
Puluhan iklan rokok lain pun menempuh cara yang sama. Tidak lagi orang
yang menyedot rokok dan menghembuskan asapnya kuat – kuat, dengan mimik merasakan kenikmatan sempurna, seperti yang ditempuh iklan Dji Sam Soe tempo Doeloe, kini rokok 234 pun memakai kebersamaan, petualangan, dan pemandangan bromo dalam promosinya.
Citra iklan dimata Heiddeger sebagaimana tertulis dalam artikel “The Age of The World Pic ture” kini telah mengubah diri menjadi cermin bagi manusia
untuk berkaca dan untuk mencari eksistensi diri. Kini seakan – akan televisi melalui iklan misalnya, telah mengambil alih fungsi penglihatan kita, dan
membentuk realitas dengan bahasanya sendiri. Iklan mengikat manusia, dan secara total akhirnya membuat manusia harus mengidentifikasikan dirinya dengan citraan.
Dalam konteks yang demikianlah iklan rokok dapat lebih mudah “dibaca”. Iklan bekerja lebih mengikuti logika. Susan Sontag dalam buku “On Photografi”
melalui kekuatan gambar, yang membuat pengamat bebas mendekatinya melalui berbagai sudut tanpa harus ada pretense mencari makna. Iklan bukan lagi sekedar
teks atau komentar terhadap produk, tapi menifestasi dari ide besar terhadap produk itu. Yang kemudian menjadi porsi terbesar dari iklan jenis ini adalah kekuatan yang dampaknya pada penonton. Dampak inilah, yang bukan makna tapi visualisasi yang bekerja didalam memori, yang menghubungkan keputusan petanda – petanda tadi (www. Periklanan. Go. Id).
3.2. Pelabelan terhadap Produk Rokok
Penjual harus memberikan label pada produknya. Label bisa hanya berupa tempelan sederhana pada produk atau gambar yang dirancang dengan rumit yang merupakan satu kesatuan dengan kemasan. Label bisa hanya mencantumkan merek atau bisa pula banyak informasi, bahkan jika penjual memilih label yang sederhana saja, peraturan hukum mungkin mengharuskan adanya informasi
tambahan (Kotler, 1997).
Perkembangan produk yang pesat menyebabkan fungsi label menjadi
semakin penting, mengingat label merupakan sumber informasi bagi konsumen tentang suatu produk pangan dan obat – obatan, karena konsumen tidak bisa bertemu langsung dengan produsennya (Permono, 2000). Peranan label sangat mutlak sebelum pembelian (pra-transaksi). Label memberikan informasi kepada calon konsumen mengenai produk tersebut yaitu nama, mutu dan karakteristiknya, asalnya, kegunaan dan kelemahannya serta status hukum produk untuk membantu
calon konsumen mengambil keputusan dalam pemilihan dan pembelian produk. Karena untuk kepentingan pengambilan keputusan, informasi pada label harus
menceritakan kondisi produk dengan sebenar – benarnya, jujur, tidak bias kepentingan dan berimbang antara keunggulan dan kelemahan produk serta penyampaian informasi yang jelas dan sederhana dalam bahasa setempat yang
paling mudah dimengerti.
Label yang ada pada kemasan memang cukup membantu. Tetapi
informasi pada label tidak selalu dapat dimanfaatkan secara optimal oleh konsumen. Hal tersebut bisa terjadi karena kurang jelasnya informasi pada label
atau kurangnya pengetahuan konsumen untuk dapat memahami informasi pada label. Oleh karena itu konsumen memerlukan pendidikan dan informasi.
Dalam rangka mencapai efektivitas pelabelan, serta untuk mengendalikan kualitas informasi pada label, pemerintah menetapkan suatu kebijakan yang mengatur pelabelan pangan. Yani Suryani, 2001, menjelaskan bahwa peraturan
pelabelan akan berfungsi untuk:
1. Membantu konsumen secara langsung saat membeli. Peraturan pelabelan yang baik akan memberikan informasi yang mendasar mengenai produk dan meningkatkan jumlah informasi ya ng dapat diakses konsumen dalam membuat keputusan.
2. Membantu konsumen dalam mengingat dan konsisten terhadap produk
tertentu. Pelabelan juga akan menentukan parameter dan evaluasi periklanan.
yakin bahwa produk pangan yang beredar di pasar adalah produk pangan
yang berkualitas.
4. Salah satu media pendidikan konsumen.
Ruangan yang terbatas untuk pelabelan pada produk tembakau dapat digunakan untuk dua kepentingan yang saling bertolak belakang, yaitu : peringatan kesehatan dan informasi bagi konsumen dan promosi merek.
Tanpa adanya peraturan pemerintah mengenai ukuran dan jenis peringatan
kesehatan, industri tembakau akan cenderung membuat peringatan kecil dengan maksud menyediakan ruang lebih.
Ada beberapa hal supaya agar tanda peringatan di rokok lebih efektif berdasarkan
penjelasan dari WHO, dikutip dari www.periklanan.go.id.
1. Ukuran cukup besar
FCTC mensyaratkan agar sedikitnya 30 % (atau idealnya 50 %) dari
permukaan kemasan produk digunakan untuk tanda peringatan kesehatan.
2. Mudah Dibaca
Warna hitam dan putih sangat kontras dan mudah dibaca. Beberapa
Negara mensyaratkan jenis huruf dan ukuran peringatan kesehatan secara khusus.
3. Jelas kata – katanya
Kebanyakan perokok meremehkan resiko kesehatan yang berkaitan
dengan merokok. Pesan harus sederhana dan tegas.
4. Rotasi pesan
Pesan kesehatan harus diganti – ganti. Masyarakat menjadi terbiasa dengan pesan
yang tiap kali sama, sehingga pesan kehilangan dampaknya.
5. Disertai Gambar
Gambar lebih efektif daripada kata-kata khususnya untuk perokok dengan tingkat pendidikan rendah. PP 19/2003 melarang pencantuman label yang memberikan gambaran menyesatkan atau pernyataan yang menyamarkan dampak
negatif kesehatan. Ini mencakup kata, grafik atau gambar yang menciptakan kesan palsu atau salah, atau menyamarkan bahaya kesehatan yang berkaitan dengan
3.3. Kerangka Pemikiran Operasional
Rokok merupakan tantangan kesehatan yag berbeda dari yang lain. Kematian adalah salah satu akibat yang ditimbulkan oleh bahaya merokok. Produsen – produsen rokok memproduksi bermacam – macam jenis rokok untuk dipasarkan. Hak untuk diberitahukan kepada konsumen, termasuk juga mengelakkan penipuan dan melindungi pengguna dari iklan – iklan yang menyeleweng, pelabelan yang mengelirukan yang tidak beretika.
Pelabelan menjadi begitu penting dan berharga bagi pengguna dan kembali lagi pada bagaimana pengguna menggunakannya dan bagaimana tanggapan
pengguna terhadap pelabelan tersebut. Oleh karena itu dilakukanlah analisis mengenai karakteristik konsumen yang terpengaruh dan tidak terpengaruh oleh pelabelan kesehatan dengan menggunakan Uji Korelasi Spearman.
Analisis mengenai kesadaran dan pola konsumsi rokok konsumen perokok terhadap pelabelan kesehatan diukur dengan mengunakan analisis deskriptif,
Skema kerangka pemikiran operasional dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Operasional
Bahaya Merokok
Pelabelan
Peubah-peubah yang digunakan dalam model:
1. Pendapatan 2.Pendidikan
3. Pekerjaan 4. Usia 5. Jenis Kelamin Kesadaran
konsumen rokok terhadap pelabelan
Analisis Krakteristik
konsumen rokok
Uji Korelasi Spearman Analisis
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di wilayah Perumnas Bantarjati Bogor dan lingkungan kampus Institut Pertanian Bogor. Pemilihan lokasi di Kecamatan Bogor Tengah dilakukan secara sengaja (purposive), mengingat letaknya yang strategis dan penduduknya yang berkembang pesat dengan kelompok masyarakat dari kelas bawah, menengah sampai kelas atas.
4.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil pengamatan langsung di lapangan dan wawancara langsung dengan responden yang dipilih secara sengaja dengan memberikan kuisioner
kepada responden. Kuisioner berisi pertanyaan tertutup dan terbuka. Pertanyaan tertutup merupakan pertanyaan yang alternatif jawabannya telah disediakan,
sehingga responden hanya memilih salah satu alternatif jawaban yang paling sesuai. Sedangkan pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memberikan kebebasan bagi responden untuk menjawab. Kuisioner penelitian dapat dilihat
pada lampiran 10. Data sekunder sebagai data pelengkap diperoleh dari kelurahan Bantarjati, BPS, dan Lembaga Sumberdaya Informasi IPB Bogor.
4.3. Cara Pengambilan dan Pengumpulan Data
Pengambilan contoh dilaksanakan secara convenience sampling (sampling kemudahan) berdasarkan ketersediaan elemen dan kemudahan untuk mendapatkannya. Dengan kata lain, contoh diambil/terpilih karena berada pada
tempat dan waktu yang tepat. Sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini berjumlah 60 orang yang merupakan konsumen perokok. Pengambilan contoh
dilakukan dengan mendatangi rumah – rumah yang berada di komplek perumahan Bantar jati Bogor, mahasiswa ekstensi IPB, pelajar SMU N 7 dan karyawan
kerangka sampling (sampling frame) untuk kons umen perokok di Kota Bogor dan sampel merupakan mereka yang dikategorikan konsumen perokok saat penelitian berlangsung.
4.4. Metode Analisis Data
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif, baik analisis kuantitatif maupun analisis kualitatif, serta analisis Korelasi Spearman . Beberapa alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini dipaparkan sebagai berikut:
4.4.1. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk memperoleh gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta – fakta, sifat – sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Untuk membantu memaparkan hasil ini maka informasi yang digunakan adalah data – data dan informasi yang relevan dengan
tujuan penelitian.
Analisis mengenai kesadaran dan pola konsumsi konsumen perokok akan pelabelan, diukur dengan mengunakan analisis deskriptif, baik kualitatif maupun kuantitatif disajikan dengan cara mentabulasi silang data yang diperoleh dari dari kuisioner dan dari penelitian langsung terhadap label dari kemasan pembungkus rokok serta informasi dari Undang – Undang, Peraturan Pemerintah dan Peraturan
Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan.
4.4.2. Uji Korelasi Spearman
Korelasi spearman merupakan alat analisis statistika yang digunakan untuk mencari hubungan 2 variabel berupa data ordinal. Data ordinal adalah data yang bisa dikelompokan dan diurutkan contoh tingkat pendidikan.
Nilai korelasi berada diantara -1 sampai 1. tanda positif negative
menyatakan hubungan kedua variable seperti apa. Jika positif berarti hubungan kedua variable tersebut berbanding lurus sedangkan negative menyatakan
Seberapa besar hubungan kedua variable tersebut dilihat secara subjektif.
Tapi biasanya banyak orang mengatakan bahwa jika nilai korelasi diatas 0.5 maka kedua variable tersebut mempunyai hubungan yang kuat.
Rumus Korelasi Spearman yaang digunakan yaitu:
(
1)
6
1 2
2
− −
=
∑
n n
d
rs
Dimana: rs = Nilai Korelasi Spearman Rank
d2 = Selisih setiap pasangan rank
n = Jumlah pasangan rank untuk Spearman (5<n<30) Hipotesis (secara umum):
H0: X dan Y saling bebas (tidak terdapat korelasi antara peubah X dan peubah Y)
H1: X dan Y tidak saling bebas (terdapat hubungan langsung atau berkebalikan
(korelasi) antara peubah X dan Y)
Keputusan:
1. nilai-p (sig.(2-tailed)) < alpha artinya tolak Ho yang menyatakan bahwa
kedua variable tersebut mempunyai hubungan
2. nilai-p (sig.(2-tailed)) > alpha artinya terima Ho yang menyatakan bahwa kedua variable tersebut tidak mempunyai hub ungan.
BAB V
GAMBARAN UMUM RESPONDEN DAN KESADARAN
KONSUMEN PEROKOK TERHADAP PELABELAN KESEHATAN
5.1. Karakteristik Responden
Sesuai dengan pembagian konsumen menjadi enam kategori kelas sosial dari hasil penelitian dilapangan. Pada penelitian ini yang menjadi responden
mayoritas adalah pegawai swasta.
5.1.1. Usia
Secara umum rata-rata usia responden adalah 37, 83 tahun, secara keseluruhan responden memiliki usia kurang dari 40 tahun sebesar 60 % dan sisanya 40 % yang berumur lebih dari 40 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pada
usia tersebut tingkat kebutuhan akan kesehatan semakin meningkat, sehingga menyurutkan niat konsumen untuk mengkonsumsi rokok lebih tinggi karena
semakin sadar akan resiko dan bahayanya terhadap kesehatan. Sebaran responden menurut usia dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Sebaran Responden Menurut Usia
Usia N %(Persentase)
< 40 Tahun 36 60,00
> 40 Tahun 24 40,00
Jumlah 60 100,00
5.1.2.Jenis Kelamin
Jumlah responden perokok berdasarkan jenis kelamin ternyata responden laki- laki lebih dominan sebesar 78, 34 % sedangkan untuk jenis kelamin
Tabe l 3. Sebaran Responden Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin N %(Persentase)
Laki- laki 47 78,34
Perempuan 13 21,66
Jumlah 60 100,00
5.1.3. Tingkat Pendidikan
Jumlah responden untuk tingkat pendidikan sangat bervariasi dari tamat
sekolah dasar sampai dengan pasca sarjana. Persentase tigkat pendidikan terbesar responden adalah Diploma sebanyak 30 %, sedangkan untuk responden yang
paling kecil yaitu pasca sarjana sebanyak 1,66 %. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin tinggi pengetahuan yang diperolehnya mengenai
dampak dan bahaya merokok terhadap kesehatan Sebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Sebaran Responden Menurut Pendidikan
Tingkat Pendidikan N %(Persentase)
SD 6 10,00
Bekerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara teratur dan
berkesinambungan dalam jangka waktu tertentu dengan tujuan yang jelas yaitu untuk menghasilkan atau mendapatkan sesuatu dalam bentuk uang, benda, jasa maupun ide. Secara umum jenis pekerjaan akan membedakan tingkat pendapatan.
Konsumsi rokok akan dibatasi oleh pendapatan dan harga rokok.
Jenis pekerjaan responden akan membedakan tingkat pendapatan, karena
konsumsi rokok akan tergantung kepada pendapatan. Dengan beragamnya pekerjaan dan tingkat pendapatan akan diketahui bagaimana pola konsumsi rokok
Besarnya proporsi responden yang bekerja untuk semua kelas sosial, baik itu
wiraswasta, pegawai swasta maupun pegawai negeri, merupakan salah satu upaya untuk menambah pendapatan keluarga. Sebaran responden menurut pekerjaan dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Sebaran Responden Menurut Pekerjaan
Pekerjaan N %(Persentase)
Responden sebagian besar memiliki pendapatan keluarga di bawah satu
juta lima ratus rupiah perbulan. Tingkat pendapatan suatu keluarga tergantung pada kemampuan setiap anggota keluarga dalam memanfaatkan kesempatan kerja dan menggunakan sumber-sumber yang mendatangkan hasil. Pendapatan yang
meningkat akan mempengaruhi individu untuk mengkonsumsi rokok. Sebaran responden menurut pendapatan disajikan pada tabel 6.
Tabel 6. Sebaran Responden Menurut Pendapatan
Jumlah Pendapatan N %(Persentase)
< 1.500.000 26 43,34
1.500.000 – 2.500.000 12 20,00
> 2.500.000 22 36,67
Jumlah 60 100,00
Tingkat pendapatan rumah tangga tergantung pada kemampuan anggota keluarga untuk memperoleh kesempatan kerja dan penghasilan cukup sesuai kemampuan produktivitas. Pendapatan berpengaruh terhadap pola konsumsi rokok. Pendapatan berpengaruh pula terhadap jenis/merek rokok yang dikonsumsi, karena responden yang memiliki pendapatan > Rp. 1.500.000,- lebih
5.2. Pengeluaran Dalam Konsumsi Rokok
Persentase jumlah pengeluaran dalam konsumsi rokok terbesar untuk responden antara seratus ribu rupiah hingga lima ratus ribu rupiah yaitu 85 % sedangkan untuk prosentase terendah yaitu diatas lima ratus ribu rupiah. Sebaran responden menurut pengeluaran ditampilkan pada tabel 7.
Tabel 7. Sebaran Responden Menurut Pengeluaran
Jumlah Pengeluaran N %(Persentase)
< 100.000 5 8,33
100.000 – 500.000 51 85,00
> 500.000 4 6,67
Jumlah 60 100,00
Pengeluaran dalam konsusmsi rokok dipengaruhi oleh faktor pendapatan. Dari data responden diperoleh hasil bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan
responden, semakin tinggi pula tingkat konsumsi rokok terutama untuk kategori pegawai swasta dengan jenis kelamin laki – laki, konsumsi rata – rata perbulan untuk rokok > Rp. 350.000,-. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan responden untuk kategori pegawai negeri, wiraswasta, buruh dan ibu rumah tangga.
5.3. Pengetahuan Produk Rokok Yang Dikonsumsi
Pengetahuan produk rokok yang dikonsumsi oleh responden adalah dari orang lain yaitu sebanyak 43,30%, spanduk/ umbul- umbul 21,65 %, dan radio 9,28%. Sebaran responden menurut pengetahuan produk rokok yang dikonsumsi dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Sebaran Menurut Pengetahuan Produk Rokok Yang Dikonsumsi
Uraian N Persentase (%)
Radio 9 9,28
Promosi dalam toko 8 8,25
Poster 8 8,25
Dari orang lain 42 43,30
Spanduk/umbul- umbul 21 21,65
Surat khabar 3 3,09
Tidak disengaja 1 1,03
Iklan TV 5 5,15
Dari hasil yang diperoleh, rata – rata responden yang memilih rokok
kretek adalah laki – laki diantaranya merek Gudang Garam filter, Djarum Super, Capri Djarum Coklat dan Marlboro. Sedangkan rokok jenis non kretek lebih banyak dikonsumsi wanita diantaranya merek Sampoerna, A Mild dan Star Mild. Sebaran responden menurut jenis rokok yang dikonsumsi dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Jenis Rokok Yang Dikonsumsi
Uraian N % (Persentase)
Kretek 33 55
Non Kretek 27 45
Jumlah 97 100
Tabel 10. Frekuensi Dalam Konsumsi Rokok
Uraian N % (Persentase)
Menambah 36 60
Mengurangi 24 40
Jumlah 60 100
Pada tabel 10 menunjukan bahwa frekuensi pembelian rokok setiap hari
paling banyak 1 bungkus sebanyak 36 orang (60%) responden dan untuk kurang dari 1 bungkus sebanyak 13 orang (21,67%) responden. Sebaran responden pembelian rokok dalam setiap hari dan tidak akan label peringatan kesehatan rokok sangat penting dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Jumlah Konsumsi Rokok
Uraian N % (Persentase)
Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar responden akan menambah jumlah konsumsi rokok sebanyak 36 orang (60%) menyatakan akan menambah jumlah konsumsi rokok sedangkan responden yang mengurangi
jumlah konsumsi rokok sebanyak 24 orang ( 40%) responden.
Tabel 12. Anggaran Dalam Pembelian Rokok Perhari
Uraian N % (Persentase)
> 8.000 13 21,67
8.000 -10.000 35 58,33
<10.000 12 20,00
Jumlah 60 100
Pada tabel diatas digambarkan bahwa sebagian besar responden
BAB VI
KARAKTERISTIK KONSUMEN PEROKOK YANG
TERPENGARUH DAN TIDAK TERPENGARUH OLEH
PELABELAN PERINGATAN KESEHATAN TERHADAP
POLA KONSUMSI ROKOK
Pola konsumsi rokok tidak lepas dari beberapa faktor antara lain besarnya
pengeluaran yang dilakukan oleh seseorang dalam konsumsi rokok dipengaruhi oleh selera dan tingkat kebutuhan. Selain itu tingkat konsumsi rokok juga
dipengaruhi oleh anggaran dalam pembelian rokok.
6.1. Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan Terhadap Pola Konsumsi
Rokok.
Adanya label peringatan kesehatan saat ini banyak terlihat pada setiap
kemasan rokok tetapi dikarenakan rokok itu memang sudah merupakan kebutuhan pokok tetapi konsumsi rokok masih sangat tinggi ini dapat dilihat dari responden
setuju dan tidaknya adanya label peringatan kesehatan terhadap rokok yaitu 78,33 % sedangkan 21, 67 % tidak setuju akan adanya label kesehatan terhadap rokok. Sebaran responden setuju dan tidak akan adanya label peringatan kesehatan dapat dilihat pada tabel diawah ini.
Tabel 13. Respon Terhadap Adanya Label Peringatan Kesehatan Terhadap Rokok.
Uraian N % (Persentase)
Setuju 47 78,33
Tidak setuju 13 21,67
Jumlah 60 100
Berdasarkan tabel 14 menunjukan data tentang pendapat responden mengenai apakah perusahaan sudah tepat dalam melakukan pelabelan terhadap rokok. Pada umumnya mengatakan tidak sebanyak 36 orang ( 60%) responden
sedangkan yang menyebutkan sudah tepat sebanyak 24 orang (40%) responden . Hal ini menunjukan bahwa perusahaan tidak tepat dalam melakukan pelabelan
Tabel 14. Penilaian Responden Terhadap Perusahaan Dalam Melakukan Pelabelan Terhadap Rokok.
Uraian N % (Persentase)
Ya 24 40
Tidak 36 60
Jumlah 60 100
Pada tabel dibawah ini sebagian besar responden sebanyak 40 orang ( 66,67%) responden menyatakan tidak penting terhadap pelabelan peringataan
kesehatan. Sedangkan responden sebanyak 20 orang (33,34%) menyatakan ya terhadap label peringatan kesehatan terhadap rokok sangat penting. Sebaran responden ya dan tidak akan kepentingan label peringatan kesehatan dapat dilihat pada tabel 15.
Tabel 15. Tingkat Kepentingan Label Peringatan Kesehatan Terhadap Rokok
Uraian N % (Persentase)
Ya 20 33,34
Tidak 40 66,67
Jumlah 60 100
6.2.Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Terhadap Pengaruh
Pelabelan Peringatan Kesehatan
Umur sangat menentukan kematangan seseorang didalam mengambil sebuah keputusan. Umur dianggap sebagai salah satu faktor yang akan mempengaruhi pelabelan peringatan kesehatan.
Tabel 16. Karakteristik Responden Berdasarkan UmurTerhadapPengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Umur Pengaruh Label Peringatan Kesehatan Total
Terpengaruh Tidak Terpengaruh Jumlah %(Persentase)
Jumlah %(Persentase) Jumlah %(Persentase)
< 40
6.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis KelaminTerhadap
Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Jenis kelamin kurang mempengaruhi dalam pengaruh peringatan kesehatan baik laki- laki maupun perempuan ini dapat dilihat dalam tabel 17. Dari data
dibawah ini dapat disimpulkan bahwa untuk jenis kelamin laki – laki yang terpengaruh adanya pelabelan sebanyak 19 orang sedangkan 28 orang tidak terpengaruh adanya pelabelan. Sedangkan untuk responden perempuan, dari total 13 orang yang terpengaruh berjumlah 1 orang sedangkan 12 orang tidak terpengaruh. Hal ini menunjukkan dari data kuisioner responden wanita lebih dominan terpengaruh. Hal ini dikarenakan responden yang diambil data lebih
cenderung menikmati rokok sebagai gaya hidup dan memberikan cita rasa yang khas serta sebaga i penghilang stres. Dari kecenderungan responden wanita yang
diwawancarai terutama ibu rumah tangga dan wanita karir dari rata – rata jumlah responden yang tidak terpengaruh sebanyak 21.7 % menikmati rokok sebagai media untuk melupakan segala masalah dan mengusir kejenuhan. Pada umumnya
responden wanita lebih cenderung mengkonsumsi rokok putih seperti A Mild Sampoerna Mild dan Marlboro. Sedangkan untuk responden laki – laki lebih
cenderung mengkonsumsi rokok sebagai media untuk bersosialisasi, sebagai gaya hidup, dan sebagai teman disaat beraktivitas.
Tabel 17. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Terhadap
6.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis PekerjaanTerhadap
Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Pekerjaan responden sangat mempengaruhi dalam konsumsi rokok tetapi untuk pelabelan peringatan untuk kesehatan tidak terpengaruh dimana secara umum jenis pekerjaan akan membedakan tingkat pendapatan. Konsumsi rokok akan dibatasi oleh pendapatan dan harga rokok.
Tabel 18. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis PekerjaanTerhadap
Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Pekerjaan Terpengaruh Persentase(%) Tidak
Terpengaruh
Dari hasil analisis data diatas dapat diambil kesimpulan kecenderungan responden yang diwawancarai tidak terpengaruh adanya pelabelan, seperti halnya variabel jenis kelamin dan pendidikan. Dari tingkat pelajar/mahasiswa, PNS, Swasta dan wiraswasta pola konsumsi rokok tidak dipengaruhi adanya pelabelan. Demikian juga ditingkat buruh dan ibu rumah tangga yang didominasi oleh
responden yang tidak terpengaruh. Hal ini terlihat dari hasil jumlah hasil tabulasi dimana responden pelajar berjumlah 3 orang yang terpengaruh, sedangkan PNS
dan swasta responden yang terpengaruh berjumlah 4 orang PNS dan 12 orang swasta sedangkan yang tidak terpengaruh untuk PNS 11 orang dan swasta 14
orang.
Data diatas menunjukkan bahwa responden pensiunan yang memiliki jumlah untuk yang terpengaruh pelabelan lebih besar, hal ini dikarenakan pada
umumnya responden pensiunan berumur < 60 tahun sehingga faktor umur dan penyakit/dampak yang ditimbulkan berpengaruh terhadap kesehatan maka dari
6.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat PendidikanTerhadap
Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Tingkat pendidikan sangat bervariasi dari SD hingga sarjana. Bervariasinya tingkat pendidikan mulai dari lulusan SD sampai dengan pasca sarjana, menunjukkan semakin bervariasi pula pola konsumsi rokok. Semakin tinggi tingkat pendidikan responden seharusnya semakin tinggi pula pengetahuan akan bahaya yang ditimbulkan dari merokok. Jumlah responden yang tidak
terpengaruh oleh adanya pelabelan peringatan kesehatan rokok adalah pada responden yang memiliki tingkat pendidikan SMU. Hal ini dikarenakan responden
pada tingkat pendidikan tersebut belum cukup pengetahuan mengenai bahaya – bahaya yang ditimbulkan dari merokok.
Dari hasil pengolahan data diatas untuk variabel pendidikan dapat
disimpulkan bahwa responden yang berpendidikan SD didominasi oleh yang tidak terpengaruh sebanyak 5 orang, demikian juga untuk responden yang
berpendidikan SMP didominasi oleh responden yang tidak terpengaruh terhadap adanya pelabelan.
Responden dengan tingkat pendidikan Diploma menunjukkan perbandingan yang sama yaitu sebanyak 7 orang baik yang terpengaruh maupun yang tidak terpengaruh terhadap adanya pelabelan. Responden dengan tingkat pendidikan SMU dan Sarjana memiliki kecenderungan yang sama yaitu lebih didominasi oleh responden yang tidak terpengaruh adanya pelabelan, untuk SMU
Tabel 19. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan TerhadapPengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Pendidikan Terpengaruh Persentase(%) Tidak
Terpengaruh
Persentase(%)
SD 1 1.7 5 8.3
SMP 1 1.7 5 8.3
SMU 9 15.0 18 30
DIPLOMA 7 11.7 7 11.6
SARJANA 0 0.00 1 1.7
Jumlah 20 30.1 40 59.9
6.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan Terhadap
Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Responden sebagian besar memiliki pendapatan antara 1 juta hingga 2,5 juta baik yang terpengaruh maupun yang tidak terpengaruh terhadap pelabelan kesehatan dalam mengkonsumsi rokok. Persentase terbesar untuk yang tidak terpengaruh yaitu di bawah satu juta (38.3%) sedangkan untuk terpengaruh dengan penghasilan >1 juta sebesar 15% atau 9 orang.
Tingkat pendapatan responden dalam mengkonsumsi rokok tergantung pada setiap responden apakah untuk kebutuhan atau hanya sekedar prestise.
Tabel 20. Karakteristik Responden Berdasarkan PendapatanTerhadap
Pengaruh Pelabelan Peringatan Kesehatan
Pendapatan Pengaruh Label Peringatan Kesehatan
Terpengaruh Tidak Terpengaruh
Jumlah %(persentase) Jumlah %(persentase)
>1 Juta 9 15 23 38,3
1 Juta – 2, 5 juta 3 3 13 21,6
< 2,5 juta 5 8,3 7 11,6
6.7. Hubungan Antara Variabel Terpengaruh Dan Tidak Terpengaruh
Terhadap Pelabelan Peringatan Kesehatan Dengan Uji Korelasi
Spearman
Tabel 21. Hubungan Antara Variabel Terpengaruh Dan Tidak Terpengaruh Terhadap Pelabelan Peringatan Kesehatan Dengan Uji Korelasi Spearman
Variabel rs (Korelasi Spearman) N P- Value
Jenis Kelamin 0.276 60 0.033
Usia 0.493 60 0.000
Pendidikan 0.108 60 0.412
Pekerjaan -0.079 60 0.548
Pendapatan -0.092 60 0.486
6.7.1. Hubungan Antara Variabel Jenis Kelamin Yang Terpengaruh Dan
Tidak Terpengaruh Terhadap Pelabelan Peringatan Kesehatan
Pengaruh variabel jenis kelamin terhadap pelabelan peringatan kesehatan
rokok menggunakan uji hubungan. Hasil analisis menunjukkan nilai P-Value adalah 0.033 yang nilainya lebih besar dari 0.5 (a = 5%). Artinya terdapat hubungan antara peubah jenis kelamin dengan pengaruh pelabelan pada taraf nyata 5% yang terlihat dari nilai p- value yang kurang dari alpha. Hubungan antara peubah tersebut ialah berbanding lurus yang terlihat dari tanda korelasi spearman
yang positif.
Responden pria lebih cenderung terpengaruh terhadap pelabelan
dibandingkan dengan wanita. Pendugaan penelitian ini sebelumnya mengenai responden perokok laki – laki lebih cenderung tidak terpengaruh oleh pelabelan
peringatan kesehatan. Sedangkan responden perokok perempuan sebaliknya. Tetapi berdasarkan data yang diperoleh responden pria lebih cenderung terpengaruh. Hal ini dikarenakan pada saat dilakukan penelitian beberapa
responden perokok laki – laki terutama perokok berat dan responden laki –laki diatas usia 40 tahun cenderung mengeluhkan masalah kesehatan sehingga ketika
6.7.2. Hubungan Antara Variabel Usia Yang Terpengaruh Dan Tidak Terpengaruh Terhadap Pelabelan Peringatan Kesehatan
Hasil analisis terhadap pola konsumsi rokok berdasarkan variabel umur responden yang terpengaruh dan tidak terpengaruh pelabelan, menunjukkan nilai P-Value adalah 0.000 artinya terdapat hubungan antara peubah usia dengan pengaruh pelabelan pada taraf nyata 5% yang terlihat dari nilai p-value yang kurang dari alpha. Hubungan antara peubah tersebut ialah berbanding lurus yang
terlihat dari tanda korelasi spearman yang positif. Semakin tua usia seseorang maka lebih cenderung terpengaruh terhadap pelabelan dibandingkan orang yang
berusia muda. Rata – rata untuk responden yang terpengaruh pada kisaran kelompok umur 50.2 dan umur 37.2 untuk responden yang tidak terpengaruh hal ini disebakan karena pada rata – rata kelompok umur 50 memiliki tingkat
kesadaran yang lebih tinggi, alasan lain karena kesadaran akan pentingnya kesehatan akibat dampak dan bahaya yang ditimbulkan dari merokok sangat
berbahaya.
6.7.3. Analisis Variabel Yang Tidak Memiliki Pengaruh Yang Signifikan
Terhadap Pelabelan Peringatan Kesehatan
Berdasarkan analisis yang dilakukan, diketahui bahwa pada kondisi tingkat pendidikan, hasil analisis menunjukkan nilai P-Value adalah 0.412, yang
nilainya lebih besar dari 0.5 (a = 5%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peubah pendidikan dengan pengaruh pelabelan yang terlihat dari nilai
p-value yang lebih besar dari alpha (5%).
Dari tidak adanya hubungan yang signifikan tersebut, dapat dianalisis mengenai pengaruh tingkat pendidikan terhadap pelabelan peringatan kesehatan.
Jika melihat tabel 4 mengenai sebaran responden menurut pendidikan, sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Artinya semakin
tinggi tingkat pendidikan seharusnya semakin sadar akan pentingnya pelabelan peringatan kesehatan. Ternyata dalam hal pola konsumsi rokok tidak menjadikan
dari hasil uji Korelasi Spearman adalah 0.548, lebih besar dari 0.5 (a = 5%). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara peubah pekerjaan dengan pengaruh pelabelan yang terlihat dari nilai p- value yang lebih besar dari alpha (5%). Tidak adanya hubungan yang nyata antara pelabelan peringatan kesehatan, yang diukur dengan melihat pekerjaan responden dengan status social dan gaya hidupnya sepertinya tidak berpengaruh secara nyata. Hal ini dapat dilihat dari walaupun status social seseorang semakin tinggi, namun pengaruh pelabelan
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Secara keseluruhan responden memiliki umur kurang dari 40 tahun sebesar 60 % dan sisanya 40 % yang berumur lebih dari 40 tahun. berdasarkan
jenis kelamin ternyata kaum laki- laki lebih dominan sebesar 78, 34 % sedangkan untuk jenis kelamin perempuan sebanyak 21,66 % . Presentase
tigkat pendidikan terbesar responden adalah Diploma sebanyak 30 %, sedangkan untuk responden yang paling kecil yaitu pasca sarjana sebanyak 1,66 %.
2. Untuk pembelian rokok setiap hari paling banyak 1 bungkus sebanyak 36 orang (60%) responden dan untuk kurang dari 1 bungkus sebanyak 13
orang (21,67%) responden. sebagian besar responden akan menambah jumlah konsumsi rokok sebanyak 36 orang (60%) menyatakan akan menambah jumlah konsumsi rokok sedangkan responden yang mengurangi jumlah konsumsi rokok sebanyak 24 orang ( 40%) responden. 3. Penelitian ini memperoleh faktor – faktor yang telah dianalisis dan
memiliki hubungan yang signifikan yaitu jenis kelamin dan usia
responden. Hubungan antara peubah jenis kelamin ialah berbanding lurus yang terlihat dari tanda korelasi spearman yang positif. Responden pria
lebih cenderung terpengaruh terhadap pelabelan dibandingkan dengan wanita. Sedangkan hubungan antara peubah usia ialah berbanding lurus yang terlihat dari tanda korelasi spearman yang positif. Semakin tua usia
seseorang maka lebih cenderung terpengaruh terhadap pelabelan dibandingkan orang yang berusia muda.
7.2. Saran
Rumah Tangga Depkessos, dalam Indrajit, 2004). Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa tingkat konsumsi terhadap rokok masih cukup tinggi. Maka ada beberapa upaya yang bisa disarankan dari hasil penelitian ini: 1. Memberikan penyuluhan tentang bahaya merokok sejak dini terutama
pada kalangan remaja.
2. Pelabelan menjadi sangat penting terhadap suatu produk, supaya konsumen bisa leih mengetahui kandungan dari produk yang
dikonsumsi.
3. Perusahaan harus lebih detail dalam melakukan pelabelan terhadap
suatu produk, supaya konsumn bisa lebih mengetahui dampak dan manfaat yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk tersebut.
4. Pentingnya pengawasan yang lebih intensif dari Jendral Pengawas
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous, 2001. Kawasan Tanpa Rokok Perlu di Kampanyekan.
www.kompas.com.
Aditama, Yoga. 1992. Rokok dan Kesehatan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Andi, K. 2004. Preferensi dan Persepsi Konsumen terhadap Minyak Goreng pada Tingkat Rumah Tangga. Jurusan ilmu – Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. IPB. Bogor.
Anggraini, D. 2004. Aspirasi dan Persepsi Pengunjung Agrowisata Kebun Tanaman Obat (KTO) Karyasari, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Departemen Ilmu – Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, IPB, Bogor.
Applied Nonparametric Statistics Second Edition, Wayne W. Daniel, Copyright © 1990 PWS-KENT Publishing Company.
Dianasari, I. 1999. Preferensi Konsumen Terhadap Produk Tauco: Studi Kasus di Produsen Tauco H. M Djajuli Putra, Cianjur. Skripsi Sarjana Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Bogor.
Dirjen POM. 1991. Keputusan Dirjen POM. No. 02240 B/SK/VII/91 tentang Pedoman Persyaratan Mutu serta Label dan Periklanan Makanan. Dalam Kumpulan Peraturan Perundang – Undangan di Bidang Makanan Jilid II (1998). Direktorat Jenderal POM, Departemen Kesehatan RI, Jakarta. , 1999. Peraturan Pemerintah RI No. 69 Tahun 1999 Tentang
Label dan Iklan Pangan. Direktorat Jenderal POM, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Engel, J. F,. R.D.Blackwell dan P.W. Miniard. 1994. Perilaku Konsumen (Jilid 1 dan 2). Binarupa Aksara. Jakarta.