Pentingnya Keselamatan Dan Kesehatan
Kerja ( K3 )
Written By TEKNIK KETENAGALISTRIKAN on Saturday, May 11, 2013 |
1:36 PM
Keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium/bengkel pada dasarnya
menyangkut semua unsur yang terkait dengan fasilitas kerja/praktek di laboratorium
maupun bengkel, baik subyek yang melakukan aktifitas kerja/praktek yaitu guru dan
peserta diklat, obyek (material) praktek maupun lingkungannya.
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah tujuan dari semua pihak yang terkait
dengan aktifitas kerja/praktek, artinya tidak ada satu orangpun yang menginginkan
tidak selamat dan tidak sehat.
Dengan demikian keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tugas dan kewajiban
semua pihak.
Hal ini perlu mendapatkan perhatian sepenuhnya karena kenyataan menunjukkan
bahwa tidak sedikit kasus/kejadian yang telah menimpa unsur-unsur yang terkait
dengan praktek/kerja di laboratorium atau bengkel sehingga terjadi kondisi yang
tidak diinginkan, misalnya : kecelakaan akibat praktek yang menimpa seorang
peserta diklat sehingga peserta diklat tesebut mengalami cacat seumur hidup,
kerusakan alat-alat atau bahan yang tidak perlu terjadi dan sebagainya.
Untuk itulah perlu ditekankan agar keselamatan dan kesehatan kerja perlu
Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja terutama di laboratorium atau bengkel
mempunyai beberapa tujuan, antara lain :
1.
Melindungi pekerja/praktikan dalam melaksanakan praktek.
2.
Menjamin pekerja/praktikan dalam meningkatkan produktivitas dengan
memperoleh keselamatan dan kesehatan kerja.
3.
Menjamin keselamatan dan kesehatan kerja bagi setiap orang yang berada di
laboratorium/bengkel dan juga lingkungannya.
4.
Menjamin sumber-sumber produksi dan peralatan praktek yang berada di
laboratorium/bengkel untuk dapat digunakan, dirawat dan dipelihara secara
aman dan efisien.
5.
Mencegah dan mengurangi terjadinya kecelakaan di tempat kerja dan
lingkungannya.
6.
Mencegah dan mengurangi terjadinya kebakaran
7.
Mencegah dan mengurangi kerugian/kerusakan yang diderita semua pihak
karena terjadinya kecelakaan/kebakaran.
8.
Pemberian Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (PPPK) sebagai langkah
pertolongan awal dalam penanggulangan kecelakaan yang terjadi di
laboratorium/bengkel.
Prinsip-Prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Agar tujuan keselamatan dan kesehatan kerja yang secara umum telah
diuraikan di depan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka perlu dipahami
dan diterapkan prinsip-prinsip keselamatan dan kesehatan kerja di
laboratorium/bengkel.
Prinsip-prinsip tersebut ada yang bersifat umum yaitu yang berlaku untuk
semua jenis laboratorium/bengkel dan ada yang bersifat khusus yaitu yang hanya
berlaku untuk jenis laboratorium/bengkel tertentu saja.
1.
Setiap pekerja/praktikan berhak mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan
kerja. Sebagai konsekuensi prinsip ini maka pihak sekolah wajib menyediakan
alat-alat atau fasilitas yang dapat menjamin keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya :
Tersedianya alat pemadam kebakaran
.
Tersedianya kotak P3K lengkap beserta isinya.
Ada petugas yang melayani kesehatan kerja.
Alat-alat praktek dalam keadaan aman/mudah digunakan dan tidak
menimbulkan bahaya.
2.
Setiap pekerja/praktikan wajib mengenakan pakaian kerja dan alat-alat pelindung diri
pada waktu bekerja/melakukan praktikum, seperti kacamata, sarung tangan dan
sebagainya.
3.
Setiap pekerja/praktikan harus menerapkan prinsip-prinsip umum yang menjamin
Bekerja sesuai prosedur/langkah kerja tertentu.
Menggunakan alat yang tepat sesuai dengan fungsinya.
Melakukan perawatan umum yang meliputi kebersihan dan keindahan
tempat kerja.
Setiap pekerja/praktikan harus memahami situasi laboratorium/bengkel dalam
kaitannya tindakan penyelamatan jika terjadi kecelakaan.
Sedangkan yang bersifat khusus, yaitu beberapa faktor keamanan dan
keselamatan kerja yang harus diupayakan di dalam laboratorium/bengkel, antara
lain :
a.
Penyediaan berbagai alat atau bahan yang ditempatkan di tempat yang
mudah dicapai, misalnya : ember berisi pasir, alat pemadam kebakaran,
selimut yang terbuat dari bahan tahan api, kotak P3K dan sejumlah
pelindung.
b.
Tidak mengunci pintu pada saat laboratorium/ bengkel digunakan atau
sebaliknya.
c.
Tidak memperkenankan peserta diklat masuk di laboratorium/bengkel pada
saat guru tidak ada.
d.
Menyimpan bahan yang beracun/berbahaya dengan dikunci pada tempat
khusus.
e.
Menyimpan bahan yang mudah terbakar pada tempat khusus.
f.
Mengadakan latihan kebakaran secara periodik.
g.
Melengkapi dengan saklar pusat untuk arus listrik.
PENTINGNYA KESELAMATAN KERJA
Bekerja adalah sesuatu yang manusiawi. Malah sesungguhnya, bekerja rnemanusiakan manusia, sehingga seorang manusia yang tidak bekerja, sebenarnya menjadi tidak Iengkap kemanusiaannya.
PENTINGNYA KESELAMATAN KERJA
Manusia bekerja tidak saja untuk mendapatkan penghasilan yang minimal layak untuk rnenghidupi dirinya sendiri dan keluarganya, tetapi juga untuk mernenuhi tuntutan kemanusiaannya, bahkan untuk memuliakan pribadinya sebagai manusia. Karena itu, seorang penganggur selalu menderita. Tidak saja karena ia tidak memperoleh penghasilan, tetapijuga karena dalam lubuk hatinya ia merasa seperti “tidak dimanusiakan”, tidak dianggap berguna bagi masyarakat.
Tetapi itu tidaklah berarti, bahwa seorang manusia yang kodratnya memang mernerlukan bekerja, lantas boleh diperlakukan sekehendaknya sendiri oleh pihak-pihak yang bisa menyediakan lapangan kerja. Pihak pemberi kerj apun berkewajiban menghormati harkat martabat para pekerjanya sebagai manusia. Dan ini berarti, mernberinya imbalan yang sesuai dengan kernampuan profesionalnya, dan memperlukannya secara manusiawi.
Termasuk pula tuntutan dari “perlakuan manusiawi” itu ialah, penciptaan lingkungan kezja dan pengadaan sarana-sarana kerja yang dapat menjamin keselamatan serta kesehatan para pekerja. Tetapi tersedianya lingkungan kerja dan sarana-sarana kerja yang memadai itu mesti dlbarengi pula dengan kesediaan para pekerja sendiri untuk mematuhi ketentuan-ketentuan kerja yang berlaku, khususnya ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan penggunaan sarana-sarana kerja.
Dilanggarnya ketentuan-ketentuan itu dapat menyempatkan pekerja terganggu kesehatannya atau malah tertirnpa kecclakaan, Walaupun sarana-sarana kerja yang disediakan sebenarnya sudah rnemadai. Kalau seseorang juru las misalnya, tidak mau menggunakan “kacamata pelindung” yang sudah disediakan, ia tidak saja dapat terluka matanya, tetapi malah dapat menjadi buta.
Pekerja yang melakukan pekerjaannya, pada hakikatnya tidak hanya sekedar untuk memperoleh irnbalan atau asal tidak menganggur. Jika motivasi bekerja hanya berdasarkan imbalan atau asal tidak menganggur, jelas sulit untuk memacu produktivitas kerja yang diharapkan, di samping timbulnya kerawanan dalamjaminan keselamatan kerja.
Ada kebutuhan Iain di samping kebutuhan yang bersifat material, yakni kebutuhan psikologis. Entah berapa banyak pekerja yang tidak dapat diharapkan produktivitas kerjanya atau justm cenderung kurang terjamin keselamatannya, hanya karena bidang pekerjaan yang ditekuni sama sekali tidak disukainya. Ketidakcocokan antara keinginan dan kenyataan seringkali disebabkan oleh Iowongan yang ada kebetulan kurang sesuai dengan minat atau keinginanya
Pada setiap kegiatan, termasuk pula dalam melakukan pekeij aan, risiko terjadinya kecelakaan selalu ada. Kecelakaan keijja mungkin disebabkan oleh tindakan yang membahayakan atau akibat keadaan yang berbahaya. Yang penting diketahui adalah potensi bahaya yang ada pada setiap jenis pekerjaan, kapan potensi bahaya tersebut aktif, bagaimana bentuk dan sifatnya serta tindakan pencegahan yang harus dilakukan. Penyebab kecelakaan sering sangat kompleks dan umumnya berkaitan satu dengan lainnya. Berbagai teori pernah dikemukakan, misalnya teori “tiga faktor" yang menyebutkan bahwa kecelakaan kerja disebabkan oleh faktor peralatan teknis, lingkungan kerja
Secara terperinci, pada sekitar tahun 1930, H W Heinrich menyebutkan suatu rangkaian faktor penyebab kecelakaan yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Teori yang dikenal sebagai teori domino ini, menganggap faktor asal-usul seseorang dan lingkungan sosialnya akan rnempengaruhi sikap serta perilaku dalam melakukan pekerjaan, sehingga mengakibatkan seseorang cenderung untuk bekexja ceroboh, tidak berhati-hati dan menj urus ke arah kemungkinan teijadinya kesalahan dalam bekerja, Kondisi demikian, ditambah faktor Iuar lainnya seperti bahaya lingkungan kerja dan peralaran mekanik, mengaldbatkan suatu kecelakaan kezja beserta seluruh akibatnya. Teori tersebut sekaligus memperluas prinsip penerapan keselamatan kerja, bahwa upaya yang perlu dilakukan tidak sekedar memperbaiki suatu “unsafe condition", melainkan juga mengoreksi tindakan manusia yang berbahaya (unsafe action).
Selanjutnya, pada awal tahun 1970, dikemukakan teon Iain yang menyempurnakan leori domino tersebut, yaitu oleh Frank E Bird dan Peterson. Men urut dua ahli keselainatan kerja terscbut, sebab utama kecelakaan adalah akibat ketimpangan sistem manajemen, sedang “unsafe condition” dan “unsafe action" hakikatnya merupakan gejala saja.
Oleh karenanya, perbaikan harus dituj ukan ke arah pembahan sistem rnanajemen yang diwujudkan dalam bentuk keterpaduan semua kegiatan produksi dan penerapan keselamatan kerja.
Demikian juga upaya mencegah terjadinya penyakit akibat kerja atau gangguan kesehatan pada para pekerja. Penyakit akibat kexja, yang hakikatnya bersifat artificial, terjadi akibat risiko pekerjaan, sesungguhnya dapat dicegah atau dihindarkan sedini mungkin.
Beban kerja yang rnungkin dihadapi pekerja dapat berupa beban fisik, mental dan sosial yang masing-masing mempunyai dampak yang berbeda pula. Penempatan yang tepat pada jenis pekerjaan sesuai dengan bakat, keterampilan, motivasi dan sebagainya sangat besar peranannya dalam mencegah timbulnya berbagai macam gangguan kesehatan.
Demikian juga kapasitas kerja seseorang, yang tergantung pada kesegaranjasmani, gizi, jenis kelamin, usia, ukuran tubuh, dan lain sebagainya, merupakan faktor penting pula dalam upaya mengurangi kemungkinan texjadinya penyakit akibat kerja.
Manfaat Program Keselamatan Kesehatan Kerja
Written By evin faturohman on Thursday, October 3, 2013 | 4:56 AM
Manfaat K3
Sahabat Lupy Hakim Network, didalam sebuah perusahaan sering kita mendengar istilah K3 yang terdiri dari Keselamatan Kesehatan Kerja. Istilah itu bukan semata-mata hanya sebuah moto, tetapi juga menjadi sebuah
program yang harus dijalankan agar memberikan manfaat, dan manfaat apa
yang didapat dari program k3 ini kita lihat penjelasannya dibawah ini.
Schuler dan Jackson (1999) dalam Kusuma (2011) mengatakan, apabila perusahaan dapat melaksanakan program keselamatan dan kesehatan
kerja dengan baik, maka perusahaan akan dapat memperoleh manfaat sebagai
berikut:
Meningkatkan produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang.
Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih komitmen. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.
Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim.
Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari partisipasi dan ras kepemilikan.
Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatkan citra perusahaan.
Perusahaan dapat meningkatkan keuntungannya secara substansial.
Menurut Robiana Modjo (2007) dalam Kusuma (2011), manfaat penerapan
program keselamatan dan kesehatan kerja di perusahaan antara lain:
Pengurangan Absentisme. Perusahaan yang melaksanakan program
keselamatan dan kesehatan kerja secara serius, akan dapat menekan angka
yang tidak masuk karena alasan cedera dan sakit akibat kerja pun juga semakin berkurang.
Pengurangan Biaya Klaim Kesehatan. Karyawan yang bekerja pada perusahaan yang benar-benar memperhatikan kesehatan dan keselamatan
kerja karyawannya kemungkinan untuk mengalami cedera atau sakit akibat
kerja adalah kecil, sehingga makin kecil pula kemungkinan klaim pengobatan/ kesehatan dari mereka.
Pengurangan Turnover Pekerja. Perusahaan yang menerapkan program K3 mengirim pesan yang jelas pada pekerja bahwa manajemen menghargai dan memperhatikan kesejahteraan mereka, sehingga menyebabkan para pekerja menjadi merasa lebih bahagia dan tidak ingin keluar dari pekerjaannya.
Peningkatan Produktivitas. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Sulistyarini (2006) di CV. Sahabat klaten menunjukkan bahwa baik secara individual maupun bersamasama program keselamatan dan kesehatan
kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas kerja.
Malthis dan Jackson (2002) dalam Kusuma (2011) menyebutkan, manfaat
program keselamatan dan kesehatan kerja yang terkelola dengan baik
adalah:
Penurunan biaya premi asuransi, Menghemat biaya litigasi,
Lebih sedikitnya uang yang dibayarkan kepada pekerja untuk waktu kerja mereka yang hilang,
Biaya yang lebih rendah untuk melatih pekerja baru. Menurunnya lembur,