• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KNOWLEDGE SPILLOVERS PADA INDUS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KNOWLEDGE SPILLOVERS PADA INDUS"

Copied!
92
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KNOWLEDGE SPILLOVERS

PADA INDUSTRI MANUFAKTUR

DI JAWA TIMUR

TAHUN 1995 - 2005

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGAI PERSYARATAN DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA EKONOMI

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

PADA PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN DEPARTEMEN ILMU EKONOMI

DIAJUKAN OLEH :

AZHAR VILANDRA NIM : 040317867

KEPADA

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA

2008

(2)

Surabaya, ...

Skripsi telah selesai dan siap untuk diuji

Dosen Pembimbing

(3)
(4)

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha

Esa, karena hanya atas segala rahmat dan hidayahNya penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul ” Pengaruh Knowledge Spillovers Terhadap

Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur tahun 1995-2005”, sebagai pemenuhan

tugas dan syarat untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi di Fakultas Ekonomi

Universitas Airlangga Surabaya.

Di dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan bantuan dari

berbagai pihak baik secara moril, materiil maupun spiritual. Oleh karena itu

dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada :

1. Ayahanda dan ibunda tercinta, Rana Suparan dan Dra.Evi Dihanti, M.Pd

atas segala cinta dan kasih sayangnya, dukungan moral dan spiritual bagi

penulis dalam menjalani kehidupan.

2. Bude Dra.Ec Nova Retnowati yang telah banyak membantu penulis sejak

pertama kali datang di Kota Surabaya.

3. Adik-adikku, Olinggha Pigaveta dan Navintri CB. yang telah memberikan

banyak bantuan dan dukungan selama proses pengerjaan skripsi.

4. Drs.Ec.H. Karjadi Mintaroem, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Airlangga.

5. Drs.Ec.Tri Haryanto, MP dan Dra.Ec.Hj.Dyah Wulansari,M.Ec.Dev

selaku ketua dan sekretaris Departemen Ilmu Ekonomi yang telah

(5)

6. Nurul Istifadah, SE, Msi yang telah bersedia meluangkan banyak waktu

sejak dari pra propasal sampai skripsi ini selesai. Terima kasih atas semua

nasehat dan kesabaran yang telah diberikan kepada penulis.

7. Semua Dosen Pengajar beserta staf Fakultas Ekonomi Universitas

Airlangga

8. Semua staf Badan Pusat Statistik kota Surabaya yang telah banyak

membantu untuk memperoleh data kepada penulis selama proses

pengerjaan skripsi.

9. Kakak-kakak IESP, Mbak Popy, Mbak Heny dan Mbak Heppy. Terima

kasih atas diskusi yang sangat berarti selama ini.

10. Seluruh staf Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga. Staf Dekan FE dan

Departemen Ilmu Ekonomi (Mbak nuning dan mas Dani). Terima kasih

atas bantuan dan dukungannya.

11. Teman-teman karibku, Ariea, Anggara, Bakti, Probo, Taufik, Etsa, Dewi,

Arsi, Rizky, Deni, Pampy, Pak guru Heri, Harun, Ido.terima kasih atas

semua dukungannya. Semua teman-teman jurusan Ilmu Ekonomi dan

Studi Pembangunan angkatan 2003, Romi,Nurul dan semuanya yang

tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dengan segala keterbatasannya. Mohon

maaf atas kesalahan yang penulis lakukan.

Surabaya,

(6)

Abstraks

Terdapat teori di bidang pertumbuhan ekonomi yang memprediksi pentingnya memasukan faktor eksternalitas berupa inovasi teknologi dan sumber daya manusia sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Teori tersebut didasarkan pada studi tentang aglomerasi yang dapat memberi fasilitas terjadinya aliran pengetahuan (knowledge spillover) antar perusahaan dan akhirnya dapat mendorong terjadinya difusi inovasi.

Knowledge spillover dapat terjadi di suatu wilayah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi antar penduduk dan mereka akan saling belajar satu dengan lainnya atau sering kita sebut proses learning by doing. Pertukaran pengetahuan ini tidak selalu harus diterima oleh penerimanya sehingga merupakan eksternalitas, dan faktor seperti itu dinamakan knowledge spillover.

Untuk mengetahui dan menganalisis pola pengaruh knowledge spillover terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa timur pada tahun 1995-2005 penelitian ini menggunakan data spesialisasi, diversifikasi, kompetisi industri pengolahan dan FDI (Foreign Direct Investment) di Jawa Timur. Untuk mendapatkan ilustrasi mengenai pengaruh knowledge spillover terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur dilakukan pengujian dengan menggunakan model Ordinary Least Square (OLS).

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa secara statistik dengan tingkat signifikan sebesar α = 5 persen, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel knowledge spillovers (spesialisasi, diversifikasi, kompetisi dan FDI) berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur secara parsial dominan dipengaruhi oleh FDI. Pembuktian hipotesis tersebut dapat dilihat dari nilai koefisien beta dan nilai koefisien korelasi parsial yang tertinggi.

(7)

Abstracts

There are any theory in growth of economics are important prediction of externality in the form of technological innovation and human resource as activator of growth of economics. The theory relied on study about agglomeration able to give facility the happening of knowledge spillovers inter company and finally can push the happening of innovation diffusion.

Knowledge spillovers earn happened in a region which growh and expand pursuant to interaction between them and resident will each other learning one other or often we mention process of learning by doing. Transfer of this knowledge do not always have to be accepted by its receiver so that represent externality, and factor is like that named by knowledge spillovers.

to know and analysis pattern influence of knowledge spillovers to growth of Java east economics in the year this 1995-2005 This research use specialization, diversified, industrial competition data and FDI ( Foreign Direct Investment) in East Java. To get illustration concerning influence of knowledge spillovers to growth of economics in East Java conducted examination by using model of Ordinary Least Square ( OLS).

Pursuant to result of research known that statistically with storey level of significant equal to α = 5%, so that can be concluded that variable of knowledge spillovers ( specialization, diversified, and competition and FDI) having an effect on significant to growth of economics in East Java. Growth of economics in East Java by parsial dominant influenced by FDI. Verification of the hypothesis can be seen from beta coefficient value and correlation coefficient value of parsial highest.

Keyword : knowledge spillovers, specialization, competition, diversified, FDI.

DAFTAR ISI

(8)

HALAMAN PERSETUJUAN ……… ii

2.1.1 Pembangunan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi... 9

2.1.2 Teori Pertumbuhan Regional... 11

2.1.3 Teori Knowledge Spillovers... 14

2.1.4 Pengukuran Knowledge Spillovers... 16

(9)

3.1 Pendekatan Penelitian ……… 27

3.2 Identifikasi Variabel ………... 27

3.3 Definisi Operasional ………... 28

3.4 Jenis dan Sumber Data ………... 29

3.5 Prosedur Pengumpulan Data ……….. 29

3.6 Tehnik Analisis dan Pengolahan Data ………... 30

3.6.1 Uji t (Uji Parsial)……… 32 4.1 Gambaran Umum Provinsi Jawa Timur... 37

4.1.1 Kondisi Geografis………... 37

4.1.2 Kondisi Perekonomian... 39

4.1.3 Perkembangan Sektor Industri Pengolahan di Jawa Timur... 43

4.2 Hasil dan Perhitungan………... 45

4.2.1 Variabel Spesialisasi... 45

4.2.2 Variabel Diversifikasi... 46

4.2.3 Variabel FDI... 48

4.3 Analisis Model dan Pembuktian Hipotesis... 51

(10)

4.3.3 Uji Asumsi Klasik... 56

4.3.3.1 Uji Multikolinearitas... 57

4.3.3.2 Uji Heterokedastisitas... 57

4.3.3.3 Uji Autokorelasi... 57

4.4 Pembahasan... 58

4.4.1 Pengaruh Spesialisasi( X1)Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur... 59 4.4.2 Pengaruh Diversifikasi ( X2)Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur... 60

4.4.3 Pengaruh Kompetisi ( X3)Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur... 60

4.4.4 Pengaruh FDI ( X4)Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur... 61

BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ………... 62

5.2 Saran………... 64 DAFTAR KEPUSTAKAAN

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pengaruh Knowledge Spillovers Terhadap Pertumbuhan

Ekonomi di Jawa Timur... 25

(11)

Menurut Sektor………

Tabel 4.2 Konstribusi Sektoral Atas Dasar Harga Konstan Provinsi Jawa

Timur Tahun 1995-2005 (%)………. 42

Tabel 4.3 PDRB Sektor Industri Pengolahan Atas Dasar Harga Konstan

Menurut Sub-Sektor Provinsi Jawa Timur Tahun 1995-2005….. 43

Tabel 4.4 Kontribusi Sektor Industri Pengolahan Menurut Sub-Sektor

Berdasar Harga Konstan (%)……… 45

Tabel 4.5 Variabel Spesialisasi Sektor Industri Pengolahan PDRB Jawa

Timur Tahun 1995-2005………. 46

Tabel 4.6 Variabel Diversifikasi Sektor Industri Pengolahan PDRB Jawa

Timur Tahun 1995-2005………. 46

Tabel 4.7 Variabel Kompetisi Sektor Industri Pengolahan PDRB Jawa Timur Tahun 1995-2005……… 48

Tabel 4.8 Foreign Direct Investment (FDI) di Jawa Timur Tahun 1995-2005... 52

Tabel 4.9 Hasil Estimasi Model Regresi OLS Pertumbuhan Ekonomi di Jawa Timur tahun 1995-2005... 55 Tabel 4.10 Uji Statistik t... 56

Tabel 4.11 Pairwise Correlation Matrix... 57

Tabel 4.12 Uji White Heteroskedatisitas... 57

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Hasil Estimasi Model Regresi OLS Lampiran 2 : Tabel Uji t

Lampiran 3 : Tabel Uji Pairwise Correlation Matrix Lampiran 4 : Tabel Uji White Heteroskedastisitas Lampiran 5 : Tabel Test Serial Korelasi LM Lampiran 6 : Tabel Uji Stasioneritas Variabel G Lampiran 6 : Tabel Uji Stasioneritas Variabel X1

Lampiran 7 : Tabel Uji Stasioneritas Variabel X2

Lampiran 7 : Tabel Uji Stasioneritas Variabel X3

(13)

Lampiran 8 : Tabel Uji Stasioneritas Variabel D Lampiran 9 : Tabel Uji Normalitas

Lampiran 10

: PDB Industri dan PDB Total Indonesia Menurut Harga Berlaku tahun 1994-1995

Lampiran 11

: PDRB Sektor Industri Provinsi Jawa Timur dan PDRB Total Provinsi Jawa Timu

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada akhir tahun tujuh puluhan pertumbuhan ekonomi telah banyak

diteliti oleh para ekonom, tetapi belum ada kesepakatan tentang penyebab

terjadinya pertumbuhan tersebut. Beberapa ekonom mengikuti aliran Neoklasik,

dengan menekankan pada penyediaan tenaga kerja, stok modal, dan perubahan

teknologi dalam proses pertumbuhan ekonomi. Pendekatan ini berdasarkan

(14)

adanya perbedaan pertumbuhan regional sebagai akibat dari alokasi sumber daya

yang memenuhi kriteria Pareto optimal (Armstrong and Taylor, 1993).

Pertumbuhan ekonomi secara spasial biasanya merujuk pada dua kondisi

yaitu ketimpangan dan konsentrasi. Ketimpangan terjadi karena tidak meratanya

pertumbuhan ekonomi yang terjadi akibat aktivitas ekonomi yang menumpuk di

suatu wilayah tertentu. Agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menumpuk pada

suatu wilayah atau region, maka diperlukan campur tangan pemerintah terutama

untuk membantu daerah-daerah yang terbelakang dan sulit untuk berkembang.

Sedangkan konsentrasi aktivitas ekonomi di suatu wilayah dapat memunculkan

keuntungan aglomerasi (agglomeration economies). Keuntungan aglomerasi

tersebut secara spasial merupakan suatu eksternalitas berupa keuntungan

lokalisasi (localization economies) dan keuntungan urbanisasi (urbanisation

economies). Keuntungan lokalisasi (lokalization ekonomies) terjadi apabila biaya

produksi perusahaan pada suatu industri menurun dan ketika produksi total dari

indutri tersebut meningkat. Artinya adalah apabila suatu perusahaan berlokasi di

dekat perusahaan yang lain dalam industri yang sama maka suatu perusahaan itu

dapat menikmati beberapa manfaat. Keuntungan lokalisasi ini membuat suatu

interaksi aktivitas antar perusahaan-perusahaan untuk saling berhubungan satu

sama lain dengan memunculkan fenomena kluster industri atau sering kita sebut

industrial cluster (Istifadah, 2007 : 124).

Sedangkan keuntungan urbanisasi (urbanizazion economies), terjadi

apabila biaya suatu perusahaan menurun ketika produksi seluruh perusahaan

(15)

perkotaan maka keuntungan terjadi akibat skala perekonomian kota besar bukan

dari skala industri tertentu. Keuntungan ini dapat memberikan manfaat bagi

semua perusahaan di seluruh wilayah kota, tidak hanya perusahaan dalam suatu

industri tersebut gejala dari keuntungan urbanisasi ini kemudian dapat

memunculkan perluasan wilayah perkotaan metropolitan (Istifadah, 2007 : 125).

Terdapat teori di bidang pertumbuhan ekonomi yang memprediksi

pentingnya memasukan faktor eksternalitas berupa inovasi teknologi dan sumber

daya manusia sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi. Teori tersebut

didasarkan pada studi tentang aglomerasi yang dapat memberi fasilitas terjadinya

aliran pengetahuan (knowledge spillover) antar perusahaan dan akhirnya dapat

mendorong terjadinya difusi inovasi.

Ada berbagai jenis spillovers yaitu: knowledge spillovers, market

spillover dan network spillovers. Teori Pertumbuhan pada umumnya terfokus

pada Knowledge Spillovers (Aghion Dan Howitt, 1992; Aghion et Al., 1997;

Romer, 1986). knowledge spillovers dapat diperoleh melalui aktivitas internal

perusahaan. Sebagai contoh, aktivitas R&D (Research and Development) yang

terakumulasi menghasilkan suatu inovasi dan gagasan dalam perusahaan

menyebabkan perekonomian semakin tumbuh dari input maksimal modal dan

tenaga kerja. Dengan kata lain, knowledge spillovers menjelaskan bagian dari

peristiwa dimana ekonomi tumbuh cepat atas dasar input tenaga kerja dan modal.

Market spillovers merupakan hasil dari operasi pasar untuk suatu produk

baru yang dihasilkan oleh perusahaan. Kapan saja suatu perusahaan dapat

(16)

yang ada untuk dijual ke pembeli melalui operasi pasar. Sedangkan network

spillover dihasilkan ketika nilai ekonomis suatu teknologi baru betul-betul

dependent pada pengembangan satu set teknologi terkait. Suatu contoh network

spillovers adalah antar semua pengembang perangkat lunak aplikasi yang

berbeda untuk menggunakan suatu platform sistem operasi baru. Jika satu

perusahaan mengembangkan aplikasi tertentu maka masyarakat hanya akan

membeli jika banyak perusahaan lain mengembangkan aplikasi tambahan

sehingga operasi sistem itu menjadi menarik dan secara luas digunakan

(Jaffe,1996).

Seperti juga yang terjadi dalam perusahaan, knowledge spillover dapat

terjadi di suatu wilayah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan interaksi

antar penduduk dan mereka akan saling belajar satu dengan lainnya atau sering

kita sebut proses learning by doing. Pertukaran pengetahuan ini tidak selalu

harus diterima oleh penerimanya sehingga merupakan eksternalitas, dan faktor

seperti itu dinamakan knowledge spillover. Satu contoh proses learning by doing

yang didapat penduduk suatu daerah ketika dia memiliki pengalaman bekerja di

daerah sekitar yang lebih maju akan sangat berharga bagi kemajuan daerah asal.

Dengan adanya knowledge spillovers tersebut, salah satu grup atau kelompok

penduduk akan merasa diuntungkan karena akan menikmati keuntungan dengan

adanya sekelompok tenaga kerja yang telah berubah menjadi lebih terampil lewat

pengalaman-pengalaman yang mereka dapat terdahulu (Rey, 2001).

Dampak-dampak eksternalitas dari wilayah-wilayah yang lebih maju ke

(17)

aktivitas ekonomi secara spasial. Pembangunan di wilayah sekitar kota Jakarta

merupakan akibat dari implikasi berkembang-pesatnya perekonomian kota

Jakarta. Misalnya, adanya pelabuhan Merak di Banten yang memiliki banyak

gudang untuk proses bongkar muat barang. Dengan demikian dari kenyataannya

mayoritas input yang dibutuhkan oleh industri di wilayah urban didatangkan dari

wilayah-wilayah bukan urban atau suburban (O’Sullivan, 2003 : 199-122).

Di zaman modern dewasa ini industri merupakan sektor yang paling

penting di dalam perekonomian dan merupakan penyumbang Pendapatan

Domestik Bruto (PDB) Indonesia terbesar setelah sektor pertanian. Sektor

industri berkembang pesat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan

konsumsi masyarakat Indonesia tiap tahunnya.

Seperti kita ketahui Indonesia adalah negara kepulauan besar dengan

perkiraan jumlah penduduk sebesar 250 juta jiwa yang berasal dari 300 suku

yang tersebar di seluruh kepulauan. Ada 15 ribu pulau dengan Sumatra, Jawa,

Kalimantan, Sulawesi, dan Papua sebagai pulau utama yang terbagi menjadi 33

provinsi dan lebih dari 400 kota dan kabupaten (Resosudarmo dan Vidyaattama,

2004). Dari berbagai pulau yang ada di Indonesia, aktivitas ekonomi terpusat

pada satu pulau yang memiliki jumlah peduduk terpadat dan khususnya sektor

industri cenderung terkonsentrasi di pulau Jawa. Sedangkan pulau – pulau lain

seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi hanya memainkan peran yang relatif kecil

(www.d-infokom-jatim.go.id).

Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan

(18)

PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terbesar bagi Indonesia. Oleh karena

itu perekonomian Jawa Timur mempunyai peranan yang cukup signifikan

terhadap perekonomian nasional baik di bidang perdagangan, industri pengolahan

maupun penghasil bahan pangan. Secara sektoral, sektor yang berperan dalam

menggerakkan perekonomian Jawa Timur adalah sektor industri dan jasa (BPS,

2001). Namun mulai tahun 2003 hingga saat ini sektor perdagangan, hotel dan

restoran adalah sektor yang paling dominan dalam PDRB Jawa Timur.

E. Glaeser (1992), Sjoholm (1999) Sugiyono(2001) membagi teori

pertumbuhan ekonomi menjadi tiga kelompok yaitu :

1. Teori yang berdasarkan studi A. Marshall, K.J. Arrow dan P. Romer

(yang selanjutnya disingkat sebagai studi MAR).

2. Teori yang berdasarkan studi M.E. Porter, dan

3. Teori yang berdasarkan studi J. Jacobs.

Berdasarkan beberapa teori di atas, bahwa knowledge spillover

merupakan faktor yang penting dalam pertumbuhan ekonomi. Secara umum

knowledge spillover terjadi melalui berbagai proses, yaitu (1) spesialisasi, yang

merupakan hipotesis untuk menghitung pengaruh knowledge spillovers dengan

menggunakan data PDB; (2) diversifikasi, merupakan hipotesis untuk

menghitung pengaruh knowledge spillover spillover menggunakan dengan

menggunakan data indeks Hirschman Herfindahl (IHH) (3) kompetisi yang

merupakan hipotesis untuk menghitung pengaruh knowledge spillovers dengan

menggunakan concentration ratio 5 (CR5). Dengan metode ini dapat diketahui

(19)

Adanya spesialisasi dan diversifikasi pada pertumbuhan ekonomi ditandai

pentingnya hubungan intra-sektoral dan inter-sektoral secara berturut-turut

melalui investasi dari luar negeri akan bernilai positif dan juga melalui kompetisi

akan mendorong suatu daerah khususnya provinsi Jawa Timur menjadi lebih

maju dan berkembang pesat dengan wilayah lain di Indonesia.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat disusun beberapa

rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh knowledge spillover pada industri manufaktur di

Jawa Timur pada tahun 1995-2005 ?

2. Seberapa besar pengaruh knowledge spillover pada industri manufaktur di

Jawa Timur pada tahun 1995-2005 ?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk menganalisis knowledge spillover pada Industri Manufaktur di

Jawa Timur pada tahun 1995-2005.

2. Untuk mengetahui pola knowledge spillover pada Industri Manufaktur di

Jawa timur pada tahun 1995-2005.

1.4. Manfaat Penelitian

(20)

1. Manfaat ilmiah, sebagai bahan referensi mengenai faktor knowledge

spillover pada industri manufaktur di Jawa Timur

2. Manfaat praktis, sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak yang hendak

mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai pertumbuhan ekonomi.

3. Manfaat kebijakan, sebagai bahan pertimbangan dan masukan dalam

menentukan kebijakan pertumbuhan ekonomi di provinsi Jawa Timur.

1.5 Sistematika Penulisan Skripsi

Sitematika penulisan skrpsi pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini dikemukakan mengenai latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika

(21)

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini dikemukakan mengenai landasan teori pertumbuhan

ekonomi, teori pembangunan ekonomi, teori (knowledge spillover),

penelitian sebelumnya, hipotesis dan pendekatan penelitian.

BAB III : METODE PENELITIAN

Dalam bab ini dikemukakan mengenai identifikasi variabel, definisi

operasional, jenis dan sumber data, prosedur penentuan sampel, prosedur

pengumpulan data, dan teknik analisis yang digunakan.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini membahas mengenai gambaran umum subyek dan obyek

penelitian, hasil analisis, serta pembahasan yang berhubungan dengan

hasil penelitian.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Sebagai bab terakhir akan disajikan kesimpulan dari pembahasan pada

bab-bab sebelumnya, serta saran yang mungkin dapat digunakan sebagai

bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan dan kebijaksanaan

(22)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1. Pembangunan Ekonomi dan Pertumbuhan Ekonomi

Konsep pembangunan ekonomi menyatakan bahwa pembangunan

ekonomi tidak selalu identik dengan pertumbuhan. Pengertian pembangunan

tidak hanya sekedar menaikkan PDB per tahun, tetapi dapat diartikan sebagai

kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan aktifitas

ekonomi dan kualitas hidup masyarakat suatu negara. Pembangunan merupakan

suatu proses tranformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai oleh perubahan

struktural yaitu perubahan pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada

kerangka susunan ekonomi masyarakat (Djojohadikusumo, 1994:2).

Pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai suatu proses yang

menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat dapat meningkat

dalam jangka panjang. Dari definisi yang telah dijelaskan di atas bahwa

pembangunan ekonomi mempunyai tiga sifat penting yaitu : (1) suatu proses

yang berarti perubahan yang terus- menerus, (2) usaha untuk menaikkan

pendapatan per kapita, dan (3) kenaikan pendapatan per kapita yang terus

berlangsung dalam jangka panjang (Sukirno, 1985: 13).

Pembangunan ekonomi yang sedang dilaksanakan di suatu negara

memerlukan beberapa persyaratan dasar. Jhingan (2000: 41-56) mengemukakan

(23)

1. dalam proses pertumbuhan harus bertumpu pada kekuatan dalam negeri itu

sendiri, sedangkan peranan negara atau daerah hanya bersifat sebagai

penunjang. Bantuan luar negeri hanya dapat mengawali atau merangsang

pembangunan tetapi tidak untuk mempertahankannya.

2. adanya usaha untuk menghilangkan ketidak-sempurnaan pasar. Gejala ini

akan menyebabkan immobilitas dari faktor produksi dan menghambat

ekspansi ekonomi dan pembangunan.

3. perubahan struktural perekonomian yang mengandung arti peralihan dari

masyarakat yang bercorak pertanian menjadi industri modern. Perubahan

struktural semacam ini menyebabkan lapangan pekerjaan menjadi semakin

banyak, terciptanya produktivitas tenaga kerja, dan stok modal,

pendaya-gunaan sumber-sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi.

4. dan yang paling penting adalah faktor pembentukan modal. Dimana

pembentukan modal ini akan berjalan melewati tiga tingkatan antara lain :

kenaikan volume tabungan masyarakat yang nyata tergantung pada kemauan

dan kemampuan untuk menabung; keberadaan lembaga kredit dan keuangan

untuk menggalakan dan menyalurkan tabungan agar dapat menjadi dana yang

dapat diivestasikan; dan penggunaan tabungan untuk tujuan investasi dalam

barang-barang modal perusahaan (Jhingan, 2000: 41-56).

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai kenaikan dalam Produk

Domestik Bruto (PDB), tanpa melihat dari sudut pandang kenaikan itu lebih

besar atau lebih kecil daripada tingkat pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan

(24)

pertumbuhan ekonomi di suatu negara berkaitan dengan perkiraan pendapatan

nasional atau PDB.

2.1.2. Teori Pertumbuhan Ekonomi Regional

Pola pertumbuhan ekonomi regional tidaklah sama dengan apa yang lazim

ditemukan pada pertumbuhan nasional. Hal ini disebabkan pada analisis

pertumbuhan ekonomi regional lebih ditekankan pada pengaruh perbedaan

karakteristik space terhadap pertumbuhan ekonomi. Dalam pertumbuhan

ekonomi regional faktor-faktor yang mendapat perhatian antara lain keuntungan

lokasi, aglomerasi migrasi, dan arus lalu lintas modal antar wilayah. Secara

umum pendapat-pendapat dalam bidang pertumbuhan regional dapat dibagi

dalam empat kelompok besar yaitu Export Base-Models, Neo-Classic, jalur

pemikiran ala keynes dan model Core Periphery (Sjafrizal, 1985 : 331).

Export Base-Models melihat dengan sudut pandang teori lokasi, yaitu

bahwa pertumbuhan ekonomi suatu region akan lebih banyak ditentukan oleh

jenis keuntungan lokasi yang selanjutnya dapat digunakan pleh daerah tersebut

sebagai kekuatan ekspor. Keuntungan lokasi tersebut tergantung pada kondisi

geografis daerah setempat, ini berarti strategi pembangunan di suatu wilayah

dapat meningkat apabila disesuaikan dengan keuntungan lokasi yang dimilikinya

dan tidak harus sama dengan strategi pembangunan tingkat nasional (Sjafrizal,

1985 : 332).

Model Neo-Classic adalah analisis berdasarkan pada peralatan fungsi

(25)

regional adalah modal, tenaga kerja, dan kemajuan teknologi. Model ini terdapat

hubungan antara tingkat pertumbuhan suatu negara dengan perbedaan

kemakmuran suatu daerah (disparitas regional) pada negara bersangkutan.

Dijelaskan bahwa pada saat pembangunan baru dimulai, tingkat perbedaan

kemakmuran antar wilayah cenderung tinggi, sedangkan bilamana proses

pembangunan telah berjalan dalam jangka waktu yang lama, maka perbedaan

tingkat kemakmuran antar wilayah cenderung menurun. Hal ini bisa disebabkan

belum lancarnya fasilitas perhubungan dan komunikasi serta masih kuatnya

tradisi yang menghalangi mobilitas pendududk dan modal antar daerah.

(Sjafrizal. 1985 : 333).

Menurut jalan pemikiran Keynes penigkatan pemerataan pembangunan

antar wilayah tidak hanya dapat diserahkan kepada kekuatan pasar sebagaimana

yang telah dijelaskan oleh kaum Neo-klasik. Akan tetapi perlu adanya campur

tangan aktif pemerintah dalam bentuk program-program pembangunan wilayah

terutama untuk daerah-daerah yang masih terbelakang (Sjafrizal, 1985 : 334).

Model Core Periphery menekankan analisisnya pada hubungan erat dan

saling mempengaruhi antara pembangunan kota (core) dan daerah desa

(periphery). Teori ini berpendapat bahwa gerak langkah pembangunan daerah

perkotaan akan oleh banyak ditentukan oleh keadaan desa-desa di sekitarnya.

Sebaliknya corak pembangunan daerah pedesaan tersebut juga dapat ditentukan

oleh arah pembangunan perkotaan. Dengan demikian adanya interaksi antar

(26)

Pertumbuhan regional dapat terjadi disebabkan oleh adanya pengaruh dari

dalam (endogen), dan pengaruh dari luar (eksogen).Tidak menutup kemungkinan

adanya gabungan diantara keduanya yaitu endogen dan eksogen. Yang termasuk

fakor penentu endogen adalah faktor-faktor yang terdapat di dalam daerah yang

bersangkutan meliputi faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, keahlian dan

modal. Sedangkan yang termasuk eksogen yang bersangkutan adalah tingkat

permintaan dari daerah-daerah lain terhadap komoditi yang dihasilkan daerah

tersebut.

Teori tahap (stage theory) menyatakan bahwa perkembangan regional

adalah suatu proses evolusioner intern dengan tahap-tahap sebagai berikut:

(sihotang, 1990 : 98 )

1. Tahap pertama adalah tahap perekonomian subsisten swasembada, dimana

hanya terdapat sedikit investasi atau perdagangan. Lapisan penduduk

sebagian besar adalah pertanian dimana pertanian adalah sektor basis dan

tersebar menurut lokalisai sumber daya alam.

2. Tahap Kedua dengan kemajuan pengangkutan, daerah yang bersangkutan

mengembangkan perdangangan dan spesialisasi, sehingga munculah lapisan

kedua yang mengusahakan industri desa sederhana yang memenuhi

kebutuhan para petani. Semua bahan, pasar, tenaga kerja disediakan oleh

penduduk pertanian. Lapisan baru ini berlokasi pada tempat yang berkaitan

dengan lapisan basis.

3. Tahap ketiga semakin luasnya perdagangan inter-regional, daerah yang

(27)

perdagangan hasil dari pertanian dan hasil peternakan dengan daerah-daerah

lainya.

4. Tahap Keempat dengan semakin berkurangnya hasil pertanian dan semakin

bertambahnya penduduk menyebabkan daerah tersebut melakukan

indutrialisasi. Industri sekunder mula-mula mengolah produk primer

lama-kelamaan mulai timbul spesialisasi produk lain. Ketiadaan industrialisasi akan

semakin mengakibatkan terjadinya tekanan penduduk, menurunnya taraf

hidup adanya stagnasi serta kemerosotan umum.

5. Tahap kelima adalah tahap pengembangan industri tersier yang berproduksi

ekspor. Daerah perkembanan ini mengekspor model, ketermpilan, dan

jasa-jasa yang bersifat khusus ke dalam daerah-daerah, yang berkembang.

Akibatnya perkembangan kota semakin pesat dengan adanya pemukiman

penduduk, perdangan, perbankan, dan jasa,sehingga menarik penduduk

daerah lain untuk menetap ke kota tersebut.

2.1.3. Teori Knowledge Spillovers

Teori yang pertama dikembangkan oleh Marshall ( 1890), Arrow ( 1962)

dan Romer (1986), yang disingkat menjadi MAR. Mereka berasumsi bahwa

knowledge spillovers adalah paling efektif pada sektor yang homogen. Maka,

knowledge spillovers akan muncul di dalam satu sektor. Karena region sudah

ditentukan, hal ini akan menjadikan spesialisasi di dalam suatu jumlah yang

(28)

pertumbuhan. Suatu contoh industri jenis ini adalah industri pabrik microchip di

Silicon Valley ( Glaeser et al., 1992 : 1130).

Ahli ekonomi MAR menjelaskan lebih lanjut yang berasumsi bahwa

situasi tentang suatu monopoli lokal adalah keuntungan untuk pertumbuhan

ekonomi, karena dari kasus yang lebih luas menjelaskan hasil yang diperoleh dari

inovasi akan bermanfaat bagi inovator itu sendiri. hal ini akan menghasilkan

suatu rangsangan tambahan untuk berinovasi. Di dalam teori MAR, pertumbuhan

sektor regional akan maksimal jika menjadi dominan di suatu region, dan jika

kompetisi lokal bukanlah yang terlalu kuat.

Teori yang kedua adalah Porter ( 1990) seorang ekonom yang setuju

dengan MAR dimana knowledge spillovers terjadi pada sektor industri yang

terdiri dari sub sektor-subsektor. Di dalam suatu region untuk merangsang

pertumbuhan ekonomi. Berlawanan dengan MAR, bagaimanapun, Porter

berasumsi bahwa kompetisi mempunyai suatu dampak yang positif terhadap

pertumbuhan. Di dalam pandangannya, kompetisi mempercepat pertumbuhan dan

inovasi upgrade. Walaupun kompetisi mengurangi manfaat yang relatif untuk

inovator ( dalam kaitan yang lebih besar knowledge spillovers mengalir untuk

para pesaing), jumlah aktivitas yang inovatif akan meningkat, sebab sektor

industri “dipaksa” untuk berinovasi. Perusahaan yang gagal meningkatkan

produk dan produksi tepat pada waktunya akan hilang oleh pesaing mereka dan

akan akhirnya menjadi bangkrut. Suatu contoh dari kompetisi yang sengit untuk

menginovasi dan yang menghasilkan pertumbuhan, adalah Industri Barang

(29)

sementara MAR menekankan efek kompetisi yang negatif pada atas jumlah

aktivitas inovasi, porter berasumsi bahwa efek yang positif sedang mendominasi.

Teori yang ketiga adalah yang dikembangkan oleh Jacobs (1969). Teori

Jacobs meninggalkan asumsi yang dimana knowledge spillovers berkembang

membuat rencana, melatih dan mengalami hal yang paling efektif antar

perusahaan untuk berlatih dalam aktivitas yang berbeda. Suatu hal yang penting

dari perpindahan pengetahuan inter-sektoral akan menjadi penting dan berarti. Di

dalam pandangannya, sektor akan berkembang dalam region jika di samping

oleh sektor dirinya sendiri dan oleh berbagai sektor lainnya. Di dalam filosofi ini,

region yang ditandai oleh suatu tingkat derajat yang tinggi dari variasi (keaneka

ragaman) akan tumbuh dengan subur. Mengenai kompetisi Jacobs setuju dengan

Porter yaitu., Jacobs berasumsi bahwa kompetisi mempercepat adopsi dari

teknologi baru dan, sebagai konsekuensi akan merangsang pertumbuhan

ekonomi.

2.1.4. Pengukuran Knowledge Spillover

Secara umum knowledge spillover merupakan perkembangan dari

pertumbuhan model neo-klasik, yang mana agregat fungsi produksi merupakan

kunci utama. Di dalam variabel fungsi produksi memiliki dua model

pertumbuhan, yaitu model pertumbuhan tanpa perkembangan teknologi dan

model pertumbuhan dengan perkembangan teknologi. Menurut model

pertumbuhan tanpa perkembangan teknologi, fungsi produksi secara umum dapat

(30)

Y

t

=

f

(K

t

, L

t

)

(2.1)

modal dan tenaga kerja maka fungsi produksinya dapat ditulis sebagai berikut :

Y

t

= A K

α

t

L

β

t

(2.2)

Pendapatan akan meningkat bila setiap tenaga kerja mendapat modal peralatan

yang lebih banyak dan proses ini disebut ‘capital deepening’. Tetapi tidak dapat

terus-menerus meningkat tanpa adanya pertumbuhan teknologi karena modal

(seperti juga tenaga kerja) akhirnya akan meningkat dengan pertumbuhan yang

semakin berkurang (diminishing return).

Sedangkan model pertumbuhan dengan perkembangan teknologi

dikembangkan, karena di dalam model pertumbuhan neoklasik tanpa

perkembangan teknologi ada beberapa hal yang tidak realistis yaitu terjadinya

diminishing return. Agar menjadi lebih realistis maka dimasukannya faktor

perkembangan teknologi yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Modal dan tenaga kerja diasumsikan dapat mengambil keuntungan dari adanya

(31)

Y

t

=

f

(A

t

, K

t

, L

t

)

(2.3)

dengan A adalah perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi dijelaskan

tidak mempunyai arti yang berdekatan karena tidak tergantung dari masukan

modal dan tenaga kerja. Jika diasumsikan perkembangan teknologi meningkat

secara perlahan sepanjang waktu dengan tingkat pertumbuhan tetap, maka

fungsi produksi Cobb-Douglas menjadi :

Yt = Ae

gt

K

α t

L

β

t

(2.4)

dengan g adalah pertumbuhan dari perkembangan teknologi per periode waktu t.

Penjelasan ini merupakan penyederhanaan dengan mengabaikan kemungkinan

terjadi perkembangan teknologi melalui investasi.

Dengan mengambil logaritma alami (In) dari persamaan (2.4) lalu

didiferensialkan terhadap waktu maka pertumbuhan ekonomi sebagai :

y

t

= g + α

k

t

+ β

l

t

(2.5)

di mana :

y = pertumbuhan ekonomi (dalam periode satu tahun)

k = pertumbuhan stok modal

l = Pendapatan Daerah Regional Bruto

Huruf kecil y, k, dan l di sini menunjukkan tingkat pertumbuhan dari Y, K dan L.

Di dalam teori pertumbuhan ekonomi yang baru, knowledge spillovers

(32)

economic of scale, karena perusahaan perseorangan mengeluarkan rata-rata biaya

setiap satuan output yang berkurang dengan pertumbuhan ouput di tingkat

industry-wide. Suatu peningkatan di dalam ouput industri dapat meningkatkan

persediaan pengetahuan melalui informasi positif bagi knowledge spillovers

untuk masing-masing perusahaan, yang mendorong ke arah suatu peningkatan

bagi output perusahaan ( Van Oort, 2002 : 42).

2.1.4. Pengaruh Knowledge Spillover pada Industri Manufaktur di Provinsi

Jawa Timur

Berdasarkan model pertumbuhan neo-klasik dengan perkembangan

teknologi, dapat memberikan landasan kuat untuk menunjukkan adanya faktor

yang berperan dalam menjelaskan perbedaan pertumbuhan ekonomi. Dengan

mengubah persamaan 5 ke dalam model pertumbuhan ekonomi maka akan

terlihat perbedaan yang terjadi oleh karena :

1. Perbedaan perkembangan teknologi antar provinsi.

2. Pertumbuhan stok modal yang mungkin berlainan antar provinsi.

3. Pendapatan Daerah Regional Bruto (PDRB) dapat juga berlainan antar

provinsi.

Dengan menghilangkan subskrip waktu(t) maka persamaan pertumbuhan

ekonomi untuk masing-masing provinsi dapat dinyatakan sebagai :

(33)

dengan r menyatakan provinsi tertentu. Sehingga gr dapat dibaca sebagai tingkat

perkembangan teknologi di wilayah r yang harganya untuk tiap provinsi dapat

berlainan.

Perubahan faktor produksi dan perkembangan teknologi erat kaitannya

dengan proses akumulasi. Proses akumulasi, menghasilkan :

1. Peningkatan kualitas stok modal per tenaga kerja melalui peningkatan

tabungan baik tabungan masyarakat, tabungan pemerintah, serta peranan

pemasukan modal asing sebagai sumber untuk menutupi kesenjangan

tabungan investasi domestik.

2. Kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan tingkat pendidikan dan

keterampilan kerja.

3. Efisiensi penggunaan barang modal.

4. Perbaikan teknologi

5. Perbaikan keadaan prasarana dan sarana angkutan, telekomunikasi dan

lain-lain.

Kenyataan empiris menunjukan bahwa perkembangan teknologi di negara

sedang berkembang mula-mula terkonsentrasi pada sektor modern yang pada

umumnya berada di sektor industri sehingga penanaman modal yang tumbuh

relatif cepat terjadi di sektor industri.

Di Dalam penelitian ini, menggunakan terminologi pertumbuhan sehingga

secara operasional dapat menggunakan Persamaan 6 dan g dianggap sebagai

(34)

maka digunakan total investasi I untuk menggantikan

α

K, sehingga Persamaan (2.6) (dengan menghilangkan subskrip r) menjadi:

l

g

y

=

+

α

YI

+

β

(2.7)

Perlu diingat bahwa huruf kecil menyatakan pertumbuhan, sedangakan huruf

besar I menyatakan nilai investasi dihitung berdasarkan pangsa dari pendapatan

bruto (gross output) dan bukan berdasarkan nilai tambah. dan Y adalah nilai

pendapatan yang dihitung berdasarkan nilai tambah..sedangkan

α

di intrepretasikan ulang sebagai sebagai produk fisik marginal dari modal dan faktor

kesalahan regresi.

Untuk menentukan pengaruh knowledge spillover maka variabel g

dipecah lagi menjadi suatu fungsi yang mempunyai 4 faktor seperti di bawah ini

g = f (Spesialisasi, Diversifikasi, Kompetisi, FDI)

(2.8)

Dalam Melakukan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi knowledge

spillover terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur terdapat variabel yang

terdiri atas satu variabel bebas dan 4 variabel terikat, sehingga dalam analisis

digunakan model analisis regresi linier berganda untuk melihat hubungan antar

variabel bebas dan terikat.. Model analitis tersebut memasukan persamaan 2.8 ke

dalam persamaan 2.7 maka persamaan yang digunakan umtuk regresi adalah :

y = γ0 + γ1Spesialisasi + γ2Diversifikasi + γ3Kompetisi + γ4FDI + D+

ε

(2.9)

dimana y adalah tingkat pertumbuhan ekonomi di provinsi Jawa Timur, yang

diukur dari jumlah seluruh nilai tambah yang ditimbulkan oleh berbagai sektor

(35)

adalah merupakan rasio persentase PDRB sektor industri pengolahan di Jawa

Timur terhadap total PDRB Jawa Timur dibagi dengan rasio persentase PDB

sektor industri di Indonesia terhadap total PDB Indonesia. Diversifikasi adalah

diukur dengan menggunakan indeks Hirschman Herfindahl (IHH) sektor industri

pengolahan di Jawa Timur. Semakin besar nilai IHH menunjukkan tingkat

penyebaran yang semakin rendah, demikian sebaliknya., Kompetisi diukur

dengan menggunakan perhitungan concentration rasio 5 (CR 5) subsektor

industri pengolahan yang paling besar kontribusinya. FDI nilai investasi

penanaman modal luar negeri di Jawa Timur. D adalah dummy variabel.

ε

adalah

variabel pengganggu yang meliputi faktor lain yang berpengaruh terhadap

pertumbuhan ekonomi Jawa Timur namun tidak dimasukan ke dalam model, γ0

merupakan intercept , sedangkan γ1, γ2, γ3, γ4, adalah koefisien regresi variabel

(36)

2.1.5. Konsep tentang DFI dan Efek Penyebarannya dalam Teori Knowledge

Spillovers

Model pertumbuhan neo-klasik Solow (1956) menerangkan bahwa

dengan variabel eksogen modal fisik dengan tingkat pengembalian yang semakin

menurun dan perubahan teknologi, DFI tidak dapat mempengaruhi tingkat

pertumbuhan ekonomi jangka panjang, akan tetapi modal akan mengalir dari

negara dengan modal yang berlimpah ke negara dengan modal yang jarang.

Keseimbangan jangka panjang ditentukan oleh persamaan identik dari rasio

modal tenaga kerja dan harga. Adanya tranfer teknologi yang merupakan

eksternalitas mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan jangka panjang

dan telah dijadikan variabel endogen dalam model pertumbuhan ekonomi. DFI

dapat menimbulkan peningkatan skala tingkat pengembalian (increasing return

to scale) dalam produksi domestik melalui adanya knowledge spillovers.

Walz (1997) menjadikan DFI dalam kerangka pertumbuhan endogen

dimana perusahaan multinasional banyak memainkan peran yang kritis dengan

respon terhadap pertumbuhan dan pola spesialisasi. Aktivitas perusahaan

multinasional dalam knowledge spillovers, membuat inovasi di negara

berkembang menjadi lebih menguntungkan. Knowledge spillover secara tidak

langsung melalui DFI menstimulasikan keaktifan R&D di dalam perusahaan dan

mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, beliau memprediksikan

kebijakan mempromosikan DFI untuk membuat perumbuhan ekonomi lebih

(37)

2.2. Penelitian Sebelumnya

Pengaruh perkembangan teknologi, pertumbuhan stok modal, dan tenaga

kerja dalam menentukan perbedaan pertumbuhan ekonomi telah diselidiki oleh

Hulten dan Schwab pada tahun 1984 untuk 9 wilayah di Amerika Serikat

(Armstrong and Taylor, 1993). Hulten dan Schwab menghitung pertumbuhan

pendapatan di sektor manufaktur dengan tiga faktor utama yaitu : pertumbuhan

tenaga kerja, pertumbuhan stok modal, dan komponen residual yang menyatakan

perkembangan teknologi. sebagai catatan bahwa komponen residual tidak harus

diartikan sebagai perkembangan teknologi semata, sebab interpretasi yang

demikian akan menganggap bahwa tidak ada perkembangan teknologi yang

berkaitan antara modal dan tenaga kerja sepanjang waktu.

Salah satu temuan penting dari studi Hulten dan Schwab adalah di

wilayah jalur matahari (sunbelt) mempunyai tingkat pertumbuhan pendapatan

yang lebih cepat dari pada di wilayah jalur salju (snowbelt) dan tidak ada

perbedaan pertumbuhan produktivitas di antara wilayah tersebut. Hasil lainnya

menunjukkan bahwa perbedaan pertumbuhan di wilayah Amerika Serikat

terutama disebabkan oleh perbedaan pertumbuhan tenaga kerja dan lebih jauh

lagi oleh perbedaan pertumbuhan stok modal.

Adapun persamaan dalam penelitian ini adalah sama–sama meneliti

pertumbuhan ekonomi pada suatu wilayah dengan menggunakan pengaruh

knowledge spillover. Sedangkan perbedaan penelitian yang dilakukan adalah

ruang lingkup negara, wilayah, periode tahunan dan menggunakan variabel

(38)

Analisis knowledge spillovers pada industri manufaktur untuk ketiga teori

di atas secara ringkas ditunjukkan pada Tabel 2.1 di bawah ini. Tabel tersebut

merupakan resume tentang variabel-variabel knowledge spillover dan indikator

pegukurannya serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.

Tabel 2.1

Analisis Knowledge Spillovers Pada Industri Manufaktur

di Jawa Timur

Variabel Cara Mengukur Pengaruhnya terhadap

Pertumbuhan ekonomi Spesialisasi Pangsa Pendapatan Daerah Regional Bruto

sektor Indutri

MAR-positif Porter-positif Diversifikasi Persebaran sektor industri Jacobs-positif

Kompetisi Daya saing sektor industri secara regional MAR-negatif Porter-positif

1. knowledge spillover diduga mempunyai pengaruh yang signifikan pada

industri manufaktur di Jawa Timur.

2. knowledge spillovers diduga mempunyai pola pertumbuhan yang

(39)

2.3.2. Model Analisis

Dalam Melakukan analisis knowledge spillover pada industri Manufaktur

di Jawa Timur terdapat variabel yang terdiri atas satu variabel terikat dan empat

variabel bebas, sehingga dalam analisis digunakan model analisis regresi linier

berganda untuk melihat hubungan antar variabel bebas dan terikat. Adapun

bentuk persamaan model linear berganda tersebut adalah :

y = γ0 + γ1(X1) + γ2(X2) + γ3(X3) + γ4 (X4)+ D+ ε

Dimana : y = Pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur

X1 = variabel Spesialisasi

X2 = variable Diversifikasi

X3 = variable Kompetisi

X4 = FDI (Foreign Direct Investment)

D = Dummy Variabel

γ0 = Konstanta/intercept

γ1- γ4 = Koefisien regresi variabel bebas

(40)

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Pendekatan

kuantitatif dilakukan dengan metode regresi OLS dan beberapa metode

ekonometri. Sedangkan pendekatan deskriptif akan digunakan untuk membahas

interprestasi lebih lanjut dari hasil-hasil penelitian yang diperoleh dari hasil

analisis kuantitatif. Sehingga akan diperoleh kesimpulan pengaruh knowledge

spillovers terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Timur tahun 1995-2005.

3.2 Identifikasi Variabel

Berdasarkan model analisis yang dirumuskan sebelumnya dilakukan

identifikasi variabel. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini

terdiri dari variabel tergantung (dependent variable) dan variabel bebas

(independent variable). Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini

adalah spesialisasi(X1), diversifikasi(X2), kompetisi(X3), DFI (Direct Foreign

Investment)(X4). Sedangkan variabel tergantung pertumbuhan ekonomi di Jawa

(41)

3.3 Definisi Operasional

Definisi operasional adalah batasan dan penjelasan mengenai beberapa

variabel yang terdapat pada hipotesis. Dalam skripsi ini definisi operasioanal

meliputi :

1. periode penelitian ini adalah tahun 1995 – 2005

2. pertumbuhan ekonomi (y) adalah tingkat pertumbuhan ekonomi di provinsi

Jawa Timur, yang diukur dari jumlah seluruh nilai tambah PDRB riil yang

ditimbulkan oleh berbagai sektor atau lapangan usaha di Jawa Timur.

3. Spesialisasi (X1), adalah suatu bentuk pembagian tenaga kerja dari suatu

aktivitas ekonomi di mana individu atau perusahaan memusatkan usaha-usaha

produktif mereka pada sebuah kegiatan atau sejumlah kegiatan-kegiatan

terbatas agar menjadi lebih efisien. Spesialisasi di hitung dari rasio persentase

PDRB sektor industri pengolahan di Jawa Timur dibagi dengan total PDRB

Jawa Timur terhadap rasio persentase PDB sektor industri di Indonesia dibagi

dengan total PDB Indonesia.

4. Diversifikasi (X2) diukur dengan menggunakan indeks Hirschman Herfindahl

(IHH) sektor industri pengolahan di Jawa Timur. Semakin besar nilai IHH

menunjukkan tingkat penyebaran yang semakin rendah, demikian sebaliknya.

5. Kompetisi (X3) diukur denganmenggunakan perhitungan concentration rasio

(42)

6. Foreign Direct Investment (FDI) (X4) adalah nilai investasi penanaman

modal luar negeri di Jawa Timur.

3.4 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) kota Surabaya, Bank Indonesia berupa

data laporan tahunan, serta beberapa sumber lain yang dipublikasikan. Data yang

digunakan adalah data deret waktu (time series) dengan periode 1995-2005.

1. Data PDRB sektor dan subsektor industri pengolahan di 37 kabupaten/kota di

Jawa Timur tahun 1995-2005 yang diperoleh dari data dan informasi PDBR

atas dasar harga berlaku periode 1995-2005 terbitan Biro Pusat Stastistik

Jawa Timur.

2. Data PDRB atas dasar harga konstan Jawa Timur tahun 1995-2005 yang

diperoleh dari data dan informasi PDRB total atas dasar harga berlaku periode

1995-2005 terbitan Biro Pusat Stastistik Jawa Timur.

3. Data PDB industri total PDB Indonesia atas dasar harga berlaku periode

1995-2005 terbitan biro pusat statistik

4. Data Investasi asing di Jawa Timur periode 1995-2005 terbitan Bank

Indonesia.

3.5 Prosedur Pengumpulan Data

Prosedur pengumpulan data yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini

(43)

kuantitatif yang merupakan data sekunder, dikumpulkan melalui teknik

pengumpulan data dari BPS kota Surabaya dan Bank Indonesia kota Surabaya.

Proses dokumentasi juga dilakukan melalui pengumpulan jurnal-jurnal dari

dalam negeri maupun luar negeri, karya ilmiah serta penelitian sebelumnya

dengan topik knowledge spillovers. Proses ini dilakukan untuk memahami

permasalahan yang diteliti dan juga sebagai alternatif pemecahan.

3.6 Teknik Analisis

Sebelum beberapa variabel bebas (4 variabel bebas) tersebut diolah

dengan menggunakan tehnik analisis statistik, terlebih dahulu dilakukan

perhitungan pada masing-masing nilai variabel bebas tersebut, yaitu :

1.

(44)

Berdasarkan model yang dipergunakan, maka estimasi parameter dari

model diperoleh dengan menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS).

Metode ini digunakan sebagai metode penaksiran untuk mendapatkan parameter

yang seakurat mungkin, yaitu dengan meminimalkan jumlah kuadrat kesalahan

dari residual.

Metode OLS mempunyai beberapa asumsi dan beberapa sifat statistik

yang sangat menarik sehingga menjadi salah satu metode analisis regresi yang

paling populer (Gujarati, 1995: 34-62). Oleh karena itu, setelah dilakukan regresi

maka akan dilakukan pengujian terhadap beberapa asumsi-asumsi yang

mendasari teknik OLS sebagai berikut:

1. Heteroskedastisitas, yang berarti varians kesalahan tidak sama untuk setiap

pengamatan, ini disebabkan oleh varians residualnya tidak minimum.

2. Non Autokorelasi, yaitu bahwa gangguan dari suatu observasi tidak berkorelasi

dengan gangguan di observasi lainya. Asumsi ini menegaskan bahwa nilai

variabel terikat lainya hanya diterangkan (secara matematis) oleh variabel

bebas dan bukan oleh gangguan.

3. Multikolinearitas, situasi dimana nilai-nilai pengamatan dari variabel bebas

(X1,X2,X3,... Xn) mempunyai hubungan yang kuat (korelasi linear)

sehingga variabel X tertentu tidak begitu besar mempengaruhi Y, tetapi justru

variabel X tersebut dipengaruhi oleh variabel bebas lainnya.

Suatu model yang baik harus memenuhi asumsi-asumsi klasik tersebut agar

dapat digunakan untuk dapat menarik kesimpulan. Apabila suatu model

(45)

menarik kesimpulan. Dari hasil regresi atau estimasi dengan menggunakan

metode OLS maka akn diperoleh r (koefisien korelasi) untuk mengukur

hubungan variabel tergantung dengan variabel bebas secara bersama-sama,

koefisien determinasi ( R2)adalah untuk menentukan apakah variabel

independentnya dapat menerangkan variabel dependennya dengan baik. Nilai

R2 berkisar antara 0-1. suatu model regresi apabila R2 mencapai angka 1 maka

variabel independennya dapat menerangkan variabel dependen dengan

sempurna. Sebaliknya apabila R2 mencapai angka 0 berarti variabel

independennya tidak dapat atau lemah dalam menerangkan variabel

dependen.

4. Gangguan didistribusikan menurut distribusi normal. Asumsi ini diperlukan

untuk peramalan dan pengujian hipotesis.

5. NonMultikoleniaritas, terjadi korelasi antar variabel bebas.

Suatu model yang baik harus memenuhi asumsi-asumsi klasik tersebut agar

dapat digunakan untuk menarik kesimpulan, apabila model tersebut memiliki

gangguan maka hasil yang diperoleh tidak dapat digunakan untuk menarik

kesimpulan. Koefisien regresi yang telah diperoleh nantinya harus di uji

tingkat signifikannya. Untuk membuktikan bahwa koefisien regresi suatu

model regresi itu secara statistik signifikan atau tidak, dipakai dua cara

pengujian yaitu uji F terhadap nilai koefisien secara simultan dan uji t

terhadap nilai secara parsial.

(46)

Uji statistik thitung digunakan untuk mengetahui apakah variabel bebas yang

dimasukan dalam model secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap

variabel terikat. Pertama, membandingkan thitung, dengan ttabel. Thitung didapat dari

hasil perhitungan dengan menggunakan program Eviews di komputer. Sedangkan

nilai ttabel didapat dengan memperhatikan jumlah observasi atau pengamatan(n)

dan derajat kebebasan (n-k-1), dan menggunakan tingkat kepercayaan (1%, 5%,

10%). Jika thitung lebih besar dari ttabel maka variabel bebas yang bersangkutan

secara parsial memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Sebaliknya,

jika thitung lebih kecil dari tabel maka variabel bebas yang bersangkutan secara

parsial tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

Metode kedua, dengan membandingkan nilai probabilitas parsial dengan

tingkat kepercayaan (1%, 5%, 10%). Jika probababilitas variabel bebas yang

bersangkutan lebih kecil dan tingkat kepercayaan maka secara parsial variabel

bebas tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Sebaliknya

jika probabilitas variabel bebas yang bersangkutan lebih besar dari tingkat

kepercayaan yang digunakan maka variabel bebas yang bersangkutan tidak

memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat

3.6.2. Uji F (Uji Simultan)

Kegunaan uji F adalah untuk menentukan signifikan atau tidak

signifikannya suatu variabel bebas secara bersama-sama dalam mempengaruhi

variabel tidak bebas.

(47)

H0 : b1...= bk = 0

Ha : b1...≠ bk ≠ 0

Metode yang dipakai yaitu dengan membandingkan nilai probabilitas

kesalahan dengan tingkat kepercayaan yang digunakan (1%, 5 %, 10%). Jika

probabilitas kesalahan lebih besar daripada tingkat kepercayaan maka variabel

bebas yang dimasukan dalam model secara bersama-sama tidak memiliki

pengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Sebaliknya jika kesalahan lebih

kecil dari tingkat kepercayaan maka variabel bebas yang dimasukan dalam model

secara besama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

Selanjutnya, untuk lebih memperkuat hasil analisis yang telah didapat,

dari persamaan regresi diatas maka dapat diadakan uji gejela penyimpangan

regresi (Uji Asumsi Klasik). Tiga yang sangat berpengaruh terhadap hasil regresi

adalah seperti yang diuraikan berikut.

3.6.3. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas merupakan hubungan linear (korelasi) antar variabel

bebas. Cara untuk mendeteksi adanya gejela multikolinearitas adalah model

mumpunyai koefisien determinasi yang tinggi (R2) tetapi sedikit variabel bebas

yang signifikan mempengaruhi variabel terikat melalui uji t. Namun berdasarkan

uji F secara statistik signifikan yang berarti semua variabel bebas secara

bersama-sama mempengaruhi variabel terikat. (Widarjono, 2005 : 114).

Selain itu gejela multikolinearitas dapat dilihat dengan uji Pairwise

(48)

masing-masing variabel bebas lebih dari 0,8 maka multikolinearitas terjadi antara

masing-masing variabel tersebut.

3.6.4. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas merupakan situasi tidak konstannya varian dari

residual suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Konsekuensi terjadinya

heteroskedastisitas adalah uji signifikansi terhadap model menjadi invalid. Ada

beberapa cara untuk mendeteksi masalah heteroskedastisitas dalam model

empiris. Para ahli ekonometrika menyarankan beberapa metode untuk mendeteksi

ada tidaknya masalah heteroskedastisitas, yaitu dengan menggunakan uji Park,

uji Glejser, uji White. Dalam penelitian ini untuk mendeteksi ada tidaknya

masalah heteroskedastisitas dalam model yang sedang diestimasi digunakan uji

White (White`s Heteroscedasticity). Pedoman dari penggunaan model White

adalah Hipotesis nol (H0) menyatakan kondisi homosketastisitas terpenuhi (tidak

terdapat masalah heteroskedastisitas), sedangkan hipotesis alternatif menyatakan

kondisi homoskedastisitas tidak terpenuhi (terdapat masalah heteroskedastisitas).

Uji White dapat dilakukan secara langsung dalam pemograman Eviews 4.1. Dasar

pengambilan keputusan adalah dengan melihat nilai probabilitas (P-Value).

Apabila nilai probabiltas dari Obs*R-squared menunjukan kondisi yang tidak

signifikan dan menunjukan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas

(49)

3.6.5. Uji Autokorelasi

Autokorelasi adalah dimana suatu keadaan dimana variabel-variabel

gangguan pada periode tertentu berkorelasi dengan varibel gangguan pada

periode lain. Keadaan tersebut menyebabkan nilai R2 dan Fhitung cenderung

berlebihan. Masalah ini timbul karena residual tidak bebas dari satu residual ke

residual lainnya. Pendeteksian autokorelasi antara lain dapat menggunakan uji d

Durbin Watson (Durbin-Watson d Test) . uji Breusch-Godfrey Lagrange

Multiplier. Dalam penelitian ini, untuk mendeteksi ada tidaknya masalah

autokorelasi digunakan uji Breusch-Godfrey Lagrange Multiplier adalah

Hipotesis nol (H0) menyatakn bahwa tidak terdapat masalah autokorelasi

sedangkan hipotesis alternatif (Ha) menyatakan bahwa ada masalah autokorelasi.

Dasar pengambilan keputusan adalah dengan melihat nilai probabilitas dari

Obs*R-squared menunjukan kondisi yang tidak signifikan menunjukan bahwa

tidak terdapat masalah heteroskedastisitas pada hasil estimasi.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

(50)

4.1.1. Kondisi Geografis

Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang terletak di pulau

Jawa. Di pulau Jawa terdapat beberapa provinsi, yaitu Jawa Tengah, Daerah

Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Provinsi Jawa Timur

terletak pada koordinat 111,0’- 114,4’ Bujur Timur dan 7,12’- 8,48’ Lintang

Selatan. Batas wilayah Provinsi Jawa Timur yaitu: sebelah utara berbatasan

dengan pulau Kalimantan (Kalimantan Selatan), sebelah selatan berbatasan

dengan perairan terbuka Samudra Indonesia, sebelah timur berbatasan dengan

Pulau Bali, dan sebelah barat berbatasan dengan provinsi Jawa Tengah.

Luas wilayah provinsi Jawa Timur secara keseluruhan mencapai

46.428,57 km2 dan terbagi atas dua wilayah besar yaitu Jawa Timur daratan dan

kepulauan Madura. Wilayah Jawa Timur daratan mempunyai luas wilayah sekitar

90 persen dari keseluruhan luas provinsi Jawa Timur atau sekitar 41.785,71 km2

dan wilayah kepulauan Madura hanya sekitar 10 persen dari keseluruhan luas

Provinsi Jawa Timur atau sekitar 4642,86 km2. Lebih lanjut, wilayah provinsi

Jawa Timur dibagi menjadi tiga dataran yang dikategorikan sebagai berikut:

1. Dataran tinggi (lebih dari 100m di atas permukaan air laut), yang meliputi

kab. Trenggalek, kab. Blitar, kab. Bondowoso, kab. Magetan, kab.

Malang, kota Blitar, kota Malang, dan kota Batu.

2. Dataran sedang (45-100m di atas permukaan air laut) yang meliputi kab.

Ponorogo, kab Tulungagung, kab. Lumajang, kab. Jember, kab. Ngawi,

(51)

3. Dataran rendah (dibawah 45m di atas permukaan air laut) yang meliputi

16 kabupaten dan 4 kota lainnya.

Sedangkan berdasarkan letak geografis, kondisi sosio-kultur, potensi

alam, dan infrastruktur, provinsi Jawa Timur terbagi menjadi empat bagian, yaitu

bagian Utara dan Pulau Madura, bagian Tengah, bagian Selatan-Barat, dan

bagian Timur. Bagian Utara dan Pulau Madura merupakan daerah pantai dan

dataran rendah serta pegunungan kapur yang relatif kurang subur. Bagian

Tengah merupakan daerah dataran rendah dengan perbukitan dan gunung-gunung

berapi yang relatif subur serta memiliki infrastruktur yang sudah tertata dengan

baik. Bagian Selatan-Barat merupakan daerah pegunungan dengan

gunung-gunung berbatu dan kapur yang relatif kurang subur tetapi memiliki potensi

tambang yang besar. Bagian Timur sebagai wilayah penghubung Indonesia

Bagian Timur dan berdekatan dengan pulau Bali yang merupakan objek wisata

internasional.

Secara administratif provinsi Jawa Timur terbagi menjadi 38

kabupaten/kota yang terdiri atas 29 kabupaten dan 9 kota. Ibukota Provinsi Jawa

Timur adalah kota Surabaya yang merupakan daerah potensial karena memiliki

pelabuhan laut dan udara yang memungkinkan untuk menjadi pusat pertumbuhan

di kawasan Indonesia Bagian Timur dan mampu mengembangkan

wilayah-wilayah lain di sekitarnya.

4.1.2. Kondisi Perekonomian

Indikator pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dapat dilihat dari nilai

(52)

konstan. Produk Domestik Regional Bruto merupakan keseluruhan nilai tambah

atau pendapatan yang timbul akibat adanya aktifitas sektor-sektor ekonomi di

suatu daerah (BPS, 2003). Nilai PDRB dalam suatu periode waktu tertentu

menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya yang

dimiliki menjadi suatu proses produksi. Nilai PDRB Jawa timur memiliki

kecenderungan pertumbuhan yang selalu meningkat dari tahun ke tahun.

PDRB Jawa Timur terdiri dari 9 sektor ekonomi. Sektor yang memiliki

kontribusi cukup besar terhadap pembentukan nilai PDRB Jawa Timur adalah

industri pengolahan. Sektor industri pengolahan Jawa Timur memiliki peranan

penting, baik terhadap pembentukan nilai PDRB Jawa Timur, maupun terhadap

pembentukan sektor industri pengolahan di tingkat nasional. Sektor industri

pengolahan Jawa Timur menyumbang nilai tambah sekitar 20 persen dari nilai

tambah industri pengolahan di Indonesia (Dick,1993: 230-255). Sektor lain yang

memiliki kontribusi cukup besar di Jawa Timur adalah sektor perdagangan, hotel

Gambar

Tabel 2.1
Tabel 4.1PDRB Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000 Provinsi Jawa Timur Menurut Sektor
Tabel 4.2
Tabel 4.5
+6

Referensi

Dokumen terkait

Padahal di DKI Jakarta Sendiri, terdapat 3(tiga) Instansi Badan Narkotika Nasional yaitu Badan Narkotika Nasional Pusat, Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta,

 Dalam welfare state, hak kepemilikan diserahkan kepada swasta sepanjang hal tersebut memberikan insentif ekonomi bagi pelakunya dan tidak merugikan secara sosial,

Alat pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan memakai penelitian kepustakaan (library research) untuk memperoleh data primer, yaitu pengumpulan data primer

a) Kontrak kuliah dilakukan di awal kuliah, dengan cara kesediaan mengikuti aturan perkuliahan di FIB, sekaligus dosen yang bersangkutan mendapatkan jadwal kuliah yang

Inkubasi tabung mikrosentrifus kedua selama 10 menit pada temperatur ruang (bolak-balikkan tabung 2-3 kali selama masa inkubasi) untuk melisis sel-sel darah

Faktor teknis adalah segala persyaratan yang harus dipenuhi dalam kegiatan pembenihan ikan kerapu macan yang berhubungan langsung dengan aspek teknis dalam

Sedangkan upaya sekolah yang dilakukan untuk mengatasi kendala dalam kegiatan tidak terprogram (kegiatan rutin, kegiatan spontan, kegiatan keteladanan) yaitu; (a)

Sistem informasi perpustakaan sekarang ini sangatlah penting untuk sekolah, instansi maupun pihak lainnya, dengan menggunakan sistem informasi perpustakaan, proses peminjaman,