• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA SEMANGGI KOTA SURAKARTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA SEMANGGI KOTA SURAKARTA"

Copied!
126
0
0

Teks penuh

(1)

KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA SEMANGGI

KOTA SURAKARTA

Renny Waskita Asri

D0108098

SKRIPSI

Disusun Guna Memenuhi Syarat-syarat Untuk Mencapai

Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Jurusan Ilmu Administrasi

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(2)

KEPUASAN PENGHUNI RUSUNAWA SEMANGGI

KOTA SURAKARTA

Renny Waskita Asri

D0108098

SKRIPSI

Disusun Guna Memenuhi Syarat-syarat Untuk Mencapai

Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Jurusan Ilmu Administrasi

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(3)
(4)
(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul : “Kepuasan Penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta.”

Adalah karya asli saya dan bukan plagiat baik secara utuh atau sebagian dan belum

pernah diajukan untuk memperoleh gelar akademik di institusi lain.

Saya bersedia menerima akibat dicabutnya gelar kesarjanaan apabila ternyata di

kemudian hari terdapat bukti yang kuat bahwa karya tersebut ternyata bukan karya

yang asli atau sebenarnya.

Surakarta, Januari 2013

(6)

MOTTO

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S. Al Baqarah : 286)

“Orang yang menyerah adalah orang tak tahu seberapa dekat dirinya dengan titik kemenangan saat dia memutuskan untuk menyerah.”

(Thomas Alfa Edison)

“Konsentrasikan seluruh pikiran anda pada pekerjaan yang anda lakukan. Sinar matahari tak akan membakar sesuatu jika tidak fokus.”

(Alexander Graham Bell)

“Kesuksesan tidak diukur dari apa yang telah anda selesaikan, namun melalui perlawanan yang telah anda hadapi, dan keberanian anda mempertahankan

perjuangan melawan rintangan yang sangat besar.” (Orison Sweet Marden)

“Life is not about who you are. Life is about your choice. If you’ve choosed, just go on. Don’t be scared. Hurt will let you know anything may not be done twice.”

(7)

PERSEMBAHAN

Karya kecil ini penulis persembahkan kepada:

 Kedua orang tuaku atas doa, kasih sayang, nasihat, dukungan, dan serta pelajaran hidup yang tiada ternilai.

 Adikku tercinta atas keceriaan dan semangat yang tak pernah padam.

 Keluarga besarku yang selalu menyayangi dan mendoakanku.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kekuatan dan berkat yang

diberikan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyusunan skipsi yang berjudul “Kepuasan Penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta ini merupakan tugas akhir penulis dalam menyelesaikan studi dan

memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana sosial di Program Studi

Ilmu Administrasi Negara, Jurusan Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik (FISIP), Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.

Dalam kesempatan ini dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati, penulis

menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, mengarahkan

dan memberi dorongan hingga tersusunnya skripsi ini. Penulis mengucapkan terima

kasih kepada :

1. Drs, Sudarto, M.Si selaku Pembimbing, yang senantiasa memberi bimbingan,

arahan, dan motivasi dengan sabar dan ikhlas sehingga penulis mampu

menyelesaikan skripsi ini.

2. Drs. Is Hadri Utomo, M.Si dan Dra. Sudaryanti, M.Si selaku Ketua dan

Sekretaris Jurusan Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

mendukung dan membantu penulis selama perkuliahan selama ini.

6. Toto Jayanto, SH, M.Hum selaku Kepala UPTD Rumah Sewa dan seluruh staf

UPTD Rumah Sewa yang telah memberi bantuan, informasi, dan semua hal yang

(9)

7. Penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta selaku responden penelitian yang

telah memberikan waktu serta pendapat selama proses penelitian dilakukan.

8. Mulyadi, BA dan Tarni, SE orang tua tercinta yang telah memberikan doa, kasih

sayang, dukungan, dan motivasi yang tak ternilai harganya. Terima kasih Bapak

Ibu.

9. Ardian Benny Waskita, adik tercinta atas semangat yang diberikan.

10.Keluarga besar Parto Dikromo dan Karso Wiyono atas doa dan dukungannya

kepada penulis.

11.Teman-teman terbaik Rizqi Luthfiana, Vina Andriyani, Cherelia Dinar dan Rizka

Ayu, terima kasih telah memberi banyak inspirasi. Mari berjuang di pilihan

hidup kita masing-masing kawan. Suatu saat kita akan berkumpul kembali

membawa kemenangan yang kita impikan.

12.Sahabat-sahabatku tersayang Anindar Gita, Yostine Uthami, Eva Yulia, Lora

Mira Zika, Dwi Surya, Andhy Eko dan Mayang Djatu atas keceriaan dan canda

tawa yang kita bagi bersama. Terima kasih atas waktu, doa, bantuan dan

dukungan dalam pengerjaan skripsi ini.

13.Rekan-rekan AN B 2008 yang banyak berbagi pemikiran dan pembelajaran.

Maju terus teman. Sukses selalu.

14.Seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam proses

pengerjaan skripsi ini.

Penulis menyadari sepenuhnya akan keterbatasan dan kemampuan dalam

skripsi ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran yang

membangun sangat diharapkan. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi

semua pihak. Amin.

Surakarta, Januari 2013

(10)

DAFTAR ISI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR ... 6

(11)

BAB III METODE PENELITIAN ... 31

A. Lokasi Penelitian ... 31

B. Jenis Penelitian ... 31

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 32

D. Sumber Data Penelitian ... 34

E. Teknik Pengumpulan Data ... 35

F. Skala Pengukuran ... 36

G. Uji Validitas Instrumen ... 37

H. Uji Reliabilitas Instrumen ... 41

I. Teknik Analisis Data ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 46

A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 46

B. Karakteristik Responden ... 58

C. Analisis Kepuasan Penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta ... 61

BAB V PENUTUP ... 107

A. Kesimpulan ... 107

B. Saran ... 107

C. Keterbatasan Penelitian ... 108

DAFTAR PUSTAKA ... 109

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 : Laporan Keluhan Penghuni Rusunawa Semanggi ... 4

Tabel 2.1 : Tabel Operasional Variabel ... 28

Tabel 3.1 : Pengujian Validitas Lingkungan Rusunawa………. 38

Tabel 3.2 : Pengujian Validitas Lingkungan Rusunawa setelah pernyataan nomor 6 dibuang ………. 39

Tabel 3.3 : Pengujian Validitas Persyaratan Keselamatan Bangunan……… 40

Tabel 3.4 : Pengujian Validitas Persyaratan Kesehatan Bangunan……… .... 40

Tabel 3.5 : Pengujian Validitas Ketersediaan Air Bersih……… ... 41

Tabel 3.6 : Pengujian Reliabilitas……… ... 42

Tabel 4.1 : Data Rusunawa Semanggi……… ... 49

Tabel 4.2 : Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin……… ... 58

Tabel 4.3 : Karakteristik Responden Berdasarkan Usia……… ... 58

Tabel 4.4 : Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir……… 59

Tabel 4.5 : Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan……… .... 60

Tabel 4.6 : Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Penghasilan……… . 60

Tabel 4.7 : Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Menempati Rusun………… . 61

Tabel 4.8 : Nilai Indikator Lingkungan Rusunawa………… ... 62

Tabel 4.9 : Distribusi Frekuensi Butir Lokasi Rusunawa Semanggi………… ... 63

Tabel 4.10 : Distribusi Frekuensi Butir Jarak Rusunawa Ke Sekolah………… ... 64

Tabel 4.11 : Distribusi Frekuensi Butir Ketersediaan Tempat Ibadah………… ... 65

Tabel 4.12 : Distribusi Frekuensi Butir Jarak Rusunawa ke Rumah Sakit/ Puskesmas. 66

(13)

Tabel 4.14 : Distribusi Frekuensi Butir Ketersediaan Tempat Bermain………… ... 68

Tabel 4.15 : Distribusi Frekuensi Butir Ketersediaan Ruang Untuk Olahraga……… ... 69

Tabel 4.16 : Distribusi Frekuensi Butir Ketersediaan Tempat Pemakaman Umum…… 70

Tabel 4.17 : Distribusi Frekuensi Butir Jarak Rusunawa ke Kantor Pemerintahan…… 71

Tabel 4.18 : Distribusi Frekuensi Butir Ketersediaan Jalan Penghubung ke Jalan Raya………… ... 72

Tabel 4.19 : Distribusi Frekuensi Butir Fungsi Saluran Air di Rusunawa………… ... 73

Tabel 4.20 : Distribusi Frekuensi Butir Kelancaran Saluran Pembuangan Limbah………… ... 74

Tabel 4.21 : Distribusi Frekuensi Butir Ketercukupan Tempat Pembuangan………… 75

Tabel 4.22 : Distribusi Frekuensi Butir Kesesuaian Kebutuhan Pasokan Listrik………… ... 76

Tabel 4.23 : Distribusi Frekuensi Butir Ketersediaan Jaringan Telepon………… ... 77

Tabel 4.24 : Distribusi Frekuensi Butir Ketersediaan Jaringan Gas………… ... 78

Tabel 4.25 : Distribusi Frekuensi Butir Ukuran Per Unit………… ... 79

Tabel 4.26 : Distribusi Frekuensi Butir Tata Letak Antar Ruangan Per Unit………… . 80

Tabel 4.27 : Distribusi Frekuensi Butir Sekat Antar Ruangan Per Unit………… ... 81

Tabel 4.28 : Nilai Indikator Persyaratan Keselamatan Bangunan………… ... 82

Tabel 4.29 : Distribusi Frekuensi Butir Struktur Bangunan Rusunawa………… ... 83

Tabel 4.30 : Distribusi Frekuensi Butir Struktur Atas Bangunan Berkontruksi Baja dan Beton………… ... 84

Tabel 4.31 : Distribusi Frekuensi Butir Pondasi Struktur Bawah Bangunan………… . 85

Tabel 4.32 : Distribusi Frekuensi Butir Sistem Deteksi Terhadap Kebakaran………… 86

Tabel 4.33 : Distribusi Frekuensi Butir Alat Pemadam Kebakaran Darurat………… .. 87

(14)

Tabel 4.35 : Distribusi Frekuensi Butir Pemasangan Instalasi Listrik………… ... 89

Tabel 4.36 : Distribusi Frekuensi Butir Keberadaan Meteran Listrik Pada Setiap Unit………… ... 90

Tabel 4.37 : Nilai Indikator Persyaratan Kesehatan Bangunan………… ... 91

Tabel 4.38 : Distribusi Frekuensi Butir Sistem Pencahayaan………… ... 92

Tabel 4.39 : Distribusi Frekuensi Butir Sistem Pertukaran Udara………… ... 93

Tabel 4.40 : Distribusi Frekuensi Butir Jendela/Ventilasi Untuk Pertukaran Udara………… ... 94

Tabel 4.41 : Distribusi Frekuensi Butir Perolehan Sumber Air Minum yang Digunakan di Rusunawa………… ... 95

Tabel 4.42 : Distribusi Frekuensi Butir Persyaratan Kesehatan Sumber Air Minum yang Digunakan………… ... 96

Tabel 4.43 : Distribusi Frekuensi Butir Saluran Pembuangan Air Limbah………… .... 97

Tabel 4.44 : Distribusi Frekuensi Butir Pembuangan Air Hujan Melalui Parit/Gorong-Gorong………… ... 98

Tabel 4.45 : Distribusi Frekuensi Butir Tempat Penampungan Sampah Masing-Masing Blok………… ... 99

Tabel 4.46 : Distribusi Frekuensi Butir Pemakaian Bahan Bangunan yang Digunakan………… ... 100

Tabel 4.47 : Distribusi Frekuensi Butir Penggunaan Bahan Bangunan Ramah Lingkungan………… ... 101

Tabel 4.48 : Nilai Indikator Ketersediaan Air Bersih………… ... 102

Tabel 4.49 : Distribusi Frekuensi Butir Kelayakan Sumber Air Sumur di Rusunawa………… ... 103

Tabel 4.50 : Distribusi Frekuensi Butir Kebersihan Sumber Air Sumur Rusunawa………… ... 104

(15)
(16)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 : Kerangka Berfikir Kepuasan Penghuni Rusunawa Semanggi Kota

Surakarta ... 26

Gambar 4.1 : Peta Lokasi Rusunawa Semanggi ... 47

(17)

ABSTRAK

Renny Waskita Asri. D0108098. Kepuasan Penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta. Skripsi. Jurusan Ilmu Administrasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. 2013. 110 halaman.

Pembangunan rumah susun merupakan salah satu solusi kebutuhan perumahan yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Rusunawa Semanggi merupakan salah satu rusunawa yang dibangun di Kota Surakarta dan menjadi proyek percontohan bagi pembangunan rusunawa yang lain, meski masih terdapat beberapa keluhan dari penghuni rusunawa diantaranya bangunan banyak yang bocor dan air yang tidak layak konsumsi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kepuasan penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta yang menempati setiap unit rusunawa sebesar 196 unit. Jumlah sampel yang diambil dengan menggunakan tingkat kepercayaan 90% yaitu sebanyak 66 responden. Pengambilan sampel dilakukan secara simpel random sampling. Hasil uji coba instrumen menunjukkan bahwa instrument digunakan valid dengan koefisien korelasi 0,361 dan reliabel dengan nilai alpha 0,361.

(18)

ABSTRACT

Renny Waskita Asri. D0108098. The Residents’ Satisfaction Rusunawa

Semanggi of Surakarta City. Thesis. Administration Science Department. Social and Political Sciences Faculty. Sebelas Maret University. Surakarta. 2013. 110 pages.

Multi-storied house development is one of solutions to the housing demand intended to the low-income society. Rusunawa Semanggi (Semanggi Multistoried House) is one of rusunawas built in Surakarta City and becomes modeling project for other rusunawa construction, despite some grievances from the residents of rusunawa such as leaked building and not feasible to consume-water. This research was conducted to find out the extent to which the residents are satisfied in Rusunawa Semanggi of Surakarta City.

This study was a quantitative research. The population of research was the residents of Rusunawa Semanggi of Surakarta City occupying every unit of rusunawa consisting of 196 units. The sample was taken using confidence level of 90%, consisting of 66 respondents. The sampling technique used was simple random sampling. The result of instrument tryout showed that the instrument used was valid with correlation coefficient of 0.361 and reliable with alpha value of 0.361.

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain makanan

dan pakaian. Rumah digunakan sebagai tempat berteduh, berlindung dan

berinteraksi antar sesama anggota keluarga dalam suatu tatanan kehidupan.

Rumah juga berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang dimana

pembentukan karakter seseorang ini pada akhirnya akan menjadi identitas bangsa.

Rumah atau disebut tempat tinggal merupakan hak bagi setiap warga

Negara, sebagaimana diatur dalam pasal 28H ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi :

Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan

mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh

layanan kesehatan.”

Lebih lanjut dijelaskan dengan ketentuan Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman pada Pasal

5 Ayat 1 yang bunyinya : “Setiap warga Negara mempunyai hak untuk

menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah rumah yang layak

dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur.”

Untuk memenuhi hak setiap warga negara akan perumahan, pemerintah

berusaha mewujudkan rumah bagi masyarakat terutama perumahan yang dapat

(20)

yang timbul disini pemerintah selalu dihadapkan pada permasalahan keterbatasan

luas tanah yang tersedia untuk pembangunan terutama di daerah perkotaan yang

berpenduduk padat. Untuk mengatasinya, pemerintah berusaha untuk membangun

rumah susun. Pemerintah membangun rumah susun untuk kalangan masyarakat

berpenghasilan rendah tetapi layak huni.

Pembangunan rusun diatur dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2011

tentang Rumah Susun (Rusun) disebutkan dalam Pasal 1 Ayat 1 bahwa : “Rusun

adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang

terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional, baik dalam

arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang

masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat

hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah

bersama.”

Rumah susun (rusun) memiliki dua tipe. Pertama, rumah susun dengan

sistem sewa dan sistem kepemilikan. Akan tetapi, rumah susun yang dibangun di

Kota Surakarta lebih dominan pada rumah susun dengan sistem sewa atau

rusunawa (rumah susun sederhana sewa).

Selama kurang lebih satu dekade ini, pemerintah Kota Surakarta telah

banyak melakukan pembangunan rumah susun, terutama rumah susun dengan

sistem sewa. Rusunawa yang telah dibangun di Kota Surakarta diantaranya

(21)

Rusunawa Jurug. Selain itu, menurut keterangan pihak UPTD Rumah Sewa

pemerintah akan terus melakukan pembangunan rumah susun karena tingginya

permintaan masyarakat akan keberadaan rusunawa. Hal ini terlihat dari

banyaknya daftar tunggu (waiting list) masyarakat yang ingin menjadi menempati

rumah susun. Tak bisa dipungkiri, keberadaan rusunawa bagi masyarakat yang

tak memiliki tempat tinggal dinilai meringankan beban mereka dalam kebutuhan

perumahan yang layak. Masyarakat menilai menyewa di rusunawa jauh lebih

murah daripada menyewa rumah di luar lingkungan rusunawa. Sehingga

rusunawa yang telah dibangun dan sudah ditempati seperti Rusunawa Begalon I

& II dan Rusunawa Semanggi selalu terisi penuh.

Namun demikian, pembangunan rumah susun sebagai salah satu solusi

tempat hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah bukanlah tanpa

permasalahan. Permasalahan yang sering muncul dalam pembangunan rusun

yakni pembangunan yang cenderung mengabaikan kualitas. Rusunawa memang

diperuntukkan untuk masyarakat kecil yang memiliki penghasilan rendah. Namun

dalam pembangunannya diharapkan rumah susun ini memiliki kualitas yang baik.

Rumah susun dengan kualitas baik disamping memberikan kepuasan bagi

penghuninya juga merupakan aset jangka panjang. Hal ini dikarenakan

pembangunan rumah susun diambil dari dana APBN maupun APBD dengan

jumlah yang tidak sedikit. Untuk itu, pemerintah mengharapkan adanya

(22)

pembangunanannya memberikan kualitas bangunan yang baik. Begitu pula

setelah masa penyerahan dan pemeliharaan diharapkan pemerintah daerah

ataupun SKPD yang terkait dibantu dengan penghuni rusun bersama-sama ikut

dalam memelihara rumah susun. Selain itu, faktor penting lainnya yang perlu

diperhatikan dalam sebuah rusunawa yakni kelengkapan fasilitas pendukung

bangunan rusunawa itu sendiri.

Permasalahan ini juga yang dialami penghuni Rusunawa Semanggi, salah

satu rusunawa yang telah dihuni selama kurang lebih tiga tahun. Dalam

pengelolaannya rusunawa ini masih ditemui adanya keluhan yang disampaikan

oleh para penghuninya. Berikut disajikan data keluhan penghuni Rusunawa

Semanggi yang disampaikan kepada pihak pengelola yakni UPTD Rumah Sewa.

Tabel 1.1

Laporan Keluhan Penghuni Rusunawa Semanggi

No. Keluhan yang disampaikan

1. Bangunan banyak yang bocor

2. Air yang tidak layak konsumsi

Sumber: data lapangan

Melihat permasalahan tersebut di atas membuat penulis merasa tertarik

untuk meneliti tentang kepuasan penghuni rusunawa, terutama kepuasan

(23)

dijadikan proyek percontohan bagi pembangunan rusunawa lainnya tetapi masih

ditemui beberapa permasalahan yang dialami oleh penghuni.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka penulis merumuskan

masalah sebagai berikut:

1. “Bagaimana kepuasan penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Operasional yaitu untuk mengetahui kepuasan penghuni Rusunawa

Semanggi Kota Surakarta.

2. Tujuan Individual yaitu untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi

Ilmu Administrasi Negara, Jurusan Ilmu Administrasi, Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah

khazanah keilmuan untuk para pembaca khususnya dan masyarakat pada

umumnya terkait dengan kepuasan penghuni Rusunawa Semanggi Kota

Surakarta.

2. Manfaat Praktis yaitu dapat memberikan masukan terhadap pemerintah atau

institusi mitra terkait dengan kepuasan penghuni rusunawa agar di kemudian

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

A. Tinjauan Pustaka

1. Kepuasan Penghuni

Tujuan utama pelayanan publik adalah memenuhi kebutuhan warga

pengguna agar dapat memperoleh pelayanan yang diinginkan dan

memuaskan. Karena itu, penyedia layanan harus mampu mengidentifikasi

kebutuhan dan keinginan warga pengguna, kemudian memberikan pelayanan

sesuai dengan kebutuhan dan keinginan warga negara tersebut (Agus

Dwiyanto, 2006:152).

Seiring dengan perkembangan jaman pemerintah dituntut untuk

menerapkan pelayanan prima. Dalam bukunya Sedarmayanti (2009:249)

mendefinisikan pelayanan prima adalah

“pelayanan yang diberikan kepada pelanggan (masyarakat) minimal sesuai dengan standar pelayanan (cepat, tepat, akurat, murah, ramah).

Dalam sektor publik, pelayanan dikatakan prima apabila sebagai berikut:

1. Pelayanan yang terbaik dari pemerintah kepada pelanggan/ pengguna jasa. 2. Pelayanan prima bila ada standar pelayanan.

3. Pelayanan prima melebihi standar, atau sama dengan standar. Bila belum

ada standar, pelayanan yang terbaik dapat diberikan, pelayanan yang mendekati apa yang dianggap pelayanan standar, dan pelayanan yang dilakukan secara maksimal.

(25)

Selanjutnya dalam melaksanakan pelayanan prima dibutuhkan suatu

strategi untuk mendukung pelayanan prima tersebut. Strategi pelayanan prima

yang mengacu pada kepuasan/keinginan pelanggan dapat ditempuh melalui:

1. Implementasi visi misi pelayanan pada semua tingkat yang terkait dengan

pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat (pelanggan).

2. Hakikat pelayanan prima disepakati untuk dilaksanakan oleh aparatur

yang memberi pelayanan.

3. Dalam pelaksanaan pelayanan prima, didukung sistem dan lingkungan

yang dapat memotivasi anggota organisasi untuk melaksanakan pelayanan

prima.

4. Pelaksanaan pelayanan prima aparatur pemerintah, didukung sumber daya

manusia, dana dan teknologi canggih tepat guna.

5. Pelayanan prima dapat berhasil guna, apabila organisasi menerbitkan

standar pelayanan prima yang dapat dijadikan pedoman dalam melayani

dan panduan bagi pelanggan yang memerlukan jasa pelayanan

(Sedarmayanti, 2009:250).

Dengan adanya pelayanan prima dimana pemberi pelayanan dituntut

memberikan pelayanan minimal sesuai standar pelayanan yang ada,

diharapkan kebutuhan dan keinginan serta aspirasi masyarakat dapat tercapai

(26)

Pernyataan lebih tegas diungkapkan oleh Ratminto dan Atik Septi

Winarsih (2010:28) yang mengungkapkan bahwa dalam tingkat kepuasan

masyarakat, ukuran keberhasilan penyelenggaraan pelayanan ditentukan oleh

tingkat kepuasan penerima pelayanan. Kepuasan penerima pelayanan dicapai

apabila penerima pelayanan memperoleh pelayanan sesuai dengan yang

dibutuhkan dan diharapkan. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan tingkat

kepuasan masyarakat, Keputusan MENPAN Nomor 63 Tahun 2004

mengamanatkan agar setiap penyelenggara pelayanan secara berkala

melakukan survey indeks kepuasan masyarakat.

Dalam Fandy Tjiptono & Gregorius Chandra (2005:195) menyebutkan

kata kepuasan (satisfaction) berasal dari bahasa Latin “satis” (artinya cukup

baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat). Kepuasan bisa

diartikan sebagai “upaya pemenuhan sesuatu” atau “membuat sesuatu

memadai”. Oxford Advanced Learner’s Dictionary (2000) mendeskripsikan

kepuasan sebagai “the good feeling that you have when you achieved

something or when something that you wanted to happen does happen”; “the

act of fulfilling a need or desire”; dan “an acceptable way of dealing with a

complaint, a debt, an injury, etc.” Sekilas definisi-definisi ini kelihatan sangat

sederhana, namun begitu dikaitkan dengan konteks manajemen dan perilaku

konsumen, istilah ini menjadi begitu kompleks. Bahkan, Richard L. Oliver

(27)

on the Customer” menyatakan bahwa semua orang paham apa itu kepuasan,

tetapi begitu diminta mendefinisikannya, kelihatannya tak seorangpun tahu.

Selanjutnya dalam Ratminto dan Atik Septi Winarsih (2010:220)

menuliskan Kebijakan Pengembangan Indeks Kepuasan Masyarakat.

Kebijakan pemerintah untuk mengembangkan indeks kepuasan masyarakat

dalam kaitannya dengan penyelenggaraan pelayanan diatur dalam Keputusan

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/ 25/ M.PAN/ 2/ 2004

Tanggal 24 Februari 2004 Tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks

Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara

Nomor KEP/ 25/ M.PAN/ 2/ 2004 Tanggal 24 Februari 2004 Tentang

Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan

Instansi Pemerintah disebutkan bahwa kepuasan pelayanan adalah hasil

pendapat dan penilaian masyarakat terhadap kinerja pelayanan yang diberikan

oleh aparatur penyelenggara pelayanan publik.

Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan

masyarakat adalah hasil penilaian pengguna pelayanan/ masyarakat terhadap

pelayanan yang diberikan oleh aparatur pemerintah penyelenggara pelayanan.

Atau dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa kepuasan masyarakat akan

(28)

penyelenggara pelayanan sudah sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan

aspirasi.

Hal ini berlaku pula dalam pelayanan di bidang perumahan.

Pemenuhan pelayanan kebutuhan dan keinginan masyarakat akan perumahan

pada akhirnya akan berujung pada kepuasan masyarakat atau lebih dikenal

dengan kepuasan penduduk/penghuni. Pengertian kepuasan

penduduk/penghuni disampaikan oleh beberapa ahli dalam jurnal Social

Indicators Research; Residential Satisfaction in Public Core Housing in

Abeokuta, Ogun State, Nigeria; 2012, yang mengemukakan bahwa:

“….In housing research, satisfaction studies have been referred to as

housing satisfaction (Kaitilla 1993; Karna et al. 2009; Jiboye 2010),

occupants‟ satisfaction (Fatoye and Odusami 2009), residents‟ satisfaction

(Ukoha and Beamish 1997) or residential satisfaction (Galster 1987; Salleh 2008; Mohit et al. 2010; Mohit and Nazyddah 2011). Kaitilla (1993), Hashim

(2003) and Lee and Park (2010) specifically noted that residential satisfaction

is an individual‟s satisfaction with both the house as a distinct physical

product and the environment or neighbourhood; noting that residential satisfaction encompasses both housing and neighbourhood satisfaction. To this end, residential satisfaction as used in this study encompasses occupants‟

satisfaction with housing units, neighbourhood and associated services.”

(29)

Selain memberikan beberapa definisi, beberapa ahli tersebut juga

mengemukakan tentang pendekatan tentang studi kepuasan

perumahan/penghuni yaitu:

“….It has also been observed that studies on residential satisfaction

have been approached from two basic empirical perspectives. First is the purposive approach, which views residential satisfaction as a measure of the extent to which the residential environment enhances or inhibits the goal of the users (Fatoye 2009). According to Amole (2009), the purposive approach places emphasis on goals or related activities, and helps researchers to understand the degree to which various facets and roles of individuals contribute to their satisfaction. The implication of this is that this approach

helps to explain the degree to which an individual‟s housing conditions have

influence on the attainment of his or her personal goals and aspirations. The

second is the aspiration-gap approach. This approach draws a comparison between what users have and what they are expected to have (Djebarni and

Al-Abed 2000; Amole 2009). Specifically, Galster (1987) noted that the

aspiration-gap approach is very important in comparing individuals‟ previous and current housing with their desired housing situations. Consequently, most theories of residential satisfaction are based on the notion that residential satisfaction measures the difference between household‟s actual and desired residential situations (Galster and Hesser 1981; Mohit et

al. 2010).”

(30)

teori-teori kepuasan perumahan didasarkan pada pemikiran bahwa pengukuran kepuasan perumahan berbeda antara rumah tangga sebenarnya dan situasi perumahan yang diinginkan (Galster dan Hesser 1981; Mohit dkk. 2010)).

Lebih lanjut lagi, masih di jurnal yang sama dikemukakan tentang

aspek-aspek kepuasan perumahan yaitu:

“….Varady and Carrozza (2000) also conceived of residential

satisfaction as comprising four different aspects of satisfactions; namely, satisfaction with dwelling units; satisfaction with services provided; satisfaction with the whole housing package (dwelling and service inclusive) and satisfaction with the neighbourhood or environment. Most recently, Lee and Park (2010) viewed residential satisfaction as comprising mainly perception of housing and neighbourhood satisfaction, while Mohit and Nazyddah (2011) based their measurement of residential satisfaction on two housing components: dwelling unit features and housing unit support services as well as three non-housing components: public facilities; social

environment and neighbourhood facilities.”

(Varady dan Carrozza (2000) juga memahami kepuasan perumahan terdiri dari empat aspek kepuasan yang berbeda, yaitu kepuasan dengan unit hunian; kepuasan dengan layanan disediakan; kepuasan dengan paket perumahan keseluruhan (hunian dan layanan inklusif) dan kepuasan dengan lingkungan sekitar atau lingkungan. Baru-baru ini, Lee dan Park (2010) melihat kepuasan perumahan terdiri dari persepsi perumahan utama dan kepuasan lingkungan sekitar, sementara Mohit dan Nazyddah (2011) mendasarkan pengukuran kepuasan perumahan mereka pada dua komponen perumahan: fitur unit hunian dan unit perumahan pendukung pelayanan sebaik tiga komponen non-perumahan: publik fasilitas, lingkungan sosial dan fasilitas lingkungan).

Dari beberapa pengertian yang disampaikan oleh ahli pada jurnal di

atas, dapat disimpulkan bahwa kepuasan perumahan atau kepuasan penghuni

adalah kepuasan seseorang terhadap kondisi rumah secara keselurahan seperti

kondisi fisik perumahan, kondisi lingkungan, dan pelayanan perumahan yang

(31)

Pernyataan tersebut ditegaskan lagi dalam Jurnal Social Indicators

Research; Housing Satisfaction Related to Health and Importance of Services

in Urban Slums: Evidence from Dhaka, Bangladesh; 2012; dimana Badan

Dunia WHO mengungkapkan:

“….In the most recent report on environmental burden of disease in relation to inadequate housing (2011) World Health Organization (WHO)

defines housing through four interrelated dimensions: the physical structure

of the dwelling, the home including psychosocial, economic and cultural attributes of the household, the neighbourhood infrastructure and the

community environment. In its initiative „Healthy housing‟ WHO outlines the

negative health impact of certain housing conditions (e.g. injuries, indoor air quality, pests etc.) and the particular vulnerability of different population groups (poor, children, sick or disabled, housewives) spending most of the

time in their home setting and thus being exposed to negative impacts.”

(Laporan terbaru pada pokok penyakit lingkungan dalam kaitannya dengan perumahan yang tidak memadai (2011) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan perumahan melalui empat dimensi yang saling terkait: struktur fisik tempat tinggal, rumah termasuk psikososial, ekonomi dan atribut budaya rumah tangga, infrastruktur lingkungan sekitar dan lingkungan masyarakat. Dalam inisiatif 'perumahan sehat' WHO menguraikan dampak negatif kesehatan dari kondisi perumahan tertentu (misalnya cedera, kualitas udara dalam ruangan, hama dll) dan kerentanan tertentu dari kelompok populasi yang berbeda (miskin, anak-anak, sakit atau cacat, ibu rumah tangga) menghabiskan sebagian besar waktu dalam pengaturan rumah mereka dan sehingga tidak terkena dampak negatif).

Sehingga dapat diketahui bahwa kepuasan perumahan juga berkaitan

dengan kesehatan dan kesejahteraan umum seperti yang Thomson et al.

ungkapkan masih dalam jurnal yang sama sebagai berikut:

“….Increased housing satisfaction following housing improvements

has been strongly linked to improvements in mental health as well as in physical health and general well-being (Thomson et al. 2001).”

(32)

Lebih lanjut lagi ditunjukkan dalam pernyataan berikut:

“It has been shown that poor quality housing may have a range of

negative impacts on human health, such as increased frequency of infectious diseases, poor mental health, respiratory infections, chronic diseases, injuries etc. (Krieger and Higgins 2002; WHO 2008, 2011; Howden-Chapman 2004).”

(Telah ditunjukkan bahwa perumahan berkualitas rendah mungkin memiliki berbagai dampak negatif terhadap kesehatan manusia, seperti peningkatan frekuensi penyakit infeksi, kesehatan lemah mental, infeksi pernafasan, penyakit kronis, cedera dll (Krieger dan Higgins 2002; WHO 2008, 2011; Howden-Chapman 2004)).

Dengan demikian, dari berbagai pernyataan-pernyataan di atas, dapat

dilihat bahwa kepuasan perumahan/kepuasan penghuni merupakan sesuatu

yang kompleks. Kepuasan perumahan/penghuni tidak hanya berdasarkan

kondisi fisik perumahan saja, tetapi juga menyangkut kesehatan dan

kesejahteraan sosial. Kondisi fisik perumahan meliputi unit hunian dan

lingkungan sekitar. Namun, tidak boleh dilupakan bahwa kondisi perumahan

yang memadai akan membawa dampak yang baik bagi kesehatan baik fisik

maupun mental serta pada kesejahteraan umum.

2. Kualitas Bangunan dan Air Bersih

2.1. Kualitas Bangunan

Pembangunan rumah Susun diatur dalam Undang-Undang No. 20

Tahun 2011 tentang Rumah Susun (Rusun) menggantikan UU No. 16

Tahun 1985 disebutkan dalam Pasal 1 Ayat 1 bahwa : “Rusun adalah

bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang

(33)

dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang

masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama

untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda

bersama dan tanah bersama.”

Dalam Pasal 35 UU No. 20 tahun 2011 tentang Rumah Susun diatur

tentang persyaratan teknis pembangunan rumah susun terdiri atas:

a. Tata bangunan yang meliputi persyaratan peruntukan lokasi serta

intensitas dan arsitektur bangunan; dan

b. Keandalan bangunan yang meliputi persyaratan keselamatan,

kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.

Penjelasan mengenai Pasal 35 adalah sebagai berikut:

a. Yang dimaksud dengan “peruntukan lokasi” adalah ketentuan tentang

jenis fungsi atau kombinasi fungsi bangunan rumah susun yang boleh

dibangun pada lokasi atau kawasan tertentu. Yang dimaksud dengan

“intensitas bangunan” adalah ketentuan teknis tentang kepadatan dan

ketinggian bangunan rumah susun yang dipersyaratkan pada lokasi

atau kawasan tertentu yang meliputi koefisien dasar bangunan,

koefisien lantai bangunan, dan jumlah lantai bangunan.

b. Yang dimaksud dengan “persyaratan keselamatan” adalah kemampuan

bangunan rumah susun untuk mendukung beban muatan serta untuk

(34)

“Persyaratan kesehatan” meliputi sistem penghawaan, pencahayaan,

sanitasi, dan penggunaan bahan bangunan. “Persyaratan kenyamanan”

meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antarruang, kondisi

udara dalam ruang, pandangan, serta terhadap pengaruh tingkat

getaran dan tingkat kebisingan. “Persyaratan kemudahan” meliputi

kemudahan hubungan ke, dari, dan di dalam bangunan rumah susun

serta sarana dan prasarana dalam pemanfaatan bangunan rumah susun.

Di samping itu, dijelaskan juga dalam UU No. 20 Tahun 2011

tentang prasarana, sarana, dan utilitas umum lingkungan rumah susun

diatur dalam Pasal 40 yang menyebutkan pelaku pembangunan wajib

melengkapi lingkungan rumah susun dengan prasarana, sarana, dan

utilitas umum.

Lebih lanjut lagi, dalam Pasal 40 dijelaskan sebagai berikut:

 Yang dimaksud dengan “lingkungan rumah susun” adalah sebidang

tanah dengan batas-batas yang jelas yang di atasnya dibangun rumah

susun, termasuk prasarana, sarana, dan utilitas umum yang secara

keseluruhan merupakan kesatuan tempat permukiman.

 Yang dimaksud dengan “prasarana” adalah kelengkapan dasar fisik

lingkungan hunian rumah susun yang memenuhi standar tertentu untuk

(35)

meliputi jaringan jalan, drainase, sanitasi, air bersih, dan tempat

sampah.

 Yang dimaksud dengan “sarana” adalah fasilitas dalam lingkungan

hunian rumah susun yang berfungsi untuk mendukung

penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan sosial, budaya, dan

ekonomi meliputi sarana sosial ekonomi (pendidikan, kesehatan,

peribadatan dan perniagaan) dan sarana umum (ruang terbuka hijau,

tempat rekreasi, sarana olahraga, tempat pemakaman umum, sarana

pemerintahan, dan lain-lain).

 Yang dimaksud dengan “utilitas umum” adalah kelengkapan

penunjang untuk pelayanan lingkungan hunian rumah susun yang

mencakup jaringan listrik, jaringan telepon, dan jaringan gas.

Selain itu, dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :

05/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun

Sederhana Bertingkat Tinggi di dalam lampiran dijelaskan ada beberapa

ketentuan teknis keandalan bangunan. Ketentuan teknis keandalan

bangunan tersebut antara lain:

1. Persyaratan keselamatan

a. Persyaratan struktur bangunan gedung

Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi, strukturnya harus

(36)

memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan

keselamatan (safety), serta memenuhi persyaratan kelayanan

(serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan

mempertimbangkan fungsi bangunan gedung, lokasi, keawetan,

dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.

Di dalam persyaratan struktur bangunan gedung, diatur

pula struktur atas bangunan rusuna tingkat tinggi yakni konstruksi

beton dan baja. Sedangkan struktur bawah bangunan rusuna

tingkat tinggi yakni pondasi langsung dan pondasi dalam serta

basemen dengam menggunakan standar teknis dan pedoman teknis

tertentu.

b. Persyaratan kemampuan bangunan rusuna bertingkat tinggi

terhadap bahaya kebakaran

Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus dilengkapi dengan

sistem proteksi pasif dan sistem proteksi aktif. Pada sistem

proteksi pasif yang perlu diperhatikan meliputi: persyaratan

kinerja, ketahanan api dan stabilitas, tipe konstruksi tahan api, tipe

konstruksi yang diwajibkan, kompartemenisasi dan pemisahan,

dan perlindungan pada bukaan (fire stop). Pada sistem proteksi

aktif yang perlu diperhatikan meliputi: Sistem Pemadam

(37)

hidran pilar/halaman; Sistem Deteksi & Alarm Kebakaran; Sistem

Pengendalian Asap Kebakaran; dan Pusat Pengendali Kebakaran.

c. Persyaratan kemampuan bangunan rusuna bertingkat tinggi

terhadap bahaya petir dan bahaya kelistrikan

Setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus dilengkapi

dengan proteksi terhadap petir, dalam upaya untuk mengurangi

secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan oleh petir terhadap

bangunan gedung yang diproteksi, termasuk di dalamnya manusia

serta perlengkapan bangunan lainnya. Persyaratan proteksi petir

harus memperhatikan sebagai berikut: Perencanaan sistem proteksi

petir; Instalasi Proteksi Petir; dan Pemeriksaan dan Pemeliharaan.

Sistem kelistrikan dalam rusuna bertingkat tinggi harus

memenuhi Persyaratan sistem kelistrikan yang meliputi sumber

daya listrik, panel hubung bagi, jaringan distribusi listrik,

perlengkapan serta instalasi listrik untuk memenuhi kebutuhannya.

Persyaratan sistem kelistrikan harus memperhatikan: Perencanaan

instalasi listrik; Jaringan distribusi listrik; Beban listrik; Sumber

daya listrik; Transformator distribusi; Pemeriksaan dan pengujian;

(38)

2. Persyaratan kesehatan bangunan gedung

a. Persyaratan sistem penghawaan

Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mempunyai

bukaan permanane, kisi-kisi pada pintu dan jendela dan/atau bukan

permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.

b. Persyaratan sistem pencahayaan

Bangunan rusuna bertingkat tinggi harus mempunyai

bukaan untuk pencahayaan alami yang optimal, disesuaikan

dengan fungsi bangunan hunian dan fungsi masing-masing ruang

di dalamnya.

c. Persyaratan sistem air minum dan sanitasi

Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan

mempertimbangkan sumber air minum, kualitas air bersih, sistem

distribusi, dan penampungannya. Sumber air minum dapat

diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air

lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai pedoman

dan standar teknisyang berlaku.

Pertimbangan jenis air limbah dan/atau air kotor

diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem

pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang

(39)

direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian

permukaan air tanah, permeabilitas tanah, dan ketersediaan

jaringan drainase lingkungan/kota.

Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam

bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah pada

masing-masing bangunan rusuna bertingkat tinggi, yang

diperhitungkan berdasarkan jumlah penghuni, dan volume kotoran

dan sampah. Pertimbangan jenis sampah padat diwujudkan dalam

bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak

mengganggu kesehatan penghuni, masyarakat dan lingkungannya.

d. Persyaratan penggunaan bahan bangunan

Bahan bangunan rusuna bertingkat tinggi yang digunakan

harus aman bagi kesehatan penghuni dan tidak menimbulkan

dampak negatif terhadap lingkungan. Penggunaan bahan bangunan

yang tidak berdampak negative terhadap lingkungan harus:

menghindari timbulnya efek silau dan pantulan bagi pengguna

bangunan gedung lain, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya;

menghindari timbulnya efek peningkatan temperature lingkungan

di sekitarnya; mempertimbangkan prinsip-prinsip konservasi

energi; dan menggunakan bahan-bahan bangunan yang ramah

(40)

Persyaratan kesehatan perumahan menurut Keputusan Menteri

Kesehatan Nomor 829 Tahun 1999 Tentang Persyaratan Kesehatan

Perumahan meliputi :

1. Lingkungan perumahan yang terdiri dari lokasi, kualitas udara,

kebisingan dan getaran, kualitas tanah, kualitas air tanah, sarana dan

prasarana lingkungan, binatang penular penyakit dan penghijauan.

2. Rumah tinggal yang terdiri dari bahan bangunan, komponen dan

penataan ruang rumah, pencahayaan, kualitas udara, ventilasi,

binatang penular penyakit, air, makanan, limbah, dan kepadatan

hunian ruang tidur.

2.2. Air Bersih

Air merupakan kebutuhan vital manusia. Untuk menjaga

keterlangsungannya, maka air perlu dikelola. Menurut UU No.7 Tahun

2004 disebutkan air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun

di bawah permukaan tanah,termasuk dalam pengertian ini air permukaan,

air tanah, air hujan, dan air laut yang berada di darat.

Dalam bangunan rusunawa, kesediaan air bersih masuk ke dalam

Pasal 40 tentang prasarana, sarana, dan utilitas umum lingkungan rumah

susun. Dimana yang dimaksud dengan “prasarana” adalah kelengkapan

(41)

tertentu untuk kebutuhan tempat tinggal yang layak, sehat, aman, dan

nyaman meliputi jaringan jalan, drainase, sanitasi, air bersih, dan tempat

sampah.

Dalam Permenkes Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-Syarat

dan Pengaturan Kualitas Air mendefinisikan air bersih adalah air yang

digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat

kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Namun, seiring

dengan perkembangan waktu, Permenkes ini tidak lagi digunakan dan

diganti dengan Permenkes Nomor 907 Tahun 2002 kemudian diganti lagi

dengan Permenkes Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas

Air Minum. Sehingga Permenkes yang digunakan adalah Permenkes

yang baru tentang kualitas air minum karena Permenkes yang lama sudah

tidak digunakan lagi.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.

492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum

menyebutkan air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau

tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat

langsung diminum. Air minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi

persyaratan fisika, mikrobilogis, kimiawi, dan radioaktif yang dimuat

dalam parameter wajib dan parameter tambahan. Parameter wajib

(42)

oleh seluruh penyelenggara air minum. Pemerintah daerah dapat

menetapkan parameter tambahan sesuai dengan kondisi kualitas

lingkungan daerah masing-masing dengan mengacu pada parameter

tambahan sebagaimana diatur dalam Peraturan ini.

Persyaratan kualitas air minum dilihat dari parameter wajib yaitu

sebagai berikut:

a. Parameter mikrobiologis, yaitu tidak mengandung bakteri E.coli dan

total bakteri koliform.

b. Parameter an-organik, yaitu dilihat dari kandungan arsen, florida, total

kromium, kadmium, nitrat, nitrit, sianida, selenium yang kadar

maksimumnya diatur sesuai dengan Permenkes No. 492/2010.

c. Parameter fisik, yaitu tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna.

Tingkat kekeruhan, total zat padat terlarut dan suhu yang kadar

maksimumnya diatur sesuai dengan Permenkes No. 492/2010.

d. Parameter kimiawi, yaitu meliputi aluminium, besi, kesadahan,

khlorida, mangan, pH, seng, sulfat, tembaga, amonia yang kadar

maksimumnya diatur sesuai dengan Permenkes No. 492/2010.

Selain itu, dalam Permen PU No. 05/PRT/M/2007 tentang

Pedoman Teknis Pembangunan Rumah Susun Sederhana Bertingkat

Tinggi disebutkan setiap bangunan rusuna bertingkat tinggi harus

(43)

1. Sistem air minum harus direncanakan dan dipasang dengan

mempertimbangkan sumber air minum, kualitas air bersih, sistem

distribusi, dan penampungannya.

2. Sumber air minum dapat diperoleh dari sumber air berlangganan

dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan

sesuai pedoman dan standar teknis yang berlaku.

3. Perencanaan sistem distribusi air minum dalam bangunan gedung

harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan.

4. Penampungan air minum dalam bangunan gedung diupayakan

sedemikian rupa agar menjamin kualitas air.

5. Penampungan air minum harus memenuhi persyaratan kelaikan fungsi

bangunan gedung.

6. Persyaratan plambing dalam bangunan rusuna bertingkat tinggi harus

mengikuti: kualitas air minum mengikuti Peraturan Pemerintah

Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan sistem Air Minum dan

Permenkes 907/2002 yang diganti dengan Permenkes 492/2010,

sedangkan instalasi perpipaannya mengikuti Pedoman Plambing; dan

(44)

B. Kerangka Pikir

Kerangka berpikir dalam penelitian ini menjelaskan tentang alur penelitian

yang dimulai dari permasalahan keluhan penghuni rusunawa yang disampaikan

kepada instansi terkait sampai pada pengukuran tingkat kepuasan penghuni

terhadap atribut-atribut kepuasan penghuni rusunawa. Kepuasan penghuni

rusunawa dilakukan dengan menilai indikator-indikator yang mempengaruhi

kepuasan penghuni. Pada penelitian ini atribut-atribut yang digunakan untuk

mengukur tingkat kepuasan penghuni rusunawa meliputi lingkungan rusunawa,

persyaratan keselamatan bangunan rusunawa, persyaratan kesehatan bangunan

rusunawa dan air bersih. Di bawah ini gambar kerangka pemikiran kepuasan

penghuni rusunawa.

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

Kepuasan Penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta

Kepuasan penghuni 2. Persyaratan Keselamatan

Bangunan

1. Lingkungan Rusunawa

3. Persyaratan Kesehatan Bangunan

(45)

C. Definisi Konseptual

Definisi konseptual perlu dibuat agar antara penulis dan pembaca ada

persamaan pengertian tentang arti istilah yang dipakai. Definisi konseptual yang

dipakai adalah kepuasan penghuni. Kepuasan penghuni/kepuasan perumahan

merupakan suatu penilaian individu terhadap aspek-aspek kepuasan. Kepuasan

penghuni terhadap aspek-aspek kepuasan tidaklah sama antara satu dengan yang

lainnya. Aspek-aspek kepuasan penghuni dapat beraneka ragam, seperti misalnya

kepuasan perumahan/penghuni tidak hanya berdasarkan kondisi fisik perumahan

saja, Kondisi fisik perumahan ini meliputi unit hunian dan lingkungan sekitar.

Selain itu, kepuasan penghuni/perumahan juga menyangkut masalah kesehatan

perumahan dan kesejahteraan umum.

Dilihat dari banyaknya aspek-aspek penentu kepuasan penghuni di atas,

dalam penelitian ini dibatasi kepuasan penghuni Rusunawa Semanggi yang

dibangun pada tahun 2008 ini hanya didasarkan pada atribut-atribut seperti

berikut:

1. Lingkungan rumah susun

2. Persyaratan keselamatan bangunan

3. Persyaratan kesehatan bangunan

(46)

D. Definisi Operasional

Setelah mendefinisikan konsep, peneliti mendefinisikan secara

operasional terhadap konsep yang dipakai. Definisi konsep perlu diturunkan

derajatnya menjadi indikator dari gejala yang sedang diukur. Selanjutnya secara

lebih jelas, definisi operasional dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 2.1

Tabel Operasional Variabel

Konsep Variabel Indikator

KEPUASAN

PENGHUNI

1. Lingkungan Rusunawa

a. Sarana, meliputi sarana sosial

ekonomi (pendidikan,

kesehatan, peribadatan dan

perniagaan) dan sarana umum

(ruang terbuka hijau, tempat

rekreasi, sarana olahraga,

tempat pemakaman umum,

sarana pemerintahan, dan

lain-lain).

b. Prasarana, meliputi jalan,

drainase, sanitasi, air bersih, dan

(47)

c. Utilitas umum, meliputi

mencakup jaringan listrik,

jaringan telepon, dan jaringan

gas.

2. Persyaratan Keselamatan

Bangunan a. Persyaratan struktur bangunan

gedung

b. Persyaratan kemampuan

bangunan rusuna bertingkat

tinggi terhadap bahaya

kebakaran

c. Persyaratan kemampuan

bangunan rusuna bertingkat

tinggi terhadap bahaya petir dan

bahaya kelistrikan

3. Persyaratan Kesehatan

Bangunan a. Persyaratan sistem penghawaan

b. Persyaratan sistem pencahayaan

c. Persyaratan sistem air minum

(48)

d. Persyaratan penggunaan bahan

bangunan

4. Air Bersih

a. kualitas kebersihan sumber air

di rusunawa (air sumur)

b. kelayakan sumber air tersebut

untuk dikonsumsi.

E. Hipotesis:

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ho: Tidak ada perbedaan kepuasan penghuni Rusunawa Semanggi Kota

Surakarta.

(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa)

Semanggi yang terletak di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon Kota

Surakarta dengan fokus penelitian pada kepuasan penghuni Rusunawa Semanggi.

Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah Rumah Susun Sederhana Sewa

(Rusunawa) Semanggi merupakan salah satu rumah susun yang dibangun oleh

pemerintah dengan menggunakan dana APBN dan APBD di atas tanah milik

Pemkot Solo. Selain itu, Rusunawa Semanggi juga dijadikan proyek percontohan

bagi pembangunan rusunawa selanjutnya meski ia bukanlah rusunawa yang

pertama dibangun di Kota Surakarta.

B. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif

merupakan penelitian yang data penelitiannya berupa angka dan analisis

menggunakan statistik (Sugiyono, 2010:7). Pada penelitian ini peneliti mencoba

meneliti tentang kepuasan penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa)

Semanggi Rusunawa Semanggi tersebut yang disajikan dalam bentuk data-data

(50)

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek

yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono,

2010:80). Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan

benda alam yang lain. Obyek penelitian dapat berupa makhluk hidup,

benda-benda, sistem dan prosedur, fenomena, dan lain-lain (Kountour, 2004:137).

Pengertian populasi juga diungkapkan oleh Y. Slamet (2006:40) yang

menerangkan bahwa populasi adalah keseluruhan daripada unit-unit analisis

yang memiliki spesifikasi atau ciri-ciri tertentu. Populasi dalam penelitian ini

adalah penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta yang menempati setiap

unit rusunawa sebesar 196 KK.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2010:81). Selain itu, Kountour (2004:137) juga

menyebutkan sampel adalah bagian dari populasi. Pada umumnya kita tidak

bisa mengadakan penelitian kepada seluruh anggota dari suatu populasi

karena terlalu banyak. Apa yang bisa kita lakukan adalah mengambil

beberapa representatif dari suatu populasi kemudian diteliti. Representatif

(51)

adalah sebagian dari penghuni Rusunawa Semanggi Kota Surakarta yang

menempati setiap unit rusunawa.

Husein Umar (2004:107) untuk menentukan berapa minimal sampel

yang dibutuhkan jika ukuran populasi diketahui, dapat menggunakan rumus

Slovin:

e = kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel

yang dapat ditolerir.

Untuk menerapkan rumus tersebut, apabila digunakan kelonggaran

ketidaktelitian sebesar 10 % dengan ukuran populasi sebesar 196 KK, maka

jumlah sampel yang didapat adalah sebagai berikut:

(52)

3. Teknik sampling

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel.

Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat

berbagai teknik sampling yang digunakan. Dalam penelitian ini, penulis

menggunakan teknik probability sampling dengan simple random sampling.

Pengambilan anggota sampel dari populasi diberlakukan secara acak tanpa

memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2006:82).

Dengan demikian dalam penelitian ini, setiap penghuni Rusunawa Semanggi

memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel.

D. Sumber Data Penelitian

1. Data primer

Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama,

misalnya individu atau perseorangan, seperti: hasil wawancara, pengisian

kuisioner, atau bukti transaksi, seperti tanda bukti pembelian barang dan

karcis parkir. Data ini merupakan data mentah yang kelak akan diproses

untuk tujuan-tujuan tertentu, sesuai kebutuhan. Data primer dalam penelitian

ini diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner kepada penghuni Rusunawa

(53)

2. Data sekunder

Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut.

Data sekunder di satu sisi merupakan informasi juga karena merupakan hasil

pengolahan data primer dan sudah lebih informatif (Umar, 2004:64). Data

sekunder berasal dari UPTD Rumah Sewa, yaitu data/dokumen yang lebih

bersifat sebagai data pendukung data primer dalam penelitian ini.

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu:

1. Kuisioner (angket)

Teknik pengumpula data dengan menggunakan kuisioner erat sekali

dengan kegiatan survey. Kuisioner adalah seperangkat daftar pertanyaan

tertentu yang disusun secara sistematis dan lengkap. Jawaban-jawaban

terhadap pertanyaan dapat pula sudah digolongkan menurut kategori-kategori

tertentu secara sistematis sehingga memungkinkan perbandingan secara

kuantitatif. Namun, dapat pula pertanyaan itu diberi jawaban terbuka yang

nantinya akan diklasifikasikan juga (Slamet, 2006:94).

Kuisioner atau angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah

angket tertutup yang dirancang sedemikian rupa untuk merekam data tentang

(54)

Semua alternatif jawaban yang harus dijawab responden telah tertera dalam

angket tersebut.

2. Wawancara

Teknik wawancara adalah cara yang dipakai untuk memperoleh

informasi melalui kegiatan interaksi social antara peneliti dengan yang

diteliti. Dalam interaksi social itu peneliti berusaha mengungkapkan gejala

yang sedang diteliti melalui kegiatan tanya jawab (Slamet, 2006:101). Dalam

penelitian ini, wawancara digunakan untuk deskripsi lokasi penelitian dan

hal-hal yang berhubungan dengan Rusunawa Semanggi ini.

3. Telaah dokumen

Merupakan suatu bentuk pengumpulan data yang dilakukan peneliti

untuk menelaah dokumen yang berhubungan dengan penelitian. Telaah

dokumen ini digunakan untuk menyusun latar belakang masalah dan

deskripsi lokasi penelitian.

F. Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan

untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur,

sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan

data kuantitatif (Sugiyono, 2010:92-93). Jenis skala yang digunakan dalam

(55)

jarak antardata harus memiliki interval yang relative sama, serta angka nol yang

tidak mutlak, maksudnya angka nol hanya perjanjian belaka, bukan yang

sebenarnya.

Sedangkan skala sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala

Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi

seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena social. Dalam penelitian,

fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang

selanjutnya disebut sebagai variable penelitian. Dengan skala Likert, maka

variable yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian

indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item

instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono, 2010:93).

Penggunaan skala Likert dalam penelitian ini mempunyai jawaban yang

bergradasi dari sangat positif sampai sangat negatif.

G. Uji Validitas Instrumen

Validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur itu mengukur apa

yang ingin diukur. Validitas alat ukur dapat dilakukan dengan cara menghitung

korelasi masing-masing item pernyataan dengan skor total dari jawaban

responden terhadap kuisioner. Suatu pernyataan dinyatakan valid apabila angka

korelasi yang diperoleh melebihi angka kritik tabel korelasi nilai – r (Singarimbun

(56)

menggunakan Correlation Product Moment dengan mengaplikasikannya

menggunakan SPSS 16.. Pada penelitian ini, jumlah pernyataan yang digunakan

sebanyak 40 pernyataan. Pernyataan tersebut dinyatakan valid apabila nilai

korelasi yang diperoleh melebihi nilai korelasi tabel pada taraf signifikan 0,05.

Nilai korelasi tabel pada taraf signifikan 0,05 tersebut yaitu 0,361. Hasil

pengujian validitas yang diperoleh dari kuisioner adalah sebagai berikut:

1. Lingkungan Rusunawa

Tabel 3.1

Pengujian Validitas Lingkungan Rusunawa

Pernyataan r hitung Nilai Korelasi Tabel Keterangan

1 0,575 0,361 Valid

(57)

Tabel di atas merupakan hasil pengolahan kuisioner yang

menunjukkan bahwa suatu pernyataan dinyatakan valid apabila nilai koefisien

korelasi hitung lebih besar daripada nilai tabel pada taraf signifikan 0,05 yaitu

sebesar 0,361. Semua item pernyataan di atas dinyatakan valid kecuali pada

pernyataan nomor 6. Pernyataan nomor 6 tersebut tidak valid karena nilai

koefisien korelasi hitungnya lebih kecil daripada nilai korelasi pada tabel

(lebih kecil daripada 0,361). Sehingga apabila pernyataan nomor 6 dibuang,

maka didapat hasil sebagai berikut:

Tabel 3.2 Pengujian Validitas Lingkungan Rusunawa setelah pernyataan

nomor 6 dibuang

Pernyataan r hitung Nilai Korelasi Tabel Keterangan

(58)

Sumber: diolah dari data penelitian

2. Persyaratan Keselamatan Bangunan

Tabel 3.3

Pengujian Validitas Persyaratan Keselamatan Bangunan

Pernyataan r hitung Nilai Korelasi Tabel Keterangan

1 0,535 0,361 Valid

Sumber: diolah dari data penelitian

Tabel di atas merupakan hasil pengolahan kuisioner yang

menunjukkan bahwa suatu pernyataan dinyatakan valid apabila nilai koefisien

korelasi hitung lebih besar daripada nilai tabel pada taraf signifikan 0,05 yaitu

sebesar 0,361. Semua item pernyataan di atas dinyatakan valid.

3. Persyaratan Kesehatan Bangunan

Tabel 3.4

Pengujian Validitas Persyaratan Kesehatan Bangunan

Pernyataan r hitung Nilai Korelasi Tabel Keterangan

1 0,427 0,361 Valid

2 0,439 0,361 Valid

(59)

4 0,754 0,361 Valid

Sumber: diolah dari data penelitian

Tabel di atas merupakan hasil pengolahan kuisioner yang

menunjukkan bahwa suatu pernyataan dinyatakan valid apabila nilai koefisien

korelasi hitung lebih besar daripada nilai tabel pada taraf signifikan 0,05 yaitu

sebesar 0,361. Semua item pernyataan di atas dinyatakan valid.

4. Ketersediaan Air Bersih

Tabel 3.5

Pengujian Validitas Ketersediaan Air Bersih

Pernyataan r hitung Nilai Korelasi Tabel Keterangan

1 0,644 0,361 Valid

2 0,644 0,361 Valid

Sumber: diolah dari data penelitian

Tabel di atas merupakan hasil pengolahan kuisioner yang

menunjukkan bahwa suatu pernyataan dinyatakan valid apabila nilai koefisien

korelasi hitung lebih besar daripada nilai tabel pada taraf signifikan 0,05 yaitu

(60)

H. Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur dapat dipercaya atau

dapat diandalkan. Dengan begitu, dapat reliabilitas menunjukkan konsistensi

suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. Untuk mengukur

reliabilitas digunakan teknik Alpha Cronbach, mengaplikasikan menggunakan

SPSS 16. Suatu pernyataan dinyatakan reliabel apabila angka korelasi yang

diperoleh melebihi angka kritik tabel korelasi nilai – r. Pernyataan tersebut

dinyatakan reliable apabila nilai korelasi yang diperoleh melebihi nilai korelasi

tabel pada taraf signifikan 0,05. Nilai korelasi tabel pada taraf signifikan 0,05

tersebut yaitu 0, 361.

Dalam penelitian ini, pernyataan nomor 6 tidak diikutkan dalam uji

reliabilitas karena dalam uji validitas, pernyataan nomor 6 dinyatakan tidak valid

sehingga pernyataan tersebut harus dibuang. Hasil pengujian reliabilitas yang

diperoleh dari kuisioner adalah sebagai berikut:

Tabel 3.6

Lingkungan Rusunawa 0,872 0,361 Reliabel

Persyaratan Keselamatan

Bangunan 0,810 0,361 Reliabel

Persyaratan Kesehatan Bangunan 0,838 0,361 Reliabel

Ketersediaan Air Bersih 0,774 0,361 Reliabel

Gambar

Tabel 4.52 : Tabel Kerja Untuk Menghitung Nilai X²………… ...................................
Gambar 4.2 : Rusunawa Semanggi ................................................................................
Tabel 1.1 Laporan Keluhan Penghuni Rusunawa Semanggi
Tabel 4.13
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1) adanya pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan; (2) adanya pengaruh variabel bukti fisik terhadap

Adapun 4 (empat) kriteria kepuasan tinggal yang memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas hidup rusunawa tersebut adalah: 1) Pemenuhan kebutuhan tinggal yang