• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESEPSI PEMBACA TERHADAP TJERITA NJAI DASIMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RESEPSI PEMBACA TERHADAP TJERITA NJAI DASIMA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Reader Reception toward Tjerita Njai Dasima

Yulitin Sungkowati

Balai Bahasa Surabaya, Jalan Siwalanpanji II/ I, Buduran, Sidoarjo Telepon: 08155055022, Pos-el: [email protected]

Naskah masuk: 3 Agustus 2011 – Revisi akhir: 2 Desember 2011

Abstrak: Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan perubahan resepsi pembaca terhadap Tjerita Njai Dasima dengan teori resepsi sastra dan metode resepsi diakronis. Penelitian ini menghasilkan temuan

bahwa sejak era kolonial hingga era reformasi Tjerita Njai Dasima telah mendapat tanggapan berupa

karya-karya baru dalam bentuk puisi, prosa, teks drama, skenario film, film, sinetron, dan drama musikal. Perubahan resepsi terjadi dari generasi ke generasi seiring dengan perubahan zaman dan perubahan horison harapan pembacanya. Resepsi pada masa sebelum kemerdekaan menunjukkan ideologi prokolonial dan pada era awal kemerdekaan sebaliknya, antikolonial. Resepsi pembaca yang muncul di era Orde Baru berisi kritik sosial terhadap pembangunan dan di era reformasi memperlihatkan semangat pluralisme dan kebebasan.

Kata kunci: resepsi sastra, pembaca, horison harapan, diakronis, dan semangat zaman

Abstract: This paper is aimed at describing the form and the change reader reception toward Tjerita Njai Dasima by using reception of literary theory and diachronic reception method. This research revealed that since colonial period until reformation period, Tjerita Njai Dasima got appreciation in the form of new literary works such as poem, prose, drama text, film scenario, film, series, and musical drama. The change of reception can be seen from generation to generation, together with the development and reader’s horizon expectation. The reception before indepen-dence showed procolonial ideology. While, in the early indepenindepen-dence period tended to be antico-lonial. Reader reception emerged in the new era period showed social critic toward development, while in the reformation period was in the form of spirit of pluralism and freedom.

Key words: reception of literary, reader, horizon of expectation, diachronic

I. Pendahuluan

Novelet berjud ul Tjerita Njai D asima

diterbitkan pertama-tama tahun 1896 oleh penerbit Kho Tjeng Bie & Co milik etnis keturunan Tio ng ho a d i Betaw i (To er, 2003:46). Novel itu kemudian dicetak ulang oleh penerbit Druk, F.O. Camoeni, Batavia pada tahun 1926, oleh penerbit Kho Tjeng Bie & Co tahun 1930, oleh penerbit Hasta Mitra tahun 1982, oleh penerbit Lentera Dipantara tahun 2003, dan o leh penerbit Masub tahun 2007. Samp ul luar naskah terbitan pertama sudah rusak dan diganti

d engan sam p ul baru yang d ibuat o leh Perp ustakaan Museum Pusat. G. Francis dianggap sebagai orang yang pertama kali m enulis kisah N y ai D asim a (Salm o n, 1985:31). Berkat karya G. Francis itulah, cerita Nyai Dasima populer di masyarakat dan mulai muncul dalam berbagai versi (Danandjaja dlm. Nda/ B-2, 2001).

(2)

yang memercayainya sebagai kisah nyata mendasarkan argumennya pada adanya penyebutan angka tahun 1813 dan catatan di halaman pertama novelet G. Francis yang berbunyi ‘Tjerita Bagoes Sekali jang Belon Berapa Lama Soedah D jadi di Betawi” serta “D engen Terhias Gambarnja Njai D asima” (Francis,1896:1). Sebag ian o rang menganggap kisah Nyai Dasima merupakan karya fiksi yang merefleksikan zamannya dan ideologi pengarangnya (Sungkowati, 2007). Junus (1999) mengatakan bahwa G. Francis, yang mendasarkan ceritanya pada laporan orang lain karena ada perbedaan w aktu p eristiw a (1813) d an w aktu penulisan (1896), dipengaruhi oleh ideologi y ang d o m inan p ad a abad 19 d an subjektivitasnya sebagai bagian dari bangsa kolo nial sehingga karyanya tidak d apat dijadikan sebagai dokumen sejarah. Hellwig (1992:3—4) meragukan cerita Nyai Dasima sebagai kisah nyata justru karena adanya foto Nyai Dasima dalam novelet G. Francis y ang tid ak d ap at d ip astikan sebag ai perempuan yang sama dengan foto Nyai Dasima dalam buku syair O.S. Tjiang.

Para pengamat pun menyikapi berbagai karya sastra baru tentang Nyai Dasima yang muncul sejak zaman kolonial hingga era reformasi secara berbeda-beda. Kalangan y ang m engangg ap cerita N yai D asim a sebagai kisah nyata memand ang karya-karya sastra tentang Nyai Dasima yang d ihasilkan kem ud ian d an tid ak sesuai dengan karya G. Francis sebagai kesalahan, p eny im p ang an, atau p eng khianatan terhad ap teks “ asal” . Sebagian kalangan yang menganggapnya sebagai karya fiksi mendasarkan argumennya pada adanya peran pengarang dalam penciptaan suatu karya sastra sebagaimana d ikemukakan oleh Wellek dan Warren, (1990:276—277) bahw a kehidupan yang tergambar dalam karya sastra merupakan kehidupan yang telah melew ati proses pemilihan berdasar sud ut p and ang d an kep enting an pengarangnya sehingga dapat diperindah, diejek, atau digambarkan bertolak belakang dengan kehidupan yang sebenarnya.

Penulis berpendapat bahw a berbagai

karya sastra yang bertutur tentang Nyai Dasima yang berbeda dengan novel Tjerita Njai D asima karya G. Francis tidak dapat dipandang sebagai penyimpangan, tetapi merupakan suatu bentuk resepsi pembaca. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhad ap feno m ena m unculny a resep si pembaca itu dengan sebuah p endekatan yang dapat menjaw abnya. Masalah yang menjadi fokus tulisan ini adalah bagaimana bentuk dan perubahan resep si p embaca terhadap Tjerita Njai Dasima sejak terbitnya tahun 1896 hingga tahun 2010? Tujuannya adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan perubahan resepsi pembaca terhadap Tjerita Njai Dasima sejak terbitnya tahun 1896 hing g a tahun 2010. Teo ri y ang sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian ini ad alah teo ri resep si sastra yang asumsi dasarnya mengatakan bahwa karya sastra akan d itang g ap i secara berbed a d ari generasi ke generasi (Jauss, 1983:21).

2. Kajian Teori

2.1 Resepsi

Resep si d ap at d iartikan sebag ai tang g ap an, p enerim aan, atau resp o n. Resepsi sastra berarti tanggapan pembaca terhadap karya sastra. Karya sastra dapat hidup karena partisipasi aktif pembacanya (Jauss, 1983:19). Teori ini menempatkan pembaca pada posisi yang penting karena karya sastra hanyalah artefak jika tidak mendapat tanggapan pembaca. Karya sastra d irasakan had ir karena p eng alam an pembaca sehingga realisasi makna karya sastra bersifat estetis subjektif dan bukan estetis objektif (Fokkema, 1977:143). Teori yang mengemukakan bahw a pembacalah yang memberi makna pada karya sastra ini telah menggeser fo kus p enelitian karya sastra dari struktur teks ke arah penerimaan o leh p em baca. Berd asarkan p embagian sud ut p and ang p end ekatan sastra sebagaimana dikemukakan A brams, teori resep si term asuk d alam p end ekatan pragmatik.

(3)

p eng arang — kary a sastra— p em baca, pembaca menduduki posisi yang penting karena pembaca bukan bagian yang pasif, melainkan justru menjadi energi pembuat sejarah. Sejarah sastra tid ak m ung kin disusun tanpa partisipasi aktif pembacanya. Kaitan antara karya sastra d an pembaca mem iliki imp likasi estetis d an histo ris. Implikasi estetis tampak pada kenyataan bahw a p enerima p ertama sebuah karya sastra o leh pembaca mencakup uji nilai estetik d alam p erband ingannya d engan karya-karya yang telah dibaca, sedangkan implikasi historis terlihat dari fakta pembaca pertama akan dilanjutkan atau diperkaya melalui resepsi atau penerimaan lebih lanjut dari generasi ke generasi.

Jauss (1983:20—42) mengemukakan tujuh tesis, yaitu p engalaman p embaca, horiso n harapan p embaca, jarak estetik, semangat zaman, rangkaian sejarah, aspek d iakro nik— sinkro nik, d an hubung an sejarah sastra—sejarah umum. Pengalaman p em baca berp eran d alam m enentukan kesejarahan sastra, tidak hanya tergantung kepada fakta-fakta sastra yang telah mapan, tetap i p ad a p erjalanan kesastraan sebelumnya. Oleh karena itu, karya sastra bukan o bjek y ang berd iri send iri yang m enaw arkan p and ang an y ang sam a kepada setiap pembaca pada setiap periode, tetapi seperti orkestrasi yang selalu memberi reso nansi-reso nansi baru d i antara p em bacany a. Ho riso n harap an ad alah p eng etahuan atau w aw asan tentang kehidupan yang mencakup pengetahuan kesastraan yang dimiliki seorang pembaca. Jarak estetik ad alah jarak antara batas harapan-harapan yang ada dan penampilan sebuah karya baru yang p enerimaannya menghasilkan perubahan harapan melalui penyangkalan terhadap pengalaman estetik y ang sud ah d ikenal. Sem ang at z am an memungkinkan warna resepsi yang berbeda antara berbagai pembaca dalam berbagai p erio de karya sastra. Rangkaian sejarah sastra menemp atkan karya sastra tid ak hany a d alam p erkem bang an histo ris penerimaannya, tetap i juga penyusunan hasil karya ind ivid ual. Secara sinkronis

karya sastra diterima p ada suatu w aktu sesuai d engan atau bagi p embaca p ad a w aktu itu, sed angkan secara d iakro nis, sastra diterima dengan cara yang berbeda-beda tiap periode sesuai dengan horison harap an p em baca p ad a tiap m asany a. Sejarah sastra memiliki hubungan yang unik d eng an sejarah um um . Kary a sastra membantu menentukan horiso n harapan pembaca dengan menumbangkan nilai-nilai yang telah mapan dalam masyarakat, tetapi fungsi sosial sastra hanya dapat terw ujud jika p eng alam an kesastraan p em baca m em bentuk interp retasi d unia d an menentukan tindakan-tindakannya.

2.2 Pembaca

Pembaca dalam teori resepsi beragam m acam ny a. Iser (1987:27) m em bag i pembaca menjadi dua jenis, yaitu pembaca nyata d an p embaca hip o tesis. Pem baca hipotesis terbagi menjadi pembaca ideal dan p em baca ko ntem p o rer. Pembaca ny ata ad alah p em baca y ang m elakukan p embacaan terhad ap suatu karya sastra secara nyata. Pembaca nyata dapat dikenali d ari reaksi-reaksi terd o kum entasi, sedangkan pembaca hipotesis adalah siapa saja yang diproyeksikan, semua aktualisasi potensial teks. Pembaca ideal tidak eksis secara o bjektif, sed ang kan p em baca kontemporer, meskipun eksis, tetapi sulit untuk dibentuk dalam suatu generalisasi.

Segers (1978:50—53) mengelompokkan p embaca ke dalam tiga go lo ngan, yaitu p em baca id eal, p em baca im p lisit, d an pembaca real. Pembaca ideal adalah suatu konstruksi hipotesis yang dibuat oleh ahli teori dalam proses interpretasi. Pembaca ideal ini sejajar dengan konsep superreader

yang dikemukakan oleh Micheal Rifattere. Pem baca im p lisit ad alah keseluruhan ind ikasi tekstual y ang m eng arahkan pembaca real. Pembaca implisit merupakan faktor imanen teks yang mempunyai satu jenis ciri tand a y ang sering mend ap at tanggap an p embaca real secara berbeda-beda. Golongan pembaca ini sejajar dengan

(4)

fisik, yaitu orang yang melakukan tindak pembacaan secara nyata. Pembaca nyata dibutuhkan dalam studi-studi mengenai reaksi p embaca, yaitu bagaimana suatu karya telah diterima oleh pembaca tertentu. Penilaian, komentar, dan pendapat pembaca tentang karya yang dibacanya merefleksikan berbagai sikap dan norma publik tersebut. Reko nstruksi terhad ap reaksi p em baca ny ata y ang terd o kum entasi akan m erefleksikan no rm a-no rm a m ereka sehingga dapat diperoleh gambaran tentang no rma-norma d an selera masing-masing masyarakat pembaca (Iser, 1987:28).

Pem baca bukan fakto r y ang stabil karena dipengaruhi oleh waktu, tempat, dan situasi so sial bud ay a y ang m elatarbelakang iny a. Perubahan y ang terjad i p ad a latar belakang so sial akan mempengaruhi makna yang diungkapkan sehingga tidak tertutup kemungkinan suatu karya sastra akan memperoleh makna yang berm acam -m acam d ari p em baca y ang berm acam -m acam p ula (Cham am ah-Soeratno,1994:21). Pembaca dapat bersifat pasif hanya dengan memberi makna, tetapi d ap at p ula berlaku aktif d eng an menghasilkan teks lain. Teks asal mungkin diperlakukan secara “ utuh” , tetapi mungkin jug a d eng an m eng ubahny a (Junus,1984:189).

Pembaca yang menjadi fokus perhatian dalam penelitian ini adalah pembaca nyata yang berlaku aktif, yaitu pembaca yang menghasilkan karya sastra baru. Dengan kata lain, pengarang.

3. M etode

Penelitian ini termasuk jenis penelitian d eskrip tif kualitatif. Penelitian d eng an m eto d e kualitatif m eng hasilkan d ata deskriptif mengenai sasaran yang diamati o leh p eneliti (A sw atini, 2007:25— 26). Menurut Teeuw (1984:208—218) ada tiga metode penelitian resepsi sastra, yaitu (1) p enelitian resep si sastra secara eksperimental, (2) penelitian resepsi lewat kritik sastra dan penciptaan karya sastra “ baru” , d an (3) p enelitian resep si

intertekstual. Penelitian (1) hanya d ap at dilakukan untuk resepsi masa kini. Penelitian (2) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara sinkro nik d an secara d iakro nik. Penelitian resepsi secara sinkronik berarti meneliti resepsi sastra dalam satu kurun w aktu atau satu periode saja, sedangkan penelitian resepsi sastra secara diakronik berarti meneliti resepsi sastra sep anjang sejarahny a d ari p erio d e ke p erio d e. Penelitian (3) dapat dilakukan dengan cara membandingkan karya-karya yang memiliki kaitan intertekstual. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian (2), yaitu metode resepsi sastra secara diakronik. Sumber data penelitian ini adalah karya-karya sastra yang bertutur tentang Nyai Dasima yang muncul sep anjang sejarah sejak terbitnya yang pertama tahun 1896 sampai dengan tahun 2010 dan dokumen-d o kum en y ang berkaitan dokumen-d eng anny a. Peng um p ulan d ata d ilakukan d eng an metode studi pustaka yang ditopang dengan teknik baca, catat, simak, dan transkripsi. Data d ikelomp okkan berd asarkan tahun kemunculannya. Untuk melihat perubahan resepsi, dipilih lima karya secara khusus, yaitu novel Njai Dasima (1926) karya A. Th. Manusama, teks d rama “ Njai D asim a” (1965) kary a S.M . A rd an, p uisi “ N y ai D asim a” (1980-an) kary a W .S. Rend ra, novel Nyai Dasima (2000) karya Rahmat Ali, d an Ny ai D asimah (2004) kary a Yuliad i Soekardi dan U. Syahbudin. Lima karya itu dianalisis dan ditafsirkan dengan melihat hubung an antarkary a, p eng arang d an ho riso n harap anny a, serta sem ang at z am anny a. Penafsiran tid ak d ap at dipisahkan dari analisis karena penafsiran m erup akan p encarian y ang lebih luas berkaitan d engan p enemuan-p enemuan (Nazir, 1999:437).

4. Temuan dan Pembahasan

4.1 Bentuk Resepsi Pembaca

Sep anjang sejarah, d ari tahun 1896 samp ai d engan tahun 2010, Tjerita Njai

D asima telah mendapat tanggapan dalam

(5)

(masa sebelum kemerdekaan) muncul resepsi dalam bentuk p uisi (syair) Sair Tjerita di Tempo Tahoen 1813 Soeda Kedjadian di Betawi,

Terpoengoet Tjeritanja dari Boekoe N jaie Dasima karya Lie Kim Hok dan syair O.S. Tjiang berjudul Sair Tjerita di Tempo Tahon 1813 jang Belon Brapa Lama Soeda Kadjadian di Batawi, Terpoengoet Tjeritanja dari Boekoe Njaie D asima, Boekoe ini A da Satoe Boekoe Nasihat, Bergoenanja Boeat Kasi Persent Sa-orang Prampoean jang D itinggalken Harta

Benda (Salmo n, 1985:31—32). Ked uanya

muncul pada tahun 1897. Pada tahun 1922, syair ini diubah dalam bentuk manuskrip oleh pengarang Malaysia bernama Ahmad Baram ha d an d itulis d eng an nam any a (Chamber-Loir, 1994). Pada aw al abad ke-20, resepsi pembaca muncul dalam bentuk syair lagu keroncong. Transkripsi dua lirik lagu keroncong yang bercerita tentang Nyai Dasima ini dapat dilihat pada tulisan Kenji Tsuchiya (1990:76—77). Sekitar tahun 1926, hadir novel berbahasa Belanda berjudul Njai Dasima, het Slachtoffer van Bedrog en Mislead-ing. Een Historisch Z edenroman van Batavia

d an no v el berbahasa M elay u Rend ah berjudul Njai Dasima: Tjerita Satoe Prempoean Eilok jang Kena Boedjoekan, Hingga Menjadi Korban dari Pemboenoehan Hebat. Keduanya d itulis o leh p eng arang Eurasia, A . Th. Manusama.

Resepsi pembaca dalam bentuk drama terlihat lewat komedi stamboel Miss Ribut yang telah mementaskan cerita ini tid ak kurang d ari 127 kali (To er, 2003:47). Sand iw ara D ard anela jug a telah mementaskan cerita Nyai Dasima dalam law atannya ke berbagai negara sebelum Perang D unia ke II. Leno ng Betaw i menjad ikan kisah Nyai Dasima sebagai andalan pementasannya. Di kota Malang, kisah ini jug a m uncul d alam seni pertunjukan ludruk (Janarto, 1990).

Film y ang meng ang kat kisah Ny ai Dasima adalah produksi Tan’ s Bersaudara berjud ul “ D asim a” p ad a tahun 1929, “ D asim a II” p ad a tahun 1930, d an “ Pem balasan N ancy ” (“ N ancy Bikin Pem balesan” ) atau “ N jai D asim a III” . Tahun 1940, Jav a Ind ustri Film (JIF)

m em buat film berjud ul “ D asim a” (Wahyudi, 2007).

Roestam Sutan Palindih menuliskan kembali cerita Nyai Dasima dengan judul

D asima, Kissa Lama M enoeroetkan Langgam

Baru tanpa menggunakan kata Nyai, yang

kemungkinan diterbitkan pada tahun 1940 o leh p enerbit Ko lff-Buning, Yo gyakarta. Tsuchiya (1990:76) menyebut teks ini sebagai skenario film. Junus (1999:84—86) menyebut teks Palindih dengan judul Dasima, tanpa kata N y ai d an subjud ul. M enurutny a, meskipun tidak ditulis dalam format screen-play, jejak film masih terasa dalam versi ini.

Pad a p erio d e kemerd ekaan (1945— 2010), resepsi pembaca dapat dibagi menjadi tiga periode. Pada periode 1945—1966 (awal kemerdekaan—Orde Lama) muncul prosa dan drama. Pada tahun 1960, S.M. A rdan menulis cerita sandiwara Njai Dasima yang d im uat bersambung d alam surat kabar

W arta Berita p ad a bulan Sep tem ber—

O kto ber. Tahun 1963, M elani Tjio k memublikasikan cerita bersambung Hikajat Njai Dasima dalam rubrik “ Lentera” , surat kabar Bintang Timoer tanggal 17 Februari, 24 Februari, dan 5 Maret. Pada tahun 1964, A rd an m enulis naskah d ram a “ N jai Dasima” dan mementaskannya berkeliling di berbagai kota. Naskah drama yang terdiri atas tiga babak itu kemudian diterbitkan d alam bentuk buku o leh Triw arsa p ad a tahun 1965 (Rizal, 2006).

Pada periode 1967—1998 (Orde Baru), pentas lenong Betawi masih menghadirkan kisah Nyai Dasima sebagaimana terlihat d alam transkrip si Keith Fo ulcher (2004) yang d id asarkan p ad a p entas lenong d i Taman Ismail Marzuki pada tanggal 27 Sep-tember 1969. Resepsi pembaca juga muncul d alam bentuk film (tahun 1970) y ang diproduksi oleh Chitra Dewi Film Produc-tion berjudul “ Samiun dan Dasima” . Tahun 1971, drama Nyai Dasima karya S.M. Ardan dimuat ulang sebagai cerita bersambung oleh majalah Budaya Jaya dan diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Pustaka Jaya.

(6)

menerbitkan Tjerita Njai D asima karya G. Francis dalam antologi sastra pra-Indonesia,

Tempo D oeloe, yang diterbitkan oleh Hasta Mitra d an kemudian dicetak ulang oleh penerbit Lentera Dipantara sebagai ed isi revisi pada tahun 2003. Di samping foto N y ai D asim a d an g ambar may at Ny ai D asim a y ang “ d ihilang kan” , p ad a suntingan Pramoedya juga terdapat bagian (kata, kalimat, paragraf) yang “ hilang” dan “ berubah” , seperti kata bodo menjadi pintar, d ari teks G. Francis (lihat Sungko w ati, 2006:73—76).

Pad a tahun 1980-an, W .S. Rend ra membacakan dan merekam puisi berjudul “ Nyai Dasima” . Tahun 1988, Harry Aveling m enerjem ahkan Tjerita N jai D asima

sunting an Pram o ed y a A nanta To er ke dalam bahasa Inggris dengan judul “ The Sto ry o f Nyai Dasima” d iterbitkan o leh penerbit Monash University. Naskah ini kemudian dicetak ulang pada tahun 1996 dengan jud ul Ny ai D asima oleh p enerbit yang sama.

Pada tahun 1990, Herry Gendut Janarto menyadur bebas cerita Tjerita Njai D asima

dalam rangka memperingati ulang tahun ke-463 kota Jakarta dan diterbitkan dalam majalah Femina nomor 24/ XVIII, tanggal 21—27 Juni sebagai suplemen. Teks saduran Janarto diberi tambahan pantun dan foto-foto film “ Dasima” produksi Tan Bersaudara tahun 1926. Tahun 1993, Rahm at A li menulis cerita rakyat Betawi, salah satunya adalah cerita Nyai Dasima. Setelah dunia film melesu dan digantikan dunia televisi, Nyai Dasima pun dibuat sinetron oleh Fo-cus A udio V isual Production H ouse d an ditayangkan oleh stasiun televisi RCTI pada tahun 1996—1997.

Pad a p erio d e 1999— 2010 (O rd e Reformasi) terbit novel Nyai Dasima karya Rahmat A li (2000). Pada tanggal 27—28 Juni 2001, Eksotika Karmawibhangga

Indone-sia ( EKI) D ance Company mementaskan

drama musikal berjudul “ Madame Dasima: To Fall in Love with Someone You are Not Supposed to” di Graha Bakti Budaya, TIM, Jakarta. Tahun 2004, terbit buku cerita

rakyat yang ditulis oleh Yuliadi Soekardi dan U. Syahbudin dengan judul Nyai Dasimah

sebagai cerita rakyat Betawi dan diterbitkan oleh penerbit Pustaka Setia, Bandung. Pada tang g al 17 Juli 2005, Trans TV jug a menayangkan sinetron komedi Senyum Nyai

D asima. Veven Sp W ard hana menyad ur

cerita Nyai Dasima dan mengungkap seputar kehidupan p ara nyai dalam sinetro nnya yang berjudul Nyai Desi Nyai Imah. Trans TV kembali menayangkan sinetron berjudul “ Nyai Dasima” pada tanggal 2 Maret 2007. Tahun 2007, drama Nyai Dasima karya S.M. A rd an d iterbitkan ulang o leh p enerbit Masub. Dalam terbitan ini disertakan pula versi G. Francis.

4.2 Perubahan Resepsi Pembaca

(1) Resepsi Th. A. Manusama

Dalam novelnya, Njai D asima: Tjerita Satoe Prempoean Eilok jang Kena Boedjoekan, Hingga M enjadi Korban dari Pemboenoehan

H ebat, A . Th. M anusam a m elakukan

p erluasan p lo t d eng an m em berikan pengantar latar belakang cerita dan di akhir mengemukakan pengadilan terhadap or-ang-o rang p ribumi atas kem atian Ny ai D asim a. Resep si A . Th. M anusam a m em p erlihatkan d ukung anny a p ad a p enerap an p o litik id entitas d an p raktik pernyaian yang dilakukan oleh penguasa kolonial. Ia mengafirmasi teks Tjerita Njai

D asima yang prokolonial, bahkan dengan

intensitas yang lebih kuat. Keberpihakan pada kolonial terlihat dalam penggambaran p ribumi yang sangat buruk, baik fisik, karakter maupun sebutannya, sep erti si kolot, si bodoh, iblis perempuan, si lidah jahat, ibu terkutuk, istri durjana, jahanam besar, prampoean-prampoean berhati palsu, p esakitan, bumiputera kamp ungan, dan

(7)

bisa kembali. Bahkan, pernyaian dinilai lebih baik daripada perkawinan cara Islam.

Resep si A . Th. Manusama itu tid ak dapat dilepaskan dari latar belakang dan ko nteks z am anny a. A . Th. M anusam a merupakan Indo-Belanda. Novelnya ditulis sekitar tahun 1926 ketika benih-benih nasio nalism e sud ah tum buh subur d i kalangan pribumi. Bangkitnya nasionalisme pada awal abad ke-20 ini telah mengarah p ad a tujuan kemerd ekaan (Karto d ird jo , 1984:13— 14). Situasi z am an itu kem ung kinan m em p eng aruhi Th. Manusama, sebagai bagian dari kekuasaan y ang kian terancam o leh bang kitny a nasionalisme sehingga menulis Njai Dasima

d eng an nad a marah d an benci kep ad a p ribum i lebih kuat d arip ad a y ang ditunjukkan oleh G. Francis (Sungkowati, 2007).

(2) Resepsi S.M. Ardan

Resep si S.M . A rd an m uncul d alam bentuk naskah drama tiga babak. Karena m erup akan naskah d ram a, teks “ N jai Dasima” didominasi oleh dialog. S.M. Ardan m em buat p erubahan y ang sang at signifikan. Ia menceritakan bahw a Nyai Dasima pergi meninggalkan Edward Will-iam bukan karena bujukan pribumi dengan d alih ajaran Islam , m elainkan karena kesadaran terhadap martabatnya sebagai pribumi.

“ Saja tidak sudi direndahkan,” omongan Dasima mulai teratur, “ habis sud ah kesabaran saja. Saja...juga marah sama tuan.”

“ Ije...,” kata Mak Leha lagi.

“ Memang sudah lama saja tidak tahan lagi. Bagi saja tidak ada djalan lain ketjuali keluar dari gedong. Saja...saja minta tjerai....”

Mak Bujung terlontjat, “ Tuan bilang ape?”

“ Tuan tjo ba bud juk saja,” Dasim a menggeleng, “ tapi pertjuma sadja, karena saja ingin bisa kembali kepada banga saja, sud ah lama saja tid ak tahan lag i.” (Ardan, 1965)

Nyai Dasima juga tidak digambarkan sebagai perempuan haus harta sebagaimana d alam teks G. Francis, tetap i sebag ai perempuan dengan naluri keibuan yang tinggi sehingga menjadi sedih dan bimbang ketika harus meninggalkan anaknya.

“ Ada satu soal yang betul² bikin saja bingung,” kata Dasima dan dengan suara m o ho n bantuan d isam bung nja, “ bagaimana dengan Nancy, Mak?” “ A pe Nji, Nengsi?” Mak Buyung jadi bingung.

Dasima minta pengertian lawan bicara. “ Tuan mau lepas saja, tuan mau kasih saja uang, barang segala rupa. Tapi Nancy tuan jang ambil, Mak.”

Mak Bujung coba meringankan beban madjikannya, “ Ah, kan Njai masih bisa ketemu Nengsi.”

“ Apa arti harta dibandingkan dengan Nancy seorang, Mak,” jawab Dasima dengan air mata mengembang. “ Bagi saja dia adalah segala-galanja, Mak,” lalu menuju korsi dan mendjatuhkan diri di sana sam bil m eng eluh. “ O h, Nancy...Nancy.” (Ardan, 1965)

William yang tidak rela ditinggalkan o leh Nyai Dasima kemudian membayar Bang Puase untuk membunuhnya ketika hendak pergi menonton dengan Samiun. Jika di dalam teks G. Francis Nyai Dasima d ibunuh o leh p ribumi, d alam teks S.M. Ardan Nyai Dasima dibunuh oleh William (Eropa).

Resep si S.M. A rd an ini tid ak d ap at dilepaskan dari latar belakangnya sebagai budayawan Betawi dan situasi zamannya. Ia menuliskan kembali kisah Nyai Dasima di era kemerdekaan, ketika Indonesia sudah lep as d ari beleng g u ko lo nial. Sebag ai seo rang p ribum i, S.M . A rd an m elihat ketid akad ilan d alam Tjerita Njai D asima

(8)

pribumi di dalam teks G. Francis pernah diungkapkan saat berceramah di Lembaga Kebud ay aan Betaw i (Riz al, 2007:v i). Menurutnya, karakterisasi yang dibuat G. Francis telah m encip takan m o d el perempuan dan orang Betawi yang tidak sesuai dengan kenyataan d an ia dengan tegas menolaknya.

(3) Resepsi W.S. Rendra

Pada aw al tahun 1980-an, WS Rendra menulis puisi berjudul “ Nyai Dasima” yang dipublikasikan dalam bentuk audio cakram padat. W .S. Rendra mentransfo rmasikan

Tjerita Njai Dasima ke dalam bentuk puisi. D alam p uisi ini latar kehid up an N y ai Dasima pun diubah. Ia bukan lagi nyai yang hidup di era kolonial, tetapi sudah hidup di era “ pembangunan” .

D alam p uisiny a, Rend ra tetap m eng g am barkan N y ai D asim a sebag ai seorang p eremp uan yang cantik, sep erti terlihat dalam larik-larik berikut / Nyai D asim a y ang lebat ram butny a/ .../ kini kulihat tetap saja kamu jelita/ / .../ Nyai Dasima yang lentik bulu matanya/ .../ kini kulihat lesung pipitnya tetap sempurna/ / .../ Nyai Dasima bibirnya merah kesumba/ .../ kini kulihat ia tetap cantik dan perkasa/ / .../ kebay am u y ang rap i berkanji/ . Perubahan zaman itu digambarkan oleh Rendra membuat Nyai Dasima yang tetap cantik jelita, menjad i terbata-bata d an kadang-kadang menangis meskipun hanya sebentar. Rendra mengubah karakter Nyai Dasima sebagai perempuan yang perkasa, bukan perempuan lemah dan bergantung pada laki-laki sebagaimana yang dicitrakan oleh G. Francis.

Keperkasaan Nyai Dasima tergambar dalam posisinya sebagai orang tua tunggal y ang hid up d alam situasi y ang tid ak berpihak pada orang-orang seperti dirinya. Ia digambarkan sebagai perempuan yang cekatan, mampu menangkap setiap peluang, dan tanggap terhadap perubahan. Ketika pabrik batik gulung tikar, ia segera beralih membuka kedai makan dan ketika anaknya yang lulus SMA tidak mendapat pekerjaan, ia pun dengan sigap membawanya ke pasar

untuk berd agang. Dalam berd agang, ia dicitrakan sebagai p ekerja keras dengan bekerja siang-malam dan sebagai seorang yang tegas, khususnya p ad a p elanggan yang suka berutang. Nyai Dasima bekerja siang malam, mengumpulkan uang untuk masa depan. Citra Nyai Dasima ini sangat bertentang an d eng an g am baran y ang diberikan oleh G. Francis. Rendra mengubah citra Ny ai Dasima y ang d alam teks G. Francis digambarkan sebagai perempuan haus harta suaminya menjadi perempuan mandiri yang sanggup mencari uang sendiri dan mempunyai tujuan yang jelas dengan uang yang dikumpulkannya, yaitu untuk masa depan.

Melalui puisi “ Nyai Dasima” ini, W.S. Rendra melancarkan kritik sosial terhadap keadaan yang tidak berpihak kepada kaum marginal, sep erti terlihat p ad a kutip an berikut ini.

Kamu mengadu kepadaku

Ya ya ya ya ya keadaan sudah berubah tentu saja

Pabrik-pabrik didirikan di desa

Orang desa menjual tanahnya

Pergi ke kota jadi gelandangan

Ya ya ya ya ya keadaan sudah berubah tentu saja

Bendungan yang didirikan ditumbuhi enceng gondok

Pengairan malah berkurang

Dan tenaga listriknya hanya mampu terbeli oleh modal asing

(9)

mereka karena justru d ijual p ada orang asing.

Kritik so sial jug a d itujukan p ad a kehid up an kaum buruh y ang rentan terhad ap PHK d an tid ak tersed iany a lapangan pekerjaan, seperti terlihat pada kutipan berikut ini.

Dunia berubah ia terbata-bata

Tetapi cuma sementara

Ketika pabrik batik gulung tikar Dan wanita-wanita pembatik kluyuran

di jalan di waktu malam

Dengan cepat ia membuka kedai makan

Ia jud es terhad ap lang ganan y ang berhutang

Ia bekerja siang dan malam

Nyai Dasima bibirnya merah kesumba

Sudah lama tidak berjumpa

Kini kulihat ia tetap cantik dan perkasa

Ia tak pernah ragu-ragu Kadang-kadang menangis juga

Tetapi cuma sedikit air matanya

Anaknya yang tamat SMA tak dapat kerja

Cepat-cepat ia seret ke pasar

Ia suruh berdagang saja

Resepsi W.S. Rendra itu muncul pada awal tahun 1980-an. Pada awal tahun 1980, puisi-puisi Rendra menunjukkan perhatian yang lebih intens terhadap persoalan sosial dalam masyarakat yang dapat dilihat pada kump ulan p uisinya Potret Pembangunan

dalam Puisi. Gaya dan penyajian puisi dalam

Potret Pembangunan dalam Puisi bersifat

pamflet dan slogan-slogan politik yang vul-g ar d an p ro v o katif (Ind ijati, 1996:46). Perubahan ini menurut Teeuw (1980:119) bukanlah perubahan kecil. Rupanya W.S. Rend ra kian g elisah m elihat p ro ses pembangunan di era Orde Baru yang tidak berp ihak p ad a rakyat. Rend ra melihat kehid up an m asyarakat y ang terancam sehingga p uisi-p uisinya bernad a p ro tes sosial. Resepsi W.S. Rendra terhadap Tjerita

N jai D asima m em p erlihatkan ad any a

p erubahan ho riso n harap annya sebagai

pembaca (yang juga seorang penyair) dan menggambarkan situasi zaman, yaitu zaman Orde Baru yang menjadikan pembangunan sebag ai p ang lim a, tetap i bany ak m enim bulkan p erso alan so sial d i masyarakat.

(4) Resepsi Rahmat Ali

Resepsi Rahmat Ali dalam novel Nyai D asima: Tragedi W anita A sal D esa Kuripan

menunjukkan ad anya p erluasan d alam p enyaluran, p eno ko han, d an p elataran. Dari segi penyaluran, no vel ini memiliki rentang waktu penceritaan yang lebih lama, d imulai d eng an jatuhnya Batavia yang semula d ikuasai VOC ke tangan tentara Inggris hingga setelah terbunuhnya Nyai Dasima. Perluasan ini memberi gambaran proses masuknya Dasima dalam kehidupan William. Dari segi penokohan, perluasan dilakukan dengan menambahkan toko h-tokoh baru dari kalangan Eropa yang tidak menyukai Nyai Dasima. Penghinaan dari tokoh-tokoh itu mengusik harga diri Nyai D asim a hing g a ia m em utuskan untuk kem bali p ad a ling kung an bang sany a. Perluasan d alam hal p elataran m enunjukkan tiad any a p em isahan permukiman kalangan Eropa dan pribumi secara rad ikal. Bahkan, d i atas Sungai Ciliwung digambarkan terdapat jembatan-jem batan kecil y ang m eng hubung kan tempat tinggal William (Eropa) dan Samiun (pribumi). Kemudian, William menyumbang lam p u-lam p u kecil untuk p enerang an jembatan dan menyumbang kambing untuk perayaan keagamaan di Kampung Kwitang. Novel Nyai Dasima: Tragedi W anita Asal

Desa Kuripan juga memberikan pandangan

(10)

sistem kolonial. Nyai Dasima digambarkan meninggalkan William karena merasakan penghinaan dan perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya sebagai pribumi di tengah lingkungan Ero pa. Hal itu menunjukkan bahw a ia memiliki kesad aran terhad ap harga diri dan martabatnya, tidak seperti g am baran N yai D asim a d alam teks G. Francis.

Rahmat Ali juga menghilangkan politik identitas dalam teks G. Francis dengan cara mengkarakterisasi tokoh-tokohnya secara hetero g en. N o v el N y ai D asima tid ak menempatkan o rang Islam d an Kristen, Eropa dan pribumi, kulit putih dan kulit coklat dalam posisi yang saling menjaga jarak atau berlaw anan secara radikal dan m em berikan g am baran w atak secara stereotipe berdasarkan ras dan agamanya.

Perubahan itu tidak dapat dilepaskan dari horison harapan Rahmat Ali. Rahmat A li lahir di kota Malang dan d ibesarkan dalam keluarga Jawa Islam. Sebagai seorang marinir, ia memiliki pandangan kebangsaan dan menghargai realitas kemajemukan yang ad a d i Ind o nesia. Rahm at A li m enulis kem bali kisah N y ai D asim a d i era kemerdekaan dalam kondisi bangsa yang sedang terpuruk akibat berbagai krisis. Ia menentang p o litik id entitas yang p ad a dasarnya merupakan politik devide et impera

yang pada masa kolonial digunakan untuk m em p erkukuh p o sisi p enjajah d an menimbulkan permusuhan antargolongan. Di era kolonial, permusuhan antargolongan d i masyarakat akan memp erkuat p osisi penjajah karena jika terjadi konflik, pihak penjajahlah yang akan menyelesaikannya sehingga menimbulkan kebergantungan di antara p end ud uk jajahan. D i era kemerd ekaan, p ermusuhan d an ko nflik antarg o lo ng an atau kelo m p o k d alam m asy arakat justru akan m elem ahkan kesatuan sebag ai sebuah bang sa (Sungkow ati, 2006:236—237).

(5) Resepsi Yuliadi Soekardi dan U. Syahbudin

Yuliad i So ekard i d an U. Syahbud in menanggap i cerita Nyai Dasima dengan

sudut pandang Islam. Dalam bukunya yang berjudul Nyai Dasimah, cerita yang ditulis Soekardi dan Syahbudin diberi keterangan sebagai cerita rakyat Betawi. Buku ini terdiri atas sepuluh bab, yaitu (1) Dasima Si Cantik yang Lugu, (2) Hidup Bersama Tuan Ed-w ard, (3) Menjadi Buah Bibir, (4) Samiun dari Pejambon, (5) Samiun Jatuh Cinta, (6) Rencana-Rencana Samiun, (7) Diusir Tuan Ed w ard , (8) Pernikahan Ked ua, (9) Pernikahan yang Tidak Bahagian dan (10) Kembali.

Resep si Yuliad i So ekard i d an U. Syahbudi berangkat dari pandangan Islam. Dalam versi Soekardi dan Syahbudin ini, diceritakan bahwa Dasimah bukan gundik, melainkan istri yang dinikahi secara sah dan resmi oleh Edw ard William. A kan tetapi, baik D asim a m aup un W illiam tetap berp egang p ad a agama masing-masing. Padahal, perkawinan beda agama dilarang oleh Islam. Di samping itu, sebagai kepala keluarga, Edw ard William menginginkan Dasimah mengikuti dan beribadah sesuai d engan agama d an keyakinannya. Dari perkawinan campur inilah persoalan demi persoalan digulirkan.

Selam a m enikah d eng an W illiam , Dasimah tidak dapat leluasa menjalankan ajaran Islam untuk beribadah kepada Allah SWT karena William digambarkan sangat membenci agama Islam. Dasimah beribadah secara sembunyi-sembunyi.

“ Diam-diam kau mengaji, diam-diam kau membaca Alquran, diam-diam kau salat. A p a itu bukan p eng khianatan namany a? ” Mata Tuan Ed w ard membesar merah, memelototi Dasima.

“ Papa, saya lahir dari keluarga muslimm, d an sampai saat ini pun saya tetap seorang muslim. Apakah saya salah, jika saya menjalankan ibadah agama saya?” Air mata mulai meleleh di pipi Dasima.

Tuan Edward terdiam.

“ Selama ini, Papa pun rajin menjalankan ibad ah Papa. Pergi ke gereja setiap minggu, berdoa. Lalu, mengapa saya tidak boleh?”

(11)

keluarg a d i sini. A kulah yang menentukan mana yang boleh mana yang tidak. Kau harus taat pada segala yang kukatakan. Jika kau memang ingin beribadah, ikutlah denganku ke gereja, berdoalah bersamaku.”

“ Papa, kita berbeda. Meskipun saya istri Papa, tapi saya tidak bisa mengikuti apa y ang p ap a lakukan. Say a seo rang muslim! Saya muslim, Pa! Beri saya kebebasan untuk menjalankan ibadah agama saya.”

Jadi, kau ingin bebas? Kau ingin bebas menjalankan ibadah agamamu?!”

Tuan Edward memandang Dasima sinis.

Dasima hanya terdiam dan menunduk. “ Baik, baik. Mulai saat ini aku akan membebaskanmu! Lakukan apa saja sesukam u! Pergi d ari rum ah ini!” (Soekardi, 2004:85).

Setelah diusir, Nyai Dasimah tinggal di rum ah M ak Buy ung sam p ai akhirny a d ip eristri o leh Sam iun d eng an alasan pernikahannya belum dikaruniai anak. Is-lam sesungguhnya membolehkan poligami. Hayati dihasut oleh Mak Idah, saudaranya, untuk memfitnah Nyai Dasimah sehingga N y ai D asim ah d iusir d ari rum ah d an dicelakai oleh Samiun yang marah karena merasa dikhianati. Tubuh Nyai Dasimah ditemukan oleh William di sungai belakang rum ah. Berkat bantuan d o kter, N y ai D asim ah selam at. W illiam akhirny a menyadari kesalahannya dan masuk Islam.

“ Dasima…maafkan aku…maafkan aku, Sayang. Semua ini gara-gara aku.” Tuan Edward tergugu. Matanya basah oleh air mata. “ Dasima, cepatlah sembuh, aku ingin kita bisa hidup bahagia seperti dulu lagi. Dasima, kini aku telah berubah. Aku telah menyadari semuanya. Aku tahu, aku sangat tahu bahwa keyakinanmu itu benar. D an kini d i had ap anm u, d i hadapan A llah, Tuhan Yang Esa, aku berikrar...A sy had u alla ilaaha illallah...W aasy had u anna muhammaddarasulullah... Aku bersaksi

bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah....” (Soekardi, 2004:126).

Nyai Dasimah d an Ed w ard William menikah kembali secara Islam. Edward Wil-liam dipecat oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda. William mengajak Nyai Dasimah d an N ancy kem bali ke Ing g ris untuk memulai hidup baru.

Resep si Yuliad i So ekard i d an U. Syahbudin ini dapat dikatakan sebagai versi Islam d an kebebasan. D alam v ersi ini m uncul tuntutan akan kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan Islam. Buku cerita rakyat ini d iterbitkan o leh Penerbit Pustaka Setia, Band ung. Dengan semangat kebebasan, penerbit ini berupaya menerbitkan kembali cerita rakyat yang populer di masyarakat dengan memasukkan nilai-nilai Islam di dalamnya.

5. Simpulan

Dari p embahasan d apat disimpulkan bahwa sepanjang sejarah, resepsi terhadap

Tjerita Njai Dasima muncul dalam beragam bentuk, yaitu p uisi, p ro sa, teks d rama, skenario film, film, sinetron, dan d rama musikal. Munculnya bentuk-bentuk resepsi itu tid ak terlep as d ari p erbed aan latar belakang pembaca (baca pengarang) dan perubahan zaman.

(12)

Daftar Pustaka

Ali, Rahmat. 1993. Cerita Rakyat Betawi 2. Jakarta: Grasindo

Ali, Rahmat.2000.Nyai Dasima: Tragedi Wanita Asal Desa Kuripan. Jakarta: Grasindo

Ardan, S.M. 1965. Njai Dasima. Cet. I. Jakarta: PT Tri Warsa

Ardan.1971. Njai Dasima. Cet. II. Jakarta: Pustaka Jaya

Aswatini.2007.”Rancangan Penelitian”. Dalam Modul Diklat Fungsional Peneliti. Jakarta: Pusat

Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Peneliti LIPI.

Aveling, Harry. 1996. “Nyai Dasima”. Working Papers in Centre of Southeast Asian Studies. Clayton: Monash University

Chamamah-Soeratno, Siti. 1994. “Penelitian Resepsi Sastra dan Problematikanya” dalam Teori Penelitian Sastra. Yogyakarta: Masyarakat Poetika Indonesia dan IKIP Muhammadiyah Yogyakarta

Chamber-Loir, Henri.1994. “Un Cas Récent de´ Emprunt Littéraire: Tahar Ben Jelloun” in Archipel, No. 48. Paris: Centre National de la Recherche Scientifique ett de l´Institut National des Langues et Evilisation Orientales.

Fokkema, D.W. & Elrud Kunne-Ibsch. 1977. Theories of Literature in Twentieth Century: Structural-ism MarxStructural-ism Aesthetics of Reception Semiotics. London: C. Hurst & Company.

Foulcher, Keith.2004. “Community and the Metropolis: Lenong, Nyai Dasima, and the New New Order” in Asian Research Institute Working Papar Series, University of Sidney. p. 1—26

Francis, G. 1896. Tjerita Njai Dasima Soewatoe Korban Daripada Pemboedjoek. Batavia

Hellwig, Tineke.1992. “Nyai Dasima, a Fictional Women” translated by Ernst van Lennep in Review of Indonesia and Malaysian Affairs (RIMA), Volume 26, No. 1. Sidney: The Departement of Southeast Asian Studies, The University of Sidney. p. 1—20

Indijati, Harlina dan A. Murad. 1996. Biografi Pengarang Rendra dan Karyanya. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Iser, Wolfgang.1978. The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Rsponse. Fourt Printing. Baltimore: The John Hopkins University Press

Janarto, Herry Gendut.1990. “Nyai Dasima, Cerita Betawi Lama yang Tetap Menggema”. Dalam Femina, nomor 24/XVII, tanggal 21—27 Juni

Jauss, Hans Robert.1983.Toward an Aesthetic of Reception. Translated from German by Timothy Bahti. Introduction by Paul de Man. Second printing. Mennapolis: University of Minnesota

Junus, Umar.1984.”Di Bawah Lindungan Ka’bah: Dialog Antara Film dan Novel” dalam Masyarakat Indonesia, Tahun Ke-20, No. 2

Junus.1999. “The Problem of Interpretation, Intertextuality, Reception Theory, and New Historicism” in Humaniora, No.12, September—December

Kartodirdjo, Sartono.1984. Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta: Pustaka Jaya

Manusama, A. Th.1926. Njai Dasima, Tjerita Satoe Prempoean Eilok jang Kena Boedjoeken, Hingga Mendjadi Korban Pemboenoehan Hebat

Nazir, Moh.1999. Metode Penelitian. Cet. IV. Jakarta: Ghalia Indonesia

Nda/B-2.2001. “Dasima, Simbol Benturan Budaya Barat dan Timur”. Dalam Media Indonesia, Tanggal 30 April.

Rizal, J.J.2006. “ Nyai yang Sejati”. Dalam Kompas, Sabtu, 4 Maret.

(13)

Salmon, Claudine.1985.Sastra Cina Peranakan dalam Bahasa Melayu. Terjemahan Dede Oetomo. Jakarta: Balai Pustaka

Segers, Rien T.1978. The Evaluation of Literary Texts. Lisse: The Peter de Ridder Press.

Soekardi, Yuliadi dan U. Syahbudin.2004.Nyai Dasimah. Bandung: Pustaka Setia

Sungkowati, Yulitin.2006. “Nyai Dasima Karya Rahmat Ali: Kajian Intertekstual”. Tesis. Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Sungkowati 2007. “Representasi Pribumi dalam Nyai Dasima Versi Th. Manusama”. Dalam Atavisme: Jurnal Ilmiah Kajian Sastra, Volume 10, Edisi Januari—Juni.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya

Tjiok, Melani.1963a. “Hikajat Njai Dasima”. Dalam surat kabar Bintang Timoer, 17 Februari

Tjiok.1963b.”Hikajat Njai Dasima”. Dalam surat kabar Bintang Timoer, 24 Februari

Tjiok.1963c.”Hikajat Njai Dasima”. Dalam surat kabar Bintang Timoer, 5 Maret

Tsuchiya, Kenji. 1990. “Reading Cerita Nyai Dasima Published in 1896, Batavia” in Asian Panorama: Essays in Asian History, Past & Present. New Delhi: Vikas. p. 75—88

Toer, Pramoedya Ananta.1982. Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia. Cet. I. Jakarta: Hasta Mitra

Toer.2003.Tempo Doeloe: Antologi Sastra Pra-Indonesia. Cet. II. Jakarta: Lentera Dipantara

Wahyudi, Ibnu. 1995. “The Nyai in Nyai Dasima, Nyai Ratna, and Nyai Alimah: A Reflection of Indone-sian Women’s Lives as Concubines of European in Indonesia’s Colonial Periode”. Unpublished Thesis. Clayton: Monash University

Wahyudi, Ibnu.2003.”Potret Buram? Para Nyai Masa Kolonial” dalam Srinthil: Media Perempuan

Multikultural. Jakarta: Desantara

Wahyudi, Ibnu.2007.”Fenomena Dasima”. Dalam Pikiran Rakyat, Sabtu 10 Maret

Referensi

Dokumen terkait

Sumber data kedua adalah proses dan hasil implementasi model apresiasi novel sebagai wahana berbagi pengalaman sastra terhadap siswa MA Darul Arqam Garut yang bahan

Dalam novel Rashomon Gate , pengarang menyajikan suatu karya sastra fiksi yang mengandung banyak nilai-nilai sosiologi yang tergambar jelas dari sikap, sifat, serta

1) Ekologi budaya dalam sastra memiliki peran penting karena penggalian nilai-nilai budaya dalam masyarakat dapat dijadikan sumber inspirasi penciptaan karya sastra. 2)

Pengarang menggambarkan pengalaman tersebut ke dalam tulisan yang menjadikan sebuah karya sastra dalam bentuk fiksi, prosa (drama) ataupun puisi. Novel merupakan contoh

Damayanti memberikan kesimpulan pada skripsinya bahwa konteks sosial pengarang berperan dalam penciptaan karya sastra, novel Mahar Cinta Gandoriah merupakan cerminan

Dalam novel Yakuza Moon, pengarang menyajikan suatu karya sastra fiksi yang mengandung banyak nilai-nilai sosiologi yang tergambar jelas dari sikap, sifat, serta ucapan-ucapan

Langkah-langkah pengkajian novel dengan pendekatan psikologi sastra dilakukan terhadap: 1 psikologi pengarang yakni, memahami unsur-unsur kejiwaan pengarang sebagai penulis karya

Diuraikan oleh Abrams, terdapat empat pendekatan dalam mengapresiasi karya sastra, yaitu pendekatan yang menonjolkan kajiannya terhadap peran pengarang sebagai pencipta karya sastra