• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Fidusia Obyek Jaminan Fidusia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Fidusia Obyek Jaminan Fidusia"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN OBSERVASI HUKUM JAMINAN

OBSERVASI JAMINAN FIDUSIA DI KANTOR NOTARIS, KOPERASI DUTA MANDIRI (FINANCE) DAN KANTOR

KEMENKUMHAM WIALAYAH JATENG (METODE WAWANCARA )

Oleh:

SETYO PUJI W 8111412162

LUHUR SANITIYA PAMBUDI 8111412167

INUGRAHA AL AZIZ PURYASANDRA 8111412180

RAGIL WICAKSONO 8111412192

ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

(2)

PENDAHULUAN

Pembangunan Nasional yang dilaksanakan pada masa sekarang dilakukan berdasarkan demokrasi ekonomi yang mandiri dan handal guna mewujudkan terciptanya masyarakat adil dan makmur secara meluas, selaras adil dan merata. Pembangunan ekonomi yang diarahkan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat serta mengatasi ketimpangan ekonomi serta kesenjangan sosial guna mencapai kesejahteraan manusia. Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan asas kekeluargaan sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945. Kesinambungan pelaksanaan pembangunan nasional perlu senantiasa dipelihara dengan baik. Guna mencapai tujuan tersebut maka pelaksanaan pembangunan ekonomi perlu lebih memperhatikan keserasian dan kesinambungan aspek-aspek pemerataan dan pertumbuhan. Demikian kenyataannya, manusia memerlukan alat (sarana) bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya baik yang berupa kebutuhan primer maupun sekunder. Dimana alat-alat untuk memenuhi kebutuhan itu, manusia tidak mesti mampu untuk membuatnya sendiri, tetapi terkadang memperolehnya dari orang lain yang memang pekerjaannya berkaitan dengan barang-barang yang diperlukan. Di samping itu manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya kadang kala mengalami keterbatasan dana sehingga sudah sewajarnya manusia untuk saling membutuhkan dalam memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam guna melanjutkan kehidupannya.

Dengan semakin berkembangnya kegiatan ekonomi maka semakin terasa perlunya sumber-sumber untuk membiayai kegiatan usaha. Hubungan antara pertumbuhan kegiatan ekonomi ataupun pertumbuhan kegiatan usaha erat kaitannya dengan pembiayaan. Hal ini disebabkan karena dunia perbankan ataupun lembaga keuangan lainnya merupakan mitra usaha bagi perusahaan-perusahaan jasa non keuangan lainnya. Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan:

“Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.

(3)

kompetitif. Dalam situasi seperti ini Bank Umum (konvensional) akan menghadapi persaingan baru dengan kehadiran lembaga keuangan ataupun bank non-konvensional. Fenomena ini ditandai dengan pertumbuhan lembaga keuangan dan bank muamalat dengan sistem syariah. Suatu hal yang sangat menarik, yang membedakan antara manajemen bank muamalat dengan bank umum adalah terletak pada pemberian balas jasa, baik yang diterima oleh bank maupun para investor. Jika dilihat kenyataan di masyarakat, masih banyak terjadi kesimpang siuran mengenai pemahaman tentang pengertian Lembaga Keuangan dengan Bank Muamalat, walaupun sesungguhnya banyak persamaan diantara kedua jenis lembaga tersebut. Hal ini diperkuat dengan Peratutan Pemerintah No. 70 Tahun 1992, tentang perubahan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB) menjadi Bank Umum. Bank Umum yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional, menurut UU No. 7 Tahun 1992, dapat juga melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. Di Indonesia, keberadaan Bank Muamalat sudah ada sejak pertengahan tahun 1992, tepatnya setelah disyahkannya UU No. 7 Tahun 1992 sebagai dasar hukum, yang kemudian dirubah menjadi UU No. 10 Tahun 1998.

(4)

“Tiap-tiap perikatan dilahirkan, baik karena perjanjian baik karena undang-undang”

Ada beberapa jaminan kebendaan yang dikenal dalam hukum. Pertama adalah dalam bentuk gadai, kedua adalah dalam bentuk hipotek yang telah dirubah kedalam hak tanggungan, ketiga adalah hak tanggungan yang diatur dalam undang-undang No 4 tahun 1996, yang terakhir adalah jaminan fidusia, yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (yang selanjutnya disebut dengan Undang-Undang Jaminan Fidusia). Jaminan fidusia sendiri sebagaimana yang dipaparkan para ahli adalah perluasan akibat banyak kekurangannya lembaga gadai (pand) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan di masyarakat. Sebelum dikeluarkannya Undang-Undang Jaminan Fidusia, eksistensi fidusia sebagai pranata jaminan diakui berdasarkan yurisprudensi. Konstruksi fidusia berdasarkan yurisprudensi yang pernah ada adalah penyerahan hak milik atas kepercayaan, atas benda atau barang-barang bergerak (milik debitor) kepada kreditor dengan penguasaan fisik atas barang-barang itu tetap pada debitor. Sebelum berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia, benda benda yang dapat menjadi objek jaminan fidusia berupa benda bergerak yang merupakan benda dalam persediaan (investori), benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan kendaraan bermotor. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya kebendaan yang menjadi objek jaminan fidusia mulai meliputi juga kebendaan bergerak yang tak berwujud, maupun benda tak bergerak.

A. RUMUSAN MASALAH

a. Bagaimana proses terjadinya jaminan fidusia di kantor notaris…………? b. Bagaimana debitur dalam menjaminkan barangnya di lembaga

pembiayaan Koperasi Duta Mandiri Semarang ?

c. Bagaimana proses jaminan fidusia online di kantor Kemenkumham wilayah jawa tengah ?

B. TUJUAN PENULISAN

a. Menjelaskan proses terjadinya jaminan fidusia di kantor notaris……… b. Menerangkan proses debitur dalam menjaminkan barangnya di

(5)

c. Memaparkan proses jaminan fidusia online di kantor Kemenkumham wilayah jawa tengah

C. WAKTU DAN TEMPAT OBSERVASI 1. Kantor Notaris

Hari :

Pukul : Tempat : Alamat :

2. Lembaga Pembiayaan

Hari :

Pukul : Tempat : Alamat :

3. Kantor Kemenkumham Wilayah Jawa Tengah

Hari :

Pukul : Tempat : Alamat :

D. TUJUAN OBSERVASI

1. Untuk memenuhi Tugas Mata kuliah Hukum Jaminan

2. Untuk mengetahui proses terjadinya jaminan fidusia di instansi yang saling berkaitan yaitu kantor notaris, lembaga pembiayaan, dan Kemenkumham Jateng

(6)

E. METODE OBSERVASI

Kami menggunakan metode pada waktu observasi tugas mata kuliah hukum jaminan yaitu dengan wawancara langsung, karena wawancara langsung menurut kelompok kami sangat efektif untuk menggali informasi yang kami butuhkan secara jelas. Pertama kami melakukan observasi di kantor notaris ibu……….. yang beralamat………….. .Sedangkan yang kedua yaitu lembaga pembiayaan yang menjadi partner dari notaris……… yaitu Koperasi Duta Mandiri yang beralamat di………. Dan kami melakukan wawancara dengan ibu………. Pegawai koperasi dan bapak………. Manager koperasi. Yang terakir yaitu kami ke Kantor kemenkumham Wilayah Jateng yang beralamat di……… untuk mengetahui proses fidusia online

TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Jaminan Fidusia

Perjanjian yang didasarkan pada pasal 1320 KUH Perdata, tidak disebutkan adanya suatu formalitas tertentu di samping kesepakatan yang telah dicapai itu, maka dapat disimpulkan bahwa perjanjian itu sah (dalam arti mengikat) apabila telah tercapai kesepakatan mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian itu. Perjanjian yang seperti itu disebut perjanjian konsensuil. Di samping itu terdapat undang-undang yang menetapkan, bahwa untuk sahnya suatu perjanjian diharuskan perjanjian itu (perjanjian penghibahan barang tetap) tetapi hal yang demikian itu merupakan suatu perkecualian. Selanjutnya dikatakan bahwa perjanjian-perjanjian untuk mana ditetapkan suatu formalitas atau bentuk cara tertentu dinamakan perjanjian formil. Apabila perjanjian yang demikian itu tidak memenuhi formalitas yang ditetapkan oleh undang-undang, maka batal demi hukum.

(7)

kemudian baru dikeluarkanlah Sertifikat Jaminan Fidusia. Perjanjian pemberian jaminan fidusia sama seperti perjanjian penjaminan lain, yang merupakan perjanjian yang bersifat accesoir, sebagaimana ditegaskan pada Pasal 4 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, berbunyi: Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. Perjanjian Accesoir mempunyai ciri-ciri: tidak bisa berdiri sendiri, ada/lahirnya, berpindahnya dan berakhirnya bergantung dari perjanjian pokoknya.

Mengenai fidusia sebagai perjanjian assessoir, dijelaskan Munir Fuady lebih lanjut sebagai berikut:

Sebagaimana perjanjian jaminan hutang lainnya, seperti perjanjian gadai, hipotek atau hak tanggungan, maka perjanjian fidusia juga merupakan suatu perjanjian yang assessoir (perjanjian buntutan). Maksudnya adalah perjanjian assecoir itu tidak mungkin berdiri sendiri, tetapi mengikuti/membuntuti perjanjian lainnya yang merupakan perjanjian pokok. Dalam hal ini yang merupakan perjanjian pokok adalah hutang piutang. Karena itu konsekuensi dari perjanjian assesoir ini adalah jika perjanjikan pokok tidak sah, atau karena sebab apapun hilang berlakunya atau dinyatakan tidak berlaku, maka secara hukum perjanjian fidusia sebagai perjanjian assessoir juga ikut menjadi batal

Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia yang dimaksud dengan pengertian Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.

Beberapa ciri yang tampak dalam perumusan tersebut antara lain: a. Pengalihan hak kepemilikan suatu benda;

b. Atas dasar kepercayaan;

c. Benda itu tetap dalam penguasaan pemilik benda.

(8)

Atas dasar kepercayaan, tidak ada penjelasan resmi dalam Undang-Undang Fidusia. Kata “kepercayaan” mempunyai arti bahwa pemberi jaminan percaya, bahwa penyerahan ”hak miliknya” tidak dimaksudkan untuk benar-benar menjadikan kreditur pemilik atas benda yang diserahkan kepadanya dan bahwa nantinya kalau kewajiban perikatan pokok, untuk mana diberikan jaminan fidusia dilunasi, maka benda jaminan akan kembali menjadi milik pemberi jaminan. Tetap dalam penguasaan pemilik benda maksudnya adalah bahwa penyerahan itu dilaksanakan secara contitutum possesorium, yang artinya penyerahan “hak milik” dilakukan dengan janji, bahwa bendanya sendiri secara physic tetap dikuasai oleh pemberi jaminan. Jadi kata-kata “dalam penguasaan” diartikan tetap dipegang oleh pemberi jaminan. yang diserahkan adalah hak yuridisnya atas benda tersebut. Dengan demikian hak pemanfaatan (hak untuk memanfaatkan benda jaminan) tetap ada pada pemberi jaminan. Dalam hal demikian maka hak milik yuridisnya ada pada kreditur penerima fidusia, sedang hak sosial ekonominya ada pada pemberi fidusia. Selanjutnya, dalam jaminan Fidusia pengalihan hak kepemilikan dimaksudkan semata-mata sebagai jaminan bagi pelunasan hutang, bukan untuk seterusnya dimiliki oleh Penerima Fidusia. Hal ini dikuatkan lagi dengan Pasal 33 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia (UUJF) yang menyatakan bahwa setiap janji yang memberikan kewenangan kepada Penerima Fidusia untuk memiliki benda yang menjadi objek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji akan batal demi hukum. Objek Jaminan Fidusia (benda) telah diatur dalam Pasal 1 ayat (4), Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 20 UUJF

2. Pembebanan dan Pendaftaran Jaminan Fidusia

Pasal 4 UUJF menyatakan jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi suatu prestasi. Yang dimaksud prestasi di sini adalah memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, atau tidak berbuat sesuatu, yang dapat dinilai dengan uang.

Pembebanan benda dengan Jaminan Fidusia diatur Pasal 5 yaitu:

(9)

(2) Terhadap pembuatan Akta jaminan fidusia dikenakan biaya yang besarnya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Selanjutnya Akta Jaminan Fidusia haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

(1) haruslah berupa akta notaris;

(2) haruslah dibuat dalam bahasa Indonesia;

(3) harus berisikan sekurang-kurangnya hal-hal sebagai berikut:

a. Identitas pihak pemberi fidusia: Nama lengkap, agama, tempat tinggal/tempat kedudukan, tempat lahir tanggal lahir, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan;

b. Identitas pihak penerima fidusia, yakni tentang dana seperti tersebut di atas; c. Haruslah dicantumkan hari, tanggal, dan jam pembuatan akta fidusia; d. Data perjanjian pokok yang dijamin dengan fidusia;

e. Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan fidusia, yakni tentang identifikasi benda tersebut, dan surat bukti kepemilikan. Jika benda selalu berubah-ubah seperti benda dalam persediaan (inventory) haruslah disebutkan tentang jenis, merek, dan kualitas dari benda tersebut.

f. Berapa nilai penjaminannya;

g. Berapa nilai benda yang menjadi objek jaminan fidusia;

(10)

(1) Benda yang dibebani dengan jaminan fidusia wajib didaftarkan;

(2) Dalam hal benda yang dibebani dengan jaminan fidusia berada di luar wilayah Negara Republik Indonesia, kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tetap berlaku.

Berdasarkan Pasal 12 dan 13 UUJF, pendaftaran jaminan fidusia kepada Kantor Pendaftaran Fidusia. Jika kantor fidusia di tingkat II (kabupaten/kota) belum ada maka didaftarkan Kantor Pendaftaran Fidusia di Kantor Wilayah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia di tingkat Propinsi. Yang berhak mengajukan permohonan pendaftaran jaminan fidusia adalah penerima fidusia, kuasa ataupun wakilnya, dengan melampirkan pernyataan pendaftaran jaminan fidusia, yang memuat:

a. Identitas pihak Pemberi Fidusia dan Penerima Fidusia;

b. Tanggal nomor Akta Jaminan Fidusia, nama dan tempat kedudukan Notaris yang membuat Akta Jaminan Fidusia;

c. Data perjanjian pokok yang dijamin Fidusia;

d. Uraian mengenai benda yang menjadi objek jaminan Fidusia; e. Nilai penjaminan dan;

f. Nilai benda yang menjadi objek Jaminan Fidusia.

Kantor Pendaftaran Fidusia mencatat Jaminan Fidusia dalam Buku Daftar Fidusia pada tanggal yang sama dengan tanggal penerimaan permohonan pendaftaran. Tanggal pencatatan Jaminan Fidusia pada Buku daftar Fidusia adalah dianggap sebagai tanggal lahirnya jaminan Fidusia. Pada hari itu juga Kantor Pendaftaran Fidusia di Kanwil Kehakiman di Tingkat Provinsi (jika Kantor Fidusia di tingkat kabupaten/kota belum ada) mengeluarkan/menyerahkan Sertifikat Jaminan Fidusia kepada pemohon atau Penerima Fidusia.

(11)

Pemerintah No. 86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya Pembuatan Akta Jaminan Fidusia, dinyatakan bahwa dalam hal terdapat kekeliruan penulisan dalam sertifikat Jaminan Fidusia yang telah diterima oleh pemohon, maka dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah diterimanya sertifikat tersebut, pemohon wajib memberitahukan kepada kantor untuk diterbitkan sertifikat perbaikan. Penerbitan sertifikat perbaikan tersebut tidak dikenakan biaya.

3. Pengalihan dan Penghapusan Jaminan Fidusia

Pengalihan jaminan fidusia diatur dalam Pasal 19 sampai dengan Pasal 24

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Pasal 19 UUJF, bunyinya yaitu

a. Pengalihan hak atas piutang yang dijamin dengan Fidusia mengakibatkan beralihnya demi hukum segala hak dan kewajiban penerima fidusia kepada kreditur baru.

b. Beralihnya jaminan fidusia didaftarkan oleh kreditur baru kepada Kantor Pendaftaran Fidusia. Pengalihan hak atas hutang (cession), yaitu pengalihan piutang yang dilakukan dengan akta otentik maupun akta di bawah tangan. Yang dimaksud dengan mengalihkan antara lain termasuk dengan menjual atau menyewakan dalam rangka kegiatan usahanya. Pengalihan hak atas hutang dengan jaminan fidusia dapat dialihkan oleh penerima fidusia kepada penerima fidusia baru (kreditur baru). Kreditur baru inilah yang melakukan pendaftaran tentang beralihnya jaminan fidusia pada Kantor Pendaftaran Fidusia.Dengan adanya cession ini, maka segala hak dan kewajiban penerima fidusia lama beralih kepada penerima fidusia baru dan pengalihan hak atas piutang tersebut diberitahukan kepada pemberi fidusia. Pemberi fidusia dilarang untuk mengalihkan menggadaikan atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi objek fidusia, karena jaminan fidusia tetap mengikat benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam tangan siapa pun benda tersebut berada. Pengecualian dari ketentuan ini adalah bahwa pemberi fidusia dapat mengalihkan atas benda persediaan yang menjadi objek jaminan fidusia.

(12)

dan kewajiban penerima fidusia kepada kreditur baru. Selanjutnya kreditur baru harus mendaftarkan ke kantor pendaftaran fidusia.

Selain dapat dialihkan jaminan fidusia juga dapat hapus. Yang dimaksud dengan hapusnya jaminan fidusia adalah tidak berlakunya lagi jaminan fidusia. Ada tiga sebab hapusnya jaminan fisudia, sebagaimana diatur dalam Pasal 25 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yaitu: a. Hapusnya hutang yang dijamin dengan fidusia yang dimaksud hapusnya

hutang adalah antara lain karena pelunasan dan bukti hapusnya hutang berupa keterangan yang dibuat kreditur;

b. Pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh penerima fidusia atau;

c. Musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Musnahnya benda jaminan fidusia tidak menghapuskan klaim asuransi.

Apabila hutang dari pemberi fidusia telah dilunasi olehnya menjadi kewajiban penerima fidusia, kuasanya, atau walaupun untuk memberitahukan secara tertulis kepada Kantor Pendaftaran Fidusia mengenai hapusnya jaminan fidusia yang disebabkan karena hapusnya hutang pokok. Pemberitahuan itu dilakukan paling lambat 7 hari setelah hapusnya jaminan fidusia yang bersangkutan dengan dilampiri dokumen pendukung tentang hapusnya jaminan fidusia. Dengan diterimanya pemberitahuan tersebut, maka ada 2 hal yang dilakukan Kantor Pendaftaran Fidusia, yaitu:

a. Pada saat yang sama mencoret pencatatan jaminan fidusia dari buku daftar fidusia; dan

b. Pada tanggal yang sama dengan tanggal pencoretan jaminan fidusia dari buku daftar fidusia. Kantor Pendaftaran Fidusia menerbitkan surat keterangan yang menyatakan “sertifikat jaminan fidusia yang bersangkutan tidak berlaku lagi”.

(13)

mempertahankan haknya atau melepaskan haknya. Dengan musnahnya objek jaminan fidusia maka jaminan fidusia juga hapus karena tidak ada manfaatnya fidusia dipertahankan jika objeknya musnah. Namun apabila benda yang menjadi objek jaminan fidusia diasuransikan dan kemudian benda tersebut musnah karena sesuatu sebab, maka hak klaim asuransi dapat dipakai sebagai pengganti benda yang menjadi objek jaminan fidusia dan diterima oleh penerima fidusia, karena menurut Pasal 10 huruf dan Pasal 25 UUJF bahwa jaminan fidusia meliputi klaim asuransi, dalam hal benda yang menjadi objek jaminan fidusia diasuransikan, dan musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia tidak menghapus klaim asuransi.

Berdasarkan Pasal 25 ayat (3) UUJF hapusnya jaminan fidusia wajib diberitahukan oleh kreditur penerima fidusia kepada kantor penerima fidusia dengan melampirkan pernyataan mengenai hapusnya hutang, pelepasan hak atas jaminan fidusia atau musnahnya benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Ketentuan ini merupakan konsekuensi logis dari ketentuan Pasal 16 ayat (1) yang mengatur bahwa apabila terjadi perubahan mengenai hal-hal yang tercantum dalam sertifikat jaminan fidusia. Penerima fidusia wajib mengajukan permohonan pendaftaran atas perubahan tersebut kepada kantor pendaftaran fidusia. Dengan pemberitahuan tersebut Kantor Pendaftaran Fidusia melakukan pencoretan pencatatan jaminan fidusia dari Buku Daftar Fidusia dan menerbitkan surat keterangan yang menyatakan sertifikat Jaminan Fidusia yang bersangkutan tidak berlaku lagi. Adapun tujuan prosedur tersebut adalah untuk memberikan kepastian hukum kepada masyarakat atau pihak ketiga bahwa terhadap benda tersebut sudah tidak dibebani dengan Jaminan Fidusia.

PEMBAHASAN

1. Proses terjadinya jaminan fidusia di kantor notaris…………?

(14)

lakukan. Karena itulah, kedudukan notaris menjadi semakin penting di masa seperti sekarang ini. Seperti pejabat negara yang lain, notaris juga memiliki kewenangan tersendiri yang tidak dimiliki oleh pejabat negara yang lainnya. Selain kewenangannya, para notaris juga memiliki kewajiban dan larangan yang wajib mereka patuhi dalam pelaksanaan tugas jabatannya. Dengan berdasar pada Undang-undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, para notaris di Indonesia wajib untuk memahami apa yang menjadi wewenang dan kewajiban mereka serta larangan yang tidak boleh dilakukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya. Dalam pelaksanaan wewenang, jika misalnya ada seorang pejabat yang melakukan suatu tindakan diluar atau melebihi kewenangannya, maka perbuatannya itu akan dianggap sebagai perbuatan melanggar hukum. Demikian pula dengan notaris, para notaris wajib untuk mengetahui sampai di mana batas kewenangannya. Selain wewenang yang mereka miliki, notaris juga memilki kewajiban yang harus mereka penuhi dalam pelaksanaan tugas jabatannya serta larangan yang tidak boleh dilakukan yang apabila ketiga hal ini dilanggar maka notaris yang bersangkutan akan memperoleh sanksi sesuai dengan ketentuan yang telah diatur dalam Undang-undang Jabatan Notaris (UUJN)

Proses terjadinya jaminan fidusia yaitu dari lembaga pembiayaan kemudian di daftarkan melalui akta otentik dari notaris. Dulu akta notaris di daftarkan secara manual di kantor fidusia dalam hal ini di Kementrian Hukum dan Ham. Tetapi sekarang sudah bisa melalui online, informasi yang kami gali dari keterangan ibu notaris yanti…… pendaftaran bisa dilakukan secara online dengan klausa mengupload Aakta otentik, objek jaminan, dan harus pembayaran bisa lewat Bank BNI. Setelah semua terpenuhi maka sertifikat jamina n fidusia langsung keluar dan bisa langsung di print out. Sebelum itu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh Debitur yaitu Antara lain:

-KTP para pihak yaitu Antara debitur dan lembaga pembiayaan -Akta pendirian Finance

-NPWP

(15)

Sebelumnya kami akan menguraikan tentang syarat dan prosedur jaminan fidusia secara manual, sebelum adanya online.

Persyaratan:

 Surat permohonan Pendaftaran Jaminan Fidusia diajukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.

 Salinan akta Notaris.

 Surat kuasa/surat pendelegasian wewenang atau wakilnya dengan melampirkan pernyataan Jaminan Fidusia.

 Melampirkan lembar pernyataan (Lampiran I Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M-01.UM.01.06 Tahun 2000 – angka 5)

 Bukti pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Prosedur:

I. Pendaftaran Sertifikat Jaminan Fidusia:

Permohonan diajukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui Kantor Pendaftaran Fidusia di tempat kedudukan pemberi fidusia secara tertulis dalam bahasa Indonesia oleh penerima fidusia, kuasa atau wakilnya, dengan melampirkan pernyataan Pendaftaran Jaminan Fidusia dan mengisi formulir yang bentuk dan isinya ditetapkan dengan Lampiran I Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M-01.UM.01.06 Tahun 2000, yang isinya:

1. Identitas pihak pemberi dan penerima yang meliputi:  Nama lengkap

 Tempat tinggal/tempat kedudukan.  Pekerjaan.

2. Tanggal dan nomor akta Jaminan Fidusia, nama dan tempat kedudukan Notaris yang memuat akta Jaminan Fidusia.

(16)

4. Uraian mengenai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia (Lihat penjelasan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999).

5. Nilai penjamin

6. Nilai benda yang menjadi obyek Jaminan Fidusia.

II. Perubahan Sertifikat Jaminan Fidusia:

1. Permohonan diajukan oleh penerima fidusia, kuasa atau wakilnya kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia secara tertulis dalam bahasa Indonesia melalui Kantor Pendaftaran Fidusia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, apabila Sertifikat Jaminan Fidusia dikeluarkan oleh Kantor Pendaftaran Fidusia Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum.

2. Melampirkan Sertifikat Jaminan Fidusia dan pernyataan perubahan. 3. Biaya permohonan.

4. Pernyataan perubahan dilakukan pada tanggal yang sama dengan tanggal pencatatan permohonan, setelah selesai dilekatkan pada Sertifikat Jaminan Fidusia untuk diserahkan kepada pemohon yaitu penerima fidusia, kuasa atau wakilnya.

5. Melampirkan Lembar Pernyataan Lampiran II Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.01.UM.01.06 Tahun 2000.

III. Penghapusan/pencoretan Sertifikat Jaminan Fidusia:

1. Hapusnya Jaminan Fidusia wajib diberitahukan secara tertulis kepada Kantor Pendaftaran Fidusia paling lambat 7 hari setelah hapus.

2. Lampiran dokumen pendukung:

 Permohonan oleh penerima fidusia, kuasa atau wakilnya pada Kantor Pendaftaran Fidusia di tempat kedudukan pemberi fidusia.  Sertifikat Jaminan Fidusia yang asli.

3. antor Pendaftaran Fidusia mencoret pencatatan Jaminan Fidusia dari Buku Daftar Fidusia.

(17)

lagi dan sertifikat dicoret dan disimpan dalam arsip Kantor Pendaftaran Fidusia

2. Proses debitur dalam menjaminkan barangnya di lembaga pembiayaan Koperasi Duta Mandiri Semarang

Setelah kami melakukan observasi Di Kantor Notaris ibu……….. yang beralamat di………. Kami bertanya juga mengenai lembaga pembiayaan, dan kebetulan notaris ibu…. Mempunyai partner finance yaitu Koperasi Duta Mandiri yang sering bekerja sama dengan Notaris dalam proses pembuatan Akta, Pendaftaran jaminan fidusia dll. Dari situlah kami langsung menuju Koprasi tersebut dan benar disana kami melakukan observasi dengan wawancara langsung dengan ibu alice seorang karyawan Koperasi. Dalam hal yang berkaitan dengan jaminan fidusia banyak debitur menjaminkan barang berupa Sepeda Motor. Adapun syarat debitur dalam menjaminkan barang ( motor) yang akan di fidusiakan, seperti berikut:

-BPKB Asli+Fotokopi -STNK Fotokopi -KK Fotokopi -KTP Fotokopi

Dalam menentukan harga barang yang di fidusiakan maka dari finance terdapat juru taksir sendiri, tugasnya juru taksir adalah menaksir kira-kira harga pantasnya berapa, penaksiran sendiri max 60% dari harga pasar. Seperti motor yang kebanyakan di jaminkan syaratnya pun tahunya max 10 tahun kebelakang. Seperti kebanyakan jaminan lainya jika debitur wanprestasi maka barang akan dilelang, jika hasil lelang nilainya lebih maka kelebihanya akan dikembalikan ke debitur. Setelah itu tugas finance adalah kerjasama dengan notaris agar di buatkan akta otentik dan di daftarkan mengenai jaminan fidusianya, semua biaya tersebut langsung di tanggung oleh debitur.

(18)
(19)
(20)

segar bagi semua pihak. Akan tetapi, bagaimanakah fidusia online dalam pelaksanaannya

Sejak awal adanya menu Fidusia Online sekitar bulan Februari 2013, pengakses tanpa username dan password masih bisa mengakses ke dalam sistem. Dan hal ini membawa pertanyaan apakah pihak-pihak selain Notaris (misalnya lembaga pembiayaan, Bank, Koperasi, perorangan) bisa mengajukan permohonan pendaftaran jaminan fidusia, termasuk pula perubahan atas jaminan fidusia sendiri nantinya? Syukurlah, akhirnya pertanyaan ini terjawab juga. Pada akhir Februari 2013 ternyata fidusia online ini tidak bisa lagi diakses oleh pengakses tanpa username dan password. Sebenarnya apa saja yang bisa dilakukan oleh Fidusia Online? Seberapa jauh kemampuannya? Apa saja kelemahannya? Apa saja yang perlu diperhatikan? Berikut ini adalah uraian isi perut sistem dalam Fidusia Online tersebut :

1.PENGECEKAN

(21)

sudah didaftarkan dalam sistem online. Dan tidak ada data obyek yang sudah didaftarkan menjadi jaminan fidusia secara manual dalam database tersebut. Kedua, untuk pengecekan hanya bisa dilakukan dengan memasukkan nomor sertifikat fidusia. Sehingga, untuk mengecek obyek jaminan fidusia tersebut apakah sudah didaftarkan atau belum, maka si pencari harus sudah memiliki nomor sertifikat jaminan fidusianya. Dan tidak bisa mengeceknya berdasarkan nomor polisi (jika kendaraan bermotor) atau nama pemberi fidusia misalnya. Dalam menu pengecekan tersebut, database yang bisa kita lihat hanya nomor pendaftaran, nama dan alamat penerima fidusia, jenis fidusia (jenis disini misalnya adalah untuk pendaftaran jaminan fidusiakah? Atau pencoretan? Atau transaksi lainnya), waktu daftar, tanggal akta, nomor akta, nama Notaris dan area Kantor Wilayahnya. Hanya itu saja. Kita tidak bisa mengecek rinciannya.

2.TANGGAL TERDAFTARNYA OBYEK JAMINAN FIDUSIA

(22)

tersebut, apakah tanggal dianggap telah terdaftar itu masih sama seperti saat manual

Dalam pengisian aplikasi, nantinya bila semua telah kita input sebagaimana mestinya dan pembayaran PNBP telah dilaksanakan, maka dapat mencetak Surat Pernyataan (dulu disebut STD/ Surat Pernyataan Jaminan Fidusia). Dimana mulai dari penginputan, pembayaran PNBP sampai dengan keluarnya Surat Pernyataan itu, kita hanya mendapat nomor registrasi (semacam nomor kendali). Apakah itu berarti obyek jaminan sudah terdaftar? Ataukah harus menunggu tercetaknya Sertifikat Jaminan Fidusia untuk mendapatkan jaminan kepastian perlindungan hak-hak para pihak sebagaimana diatur dalam Undang-undang jaminan Fidusia

3.FORMULIR PENDAFTARAN FIDUSIA

Dalam sistem pendaftaran fidusia online dapat ditemukan tulisan bahwa aplikasi sistim pendaftaran fidusia online ini merupakan bagian tak terpisahkan dari formulir pendaftaran fidusia. Yang jadi masalah, Formulir Pendaftaran Fidusia macam apakah yang dimaksudkan?

4.JENIS-JENIS TRANSAKSI FIDUSIA

(23)

menu login. Dalam daftar transaksi ada juga pencarian, akan tetapi pencarian tersebut berdasarkan nomor registrasi dari transaksi username yang bersangkutan saja dan sifatnya hanya dapat mengecek transaksi username yang akses itu saja. Tidak bisa mengecek dari username lain.

5.INPUT DATA DALAM SISTEM

a.Cara penginputan cukup mudah dan sederhana. Tidak terlalu banyak yang harus diinput.

b.Di dalam sistem, penginputan data dilakukan dalam box yang telah disediakan. Tampilan cukup kecil, tapi saat dicoba menginput, bisa lebih dari 1.000 karakter. Akan tetapi belum dicoba mencetak Surat Pernyataan maupun Sertifikat Jaminan Fidusia dengan karakter yang amat banyak. Preview Surat Pernyataan error begitu dicoba untuk menginput dengan karakter yang amat banyak. Tapi harus diperhatikan juga oleh system buildernya/Direktorat Jenderal AHU, bilamana Penerima dan/atau Pemberi Fidusia lebih dari satu, atau bilamana dalam box-box isian tersebut ada kemungkinan harus bisa diinput dengan jumlah karakter yang banyak, maka mohon kiranya agar kebutuhan ini dapat diakomodir, supaya penginputan dapat dilakukan dengan benar sehingga Sertifikat Jaminan Fidusia yang tercetak nantinya tepat guna, benar dan sempurna sebagaimana mestinya.

c.Mohon diperhatikan juga nama Notaris login. Saat menginput aplikasi tersebut, nama Notaris sudah tertera dalam box (sudah diinput sendiri secara otomatis oleh sistem). Jika ada kekurangan huruf/kesalahan penulisan, memang bisa diedit (dalam box). Tapi, nantinya yang tercetak pada Surat Pernyataan akan tetap salah. Sedangkan yang di Sertifikat Jaminan Fidusia sudah yang benar. Hal ini juga saya alami sendiri. Dan untuk pembetulannya dapat mengirim email permohonan pembetulan pada email address Direktorat Jenderal AHU yang tertera pada sistem.

(24)

e. Adanya perbedaan antara display dan inputan dalam nilai jaminan, saat memasukkan 14 digit angka. Demikian pula saat memasukkan 21 digit angka. Misalnya menuliskan 70.000.000.000.000, maka display akan tertulis 70.000.000.000.000,01. Hal mana jika lebih dari 21 digit angka, maka display akan tertulis berupa rumus/formula. Untuk jumlah digit lainnya tidak masalah 6.PENCETAKAN

a. Bilamana mencetak pengantar bayar untuk pembayaran PNBP, lalu ada kesalahan dalam pencetakan (misal: paper jam), atau tengah mencetak tiba-tiba koneksi ke internet atau listrik padam, maka tidak dapat dicetak ulang. Mohon bantuan instansi yang berwenang agar untuk menu ini dapat diatur bisa dicetak ulang.

b.Sertifikat Jaminan Fidusia yang tercetak tidak dalam satu halaman. Perlu tenaga ahli untuk mensettingnya terlebih dahulu, baru pencetakan bisa dilakukan dalam satu halaman.

7. TAMPILAN SURAT PERNYATAAN DAN SERTIFIKAT JAMINAN FIDUSIA

a. Nama Pemberi Fidusia dan Debitur sudah tercantum, sedang mengenai obyek jaminan fidusianya sama sekali tidak tercantum. Baik jenisnya, bukti kepemilikannya maupun nilainya, sama sekali tidak ada dalam Sertifikat Jaminan Fidusia. Sedangkan untuk Surat Pernyataan, mengenai obyek jaminan fidusianya hanya ditulis sesuai dengan akta saja. Hal ini menimbulkan banyak komplain dari Penerima Fidusia. Karena bagi pelaku bisnis seperti Lembaga Pembiayaan maupun Bank, misalnya. Maka akan sulit membedakan dari sekian banyak Sertifikat Jaminan Fidusianya, karena tidak ada uraian mengenai obyek jaminannya, seperti halnya jika itu kendaraan bermotor maka memerlukan nomor polisi, nomor rangka, nomor mesin, warna kendaraan, atau spesifikasi lainnya. Terutama bagi petugas lapangannya, pasti akan kesulitan dalam melaksanakan tugas pekerjaannya.

(25)

dengan mudah. Tidak adanya pengamanan, entah jenis kertasnya, stempelnya atau tanda tangannya, itu menimbulkan banyak kekhawatiran pemalsuan.

c.Terkadang pencetakan Sertifikat Jaminan Fidusia tidak sempurna. Tanggal dan jam yang tidak tercetak, atau beberapa item tidak tercetak. Bahkan mungkin tanda tangan by system tidak tercetak. Bagaimana untuk pembenahannya. Mohon kiranya instansi yang berwenang dapat memberikan solusi bagi permasalahan ini. Karena hal ini memang terjadi, akan tetapi meski laporan dan keluhan sudah disampaikan melalui email pun, sampai saat ini mengenai hal ini masih belum mendapatkan jawaban.

(26)

perlu kiranya didukung dengan pelayanan yang baik. Misalnya dengan pelayanan penyelesaian pengaduan/permasalahan secara langsung, cepat, bersih dan segera. Menyediakan Customer Service yang siap sedia, cerdas, mengerti, bersih, tanggap dan tidak berbelit. Ada baiknya Customer Service disiapkan untuk melayani di tiap Kanwil Kemenkum HAM RI pada hari dan jam kerja, dan menyiapkan pula Customer Care by phone yang siap melayani 24 jam-7 hari dalam seminggu (mengingat sulitnya menelepon Customer Service SABH saat ada permasalahan dalam pendaftaran/perubahan Perseroan Terbatas, maka belajar dari pengalaman tersebut, mohon kiranya menyiapkan nomor telepon dan petugas khusus untuk handle permasalahan fidusia online, by phone. Agar penelepon tidak terkonsentrasi menelepon di jam kerja, juga agar Notaris yang tidak terlayani di jam kerja, masih dapat menikmati layanan tersebut; maka ada baiknya layanan tersebut dibuat 24 jam-7 hari dalam seminggu). Bercermin juga dari pelayanan SABH untuk Perseroan Terbatas yang tidak memuaskan bilamana ada komplain, koreksi, surat menyurat, permohonan pembukaan sistem ulang untuk mengedit kesalahan dan lain sebagainya (yang dilakukan melalui surat menyurat manual, telepon, sms, email dan fax), maka Kemenkum HAM/Ditjen AHU harus memotong kompas semua kesulitan komunikasi ini dengan menyediakan tenaga khusus yang berkompeten untuk menjawab semua email, fax, telepon, SMS maupun surat menyurat dan memberikan solusi/arahan/jawaban dalam waktu singkat dan cepat. Untuk itu harus ditentukan dalam SOP (Standard Operational Procedure) mengenai kecepatan penyelesaiannya. Dan nomor telepon, nomor fax, email address, nomor HP (untuk SMS) serta alamat korespondensi harus tercantum dalam situs Fidusia Online. Yang mana nomor-nomor/alamat tersebut harus benar-benar bisa dijadikan media berkomunikasi dan bukan hanya menjadi pajangan belaka; agar kiranya Notaris yang sudah berkontribusi besar dalam penerimaan negara ini tidak kecewa dan dapat menjadi partner yang sejajar.

(27)

waktu 3 hari yang diberikan, maka penyelesaian harusnya di masing-masing Kanwil Kemenkum HAM RI, bukan di Kemenkum HAM RI di Jakarta lagi. Sehingga tidak perlu lagi adanya pemborosan waktu, biaya dan tenaga untuk menyelesaikannya. Bagaimanapun juga, fidusia online yang telah dijalankan ini adalah satu terobosan besar. Langkah hebat yang patut diacungi jempol dan tidak semudah yang dibayangkan dalam implementasinya. Meski baru saja dilaksanakan, dengan segala kekurangannya di awal; mudah-mudahan langkah hebat ini akan semakin sempurna dan akomodatif bagi semua kebutuhan hukum guna pengecekan, pendaftaran jaminan fidusia maupun perubahan data pada jaminan fidusia yang telah didaftarkan.

F. AKTA OTENTIK NOTARIS (terlampir)

G. FORM KREDIT JAMINAN (terlampir)

H. LANGKAH FIDUSIA ONLINE (terlampir)

(28)

PENUTUP Simpulan

(29)

DAFTAR PUSTAKA BUKU-BUKU

Fuady, Munir, Jaminan Fidusia, PT. Aditya Bakti, Bandung, 2003.

H.S., Salim, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.

Satrio, J., Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.

Soebekti, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta, 1996.

Sofwan, Sri Soedewi Masjchon, Beberapa Pembuatan Usulan Penelitian, Sebuah Panduan Dasar, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1980.

Widjaja, Gunawan & Ahmad Yani, Seri Hukum Bisnis, Jaminan Fidusia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001.

PERATURAN PERUNDANGAN

Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

Undang-Undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan Notaris ( UUJN) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan

Pasal 1870 KUH Perdata

(30)

INTERNET

file:///G:/jaminan/KEWENANGAN,%20KEWAJIBAN%20DAN %20LARANGAN%20NOTARIS%20DALAM%20UUJN %20%20%20Zulham%20Umar%27s%20Blog.htm

file:///G:/jaminan/Notaris%20Herman%20%20TATA%20CARA

%20PENDAFTARAN,%20PERUBAHAN,%20PENGHAPUSAN

%20%20PENCORETAN%20SERTIFIKAT%20JAMINAN%20FIDUSIA %20DAN%20PENGAJUAN%20PERMOHONAN%20SERTIFIKAT %20PENGGANTI%20JAMINAN%20FIDUSIA.htm

Referensi

Dokumen terkait

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Isah Nurdianah, menyatakan bahwa skripsi dengan judul: “Analisis Pengaruh Inovasi Produk, Lokasi Usaha Dan Orientasi Pasar

Pada grafika komputer, gambar dua dimensi dihasilkan komputer melalui proses yang dapat dianalogikan dengan proses pembentukan gambar pada sistem kamera, mikroskop,

Jika sudah memenuhi syarat tertentu proses dihentikan (terdapat suatu individu yang telah memiliki nilai fitness tertentu yang diharapkan atau evolusi telah mencapai suatu generasi

Mitra dalam pelaksanaan pengabdian ini UMKM Kemplang Krupuk Ikan Gabus Mang Arsyad dan UMKM Pempek Kemplang Krupuk Nona yang berlokasi di lorong jayalaksana kelurahan 3-4

Banyak orang yang datang sekedar berwisata saja atau melakukan ritual (Watu Bobot), ritual (Watu Bobot) tersebut kebanyakan dilakukan setiap bulan suro atau setiap

Mampu menerapkan pemikiran logis, kritis, sistematis dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang memperhatikan dan menerapkan

Oleh karena itu Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam perlu membentuk

Untuk uji coba yang pertama dengan jumlah iterasi 40 didapatkan hasil yang sesuai, untuk uji coba yang kedua dengan jumlah iterasi 1 didapatkan hasil yang kurang