ANALISIS KESUBURAN TANAH AKIBAT ABU VULKANIK piroklastik adalah bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan, terdiri dari batuan berukuran besar sampai berukuran halus. Batuan yang berukuran besar (bongkah - kerikil) biasanya jatuh disekitar kawah sampai radius 5 – 7 km dari kawah, dan yang berukuran halus dapat jatuh pada jarak mencapai ratusan km bahkan ribuan km dari kawah karena dapat terpengaruh oleh adanya hembusan angin. Abu yang halus dapat menyababkan radang paru-paru jika terhirup. Namun, berkah tersendiri, abu vulkanik dapat digunakan sebagai bahan pozolan karena mengandung unsur silika dan alumunia sehingga dapat mengurangi penggunaan semen sebagai bahan bangunan. Selain itu, abu vulkanik juga dapat menyuburkan tanah di sekitar gunung. Sebagai contoh erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur pada hari Kamis 13 Februari 2014 pukul 22.50 WIB berimbas ke sebagian besar kawasan di Jawa Timur, Yogyakara, dan Jawa Tengah yang letaknya ratusan kilometer dari pusat erupsi. Bahkan Abu vulkanik erupsi Gunung Kelud telah sampai ke Kota Bandung yang berjarak lebih dari 500 km dari gunung tersebut.
Gunung berapi menjadi pemandangan umum hampir di setiap kota di Pulau Jawa. Hampir tiap kota besar di Jawa bertahta gunung berapi dengan karakter masing masing. Setiap gunung menyimpan legenda masing masing yang menempatkan gunung berapa layaknya sesuatu yang harus dihormati dan pendapat perhatian khusus.
Gunung berapi di Jawa ada yang masih aktif ada pula yang pasif. Kesemuanya terangkum dalam istilah Cincin Api Pasifik. Sebuah jalur kegempaan dan gunung berapi yang memanjang seperti tapal kuda dari kepulauan di timur Australia, kemudian Indonesia,Jepang, pantai barat Amerika Utara sampai pantai barat Amerika selatan. Daerah daerah ini sangat sering dilanda gempabumi dan letusan gunung berapi serta efek lain yang diakibatkan dari kejadian tersebut.
Bukti tentang Cincin Api Pasifik ini dijabarkan dengan jelas saat meletusnya Gunung Merapi (2930 mdpl) di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006 yang terhitung cukup dahsyat. Kemudian pada 2010 yang merenggut sedikitnya 341 korban jiwa. Lalu Gunung Sinabung (2460 mdpl) di Sumatera Utara yang meletus pada 2010 dan 2013 yang merenggut belasan nyawa. Terakhir adalah Gunung Kelud (1731 mdpl) di Jawa Timur yang baru tadi malam mengalami letusan. Suara letusan terdengar hingga Wates, tempat kita tinggal, yang berjarak sekitar 290 kilometer dari Gunung Kelud.
Letusan Gunung Kelud dikenal sebagai Gunung bertipe eksplosif. Namun pada 2007 karakter itu seakan berubah karena Gunung Kelud yang sudah berada di status awas ternyata hanya meletus pelan saja. Justru melahirkan kubah baru yang oleh masyarakat disebut Anak Gunung Kelud. Perkembangannya, lokasi puncak Gunung Kelud ini menjadi primadona wisata. Menjadi lumbung APBD bagi Jawa Timur.
penggunaan semen sebagai bahan bangunan. Selain itu, abu vulkanik juga dapat menyuburkan tanah di sekitar gunung.
MANFAAT ABU VULKANIK GUNUNG KELUD
Beberapa pendapat tentang tingkat keasaman abu vulkanik ini, ada yang mengatakan kalau abu vulkanik bersifat asam ada juga pendapat yang menyatakan kalau abu vulkanik dapat meningkatkan pH tanah. Tapi kalau merujuk pada mitos bahwa tanah-tanah disekitar gunung merapi sangat subur sepertinya pendapat yang menyatakan abu vulkanik dapat mengasamkan tanah tidaklah benar.
Beberapa ahli menyatakan kalau didalam abu vulkanik juga terkandung unsur Sulfur dan unsur Silica. Jika hal ini benar berarti abu vulkanik akan bisa berfungsi sebagai pemasok unsur hara tanaman. Ada juga pendapat didalam abu vulkanik juga mengandung unsur Cu dan Fe yang yang berfungsi sebagai mikro element. Jika dilihat dari sifat fisik abu merupakan hasil dari pembakaran yang mempunyai sifat seperti Batuan Zeolit dan Arang yang berfungsi sebagai penambat unsur hara dalam tanah sehingga tidak mudah tercuci oleh air. Dengan adanya abu vulkanik juga akan mempermudah penyerapan unsur hara oleh akar tanaman.
Jika kita mengacu pada pemikiran diatas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya letusan gunung berapi dan menimbulkan hujan abu (abu vulkanik) akan membawa berkah kepada para petani. Abu vulkanik yang yang berjatuhan di lahan akan menjadi sumber unsur hara bagi tanaman dan akan meningkatkan ph tanah kita yang cenderung asam. walaupun memang dengan adanya hujan abu akan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia. Untuk mengetahui secara benar efek abu vulkanik terhadap pertumbuhan tanaman memang perlu dilakukan uji laboratorium tentang kandungan unsur hara yang ada dalam abu vulkanik..
rusaknya tanaman yang tumbuh diatasnya. Kerusakan tanaman tergantung dari jenis, dan umur tanaman. Seperti untuk tanaman sayuran lebih peka dibandingkan dengan tanaman padi. Tanaman sayuran yang menggunakan mulsa plastik, sebagian lubang tanam tertutup oleh abu volkanik. Abu volkanik yang menutupi bersifat seperti semen dan keras, sehingga kalau tidak segera diolah tanahnya pertumbuhan tanaman sayuran akan terganggu.
Sifat fisik abu merapi yang khas adalah apabila jatuh kepermukaan tanah menyebabkan abu akan cepat mengeras dan sulit ditembus oleh air baik dari atas atau dari bawah permukaan tanah. Hal inilah yang menyebabkan BD tanah cukup tinggi. Sedangkan RPT (Ruang Pori Total) pada lapisan I yang mengandung banyak abu merapi, memiliki kondisi yang baik, hal yang sama terhadap aerasi tanah dan air tersedia. Hal ini disebabkan abu merapi memiliki kadar air yang cukup tinggi. Pada lapisan bawah kandungan air cukup tinggi, namun karena lapisan atasnya cukup keras menyebabkab air tidak dapat keluar melalui penguapan. Salah satu cara untuk menanggulang hal ini adalah dengan penghancuran melalui pengolahan tanah.
Penutupan lahan oleh abu volkan dengan ketebalan < 5 cm, dilakukan perbaikan dengan pengolahan tanah, pemberian mulsa 1 ton/ha. Penutupan lahan oleh abu volkan dengan ketebalan >5 - 10 cm dilakukan pengolahan tanah dan pemberian pupuk organik curah 2 ton /ha. Untuk lahan yang tertutup abu > 10 cm diarahkan untuk tanaman tahunan. Pada lapisan atas terjadi penurunan keaneka ragaman dan populasi fauna tanah terutama cacing dan larva serangga tanah hingga menjadi 0 ekor/m2. Keragaman dan populasi mikroba pada tanah lapisan bawah tidak terlalu terpengaruh.
Kesimpulan