• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI L

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI KASUS EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI L"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI

LAPANGAN DAERAH LHOKSEUMAWE SERTA

IMPLIKASINYA DALAM MENCIPTAKAN PEREKONOMIAN

YANG SUSTAINABLE

Alexander Gilang, Faisal Ridha, Kurniawan Setya Istiadi, Gandes Aulia, dan

Kemala Oktaviani

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta

I. PENDAHULUAN

Kota Lhokseumawe, Aceh, dikenal sebagai “Kota Petrodolar” pada masa jaya perusahaan gas PT Arun Natural Gas Liquefaction Co. periode 1980-1990. Sayang,

jejak kejayaan itu tak bersisa pasca perusahaan itu berhenti produksi pada tahun 2014.

Hal itu berimbas pada sektor perekonomian, ditandai dengan turunnya daya beli

masyarakat.

Kota Lhokseumawe ditetapkan pemerintah pusat sebagai kota dengan jumlah

penduduk 180.000 jiwa pada 21 Juni 2001. Kota seluas 181 km persegi itu menyimpan

kekayaan alam berlimpah, antara lain gas dan minyak bumi. Pemerintah bekerja sama

dengan swasta menemukan gas dalam jumlah besar, sekitar 17,1 TSFC di kawasan

Arun pada tahun 1970. Penemuan itu memicu berdirinya PT Arun Natural Gas

Liquefaction pada 16 Maret 1974.

PT Arun NGL adalah penghasil LNG (gas alam cair) terbesar di dunia pada

medio 1990-an. LNG yang dihasilkan diekspor ke sejumlah negara, terutama Jepang.

Gas dari perusahaan itu menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Lhokseumawe dan

Indonesia pada tahun 1980-1990. Penemuan gas dalam jumlah besar dan berdirinya PT

Arun NGL memberikan perubahan positif bagi Lhokseumawe. Kondisi ini memicu

berdirinya sejumlah industri yang bergantung pada gas, seperti perusahaan penghasil

(2)

masyarakat tumbuh pesat di Lhokseumawe karena kehadiran perusahaan itu.

Lhokseumawe disebut “Kota Petrodolar” karena daya beli warganya yang sangat tinggi. Perekonomian tumbuh dan banyak orang luar bekerja di Lhokseumawe.

Namun, semua itu berubah ketika produksi PT Arun NGL turun drastis pada

tahun 2000-an dan berhenti produksi pada Oktober 2014. Kondisi itu membuat

perusahaan yang bergantung pada gas tutup bertahap sejak awal tahun 2000. Situasi itu

berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat Lhokseumawe sejak tahun

2000-an. Kondisi itu semakin turun, setelah Aceh dilanda bencana tsunami pada tahun

2004. Keadaan Lhokseumawe kian sulit kala mayoritas pendatang meninggalkan kota

itu ketika konflik di Aceh semakin meluas. perusahaan penghasil kertas kantong semen

PT Kertas Kraf Aceh di Kabupaten Aceh Utara, pabrik penghasil pupuk urea PT Asean

Aceh Fertilizer di Lhokseumawe, dan sejumlah perusahaan tambang minyak di Aceh

Utara.

II. KONDISI GEOLOGI

Cekungan Sumatera Utara terbentuk selama Tersier (Oligosen Awal), pada

lempeng Eurasia atau Paparan Sunda yang merupakan bagian dari Back-arc Basin

lempeng Sunda yang meliputi jalur yang terbentang dari Medan sampai Banda Aceh.

Proses tektonik cekungan membentuk stratigrafi regional Cekungan Sumatera Utara

dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut :

1. Formasi Parapat

Formasi Parapat dengan komposisi batupasir berbutir kasar dan konglomerat di

bagian bawah, serta sisipan serpih yang diendapkan secara tidak selaras. Secara

regional, bagian bawah Formasi Parapat diendapkan dalam lingkungan laut dangkal

dengan dijumpai fosil Nummulites di Aceh. Formasi ini diperkirakan berumur

Oligosen.

2. Formasi Bampo

Formasi Bampo dengan komposisi utama adalah serpih hitam dan tidak

berlapis, dan umumnya berasosiasi dengan pirit dan gamping. Lapisan tipis

(3)

Formasi ini miskin akan fosil, sesuai dengan lingkungan pengendapannya yang tertutup

atau dalam kondisi reduksi (euxinic). Berdasarkan beberapa kumpulan fosil bentonik

dan planktonik yang ditemukan, diperkirakan formasi ini berumur Oligosen atas

sampai Miosen bawah. Ketebalan formasi amat berbeda dan berkisar antara 100 – 2400 meter.

3. Formasi Belumai

Pada sisi timur cekungan berkembang Formasi Belumai yang identik dengan

formasi Peutu yang hanya berkembang di cekungan bagian barat dan tengah. Terdiri

dari batupasir glaukonit berselang – seling dengan serpih dan batugamping. Di daerah Formasi Arun bagian atas berkembang lapisan batupasir kalkarenit dan kalsilutit

dengan selingan serpih. Formasi Belumai terdapat diatas Formasi Bampo, ketebalan

diperkirakan antara 200 – 700 meter. Lingkungan pengendapan Formasi ini adalah laut dangkal sampai neritik yang berumur Miosen awal.

4. Formasi Baong

Formasi Baong terdiri atas batulempung abu-abu kehijauan, napalan, lanauan,

pasiran. Umumnya kaya fosil Orbulina sp, dan diselingi suatu lapisan tipis pasir halus

serpihan. Di daerah Langkat Aru beberapa selingan batupasir glaukonitan serta

batugampingan yang terdapat pada bagian tengah. Formasi ini dinamakan Besitang

River Sand dan Sembilan sand, yang keduanya merupakan reservoir yang produktif dengan berumur Miosen Tengah hingga Atas.

5. Formasi Keutapang

Formasi Keutapang tersusun selang-seling antara serpih, batulempung,

beberapa sisipan batugampingan dan batupasir berlapis tebal terdiri atas kuarsa pyrite,

sedikit mika, dan karbonan terdapat pada bagian atas dijumpai hidrokarbon. Ketebalan

formasi ini berkisar antara 404 – 1534 meter. Formasi Keutapang merupakan awal siklus regresi dari sedimen dalam Cekungan Sumatera Utara yang terendapkan dalam

lingkungan delta sampai laut dalam sampai Miosen akhir.

6. Formasi Seurula

Formasi ini agak susah dipisahkan dari Formasi Keutapang dibawahnya.

(4)

batupasir, serpih dan dominan batulempung. Dibandingkan dengan Formasi

Keutapang, Formasi Seurula berbutir lebih kasar banyak ditemukan pecahan cangkang

moluska dan kandungan fornifera plangtonik lebih banyak. Ketebalan Formasi ini

diperkirakan antara 397 – 720 meter. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan bersifat laut selama awal Pliosen.

7. Formasi Julu Rayeu

Formasi Julu Rayeu merupakan formasi teratas dari siklus endapan laut

diCekungan Sumatera Utara. Dengan lithologinya terdiri atas batupasir halus sampai

kasar, batulempung dengan mengandung mika, dan pecahan cangkang moluska.

Ketebalannya mencapai 1400 meter, lingkungan pengendapan laut dangkal pada akhir

Pliosen sampai Plistosen.

8. Vulkanik Toba

Vulkanik Toba merupakan tufa hasil kegiatan vukanisme toba yang

berlangsung pada Plio-Plistosen. Lithologinya berupa tufa dan endapan-endapan

kontinen seperti kerakal, pasir dan lempung. Tufa toba diendapkan tidak selaras diatas

formasi Julu Rayeu. Ketebalan lapisan ini diperkirakan antara 150 – 200 meter berumur

Plistosen.

9. Alluvial

Satuan alluvial ini terdiri dari endapan sungai ( pasir, kerikil, batugamping dan

batulempung ) dan endapan pantai yaitu, pasir sampai lumpur. Ketebalan satuan

(5)

Berikut litostratigrafi Cekungan Sumatera Utara :

Gambar 1. Kolom litostratigrafi Cekungan Sumatera Utara

Pengendapan Tersier Bawah ditandai dengan adanya ketidakselarasan antara

sedimen dengan batuan dasar yang berumur Pra-tersier, merupakan hasil trangressi,

membentuk endapan berbutir kasar – halus, batu lempung hitam, napal, batulempung gampingan dan serpih.

Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Awal, kemudian berhenti dan

lingkungan berubah menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal yang kaya

akan fosil foraminifora planktonik dari formasi Peutu. Di bagian timur cekungan ini

diendapkan formasi Belumai yang berkembang menjadi 2 facies yaitu klastik dan

karbonat. Kondisi tenang terus berlangsung sampai Miosen tengah dengan

(6)

maksimum, kemudian terjadi proses regresi yang mengendapkan sedimen klastik

(formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk) secara selaras diendapkan diatas

Formasi Baong, kemudian secara tidak selaras diatasnya diendapkan Tufa Toba

Alluvial.

II. 1. Petroleum Sistem Cekungan Sumatera Utara

Berdasarkan data stratigrafi dan data geokimia yang ada, Cekungan Sumatera

Utara dapat ditentukan petroleum sistemnya, yaitu :

1. Batuan Induk (Source Rock)

Formasi yang berpotensi sebagai batuan induk adalah Formasi Baong bagian

bawah. Hal ini didasarkan pada litologi berupa batulempung yang kaya akan material

organik. Selain itu, Formasi Bampo dengan litologinya berupa serpih juga berpotensi

sebagai batuan induk.

2. Jalur Migrasi (Migration Route)

Pemodelan cekungan mengindikasikan bahwa hampir seluruh Cekungan

Sumatera Utara membentuk gas secara termal dari kitchen saat syn-rift.

(7)

Berdasarkan Reeves dan Sulaeman (1995), migrasi hidrokarbon di Cekungan Sumatera

Utara berasal dari tiga kitchen utama, seperti Tamiang Deep, Pase Deep dan Lhok Sukon Deep. Dimana jalur migrasi utamanya dari Formasi Baong sebagai source rock

menuju reservoir batugamping Arun Formasi Peutu di bawahnya melalui struktur yang

ada.

3. Batuan Reservoir (Reservoir Rock)

Reservoir yang mengakumulasi hidrokarbon pada Cekungan Sumatera Utara

adalah batugamping Arun/Malacca pada Formasi Peutu yang berasal dari serpih

Formasi Baong. Selain itu batupasir Sembilan dan Sungai Besitang pada Formasi

Baong juga produktif sebagai reservoir.

4. Perangkap (Trap)

Perangkap hidrokarbon pada Cekungan Sumatera Utara terdiri dari perangkap

struktur, perangkap stratigrafi dan kombinasi keduanya. Di Paparan Malaka dan di

kemiringan cekungan, perangkap terumbu build up terbentuk sangat baik di karbonat

Peutu.

5. Batuan Tudung (Seal Rock)

Formasi yang cocok sebagai batuan tudung adalah serpih Baong bawah yang

menutup batugamping Arun sebagai reservoir, serpih Baong atas yang menutup

reservoir MBS, dan serpih Keutapang yang yang menutup batupasir Sembilan dan

Sungai Besitang pada Formasi Baong.

III. IDENTIFIKASI KEMUNGKINAN KEBERADAAN UPSIDE POTENTIAL III. 1. Konvensional

Keberadaan upside potential pada hidrokarbon konvensional di lapangan Arun, Lhokseumawe, Sumatera Utara berdasarkan data yang tersedia kemungkinan berada

(8)

disebabkan pertumbuhan reef (reef build up) membentuk closure yang mengakumulasi hidrokarbon.

Formasi Baong berperan sebagai source rock yang kaya material organic dari indikasi TOC nya, sekaligus sebagai seal dari reservoir Formasi Arun. Migrasi dari

source rock (Formasi Baong) menuju Formasi Arun ditunjukkan oleh peta jalur migrasinya. Kemungkinan migrasi disebabkan oleh sesar yang berkembang dalam

skala regional.

Gambar 3. Peta tektonik regional Cekungan Sumatera Utara

III. 2. Non-Konvensional

Keberadaan upside potential pada hidrokarbon non-konvesional di lapangan Arun, Lhokseumawe, Sumatera Utara merupakan salah satu bagian yang penting dalam

pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di wilayah ini. Pemaanfaatannya bertujuan

untuk kesejahteraan dan kebutuhan gas yang terus meningkat serta tantangan untuk

mengurangi ketergantungan pada pemakaian minyak bumi untuk mengganti minyak

(9)

mulai mengembangkan eksplorasi dan pengembangan sumber daya non-konvensional

sebagai inovasi untuk menyikapi minyak bumi yang akan habis.

Berdasarkan data yang tersedia, kemungkinan tersedianya reservoir gas non-konvensional yang terpendam di bawah permukaan bumi didaerah ini terdapat di

formasi baong yang memiliki litologi shale, karena dilihat dari struktur geologi, stratigrafi, dan data yg lain memungkinkan adanya shale gasreservoir yang dapat di produksi, namun harus dilakukan usaha lagi untuk menemukan cadangan gas dari shale gas reservoir tersebut supaya perlahan dapat mulai menggantikan migas konvensional. Dalam menentukan permasalahan eksplorasi dan pengembangan gas non-konvensional

harus dilakukan penelitian dan pengkajian. Karena gas yg terperangkap dalam shale

tidak bisa migrasi ke dalam perangkap geologi dan jumlah banyak. Gas yang diperoleh

dari shale tempat terbentuknya gas bumi dan terdapat dicekungan hidrokarbon. Shale gas disini terdapat di on shore atau daratan.

Shale gas adalah gas alam yg dihasilkan dan terperangkap dari serpih biasanya berfungsi ganda sebagai reservoir dan sumber untuk gas alam atau gas bumi, serpihnya mengandung mineral getas dominan. Interpretasinya berdasarkan data yg ada adalah

nilai ro >1.1%, toc >2%, kaya akan material organic dan kematangan termal tinggi

serta kedalamannya setara dengan terbentuk dan tersimpannya shale gas tersebut antara 1000-4500m. Kandungan hydrogen rendah hi <150. Cara pengambilan

hidrokarbon menggunakan horizontal drilling yang disambungkan pada sumur yang telah ada sebelumnya hingga menembus formasi baong yang merupakan tempat

terdapatnya shale gas tersebut.

Dari litologi dan stratigrafi pada formasi bampo bisa di jadikan potensi

hidrokarbon non-konvensional yaitu shale gas yang berprospek karena litologi nya serpih. Tetapi kami belum begitu yakin karena tidak mendapatkan data yang detail dari

(10)

IV. EVALUASI FORMASI BAONG IV. 1 Analisis TOC

Dari kelima sumur, hanya 2 sumur yang dikatakan memiliki 4 sampel dengan

nilai TOC yang ‘cukup’ berpotensi menghasilkan hidrokarbon. Sampel tersebut didapat pada kedalaman Formasi Baong. Berdasarkan data, nilai TOC berkisar dari

1,26 – 1,37% wt), nilai ini dikategorikan berpotensi baik (Peter & Cassa, 1994).

Tabel 1. Kualitas TOC (Peter & Cassa, 1994)

IV. 2. Analisis Kematangan Batuan Induk

(11)

Tabel 2. Tingkat Kematangan Berdasarkan Tmax (Tissot & Welte, 1978)

Nilai Hydrogen Index (HI) dapat digunakan untuk menentukan jenis hidrokarbon utama dan kuantitas relatifnya. Dari diagram Van Krevelen, nilai HI

bervariasi dari 50 – 300, hal ini menunjukkan potensi adanya minyak dan gas dengan kuantitas yang relative kecil.

Tabel . Potensi Batuan Induk Berdasarkan HI (Waples, 1985)

Daya pantul cahaya vitrinit dapat digunakan untuk memperkirakan kematangan

thermal. Dari diagram Van Krevelen menunjukkan tingkat kematangan thermal yang

matang (peak mature) dengan nilai Ro umumnya 0,6 – 1,3%.

(12)

IV. 3. Tipe Kerogen

Dari diagram Van Krevelen, dapat ditentukan tipe kerogennya, yaitu tipe III. Kerogen tipe ini cenderung menghasilkan gas (gas prone).

Tabel 4. Tipe Kerogen (Petter & Cassa, 1994)

IV. 4. Tingkat Kegetasan

Brittle Index (BI) rata bernilai 0,63 dengan mineral lempung bernilai rata-rata 34,66%, menunjukkan tingkat kegetasannya masuk pada kategori rapuh baik. Hal ini meningkatkan potensi shale gas pada Formasi Baong untuk dilakukkan perekaha hidraulik.

V. PERKIRAAN LOKASI UPSIDE POTENTIAL

Dari seismik diperkirakan lokasi upside potential berada di Formasi Arun. Pada Formasi Arun terdapat reef build up yang menghasilkan bentukan closure yang menjadi reservoir sekaligus perangkap hidrokarbon. Hidrokarbon dari Formasi Baong

sebagai source rock bermigrasi ke closure itu mealui jalur sesar yang berarah utara

(13)

Gambar 3. Interpretasi seismik

Diperkirakan ada tiga titik upside potential pada kedalaman 3300 m. Dari titik

upside potential 1 dan 2 perlu dilakukan rejuvinasi pada sumur lama A1 dan A13 untuk

mencapai kedalaman reef build up. Selain melakukan rejuvinasi pada sumur lama,

pembuatan sumur baru dapat dilakukan pada titik 3 upside potential

VI. DESAIN CASING SUMUR

Dalam perencanaan casing, pada umumnya ada dua faktor yang berpengaruh yaitu faktor teknis dan ekonomi. Akan tetapi faktor secara teknis merupakan faktor

yang lebih diutamakan dari pada faktor ekonomi karena apabila casing design suatu sumur cenderung memperhitungakan faktor ekonomi yaitu murah, kadangkalanya dari

segi teknis kurang memenuhi kriteria aman atau safety sehingga dimungkinkan akan

timbulnya problem di kemudian hari.

Casing design suatu sumur dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya

(14)

lain. Oleh karenanya analisa tekanan pori suatu lapangan diperlukan guna mendapatkan

casing design yang benar –benar aman secara teknis.

Casing yang terpasang akan menerima beban –beban yang ditimbulkan oleh tekanan yang terjadi secara bersamaan. Oleh karenanya rangkaian casing yang direncanakan untuk suatu lapangan harus memenuhi persyaratan yaitu mampu

menahan beban burst, collapse, dan tension.

Pada formasi arun dulunya terdapat dua sumur yang sudah pernah berproduksi

jenis sumurnya adalah sumur gas, hingga akhirnya produksi pada kedua sumur ini terus

menurun, melakukan usaha untuk meningkatkan kembali produksi pada kedua sumur

lama tersebut dapat dilakukan dengan cara menambahkan liner tetapi tanpa ada

perpanjangan tubing. Rencana design casing untuk sumur pemboran baru yang berada di lokasi yang sama yaitu Formasi Arun.

VI. 1. Perhitungan Perencanaan Casing

Perhitugan perencanaan casing pada sumur “K” dilakukan dengan metode konvensional.

Surface Casing (16”)

Perencanaan kedalaman surface casing adalah pada 3500 ft. Pada perhitungan

collapse pressure diperoleh harga 2020,2 perencanaan surface casing dipasang tiga section. Panjang setiap section maximal 1500 ft, dan ketiga section ini menggunakan

grade N80 dan beban tension sebesar 276152 lb. Jenis casing ini sudah dapat untuk mengatasi pengaruh internal pressure, eksternal pressure, dan tension load yang

bekerja.

Intermediate Casing (14”)

Perencanaan intermediate pada kedalaman 7600 ft menggunakan size 14”. Collapse preassure diperoleh sebesar 3463,4. Dibagi menjadi empat section dengan

(15)

Production casing (9 5/8”) dan liner (7”)

Perencanaan production yang digantung liner pada kedalaman 9600 ft,

menggunakan size 9 5/8” untuk production casing nya dan 7” pada liner nya.

Perhitungan beban collapse pada production casing sebesar 9317,88 sehingga menggunakan grade P-110 sedangkan untuk linernya beban collapse nya sebesar

10588,5 menggunakan grade Q-125. Untuk beban tension pada production casing

sebesar 428.103,2 lb dan untuk beban tension pada liner sebesar 21.987,78 lb.

Casing Setting Depth

Perubahan kenaikan tekanan pori dari kedalaman 0 hingga 6000 ft stabil,

sampai akhirnya terdapat lonjakan yang besar pada kedalaman 7600 ft hingga 9800 ft.

Oleh karenanya penempatan kedalaman casing conductor pada 300 ft, surface pada 3500 ft, intermediate pada 7600 ft, production pada 9900 ft dan liner mulai

digantungkan pada kedalaman 9600 ft seperti pada lampiran.

Casing Design

Pada penetapan casing design pada sumur ”K” digunakan conductor casing ukuran 20” pada kedalaman 300 ft, surface casing 16” di kedalaman 3500 ft,

intermediate casing 14” kedalaman 7600 ft, production casing 9 5/8” di kedalaman 9900 ft dan liner dengan ukuran 7” mulai di gantungkan pada kedalaman 9600 ft. Serta

ukuran tyubing 31/2”. Jenis completion yang kami gunakan adalah case hole, perforasi dilakukan di liner.

VII. ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia serta

mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung,

menurut UU NO.7 TAHUN 2012 pasal 48 ayat 2 Dalam hal Usaha dan/atau Kegiatan

yang direncanakan Pemrakarsa wajib memiliki izin perlindungan dan pengelolaan

(16)

mencantumkan jumlah dan jenis izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup

sesuai dengan peraturan perundangundangan.

Dalam hal ini, pada proses eksploitasi minyak dan gas bumi pada blok Lhokseumawe

Nangroe Aceh Darussalam berpotensi akan adanya bahaya bagi lingkungan. Dari

kegiatan awal pra-operasi yaitu land clearing, akan ada aktivitas penggundulan hutan sehingga berkurangnya vegetasi yang menimbulkan kurangnya daya resap air dan

kekuatan tanah;terutama jika terjadi di daerah hulu; sehingga akan menimbulkan

ancaman terhadap lingkungan seperti, tanah longsor dan banjir.

Resiko lain yang akan timbul bagi lingkungan yaitu dari proses eksploitasi

minyak dan gas bumi, pada saat proses tersebut ancaman kick dan blowout mempunyai

tingkat resiko dan dampak yang cukup besar. Kick adalah proses merembesnya fluida

formasi (minyak, gas, atau air) dari dalam tanah masuk ke lubang yang sedang dibor

tanpa disengaja. Hal ini dapat terjadi ketika tekanan di dalam lubang lebih kecil dari

tekanan formasi yang ditembus, yang seharusnya justru tekanan hidrostatis lumpur

lebih besar dari formasi yang sedang ditembus pahat pemboran. Blowout adalah aliran

fluida formasi (bawah tanah) yang tidak terkendali yang merupakan kelanjutan dari

kick yang tidak terkendalikan. Penyebab kick yang paling sering terjadi adalah dimulai

dengan kejadian Lost-Circulation, yaitu masuknya sebagian lumpur pemboran kedalam formasi yang mengakibatkan kolom fluida di dalam sumur turun dan akhirnya

tekanan di dalam sumur menjadi lebih kecil dari tekanan formasi, walaupun secara

densitas equivalen lumpur yang dipakai sudah cukup berat. Penyebab terjadinya

blowout yaitu ketika kick tidak dapat tertanggulangi, baik karena kick datangnya terlalu cepat, atau karena operator yang terlalu lambat mengetahui, atau karena memang

secara alamiah alamnya sangat ganas, misalnya zona gas yang bertekanan sangat

tinggi.

Dua ancaman diatas, kick akan menimbulkan resiko yang cukup berbahaya bagi

masyarakat maupun lingkungan. Rembesan lumpur yang masuk kedalam formasi akan

mencemari perairan sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Masyarakat yang awam tidak mengetahui masalah tersebut sehingga air sekita tetap

(17)

itu, blowout memiliki tingkat resiko ancaman yang tinggi saat hal itu terjadi makan

kerusakan lingkungan yang didapat bisa lebih besar, bukan hanya perairan yang

tercemar tetapi juga tanah dan udara sekitar yang menjadi tidak layak. Contohnya jika

semburan blowout ini terus menerus dan tidak dapat ditutup, tanah tidak akan dapat

ditanami karena pencemaran, air juga menjadi tidak layak digunankan. Ancaman

tersebut menimbulkan resiko yang cukup tinggi bagi masyarakat dari kegiatan

pemboran sumur eksplorasi di lokasi yang telah ditentukan.

VII.I. Identifikasi Potensi Dampak Terhadap Lingkungan

Resiko yang telah dianalisis tentu akan menimbulkan dampak pula jika suatu

saat resiko tersebut terjadi baik karena faktor alam, maupun human error. Dari beberapa proses eksplorasi dan eskploitasi, dampak yang akan timbul diantaranya :

 Merembesnya lumpur ke saluran air bawah tanah, karena lumpur memasuki

formasi batuan sehingga air bersih tercemar tidak bisa digunakan

 Menurunnya bahkan hilangnya produktivitas tanah karena cemaran dari lumpur

 Terganggunya lingkungan/ekosistem sekitar karena gas yang ditimbulkan,

sehingga udara tidak sehat

 Menurunnya produktivitas warga karena lahan pertanian di areal tersebut dapat

ikut tercemar.

Cara pencegahan resiko-resiko ini adalah dengan dilakukannya cek

sumur-sumur tempat eksploitasi secara berkala, persiapkan peralatan untuk menangani bahaya

jika sewaktu-waktu mulai terjadi tanda-tanda potensi bahaya. Lakukan pemantauan

terhadap areal eksploitasi dan pertimbangkan jarak antar sumur agar tidak terjadi

blowout. Sedangkan untuk proses penanggulangan blowout dan kick tersebut Cara penanggulangannya ialah hentikan operasi, dan injeksikan lumpur berat yang sesuai,

semen sebagian, dan pasang casing string tambahan untuk areal yang mengalami resiko tersebut. Sedangkan untuk lingkungan, jika areal yang tercemar masih dalam

kondisi dapat diatasi, makapenanggulan dapat dilakukan salah satunya dengan

(18)

meremediasi tanah atau lumpur yang terkontaminasi. Ex situ land farming disebut juga

on site atau land farming.

Prinsipnya : bioremediasi dilakukan dengan menyebarkan tanah yang

terkontaminasi di atas site yang telah ditentukan. Kemudian di atas tanah tersebut

dilakukan treatment (perlakuan) untuk menurunkan konsentrasi polutan dengan

memanfaatkan aktivitas metabolisme mikroba dalam kondisi lingkungan yang

terkontrol .

VIII. KAJIAN POTENSI DAMPAK TERHADAP K3

Prosedur k3 memiliki fungsi yang sama namun keadaannya berbeda beda

karena kondisi dan keadaan yang berbeda beda, oleh karena itu setiap jenis pekerjaan

memiliki prosedur yang berbeda-beda pula. Sehingga prosedur k3 tidak sembarangan

ditetapkan dalam suatu pekerjaan, karena harus sesuai prosedur di lapangan. Prosedur

kerja adalah Aturan-aturan atau cara kerja yang berlaku saat melakukan suatu

pekerjaan dalam bidang pekerjaan tertentu. Biasanya prosedur kerja ditunjukan kepada

pekerja yang akan memulai suatu pekerjaan. Prosedur kerja yang lengkap dan benar

akan dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja, sehingga akan menjamin keefektifan

dan evisiensi dalam suatu pekerjaan.

Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi tentu memiliki potensi dampak

terhadap k3 baik kesehatan, lingkungan, maupun keamanan. Potensi dampak tersebut

diantaranya :

• Merembesnya lumpur ke saluran air sehingga menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat sekitar

• Kurangnya kehati-hatian dalam pengoperasian alat, terjadi kecelakaan diakibatkan alat sebagai pemicunya

• Efek dari blowout yang mungkin dapat terjadi pada saat proses eksploitasi menimbulkan potensi dampak yang cukup besar terhadap keselamatan pekerja,

karena kemungkinan site yang runtuh dan ledakan yang tiba-tiba dapat

(19)

IX. UPAYA PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA

Bagian tubuh yang sering mendapat kecelakaan adalah kepala, tangan dan kaki.

Oleh karena itu, bagian tubuh tersebut perlu mendapat perlindungan secukupnya,

sesuai dengan sifat pekerjaan yang dilakukan. Alat perlindungan bagian tubuh tersebut

adalah sebagai berikut:

a. helm

b. sepatu

c. sarung tangan

d. pelindung pernafasan

e. sabuk pengamanan & tali pengaman.

IX. 1. Pencegahan Penyakit Akibat Kerja

Pencegahan penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan:

a. Substitusi, mengganti bahan-bahan yang membahayakan tubuh manusia dengan

bahan yang tidak berbahayakan tanpa mengurangi hasil dan mitos.

b. Isolasi, menjauhkan atau memisahkan suatu proses pekerjaan yang mengganggu

atau membahayakan pekerja.

c. Ventilasi, membuat ventilasi ditempat kerja , sehingga sirkulasi udara dapat terjaga.

d. Alat pelindung diri (APD), alat pelindung diri berupa aksesoris yang telah

dirancang agar mampu melindungi pekerja dari penyakit atau kecelakaan kerja.

Alat ini berbentuk pakaian, topi pelindung kepala, sarung tangan, sepatu yang

dilapisi baja bagian depan untuk menahan beban yang berat, masker khusus untuk

melindungi alat pernafasan terhadap debu astau gas yang berbahaya, kacamata

khusus dan sebagainya.

e. Latihan informasi sebelum bekerja, agar pekerja mengetahui dan lebih berhati-hati

terhadap kemungkinan adanya bahaya kecelakaan kerja maka dianjurkan sebelum

bekerja diberi pengetahuan tentang pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja

secara teratur sehingga para pekerja sadar akan resiko dari pekerjaan yang mereka

(20)

f. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, melakukan pemeriksaan kesehatan

sebelum bekerjadan secara berkala untuk mengetahui faktor penyebab dari

gangguan kesehatan yang timbul pada pekerja.

g. Istirahat dalam bekerja, dianjurkan pada saat bekerja semua pekerja diberi waktu

untuk istirahat lebih kurang sepuluh menit secara serentak.

X. PERENCANAAN PENGEMBANGAN KOTA LHOKSEUMAWE

Pembangunan kota yang berkelanjutan adalah suatu proses dinamis yang

berlangsung secara terus-menerus, merupakan respon terhadap tekanan perubahan

ekonomi, lingkungan, dan sosial. Proses dan kebijakannya tidak sama pada setiap kota,

tergantung pada kota-kotanya. Salah satu tantangan terbesar konsep tersebut saat ini

adalah menciptakan keberlanjutan, termasuk didalamnya keberlanjutan sistem politik

dan kelembagaan sampai pada strategi, program, dan kebijakan sehingga pembangunan

kota yang berkelanjutan dapat terwujud, walaupun sektor primer yang menjadi

penyumbang terbesar Kabupaten Aceh Utara yaitu pertambangan dan penggalian

sewaktu-waktu dapat berhenti berproduksi.

Melihat struktur ekonomi dan sektor pendapatan Kabupaten Aceh Utara, serta

letak geografisnya, sangat mungkin jika pemanfaatan dana dari pemerintah di

alokasikan untuk sektor pertanian, hotel dan perdagangan, dan perikanan. Dilihat dari

pertumbuhan sektor pertanian yang masih menjadi sektor primer dengan peningkatan

yang cukup setiap tahunnya, jika pemerintah mengalokasikan dana nya untuk lebih

memperhatikan sektor ini dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan pertanian

dengan harga terjangkau, maka kami percaya sektor ini akan menyumbang kestabilan

perekonomian wilayah Lhokseumawe. Selain itu, letak geografis yang dekat dengan

laut maka pemerintah dapat meningkatnya fasilitas dengan memberi bantuan pada

sektor perikanan, sehingga penghasilan nelayan dapat meningkat, penangkapan ikan

pun meningkat.

Sektor lain yang dapat dikembangkan guna menjaga kestabilan ekonomi adalah

sektor perhotelan dan perdagangan. Data yang telah dipelajari menunjukan bahwa

(21)

meningkat, begitu juga dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran, kontribusi

sektor perdangan, hotel dan restoran ini menempati urutan kedua mulai dari 14 persen

pada tahun 2006, kemudian meningkat menjadi 15 persen pada tahun 2007, dan

meningkat menjadi 16 persen pada tahun 2008. Jika pemerintah daerah

mengalokasikan dana nya untuk perdagangan, perhotelan, pertanian baik berupa

pinjaman dan dukungan fasilitas serta bahan untuk sektor pertanian, ekonomi daerah

Aceh Utara akan tetap stabil dengan kekayaan alamnya.

KESIMPULAN

1. Secara konvensional keberadaan upside potential berada di bentukan closure

yang terdapat pada Formasi Arun.

2. Secara non-konvensional keberadaan upside potential berada pada Formasi

Baong yaitu berupa shale gas.

3. Untuk meningkatkan produksi gas pada dua suur sebelumnya, dilakukan

penambahan liner yang mulai digantungkan pada kedalaman 10.000 ft tetapi

tidak ada perpanjangan tubing.

4. Untuk sumur baru digunakan casing conductor pada kedalaman 300 ft dengan

size 20”, surface casing ukuran 16” di kedalaman 3500ft meggunakan grade N-80, intermediate casing dengan ukuran 14” dikedalaman 7600 ft menggunakan

(22)

DAFTAR PUSTAKA

Koesoemadinata, RP. 1980. Geologi Minyak dan Gas Bumi Jilid 1, edisi ke kedua. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Koesoemadinata, RP. 1980. Geologi Minyak dan Gas Bumi Jilid 2, edisi ke kedua. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Rubiandini, Rudi. 2010. Optimalisasi Pemboran dan Problem Solver. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Sunarjanto, Joko. 2012. Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi. Jakarta Selatan.

(23)
(24)
(25)
(26)
(27)

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN SERTA UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEGIATAN PEMBORAN SUMUR EKSPLORASI DARAT BLOK LHOKSEUMAWE

(Gunakan tabel ini untuk menjawab soal A.4)

Perhatian : gabungkan matrix ini dalam HSE Plan (bagian environmental) HSE AZ.Sep.15

NO

Sumber Dampak (urutkan sesuai

prioritas)

Jenis Dampak Besaran Dampak (buat perkiraan)

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (urutkan sesuai dengan skala

prioritas)

Lakukan penanaman di tempat lain yang masih satu areal dengan tempat eksplorasi terutama areal hulu

Cek berkala penggunaan lahan eksplorasi dan areal hutan serta hulu sesuai dengan AMDAL dan UKL, UPL

Kontraktor dan Perusahaan

Tahap Operasi

1. Kick High Risk 40-80 % Tutup rembesan pada areal yang menuju langsung ke saluran air warga

High Risk 50-100 % Tutup sumur dengan segera, dilakukan pengelolaan eksitu pada

Tahap Setelah Operasi (kegiatan restorasi)

-

-

-

(28)

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN SERTA UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEGIATAN PEMBORAN SUMUR EKSPLORASI DARAT BLOK LHOKSEUMAWE

(Gunakan tabel ini untuk menjawab soal A.4)

Perhatian : gabungkan matrix ini dalam HSE Plan (bagian environmental) HSE AZ.Sep.15

NO

Analisa dan Tentukan Tingkat Resiko (dengan menggunakan “Simple Risk Matrix” di

bawah ini)

Rencana Mitigasi Resiko

(uraikan rencana mitigasi berdasarkan skala prioritas dan rujuk kepada standar, peraturan perundang-undangan yang berlaku) Low

lumpur ke saluran air bawah tanah, Air bersih tercemar tidak bisa digunakan

√ Dilakukannya cek sumur-sumur tempat eksploitasi secara berkala, persiapkan peralatan untuk menangani bahaya jika sewaktu-waktu mulai terjadi tanda-tanda potensi bahaya.

2. Blowout Rusaknya

√ Lakukan pemantauan terhadap areal eksploitasi dan

pertimbangkan jarak antar sumur agar tidak terjadi blowout.

Keselamatan (Safety)

1. Land Clearing Kurangnya kehati-hatian dalam

√ Selalu wajibkan pemakaian safety equipment pada setiap pekerja, cek kesiapan dan status alat.

2. Blowout Runtuhnya site dan kecelakaan pekerja karena efek blowout

√ Pantau seberapa besar potensi kick yang akan menyebabkan blowout pada areal tersebut, siap sedia peralatan keamanan dan akses mudah untuk meninggalkan site.

(29)

DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN SERTA UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEGIATAN PEMBORAN SUMUR EKSPLORASI DARAT BLOK LHOKSEUMAWE

(Gunakan tabel ini untuk menjawab soal A.4)

Gambar

Gambar 1. Kolom litostratigrafi Cekungan Sumatera Utara
Gambar 2. Distribusi batuan induk dan jalur migrasi potensi
Gambar 3. Peta tektonik regional Cekungan Sumatera Utara
Tabel 1. Kualitas TOC (Peter & Cassa, 1994)
+4

Referensi

Dokumen terkait

Aktiktivitas eksplorasi memainkan peran penting untuk menjaga tingkat cadangan minyak dan gas serta mencegah penurunan produksi. Sedangkan ekploitasi bertujuan

Untuk mengatasi kekurangan air pada sub DAS yang merupakan formasi geologi kapur yaitu: (1) Perlu dikembangkan sumber-sumber air dengan sistem perencanaan yang baik mencakup

Tujuan penelitian adalah : untuk menjelaskan produktivitas jagung dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas jagung, menjelaskan struktur

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas, inversi dan geostatistik pada formasi batu pasir Dakota, diketahui lokasi rekomendasi yang memiliki litologi dan parameter fisis baik

Integrasi interpretasi citra satelit dan data geologi berupa ubahan limonit ( Iron oxide ) dan ubahan lempung ( Clay hydroxile ) dengan hasil interpretasi

Dari hasil sebaran temperatur, dengan mengasumsikan luas reservoir berdasarkan luas daerah yang mempunyai temperatur diatas 200 o C, luas reservoir X diperkirakan. 20

Tujuan penelitian adalah : untuk menjelaskan produktivitas jagung dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas jagung, menjelaskan struktur

Melalui analisis proses eksplorasi yang dilakukan, perusahaan menentukan pilihan strategi pengembangan basis data berbasis objek dengan aplikasi sistem informasi geologi untuk