STUDI KASUS EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI
LAPANGAN DAERAH LHOKSEUMAWE SERTA
IMPLIKASINYA DALAM MENCIPTAKAN PEREKONOMIAN
YANG SUSTAINABLE
Alexander Gilang, Faisal Ridha, Kurniawan Setya Istiadi, Gandes Aulia, dan
Kemala Oktaviani
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
I. PENDAHULUAN
Kota Lhokseumawe, Aceh, dikenal sebagai “Kota Petrodolar” pada masa jaya perusahaan gas PT Arun Natural Gas Liquefaction Co. periode 1980-1990. Sayang,
jejak kejayaan itu tak bersisa pasca perusahaan itu berhenti produksi pada tahun 2014.
Hal itu berimbas pada sektor perekonomian, ditandai dengan turunnya daya beli
masyarakat.
Kota Lhokseumawe ditetapkan pemerintah pusat sebagai kota dengan jumlah
penduduk 180.000 jiwa pada 21 Juni 2001. Kota seluas 181 km persegi itu menyimpan
kekayaan alam berlimpah, antara lain gas dan minyak bumi. Pemerintah bekerja sama
dengan swasta menemukan gas dalam jumlah besar, sekitar 17,1 TSFC di kawasan
Arun pada tahun 1970. Penemuan itu memicu berdirinya PT Arun Natural Gas
Liquefaction pada 16 Maret 1974.
PT Arun NGL adalah penghasil LNG (gas alam cair) terbesar di dunia pada
medio 1990-an. LNG yang dihasilkan diekspor ke sejumlah negara, terutama Jepang.
Gas dari perusahaan itu menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Lhokseumawe dan
Indonesia pada tahun 1980-1990. Penemuan gas dalam jumlah besar dan berdirinya PT
Arun NGL memberikan perubahan positif bagi Lhokseumawe. Kondisi ini memicu
berdirinya sejumlah industri yang bergantung pada gas, seperti perusahaan penghasil
masyarakat tumbuh pesat di Lhokseumawe karena kehadiran perusahaan itu.
Lhokseumawe disebut “Kota Petrodolar” karena daya beli warganya yang sangat tinggi. Perekonomian tumbuh dan banyak orang luar bekerja di Lhokseumawe.
Namun, semua itu berubah ketika produksi PT Arun NGL turun drastis pada
tahun 2000-an dan berhenti produksi pada Oktober 2014. Kondisi itu membuat
perusahaan yang bergantung pada gas tutup bertahap sejak awal tahun 2000. Situasi itu
berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat Lhokseumawe sejak tahun
2000-an. Kondisi itu semakin turun, setelah Aceh dilanda bencana tsunami pada tahun
2004. Keadaan Lhokseumawe kian sulit kala mayoritas pendatang meninggalkan kota
itu ketika konflik di Aceh semakin meluas. perusahaan penghasil kertas kantong semen
PT Kertas Kraf Aceh di Kabupaten Aceh Utara, pabrik penghasil pupuk urea PT Asean
Aceh Fertilizer di Lhokseumawe, dan sejumlah perusahaan tambang minyak di Aceh
Utara.
II. KONDISI GEOLOGI
Cekungan Sumatera Utara terbentuk selama Tersier (Oligosen Awal), pada
lempeng Eurasia atau Paparan Sunda yang merupakan bagian dari Back-arc Basin
lempeng Sunda yang meliputi jalur yang terbentang dari Medan sampai Banda Aceh.
Proses tektonik cekungan membentuk stratigrafi regional Cekungan Sumatera Utara
dengan urutan dari tua ke muda adalah sebagai berikut :
1. Formasi Parapat
Formasi Parapat dengan komposisi batupasir berbutir kasar dan konglomerat di
bagian bawah, serta sisipan serpih yang diendapkan secara tidak selaras. Secara
regional, bagian bawah Formasi Parapat diendapkan dalam lingkungan laut dangkal
dengan dijumpai fosil Nummulites di Aceh. Formasi ini diperkirakan berumur
Oligosen.
2. Formasi Bampo
Formasi Bampo dengan komposisi utama adalah serpih hitam dan tidak
berlapis, dan umumnya berasosiasi dengan pirit dan gamping. Lapisan tipis
Formasi ini miskin akan fosil, sesuai dengan lingkungan pengendapannya yang tertutup
atau dalam kondisi reduksi (euxinic). Berdasarkan beberapa kumpulan fosil bentonik
dan planktonik yang ditemukan, diperkirakan formasi ini berumur Oligosen atas
sampai Miosen bawah. Ketebalan formasi amat berbeda dan berkisar antara 100 – 2400 meter.
3. Formasi Belumai
Pada sisi timur cekungan berkembang Formasi Belumai yang identik dengan
formasi Peutu yang hanya berkembang di cekungan bagian barat dan tengah. Terdiri
dari batupasir glaukonit berselang – seling dengan serpih dan batugamping. Di daerah Formasi Arun bagian atas berkembang lapisan batupasir kalkarenit dan kalsilutit
dengan selingan serpih. Formasi Belumai terdapat diatas Formasi Bampo, ketebalan
diperkirakan antara 200 – 700 meter. Lingkungan pengendapan Formasi ini adalah laut dangkal sampai neritik yang berumur Miosen awal.
4. Formasi Baong
Formasi Baong terdiri atas batulempung abu-abu kehijauan, napalan, lanauan,
pasiran. Umumnya kaya fosil Orbulina sp, dan diselingi suatu lapisan tipis pasir halus
serpihan. Di daerah Langkat Aru beberapa selingan batupasir glaukonitan serta
batugampingan yang terdapat pada bagian tengah. Formasi ini dinamakan Besitang
River Sand dan Sembilan sand, yang keduanya merupakan reservoir yang produktif dengan berumur Miosen Tengah hingga Atas.
5. Formasi Keutapang
Formasi Keutapang tersusun selang-seling antara serpih, batulempung,
beberapa sisipan batugampingan dan batupasir berlapis tebal terdiri atas kuarsa pyrite,
sedikit mika, dan karbonan terdapat pada bagian atas dijumpai hidrokarbon. Ketebalan
formasi ini berkisar antara 404 – 1534 meter. Formasi Keutapang merupakan awal siklus regresi dari sedimen dalam Cekungan Sumatera Utara yang terendapkan dalam
lingkungan delta sampai laut dalam sampai Miosen akhir.
6. Formasi Seurula
Formasi ini agak susah dipisahkan dari Formasi Keutapang dibawahnya.
batupasir, serpih dan dominan batulempung. Dibandingkan dengan Formasi
Keutapang, Formasi Seurula berbutir lebih kasar banyak ditemukan pecahan cangkang
moluska dan kandungan fornifera plangtonik lebih banyak. Ketebalan Formasi ini
diperkirakan antara 397 – 720 meter. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan bersifat laut selama awal Pliosen.
7. Formasi Julu Rayeu
Formasi Julu Rayeu merupakan formasi teratas dari siklus endapan laut
diCekungan Sumatera Utara. Dengan lithologinya terdiri atas batupasir halus sampai
kasar, batulempung dengan mengandung mika, dan pecahan cangkang moluska.
Ketebalannya mencapai 1400 meter, lingkungan pengendapan laut dangkal pada akhir
Pliosen sampai Plistosen.
8. Vulkanik Toba
Vulkanik Toba merupakan tufa hasil kegiatan vukanisme toba yang
berlangsung pada Plio-Plistosen. Lithologinya berupa tufa dan endapan-endapan
kontinen seperti kerakal, pasir dan lempung. Tufa toba diendapkan tidak selaras diatas
formasi Julu Rayeu. Ketebalan lapisan ini diperkirakan antara 150 – 200 meter berumur
Plistosen.
9. Alluvial
Satuan alluvial ini terdiri dari endapan sungai ( pasir, kerikil, batugamping dan
batulempung ) dan endapan pantai yaitu, pasir sampai lumpur. Ketebalan satuan
Berikut litostratigrafi Cekungan Sumatera Utara :
Gambar 1. Kolom litostratigrafi Cekungan Sumatera Utara
Pengendapan Tersier Bawah ditandai dengan adanya ketidakselarasan antara
sedimen dengan batuan dasar yang berumur Pra-tersier, merupakan hasil trangressi,
membentuk endapan berbutir kasar – halus, batu lempung hitam, napal, batulempung gampingan dan serpih.
Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Awal, kemudian berhenti dan
lingkungan berubah menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal yang kaya
akan fosil foraminifora planktonik dari formasi Peutu. Di bagian timur cekungan ini
diendapkan formasi Belumai yang berkembang menjadi 2 facies yaitu klastik dan
karbonat. Kondisi tenang terus berlangsung sampai Miosen tengah dengan
maksimum, kemudian terjadi proses regresi yang mengendapkan sedimen klastik
(formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk) secara selaras diendapkan diatas
Formasi Baong, kemudian secara tidak selaras diatasnya diendapkan Tufa Toba
Alluvial.
II. 1. Petroleum Sistem Cekungan Sumatera Utara
Berdasarkan data stratigrafi dan data geokimia yang ada, Cekungan Sumatera
Utara dapat ditentukan petroleum sistemnya, yaitu :
1. Batuan Induk (Source Rock)
Formasi yang berpotensi sebagai batuan induk adalah Formasi Baong bagian
bawah. Hal ini didasarkan pada litologi berupa batulempung yang kaya akan material
organik. Selain itu, Formasi Bampo dengan litologinya berupa serpih juga berpotensi
sebagai batuan induk.
2. Jalur Migrasi (Migration Route)
Pemodelan cekungan mengindikasikan bahwa hampir seluruh Cekungan
Sumatera Utara membentuk gas secara termal dari kitchen saat syn-rift.
Berdasarkan Reeves dan Sulaeman (1995), migrasi hidrokarbon di Cekungan Sumatera
Utara berasal dari tiga kitchen utama, seperti Tamiang Deep, Pase Deep dan Lhok Sukon Deep. Dimana jalur migrasi utamanya dari Formasi Baong sebagai source rock
menuju reservoir batugamping Arun Formasi Peutu di bawahnya melalui struktur yang
ada.
3. Batuan Reservoir (Reservoir Rock)
Reservoir yang mengakumulasi hidrokarbon pada Cekungan Sumatera Utara
adalah batugamping Arun/Malacca pada Formasi Peutu yang berasal dari serpih
Formasi Baong. Selain itu batupasir Sembilan dan Sungai Besitang pada Formasi
Baong juga produktif sebagai reservoir.
4. Perangkap (Trap)
Perangkap hidrokarbon pada Cekungan Sumatera Utara terdiri dari perangkap
struktur, perangkap stratigrafi dan kombinasi keduanya. Di Paparan Malaka dan di
kemiringan cekungan, perangkap terumbu build up terbentuk sangat baik di karbonat
Peutu.
5. Batuan Tudung (Seal Rock)
Formasi yang cocok sebagai batuan tudung adalah serpih Baong bawah yang
menutup batugamping Arun sebagai reservoir, serpih Baong atas yang menutup
reservoir MBS, dan serpih Keutapang yang yang menutup batupasir Sembilan dan
Sungai Besitang pada Formasi Baong.
III. IDENTIFIKASI KEMUNGKINAN KEBERADAAN UPSIDE POTENTIAL III. 1. Konvensional
Keberadaan upside potential pada hidrokarbon konvensional di lapangan Arun, Lhokseumawe, Sumatera Utara berdasarkan data yang tersedia kemungkinan berada
disebabkan pertumbuhan reef (reef build up) membentuk closure yang mengakumulasi hidrokarbon.
Formasi Baong berperan sebagai source rock yang kaya material organic dari indikasi TOC nya, sekaligus sebagai seal dari reservoir Formasi Arun. Migrasi dari
source rock (Formasi Baong) menuju Formasi Arun ditunjukkan oleh peta jalur migrasinya. Kemungkinan migrasi disebabkan oleh sesar yang berkembang dalam
skala regional.
Gambar 3. Peta tektonik regional Cekungan Sumatera Utara
III. 2. Non-Konvensional
Keberadaan upside potential pada hidrokarbon non-konvesional di lapangan Arun, Lhokseumawe, Sumatera Utara merupakan salah satu bagian yang penting dalam
pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di wilayah ini. Pemaanfaatannya bertujuan
untuk kesejahteraan dan kebutuhan gas yang terus meningkat serta tantangan untuk
mengurangi ketergantungan pada pemakaian minyak bumi untuk mengganti minyak
mulai mengembangkan eksplorasi dan pengembangan sumber daya non-konvensional
sebagai inovasi untuk menyikapi minyak bumi yang akan habis.
Berdasarkan data yang tersedia, kemungkinan tersedianya reservoir gas non-konvensional yang terpendam di bawah permukaan bumi didaerah ini terdapat di
formasi baong yang memiliki litologi shale, karena dilihat dari struktur geologi, stratigrafi, dan data yg lain memungkinkan adanya shale gasreservoir yang dapat di produksi, namun harus dilakukan usaha lagi untuk menemukan cadangan gas dari shale gas reservoir tersebut supaya perlahan dapat mulai menggantikan migas konvensional. Dalam menentukan permasalahan eksplorasi dan pengembangan gas non-konvensional
harus dilakukan penelitian dan pengkajian. Karena gas yg terperangkap dalam shale
tidak bisa migrasi ke dalam perangkap geologi dan jumlah banyak. Gas yang diperoleh
dari shale tempat terbentuknya gas bumi dan terdapat dicekungan hidrokarbon. Shale gas disini terdapat di on shore atau daratan.
Shale gas adalah gas alam yg dihasilkan dan terperangkap dari serpih biasanya berfungsi ganda sebagai reservoir dan sumber untuk gas alam atau gas bumi, serpihnya mengandung mineral getas dominan. Interpretasinya berdasarkan data yg ada adalah
nilai ro >1.1%, toc >2%, kaya akan material organic dan kematangan termal tinggi
serta kedalamannya setara dengan terbentuk dan tersimpannya shale gas tersebut antara 1000-4500m. Kandungan hydrogen rendah hi <150. Cara pengambilan
hidrokarbon menggunakan horizontal drilling yang disambungkan pada sumur yang telah ada sebelumnya hingga menembus formasi baong yang merupakan tempat
terdapatnya shale gas tersebut.
Dari litologi dan stratigrafi pada formasi bampo bisa di jadikan potensi
hidrokarbon non-konvensional yaitu shale gas yang berprospek karena litologi nya serpih. Tetapi kami belum begitu yakin karena tidak mendapatkan data yang detail dari
IV. EVALUASI FORMASI BAONG IV. 1 Analisis TOC
Dari kelima sumur, hanya 2 sumur yang dikatakan memiliki 4 sampel dengan
nilai TOC yang ‘cukup’ berpotensi menghasilkan hidrokarbon. Sampel tersebut didapat pada kedalaman Formasi Baong. Berdasarkan data, nilai TOC berkisar dari
1,26 – 1,37% wt), nilai ini dikategorikan berpotensi baik (Peter & Cassa, 1994).
Tabel 1. Kualitas TOC (Peter & Cassa, 1994)
IV. 2. Analisis Kematangan Batuan Induk
Tabel 2. Tingkat Kematangan Berdasarkan Tmax (Tissot & Welte, 1978)
Nilai Hydrogen Index (HI) dapat digunakan untuk menentukan jenis hidrokarbon utama dan kuantitas relatifnya. Dari diagram Van Krevelen, nilai HI
bervariasi dari 50 – 300, hal ini menunjukkan potensi adanya minyak dan gas dengan kuantitas yang relative kecil.
Tabel . Potensi Batuan Induk Berdasarkan HI (Waples, 1985)
Daya pantul cahaya vitrinit dapat digunakan untuk memperkirakan kematangan
thermal. Dari diagram Van Krevelen menunjukkan tingkat kematangan thermal yang
matang (peak mature) dengan nilai Ro umumnya 0,6 – 1,3%.
IV. 3. Tipe Kerogen
Dari diagram Van Krevelen, dapat ditentukan tipe kerogennya, yaitu tipe III. Kerogen tipe ini cenderung menghasilkan gas (gas prone).
Tabel 4. Tipe Kerogen (Petter & Cassa, 1994)
IV. 4. Tingkat Kegetasan
Brittle Index (BI) rata bernilai 0,63 dengan mineral lempung bernilai rata-rata 34,66%, menunjukkan tingkat kegetasannya masuk pada kategori rapuh baik. Hal ini meningkatkan potensi shale gas pada Formasi Baong untuk dilakukkan perekaha hidraulik.
V. PERKIRAAN LOKASI UPSIDE POTENTIAL
Dari seismik diperkirakan lokasi upside potential berada di Formasi Arun. Pada Formasi Arun terdapat reef build up yang menghasilkan bentukan closure yang menjadi reservoir sekaligus perangkap hidrokarbon. Hidrokarbon dari Formasi Baong
sebagai source rock bermigrasi ke closure itu mealui jalur sesar yang berarah utara
Gambar 3. Interpretasi seismik
Diperkirakan ada tiga titik upside potential pada kedalaman 3300 m. Dari titik
upside potential 1 dan 2 perlu dilakukan rejuvinasi pada sumur lama A1 dan A13 untuk
mencapai kedalaman reef build up. Selain melakukan rejuvinasi pada sumur lama,
pembuatan sumur baru dapat dilakukan pada titik 3 upside potential
VI. DESAIN CASING SUMUR
Dalam perencanaan casing, pada umumnya ada dua faktor yang berpengaruh yaitu faktor teknis dan ekonomi. Akan tetapi faktor secara teknis merupakan faktor
yang lebih diutamakan dari pada faktor ekonomi karena apabila casing design suatu sumur cenderung memperhitungakan faktor ekonomi yaitu murah, kadangkalanya dari
segi teknis kurang memenuhi kriteria aman atau safety sehingga dimungkinkan akan
timbulnya problem di kemudian hari.
Casing design suatu sumur dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
lain. Oleh karenanya analisa tekanan pori suatu lapangan diperlukan guna mendapatkan
casing design yang benar –benar aman secara teknis.
Casing yang terpasang akan menerima beban –beban yang ditimbulkan oleh tekanan yang terjadi secara bersamaan. Oleh karenanya rangkaian casing yang direncanakan untuk suatu lapangan harus memenuhi persyaratan yaitu mampu
menahan beban burst, collapse, dan tension.
Pada formasi arun dulunya terdapat dua sumur yang sudah pernah berproduksi
jenis sumurnya adalah sumur gas, hingga akhirnya produksi pada kedua sumur ini terus
menurun, melakukan usaha untuk meningkatkan kembali produksi pada kedua sumur
lama tersebut dapat dilakukan dengan cara menambahkan liner tetapi tanpa ada
perpanjangan tubing. Rencana design casing untuk sumur pemboran baru yang berada di lokasi yang sama yaitu Formasi Arun.
VI. 1. Perhitungan Perencanaan Casing
Perhitugan perencanaan casing pada sumur “K” dilakukan dengan metode konvensional.
Surface Casing (16”)
Perencanaan kedalaman surface casing adalah pada 3500 ft. Pada perhitungan
collapse pressure diperoleh harga 2020,2 perencanaan surface casing dipasang tiga section. Panjang setiap section maximal 1500 ft, dan ketiga section ini menggunakan
grade N80 dan beban tension sebesar 276152 lb. Jenis casing ini sudah dapat untuk mengatasi pengaruh internal pressure, eksternal pressure, dan tension load yang
bekerja.
Intermediate Casing (14”)
Perencanaan intermediate pada kedalaman 7600 ft menggunakan size 14”. Collapse preassure diperoleh sebesar 3463,4. Dibagi menjadi empat section dengan
Production casing (9 5/8”) dan liner (7”)
Perencanaan production yang digantung liner pada kedalaman 9600 ft,
menggunakan size 9 5/8” untuk production casing nya dan 7” pada liner nya.
Perhitungan beban collapse pada production casing sebesar 9317,88 sehingga menggunakan grade P-110 sedangkan untuk linernya beban collapse nya sebesar
10588,5 menggunakan grade Q-125. Untuk beban tension pada production casing
sebesar 428.103,2 lb dan untuk beban tension pada liner sebesar 21.987,78 lb.
Casing Setting Depth
Perubahan kenaikan tekanan pori dari kedalaman 0 hingga 6000 ft stabil,
sampai akhirnya terdapat lonjakan yang besar pada kedalaman 7600 ft hingga 9800 ft.
Oleh karenanya penempatan kedalaman casing conductor pada 300 ft, surface pada 3500 ft, intermediate pada 7600 ft, production pada 9900 ft dan liner mulai
digantungkan pada kedalaman 9600 ft seperti pada lampiran.
Casing Design
Pada penetapan casing design pada sumur ”K” digunakan conductor casing ukuran 20” pada kedalaman 300 ft, surface casing 16” di kedalaman 3500 ft,
intermediate casing 14” kedalaman 7600 ft, production casing 9 5/8” di kedalaman 9900 ft dan liner dengan ukuran 7” mulai di gantungkan pada kedalaman 9600 ft. Serta
ukuran tyubing 31/2”. Jenis completion yang kami gunakan adalah case hole, perforasi dilakukan di liner.
VII. ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia serta
mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung,
menurut UU NO.7 TAHUN 2012 pasal 48 ayat 2 Dalam hal Usaha dan/atau Kegiatan
yang direncanakan Pemrakarsa wajib memiliki izin perlindungan dan pengelolaan
mencantumkan jumlah dan jenis izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Dalam hal ini, pada proses eksploitasi minyak dan gas bumi pada blok Lhokseumawe
Nangroe Aceh Darussalam berpotensi akan adanya bahaya bagi lingkungan. Dari
kegiatan awal pra-operasi yaitu land clearing, akan ada aktivitas penggundulan hutan sehingga berkurangnya vegetasi yang menimbulkan kurangnya daya resap air dan
kekuatan tanah;terutama jika terjadi di daerah hulu; sehingga akan menimbulkan
ancaman terhadap lingkungan seperti, tanah longsor dan banjir.
Resiko lain yang akan timbul bagi lingkungan yaitu dari proses eksploitasi
minyak dan gas bumi, pada saat proses tersebut ancaman kick dan blowout mempunyai
tingkat resiko dan dampak yang cukup besar. Kick adalah proses merembesnya fluida
formasi (minyak, gas, atau air) dari dalam tanah masuk ke lubang yang sedang dibor
tanpa disengaja. Hal ini dapat terjadi ketika tekanan di dalam lubang lebih kecil dari
tekanan formasi yang ditembus, yang seharusnya justru tekanan hidrostatis lumpur
lebih besar dari formasi yang sedang ditembus pahat pemboran. Blowout adalah aliran
fluida formasi (bawah tanah) yang tidak terkendali yang merupakan kelanjutan dari
kick yang tidak terkendalikan. Penyebab kick yang paling sering terjadi adalah dimulai
dengan kejadian Lost-Circulation, yaitu masuknya sebagian lumpur pemboran kedalam formasi yang mengakibatkan kolom fluida di dalam sumur turun dan akhirnya
tekanan di dalam sumur menjadi lebih kecil dari tekanan formasi, walaupun secara
densitas equivalen lumpur yang dipakai sudah cukup berat. Penyebab terjadinya
blowout yaitu ketika kick tidak dapat tertanggulangi, baik karena kick datangnya terlalu cepat, atau karena operator yang terlalu lambat mengetahui, atau karena memang
secara alamiah alamnya sangat ganas, misalnya zona gas yang bertekanan sangat
tinggi.
Dua ancaman diatas, kick akan menimbulkan resiko yang cukup berbahaya bagi
masyarakat maupun lingkungan. Rembesan lumpur yang masuk kedalam formasi akan
mencemari perairan sehingga tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Masyarakat yang awam tidak mengetahui masalah tersebut sehingga air sekita tetap
itu, blowout memiliki tingkat resiko ancaman yang tinggi saat hal itu terjadi makan
kerusakan lingkungan yang didapat bisa lebih besar, bukan hanya perairan yang
tercemar tetapi juga tanah dan udara sekitar yang menjadi tidak layak. Contohnya jika
semburan blowout ini terus menerus dan tidak dapat ditutup, tanah tidak akan dapat
ditanami karena pencemaran, air juga menjadi tidak layak digunankan. Ancaman
tersebut menimbulkan resiko yang cukup tinggi bagi masyarakat dari kegiatan
pemboran sumur eksplorasi di lokasi yang telah ditentukan.
VII.I. Identifikasi Potensi Dampak Terhadap Lingkungan
Resiko yang telah dianalisis tentu akan menimbulkan dampak pula jika suatu
saat resiko tersebut terjadi baik karena faktor alam, maupun human error. Dari beberapa proses eksplorasi dan eskploitasi, dampak yang akan timbul diantaranya :
Merembesnya lumpur ke saluran air bawah tanah, karena lumpur memasuki
formasi batuan sehingga air bersih tercemar tidak bisa digunakan
Menurunnya bahkan hilangnya produktivitas tanah karena cemaran dari lumpur
Terganggunya lingkungan/ekosistem sekitar karena gas yang ditimbulkan,
sehingga udara tidak sehat
Menurunnya produktivitas warga karena lahan pertanian di areal tersebut dapat
ikut tercemar.
Cara pencegahan resiko-resiko ini adalah dengan dilakukannya cek
sumur-sumur tempat eksploitasi secara berkala, persiapkan peralatan untuk menangani bahaya
jika sewaktu-waktu mulai terjadi tanda-tanda potensi bahaya. Lakukan pemantauan
terhadap areal eksploitasi dan pertimbangkan jarak antar sumur agar tidak terjadi
blowout. Sedangkan untuk proses penanggulangan blowout dan kick tersebut Cara penanggulangannya ialah hentikan operasi, dan injeksikan lumpur berat yang sesuai,
semen sebagian, dan pasang casing string tambahan untuk areal yang mengalami resiko tersebut. Sedangkan untuk lingkungan, jika areal yang tercemar masih dalam
kondisi dapat diatasi, makapenanggulan dapat dilakukan salah satunya dengan
meremediasi tanah atau lumpur yang terkontaminasi. Ex situ land farming disebut juga
on site atau land farming.
Prinsipnya : bioremediasi dilakukan dengan menyebarkan tanah yang
terkontaminasi di atas site yang telah ditentukan. Kemudian di atas tanah tersebut
dilakukan treatment (perlakuan) untuk menurunkan konsentrasi polutan dengan
memanfaatkan aktivitas metabolisme mikroba dalam kondisi lingkungan yang
terkontrol .
VIII. KAJIAN POTENSI DAMPAK TERHADAP K3
Prosedur k3 memiliki fungsi yang sama namun keadaannya berbeda beda
karena kondisi dan keadaan yang berbeda beda, oleh karena itu setiap jenis pekerjaan
memiliki prosedur yang berbeda-beda pula. Sehingga prosedur k3 tidak sembarangan
ditetapkan dalam suatu pekerjaan, karena harus sesuai prosedur di lapangan. Prosedur
kerja adalah Aturan-aturan atau cara kerja yang berlaku saat melakukan suatu
pekerjaan dalam bidang pekerjaan tertentu. Biasanya prosedur kerja ditunjukan kepada
pekerja yang akan memulai suatu pekerjaan. Prosedur kerja yang lengkap dan benar
akan dapat mencegah terjadinya kecelakaan kerja, sehingga akan menjamin keefektifan
dan evisiensi dalam suatu pekerjaan.
Kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi tentu memiliki potensi dampak
terhadap k3 baik kesehatan, lingkungan, maupun keamanan. Potensi dampak tersebut
diantaranya :
• Merembesnya lumpur ke saluran air sehingga menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat sekitar
• Kurangnya kehati-hatian dalam pengoperasian alat, terjadi kecelakaan diakibatkan alat sebagai pemicunya
• Efek dari blowout yang mungkin dapat terjadi pada saat proses eksploitasi menimbulkan potensi dampak yang cukup besar terhadap keselamatan pekerja,
karena kemungkinan site yang runtuh dan ledakan yang tiba-tiba dapat
IX. UPAYA PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA
Bagian tubuh yang sering mendapat kecelakaan adalah kepala, tangan dan kaki.
Oleh karena itu, bagian tubuh tersebut perlu mendapat perlindungan secukupnya,
sesuai dengan sifat pekerjaan yang dilakukan. Alat perlindungan bagian tubuh tersebut
adalah sebagai berikut:
a. helm
b. sepatu
c. sarung tangan
d. pelindung pernafasan
e. sabuk pengamanan & tali pengaman.
IX. 1. Pencegahan Penyakit Akibat Kerja
Pencegahan penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan:
a. Substitusi, mengganti bahan-bahan yang membahayakan tubuh manusia dengan
bahan yang tidak berbahayakan tanpa mengurangi hasil dan mitos.
b. Isolasi, menjauhkan atau memisahkan suatu proses pekerjaan yang mengganggu
atau membahayakan pekerja.
c. Ventilasi, membuat ventilasi ditempat kerja , sehingga sirkulasi udara dapat terjaga.
d. Alat pelindung diri (APD), alat pelindung diri berupa aksesoris yang telah
dirancang agar mampu melindungi pekerja dari penyakit atau kecelakaan kerja.
Alat ini berbentuk pakaian, topi pelindung kepala, sarung tangan, sepatu yang
dilapisi baja bagian depan untuk menahan beban yang berat, masker khusus untuk
melindungi alat pernafasan terhadap debu astau gas yang berbahaya, kacamata
khusus dan sebagainya.
e. Latihan informasi sebelum bekerja, agar pekerja mengetahui dan lebih berhati-hati
terhadap kemungkinan adanya bahaya kecelakaan kerja maka dianjurkan sebelum
bekerja diberi pengetahuan tentang pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja
secara teratur sehingga para pekerja sadar akan resiko dari pekerjaan yang mereka
f. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, melakukan pemeriksaan kesehatan
sebelum bekerjadan secara berkala untuk mengetahui faktor penyebab dari
gangguan kesehatan yang timbul pada pekerja.
g. Istirahat dalam bekerja, dianjurkan pada saat bekerja semua pekerja diberi waktu
untuk istirahat lebih kurang sepuluh menit secara serentak.
X. PERENCANAAN PENGEMBANGAN KOTA LHOKSEUMAWE
Pembangunan kota yang berkelanjutan adalah suatu proses dinamis yang
berlangsung secara terus-menerus, merupakan respon terhadap tekanan perubahan
ekonomi, lingkungan, dan sosial. Proses dan kebijakannya tidak sama pada setiap kota,
tergantung pada kota-kotanya. Salah satu tantangan terbesar konsep tersebut saat ini
adalah menciptakan keberlanjutan, termasuk didalamnya keberlanjutan sistem politik
dan kelembagaan sampai pada strategi, program, dan kebijakan sehingga pembangunan
kota yang berkelanjutan dapat terwujud, walaupun sektor primer yang menjadi
penyumbang terbesar Kabupaten Aceh Utara yaitu pertambangan dan penggalian
sewaktu-waktu dapat berhenti berproduksi.
Melihat struktur ekonomi dan sektor pendapatan Kabupaten Aceh Utara, serta
letak geografisnya, sangat mungkin jika pemanfaatan dana dari pemerintah di
alokasikan untuk sektor pertanian, hotel dan perdagangan, dan perikanan. Dilihat dari
pertumbuhan sektor pertanian yang masih menjadi sektor primer dengan peningkatan
yang cukup setiap tahunnya, jika pemerintah mengalokasikan dana nya untuk lebih
memperhatikan sektor ini dengan menyediakan kebutuhan-kebutuhan pertanian
dengan harga terjangkau, maka kami percaya sektor ini akan menyumbang kestabilan
perekonomian wilayah Lhokseumawe. Selain itu, letak geografis yang dekat dengan
laut maka pemerintah dapat meningkatnya fasilitas dengan memberi bantuan pada
sektor perikanan, sehingga penghasilan nelayan dapat meningkat, penangkapan ikan
pun meningkat.
Sektor lain yang dapat dikembangkan guna menjaga kestabilan ekonomi adalah
sektor perhotelan dan perdagangan. Data yang telah dipelajari menunjukan bahwa
meningkat, begitu juga dengan sektor perdagangan, hotel dan restoran, kontribusi
sektor perdangan, hotel dan restoran ini menempati urutan kedua mulai dari 14 persen
pada tahun 2006, kemudian meningkat menjadi 15 persen pada tahun 2007, dan
meningkat menjadi 16 persen pada tahun 2008. Jika pemerintah daerah
mengalokasikan dana nya untuk perdagangan, perhotelan, pertanian baik berupa
pinjaman dan dukungan fasilitas serta bahan untuk sektor pertanian, ekonomi daerah
Aceh Utara akan tetap stabil dengan kekayaan alamnya.
KESIMPULAN
1. Secara konvensional keberadaan upside potential berada di bentukan closure
yang terdapat pada Formasi Arun.
2. Secara non-konvensional keberadaan upside potential berada pada Formasi
Baong yaitu berupa shale gas.
3. Untuk meningkatkan produksi gas pada dua suur sebelumnya, dilakukan
penambahan liner yang mulai digantungkan pada kedalaman 10.000 ft tetapi
tidak ada perpanjangan tubing.
4. Untuk sumur baru digunakan casing conductor pada kedalaman 300 ft dengan
size 20”, surface casing ukuran 16” di kedalaman 3500ft meggunakan grade N-80, intermediate casing dengan ukuran 14” dikedalaman 7600 ft menggunakan
DAFTAR PUSTAKA
Koesoemadinata, RP. 1980. Geologi Minyak dan Gas Bumi Jilid 1, edisi ke kedua. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Koesoemadinata, RP. 1980. Geologi Minyak dan Gas Bumi Jilid 2, edisi ke kedua. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Rubiandini, Rudi. 2010. Optimalisasi Pemboran dan Problem Solver. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Bandung.
Sunarjanto, Joko. 2012. Eksplorasi dan Pengembangan Migas Non-Konvensional Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi. Jakarta Selatan.
DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN SERTA UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEGIATAN PEMBORAN SUMUR EKSPLORASI DARAT BLOK LHOKSEUMAWE
(Gunakan tabel ini untuk menjawab soal A.4)
Perhatian : gabungkan matrix ini dalam HSE Plan (bagian environmental) HSE AZ.Sep.15
NO
Sumber Dampak (urutkan sesuai
prioritas)
Jenis Dampak Besaran Dampak (buat perkiraan)
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (urutkan sesuai dengan skala
prioritas)
Lakukan penanaman di tempat lain yang masih satu areal dengan tempat eksplorasi terutama areal hulu
Cek berkala penggunaan lahan eksplorasi dan areal hutan serta hulu sesuai dengan AMDAL dan UKL, UPL
Kontraktor dan Perusahaan
Tahap Operasi
1. Kick High Risk 40-80 % Tutup rembesan pada areal yang menuju langsung ke saluran air warga
High Risk 50-100 % Tutup sumur dengan segera, dilakukan pengelolaan eksitu pada
Tahap Setelah Operasi (kegiatan restorasi)
-
-
-
DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN SERTA UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEGIATAN PEMBORAN SUMUR EKSPLORASI DARAT BLOK LHOKSEUMAWE
(Gunakan tabel ini untuk menjawab soal A.4)
Perhatian : gabungkan matrix ini dalam HSE Plan (bagian environmental) HSE AZ.Sep.15
NO
Analisa dan Tentukan Tingkat Resiko (dengan menggunakan “Simple Risk Matrix” di
bawah ini)
Rencana Mitigasi Resiko
(uraikan rencana mitigasi berdasarkan skala prioritas dan rujuk kepada standar, peraturan perundang-undangan yang berlaku) Low
lumpur ke saluran air bawah tanah, Air bersih tercemar tidak bisa digunakan
√ Dilakukannya cek sumur-sumur tempat eksploitasi secara berkala, persiapkan peralatan untuk menangani bahaya jika sewaktu-waktu mulai terjadi tanda-tanda potensi bahaya.
2. Blowout Rusaknya
√ Lakukan pemantauan terhadap areal eksploitasi dan
pertimbangkan jarak antar sumur agar tidak terjadi blowout.
Keselamatan (Safety)
1. Land Clearing Kurangnya kehati-hatian dalam
√ Selalu wajibkan pemakaian safety equipment pada setiap pekerja, cek kesiapan dan status alat.
2. Blowout Runtuhnya site dan kecelakaan pekerja karena efek blowout
√ Pantau seberapa besar potensi kick yang akan menyebabkan blowout pada areal tersebut, siap sedia peralatan keamanan dan akses mudah untuk meninggalkan site.
DAMPAK LINGKUNGAN YANG DITIMBULKAN DAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN SERTA UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP KEGIATAN PEMBORAN SUMUR EKSPLORASI DARAT BLOK LHOKSEUMAWE
(Gunakan tabel ini untuk menjawab soal A.4)