• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA MURID KELAS IV SDN NEGERI 196 TRITIRO KABUPATEN BULUKUMBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR PKN MELALUI PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA MURID KELAS IV SDN NEGERI 196 TRITIRO KABUPATEN BULUKUMBA"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA MURID KELAS IV SDN NEGERI 196 TRITIRO

KABUPATEN BULUKUMBA

SKRIPSI

Oleh Rosmawanti K. 10540831612

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR 2015

(2)

CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) PADA MURID KELAS IV SDN NEGERI 196 TRITIRO

KABUPATEN BULUKUMBA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh Rosmawanti K. 10540831612

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FEBRUARI 2015

(3)

vi Karna bagiku

Mengajar adalah kehidupan Karna kelak nanti

Muridku akan menarikku masuk kedalam Syurga …Anti…

Coretan teristimewa sepanjang waktu dalam pendidikan ini, saya bingkiskan sebagai salah satu wujud bakti kepada Ayahanda dan Ibunda tercinta atas segala tetesan keringat, doa, dan pengorbanannya, adik-adikku tersayang atas perhatian, semangat, dan dorongannya serta sahabat yang telah hadir menghiasi perjalanan hidupku.

(4)

vii

Rosmawanti. 2015. Peningkatan Hasil belajar PKn melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada Murid Kelas IV SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Drs. H. Nasrun Hasan, M. Pd dan Pembimbing II Muhajir, S. Pd, M. Pd.

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Apakah dengan penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning pada mata pelajaran PKn, prestasi belajar murid kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar murid kelas IV SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (class action research) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan,pelaksanaan, tindakan observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas kelas IV SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba sebanyak 20 murid.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus pertama yang tuntas secara individual dari 20 murid hanya 9 atau 45% yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu 70, atau berada pada kategori rendah. Secara klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh sebesar 65,35 sedangkan pada siklus II dimana dari 20 terdapat 18 orang atau 90% telah memenuhi KKM dan secara klasikal sudah terpenuhi yaitu nilai rata-rata sebesar 79,6 atau berada dalam kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning pada mata pelajaran PKn pada murid kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba mengalami peningkatan.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Pendekatan pembelajaran, dan Contextual Teaching and Learning (CTL).

(5)

viii Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Allah Maha Pengasih lagi maha Penyayang, jiwa ini takkan henti bertahmid atas anugerah pada detik waktu, denyut jantung, gerak langkah, serta rasa dan rasio pada-Mu, Sang Khalik. Skripsi ini adalah setitik dari sederetan berkah-Mu. Salam dan shalawat kepada baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, serta pengikutnya yang tetap memegang teguh risalah yang disematkan di pundaknya, menjadi spirit kemanusiaan dan teladan terbaik manusia dalam memahami dan menjalani kehidupan ini.

Alhamdulillahirabbilalamin penulis telah menyelesaikan skripsi ini. melalui usaha keras ditengah hambatan dan keterbatasan, penulis mencoba melakukan yang terbaik untuk menyusun skripsi ini. Skripsi ini berjudul Peningkatan Hasil belajar PKn melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada Murid Kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba yang diharapkan memberikan hasil dan selanjutnya mampu menjadi acuan peneliti selanjutnya

Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terima kasih kepada ayahanda dan yang penuh kasih sayang telah berjuang, mengasuh, membesarkan, mendidik, mendoakan serta membiayai penulis dalam proses pencarian ilmu. Adik-adikku tersayang yang telah memberikan semangat, perhatian, dan dukungan hingga akhir studi ini. Serta keluarga besarku atas segala keikhlasannya memberikan

(6)

ix

menutut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan berbuah ibadah.

Selanjutnya penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan kepada Nasrun Hasan, S. Pd, M. Pd., pembimbing pertama dan Muhajir, S. Pd., M. Pd., pembimbing kedua yang telah dengan sabar, tekun dan ikhlas meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, motivasi, arahan serta saran-saran yang berharga kepada penulis selama penyusunan skripsi berlangsung.

Pada kesempatan ini penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada: Dr. Irwan Akib, M. Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulfasyah, MA., Ph. D., Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan Sitti Fithriani Saleh, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Jurusan Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) serta seluruh dosen dan staf pegawai prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Kepala Sekolah SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba, Muhammad Nakir, S. Pd dan guru kelas IV serta staf guru-guru yang telah memberikan izin, bantuan, dan bimbingan selama penulis mengadakan penelitian di SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba. Penulis juga mengucapkan terima kasih banyak kepada murid-murid kelas IV yang telah aktif berpartisipasi selama penulis melakukan penelitian.

(7)

x

sahabat yang tak mampu penulis sebutkan namanya satu per satu, terima kasih atas segala cinta, ruang dan waktu, kebersamaan dalam suka dan duka sebagai ukiran kenangan yang tak terhapuskan, kehangatan kasih dan kebaikan kalian adalah motivator untuk penulis.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak, selama saran dan kritikan tersebut sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amin.

Makassar, Desember 2014 P e n u l i s,

(8)

xi

HALAMAN JUDUL... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Masalah Penelitian... 4

C. Tujuan Penelitian ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka ... 7

(9)

xii

C. Hipotesis Tindakan ... 22

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 23

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 23

C. Faktor yang Diselidiki ... 24

D. Prosedur Penelitian ... 24

E. Instrumen Penelitian ... 28

F. Teknik Pengumpulan Data ... 30

G. Teknik Analisis Data ... 30

H. Indikator Keberhasilan ... 32

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN A. Hasil Penelitian... 33

B. Pembahasan Hasil Penelitian... 73

BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 78 B. Saran ... 79 DAFTAR PUSTAKA ... 80 LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(10)

xiii Lampiran A

Daftar Hadir Murid

Jadwal Pelaksanaan Penelitian

Lampiran B Perangkat Pembelajaran Lampiran C Observasi Guru Observasi Murid Lampiran D

Daftar Nilai ketuntasan Siklus I dan II

Lampiran E Persuratan Dokumentasi

(11)

1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan merupakan dimensi yang sangat menentukan kelangsungan hidup individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Di Indonesia, tujuan pendidikan secara umum sebagaimana tertuang dalam Pasal 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 adalah Mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, kritis, inovatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU RI. No. 20 Tahun 2003, 2007: 3).

Pendidikan adalah persoalan khas sekaligus bersifat kompleks bagi manusia, karena pada diri manusia, disamping mengalami perubahan juga mengalami perkembangan. Oleh karena itu, dalam menjalani kehidupannya manusia harus mendapat pendidikan dan mendidik dirinya agar terbentuk kemampuan untuk melangsungkan dan mengembangkan kehidupannya secara terus menerus. Selain itu, pendidikan dapat pula membantu manusia untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya sehingga menjadi manusia seutuhnya.

Salah satu materi pelajaran yang merupakan materi dasar dan membantu mengembangkan potensi-potensi dasar kemanusiaan peserta didik adalah PKn. Mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan merupakan bidang studi yang memberi

(12)

petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan bertingkah laku di dalam pergaulan hidup masyarakat. Manusia menciptakan norma-norma atau kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang selanjutnya dijadikan petunjuk dalam bersoasialisasi, hal tersebut dikarenakan manusia sebagai makhluk sosial selalu mengadakan hubungan timbal balik atau berinteraksi dalam upaya memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidupnya.

Banyak upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidi-kan di setiap jenjang pendidikan, salah satunya adalah dengan mengefektifkan dan mengefisienkan proses belajar mengajar. Salah satu diantaranya adalah pemilihan model pembelajaran, metode mengajar dan strategi belajar mengajar. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mendorong motivasi dan minat para siswa dalam pembelajaran PKn.

Apalagi dewasa ini, perkembangan ilmu pendidikan memberikan efek pada perubahan sistem pembelajaran dari “guru mengajar” menjadi format “siswa belajar”, yang diramu melalui pendekatan belajar aktif. Di samping itu, telah muncul pendekatan-pendekatan pembelajaran yang relevan dengan format “siswa belajar” bahkan lebih baik lagi, diantaranya quantum teaching dan quantum learning, serta berkembang metode pembelajaran kontruksivisme yang merupakan filosofi dasar contextual teaching learning (CTL) dengan berbagai strategi jitu ditawarkan. Jika semua hal tersebut dicermati dan dapat diimplementasikan, maka sangat berpotensi merangsang minat, motivasi dan aktivitas siswa dalam pembelajaran yang dengan sendirinya meningkatkan hasil belajar siswa.

(13)

Namun kenyataan menunjukkan,pembelajaran PKn di Sekolah Dasar Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba banyak guru yang mengeluhkan rendahnya hasil belajar siswa terhadap sejumlah indikator-indikator pencapaian pembelajaran PKN sebagaimana yang termuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Di samping itu, kenyataan menunjukkan masih terdapat guru yang menyelenggarakan pembelajaran dengan pendekatan dan metode yang berpusat ke guru, ceramah monoton, kurang variasi, sehingga menimbulkan kepasifan siswa dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu, pengajar perlu menyadari bahwa peserta didik adalah manusia yang sukar diduga tindakannya karena sangat kompleks kepribadiannya, sehingga tidak dapat dibenarkan bila pengajar menyampaikan materi kepada siswa dengan menggunakan satu macam metode saja yang alasannya hanya mendasarkan kepada pengalaman sendiri atau beranggapan bahwa ia berhasil mengajar dengan menggunakan metode yang ia pergunakan ketika menghadapi kelompok siswa tertentu. Pengajar seyogyanya mamahami bahwa kemampuan, tantangan dan dinamika belajar setiap siswa berbeda satu sama lain di setiap kurung waktu dan tempat.

Untuk mengatasi masalah tersebut, maka banyak cara yang telah ditempuh di antaranya penerapan pendekatan dan metode pembelajaran di kelas. Menurut Sullivan (2003: 23) bahwa “pengajaran di kelas pada umumnya hanya berpusat pada guru yang mengakibatkan siswa menjadi malas dan kurang bergairah dalam menerima pelajaran”. Hal ini berarti, salah satu penyebab kurang berpartisipasi-nya siswa dalam pembelajaran karena penerapan metode, pendekatan dan model mengajar yang kurang tepat.

(14)

Dari hasil pelaksanaan observasi awal peneliti di kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba diperoleh data bahwa prestasi belajar murid dalam bidang studi PKn hanya mencapai 60% dari 32 orang jumlah murid yang memperoleh nilai 7 atau lebih. Halinitentu mengharuskan guru melakukan remedial teaching secara klasikal. Setelah dilakukan observasi penyebabnya adalah murid ditempatkan sebagai objek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.Oleh karena itu, tidak cukup hanya remedial teaching tetapi membutuhkan penelitian tindakan.

Hal ini terungkap di atas melalui hasil observasi awal dalam pembelajaran PKn di Kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba belum menggunakan pendekatan kontekstual untuk meningkatkan prestasi belajar murid. Untuk mengantisipasi rendahnya prestasi belajar murid pada bidang studi PKn di SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba maka perlu menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning di mana pendekatan ini menempatkan murid sebagai subjek belajar, artinya murid berperan aktif dalam setiap pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran.

Salah satu kecenderungan pemikiran yang berkembang dewasa ini berkaitan dengan proses belajar anak adalah bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Menurut kecenderungan pemikiran ini, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang di pelajarinya bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi-kompetensi mengingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.

(15)

Menurut Nurhadi (2004: 20), pendekatan Contextual Teaching and Learning merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong murid membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Proses pembelajaran akan berlangsung lebih alamiah dalam kegiatan murid bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru, dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi murid untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam konteks itu, murid perlu mengetahui apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya.

Pendekatan CTL merupakan strategi yang melibatkan murid secara penuh dalam proses pembelajaran. Murid didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pelajaran sesuai dengan topik yang di pelajarinya. Belajar dalam konteks Contextual Teaching and Learning bukan hanya sekedar mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara langsung melalui proses pengalaman itu diharapkan perkembangan murid terjadi secara utuh, yang tidak hanya berkembang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan psikomotrik.

Berdasarkan hasil pelaksanaan observasi dan paparan tentang suasana belajar murid kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba pada mata pelajaran PKn dan uraian tentang pembelajran kontekstual, maka dapat disimpulkan bahwa murid kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba terungkap

(16)

bahwa penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning dalam pelaksanaannya belum diterapkan.

Dari uraian di atas, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian dan pengkajian tentang "Peningkatan Prestasi Belajar Murid Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning pada Mata Pelajaran PKn Kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba.“

B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan masalah pada rendahnya hasil belajar PKn murid kelas Kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba. Observasi dilakukan pada hari Kamis tanggal 29 Mei 2014. Data yang diperoleh dari pra test menunjukkan bahwa 85% murid belum mampu mengerjalan soal dengan baik atau mendapat nilai di bawah KKM 70. Banyak murid yang tidak mampu menuangkan apa yang telah dilisankan dalam bentuk tulisan. Peneliti juga menemukan masalah pada cara belajar yang diciptakan guru di dalam kelas hanya sebatas memberikan informasi pengetahuan dan kurang memberi contoh konkrit. Metode yang digunakan adalah metode konvensional yang membuat proses pembelajaran jadi monoton.

2. Alternatif Pemecahan Masalah

Masalah rendahnya hasil belajar PKn di Kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba sangat dipengaruhi oleh pemilihan strategi pengajaran yang masih konvensional oleh guru. Untuk memecahkan masalah tersebut maka diadakan

(17)

penelitian tindakan kelas (PTK) melalui penggunaan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam meningkatkan hasil belajar PKn.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : ”Apakah dengan penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning pada mata pelajaran PKn, prestasi belajar murid kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba dapat meningkat”?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning pada mata pelajaran PKn dalam meningkatkan prestasi belajar PKn pada murid kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba.

E. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan pihak terkait khususnya, antara lain :

1. Manfaat Teoritis

a. Sebagai landasan untuk mengembangkan pembelajaran yang mempengaruhi aktivitas, minat, partisipasi,dan hasil belajar murid dalam mata pelajaran PKn. b. Memberikan bahan informasi baru bagi dunia pendidikan, khususnya pada

mata pelajaran PKn dengan mengembangkan pembelajaran melalui pendekatan matematika realistik.

(18)

a. Bagi guru, penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bahwa untuk meningkatkan prestasi PKn dapat ditempuh dengan pembelajaran PKn melalui pendekatan CTL.

b. Bagi murid, murid yang kurang aktif atau kurang kreatif dalam mengikuti pelajaran PKn, dapat dijadikan sebagai masukan untuk meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran PKn murid melalui CTL.

c. Bagi guru, khususnya SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba dapat dijadikan kebijakan untuk mendorong para guru lebih inovatif, kreatif kejujuran, kebersamaan dan profesional dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan berkualitas di kelas.

(19)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka 1. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Dwitagama (2008: 1) bahwa “Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinforcement), sehingga terjadi perubahan yang bersifat permanen dan persistem pada dirinya sebagai hasil pengalaman” (learning is a change of behaviour as a result of experience), demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran behavioural approach.

Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah kepada kesempurnaan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (cognitive domain), aspek afektif (afektive domain) maupun aspek psikomotorik (psychomotoric domain). Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Winkel (1996: 244) bahwa “dalam taksonomi Bloom, aspek belajar yang harus di ukur keberhasilannya adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga dapat menggambarkan tingkah laku menyeluruh sebagai hasil belajar siswa”.

Pencapaian hasil belajar dapat diukur dengan melihat prestasi belajar yang diperoleh maupun pada proses pembelajaran. Tingkah laku sebagai hasil belajar juga

(20)

tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas dan berbagai bentuk interaksi belajar lainnya. Menurut Sudjana (1989: 3) bahwa hasil belajar adalah “tingkah laku yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Hasil belajar dalam hal ini meliputi wawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik”.

Adapun menurut Mappasoro (2006: 1-2) bahwa “hasil belajar adalah sejumlah perubahan yang terjadi pada diri seseorang yang disebabkan oleh faktor lain di luar belajar seperti perubahan karena kematangan, perubahan karena kelelahan fisik, dan sebagainya”. Hasil belajar dan prestasi belajar ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, berbicara hasil belajar maka orientasinya adalah berbicara prestasi belajar yang diukur dengan nilai tertentu.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang dicapai seorang pelajar setelah mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotirik.

Berdasarkan hal tersebut, maka hasil belajar yang dimaksudkan adalah prestasi belajar yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, tujuan pembelajaran dipandang sebagai suatu harapan yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hal ini sebagaimana dikemukakan Nasution (1989: 61) bahwa “hasil belajar siswa dirumuskan sebagai standar kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk yang lebih spesifik dan merupakan komponen dari tujuan umum bidang studi”.

(21)

Dalam penelitian ini hasil pendidikan kewarganegaraan (PKn), hanya dibatasi pada penguasaan bahan ajar yang diberikan dengan mengacu pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah disusun pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yaitu skor tes hasil belajar siswa setelah mengikuti kegiatan belajar dengan model pemecahan masalah.

b. Fungsi Hasil Belajar

Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dijadikan indikator untuk mengetahui tingkat kemampuan, kesanggupan, penguasaan tentang materi belajar. Sehingga hasil belajar dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Di dalam pengertian tentang evaluasi pendidikan ialah untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukan sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan kurikuler.

Disamping itu hasil belajar dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai dimana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar dan metode-metode mengajar yang digunakan. Dengan demikian dapat dikatakan betapa penting peranan dan fungsi hasil belajar dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih rinci fungsi hasil belajar dalam pendidikan dan pengajaran dikelompokkan menjadi empat fungsi (Purnomo, 1996: 2), yaitu :

1) Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegitan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil belajar yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi rapor atau surat tanda tamat belajar, yang berarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau

(22)

lulus tidaknya seorang siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif).

2) Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya.

3) Untuk keperluan bimbingan dan konseling (BK). Hasil-hasil belajar yang telah dilaksanakan terhadap siswanya dapat dijadikan informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah. 4) Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah

yang bersangkutan.

Adapun menurut Winkel (1996: 483-484) bahwa hasil belajar dapat digunakan untuk:

1) Mendapatkan informasi tentang masing-masing siswa, sampai sejauh mana mereka telah mencapai tujuan-tujuan intruksional. Hasil belajar pada tahap evaluasi formatif merupakan bahan informasi untuk memonitor kemajuan siswa sejauh menyangkut pencapaian tujuan intruksional untuk unit pelajaran tertentu, pada tahap evaluasi sumatif dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam beberapa tujuan intruksional yang diuji bersama-sama

2) Mendapatkan informasi tentang suatu kelompok siswa sampai berapa jauh kelompok siswa mencapai tujuan-tujuan intruksional, misalnya satu satuan kelas di bidang studi bahasa Indonesia. Informasi ini diperoleh dengan menerapkan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Hasil evaluasi tersebut juga bersifat diagnosis yaitu membantu menemukan faktor kesulitan dan kesukaran yang masih dialami siswa dalam mencapai tujuan intruksional tertentu, dimana faktor tersebut mungkin terdapat pada pribadi siswa dan mungkin juga terletak dalam model proses belajar mengajar itu sendiri.

c. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Hasil Belajar

Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku pada subjek belajar, ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Dari sekian banyak faktor yang berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar, menurut Sardiman (2006: 39) bahwa “secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor intern (dari dalam) diri subjek belajar dan faktor ekstern (dari luar) diri subjek belajar”. Hal yang sama

(23)

dikemukakan Abdurrahman (1993: 114) bahwa “hasil belajar siswa secara pokok dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: 1) faktor internal, dan 2) faktor eksternal”.

Faktor internal terdapat pada diri siswa itu sendiri, yang meliputi faktor fisiologis-biologis dan faktor psikologis. Sedangkan faktor eksternal merupakan kondisi yang berada di luar siswa yang terdiri atas faktor keluarga atau rumah tangga, faktor sekolah, dan faktor lingkungan masyarakat.

Menurut Abdurrahman (1993: 114) bahwa faktor fisiologis-biologis yang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, antara lain:

1) bentuk atau postur tubuh, 2) kesegaran atau kebugaran, 3) kesehatan atau keutuhan tubuh, 4) instink, refleks dan drift (dorongan), 5) komposisi zat cair tubuh dan 6) rentang serta susunan saraf.

Adapun faktor psikologis, antara lain:

1) kemampuan kognitif (pengenalan) berupa pengamatan, tanggapan, ingatan, asosiasi/ reproduksi, fantasi dan intelegensi, 2) kematangan emosi (perasaan) berupa kematangan emosi biolkogis dan emosi rohani, 3) kekuatan konasi (kemauan), dan dorongan kombinasi berupa minat, perhatian, dan sugesti.

Lebih lanjut Abdurrahman (1993: 115) mengemukakan faktor-faktor yang berkaitan dengan keluarga dan lingkungan, antara lain:

1) suasana kehidupan dalam keluarga, 2) kondisi sosial ekonomi, 3) perhatian orang tua terhadap pelajaran anaknya, 4) pemberian motivasi dan dorongan untuk belajar, dan 5) fasilitas belajar.

Sedangkan faktor sekolah berkaitan dengan:

1) pengelolaan kelas dan sekolah, 2) hubungan antara guru dengan siswa, antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru, 3) pe-laksanaan bimbingan dan konseling, 4) fasilitas dan sumber belajar, 5) penetapan dan penggunaan metode dan media pembelajaran oleh guru, 6) kondisi ruangan tempat belajar, dan 7) kerjasama antara orang tua dengan guru dan sekolah dengan masyarakat.

(24)

1) perhatian dan kepedulian lembaga-lembaga masyarakat akan pen-didikan, 2) keteladanan para pemimpin formal dan informal, 3) pera-nan media massa, dan 4) bentuk kehidupan masyarakat.

d. Prinsip-prinsip Pengembangan Hasil Belajar

Pengembangan hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan cara mengemas pelajaran dalam suasana menantang, merangsang dan menggugah daya cipta siswa untuk menemukan dan mengesankan. Gagne dalam Mulyasa (2007: 111) menambahkan bahwa “jika seorang peserta didik dihadapkan pada suatu masalah, pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah, tetapi juga belajar sesuatu yang baru”. Jadi prinsip pemecahan masalah memegang peranan penting dalam pengembangan hasil belajar siswa.

Menurut Abdurrahman (1993: 109-110) bahwa “beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam mengembangkan hasil belajar, antara lain: prinsip motivasi, latar atau konteks, sosialisasi, belajar, dan belajar sambil bermain”.

1) Prinsip Motivasi

Prinsip motivasi dimaksudkan untuk merangsang daya dorong pribadi siswa melakukan sesuatu (motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik). Untuk motivasi intrinsik, gairahkanlah perasaan ingin tahu anak, keinginan mencoba dan hasrat untuk lebih memajukan hasil belajar.

2) Prinsip Latar atau Konteks

Siswa akan terangsang mempelajari sesuatu jika mengetahui adanya hubungan langsung pada hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya. Guru hendaknya mengetahui apa kira-kira pengetahuan, keterampilan, sikap dan

(25)

pengalaman yang sudah dimiliki siswa. Dengan pengetahuan latar ini, guru dapat mengembangkan kemampuan dan hasil belajar siswa.

3) Prinsip Sosialisasi

Kegiatan belajar bersama dalam kelompok perlu dikembangkan di kalangan siswa, karena hasil belajar akan lebih baik. Pengelompokan siswa dapat dilakukan dengan pendekatan kemampuan, tempat tinggal, jenis kelamin, dan minat. Setiap kelompok diberi tugas yang berbeda dari sumber yang sama. 4) Prinsip Belajar sambil Bermain

Bermain merupakan tuntutan menyatakan diri untuk berprestasi pada diri anak, karena itu berilah kesempatan mengembangkan kemampuan dan hasil belajarnya melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain.

2. Hakekat Pembelajaran PKn

Menurut Dwitagama (2008: 1) bahwa “Pendidikan kewarganegaraan adalah sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan, cerdas, kreatif, efektif, dan keberhasilan warganegara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Menurut Djahiri (2008: 4) bahwa:

PKN atau civic education adalah program pendidikan/pembelajaran yang secara programatik-prosedural berupaya memanusiakan (humanizing) dan membudayakan (civilizing) serta memberdayakan (empowering) manusia/anak didik (diri dan kehidupannya) menjadi warga negara yang baik sebagaimana tuntutan yuridis konstitusional bangsa/negara yang bersangkutan.

Menurut Dwitagama (2008 ) bahwa ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelajaran PKn dalam rangka “nation and character building”: Pertama: PKn

(26)

merupakan bidang kajian kewarganegaraan yang ditopang berbagai disiplin ilmu yang releven, yaitu: ilmu politik, hukum, sosiologi, antropologi, psokoliogi dan disiplin ilmu lainnya yang digunakan sebagai landasan untuk melakukan kajian-kajian terhadap proses pengembangan konsep, nilai dan perilaku demokrasi warganegara. Kedua: PKn mengembangkan daya nalar (state of mind) bagi para peserta didik. Pengembangan karakter bangsa merupakan proses pengembangan warganegara yang cerdas dan berdaya nalar tinggi. PKn memusatkan perhatiannya pada pengembangan kecerdasan warga negara (civic intelegence) sebagai landasan pengembangan nilai dan perilaku demokrasi. Ketiga: PKn sebagai suatu proses pencerdasan, maka pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah yang lebih inspiratif dan partisipatif dengan menekankan pelatihan penggunaan logika dan pealaran. Menurut Mulyasa (dalam Rumiati, 2007:126) menyatakan bahwa tujuan PKN adalah membentuk watak atau karakteristik warga Negara secara baik. Sedagkan yang menjadi tujuan pembelajaran PKN adalah: (1) membentuk proses berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi persoalan hidup, (2) mau berpartisipasi didalam segala kegiatan secara aktif dan bertanggungjawab sehingga bertindak secara cerdas dalam semua kegiatan, (3) bisa berkembang positif dan demokratis sehingga mampu berinteraksi dengan bangsa lain serta mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang baik. Untuk menfasilitasi pembelajaran PKn yang efektif dikem-bangkan bahan pembelajaran yang interaktif yang dikemas dalam berbagai paket seperti bahan belajar tercetak, terekam, tersiar, elektronik, dan bahan belajar yang digali dari ligkungan masyarakat sebagai pengalaman langsung (hand of

(27)

experience). Keempat: kelas PKn sebagai laboratorium demokrasi. Melalui PKn, pemahaman sikap dan perilaku demokratis dikembangkan bukan semata-mata melalui ‘mengajar demokrasi’ (teaching democracy), tetapi melalui model pembelajaran yang secara langsung menerapkan cara hidup secara demokrasi (doing democracy). Penilaian bukan semata-mata dimaksudkan sebagai alat kedali mutu tetapi juga sebagai alat untuk memberikan bantuan belajar bagi siswa sehingga lebih dapat berhasil dimasa depan. Evaluasi dilakukan secara menyeluruh termasuk portofolio siswa dan evaluasi diri yang lebih berbasis kelas.

Rujukan warga negara Indonesia (WNI) yang baik dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ialah UUD 1945/2003 yang jabarannya termuat dalam TAP MPR dan Undang-undang (dalam hal ini Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menjadi kiblat seluruh Program dan Sistem pendidikan). Lebih lanjut Djahiri (2008: 4) menyatakan bahwa:

Landasan konstitusional di atas, maka Visi PKn NKRI adalah lahirnya warga negara Indonesia dan kehidupan masyarakat bangsa NKRI yang religius, cerdas, demokratis dan lawful ness, damai, tenteram, sejahtera, modern dan berkepribadian Indonesia”. Misi yang diembannya adalah program pendidikan; yang membelajarkan dan melatih anak didik secara demokratis, humanistik, dan fungsional.

Pembelajaran PKn hendaknya dimaknai memberi pembekalan pengetahuan melek politik-hukum, membina jati diri WNI berkepribadian/ berbudaya Indonesia, melatih pelakonan diri/kehidupan WNI yang melek politik hukum serta berbudaya Indonesia dalam tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara yang modern. Dari gambaran di atas maka jelas target harapan pembelajaran PKn, yakni: (1) Secara programatik memuat bahan ajar yang utuh berupa bekal pengetahuan untuk melek

(28)

politik dan hukum yang berlaku (imperative) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (2) Bahan ajar yang utuh mutlak harus menampilkan politik-hukum NKRI secara faktual, teoritiik, konseptual dan normatif berikut isi pesan nilai dan moral serta aturan main dan tata cara pelaksanaannya. Sebagai bekal pengetahuan tidak mutlak semua hal disampaikan melainkan dipilah dan dipilih berdasarkan tiga kriteria dasar yakni: tingkat esensinya, kegunaannya dan kritis tidaknya. Hakekat isi pesan pembelajaran PKn yang utama menurut Djahiri (2008: 5) harus memuat antara lain:

1) Insan dan kehidupan religius, iman dan taqwa dalam semua gatra kehidupan.

2) Melek politik dan hukum, tahu atau paham hal ihwal keharusan berkehdiupan berbangsa dan bernegara baik secara konstitusional maupun secara praksis/nyata (kemarin - kini dan esok hari).

3) Insan dan kehidupan demokratis yang lawfulness dalam NKRI dan berbudaya Indonesia.

4) Insan dan kehidupan yang cerdas, damai dan sejahtera.

5) Insan dan kehidupan yang cinta bangsa, negara, patriotik dan bela bangsa negara (hak daulat dan martabat bangsa).

6) Pergaulan dunia/antar bangsa yang setara dan damai.

b. Secara Prosedural target sasaran pembelajarannya ialah penyampaian bahan ajar pilihan dan fungsional kearah membina, mengembangkan dan membentuk potensi anak didik secara dalam kehidupan siswa dan lingkungannya (fisik-non fisik) sebagaimana diharapkan serta pelatihan pelakonan pemberdayaan hal tersebut dalam dunia nyata secara demokratis, humanis dan fungsional.

Tersirat dalam semua uraian di atas sejumlah hal yang secara konseptual dan praksisnya paradox (tabrakan) dengan hakekat globalisme dan modernity. Hal ini berarti tantangan riil yang cukup berat untuk dihadapi para guru PKn, Pendidikan Agama, Bahasa dan Budaya Daerah. Bila kita menyerah berarti kita mengorbankan

(29)

hakekat kodrati (Illahiah) dan sosial politik peserta didik kita dan kehidupan bangsa negara kita. Globalisme adalah era iptek yang superdeveloped, sedangkan modernity adalah neo geopolitik yang cyberspace/world wide dan cenderung sekuler.

Oleh karena itu, jawaban ada di tangan para pendidik. Pembelajaran PKn tidak hanya mengukur kemampuan kognitif siswa dalam bentuk menghafal materi-materi PKn, namun yang lebih penting adalah pengembangan ranah afektif, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral.

Guru yang baik tentu tidak akan mengabaikan kemampuan teknis keguruan yang merupakan kunci keberhasilan profesinya, yaitu kemampuan untuk mengelola proses pembelajaran dalam praktek yang sesungguhnya. Menurut Ali (1997: 21) bahwa “metode merupakan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan atau memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi”. Sehingga, seorang guru harus menggunakan dan memilih metode yang tepat dan ideal dalam proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang tepat dan dapat dipergunakan dalam pengajaran PKn adalah model simulasi.

Keberhasilan pembelajaran PKn harus diikuti dengan semangat bahwa guru harus difungsionalkan menjadi "agent of changes" dan membelajarkan keluarga dan masyarakat, sehingga tercipta proses revitalisasi fungsi peran keluarga dan masyarakat.

3. Pendekatan Contextual Tteaching and Learning (CTL) a. Pengertian CTL

Johnson (2002:12) menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran CTL adalah suatu strategis pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan murid secara

(30)

penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong murid untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dari konsep di atas ada tiga hal yang harus dipahami yakni (1) CTL menekankan kepada proses keterlibatan murid untuk dapat menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar murid hanya menerima pelajaran, tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. (2) CTL mendorong agar murid dapat menemukan hubungan antara materi dengan situasi kehidupan nyata, artinya murid dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. (3) CTL mendorong murid untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata, artinya CTL bukan hanya mengharapkan murid dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

Deporter (1992:24) mengemukakan, bahwa setiap murid mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan tersebut dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. Perbedaan tersebut dinamakan sebagai unsure modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe gaya belajar murid, yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestesis. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, artinya murid akan lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indera penglihatannya. Tipe auditorial adalah tipe belajar dengan cara menggunakan alat pendengarannya, sedangkan tipe kinestesis adalah tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh.

(31)

Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia murid, artinya guru perlu menyesuaikan gaya belajar terhadap gaya belajar murid, artinya guru perlu menyesuaikan gaya belajar terhadap gaya belajar murid. Sehubungan dengan hal itu, menurut Hadi (2004: 103) bahwa terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan CTL sebagai berikut.

a. Murid dalam pembelajaran konstektual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam tahap-tahap perkembangan. Kemampuan belajar akan sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau "penguasa" yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing murid agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.

b. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak-anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Oleh karena itulah belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari oleh murid.

(32)

b. Karakteristik Pendekatan CTL

Johnson (2002:22), mengemukakan terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL.

1) Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada activating knowledge, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh murid adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.

2) Pembelajaran yang konstektual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru acquiring knowledge. Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memperhatikan detailnya.

3) Pemahaman pengetahuan understanding knowledge, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.

4) Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut applying knowledge, artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan murid, sehingga tampak perubahan perilaku murid.

5) Melakukan refleksi reflecting knowledge terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik dan penyempurnaan strategi.

(33)

Peneliti berpendapat, bahwa pembelajaran/pengajaran kontekstual dapat dikatakan proses pendidikan yang membantu murid untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut dalam kehidupan mereka sehari-hari baik dalam kehidupan pribadi, sosial maupun cultural sehingga murid memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan/ditransfer dari satu permasalahan ke permasalahan lain.

c. Komponen-komponen Pendekatan CTL

Muslich (2007:2), mengemukakan bahwa komponen-komponen pendekatan CTL meliputi: (1) Kontruktivisme, (2) Inkuiri, (3) Bertanya (Questioning), (4) Masyarakat belajar (Learning Community), (5) Pemodelan (Modeling), (6) Refleksi (Reflection), dan (7) Penilaian nyata (Authentic Assement).

Komponen-komponen pendekatan CTL di atas, secara rinci akan diuraikan sebagai berikut:

1. Kontruktivisme

Merupakan proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif murid berdasarkan pengalaman.

2. Inkuiri

Proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah hasil dari mengingat, tetapi hasil dari proses menemukan sendiri.

3. Bertanya (Questioning)

Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap

(34)

individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembelajaran melalui CTL, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, tetapi memancing agar murid dapat menemukan sendiri. Karena itu, peran bertanya sangat penting.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerja sama saling memberikan dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar learning community dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah.

5. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan merupakan proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap murid. Misalnya, guru memberi contoh bagaimana mengoperasikan sebuah alat, atau bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, tetapi dapat juga guru memanfaatkan murid yang dianggap memiliki kemampuan.

(35)

Refleksi merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif murid yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.

7. Penilaian nyata (Authentic Assement)

Merupakan proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan murid. Penilaian ini diperlukan untuk mengetahuai apakah murid benar-benar belajar atau tidak.

d. Model Pembelajaran Pendekatan CTL

Menurut Depdiknas (2006), pembelajaran berbasis kontekstual terdiri atas tiga model pembelajaran yaitu sintaks model pembelajaran DI (Direct Instruction), CL (Cooperative Learning), dan FBI (Problem Based Instruction) yang dijabarkan sebagai berikut:

1. Sintaks pembelajaran langsung/DI (Direct Instruction) Dengan fase pembelajarannya sebagai berikut

Fase 1: Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan murid Fase 2 Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan Fase 3 Membimbing pelatihan

(36)

Fase 5 Memberikan kesempatan untuk bertanya 2. Sintaks pembelajaran CL (Cooperative Learning)

Dengan fase pembelajarannya sebagai berikut : Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi murid Fase 2 Menyajikan informasi

Fase 3 Mengorganisasikan murid ke dalam kelompok-kelompok belajar Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Fase 5 Evaluasi

Fase 6 Memberikan penghargaan

3. Sintaks pembelajaran berdasarkan masalah/FBI (Problem Base Instruction)

Dengan fase pembelajarannya sebagai berikut : Fase 1 Orientasi murid kepada masalah

Fase 2 Mengorganisasikan murid untuk belajar

Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Berhubungan dengan penerapan pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran penulis memodifikasi suatu model pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran PKn dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual yakni sebagai berikut :

(37)

Tahapan Kegiatan Guru Tahap 1 :

Orientasi murid kepada masalah

1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. 2. Menjelaskan perangkat yang dibutuhkan. 3. Memotivasi murid agar terlibat pada aktivitas

pemecahan masalah yang dipilihnya. Tahap 2 :

Mengelola pengetahuan awal murid terhadap masalah.

1. Guru mendorong murid untuk mengemukakan pengetahuan awal yang dimilikinya terhadap masalah, kemudian pengetahuan awal murid tersebut dijadikan acuan untuk menyelidikinya 2. Guru memotivasi murid dalam membangun

pengetahuan murid dari pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal. (Konstruktivisme)

3. Guru mengemukakan pertanyaan yang mengacu pada pengembangan kreativitas berfikir murid yang berhubungan dengan masalah dengan

mengaitkan antar masalah dengan kenyataan yang ada dilingkungan siswa. (questioning)

4. Guru mendorong murid untuk mengemukakan ide atau gagasan terhadap pemecahan masalah yang akan dilakukan

(38)

Tahap 3 :

Mengorganisasikan, serta membimbing penyelidikan individual dan kelompok

1. Membimbing murid secara individu maupun dalam kelompok-kelompok belajar dalam mengatasi masalah. (learning community) 2. Guru membimbing murid untuk mengumpulkan

informasi yang sesuai melalui observasi dan eksperimen dengan mengaitkan antara masalah dengan konteks keseharian murid sehingga dari mengamati murid dapat memahami masalah tersebut (inquiri)

Tahap 4 :

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

1. Guru membantu murid melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah yang dilakukan. (refleksi)

2. Guru mengukur dan mengevaluasi penyelidikan murid dan proses-proses yang mereka gunakan. (authentic assessment)

Tahap 5 :

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu murid merencanakan dan

menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model baik secara individual maupun kelompok terhadap proses pemecahan masalah yang telah dilakukan. (pemodelan)

(39)

B. Kerangka Berpikir

Hasil belajar PKn adalah hasil belajar yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajara PKn berupa seperangkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan dasar yang berguna bagi siswa untuk kehidupan sosialnya baik untuk masa kini maupun masa yang akan datang yang meliputi: keragaman suku bangsa dan budaya Indonesia, keragaman keyakinan dan keragaman tingkat kemampuan intelektual dan emosional.

Untuk meningkatkan hasil belajar PKn, dalam pembelajarannya harus menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar. Diperlukan model pembelajara interaktif dimana guru lebih banyak memberikan peran kepada siswa sebagai subjek belajar. Guru merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara integratif dan komprehensif pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga tercapai hasil belajar. Agar hasil belajar PKn meningkat diperlukan situasi, cara dan strategi pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara aktif baik pikiran, pendengaran, penglihatan, dan psikomotor dalam proses belajar mengajar. Adapun pembelajaran yang tepat untuk melibatkan siswa secara totalitas adalah pembelajaran dengan model pembelajaran CTL. CTL merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada activating knowledge, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh murid adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.

(40)

pembelajaran pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar PKn siswa dibandingkan dengan pendekatan tradisional (metode ceramah). Secara skematik kerangka pikir dapat dilihat pada gambar 1. berikut.

(41)

Gambar .1. Skema Kerangka Pikir C. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pikir di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah “jika CTL digunakan dalam pembelajaran, maka akan meningkatkan hasil belajar PKn Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba.

Hasil Belajar PKn Meningkat CTL PTK Siklus I PTK Siklus IIPerencanaanTindakanObsrvasiRefleksi Pembelajaran PKn

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Menurut Umar dan Kaco (2007: 9) bahwa “PTK bertujuan untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani kegiatan belajar mengajar”. Model PTK merupakan penelitian proses pengkajian berdaur yang terdiri dari dua siklus, di mana setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Daur penelitian tindakan kelas ditujukan sebagai perbaikan atas hasil refleksi terhadap tindakan sebelumnya yang dianggap belum berhasil, maka masalah tersebut dipecahkan kembali dengan mengikuti daur sebelumnya melalui tahapan yang berurutan. Penelitian ini mengikuti model Kurt Lewin yang terdiri dari perencanaan (planning), aksi atau tindakan (acting), observasi (observing) dan refleksi (reflecting).

B. Subjek Penelitian

Sasaran dan sekaligus menjadi subyek dalam penelitian ini adalah murid kelas IV SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba dengan jumlah murid sebanyak 20 orang. Adapun pelaksanaannya pada proses pembelajaran PKN dengan pokok bahasan sistem pemerintahan desa dan kecamatan dengan menggunakan pendekatan CTL. Murid diamati sejak awal pembelajaran, kegiatan inti, evaluasi dan penugasan.

(43)

C. Sumber Data

Sumber pengambilan data dalam penelitian ini berasal dari murid dan guru dengan deskripsi sebagai berikut :

1. Data murid. Data yang diperoleh berupa data hasil tes belajar murid selama pembelajaran mulai dari tes hasil belajar pada siklus I dan siklus II maupun data dari lembar observasi murid.

2. Data guru. Data yang diperoleh berupa lembar observasi guru selama pembelajaran matematika dengan pendekatan CTL.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara kuantitatif dan kualitatif. Teknik secara kuantitatif dilakukan untuk memperoleh data yang akurat dari murid sebagai subyek penelitian sedangkan teknik secara kualitatif dilakukan untuk memperoleh hasil interaksi antara guru dan murid selama pembelajaran melalui pendekatan matematika realistik.

Alat yang digunakan sebagai sumber pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes tertulis dan lembar obervasi.

1. Tes

Menurut Sukmadinata (2006: 223) bahwa “tes hasil belajar kadang-kadang disebut juga tes prestasi belajar, mengukur hasil-hasil belajar yang dicapai murid selama kurun waktu tertentu”. Oleh karena itu, data tentang hasil belajar murid diambil dengan menggunakan tes akhir setiap siklus dalam

(44)

bentuk ujian. Tes yang digunakan merupakan tes yang dikembangkan sendiri oleh peneliti.

2. Observasi

Instrumen penilaian aktifitas belajar yang digunakan berupa format observasi model checklist (√). Instrumen tersebut dikembangkan sendiri oleh peneliti, yang terdiri atas 5 aktifitas belajar murid, yaitu: a) kehadiran, b) menanggapi pertanyaan guru/teman, c) mengajukan pertanyaan, d) membuat kesimpulan materi, dan e) mengumpulkan tugas.

Cara pengambilan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Data tentang kondisi pembelajaran selama tindakan penelitian diambil dengan menggunakan lembar observasi yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. 2. Data tentang hasil belajar PKn murid diambil dengan menggunakan tes pada

akhir setiap siklus dalam bentuk ulangan harian.

3. Data mengenai tanggapan murid terhadap pembelajaran yang dilaksanakan digunakan soal refleksi.

4. Data tentang kehadiran, keaktifan/kesungguhan murid mengikuti kegiatan belajar dengan cara pengamatan (observasi).

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif deskriptif. Data yang diperoleh berupa nilai hasil tes belajar dan hasil observasi aktifitas diolah dengan menggunakan analisis kuantitatif deskriptif, namun terlebih dahulu diskoring dan ditabulasikan dalam tabel kemudian dihitung frekuensinya baik permurid

(45)

maupun peraktifitas, sehingga menjadi acuan untuk melakukan deskripsi. Berikut adalah persamaan-persamaan yang digunakan:

1. Mencari rata-rata hitung sebagaimana dalam Mangkuatmodjo, (1997: 58):

n X x   Keterangan:

x = Nilai rata-rata hitung X = Nilai hasil tes murid n = Jumlah murid

2. Persentase skor pencapaian, sebagaimana dalam Sugiyono, (2001: 40): % x n f P 100 Keterangan: P = Persentase f = Frekuensi n = Jumlah sampel/responden

Pengukuran hasil belajar murid apakah telah memenuhi Kriteri Ketuntasan Minimal (KKM) diketahui dengan membandingkan nilai akhir tes yang diperoleh murid dengan KKM yang berlaku di sekolah. Khusus untuk SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba nilai KKM sebesar 7,0. Kemudian untuk mengukur prestasi belajar murid ke dalam skala deskriptif, maka digunakan norma absolut skala empat sebagai pedoman sebagaimana dalam Arikunto (1993: 249):

(46)

2. Prestasi belajar dikategorikan cukup dengan skor 5,1 – 7,5. 3. Prestasi belajar dikategorikan rendah dengan skor 2,6 – 5,0. 4. Prestasi belajar dikategorikan gagal dengan skor 0 – 2,5.

Adapun skala pengukuran aktifitas belajar siswa menggunakan skala deskriptif (Sukmadinata, 2006), yakni:

1. Aktifitas belajar dikategorikan baik sekali dengan persentase 81%–100%. 2. Aktifitas belajar dikategorikan baik dengan persentase 61%–80%.

3. Aktifitas belajar dikategorikan cukup dengan persentase 41%–60%. 4. Aktifitas belajar dikategorikan kurang dengan persentase 21%–40%. 5. Aktifitas belajar dikategorikan sangat kurang dengan persentase 0%–20%.

F. Indikator Kinerja

Indikator kinerja penelitian tindakan kelas ini adalah bila nilai rata-rata hasil belajar PKn dan aktifitas belajar murid meningkat secara matematis dari satu siklus ke siklus berikutnya melalui pendekatan pembelajaran CTL pada murid kelas IV SD SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba.

G. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan selama dua siklus di kelas IV semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Sesuai dengan jenis penelitian yang dilakukan yakni penelitian tindakan kelas, maka rencana tindakan yang akan dilakukan terdiri atas dua siklus dengan masing-masing dua kali pertemuan. Prosedur kegiatan dalam setiap siklus meliputi perencanaan, tindakan, observasi atau evaluasi dan refleksi. Dimana dalam tahap perencanaan sampai melakukan tindakan terdapat empat langkah utama yang

(47)

akan dilakukan yaitu: identifikasi masalah, analisis dan perumusan masalah, perencanaan penelitian tindakan kelas, dan melakukan penelitian tindakan kelas. Secara skematik desain penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 3.1. berikut:

Gambar 3.1. Desain penelitian Tindakan Kelas (Umar dan Kaco, 2008)

Secara lebih terperinci, prosedur penelitian tindakan ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

Siklus I

1. Tahap Perencanaan Tindakan

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah meliputi

a. Menelaah materi pelajaran PKn kelas IV semester I SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba. Mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran PKn Perencanaan Siklus I Perencanaan Siklus 2 Pelaksanaan tindakan dan Observasi Simpulan Observasi Refleksi Refleksi Pelaksanaan Tindakan & Observasi Rencana tindakan Siklus 3 Pelaksanaan Tindakan dan Observasi

(48)

b. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan kompetensi dasar memahami sistem pemerintahan desa dan pemerintahan kecamatan.

c. Mendalami materi pokok yaitu struktur organisasi pemerintahan desa dan kecamatan dan membuat lembar kerja murid (LKS) untuk dua pertemuan dan akan dibagikan kepada empat kelompok. LKS yang dibuat sesuai dengan dua indikator pembelajaran yang tertera pada RPP.

d. Menyiapkan format observasi untuk melihat kondisi atau keadaan proses pembelajaran berlangsung melalui pendekatan CTL.

e. Membuat alat evaluasi berupa lembar tes yang digunakan pada akhir siklus.

2. Pelaksanaan Tindakan :

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah kegiatan belajar mengajar untuk mengimplementasikan materi dan model pembelajaran pendekatan CTL. Adapun perincian kegiatan pelaksanaan tindakan tersebut adalah :

a. Kegiatan Awal

1) Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan dilanjutkan dengan membaca doa belajar.

2) Guru menyampaikan indikator pencapaian hasil belajar.

3) Guru menginformasikan model pembelajaran CTL yang akan digunakan pada pembelajaran.

(49)

b. Kegiatan Inti

1) Guru memulai pembelajaran dengan menguraikan contoh masalah pengertian sistem pemerintahan, sistem pemerintahan desa, kelurahan, dan kecamatan dalam konteks nyata (riil)

2) Murid diberi kesempatan menyelesaikan masalah dengan memilih atau membangun strategi sendiri (disampaikan batasan waktu). 3) Guru memfasilitasi, antara lain dengan menyiapkan alat peraga atau

media yang lain seperti lembar kerja ataupun lembar tugas.

4) Setelah batasan waktu yang diberikan habis, beberapa murid menjelaskan caranya menyelesaikan masalah (informal). Tidak mengintervensi murid selama belum selesai mengutarakan idenya. 5) Selanjutnya murid dikelompokkan menjadi 4 kelompok dengan

anggota masing-masing 5-6 orang.

6) Guru memberikan soal LKS kepada murid secara berkelompok dan diberi waktu untuk menyelesaikan soal LKS yang diberikan oleh guru.

7) Guru memberikan perhatian kepada setiap kelompok dan memberi bantuan jika diperlukan.

8) Guru memberikan motivasi kepada murid untuk mengemukakan pendapat dalam kegiatan diskusi maupun dalam melakukan presentase di depan kelas

(50)

9) Guru memberikan waktu kepada murid untuk menyelesaikan soal LKS kemudian mempresentasikan hasil pekerjaannya di depan kelas

10) Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk bertanya

11) Murid diharapkan dapat menentukan apakah penyelesaian sudah benar atau belum, dengan memeriksa kembali jawaban yang akhirnya dapat menginterpretasikan penyelesaian tersebut terhadap permasalahan yang terdapat dalam soal LKS.

12) Guru meminta murid merenungkan materi yang baru saja dipelajari 13) Guru secara perlahan membawa murid ke pembelajaran formal. c. Kegiatan Akhir

1) Guru membimbing murid menyimpulkan apa yang telah dipelajari dalam pembelajaran sesuai tujuan akan dicapai.

2) Guru melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran

3) Guru memberikan tugas/latihan secara individu untuk dikerjakan dirumah.

4) Pada akhir siklus pertama dilangsungkan tes untuk mengukur penguasaan materi pembelajaran melalui pendekatan CTL.

3. Tahap observasi

Selama kegiatan berlangsung, guru melakukan pengamatan terhadap seluruh aktivitas dan kinerja kelompok murid dengan menggunakan lembar (format) observasi yang telah disediakan oleh peneliti. Untuk kejadian

(51)

dicatat oleh peneliti dengan bantuan teman sejawat. Hasil tes pada akhir siklus pertama menjadi bahan untuk melakukan evaluasi terhadap kekurangan-kekurangan pembelajaran PKn pada siklus kedua.

4. Tahap refleksi

Pada akhir siklus dilakukan refleksi terhadap hasil belajar yang diperoleh murid. Kekurangan-kekurangan yang terjadi pada siklus pertama akan diperbaiki pada siklus selanjutnya.

Siklus II

Siklus kedua dilakukan dengan tetap mengacu pada prosedur kegiatan yang sama pada siklus pertama yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi atau evaluasi dan refleksi. Hanya saja, pada siklus kedua aktivitas perencanaan dan tindakan senantiasa bertolak pada upaya perbaikan atau koreksi terhadap kekurangan hasil-hasil yang diperoleh pada siklus pertama sehingga inovasi tindakan pada siklus kedua lebih berorientasi pada tindakan korektif untuk mencapai hasil yang lebih maksimal sebagaimana diharapkan dari intervensi tindakan.

(52)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

Pada bab ini di bahas tentang hasil penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar PKn murid kelas IV SDN Negeri 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning dalam pembelajaran PKn pada Siklus I dan Siklus II. Adapun yang di bahas dan di analisis adalah skor hasil tes belajar Siklus I dan Siklus II, aktivitas belajar, dan perubahan sikap murid yang di peroleh dari hasil observasi.

A. Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi yang peneliti temukan saat melakukan observasi awal di SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba adalah guru dalam menjelaskan materi ajar menggunakan model pembelajaran yang membosankan sehingga murid hanya mencatat hal-hal yang penting dalam buku paket. Selain kondisi ini, kurangnya guru dalam penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajarandi kelas menyebabkan murid kurang termotivasi dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran PKn di sekolah seolah menjadi pembelajaran yang kurang penting untuk diajarkan sehingga guru acuh tak acuh dalam menjelaskan materi pembelajaran di kelas. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian di SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba dengan menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).

Hasil penelitian melalui penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di kelas IV SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba mengenai peningkatan hasil belajar PKn

(53)

melaui model pembelajaran Contextual Teaching and Learning, dilakukan terhadap 26 subjek penelitian. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif yang diklasifikasi atas dua bagian, yaitu deskripsi hasil siklus pertama dan siklus kedua. Data tentang hasil pembelajaran PKn murid kelas IV SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba diperoleh melalui nilai hasil belajar hasil belajar PKn murid sebelum tindakan dan tes hasil belajar setelah diterapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning.

SDN 196 Tritiro terletak di Kabupaten Bulukumba. Kondisi sekolah terdiri dari 2 Rombongan belajar (Rombel) yaitu kelas A dan kelas B. Ruangan di SDN 196 Tritiro Kabupaten Bulukumba terdiri dari 6 kelas dan 1 kantor. Pada awal peneliti berkunjung di sekolah, terlebih dahulu peneliti meminta izin kepada kepala sekolah untuk melaksanakan penelitian selama 2 bulan.

B. Deskripsi Siklus I

1. Tahap Perencanaan

Sebelum melakukan penelitian terlalu jauh hal yang pertama yang dilakukan oleh guru adalah bagaimana merencanakan proses Pembelajaran Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Dalam hal ini bagaimana penelitian melakukan telaah terhadap kurikulum, khususnya kurikulum sekolah dasar. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai standard kompetensi yang ingin dicapai pada pembelajaran PKn tentang lingkungan keluarga yaitu membuat skenario pembelajaran, membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, membuat lembar kerja murid, membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana suasana belajar mengajar di kelas saat Pembelajaran Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL),

Gambar

Gambar .1. Skema Kerangka Pikir C. Hipotesis Penelitian
Gambar 3.1. Desain penelitian Tindakan Kelas (Umar dan Kaco, 2008)
Tabel 4.4 Hasil observasi sikap murid selama mengikuti pembelajaran PKn
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi dan Presentase Hasil belajar PKn pada  Siklus I
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil Analysis of Variance (ANOVA) dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial menunjukkan bahwa pemangkasan daun berpengaruh nyata terhadap

dalam menentukan kebutuhan karir mereka sendiri(Dr.Veithzal Rivai,2004) setelah karyawan mengetahui seperti apa kebutuhan karirnya maka karyawan akan termotivasi mencapai

Pengumpulan data dalam penelitian ini rencananya akan menggunakan metode angket berupa data primer tentang hubungan pengetahuan dan sikap ibu dengan pemberian ASI

Berdasarkan Surat Penetapan Pemenang Lelang Nomor : 07/TAP/DPU/SDA-18/POKJA/2015 tanggal 19 Juni 2015 tentang Penetapan Pemenang Lelang Paket Pekerjaan Peningkatan Jaringan

Kawasan Berikat adalah suatu banguan, tempat, atau kawasan dengan batas-batas tertentu yang didalamya dilakukan kegiatan usaha industri pengolahan barang dan bahan, kegiatan

Untuk membuka ( decrypt ) data tersebut digunakan juga sebuah kunci yang dapat sama dengan kunci untuk mengenkripsi (untuk kasus private key.. cryptography ) atau dengan kunci

Untuk meraih gelar sarjana S1, Dianing menulis skripsi dengan judul Gaya Hidup Posmodern Tokoh- Tokoh Dalam Novel Mata Matahari Karya Ana Maryam Sebuah Tinjauan

atau muatan listrik yang terjadi di antara kutub positif dan kutub negatif sumber listrik “, misalnya : Accumulator atau AKI. “ Arus listrik adalah besarnya muatan listrik