• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

42 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yaitu berada di SDN Ngampin 02 Ambarawa, tepatnya terletak di Lingkungan Garung RT 05 RW 06 Kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Luas tanah SDN Ngampin 02 adalah 1.625 m2 . Sedangkan bangunannya menempati tanah seluas 985 m2 . SDN Ngampin 02 Ambarawa mempunyai 6 ruang kelas, yaitu kelas I sampai kelas VI. 1 ruang guru dan 1 ruang tamu. Ada 3 WC putra, 3 WC putri, dan 1 kamar mandi guru. Sekolah tersebut juga mempunyai 1 perpustakaan yang di dalamnya terdapat mushola kecil, 1 ruang komputer, 1 ruang UKS, 1 gudang, 1 kantin dan 1 rumah dinas penjaga sekolah.

SDN Ngampin 02 ini mempunyai 9 tenaga pendidik, 5 diantaranya sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebagian besar orangtua siswa bekerja sebagai petani dan wirasawasta. Mayoritas siswa SDN Ngampin 02 tinggal bersama orangtuanya dan terdapat beberapa orang siswa tinggal bersama kakek nenek, karena orangtua mereka bekerja di luar kota maupun luar negeri sebagai TKI.

Berikut ini adalah data jumlah siswa secara keseluruhan di SDN Ngampin 02.

Tabel 4.1

Data Jumlah Siswa SDN Ngampin 02

KELAS SISWA JUMLAH

LAKI-LAKI PEREMPUAN

I 6 10 16

II 10 7 17

III 8 9 17

(2)

V 12 5 17

VI 8 10 18

Subyek dalam penelitian adalah siswa di kelas 4 SDN Ngampin 02 dengan jumlah 21 siswa, yang terdiri dari 12 siswa putra dan 9 siswa putri.

4.2 Kondisi Awal Siswa

Kondisi awal siswa sebelum dilakukan siklus I yaitu dilihat dari nilai yang didapat oleh siswa. Dari 21 siswa, terdapat 10 siswa atau sekitar 48% siswa mencapai KKM, sedangkan sisanya yaitu 11 siswa atau sekitar 52% belum mencapai KKM. Kemudian peneliti segera melakukan penelitian siklus I dan siklus II untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

4.3 Pelaksanaan Penelitian 4.3.1 Pelaksanaan Siklus I 4.3.1.1 Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan berkenaan dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), penyusunan lembar observasi untuk guru dan siswa, dan pembuatan media yang akan digunakan.

RPP dibuat seminggu sebelum pelaksanaan pembelajaran dan sudah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. RPP siklus I dapat dilihat pada lampiran 1. RPP pada siklus I menggunakan 2 kali pertemuan, dimana 1 kali pertemuan berlangsung selama 2 x 35 menit.

Selanjutnya adalah tahap penyusunan lembar observasi guru dan siswa. Lembar observasi guru berisi tentang penilaian terhadap seberapa jauh penerapan metode TS-TS diterapkan di kelas. Sedangkan lembar observasi siswa berisi tentang penilaian seberapa jauh siswa mampu mengikuti dan memenuhi kriteria yang diharapkan saat metode TS-TS diterapkan.

Tahap perencanaan yang terakhir pada siklus I adalah pembuatan media yang akan digunakan yaitu gambar tentang materi energi panas dan energi bunyi.

(3)

4.3.1.2 Tahap Pelaksanaan

Siklus I menggunakan 2 kali pertemuan. Dimana 1 kali pertemuan berlangsung selama 2 x 35 menit.

Pertemuan pertama membahas materi tentang energi panas dengan lima indikator, yaitu menjelaskan pengertian energi panas, menyebutkan sumber energi panas, menyebutkan contoh penggunaan dari masing-masing sumber energi panas dalam kehidupan sehari-hari, menjelaskan jenis-jenis perpindahan panas, dan menyebutkan contoh-contoh dari jenis-jenis perpindahan energi panas.

Pertemuan pertama dilakukan pada hari Kamis tanggal 20 Maret 2014, jam pelajaran ke 3-4. Pertemuan pertama di awali dengan salam dari guru kelas IV dengan memperkenalkan nama peneliti dan memberi penjelasan kepada siswa bahwa peneliti akan mengajar selama 4 kali pertemuan.

Peneliti memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pada saat itu hanya sebagian kecil siswa yang merespon pertanyaan tersebut. Kemudian setelah melakukan apersepsi, peneliti mulai mengeksplor pengetahuan yang dimiliki siswa dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Ada beberapa siswa yang belum bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh peneliti.

Setelah kegiatan tanya jawab selesai dilakukan, peneliti mulai mengajak siswa memasuki kegiatan inti dengan durasi waktu 35 menit. Peneliti membagi siswa menjadi beberapa kelompok. Anggota kelompok ditentukan oleh guru, hal ini dikarenakan guru yang memahami tingkat kemampuan masing-masing siswa dan supaya terjadi heterogenitas kelompok. Penentuan anggota kelompok ini sudah diminta oleh peneliti kepada guru 3 hari sebelum pertemuan pertama berlangsung. Satu kelompok beranggotakan 4 siswa, sedangkan kelas IV tersebut memiliki 21 siswa. Jadi di dalam kelas tersebut terdapat 5 kelompok dimana 1 kelompok terdiri dari 5 orang. Peneliti menjelaskan sintaks metode Two Stay Two Stray (TS-TS). Karena dalam sintaks tersebut disebutkan 4 orang dengan tugas 2 orang sebagai tamu dan 2 orang tinggal di dalam kelompok, maka 1 kelompok yang terdiri dari 5 orang memiliki 3 orang yang tinggal di dalam kelompok. Hal ini tidak begitu mengganggu jalannya metode TS-TS. Pada saat itu terdapat

(4)

beberapa dari anggota kelompok kurang bisa berbaur dengan anggota kelompok yang lain, sehingga ia hanya diam saja. Setelah waktu yang ditentukan untuk berdiskusi berkahir, saatnya 2 orang yang ditugaskan sebagai tamu mulai menjalankan tugasnya dengan mengunjungi kelompok lain. 2 orang yang bertugas sebagai tamu wajib mengunjungi 2 kelompok lain. Masih terjadi kebingungan ketika siswa akan mengunjungi kelompok lain. Ada yang setelah selesai mengunjungi 1 kelompok, kemudian kembali ke kelompok asal. Namun, hal tersebut tidak begitu mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran, karena peneliti langsung memberikan arahan kepada siswa. Setelah semua tugas selesai dilakukan dan 2 orang yang bertugas sebagai tamu sudah kembali ke kelompok masing-masing, maka kegiatan selanjutnya adalah perwakilan dari tiap kelompok maju dan mempresentasikan gambar yang telah didiskusikan di dalam kelompok mereka.

Setelah semua kelompok presentasi, peneliti melakukan kegiatan penutup yaitu mengingatkan kepada siswa untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

Pertemuan kedua dilakukan pada hari Kamis tanggal 27 Maret 2014, jam pelajaran ke 3-4. Materi yang disampaikan yaitu mengenai energi bunyi dengan indikator menjelaskan pengertian bunyi, menyebutkan jenis-jenis perambatan bunyi, menyebutkan contoh-contoh dari jenis-jenis perambatan bunyi, dan menjelaskan pemantulan dan penyerapan bunyi.

Pada kegiatan awal, peneliti mengingatkan kembali materi minggu lalu dengan bertanya jawab pada siswa. Kemudian peneliti bertanya jawab dengan siswa tentang materi energi bunyi. Saat itu siswa yang menjawab sudah mulai meningkat daripada pertemuan minggu lalu. Setelah bertanya jawab dengan siswa, peneliti memberikan sedikit ulasan tentang energi bunyi.

Kegiatan inti pada pertemuan kedua ini sama dengan kegiatan inti pada pertemuan pertama. Dengan anggota kelompok yang sama, siswa diminta bekerjasama dalam kelompok dan mendiskusikan gambar yang telah dibagikan. Kekompakan kelompok pada pertemuan kedua ini belum meningkat secara

(5)

signifikan, namun siswa yang pada pertemuan pertama sedikit berinteraksi, pada saat itu sudah mulai berani mengeluarkan pendapatnya.

Setelah gambar dibagikan, siswa berdiskusi dan mencatat hal-hal yang penting. Kemudian 2 orang yang ditugaskan sebagai tamu mengunjungi 2 kelompok lain yang berbeda dari pertemuan sebelumnya. Meskipun metode TS-TS sudah dilakukan pada pertemuan pertama, namun masih terdapat siswa yang lupa dengan tugasnya, entah sebagai tamu atau sebagai penerima tamu. Kegiatan ini berlangsung selama 35 menit.

Setelah kegiatan saling mengunjungi kelompok selesai, 2 orang yang bertugas sebagai tamu menyampaikan apa yang mereka peroleh selama kunjungan ke kelompok lain. Setelah itu perwakilan masing-masing kelompok maju dan mempresantasikan hasil diskusi tentang gambar yang diperoleh kelompoknya.

Pertemuan kedua ini ditutup dengan siswa mengerjakan soal evaluasi siklus I yang dilampirkan sebagai Lampiran 3. Siswa mengerjakan secara individu. Setelah semua siswa selesai mengerjakan, semua lembar jawaban dikumpulkan.

4.3.1.3 Observasi

Observasi pada kedua pertemuan siklus I dilakukan oleh guru kelas 4. Pada pertemuan pertama, guru memberikan masukan tentang penguasaan kelas yang masih kurang. Masih terdapat siswa berbicara dengan temannya ketika materi disampaikan dan tidak ditegur. Selain itu kurangnya kontrol kelas ketika guru membagi kelompok pada pertemuan pertama, banyak siswa yang merasa kurang cocok jika bergabung dengan kelompok yang sudah ditentukan, akibatnya siswa tersebut berceloteh.

(6)

Tabel 4.2

Hasil Pengamatan Guru Siklus I

No Aspek yang dinilai

Tingkat Kemampuan Pertemuan 1 Pertemuan 2 I Pra Pembelajaran

1. Memeriksa kesiapan ruangan, alat pembelajaran, dan media

3 4

2. Memeriksa kesiapan siswa 3 4

II Kegiatan Inti

1. Menginformasikan tujuan pembelajaran 3 4

2. Memotivasi siswa belajar 2 4

3. Mengorganisasikan siswa kedalam

kelompok kerja 3 4

4. Menjelaskan materi yang mendukung

tugas yang akan diselesaikan kelompok 3 4

5. Menyampaikan teknis kerja 3 3

6. Pembagian tugas kepada masing-masing

kelompok. 3 3

7. Membimbing kerja kelompok 2 3

8. Membantu kesulitan siswa dalam

kelompok 3 3

9. Membahas hasil kerja kelompok 2 3

10. Meluruskan kesalahan siswa 2 3

11. Mengadakan evaluasi berupa kuis 3 4 12. Memberikan penghargaan bagi

kelompok terbaik 3 4

III Penutup

1. Memberikan refleksi 2 4

(7)

IV Pengelolaan waktu 3 3 V Menggunakan bahasa lisan jelas dan lancar

atau bahasa tulis baik dan benar 2 4

VI Penguasaan kelas 2 3 Jumlah 48 68 Kriteria penilaian : Skor 1 = kurang Skor 2 = cukup Skor 3 = baik

Skor 4 = sangat baik

Berdasarkan tabel hasil observasi di atas terjadi peningkatan jumlah skor dari pertemuan 1 dan pertemuan ke 2. Pada pertemuan 1 peneliti memperoleh jumlah skor 48 karena pada aspek yang dinilai peneliti masih mendapatkan skor 2 yang berarti cukup. Kemudian pada pertemuan ke 2 sudah tidak ada lagi skor 2, sehingga jumlah skor meningkat pada pertemuan ke 2. Pada pertemuan pertama pembelajaran IPA menggunakan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) masih kurang efektif. Pada pertemuan pertama, peneliti masih terdapat kekurangan seperti belum menyampaikan tujuan pembelajaran, peneliti juga kurang membimbing siswa dalam berdiskusi kelompok dengan menggunakan metode TS-TS, peneliti juga belum mengelola waktu secara efektif.

Pada pertemuan kedua, pembelajaran IPA dengan menggunakan metode Two Stay Two Stray (TS-TS), peneliti telah menyampaikan tujuan pembelajaran, peneliti juga mulai banyak membimbing siswa pada saat diskusi kelompok, peneliti telah menggunakan waktu secara efisien.

Dari tabel di atas strategi pembelajaran sudah baik untuk membuat siswa aktif dan bekerjasama dengan kelompok mereka masing-masing.

(8)

Meskipun masih terdapat kekurangan pada siklus I, namun terjadi peningkatan siswa dari pertemuan pertama sampai pertemuan kedua. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.

Tabel 4.3

Hasil Pengamatan Peningkatan Siswa Siklus I

Pertemuan I II III IV V VI VII VIII

Pertama 65% 53% 60% 55% 53% 55% 57% 55% Kedua 75% 65% 65% 67% 63% 62% 66% 63%

Keterangan :

I : Kesiapan Belajar II : Menjawab Pertanyaan

III : Merumuskan Masalah Sementara IV : Aktif dalam Diskusi Kelompok V : KedisiplinanSiswa dalam Belajar VI : Melaksanakan Diskusi

VII : Menyimpulkan Hasil Diskusi VIII : Mengajukan Pertanyaan

Berdasarkan tabel pertemuan pertama pada kesiapan siswa dalam belajar 65%, menjawab pertanyaan 53%, merumuskan masalah sementara 60%, aktif dalam diskusi kelompok 55%, kedisiplinan dalam belajar 53%, melaksanakan diskusi 55%, menyimpulkan diskusi 57%, dan mengajukan pertanyaan 55%.

Pada pertemuan kedua kesiapan siswa dalam belajar 75%, menjawab pertanyaan 65%, merumuskan masalah sementara 65%, aktif dalam diskusi kelompok 67%, kedisiplinan dalam belajar 63%, melaksanakan diskusi 62%, menyimpulkan diskusi 66%, dan mengajukan pertanyaan 63%.

(9)

Peningkatan tersebut akan lebih jelas jika dilihat dalam diagram batang seperti gambar 4.1 berikut.

Gambar 4.1 Diagram Batang Hasil Pengamatan Peningkatan Siswa Siklus I

Penjelasan di atas sudah dapat dikategorikan ke dalam hasil belajar yang memenuhi ranah kognitif dan ranah psikomotorik. Ranah kognitif ditunjukkan dengan menjawab pertanyaan, merumuskan masalah, menyimpulkan hasil diskusi dan mengajukan pertanyaan. Dalam ranah afektif dapat ditunjukkan dengan kedisiplinan siswa dalam belajar. Selain ditunjukkan dengan diagram tersebut, peneliti mengamati sikap siswa pada saat berdiskusi dalam kelompok. Pada siklus I ini sebagian besar siswa masih menunjukkan sikap kurang tidak senang apabila pendapatnya tidak terpakai dalam diskusi tersebut, namun sudah ada beberapa siswa yang menunjukkan sikap menghargai pendapat siswa lain. Sedangkan dalam ranah psikomotorik ditunjukkan dengan kesiapan belajar, aktif dalam diskusi kelompok, dan melaksanakan diskusi. Siswa masih sedikit lamban karena bingung ketika siswa harus mengunjungi kelompok lainnya. Pada siklus I ini

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% Pertama Kedua

(10)

masih terlihat dominasi dari siswa yang berkemampuan lebih dengan aktif mengemukakan pendapat daripada siswa yang berkemampuan kurang.

4.3.1.4 Refleksi

Setelah mendapat masukan dari guru kelas IV dan guru kelas VI, peneliti menyimpulkan kekurangan pada siklus I. Kekurangan tersebut diantaranya peneliti masih kurang mampu mengatur suara ketika mengajar, siswa ramai saat berdiskusi kelompok, dan masih terdapat siswa yang belum menjalankan tugasnya dengan benar.

Peneliti mencoba memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi tersebut dengan melakukan perencanaan yang baru pada siklus II.

4.3.2 Pelaksanaan Siklus II 4.3.2.1 Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan pada siklus II diawali juga dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), penyusunan lembar observasi untuk guru dan siswa, dan pembuatan media yang akan digunakan.

RPP dibuat seminggu sebelum pelaksanaan pembelajaran dan sudah dikonsultasikan dengan dosen pembimbing. RPP siklus II dapat dilihat pada Lampiran 2. RPP pada siklus II menggunakan 2 kali pertemuan, dimana 1 kali pertemuan berlangsung selama 2 x 35 menit.

Selanjutnya adalah tahap penyusunan lembar observasi guru dan siswa. Lembar observasi guru berisi tentang penilaian terhadap seberapa jauh penerapan metode TS-TS diterapkan di kelas. Sedangkan lembar observasi siswa berisi tentang penilaian seberapa jauh siswa mampu mengikuti dan memenuhi kriteria yang diharapkan saat metode TS-TS diterapkan.

Tahap perencanaan yang terakhir pada siklus II adalah pembuatan media yang akan digunakan yaitu gambar tentang materi energi alternatif dan perubahan energi bunyi melalui penggunaan alat musik.

(11)

4.3.2.2 Tahap Pelaksanaan

Siklus II menggunakan 2 kali pertemuan, yaitu pertemuan ke tiga dan pertemuan ke empat setelah dilaksanakannya siklus I pada pertemuan pertama dan pertemuan ke dua. 1 kali pertemuan berlangsung selama 2 x 35 menit.

Pada pertemuan ketiga ini membahas materi tentang energi alternatif dengan lima indikator, yaitu menjelaskan arti energi alternatif, menyebutkan keuntungan menggunakan energi alternatif, menyebutkan kerugian jika tidak menggunakan energi alternatif, menyebutkan contoh sumber energi alternatif, menyebutkan contoh penggunaan energi alternatif dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan ketiga dilakukan pada hari Kamis tanggal 4 April 2014, jam pelajaran ke 3-4. Peneliti memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa seputar energi alternatif. Siswa antusias menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian peneliti mengukur kemampuan awal yang dimiliki siswa dengan bertanya jawab tentang energi alternatif.

Setelah kegiatan tanya jawab selesai dilakukan, peneliti meminta siswa untuk berkelompok sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan pada saat pertemuan pertama. Peneliti membagikan gambar tentang penggunaan energi alternatif dalam kehidupan sehari-hari pada tiap kelompok. Gambar tersebut didiskusikan oleh kelompok. Anggota kelompok mencatat hal-hal yang penting. Tiba saatnya dua orang yang ditugaskan untuk bertamu mendatangi kelompok lain untuk memperoleh informasi dari kelompok tersebut. Dua orang yang ditugaskan menjadi tamu wajib mendatangi dua kelompok dan mencatat hal yang penting. Kemudian dua orang tersebut kembali ke kelompok asal dan menjelaskan kepada teman satu kelompoknya tentang apa yang mereka dapat dari hasil kunjungan ke kelompok lain.

Perwakilan kelompok maju dan mempresentasikan hasil diskusinya tentang gambar yang mereka dapatkan.

Setelah semua kelompok presentasi, peneliti melakukan kegiatan penutup yaitu mengingatkan kepada siswa untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.

(12)

Pertemuan ke empat dilakukan pada hari Kamis tanggal 11 April 2014, jam pelajaran ke 3-4. Indikator pada pertemuan ke empat ini yaitu Menjelaskan proses terdengarnya bunyi melalui alat musik yang dipukul, menjelaskan proses terdengarnya bunyi melalui alat musik bersenar, menjelaskan proses terdengarnya bunyi melalui alat musik yang ditiup.

Pertemuan ke empat diawali dengan pengingatan kembali materi yang dibahas pada pertemuan ke tiga. Peneliti memberikan pertanyaan tentang bunyi melalui alat musik yang dimainkan dengan berbagai cara. Siswa sangat bersemangat dalam menjawab pertanyaan tersebut, siswa mulai berani mengeluarkan pendapatnya.

Kegiatan inti pada pertemuan ke empat ini sama dengan kegiatan inti pada pertemuan pertama, ke dua, dan ke tiga. Dengan anggota kelompok yang sama, siswa diminta bekerjasama dalam kelompok dan mendiskusikan gambar yang telah dibagikan. Siswa sudah akrab dan dapat menerima satu sama lain anggota kelompoknya. Siswa mengeluarkan pendapat dan saling bertukar pikiran. Siswa sudah terlihat fokus dalam kelompok masing-masing.

Kegiatan selanjutnya setelah berdiskusi dalam kelompok adalah mengunjungi kelompok lain oleh dua orang yang bertugas sebagai tamu. Dua orang tamu tersebut mengunjungi 2 kelompok yang berbeda. Setelah selesai dan memperoleh informasi dari kelompok lain, dua orang tersebut menyampaikan apa yang mereka peroleh kepada kelompok asal. Kemudian perwakilan kelompok maju dan mempresentasikan hasil diskusi dari gambar yang didapatkan kelompok tersebut.

Pertemuan kedua ini ditutup dengan siswa mengerjakan soal evaluasi siklus 2 yang dilampirkan sebagai Lampiran 4. Siswa mengerjakan secara individu. Setelah semua siswa selesai mengerjakan, semua lembar jawaban dikumpulkan.

4.3.2.3 Observasi

Observasi pada kedua pertemuan siklus II juga dilakukan oleh guru kelas IV. Guru memberikan masukan pada pertemuan ketiga siswa sudah mulai mudah

(13)

diatur dan dapat merespon dengan baik setiap pertanyaan yang peneliti berikan. Peneliti sudah mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan, terlihat pada kondisi siswa yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan peneliti.

Lembar observasi guru kelas IV yang menilai peneliti saat mengajar dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4

Hasil Pengamatan Guru Siklus II

No Aspek yang dinilai

Tingkat Kemampuan Pertemuan 3 Pertemuan 4 I Pra Pembelajaran

1. Memeriksa kesiapan ruangan, alat pembelajaran, dan media

4 4

2. Memeriksa kesiapan siswa 4 4

II Kegiatan Inti

1. Menginformasikan tujuan pembelajaran 4 3

2. Memotivasi siswa belajar 3 4

3. Mengorganisasikan siswa kedalam

kelompok kerja 4 4

4. Menjelaskan materi yang mendukung

tugas yang akan diselesaikan kelompok 4 4

5. Menyampaikan teknis kerja 3 3

6. Pembagian tugas kepada masing-masing

kelompok. 3 4

7. Membimbing kerja kelompok 4 4

8. Membantu kesulitan siswa dalam

kelompok 3 3

(14)

10. Meluruskan kesalahan siswa 3 4 11. Mengadakan evaluasi berupa kuis 4 4 12. Memberikan penghargaan bagi

kelompok terbaik 3 3

III Penutup

1. Memberikan refleksi 4 4

2. Menutup pembelajaran 4 4

IV Pengelolaan waktu 4 3

V Menggunakan bahasa lisan jelas dan lancar

atau bahasa tulis baik dan benar 4 4

VI Penguasaan kelas 4 3 Jumlah 70 70 Kriteria penilaian : Skor 1 = kurang Skor 2 = cukup Skor 3 = baik

Skor 4 = sangat baik

Berdasarkan tabel hasil observasi di atas pada pertemuan ke 3 terjadi peningkatan jumlah skor dari pertemuan ke 2 pada siklus I. Namun jumlah skor pada pertemuan ke 3 sama dengan jumlah skor pertemuan ke 4. Pada pertemuan ke 3 sebagian besar aspek yang dinilai mendapatkan skor 4, namun masih terdapat aspek yang mendapatkan skor 3. Peneliti memperoleh jumlah skor 70 pada pertemuan ke 3. Kemudian pada pertemuan ke 4 peneliti juga mendapatkan jumlah skor yang sama dengan jumlah skor pertemuan ke 3, yaitu 70. Hal tersebut dikarenakan ada beberapa aspek yang mengalami peningkatan skor dan ada pula aspek yang mengalami penurunan skor pada pertemuan ke 3 dan pertemuan ke 4.

(15)

Pertemuan ke 3 pembelajaran IPA menggunakan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) sudah baik. Pada pertemuan ke 3 peneliti telah menyampaikan tujuan pembelajaran, peneliti juga membimbing siswa dalam berdiskusi kelompok dengan menggunakan model TS-TS, peneliti juga sudah mengelola waktu secara efisien.

Pada pertemuan ke 4, peneliti telah menyampaikan tujuan pembelajaran, peneliti juga mulai banyak membimbing siswa pada saat diskusi kelompok, peneliti telah menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Dari tabel di atas metode yang digunakan peneliti sudah baik untuk membuat siswa aktif dan mampu bekerjasama di dalam kelompok.

Selain peneliti yang mengalami peningkatan dalam mengajar IPA dengan menggunakan metode Two Stay Two Stray (TS-TS), siswa juga mengalami peningkatan saat pembelajaran berlangsung. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada tabel

Tabel 4.5

Hasil Pengamatan Peningkatan Siswa Siklus II

Pertemuan I II III IV V VI VI VIII

Pertama 75% 65% 70% 65% 63% 65% 68% 70% Kedua 82% 78% 80% 78% 78% 85% 85% 87%

Keterangan :

I : Kesiapan Belajar II : Menjawab Pertanyaan

III : Merumuskan Masalah Sementara IV : Aktif dalam Diskusi Kelompok V : KedisiplinanSiswa dalam Belajar VI : Melaksanakan Diskusi

(16)

VIII : Mengajukan Pertanyaan

Berdasarkan tabel pertemuan pertama pada kesiapan siswa dalam belajar 75%, menjawab pertanyaan 65%, merumuskan masalah sementara 70%, aktif dalam diskusi kelompok 65%, kedisiplinan dalam belajar 63%, melaksanakan diskusi 65%, menyimpulkan diskusi 68%, dan mengajukan pertanyaan 70%.

Pada pertemuan kedua kesiapan siswa dalam belajar 82%, menjawab pertanyaan 78%, merumuskan masalah sementara 80%, aktif dalam diskusi kelompok 78%, kedisiplinan dalam belajar 78%, melaksanakan diskusi 85%, menyimpulkan diskusi 85%, dan mengajukan pertanyaan 87%.

Peningkatan tersebut akan lebih jelas jika dilihat dalam diagram batang seperti gambar 4.2 berikut.

Gambar 4.2 Diagram Batang Hasil Pengamatan Peningkatan Siswa Siklus II

Penjelasan di atas sudah dapat dikategorikan ke dalam hasil belajar yang memenuhi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif ditunjukkan dengan menjawab pertanyaan, merumuskan masalah, menyimpulkan hasil diskusi

0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% Pertama Kedua

(17)

dan mengajukan pertanyaan. Dalam ranah afektif dapat ditunjukkan dengan kedisiplinan siswa dalam belajar. Selain ditunjukkan dengan diagram tersebut, peneliti mengamati sikap siswa pada saat berdiskusi dalam kelompok. Pada siklus II ini sebagian besar siswa sudah terbiasa bekerja di dalam kelompok sehingga siswa sudah terlatih saat menunjukkan sikap menghargai pendapat siswa lain dan menunjukkan sikap lapang dada ketika pendapatnya tidak digunakan dalam diskusi tersebut. .Sedangkan dalam ranah psikomotorik ditunjukkan dengan kesiapan belajar, aktif dalam diskusi kelompok, dan melaksanakan diskusi. Hampir seluruh siswa sudah aktif dalam diskusi kelompok yang ditunjukkan dengan cara ikut menyampaikan pendapatnya. Selain itu siswa juga terlihat lebih cekatan dalam bertindak pada saat siswa harus mengunjungi kelompok lain.

4.3.2.4 Refleksi

Peneliti merefleksi dari hasil masukan guru kelas IV, dan menyimpulkan bahwa suasana belajar yang menyenangkan mempengaruhi kesiapan siswa dalam menerima materi pembelajaran sehingga pesan yang disampaikan melalui media yang menarik dapat meningkatkan keiinginan siswa untuk mendalami materi yang disampaikan.

4.4 Deskripsi Hasil Penelitian

Peneliti memperoleh data nilai siswa kelas IV SDN Ngampin 02 Ambarawa pada mata pelajaran IPA sebelum dilakukan penelitian. Data nilai tersebut dapat dilihat pada lampiran 9. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat 11 atau 52% siswa yang hasil belajarnya belum mencapai KKM. Sedangkan 10 siswa lainnya atau 48% sudah mencapai KKM yaitu nilai di atas batas KKM, yaitu nilai ≥ 70. Nilai tersebut jika digambarkan ke dalam diagram lingkaran yang dapat dilihat pada gambar berikut ini.

(18)

Gambar 4.3 Diagram Lingkaran Nilai Siswa Pra Siklus

Melihat hasil nilai yang demikian, peneliti kemudian menerapkan metode TS-TS untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV di SDN Ngampin 02 pada mata pelajaran IPA.

Pada penelitian siklus I, nilai dari soal evaluasi yang diberikan dapat dilihat pada lampiran 10, yaitu terdapat 3 siswa atau 14% siswa hasil belajarnya belum mencapai KKM, sedangkan sisanya yaitu 18 siswa atau 86% siswa hasil belajarnya sudah mencapai KKM, yaitu ≥ 70. Jika nilai siklus I digambarkan dalam bentuk diagram lingkaran, maka dapat dilihat pada gambar berikut.

52% 48%

Tidak Tuntas Tuntas

(19)

Gambar 4.4 Diagram Lingkaran Nilai Siswa Siklus 1

Hasil belajar siswa siklus I tersebut akan dibandingkan dengan hasil belajar siklus II. Oleh karena itu, peneliti menyajikan data hasil belajar siswa pada siklus II yang dapat dilihat pada lampiran 11.

Tabel tersebut menunjukkan data hasil belajar siswa siklus II. Data tersebut menunjukkan bahwa tidak ada siswa yang hasil belajarnya kurang dari KKM, atau seluruh siswa atau 100% siswa berhasil mencapai KKM. Jika nilai siklus II digambarkan ke dalam diagram lingkaran, maka dapat dilihat pada gambar berikut.

14%

86%

Tidak Tuntas Tuntas

(20)

Gambar 4.5 Diagram Lingkaran Nilai Siswa Siklus II

Berdasarkan bilai hasil belajar yang didapat, yaitu nilai dari pra siklus, siklus I dan siklus II, maka peneliti menyajikan tabel perbandingan nilai yang dapat dilihat dalam tabel 4.9 berikut.

Tabel 4.6

Perbandingan Nilai Pra Siklus, Nilai Siklus I, dan Nilai Siklus II

NO Nilai Kriteria

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

1. < 70 Tidak Tuntas

11 52,3% 3 14,3% 0 0%

2. ≥70 Tuntas 10 47,7% 18 85,7% 21 100%

Jumlah 21 100% 21 100% 21 100%

Dari hasil perbandingan yang disajikan ke dalam tabel, peneliti menyajikan perbandingan nilai Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II dalam bentuk diagram batang. Diagram tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut.

0%

100%

Tidak Tuntas Tuntas

(21)

Gambar 4.6 Diagram Batang Perbandingan Nilai Siswa pada Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II

Dari gambar diagram tersebut dapat dilihat peningkatan yang terjadi pada siswa untuk hasil belajar. Batang pra siklus menunjukkan bahwa warna biru tua yang melambangkan jumlah siswa yang belum mencapai KKM lebih tinggi dibandingkan batang yang berwarna biru muda yang melambangkan jumlah siswa yang sudah mencapai KKM. Sedangkan pada siklus I, terjadi peningkatan pada batang biru muda dibanding batang biru tua, yang berarti siswa yang mendapatkan nilai mencapai KKM lebih tinggi daripada siswa yang belum mencapai KKM. Pada siklus II batang biru tua sudah tidak terlihat dan batang biru muda menjadi lebih tinggi, hal tersebut menunjukkan bahwa sudah tidak ada siswa yang memiliki nilai di bawah KKM, atau semua siswa sudah mencapai KKM.

4.5 Pembahasan 4.5.1 Siklus I

Fokus perbaikan pada siklus I adalah dengan menerapkan metode Two Stay Two Stray (TS-TS) untuk meningkatkan keaktifan siswa agar hasil belajarnya

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2

Tidak Tuntas 52.3 14.3 0

(22)

meningkat. Metode ini merupakan metode yang mengutamakan keaktifan siswa. Jadi dominasi guru berkurang dan siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran.

Pada kegiatan inti siswa dibagi menjadi 5 kelompok, dengan tiap kelompok beranggotakan 4 siswa, dan ada 1 kelompok yang beranggotakan 5 siswa karena jumlah siswa dalam kelas tersebut ganjil. Di dalam kelompok siswa mendiskusikan gambar yang dibagikan oleh peneliti. Peneliti mendatangi setiap kelompok dan menanyakan hal yang kurang jelas. Peneliti memberikan sedikit pengarahan kemudian siswa mencari sendiri jawaban akhirnya dengan diskusi. Pada akhir pertemuan ke dua di siklus I, peneliti memberikan soal evaluasi untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang telah mereka pelajari. Perolehan hasil belajar siswa pada siklus I masih belum optimal, yaitu sekitar 86% siswa mencapai KKM. Terjadi peningkatan sekitar 34% dari persentase ketuntasan belajar sebelum pra siklus yaitu sekitar 52%. Siswa yang aktif dalam pembelajaran hanya sedikit dan siswa tersebut sudah terbiasa aktif sebelum siklus I. Siswa yang belum menunjukkan keaktifan rata-rata dikarenakan mereka takut salah ketika mengeluarkan pendapatnya.

Kurang optimalnya keaktifan siswa pada siklus I juga disebabkan karena belum terbiasa melakukan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kelompok untuk mendiskusikan suatu pokok bahasan. Kerjasama antar siswa belum tampak nyata karena hanya siswa tertentu yang mendominasi diskusi dalam kelompok. Biasanya siswa yang kemampuannya lebih tinggi yang mendominasi dalam kerja kelompok. Sedangkan siswa yang kemampuannya lebih rendah sedikit berbicara dan belum berani mengungkapkan pendapatnya.

Belum optimalnya peran siswa dalam pembelajaran juga berdampak pada kurangnya tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Pada siklus I ini siswa yang nilainya mencapai KKM mencapai sekitar 86% dengan rata-rata nilai kelas 83,3. Siswa yang aktif berdiskusi memiliki tingkat pemahaman yang lebih dibandingkan siswa yang kurang berinteraksi dalam kelompok.

Keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan belajar siswa. Karena jika siswa aktif, maka ia akan semakin memahami hal-hal yang tadinya ia tidak mengerti. Oleh

(23)

karena itu, sebisa mungkin peneliti harus bisa menciptakan suasana belajar agar siswa bisa aktif dalam pembelajaran dan menemukan sendiri suatu konsep yang dipelajari. Guru hanya menjalankan tugas sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa melalui serangkaian kegiatan yang dilakukan siswa seperti berdiskusi dengan temannya.

4.5.2 Siklus II

Metode TS-TS yang digunakan oleh peneliti dapat memancing siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Siswa bekerjasama dengan teman yang lain untuk bertukar informasi yang mereka miliki. Dengan bahasa mereka sendiri, mereka dapat lebih memahami konsep materi yang disampaikan.

Pada siklus II ini, peneliti mengarahkan siswa untuk duduk kembali sesuai dengan anggota kelompok yang telah ditentukan pada pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini guru hanya memberikan sedikit sekali pengarahan kepada siswa, sehingga siswa belajar dari pengalaman sebelumnya dalam mendiskusikan gambar yang didapat kelompok. Siklus II ini menunjukkan siswa aktif lebih banyak dibandingkan dengan siklus I. Siswa sudah terbiasa bekerjasama dengan anggota kelompok yang lain. Siswa yang tadinya sedikit berbicara karena takut salah sudah mulai berani mengeluarkan pendapatnya. Mereka terlihat antusias ketika mendiskusikan gambar yang ada. Saling bertukar pendapat hingga akhirnya menemukan satu kesimpulan dari kelompok tersebut.

Keaktifan yang diharapkan peneliti sudah terjadi di dalam proses pembelajaran tersebut. Keaktifan tersebut mampu meningkatkan hasil belajar siswa yang terlihat pada persentase kenaikan rata-rata nilai siswa, yaitu dari siklus I sekitar 86% menjadi 100%. Metode TS-TS dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Gambar

Gambar 4.1 Diagram Batang Hasil Pengamatan Peningkatan Siswa  Siklus I
Gambar 4.2 Diagram Batang Hasil Pengamatan Peningkatan Siswa  Siklus II
Gambar 4.3 Diagram Lingkaran Nilai Siswa Pra Siklus
Gambar 4.4 Diagram Lingkaran Nilai Siswa Siklus 1
+3

Referensi

Dokumen terkait

Memberikan informasi kepada mahasiswa di FKM UIEU tentang hubungan antara Status Gizi, Asupan Energi serta Protein dan Umur Menarche siswi Strada Budi Luhur Usia 9 – 13 Tahun.

Tetapi yang diatur hanya tombol level gain saja sedangkan tombol lainnya seperti treble dan bass diatur secara manual pada masing masing tone control

Zat aditif adalah bahan atau campuran bahan yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat

Dengan menggunakan parameter: packet loss, interarrival delay, jitter, dan throughput, kinerja server dalam memberikan layanan video call akan dianalisis pada tugas akhir ini3. 1.2

Pada peta fasies model dari estuarine ini, tidal sand bar ini merupakan bagian terluar dari tide dominated estuarine, memanjang sejajar dengan arusnya, dan dari peta

Permit atau izin adalah dokumen tertulis dimana wewenang tertentu terdapat pada orang yang menyelenggarakan kerja dengan waktu dan tempat tertentu, serta yang

Perlindungan terhadapan konsumen obat tradisional diatur dalam ketentuan peraturan yang terkait, diantaranya yaitu : Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Repubik

Kepedulian terhadap kesulitan sesama anggota kelompok terlihat ketika ada kelom- pok yang salah atau kesulitan menjawab per- tanyaan pada saat presentasi, kelompok lain