Pengaruh tax amnesty bagi perekonomian Indonesia
Jakarta, penademokrasi.com - Pemerintah sebagai pemangku kebijakan sekaligus sebagai ekonom
yang memiliki wewenang membuat model perekonomian dalam mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi berbasis kerakyatan di Indonesia.
Direktur Indonesia Banking Watch (IBW), Fernando Purba, mengamati dan menganalisa kebijakan Tax Amnesty yang disiapkan Direktorat jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Dalam proses penentuan keseimbangan pendapatan nasional harus diperhatikan kegiatan perekonomian di sektor rumah tangga, perusahaan, dan pemerintah. Kemerosotan pendapatan disposibel akan mengurangi konsumsi dan tabungan rumah tangga.
Lanjutnya, pemerintah atau sektor publik menjalankan peranan atau fungsi distribusi mengenai pengambilan keputusan Tax Amnesty. Sedangkan fungsi alokasi dan stabilisasi dalam penentuan kebijakan kurang diperhatikan. Pemerintah perlu melakukan alokasi anggaran untuk mengatasi permasalahan jika terjadi kegagalan pasar, baik sisi pengeluaran yang dibutuhkan untuk menyediakan berbagai barang publik tersebut maupun sisi pendapatan yang didapat dari pembebanan pajak. Fungsi pemerintah dalam menjaga stabilitas makro perekonomian, seperti kesempatan kerja yang tinggi, stabilitas derajat tingkat harga, kondisi neraca luar negeri yang sehat, dan tingkat pertumbuhan ekonomi dengan mengeluarkan kebijakan stabilisasi.
“ Pajak merupakan suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, serta dilaksanakan dan berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapatkan imbalan langsung dan proporsional, serta pemungutan pajak dapat ditujukan baik secara langsung dan juga dapat dipaksakan, agar pemerintah dapat melakasanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintahan, “ ungkapnya.
Fernando menambahkan, salah satu sumber pendapatan pemerintah adalah pajak. Mengenai kebijakan Tax dan Amnesty, pemerintah berasumsi bahwa dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, maka nilai konsumsi, investasi, dan neto ekspor minimal tetap.
“ Melihat banyak perusahaan asing yang mendominasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, ditakutkan adanya komponen yang memiliki korelasi negative dengan GDP riil sebagai deflator. Misalnya, perusahaan asing yang bisa saja menaikkan investasi 1 atau 2 kali lipat untuk mengimbangi nilai aset. Inkonsistensi waktu yang dilakukan pemerintah diharapkan lebih dewasa lagi memprediksi kebijakan apa yang layak dan patut dituturkan dalam era global yang penuh dengan tidak kepastian dan selalu berubah, “ pungkas Direktur IBW ini. FP
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 2016. Target 5,2% yang dipatok oleh pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2016 tak sulit dicapai.
"Pertumbuhan ekonomi 5,1% adalah baseline, tapi 5,2% dengan adanya tax amnesty saya rasa bisa, tentunya dengan dorongan yang lain juga," kata Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI di kantor pusat BI, Jakarta, Selasa (28/6/2016).
Perry menjelaskan, dampak dari kebijakan tersebut akan dimulai dari penerimaan negara. Dari repatriasi yang diperkirakan Rp 1.000 triliun dan deklarasi Rp 4.000 triliun, maka tambahan untuk penerimaan adalah sekitar Rp 165 triliun.
"Kenaikan penerimaan untuk belanja modal dan pemerintah. Berapa dana masuk dan mendorong pengeluaran belanja pemerintah," terangnya.
Sisi lain adalah dorongan terhadap investasi swasta. Hal ini memang belum dapat diperhitungkan, sebab dimungkinkan pemilik dana lebih memilih untuk meletakkan dana di pasar keuangan.
"Paling kan ditaruh dulu di pasar keuangan, sehingga belum memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun ini," tegas Perry.
Dampak terhadap pertumbuhan ekonomi baru mulai terasa di tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya. Sebab, pemilik dana baru akan masuk ke sektor rill.
"Jadi mereka kan nggak bisa langsung beli pabrik. Belum tentu. Sehingga dampak terhadap pertumbuhan ekonomi paling terasa itu di tahun-tahun berikutnya," paparnya. (mkl/hns)
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai kebijakan pengampunan pajak atau tax amnesty bisa mendorong pertumbuhan ekonomi 2016. Target 5,2% yang dipatok oleh pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2016 tak sulit dicapai.
"Pertumbuhan ekonomi 5,1% adalah baseline, tapi 5,2% dengan adanya tax amnesty saya rasa bisa, tentunya dengan dorongan yang lain juga," kata Perry Warjiyo, Deputi Gubernur BI di kantor pusat BI, Jakarta, Selasa (28/6/2016).
Perry menjelaskan, dampak dari kebijakan tersebut akan dimulai dari penerimaan negara. Dari repatriasi yang diperkirakan Rp 1.000 triliun dan deklarasi Rp 4.000 triliun, maka tambahan untuk penerimaan adalah sekitar Rp 165 triliun.
"Kenaikan penerimaan untuk belanja modal dan pemerintah. Berapa dana masuk dan mendorong pengeluaran belanja pemerintah," terangnya.
Sisi lain adalah dorongan terhadap investasi swasta. Hal ini memang belum dapat diperhitungkan, sebab dimungkinkan pemilik dana lebih memilih untuk meletakkan dana di pasar keuangan.
"Paling kan ditaruh dulu di pasar keuangan, sehingga belum memberikan pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun ini," tegas Perry.
Dampak terhadap pertumbuhan ekonomi baru mulai terasa di tahun depan, dan tahun-tahun selanjutnya. Sebab, pemilik dana baru akan masuk ke sektor rill.
"Jadi mereka kan nggak bisa langsung beli pabrik. Belum tentu. Sehingga dampak terhadap pertumbuhan ekonomi paling terasa itu di tahun-tahun berikutnya," paparnya. (mkl/hns)
Dampak penerapan tax amnesty
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) meyakini kebijakan pengampunan pajak (tax
amnesty) yang saat ini tengah digodok DPR dapat mendongkrak penerimaan negara. Apalagi, penerapan tax amnesty saat ini dinilai tepat lantaran bersamaan dengan implementasi
pertukaran data pajak dan perbankan (Automatic Exchange of Information/AEoI). Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Suahasil Nazara menuturkan, kebijakan
pengampunan pajak nantinya akan menjadi bagian dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016. Tax amnesty tersebut menjadi terobosan yang dipilih pemerintah untuk mendongkrak penerimaan pajak.
"Pengampunan pajak kita pahami sangat kontroversial. Tapi ini kesempatan kita untuk
mendapatkan aset yang selama ini kita yakini dimiliki orang Indonesia untuk berkontribusi lebih besar kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia," katanya di Gedung BI, Jakarta, Kamis
(28/4/2016).
Tax amnesty tersebut, sambung dia, setidaknya memberikan dua dampak besar terhadap Indonesia. Pertama, deklarasi dan repatriasi aset masyarakat Indonesia yang belum dilaporkan dan parkir di luar negeri. "Deklarasi dari aset yang belum dilaporkan, dan sebagian repatriasi dari aset yang tadinya di luar negeri ke dalam negeri," imbuh dia.
Pengampunan pajak sambung dia, memberikan kesempatan kepada mereka untuk
mendeklarasikan aset yang belum dilaporkannya tersebut. Selain itu, calon peserta tax amnesty juga mendapat kesempatan membersihkan aset yang belum terlapornya tersebut dengan tarif pajak khusus.
Kedua, dampak terhadap penerimaan. Meskipun tidak diketahui potensi riil yang dapat ditarik dari tax amnesty tersebut, namun pemerintah yakin jumlahnya akan besar mengingat
momentum penerapan yang tepat.
"Impact pada penerimaan, membuat kita bisa berdebat berapa besar jumlahnya karena yang namanya unreported assets ya tidak ada datanya. Kalau dia ada datanya berarti reported. Tapi kita punya timing yang cukup bagus, karena 2017-2018 kita masuk era pertukaran informasi semua transaksi finansial. Kita pakai itu," ungkapnya.
Setelah DPR RI dengan resmi mengesahkan UU Tax Amnestypada 28 Juni lalu kini secara resmi UU tersebut sudah mulai diterapkan. Kementerian Keuangan memastikan program pengampunan pajak ini mulai berjalan pada Senin (18/7/2016) seiring terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Itu artinya, wajib pajak sudah dapat mengajukan permohonan pengampunan pajak hari ini.
Menteri Keuangan, Bambang Brojonegoro mengatakan dengan adanya UU ini minimal segi penerimaan pajak dapat mencapai angka 100 triliun. Hal ini didasari fakta bahwa potensi uang orang Indonesia di luar negeri sangat banyak karena berbagai macam data menunjukkan dan mengindikasikan, meskipun uangnya itu berasal dari Indonesia tetapi disimpannya lebih di luar negeri. Sementara itu, jauh kedepan hingga 1 April 2017, potensi dana repatriasi tax amnesty mencapai Rp 1.000 triliun. Dari dana tersebut diperkirakan sekitar Rp 500 triliun hingga Rp 600 triliun akan masuk ke perbankan dan sisanya akan masuk ke instrument lainnya. Perkiraan dana repatriasi sebesar itu tentunya akan membawa dampak positif terhadap perekonomian dalam negeri. Namun, melihat besarnya dana yang berasal dari luar negeri ini bukan tidak mungkin jika disisi lain dari hal itu justru mendatangkan pergolakan yang bersumber dari pihak asing. Hal ini dapat terjadi lantaran
banyaknya pengusaha asal Indonesia yang meletakkan uangnya di negara lain. Sementara dengan
diberlakukannya UU Tax Amnesty ini memunculkan niatan dari para pengusaha Indonesia yang memiliki uang di luar negeri untuk menarik kembali uangnya dan mengalihkan ke investasi dalam negeri. Semua ini tentunya tidak lepas dari besarnya potongan pajak yang diberlakukan oleh pemerintah dalam UU Tax Amnesty tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Menteri Keuangan bahwa tidak bisa dipungkiri adanya kepentingan asing yang menjadi hambatan dan tantangan. Karena jika Indonesia melakukan tax amnesty apalagi cukup banyak dana repatriasi maka akan ada beberapa negara yang selama ini diuntungkan dengan adanya uang Indonesia di luar negeri dan kemudian harus mengalami kerugian atau dampak negatif dari adanya tax amnesty.
Salah satu negara yang merasa terancam perekonomiannya dengan adanya pengampunan pajak di Indonesia ini adalah Singapura. Negara Singapura merupakan salah satu negara tujuan paling favorit bagi para
pengusaha Indonesia untuk menyimpan uangnya. Hal ini karena Singapura berani menawarkan jaminan pajak yang rendah. Dengan diberlakukannya UU Tax Amnesty di Indonesia ini maka dapat diprediksi bahwa banyak uang yang akan ditarik oleh para pengusaha Indonesia yang menyimpan uangnya di Singapura. Tentunya dengan langkah tersebut Singapura akan kehilangan sumber dana yang cukup besar. Bahkan hal ini dapat melumpuhkan perekonomian Singapura.
Tetapi, hal ini justru menguntungkan bagi Indonesia. Pasalnya dengan dana repatriasi yang besar ini akan mampu memperkuat perekonomian Indonesia. Dengan kondisi perekonomian yang kuat Indonesia mampu menyusul kekuatan ekonomi negara asing lainnya, terkhusus di kawasan ASEAN. Cukup sudah orang Indonesia membangun negara lain. Sekaranglah waktu yang tepat bagi orang Indonesia untuk membangun negara sendiri.
Dari perkiraan-perkiraan yang akan terjadi sebagai dampak penerapan tax amnesty di Indonesia, sebenarnya terdapat satu point penting dari penerapan UU Tax Amnesty ini, yaitu bagaimana sensitifnya kebijakan pengampunan pajak yang diterapkan Indonesia sehingga memunculkan daya saing antar negara kawasan ASEAN. Daya saing yang kemudian muncul ini dapat meningkatkan nilai tawar Indonesia, terkhusus dalam pelaksanaan kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang telah disepakati oleh seluruh negara anggota ASEAN.
Indonesia akan menjadi pusat ekonomi yang sangat menarik bagi investor-investor asing yang mencari tempat menanamkan modalnya. Dengan nilai investasi yang cukup besar maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terdongkrak naik. Kondisi tersebut tentunya membuat Indonesia tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk melaksanakan program pro rakyat. Yaitu program yang selama ini digadang-gadang oleh pemerintah setiap periodenya.
Sekarang mari kita bayangkan suatu kondisi dimana semua warga negara Indonesia yang menyimpan dan menanamkan dananya di luar negeri menarik seluruh modalnya dan mengalihkannya ke investasi dalam negeri. Betapa akan luar biasanya kondisi ekonomi Indonesia. Indonesia akan mampu kembali menjadi Macan Asia yang disegani dan diperhitungkan dalam perekonomian dunia. Indonesia akan mampu mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan amanat konstitusi.
Itu semua tergantung dari pribadi masing-masing para pengusaha yang katanya Warga Negara Indonesia. Dari pada kita kaya tetapi mengkayakan negara lain alangkah lebih baiknya jika kita kaya dan mengkayakan negara sendiri. Menjadi bagian dalam membangun kemajuan negara adalah pencapaian yang luar biasa bagi setiap warga negara. Semoga dengan adanya UU Tax Amnesty ini perekonomian Indonesia semakin tumbuh dan mampu meningkatkan daya saing Indonesia di dunia.
Untuk mendorong penerimaan negara pemerintah mengusulkan kebijakan tax amnesty. Bagaimana latar belakang dan berapa
Brodjonegoro.
1. Apa latar belakang pemerintah mengajukan kebijakan tax amnesty tahun ini?
Yang pertama kebijakan tax amnesty harus dilihat sebagai kebijakan ekonomi yang bersifat mendasar, jadi tidak semata-mata kebijakan terkait fiskal apalagi khususnya pajak. Jadi ini kebijakan yang dimensinya lebih luas, kebijakan ekonomi secara umum. Kenapa? Karena pertama dari sisi pajaknya sendiri, dengan adanya tax amnesty maka ada potensi penerimaan yang akan bertambah dalam APBN kita baik di tahun ini atau tahun-tahun sesudahnya yang akan membuat APBN kita lebih
lebih sustainable dan kemampuan pemerintah untuk spending atau untuk belanja juga semakin besar sehingga otomatis ini akan banyak membantu program-program pembangunan tidak hanya infrastruktur tapi juga perbaikan kesejahteraan masyarakat.
Jadi dari satu sisi adanya tax amnesty tahun ini dan seterusnya akan sangat membantu upaya pemerintah memperbaiki kondisi perekonomian, pembangunan dan mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan serta memperbaiki ketimpangan. Nah tetapi disisi lain, di sisi yang di luar fiskal atau pajaknya, dengan kebijakan amnesty ini yang diharapkan dengan diikuti repatriasi sebagian atau keseluruhan aset orang Indonesia di luar negeri maka akan sangat membantu stabilitas ekonomi makro kita. Apakah itu dilihat dari nilai tukar rupiah, apakah itu dilihat dari cadangan devisa, apakah itu dilihat dari neraca pembayaran kita atau bahkan sampai kepada likuiditas dari perbankan. Jadi kami melihat bahwa kebijakan ini sangat strategis karena dampaknya dampak yang sifatnya makro, menyeluruh dan fundamental bagi perekonomian Indonesia.
2. Apa saja kebijakan dalam tax amnesty selain dari penghapusan sanksi pajak?
Intinya itu saja sama repatriasi. Bagaimana aturan repatriasinya, kemudian tadi instrumen apa yang bisa dipakai, arah investasinya kemana. Intinya itu aja, ini undang-undang yang sangat singkat. Intinya ya utamanya bicara uang tebus tadi, tarif dari uang tebus itu, dan ini perlu juga disampaikan kepada pembayar pajak secara umum. Uang tebus itu yang 2% itu tidak sama dengan tarif pajak yang normal 25% sekarang kalau untuk badan, atau 30% kalau untuk orang. Kenapa? Yang namanya tarif pajak dikenakannya terhadap pendapatan, sedangkan yang 2% itu dikenakan terhadap aset.
Nah ini beda jauh, aset itu pasti jauh lebih besar dari pada income sehingga sebenarnya yang dibayarkan oleh para peminta
cukup besar karena yang dilihat adalah aset bukan income ya. Jadi intinya ini harus diklarifikasi bahwa tidak semua yang ikut amnesty adalah pengemplang atau Wajib Pajak nakal. Kedua, uang tebus ini bukan tarif pajak normal ya, uang tebus ini adalah uang persentase terhadap aset yang belum pernah dilaporkan, sedangkan tarif pajak normal dikalikan dengan
orang dalam setahun.
3.Berapa kira-kira tambahan penerimaan negara dan peningkatan basis pajak dari
adanya tax amnesty ini?
Yang pasti kalau dari segi penerimaan, 60 mungkin angka minimum lah ya bisa 60 bisa lebih. Kami melihat sebenarnya potensi uang orang Indonesia di luar negeri sangat banyak karena berbagai macam data menunjukkan, mengindikasikan, meskipun uangnya itu berasal dari Indonesia tetapi disimpannya lebih banyak di luar negeri.
Jadi kami melihat potensinya sebenarnya bisa diatas 100 triliun, minimal. Nah kemudian kalau basis pajaknya
untuk pemilik NPWP yang sudah menjadi wajib pajak untuk memperbaiki atau mendeklarasi harta yang belum dilaporkan, ini juga bermanfaat untuk orang yang belum punya NPWP.
Sehingga kita harapkan dengan tax amnesty ini memberikan peluang bagi yang belum punya NPWP untuk kemudian punya NPWP dan langsung membayar sehingga dia mulai catatan sejarah, catatan pajaknya dengan clear dan tidak dengan lagi catatan masalah di masa lalu lagi.
4. Berapa target jumlah Wajib Pajak yang diharapkan bertambah?
Angka wajib pajak sekarang cuma 27 juta. Tentunya saya harapkan naik 2 kali lipat. Tapi bukan itu yang paling penting, yang paling penting bukan jumlah Wajib Pajaknya, tetapi jumlah pajak yang dibayarkan oleh Wajib Pajaknya itu yang kita harapkan bertambah. Jadi bukan sekedar, kalau itu program ekstensifikasi namanya, tapi kalau amnesty kita harapkan baik yang sudah punya NPWP atau belum itu kemudian mendeklarasikan hartanya secara jujur 100%.
5. Apa saja tantangan dan hambatan dalam pelaksaan tax amnesty tersebut?
Ya, pertama tentunya tidak bisa dipungkiri ada juga kepentingan asingnya ya karena dengan kalau kita melakukan
cukup banyak repatriasi maka akan ada beberapa negara yang selama ini diuntungkan dengan adanya uang Indonesia di luar negeri dan kemudian harus mengalami kerugian atau dampak negatif dari adanya tax amnesty kita.
Jadi mungkin mereka juga bekerja melalui berbagai cara untuk mempengaruhi opini di Indonesia, ya itu kemungkinan pertama. Kemungkinan yang lain adalah kemungkinan salah pengertian karena sempat di awal pernah ada ide ini adalah
langsung menghapuskan semua jenis tindak pidana. Nah ini kami tegaskan bahwa yang ada di Undang-Undang Pegampunan Pajak sesuai namanya yang dihapuskan hanya pelangaran di bidang pajak, titik. Tidak lagi bisa mengampuni atau menghapuskan pelanggaran di bidang lainnya.
6. Kebijakan apa yang akan dilakukan setelah tax amnesty ini selesai?
Amnesty itu paling lama sampai akhir tahun ini, sangat sebentar, tidak akan lama. Jadi setelah amnesty sampai menjelang 2018
Sepember kita akan melakukan program yang namanya “Voluntary Declaration”. Jadi silahkan mereka melaporkan yang sama aset yang belum terlaporkan secara voluntary tapi tarifnya tarif normal, tapi kita berikan tahun 2017 tanpa sanksi.
7. Bagaimana kesiapan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan dalam pelaksanaan tax amnesty
Segalanya sudah disiapkan karena kita sebetulnya sudah antisipasi sejak bulan November-Desember tahun lalu. Jadi sudah disiapkan baik segi administrasinya, bagaimana menyimpan datanya, agar benar-benar aman rahasia, serta juga sebenarnya kita juga sudah melakukan sosialisasi ya secara informal kepada pembayar pajak.
SDM juga saya rasa sudah siap karena nanti para pendaftar bisa datang langsung ke kantor pelayanan pajak yang terdekat ya jadi tidak usah jauh-jauh datang ke Jakarta segala macam, cukup ke KPP terdekat dan dari situ sudah ada booth khusus atau seksi khusus untuk menangani pengampunan pajak dan kemudian sampai suratnya di keluarkan sesuai dengan SOP-nya.
Kepada segenap jajaran Ditjen Pajak saya harapkan semuanya bisa mendukung penuh pelaksaan program amnesty
penting tidak hanya menjadikan amnesty sebagai sasaran target di 2016 saja, tapi harus dijadikan sebagai landasan untuk melakukan reformasi pajak secara menyeluruh ke depannya. Jadi kita harapkan dengan adanya amnesty 2016, 2017 dan seterusnya penerimaan pajak akan jauh lebih baik, data dan informasi menjadi lebih akurat sehingga pada akhirnya tidak perlu lagi ada isu terkait kekurangan penerimaan pajak ataupun isu terkait gangguan terhadap iklim usaha sebagai akibat pemeriksaan pajak yang berlebihan.
Apa manfaat tax amnesty secara makro terhadap perekonomian Indonesia? Apa manfaat yang bisa diperoleh oleh Wajib Pajak lainnya? Serta apa manfaat lain yang dapat dirasakan bagi rakyat Indonesia? Simak video Seminar Nasional RUU Pengampunan Pajak dan Manfaatnya Bagi Bangsa pada video event berikut.