• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada era globalisasi ini perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin cepat dibutuhkan SDM yang berkualitas. Salah satunya untuk mencetak SDM yang berkualitas adalah dengan melalui pendidikan. Salah satu cara meningkatkan pendidikan agar berkualitas adalah dengan menata manajemennya, dikaitkan dengan kurikulum, hal itu lazim disebut sebagai manajemen berbasis sekolah.

Pendidikan merupakan suatu proses di mana melibatkan interaksi antara berbagai input dan lingkungan, karena interaksi dan lingkungan memiliki karakteristik yang berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain, maka keseragaman secara menyeluruh yang diinstruksikan dari pusat tidak akan pernah menghasilkan proses pendidikan yang optimal atau maksimal. Dengan kata lain kebijaksanaan desentralisasi akan dapat mengoptimalkan proses pendidikan yang berkualitas. Dengan desentralisasi berarti pemegang kendali pendidikan ditingkat bawah akan mempunyai peranan yang lebih besar. Keadaan ini akan mendorong kreatifitas dan improvisasi dalam melaksanakan pendidikan.1

Topik mengenai Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ini pernah dibahas oleh saudari Khonitah, NIM 3198 215. Ia membahas pengaruh Manajemen Berbasis Sekolah terhadap kualitas pendidikan di SD Borobudur Magelang. Kemudian peneliti di sini akan membahas MBS dari segi implementasi secara keseluruhan dan mendalam serta penunjang dari pelaksanaan MBS tersebut.

1. Mahfud Junaidi, Implikasi Otonomi Daerah pada Pendidikan Islam, Edukasi, 23/TH.

(2)

2

Alasan pemilihan topik ini adalah

1. karena sesuai penjelasan bahwa pendidikan yang berkualitas akan di hasilkan sumberdaya manusia yang handal.

2. manajemen berbasis sekolah merupakan salah satu alternatif disekolah mengenai pelaksanaan atau pengelolaan sekolah.

3. dengan manajemen berbasis sekolah ini diharapkan mampu menghasilkan output yang memuaskan.

4. pemilihan lokasi di sekolah ini berdasarkan berbagai pertimbangan waktu, biaya dan kemampuan.

Pemberlakuan UU. No. 22 tahun 1999, tentang otonomi daerah yang telah dimulai Januari 2001 akan membawa konsekuensi tertentu di bidang pendidikan. Bidang pendidikan tidak akan lepas dari pembicaraan otonomi di berbagai bidang, upaya ini dimaksudkan untuk mengurangi ketertinggalan mutu SDM agar memiliki daya saing kuat, salah satu bidang yang penting adalah kurikulum. Dengan adanya kurikulum yang baik dan penunjang pendidikan lainnya yang juga bagus, akan dihasilkan keluaran yang handal, yang mampu bersaing di dunia luar, adapun hal-hal penunjang itu adalah sebagai berikut.

1. Tersedianya guru yang berwenang.

2. Tersedianya fasilitas fisik atau fasilitas belajar yang memadai dan menyenangkan

3. Tersedianya fasilitas bantu untuk Proses Belajar Mengajar

4. Adanya tenaga penunjang pendidikan, seperti tenaga administrasi, pembimbing, pustakawan dan laborat

5. Tersedianya dana yang memadai 6. Manajemen yang efisien

(3)

3

8. Kepemimpinan pendidikan.2

Otonomi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi masyarakat, bukan memindahkan atau mengembangbiakkan masalah pendidikan yang menjadi beban pemerintah pusat, kabupaten dan kota. Hal itu disebabkan oleh otonomi pendidikan dan dianggap penting, karena hal-hal berikut.

1. Akuntabilitas sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat masih sangat rendah

2. Penggunaan sumber daya tidak optimal

3. Partisipasi masyarakat rendah terhadap pendidikan

4. Sekolah tidak mampu mengikuti perubahan yang terjadi di lingkungannya. Hal ini dikarenakan sistem pendidikan di Indonesia yang memberlakukan rantai komando pusat.3

Pemberlakuan Undang RI No. 22 tahun 1999 dan Undang-Undang Sitem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) 2002, tentang pemerintahan daerah, peraturan pemerintah RI No. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah (pusat) dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom dan bukti-bukti empiri yang menunjukkan bahwa manajemen berbasis pusat merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kurang optimalnya kinerja sekolah adalah perlu diterapkannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).4

Selain alasan secara empiris, manajemen berbasis sekolah perlu diterapkan karena di lapangan menunjukkan kenyataan-kenyataan sebagai berikut.

2. Muhammadun, dkk, Artikel, “Mengoyok Sentralisasi Menuju Otonomi Pendidikan,”

Edukasi, XXIII (Januari 2001), hlm. 13.

3. Indra Djati Sidi, Ph. D., Menuju Masyarakat Belajar (Menggagas Paradigma Baru

Pendidikan), Paramadina, Jakarta, 2001, hlm. 30

(4)

4

1) Manajemen berbasis pusat, antara lain : keputusan sering kurang sesuai dengan kebutuhan sekolah, administrasi yang berlebihan dikarenakan lapis-lapis birokrasi, yang terlalu banyak menyebabkan kelambanan dalam menangani setiap permasalahan.

2) Sekolah adalah pihak yang paling memahami permasalahan di sekolahnya. Karena itu sekolah yang bersangkutan merupakan unit utama yang harus memecahkan masalahnya melalui sejumlah keputusan yang dibuat “sedekat” mungkin dengan kebutuhan sekolah. Untuk itu sekolah harus memiliki kewenangan (otonomi) tidak saja dalam pengambilan keputusan, akan tetapi justru dalam mengatur dan mengurus kepentingan sekolah menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan payung kebijakan makro pendidikan nasional.

3) Perubahan di sekolah akan terjadi jika semua warga sekolah ada “rasa memiliki” dan “rasa dimiliki” berasal dari kesempatan peran serta dalam merumuskan perubahan dan keluwesan untuk mengadaptasikannya terhadap sekolah (kebutuhan sekolah).

4) Telah lama pengaturan yang bersifat birokratik lebih dominan daripada tanggung jawab profesional sehingga kreativitas sekolah pada umumnya dan guru pada khususnya terpasung dan bahkan terbunuh.5 Wujud konkret dari desentralisasi adalah sistem yang saat ini diujicobakan yakni MBS. Sistem ini menghendaki partisipasi aktif semua komponen pendidikan, baik pemerintah daerah, pihak sekolah, guru, siswa, orang tua, Bp3 (badan pembantu penyelenggara pendidikan) dan masyarakat. Sistem yang demikian sangat perlu untuk dikedepankan mengingat selama ini hampir semua komponen tersebut pasif.6 Inilah filosofi MBS yang paling mendasar. Di Indonesia pendekatan MBS di samping diposisikan sebagai alternatif juga sebagai kritik atas penyelenggaraan

5. Ibid, hlm. 608.

6. Syaiful B, “Otonomi Kepala Sekolah Menuju Keterbukaan Sekolah”, dalam Edukasi,

(5)

5

pendidikan yang selama ini tersentralisasi, pendidikan sentralistik tidak mendidik manajemen sekolah untuk belajar mandiri, baik dalam hal manajemen kepemimpinan maupun dalam pengembangan institusional.7

Semua itu untuk mewujudkan tujuan Pendidikan Nasional, yaitu manusia Indonesia seutuhnya yang ciri utamanya adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.8 Dan dalam pasal 4 UU no. 2/2002 (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional) ditegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.9

Dengan berbagai penjelasan di atas peneliti merasa tertarik untuk menyelidiki sampai di mana pelaksanaan MBS sebagai proses pendidikan, yang dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Studi Di SMU Muhammadiah 1 Simo Boyolali.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas pokok masalah yang diajukan adalah :

1. Bagaimana pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMU Muhammadiah 1 Simo Boyolali ?

7. Ibtisan Abu-Duhou, School-Based Management, Logos, Jakarta, 2002, hlm. 16

8. Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, PBM-PAI di Sekolah (Eksistensi dan Proses

Belajar Mengajar PAI), Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta, 2998, hlm. 12

9. Prof. Suyanto, M. Ed, Ph.D & Drs. Djihad Hisyam, M.Pd, Pendidikan di Indonesia

(6)

6

2. Apa saja kendala Manajemen Berbasis Sekolah di SMU Muhammadiah 1 Simo Boyolali ?

3. Apa saja penunjang Manajemen Berbasis Sekolah di SMU Muhammadiah 1 Simo Boyolali ?

C. Penegasan Istilah

Untuk memperjelas pengertian serta guna menghindari adanya kesalahpahaman, dalam penelitian ini perlu ditegaskan istilah-istilah dan pembatasannya. Istilah-istilah tersebut adalah :

1. Manajemen Berbasis Sekolah

Adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumberdaya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah, melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan sekoalah dalam kerangka pendidikan nasional, dengan melibatkan semua kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan;10

- Pengkoordinasian

Merupakan upaya pemupukan kesadaran akan tanggungjawab bersama tentunya dalam hal implementasi dari manajemen berbasis sekolah.

- Penyerasian

Yang dimaksud adalah yang menyeluruh baik struktur maupun sikap mental serta pola berfikir.

- Sumberdaya

Meliputi kepala sekolah, guru, karyawan, siswa, orang tua, masyarakat, sarana dan prasarana sekolah.

10 Slamet PH, op. cit, hal. 609.

(7)

7

- Otonomi atau kemandirian sekolah

Yang dimaksud adalah sekolah berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan warga sekolah menurut prakarsa sendiri. Pengaturan itu berdasarkan aspirasi warga sekolah, sesuai dengan peraturan perundang-undangan pendidikan nasional yang berlaku - Kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah

Komponen ini meliputi : kepala sekola, guru, siswa, konselor, tenaga administrasi, orangtua siswa, tokoh masyarakat, para profesional, dan lain-lain

2. Implementasi

Adalah pelaksana, penerapan..11

D. Tujuan Penulisan Skripsi

Adapun tujuan penelitian untuk penulisan skripsi ini adalah, untuk : 1. Mengetahui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMU

Muhammadiyah 1 Simo Boyolali.

2. Mengetahui kendala dari pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. di SMU Muhammadiah 1 Simo Boyolali.

3. Mengetahui faktor penunjang Manajemn Berbasis Sekolah di SMU Muhammadiah 1 Simo Boyolali

11. Drs. Taufiqurrahman, M. Pd., Jurnal Studi Keislaman, Vol III/ februari, 2002, hlm.

(8)

8

E. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Analisis yang digunakan dalam dalam penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif analitik yang berarti interpretasi dengan isi dibuat dan disusun secara sistemik atau menyeluruh dan sistematis.12

2. Sumber Data

Dalam penelitian skripsi ini digunaka teknik sample bertujuan atau purposive sample. Sample bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan berdasarkan atas strata, random atau daerah, tetapi didasarkan atas dasar tujuan tertentu.13

3. Metode Penelitian

Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah :

a. Metode observasi (pengamatan) adalah metode pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki, mengenai implementasi MBS.14

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data dan gambaran umum sekolah SMU Muhammadiyah 1 Simo Boyolali yaitu meliputi tinjauan historis, letak geografis, sarana dan prasarana, keadaan guru dan siswa.

12 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai

Pustaka, Jakarta, 1997, hlm.

13 Drs, Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hlm. 39 14 Prof. Drs. Sutrisno Hadi, M.A., Metodologi Research, Jilid 2, Yayasan Penerbit

(9)

9

b. Metode interviu

Metode interviu atau wawancara adalah metode pengumpulan data dengan jalan tanya jawab sepihak yang dikerjakan dengan sistematis dan berdasarkan tujuan penyelidikan.15 Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai implementasi Manajemen Berbasis Sekolah. Subjek interviu dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, para staf pengajar, karyawan di SMU Muhammadiyah 1 Simo Boyolali.

c. Metode dokumentasi

Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, notulen rapat, buku, surat kabar, agenda dan sebagainya.16 Metode ini digunakan untuk memperoleh dokumen-dokumen penting yang terkait dengan pelaksanaan MBS.

4. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan adalah model analisis data interaksi, dalam hal ini komponen reduksi dari sajian data dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data. Setelah data terkumpul, tiga komponen analisis (reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan) berinteraksi. Data yang diperoleh harus lengkap menyeluruh dalam latar lingkungannya. Oleh karena itu, bila kesimpulan dirasakan kurang mantap atas dasar pengamatan, pertama (terdahulu), peneliti kembali mengumpulkan data untuk menyempurnakan hasil berdasarkan temuan yang lebih mantap lagi.17

15 Ibid

16 Dr. Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta,

Jakarta, 1996, hlm. 234

(10)

10

Analisis interaktif tersebut dapat digambar seperti di bawah ini :

F. Sistematika Penulisan Skripsi

Secara sistematis penelitian ini dikelompokkan menjadi lima bab dengan pembagiannya sebagai berikut.

Bab pertama sebagai pendahuluan yang berisi latar belakang, penegasan istilah, perumusan masalah, tujuan penulisan skripsi, metodologi penelitian dan sistematika penulisan skripsi.

Bab dua menerangkan masalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), meliputi karakteristik, manfaat, faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah dan tujuan MBS.

Pengumpulan Data II Sajian III Reduksi IV Simpulan Sementara

(11)

11

Kemudian Bab tiga merupakan penyajian pengamatan lapangan yang didapat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu meliputi : Gambaran umum dari SMU Muhamadiyah 1 Simo Boyolali dan ditilik dari segi Geografis, pelaksanaan system manajemen berbasis sekolah secara menyeluruh.

Dan Bab empat merupakan pembahasan dan analisis penelitian.Inti laporan adalah tentang berapa jauh pelaksanaan pendidikan yang berbasis sekolah yang meliputi pelaksanaan transparan, kegiatan belajar mengajar yang bermutu dan peran serta masyarakat terhadap pendidikan.

Bab lima merupakan akhir dari penelitian ini yang isinya meliputi : Simpulan, Saran-saran dan Penutup. Untuk melengkapi laporan penelitian ini dilampirkan juga daftar pustaka, daftar riwayat pendidikan peneliti dan sebagainya.

(12)

12

DAFTAR PUSTAKA

Dr. Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1996.

………… Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1998.

Drs. Taufiqurrahman, M. Pd., Jurnal Studi Keislaman, Vol III/ februari, 2002. Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, PBM-PAI di Sekolah (Eksistensi dan Proses

Belajar Mengajar PAI), Pustaka Pelajar Offset, Yogyakarta, 2998. Ibtisan Abu-Duhou, School-Based Management, Logos, Jakarta, 2002.

Indra Djati Sidi, Ph.D., Menuju Masyarakat Belajar (Menggagas Paradigma Baru Pendidikan), Paramadina, Jakarta, 2001.

Mahfud Junaidi, “Implikasi Otonomi Daerah pada Pendidikan Islam”, Edukasi, 23/TH. VII/I/Fakultas Tarbiyah/2001.

Masri Singarimbun, Metode Penelitian Survey, LP3ES.

Muhammadun, dkk. Mengoyok Sentralisasi Menuju Otonomi Pendidikan, Edukasi, XXIII Fakultas Tarbiyah (Januari 2001).

Prof. Drs. Sutrisno Hadi, MA., Metodologi Penelitian Research I, Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1982.

Prof. Suyanto, M. Ed, Ph.D & Drs. Djihad Hisyam, M.Pd., Pendidikan di Indonesia Memasuki Millenium III, Adicita, Yogyakarta, 2000.

Slamet PH, Manajemen Berbasis Sekolah, Depdiknas, Jakarta, 2000.

Syaiful B, Otonomi Kepala Sekolah Menuju Keterbukaan Sekolah, Edukasi, 25/TH.IX/II/2002.

(13)

13

LEMBAR PENGESAHAN

Proposal skripsi dengan judul : “Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) (Studi di SMU muhammadiyah I Simo Boyolali)”

Disyahkan oleh pembimbing pada tanggal : ………..

Semarang, September 2003 Peneliti, Muti’ah 3199 196 Mengetahui, Pembimbing I Pembimbing II

Drs. H. Sudiyono Drs. Sajid Iskandar

Referensi

Dokumen terkait

MODEL PENINGKATAN DAYA SAING BERKELANJUTAN INDUSTRI BATIK MELALUI PERBAIKAN KOMPETENSI INTI DAN RANTAI NILAI DALAM MENDORONG PENGEMBANGAN INDUSTRI KREATIF LOKAL DI KABUPATEN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam publikasi tersebut belum memuaskan karena terdapat beberapa kesalahan, seperti kesalahan penulisan kata

 Biaya produksi menjadi lebih efisien jika hanya ada satu produsen tunggal yang membuat produk itu dari pada banyak perusahaan.. Barrier

Pada pertemuan siklus kedua ini terjadi pula pada hasil penilaian dari pembelajaran yang dilaksanakan, dan hasilnya juga sesuai dengan yang diharapkan oleh

Sedangkan pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Dewan Pengawas Syariah dan kepatuhan syariah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan Islamic Social Reporting

Setelah mempunyai anak, sifat sifat Zhao Shengtian dan Li Xiaolan berubah secara alami.Perubahan sikap mereka itu terjadi karena pengaruh dari anak mereka, Zhao

Hasil penelitian yang diperoleh adalah kasus spondilitis tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2014 sebanyak 44 pasien.. Penyakit ini dapat menyerang segala jenis kelamin dan

Menanamkan kecintaan terhadap prilaku hidup bersih dan lingkungan sejak dini, melalui pendekatan agama sangat diapresiasi oleh lembaga pendidikan terutama Sekolah