PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembentukan taman nasional di Indonesia dilakukan untuk memenuhi kepentingan pelestarian sumberdaya alam yang dalam pemanfaatannya ditujukan bagi kepentingan sains modern dan kepariwisataan. Hal ini tersirat dalam UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan dan PP No 28 tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, bahwa taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Suatu kawasan ditunjuk sebagai kawasan taman nasional apabila telah memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Kawasan yang ditetapkan mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis secara alami;
b. Memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh dan alami; c. Memiliki satu atau beberapa ekosistem yang masih utuh;
d. Memiliki keadaan alam yang asli dan alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam;
e. Merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri.
Berdasarkan kriteria tersebut di atas, aspek kewilayahan, baik wilayah administratif pemerintahan maupun wilayah adat, bukan menjadi aspek yang dipertimbangkan dalam pembentukan taman nasional. Oleh karena itu, sedikitnya 24 (dua puluh empat) dari 50 (lima puluh) taman nasional yang sudah dibentuk, kawasannya bertumpang tindih dengan wilayah adat atau terait dengan masyarakat adat. Pengabaian keberadaan masyarakat adat sangat terlihat dalam
pertimbangan keputusan penunjukan taman nasional, yaitu hanya satu taman nasional yang secara jelas memasukkan pertimbangan keberadaan masyarakat adat sebagai dasar pembentukannya, yaitu Taman Nasional Bukit Duabelas. Dimunculkannya pertimbangan keberadaan masyarakat adat di Taman Nasional Kayan Mentarang, adalah akibat dari adanya penolakan masyarakat adat terhadap pembentukan Cagar Alam Kayan Mentarang di wilayah adatnya sehingga pemerintah melakukan perubahan fungsi menjadi taman nasional. Masyarakat adat yang wilayahnya dibentuk menjadi kawasan taman nasional, tidak mendapatkan informasi diawal, alih-alih dilibatkan dalam pembentukan taman nasional tersebut.
Disisi lain, ketidakberdayaan masyarakat adat dalam menghadapi berbagai kepentingan eksternal terhadap sumberdaya alam yang berada wilayah adatnya memerlukan perhatian pemerintah dalam melindungi praktik-praktik konservasi tradisional mereka. Di wilayah Gunung Lumut, Kalimantan Tengah, misalnya, kepentingan eksternal dalam pemanfaatan sumberdaya hutan secara langsung dirasakan sebagai salah satu bentuk ancaman bagi kelestarian tempat penting (sakral) Suku Dayak Tonyoi dan Benuaq. Oleh karena itu, masyarakat adat disini sedang mencari alternatif formal untuk melindungi dan melestarikan wilayah adatnya. Salah satu alternatif yang dipertimbangkannya adalah menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan taman nasional.
Berdasarkan situasi yang dihadapi tersebut di atas, aspek sosial budaya dalam pengelolaan taman nasional menjadi penting untuk dikedepankan. Selama ini pengelolaan terhadap masyarakat, terutama masyarakat adat, yang ada di dalam kawasan taman nasional ditujukan untuk kepentingan pengembangan pariwisata ataupun dilakukan akibat dari keterlanjuran pembentukan kawasan taman nasional di wilayah tersebut. Sementara itu, hal-hal yang tumbuh di masyarakat yang berupa kearifan tradisional tidak dijadikan acuan dalam pengelolaan taman nasional, sehingga masyarakat adat menjadi termarjinalkan oleh kebijakan yang sesungguhnya bertujuan untuk melestarikan sumberdaya alam.
Alih-alih mengadopsi kearifan tradisional, pemerintah lebih mengutamakan adopsi sains modern dalam sistem pengelolaan taman nasional, sehingga muncul
permasalahan yang cukup pelik dalam pengelolaan tamanan nasional yang kawasannya bertumpang tindih dengan wilayah masyarakat adat, antara lain dalam penerapan sistem zonasi. Kriteria pembentukan zonasi taman nasional belum dibangun dengan pola pikir kesetaraan dan mutual benefit dengan masyarakat adat, sehingga terjadi ketidakselarasan kriteria antara pola penggunaan ruang yang diterapkan pemerintah (zonasi) dengan pola penggunaan ruang tradisional yang menyebabkan tidak terpenuhinya persyaratan zonasi pengelolaan taman nasional.
Kekeliruan dalam pembentukan dan pengelolaan kawasan konservasi (protected area) yang terkait dengan masyarakat telah pula disadari oleh dunia internasional. The International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam Kongres Taman Sedunia (World Park Congress/WPC) ke lima pada bulan September 2003 di Durban, Afrika Selatan, menghasilkan Durban Accord yang terkait dengan penghormatan hak-hak masyarakat asli, tradisional dan berpindah (indigenous, traditional and mobile people) yang berada dalam protected area. Kekeliruan konsep pembentukan dan pengelolaan protected area adalah telah mengabaikan keberadaan dan hak-hak masyarakat adat sebagai ‘pemilik’ kawasan secara turun temurun. Padahal, berdasarkan kesejarahan kawasan, sesungguhnya keberadaan protected area lebih belakangan dibandingkan dengan keberadaan kawasan yang dijadikan sumber kehidupan masyarakat adat, yaitu kawasan-kawasan yang biasa disebut sebagai hutan adat, tanah ulayat ataupun wilayah adat.
Kepentingan masyarakat adat dalam pengelolaan protected area secara tegas dihasilkan dalam WPC kelima ini yang salah satu deklarasinya menyatakan bahwa semua protected area, baik yang sudah ada maupun yang akan datang, harus dibangun dan dikelola dengan menghormati hak-hak masyarakat adat, mengadopsi sistem adat dan membayarkan ganti rugi (restitusi) dari penggunaan sumberdaya alam yang digunakan. Implikasinya, setiap negara harus mulai melaksanakan identifikasi masyarakat adat dan peraturan perundangan yang terkait dengan pengelolaan protected area dan masyarakat adatnya. Dalam deklarasi ini juga dinyatakan bahwa penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat melalui prinsip tanpa paksaan dan pemberitahuan diawal (free, prior
serta sumber daya alam mereka dianggap sebagai alat penting dalam mencapai kelestarian sosial dan lingkungan. Penghormatan hak tersebut oleh badan-badan konservasi harus dapat mengakhiri konflik yang menyengsarakan pada masyarakat adat dan pihak-pihak yang ingin membangun protected area di wilayah mereka. Dengan menghormati hak masyarakat adat, dan khususnya hak atas FPIC, protected area masa depan dapat dibentuk di wilayah masyarakat adat bila telah ada saling sepakat tentang cara-cara pengelolaan wilayah itu yang didasarkan atas pengakuan atas hak masyarakat adat untuk memiliki dan memegang kontrol atas tanah dan wilayah tersebut.
Lebih dari itu, dalam deklarasi Durban dinyatakan bahwa terhadap hutan-hutan adat, tanah-tanah ulayat ataupun tanah-tanah adat yang diambil alih untuk
protected area tanpa persetujuan di masa lalu, harus dikembalikan kepada
masyarakat adat. Observasi terhadap hak masyarakat adat untuk FPIC juga harus membantu memastikan bahwa skema-skema pembangunan hanya dapat diselenggarakan di tanah-tanah mereka apabila dampak terhadap masyarakat adat telah ditanggapi sampai masyarakat adat sendiri yakin bahwa proyek-proyek itu akan membawa manfaat jangka panjang bagi mereka. Penghormatan terhadap hak untuk berkata ‘tidak’ harus bisa menghentikan berbagai skema-skema pembangunan yang memaksa dan merusak budaya, sehingga akan berkontribusi pada penggunaan dan konservasi sumber daya alam secara lestari.
Dengan telah disepakatinya deklarasi tersebut, pada kawasan-kawasan taman nasional di Indonesia yang bertumpang tindih dengan wilayah masyarakat adat seharusnya dikelola secara kolaborasi dengan cara membangun kesepakatan dan kesetaraan dengan masyarakat asli, tradisional atau berpindah bukan hanya sekedar melakukan pengelolaan terhadap masyarakat adat yang berada dalam kawasan taman nasional, tetapi menempatkan masyarakat adat sebagai penentu keputusan penting dan berperan aktif dalam pengelolaan. Hal ini karena pada kenyataannya, taman nasional yang dibentuk oleh pemerintah secara nyata telah menempati wilayah-wilayah adat mereka. Melalui cara ini akan jelas posisi dan peran masyarakat adat maupun pemerintah dalam pengelolaan suatu kawasan taman nasional.
Di beberapa belahan dunia, seperti di Afrika, Asia Selatan dan Australia, upaya-upaya memposisikan masyarakat adat dalam proyek-proyek konservasi sudah banyak dilakukan yang difasilitasi oleh lembaga internasional, seperti IUCN dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), sebagai bagian dari implikasi konvensi dan deklarasi internasional yang sudah disepakati dalam berbagai pertemuan. Di Indonesia, berbagai program pelibatan masyarakat yang didukung lembaga-lembaga dunia tersebut sudah pernah dijalankan, diantaranya adalah Integrated Conservation and Development
Project (ICDP) dan Integrated Protected Area System (IPAS) pada awal tahun
1990-an, namum karena sifatnya keproyekan dan sehingga tidak ada kelanjutannya. Selain itu mekanisme perencanaan programnya juga tidak melibatkan para pihak yang terlibat (utamanya masyarakat), sehingga implementasinya cenderung “memaksa” para pihak untuk berpartisipasi. Demikian halnya dengan lembaga swadaya masyarakat juga sudah menyuarakan hak-hak masyarakat adat yang selama ini dinilai termarjinalkan dan belum tersentuh pembangunan. Namun, upaya ini belum dapat mencapai sasaran perubahan kebijakan seperti yang diharapkan.
Untuk itu, agar hak-hak masyarakat adat ini tidak hanya muncul pada tataran wacana saja maka diperlukan penelitian-penelitian yang dapat membuktikan secara ilmiah bahwa pengetahuan masyarakat adat dapat digunakan sebagai bagian penting dalam kebijakan konservasi serta dapat meyakinkan pemangku kebijakan bahwa pengetahuan masyarakat adat dapat diterapkan pada tataran implementasi dan dapat menjadi bagian penting dalam kebijakan formal konservasi di Indonesia. Implementasi praktik-praktik pengetahuan tradisional dengan prinsip tanpa paksaaan dan informasi diawal dapat dilakukan apabila dibuat pengaturan zona yang dapat dikelola dan dimanfaatkan secara aman dan legal oleh masyarakat adat. Oleh karena itu, menjadi penting untuk dilakukan pengembangan zonasi taman nasional melalui pertimbangan hak-hak masyarakat adat agar tercapai keefektifan pengelolaan taman nasional sesuai kriteria IUCN bahwa kawasan konservasi dapat dikelola secara legal ataupun dengan cara efektif lainnya.
Perumusan Masalah
Zonasi taman nasional adalah pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona. Zona adalah wilayah yang dibedakan menurut fungsi, serta kondisi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Zonasi sebagai prasyarat pengelolaan belum dapat disusun pada semua taman nasional karena berbagai latar belakang penyebabnya, baik karena belum memadainya data kondisi biofisik kawasan maupun karena masih adanya permasalahan sosio budaya. Adanya permasalahan sosio budaya karena beberapa kawasan taman nasional berada pada wilayah yang berpenghuni maupun terdapat berbagai interaksi dengan masyarakat adat. Beberapa taman nasional yang kawasannya dihuni masyarakat adat secara turun temurun maupun memiliki interaksi budaya ataupun sejarah disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Masyarakat adat dan bentuk interaksinya di kawasan taman nasional
No Taman Nasional Suku/budaya/situs
1. Wasur Kanum, Marin, Marori-Men, Yeinan
2. Lorenz Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan, Asmat
3. Manusela Desa enclave (Manusela, Ilena Mariana, Selumena, Kanike)
4. Kayan Mentarang Peninggalan arkeologi (makam dan alat-alat batu) etnis Dayak
5. Betung Kerihun Dayak Iban: pusaka dan alat tradisonal di Dusun Sadap, rumah panjang di
Dusun Sungai Sedik; Dayak Tamambaloh: tradisi dan budaya di dusun tertua,
6. Bali Barat Pura Bakungan yang dibangun abad ke 16 dan makam Jayaprana
7. Alas Purwo Pura Luhur Giri Salaka yang digunakan umat Hindu untuk upacara
Pagerwesi
8. Baluran Candi Bang, makam putra Maulana Malik Ibrahim
9. Bromo Tengger Semeru Upacara ritual masyarakat Tengger
10. Gunung Merapi Upacara ritual masyarakat
11. Karimun Jawa Makam Sunan Nyamplungan (Sunan Muria), sumur wali
12. Halimun Salak Tradisi masyarakat Kasepuhan
13. Ujung Kulon Gua Sanghiang Sirah yang dikeramatkan, Arca Ganesha
14. Bukit Duabelas Orang Rimba
15. Bukit Tigapuluh Talang Mamak dan Anak Dalam
16. Siberut Tradisi masyarakat Mentawai
17. Manupeu Tanadaru Upacara adat ritual (hamayang) kepercayaan Marapu dari suku Sumba
18. Kelimutu Agroforestri tradisional “napu”
19. Lore Lindu Tata kelola hutan Suku Sinduru
20. Kepulauan Togean Masyarakat adat Togian Lipu Bangkang
21. Bukit Baka Bukit Raya Hutan adat Ketemenggungan Siyai
22. Rawa Aopa Watomohai Masyarakat adat Moronene
23. Kerinci Seblat Masyarakat Adat Jurukalang
24. Teluk Cendrawasih Suku Wandamen,Umar, Yaur, dan Yerisiam
Dari sebanyak 50 (lima puluh) taman nasional, baru sebanyak 30 (tiga puluh) yang sudah memiliki rencana zonasi, namun yang sudah disahkan baru di 25 (dua puluh lima) taman nasional (Lampiran 1). Sebanyak 10 (sepuluh) dari 24 (dua puluh empat) taman nasional yang terkait dengan wilayah adat sudah memiliki rencana zonasinya. Namun demikian zonasi pada kawasan-kawasan taman nasional tersebut dan kawasan taman nasional lainnya yang terkait dengan masyarakat adat masih menyisakan permasalahan alokasi ruang, seperti hasil-hasil penelitian yang dilakukan Harada et al. 2001 di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Purnama et al. 2006 di Taman Nasional Manupeu Tanadaru, Manembu 1991 di Taman Nasional Lorentz, Muda 2005 di Taman Nasional Kelimutu, Golar 2007 di Taman Nasional Lore Lindu, Ikhsan et al. 2005 di Taman Nasional Batang Gadis, Kuswijayanti et al. 2007 di Taman Nasional Gunung Merapi dan Eghenter dan Sellato 1998 di Taman Nasional Kayan Mentarang.
Zonasi taman nasional berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan dan zona lain sesuai dengan keperluan, sedangkan dalam PP No. 28 tahun 2011 meliputi zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, dan atau zona lain sesuai kebutuhannya. Selanjutnya, penjabaran dalam Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No. P.56/Menhut-II/2006 tentang Pedoman Zonasi Taman Nasional terdapat upaya untuk mempertimbangkan keberadaan masyarakat dalam kawasan taman nasional, yaitu dengan menambahkan “budaya” sebagai tujuan pemanfaatanya, walaupun tidak dapat disimpulkan apakah hal ini merupakan sesuatu yang disengaja atau tidak karena tidak ada dalam penjelasannya. Penambahan “budaya” ini menjadi payung untuk zona tradisional, religi dan budaya sebagai bagian dari zona lain taman nasional. Inkosistensi yang terdapat dalam hirarki perundangan tersebut disajikan pada Tabel 2.
Dalam Permenhut No. P.56/Menhut-II/2006, keberadaan masyarakat adat di dalam taman nasional diakomodir dengan memberikan ruang kelola dalam kriteria zona lain yang ditetapkan sesuai dengan kebutuhan, seperti pada zona khusus, zona tradisional, serta zona religi, budaya dan sejarah setelah persyaratan minimal, yaitu zona inti, zona pemanfaatan dan zona rimba, terpenuhi. Adapun kriteria penetapan zona-zona untuk ruang kelola masyarakat adalah:
Tabel 2. Inkonsistensi dalam peraturan perundangan pengelolaan taman nasional
Aspek
Peraturan Perundangan
UU No.5 Tahun 1990 PP No.28 Tahun 2011 Permenhut No. P.56/Menhut-II/2006
Pengertian/ Definsi
Taman nasioanal adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi
Kawasan Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam baik daratan maupun perairan yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,
budaya, pariwisata dan rekreasi
Zonasi Kawasan taman nasional
dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti, zona pemanfaatan, dan zona lain sesuai dengan keperluan
Zonasi pengelolaan pada Kawasan Taman Nasional meliputi:
a. zona inti; b. zona rimba;
c. zona pemanfaatan; dan atau d. zona lain sesui keperluannya.
Zona dalam kawasan taman nasional terdiri dari: a. Zona inti; b. Zona rimba; Zona
perlindungan bahari untuk wilayah perairan
c. Zona pemanfaatan;
d. Zona lain, antara lain: 1) Zona tradisional; 2) Zona
rehabilitasi; 3) Zona religi, budaya dan sejarah; 4) Zona khusus.
1. Zona khusus adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.
2. Zona tradisional adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam.
3. Zona religi, budaya dan sejarah adalah bagian dari taman nasional yang didalamnya terdapat situs religi, peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, perlindungan nilai-nilai budaya atau sejarah.
Namun demikian, kriteria yang dibangun dalam Permenhut tersebut untuk kawasan-kawasan taman nasional yang berada dalam wilayah adat menjadi sulit diterapkan karena penerapan kriteria akan menyebabkan tidak terpenuhinya zona-zona yang dipersyaratkan. Hal ini terjadi karena salah satu kriteria dalam menentukan zona inti adalah mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia, sebaliknya salah
satu kriteria yang harus dipenuhi dalam penentuan zona tradisional adalah adanya potensi dan kondisi sumberdaya alam hayati non kayu tertentu yang telah dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat setempat guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada kawasan taman nasional yang berada dalam wilayah adat, seperti di Taman Nasional Wasur dan Taman Nasional Kayan Mentarang, relatif sangat sulit untuk mendapatkan areal yang belum “diganggu” manusia karena cara pandang, pola hidup dan sejarah pemanfaatan oleh masyarakat adat terhadap sumberdaya hutan menyebabkan keseluruhan wilayah adat menjadi daerah jelajah dan menjadi tempat yang digunakan untuk sumber pemenuhan hidup dan kehidupannya, sehingga keseluruhan kawasan dapat memenuhi kriteria sebagai zona tradisional. Pada situasi seperti ini, pemerintah tetap mengharuskan adanya zona-zona yang menjadi persyaratan minimal dalam sistem pengelolaan taman nasional, sehingga zonasi ini seringkali dapat didefinitifkan di atas peta tetapi sulit diimplementasikan di lapangan.
Kriteria penetapan zona khusus sangat mencerminkan bahwa penetapan kawasan taman nasional mengabaikan pertimbangan sosial budaya dan pembangunan wilayah. Kriteria zona khusus dibuat sebagai bentuk keterlajuran pembentukan taman nasional yang ternyata menempati wilayah masyarakat ataupun bangunan infrastuktur pembangunan. Hal ini terlihat dari kriteria zona khusus, yaitu:
1. Telah terdapat sekelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ditetapkan sebagai taman nasional;
2. Telah terdapat sarana prasarana antara lain telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik, sebelum wilayah tersebut ditunjuk/ditetapkan sebagai taman nasional;
Sejauh ini dijumpai beberapa fakta dalam pengelolaan taman nasional yang terkait dengan masyarakat adat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Di taman nasional yang seluruh kawasannya berada dalam wilayah adat: a. Taman Nasional Wasur yang penunjukannya dilakukan pada tahun 1997,
pada tahun 2001 telah mengesahkan rencana zonasinya. Namun demikian, zonasi ini tidak disosialisasikan kepada masyarakat, bahkan Balai Taman
Nasional tidak mengetahui dengan pasti peta zonasi yang dimaksud dalam SK Dirjen PKA No. 15/Kpts/DJ-V/2001, tanggal 6 Pebruari 2001, sehingga hal ini hanya menjadi rencana di atas peta yang tidak dapat diimplementasikan. Fakta di lapangan konflik ruang dan pengelolaan masih terjadi karena keseluruhan kawasan taman nasional berada pada wilayah-wilayah masyarakat adat dimana pada wilayah adat telah terdapat pengaturan-pengaturan ruang berdasarkan kepercayaan dan tradisinya, misalnya, ruang-ruang sakral, perlindungan dusun sagu dan sumber air sebagai wilayah sumber kehidupan, serta perlindungan wilayah perjalanan nenek moyang sebagai bagian penting dalam tatanan sosialnya.
b. Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan perubahan dari cagar alam. Perubahan ini terjadi karena adanya reaksi masyarakat adat yang merasa “tidak dimanusiakan” karena pemerintah lebih mementingkan pengelolaan tumbuhan dan satwaliar di atas wilayah adatnya. Dengan adanya perubahan fungsi pada tahun 1996 dan dikeluarkannya SK Menteri Kehutanan No. 1213, 1214, dan 1215/Kpts-II/2002 tentang Pengelolaan Kolaboratif Taman Nasional Kayan Mentang, sehingga masyarakat adat relatif dapat menerima keberadaan taman nasional di wilayah adatnya. Akan tetapi pelaksanaan kolaboratif ini tidak seperti yang diharapkan masyarakat adat, karena tetap harus mengacu pada peraturan perundangan yang ada, sehingga realitasnya tidak berbeda dengan taman nasional lain yang tidak ditetapkan dikelola secara kolaboratif. Disamping itu perbedaan pandangan antara pemerintah dengan masyarakat adat terhadap pengaturan ruang (zonasi) menimbulkan konflik penggunaan sumberdaya alam karena masyarakat menuntut hak penggunaan wilayah adatnya berdasarkan pola keterikatannya terhadap sumberdaya alam saat ini dan masa mendatang, seperti terhadap tana ulen (wilayah hutan yang dilindungi dan diatur secara ketat oleh aturan adat), kampung lama, kuburan leluhur, alokasi lahan untuk kebutuhan mendatang dan lain-lain. Kondisi ini menyebabkan penyusunan zonasi belum dapat diselesaikan sampai saat ini.
c. Kebutuhan daerah penyangga (buffer zone) di luar kawasan taman nasional menjadi penting mengingat terdapat masyarakat adat yang bertempat
tinggal di sekitar kawasan taman nasional tetapi memiliki keterikatan dengan sumberdaya alam di dalam kawasan. Situasi adanya masyarakat adat di sekitar taman nasional dapat terjadi oleh karena kesejarahan masyarakat adat yang bersangkutan ataupun karena kebijakan pemerintah dalam hal pemukiman masyarakat terpencil, regrouping ataupun
resettlement dengan maksud memudahkan pemberian pelayanan sosial dan
penyediaan utilitas.
2. Di taman nasional yang kawasannya tidak berada atau hanya menempati luasan tertentu pada wilayah adat: Kriteria zonasi yang tercantum dalam
peraturan perundangan relatif tidak menjadi permasalahan dalam
pelaksanaannya. Pada situasi seperti ini, adanya alokasi ruang bagi masyarakat ataupun klaim wilayah oleh masyarakat adat masih memungkinkan dibentuknya zona-zona yang dipersyaratkan. Contoh kasus ini diantaranya adalah pada Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Gunung Rinjani dan Taman Nasional Meru Betiri
Fakta-fakta tersebut di atas tentunya menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana pemerintah dapat menetapkan suatu kawasan menjadi taman nasional padahal kawasan tersebut tidak dapat memenuhi kriteria dalam peraturan perundangan, dimana salah satu kriterianya adalah merupakan kawasan yang dapat dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan, zona rimba dan zona lain yang karena pertimbangan kepentingan rehabilitasi kawasan, ketergantungan penduduk sekitar kawasan, dan dalam rangka mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dapat ditetapkan sebagai zona tersendiri. Apakah dengan tidak terpenuhinya kriteria, penunjukan taman nasional dapat dibatalkan? Apabila mengacu pada IUCN, pengelolaan kawasan konservasi dapat dikelola secara legal atau dengan cara efektif lainnya.
Berbagai permasalahan tersebut di atas muncul karena pemerintah sebagai
state property regimes mengambil kebijakan pelestarian sumberdaya alam di
kawasan taman nasional berlandaskan pada sains modern serta lebih berorientasi pada kepentingan global. Kebijakan ini mengakibatkan tidak dipertimbangkannya faktor sosio budaya dalam pembentukan taman nasional, karena memandang wilayah sumberdaya alam sebagai wilayah yang tidak berpenghuni (terra nullius).
Padahal, pada kenyataannya pemerintah tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola sumberdaya alam secara optimal, sehingga terjadi open
access. Disisi lain terdapat masyarakat adat yang memandang sumberdaya alam
sebagai common proverty yang memiliki keterikatan erat dengan kehidupannya (home land), baik secara material maupun emosional.
Dalam konsep community property rights yang dikemukakan Harwell dan Lynch (2002), hak kepemilikan masyarakat tidak semestinya dianggap atau selalu tergantung pada pemberian negara atau dokumen formal, seperti halnya hak asasi manusia yang diakui oleh hukum internasional maupun oleh konsep-konsep hukum alam. Harwell dan Lynch (2002) juga menyatakan bahwa hak kepemilikan berbasis masyarakat (community based property rights) adalah pengakuan terhadap otoritas yang berasal dari masyarakat di tempat mereka berada, bukan pemberian dari negara. Pengelolaan sumberdaya alam sebagai barang publik (common-pool resources) oleh masyarakat sebagai commom property regimes, dipandang oleh Ostrom (1990) dapat menghindari targedy of the common akibat dari open access sumberdaya alam. Penghormatan terhadap kepemilikan berbasis masyarakat adalah melalui pengakuan dalam hukum formal agar dapat digunakan dalam mencapai tujuan kepentingan publik. Konsep "berbasis masyarakat" yang dikembangkan pemerintah selama ini adalah masih berbentuk “inisiatif eksternal” yang masih terbatas pada upaya pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi. Padahal dalam UUD 1945 Pasal 18B (2) dinyatakan bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan apakah dapat dicari jalan keluar yang dapat mengakomodir kepentingan nasional-global dan kepentingan tradisional yang bersifat lokal? Yaitu jalan keluar yang memungkinkan bagi pemerintah melaksanakan kebijakan pengelolaan taman nasional dan bagi masyarakat adat melaksanakan praktik-praktik konservasi tradisionalnya. Jalan keluar ini tentunya memerlukan kebijakan zonasi yang lebih adaptif dengan situasi yang ada melalui perencanaan zonasi secara kolaboratif dengan masyarakat
adat, sehingga diperoleh pengembangan zonasi yang bersesuaian (compatible) dan dapat diterapkan (applicable).
Kerangka Pikir Penelitian
Adanya dua cara pandang yang berbeda terhadap tujuan yang sama, yaitu tujuan pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari menyebabkan adanya perbedaan bentuk dan kriteria alokasi ruang atau zonasi. Kepentingan sains modern dan global yang diterjemahkan dalam aturan-aturan formal taman nasional dan kepentingan masyarakat adat yang diterjemahkan dalam aturan-aturan adat yang bersifat lokalitas dapat menjadi benturan apabila tidak diadaptasikan. Oleh karena itu, keterlanjuran pembentukan taman nasional pada wilayah-wilayah masyarakat adat memerlukan formulasi kebijakan baru terutama dalam sistem zonasi dan pembagian peran agar pengelolaan taman nasional dapat berjalan efektif sesuai dengan karakteristiknya.
Untuk mendapatkan formulasi adaptasi yang sesuai maka diperlukan amalgamasi bentuk dan kriteria. Proses-proses kolaboratif menjadi alternatif utama untuk dapat mengamalgamasi bentuk dan kriteria yang berasal dari dua sudut pandang yang berbeda, serta untuk menilai sejauh mana prinsip FPIC diterapkan. IUCN–World Conservation Union Resolusi 1.42 tahun 1996 menyatakan bahwa pengelolaan kolaboratif adalah kemitraan antara lembaga pemerintah, komunitas lokal dan pengguna sumber daya, lembaga non-pemerintah dan kelompok kepentingan lainnya dalam bernegosiasi dan menentukan kerangka kerja yang tepat tentang kewenangan dan tanggungjawab untuk mengelola daerah spesifik atau sumber daya. Selanjutnya hasil proses kolaborasi ini akan menjadi acuan dalam menganalisis kebijakan dan menjadi variabel utama dalam analisis alokasi ruang untuk kelestarian sumberdaya alam dan kehidupan masyarakat adat dalam merumuskan kriteria zonasi yang adaptif yang dapat meningkatkan efektifitas pengelolaan taman nasional. Pendekatan analisis kebijakan dan analisis spatial diperlukan karena implementasi dari kebijakan yang ada tidak berhasil mencapai sasaran, yaitu munculnya konflik kepentingan pemanfaatan sumberdaya alam, sehingga diperlukan interaktif proses untuk merumuskan kembali kebijakan yang tepat. Berdasarkan kondisi dan permasalahan tersebut, maka kerangka pikir penelitian adalah seperti tercantum dalam Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka pikir penelitian P.19/2004
Aturan Adat
Home land
Pranata Sosial
SDA Common property
Wilayah adat P.56/2006 UU No.5/1990 UU No.41/1999 UU No.32/2009 PP No.28/2011 Wilayah adat Wilayah adat 1. Permukiman 2. Budidaya 3. Sakral 4. Perlindungan 5. dll 1. Zona Inti 2. Zona Rimba 3. Zona Pemanfaatan 4. Zona Lainnya : tradisional
religi, budaya, sejarah khusus
Pemerintah
Kebijakan dan Perundangan Konservasi SDA
Taman Nasional
Pola pengelolaan SDA berbasis pengetahuan lokal Zonasi berbasis
sains
Bentuk dan Kriteria
Masyarakat Adat
Bentuk dan Kriteria
Amalgamasi sains dan pengetahuan lokal
Zonasi taman nasional yang adaptif dengan situasi lokal dan global
Kelestarian Keanekaragaman
Hayati
Kesejahteraan masyarakat Pandangan hidup dan
Sumber kehidupan Dasar: ekologis dan keunikan Species target Spesies dan
tempat penting Religi Sistem Pengelolaan P ros es -p ros es k ol ab or at if Kearifan tradisional A n al is is k eb ij ak an A n al is is sp at ia l Konflik Durban Accord Terra nullius State property
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Tujuan umum:
Mengembangkan kebijakan zonasi di kawasan taman nasional yang merupakan amalgamasi kepentingan konservasi nasional-global dan kepentingan kehidupan masyarakat adat.
2. Tujuan khusus:
Membangun kriteria baru untuk zonasi taman nasional yang merupakan amalgamasi kebijakan dan peraturan perundang-undangan konservasi dengan kearifan lokal masyarakat adat.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:
1. Menyediakan hasil kajian ilmiah dalam pengembangan kebijakan zonasi taman nasional yang berada dalam wilayah adat dan pengelolaan sumberdaya alam yang terkait dengan masyarakat adat.
2. Mengimplementasikan salah satu tahapan kesepakatan internasional terkait hak-hak masyarakat adat dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. 3. Menjadi bahan informasi bagi penelitian-penelitian selanjutnya.
Novelty/Kebaruan
Novelty/kebaruan dari penelitian ini adalah dilakukan pendekatan atau
integrasi lokal perspektif kedalam pengembangan zonasi taman nasional secara terstruktur untuk memastikan efektivitas pengelolaan dan meminimalkan konflik tenurial dan akses pemanfaatan tradisional sumberdaya alam dalam taman nasional. Sampai dengan tahun 2011, penelitian-penelitian tentang praktik-praktik tradisional dalam pengelolaan sumberdaya alam di kawasan taman nasional, tentang hak-hak masyarakat adat yang termarjinalkan oleh kebijakan konservasi sumberdaya alam dan kajian terhadap peraturan perundang-undangan untuk penguatan hak-hak masyarakat adat dalam pengelolaan sumberdaya alam sudah banyak dipublikasikan, namun belum sampai pada tahap pengintegrasian untuk memperoleh amalgamasi kepentingan nasional dan tradisi.