• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Kehidupan yang serba kompleks dan rumit saat ini, manusia dituntut untuk menciptakan dan mencapai keserasian, serta kebahagiaan hidup bersama dan tidak melupakan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu cara untuk dapat mencapai kebutuhan hidup tersebut ialah aktivitas bekerja (Oktaviana & kumolohadi, 2008). Menurut Maslow dalam Hakim (2007) kebutuhan manusia secara garis besar dapat dibagi atas kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan dimiliki, kebutuhan harga diri, dan aktualisasi diri, sehingga alasan seseorang bekerja adalah untuk bisa memenuhi salah satu kebutuhan tersebut.

Kerja merupakan aktivitas dasar manusia dewasa dan merupakan bagian inti dari kehidupan. Bekerja dapat memberikan kegairahan, kegembiraan dan memberi arti

tersendiri bagi manusia, sehingga kerja dapat

memberikan makna dan semangat hidup kepada orang

dewasa. Dengan bekerja juga orang berusaha

mengaktualisasikan keberadaan dirinya. Manusia bekerja tidak hanya untuk mendapatkan upah, tetapi juga untuk mendapatkan kesenangan karena dihargai oleh orang-orang dalam lingkungannya. Bekerja juga menjadi

kegiatan sosial yang memberikan respek atau

penghargaan, status sosial, dan juga prestise sosial yang merupakan tiga unsur terpenting bagi kesejahteraan lahir-batin manusia dalam menegakkan martabat dirinya (Kuncoro & Sari, 2006). Namun tidak selamanya manusia

(2)

2 dapat melakukan aktivitas bekerja, terutama bagi mereka yang bekerja pada suatu perusahaan atau instansi.

Seiring dengan berjalannya waktu, individu

dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa tidak selamanya manusia dapat bekerja, ada saatnya ketika sudah mencapai masa tua, seseorang akan berhenti dari pekerjaannya atau pensiun dan beristirahat untuk dapat menikmati hasil yang diperolehnya selama bekerja. Seseorang yang pensiun berarti mengalami perubahan pola hidup dari bekerja menjadi tidak bekerja. Manusia tidak selamanya dapat melakukan aktivitas secara formal, terutama bagi yang bekerja di perusahaan atau instansi tertentu, sehingga individu tersebut harus berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi.

Kim dan Moen (2002) menjelaskan bahwa bagi kebanyakan orang, pensiun dari pekerjaan yang merupakan karir utama merupakan suatu peristiwa hidup yang penting, karena ditandai dengan transisi dari kehidupan bekerja, ke kehidupan yang lain. Lebih lanjut lagi Savickas (2002) mengatakan bahwa jika karir seseorang dipandang sebagai suatu perkembangan hidup baginya maka pensiun merupakan fase kritis dalam siklus perencanaan karir.

Masa pensiun adalah hal yang tidak bisa dihindari oleh setiap orang. Brotoharjo (2007) mengungkapkan bahwa sesungguhnya masa pensiun atau berhenti dari pekerjaan adalah suatu tantangan sekaligus kesempatan atau peluang untuk melakukan hal-hal baru. Akan tetapi setiap orang memiliki alasan dan persoalan tersendiri dalam menghadapi masa pensiun. Bagi sebagian orang masa pensiun adalah masa yang patut disyukuri karena pada masa ini adalah masa-masa istrahat setelah sekian tahun bekerja. Namun bagi sebagian orang lainnya masa pensiun adalah hal yang kurang menyenangkan, atau

(3)

3 bahkan tidak menyenangkan karena pensiun akan memutuskan seseorang dari aktivitas rutin yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, selain itu akan memutuskan rantai sosial yang sudah terbina dengan rekan kerja, dan yang paling vital adalah menghilangkan identitas seseorang yang sudah melekat begitu lama (Warr & Moorthy et al 2012). Namun menyenangkan atau tidaknya masa pensiun semuanya tergantung dari persiapan individu untuk menciptakan kondisi di hari tua tersebut. Lebih lanjut Brotoharjo (2007) mengungkapkan bahwa pada umumnya ada dua hal yang menjadi masalah utama yang dihadapi pensiunan. Pertama, bagaimana mencukupi biaya hidupnya pada masa pensiun nanti, dan Kedua, waktu luang yang sangat banyak itu akan dimanfaatkan untuk apa saja.

Senduk (2008) menjelaskan bahwa dengan datangnya masa pensiun, penghasilan yang diterima oleh seseorang akan menurun. Sebagai contoh, bagi orang-orang yang bekerja diperusahaan swasta harus bisa

menerima kenyataan bahwa penghasilan yang

diterimanya secara rutin akan berhenti. Begitu juga bagi orang-orang yang bekerja sebagai pegawai negeri juga akan mengalami penurunan penghasilan meskipun mereka masih mendapatkan jaminan hari tua. Akibatnya mereka yang menikmati masa pensiun harus rela untuk mengurangi standar hidupnya untuk menyesuaikan dengan penghasilan masa pensiun yang diterimanya tersebut. Oleh karena itu setiap orang perlu melakukan persiapan masa pensiun untuk kehidupan setelah pensiun nanti. Hakim (2007) mengungkapkan bahwa dalam menghadapi masa pensiun pekerja harus melakukan persiapan masa pensiun agar mereka dapat menyingkirkan rasa kecemasan yang dapat mengganggu kehidupan mereka di masa pensiun. Terdapat empat

(4)

4 alasan perlunya individu mempersiapkan masa pensiun, yaitu: tingginya biaya hidup saat ini, naiknya biaya hidup dari tahun ke tahun, dan ketidakpastian ekonomi dimasa mendatang (Senduk, 2008).

Sehingga sangat penting untuk melakukan pesiapan- persiapan sebelum menghadapi pensiun, baik itu persiapan dari individual (persiapan Financial dan persiapan kegiatan pengganti), maupun persiapan dari organisasional (adanya program persiapan pensiun dan pemberian manfaat pensiun) sehingga apabila waktu pensiun itu tiba, seseorang akan lebih siap menghadapi pensiun. Noone, Stephen dan Alpass (2009) dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa persiapan masa pensiun berhubungan dengan kehidupan yang sejahtera dimasa setelah pensiun nanti. Sependapat dengan itu Topa, Moriano, Depolo, Alcover, dan Morales (2009) membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku perencanaan pensiun dengan kepuasan pensiun.

Persiapan masa pensiun yang dilakukan individual antara lain mempersiapkan financial agar dapat memenuhi kebutuhan hidup setelah pensiun nanti. Beberapa study telah menemukan bahwa persiapan

financial dapat menambah asset yang dapat memenuhi

pilihan gaya hidup yang diinginkan di masa pensiun (Fletcher & Hansson, 1991). Berger dan Denton (2004) menguraikan faktor-faktor persiapan pensiun yang terdiri dari persiapan financial pribadi dengan tujuan agar dapat mengoptimalkan kekayaan di kemudian hari (ini termasuk rekening tabungan, asuransi untuk akses dan perawatan kesehatan). Selain persiapan individual yang mencakup persiapan financial persiapan kegiatan pengganti setelah pensiun juga sangat mempengaruhi kesiapan untuk menghadapi pensiun, seperti studi yang

(5)

5 dilakukan oleh Latif dan Alkhateeb (2012) mengatakan bahwa persiapan kegiatan pengganti setelah pensiun sangat mempengaruhi kesiapan untuk pensiun, karena dengan adanya kegiatan pengganti setelah pensiun kemungkinan bisa mendapatka pendapatan dan juga bisa mengisi waktu luang.

Selain persiapan pensiun dari individual, persiapan pensiun dari organisasi juga sangat membantu kesiapan seseorang untuk pensiun. Misalnya keberadaan program persiapan pensiun. beberapa studi telah menemukan bahwa program persiapan pensiun yang diselenggarakan oleh organisasi berupa training mengenai pendidikan keuangan dapat membantu dalam persiapan pensiun (Ross & Wills, 2009). Karena hal tersebut dapat memberikan hasil perubahan sikap tentang bagaimana memikirkan dan merencanakan keuangan untuk pensiun sehingga dapat mendorong karyawan untuk terus meningkatkan tabungan untuk tujuan di masa pensiun (McCarthy & Turner, 2000; Madrian & Shea, 2001). Lebih lanjut penelitan yang dilakukan oleh Robinson, Demetre dan Corney (2011) menunjukkan bahwa mereka yang mengikuti program persiapan pensiun dari organisasi memiliki tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi di masa pensiun. Selain program persiapan pensiun, pemberian manfaat pensiun dari organisasi juga dapat membantu kesiapan seseorang untuk pensiun. Fronstin (1999) mengatakan bahwa pekerja yang akan pensiun sangat mengharapkan agar dari organisasi dapat memberikan manfaat pensiun. karena bagi mereka manfaat pensiun merupakan salah satu pendapatan di masa pensiun nanti (Kim, Kwon & Anderson 2005).

Selain persiapan dari individual maupun

organisasional, ternyata adanya dukungan sosial juga

(6)

6 menghadapi pensiun, pernyataan tersebut didukung dari beberapa study yang telah dilakukan. Albert (1995) menjelaskan bahwa dukungan sosial dari keluarga dan rekan kerja dapat mempengaruhi kesiapan individu untuk pensiun. hal yang sama juga dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Kuncoro dan Sari (2006) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang negatif dan signifikan antara dukungan sosial dengan kecemasan dalam menghadapi masa pensiun, dimana semakn tinggi dukungan sosial maka kecemasan menghadapi pensiun akan semakin rendah atau individu akan lebih siap untuk menghadapi pensiun.

Sehingga dari uraian diatas dengan penjelasan dari beberapa penelitian yang ada, maka dapat simpulkan bahwa persiapan menghadapi pensiun dari individual maupun organisasional dapat mempengaruhi kesiapan seseorang dalam menghadapi pensiun. Namun salain dari pada itu adanya dukungan sosial juga dapat mempengaruhi kesiapan seseorang untuk menghadapi pensiun, seperti dukungan dari keluarga, rekan kerja, dan teman dekat.

Meskipun sejumlah penelitian telah dilakukan,

namun penelitian-penelitian tersebut masih

menggunakan variabel independen secara terpisah-pisah seperti, persiapan financial, persiapan kegiatan pengganti setelah pensiun, adanya program persiapan pensiun dari organisasi, pemberian manfaat pensiun dari organisasi, dan adanya dukungan sosial yang dapat mempengaruhi kesiapan menghadapi pensiun. penelitian-penelitian tersebut seperti yang telah dilakukan oleh (Grable & Joo, 1999; Joo & Pauwels, 2002; Harsey,Mowen & Jacob, 2003; Power & Hira, 2004; Berger & Denton, 2004; Kim et

al,2005; Latif & Alkhateeb, 2012). Sejauh yang dapat

(7)

7 bersama-sama variabel-variabel independen yang relevan yang dapat mempengaruhi kesiapan dalam menghadapi pensiun. Sehingga penelitian ini dilakukan dengan menggabungkan dan mengelompokkan beberapa variabel yang telah dilakukan dalam penelitian sebelumnya seperti faktor persiapan pensiun dari individual (persiapan

financial dan persiapan kegiatan pengganti), faktor

persiapan pensiun dari organisasional (adanya program persiapan pensiun dan pemberian manfaat pensiun) yang dapat mempengaruhi kesiapan menghadapi pensiun dengan faktor dukungan sosial sebagai variabel

pemoderasi antara faktor individual dan faktor

organisasional.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah faktor individual (persiapan financial) berpengaruh terhadap kesiapan menghadapi pensiun?

2. Apakah faktor individual (persiapan kegiatan

pengganti) berpengaruh terhadap kesiapan

menghadapi pensiun?

3. Apakah faktor organisasional (adanya program

persiapan pensiun) berpengaruh terhadap

kesiapan menghadapi pensiun?

4. Apakah faktor organisasional (pemberian manfaat

pensiun) berpengaruh terhadap kesiapan

menghadapi pensiun?

5. Apakan faktor dukungan sosial sebagai variabel pemoderasi antara faktor individual dan faktor organisasional terhadap kesiapan menghadapi pensiun?

(8)

8 1.3. Tujuan penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui pengaruh faktor individual

(persiapan financial) terhadap kesiapan

menghadapi pensiun.

2. Untuk mengetahui pengaruh faktor individual (persiapan kegiatan pengganti) terhadap kesiapan menghadapi pensiun.

3. Untuk mengetahui pengaruh faktor organisasional (adanya program persiapan pensiun) terhadap kesiapan menghadapi pensiun.

4. Untuk mengetahui pengaruh faktor organisasional (pemberian manfaat pensiun) terhadap kesiapan menghadapi pensiun.

5. Untuk mengetahui pengaruh faktor dukungan sosial sebagai variabel pemoderasi antara faktor individual dan faktor organisasional terhadap kesiapan menghadapi pensiun.

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat bagi pihak-pihak yang berkaitan yaitu:

1. Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi atau masukan bagi para Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengenai hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi masa pensiun yang meliputi persiapan financial dalam bentuk tabungan, asuransi dan investasi juga persiapan kegiatan pengganti setelah pensiun seperti kegiatan sosial keagamaan, wiraswasta maupun kegiatan lain.

(9)

9 2. Bagi pihak organisasi

Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberi masukkan kepada pihak organisasi untuk dapat mendukung persiapan para pegawai untuk pensiun, yaitu dengan cara memberikan program persiapan pensun yang bermutu tinggi dan mengelolah dengan baik manfaat pensiun yang akan diberikan kepada pegawai.

3. Bagi ilmu pengetahuan

Dapat membandingkan teori yang ada dengan situasi yang terjadi di lapangan, dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan

dibidang manajemen, terutama mengenai

persiapan menghadapi pensiun. diharapkan juga dapat menambah referensi dan pengetahuan bagi penelitian selanjutnya, baik secara teoritis

maupun empiris sesuai dengan objek

Referensi

Dokumen terkait

Adapun perbedaan dari penelitian sebelumnya antara lain : (1) pada penggunaan variabel independen yang mana penelitian ini menggunakan empat variabel independen (pengaruh

Fitur citra yang digunakan untuk segementasi adalah fitur warna dan tekstur, meskipun sifat dari fitur terpisah dimana tekstur menggunakan tingkat keabu-abuan citra sedangkan warna

Persiapan yang dilakukan yaitu mempersiapkan RPP dan modifikasi alat untuk kegiatan pembelajaran.pada siklus I siswa melakukan gerak dasar tolak peluru dengan

Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah peneliti menggunakan faktor-faktor yang dianggap berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung sebagai

Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan bukti empiris perbandingan hasil penelitian dengan penelitian terdahulu melalui cara menggabungkan beberapa variabel independen

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 2 variabel bebas (independent variabel) dan 1 variabel terkait (dependent variabel) dengan judul “Pengaruh Corporate

Alat ukur atau instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan tes keterampilan poomsae basic satu. Variabel independen dalam penelitian ini adalah

Rumus regresi linier sederhana sebagai berikut: Y = a + b.X Keterangan: X = Variabel terikat / Dependen Komunikasi Pemasaran Y = Variabel bebas/ Independen Keputusan Pembelian a =