• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. Jamin Ginting Km. 11 No A Kecamatan Medan Tuntungan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. Jamin Ginting Km. 11 No A Kecamatan Medan Tuntungan."

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Jadwal Penelitian

Objek penelitian ini adalah PT. Hilon Sumatera Medan, dengan alamat Jalan Jamin Ginting Km. 11 No. 64 - A Kecamatan Medan Tuntungan.

Tahap Penelitian 2011 OKT NOV 2011 2011 DES 2012 JAN 2012 FEB MARET 2012 I II III IV Penyelesaian Proposal Bimbingan Proposal Seminar Proposal Pengumpulan Data Pengolahan Data Penyampaian Hasil Penelitian Sidang Sarjana Lengkap

(2)

3.2. Populasi dan Sampel

Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Dengan demikian populasi dalam penelitian adalah laporan keuangan PT. Hilon Sumatera Medan sejak berdiri hingga tahun 2010.

Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Dengan demikian, sampel dalam penelitian ini adalah laporan keuangan selama 10 tahun terakhir, yaitu tahun 2001 – 2010.

3.3. Operasionalisasi Variabel

Adapun definisi operasional atas variabel yang digunakan serta pengukurannya adalah sebagai berikut:

a. Rasio lancar, yaitu kemampuan debitur melunasi kewajiban jangka pendek dengan menggunakan aktiva lancar. Rasio lancar diukur dengan skala rasio dalam persen, dihitung dengan cara membagi aktiva lancar terhadap kewajiban lancar.

b. Return on assets (ROA), yaitu kemampuan perusahaan menghasilkan laba atas total aktiva. ROA diukur dalam skala rasio dalam satuan persen, dihitung dengan cara membagikan laba bersih terhadap total aktiva.

(3)

c. Return on equity (ROE), yaitu kemampuan perusahaan menghasilkan laba atas modal sendiri. ROE diukur dalam skala rasio dalam satuan persen, dihitung dengan cara membagikan laba bersih terhadap modal sendiri.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan peneliti dalam penelitian ini dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang diperoleh dari dokumen-dokumen internal perusahaan yang terkait dengan lingkup penelitian ini.

3.5. Teknik Analisis Data dan Rancangan Uji Hipotesis a. Regresi linier sederhana

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui alat analisis regresi linier sederhana untuk hipotesis 1 diformulasikan sebagai berikut: Y = a + b X dimana: Y = Return on assets X = Rasio lancar a = Konstanta b = Koefisien regresi

Untuk hipotesis 2 diformulasikan sebagai berikut:

(4)

dimana: Y = Return on equity X = Rasio lancar a = Konstanta b = Koefisien regresi b. Rumusan hipotesis Hipotesis 1. H0 : R2 H

= 0 : Rasio lancar tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap return on assets.

1 : R2

Hipotesis 2.

= 0 : Rasio lancar mempunyai pengaruh yang nyata terhadap return on assets.

H0 : R2

H

= 0 : Rasio lancar tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap return on equity.

1 : R2 = 0 : Rasio lancar mempunyai pengaruh yang nyata terhadap return on equity.

c. Pengujian hipotesis

Nilai t-hitung dari koefisien regresi (bi) dihitung dengan rumus:

bi i hitung Se b t = , dimana:

(5)

Sebi

Nilai t

= Standar error koefisien regresi ke-i

hitung dibandingkan dengan nilai ttabel pada tingkat kepercayaan 95

%, dengan kriteria pengujian: jika thitung≤ ttabel, maka H0 diterima dan H1 ditolak,

dan jika thitung > ttabel, maka H1 diterima dan H0

Untuk lebih menjamin akurasi hasil analisis data, maka penulis akan menganalisis data dengan menggunakan program ‘regression statistics’ dari SPSS 13.0..

(6)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Perusahaan

4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan

PT. Hilon Sumatera yang didirikan pada tanggal 1 Maret 1998, terletak di Jalan Jamin Ginting Km. 11 No. 64-A Kecamatan Medan – Tuntungan merupakan salah satu grup perusahaan PT. Hilon yang tersebar di beberapa propinsi di Indonesia sejak tahun 1989 ditandai dengan berdirinya PT. Hilon Indonesia di Ibukota Jakarta. Grup perusahaan PT. Hilon di Indonesia merupakan anak perusahaan dari Daeyang Industtrial, Co. Ltd, yang sudah berdiri sejak tahun 1970, bergerak dalam bidang textile merupakan satu-satunya di Indonesia yang memproduksi padding (bahan pengisi bantal), quilting (selimut kapas), bedding goods (seprai), high density padding (bahan pengisi bantal kepadatan tinggi), hard pad (bantalan keras) dan geotextile (geotekstil). dengan dukungan beberapa pabrik yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Bahan baku yang digunakan adalah kapas dan kain.

Pabrik PT. Hilon Sumatera mulai aktif berproduksi serta sekaligus memasarkan hasil produksi yang berupa bahan baku Padding dan Carded Fiber dimulai pada pertengahan juni tahun 1998. Kemudian pada awal Agustus 1998, 5 unit mesin Quilting dan 20 unit mesin jahit dynamo didatangkan dari Jakarta dengan tujuan untuk menambah jenis atau keragaman produksi disamping Padding dan Carded Fiber, sehingga pabrik semakin aktif berproduksi.

PT. Hilon Sumatera dalam menjalankan aktifitasnya dipimpin langsung oleh Mr. Ahn Sang Wook yang berasal dari Seoul Korea sebagai Presiden Direktur dengan dukungan 10 orang staff dan 30 orang karyawan pabrik.

(7)

PT. Hilon Sumatera dalam memasarkan hasil-hasil produknya dengan memakai merk “Hilon” yang merupakan merk yang telah dikenal tidak hanya di Indonesia namun juga di luar negeri, yaitu: Korea, Amerika, Australia, Inggris, India, Bangladesh dan sebagainya juga didalam negeri seperti Aceh, Padang, Pekan Baru, Batam dan daerah-daerah lain. Sedangkan Customer PT. Hilon Sumatera terdiri dari Hotel-hotel berbintang, Pabrik Furniture, Toko-toko Bedding Goods, rumah sakit dan sebagainya. PT. Hilon Sumatera juga membuka toko khusus dengan harga pabrik di lokasi PT. Hilon Sumatera Jl. Jamin Ginting Km. 11 No. 64 A Medan-Tuntungan.

4.1.2. Struktur Organisasi Perusahaan

Untuk setiap badan usaha dalam rangka mencapai tujuan maka diperlukan struktur organisasi yang teratur. Dengan adanya struktur organisasi yang baik dan teratur akan memudahkan melakukan kontrol secara langsung kepada setiap bagian oleh pimpinan perusahaan.

Untuk menciptakan dan menjamin kesatuan arah dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan diperlukan struktur organisasi. Struktur organisasi tersebut merupakan suatu gambaran skematis tentang hubungan kerja sama antara orang-orang yang berada pada suatu badan usaha yang bertujuan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Penyusunan struktur organisasi harus disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan perusahaan. Hal ini sangat berkaitan dengan besar perusahaan dan cakupan aktifitasnya.

Struktur organisasi PT. Hilon Sumatera Medan merupakan struktur organisasi yang menggambarkan bagian tugas dan tanggung jawab secara vertikal. Ini berarti setiap individu di dalam perusahaan hanya bertanggung jawab pada satu orang atasan. Pada PT. Hilon Sumatera Medan kekuasaan tertinggi pada direksi yang bertanggung jawab atas seluruh pelaksanaan kegiatan proses produksi di dalam perusahaan. Untuk lebih jelasnya struktur organisasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 4.1.

(8)

Gambar 4.1

Struktur Organisasi PT. Hilon Sumatera Medan

Direksi

Kabag Pemasaran Kabag Keuangan Kabag Produksi

Bagian Penjualan

Sumber: PT. Hilon Sumatera Medan

Sekretaris Bagian Akuntansi Kasir Bagian Pengawasan T k ik Bagian Pengolahan Bagian Pengawasan Mutu Staf Gudang Staf Penjualan Operator

Staf Pembelian Staf Penerimaan

(9)

Berikut akan diuraikan pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing pihak di dalam perusahaan:

1. Direksi

Sebagai pimpinan perusahaan direksi memiliki peran yang sangat penting di dalam pelaksanaan kegiatan proses produksi. Adapun tugas dan tanggung jawab direksi adalah:

- Melaksanakan kebijaksanaan perusahaan sesuai yang diatur dalam

ketentuan-ketentuan serta anggaran dasar perusahaan sesuai dengan yang telah ditetapkan.

- Menetapkan langkah-langkah pokok dalam melaksanakan kebijaksanaan

di bidang produksi, teknik, pengolahan, tenaga kerja, keuangan dan pemasaran serta perluasan atau pengembangan usaha.

- Mengkoordinasi pelaksanaan tugas para kepala bagian terhadap

bawahannya serta mengawasi pengolahan perusahaan secara umum.

2. Sekretaris

Sebagai seorang sekretaris yang secara langsung membantu direksi, memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melaksanakan kebijaksanaan direksi dibidang sekretariat, termasuk pengaturan dokumen, surat menyurat serta melaksanakan pengolahan data dan informasi.

(10)

3. Kepala Bagian Pemasaran

Adapun tugas dan tanggung jawabnya adalah:

- Menyusun perencanaan dan pelaksanaan di bidang pemasaran sekaligus

mengelola administrasi pemasaran secara umum.

- Meningkatkan pangsa pasar dengan meningkatkan image perusahaan

sekaligus menghindari timbulnya klaim dari konsumen.

- Meningkatkan kelancaran pengiriman produksi.

4. Bagian Penjualan

Adapun tugas dan tanggung jawabnya adalah:

- Menyusun rencana dibidang penjualan barang-barang hasil produksi dan menentukan strategi pemasaran yang digunakan serta menyelidiki perkembangan persaingan serta mencari pasar baru.

- Menghimpun dan mengevaluasi informasi tentang harga pasar untuk

menetapkan kebijaksanaan yang meliputi kebijakan harga.

- Menyusun strategi untuk mendapatkan penghasilan secara maksimum.

5. Staf penjualan

Adapun tugas dan tanggung jawabnya adalah:

- Melakukan penjualan atas produk perusahaan.

(11)

- Memberikan informasi atau laporan atas piutang yang sulit ditagih.

- Menyetor uang hasil tagihan ke kasir.

6. Operator

Bertugas dan bertanggung jawab menerima pesanan dari konsumen baik

melalui media cetak atau media elektronik yang sifatnya berhubungan dengan

pemesanan tehadap produk perusahaan yang selanjutnya menyampaikan kepada

staf penjualan.

7. Kepala Bagian Keuangan

Kepala bagian keuangan memiliki peranan yang penting karena

menyangkut kelancaran proses produksi. Adapun kewajibannya adalah menyusun

perencanaan dan pengawasan anggaran belanja perusahaan dan menetapkan

ketentuan pelaksanaan dibidang keuangan dan pembiayaan sekaligus mengelola

pencatatan keuangan.

8. Bagian Akuntansi

Adapun tugas dan tanggung jawabnya adalah menyusun dan mencatat

semua transaksi yang terdapat pada perusahaan. Selain itu juga membuat dan

menyusun rencana jangka pendek dan jangka panjang dalam bidang akuntansi.

9. Kasir

(12)

- Menerima semua uang penerimaan kas dari langganan dan tagihan-tagihan

lainnya yang berhubungan dengan transaksi perusahaan.

- Membayar semua biaya yang menjadi kewajiban perusahaan.

- Membuat laporan kas keluar harian

- Melakukan pencatatan nomor bukti kas keluar pada register bukti kas

keluar.

10. Kepala Bagian Produksi

Bertugas dan bertanggung jawab atas saluran kegiatan proses produksi dan

menyusun perencanaan, mengarahkan, mengkoordinasikan penggunaan bahan

baku, tenaga kerja, mesin-mesin. Selain itu juga melakukan rencana rehabilitasi

pada produksi dan memberikan penilaian prestasi kerja yang bertujuan memberi

kompensasi.

11. Bagian Teknik

Memiliki peran penting di dalam proses pembuatan bahan baku menjadi

barang jadi, karena menyangkut kelancaran penggunaan mesin-mesin. Adapun

tugas dan tanggung jawabnya adalah:

- Membuat rencana dan penggunaan mesin, listrik, alat-alat produksi,

(13)

- Menentukan standart fisik, mutu, mesin, listrik, bangunan dan alat-alat

produksi.

- Mengevaluasi pelaksanaan hasil pekerjaan di bidang teknik dan sekaligus

membuat laporan pertanggung jawaban hasil kerja.

12. Bagian Pengolahan

Staf pengolahan bertugas untuk melakukan pengolahan bahan baku

menjadi barang jadi sesuai dengan jumlah dan spesifikasi produk yang telah

ditetapkan.

13. Bagian Pengawasan Mutu

Bertugas dan bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terakhir dan uji coba atas bahan baku yang dihasilkan sebelum dikirim ke gudang. Melakukan penyelidikan terhadap sebab-sebab kesalahan yang mungkin timbul selama pembuatan.

14. Staf Gudang

Staf gudang bertugas sebagai berikut:

- Melakukan penyimpanan terhadap bahan baku dan hasil produksi sampai tiba waktunya untuk digunakan atau dipasarkan.

- Secara rutin mengecek persediaan bahan baku di gudang serta membuat permintaan pembelian terhadap bahan baku yang kurang.

(14)

15. Staf Pembelian

Bagian pembelian bertugas sebagai berikut:

- Mencari dan menentukan pemasok bahan baku sesuai dengan kebutuhan

perusahaan dengan harga yang paling rendah.

- Membuat surat order pembelian sesuai dengan permintaan staf gudang.

16. Staf Penerimaan

Bagian penerimaan bertugas sebagai berikut:

- Menerima dan memeriksa jenis dan jumlah bahan baku yang dibeli dari pemasok.

- Membuat laporan penerimaan bahan baku.

4.2. Hasil Penelitian

Rasio lancar menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban

jangka pendek dengan menggunakan semua aktiva lancar, dan diukur dalam satuan persen. Besarnya rasio lancar dihitung dengan cara membagikan jumlah aktiva lancar terhadap jumlah kewajiban lancar dan dikali dengan seratus persen.

Dari laporan keuangannya diketahui bahwa jenis aktiva lancar pada PT. Hilon Sumatera Medan adalah kas dan bank, piutang, persediaan dan biaya dibayar dimuka. Sedangkan jenis kewajiban lancar terdiri dari hutang dagang, biaya yang masih harus dibayar, panjar dari langganan dan pajak. Jumlah aktiva

(15)

lancar dan kewajiban lancar serta rasio lancar perusahaan selama 10 tahun (2001 – 2010) dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1

PT. Hilon Sumatera Medan

Aktiva Lancar, Kewajiban Lancar, dan Rasio Lancar

Tahun Aktiva Lancar (Rp) Kewajiban Lancar (Rp) Rasio Lancar (%) 2001 5.697.680.599 1.843.505.735 309,07 2002 6.152.439.756 1.891.416.300 325,28 2003 5.798.199.124 1.487.953.680 389,68 2004 6.695.540.996 1.864.436.000 359,12 2005 6.214.530.077 2.116.631.584 293,60 2006 6.644.678.298 2.444.999.004 271,77 2007 6.751.263.694 1.999.001.300 337,73 2008 6.735.260.979 2.038.932.764 330,33 2009 7.047.538.047 2.610.313.109 269,99 2010 6.989.710.490 3.040.463.932 229,89 Rata-rata 6.472.684.206 2.133.765.341 311,65

Sumber: PT. Hilon Sumatera Medan

Dari Tabel 4.1 terlihat bahwa rata-rata aktiva lancar perusahaan adalah Rp.

(16)

Rp. 2.133.765.341 per tahun. Selanjutnya, rata-rata rasio lancar perusahaan cukup

besar, yaitu 311,65 %, yang berarti bahwa setiap seratus rupiah kewajiban lancar

dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 311,65. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa perusahaan memiliki jaminan yang cukup besar untuk

membayar semua kewajiban lancarnya dengan menggunakan aktiva lancar. Rasio

lancar yang cukup besar tersebut juga mengartikan bahwa aktivitas operasional

perusahaan lebih dominan dibiayai oleh modal sendiri dibanding modal utang

jangka pendek. Kecil kemungkinan perusahaan menghadapi masalah likuditas

jangka pendek.

Return On Asset (ROA) Perusahaan

Return on asset (ROA) merupakan rasio kemampulabaan, yang diukur dalam satuan persen. ROA menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba atas semua aktiva yang dimiliki. Semakin tinggi nilai ROA berarti kemampuan perusahaan menghasilkan laba semakin tinggi.

ROA dihitung dengan cara membagi laba bersih terhadap total aktiva dan dikali dengan seratus persen. Besarnya laba bersih, total asset dan ROA pada PT. Hilon Sumatera Medan selama 10 tahun (2001 – 2010) dapat dilihat pada Tabel 4.2.

(17)

Tabel 4.2

PT. Hilon Sumatera Medan

Laba Bersih, Total Asset dan Return on Asset

Tahun Laba Bersih (Rp) Total Asset (Rp) Return on Asset (%) 2001 1.521.564.250 20.964.678.522 7,26 2002 1.326.520.140 20.639.109.227 6,43 2003 1.725.362.500 19.761.009.107 8,73 2004 1.250.265.150 21.987.756.577 5,69 2005 950.256.260 22.790.208.421 4,17 2006 652.452.320 22.371.028.161 2,92 2007 1.603.254.620 21.628.285.077 7,41 2008 1.458.636.520 20.726.853.061 7,04 2009 578.699.230 22.976.932.636 2,52 2010 485.215.020 23.592.298.479 2,06 Rata-rata 1.155.222.601 21.743.815.927 5,42

(18)

Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa perolehan laba bersih perusahaan selama 10 tahun terakhir berfluktuasi antara Rp. 485.215.020 - 1.603.254.620, dengan rata-rata sebesar Rp. 1.155.222.601 per tahun, sedangkan total asset berkisar antara Rp. 19.761.009.107 – Rp. 23.592.298.479, dengan rata-rata sebesar Rp. 21.743.815.927 per tahun.

ROA paling tinggi yang pernah dicapai perusahaan dalam 10 tahun tarakhir adalah 8,73 %, dimana setiap seratus rupiah aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 8,73. Sedangkan ROA paling rendah adalah 2,06 %, dimana setiap seratus rupiah aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 2,06. Secara rata-rata, ROA perusahaan adalah 5,42 %, yang berarti bahwa setiap seratus rupiah aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 5,42.

Return On Equity (ROE) Perusahaan

Return on equity (ROE) juga merupakan rasio kemampulabaan, yang diukur dalam satuan persen. ROE menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba atas ekuitas atau modal sendiri yang dimiliki. Semakin tinggi nilai ROE berarti kemampuan perusahaan menghasilkan laba atas modal sendiri semakin tinggi.

ROE dihitung dengan cara membagi laba bersih terhadap total ekuitas dan dikali dengan seratus persen. Besarnya laba bersih, ekuitas dan ROE pada PT. Hilon Sumatera Medan selama 10 tahun (2001 – 2010) dapat dilihat pada Tabel 4.3.

(19)

Tabel 4.3

PT. Hilon Sumatera Medan

Laba Bersih, Equity dan Return on Equity

Tahun Laba Bersih (Rp) Equity (Rp) Return on Equity (%) 2001 1.521.564.250 17.321.172.787 8,78 2002 1.326.520.140 17.147.692.927 7,74 2003 1.725.362.500 16.873.055.427 10,23 2004 1.250.265.150 17.123.320.577 7,30 2005 950.256.260 18.073.576.837 5,26 2006 652.452.320 17.726.029.157 3,68 2007 1.603.254.620 17.829.283.777 8,99 2008 1.458.636.520 17.287.920.297 8,44 2009 578.699.230 17.866.619.527 3,24 2010 485.215.020 18.351.834.547 2,64 Rata-rata 1.155.222.601 17.560.050.586 6,63

(20)

Dari Tabel 4.3 terlihat bahwa total ekuitas perusahaan selama 10 tahun tarakhir berfluktuasi antara Rp. 16.873.055.427 – Rp. 18.351.834.547, dengan rata-rata sebesar Rp. 17.560.050.586 per tahun. Jumlah ekuitas berfluktuasi walaupun perusahaan tidak pernah mengalami kerugian disebabkan adanya mengambilan atau pembagian laba oleh pemilik perusahaan.

ROE paling tinggi yang pernah dicapai perusahaan dalam 10 tahun

tarakhir adalah 10,23 %, dimana setiap seratus rupiah modal sendiri

menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 10,23. Sedangkan ROE paling rendah

adalah 2,64 %, dimana setiap seratus rupiah modal sendiri menghasilkan laba

bersih sebesar Rp. 2,64. Secara rata-rata, ROE perusahaan adalah 6,63 %, yang

berarti bahwa setiap seratus rupiah modal sendiri menghasilkan laba bersih

sebesar Rp. 6,63.

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian

Pengaruh Rasio Lancar terhadap Return on Asset

Ketersediaan modal dalam membiayai aktivitas operasional perusahaan merupakan hal penting untuk meningkatkan perolehan laba. Apabila ketersediaan modal kurang maka aktivitas operasional akan macet, barang untuk dijual tidak tersedia, penjualan rendah dan perolehan laba juga rendah.

Tingkat ketersediaan modal dapat dilihat dari rasio lancar, karena semakin tinggi rasio lancar berarti pembiayaan operasi dengan menggunakan modal sendiri semakin besar. Sedangkan ukuran kemampuan menghasilkan laba dapat dilihat dari return on asset (ROA). Oleh karena itu hipotesis satu dalam penelitian ini

(21)

adalah rasio lancar berpengaruh nyata terhadap return on asset. Hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil pengujian SPSS dapat dilihat pada Lampiran 1, sedangkan nilai koefisien regresi dan nilai t-hitung dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4

Koefisien Regresi Rasio Lancar terhadap ROA

Coefficientsa -8.359 2.570 -3.252 .012 4.422E-02 .008 .886 5.417 .001 (Constant) Rasio Lancar (X) Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardi zed Coefficien ts t Sig.

Dependent Variable: ROA (Y1) a.

Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dibuat persamaan linier pengaruh rasio lancar terhadap ROA, yaitu:

Y = - 8,36 + 0,044 X1

Persamaan di atas menunjukkan bahwa koefisien regresi rasio lancar

terhadap ROA adalah positif sebesar 0,044. Artinya, setiap peningkatan rasio

lancar 100 % akan meningkatkan ROA sebesar 4,40 %. Tingkat signifikansi

pengaruh rasio lancar terhadap ROA ditunjukkan oleh nilai t-hitung dari

koefisien regresi sebesar 5,42, sedangkan nilai tabel 95 % adalah 2,79. Nilai

t-hitung lebih besar dari nilai t-tabel, sehingga diputuskan untuk menolak H

0 dan

menerima H1. Hipotesis H1 yang menyatakan bahwa rasio lancar berpengaruh

(22)

Pengaruh Rasio Lancar terhadap Return on Equity

Ukuran kemampuan menghasilkan laba untuk pemilik modal perusahaan dapat dilihat dari return on equity (ROE). Dapat dikatakan bahwa ukuran ROE lebih penting dari ROA karena menunjukkan proporsi laba bagi pemilik perusahaan. Oleh karena itu hipotesis dua dalam penelitian ini adalah rasio lancar berpengaruh nyata terhadap return on equity. Hipotesis tersebut diuji dengan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil pengujian SPSS dapat dilihat pada Lampiran 2, sedangkan nilai koefisien regresi dan nilai t-hitung dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5

Koefisien Regresi Rasio Lancar terhadap ROE Coefficientsa -9.461 2.850 -3.319 .011 5.163E-02 .009 .896 5.703 .000 (Constant) Rasio Lancar (X) Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardi zed Coefficien ts t Sig.

Dependent Variable: ROE (Y2) a.

Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dibuat persamaan linier pengaruh rasio lancar terhadap ROE, yaitu:

Y = - 9,46 + 0,052 X1

Persamaan di atas menunjukkan bahwa koefisien regresi rasio lancar

terhadap ROE adalah positif sebesar 0,052. Artinya, setiap peningkatan rasio

lancar 100 % akan meningkatkan ROE sebesar 5,20 %. Tingkat signifikansi

pengaruh rasio lancar terhadap ROE ditunjukkan oleh nilai t-hitung dari

koefisien regresi sebesar 5,70, sedangkan nilai tabel 95 % adalah 2,79. Nilai

t-hitung lebih besar dari nilai t-tabel, sehingga diputuskan untuk menolak H

0 dan

menerima H1. Hipotesis H1 yang menyatakan bahwa rasio lancar berpengaruh

(23)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Rata-rata rasio lancar perusahaan cukup besar, yaitu 311,65 %, yang berarti bahwa setiap seratus rupiah kewajiban lancar dijamin oleh aktiva lancar sebesar Rp. 311,65.

2. Rata-rata return on asset perusahaan adalah 5,42 %, yang berarti bahwa setiap seratus rupiah aktiva menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 5,42, sedangkan rata-rata ROE adalah 6,63 %, yang berarti bahwa setiap seratus rupiah ekuitas menghasilkan laba bersih sebesar Rp. 6,63.

3. Setiap peningkatan rasio lancar 100 % akan meningkatkan ROA sebesar 4,40 %. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa rasio lancar mempunyai pengaruh yang nyata terhadap ROA pada tingkat kepercayaan 95 %.

4. Setiap peningkatan rasio lancar 100 % akan meningkatkan ROR sebesar 5,20 %. Hasil uji regresi juga menunjukkan bahwa rasio lancar mempunyai pengaruh yang nyata terhadap ROE pada tingkat kepercayaan 95 %.

5.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas dapat disarankan agar perusahaan berupaya mempertahankan likuiditas pada tingkat rasio lancar yang optimal sesuai dengan kebutuhan modal sehari-hari, agar rasio profitabilitas (ROA dan ROE) meningkat.

Referensi

Dokumen terkait

semakin besar laba bersih yang diperoleh perusahaan tersebut atau. dengan kata lain, semakin baik kemampuan perusahaan

Dari hasil analisis diatas, dapat disimpulkan bahwa pada tahun yang akan datang, diprediksikan pertumbuhan laba perusahaan akan signifikan, hal ini didasari bahwa mampunya

Dalam penelitian ini, meneliti data-data perdagangan saham harian perusahaan LQ-45 mengenai perbedaan rata-rata abnormal return dan aktivitas volume perdagangan sebelum dan

Pengembalian atas aktiva, merupakan salah satu rasio profitabilitas yang dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan pada

Investment Perbandingan antara laba bersih dengan investasi atau aset Rasio % Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba

Hasil tersebut menunjukkan bahwa Debt to Asset Ratio (DAR) berpengaruh tidak signifikan terhadap Return on Equity (ROE) pada perusahaan jasa pariwisata yang terdaftar di

Penelitian mengenai “Pengaruh Capital Adequacy ratio (CAR), Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE) Dan Earning Per Share (EPS) Terhadap Nilai Perusahaan Pada

Penelitian dengan pendekatan verifikatif ini digunakan untuk mengetahui pengaruh Aktiva Pajak Tangguhan, Beban Pajak Tangguhan, dan Manajemen Laba pada perusahaan