EPIDEMIOLOGI DAN PENGENDALIAN BRUCELLOSIS
PADA SAPI PERAH DI PULAU JAWA
SUSAN MAPHILINDAWATI NOOR
Balai Penelitian Veteriner, Jl. R.E. Martadinata 30, Bogor 16114
ABSTRAK
Brucellosis adalah salah satu penyakit hewan menular strategis di Indonesia. Penyakit ini pada sapi telah menyebar di 26 propinsi, kecuali Bali dan Lombok yang dinyatakan bebas. Kerugian ekonomi brucellosis mencapai 138,5 milyar rupiah setiap tahun akibat tingginya angka keguguran, infertilitas, sterilitas, kematian dini pedet yang lahir lemah dan penurunan produksi susu. Pemerintah telah mencanangkannya program pengendalian dan pemberantasan penyakit brucellosis secara nasional sejak tahun 1998, namun hingga kini angka prevalensi reaktor brucellosis masih cukup tinggi. Kebijakan pengendalian brucellosis pada tahun 2006 sekarang ini diprioritaskan pada sapi perah. di Pulau Jawa. Sebagai dasar kebijakan pelaksanaan operasional pemberantasan brucellosis mengacu pada SK Menteri Pertanian No 828 tahun 1998 tentang pengamatan, pengawasan lalu-lintas, vaksinasi dan test and slaughter (potong bersyarat). Program vaksinasi brucellosis dilakukan pada daerah tertular dengan prevalensi lebih dari 2%, sedangkan test and slaughter dilakukan pada daerah bebas brucellosis dengan prevalensi kurang dari 2%.
Kata Kunci: Epidemiologi, brucellosis, sapi perah, pengendalian
PENDAHULUAN
Brucellosis atau penyakit keluron menular merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis karena penularannya yang relatif cepat antar daerah dan lintas batas serta memerlukan pengaturan lalulintas ternak yang ketat (DITJENNAK, 1988). Brucellosis mengakibatkan tingginya angka keguguran pada sapi, pedet lahir mati/ lemah, infertilitas, sterilitas dan turunnya produksi susu (HUBBERT et al., 1975).
Pulau Jawa sebagai sentra sapi perah dengan populasi mencapai 98% dari populasi nasional menghadapi masalah brucellosis dengan angka prevalensi yang masih cukup tinggi. Tingginya populasi serta sanitasi dan higiene kandang yang kurang memadai memudahkan penularan penyakit melalui kontak langsung. Selain itu tidak telihatnya gejala klinis pada ternak reaktor brucellosis, sukarnya monitoring lalu-lintas ternak, belum optimalnya pelaksanaan test and slaughter, tidak sesuainya biaya kompensasi dengan jumlah kasus, pemakaian vaksin B. abortus S19 di beberapa daerah, dan belum optimalnya
keikutsertaan petani dalam penaggulangan menjadi penyebab sulitnya melakukan pemberantasan dan pengendalian brucellosis pada sapi perah.
Untuk mencegah kerugian yang ditimbulkan akibat brucellosis perlu ditetapkan suatu program yang bersifat menyeluruh untuk melakukan pemberantasan dan pengendalian penyakit pada sapi. Untuk tahun 2006 ini, program pengendalian brucellosis diprioritaskan pada sapi perah di Pulau Jawa melalui Test and Slaughter (potong bersyarat) untuk daerah bebas brucellosis /prevalensi <2% dan program vaksinasi untuk daerah tertular brucellosis/ prevalensi >2%.
Program pengendalian dan pemberantasan brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa dengan sistem potong bersyarat, belum menunjukkan hasil yang optimal malah penyebaran penyakit dari tahun ke tahun semakin meningkat. Oleh karena itu brucellosis menjadi salah satu prioritas nasional untuk dilakukan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan penyakit. Pada tulisan ini dibahas tentang epidemiology, permasalahan dan penanggulangan penyakit brucellosis khususnya pada sapi perah di Pulau Jawa.
SITUASI BRUCELLOSIS PADA SAPI DI INDONESIA
Brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa telah dikenal sejak tahun 1925 sebagai penyakit keluron ketika Kirschner berhasil mengisolasi kuman brucella dari janin sapi yang abortus di daerah Bandung (SUDIBYO dan Ronohardjo, 1989), kemudian tahun 1927 di Aceh dan Sumatera Utara (KRANVELD, 1927) sampai akhirnya brucellosis semakin menyebar terutama di peternakan sapi perah di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan jumlah reaktor yang bervariasi (SOEROSO dan TAUFANI, 1972; ALTON, 1984). Hingga kini brucellosis telah menyebar di 26 propinsi di Indonesia (Gambar 1), kecuali Bali dan Lombok yang baru dinyatakan bebas penyakit brucellosis pada tahun 2002. Prevalensi brucellosis pada sapi perah bervariasi dari 1% hingga 40% (SUDIBYO dan RONOHARDJO, 1989; SUDIBYO et al., 1991; Sudibyo et al., 1997).
Spesies Brucella yang menginfeksi sapi-sapi di Indonesia adalah strain B. abortus
biotipe 1 (SETIAWAN, 1992). Kuman B.
abortus biotipe 1 adalah merupakan isolat lokal
yang paling patogen sehingga mampu menimbulkan keguguran dan infeksi yang meluas pada organ dan jaringan tubuh sapi (Sudibyo, 1996b). Kuman penyebab brucellosis pada sapi perah di daerah DKI Jakarta terdiri dari B. abortus biotipe 1 (77,6%), biotipe 2 (13,2%) dan biotipe 3 (9,2%) (SUDIBYO, 1996a). Biotipe tersebut yang diduga telah menyerang ternak diberbagai wilayah di Indonesia.
Menurut laporan dari Balai Besar Veteriner Wates, kasus brucellosis di Pulau Jawa pada sapi perah pada tahun 1977 sebesar 14% dari sampel 2.782 ekor, tahun 1998 sebesar 22% dari sampel 777 ekor dan tahun 1999 sebesar 20% dari sampel 1.539 ekor (LAPORAN DITJENNAK, 2000). Pada Tabel 1 adalah sebaran reaktor positif brucellosis pada sapi perah di beberapa propinsi di Pulau Jawa pada thun 2000 sampai 2003. Terlihat bahwa banyaknya reaktor positif brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa masih cukup tinggi dari tahun ke tahun walaupun penanggulangan
penyakit secara nasional telah dilakukan sejak tahun 1998.
Oleh sebab itu perlu diambil langkah-langkah yang terprogram untuk pencegahan dan pemberantasannya. Apabila brucellosis tidak ditanggulangi maka dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar mencapai 138,5 milyar rupiah setiap tahun meskipun mortalitas akibat penyakit ini relatif kecil (DITJENNAk, 2000). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh brucellosis disebabkan oleh terjadinya abortus, anak lahir lemah dan mati, sterilitas akibat gangguian reproduksi, turunnya produksi susu serta turunnya akses pasar baik skala nasional maupun internasional karena penyakit ini juga besifat zoonosis.
EPIDEMIOLOGY BRUCELLOSIS Brucellosis pada sapi disebabkan oleh infeksi bakteri Brucella abortus. Secara morfologi kuman B. abortus bersifat gram negatip, tidak bergerak, tidak berspora, berbentuk kokobasilus dengan panjang 0,6 μm – 1,5μm. Sel kuman terlihat sendiri-sendiri,
berpasangan atau membentuk rantai pendek. Koloni kuman berbentuk bulat, halus, permukaan cembung dan licin berkilau dan tembus cahaya (ALTON, 1984)
Secara biokimia ada 7 biotipe dari kuman brucella, yaitu biotipe 1-6 dan biotipe 9 (ALTON et al., 1988). Di Indonesia tipe kuman
B. abortus yang menyerang sapi adalah biotipe
1 (SETIAWAN, 1992). Kuman B. abortus biotipe 1 adalah merupakan isolat lokal yang paling patogen sehingga mampu menimbulkan keguguran dan infeksi yang meluas pada organ dan jaringan tubuh sapi. Hasil biotiping isolat
B. abortus yang diisolasi dari sampel susu sapi
perah di DKI Jakarta menunjukkan 77,6% termasuk biotipe 1, 13,2% biotipe 2 dan 9,2% biotipe 3 (SUDIBYO, 1995).
Brucellosis pada sapi bersifat kronis dengan fase bakterimia yang subklinis. Sumber penularan brucellosis pada sapi yang utama berasal cairan plesenta dan sisa-sisa abortusan. Predeleksi bakteri tersebut terutama pada uterus sapi betina. Penularan penyakit biasanya terjadi melalui makanan atau saluran pencernaan, selaput lendir mata (PLOMET and Plomet, 1988), kulit yang luka, ambing, Tabel 1. Jumlah Reaktor Positif Brucellosis pada Sapi Perah di Pulau Jawa
Propinsi Tahun ∑ Sampel ∑ Positif Persentase
Jawa Timur 2000 2002 2003 4926 3991 1012 178 855 254 3,6% 21,4% 25,1% Jawa Tengah 2000 2002 2003 442 82 160 160 23 3,6% 36,2% 28,1% Jawa Barat 2000 2002 2003 12.446 964 1019 43 183 29 0,3% 18,9% 2,8% DKI 2000 2002 2003 651 607 296 111 188 62 17,0% 30,9% 20,9% DIY 2000 2002 2003 552 - 4 0 - 1 0% - 25,0% Sumber: Dirkeswan (2004)
inseminasi buatan dengan semen yang tercemar (MANTHEI et al., 1950) dan plasenta (BLOOD dan HANDERSON, 1979). Sapi dewasa dan terutama sapi yang sedang bunting sangat peka terhadap infeksi B. abortus, sedangkan pada dara dan sapi tidak bunting banyak yang resisten terhadap infeksi (EDINGTON and DONHAM, 1939). Penularan melalui inhalasi juga dilaporkan terutama ketika ternak sehat dan ternak yang mengalami abortus ditempatkan dalam satu kandang yang padat dengan sanitasi buruk (ALTON, 1984).
Brucellosis pada manusia dapat mengakibatkan demam undulan, endokarditis, arthritis dan osteomielitis (YOUNG, 1983). Hasil penelitian SUDIBYO (1995), menunjukkan 13,6% serum pekerja kandang sapi perah, 22,6% pekerja kandang babi dan 3,0% pekerja rumah potong babi ditemukan adanya titer antibodi terhadap brucella
Masa inkubasi kuman setelah infeksi pada sapi bervariasi dari 15 hari sampai beberapa bulan tergantung pada jumlah dan tingkat keganasan(virulensi kuman), kondisi hewan (sedang bunting atau pernah mendapat infeksi atau vaksinasi) serta faktor predisposisi lainnya. Brucellosis pada sapi betina dapat mengakibatkan gangguan reproduksi dan keguguran pada kebuntingan 5-7 bulan mencapai 5%-90% (TOELIHERE, 1985), dimana adanya keguguran merupakan gejala patognomonis pada infeksi awal. Setelah mengalami abortus biasanya infeksi akan menjadi kronis dan tidak menunjukkan gejala klinis serta sapi dapat bunting kembali sehingga hewan dapat bertindak sebagai carrier penularan ke ternak sehat lainnya melalui plasenta dari janin yang gugur, kotoran sapi, serta air, pakan dan peralatan kandang yang terinfeksi (MADKOUR, 1989). Pada sapi jantan brucellosis dapat menyebabkan orchitis, epididimitis dan artritis (ALTON, 1988).
PERMASALAHAN PENGENDALIAN BRUCELLOSIS DI PULAU JAWA Program pengendalian brucellosis dengan
Test and Slaughter pada sapi perah telah
dilakukan oleh pemerintah, namun hingga saat ini belum mampu untuk mengendalikan brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa. Ada beberapa permasalahan yang dapat
diidentifikasi sebagai penyebab sulitnya mengendalikan brucellosis pada sapi di Pulau Jawa yaitu:
1. Ternak yang terserang brucellosis biasanya tidak menunjukkan gejala klinis (subklinis), produksi susu tetap tinggi dan terjadinya abortus biasanya satu kali pada kebuntingan pertama, sehingga mengakibatkan petani enggan melakukan pemotongan.
2. Pemberian kompensasi oleh pemerintah terhadap ternak yang dipotong menghadapi kendala berupa tidak sesuainya jumlah ternak yang dipotong dengan kompensasi. Selain itu turunnya dana kompensasi tidak bersamaan dengan hasil uji serologis sehingga memungkinkan penularan terjadi.
3. Pengawasan lalu-lintas ternak antar wilayah di Pulau jawa sangat kompleks sehingga sangat sulit untuk melakukan pengawasan pergerakkannya.
4. Pelaksanaan Test and Slaughter belum dapat dilakukan secara serentak dan optimal karena keterbatasan dana, sumber daya manusia dan belum optimalnya sosialisasi program
5. Adanya pemakaian vaksin B. abortus S19 dibeberapa daerah yang mengakibatkan kesulitan untuk membedakan dengan infeksi alam.
RENCANA STRATEGIK PEMBERANTASAN BRUCELLOSIS DI
INDONESIA
Pada pertemuan Nasional Pemberantasan Penyakit Hewan Menular pada tanggal 15 Mei 2000 telah dibuat rencana strategik pemberantasan brucellosis dengan visi Indonesia bebas brucellosis pada tahun 2011. Misi yang diemban adalah memberdayakan masyarakat menuju kemandirian dalam memberantas brucellosis, menggalang, menggerakkan dan mewujudkan kemitraan dengan Koperasi Unit Desa, Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) dan badan usaha lainnya serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan hewan agar produk yang dihasilkan terjamin mutunya sehingga masyarakat terlindungi dari penyakit zoonosis.
Ada 7 strategi yang diajukan untuk pemberantasan brucellosis di Indonesia yaitu mengoptimalkan peran serta masyarakat, mengoptimalkan kemitraan, Peningkatan keterpaduan program lintas sektor, pelayanan kesehatan hewan dengan vaksinasi pada daerah tertular berat dan test and slaughter pada daerah tertular ringan, peningkatan profesionalisme, percepatan desentralisasi dan pentahapan tercapainya daerah bebas brucellosis berdasrakan prioritas pulau.
Sebagai tindak lanjut realisasi pmberantasan brucellosis maka ditandatangani piagam kerjasama antara Direktorat Jenderal Produksi Peternakan dengan Pengurus Pusat GKSI. Pada saat itu ditetapkan Program dan Pedoman Teknis Pemberantasan Brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa (DITJENNAK, 2000) dengan metode pemberantasan test and
slaughter karena prevalensinya dianggap
kurang dari 2%, sehingga program vaksinasi belum perlu dilakukan.
Berdasarkan hasil rapat anggota GKSI pada tanggal 20 Juli 2000, diputuskan bahwa biaya pemberantasan brucellosis ditanggung secara swadana oleh masing-masing koperasi primer yang bersangkutan meliputi biaya pemeriksaan
Milk Ring Test (MRT), Rose Bengal Test
(RBT) dan Complement Fixation Test (CFT) serta biaya santunan terhadap sapi reaktor positif yang ditetapkan berdasarkan harga perkiraan sapi dikurangi harga jual daging, sisanya 50% ditanggung koperasi dan 50% oleh peternak yang bersangkutan.
PENGENDALIAN DAN KONTROL BRUCELLOSIS PADA SAPI PERAH DI
PULAU JAWA
Penanggulangan brucellosis pada sapi perah dengan sistem test and slaughter yang telah dilakukan selama ini belum menunjukkan hasil yang optimal. Pengendalian brucellosis dengan sistem test and slaughter akan dapat dicapai apabila prinsip-prinsip pengendalian dilakukan sesuai prosedur dimana semua sapi reaktor positip dipotong serta pengawasan lalulintas yang ketat antar pulau, Propinsi, Kabupaten/ kota. Namun karena dalam pelaksanaan sampling di lapangan belum optimal dengan adanya kendala berupa dana, sumberdaya manusia dan waktu pelaksanaanya
maka sistem tersebut kurang efektif untuk pengendalian brucellosis.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka mulai tahun 2005, pemerintah telah mencanangkan program pengendalian brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa melalui kombinasi program vaksinasi di daerah tertular/ prevalensi >2% memakai vaksin B.
Abortus RB51 dan sistem test and slaughter
pada daerah bebas brucellosis/ prevalensi <2% (DITJENNAK, 2000). Sebagai dasar kebijakan pelaksanaan operasional pemberantasan brucellosis mengacu pada SK Menteri Pertanian No 828 tahun 1998 tentang pengamatan, pengawasan lalu-lintas, vaksinasi dan test and slaughter (potong bersyarat).
Vaksin B. Abortus RB51 telah ditetapkan untuk program vaksinasi pada sapi perah di Pulau Jawa. Vaksin RB51 dikembangkan sejak tahun 1991 diderivasi dari koloni B. abortus strain 2308 (SCHURIG et al., 1991). Vaksin B.
abortus RB51 tersebut mempunyai tingkat
proteksi yang tidak berbeda dengan vaksin B.
abortus S19, tidak menimbulkan reaksi post
vaksinasi seperti abortus dan antibodi yang dihasilkan tidak terdeteksi dengan uji serologis standar Rose Bengal Test dan Complement
Fixation Test, sehingga tidak mengacaukan
diagnosis dengan infeksi brucellosis secara alami (SCHURIG et al., 1981). Uji lapang tentang keamanan vaksin B. abortus RB51 pada sapi perah telah dilakukan oleh Balai Besar Veteriner Wates di daerah Cisarua. Hasil uji lapang menunjukkan bahwa vaksin B.
abortus RB51 tidak menyebabkan reaksi klinis
pasca vaksinasi seperti anafilaksis, arthritis, demam tnggi dan penurunan nafsu makan. Selain itu vaksin B. abortus RB51 tidak menyebabkan reaksi positip palsu seperti halnya pada vaksinasi dengan strain S19 (SULAIMAN, et al., 2004).
Vaksinasi brucellosis dengan vaksin B.
abortus RB51 akan dilakukan pada daerah
dengan prevalensi penyakit >2%, dimana vaksin akan diberikan ke semua sapi perah baik yang tidak terinfeksi maupun sapi reaktor. Saat ini program vaksinasi dengan vaksin B.
abortus RB51 telah dilakukan di propinsi Jawa
Barat. Berdasarkan program pengendalian tersebut diharapkan pada tahun 2010 Pulau Jawa dapat bebas dari penyakit brucellosis.
KEGIATAN PELAKSANAAN PENGENDALIAN BRUCELLOSIS Keberhasilan penanggulangan brucellosis pada sapi banyak tergantung pada para pemegang kebijakan. Sangat diperlukan dukungan pemerintah, dana, sumber daya manusia yang profesional dan waktu untuk keberhasilan pelaksanaan program pengendalian brucellosis. Banyak negara telah berhasil melakukan pemberantasan brucellosis karena perencanaan yang matang dan dilaksanakan secara konsekuen dengan waktu yang cukup lama dan biaya tinggi (BELL, 1987; PROTZ, 1987; IMAI 1987)
Untuk menindaklanjuti pemberantasan brucellosis pada sapi di Pulau Jawa maka diperlukan kegiatan pelaksanaan pengendalian dengan komitmen bersama dan berkelanjutan antara pemerintah Pusat dan Daerah. Pemerintah Pusat diharapkan secara kelembagaan membuat Pedoman, Surat Edaran ke Daerah dan koordinasi bersama instansi terkait untuk mendukung Program termasuk dari aspek kesehatan masyarakat. Selain itu melakukan sosialisasi dan komunikasi untuk mengoptimalkan sasaran serta evaluasi pelaksanaan kegiatan di daerah melalui komunikasi langsung dengan daerah dan membuat poster penyakit untuk didistribusikan ke daerah sebagai pedoman dan antisipasi masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya wabah penyakit.
Pemerintah Daerah melakukan pengujian dan vaksinasi semua populasi sapi/kerbau yang wajib diuji pada daerah dengan prevalensi kurang dari 2%, melaporkan setiap bulan dengan Form standar, menggunakan antigen RBT dan mengirimkan sampel ke BBVet/BPPVR/Lab Keswan yang ditunjuk. Disamping itu ternak reaktor dengan diberi tanda khusus, tidak boleh dipasarkan dan harus dipotong di Rumah Potong Hewan, dengan. kompensasi APBN (dekonsentrasi) APBD I dan II, Koperasi maupun swadaya masyarakat. Selain itu lalulintas ternak antar daerah diperketat. Ternak dengan uji RBT dan CFT negatif diberi sertifikat uji yang berlaku 1 tahun dan boleh ditransportasikan secara terbatas. Pengawasan dokumen lalu lintas ternak juga perlu diawasi secara ketat.
KESIMPULAN
Program pengendalian brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa harus segera dilakukan karena jumlah reaktor positif brucellosis semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pengendalian brucellosis pada sapi perah dengan sistem Test and Slaughter yang telah diterapkan selama ini belum memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu pengendalian brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa kedepan dilakukan dengan kombinasi program vaksinasi pada daerah tertular berat (prevalensi >2%) dengan menggunakan vaksin B. abortus RB51 dan program test and slaughter pada daerah tertular ringan (prevalensi <2%). Keberhasilan penanggulangan brucellosis pada sapi perah di Pulau Jawa sangat diperlukan dukungan pemerintah, dana, sumber daya manusia yang professional dan akan terwujud apabila diikuti dengan seluruh prosedur yang benar serta komitmen dari seluruh aparat yang terkait dan masyarakat peternak melalui sosialisasi program didukung dengan pengawasan lalu-lintas ternak secara ketat.
DAFTAR PUSTAKA
ALTON, G.G. 1984. Report on Consultancy in Animal Brucellosis in Indonesia.
ALTON, G.G., J.M. JONES, R.D. ANGUS and J.M.
VERGER. 1988. Techniques for the brucellosis laboratory. Institute National de la Recherche Agronomique. Paris.
BELL, R.A. 1987. Brucellosis in Cattle, Sheep and
Goat. O.I.E. Tech. Series No.6. Paris, France. BLOOD, D.C. and J.A. HANDERSON.1979. Veterinary
Medicine 5th ed. Bailliere Tindall. London.
DIRKESWAN, 2004. Paper: Kebijakan Pemerintah dalam Pemberantasan Brucellosis di Indonesia khususnya P. Jawa. Disampaikan pada Pertemuan Evaluasi Pemberantasan Brucellosis dan Pengawasan Lalulintas Ternak dan Daging Propinsi DKI Jakarta di Cianjur. DITJENNAK. 1981. Penyakit Keluron Menular
(Brucellosis). Pedoman Pengendalian Penyakit Menular. Bina Direktorat Kesehatan Hewan. Dirjen Peternakan. Jakarta.
DITJENNAK, 2000. Program dan Pedoman Teknis Pemberantasan Brucellosis pada Sapi Perah di Pulau Jawa. Direktorat Bina Kesehatan
EDINGTON, B.H. and C.R. DONHAM. 1939. Infection
and Reinfection experiment with Bang’s disease. J.Agric.Res. 59: 609-618.
HUBBERT, W.T., W.F. MCCULLOH, and P.R. SCHNURENBERGER. 1975. Disease Transmitted
from Animals to Man. 6th. Ed. Charles C.
Thomas. Publisher. Sprongfield. USA. IMAI, M. 1987. Brucellosis in Cattle, Sheep and
Goat. O.I.E. Tech. Series No.6. Paris, France. KRANEVELD. 1927. Over een Gewrichlijden bij
Runderenter Sumater ‘s Ooskust. N.I.B. V. Dierge. 39:105.
MADKOUR, M.M. 1989. Overview. In M.M.
Madkour (Edit). Brucellosis. Butherworths. London.
MANTHEI, C.A.; D.E. DETRAY and E.R. GOODE. 1950. Brucella In fection in bull and the spread of brucellosis in cattle by artificial insemnitaion. I. Intrauterine injection. Proceeding Book American Veterinary Medical Association. J.Am.Vet.Med.Ass. 117:106.
PLOMET. M. and A.M. PLOMET. 1988. Virulence of
Brucella: bacterial growth and decline in mice. Annales de Recherces Veterinaires. 19(1): 65-67.
PROTZ, A. 1985. Brucellosis in Cattle, Sheep and
Goat. O.I.E. Tech. Series No.6. Paris, France. SCHURIG, G.G., AT. PRINGLE, and S.S. BRESSE.
1981. Localization of Brucella antigens that elicit a humoral immune response in Brucella abortus infected cattle. Infect. Immun. 34:1000-1007.
SCHURIG,G.G;R.M.ROOP;T.BAGCHI;S.BOYLE;D.
BUHRMAN and N. SRIRANGANATHAN. 1991.
Biological properties of RB51; a stable rough strain of Brucella abortus. Vet. Microbiol. 28: 171-188.
SETIAWAN, E,D, 1992. Studi tentang beberapa sifat
biologis Brucella abortus isolat lapang. Disertasi Doktor. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
SOEROSO, M dan F.M. TAUFANI.1972. Brucellosis di
Indonesia. Bull. LPPH. 3 (3-4): 24-30. SUDIBYO, A dan P. RONOHARDJO. 1989. Brucellosis
pada sapi perah di Indonesia. Proceeding Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar. Pp.25-31.
SUDIBYO,A., P.RONOHARDJO, B.PATTEN dan Y. MUKMIN. 1991. Status brucellosis pada sapi
potong di Indonesia. Penyakit Hewan. 23 (41):18-22.
SUDIBYO A.,E.D. SETIAWAN dan SJAMSUL BAHRI. 1997. Evaluasi vaksinasi brucellosis pada sapi potong di Nusa Tenggara Timur. Laporan Penelitian Tahun Anggaran 1996/1997. Balitvet, Bogor.
SUDIBYO A. 1995. Isolasi dan Identifikasi Brucella
abortus yang Menyerang Sapi Perah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. 7-8 Nopember. Cisarua. Bogor.
SULAIMAN, I. dan B. POERMADJAYA. 2004. Paper: Uji Lapang Keamanan Vaksin Brucella abortus strain RB51 pada Sapi Perah di Kecamatan Cisarua, Bogor. Pertemuan Evaluasi Pemberantasan Brucellosis dan Pengawasan Lalulintas Ternak dan Daging Propinsi DKI Jakarta di Cianjur.
TOELIHERE, M.R. 1985. Ilmu Kebidanan Pada
Ternak Sapi dan Kerbau. UI. Press. Jakarta. YOUNG E.J. 1983. Human Brucellosis. Rev. Infect.