BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki wilayah sepanjang 3.977 mil terbentang dari barat ke timur, adalah negara kepulauan dengan luas daratan lebih besar dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari suku bangsa, agama, bahasa, dan budaya yang berbeda-beda. Selain itu Indonesia juga merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, memiliki keindahan alam dan peninggalan sejarah yang mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan dalam mendukung perkembangan di sektor pariwisata.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada November 2014 mencapai 764.461 orang atau turun 5,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 808.767 orang. Jika dibandingkan dengan November 2013, jumlah kunjungan tersebut mengalami penurunan sebesar 5,32 persen, yaitu sebanyak 807.422 kunjungan. Tetapi perkembangan persebaran tujuan pariwisata di Indonesia tidak merata. Tercatat kunjungan wisatawan terbesar hanya di wilayah provinsi tertentu saja yang tujuan wisata tersebut sudah lebih terkenal [1].
Infrastruktur dan sarana transportasi menjadi faktor yang dapat mempengaruhi kunjungan wisata. Ketersediaan sarana dan prasarana serta transportasi yang mampu mengakomodir kebutuhan wisatawan untuk mencapai tujuan wisata, dapat menjadi tolok ukur dalam kepuasan kunjungan pariwisata. Hal ini tentu akan mempengaruhi jumlah kunjungan wisata sehingga dapat meningkatkan pendapatan daerah setempat [2].
Selain masalah infrastruktur, para pelaku bisnis dan para wisatawan memiliki kendala dari sisi sistem informasi. Promosi pariwisata lebih sering dilakukan secara mandiri oleh pihak-pihak yang berkepentingan, karena tawaran kerjasama promosi dari Pemerintah Pusat maupun dari Pemerintah Daerah masih
sedikit. Hal ini tentu akan menimbulkan ketimpangan kunjungan wisata pada suatu daerah tergantung dari pihak-pihak pengelola tujuan wisata.
Persebaran pariwisata tidak terlepas dari berkembangnya promosi pariwisata yang salah satunya dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Terdapat korelasi antara jumlah persebaran website dengan jumlah kunjungan wisata. Provinsi yang memiliki website pariwisata aktif, terbukti memiliki jumlah kunjungan wisata lebih tinggi dibanding dengan provinsi yang memiliki website pariwisata pasif atau bahkan tidak ada [3].
Informasi pariwisata Indonesia yang terbatas mempengaruhi tujuan wisata dari wisatawan dalam negeri. Masyarakat Indonesia lebih banyak yang memilih untuk berlibur ke luar negeri dibandingkan dengan mengunjungi tempat wisata di negaranya sendiri. Wego yang merupakan sebuah perusahaan yang berfokus pada situs pencarian wisata, telah melakukan analisis terhadap kebiasaan para traveler. Sepanjang tahun 2013 traveler Indonesia lebih aktif melakukan perjalanan ke luar negeri. Wego mencatat kenaikan pencarian pariwisata ke luar negeri hampir mencapai 58 persen dibandingkan tahun sebelumnya [4].
Berdasarkan kualitasnya, tujuan pariwisata Indonesia menurut wisatawan masih bernilai standar dan cenderung kurang jika dibandingkan dengan negara kompetitor. Kualitas tujuan wisata Indonesia menjadi kurang disebabkan karena kurang konsistennya promosi dan kualitas pariwisata yang ditawarkan. Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara tetangga seperti Thailand, Siangapura, dan Malaysia [5]. Terdapat sekitar 300 juta orang mencari tujuan wisata melalui internet, tetapi hanya sekitar 80 ribu yang mencari tujuan wisata Indonesia. Angka tersebut kurang dari satu persen dari total penjelajah dunia maya yang mencari tujuan wisata. Sebanyak 60% dari jumlah wisatawan mancanegara mengunjungi Indonesia karena budaya, sementara itu 30% lainnya karena keindahan alam Indonesia [6].
Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya sebagai bentuk dukungan terhadap promosi pariwisata Indonesia. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Depbudpar) pada akhir tahun 2007 melaksanakan peluncuran situs resmi pariwisata dalam rangka Visit Indonesia Year 2008 yang beralamat di
www.my-indonesia.info. Kemudian pada tahun 2011, Pemerintah Indonesia melakukan perubahan pada bidang pariwisata dengan mengubah nama Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menjadi Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Kemenparekraf mengusung slogan yang baru yaitu Wonderful Indonesia, sebagai menjadi penanda perubahan yang telah diupayakan oleh pemerintah dalam memaksimalkan promosi pariwisata Indonesia. Kemenparekraf membangun sebuah website pariwisata baru yaitu indonesia.travel sebagai pengganti dari website pariwisata yang sudah ada sebelumnya [7].
Melalui www.alexa.com, website indonesia.travel menempati peringkat 53.188 dunia dengan bounce rate 54,70%, sementara website pariwisata Singapura (yoursingapore.com) yang menempati peringkat 32.909 dengan bounce
rate 48,60% dan Thailand (tourismthailand.org) pada peringkat 40.472 dengan bounce rate 54,70%, serta Malaysia (tourism.gov.my) pada 62.642 dengan bounce rate 42%. Sedangkan pada peringkat nasional, Indonesia.travel menempati
peringkat 1.068. sedikit lebih rendah dibanding dengan situs pariwisata lokal lain seperti yogyes.com yang berada pada peringkat ke 1.028 [8]. Alexa.com merupakan salah satu penyedia ranking/peringkat berdasarkan trafik pengunjung yang masuk pada sebuah website dan telah digunakan sebagai pembanding dalam penelitian SEO [9][10].
Sementara itu www.woorank.com, juga merupakan salah satu tool SEO yang digunakan dalam penelitian evaluasi web ranking menyebutkan bahwa
website indonesia.travel berada pada peringkat ke 53.528 dunia. Sementara
yoursingapore.com berada pada peringkat 41.800 dunia, Thailand (tourismthailand.org) berada pada peringkat 36.128 dunia, dan tourism.gov.my berada pada peringkat 58.208 dunia [10][11].
Interaksi pengguna dengan sebuah situs, terutama wisatawan dengan
website pariwisata merupakan hal yang harus diperhatikan dalam media promosi.
Ketersediaan website pariwisata sebagai media pendukung dan perencanaan tujuan pariwisata merupakan modal dasar dalam menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi tujuan wisata yang tersebar di
wilayah Indonesia. Implementasi sebuah website pariwisata tidak dapat diterima secara langsung dan dengan mudah oleh para pengguna. Terdapat banyak faktor yang menjadi pertimbangan agar website tersebut berhasil. Tingkat ketertarikan, kemudahan dan kenyamanan pengguna dalam memanfaatkan website pariwisata merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam membangun sebuah
website [12]. Selain itu, antarmuka yang menarik, mudah, dan nyaman digunakan
juga menjadi faktor pendukung lainnya. Perkembangan sistem informasi pariwisata akan membantu pengguna dan pemerintah dalam mempromosikan tujuan wisata [13].
Pengalaman pengguna dapat menjadi tolok ukur penerimaan terhadap sebuah website. Jika seorang pengguna mengalami keengganan dan ketidaknyamanan dalam menggunakan sebuah layanan aplikasi, atau layanan aplikasi tersebut sulit untuk digunakan, maka layanan aplikasi tersebut memiliki potensi kegagalan. Pendekatan melalui aspek usability dapat digunakan dalam menganalisis user experience pada suatu aplikasi berbasis website [14].
Aktivitas pengguna dalam penggunaan sebuah website menjadi hal penting untuk diperhatikan. Penerimaan pengguna dengan sering memanfaatkan sebuah
website dapat meningkatkan user experience terhadap website tersebut. Activity-centered design (ACD) lebih mampu memberikan tolok ukur dalam
perkembangan sebuah situs di masa mendatang melalui interaksi pengguna yang memiliki karakteristik yang berbeda untuk mencapai sebuah tujuan yang sama [15].
Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah model user experience (UX) website pariwisata berdasarkan prinsip usability. Prinsip usability diperoleh melalui perbandingan legacy website pariwisata Indonesia dengan legacy website pariwisata negara Malaysia, Singapura, dan Thailand dengan tujuan mendapatkan nilai usability yang tinggi. Selanjutnya akan digunakan untuk perancangan model yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas UX dari website pariwisata Indonesia.
1.2 Perumusan masalah
Mengacu pada latar belakang dan indikasi masalah yang telah dibahas sebelumnya bahwa Indonesia memiliki tujuan wisata yang lebih banyak dibanding dengan negara Malaysia, Singapura, dan Thailand, tetapi kunjungan pariwisata Indonesia dan pencarian mengenai wisata Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tiga negara tersebut. Keengganan dan ketidaknyamanan pengguna dalam memanfaatkan sebuah website, atau aplikasi yang sulit digunakan dapat menjadi penyebab potensi kegagalan dalam sebuah website.
1.3 Keaslian penelitian
Penelitian sebelumnya mengenai perancangan website pariwisata yang terkait dengan usability ataupun user experience telah dilakukan. Penelitian mengenai perancangan antarmuka pada layanan informasi wisata dan kuliner menggunakan aspek interoperabilitas perangkat dan usabilitas pengguna [13]. Penelitian ini mengembangkan antarmuka berbasis web, low-end mobile web, dan
smartphone mobile web, dengan cara penyajian konten yang berbeda sesuai
dengan kemampuan browser dan perangkat yang digunakan. Selanjutnya dilakukan pengujian waktu akses untuk mengetahui perbandingan waktu lama akses pada halaman web dan mobile web. Selain itu, pengujian usability dilakukan pada mobile web untuk jenis smartphone karena smartphone mobile sedang berkembang saat ini, serta dianggap mampu mewakili interaktivitas antarmuka pengguna mobile.
Penelitian selanjutnya mengenai pengembangan model Tourism Information Centre (TIC) sesuai dengan kebutuhan wisatawan dan operator
pariwisata. Penelitian ini berupaya untuk memaksimalkan dan meningkatkan kualitas pelayanan informasi pariwisata dengan melakukan evaluasi kondisi TIC yang ideal sehingga dapat berperan lebih maksimal. Metode yang digunakan dalam pengukurannya adalah wawancara, evaluasi kuantitaif, dan kualitatif [16].
Penelitian yang lain mengembangkan pemodelan antarmuka Travel
Recomender System (TRS) [17]. TRS menyediakan dialog dengan pengguna
memberikan kenyamanan bagi pengguna. Selain itu, informasi dan rekomendasi yang diberikan berupa atraksi wisata, transportasi, akomodasi, rumah makan, dan pusat perbelanjaan. Metode yang digunakan adalah pemodelan proses bisnis dan uji usability.
User experience menjadi indikator penting dari kualitas pelayanan yang
lebih baik. Penelitian ini melibatkan perubahan lingkungan pengguna dan peran pengalaman pengguna untuk dianalisis [18]. Desain sebuah website harus mempertimbangkan fungsi, tugas yang sederhana, dan mudah digunakan oleh pengguna.
Evaluasi usability dapat digunakan sebagai tolok ukur dalam rekomendasi perbaikan sebuah website. Penelitian ini mengevaluasi usability dari sebuah
website yang meliputi aspek efektivitas, efisiensi, dan kepuasan pengguna, dan
melakukan perancangan-ulang berdasarkan hasil evaluasi tersebut [19]. Metode pengukuran yang digunakan melalui pikiran/perasaan dan gagasan selama pengujian secara lisan (thinking aloud).
Selain itu, evaluasi desain antarmuka lainnya dilakukan dengan pendekatan interpretasi faktor manual dan ergonomi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemudahan dan kebergunaan (usefullness) pada sebuah sistem. Metode yang digunakan dalam pengukuran tersebut adalah evaluasi heuristik, yang terfokus pada kemudahan pengguna [20].
Penelitian selanjutnya adalah mengenai perbaikan user experience pada sebuah website dengan melakukan evaluasi usability [21]. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik pada fitur desain dan isi dari sebuah website. Selain itu, aksesbilitas dan ketersedian informasi juga menjadi faktor yang mendukung dalam perbaikan desain sebuah website. Metode yang digunakan adalah kombinasi dari kuisioner dan wawancara yang meliputi ukuran kinerja, pengamatan langsung, dan subyketif dari pengguna.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, penelitian ini akan memanfaatkan prinsip usability sebagai pendekatan untuk melakukan evaluasi pada website pariwisata Indonesia (indonesia.travel) yang dibandingkan dengan website pariwisata di beberapa negara Asia Tenggara lainnya, dan
merancang sebuah model user experience pada website pariwisata Indonesia. Metode pengukuran usability yang digunakan adalah evaluasi heuristik, pengukuran berbasis sintetis, dan focus group discussion.
Tabel 1.1 merupakan ringkasan dari keaslian penelitian yang telah dijelaskan sebelumnya.
Tabel 1.1 Penelitian-penelitian Terdahulu
Penulis Penelitian Metode Pengukuran Implementasi Yudiantika (2012)
[13]
Perancangan antar muka dengan aspek interoperabilitas perangkat dan usabilitas pengguna
- Uji waktu akses - Survei kuantitatif
Layanan Informasi Wisata dan Kuliner di DIY
Salam (2013) [16] Pengembangan Model
Tourism Information Centre - Wawancara - Analisis kuantitaif dan kualitatif Tourism Information Centre di DIY Susanto (2014) [17]
Pemodelan antar muka
Travel Recomender System - Pemodelan proses bisnis - Uji usability Website Pariwisata di Nusa Tenggara Timur Deng dan Li (2008) [18] Perbaikan user experience pada perpustakaan digital
Tidak disebutkan Digital Library
Azhari (2009) [19] Evaluasi Usability untuk Rekomendasi Perbaikan Situs Web
Thinking aloud Situs Web DIKTI
Caesaron, dkk (2013) [20] Evaluasi Desain Antarmuka dengan Pendekatan Kemudahan Pengguna
Evaluasi Heuristik Portal Mahasiswa Universitas X Raji, dkk (2013) [21] Perbaikan user experience pada Website Universitas - Kuisioner - Wawancara Website University Teaching Hospital (UTHW) Chofa, dkk (2012) [22] Pemodelan antarmuka berdasar User Experience
Survei kuantitatif Internet Banking
Wignjosoebroto, dkk (2010) [23]
Perancangan interface
prototype
- Kuisioner
- Dasar visual display
Website Laboratorium Penelitian yang dilakukan (2015) Perancangan model user experience berdasar prinsip usability - Evaluasi heuristik - FGD - Pengukuran sintetis Website Pariwisata Indonesia
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengukuran user experience dengan pendekatan usability pada
legacy website pariwisata Indonesia dibandingkan dengan legacy website
pariwisata lainnya di negara kawasan Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, dan Thailand);
2. Mengusulkan rancangan model website pariwisata Indonesia yang menitikberatkan pada hasil pengukuran user experience berdasar pada prinsip
usability;
3. Melakukan validasi pada rancangan model user experience website pariwisata Indonesia dengan menggunakan pendekatan usability.
1.5 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini membahas mengenai user experience pada website pariwisata Indonesia yaitu indonesia.travel;
2. Penelitian ini akan membandingkan nilai usability dari legacy website pariwisata Indonesia (indonesia.travel) dengan legacy website pariwisata beberapa negara tetangga di kawasan Asia Tenggara lainnya, antara lain negara Malaysia (tourism.gov.my), Singapura (www.yoursingapore.com), dan Thailand (www.tourismthailand.org).
1.6 Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi dalam pengembangan sistem informasi pariwisata Indonesia berbasis web yang memiliki
user experience yang optimal. Hasil dari perancangan model user experience
pariwisata Indonesia ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:
1. Akademis, sebagai model konseptual mengenai penelitian user experience yang tidak hanya diteliti menggunakan pendekatan usability dengan metode pengukuran evaluasi heuristik dan FGD tetapi juga dikaitkan dengan pengukuran performa dari website tersebut. Sehingga hal itu dapat menjadi
acuan dan sumber referensi pada penelitian selanjutnya terhadap pengembangan website pariwisata Indonesia;
2. Calon Wisatawan domestik dan mancanegara, sebagai informasi dalam menemukan dan menentukan tujuan wisata atau hal menarik lainnya yang dapat dikunjungi di Indonesia;
3. Pemerintah, dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam mengembangkan
website pariwiwsata Indonesia;
4. Masyarakat dapat merasakan manfaat secara langsung jika terjadi peningkatan kunjungan wisata diberbagai daerah di Indonesia.