• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISSN No Media Bina Ilmiah 17

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ISSN No Media Bina Ilmiah 17"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

_______________________________________

http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013

ESTETIKA BUDAYA RIMPU PADA MASYARAKAT BIMA

“ KAJIAN RELEGIULITAS”

Oleh

Siti Lamusiah

Dosen FKIP UMM

Abstrak Dalam wacana estetika dunia, terdapat cara pandang yang berbeda antara pemikir Barat dengan

pemikir Islam. Pemikir Barat moderen memiliki kecenderungan menata nilai-nilai estetika ke arah

bagaimana manusia yang mendunia yang diwujudkan dengan bentuk praksis dengan karya-karya seni yang

menggugah pancaindera dan juga menggelitik aspek-aspek psikologis manusia, sedangkan dalam nilai-nilai

estetik Islam memiliki kecenderungan untuk menghampakan dunia Ada beberapa alasan mendasar bagi

keharusan terjaganya rimpu dari pengikisan budaya oleh kecenderungan globalisasi, modernisasi, dan

sekularisasi. Rimpu juga adalah sebuah bentuk pakaian yang sopan yang merupakan sebuah representasi

perempuan Bima dalam kehidupan sehari-hari. Tentu makna kesopanan sangat relatif tergantung bagaima

situation Dan konteks pada setiap daerah. Tidak ada alasan untuk tidak melestarikan budaya rimpu ini dan

sudah sepatutnya ada sebuah kebijakan yang menunjang pelestariannya. Pemerintah Bima seharusnya mulai

memikirkan upaya teresbut, paling tidak sebuah kebijakan pada hari tertentu agar wanita Bima mengenakan

busana harian Rimpu patut dipertimbangkan sehingga berdampak pula pada peningkatan pendapatan sektor

industri rumahan khususnya tenunan tradisional Bima. Berkaitan dengan itu ada beberapa hal yang

mempengaruhi bergesernya budaya rimpu ini pada masyarakat antara lain : terinspirasi dengan budaya barat

yang tidak sesuai dengan budaya dan cultur masyarakat Bima, masyarakat Bima sekarang tidak menyadari

akan hilangnya nilai-nilai budaya Bima, dengan menggunakan rimpu dianggap ketinggalan jaman,

masyarakat Bima sekarang sudah sangat multikultural dalam kehidupan sehari-hari. Dengan realita yang

ada orang Bima harus mempertahankan kembali Budaya Rimpu yang pernah ada di daerah Bima, karena

ketika salah satu budaya telah mati atau hampir punah maka budaya-budaya dan kebiasaan lainnya pun akan

hilang dengan sendirinya.

Kata kunci : Estetika, Budaya Rimpu, Relegiulitas.

PENDAHULUAN

Di Indonesia, nilai-nilai estetika klasik

memiliki keterkaitan dengan kedalaman rasa dan

kehalusan

budi,

yang

kemudian

melahirkan

kesantunan, kearifan,kebahagiaan, kemaslahatan,

dan juga kesusilaan yang dijunjung tinggi. Para

pemikir estetika yang menekankan keluhuran budi

selalu berkaitan dengan proses pendidikan manusia

untuk lebih baik dari pada sebelumnya melalui

proses penyadaran atau proses pembelajaran

(Sachari,2002 :38).

Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal

merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan

budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok

tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat

Bima yang lebih dominan adalah berasal dari

imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima.

Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di

Bima, maka tak heran agama pun cukup beragam

meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang

beragama Islam.

Dana Mbojo (Bima) merupakan suatu daerah

yang kaya akan budaya dan adat-istiadat, yang

merupakan ciri khas dari masyarakat Bima itu

sendiri. Tetapi dewasa ini adat-istiadat tersebut

perlahan-lahan mulai luntur, dan sulit untuk

ditemukan. Sehingga tidak mengherankan banyak

anak-anak atau para remaja Bima yang tidak

mengetahui budayanya sendiri. Keadaan ini tentu

sangat memperihatinkan, karena adat-istiadat dan

budaya yang diwariskan secara turun temurun

tersebut tak ternilai harganya. Akan sangat

disayangkan bila harus hilang begitu saja, karena

adat-istiadat dan budaya merupakan ciri khas suatu

suku. Dan Indonesia merupakan bangsa yang

terkenal karena kaya akan adat-istiadat yang berbeda

pada tiap-tiap daerah dan suku. Salah satu yang

menjadi sorotan dari adat-istiadat masyarakat Bima

yang sekarang mulai memudar dan berangsur-angsur

hilang adalah budaya rimpu. Budaya rimpu

merupakan cara berpakaian yang merupakan ciri

khas masyarakat Bima. Rimpu adalah juga sebuah

identitas.

Ada beberapa alasan mendasar bagi keharusan

terjaganya rimpu dari pengikisan budaya oleh

kecenderungan

globalisasi,

modernisasi,

dan

sekularisasi. Rimpu juga adalah sebuah bentuk

(2)

_______________________________________________

Volume 7, No. 3, Mei 2013 http://www.lpsdimataram.com

pakaian yang sopan yang merupakan sebuah

representasi siwe mbojo dalam kehidupan

sehari-hari. Tentu makna kesopanan sangat relatif

tergantung

bagaimana

masyarakat

setempat

memaknainya, seperti contoh pada suku Asmat di

Irian Jaya, kesopanan tidak dinilai dari pakaian.

Wanita dan laki-laki bebas bertelanjang dan hanya

satu bagian saja dari tubuh mereka yang terbalut

pakaian. Itulah yang disepakati oleh mereka. Tapi

fakta tersebut tentu saja suatu perkecualian. Pada

konteks Indonesia secara umum, Bima khususnya,

kesopanan masih juga dinilai, salah satunya, dari

cara

berpakaian

dan

berpenampilan.

Rimpu

memiliki nilai estetis tersendiri bagi masyarakat

Bima, sejak jaman dulu rimpu ini adalah salah satu

pakaian yang indah dari segi motif,bahan dan juga

keindahan dan keunikan dari cara berpakaian.

Salah satu penilaian masyarakat terhadap siwe

Mbajo atau gadis Bima adalah dilihat dan dinilai

dari cara berpakaian, karena representasi dari norma

dan sopan santun ada hubungannya dengan karakter

gadis yang bersangkutan. Siwe Mbojo biasanya

sangat kental dengan karakter dan cara berpakaian

sehari-hari ketika keluar rumah. Bentuk karakter

yang muncul ketika siwe Mbojo menggunakan

rimpu sebagai salah satu budaya yang turun temurun

adalah karakter sopan santun,sosial, budaya dan juga

relegius.

Rimpu

merupakan

busana

adat

harian

tradisional yang berkembang pada masa kesultanan,

sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima.

Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam

di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan

dengan 5 Juli 1640.

Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan

masuknya Islam ke Kabupaten bermotokan Maja

Labo Dahu ini. Pedagang Islam yang datang ke

Bima terutama wanita Arab menjadi inspirasi kuat

bagi wanita Bima untuk mengidentikkan pakaian

mereka dengan menggunakan rimpu.

Menurut sejarawan Bima, M. Hilir Ismail,

keberadaan rimpu juga tak lepas dari upaya

pemerintah

(masa

Sultan

Nuruddin)

untuk

memanfaatkan kain sarung atau kain tenun Bima

yang sudah lama dikenal bahkan menjadi komoditi

perdagangan dunia yang sangat laris sekitar abad 13

lampau. Sebab, pada masa itu, dou mbojo

memanfaatkan melimpahnya tanaman kapas untuk

dijadikan kain tenun yang menjadi komoditi

perdagangan yang terjual hingga ke negeri Cina.

Sejak saat itu, semua wanita yang sudah akil baliq

diwajibkan

memakai

rimpu

apabila

hendak

bepergian meninggalkan rumah dan keluarganya

untuk sesuatu urusan. Kalau tidak, berarti sudah

melanggar hukum agama dan adat pada saat itu.

“Hukumannya lebih kepada hukuman moral. Orang

yang melanggar dengan sendirinya akan merasa

malu”, ujarnya.

Keterangan Hilir diperkuat lagi oleh Nur

Farhaty Ghani, dari Forum Perempuan (ForPuan)

Bima. Menurutnya, rimpu merupakan bagian dari

identitas wanita Bima pada masa Islam baru

berkembang di Bima. “Zaman dulu, wanita Bima

dengan bangga memakai rimpu untuk menunjukkan

ke khalayak bahwa mereka sudah bisa menenun dan

kain yang mereka gunakan adalah hasil karya

sendiri,” paparnya. Menurutnya, memakai rimpu

pada masa itu semacam show (pertunjukan). “Ini loh

kain hasil tenun saya. Saya sudah bisa menenun,”

contohnya :keeratan hubungan rimpu dengan

perkembangan Islam pada masa itu tampak jelas.

Dari keterangan pelaku sejarah, wanita Bima yang

hidup pada masa itu memandang tersingkapnya

aurat mereka sebagai aib. Siapapun lelaki baik

sengaja atau tidak melihat aurat mereka, pria

tersebut wajib menikahinya. “Dengan tersingkapnya

betis saja, wanita zaman dulu sudah merasa malu

dan segera minta nikah. Mereka menganggap itu

sebagai bentuk pelecehan (aib) terhadap wanita,”

paparnya.

Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua

lembar sarung yang bertujuan untuk menutup

seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk mernutup

kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok.

Sesuai penggunaannya, rimpu bagi kaum wanita di

Bima dibedakan sesuai status. Bagi gadis, memakai

rimpu mpida—yang artinya seluruh anggota badan

terselubung kain sarung dan hanya mata yang

dibiarkan terbuka. Ini sama saja dengan penggunaan

cadar pada kaum wanita muslim. Caranya, sarung

yang ada dililit mengikuti arah kepala dan muka

bagi kaum wanita yang telah bersuami memakai

rimpu colo. Dimana bagian muka semua terbuka.

Caranya pun hampir sama. Sedangkan untuk

membuat rok, sarung yang ada cukup dililitkan pada

bagian perut dan membentuknya seperti rok dan

kemudian mentangkupkan pada bagian kanan dan

kiri pinggang.

Adanya perbedaan penggunaan rimpu antara

yang masih gadis dengan yang telah bersuami,

secara tidak langsung menjelaskan pada masyarakat

terutama kaum pria tentang status wanita pada

zaman itu. Bagi kaum pria terutama yang masih

lajang, melihat mereka yang mengenakan rimpu

mpida merupakan pertanda baik. Apalagi, jika pria

lajang tersebut sudah berkeinginan untuk segera

berumah tangga. Dengan sendirinya, pria-pria lajang

akan mencari tau keberadaan gadis incarannya dari

sarung yang dikenakannya.

Seiring perkembangan zaman, keberadaan

rimpu hampir terlupakan. Malah, beberapa tahun

terakhir, sebagian besar masyarakat Bima yang

(3)

_______________________________________

http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013

beragama Islam beralih mengenakan jilbab dengan

trend mode yang bermunculan. Parahnya,

generasi-generasi sekarang sudah banyak yang tak mengenal

rimpu. Kalaupun ada, mereka tak mengerti cara

penggunaannya.

Wanita

Bima

masa

kini

menganggap orang yang mengenakan rimpu sebagai

wanita kolot dan kampungan. Saat ini, wanita Bima

yang mengenakan Rimpu masih bisa ditemukan di

daerah-daerah seperti di Kecamatan Wawo, Sape,

Lambitu, Wilayah Kae (Palibelo, Belo, Woha dan

Monta), juga di Kecamatan Sanggar dan Tambora

Kabupaten Bima.

Tidak ada alasan untuk tidak melestarikan

budaya rimpu ini dan sudah sepatutnya ada sebuah

kebijakan

yang

menunjang

pelestariannya.

Pemerintah Bima seharusnya mulai memikirkan

upaya tersebut, paling tidak sebuah kebijakan pada

hari tertentu agar wanita Bima mengenakan busana

harian Rimpu patut dipertimbangkan sehingga

berdampak pula pada peningkatan pendapatan sektor

industri rumahan khususnya tenunan tradisional

Bima

PEMBAHASAN

a.

Kajian Estetika

Secara etimologis estetika berasal dari bahasa

Yunani yaitu aestheta, yang juga di turunkan dari

aisthe (hal-hal yang dapat di tanggapi dengan indra,

tanggapan indra (Kuta Ratna, 2006: 3-4). Dalam

bahasa Inggris menjadi aesthetics yaitu studi tentang

keindahan . Dalam bahasa Indonesia menjadi

estetika yang berarti ilmu tentang keindahan.

Kajian estetik dapat di lakukan dengan 2 cara

yaitu : 1).

Pendekatan melalui filsafat seni dan

2). Pendekatan melalui kritik seni. Menurut

Mulyadi

dalam

Artikel

Ilmiah

Metode

Perancangan Model Kajian Estetika (2002: 2)

bahwa pendekatan melalui filsafat seni adalah

obyek desain yang dapat diamati sebagai

sesuatu yang mengandung makna simbolik,

makna sosial, makna budaya, makna keindahan,

makna ekonomi, makna penyadaran, ataupun

makna relegi. Sedangkan pendekatan melalui

kritik

seni

adalah

pendekatan

dengan

memahami, menganalisis karya sastra dengan

menitikberatkan pada unsur instrinsik dan

ektrinsik.

Kajian estetika ini diarahkan pada budaya

rimpu masyarakat Bima yang dinilai secara estetik

merupakan pakaian yang menyerupai ninja dan

dipakai sebagai kerudung dengan menggunakan

sarung nggoli (bahasa Bima) yang merupakan

simbol dan identitas perempuan Bima jaman dulu

hingga sekarang. Rimpu ini memiliki nilai estetika

tersendiri bagi pemakainya,karena dilihat dari bahan,

motif, serta warna sarung atau tembe nggoli yang di

gunakan oleh perempuan Bima, ketika menghadiri

acara-acara ritual dan budaya masyarakat Bima pada

khususnya.

Estetika budaya rimpu ini memang sudah

berakar di masyarakat, namun karena adanya

globalisasi dan modernisasi, maka nilai –nilai

estetika rimpu sudah bergeser pada nilai-nilai

moderen, salah satunya adalah rimpu sudah diganti

dengan pakaian moderen seperti jilbab, kerudung,

atau model-model lainya.

b.

Kajian Relegiulitas

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia relegi

artinya kepercayaan kepada Tuhan. Sedangkan

Relegiulitas artinya pengabdian terhadap agama

(2005:943).Ada dua alasan utama kenapa agama

Islam dapat lebih mudah diterima di Bima. Pertama,

sebelum diberlakukannya secara resmi sebagai

agama kerajaan, masyarakat Bima sudah lebih dulu

mengenal agama Islam melalui para penyiar agama

dari tanah Jawa, Melayu bahkan dari para pedagang

Gujarat dari India dan Arab di Sape pada tahun 1609

M, yang awalnya dianut oleh masyarakat pesisir.

Kedua, tentu saja peran yang penting adalah

peralihan dari masa kerajaan kepada masa

kesultanan yang kemudian secara resmi menjadikan

agama Islam sebagai agama yang umum dianut oleh

masyarakat Bima. Letak Bima yang strategis sangat

mendukung sebagai jalur perdagangan antar daerah

bahkan sebagai jalur transportasi perdagangan laut

internasional, yang didukung dengan keberadaan

Pelabuhan Sape.

Sebagai sultan pertama, diangkatlah Sultan

Abdul Kahir pada tanggal 5 Juli 1620 M. Kehadiran

sultan pertama ini memiliki pengaruh yang besar dan

luas sehingga penyebaran agama Islam begitu cepat

di seluruh pelosok tanah Bima, kecuali di

daerah-daerah tertentu seperti di Donggo yang masih

bertahan pada kepercayaan nenek moyang. Selain

Donggo, Wawo juga termasuk sebagian daerahnya

masih bertahan pada kepercayaan nenek moyang.

Akan tetapi pada beberapa generasi berikutnya

mereka mulai menerima Islam, karena makin

sulitnya arus komunikasi terbatas internal yang

mereka lakukan sesamanya serta makin meluasnya

arus komunikasi masyarakat yang beragama Islam.

Sekarang, bahkan di daerah-daerah yang dulu

memegang kuat adat nenek moyang, hampir tidak

dapat dibedakan antara Islam dengan budaya

setempat.

Dalam kehidupan yang demikian Islami

tersebut, muncul satu ikrar setia pada Islam dalam

bentuk ikrar yang berbunyi “Mori ro made na Dou

Mbojo ede kai hukum Islam-ku” yang berarti “Hidup

(4)

_______________________________________________

Volume 7, No. 3, Mei 2013 http://www.lpsdimataram.com

dan matinya orang Bima harus dengan hukum

Islam”. Untuk menguatkan ikrar ini, bahkan sejak

masa kesultanan telah dibentuk sebuah majelis yang

dikenal dengan Hadat Tanah Bima, yang bertugas

dan bertanggung jawab selain sebagai sarana

penyiaran dan penyebaran Islam juga sebagai

penentu

segala

kebijakan

kesultanan

yang

berdasarkan Islam dan kitabnya.

Penyebaran yang demikian pesat ini juga

diiringi dengan berkembangnya berbagai pusat

pendidikan dan pengajaran Islam, serta

masjid-masjid selalu menghiasi di setiap desa dan kampung

tanah Bima. Pusat-pusat pengajaran Islam tidak

hanya berkembang melalui pesantren, bahkan

berkembang dari rumah ke rumah, terbukti dengan

menjamurnya tempat pengajian di rumah-rumah

yang menggema dan melantunkan ayat-ayat suci

Al-Quran di setiap sore dan malam hari.

Manfaat dan Peran Budaya Rimpu Dalam

Keseharian Masyarakat Bima. Manfaat dan peran

rimpu bagi masyarakat Bima, tidak hanya terbatas

sebagai lambang atau ciri khas masyarakat Bima

saja. Tetapi juga ada alasan lain, yang mengharuskan

terus terjaganya rimpu, yaitu:

1.

Alasan Teologis

Dalam al Qur’an ada tiga ayat yang khusus

berkenaan dengan wacana pembatasan diri dan cara

berpakain muslimah yaitu al Ahzab (33: 53, 59) dan

an Nur (24:31). Al Ahzab ayat 53 adalah ayat

tentang hijab yang oleh sebagian kalangan dianggap

sebagai perintah khusus untuk isteri Nabi. Lagipula

hijab sebenarnya berarti satir atau pembatas bukan

bermakna spesifik jilbab atau penutup kepala.

2.

Alasan sosiologis

Salah satu alasan yang dikemukakan oleh

pihak-pihak yang tidak pro jilbab adalah bahwa

jilbab adalah budaya Arab dan selayaknya Islam

tidak diidentikan dengan Arab. Lalu mereka

berkesimpulan jilbab tentu saja tidak harus menjadi

pakaian muslimah Indonesia. Menurut hemat saya,

pendapat ini tidak harus diartikan bahwa kita lalu

tidak perlu menutup aurat sebagaimana yang

dikehendaki oleh ajaran Islam, tetapi hendaknya

umat Islam di belahan dunia manapun mampu

menterjemahkan ajaran agamanya sesuai dengan

konteks ruang dan waktu. Pada point inilah rimpu

menemukan arti pentingnya. Rimpu adalah kearifan

lokal masyarakat Bima yang ingin menterjemahkan

nilai agamanya ke dalam budaya mereka sendiri

sehingga agama itu lalu melekat dan tidak

terpisahkan dari budaya. Sehingga teori Receptio in

Complexu yang dikemukakan oleh sarjana Belanda

(Van den Berg) bahwa adat di Indonesia akan

berlaku apabila sesuai dengan ajaran agama (Islam)

benar-benar merupakan cerminan nyata kehidupan

masyarakat Indonesia. ni merupakan tantangan

sekaligus peluang. Di satu sisi, masyarakat

Indonesia dan Bima khususnya, tertantang untuk

mengawinkan dan mempertahankan tradisi di dalam

bingkai agama. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri

bahwa nama besar Arab sebagai negara dan tempat

di mana Islam diturunkan tetap membayangi

pemahaman keagamaan sebagian orang. Ketika

penulis mengadakan interview dan penelitian

kecil-kecilan

mengenai

kenapa

rimpu

semakin

menghilang di dana Mbojo tercinta, sebagian besar

responden berargumen bahwa rimpu out of date,

tidak praktis dan tidak simple dipakai. Lebih baik

memakai jilbab yang lebih islami dan lebih modis.

Dari jawaban itu, saya lalu berpikir bahwa kalau

mau jujur, bentuk jilbab yang sekarang dipakai oleh

sebagian besar muslimah Indonesia juga tidaklah

persis sama dengan jilbab yang dipakai oleh

muslimah Arab. Telah terjadi modifikasi sedemikian

rupa yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat

dimana pakaian itu digunakan. Jilbab untuk pakaian

kantor agak berbeda dengan jilbab yang dipakai

untuk pengajian. Nah, kalau mau, kenapa bukan

rimpu saja yang dimodifikasi? Ide dasarnya rimpu

dan penutup dus, sarung, dus, muna tapi

penampilannya

bolehlah

disesuaikan

dengan

kebutuhan.

3.

Alasan Teoritis

Banyak pihak yang mengidentikan kebebasan

dengan feminism atau bersembunyi di balik nama

feminism demi kebebasan, dan lalu berkilah bahwa

jilbab tidak perlu dan itu hanyalah sebuah lambang

ketertindasan wanita. Pendapat tersebut bisa salah

dan bisa benar sesuai dengan konteksnya. Sebab

yang saya tahu, tidak semua feminis menginginkan

kebebasan

sebagai

bentuk

pemberdayaan

perempuan, apalagi feminis yang terbungkus oleh

agama

khususnya

Islam.

Akan halnya hubungan pemahaman feminis dengan

penampilan wanita adalah sangat terkait erat dengan

wacana

kontrol

tubuh

versus

objektifikasi

perempuan dalam dunia patriarkhi. Yang menjadi

issu penting bagi feminis adalah bagaimana wanita

bisa secara sadar menentang pemanfaatan tubuh

wanita sebagai obyek. Nah, lagi-lagi ini sangat

tergantung dari budaya dan tradisi lokal. Di dunia

barat

penentangan

terhadap

objektifikasi

itu

dilakukan

dengan

cara

buka-bukaan

untuk

menunjukkan bahwa wanita sangat berhak terhadap

tubuhnya sendiri sehingga mereka berhak untuk

melakukan apapun tanpa intervensi pihak luar. Di

sini individualitas sangat berperan.Terlebih bagi

konteks Indonesia yang masih menganggap budaya

buka-bukaan sebagai sesuatu yang tidak wajar.

Tentang wacana jilbab, aurat, dan kebebasan ini,

(5)

_______________________________________

http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013

pertanyaan besar bagi para feminis adalah apakah

wanita dengan penuh kesadaran memilih pakaian itu

ataukah dengan pemaksaan pihak luar yang

berkedok pelembagaan agama padahal agama

dianggap sebagai sesuatu yang sangat private.

Keinginan para pejuang feminis sesungguhnya

adalah pilihan sadar wanita tanpa dipengaruhi oleh

pihak lain. Itulah sebabnya kenapa para feminis

Barat (feminis sekuler) memandang bahwa hijab di

dunia Islam khususnya Arab sebagai bentuk

penindasan wanita, karena di sana wanita diharuskan

memakai jilbab tanpa kesadaran yang tumbuh secara

alami dari dalam. Wanita lalu dianggap tidak punya

power untuk menentukan pilihannya sendiri. Dalam

konteks Indonesia di mana jilbab menjadi sesuatu

yang harus diperjuangkan dengan segenap raga

untuk diakui sebagaimana yang terjadi pada zaman

orde

baru,

tentu

saja

sangat

berbeda.

Muslimah Indonesia harus rela di caci, dikeluarkan

dari sekolah, tidak diterima pada lembaga-lembaga

tertentu untuk bekerja, dipanggil ninja, dianggap

bersembunyi di balik jilbab padahal pencuri di pasar

(kejadian pada tahun 1980-an kalau tidak salah)

untuk lalu bisa berekspresi dengan jilbab seperti

sekarang.

Muslimah Indonesia memakai jilbab atas

kesadaran yang tumbuh dari dalam, tidak ada

keharusan secara kelembagaan, tidak juga secara

formal yuridis. Kalaupun sekarang muncul semangat

untuk memformalisasi jilbab di beberapa daerah di

Indonesia, itu telah didahului oleh perjalanan

panjang dan hanya upaya meningkatkan, kesadaran

hukum muslimah Indonesia. Di titik ini pulalah

rimpu menemukan substansinya. Rimpu hendaknya

tidak hanya dipandang sebagai simbol yang

menekan kebebasan wanita, tapi justru harus

dipandang sebagai upaya wanita Bima mengontrol

dirinya, memperlakuan tubuhnya menjadi sesuatu

yang bernilai dan terhormat, melawan arus

hegemoni patriarkhi, objektifikasi dan komodifikasi

tubuh wanita.

Di saat meruaknya cara menilai wanita dari

kemolekan tubuhnya, di tengah gencarnya media

dan dunia mendefinisikan wanita hanya dari nilai

keseksian penampilannya, wanita Bima seharusnya

ingin

menutup

tubuhnya

rapat-rapat

dengan

kreatifitas yang mereka ciptakan sendiri. Mereka

sendirilah yang muna (menenun), mereka sendirilah

yang memakai. Dan dalam sejarah kesultanan Bima,

yang saya tahu, tidak pernah ada perintah secara

formal bahwa wanita Bima diharuskan memakai

rimpu. Rimpu benar-benar tumbuh secara alami dan

penuh kesadaran.

4.

Sebab-Sebab Pudarnya Budaya Rimpu di

Kalangan Masyarakat Bima Dewasa Ini.

Dana Mbojo (Bima) merupakan suatu daerah

yang kaya akan budaya dan adat-istiadat, yang

merupakan ciri khas dari masyarakat Bima itu

sendiri. Tetapi dewasa ini adat-istiadat tersebut

perlahan-lahan mulai luntur, dan sulit untuk

ditemukan. Sehingga tidak mengherankan banyak

anak-anak atau para remaja Bima yang tidak

mengetahui budayanya sendiri. Keadaan ini tentu

sangat memperihatinkan, karena adat-istiadat dan

budaya yang diwariskan secara turun temurun

tersebut tak ternilai harganya. Akan sangat sangat

disayangkan bila harus hilang begitu saja, karena

adat-istiadat dan budaya merupakan ciri khas suatu

suku. Dan Indonesia merupakan bangsa yang

terkenal karena kaya akan adat-istiadat yang berbeda

pada tiap-tiap daerah dan suku. Salah satu yang

menjadi sorotan dari adat-istiadat masyarakat Bima

yang sekarang mulai memudar dan berangsur-angsur

hilang adalah budaya rimpu. Budaya rimpu

merupakan cara berpakaian yang merupakan ciri

khas masyarakat Bima. Rimpu adalah juga sebuah

identitas.

Saat sekarang ini budaya rimpu mulai terkikis

oleh kecenderungan globalisasi, modernisasi, dan

sekularisasi. Alasan itu tentu berkaitan dan tidak

terpisahkan dan terutama bersumber dari alasan

teologis. Nilai mendasar yang terkandung dalam

etika

berpakaian

wanita

muslimah

yaitu:

pembatasan, kesopanan, dan identitas. Di sinilah

simpul di mana rimpu menemukan nilainya. Rimpu

merengkuh ketiga nilai yang diamanatkan oleh

Al-Qur’an itu. Rimpu adalah sebuah pembatasan bagi

diri wanita Bima untuk tidak melakukan hal-hal di

luar kemampuannya sebagai seorang wanita. Juga

membatasi diri dari pengaruh pandangan-pandangan

yang menjadikan wanita sebagai obyek. Lagi-lagi ini

sangat tergantung dari budaya dan tradisi lokal. Di

dunia barat penentangan terhadap objektifikasi itu

dilakukan

dengan

cara

buka-bukaan

untuk

menunjukkan bahwa wanita sangat berhak terhadap

tubuhnya sendiri sehingga mereka berhak untuk

melakukan apapun tanpa intervensi pihak luar. Di

sini individualitas sangat berperan. Tetapi ini sama

sekali tidak sesuai, terlebih bagi konteks Indonesia

yang masih menganggap budaya buka-bukaan

sebagai sesuatu yang tidak wajar.

Rimpu adalah kearifan lokal masyarakat Bima

yang ingin menterjemahkan nilai agamanya ke

dalam budaya mereka sendiri sehingga agama itu

lalu melekat dan tidak terpisahkan dari budaya.

Sehingga teori Receptio in Complexu yang

dikemukakan oleh sarjana Belanda (Van den Berg)

bahwa adat di Indonesia akan berlaku apabila sesuai

dengan

ajaran

agama

(Islam)

benar-benar

merupakan cerminan nyata kehidupan masyarakat

Indonesia

(6)

_______________________________________________

Volume 7, No. 3, Mei 2013 http://www.lpsdimataram.com

Rimpu juga adalah sebuah bentuk pakaian yang

sopan. Tentu makna kesopanan sangat relatif

tergantung

bagaimana

masyarakat

setempat

memaknainya, seperti contoh pada suku Asmat di

Irian Jaya, kesopanan tidak dinilai dari pakaian.

Wanita dan laki-laki bebas bertelanjang dan hanya

satu bagian saja dari tubuh mereka yang terbalut

pakaian. Itulah yang disepakati oleh mereka. Tapi

fakta tersebut tentu saja suatu perkecualian. Pada

konteks Indonesia secara umum, Bima khususnya,

kesopanan masih juga dinilai, salah satunya, dari

cara berpakaian dan berpenampilan.

Dengan menghidupkan kembali rimpu dan lalu

mempertahankannya, budaya lokal tetaplah terjaga,

yang saya yakin sepenuhnya pasti punya dampak

secara ekonomis, dan juga sebuah kebanggaan

identitas, dan sangat positif bagi pariwisata budaya.

Tentu masih banyak lagi dampak lain yang patut

dikalkulasi. Lebih-lebih di tengah gencarnya arus

globalisasi dewasa ini, penemuan kembali budaya

lokal sebagai wujud kecintaan terhadap tradisi dan

sebagai upaya untuk mempertahankan identitas

adalah sesuatu yang harus dilakukan.

Konon, dulu, untuk membedakan wanita yang

masih gadis dan sudah berumah tangga, cukup

melihat dari cara mereka memakai rimpu. Rimpu

mpida di mana hanya mata yang kelihatan dipakai

biasanya oleh gadis, sementara rimpu colo yang

menampakkan seluruh bagian muka biasanya

dikenakan oleh ibu rumah tangga. Jadi, rimpu

benar-benar sebuah kreatifitas budaya yang dilandasi oleh

kesadaran agama yang begitu tinggi. Dahulu,

Perempuan-perempuan Mbojo enggan untuk keluar

rumah jika tidak mengenakan Rimpu, ia tidak saja

budaya tapi implementasi dari syariat islam. Budaya

rimpu bagi kaum hawa di masyarakat Bima memang

secara

perlahan

mulai

redup

dan

semakin

menunjukan tanda bahwa budaya ini akan menjadi

memori masa lalu. Sekarang memang tinggal

pertanyaan

kemana

budaya

rimpu

tersebut?

Mungkin rimpu hanyalah sebuah warisan turun

temurun yang tidak begitu berharga, bahkan cukup

aneh untuk dianut jaman ini.

Namun perjalanan roda jaman memang terlalu

cepat berputar pengaruh modernisasi dan trend masa

kini telah melanda daerah Bima, ini terlihat dari

corak dan mode yang di pakai kaum hawa saat ini

dan begitu juga modernisasi harus mengedepankan

nilai-nilai budaya,moral, nilai relegius. Suatu

pemandangan yang luar biasa berubahnya karena di

kota ini kaum hawa kelihatan seperti manusia yang

tidak memakai baju karena liuk-liuk tubuhnya yang

seksi kelihatan sangat jelas dan tentu saja ini bisa

menimbulkan birahi kaum adam apalagi bagi kaum

laki-laki, Ini semua adalah korban dari keganasan

jaman yang makin modern dan dibarengi dengan si

pelaku

yang

tidak

mau

menyaring

serta

mengklarifikasi baik atau tidaknya dan bertentangan

dengan budaya serta sesuai dengan ketentuan

agama. Hasil penelitian yang di lakukan ternyata

representasi pergeseran nilai –nilai karakter pada

gadis mbojo atau siwe mbojo antara lain; tidak lagi

menggunakan rimpu ini sebagai pakaian adat

masyarakat,namun sudah beralih ke pakaian

moderen seperti jlbab dan lain-lain.

Berkaitan dengan itu ada beberapa hal yang

mempengaruhi bergesernya budaya rimpu ini pada

masyarakat antara lain :

Terinspirasi dengan budaya barat yang tidak

sesuai dengan budaya dan cultur masyarakat

Bima

Masyarakat Bima sekarang tidak menyadari

akan hilangnya nilai-nilai budaya Bima

Dengan

menggunakan

rimpu

dianggap

ketinggalan jaman

Masyarakat Bima sekarang sudah sangat

multikultural dalam kehidupan sehari-hari

Dengan realita yang ada orang Bima harus

mempertahankan kembali Budaya Rimpu yang

pernah ada di daerah Bima , karena ketika salah satu

budaya telah mati atau hampir punah maka

budaya-budaya dan kebiasaan lainnya pun akan hilang

dengan sendirinya.

PENUTUP

Wanita Bima saat ini sudah banyak memakai

jilbab untuk pakaian sehari-hari.Sedangkan rimpu

adalah lambang, bukan substansi. Substansi tetaplah

lebih penting ketimbang lambang yang tanpa makna.

Tetapi sebagai sebuah syi’ar, lambang itu tetap juga

harus dikedepankan. Wanita bertanggung jawab

dengan menjaga penampilannya, sementara laki-laki

bertanggung jawab dengan menjaga pandangannya.

Keduanya harus berjalan secara simultan. Pakaian

rimpu di lihat dari segi cara dan penggunaannya

memiliki nilai estetik yang tinggi terutama dari segi

bobot,wujud dan penampilan. Perempuan Bima yang

selalu mengenakan rimpu dan tahu jelas identitasnya

tanpa harus berlindung dibalik identitas orang lain.

Namun demikian, kita jangan lantas berputus asa

dan membiarkan budaya manis dan bernilai ini

hilang ditelan waktu seiring dengan perkembangan

zaman, tapi mari kita bangkit dan bangunkan

kembali. Kita dapat memulainya dari keluarga kita

sendiri. Wanita Bima, juga tidak seharusnya latah,

bersembunyi di balik ide kebebasan, liberalisme,

sekularisme, feminisme dan isme-isme yang lain

hanya untuk melepaskan tanggung jawab itu. Mari

semua

pihak

berjalan

bersama

menjalankan

fungsinya masing-masing.

(7)

_______________________________________

http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013

Saya yakin dengan sebuah komitmen dan awal

yang baik dari masing-masing keluarga, budaya

rimpu ini bisa terbangun kembali. Haruskah kita

menunggu negara lain menggali sejarah budaya kita

yang kemudian mereka adopsi dan menjadikan itu

sebagai warisan nenek moyang mereka. Namun

semoga rimpu yang dulu melekat dan begitu

memikat namun akhirnya mangkat, smoga bisa jadi

simbol bahwa perempuan Bima menjadi terhormat,

menjaga aura dan aurat.

DAFTAR PUSTAKA

Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Barat edisi II

1997.Mataram: CV.Eka Darma

Afrianti.2002. Skripsi. Tradisi Rimpu dalam

Masyarakat Mbojo di Desa Naru Kecamatan

Sape Kabupaten Bima (Kajian Budaya

terhadap Makna dan Tujuan Rimpu).

Barker. Chris.2005. Culture Stadies Teori dan

Praktek. Yogyakarta : PT Bentang Pustaka

Edi Mulyadi, 2002. Artikel Ilmiah. Metode

Perancangan Model Pengkajian Estetika

Jurnal Pengembangan Pendidikan Budaya dan

karakter

Bangsa

dari

kementerian

Pendidikan Nasional Tahun 2010.

Koentjoraningrat, 2004. Teori, Metode, dan Tehnik

Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka

Pelajar

Ratna, Kuta, 2007. Estetika Sastra dan Budaya.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ratna, Kuta, 2003. Paradigma Sosiologi Sastra.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Referensi

Dokumen terkait

biopsikososial harusnya digunakan dalam melakukan penanganan LBP kronis dan pemberian latihan pada pasien merupakan rekomendasi terbaik, akan tetapi pada prakteknya

Percobaan pertama yaitu perlakuan berupa pemberian ekstrak segar teripang yang baru diformulasikan pada media pemeliharaan larva udang galah dan percobaan kedua yaitu

terpengaruh oleh kepentingan pribadi dalam penyusunan perencanaan pengawasan dengan cara mengalokasikan auditor yang telah melakukan kegiatan pengawasan selama 3

9 tahun 2000, tentang Pemerintahan Nagari, LAN (Lembaga Adat Nagari) atau dengan nama lain (Kerapatan Adat Nagari) ditetapkan pula sebagai salah satu organ

Antagonis reseptor muskarinik menyekat efek asetilkolin dengan memblok ikatan ACh dan reseptor kolinergik muskarinik pada neuroefektor yang terdapat pada otot

Dari penelitian yang telah dilakukan, maka secara garis besar telah menjawab masalah dan sub masalah yang terdapat dalam penelitian ini, antara lain: Permasalahan pertama

Dalam Temu Alumni yang dihelat di Hotel Padjajaran tersebut, beberapa kontingen UNAIR juga berkesempatan untuk mempresentasikan karyanya di hadapan para alumni.. Nasih menjelaskan

Dengan tetap mengacu pada visi dan misi Universitas serta mengacu pada aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu; Akademik, Penelitian dan Pengabdian kepada M asyarakat