_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013
ESTETIKA BUDAYA RIMPU PADA MASYARAKAT BIMA
“ KAJIAN RELEGIULITAS”
Oleh
Siti Lamusiah
Dosen FKIP UMM
Abstrak Dalam wacana estetika dunia, terdapat cara pandang yang berbeda antara pemikir Barat dengan
pemikir Islam. Pemikir Barat moderen memiliki kecenderungan menata nilai-nilai estetika ke arah
bagaimana manusia yang mendunia yang diwujudkan dengan bentuk praksis dengan karya-karya seni yang
menggugah pancaindera dan juga menggelitik aspek-aspek psikologis manusia, sedangkan dalam nilai-nilai
estetik Islam memiliki kecenderungan untuk menghampakan dunia Ada beberapa alasan mendasar bagi
keharusan terjaganya rimpu dari pengikisan budaya oleh kecenderungan globalisasi, modernisasi, dan
sekularisasi. Rimpu juga adalah sebuah bentuk pakaian yang sopan yang merupakan sebuah representasi
perempuan Bima dalam kehidupan sehari-hari. Tentu makna kesopanan sangat relatif tergantung bagaima
situation Dan konteks pada setiap daerah. Tidak ada alasan untuk tidak melestarikan budaya rimpu ini dan
sudah sepatutnya ada sebuah kebijakan yang menunjang pelestariannya. Pemerintah Bima seharusnya mulai
memikirkan upaya teresbut, paling tidak sebuah kebijakan pada hari tertentu agar wanita Bima mengenakan
busana harian Rimpu patut dipertimbangkan sehingga berdampak pula pada peningkatan pendapatan sektor
industri rumahan khususnya tenunan tradisional Bima. Berkaitan dengan itu ada beberapa hal yang
mempengaruhi bergesernya budaya rimpu ini pada masyarakat antara lain : terinspirasi dengan budaya barat
yang tidak sesuai dengan budaya dan cultur masyarakat Bima, masyarakat Bima sekarang tidak menyadari
akan hilangnya nilai-nilai budaya Bima, dengan menggunakan rimpu dianggap ketinggalan jaman,
masyarakat Bima sekarang sudah sangat multikultural dalam kehidupan sehari-hari. Dengan realita yang
ada orang Bima harus mempertahankan kembali Budaya Rimpu yang pernah ada di daerah Bima, karena
ketika salah satu budaya telah mati atau hampir punah maka budaya-budaya dan kebiasaan lainnya pun akan
hilang dengan sendirinya.
Kata kunci : Estetika, Budaya Rimpu, Relegiulitas.
PENDAHULUAN
Di Indonesia, nilai-nilai estetika klasik
memiliki keterkaitan dengan kedalaman rasa dan
kehalusan
budi,
yang
kemudian
melahirkan
kesantunan, kearifan,kebahagiaan, kemaslahatan,
dan juga kesusilaan yang dijunjung tinggi. Para
pemikir estetika yang menekankan keluhuran budi
selalu berkaitan dengan proses pendidikan manusia
untuk lebih baik dari pada sebelumnya melalui
proses penyadaran atau proses pembelajaran
(Sachari,2002 :38).
Masyarakat Bima yang sekarang kita kenal
merupakan perpaduan dari berbagai suku, etnis dan
budaya yang hampir menyebar di seluruh pelosok
tanah air. Akan tetapi pembentukan masyarakat
Bima yang lebih dominan adalah berasal dari
imigrasi yang dilakukan oleh etnis di sekitar Bima.
Karena beragamnya etnis dan budaya yang masuk di
Bima, maka tak heran agama pun cukup beragam
meskipun 90% lebih masyarakat Bima sekarang
beragama Islam.
Dana Mbojo (Bima) merupakan suatu daerah
yang kaya akan budaya dan adat-istiadat, yang
merupakan ciri khas dari masyarakat Bima itu
sendiri. Tetapi dewasa ini adat-istiadat tersebut
perlahan-lahan mulai luntur, dan sulit untuk
ditemukan. Sehingga tidak mengherankan banyak
anak-anak atau para remaja Bima yang tidak
mengetahui budayanya sendiri. Keadaan ini tentu
sangat memperihatinkan, karena adat-istiadat dan
budaya yang diwariskan secara turun temurun
tersebut tak ternilai harganya. Akan sangat
disayangkan bila harus hilang begitu saja, karena
adat-istiadat dan budaya merupakan ciri khas suatu
suku. Dan Indonesia merupakan bangsa yang
terkenal karena kaya akan adat-istiadat yang berbeda
pada tiap-tiap daerah dan suku. Salah satu yang
menjadi sorotan dari adat-istiadat masyarakat Bima
yang sekarang mulai memudar dan berangsur-angsur
hilang adalah budaya rimpu. Budaya rimpu
merupakan cara berpakaian yang merupakan ciri
khas masyarakat Bima. Rimpu adalah juga sebuah
identitas.
Ada beberapa alasan mendasar bagi keharusan
terjaganya rimpu dari pengikisan budaya oleh
kecenderungan
globalisasi,
modernisasi,
dan
sekularisasi. Rimpu juga adalah sebuah bentuk
_______________________________________________
Volume 7, No. 3, Mei 2013 http://www.lpsdimataram.com
pakaian yang sopan yang merupakan sebuah
representasi siwe mbojo dalam kehidupan
sehari-hari. Tentu makna kesopanan sangat relatif
tergantung
bagaimana
masyarakat
setempat
memaknainya, seperti contoh pada suku Asmat di
Irian Jaya, kesopanan tidak dinilai dari pakaian.
Wanita dan laki-laki bebas bertelanjang dan hanya
satu bagian saja dari tubuh mereka yang terbalut
pakaian. Itulah yang disepakati oleh mereka. Tapi
fakta tersebut tentu saja suatu perkecualian. Pada
konteks Indonesia secara umum, Bima khususnya,
kesopanan masih juga dinilai, salah satunya, dari
cara
berpakaian
dan
berpenampilan.
Rimpu
memiliki nilai estetis tersendiri bagi masyarakat
Bima, sejak jaman dulu rimpu ini adalah salah satu
pakaian yang indah dari segi motif,bahan dan juga
keindahan dan keunikan dari cara berpakaian.
Salah satu penilaian masyarakat terhadap siwe
Mbajo atau gadis Bima adalah dilihat dan dinilai
dari cara berpakaian, karena representasi dari norma
dan sopan santun ada hubungannya dengan karakter
gadis yang bersangkutan. Siwe Mbojo biasanya
sangat kental dengan karakter dan cara berpakaian
sehari-hari ketika keluar rumah. Bentuk karakter
yang muncul ketika siwe Mbojo menggunakan
rimpu sebagai salah satu budaya yang turun temurun
adalah karakter sopan santun,sosial, budaya dan juga
relegius.
Rimpu
merupakan
busana
adat
harian
tradisional yang berkembang pada masa kesultanan,
sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima.
Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam
di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan
dengan 5 Juli 1640.
Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan
masuknya Islam ke Kabupaten bermotokan Maja
Labo Dahu ini. Pedagang Islam yang datang ke
Bima terutama wanita Arab menjadi inspirasi kuat
bagi wanita Bima untuk mengidentikkan pakaian
mereka dengan menggunakan rimpu.
Menurut sejarawan Bima, M. Hilir Ismail,
keberadaan rimpu juga tak lepas dari upaya
pemerintah
(masa
Sultan
Nuruddin)
untuk
memanfaatkan kain sarung atau kain tenun Bima
yang sudah lama dikenal bahkan menjadi komoditi
perdagangan dunia yang sangat laris sekitar abad 13
lampau. Sebab, pada masa itu, dou mbojo
memanfaatkan melimpahnya tanaman kapas untuk
dijadikan kain tenun yang menjadi komoditi
perdagangan yang terjual hingga ke negeri Cina.
Sejak saat itu, semua wanita yang sudah akil baliq
diwajibkan
memakai
rimpu
apabila
hendak
bepergian meninggalkan rumah dan keluarganya
untuk sesuatu urusan. Kalau tidak, berarti sudah
melanggar hukum agama dan adat pada saat itu.
“Hukumannya lebih kepada hukuman moral. Orang
yang melanggar dengan sendirinya akan merasa
malu”, ujarnya.
Keterangan Hilir diperkuat lagi oleh Nur
Farhaty Ghani, dari Forum Perempuan (ForPuan)
Bima. Menurutnya, rimpu merupakan bagian dari
identitas wanita Bima pada masa Islam baru
berkembang di Bima. “Zaman dulu, wanita Bima
dengan bangga memakai rimpu untuk menunjukkan
ke khalayak bahwa mereka sudah bisa menenun dan
kain yang mereka gunakan adalah hasil karya
sendiri,” paparnya. Menurutnya, memakai rimpu
pada masa itu semacam show (pertunjukan). “Ini loh
kain hasil tenun saya. Saya sudah bisa menenun,”
contohnya :keeratan hubungan rimpu dengan
perkembangan Islam pada masa itu tampak jelas.
Dari keterangan pelaku sejarah, wanita Bima yang
hidup pada masa itu memandang tersingkapnya
aurat mereka sebagai aib. Siapapun lelaki baik
sengaja atau tidak melihat aurat mereka, pria
tersebut wajib menikahinya. “Dengan tersingkapnya
betis saja, wanita zaman dulu sudah merasa malu
dan segera minta nikah. Mereka menganggap itu
sebagai bentuk pelecehan (aib) terhadap wanita,”
paparnya.
Rimpu merupakan busana yang terbuat dari dua
lembar sarung yang bertujuan untuk menutup
seluruh bagian tubuh. Satu lembar untuk mernutup
kepala, satu lembar lagi sebagai pengganti rok.
Sesuai penggunaannya, rimpu bagi kaum wanita di
Bima dibedakan sesuai status. Bagi gadis, memakai
rimpu mpida—yang artinya seluruh anggota badan
terselubung kain sarung dan hanya mata yang
dibiarkan terbuka. Ini sama saja dengan penggunaan
cadar pada kaum wanita muslim. Caranya, sarung
yang ada dililit mengikuti arah kepala dan muka
bagi kaum wanita yang telah bersuami memakai
rimpu colo. Dimana bagian muka semua terbuka.
Caranya pun hampir sama. Sedangkan untuk
membuat rok, sarung yang ada cukup dililitkan pada
bagian perut dan membentuknya seperti rok dan
kemudian mentangkupkan pada bagian kanan dan
kiri pinggang.
Adanya perbedaan penggunaan rimpu antara
yang masih gadis dengan yang telah bersuami,
secara tidak langsung menjelaskan pada masyarakat
terutama kaum pria tentang status wanita pada
zaman itu. Bagi kaum pria terutama yang masih
lajang, melihat mereka yang mengenakan rimpu
mpida merupakan pertanda baik. Apalagi, jika pria
lajang tersebut sudah berkeinginan untuk segera
berumah tangga. Dengan sendirinya, pria-pria lajang
akan mencari tau keberadaan gadis incarannya dari
sarung yang dikenakannya.
Seiring perkembangan zaman, keberadaan
rimpu hampir terlupakan. Malah, beberapa tahun
terakhir, sebagian besar masyarakat Bima yang
_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013
beragama Islam beralih mengenakan jilbab dengan
trend mode yang bermunculan. Parahnya,
generasi-generasi sekarang sudah banyak yang tak mengenal
rimpu. Kalaupun ada, mereka tak mengerti cara
penggunaannya.
Wanita
Bima
masa
kini
menganggap orang yang mengenakan rimpu sebagai
wanita kolot dan kampungan. Saat ini, wanita Bima
yang mengenakan Rimpu masih bisa ditemukan di
daerah-daerah seperti di Kecamatan Wawo, Sape,
Lambitu, Wilayah Kae (Palibelo, Belo, Woha dan
Monta), juga di Kecamatan Sanggar dan Tambora
Kabupaten Bima.
Tidak ada alasan untuk tidak melestarikan
budaya rimpu ini dan sudah sepatutnya ada sebuah
kebijakan
yang
menunjang
pelestariannya.
Pemerintah Bima seharusnya mulai memikirkan
upaya tersebut, paling tidak sebuah kebijakan pada
hari tertentu agar wanita Bima mengenakan busana
harian Rimpu patut dipertimbangkan sehingga
berdampak pula pada peningkatan pendapatan sektor
industri rumahan khususnya tenunan tradisional
Bima
PEMBAHASAN
a.
Kajian Estetika
Secara etimologis estetika berasal dari bahasa
Yunani yaitu aestheta, yang juga di turunkan dari
aisthe (hal-hal yang dapat di tanggapi dengan indra,
tanggapan indra (Kuta Ratna, 2006: 3-4). Dalam
bahasa Inggris menjadi aesthetics yaitu studi tentang
keindahan . Dalam bahasa Indonesia menjadi
estetika yang berarti ilmu tentang keindahan.
Kajian estetik dapat di lakukan dengan 2 cara
yaitu : 1).
Pendekatan melalui filsafat seni dan
2). Pendekatan melalui kritik seni. Menurut
Mulyadi
dalam
Artikel
Ilmiah
Metode
Perancangan Model Kajian Estetika (2002: 2)
bahwa pendekatan melalui filsafat seni adalah
obyek desain yang dapat diamati sebagai
sesuatu yang mengandung makna simbolik,
makna sosial, makna budaya, makna keindahan,
makna ekonomi, makna penyadaran, ataupun
makna relegi. Sedangkan pendekatan melalui
kritik
seni
adalah
pendekatan
dengan
memahami, menganalisis karya sastra dengan
menitikberatkan pada unsur instrinsik dan
ektrinsik.
Kajian estetika ini diarahkan pada budaya
rimpu masyarakat Bima yang dinilai secara estetik
merupakan pakaian yang menyerupai ninja dan
dipakai sebagai kerudung dengan menggunakan
sarung nggoli (bahasa Bima) yang merupakan
simbol dan identitas perempuan Bima jaman dulu
hingga sekarang. Rimpu ini memiliki nilai estetika
tersendiri bagi pemakainya,karena dilihat dari bahan,
motif, serta warna sarung atau tembe nggoli yang di
gunakan oleh perempuan Bima, ketika menghadiri
acara-acara ritual dan budaya masyarakat Bima pada
khususnya.
Estetika budaya rimpu ini memang sudah
berakar di masyarakat, namun karena adanya
globalisasi dan modernisasi, maka nilai –nilai
estetika rimpu sudah bergeser pada nilai-nilai
moderen, salah satunya adalah rimpu sudah diganti
dengan pakaian moderen seperti jilbab, kerudung,
atau model-model lainya.
b.
Kajian Relegiulitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia relegi
artinya kepercayaan kepada Tuhan. Sedangkan
Relegiulitas artinya pengabdian terhadap agama
(2005:943).Ada dua alasan utama kenapa agama
Islam dapat lebih mudah diterima di Bima. Pertama,
sebelum diberlakukannya secara resmi sebagai
agama kerajaan, masyarakat Bima sudah lebih dulu
mengenal agama Islam melalui para penyiar agama
dari tanah Jawa, Melayu bahkan dari para pedagang
Gujarat dari India dan Arab di Sape pada tahun 1609
M, yang awalnya dianut oleh masyarakat pesisir.
Kedua, tentu saja peran yang penting adalah
peralihan dari masa kerajaan kepada masa
kesultanan yang kemudian secara resmi menjadikan
agama Islam sebagai agama yang umum dianut oleh
masyarakat Bima. Letak Bima yang strategis sangat
mendukung sebagai jalur perdagangan antar daerah
bahkan sebagai jalur transportasi perdagangan laut
internasional, yang didukung dengan keberadaan
Pelabuhan Sape.
Sebagai sultan pertama, diangkatlah Sultan
Abdul Kahir pada tanggal 5 Juli 1620 M. Kehadiran
sultan pertama ini memiliki pengaruh yang besar dan
luas sehingga penyebaran agama Islam begitu cepat
di seluruh pelosok tanah Bima, kecuali di
daerah-daerah tertentu seperti di Donggo yang masih
bertahan pada kepercayaan nenek moyang. Selain
Donggo, Wawo juga termasuk sebagian daerahnya
masih bertahan pada kepercayaan nenek moyang.
Akan tetapi pada beberapa generasi berikutnya
mereka mulai menerima Islam, karena makin
sulitnya arus komunikasi terbatas internal yang
mereka lakukan sesamanya serta makin meluasnya
arus komunikasi masyarakat yang beragama Islam.
Sekarang, bahkan di daerah-daerah yang dulu
memegang kuat adat nenek moyang, hampir tidak
dapat dibedakan antara Islam dengan budaya
setempat.
Dalam kehidupan yang demikian Islami
tersebut, muncul satu ikrar setia pada Islam dalam
bentuk ikrar yang berbunyi “Mori ro made na Dou
Mbojo ede kai hukum Islam-ku” yang berarti “Hidup
_______________________________________________
Volume 7, No. 3, Mei 2013 http://www.lpsdimataram.com
dan matinya orang Bima harus dengan hukum
Islam”. Untuk menguatkan ikrar ini, bahkan sejak
masa kesultanan telah dibentuk sebuah majelis yang
dikenal dengan Hadat Tanah Bima, yang bertugas
dan bertanggung jawab selain sebagai sarana
penyiaran dan penyebaran Islam juga sebagai
penentu
segala
kebijakan
kesultanan
yang
berdasarkan Islam dan kitabnya.
Penyebaran yang demikian pesat ini juga
diiringi dengan berkembangnya berbagai pusat
pendidikan dan pengajaran Islam, serta
masjid-masjid selalu menghiasi di setiap desa dan kampung
tanah Bima. Pusat-pusat pengajaran Islam tidak
hanya berkembang melalui pesantren, bahkan
berkembang dari rumah ke rumah, terbukti dengan
menjamurnya tempat pengajian di rumah-rumah
yang menggema dan melantunkan ayat-ayat suci
Al-Quran di setiap sore dan malam hari.
Manfaat dan Peran Budaya Rimpu Dalam
Keseharian Masyarakat Bima. Manfaat dan peran
rimpu bagi masyarakat Bima, tidak hanya terbatas
sebagai lambang atau ciri khas masyarakat Bima
saja. Tetapi juga ada alasan lain, yang mengharuskan
terus terjaganya rimpu, yaitu:
1.
Alasan Teologis
Dalam al Qur’an ada tiga ayat yang khusus
berkenaan dengan wacana pembatasan diri dan cara
berpakain muslimah yaitu al Ahzab (33: 53, 59) dan
an Nur (24:31). Al Ahzab ayat 53 adalah ayat
tentang hijab yang oleh sebagian kalangan dianggap
sebagai perintah khusus untuk isteri Nabi. Lagipula
hijab sebenarnya berarti satir atau pembatas bukan
bermakna spesifik jilbab atau penutup kepala.
2.
Alasan sosiologis
Salah satu alasan yang dikemukakan oleh
pihak-pihak yang tidak pro jilbab adalah bahwa
jilbab adalah budaya Arab dan selayaknya Islam
tidak diidentikan dengan Arab. Lalu mereka
berkesimpulan jilbab tentu saja tidak harus menjadi
pakaian muslimah Indonesia. Menurut hemat saya,
pendapat ini tidak harus diartikan bahwa kita lalu
tidak perlu menutup aurat sebagaimana yang
dikehendaki oleh ajaran Islam, tetapi hendaknya
umat Islam di belahan dunia manapun mampu
menterjemahkan ajaran agamanya sesuai dengan
konteks ruang dan waktu. Pada point inilah rimpu
menemukan arti pentingnya. Rimpu adalah kearifan
lokal masyarakat Bima yang ingin menterjemahkan
nilai agamanya ke dalam budaya mereka sendiri
sehingga agama itu lalu melekat dan tidak
terpisahkan dari budaya. Sehingga teori Receptio in
Complexu yang dikemukakan oleh sarjana Belanda
(Van den Berg) bahwa adat di Indonesia akan
berlaku apabila sesuai dengan ajaran agama (Islam)
benar-benar merupakan cerminan nyata kehidupan
masyarakat Indonesia. ni merupakan tantangan
sekaligus peluang. Di satu sisi, masyarakat
Indonesia dan Bima khususnya, tertantang untuk
mengawinkan dan mempertahankan tradisi di dalam
bingkai agama. Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri
bahwa nama besar Arab sebagai negara dan tempat
di mana Islam diturunkan tetap membayangi
pemahaman keagamaan sebagian orang. Ketika
penulis mengadakan interview dan penelitian
kecil-kecilan
mengenai
kenapa
rimpu
semakin
menghilang di dana Mbojo tercinta, sebagian besar
responden berargumen bahwa rimpu out of date,
tidak praktis dan tidak simple dipakai. Lebih baik
memakai jilbab yang lebih islami dan lebih modis.
Dari jawaban itu, saya lalu berpikir bahwa kalau
mau jujur, bentuk jilbab yang sekarang dipakai oleh
sebagian besar muslimah Indonesia juga tidaklah
persis sama dengan jilbab yang dipakai oleh
muslimah Arab. Telah terjadi modifikasi sedemikian
rupa yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tempat
dimana pakaian itu digunakan. Jilbab untuk pakaian
kantor agak berbeda dengan jilbab yang dipakai
untuk pengajian. Nah, kalau mau, kenapa bukan
rimpu saja yang dimodifikasi? Ide dasarnya rimpu
dan penutup dus, sarung, dus, muna tapi
penampilannya
bolehlah
disesuaikan
dengan
kebutuhan.
3.
Alasan Teoritis
Banyak pihak yang mengidentikan kebebasan
dengan feminism atau bersembunyi di balik nama
feminism demi kebebasan, dan lalu berkilah bahwa
jilbab tidak perlu dan itu hanyalah sebuah lambang
ketertindasan wanita. Pendapat tersebut bisa salah
dan bisa benar sesuai dengan konteksnya. Sebab
yang saya tahu, tidak semua feminis menginginkan
kebebasan
sebagai
bentuk
pemberdayaan
perempuan, apalagi feminis yang terbungkus oleh
agama
khususnya
Islam.
Akan halnya hubungan pemahaman feminis dengan
penampilan wanita adalah sangat terkait erat dengan
wacana
kontrol
tubuh
versus
objektifikasi
perempuan dalam dunia patriarkhi. Yang menjadi
issu penting bagi feminis adalah bagaimana wanita
bisa secara sadar menentang pemanfaatan tubuh
wanita sebagai obyek. Nah, lagi-lagi ini sangat
tergantung dari budaya dan tradisi lokal. Di dunia
barat
penentangan
terhadap
objektifikasi
itu
dilakukan
dengan
cara
buka-bukaan
untuk
menunjukkan bahwa wanita sangat berhak terhadap
tubuhnya sendiri sehingga mereka berhak untuk
melakukan apapun tanpa intervensi pihak luar. Di
sini individualitas sangat berperan.Terlebih bagi
konteks Indonesia yang masih menganggap budaya
buka-bukaan sebagai sesuatu yang tidak wajar.
Tentang wacana jilbab, aurat, dan kebebasan ini,
_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013
pertanyaan besar bagi para feminis adalah apakah
wanita dengan penuh kesadaran memilih pakaian itu
ataukah dengan pemaksaan pihak luar yang
berkedok pelembagaan agama padahal agama
dianggap sebagai sesuatu yang sangat private.
Keinginan para pejuang feminis sesungguhnya
adalah pilihan sadar wanita tanpa dipengaruhi oleh
pihak lain. Itulah sebabnya kenapa para feminis
Barat (feminis sekuler) memandang bahwa hijab di
dunia Islam khususnya Arab sebagai bentuk
penindasan wanita, karena di sana wanita diharuskan
memakai jilbab tanpa kesadaran yang tumbuh secara
alami dari dalam. Wanita lalu dianggap tidak punya
power untuk menentukan pilihannya sendiri. Dalam
konteks Indonesia di mana jilbab menjadi sesuatu
yang harus diperjuangkan dengan segenap raga
untuk diakui sebagaimana yang terjadi pada zaman
orde
baru,
tentu
saja
sangat
berbeda.
Muslimah Indonesia harus rela di caci, dikeluarkan
dari sekolah, tidak diterima pada lembaga-lembaga
tertentu untuk bekerja, dipanggil ninja, dianggap
bersembunyi di balik jilbab padahal pencuri di pasar
(kejadian pada tahun 1980-an kalau tidak salah)
untuk lalu bisa berekspresi dengan jilbab seperti
sekarang.
Muslimah Indonesia memakai jilbab atas
kesadaran yang tumbuh dari dalam, tidak ada
keharusan secara kelembagaan, tidak juga secara
formal yuridis. Kalaupun sekarang muncul semangat
untuk memformalisasi jilbab di beberapa daerah di
Indonesia, itu telah didahului oleh perjalanan
panjang dan hanya upaya meningkatkan, kesadaran
hukum muslimah Indonesia. Di titik ini pulalah
rimpu menemukan substansinya. Rimpu hendaknya
tidak hanya dipandang sebagai simbol yang
menekan kebebasan wanita, tapi justru harus
dipandang sebagai upaya wanita Bima mengontrol
dirinya, memperlakuan tubuhnya menjadi sesuatu
yang bernilai dan terhormat, melawan arus
hegemoni patriarkhi, objektifikasi dan komodifikasi
tubuh wanita.
Di saat meruaknya cara menilai wanita dari
kemolekan tubuhnya, di tengah gencarnya media
dan dunia mendefinisikan wanita hanya dari nilai
keseksian penampilannya, wanita Bima seharusnya
ingin
menutup
tubuhnya
rapat-rapat
dengan
kreatifitas yang mereka ciptakan sendiri. Mereka
sendirilah yang muna (menenun), mereka sendirilah
yang memakai. Dan dalam sejarah kesultanan Bima,
yang saya tahu, tidak pernah ada perintah secara
formal bahwa wanita Bima diharuskan memakai
rimpu. Rimpu benar-benar tumbuh secara alami dan
penuh kesadaran.
4.
Sebab-Sebab Pudarnya Budaya Rimpu di
Kalangan Masyarakat Bima Dewasa Ini.
Dana Mbojo (Bima) merupakan suatu daerah
yang kaya akan budaya dan adat-istiadat, yang
merupakan ciri khas dari masyarakat Bima itu
sendiri. Tetapi dewasa ini adat-istiadat tersebut
perlahan-lahan mulai luntur, dan sulit untuk
ditemukan. Sehingga tidak mengherankan banyak
anak-anak atau para remaja Bima yang tidak
mengetahui budayanya sendiri. Keadaan ini tentu
sangat memperihatinkan, karena adat-istiadat dan
budaya yang diwariskan secara turun temurun
tersebut tak ternilai harganya. Akan sangat sangat
disayangkan bila harus hilang begitu saja, karena
adat-istiadat dan budaya merupakan ciri khas suatu
suku. Dan Indonesia merupakan bangsa yang
terkenal karena kaya akan adat-istiadat yang berbeda
pada tiap-tiap daerah dan suku. Salah satu yang
menjadi sorotan dari adat-istiadat masyarakat Bima
yang sekarang mulai memudar dan berangsur-angsur
hilang adalah budaya rimpu. Budaya rimpu
merupakan cara berpakaian yang merupakan ciri
khas masyarakat Bima. Rimpu adalah juga sebuah
identitas.
Saat sekarang ini budaya rimpu mulai terkikis
oleh kecenderungan globalisasi, modernisasi, dan
sekularisasi. Alasan itu tentu berkaitan dan tidak
terpisahkan dan terutama bersumber dari alasan
teologis. Nilai mendasar yang terkandung dalam
etika
berpakaian
wanita
muslimah
yaitu:
pembatasan, kesopanan, dan identitas. Di sinilah
simpul di mana rimpu menemukan nilainya. Rimpu
merengkuh ketiga nilai yang diamanatkan oleh
Al-Qur’an itu. Rimpu adalah sebuah pembatasan bagi
diri wanita Bima untuk tidak melakukan hal-hal di
luar kemampuannya sebagai seorang wanita. Juga
membatasi diri dari pengaruh pandangan-pandangan
yang menjadikan wanita sebagai obyek. Lagi-lagi ini
sangat tergantung dari budaya dan tradisi lokal. Di
dunia barat penentangan terhadap objektifikasi itu
dilakukan
dengan
cara
buka-bukaan
untuk
menunjukkan bahwa wanita sangat berhak terhadap
tubuhnya sendiri sehingga mereka berhak untuk
melakukan apapun tanpa intervensi pihak luar. Di
sini individualitas sangat berperan. Tetapi ini sama
sekali tidak sesuai, terlebih bagi konteks Indonesia
yang masih menganggap budaya buka-bukaan
sebagai sesuatu yang tidak wajar.
Rimpu adalah kearifan lokal masyarakat Bima
yang ingin menterjemahkan nilai agamanya ke
dalam budaya mereka sendiri sehingga agama itu
lalu melekat dan tidak terpisahkan dari budaya.
Sehingga teori Receptio in Complexu yang
dikemukakan oleh sarjana Belanda (Van den Berg)
bahwa adat di Indonesia akan berlaku apabila sesuai
dengan
ajaran
agama
(Islam)
benar-benar
merupakan cerminan nyata kehidupan masyarakat
Indonesia
_______________________________________________
Volume 7, No. 3, Mei 2013 http://www.lpsdimataram.com
Rimpu juga adalah sebuah bentuk pakaian yang
sopan. Tentu makna kesopanan sangat relatif
tergantung
bagaimana
masyarakat
setempat
memaknainya, seperti contoh pada suku Asmat di
Irian Jaya, kesopanan tidak dinilai dari pakaian.
Wanita dan laki-laki bebas bertelanjang dan hanya
satu bagian saja dari tubuh mereka yang terbalut
pakaian. Itulah yang disepakati oleh mereka. Tapi
fakta tersebut tentu saja suatu perkecualian. Pada
konteks Indonesia secara umum, Bima khususnya,
kesopanan masih juga dinilai, salah satunya, dari
cara berpakaian dan berpenampilan.
Dengan menghidupkan kembali rimpu dan lalu
mempertahankannya, budaya lokal tetaplah terjaga,
yang saya yakin sepenuhnya pasti punya dampak
secara ekonomis, dan juga sebuah kebanggaan
identitas, dan sangat positif bagi pariwisata budaya.
Tentu masih banyak lagi dampak lain yang patut
dikalkulasi. Lebih-lebih di tengah gencarnya arus
globalisasi dewasa ini, penemuan kembali budaya
lokal sebagai wujud kecintaan terhadap tradisi dan
sebagai upaya untuk mempertahankan identitas
adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Konon, dulu, untuk membedakan wanita yang
masih gadis dan sudah berumah tangga, cukup
melihat dari cara mereka memakai rimpu. Rimpu
mpida di mana hanya mata yang kelihatan dipakai
biasanya oleh gadis, sementara rimpu colo yang
menampakkan seluruh bagian muka biasanya
dikenakan oleh ibu rumah tangga. Jadi, rimpu
benar-benar sebuah kreatifitas budaya yang dilandasi oleh
kesadaran agama yang begitu tinggi. Dahulu,
Perempuan-perempuan Mbojo enggan untuk keluar
rumah jika tidak mengenakan Rimpu, ia tidak saja
budaya tapi implementasi dari syariat islam. Budaya
rimpu bagi kaum hawa di masyarakat Bima memang
secara
perlahan
mulai
redup
dan
semakin
menunjukan tanda bahwa budaya ini akan menjadi
memori masa lalu. Sekarang memang tinggal
pertanyaan
kemana
budaya
rimpu
tersebut?
Mungkin rimpu hanyalah sebuah warisan turun
temurun yang tidak begitu berharga, bahkan cukup
aneh untuk dianut jaman ini.
Namun perjalanan roda jaman memang terlalu
cepat berputar pengaruh modernisasi dan trend masa
kini telah melanda daerah Bima, ini terlihat dari
corak dan mode yang di pakai kaum hawa saat ini
dan begitu juga modernisasi harus mengedepankan
nilai-nilai budaya,moral, nilai relegius. Suatu
pemandangan yang luar biasa berubahnya karena di
kota ini kaum hawa kelihatan seperti manusia yang
tidak memakai baju karena liuk-liuk tubuhnya yang
seksi kelihatan sangat jelas dan tentu saja ini bisa
menimbulkan birahi kaum adam apalagi bagi kaum
laki-laki, Ini semua adalah korban dari keganasan
jaman yang makin modern dan dibarengi dengan si
pelaku
yang
tidak
mau
menyaring
serta
mengklarifikasi baik atau tidaknya dan bertentangan
dengan budaya serta sesuai dengan ketentuan
agama. Hasil penelitian yang di lakukan ternyata
representasi pergeseran nilai –nilai karakter pada
gadis mbojo atau siwe mbojo antara lain; tidak lagi
menggunakan rimpu ini sebagai pakaian adat
masyarakat,namun sudah beralih ke pakaian
moderen seperti jlbab dan lain-lain.
Berkaitan dengan itu ada beberapa hal yang
mempengaruhi bergesernya budaya rimpu ini pada
masyarakat antara lain :
•
Terinspirasi dengan budaya barat yang tidak
sesuai dengan budaya dan cultur masyarakat
Bima
•
Masyarakat Bima sekarang tidak menyadari
akan hilangnya nilai-nilai budaya Bima
•
Dengan
menggunakan
rimpu
dianggap
ketinggalan jaman
•
Masyarakat Bima sekarang sudah sangat
multikultural dalam kehidupan sehari-hari
Dengan realita yang ada orang Bima harus
mempertahankan kembali Budaya Rimpu yang
pernah ada di daerah Bima , karena ketika salah satu
budaya telah mati atau hampir punah maka
budaya-budaya dan kebiasaan lainnya pun akan hilang
dengan sendirinya.
PENUTUP
Wanita Bima saat ini sudah banyak memakai
jilbab untuk pakaian sehari-hari.Sedangkan rimpu
adalah lambang, bukan substansi. Substansi tetaplah
lebih penting ketimbang lambang yang tanpa makna.
Tetapi sebagai sebuah syi’ar, lambang itu tetap juga
harus dikedepankan. Wanita bertanggung jawab
dengan menjaga penampilannya, sementara laki-laki
bertanggung jawab dengan menjaga pandangannya.
Keduanya harus berjalan secara simultan. Pakaian
rimpu di lihat dari segi cara dan penggunaannya
memiliki nilai estetik yang tinggi terutama dari segi
bobot,wujud dan penampilan. Perempuan Bima yang
selalu mengenakan rimpu dan tahu jelas identitasnya
tanpa harus berlindung dibalik identitas orang lain.
Namun demikian, kita jangan lantas berputus asa
dan membiarkan budaya manis dan bernilai ini
hilang ditelan waktu seiring dengan perkembangan
zaman, tapi mari kita bangkit dan bangunkan
kembali. Kita dapat memulainya dari keluarga kita
sendiri. Wanita Bima, juga tidak seharusnya latah,
bersembunyi di balik ide kebebasan, liberalisme,
sekularisme, feminisme dan isme-isme yang lain
hanya untuk melepaskan tanggung jawab itu. Mari
semua
pihak
berjalan
bersama
menjalankan
fungsinya masing-masing.
_______________________________________
http://www.lpsdimataram.com Volume 7, No. 3, Mei 2013