• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia) ORAL MENURUNKAN KADAR F2- ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI PELATIHAN FISIK BERLEBIH.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PASAK BUMI (Eurycoma longifolia) ORAL MENURUNKAN KADAR F2- ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) GALUR WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI PELATIHAN FISIK BERLEBIH."

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PASAK

BUMI

(Eurycoma longifolia)

ORAL MENURUNKAN

KADAR F2-ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH

(

Rattus norvegicus

) GALUR WISTAR JANTAN YANG

DIINDUKSI PELATIHAN FISIK BERLEBIH

ELLEN DESTRISA RATNAPURI

(2)

DENPASAR

2016

TESIS

PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PASAK

BUMI

(Eurycoma longifolia)

ORAL MENURUNKAN

KADAR F2-ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH

(

Rattus norvegicus

) GALUR WISTAR JANTAN YANG

DIINDUKSI PELATIHAN FISIK BERLEBIH

ELLEN DESTRISA RATNAPURI 1490761016

PROGRAM MAGISTER

(3)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2016

TESIS

PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL AKAR PASAK

BUMI

(Eurycoma longifolia)

ORAL MENURUNKAN

KADAR F2-ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH

(

Rattus norvegicus

) GALUR WISTAR JANTAN YANG

DIINDUKSI PELATIHAN FISIK BERLEBIH

Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister pada Program Studi Ilmu Biomedik

Program Pasca Sarjana Universitas Udayana

ELLEN DESTRISA RATNAPURI 1490761016

PROGRAM MAGISTER

(4)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2016

Lembar Persetujuan Pembimbing

TESIS INI TELAH DISETUJUI

PADA TANGGAL 25 JANUARI 2016

Pembimbing I, Pembimbing II,

Prof. Dr. dr. J. Alex Pangkahila, M.Sc., Sp.And Prof. Dr, dr. Wimpie I. Pangkahila, Sp.And., FAACS

NIP. 194402011964091001 NIP. 194612131971071001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Ilmu Biomedik Direktur

Program Pascasarjana Program Pascasarjana

(5)

Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.GK Prof. Dr. dr. A. A. Raka Sudewi, Sp.S(K)

NIP. 195805211985031002 NIP. 195902151985102001

Lembar Penetapan Panitia Penguji

Tesis Ini Telah Diuji Pada

Tanggal 25 Januari 2016

Panitia Penguji Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana

Nomor : 510/UN14.4/HK/2016

Tertanggal : 19 Januari 2016

Ketua : Prof. Dr. dr. J. Alex Pangkahila, M.Sc., Sp.And Anggota :

1. Prof. Dr, dr. Wimpie I. Pangkahila, Sp.And., FAACS

2. Dr. dr. Gde Ngurah Indraguna Pinatih, M.Sc., Sp.GK

3. Prof. dr. N. Agus Bagiada, Sp.BIOK

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DEPAN ….……… i

PRASYARAT GELAR …....………. ii

LEMBAR PERSETUJUAN ……….. iii

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ……… iv

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT ……….. v

UCAPAN TERIMAKASIH ……….. vi

ABSTRAK ……… viii

ABSTRACT ……….. ix

DAFTAR ISI ………6

DAFTAR GAMBAR ………..…11

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG ………12

DAFTAR TABEL ……… 13

DAFTAR LAMPIRAN ... 14

BAB I PENDAHULUAN ……….. 1

1.1Latar Belakang ……….. 1

1.2Rumusan Masalah ………...……….. 7

1.3Tujuan Penelitian ………..……… 8

1.4Manfaat Penelitian ……….………... 9

(7)

2.2.4.1 Dampak Negatif Reactive Oxygen Species (ROS) ……….. 22

2.2.4.2 Dampak Positif Reactive Oxygen Species (ROS) …………... 23

2.2.5 Stres Oksidatif ……….. 23

2.3 Sindrom Pelatihan Fisik Berlebih / Overtraining Syndrome ………....………….. 25

2.3.1 Patofisiologi Sindrom Pelatihan Fisik Berlebih / Overtraining Syndrome ………..……….. 29 2.3.2 Preventif Sindrom Pelatihan Fisik Berlebih / Overtraining Syndrome ……… 33

2.4 F2-Isoprostan ……… 34 2.4.1 Mekanisme Pembentukan F2-Isoprostan …………..…. 35 2.4.2 Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi F2-Isoprostan ……….……. 36

(8)

2.5.1 Klasifikasi Antioksidan ……… 38

2.5.2 Klasifikasi Mekanisme Kerja Antioksidan ………….. 39

2.6 Pasak Bumi ………..

40

2.6.1 Deskripsi dan Ekologi Pasak Bumi ………. 40

2.6.2 Manfaat Akar Pasak Bumi ………...

42

2.6.3 Kandungan Senyawa Akar Pasak Bumi ……….. 45

2.6.4 Akar Pasak Bumi Sebagai Antioksidan ……… 46

(9)

5.2.2 Peningkatan Kadar F2-Isoprostan oleh Pelatihan Fisik Berlebih ………..….. 74

(10)

Pasak Bumi Pada Penelitian Ini ...

77 5.2.4 Pengaruh Pemberian Ekstrak Akar Pasak Bumi

terhadap Penurunan Kadar F2-Isoprostan

………. 78

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ………... 84

6.1 Kesimpulan ……….. 84

6.2 Saran ………. 84

DAFTAR PUSTAKA ………

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

2.1 Klasifikasi radikal bebas ………. 18

2.2 Mekanisme terbentuknya ROS oleh reaksi Fenton dan Haber-Weiss … 21 2.3 Ketidakseimbangan pro-oksidan dengan antioksidan pada keadaan stres oksidatif. ………..………. 24

2.4 Penyakit yang diinduksi oleh stres oksidatif pada manusia ………. 24

2.5 Ilustrasi proses overtraining………. 26

2.6 Tanda dan gejala kelelahan kronis ………..…………. 28

2.7 Skema kerusakan DNA pada pelatihan fisik berlebih ….………. 33

2.8 Skema sederhana biosintesis F2-isoprostan ………….…...………. 36

2.9 Pohon pasak bumi (kiri), akar pasak bumi (kanan)………..………. 40

3.1 Konsep penelitian ………. 50

4.1 Skema rancangan penelitian ………. 52

4.2 Alur penelitian ……….………. 65

5.1 Perbandingan rerata kadar F2-isoprostan kelompok kontrol dan penurunan F2-isoprostan kelompok perlakuan setelah diberi perlakuan . ……… 72

(12)

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

SINGKATAN

RS : reactive species

5-HT : 5-hydroxytryptamine

AAM : Anti-Aging Medicine

ACTH : adrenocorticotropic hormone

BCAA : branch chained amino acids

COX : cyclooxygenase

DNA : deoxyribonucleic acid

EL : Eurycoma longifolia

FITT : Frequency, Intencity, Type, dan Time

LH : luteinizing hormone

MDA : malondialdehyde

NADPH : nicotinamide adenine dinucleotide phosphate

PMN : polymorphicnuclear

ROS : Reactive oxygen spesies

TBARS : thiobarbituric acid–reactive substances

TSH : thyroid stimulating hormone

(13)

DAFTAR TABEL

Halaman

5.1 Hasil uji normalitas data kadar F2-isoprostan sebelum dan setelah

perlakuan ……….. 69

5.2 Hasil uji homogenitas data kadar F2-isoprostan sebelum dan setelah

perlakuan ………... 69

5.3 Perbedaan rerata kadar F2-isoprostan antar kelompok sebelum

perlakuan ………..………. 70

5.4 Perbedaan rerata kadar F2-isoprostan antar kelompok setelah

perlakuan ………..……. 70

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Ethical Clearance………. 94

Lampiran 2 Analisis deskriptif………..……... 95

Lampiran 3 Uji normalitas data ……….... 95

Lampiran 4 Uji homogenitas ………...……….. 96

Lampiran 5 Uji komparabiilitas ………. 97

Lampiran 6 Uji efek perlakuan ……….………. 98

Lampiran 7 Hasil analisis fitokimia ekstrak etanol akar pasak bumi ……… 99

Lampiran 8 Konversi perhitungan dosis untuk beberapa jenis hewan dan manusia ……… .. 100

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Semua mahkluk hidup pasti akan mengalami fase atau siklus

kehidupan. Pada manusia siklus kehidupan dimulai ketika sel telur bertemu

dengan sel sperma dan mengalami pembuahan menjadi zigot, embrio, janin,

kemudian lahir dalam bentuk bayi, tumbuh menjadi anak-anak, dewasa,

kemudian menua dan mengalami penurunan berbagai fungsi organ kemudian

meninggal. Proses ini walaupun terjadi secara alami dan sudah diketahui

secara luas namun tetap menjadi momok bagi manusia, karena keengganan

untuk menjadi tua dan mengalami penurunan fungsi. Namun pada umumnya

manusia hanya menerima begitu saja dan menganggap penuaan sebagai

takdir.

Pada tahun 1993 lahirlah Anti-Aging Medicine (AAM). Konsep AAM

ini bertujuan untuk mengubah paradigma lama mengenai proses penuaan

yang percaya bahwa penuaan merupakan takdir, padahal penuaan terjadi

akibat dari berbagai faktor. Dengan mengetahui faktor-faktor yang dapat

menyebabkan penuaan, maka penuaan dapat dicegah, diperlambat bahkan

mungkin dihambat. Hasil akhir yang diharapkan adalah usia harapan hidup

menjadi lebih panjang dengan kualitas hidup yang lebih baik (Pangkahila,

2011).

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan penuaan secara garis besar

(16)

antara lain radikal bebas, penurunan level hormon, proses glikosilasi (yang

menyebabkan

1

peningkatan AGEs), metilasi (penambahan gugus metil pada rantai DNA),

apoptosis (kematian sel yang terprogram), penurunan imunitas dan genetik.

Faktor eksternal antara lain gaya hidup dan diet tidak sehat, kebiasaan salah,

polusi lingkungan, stres dan kemiskinan (Pangkahila, 2011).

Salah satu upaya mencegah penuaan adalah meminimalisir

terbentuknya radikal bebas, contohnya dengan melakukan pelatihan fisik

yang baik dengan memperhatikan kaidah FITT, yaitu Frequency,

Intencity, Type, dan Time. Frekuensi pelatihan yang dianjurkan tiga

sampai empat kali per minggu dengan waktu istirahat tidak lebih dari dua

hari, dengan intensitas kurang lebih 72% sampai 87% dari denyut

jantung maksimal: 220 – umur (dalam tahun). Lama latihan sekitar 30

sampai 60 menit. Latihan didahului pemanasan selama 15 menit, dilanjutkan

latihan inti 35 menit, diakhiri pendinginan 10 menit (Pangkahila, 2011).

Pelatihan fisik di atas lima jam per minggu dengan intensitas mencapai

100% denyut jantung maksimal dan tipe olahraga yang tidak disesuaikan

dengan usia dan kondisi tubuh dapat menyebabkan beban pelatihan fisik

yang berlebih atau overtraining.

Beban pelatihan fisik yang berlebih atau fase pemulihan yang kurang

akan menghasilkan gejala sindrom pelatihan fisik berlebih / overtraining

syndrome, yang berpengaruh baik secara sik maupun psikologis (Quinn,

(17)

atau overtraining syndrome pada literatur tidak disebutkan secara jelas.

Estimasi angka kejadian overtraining syndrome adalah 7% hingga 20% dari

jumlah atlet yang melakukan pelatihan. Lebih dari dua per tiga atlet lari

pernah mengalami gejala dan tandatanda overtraining syndrome¸ dimana

angka resiko tertinggi terdapat pada atlet lari, balap sepeda, dan renang.

Overtraining syndrome sering terjadi pada individu yang memiliki motivasi

tinggi dan goal-oriented, juga pada atlet yang merancang pelatihan fisiknya

sendiri tanpa berkonsultasi dengan ahlinya. Resiko dari overtraining

syndrome antara lain performa buruk berkepanjangan, trauma, penyakit, dan

pensiun dini (Lewis et al., 2010).

Pelatihan fisik berlebih dapat memberikan beban yang berat terutama

pada sistem homeostasis yang diatur oleh sistem endokrin dan susunan saraf,

yang dapat menyebabkan masalah kesehatan (Mastaloudis et al., 2004;

Scharhag et al., 2005). Hal ini disebabkan karena terbentuknya asam laktat

dan radikal bebas, karena latihan merupakan stressor bagi tubuh yang dapat

mempengaruhi semua sistem (Costill, 2008). Terbentuknya asam laktat

merupakan akibat aktivitas latihan dengan intensitas tinggi dan latihan dalam

waktu yang lama (prolonged exrcise). Radikal bebas terbentuk karena terjadi

peroksidasi (auto-oksidasi) lemak yang ditandai dengan terbentuknya

reactive oxygen spesies (ROS), contohnya radikal hidroksil dan hidrogen

peroksida (Rodwell et al., 2015; Dong et al., 2011).

Radikal bebas merupakan suatu molekul reaktif dengan satu atau lebih

elektron yang tidak berpasangan pada orbit terluar (Pham-Huy et al., 2008).

Konfigurasi yang tidak stabil ini kemudian berinteraksi dengan molekul

(18)

kemudian menjadikan molekul tersebut tidak stabil dan terjadilah reaksi

rantai yang dapat merusak lipid barrier membran sel dan baru akan berhenti

setelah diredam oleh senyawa yang bersifat antioksidan (Rahman, 2007).

Radikal bebas dapat berasal dari dalam tubuh maupun luar tubuh.

Radikal bebas yang berasal dari dalam tubuh dapat terjadi akibat proses

enzimatik (oleh mitokondria, membran plasma, lisosom, retikulum

endoplasma, dan inti sel) maupun akibat proses nonenzimatik (pada reaksi

inflamasi dan iskemia). Radikal bebas yang berasal dari luar tubuh yang

diakibatkan oleh adanya polutan seperti asap rokok, asap kendaraan

bermotor, radiasi sinar UV, sinar X, sinar gamma, konsumsi makanan tinggi

lemak, caffeine, alkohol, pestisida atau zat beracun lainnya. Selain itu radikal

bebas juga dapat dipicu oleh adanya stres atau pelatihan fisik berlebih

(Pham-Huy et al., 2008).

Radikal bebas yang paling sering menyebabkan kerusakan sistem

biologi adalah reactive oxygen spesies (ROS). Pada keadaan normal tubuh

manusia menghasilkan ROS yang merupakan residu dari proses

pembentukan energi, namun kadarnya masih dapat diantisipasi secara

optimal oleh antioksidan yang terdapat di dalam tubuh. Selama pelatihan

fisik berlebih, terjadi peningkatan konsumsi oksigen sebanyak 10 sampai 20

kali lipat dari normal, dan pengambilan oksigen pada muskulo-skeletal yang

aktif meningkat sebesar 100 sampai 200 kali. Hal ini menyebabkan

peningkatan produksi ROS yang tidak dapat dinetralisir oleh antioksidan

dalam tubuh. Keadaan ketidakseimbangan antara kadar ROS dengan

(19)

Stres oksidatif dapat merusak molekul biologi yang terdapat di dalam tubuh

seperti lipid, protein, dan deoxyribonucleic acid (DNA). Jika hal ini terjadi

dalam waktu terus-menerus, maka akan terjadi akumulasi hasil kerusakan

oksidatif di dalam sel dan jaringan sehingga menyebabkan jaringan tersebut

kehilangan fungsinya (Bagiada, 2001). Sebuah literatur yang berjudul Trend

in Cell Biology menyebutkan bahwa ROS berhubungan erat dengan penuaan

karena ROS berperan dalam mediasi respon stres yang terjadi akibat

agedependent damage (Hekimi et al., 2011).

Kondisi stres oksidatif dapat dideteksi dengan menggunakan indikator

F2isoprostan (8-iso-PGF2α) yang merupakan hasil dari peroksidasi lipid

membran sel di dalam tubuh akibat radikal bebas (Hanak, 2010).

F2-isoprostan adalah komponen prostaglandin-like yang terbentuk dari

katalisa peroksidasi radikal bebas dari asam lemak esensial (primarily

arachidonic acid) tanpa perintah atau aksi langsung dari enzim

cyclooxygenase (COX). F2-isoprostan merupakan eicosanoids non klasikal

dan memiliki aktivitas biologikal yang poten sebagai mediator inflamasi

yang menimbulkan persepsi nyeri. F2-isoprostan merupakan indikator yang

akurat dari peroksidasi lipid baik pada manusia maupun hewan dalam

konteks terjadinya stres oksidatif (Morrow et al., 2002).

Upaya lain untuk mencegah proses penuaan akibat radikal bebas

adalah dengan antioksidan. Antioksidan dapat mencegah teroksidasinya

molekul lain oleh radikal bebas dengan cara mendonorkan elektronnya

sehingga radikal bebas menjadi stabil. Antioksidan dapat berasal dari dalam

(20)

suplementasi makanan (Rahman, 2007). Konsumsi makanan yang

mengandung antioksidan maupun suplementasi antioksidan diperlukan oleh

tubuh untuk mereduksi kerusakan oksidatif (Mau et al., 2011; Gulcin et al.,

2002).

Pasak bumi merupakan tanaman yang banyak digunakan akarnya

untuk meningkatkan vitalitas dan fertilitas, namun belum banyak yang

mengetahui bahwa akar pasak bumi juga memiliki manfaat sebagai

antioksidan. Pasak bumi banyak ditemukan di Indonesia dan Malaysia,

memiliki nama latin Eurycoma longifolia (EL), dan merupakan bagian dari

famili Simaroubaceae. Ekstrak akar pasak bumi mengandung

eurikomalakton, eurikomanol, laurikomalakton A dan B,

dehidrokomalakton, eurikomanin, eurikomanol, benzoquinon, saponin, asam

lemak ester, vitamin C, tanin dan flavonoid (Supriadi, 2001; Novianti, 2015;

Ratnapuri, 2015).

Pada penelitian yang dilakukan oleh Erasmus, Solomon dan Henkel

pada tikus secara in vivo (2013), didapatkan hasil bahwa pemberian ekstrak

akar pasak bumi dengan dosis 800mg/kgBB terbukti dapat meningkatkan

konsentrasi, vitalitas, motilitas total dan motilitas progresif sperma lebih

signifikan dibandingkan dengan dosis 200mg/kgBB. Pada penelitian

Varghese et al. (2013) disebutkan bahwa ekstrak akar pasak bumi dengan

konsentrasi 10 µg/ml terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang

berbanding lurus dengan peningkatan konsentrasi ekstrak akar pasak bumi

(250 µg/ml).

Mekanisme antioksidan ekstrak akar pasak bumi diduga terjadi karena

(21)

kandungan quassinoid di dalamnya. Membran sel yang stabil dibutuhkan

oleh lisosom untuk mencegah pelepasan respon inflamasi, dimana inflamasi

dapat memicu pembentukan ROS (Varghese et al., 2013; Hajjouli et al.,

2014). Fungsi ini juga diperoleh dari kandungan saponin di dalam ekstrak

akar pasak bumi. Kandungan lain yang terdapat di dalam ekstrak akar pasak

bumi adalah flavonoid yang dapat menstabilkan membran sel dengan cara

menjaga stabilitas membran sel dan mencegah peroksidasi lipid. Mekanisme

ini juga diperoleh dari kandungan tanin yang merupakan polifenol dan kaya

akan gugus OH sehingga dapat bertindak sebagai donor elektron untuk

radikal bebas reaktif (Schroeter et al., 2002). Kandungan vitamin C

mengeliminasi radikal alfa tokoferol yang terdapat pada membran sel dan

lipoprotein, dan juga meningkatkan kadar glutation intrasel (Kojo, 2004;

Naziroglu dan Butterworth, 2005). Menurut Kasote et al. (2015), vitamin C

dan flavonoid merupakan antioksidan eksogen terbaik yang terdapat di

dalam tanaman, dalam hal ini ekstrak akar pasak bumi, yang tidak hanya

mampu menekan produksi ROS namun juga mampu menstimulasi tubuh

untuk memproduksi antioksidan endogen. Kandungan beberapa antioksidan

ini membuat ekstrak akar pasak bumi dapat digunakan untuk mencegah stres

oksidatif dengan menekan kadar radikal bebas dalam tubuh. Namun

efektivitas ekstrak akar pasak bumi dalam menekan stres oksidatif yang

terjadi pada keadaan pelatihan fisik berlebih secara rinci belum diketahui

dengan jelas, dan belum ada penelitian lebih lanjut mengenai aktivitas

antioksidan ekstrak akar pasak bumi pada keadaan pelatihan fisik berlebih

(22)

Penelitian ini masih pada tahap uji coba terhadap hewan dengan

menggunakan subyek penelitian berupa tikus putih (Rattus norvegicus) galur

wistar jantan. Spesies ini sering digunakan dalam berbagai penelitian karena

mudah dipelihara dan ukurannya relatif cukup besar untuk diobservasi. Jenis

kelamin tikus yang dipilih adalah jantan karena tikus jantan tidak

dipengaruhi oleh siklus menstruasi dengan maksud untuk menghindari

adanya pengaruh hormonal pada hewan coba sehingga subyek penelitian

lebih homogen dan menghindari terjadinya false negative akibat hormon

tertentu, contohnya estrogen yang memiliki korelasi positif terhadap

peningkatan F2-isoprostran (Sowers et al., 2008; Schisterman et al., 2010).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang diuraikan di atas, maka

dirumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut :

• Apakah pemberian ekstrak etanol akar pasak bumi (Eurycoma longifolia)

secara oral mampu menekan terjadinya stres oksidatif dengan

indikator kadar F2-isoprostan pada tikus wistar jantan yang diinduksi

pelatihan fisik berlebih?

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk membuktikan pemberian ekstrak etanol akar pasak bumi

(Eurycoma longifolia) secara oral mampu menekan terjadinya stres oksidatif

dengan indikator kadar F2-isoprostan pada tikus wistar jantan yang diinduksi

(23)

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Dari hasil penelitian diharapkan akan diperoleh informasi ilmiah

mengenai efektivitas ekstrak etanol akar pasak bumi sebagai

antioksidan dalam menangkal radikal bebas dengan indikator

penurunan kadar F2-isoprostan pada tikus wistar yang diinduksi

pelatihan fisik berlebih.

2. Manfaat Klinis

Bila hasil penelitian ini dapat membuktikan efektivitas ekstrak etanol

akar pasak bumi dalam menangkal radikal bebas, dan telah dilakukan

clinical trial, maka diharapkan ekstrak etanol akar pasak bumi dapat

digunakan sebagai antioksidan.

(24)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Penuaan

2.1.1Definisi Penuaan

Penuaan adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau menggganti diri dan

mempertahankan struktur serta fungsi normalnya, sehingga tidak dapat

bertahan serta memperbaiki kerusakan yang diderita. Secara praktis penuaan

dapat dilihat sebagai suatu penurunan fungsi biologik dari usia kronologik.

Penuaan tidak dapat dihindari dan terjadi dengan kecepatan yang berbeda,

tergantung dari susunan genetik seseorang, lingkungan, dan gaya hidup.

Sehingga penuaan dapat terjadi lebih dini atau lambat tergantung kesehatan

dari masing-masing individu (Fowler, 2003).

Banyak faktor yang menyebabkan orang menjadi tua melalui proses

penuaan, yang kemudian menimbulkan sakit tertentu, dan berujung pada

kematian. Pada dasarnya faktor di atas dapat dikelompokkan menjadi dua,

yakni faktor internal dan eksternal. Beberapa faktor internal meliputi radikal

bebas, hormon yang berkurang, proses glikosilasi (yang menyebabkan

peningkatan AGEs), metilasi (penambahan gugus metil pada rantai DNA),

apoptosis (kematian sel yang terprogram), sistem kekebalan yang menurun

dan genetik. Kemudian faktor eksternal yang utama ialah gaya hidup dan diet

yang tidak sehat, kebiasaan buruk, polusi lingkungan, stres dan kemiskinan

(25)

10

2.1.2Teori Terjadinya Proses Penuaan

Banyak teori yang menjelaskan mengapa manusia mengalami proses

penuaan. Tetapi, pada dasarnya semua teori itu dapat dibagi menjadi dua

kelompok, yaitu wear and tear theory dan programmed theory (Goldman dan

Klatz, 2003).

2.1.2.1Teori Wear and Tear

Teori wear and tear pada prinsipnya menyatakan tubuh menjadi lemah

lalu meninggal sebagai akibat dari penggunaan dan kerusakan yang

terakumulasi. Teori ini telah lama diperkenalkan oleh Dr. August Weismann,

seorang ahli biologi dari Jerman pada tahun 1882. Menurut teori ini, tubuh

dan sel yang terdapat pada makhluk hidup menjadi rusak karena terlalu sering

digunakan dan disalahgunakan. Kerusakan tidak terbatas pada organ,

melainkan juga terjadi pada tingkat sel (Pangkahila, 2011).

Hal ini menyatakan bahwa walaupun seseorang tidak pernah merokok,

minum alkohol, dan hanya mengkonsumsi makanan alami, dengan

menggunakan organ tubuh secara biasa saja, pada akhirnya akan berujung

pada terjadinya suatu kerusakan. Penyalahgunaan organ tubuh akan membuat

kerusakan terjadi lebih cepat. Karena itu, tubuh akan menjadi tua, dimana sel

juga merasakan pengaruhnya, terlepas dari seberapa sehat gaya hidupnya.

Sistem pemeliharaan pola hidup yang baik pada masa muda dinilai dapat

berpengaruh terhadap perbaikan tubuh sebagai kompensasi terhadap

(26)

Dengan menjadi tua, tubuh berangsur kehilangan kemampuan dalam

memperbaiki kerusakan karena penyebab apa pun. Banyak orang tua

meninggal karena penyakit yang pada masa mudanya dapat ditolak. Teori ini

meyakini bahwa pemberian suplemen yang tepat dan pengobatan yang tidak

terlambat dapat membantu mengembalikan proses penuaan dengan

mekanismenya adalah merangsang kemampuan tubuh untuk melakukan

perbaikan dan mempertahankan organ tubuh dan sel (Pangkahila, 2011).

Teori wear and tear meliputi:

A. Teori Kerusakan DNA

Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri (DNA

repair). Proses penuaan sejatinya memiliki arti sebagai proses penyembuhan

yang tidak sempurna dan sebagai akibat penimbunan kerusakan molekul yang

terus menerus. Kerusakan DNA yang terakumulasi dalam waktu lama, dapat

mencapai suatu keadaan dimana basis molekul sudah mengalami kerusakan

yang berat. Kerusakan molekuler dapat disebabkan oleh faktor yang berasal

dari luar, seperti radiasi, polutan, asap rokok dan mutagen kimia (Pangkahila,

2011).

B. Teori Penuaan Radikal Bebas

Teori ini menjelaskan bahwa suatu organisme dapat mengalami

penuaan dikarenakan adanya akumulasi kerusakan oleh radikal bebas di

dalam sel dalam jangka waktu tertentu. Radikal bebas adalah suatu atom atau

molekul yang mempunyai susunan elektron tidak berpasangan sehingga

bersifat sangat tidak stabil. Untuk menjadi stabil, radikal bebas akan

(27)

reaksi berantai yang menyebabkan kerusakan jaringan yang luas. Molekul

utama di dalam tubuh yang dapat dirusak oleh radikal bebas adalah DNA,

lemak, dan protein (Suryohusodo, 2000). Dengan bertambahnya usia maka

akumulasi kerusakan yang terjadi pada sel akibat radikal bebas semakin

mengambil peranan, sehingga dapat mengganggu metabolisme sel, juga

merangsang terjadinya mutasi sel, yang akhirnya bisa berakibat kanker dan

kematian. Pada kulit, radikal bebas dapat merusak kolagen dan elastin, suatu

protein yang menjaga kulit agar tetap lembab, halus, fleksibel dan elastis.

Jaringan tersebut akan mengalami kerusakan akibat paparan radikal bebas,

terutama pada daerah wajah, dimana akan terbentuk lekukan kulit dan kerutan

yang dalam akibat paparan yang lama oleh radikal bebas (Goldman dan

Klatz, 2003).

C. Glikosilasi

Teori ini dikemukakan dan mendapatkan momentumnya sejak diketahui

bahwa glikosilasi memiliki peranan penting dalam kaitannya dengan diabetes

tipe 2. Glukosa bergabung dengan protein yang telah mengalami dehidrasi,

yang kemudian menyebabkan terganggunya sistem organ tubuh. Pada

diabetes, glikosilasi menyebabkan kekakuan arteri, katarak, hilangnya fungsi

syaraf, yang merupakan komplikasi yang umum terjadi pada diabetes

(Pangkahila, 2011).

2.1.2.2Programmed Theory

Teori ini menganggap bahwa di dalam tubuh manusia terdapat suatu

jam biologik, yang dimulai dari proses konsepsi sampai ke kematian dalam

(28)

embrio, janin, masa bayi, anak-anak remaja, menjadi tua dan akhirnya

meninggal (Pangkahila, 2011).

Programmed theory meliputi:

A. Teori Terbatasnya Replikasi Sel

Teori ini mengatakan bahwa pada ujung chromosome strands terdapat

struktur khusus yang disebut telomere. Setiap replikasi sel telomere

mengalami pemendekan ukuran pada proses pembelahan pembelahan sel.

Dan setelah sejumlah pembelahan sel tertentu, telomere telah dipakai dan

pembelahan sel terhenti. Menurut Hayflick, mekanisme telomere tersebut

menentukan rentang usia sel dan pada akhirnya juga rentang usia organisme

itu sendiri (Pangkahila, 2011).

B. Proses Imun

Rusaknya sistem imun tubuh seperti mutasi yang berulang atau

perubahan protein protein pasca translasi, dapat menyebabkan berkurangnya

kemampuan sistem imun tubuh dalam mengenali dirinya sendiri (self

recognition). Jika mutasi somatik dapat menyebabkan terjadinya kelainan

pada antigen permukaan sel, maka hal ini akan menyebabkan sistem imun

dalam tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel

asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar

terjadinya peristiwa autoimun. Salah satu bukti yang ditemukan ialah

bertambahnya prevalensi auto antibodi pada orang lanjut usia (Pangkahila,

2011).

(29)

Teori ini diperkenalkan Vladimir Dilman, PhD, dengan dasar peranan

berbagai hormon bagi fungsi organ tubuh. Pada usia muda, berbagai hormon

bekerja dengan baik dalam mengendalikan berbagai fungsi organ tubuh,

sehingga fungsi berbagai organ tubuh sangat optimal, seperti kemampuan

bereaksi terhadap panas dan dingin, kemampuan motorik, fungsi seksual, dan

fungsi motorik. Seiring dengan menuanya seseorang maka tubuh hanya

mampu memproduksi hormon lebih sedikit, sehingga kadarnya menurun dan

berakibat pada gangguan berbagai fungsi tubuh. Contoh yang jelas ialah

menopause pada wanita, dan andropause pada pria. Terapi sulih hormon

dikatakan dapat membantu untuk mengembalikan fungsi hormon tubuh

sehingga dapat memperlambat proses penuaan (Goldman dan Klatz, 2003).

2.1.3Fase Penuaan

Menurut Fowler (2003), penuaan dibagi menjadi tiga fase berdasarkan

usia, antara lain:

1. Fase Subklinik (25-35 tahun)

Kadar hormon mulai menurun, seperti growth hormone, testosteron dan

estrogen. Pembentukan radikal bebas dapat merusak sel dan struktur DNA.

Tanda dan keluhan penuaan belum tampak dari luar, individu masih tampak

sehat dan merasa normal. Bahkan pada umumnya rentang usia ini dianggap

masih muda dan nomal.

2. Fase Transisi (35-45 tahun)

Kadar hormon menurun ±25% disertai kehilangan massa otot yang

(30)

tubuh meningkat. Ditambah pengaruh buruk gaya hidup yang mengawali

terjadinya resistensi insulin dan peningkatan risiko mengalami penyakit

jantung, pembuluh darah, dan obesitas. Tampak gejala klinis, seperti

penurunan kemampuan indera penglihatan dan pendengaran, rambut putih

mulai tumbuh, penurunan elastisitas dan pigmentasi kulit, dan penurunan

dorongan dan bangkitan seksual.

3. Fase Klinik (>45 tahun)

Penurunan kadar hormon berlanjut termasuk pada growth hormone, DHEA,

testosteron, estrogen, dan progesteron. Hilangnya kemampuan menyerap

nutrisi, vitamin, dan mineral menyebabkan densitas tulang menurun,

kehilangan massa otot ±1 kilogram setiap 3 bulan, dan peningkatan lemak

tubuh dan berat badan. Prevalensi penyakit kronis meningkat drastis dan

muncul banyak ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas sederhana.

2.1.4AntiAging Medicine (AAM)

Konsep dan definisi ilmu AAM pada awalnya diperkenalkan dan

dikembangkan oleh American Academy of Anti-Aging Medicine (A4M) pada

tahun 1993. Definisi aslinya adalah “Anti-Aging Medicine is a medical

specialty founded the application of advance scientific and medical

technologies for the early detection, prevention, treatment, and reversal of

age-related dysfunction, disorders, and diseases to prolong the healthy

lifespan”. Terjemahan bebasnya sebagai berikut, “Anti-Aging Medicine

adalah bagian dari ilmu kedokteran yang didasarkan pada penggunaan ilmu

(31)

pencegahan, pengobatan, dan perbaikan ke keadaan semula berbagai

disfungsi, kelainan, dan penyakit yang berkaitan dengan penuaan, yang

bertujuan untuk memperpanjang hidup dalam keadaan sehat” (Pangkahila,

2011).

Jadi penuaan dianggap dan diperlakukan sama dengan penyakit, yang

dapat dicegah, dihindari, dan diobati, sehingga dapat kembali ke keadaan

semula dan pada akhirnya usia harapan hidup menjadi lebih panjang dan

dalam keadaan sehat dengan kualitas hidup yang tetap baik. Dengan demikian

manusia tidak lagi harus membiarkan begitu saja dirinya menjadi tua dengan

segala keluhan (Pangkahila, 2011).

Perubahan paradigma inilah yang membedakan AAM dengan

kedokteran konvensional yang kini masih mendominasi dunia kedokteran.

AAM secara progresif berupaya mengatasi proses penuaan agar keluhan,

disfungsi, atau penyakit tidak muncul, sedangkan kedokteran konvensional

mengatasi keluhan, disfungsi, dan penyakit yang muncul karena proses

penuaan (Pangkahila, 2011).

2.2 Radikal Bebas

Radikal bebas adalah suatu molekul reaktif dengan satu atau lebih

elektron yang tidak berpasangan pada orbit terluar (Pham-Huy et al., 2008).

Konfigurasi yang tidak stabil ini kemudian berinteraksi dengan molekul yang

berdekatan, seperti protein, lipid, karbohidrat, dan asam nukleat, kemudian

menjadikan molekul tersebut tidak stabil dan terjadilah reaksi rantai yang

(32)

Radikal bebas yang paling sering menyebabkan kerusakan sistem biologi

adalah oxygen-free radical, yang lebih dikenal sebagai reactive oxygen

species (ROS) (Rahman, 2007).

2.2.1Klasifikasi Radikal Bebas

Menurut Salama dan El-Bahr (2007), radikal bebas dapat dibagi menjadi:

1. Oxygen centered radicals terdiri dari anion superoksida (O2●),

radikal hidroksil (●OH), radikal alkoksil (RO●), dan radikal

peroksil (●OOH atau ROO●).

2. Oxygen centered non radicals terdiri dari hidrogen peroksida

(H2O2) dan oksigen singlet (1O2).

3. Spesies radikal lain atau reactive nitrogen species (RNS)

antara lain: nitrit oksida (NO●), nitrit dioksida (NO●2), dan

(33)

Gambar 2.1

Klasifikasi radikal bebas(Salama dan El-Bahr, 2007)

2.2.2Sumber Radikal Bebas

Menurut Pham-Huy et al. (2008), sumber radikal bebas dapat dibagi

menjadi:

1. Radikal bebas yang dihasilkan dari dalam tubuh akibat adanya

proses enzimatik oleh mitokondria, membran plasma, lisosom,

retikulum endoplasma, dan inti sel. Proses enzimatik yang

menyebabkan terbentuknya radikal bebas antara lain berupa oksidasi

pada proses respirasi, pencernaan, dan metabolisme

2. Radikal bebas yang berasal dari dalam tubuh akibat adanya

proses nonenzimatik. Hal ini disebabkan oleh reaksi oksigen dengan

senyawa organik melalui ionisasi dan radiasi. Contohnya, pada reaksi

(34)

3. Radikal bebas yang berasal dari luar tubuh yang diakibatkan

oleh adanya polutan seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor,

radiasi sinar UV, sinar X, sinar gamma, konsumsi makanan tinggi

lemak, caffeine, alkohol, pestisida atau zat beracun lainnya. Selain itu

radikal bebas juga dapat dipicu oleh adanya stres atau aktivitas fisik

berlebih

2.2.3Pembentukan Radikal Bebas

Secara umum, tahapan reaksi pembentukan radikal bebas melalui tiga

tahapan reaksi berikut (Winarsi, 2010):

1. Tahap inisiasi, yaitu awal pembentukan radikal bebas,

menjadikan senyawa non radikal menjadi radikal. Misalnya:

Fe ++ + H2O2 Fe +++ + OH- + •OH R1 _H + •OH R1• + H2O

2. Tahap propagasi, yaitu pemanjangan rantai radikal,

dimana reaksi berantai radikal bebas diperluas sehingga membentuk

(35)

R2 • + R2 • R2_R2 dan seterusnya

2.2.4Reactive Oxygen Species (ROS)

ROS berasal dari elemen oksigen yang merupakan hal penting bagi

organisme aerob, seperti halnya manusia. Sekitar 90% dari oksigen yang

masuk ke dalam tubuh digunakan untuk menghasilkan energi berupa ATP

melalui proses fosforilasi oksidatif di mitokondria. Sekitar 10% oksigen

digunakan oleh enzimenzim untuk proses hidroksilasi dan reaksi oksigenisasi.

Sekitar 1 – 2 % oksigen menjadi residu yang kemudian dikonversi menjadi

reactive oxygen species yang dikenal juga dengan ROS (Baynes dan

Dominiczak, 2014).

ROS adalah istilah yang digunakan untuk radikal, bukan hanya radikal

yang mengandung oksigen (superoksida (O2●) dan radikal hidroksil (●OH))

namun juga derivat oksigen yang tidak mengandung elektron tidak

berpasangan seperti hidrogen peroksida (H2O2) dan oksigen singlet (1O2)

(Pham-Huy et al., 2008).

Proses fosforilasi oksidatif yang terjadi di mitokondria menghasilkan

energi berupa ATP melalui reduksi oksigen menjadi dua molekul air, dengan

reaksi

sebagai berikut (Winarsi, 2010): O2 + 4H+ + 4e- 2H2 O

Reduksi satu molekul oksigen menjadi dua molekul air terjadi dengan

memindahkan empat elektron. Namun dalam keadaan tertentu, proses

pemindahan elektron ini tidak terjadi secara sempurna, sehingga

(36)

seperti berikut ini (Winarsi, 2010):

Mekanisme terbentuknya ROS secara in vivo terjadi melalui tiga jalur,

yaitu 1) akibat reaksi antara oksigen dengan ion metal (reaksi Fenton), 2)

sebagai reaksi sampingan dari transpor elektron yang terjadi di mitokondria,

3) melalui proses enzimatik normal seperti pembentukan H2O2 oleh oksidasi

asam lemak di peroksisom (Baynes dan Dominiczak, 2014).

Gambar 2.2

Mekanisme terbentuknya ROS oleh reaksi Fenton dan Haber-Weiss (Baynes dan Dominiczak, 2014)

2.2.4.1Dampak Negatif Reactive Oxygen Species (ROS)

ROS dapat merusak DNA, protein dan lipid, namun dalam keadaan

normal tubuh memiliki sistem yang mampu memperbaiki kerusakan akibat

ROS, yaitu :

(37)

•Kerusakan: seluruh komponen DNA dapat dirusak oleh radikal

hidroksil (•OH). Sedangkan oksigen singlet (1

O2) lebih cenderung

mengenai guanin. Superoksida (O2●) dan hidrogen peroksida (H2O2)

tidak mengenai DNA.

•Sistem perbaikan: kerusakan pada DNA dikenali oleh enzim tubuh,

dilanjutkan dengan proses excisi, resintesis, dan penggabungan kembali

rantai DNA.

2. Protein

•Kerusakan: banyak ROS mampu merusak gugus sulfhidril. Radikal

hidroksil (•OH) dapat merusak banyak residu asam amino.

•Sistem perbaikan: residu oksidasi metionin diatasi oleh methionine

sulfoxide reductase. Kerusakan protein lain dapat dikenali dan

dihancurkan oleh protease selular.

3. Lipid

•Kerusakan: beberapa ROS, kecuali superoksida (O2●) dan hidrogen

peroksida (H2O2), dapat menginisiasi terjadinya peroksidasi lipid.

•Sistem perbaikan: chain-breaking antioxidants khususnya tokoferol

dapat menghilangkan propagasi rantai radikal peroksil. Phospholipid

hydroperoxide glutathione peroxidase menghilangkan peroksida

membran.

2.2.4.2Dampak Positif Reactive Oxygen Species (ROS)

Walaupun ROS memiliki banyak efek negatif, namun ROS juga meiliki

(38)

1. Melawan atau membunuh organisme patogen yang dihasilkan

oleh granulosit, makrofag dan monosit

2. Sebagai substrat untuk enzim, misalnya H2O2 sebagai substrat

dari enzim hemeperoksidase yang penting dalam iodinisasi hormon

tiroid

3. Sebagai sinyal pada metabolisme zat tertentu, misalnya

insulin. H2O2 memiliki peran dalam mekanisme inaktivasi reversible

dari beberapa protein tirosin fosfatase, yang kemudian dalam waktu

yang sama mengaktivasi protein tirosin kinase melalui reseptor insulin

2.2.5Stres Oksidatif

Stres oksidatif adalah suatu kondisi dimana proses produksi ROS lebih

tinggi daripada eliminasinya, yang mengakibatkan kerusakan oksidatif

molekulmolekul biologi. Jika hal ini terjadi dalam waktu terus-menerus,

maka akan terjadi akumulasi hasil kerusakan oksidatif di dalam sel dan

jaringan sehingga menyebabkan jaringan tersebut kehilangan fungsinya

(Bagiada, 2001). Stres oksidatif dapat terjadi secara lokal, seperti pada

penyakit artritis dan aterosklerosis, maupun secara sistemik, seperti pada

systemic lupus erythematosus dan diabetes (Baynes dan Dominiczak, 2014).

Macam-macam penyakit yang diinduksi oleh stres oksidatif digambarkan

(39)

Gambar 2.3

Ketidakseimbangan pro-oksidan dengan antioksidan pada keadaan stres oksidatif. AGE, advanced glycation end product; CAT, catalase; GPx, glutathione peroxidase; MPO, myeloperoxidase; SOD, superoxide

dismutase (Baynes dan Dominiczak, 2014)

Gambar 2.4

(40)

2.3 Sindrom Pelatihan Fisik Berlebih / Overtraining Syndrome

Sindrom pelatihan fisik berlebih atau overtraining syndrome adalah

sebuah gangguan medis kompleks yang terjadi pada atlet, namun belum

banyak penelitian mengenai hal ini. Menurut dr. D. C. Parmenter, pelatihan

fisik berlebih atau overtrain merupakan kondisi yang sulit untuk dideteksi

dan dideskripsikan, evaluasi harus fokus pada muatan latihan, nutrisi, tidur

dan istirahat, stres kompetisi dan status psikologi (Lewis et al., 2010).

Overtrain merupakan stimulus dan overtraining syndrome adalah

konsekuensi dari overtrain (Bott, 2003).

Secara terminologi, overtraining syndrome adalah sebuah respon

maladaptif dari sebuah pelatihan fisik dengan beban berlebih dalam periode

yang panjang (biasanya 2 minggu), yang merupakan hasil dari overreaching /

overwork yang berkepanjangan. Sementara overreaching / overwork adalah

fase akut yang terjadi saat beban pelatihan fisik (intensitas dan volume)

meningkat secara signifikan (Lewis et al., 2010).

Telah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan hasil maksimal dan

risiko minimal pada pelatihan, diperlukan kondisi lingkungan yang memadai

dan takaran pelatihan yang tepat untuk setiap individu meliputi FITT, yaitu

Frequency, Intencity, Type, Time. Frekuensi pelatihan yang dianjurkan tiga

sampai empat kali per minggu dengan waktu istirahat tidak lebih dari dua

hari, dengan intensitas kurang lebih 72% - 87% dari denyut jantung

maksimal: 220 – umur (dalam tahun). Lama latihan sekitar 30 sampai 60

menit. Latihan didahului pemanasan selama 15 menit, dilanjutkan latihan inti

(41)

Gambar 2.5

Ilustrasi proses overtraining (Lewis et al., 2010)

Pelatihan berlebih seringkali akibat dari (Hatfield, 2001):

1) Volume pelatihan yang terlalu banyak

2) Intensitas pelatihan yang terlalu banyak

3) Durasi pelatihan terlalu panjang

4) Frekuensi pelatihan yang terlalu sering

Insidensi dan prevalensi mengenai sindrom pelatihan fisik berlebih atau

overtraining syndrome pada literatur tidak disebutkan secara jelas. Estimasi

angka kejadian overtraining syndrome adalah 7% hingga 20% dari jumlah

atlet yang melakukan pelatihan. Lebih dari dua per tiga atlet lari pernah

mengalami gejala dan tanda-tanda overtraining syndrome¸ dimana angka

resiko tertinggi terdapat pada atlet lari, balap sepeda, dan renang.

Overtraining syndrome sering terjadi pada individu yang memiliki motivasi

tinggi dan goal-oriented, juga pada atlet yang merancang pelatihan fisiknya

sendiri tanpa berkonsultasi dengan ahlinya.

Resiko dari overtraining syndrome antara lain performa buruk

(42)

latihan serta kurangnya waktu istirahat merupakan penyebab tersering dari

sindrom pelatihan fisik berlebih atau overtraining syndrome (Lewis et al.,

2010).

Adapun penyebab dari overtraining syndrome antara lain (Safran et al.,

2012):

1. Intensitas pelatihan fisik yang tinggi

2. Volume pelatihan fisik yang ekstrim

3. Tidur terganggu

4. Travelling

5. Penggunaan obat-obatan

6. Konsumsi alkohol

Faktor resiko dari overtraining syndrome antara lain (Safran et al.,

2012):

1. Kesehatan umum kurang baik

2. Nutrisi tidak adekuat

3. Status mood dan kepribadian

4. Usia lanjut

5. Laki-laki

(43)

Gejala overtraining syndrome (Bott, 2003; Safran et al. ,2012; Lewis et

al., 2010):

1. Psikologi: kelelahan, anhedonia (nafsu makan dan libido

menurun), gangguan emosi (iritabilitas, anxietas, hingga depresi),

gangguan tidur (insomnia atau hipersomnolen), indera persepsi

abnormal (keluhan pada organ tanpa disertai penyakit pada organ

tersebut)

2. Kardiovaskular: reduksi VO2 maksimum, menurunnya stroke

volume, kontraksi otot jantung, dan volume plasma

3. Muskuloskeletal: kekakuan otot, penurunan performa, overuse

injury

4. Imunitas: peningkatan frekuensi infeksi saluran nafas atas dan

infeksi bakteri lain, penurunan sekresi IgA dan IgA serum, penurunan

fungsi sel natural killer

5. Perubahan biokomia darah: negative nitrogen balance,

penurunan glikogen otot, deplesi mineral (zinc, cobalt, alumunium,

selenium, copper), peningkatan kortisol, penurunan testosteron 6.

(44)

Gambar 2.6

Tanda dan gejala kelelahan kronis(Lewis et al., 2010) 2.3.1Patofisiologi Sindrom Pelatihan Fisik Berlebih / Overtraining

Syndrome

Patofisiologi dari sindrom pelatihan fisik berlebih / overtraining

syndrome belum diketahui secara jelas. Terdapat beberapa model atau

hipotesis yang menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit ini, salah satu

diantaranya adalah hipotesis sistem saraf otonom, hipotesis neuroendokrin,

hipotesis glikogen / glutamin / asam amino bercabang (branch chained amino

acids / BCAA), dan hipotesis sitokin (Lewis et al., 2010).

A. Hipotesis sistem saraf otonom

Disfungsi otonom yang berhubungan dengan pelatihan fisik berlebih

atau overtraining diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu simpatis (gejala

(45)

Basedowian) dan parasimpatis (gejala Addisonoid). Bentuk simpatis (gejala

Basedowian) berhubungan dengan hipertiroid dan ditandai dengan adanya

gejala dari peningkatan stimulus adrenergik dan non-adrenergik, yaitu agitasi,

peningkatan tekanan darah dan denyut nadi, penurunan berat badan, dan

insomnia. Bentuk parasimpatis (gejala Addisonoid) ditandai dengan adanya

insufisiensi adrenal berupa depresi, kelelahan, peningkatan libido,

hipersomnolen, dan mialgia (Lewis et al., 2010).

Penemuan objektif yang mendukung hipotesis ini antara lain adanya

penurunan adrenocorticotropic hormone (ACTH), penurunan kadar kortisol,

peningkatan dini katekolamin sebelum latihan fisik dan setelah latihan fisik,

penurunan eksreksi katekolamin urin basal, dan penurunan denstitas reseptor

beta pada overtraining syndrome. Penurunan sensitivitas tubuh terhadap jalur

simpatis dapat dilihat sebagai mekanisme umpan balik negatif setelah

paparan berulang dari pelatihan fisik yang menginduksi pelepasan

katekolamin. Overtraining parasimpatis kemudian menampakkan hasil dari

umpan balik negatif tersebut sebagai respon dari stimulus berlebih dan

berulang tanpa disertai waktu istirahat yang adekuat. Hipotesis ini juga

menjelaskan mengapa atlet dengan non-exerciserelatefd life stressor

cenderung lebih mudah mengalami sindrom pelatihan fisik berlebih atau

overtraining syndrome (Lewis et al., 2010).

B. Hipotesis neuroendokrin

Sindrom pelatihan fisik berlebih atau overtraining syndrome menekan

aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal, ditandai dengan adanya penurunan

(46)

hormonal yang ditemukan antara lain supresi aksis

hipotalamus-hipofisis-adrenal (penurunan ACTH dan kortisol), penurunan growth hormone,

penurunan sekresi thyroid stimulating hormone (TSH), penurunan sekresi

luteinizing hormone (LH), penurunan rasio testosteron bebas terhadap

kortisol, penurunan sekresi prolaktin, dan peningkatan kadar norepinefrin dan

epinefrin (Lewis et al., 2010).

Belum ada penjelasan yang lengkap mengenai hubungan antara

overtraining dengan ketidaknormalan sistem endokrin tersebut, dan

kejadiannya bervariasi selama rangkaian sindrom pelatihan fisik berlebih atau

overtraining syndrome. Hipotesis neuroendokrin dan perubahan hormonal

yang terjadi akibat overtraining berhubungan dengan hipotesis otonom dan

sitokin, pada beberapa kasus juga merupakan respon sekunder dari perubahan

otonom dan inflamasi (Lewis et al., 2010).

C. Hipotesis glutamin / asam amino bercabang / glikogen

Glutamin adalah asam amino dengan jumlah terbesar yang terdapat

pada otot dan plasma, disintesis di otot, paru, hepar, otak, dan jaringan lemak.

Glutamin adalah sumber nutrien yang penting untuk monosit, limfosit, dan sel

natural killer. Pada atlet yang diberi pelatihan fisik berlebih, dengan

intensitas pelatihan yang tinggi dan istirahat yang tidak adekuat, kadar

glutamin menurun plasma, dan menyebabkan tubuh lebih beresiko

mengalami penyakit infeksi. Telah terbukti sekresi IgA dan konsentrasi IgA

serum menurun pada atlet yang diberikan pelatihan fisik berlebih. Selain itu

(47)

studi telah membuktikan adanya peningkatan angka kejadian infeksi saluran

nafas atas pada atlet yang diberi pelatihan fisik berlebih (Lewis et al., 2010).

Hipotesis asam amino bercabang / branched chain amino acid (BCAA)

mengungkapkan bahwa pada overtraining syndrome terjadi peningkatan

5hydroxytryptamine (5-HT), atau serotonin, yang kemudian menimbulkan

central fatigue. Menurut hipotesis ini, pelatihan fisik intensif menyebabkan

deplesi glikogen, sehingga mengharuskan tubuh menggunakan sumber energi

alternatif yang didapat dari susunan otot. BCAA (leucine, isoleucine, valine)

kemudian dioksidasi menjadi glukosa bersamaan dengan peningkatan kadar

asam lemak. Asam lemak berkompetisi dengan triptofan dalam menempati

albumin binding sites. Setelah melewati blood brain barrier triptofan

dikonversi menjadi 5-HT, atau serotonin (Lewis et al., 2010).

Glikogen adalah sumber energi utama pada pelatihan fisik intensif

hingga moderate. Menurut hipotesis glikogen, deplesi glikogen dapat

menyebabkan overtraining syndrome melalui tiga mekanisme, yaitu: secara

langsung (peningkatan kadar glikogen otot menyebabkan kelelahan otot dan

menurunkan performa), melalui peningkatan BCAA yang kemudian

menyebabkan central fatigue, dan melalui reaksi katabolik (Lewis et al.,

2010).

D. Hipotesis sitokin

Hipotesis sitokin menjelaskan bahwa pada cedera jaringan kronik yang

terjadi tanpa penyembuhan regeneratif, terdapat inflamasi sistemik dan

respon imun. Hal ini terjadi akibat aktivasi NADPH oxidase yang terdapat di

(48)

regulasi faktorfaktor imunitas dan terbentuknya radikal bebas terutama ROS

(Lewis et al., 2010; Dong et al, 2011).

Faktor imunitas yang mengalami peningkatan antara lain interleukin,

interferon, TNF, sitokin dan faktor pro-inflamasi lainnya. Peningkatan faktor

imunitas ini memiliki andil dalam terjadinya exercise-induced

immunosuppression, yang kemudian menimbulkan gejala seperti central

fatigue, anoreksia, depresi, status katabolik, dan perubahan aksis

hipotalamus-hipofisisadrenal dan hipotalamus-hipofisis-gonad (Lewis et al.,

2010; Dong et al, 2011).

Peningkatan produksi ROS di dalam tubuh dapat menyebabkan

peroksidasi lipid membran sel dan mencetuskan terjadinya kerusakan

oksidatif pada molekul biologi tubuh, contohnya DNA (Dong et al, 2011).

Gambar 2.7

(49)

2.3.2Preventif Sindrom Pelatihan Fisik Berlebih / Overtraining Syndrome

Langkah preventif overtraining syndrome dapat dilakukan dengan cara

memberikan periode latihan sesuai dengan beban latihan yang baik. Dengan

memberikan periode pelatihan fisik, disertai waktu yang cukup untuk

pemulihan, maka pelatihan fisik akan optimal. Rencana jangka panjang

berupa pelatihan fisik selama 52 minggu per tahun yang terbagi dalam

beberapa fase dan intensitas sangatlah penting (Safran et al., 2012).

Langkah preventif sangatlah penting, namun apabila overtraining

syndrome sudah terjadi maka terapi paling tepat adalah beristirahat selama

kurang lebih 2 minggu. Setelah periode istirahat ini, pelatihan fisik ringan

harus dilakukan dengan metode, aktivitas, dan intensitas yang berbeda dari

pelatihan sebelumnya yang telah mencetuskan overtraining syndrome.

Peningkatan intensitas harus dilakukan secara bertahap dan memperhatikan

ada tidaknya tanda-tanda overtraining syndrome. Kemungkinan adanya

gangguang kesehatan seperti malnutrisi, depresi, penyakit tiroid, dan anemia

harus disingkirkan sebelum memulai terapi (Safran et al., 2012).

2.4 F2-Isoprostan

Stres oksidatif dipercaya sebagai kunci dari beberapa penyakit akut

maupun kronis, namun untuk melakukan evaluasi terhadap kadar radikal

bebas adalah hal yang sulit karena radikal bebas sangat reaktif, cepat hilang,

dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hal yang lebih mudah

dilakukan adalah dengan melakukan evaluasi terhadap hasil reaksi radikal

bebas di dalam tubuh, salah satunya dengan melihat kadar F2-isoprostan.

Isoprostan merupakan senyawa menyerupai prostaglandin yang disintesis

(50)

bebas nonenzimatik in vivo. Kadar F2isoprostan menggambarkan peroksidasi

lipid yang terjadi pada keadaan stres oksidatif. Peroksidasi lipid in vivo dan in

vitro dengan menggunakan analisa kuantitatif F2-isoprostan diketahui lebih

unggul dibandingkan dengan metode lain seperti TBARS (thiobarbituric

acid–reactive substances), MDA, lipid hidroperoksida, dan exhaled alkanes

(ethane maupun pentane)(Basu, 2008).

Pada keadaan normal kadar F2-isoprostan adalah kurang dari 2 ng/ml

kreatinin, namun dapat meningkat pada keadaan stres oksidatif. Hal ini yang

menyebabkan kadar F2-isoprostan tidak boleh melebihi normal, karena

peningkatan kadar F2-isoprostan menggambarkan peroksidasi lipid yang

terjadi pada keadaan stres oksidatif. Apabila stres oksidatif tidak

diminimalisir maka dapat menyebabkan kerusakan oksidatif. Akumulasi

kerusakan oksidatif ini selanjutnya dapat menyebabkan kerusakan molekul

tubuh, jaringan, penurunan fungsi organ, penuaan, dan berbagai penyakit

lainnya.

2.4.1Mekanisme Pembentukan F2-Isoprostan

Pembentukan nonenzimatik derivat prostaglandin tidak banyak

diketahui sebelum tahun 1990. Beberapa studi mengungkapkan bahwa

pembentukan F2isoprostan melalui jalur cyclooxygenase (COX) dari sel

trombosit dan monosit manusia, namun pembentukan melalui jalur ini

sangatlah minimal. Tidak seperti prostaglandin primer, isoprostan tidak

memerlukan cyclooxgenase untuk pembentukannya, oleh karena itu

F2-isoprostan tidak dapat disebut sebagai prostaglandin (Basu, 2008).

Mekanisme pembentukan isoprostan dengan prekusor asam arakhidonat

(51)

1. Pemisahan atom hidrogen yang labil

2. Penambahan molekul oksigen pada asam arakhidonat yang

menghasilkan empat bentuk radikal peroksil

3. Endocyclization

4. Penambahan molekul oksigen yang membentuk empat

PGG2-like bicyclic endoperoxide intermediates yang tidak stabil

5. Reduksi PGG2-like bicyclic endoperoxide intermediates oleh

glutation yang kemudian menghasilkan bentuk awal isoprostan yang

akan berubah menjadi bentuk yang bermacam-macam. Bentuk

isoprostan ditentukan oleh letak ikatan regioisomer atom karbon

dengan gugus hidroksil, apakah terletak pada seri ke 5-, 8-, 12-, atau

15- regioisomer. Dan karena komponen ini isomer dengan PGF2

primer, maka komponen disebut juga F2-isoprostan 2.4.2 Absorbsi,

Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi F2-Isoprostan

Farmakokinetik dari F2-isoprostan belum diketahui secara detail. Hasil

studi menunjukkan bahwa isoprostan diproduksi secara in situ pada sel yang

rusak, terutama dalam bentuk ester, kemudian dimetabolisme menjadi bentuk

asam bebas. Setelah melewati tahap biosintesis dalam jaringan, komponen ini

siap diabsorbsi dan didistribusikan ke seluruh tubuh dalam bentuk asam bebas

maupun ester. Setelah diubah menjadi bentuk bebas, isoprostan dilepaskan ke

dalam sirkulasi perifer kemudian mengalami hidrolisis dan metabolisme

lanjutan. Isoprostan primer dan produk oksidasinya dapat ditemukan dalam

(52)

Gambar 2.8

Skema sederhana biosintesis F2-isoprostan (Basu, 2003)

2.4.3F2-Isoprostan Sebagai Biomarker Peroksidasi Lipid dan Stres

Oksidatif

Kadar F2-isoprostan telah diketahui meningkat pada beberapa keadaan

yang berkaitan dengan cedera oksidatif, sehingga kadar F2-isoprostan pada

jaringan dan cairan tubuh dapat menjadi penanda peroksidasi lipid akibat

radikal bebas secara in vivo. Pada cedera oksidatif, kadar F2-isoprostan

sepuluh kali lebih tinggi daripada PGF2 enzimatik pada plasma. Bentuk

bebas dari F2-isoprostan dapat dengan mudah ditemukan dalam jaringan dan

cairan tubuh. Perhitungan bentuk ester dan bentuk bebas dari isoprostan dapat

dilakukan pada jaringan, yang menggambarkan adanya stres oksidatif pada

jaringan tersebut (Basu, 2008).

Perhitungan kadar MDA (malondialdehyde) untuk melihat adanya stres

(53)

isoprostan. Namun tidak ada hubungan antara peningkatan isoprostan dengan

kadar MDA. Walaupun isoprostan dapat menggambarkan adanya oksidasi

asam arakhidonat dengan baik, namun ada kemungkinan merupakan hasil

dari lipid lain yang juga teroksidasi. Selain itu, pengambilan sampel yang

kurang baik, persiapan yang buruk (selama proses ekstraksi, purifikasi, dan

hidrolisasi), dan pengawetan sampel sebelum dilakukan analisa juga dapat

menyebabkan kesalahan dalam analisa isoprostan (Basu, 2008).

2.4.4F2-Isoprostan dan Pelatihan Fisik Berlebih

Peningkatan isoprostan terjadi pada keadaan pelatihan fisik berlebih

seperti lari ultramaraton yang dapat mencetuskan terjadinya lipid peroksidase.

Pada studi terdahulu juga ditemukan bahwa kadar F2-isoprostan meningkat

pada subyek sehat setelah melakukan pelatihan fisik berupa knee extensor

selama tiga jam (Fischer et al., 2004; Fischer et al., 2006). Menururt Sacheck

et al. (2003), peningkatan kadar F2-isoprostan hingga 5 ng/ml dapat

ditemukan 72 jam setelah pelatihan fisik ekstrem akibat kerusakan pada otot.

Pada penelitian yang dilakukan terhadap 12 subyek sehat yang diberi

perlakuan berupa overtraining selama 12 minggu, terbagi dalam empat fase

yang setiap fasenya terdiri dari beban latihan fisik bervariasi, dengan durasi

tiga minggu per fase, dan jarak istirahat 96 jam antar fase, didapatkan hasil

bahwa terdapat peningkatan F2-isoprostan yang berbanding lurus dengan

peningkatan beban latihan. Pada saat istirahat selama 96 jam setelah diberi

pelatihan fisik yang berat, terdapat penurunan F2-isoprostan secara signifikan

(Margonis et al., 2007).

(54)

2.5 Antioksidan

Antioksidan merupakan molekul yang dapat mencegah teroksidasinya

molekul lain oleh radikal bebas, dengan cara mendonorkan elektronnya

sehingga radikal bebas menjadi stabil. Antioksidan yang ideal harus mudah

diabsorbsi, mampu melawan radikal bebas, terlibat dalam kelasi redoks metal

dan ekspresi gen dengan cara yang positif (Rahman, 2007).

2.5.1Klasifikasi Antioksidan

Manusia memiliki sistem antioksidan yang kompleks (enzimatik dan

nonenzimatik), yang bekerja secara sinergis, dan bersama-sama melindungi

sel dan organ tubuh dari kerusakan yang diakibatkan oleh adanya radikal

bebas. Antioksidan enzimatik yang paling efisien antara lain gluthatione

peroxidase, catalase, dan superoxide dismutase. Sedangkan antioksidan

nonenzimatik dibagi menjadi antioksidan metabolik dan nutrien. Antioksidan

metabolik terdiri dari lipoid acid, glutathione, L-ariginine, coenzyme Q10,

melatonin, uric acid, bilirubin, metal-chelating proteins, transferrin, dan

sebagainya. Antioksidan nutrien berasal dari luar tubuh (eksogen) terdiri dari

vitamin E dan C, thiol antioxidants (gluthatione, thioredoxin, dan lipoic

acid), melatonin, karotenoid, flavonoid natural, trace metals (selenium,

mangan, zinc), asam lemak omega-3 dan omega-6, dan lain-lain (Droge,

2002; Willcox et al., 2004). Beberapa antioksidan dapat berinteraksi dengan

antioksidan lain yang disebut juga jaringan antioksidan (Sies et al., 2005).

Berdasarkan asalnya, antioksidan dapat berasal dari dalam tubuh

(endogen) maupun dari luar tubuh (eksogen), misalnya dari diet dan

suplementasi makanan. Antioksidan endogen memiliki peran penting dalam

(55)

tubuh. Namun pada keadaan stres oksidatif, jumlah antioksidan endogen tidak

mencukupi sehingga diet tinggi antioksidan eksogen mungkin dibutuhkan.

Beberapa komposisi yang terdapat dalam makanan tidak berfungsi untuk

menetralisir radikal bebas secara langsung, melainkan mengaktivitasi

antioksidan endogen, sehingga dapat juga diklasifikasikan sebagai

antioksidan (Rahman, 2007).

2.5.2Klasifikasi Mekanisme Kerja Antioksidan

Berbagai efek antioksidan dalam sistem biologi dapat diklasifikasikan

menjadi dua kelompok utama, seperti yang dijabarkan pada halaman berikut

ini (Pham-Huy et al., 2008; Kostyuk dan Potapovich, 2009).

Klasifikasi mekanisme kerja antioksidan (Pham-Huy et al., 2008;

Kostyuk dan Potapovich, 2009):

1. Chain breaking effects atau efek memutuskan rantai reaksi

radikal bebas.

Ketika radikal bebas mengambil satu elektron dari molekul lain, ia

membuat molekul tersebut menjadi kehilangan elektronnya sehingga berubah

menjadi radikal bebas. Contoh paling umum dari reaksi rantai radikal bebas

adalah lipid peroxidation. Antioksidan juga bersifat sebagai kompetitor dari

beberapa radikal bebas, contohnya NO sehingga mencegah dampak negatif

NO terhadap sel.

2. Preventive effects atau efek mencegah terjadinya pembentukan

Gambar

Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 2.4
Gambar 2.5
+4

Referensi

Dokumen terkait

Inilah asas atau teras pembinaan acuan Malaysia.Penekanan kepada moral dan nilai direalisasikan dengan menjadikan Pendidikan Islam dan Pendidikan Moral sebagai mata pelajaran

Biaya pemeliharaan yang tinggi pada perkerasan lentur namun umur pelayanan yang pendek serta pemeliharaan yang sering terjadi pada masa pelayanan membuat biaya yang

[r]

Sindrome patau merupakan penyakit kelainan genetik dengan kromosom 13.trisomi 13 adalah salah satu penyakit yang melibatkan kromosom, yaitu struktur yang

Hal ini dibuktikan dengan adanya tujuan untuk menaikkan derajat kesehatan masyarakat, adanya pengambilan keputusan tentang kawasan tanpa rokok yang dibuat oleh pimpinan

Dari tabel tersebut terlihat bahwa peubah suhu udara berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan karang pada setiap pulau, sedangkan peubah curah hujan hanya berpengaruh

Pengujian kuat tekan dan kuat tarik belah beton dengan benda uji 12 buah beton silinderdilakukan di Laboratorium Bahan Rekayasa Program Strata Satu (S1) Departemen Teknik

Sektor luar malaysia dijangka sederhana disebabkan oleh eksport yang lebih rendah dan harga komoditi yang lemah, terutamanya dalam tempoh separuh pertama 2013,