Vol. 26, No. 1, April 2015 Hal. 1-10
ABSTRACT
The aim of this study is to answer the problem and to test whether, leverage has a positive impact on accounting policy choices, bonus plan has a positive impact on accounting policy choices, risk has a posi- tive impact on accounting policy choices and each of these can be moderated by the inluence of managerial ownership. The samples used in this study are manu- facturing companies, consist of 112 companies over the years 2005-2009 with purposes of sampling as a sampling method. Hypothesis testing is done using logistic regression. The result of this study was able to prove that bonus plan had a signiicant positive impact on accounting policy choices, managerial ownership moderated signiicantly the positive impact of lever- age with accounting policy choices and managerial ownership moderated signiicantly the positive impact of risk with accounting policy choices.
Keywords: leverage, risk, managerial ownership, ac- counting policy
JEL Classiication: G32, M41
PENDAHULUAN
Teori akuntansi positif berupaya menjelaskan sebuah proses, yang menggunakan kemampuan, pemahaman,
PENGARUH LEVERAGE, BONUS PLAN, DAN RISIKO
TERHADAP KEBIJAKAN AKUNTANSI DENGAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL SEBAGAI VARIABELMODERASI
Rochmad Bayu Utomo
PT. Bank Pundi Indonesia, Tbk. (KCP Wonogiri) E-mail: [email protected]
dan pengetahuan akuntansi serta penggunaan kebi- jakan akuntansi yang paling sesuai untuk menghadapi kondisi tertentu di masa mendatang. Teori akuntansi positif pada prinsipnya beranggapan bahwa tujuan dari teori akuntansi adalah untuk menjelaskan dan mem- prediksi praktik akuntansi, dengan kata lain apa yang dilakukan dan untuk apa dilakukan. Teori akuntansi positif merupakan studi lanjut dari teori akuntansi normatif karena kegagalan normatif dalam menjelas- kan fenomena praktik yang terjadi secara nyata. Teori akuntansi positif mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan teori akuntansi. Teori akuntansi positif dapat memberikan pedoman bagi para pembuat kebijakan akuntansi dalam menentukan konsekuensi dari kebijakan tersebut.
Di Indonesia, standar akuntansi keuangan mulai mengadopsi International Financial Reporting Standards (IFRS) sejak tanggal 1 Januari 2012.
Sebelum tanggal 1 Januari 2012 standar akuntansi di Indonesia belum menggunakan secara penuh standar akuntansi internasional atau IFRS. Standar akuntansi di Indonesia yang berlaku saat itu mengacu pada United Stated Generally Accepted Accounting Standart (US GAAP), namun pada beberapa paragraf sudah men- gadopsi IFRS yang sifatnya harmonisasi (Gamayuni, 2011). Perbedaan lingkungan antara United Stated dengan Indonesia dapat mengakibatkan perbedaan karakteristik konlik agensi. Di negara maju lainnya dan negara sedang berkembang, perusahaan masih dikendalikan oleh keluarga (Siregar dan Utama, 2005).
Perbedaan lingkungan secara umum, karakteristik
Tahun 1990
J U R N A L
AKUNTANSI&MANAJEMEN
agensi, dan eisiensi pasar modal menjadikan penelitian kebijakan akuntansi perlu dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Teori akuntansi positif telah banyak diuji dengan meng- gunakan pilihan metode akuntansi.
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab per- masalahan dan menguji apakah leverage mempunyai pengaruh positif terhadap memilih kebijakan akun- tansi, bonus plan mempunyai pengaruh positif terhadap memilih kebijakan akuntansi, risiko mempunyai pen- garuh positif terhadap memilih kebijakan akuntansi, dan aoakah masing-masing pengaruh tersebut dapat dimoderasi oleh kepemilikan manajerial.
Kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba akan dipilih oleh manajer perusahaan dalam hipotesis debt covenant. Debt covenant pada penelitian terdahulu diproksi dengan leverage. Proksi ini menggambarkan tingkat ketergantungan perusahaan pada debtholder.
Semakin tinggi leverage, maka ketergantungan perusahaan pada debtholder juga semakin tinggi se- hingga keinginan untuk menghindari pelanggaran debt covenant juga akan semakin tinggi. Manajer dengan tingkat utang yang lebih tinggi akan menggunakan pilihan kebijakan akuntansi untuk menaikkan laba.
Bonus plan hypothesis menyatakan bahwa manajer memilih kebijakan akuntansi yang dapat me- ningkatkan laba untuk memaksimalkan kompensasi.
Pada penelitian ini bonus plan diproksi dengan ada tidaknya rencana kompensasi. Proksi ini dipilih untuk lebih menjelaskan tentang motif memaksimalkan kom- pensasi. Ada tidaknya rencana bonus menggambarkan hubungan yang terpisah antara pemilik dengan manaje- men. Manajemen akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba jika ada rencana bonus.
Sementara itu, kepemilikan manajerial menggambar- kan konlik kepentingan antara manajemen sebagai pemilik dengan manajemen sebagai pemegang saham.
Kepemilikan manajerial yang tinggi agensi problem- nya rendah, sehingga keinginan untuk mendapatkan bonus bukan alasan untuk memilih kebijakan akuntansi yang dapat meningkatkan bonus.
Pengendalian risiko terhadap pilihan kebijakan akuntansi adalah kunci untuk memastikan kualitas informasi akuntansi, mengurangi resiko keuangan, dan menerapkan pengendalian internal efektif. Hal ini berarti meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghindari risiko dan meningkatkan nilai perusahaan
dan alokasi sumber daya yang optimal (Nina, et al., 2009). Semakin tinggi risiko, manajer akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikan laba. Ini di- lakukan untuk meningkatkan nilai perusahaan sehingga nantinya dapat menjembatani adanya problem agensi antara manajemen dengan stakeholder.
Laporan keuangan perusahaan dihasilkan dari satu paket kebijakan akuntansi yang meliputi beber- apa kebijakan akuntansi, sehingga laporan keuangan mencerminkan lebih dari satu metode akuntansi. Ke- bijakan akuntansi yang diteliti meliputi gabungan dari kebijakan penilaian persediaan, depresiasi aktiva tetap, dan penyajian piutang usaha. Kebijakan penilaian persediaan, depresiasi aktiva tetap, dan penyajian piu- tang usaha dipilih karena ketiga kebijakan akuntansi ini ada pada setiap perusahaan manufaktur. Sehubungan dengan itu pemahaman atas laporan keuangan tidak dapat dilihat hanya dengan mengkaji satu metode akuntansi saja. Penelitian ini berusaha menjelaskan kebijakan akuntansi yang menggabungkan tiga metode akuntansi agar dapat dipahami rasionalitas manajemen dalam memilih kebijakan akuntansi perusahaan.
MATERI DAN METODE PENELITIAN
Perusahaan digambarkan sebagai sebuah entitas legal yang berjalan sebagai seperangkat kontrak yang kom- plek di antara individu yang berbeda (Misangyi, 2002).
Informasi akuntansi merupakan fungsi dari portofolio kebijakan akuntansi perusahaan, sehingga perbedaan kebijakan akuntansi akan memberikan informasi akun- tansi yang berbeda pula. Pemilihan kebijakan akuntansi berkaitan dengan teori agensi, dimana manajemen akan bersifat oportunis untuk membela kepentingan- nya (Deegan, 2004). Oportunis dalam pemilihan kebijakan akuntansi merupakan penggunaan metode akuntansi yang dapat menaikkan laba melebihi yang seharusnya. Manajemen oportunis memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba dengan tujuan mensiasati perencanaan bonus (bonus plan hyphotesis) dan menghindari pelanggaran perjanjian utang (debt covenant hyphotesis). Namun demikian, jika manaje- men mendapat tekanan dari pihak ketiga (misalnya pekerja, lembaga swadaya masyarakat, partai politik, pemerintah) akan cenderung menghindari tekanan tersebut dengan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menunda atau menurunkan laba dengan tujuan
meminimalisir political cost (political cost hyphotesis).
Praktik akuntansi didesain untuk menjelaskan dan memprediksi apa yang akan dilakukan perusahaan dan apa yang tidak akan dilakukan perusahaan secara khusus, misalnya pemilihan metode akuntansi. Teori akuntansi positif menjelaskan bagaimana akuntansi keuangan dapat digunakan untuk meminimalisasi biaya keagenan dari setiap pihak yang terlibat dalam kontrak yang masing-masing pihak mengutamakan ke- pentingannya (Deegan, 2004). Teori akuntansi positif menggunakan perspektif ekonomi untuk menjelaskan tentang perilaku manajemen dalam pemilihan kebi- jakan akuntansi. Asumsi ekonomi dalam teori akun- tansi positif membuat kerangka pikir menjadi terlalu sempit. Asumsi ini menghalangi para peneliti terdahulu untuk memperluas penelitian dan konteks penelitian yang lebih komplek.
Hipotesis debt covenant, bonus plan, dan politi- cal cost dapat dijelaskan dalam perspektif oportunis maupun perspektif eisiensi (Deegan, 2004). Pers- pektif oportunis mengasumsikan bahwa manajemen memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan utilitas relatif yang diharapkannya untuk remunerasi, kontrak pinjaman, dan political cost. Oportunis terjadi ketika kebijakan manajemen meningkatkan kekayaan manajemen, tetapi tidak menciptakan peningkatan kekayaan secara agregat. Perspektif oportunis sering dihubungkan dengan perspektif dan tujuan setelah kejadian, karena itu perspektif ini mempertimbangkan tindakan oportunis yang dapat dilakukan segera setelah kontrak disepakati atau dibuat (Deegan, 2004).
Dalam penelitian ini hubungan risiko terhadap pemilihan kebijakan akuntansi adalah risiko tinggi, bi- asanya manajemen akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba perusahaan. Hal ini dilaku- kan oleh manajemen untuk menaikan nilai perusahaan.
Manajemen memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba perusahaan karena semakin besar proporsi utang yang digunakan perusahaan, manaje- men akan menanggung risiko yang semakin besar.
Jika utang lebih besar dari nilai ekuitas perusahaan, maka ketergantungan perusahaan pada debtholder lebih besar dibanding stockholder. Ini menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai utang yang tinggi mempunyai tekanan debt covenant yang tinggi pula.
Kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba dipilih oleh manajemen untuk dapat menjembatani adanya
problem agensi antara manajemen dengan debtholder.
Banyak covenant meminta perusahaan untuk mengelola variabel akuntansi yang utama pada level tertentu. Salah satu rasio keuangan yang harus dipatuhi oleh manajer adalah proitabilitas. Manajer akan beru- paya agar laba yang dihasilkan menjadi lebih besar sehingga proitabilitas perusahaan menjadi lebih besar.
Cara yang paling mudah bagi manajemen dan tanpa risiko adalah mengeksploitasi kebijakan akuntansi yang sejalan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Manajer lebih menyukai untuk mengesploitasi kebebasan Prinsip Akuntansi Berlaku Umum (PABU) karena ada debt covenant. Manajemen berusaha meng- hindari pelanggaran debt covenant dengan menyusun laporan keuangan yang menyenangkan debtholder, sehingga manajer akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba.
Leverage yang tinggi menunjukkan bahwa sumber pendanaan perusahaan yang berasal dari pinja- man juga tinggi. Jika total debt lebih besar dari nilai equitas perusahaan, maka ketergantungan perusahaan pada debtholder lebih besar dibanding dengan stock- holder. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang mempunyai leverage yang tinggi mempunyai tekanan debt covenant yang tinggi pula. Berbeda dengan hipotesis bonus plan, motivasi manajemen memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba adalah agar mendapatkan bonus, pilihan kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba pada hipotesis debt cov- enant bertujuan untuk menghindarkan perusahaan dari pelanggaran debt covenant. Kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba dipilih oleh manajemen untuk dapat menjembatani adanya problem agensi antara manajemen dengan debtholder. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan adalah:
H1: Leverage berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi.
Perencanaan kompensasi manajemen dalam perusahaan biasanya didasarkan pada laba yang ditar- getkan. Target umumnya dinyatakan dengan syarat laba bersih akuntansi. Manajer memilih metode akuntansi yang dapat menaikkan laba untuk memaksimalisasi kompensasi yang didasarkan pada laba akuntansi, setelah manajemen menyetujui kontrak kompensasi.
Berdasarkan kontrak kompensasi inilah oportunis manajemen untuk mendapatkan bonus timbul.
Perilaku manajer untuk memilih kebijakan
akuntansi yang dapat menaikkan laba sejalan dengan teori agensi. Pada teori agensi manajemen digambarkan sebagai individu yang mementingkan kepentingannya sendiri sehingga jika bonus yang didapatkan didasar- kan pada laba maka manajer tersebut akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba dan tidak akan memaksakan diri untuk memilih kebijakan akuntansi yang tidak dapat menaikkan laba jika bonus tidak didasarkan pada bonus plan. Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan adalah:
H2: Bonus plan berpengaruh positif terhadap memilih kebijakan akuntansi.
Risiko yang tinggi dapat mengakibatkan keper- cayaan stakeholder terhadap manajemen berkurang.
Sehingga, manajemen akan memilih kebijakan akun- tansi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kekhawatiran bahwa perusahaan tidak dapat mengembalikan pinjamannya.
Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dia- jukan adalah:
H3: Risiko berpengaruh positif terhadap memilih kebijakan akuntansi.
Jika kepemilikan manajer dalam perusahaan menurun, kenaikan nilai perusahaan kurang mem- pengaruhi kekayaan manajer. Manajer kurang insentif untuk memaksimalkan nilai perusahaan, sementara insentif yang lebih besar adalah untuk memaksimalkan kekayaan pribadinya. Kepemilikan manajerial yang lebih besar mendorong kesetaraan kepentingan antara stockholder dengan manajer, dan mengurangi agensi diantara keduanya (Field, et al. 2001).
Kebijakan akuntansi yang dipilih dapat memak- simalkan kompensasi manajer sekaligus menurunkan kemungkinan melanggar debt covenant namun me- ningkatkan nilai perusahaan. Sementara itu, oportunis manajemen untuk mendapatkan bonus dan menghin- dar dari pelanggaran debt covenant mengharuskan manajemen memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba atau mempercepat pelaporan laba.
Stockholder dan debtholder berkeyakinan bahwa strategi yang dipilih manajemen akan meningkatkan nilai perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan berarti potensi aliran kekayaan ke stockholder akan semakin besar. Selain itu, peningkatan nilai perusahaan bagi debtholder juga menunjukkan bahwa tingkat keter- tagihan hutang juga akan semakin tinggi (Field, et al.
2001).
Kebijakan akuntansi yang sama dapat memak- simalkan kompensasi manajer dan sekaligus dapat menghindari dilanggarnya debt covenant dan pen- ingkatan nilai perusahaan. Dasar pertimbangan dapat sejalan dan dapat bertentangan. Kebijakan akuntansi yang sama dapat memaksimalkan kompensasi manajer dan sekaligus dapat menghindari dilanggarnya debt covenant dan peningkatan nilai perusahaan (Field, et al. 2001). Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan adalah
H4: Kepemilikan manajerial mempengaruhi secara positif hubungan antara leverage terhadap kebi- jakan akuntansi.
Semakin meningkat proporsi kepemilikan manajerial maka semakin baik kinerja perusahaan. Jika manajemen memiliki kepemilikan manajerial, mereka akan memiliki kepentingan yang sama dengan pemilik sehingga konlik keagenan dapat dikurangi. Bonus plan timbul karena adanya kontrak agensi antara manajemen dengan stockholder yang menempatkan manajemen sebagai agen dan stockholder sebagai prinsipal. Teori agensi mengasumsikan bahwa agen akan menguta- makan kepentingannya sendiri, sehubungan dengan pemilihan kebijakan akuntansi sebagaimana dijelaskan dalam hipotesis bonus plan, manajemen akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba untuk tujuan bonus bagi dirinya sendiri. Berdasar kepemi- likan manajerial yang tinggi, manajemen memiliki posisi yang kuat untuk mengendalikan perusahaan.
Hal ini disebabkan karena manajemen mempunyai hak voting yang besar atas kepemilikan manajerial.
Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang diajukan adalah:
H5: Kepemilikan manajerial mempengaruhi secara positif hubungan antara bonus plan terhadap kebijakan akuntansi.
Kepemilikan manajerial memiliki hubungan timbal balik dengan risiko. Pada tingkat risiko tinggi menyebabkan manajer mengurangi kepemilikan manajerial untuk menghindari risiko sehingga pada akhirnya konlik keagenan akan cenderung mening- kat. Demikian juga kepemilikan manajerial memiliki hubungan timbal balik dengan kebijakan utang dalam mengontrol konlik keagenan. Tingkat kepemilikan manajerial tinggi menyebabkan kekayaan tidak terdi- versiikasi sehingga manajer menghadapi risiko tinggi.
Kondisi ini menyebabkan manajer mengurangi peng-
gunaan utang sehingga terhindar dari kebangkrutan Kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba dipilih oleh manajemen untuk dapat menjembatani adanya problem agensi antara manajemen dengan debtholder.
Berdasarkan uraian tersebut maka hipotesis yang dia- jukan adalah sebagai berikut:
H6: Kepemilikan manajerial mempengaruhi secara positif hubungan antara risiko terhadap kebijakan akuntansi.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.
Penelitian dilakukan pada perusahaan manufaktur karena perusahaan manufaktur regulasi akuntansinya tidak seketat perusahaan keuangan dan perbankan.
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, sehingga sampel penelitian yang diambil adalah sampel yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini. Kriteria pemilihan sampel dalam pene- litian ini adalah jenis perusahaan adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 dan mempublikasikan laporan keuangan dari tahun 2005 sampai dengan ta- hun 2009. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dari perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang diperoleh dari JSX data base, Indonesian Capital Market Directory, www.idx.com, dan web site masing-masing perusahaan. Data tersebut berupa laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
Kebijakan akuntansi yang dapat menaikkan laba diidentiikasikan dengan kombinasi kebijakan metode persediaan FIFO, metode depresiasi garis lurus, dan metode penilaian piutang direct method. Pe- rusahaan yang memilih kombinasi tersebut diberi skor 1. Sementara itu, skor 0 diberikan pada perusahaan yang kebijakan akuntansinya menunda pelaporan laba (kebijakan akuntansi yang dapat menurunkan laba).
Kebijakan akuntansi yang dapat menurunkan laba diidentiikasikan dengan kombinasi kebijakan metode persediaan rata-rata, metode depresiasi saldo menurun, dan metode penilaian piutang allowance method. Le- verage adalah total hutang dibagi total ekuitas. Bonus plan diukur berdasarkan kebijakan bonus, apabila perusahaan ada skema kompensasi diberi skor 1, dan apabila tidak menerapkan sistem bonus diberi skor 0.
Risiko diukur dengan menggunakan koeisien beta.
Kepemilikan manajerial diukur berdasarkan jumlah lembar saham yang dimiliki manajemen dibagi dengan jumlah lembar saham yang beredar pada tahun ke n.
Ukuran perusahaan diukur dengan log natural total assets.
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan regresi logistik. Regresi logistik (LOG- IT) dipilih karena data dalam penelitian ini berupa data nominal dan data rasio, variabel dependen berupa data nominal dan independen berupa data rasio dan nominal sehingga regresi logit yang paling tepat digunakan.
Ghozali (2007) mengemukakan bahwa asumsi multi- variate distribusi normal tidak dapat dipenuhi karena variabel bebas merupakan campuran antara variabel kontinyu (metrik) dan kategorikal (nonmetrik). Dalam hal ini dapat dianalisis dengan logistic regression karena tidak perlu asumsi normalitas data pada variabel bebasnya.
Sebelum melakukan analisis terhadap regresi logistik, langkah pertama adalah menilai kelayakan model regresi. Fit model dapat dilihat dari Hosmer dan Lemeshow test. Dasar pengambilan keputusan good- ness of it test yaitu diukur dengan nilai chi-square uji Hosmer and Lemeshow. Sebelum melakukan analisis terhadap regresi LOGIT langkah pertama adalah meni- lai overall it model terhadap data dengan fungsi likeli- hood (Ghozali, 2007). Hipotesis untuk menilai model it adalah model yang dihipotesiskan it dengan data.
Pengujian model it dilakukan dengan membandingkan selisih antara -2 Log likelihood yang hanya memasuk- kan konstanta dengan -2 Log likelihood untuk model yang memasukkan konstanta dan variabel independen yang diteliti pada df ((n-q konstanta) – (n-q konstanta dan independen )) dengan χ2 pada df ((n-q konstanta) – (n-q konstanta dan independen )). Hipotesis akan diterima jika δ -2 Log likelihood < χ2 pada df (n-q) dan sebaliknya jika δ -2 Log likelihood > χ2 pada df (n-q) maka hipotesis ditolak. Selain menguji it model, sebelum menguji hipotesis juga akan dilakukan pen- gujian multikolinieritas.
HASIL PENELITIAN
Berikut ini disajikan Tabel 1 tentang statistik deskriptif variabel penelitian dan Tabel 2 hasil uji multikolin- ieritas..
Matrik korelasi tersebut menunjukkan bahwa model penelitian dengan independen variabel risiko, leverage, bonus plan, kepemilikan manajerial, ukuran perusahaan, RKM, LKM, dan BPKM mempunyai korelasi yang lebih kecil dari 0,8. Ini memberi makna bahwa antarvariabel independen tidak ada hubungan yang signiikan, sehingga dapat dinyatakan bahwa model ini terbebas dari multikolinieritas.
Pada Tabel 3 disajikan hasil uji keakuratan menunjukan seberapa baik model mengelompokkan ke dalam dua kelompok baik yang dapat menurunkan laba maupun yang dapat menaikan laba. Keakuratan prediksi secara keseluruhan sebesar 78,1%. Sedangkan keakuratan prediksi yang menurukan laba dan menai- kan laba masing-masing 98,8% dan 17,4%.
Tabel 1
Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Variabel N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Risiko 544 - 0,9360 0,9830 0,118840 0,329922
Leverage 544 0,0500 72,7300 0,699761 3,114563
Bonus Plan 544 0 1,0000 0,101103 0,301742
Kepemilikan Manajerial 544 0 25,6100 1,739630 4,489779
Kebijakan Akuntansi 544 0 1,0000 0,253676 0,435515
Ukuran Perusahaan 544 6,8035 18,6491 13,702040 1,619221
RKM 544 -11,8203 12,1439 0,087948 1,613320
LKM 544 0 13,8132 0,760453 1,930096
BPKM 544 0 1,9000 0,022651 0,165278
Sumber: Hasil olah data.
Tabel 2
Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel Risiko Leverage BP KM UP RKM LKM BPKM
Risiko 1,000
Leverage -0,043 1,000
BP -0,025 0,016 1,000
KM 0,073 0,050 0,022 1,000
UP -0,028 0,167 0,002 0,114 1,000
RKM -0,377 0,003 0,012 -0,245 -0,066 1,000
LKM -0,026 -0,028 0,031 -0,715 -0,017 0,090 1,000
BPKM 0,028 0,014 -0,407 -0,044 0,040 0,001 0,035 1,000 Sumber: Hasil olah data.
Tabel 4 Hasil Uji Nagelkerke
Cox & Snell R Square 0,086 Nagelkerke R Square 0,127 Sumber: Hasil olah data.
Tabel 4 tentang hasil uji nagelkerke menunjukan bahwa hasil perhitungan Nagelkerke R square sebesar 0,127.
Ini menunjukkan bahwa kemampuan variabel inde- penden menjelaskan variabel dependen hanya sebesar 12,7% sedangkan sisanya sebesar 87,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model.
Tabel 5
Hasil Uji Hosmer dan Lemeshow
Hosmer dan Lemeshow
Chi-square Df Sig.
12,492 8 0,131
Sumber: Hasil olah data.
Hasil pengujian Hosmer-Lemeshow menunjukkan nilai Chi Square sebesar 12,492 df 8 dengan level signii- kansi 0,131. Level signiikansi ini lebih besar daripada 10%, berarti tidak ada perbedaan antara model dengan data. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa model ini adalah model yang sudah it.
Tabel 3 Hasil Uji Keakuratan
Observed Bagus Error Persentase data yang benar
Kebijakan akuntansi menurunkan laba 401 5 98,8
Kebijakan akuntansi menaikkan laba 24 114 17,4
Total Persentase 425 119 78,1
Sumber: Hasil olah data.
Tabel 6 Hasil Uji Regresi Logit
Variabel B Wald Sig.
Risiko -0,054 0,025 0,875
Leverage -0,041 0,996 0,318
Bonus Plan 0,712 4,505 0,034
Kepemilikan Manajerial -0,178 6,389 0,011
Ukuran Perusahaan -0,391 25,552 0,000
RKM 0,168 4,168 0,041
LKM 0,344 6,157 0,013
BPKM 0,145 0,062 0,803
Constant 4,146 15,447 0,000
Sumber: Hasil olah data.
Hipotesis pertama menyatakan bahwa lever- age berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh besarnya koeisien untuk risiko sebesar -0,041 dengan tingkat signiikan 0,318 yang menunjukan berada di atas tingkat signiikan 0,05. Ini berarti variabel lever- age tidak berpengaruh terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Hipotesis kedua menyatakan bahwa bonus plan berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh besarnya koeisien untuk risiko sebesar 0,712 dengan tingkat signiikan 0,034 yang menunjukan berada di bawah tingkat signiikan 0,05. Ini berarti variabel bonus plan berpengaruh posif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi.
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa risiko berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh besarnya koeisien untuk risiko sebesar –0,054 dengan tingkat signiikan 0,875 yang menunjukan berada di atas tingkat signiikan 0,05. Ini berarti variabel risiko tidak berpengaruh terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Hipotesis keempat menyatakan bahwa kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh positif terhadap hubungan antar leverage dengan kebijakan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh besarnya koeisien untuk risiko sebesar 0,344 dengan tingkat signiikan 0,013 yang menunjukan berada di bawah tingkat signiikan 0,05. Ini berarti variabel kepemilikan manajerial berpengaruh posif terhadap hubungan antara leverage dengan kebijakan akuntansi.
Hipotesis kelima menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap hubungan antara bonus plan dengan kebijakan akuntansi. Ber- dasarkan hasil penelitian, diperoleh besarnya koeisien untuk risiko sebesar 0,145 dengan tingkat signiikan 0,803 yang menunjukan berada di atas tingkat signii- kan 0,05. Ini berarti variabel kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap hubungan bonus plan terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Hipotesis keenam menyatakan bahwa kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh positif terhadap hubungan antara risiko dengan kebijakan akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh besarnya koeisien untuk risiko sebesar 0,168 dengan tingkat signiikan 0,041 yang menunjukan berada di bawah tingkat signiikan 0,05.
Ini berarti variabel kepemilikan manajerial berpen-
garuh posif terhadap hubungan anatara risiko dengan kebijakan akuntansi.
PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan maka dapat ditarik simpulan bahwa hipotesis pertama yang menyatakan leverage berpen- garuh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi mempunyai tingkat signiikansi di atas 5% sehingga hipotesis tersebut ditolak. Hasil penelitian ini men- dukung penelitian Waweru, et al. (2009). Menurut Mukhlasin (2007) dalam sampel penelitiannya pada tahun 2000 sampai 2004 di BEI menemukan hubungan positif antara leverage dengan pemilihan kebijakan akuntansi. Hipotesis pengaruh leverage terhadap kebijakan akuntansi pada penelitian yang dilakukan Mukhlasin (2007) berarti berbeda terhadap penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini. Dalam debt hyphotesis menerangkan bahwa perusahaan yang memiliki leverage tinggi akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikan laba. Ini tidak terbukti dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini ternyata dengan tingkat leverage yang tinggi maka manajer tidak akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat menaikan laba. Penolakan hipotesis pertama menun- jukan bahwa perusahaan tidak hanya tergantung pada pemilihan kebijakan akuntansi untuk keamanan per- janjian utang. Ada beberapa hal lain yang berpengaruh pada keamanan perjanjian utang, misalnya kredibilitas perusahaan, jaminan yang diberikan perusahaan dan ketepatan waktu pembayaran angsuran.
Pengujian hipotesis kedua yang menyatakan bahwa bonus plan berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi mempunyai tingkat signiikansi di bawah 5% sehingga hipotesis diterima.
Bonus plan berpengaruh positif terhadap pemilihan metode depresiasi, metode persediaan dan kombinasi metode depresiasi dengan persediaan. Semakin tinggi bonus plan maka manajemen semakin leluasa untuk memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba. Semakin rendah, maka akan semakin kecil kesempatan bagi perusahaan untuk dapat memilih kebijakan akuntansi yang menurunkan laba. Hasil penelitian ini sesuai dengan bonus plan hyphothesis yang menyatakan manajer perusahaan dengan bonus plan lebih menyukai untuk memilih prosedur akuntansi
yang dapat memindahkan pelaporan laba masa akan datang ke masa sekarang.
Pengujian hipotesis ketiga yang menyatakan risiko berpengaruh positif terhadap pemilihan kebi- jakan akuntansi mempunyai tingkat signiikansi di atas 5% sehingga hipotesis tersebut ditolak. Risiko yang tinggi dapat mangakibatkan kepercayaan stakeholder terhadap manajemen berkurang. Sehingga, manajemen akan memilih kebijakan akuntansi yang dapat mening- katkan nilai perusahaan. Ternyata dalam penelitian ini risiko tinggi tidak mempengaruhi manajemen untuk menaikan nilai perusahaan dengan memilih kebijakan akuntansi yang menaikan laba. Hal ini menunjukan bahwa stakeholder untuk memberikan pinjaman tidak hanya melihat risiko yang dimiliki perusahaan tetapi juga melihat riwayat pinjaman dan asset yang dimil- iki perusahaan untuk dijaminkan sehingga ketakutan stakeholder bawah perusahaan tidak dapat mengem- balikan pinjamannya dapat di minimalisir.
Pengujian hipotesis keempat yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap pemili- han kebijakan akuntansi yang dimoderasi kepemilikan manajerial mempunyai tingkat signiikansi di bawah 5% sehingga hipotesis diterima. Semakin tinggi kepe- milikan manajerial maka akan memperkuat hubungan leverage dengan kebijakan akuntansi. persentase yang semakin tinggi berarti manajemen dengan kepemilikan manajerial yang besar dengan tingkat leverage yang tinggi akan semakin leluasa untuk memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba. Semakin rendah persentase, maka akan semakin kecil kesem- patan bagi manajemen dengan kepemilikan manajerial kecil dan leverage kecil untuk dapat memilih kebijakan akuntansi yang menurunkan laba
Pengujian hipotesis kelima yang yang me- nyatakan bonus plan berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi yang dimoderasi kepe- milikan manajerial mempunyai tingkat signiikansi di atas 5% sehingga hipotesis tersebut ditolak. Ketika kepemilikan manajerial tinggi, kebanyakan pening- katan kekayaan personal yang diharapkan manajer berasal dari laba tahun berjalan yang overstating dan transfer kekayaan dari shareholder eksternal. Hal ini mengindikasikan bahwa ketika kepemilikan manajer menjadi besar maka manajer cenderung mengharapkan return untuk jangka panjang yaitu dividen. Sebaliknya jika kepemilikannya relatif kecil, maka manajer akan
bersikap oportunistik untuk mendapatkan bonus. Hal ini juga menunjukkan bahwa semakin besar kepemi- likan manajemen, maka agensi problem antara mana- jemen dengan stockholder akan semakin kecil dan semakin kecil kepemilikan manjeman maka problem agensinya akan semakin besar.
Pengujian hipotesis keenam yang menyatakan bahwa risiko berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi yang dimoderasi kepemilikan manajerial mempunyai tingkat signiikansi di bawah 5% sehingga hipotesis diterima. Semakin tinggi kepe- milikan manajerial maka akan memperkuat hubungan risiko dengan kebijakan akuntansi. Persentase yang semakin tinggi berarti manajemen dengan kepemilikan manajerial yang besar dengan tingkat risiko yang tinggi akan semakin leluasa untuk memilih metode akun- tansi yang dapat meningkatkan laba. Semakin rendah persentase, maka akan semakin kecil kesempatan bagi manajemen dengan kepemilikan manajerial kecil dan risiko kecil untuk dapat memilih kebijakan akuntansi yang menurunkan laba.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Leverage merupakan variabel independen yang ber- pengaruh negatif terhadap pemilihan kebijakan akun- tansi. Hal ini berarti semakin tinggi leverage, maka akan memilih kebijakan akuntansi yang menurunkan laba. Bonus plan merupakan variabel independen yang berpengaruh positif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Hal ini berarti semakin tinggi bonus plan, maka akan memilih kebijakan akuntansi yang menai- kan laba. Risiko merupakan variabel independen yang berpengaruh negatif terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Hal ini berarti semakin tinggi risiko, maka akan memilih kebijakan akuntansi yang menurunkan laba. Kepemilikan manajerial merupakan variabel moderator yang berpengaruh secara positif terhadap hubungan antara leverage terhadap kebijakan akun- tansi. Hal ini berarti persentase yang semakin tinggi berarti manajemen dengan kepemilikan manajerial yang besar dengan tingkat leverage yang tinggi akan semakin leluasa untuk memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba. Kepemilikan manaje- rial merupakan variabel moderator yang berpengaruh
tidak signiikan secara positive terhadap hubungan antara bonus plan terhadap kebijakan akuntansi.
Hal ini berarti variabel kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap hubungan bonus plan terhadap pemilihan kebijakan akuntansi. Kepemilikan manaje- rial merupakan variabel moderator yang berpengaruh secara positif terhadap hubungan antara risiko terhadap kebijakan akuntansi. Hal ini berarti semakin tinggi be- rarti manajemen dengan kepemilikan manajerial yang besar dengan tingkat risiko yang tinggi akan semakin leluasa untuk memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba.
Saran
Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan sampel tidak hanya pada satu jenis industri saja tetapi dapat di- perluas jenis industri yang lain. Penelitian selanjutnya sebaiknya menambah jumlah sampel penelitian dengan menambah tahun penelitian dan menggunakan proksi bonus plan yang lain, misalnya kepemilikan manaje- rial, ROA, atau market to book ratio.
DAFTAR PUSTAKA
Deegan, C. 2004. Financial Accounting Theory. Aus- tralia: McGraw-Hill.
Field, T.D., Lys, T.Z., dan Vincent, L. 2001. “Empiri- cal Research On Accounting Choice”. Journal Of Accounting And Economics, 31: 255-307.
Gamayuni R. R. 2011. “Perkembangan Standar Akun- tansi Keuangan Indonesia Menuju IFRS”.
Jurnal IFRS.
Ghozali Imam. 2007. Analisis Multivariate dengan SPSS. Edisi ke-6. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Misangyi, V. F. 2002. “A Test Of Alternative Theories Of Managerial Discretion”. Disertation Gradu- ate School. USA: University Of Florida.
Mukhlasin. 2007. “Determinan Ekonomi Pemilihan Kebijakan Akuntansi: Analisis Single Motive dan Multiple Motive (Studi Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Jakarta”. Disertasi.
Semarang: Universitas Diponegoro.
Nina, S., et al. 2009. “The Study on Risk Control of Accounting Policy Choice”. Management and Service Science (MASS’09).
Siregar, S.V. N.P dan Utama, S. 2005. “Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, Dan Praktek Corporate Governance Terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management)”.
Makalah SNA VIII.
Waweru, N. M., Ntui, P.P, dan Mangena, M. 2009.
“Deteminants of Different Accounting Meth- ods Choice in Tanzania: Positive Accounting Theory Approach”. http:/www.ssrn.com.