• Tidak ada hasil yang ditemukan

Simulasi dan Analisis Algoritma Scheduling pada WIMAX

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Simulasi dan Analisis Algoritma Scheduling pada WIMAX"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BAB V

Simulasi dan Analisis

Algoritma Scheduling pada WIMAX

Pada bagian ini akan dilakukan simulasi jaringan WIMAX menggunakan simulator NS-2. Lingkungan simulasi, terlihat pada gambar V.1, berupa satu BS yang melayani sejumlah SS dalam daerah 1000m x 1000m. Modulasi yang digunakan adalah QAM64 ¾. Jumlah SS yang terlibat dalam simulasi ini jumlahnya bervariasi tergantung skenario simulasi.

Gambar V.1 Tampilan Grafis

pada Simulator NS-2-2

Ada 3 jenis service flow yang akan diamati: UGS, ertPS, dan rtPS yang ketiganya dapat dibangkitkan trafiknya oleh SS dan BS. Layanan UGS berkecepatan 448 kbps dan ukuran paketnya 210 byte. Trafik ertPS berkecepatan 448 kbps, ukuran paketnya 210 byte dan 128 byte pada saat sunyi. Sedang rtPS berkecepatan 448

(2)

kbps dan ukuran paketnya berdistribusi uniform dari 200 byte sampai 980 byte.

Urutan prioritas trafik adalah: UGS, ertPS, dan rtPS. Trafik internet diperlakukan sebagai trafik DL ke arah SS; dan sebaliknya, trafik UL merupkan trafik dari SS ke arah internet. akan dibangkitkan.

Dalam simulasi ini ada beberapa hal yang akan diamati dan dianalisa, yaitu:

1. Karakteristik jaringan WIMAX

2. Perbandingan unjuk kerja scheduling WRR dengan DRR 3. Penentuan bobot agar didapat kinerja scheduling yang baik

Parameter WIMAX yang digunakan pada simulasi ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel V.1 Parameter pada WIMAX

Parameter Nilai

Rasio DL/UL 3:2

Jumlah OFDMA simbol per frame 48

OFDMA symbol time 100.84 µs

OFDMA frame length 5 ms

Jumlah subchannel 30

Bandwidth Request opp 12 OFDMA symbols

Initial ranging CID 0

Basic CIDs 1-1000

Primary CIDs 1001-2000

Transport/secondary Mgt. CIDs 2001-65278

Broadcast CID 65535

SFID range 1-4294967295

TTG 200 µs

RTG 200 µs

V.1 Karakteristik Layanan pada Jaringan WIMAX

Pada bagian ini akan diamati bagaimana perilaku tiga tipe layanan: UGS, ertPS, dan rtPS, berkaitan dengan throughput dan delaynya pada saat jumlah SS/node bertambah. Dalam skenario ini satu node berisi satu tipe layanan dan pada saat sedang diamati satu tipe layanan maka semua node hanya berisi tipe layanan tersebut. Simulasi dilakukan dengan menggunakan algoritma scheduling Deficit

(3)

0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000

0 20 40 60 80

Jumlah Node

UGS ertPS rtPS

Gambar V.2 Perbandingan Rata-Rata Throughput

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

0 20 40 60 80

Jumlah Node

(x 10-7)

Gambar V.3 Delay Transmisi UGS, ertPS, dan rtPS

(4)

Gambar V.4 Perbandingan Delay Antrian Rata-Rata

0 0.001 0.002 0.003 0.004 0.005 0.006

0 20 40 60 80

Jumlah Node

(detik)

UGS ertPS rtPS

Gambar V.5 Perbandingan

Standar Deviasi Delay Antrian

(5)

Dari gambar V.2 sampai dengan V.5 dapat dilihat tipe layanan UGS mempunyai kinerja yang paling stabil, diikuti ertPS dan rtPS, ditinjau dari throughput dan delay antrian. Hal ini menunjukkan, pada jaringan WIMAX trafik UGS mendapat prioritas pertama untuk dilayani. Pada ertPS rata-rata throughput sebenarnya hampir sama dengan UGS hanya saja delay antrian lebih bervariasi. Sedang untuk rtPS terlihat pada jumlah node diatas 40 throughputnya tidak meningkat lagi, cenderung tetap di sekitar nilai 2.500.000 byte/detik

Dalam hal delay, delay antrian pada node tertentu besarnya hampir sama, semua dikisaran 3 x 10-5. Tetapi terlihat pada gambar V.5, standar deviasi trafik UGS yang paling kecil, berikutnya ertPS dan rtPS. Semua ini memperlihatkan UGS merupakan tipe layanan yang paling stabil dan menduduki prioritas pertama.

Sedangkan untuk delay transmisi, paket data semua tipe layanan mengalami hal yang sama, mengalami delay sekitas 8 x 10-7

Bagian ini akan melihat kinerja scheduling dalam mengatasi banyaknya koneksi dalam satu node. Berapa banyak koneksi yang dapat dilayani dalam satu node.

Jadi konfigurasi jaringan berupa satu BS melayani satu SS. Dalam satu SS detik. Hal ini dapat terjadi karenakarenakan, seperti terlihat pada gambar V.1, semua node berada pada jarak yang sama dengan Base Station. Kemudian trafik rtPS ini ditinjau dari standar deviasi delay antriannya lebih besar. Hal ini dapat terjadi karena layanan rtPS mendapat prioritas ketiga dan ukuran paketnya bervariasi.

V.2 Analisa Kinerja Scheduling

Pada sub-bab ini akan dilakukan simulasi untuk mengetahui kinerja scheduling Weighted Round Robin (WRR) dan Deficit Round Robin (DRR) pada jaringan WIMAX. Apakah kedua algoritma ini dapat mengalokasikan bandwidth dengan baik terhadap SS dan koneksi yang sedang dilayaninya. Indikator alokasi bandwidth yang baik adalah terjaminnya QoS untuk setiap tipe layanan.

Membandingkan algoritma scheduling mana yang kinerjanya lebih baik.

V.2.1 Node Tunggal

(6)

tersebut koneksi untuk satu tipe layanan akan ditambah, mulai dari 1 koneksi sampai 12 koneksi. seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar V.6 Satu BS melayani Satu SS

Berikut ini adalah data hasil simulasi yang menghubungkan throughput dengan banyaknya jumlah koneksi untuk scheduling WRR dan DRR

WRR

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000

0 10 20 30 40

Jumlah Koneksi

Throughput

UGS ertPS rtPS

Gambar V.7 Rata-Rata Throughput pada WRR scheduling

(7)

DRR

0 50000 100000 150000 200000 250000 300000 350000

0 10 20 30 40

Jumlah Koneksi

Throughput

UGS ertPS rtPS

Gambar V.8 Rata-Rata Throughput pada DRR scheduling

Dua gambar diatas memperlihatkan bahwa scheduling WRR memperlihatkan kinerja yang lebih baik daripada DRR, karena WRR memberikan rata-rata throughput yang lebih baik untuk tipe layanan ertPS dibandingkan DRR.

Sedangkan untuk UGS dan rtPS kinerja WRR dan DRR hampir sama.

V.2.2 Node Banyak

Disini akan diuji kinerja scheduling dengan melihat rata-rata throughput tiap layanan terhadap meningkatnya jumlah node. Pada skenario ini, setiap node melayani 3 tipe layanan: UGS, ertPS, dan rtPS. Pada setiap algoritma scheduling akan diamati kinerjanya pada tiga skema pembobotan yang berbeda.

(8)

Gambar V.9 Konfigurasi Jaringan WIMAX dengan banyak SS

Dibawah ini grafik hasil simulasi yang memperlihatkan hubungan rata-rata throughput terhadap jumlah node.

V.2.2.1 Weighted Round Robin

WRR

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

0 20 40 60 80

Jumlah Node

Throughput

UGS ertPS rtPS

Gambar V.10 WRR dengan skema Pembobotan: 30-30-30-5-5

(9)

WRR

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

0 20 40 60 80

Jumlah Node

Throughput

UGS ertPS rtPS

Gambar V.11 WRR dengan Skema Pembobotan: 20-20-50-5-5

WRR

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

0 20 40 60 80

Jumlah Node

Throughput

UGS ertPS rtPS

Gambar V.12 WRR dengan Skema Pembobotan: 30-20-40-5-5

Dan tabel berikut ini memperlihatkan jumlah rata-rata throughput untuk setiap skema pembobotan.

Tabel V.2

BOBOT UGS ERTPS RTPS

30-30-30 15262756 15812109 14807177 20-20-50 15278197 15524050 14840915 30-20-40 15282473 15524272 14832406

(10)

Pada tabel terlihat dengan mengatur pembobotan dapat diperoleh rata-rata throughput tertentu. Jika diinginkan rata-rata throughput yang lebih besar untuk tipe layanan tertentu maka berikan bobot yang lebih besar untuk tipe layanan tersebut.

V.2.2 Deficit Round Robin

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

0 20 40 60 80

Jumlah Node

Throughput

UGS ertPS rtPS

Gambar V.13 DRR dengan Skema Quantum: 250-250-980

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

0 10 20 30 40 50 60 70

Jumlah Node

Throughput

UGS ertPS rtPS

V.14 DRR dengan Skema Quantum: 500-250-980

(11)

0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000

0 10 20 30 40 50 60 70

UGS ertPS rtPS

V.14 DRR dengan Skema Quantum: 980-980-980

Tabel V.3

Quantum

UGS ertPS rtPS UGS ertPS rtPS

980 980 980 14800308 14798198 14818691 250 250 980 14599392 14488870 14830510 500 250 980 14671887 14462965 14802097

Tabel V.3 memperlihatkan pengaruh quantum terhadap throughput hampir sama dengan pengaruh pembobotan pada WRR. Hanya saja besar quantum bukan merupakan representasi prosentasi antrian terhadap bandwidth sistem. Besar quantum ditentukan dari panjang paket maksimum untuk sebuah antrian.

Berdasarkan teori, seperti telah dipaparkan pada bab 3, pada DRR: Q ≥ panjang paket maksimum. Besar paket untuk UGS adalah 210 byte, besar paket maksimum untuk ertPS dan rtPSP masing-masing adalah 210 dan 980. Oleh karena itu, skema quantum diatas memberikan quantum 250 untuk UGS dan ertPS, untuk rtPS diberikan 980.

(12)

Gambar

Tabel V.1 Parameter pada WIMAX
Gambar V.2 Perbandingan Rata-Rata   Throughput  0123456789 0 20 40 60 80 Jumlah Node (x 10-7)
Gambar V.4 Perbandingan Delay                  Antrian Rata-Rata  0 0.0010.0020.0030.0040.0050.006 0 20 40 60 80 Jumlah Node(detik) UGS ertPSrtPS                                   Gambar V.5 Perbandingan
Gambar V.6 Satu BS melayani Satu SS
+6

Referensi

Dokumen terkait

Untuk melihat antarmuka dari sistem ini dapat dilihat di gambar 4.6, terlihat digambar ada 7 menu dengan nama komponen VSAT yang jika diklik maka akan

Dari hasil simulasi yang dilakukan didapatkan bahwa penggunaan Algoritma Genetika dalam proses alokasi resource mampu meningkatkan throughput serta efisiensi sistem

Pada Gambar 14. Terlihat besar delay untuk layanan Video memiliki tren yang sama dengan VoIP dan data. Peningkatan pesat ditunjukkan pada penambahan background traffic

Untuk trafik VoIP, terlihat pada gambar 6 bahwa algorit ma FLS menghasilkan delay yang besar pada layanan VoIP di semua ju mlah user, sedangkan delay pada