• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Sumatera Utara"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)
(5)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirrabil’alamin, puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya penulis diberikan kesehatan selama mengikuti perkuliahan hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Usaha yang diiringi dengan doa merupakan dua hal yang membuat penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.

Penulisan skripsi dengan judul “ Makna Simbolik Pada Koinobori Bagi Budaya Jepang ” ini penulis susun sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Departemen Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Dalam penulisan skripsi ini penulis tidak terlepas dari bimbingan, dukungan, dorongan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein Sinar, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D., selaku ketua Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Zulnaidi, S.S, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah memberikan banyak masukan dan arahan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dari awal hingga akhir penyusunan.

4. Para Staff Pengajar Program Studi Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara, yang telah memberi didikan dan ilmunya selama masa perkuliahan.

(6)

5. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada orang tua yang sangat penulis cintai. Mama Hj. Safriati Can, atas kasih sayang, kesabaran, dan dukungan yang telah diberikan kepada penulis baik dari segi materil maupun moril, dan selalu memberikan semangat serta mendoakan agar penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta yang tersayang (Ilham Maulana) dan abang – abang tercinta ( Safrizal Indomora Harahap, A.Md., Hendra Gunawan Harahap, S.T., Eko Subhanda Harahap, S.T. ).

6. Teman-teman Aotake 2017 yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Terima kasih telah bersama-sama menjalani perkuliahan dari awal hingga bersama- sama menyelesaikan skripsi ini.

7. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah memberikan doa serta bantuan dalam kehidupan penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri, para pembaca dan bagi semua mahasiswa Sastra Jepang.

Medan, 01 Juli 2021 Penulis,

HIRA TACHA PUTRI HARAHAP 170708075

(7)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……….. i

DAFTAR ISI ………. iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ……….. 1

1.2. Rumusan Masalah ……… 3

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan ……… 4

1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ……….……... 4

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………..……….. 9

1.6. Metode Penelitian ……… 10

BAB II TINJAUAN UMUM KOINOBORI DALAM KEBUDAYAAN JEPANG 2.1. Pengertian Koinobori ………... 12

2.2. Sejarah Koinobori ……….………... 14

2.3. Konsep Makna Simbolik ………...………..…..………... 21

BAB III MAKNA KOINOBORI BAGI KEBUDAYAAN JEPANG 3.1. Peranan dan Fungsi Koinobori Dalam Kebudayaan Jepang ……… 28

3.2. Makna Warna pada koinobori Dalam Kebudayaan Jepang ……... 34

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan ……….. 45

4.2. Saran ……… 45

(8)

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

ABSTRAK

(9)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Koentjaraningrat (1976:28) mengatakan bahwa kebudayaan berarti keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar serta keseluruhan dari hasil budi pekertinya. Dan konsep tentang kebudayaan itu adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar. Sehingga dapat ditarik suatu pengertian yaitu kebudayaan adalah segala hasil karya cipta dan gagasan manusia yang mengalami suatu proses adaptasi sehingga menciptakan suatu sistem dalam masyarakat, baik itu berupa ilmu pengetahuan, nilai, norma dan juga sistem kepercayaan di dalam kehidupan masyarakat.

Jepang merupakan salah satu negara yang memiliki banyak kebudayaan yang cukup unik. Uniknya kebudayaan-kebudayaan yang ada di Jepang biasanya dipengaruhi pula oleh kebudayaan bangsa-bangsa di dataran Asia lainnya seperti China, Korea, Mongol, dan sebagainya. Di Jepang cukup banyak terdapat perayaan ( 祭り; Matsuri ) dan hampir setiap bulan orang Jepang merayakan perayaan- perayaan itu. Ada beberapa perayaan di Jepang yang biasanya dijadikan sebagai hari libur nasional.

Misalnya: Hari kedewasaan ( 成 人 の 日 ; Seijin no Hi ) yang mulai tahun 2003 dirayakan setiap hari Sabtu minggu kedua pada bulan Januari, Hari

(10)

anak-anak ( 子どもの日; Kodomo no Hi ) yang dirayakan setiap tanggal 5 Mei, dan sebagainya.

5 Mei adalah Hari Anak-Anak atau hari kesehatan dan kesejahteraan anak- anak. Sering disebut juga Tango no Sekku ( 端午の節句 ) atau lebih

dikenal dengan Kodomo no Hi ( 子供の日 ). Sejak 5 Mei 1948, perayaan

Kodomo no Hi menjadi hari libur nasional dan ditetapkan resmi sebagai Hari Anak-Anak. Perayaan ini biasanya dirayakan oleh seluruh keluarga di Jepang, terutama oleh keluarga yang memiliki anak laki-laki. Hingga kini tradisi itu masih dirayakan sebagai perayaan anak laki-laki. Biasanya, setiap 5 Mei keluarga yang memiliki anak laki-laki memajang boneka bersimbol peperangan ( 武蔵人形 ; mushaningyou ), menyantap nasi kepal

terbungkus daun bambu ( 粽 ; chimaki ) dan kue ketan berisi kacang manis

yang terbungkus daun ek ( 柏 餅 ; kashiwamochi ), serta memasang

koinobori di pekarangan rumahnya.

Koinobori, yaitu sejenis bendera berbentuk ikan koi berwarna hitam, merah, biru atau hijau. Koinobori berasal dari kata “ koi no taki nobori “.

Menurut mitos yang berkembang di China, zaman dahulu ikan koi dipercaya sebagai ikan yang paling kuat. Mereka percaya bahwa ikan koi dapat mendaki air terjun, dan ikan koi yang berhasil mendaki air terjun akan berubah menjadi naga. Lalu kepercayaan itu pun mulai masuk dan berkembang di Jepang. Pada awalnya, di Jepang koinobori dipasang pada

(11)

saat bayi laki - laki lahir. Pada saat itu orang Jepang percaya kalau dengan memasang koinobori di pekarangan rumahnya, maka ketika dewa turun akan memberkati dan melindungi bayi laki - laki mereka.

Koinobori biasanya mulai dipasang sebulan sebelum perayaan Kodomo no Hi yaitu pada bulan April. Koinobori dipasang secara berurutan dari yang paling besar hingga yang paling kecil. Koinobori yang paling besar akan dipasang paling atas setelah fukinagashi ( sejenis kincir ).

Berdasarkan kepercayaan orang Jepang, koinobori dipasang paling atas adalah koinobori berwarna hitam yang merupakan simbol seorang ayah yang kuat dan tegar. Lalu di bawahnya dipasang koinobori berwarna merah yang merupakan simbol seorang ibu, dan di bawahnya lagi dipasang koinobori berwarna biru yang merupakan simbol seorang anak. Ketiga koinobori itu dipercaya sebagai simbol perdamaian, kehidupan, kecerdasan, pertumbuhan, dan keluarga yang sejahtera. Warna putih, hitam, merah, biru atau hijau yang terdapat pada koinobori adalah warna tradisional Jepang dan dipercaya sebagai warna yang membawa keberuntungan.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, Penulis bermaksud meneliti mengenai koinobori dalam kebudayaan Jepang, melalui Proposal skripsi yang berjudul “ Makna Simbolik Pada Koinobori Bagi Budaya Jepang”.

1.2 Rumusan Masalah

Di Jepang setiap tahunnya memiliki berbagai perayaan, salah satunya adalah perayaan anak laki – laki yang dikenal dengan koinobori.

Koinobori biasanya dirayakan oleh keluarga yang mempunyai anak laki –

(12)

laki. Perayaan koinobori biasanya mulai dipasang sebulan sebelum perayaan Kodomo no Hi yaitu pada bulan April. Koinobori dipasang secara berurutan dari yang paling besar hingga yang paling kecil.

Ada beberapa mitos pada perayaan anak laki – laki ( koinobori) yang terdapat dalam perayaan tersebut. Persamaan mitos di berbagai tempat bukan disebabkan difusi (penyebaran) melainkan disebabkan penemuan- penemuan yang berdiri sendiri. Mitos-mitos itu dapat mirip satu sama lain, karena adanya yang disebut Carl Jung sebagai kesadaran bersama yang terpendam pada setiap umat manusia yang diwarisinya secara biologis (Rafiek, 2010:55)

Perayaan koinobori masih tetap dilaksanakan oleh masyarakatnya.

Mengingat Jepang merupakan Negara modern dan sangat maju, tetapi kebudayaan dan mitos – mitos masih dijalankan dan dipercaya masyarakat.

Berdasarkan Pernyataan di atas, adapun pertanyaan yang mendasari penelitian ini adalah:

1. Apa fungsi dan peran koinobori dalam kebudayaan Jepang ? 2. Bagaimana makna simbolik warna koinobori dalam budaya

Jepang ?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Agar pembahasan dalam penelitian tidak terlalu meluas yang dapat menyulitkan pembaca untuk memahami pokok permasalahan, maka penulis membatasi masalah yang berkaitan dengan makna simbolik yang terdapat dalam Koinobori dan peranan koinobori dalam budaya Jepang.

(13)

Pembahasan lebih di arahkan untuk menjelaskan makna simbolik pada koinobori dalam budaya Jepang.

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori 1.4.1 Tinjauan Pustaka

Manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain dimanapun mereka berada, karena manusia tidak dapat memenuhi kebutuhannya sendiri dan oleh karena itu membutuhkan kerjasama antar manusia. Jika bukan dalam masyarakat (sosial), bagaimana kehidupan manusia tidak terbayangkan, karena setiap orang tidak dapat hidup dalam keterasingan selamanya.

Manusia saling membutuhkan untuk bertahan hidup dan hidup sebagai manusia. Saling ketergantungan ini telah menghasilkan suatu bentuk kerjasama tertentu dan suatu bentuk masyarakat tertentu.

Mac Iver dan Page dalam Hasan (2009: 28), masyarakat adalah sistem adat dan prosedur, otoritas dan kerjasama antara kelompok dan klasifikasi yang berbeda, dan kontrol atas perilaku dan kebebasan manusia.

Masyarakat adalah struktur hubungan sosial, dan masyarakat selalu berubah. Jepang adalah negara kepulauan, salah satu negara dengan pemandangan alam yang indah, tidak peduli berapa lama atau malam hari.

Selain keindahan alamnya, Jepang juga memiliki keindahan multikulturalisme dari dulu hingga sekarang.

(14)

Hal ini bisa kita lihat di banyak perayaan atau festival yang diadakan di Negeri Sakura. Dari upacara keagamaan hingga hari libur nasional di Jepang, berbagai jenis dan bentuk perayaan diadakan sepanjang tahun. Perayaan Jepang termasuk festival, hari libur dan upacara khusus. Secara umum, perayaan yang diadakan di Jepang harus berkaitan dengan agama (religi) dan budaya.

Ada banyak ritual keagamaan seperti pemujaan terhadap roh para leluhur, yang dilaksanakan mulai dari upacara kelahiran sampai upacara kematian, yang pelaksanaannya sudah ditetapkan kalender Jepang.

Pandangan masyarakat Jepang akan roh ini merupakan pandangan tradisional yang dipengaruhi oleh agama Shinto dan Budha ( Situmorang,2000:30).

Salah satu kebudayaan Jepang yang cukup terkenal yaitu Festival Koinobori. Festival yang memperingati hari anak laki-laki dengan mengibarkan bendera berbentuk ikan koi. Bagi masyarakat Jepang ikan koi merupakan pembawa hoki. Koi juga merupakan ikon karakter positif lainnya. Ikan koi memang indah dan sarat makna.

Secara spesifiknya koi berasal dari bahasa Jepang yang berarti ikan karper. Lebih spesifik lagi merujuk pada nishikigoi. Di Jepang, koi menjadi semacam simbol cinta dan persahabatan. Ini karena koi merupakan homofon untuk kata lain yang juga bermakna kasih sayang atau cinta. Ikan Koi adalah sejenis ikan yang termasuk ikan mas (Cyprinus carpio) yang mempunyai ornamen yang sangat indah dan jinak.Koi

(15)

biasanya dipelihara sebagai hiasan dengan tujuan keindahkan dan keberuntungan di dalam rumah dan luar rumah (kolam koi atau taman air), karena ikan koi dipercaya membawa keberuntungan. Karena ikan koi sangat dekat berkerabat dengan ikan mas, dan oleh karena itu di Indonesia banyak menyebut ikan mas koi (https://id.wikipedia.org/wiki/Koi).

1.4.2 Kerangka Teori

Dalam setiap penelitian perlu adanya kerangka teori untuk mendukung penelitian tersebut, menurut Koentjaraningrat (1976: 1) kerangka teori berfungsi sebagai pendorong proses berfikir deduktif yang bergerak dari bentuk abstrak kedalam bentuk yang nyata. Dalam penelitian kebudayaan masyarakat diperlukan satu atau lebih teori pendekatan yang sesuai dengan objek dan tujuan dari penelitian ini.

Dalam hal ini, penulis menggunakan teori pendekatan semiotika, Menurut Barthes, semiologi hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal- hal (things). Memaknai, dalam hal ini tidak dapat disamakan dengan mengkomunikasikan. Memaknai berarti bahwa obyek- obyek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana obyek- obyek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonsitusi struktur dari tanda. Barthes, dengan demikian melihat signifikasi sebagai sebuah proses yang total dengan suatu susunan yang sudah terstruktur. Signifikasi tidak terbatas pada bahasa, tetapi juga pada hal-hal lain di luar bahasa. Barthes

(16)

menganggap kehidupan sosial, apapun bentuknya merupakan suatu sistem tanda tersendiri (Kurniawan, 2001: 53).

Teori semiotika Barthes hampir secara harfiah diturunkan dari teori bahasa menurut de Saussure. Roland Barthes mengungkapkan bahwa bahasa merupakan sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi- asumsi dari masyarakat tertentu dlam waktu tertentu (Sobur, 2003: 53).

Pada tingkat pertama yaitu language, signifier-signified dan sign masih berada pada tataran makna denotatif (semiologi Saussure). Pada tataran kedua yaitu myth, sign tingkat pertama (tanda denotatif) berperan sebagai signifier konotatif, yang bersama signified konotatif membangun sign konotatif. Pada tataran makna konotatif inilah mitos hadir. Dalam pandangan Barthes, denotasi sifatnya tertutup yang menghasilkan makna eksplisit, langsung, pasti, serta objektif (makna yang disepakati secara sosial dan merujuk pada realitas). Tataran konotasi sifatnya terbuka, memiliki makna implisit, tidak langsung, tidak pasti, sifatnya subyektif yang memungkinkan munculnya penafsiran baru (Vera, 2014:28). Mitos dalam konteks ini tidak sama dengan mitos yang biasa dipahami masyarakat sebagai cerita takhayul, tetapi sebagai perkembangan dari konotasi yang sudah terbentuk lama di masyarakat.

Simbol adalah tanda yang paling canggih, karena sudah berdasarkan persetujuan dalam masyarakat (konvensi). Contoh : bahasa merupakan simbol, karena berdasarkan konvensi yang telah ada dalam suatu masyarakat.kebebasan untuk menciptakan simbol- simbol dengan

(17)

nilai-nilai tertentu dan menciptakan simbol- simbol lainnya adalah penting bagi apa yang kita sebut proses simbolik. (Mulyana.1990:83).

Suatu tanda atau simbol merupakan suatu stimulus yang menandai kehadiran sesuatu yang lain. Dengan demikian suatu tanda berhubungan erat dengan maksud tindakan yang sebenarnya (Morissan, 2013: 89).

Makna yang kita berikan pada sebuah simbol merupakan produk dari interaksi social dan menggambarkan kesepakatan kita untuk menerapkan makna tertentu pada simbol tertentu. Contoh dengan sebuah cincin yang merupakan simbol ikatan resmi dan emosional, dan karenanya kebanyakan orang menghubungkan simbol ini dengan konotasi positif. Walaupun demikian beberapa orang melihat pernikahan sebagai sebuah institusi yang opresif. Orang-orang tersebut akan memberikan reaksi yang negatif terhadap cincin kawin dan segala simbol lainnya yang mereka anggap sebagai situasi yang merendahkan (Richard West, 2008: 99).

Langer memandang makna sebagai sebuah hubungan kompleks diantara simbol, objek, dan manusia yang melibatkan denotasi (makna bersama) dan konotasi (makna pribadi).Abstraksi, sebuah proses pembentukan ide umum dari sebentuk keterangan konkret, berdasarkan pada denotasi dan konotasi dari simbol. Langer mencatat bahwa proses manusia secara utuh cenderung abstrak. Ini adalah sebuah proses yang mengesampingkan detail dalam memahami objek, peristiwa, atau situasi secara umum. Hal tersebut menjelaskan suatu benda maupun peristiwa dengan simbol tertentu, pemaknaannya dapat diartikan secara luas. Langer memberi contoh dengan kata anjing, secara denotasi mengacu pada sebuah

(18)

binatang berkaki empat, tetapi bukan gambaran secara keseluruhan, tingkat detail apapun atau abstraksi selalu menyisakan sesuatu. Semakin abstrak simbol, gambaran semakin kurang lengkap (Littlejohn, 2009: 152- 155).

Penulis juga menggunakan konsep teori simbolik yang berhubungan dengan simbol yang bertujuan untuk menganalisa lebih baik makna simbolik pada koinobori bagi budaya Jepang. Penulis menyimpulkan dari beberapa sumber yang tertera, teori simbolik dari Mulyana yang dipakai sebagai acuan. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lainnya, berdasarkan kesepakatan kelompok orang.Lambang meliputi kata- kata (pesan verbal), perilaku non verbal dan objek yang maknanya disepakati bersama (Mulyana, 2005: 84).

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.5.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui fungsi dan peranan pada Koinobori bagi budaya Jepang.

2. Untuk mengetahui makna warna pada Koinobori dalam kebudayaan Jepang.

1.5.2 Manfaat Penelitian

(19)

Adapun manfaat penulis melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menambah wawasan bagi penulis dan pembaca mengenai fungsi koinobori di Jepang.

2. Menambah wawasan bagi penulis dan pembaca mengenai peranan warna pada perayaan koinobori di Jepang.

1.6 Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian sangat diperlukan metode-metode yang mendukung penelitian untuk menunjang keberhasilan tulisan yang akan disampaikan penulis kepada para pembaca. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif karena dilakukan dengan cara mendeskripsikan, dengan maksud untuk menemukan unsur – unsurnya. Di dalam metode ini, penulis tidak hanya menguraikan, namun juga memberikan penjelasan.

Barthes menyatakan ada dua macam sistem pemaknaan, yaitu denotasi dan konotasi. Denotasi merupakan tingkat makna yang deskriptif yang dipahami oleh hampir semua anggota suatu kebudayaan. Konotasi merupakan, makna yang tercipta dengan cara menghubungkan penanda- penanda ( bunyi, gambar, coretan ) dengan aspek kebudayaan yang lebih luas, misalnya seperti keyakinan-keyakinan, sikap dan pandangan masyarakat sosial tertentu. Konotasi inilah yang disebut mitos. Meski

(20)

mitos merupakan kontruksi sosial, mereka tampak seperti kebenaran- kebenaran universal yang tertanam dalam nalar sehari-hari.

Teknik pengumpulan data menggunakan metode Pustaka. Untuk mengumpulkan data – data yang berguna untuk mendukung teori, penulis mengumpulkannya dari kepustakaan yang berhubungan dengan penelitian.

Sumber – sumber kepustakaan bersumber dari hasil – hasil penelitian (skripsi), buku, dan sumber – sumber lainnya (internet).

Untuk melengkapi penulisan ini, penulis menggunakan teknik studi pustaka, dengan mencari data dari internet serta buku-buku yang mendukung penelitian, kemudian menganalisis masalah dengan teori – teori yang berhubungan dengan penelitian untuk mendapatkan kesimpulan.

(21)

BAB II

TINJAUAN UMUM KOINOBORI DALAM KEBUDAYAAN JEPANG

2.1 Pengertian Koinobori

Bendera berbentuk ikan koi yang dikibarkan di rumah-rumah di Jepang oleh orang tua yang memiliki anak laki - laki adalah koinobori (こ いのぼり, 鯉のぼり, atau 鯉幟 bendera koi). Pengangkatan koinobori adalah

untuk menyambut perayaan Tango no Sekku. Menurut kalender lunar Cina, Festival Tango jatuh pada hari kelima bulan Mei di musim hujan di Asia Timur. Orang tua dengan anak laki-laki akan memelihara ikan mas sebelum hari tango, berharap anak mereka menjadi orang dewasa yang sukses. Setelah Jepang mengadopsi kalender Gregorian, koinobori terbang hingga Hari Anak (5 Mei). Koi yang tertiup angin menjadi simbol perayaan Hari Anak. Pada zaman dahulu, koinobori mengapung di musim

(22)

hujan, tetapi sekarang, koinobori biasanya mengingatkan orang Jepang akan langit biru di akhir musim semi.

Ikan koi atau mas dalam bahasa Indonesia dijadikan sebagai lambang Hari Anak karena ikan koi dianggap ikan yang kuat dan perkasa yang dapat melompat melawan arus dan arus yang deras. Dengan cara ini, orang tua ingin anak-anaknya menjadi kuat dan bersemangat untuk menghadapi masalah dan mencapai tujuan dan impian mereka. Ikan koi memiliki beberapa warna yang masing-masing memiliki arti tersendiri.

Hitam mewakili peran ayah, sedangkan koi merah mewakili putra tertua dalam keluarga. Warna lain, seperti hijau atau biru, mewakili anak laki- laki lain dalam keluarga.

Biasanya, koinobori di rayakan di akhir April hingga awal Mei. Di era ini, Anda sering dapat menemukan koi hijau dan oranye sebagai anak- anak koi. Di beberapa bagian Jepang, Koinobori tidak hanya untuk anak laki-laki. Koinobori, yang melambangkan keberadaan anak perempuan dalam keluarga, juga ingin dibesarkan. Ketersediaan koin berwarna cerah (seperti oranye) mungkin cocok untuk keluarga dengan anak perempuan.

Hingga saat ini, peringatan koinobori masih menjadi perayaan hari raya tahunan. Festival ini diadakan bersamaan dengan Golden Week, sehingga suasana yang tercipta selalu penuh keceriaan dan keceriaan.

Daerah Sungai Sagamihara adalah salah satu daerah pusat perayaan koi yang terkenal di Jepang, berjarak 2 jam berkendara dari Tokyo. Kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan yang merayakan festival. Segala jenis pita ikan koi berkibar menambah semarak suasana. Selain itu,

(23)

pengunjung juga bisa mencicipi berbagai jajanan tradisional Jepang yang bisa didapatkan oleh para penjaja makanan yang memanfaatkan aktivitas untuk mendapatkan kekayaan.

Sebagai simbol perayaan Hari Anak Laki-Laki Jepang, koinobori terbang telah menjadi pemandangan langka di kota-kota besar di Jepang.

Sedikitnya jumlah keluarga dengan anak kecil di Jepang mungkin menjadi alasannya. Selain itu, penduduk kota besar tidak lagi tinggal di pemukiman, melainkan di apartemen (rumah besar) yang tidak ada pekarangan untuk koinobori.

2.2 SEJARAH KOINOBORI

Koinobori ( 鯉 の ぼ り ), yaitu sebuah bendera berupa ikan koi

berwarna hitam, merah, biru atau hijau. Koinobori (鯉のぼり) berasal dari kata "koi notaki nobori". Menurut mitos yang berkembang di Tiongkok, pada zaman kuno, koi dianggap ikan paling kuat. Mereka mengira koi akan mendaki air terjun, dan koi akan menjadi naga saat mereka mendaki air terjun. Karenanya, koi yang berhasil mendaki air terjun menjadi simbol kesuksesan dalam hidup. Kemudian kepercayaan ini mulai masuk dan berkembang di Jepang. Tradisi pengibaran koinobori di pekarangan dimulai oleh samurai pada pertengahan zaman Edo. Mereka memiliki tradisi merayakan Tango no Sekku dengan memamerkan perlengkapan silat seperti boneka yoroi, kabuto dan samurai. Selain itu, mereka menggunakan kertas, kain atau kain bekas yang dijahit dengan tinta dan

(24)

dilukis dengan koi untuk membuat koi. Koinobori gemetar dan berbusa saat tertiup angin.

Setelah berakhirnya era samurai, tradisi pengibaran bendera koi pada Hari Anak ini terus berlanjut. Pada awalnya, orang Jepang hanya menerbangkan koin hitam yang disebut magoi (真鯉). Agar perayaan lebih semarak dan menarik, Koinobori warna-warni lainnya juga secara bertahap mulai diproduksi, yang semuanya melambangkan anak laki-laki dalam keluarga ini. Sejak Era Meiji, koinobori merah yang disebut higoi ( 緋 鯉 ) sudah mulai terbang dengan koinobori hitam. Tradisi

mengumpulkan koinobori biru dapat ditelusuri kembali ke era Showa.

koinobori biru (kogoi, 子鯉) lebih kecil dari koinobori merah atau hitam,

mewakili koi muda. Selama Festival koinobori, ada tradisi menampilkan replika yoroi (baju besi Jepang) dan kabuto (helm samurai) dalam keluarga dengan anak laki-laki. Senjata seperti yoroi dan kabuto ditampilkan karena dipercaya dapat melindungi anak laki-laki dari bencana.

Perayaan ini lebih ditekankan kepada anak laki-laki dan biasanya keluarga yang memiliki anak laki-laki akan melakukan berbagai persiapan seperti memajang boneka musha ningyo (boneka pahlawan perang), Walaupun dirayakan sebagai hari Anak-anak, replika yoroi (pakaian ksatria zaman dulu), dan kabuto (helm samurai) di dalam rumah.

Digunakan sebagai simbol harapan anak laki-laki yang sehat dan kuat Kabuto, Yoroi, dan tokoh Kintaro.

(25)

Selain itu di dalam rumah juga di pajang boneka Kintaro dari tokoh pahlawan atau ksatria Jepang. Kintaro adalah nama panggilan sewaktu kecil dari Sakata no Kintoki, anak buah dari seorang samurai bernama Minamoto no Raikou, seorang pahlawan di era Heian. Kintaro terkenal akan kekuatannya, dan cerita Kintaro dihubungkan dengan perayaan hari anak laki-laki di Jepang. Bulan 5 (五月 人形) Kintaro dijadikan tema boneka yang dipajang untuk merayakan hari anak-anak. Boneka yang dipajang orang tua boneka Kintaro berharap anak laki-lakinya tumbuh sehat, kuat, dan berani seperti Kintaro. Selain itu Kintaro sering digambarkan menaiki ikan Koi pada Koinobori.

Di pekarangan rumah mereka akan berkibar koinobori, semacam bendera atau pun umbul-umbul yang umumnya berupa 3 ikan koi. Ikan koi ini digantung menghadap ke atas, seperti ikan mas yang berjuang menaiki tebing air terjun agar dapat sampai di hilir. Di rumah, mereka memakan kue tradisional seperti chimaki, kue kukus dari kacang merah berbalut daun bambu serta kue kashiwamochi, bola ketan yang berisi selai kacang merah yang dibungkus dengan daun pohon ek. Semua kue tersebut lambang kekuatan. Mereka juga membuat dan menyantap takenako zushi (nasi yang dicampur dengan irisan rebung berbumbu) disertai minuman sake dari bunga iris. Bunga iris ini dikenal sebagai tanaman obat dengan kekuatan ajaib yang diyakini dapat menghalang dan mencegah kekuatan jahat.

(26)

Pada satu set koinobori terdiri dari ryū dama, yaguruma, fukinagashi, dan bendera- bendera ikan koi.

- ryū dama ( bola naga )

bola yang dipasang di ujung paling atas tiang tempat mengibarkan koinobori dan bisa berputar.

- Yaguruma

Dipasang di bawah ryū dama, roda berjari – jari anak panah. Yaguruma dan ryū dama dipercaya bisa mengusir arwah jahat.

- Fukinagashi

Gambar ikan koi atau sarung angin berhiaskan panji – panji lima warna ( merah, biru, putih, kuning, dan hitam ). Dipercaya sebagai penangkal segala penyakit dan melambangkan 5 unsur ( api, air, tanah, logam, dan kayu ).

- Magoi ( koinobori hitam )

Dikibarkan di bawah fukinagashi yang melambangkan ayah.

- Higoi ( koinobori merah) dan koinobori warna lainnya

(27)

Di bawah koinobori merah dikibarkan warna lain yang berukuran lebih kecil. Zaman sekarang, koinobori merah melambangkan ibu, koinobori biru melambangkan putra sulung, dan koinobori hijau melambangkan putra kedua.

Gambar 1. Bendera koinobori

(Hamanochi.blogspot.com)

Zaman Edo merupakan zaman keemasan di mana kebudayaan tradisional Jepang bertumbuh dan mengakar kuat. Perekonomian rakyat yang membaik memungkinkan mereka mengapresiasi seni dengan sangat baik. Berbagai ritual dengan hiasan seni tingkat tinggi pun mewarnai masa-masa ini. Pada pertengahan zaman Edo (1600-1867), terdapat kebiasaan di kalangan keluarga samurai untuk mempertunjukkan kebanggaan akan kehadiran bayi laki-laki di keluarga mereka dengan memancangkan umbul-umbul koinobori di halaman rumah dan gambar

(28)

keluarga samurai untuk mempertunjukkan kebanggaan akan kehadiran bayi laki-laki di keluarga mereka dengan memancangkan umbul-umbul koinobori di halaman rumah dan gambar kuda di depan pintu masuk.

Kebiasaan itu menjadi perlambang gengsi dan harkat keluarga ini kemudian dicontoh oleh rakyat biasa. Pemancangan umbul - umbul koinobori, menjadi simbol penghargaan agar sang anak tumbuh baik dan sukses di tempat apapun ia akan berkarier kelak. Pemikiran mengibarkan koinobori di langit biru sebagai wujud harapan suksesnya pertumbuhan anak laki-laki, merupakan kepekaan khas yang dimilki orang.

Selain di halaman rumah, Koinobori juga bisa dikibarkan di ketinggian etika-gedung, di atas sungai, di atas pohon, bahkan di area pegunungan Jepang. Tentu hal ini menjadi pemandangan yang indah di langit Jepang.

Pada 1931, pencipta lagu Miyako Kondo menulis lagu berjudul

“Koinobori”. Dalam lirik lagu tersebut, koinobori yang besar dan berwarna hitam adalah bapak koi dan koinobori warna lain yang lebih kecil adalah anak-anak koi. Konsep dari lirik lagu tersebut diterima secara luas di tengah rakyat yang sedang di bawah pemerintahan militer. Seusai Perang Dunia II, peran wanita makin penting, dan koinobori warna merah dipakai untuk melambangkan ibu koi. Satu set koinobori akhirnya secara lengkap melambangkan keluarga yang utuh: bapak, ibu, dan putra-putrinya.

Hingga kini, lagu “Koinobori” ciptaan Miyako Kondo tetap dinyanyikan anak-anak, namun liriknya tetap sama seperti etika diciptakan pada tahun 1931.

(29)

Berikut penulis akan memaparkan cara pembuatan koinobori dari kertas :

1. Dalam 3-4 warna,potong beberapa lingkaran kertas tisu, berdiameter sekitar 1,5 inch, lalu potong keduanya menjadi setengah lingkaran.

Letakkan potongan pita dua sisi di bagian bawah gulungan Anda.

Mulai letakkan ujung lurus masing-masing lingkaran setengah pada pita sisi ganda, tumpang tindih sedikit sehingga tidak ada pertunjukan gulung di bawahnya. Pastikan ujung lengkung lingkaran setengah menggantung dari gulungan sehingga tidak terpasang. Ujung ini akan menjadi ekor ikan. Lengkapi sepanjang jalan.

2. Tinggalkan celah 5cm dan letakkan potongan pita dua sisi lainnya di seputar gulungan, ulangi dengan lingkaran setengah. Tata warna tidak terlalu penting, lakukan saja yang bagus. Potongan pita harus tumpang tindih dengan sedikit yang adil dan tidak semua ujungnya akan direkam. Tinggalkan pitanya. Lapisan berikutnya harus menutupi pita.

3. Ulangi sampai ke puncak, pastikan untuk menyelesaikan rekaman dan setengah lingkaran di bagian atas gulungan. Ini adalah kepala. Pada titik ini, jika ada setengah lingkaran yang masih menempel, gunakan pita dua sisi untuk menempelkannya.

4. Potong lingkaran dengan kertas putih ( berdiameter sekitar 1 inci ) lalu gunakan spidol hitam untuk menggambar lingkaran besar di dalam mata. Gunakan pita dua sisi untuk menempel di sisi kepala.

5. Potong potongan kertas tisu menggunakan warna yang sama dengan lingkaran setengah pita. Di ujung ekor, dengan hati-hati letakkan

(30)

selembar pita dua sisi dibagian dalam gulungan. Satu per satu, tempelkan selembar kertas tisu ke kaset itu, terus sampai bersih sampai tertutup.

6. Potong ujung apapun jika perlu sehingga panjangnya sama. Ulangi Langkah 1 - 6 untuk membuat dua ikan mas lagi.

7. Potong tiga potong benang sekitar 7 inci panjangnya. Simpul ganda masing- masing ke paku dinding, pastikan ujungnya rata.

8. Di sisi kepala, letakkan selembar pita dua sisi di dalam gulungan, di depan mata. Mulailah dengan benang tersampir atas paku dinding dan kencangkan ujung yang longgar ke kaset di dalam gulungan. Jika Anda berencana mengayunkan koinobori ini ke sekitar, gunakan lem panas sebagai gantinya, atau letakkan selotip lain di atas benang itu.

9. Ulangi di sisi berlawanan, tepat di belakang mata. Ulangi untuk kedua ikan mas berikutnya.

2.3 Konsep Makna Simbolik

Kata Koinobori terbagi dari dua kata, yaitu koi yang merupakan nama sejenis ikan yang paling terkenal di Jepang dan nobori yang artinya menaikkan yang berasal dari kata noboru yang artinya adalah memanjat, mendaki. Jadi Koinobori adalah umbul-umul yang berbentuk Ikan Koi, yang diikatkan pada sebatang bambu dan dipasang dihalaman depan rumah. Sehingga jika Koinobori tertiup angin akan terlihat seperti koi yang sedang mendaki.

Simbol yang digunakan pada bendera Koinobori adalah Ikan Koi.

Simbol ini berkaitan dengan kepercayaan cina kuno dimana ikan koi

(31)

disimbolkan sebagai kekuatan, kesuksesan, perjuangan dan ketekunan.

Karena ikan koi mempunyai daya hidup yang sangat tinggi, dapat hidup baik di aliran air jernih maupun kolam atau di rawa - rawa sekalipun. Ada beberapa makna simbolik yang terdapat di koinobori.

Menurut analisis , bendera ikan atau koinobori yang dipasang pada sebuah tiang adalah simbol dari sistem keluarga inti pada masyarakat Jepang. Pada tingkat paling atas bendera yang berwarna hitam melambangkan ayah sebagai kepala keluarga dalam suatu rumah tangga, dilanjutkan dengan bendera bewarna merah yang melambangkan ibu sebagai istri atau pendamping dari ayah, kemudian bendera bewarna biru yang melambangkan anak sebagai penerus keluarga. Di bawah ini adalah gambar dari bendera ikan (koinobori) yang tampak berkibar- kibar di angkasa saat festival Tango no Sekku berlangsung.

Di Jepang, tanggal 5 Mei merupakan hari libur nasional yang dikenal dengan sebutan hari anak. Pada hari tersebut biasanya dilaksanakan perayaan untuk anak laki-laki. Mulanya, perayaan ini merupakan perayaan yang diselenggarakan pada jaman kuno China, namun di Jepang, perayaan ini mulai dilakukan pada zaman Nara ( 710 ~ 784 ). Dalam rangka merayakan pertumbuhan kesehatan anak laki-laki dan harapan agar dapat tumbuh berkembang dalam kehidupan.

masyarakat Jepang memajang boneka pada bulan mei dan memancangkan koinobori, yaitu umbul-umbul berbentuk ikan karper atau koi. Selain itu, mereka juga memakan kue tradisional seperti Chisaki, yaitu

(32)

kue kukus yang terbuat dari kacang merah yang dibungkus daun bambu kecil serta kue kashimochi, kue ketan yang berisi selai kacang merah yang dibungkus dengan pohon Ek.

Makna simbolik pada pakaian yang digunakan anak laki – laki saat perayaan Tango no Sekku berlangsung, anak laki – laki mengenakan pakaian tradition Jepang, yakni hakama. Hakama adalah baju traditional jepang yang digunakan oleh anak laki-laki pada perayaan Koinobori.

Hakama adalah pakaian luar tradisional Jepang yang dipakai untuk menutupi pinggang sampai mata kaki. Dipakai sebagai pakaian bagian bawah, hakama merupakan busana resmi pria untuk menghadiri acara officially seperti upacara minum teh, pesta pernikahan, dan seijin shiki.

Anak laki-laki mengenakannya sewaktu merayakan Shichi-Go-San dan Kodomono Hi. Montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan setelan baju pengantin pria tradisional.

Kimono pria dibuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua, coklat tua, biru tua, dan hitam. Kimono paling formal berupa setelan montsuki hitam dengan hakama dan haori Bagian punggung montsuki dihiasi labang keluarga pemakai. Setelan montsuki yang dikenakan bersama hakama dan haori merupakan busana pengantin pria tradisional.

Setelan ini hanya dikenakan sewaktu menghadiri upacara sangat resmi, misalnya resepsi pemberian penghargaan dari kaisar/pemerintah atau seijin shiki.

(33)

Hakama dibuat dari dua lembar kain polos berbentuk trapesium.

Bagian depan diploi, 3 dari sisi kiri, dan 3 dari sisi kanan. Bagian belakang tidak diploi, namun dibagi menjadi bagian kiri dan kanan. Kain bagian depan dan kain bagian belakang, dari pinggang ke lutut dibiarkan tidak dijahit, dan hanya dijahit dari bagian lutut ke bawah. Hakama dikencangkan dengan empat buah tali, dua buah tali yang lebih panjang terdapat di bagian depan, kiri dan kanan, sementara dua tali yang lebih pendek terdapat di bagian belakang, kiri dan kanan. hakama hingga zaman Edo hanya dipakai oleh pria.

Menurut penulis, makna simbolik pada bendera Koinobori yang dipasang dengan bambu ini, terdiri dari bermacam-macam warna, yakni warna hitam, merah, biru, dan hijau. Koinobori paling besar akan dikibarkan pada ujung bambu paling atas, Koinobori paling besar berwarna hitam (magoi), diibaratkan seorang ayah yang tegar dan kuat.

Simbol warna hitam yang digunakan juga memiliki makna tersendiri yang berkaitan dengan konsep agama Budha (Goshiki), dapat dikatakan warna hitam yang dianggap level warna yang paling tinggi, telah megalami transformasi maknanya, baik perubahan dari segi budaya, sejarah dan sudut pandang masyarakat itu sendiri.

Makna kedudukan tertinggi yang terkandung dalam warna hitam pada koinobori, sesuai dengan makna pertahanan dan keberuntungan dalam Goshiki. Karena dalam analisis penulis, untuk mencapai kedudukan tertinggi itu diperlukan faktor lain dari diri seseorang di luar

(34)

kemampuannya, hal tersebut adalah keberuntungan. Berikut akan dilihat makna yang paling dominan dimiliki warna hitam dalam budaya Jepang.

(Florentina, Meilani : 2014)

Dapat dipahami bahwa warna hitam dalam masyarakat Jepang jika dihubungkan dengan makna hitam dalam konsep agama Buddha (Goshiki) memiliki kesinambungan makna yang sama. Sehingga dapat dinyatakan bahwa makna warna hitam dalam masyarakat Jepang sama dengan makna hitam dalam agama Buddha.

Koinobori merah (higoi), ukuran nya lebih kecil dibandingkan magoi , koinobori ini melambangkan sosok seorang ibu yang memiliki jiwa penyemangat serta cinta lahir maupun batin dalam menjaga dan merawat keluarga baik itu ayah maupun anak laki-laki mereka, urutan kebawah dari higoi ukurannya lebih kecil. koinobori biru melambangkan putra sulung, dan koinobori hijau melambangkan putra kedua. Bagi bangsa Jepang, hijau adalah warna yang melambangkan kesopanan.Dahulu bangsa Jepang kerap menggunakan huruf Kanji aoi( 青い) yang berarti biru daripada midori(緑) yang berarti hijau untuk mengungkapkan warna hijau, sebab mereka tidak membedakan warna hijau dan biru.

Dengan kata lain, kedua warna tersebut dianggap sama. Makna simbolis warna hijau adalah dedaunan dan hutan karena warna ini banyak terdapat di alam. Biru adalah warna yang menenangkan dan banyak terdapat di alam, seperti warna langit dan warna air laut. Dengan kata lain makna simbolis warna biru adalah langit dan air laut. Banyaknya

(35)

Koinobori yang di pasang sama dengan jumlah anggota keluarga yang ada di dalam rumah tersebut. Selain Ikan koi juga dikibarkan umbul-umbul berupa kain berwarna-warni yang disebut dengan Fukiganashi, merupakan Sarung angin yang berhiaskan lima kain warna yaitu biru, merah, kuning, hijau dan putih yang melambangkan unsur air, api, tanah, kayu, dan logam.

Menurut kepercayaan masyarakat, fukiganashi digunakan sebagai penangkal segala penyakit. Dan juga yaguruma (roda dan panah keemasan) yang berputar saat tertiup angin. Keduanya diyakini berperan sebagai jimat pelindung yang menghalau segala kejahatan.

Pada makna simbolik yang terdapat pada acara pemandian anak laki – laki, anak laki – laki harus mandi dengan air shō bu yu dengan tujuan “membersihkan diri” dari roh jahat karena bau nya yang menyengat itu. “Membersihkan diri” yang dimaksud untuk penyucian diri (monoimi) yang merupakan unsur penting matsuri dan penegasan Shinto ketiga, yaitu kebersihan fisik. Air yang digunakan merupakan unsur Shinto yang melengkapi proses penyucian (monoimi).

Pintu gerbang yang dilalui ketika pesertanya meninggalkan dunia sehari-hari untuk memasuki dunia khusus dari matsuri merupakan monoimi secara simbolik. Tindakan pembersihan ini dinamakan dengan misogi.

(36)

BAB III

MAKNA KOINOBORI DALAM KEBUDAYAAN JEPANG

3.1 Peranan dan Fungsi Koinobori Dalam Kebudayaan Jepang

Peran Koinobori Secara umum, hanyalah salah satunya Simbol perayaan Tango no Sekku pada April. Di era ini, Anda sering menemukan Koinobori berwarna hitam, merah, biru, hijau dan oranye sebagai anak koi.

Adapun fungsi Koinobori tidak hanya untuk anak laki-laki. Koinobori yang melambangkan keberadaan anak perempuan dalam keluarga juga ingin dibesarkan. Ketersediaan Koinobori berwarna terang (seperti oranye) mungkin cocok untuk keluarga dengan anak perempuan.

Peranan Koinobori dikibarkan di Jepang diutamakan untuk merayakan simbol Hari Anak Laki-laki. Koinobori telah menjadi pemandangan langka di kota-kota besar di Jepang. Di Jepang, lebih sedikit keluarga dengan anak-anak mungkin menjadi alasannya. Selain itu, warga kota besar tidak lagi tinggal di kawasan pemukiman, melainkan di apartemen (mansions) tanpa halaman untuk mengibarkan koinobori.

Pada awalnya, orang Jepang hanya mengibarkan koinobori berwarna hitam yang disebut magoi (真鯉). Koi yang dikibarkan paling atas melambangkan putra sulung dalam keluarga. Sebagai hiasan yang

(37)

dibuat untuk meramaikan perayaan, koinobori warna lain juga berangsur- angsur mulai dibuat, dan semuanya melambangkan anak laki-laki dalam keluarga. Sejak zaman meiji, koinobori berwarna merah yang disebut higoi (緋鯉) mulai dikibarkan untuk menemani koinobori berwarna hitam.

Tradisi pengibaran koinobori biru dimulai sejak zaman showa. Ukuran koinobori biru (kogoi, 子鯉) lebih kecil dari koinobori merah atau hitam, dan melambangkan anak koi.

Pada zaman sekarang sering dijumpai koinobori warna hijau dan oranye yang dimasudkan sebagai anak-anak koi. Di beberapa tempat di Jepang, koinobori bukan saja milik anak laki-laki. Koinobori yang melambangkan adanya anak perempuan dalam keluarga juga ingin ikut dikibarkan. Tersedianya koinobori warna cerah seperti oranye kemungkinan ditujukan untuk keluarga yang memiliki anak perempuan.

Adapun tempat – tempat perayaan Koinobori di Jepang yaitu:

1. Festival koinobori Tsuetate, Prefektur Kumamoto

Ada sekitar 3.500 bendera Koinobori yang melayang – laying di atas sungai Tsuetate dalam festival yang mulai dari awal April hingga minggu pertama bulan Mei. Kegiatan ini sudah menjadi festival rutin tahunan selama lebih dari 30 tahun. Indahnya warna – warni bendera koinobori berpadu dengan pemandangan sungai di bawahnya yang bisa di nikmati pengunjung.

2. Festival Koinobori Tatebayashi, Prefektur Gumma

(38)

Lebih dari 5.000 bendera koinobori yang menghiasi festival ini. Ada 5 tempat bendera – bendera koinobori tersebar penyelenggaraan festival yaitu, Taman Kondonuma, Sungai Tsuruuda, Taman Tsutsujigaoka, Sungai Morinji, dan Taman Tataranuma. Di sepanjang Sungai Tsuruuda tempat utama yang menjadi penyelenggaraan festival berjajaran pohon – pohon Sakura, Bunga Sakura mekar saat datang, anda akan melihat pemandangan warna – warni bendera koinobori yang dilaksanakan awal Maret – akhir Mei.

3. Festival Koinobori Tokyo Tower, Tokyo

Mengunjungi Tokyo Tower awal April hingga awal Mei akan mendapati pintu masuk menara dihiasi 333 bendera koinobori dan 1 bendera sanmanobori ( ikan sauri pasifik) berukuran sekitar 6 meter.

Jumlah bendera koinobori yang dihias melambangkan tinggi Tokyo Tower yaitu, 333 meter.

4. Koinobori Festa 1000, Takatsuki, Osaka

Koinobori Festa 1000 berlangsung di Taman Akutagawa Sakurazutsumi, Takatsuki. Ada 1000 bendera koinobori berhias di taman melayang tertiup angin. Di Osaka festival nya di akhir April hingga awal Mei jika mau berkunjung kesana.

Selain tempat di atas, beberapa tempat lain merupakan tempat pembuatan dan pengibaran koinobori yaitu:

1. Kazo, Prefektur Saitama

Sebelum Perang Dunia II, Kazo terkenal sebagai pusat kerajinan koinobori. Setiap tahun pada bulan Mei dikibarkan koinobori

(39)

berukuran raksasa. Sejak tahun 1988 tradisi mengibarkan koinobori berukuran 100 m dan berat 600 kg.

2. Tsuetate Onsen, Oguni, Prefektur Kumamoto

Di lembah Sungai Tsuetate dikibarkan 3.500 bendera koinobori dari April hingga awal Mei dan dilaksanakan lebih dari 30 tahun.

3. Ino, Distrik Agawa, Prefektur Kō chi

Koinobori dari wasi dipasang di aliran Sungai Niyodo pada awal Mei.

Koinobori dari washi tidak sobek walau terkena aliran air sungai.

4. Kanazawa, Prefektur Ishikawa

Di tengah aliran Sungai Asano, Kanazawa acara tahunan berupa pemasangan dua ratus koinobori.

5. Suzu, Prefektur Ishikawa

Ratusan koinobori dikibarkan di atas Sungai Ōtani pada awal Mei.

6. Shimanto, Distrik Takaoka, Prefektur Kō chi

Sekitar 500 koinobori dipasang di tengah aliran Sungai Shimanto pada akhir Maret sampai awal Mei. Jumlah koinobori yang dikibarkan di Tatebayashi tercatat sebagai terbanyak di dunia lebih dari 5.000 koinobori. 5 lokasi dari akhir Maret hingga pertengahan Mei di Festival Koinobori. Pada Mei 2005, tercatat dalam Guinness World Records dan festival ini mengibarkan sejumlah 5.283 koinobori.

Menurut penanggalan Imlek, ketika Asia Timur sedang musim hujan perayaan koinobori jatuh pada tanggal 5 bulan 5. Pada perayaan Koinobori peran dan fungsinya untuk mendoakan agar anak laki-lakinya menjadi orang dewasa yang sukses bagi orang tua yang memiliki anak

(40)

laki-laki mengibarkan koinobori. Koinobori dikibarkan hingga Hari Anak- anak (5 Mei), Setelah Jepang memakai kalender Gregorian. Simbol perayaan Hari Anak- anak adalah koinobori yang tertiup angin. Kalau zaman dulu koinobori berkibar di tengah musim hujan, koinobori biasanya sekarang mengingatkan orang Jepang tentang langit biru yang cerah di akhir musim semi.

Sebuah festival di Jepang untuk merayakan harapan dan ambisi dari seluruh keluarga di Jepang kepada anak laki - laki mereka adalah hari anak-anak ( 子供の日) yang biasa disebut festival Tango no Sekku . pada Saat festival Tango no Sekku berlangsung, orang Jepang menganggap bahwa anak laki- laki merupakan generasi penerus yang nantinya akan membawa nama marga keluarganya, sehingga mereka berdoa kepada para dewa agar diberi kesehatan dan kesuksesan bagi anak laki-laki mereka.

Gambar dan simbol-simbol yang jantan di alam dilengkapi dalam perayaan festival ini, dan untuk memastikan keajaiban bahwa anak laki - laki di dalam keluarganya tumbuh dan berkembang untuk menjadi tegar , bijaksana dan dipenuhi semangat bertempur (pantang menyerah).

Pada awalnya, orang Jepang hanya mengibarkan koinobori berwarna hitam adalah magoi (真鯉). Koi yang dikibarkan paling atas melambangkan putra sulung dalam keluarga. koinobori warna lain juga berangsur - angsur mulai dibuat, dan semuanya melambangkan anak laki-

(41)

laki dalam keluarga sebagai hiasan yang dibuat untuk meramaikan perayaan.

Higoi (緋鯉) adalah koinobori berwarna merah mulai dikibarkan

untuk menemani koinobori berwarna hitam sejak zaman Meiji. Sejak zaman Showa tradisi pengibaran koinobori biru dimulai. Ukuran koinobori biru (kogoi, 子 鯉 ) lebih kecil dari koinobori merah atau hitam, dan melambangkan anak koi.

Adapun peran yang terdapat pada koinobori dalam budaya Jepang bukan hanya ditujukan untuk perayaan hari anak tetapi juga sebagai festival tahunan yang di gelar di Jepang. Perayaan ini lebih dominan dirayakan untuk orang tua yang mempunyai anak laki – laki tetapi bagi yang mempunyai anak perempuan tetap bisa merayakannya. Dan Fungsi dari pengibaran Koinobori untuk harapan agar kelak anak – anak tumbuh menjadi orang baik dan sukses tanpa peduli baik atau buruknya lingkungan di masa yang akan datang.

3.2 Makna Warna Pada Koinobori Dalam Kebudayaan Jepang

Warna adalah salah satu unsur yang penting dalam koinobori.

Warna sudah ada sejak dulu hingga saat ini. Komunikasi non-verbal yang memiliki makna adalah warna. Zaman dulu bangsa Jepang pada menggunakan warna sebagai salah satu komunikasi non - verbal. Orang memilih warna tidak hanya mengikuti selera pribadi pada sekarang ini.

(42)

Tetapi juga berdasarkan kegunaan warna dan makna warna tersebut.

Warna dapat mempengaruhi emosi, jiwa dan menggambarkan suasana hati manusia.

Setiap warna bermakna bagi orang Jepang :

1. Hitam (Kuroi/黒い)

Warna tertua di jepang adalah hitam. Hitam di anggap symbol tabu, gelap, dan bernilai negatif pada zaman dulu. Warna hitam yang bernilai negatif sedikit demi sedikit dilupakan. Tinta hitam adalah makna simbolis warna hitam. warna hitam adalah serius, misterius,seksi bahkan luar biasa dalam makna psikologi.

2. Merah (Akai/赤い)

Kata akai (赤い) berasal dari kata Akashi (明かし) yang berarti menjadi jelas nyata. Sama seperti warna darah dan api dianggap melambangkan kekuatan adalah warna merah. Darah atau api adalah makna simbolis warna merah. Warna merah adalah kekuatan, kebahagiaan,kemakmuran dan keberuntungan dalam warna psikologi.

3. Biru (Aoi/青い)

Warna yang menenangkan dan banyak terlihat di alam, seperti langit dan air laut merupakan biru. Langit dan air laut adalah warna

(43)

simbolis warna biru. Warna biru adalah kekuatan, kesetiaaan, keramahan, rasa cinta, kekuasaan, dan perdamaian dalam makna psikologi.

4. Hijau (Midori/緑)

Warna yang melambangkan kesopanan adalah hijau. Jepang menggunakan kanji aoi (青い) yang berarti biru daripada midori

(緑) yang berarti hijau untuk mengungkapkan warna hijau karena

mereka tidak dapat membedakan warna hijau dan biru dulu.

Dedaunan dan hutan karena warna ini banyak terdapat di alam adalah makna simbolis warna hijau. Warna hijau dalah pertumbuhan pembaharuan, keseimbangan,harmoni, dan lingkungan dalam makna psikologi.

5. Orange (Orenji/オレンジ)

Orang jepang menyebut orange dengan daidai iro yang merupakan buah warna orange dari cina dulu. Daidai berganti menjadi orenji (オ レ ン ジ ) setelah bahasa Inggris muncul di Jepang. Daidai adalah

makna simbolis oranye. Oranye adalah kehangatan, energy, dan matahari dalam makna psikologi.

Yang dimasudkan sebagai anak-anak koi pada zaman sekarang sering dijumpai koinobori warna hijau dan oranye. Koinobori bukan saja

(44)

milik anak laki-laki, di beberapa tempat di Jepang. Koinobori yang melambangkan adanya anak perempuan dalam keluarga juga ingin ikut dikibarkan. Koinobori warna cerah seperti oranye kemungkinan ditujukan untuk keluarga yang memiliki anak perempuan.

Ada 2 alasan warna di bagi menjadi dua golongan. Pertama adalah memiliki makna simbolis yang umumnya memiliki kemiripan dengan alam. Contohnya warna merah diasosiasikan dengan warna api, dan warna hijau diasosiasikan dengan warna gunung. Kedua yaitu warna dianggap dapat menimbulkan efek langsung pada badan seperti ras sejuk dan panas.

Disebabkan karena setiap warna memiliki panjang gelombang yang berbeda. Mata akan mendapat efek panas atau hangat untuk gelombang panjang dan mendapat efek efek sejuk untuk gelombang yang pendek.

Dari warna bisa melihat sifat maskulin dan feminin. Pada dasarnya tidak ada peraturan yang ketat dan kuat tentang warna apa saja yang dikategorikan sebagai warna maskulin atau warna feminine. Hasil konstruksi sosial sehingga menghasilkan sifat maskulin dan feminim adalah gender.

Warna dapat dikelompokkan berdasarkan gender menurut Jacci Howard Bear :

1. Warna maskulin

(45)

Daya pikat yang kuat untuk diasosiasikan dengan laki-laki dimiliki warna maskulin. laki-laki lebih cocok untuk memakai warna-warna gelap bahwa adanya norma sosial dan budaya.

2. Warna feminin

Warna merah, kuning, pink, oranye, dan ungu adalah warna feminin. Warna-warna yang ceria dan cerah cocok untuk perempuan Menurut norma sosial dan budaya.

Namun dalam hal ini, prialah yang memilih dan mengenakan warna pakaian tertentu. Beberapa pria mengakui hal ini, meski suka mengenakan pakaian berwarna pink, terkadang mereka merasa tidak nyaman. Alasannya biasanya karena dia ditertawakan oleh teman atau bahkan dosen, jadi dia pikir tidak sopan memakai baju pink di kampus.

Hal ini sebenarnya menunjukkan pengaruh budaya patriarki, di satu sisi tidak baik bagi perempuan, di sisi lain belum tentu berpengaruh positif bagi laki-laki. Laki-laki harus bertindak sesuai dengan harapan masyarakat terhadap konsep maskulinitas, termasuk memilih warna. Warna pink yang identik dengan kelembutan dan feminitas, dianggap tidak pantas oleh para pria karena dipercaya dapat mengurangi sisi maskulin.

Termasuk dalam memilih warna, laki-laki dituntut untuk bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat tentang konsep kemaskulinan. Warna pink yang identik dengan kelembutan dan feminin, dianggap tidak pantas digunakan oleh laki-laki karena hal tersebut dianggap akan mengurangi sisi kemaskulinannya. Pada perayaan festival anak bendera koinobori yang mewakili ayah berwarna

(46)

hitam, anak sulung dan bungsu laki-laki berwarna hijau dan biru dan kita mengetahui bahwa laki-laki lebih dominan ke warna-warna gelap dan netral seperti hitam, hijau dan biru. Untuk itu bendera koinobori yang mewakili ibu berwarna merah dan anak perempuan berwarna orange.

Warna pada perempuan lebih dominan pada warna yang cerah dan ceria.

Bendera yang berwarna hitam melambangkan ayah sebagai kepala keluarga dalam suatu rumah tangga pada tingkat yang paling atas, dilanjutkan ibu sebagai istri atau pendamping dari ayah melambangkan bendera bewarna merah, anak sebagai penerus keluarga melambangkan bendera berwarna biru. Bermacam - macam warna, yakni warna hitam, merah, biru, dan hijau koinobori yang dipasang dengan bambu. Pada ujung bambu paling atas, koinobori paling besar akan dikibarkan, berwarna hitam (magoi) merupakan koinobori paling besar, diibaratkan seorang ayah yang tegar dan kuat. Simbol warna hitam yang digunakan juga memiliki makna tersendiri, dapat dikatakan level warna yang paling tinggi adalah warna hitam, baik perubahan dari segi budaya, sejarah dan sudut pandang masyarakat itu sendiri, telah mengalami transformasi maknanya.

(47)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis, maka penulis dapat menyimpulkan penelitian ini dalam hal sebagai berikut:

1. Peran yang terdapat pada koinobori dalam budaya Jepang bukan hanya ditujukan untuk perayaan hari anak tetapi juga sebagai festival tahunan yang di gelar di Jepang. Perayaan ini lebih dominan dirayakan untuk orang tua yang mempunyai anak laki – laki tetapi bagi yang

(48)

mempunyai anak perempuan tetap bisa merayakannya. Dan Fungsi dari pengibaran Koinobori untuk harapan agar kelak anak – anak tumbuh menjadi orang baik dan sukses tanpa peduli baik atau buruknya lingkungan di masa yang akan datang.

2. Pengibaran koinobori dilakukan untuk memeriahkan perayaan Tango no Sekku, yang dirayakan setiap akhir April sampai akhir Mei.

Koinobori adalah bendera berbentuk ikan koi yang dikibarkan di pekarangan rumah di Jepang oleh orang tua yang memiliki anak laki- laki. Setiap warna pada koinobori memiliki makna. Warna hitam merupakan kedudukan tertinggi yang melambangkan ayah, warna merah adalah ibu, warna biru adalah putra sulung, dan warna hijau adalah putra kedua. Warna oranye merupakan lambang anak perempuan bagi keluarga. Hubungan warna bersangkutan dengan gender berdasarkan warna itu sendiri. Laki – laki lebih suka warna yang gelap. Sedangkan wanita lebih suka dengan warna ceria.

4.2 Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis berharap masyarakat Jepang tetap turun temurun melestarikan perayaan koinobori. Agar tetap di wariskan ke anak cucu di masa depan. Koinobori juga memberikan pelajaran kepada anak – anak muda agar tetap kuat dan patang menyerah, sama seperti ikan koi yang melawan arus di air. Sebagai pelajar bahasa Jepang, kita bukan hanya belajar bahasa nya saja tetapi juga budaya.

Budaya Jepang yang di pelajari memiliki makna tersendiri di kehidupan, dan kita mengambil unsur positif untuk dipakai dalam kehidupan.

(49)
(50)

DAFTAR PUSTAKA

Ardhy, Oktaviani Kusuma. 2008. Hadaka Matsuri : Sebuah Sarana Untuk Mempererat Interaksi Sosial Masyarakat Jepang. Skripsi. Jakarta : Universitas Indonesia.

Bachtiar, Yusuf. 2002. Mencemerlangkan Warna Koi. Jakarta : AgroMedia Pustaka.

Damayanti, Lisbet. 2009. Ritus-Ritus Daur Hidup Masyarakat Jepang. Skripsi Sarjana. Medan : Fakultas Sastra USU.

Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Florentina, Meilani.2014. Analisis Makna Konotasi Warna Hitam Dalam pada Kurotomesode.

Koentjaraningrat. 1976. Metode – Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Ritonga, Parlaungan. 1997. Makna Simbolik. Medan : USU Press.

Rani, Rastati. 2008. Analisis Penggunaan Warna. Skripsi Sarjana. Fakultas Ilmu Budaya : Universitas Indonesia.

Suryohadiprojo, Sayidman. 1982. Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjuangan Hidup. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

(51)

Situmorang, Hamzon. 2000. Telaah Pranata Masyarakat Jepang I. Medan : USU Press.

Sibarani, Robert. 2014. Kearifan Lokal. Jakarta : Asosiasi Tradisi Lisan.

Situmorang, Hamzon dan Rospita Uli. 2011. Telaah Budaya dan Masyarakat Jepang. Medan : USU Press.

Soleman, Herlino. Koinobori. Jakarta : PT. Grasindo.

https://www.fun-japan.jp/id/articles/8148 (di akses pada tanggal 20 april 2021)

https://123dok.com/document/y6xow34y-analisis-makna-simbolik-pada-

perayaan-festival-koinobori-jepang.html?utm_source=search_v3 ( di akses pada tanggal 10 februari 2021)

http://repository.maranatha.edu/7566/3/0342035_Chapter1.pdf ( di akses pada tanggal 10 februari 2021)

https://bobo.grid.id/read/081716715/di-hari-anak-orang-jepang-mengibarkan- bendera-ikan-apa-artinya?page=all ( di akses pada tanggal 12 februari 2021)

http://www.kumpulanpengertian.com/2015/04/pengertian-mitos-menurut-para-ahli.html ( di akses pada tanggal 12 februari 2021)

https://www.infojepang.net/event/festival-koinobori/ ( di akses pada tanggal 13 februari 2021)

(52)

LAMPIRAN

GAMBAR 1

Bendera ikan koi yang di pasang dan dikibarkan di halaman rumah untuk menyambut perayaan koinobori. Bendera tersebut melambangkan sistem keluarga di masyarakat Jepang.

GAMBAR 2

Baju Hakama adalah baju yang digunakan pada perayaan hari anak laki – laki di Jepang.

(53)
(54)
(55)
(56)
(57)

Gambar

Gambar 1. Bendera koinobori

Referensi

Dokumen terkait

dengan kemampuan aktivitas antibakteri yang paling tinggi berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, yaitu isolat TRB1 rimpang dari Batu dan TRP1 rimpang dari Purwodadi dan

Salib, yang saat ini adalah simbol Kekristenan yang paling mudah dikenali di seluruh dunia, telah digunakan sebagai simbol Kristen pada zaman sangat awal.. Lambang ikan juga

Ketika ada chat dan pesan yang masuk maka setiap saat Anda akan mengecek smartphone Anda, sehingga hal tersebut akan mengganggu tidur Anda, pastinya Anda akan kurang tidur

Praktik PHBS dan Faktor-faktor Yang Berhubungan Peserta Didik di Sekolah Dasar Negeri 013 Jakarta Utara Terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.. Dina

internasional telah menerima GATT sebagai organisasi internasional. Lebih lanjut menyatakan bahwa tahapan dalam penyelesaian sengketa dagang dalam perdagangan

Pelaksanaan bimbingan perkawinan pranikah di wilayah Kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar mengalami beberapa kendala antara lain kendala terhadap fasilitator adalah

Maka perlu metode dan sarana yang digunakan oleh guru penting diperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar para siswa, hal ini dimaksudkan agar para siswa tidak

Pengertiannya, jika penghinaan (Pencemaran Nama Baik) itu dilakukan dengan jalan menuduh seseorang telah "melakukan suatu perbuatan", maka hal itu tergolong