(Studi Pada PT. Agung Cakra Nusantara Medan)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Disusun Oleh:
AUDI TESALONIKA SIBUEA 160907126
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
BUSINESS PERFORMANCE TERHADAP DAYA SAING BISNIS PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI (Studi Pada PT. Agung Cakra Nusantara Medan)
Nama : Audi Tesalonika Sibuea
NIM : 160907126
Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dosen Pembimbing : Onan Marakali Siregar, S.Sos, M.Si
Penting bagi suatu perusahaan untuk memperhatikan dan mengelola sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki dalam menciptakan dan meningkatkan daya saing bisnisnya pada segmentasi pasarnya, begitu juga dengan PT. Agung Cakra Nusantara Medan. Persaingan yang semakin ketat juga menuntut perusahaan untuk memaksimalkan kinerjanya usahanya dan manajemen sumber daya nya. PT. Agung Cakra Nusantara Medan adalah perusahaan lokal indonesia yang menjalankan usaha dibidang konstruksi, jasa instalasi jaringan listrik, pembangunan dan pengadaan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana penerapan Resource Based View dan Business Performance yang ada pada PT.
Agung Cakra Nusantara. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana pengaruh Resource Based View dan Business Performance terhadap daya saing bisnis pada PT. Agung Cakra Nusantara.
Bentuk penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu dengan menggambarkan kejadian atau fakta yang terdapat pada objek penelitian dengan cara melakukan wawancara dan observasi kemudian menganalisis data-data yang diperoleh dari lokasi penelitian dan membandingkan dengan teori.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa PT. Agung Cakra Nusantara, memiliki sumber daya perusahaan yang dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan cara mengkombinasikan sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki, serta perusahaan memiliki dan mempertahankan kinerja usaha yang berkualitas baik dan memberikan keuntungan bagi perusahaan ketika memberikan pelayanan dan jasa yang ditawarkan, yang ditandai dengan tanggapan yang baik dari client yang pernah dilayani. Dapat diambil kesimpulan bahwa konsep Resource Based View dan Business Performance memiliki pengaruh dan penting dalam meningkatkan daya saing bisnis, telah diterapkan dan memiliki peranan penting bagi PT. Agung Cakra Nusantara dalam melaksanakan kegiatan usahanya.
Kata Kunci: Perusahaan konstruksi, Resource Based View (RBV), Business Performance, Daya Saing
ABSTRACT
ANALYSIS OF RESOURCE BASED VIEW PERSPECTIVE AND BUSINESS PERFORMANCE ON BUSINESS COMPETITIVENESS IN
CONSTRUCTION COMPANY
(Study at PT. Agung Cakra Nusantara Medan)
Name : Audi Tesalonika Sibuea Student’s ID : 160907126
Study Program : Business Administration Faculty : Social and Political Sciences Advisor : Onan Marakali Siregar, S. Sos, M.Si It is important for acompany to pay attention and manage it sresources in creating and increasing its business competitiveness in its market segmentation, as well as PT. Agung Cakra Nusantara Medan. According to the competition, requires companies to maximize their business performance. PT. Agung Cakra Nusantara is a local Indonesian company that runs its business inconstruction, electricity installation, and procurement.
This research aims to determine and analyze how the application of Resource Based View and Business Performance in PT. Agung Cakra Nusantara. This research also aims to determine and analyze how Resource Based View and Business Performance have impact on business competitiveness at PT. Agung Cakra Nusantara.
This research is using a descriptive method with qualitative approach that is to describe the phenomenon of known facts in the object of this research by doing interviews and observations then analyze the obtained data from the research location by studying it and comparing with theories.
Based on the results of this research found that PT. Agung Cakra Nusantara has maximize its company resources by combining its own resources, and the company has and maintains good quality of business performance that provides benefits for the company when offering its services, which is refer to good responses from its client. As the conclusion, the Resource Based View and Business Performance concept has an important impact and important to increase business competitiveness, has been implemented and has an important role for PT. Agung Cakra Nusantara in carrying out its business activities.
Keywords: Construction Company, Resource Based View, Business Performance.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan dan kasih-Nya yang telah diberikan kepada peneliti, sehingga akhirnya peneliti dapat menyelesikan skripsi ini berjudul “Analisis Resource Based View Perspective dan Business Performance Terhadap Daya Saing Bisnis Pada Perusahaan Konstruksi (Studi Pada PT. Agung Cakra Nusantara Medan)”.
Adapun penulisan dari skripsi ini sebagai salah satu persyaratan untuk bisa menempuh ujian sarjana pendidikan pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa selama masa perkuliahan hingga pada penyusunan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, dukungan, masukan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan yang baik ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos. M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Marlon Sihombing, MA selaku ketua Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Dr. Beti Nasution, M.Si selaku sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas lmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos, M.Si selaku Dosen Pembimbing penulis
5. Bapak Dermawan Sriyanto, S.E, M.Si,Ak selaku dosen penguji yang telah banyak membantu penulis dengan memberikan kritik dan saran sehingga dapat menyempurnakan penulisan skripsi ini.
6. Ibu Siswati Saragi, S.Sos, M.SP dan Bapak Ahmad Farid, S.H. serta seluruh Staf Administrasi Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis yang telah memberikan kemudahan dalam persiapan berkas-berkas selama perkuliahan.
7. Seluruh Dosen Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan ilmu, nasehat dan dukungan yang penulis peroleh selama menjadi mahasiswa di Ilmu Administrasi Bisnis.
8. Ibu Ita Friyanti selaku pemilik PT. Agung Cakra Nusantara beserta para karyawan/i yang telah sudi memberikan izin penelitian dan wawancara kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
9. Orang tua penulis yaitu Mama Lisbet Hutapea yang telah banyak memberikan doa, dukungan serta selalu mengingatkan penulis untuk menjaga kesehatan selama pengerjaan skripsi. Serta dipersembahkan untuk Almarhum Bapak Bernad Sibuea.
10. Kedua Kakak dari penulis, yaitu Kakak Yanti Sibuea dan Kakak Delila Sibuea, beserta Abang Sebastian Sibuea dan Kakak Berliana Hutagalung yang selalu mendukung dan menguatkan penulis pada saat pengerjaan skripsi ini.
11. Life coach Jayadi Lontolawa, teman-teman leaders ENC (Every Nation Campus) Medan yaitu Kakak Dina, Enoch, Dian, Kakak Yanti, Kakak Delila,
senantiasa mendoakan dan mendukung penulis dalam pengerjaan skripsi ini.
12. Teman-teman Students Life Group, yaitu Joshua, Juan, Yohanes, Pasha, Ein, dan Juanda yang selalu senantiasa memberikan doa dan dukungan untuk penulis dalam pengerjaan skripsi ini.
13. Sahabat-sahabat Batak Squad, yaitu Uncok, Joshua, Ardi, Robito, Maurip, dan Hesekiel yang selalu memberikan bantuan, dukungan, dan dorongan selama penyusunan skripsi.
14. Teman-teman satu bimbingan skripsi, yaitu Novianta, Wulan, Ayu, Indah, Nisa, Zedina, Aryan, Hery, Rakha, dan Eka yang memberikan bantuan, dukungan selama penyusunan skripsi.
15. Teman-teman angkatan 2016 terkhusus kelas B Ilmu Administrasi Bisnis yang telah memberikan kenangan yang berkesan bagi penulis selama perkuliahan.
16. Teman-teman yang telah membantu yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, terima kasih untuk dukungan dan doa yang telah diberikan.
Demikian skripsi ini dibuat semoga bermanfaat bagi para pembaca.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang ada dalam skripsi ini.
Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak yang membaca penelitian ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih.
Medan, 19 September 2020 Penulis,
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ...vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ...ix
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 8
1.3. Tujuan Penelitian... 8
1.4. Manfaat Penelitian ... 9
BAB II KERANGKA TEORI ... 10
2.1. Manajemen Strategik ... 10
2.1.1. Pengertian Manajemen Strategik ... 10
2.1.2. Pola Pikir Strategik ... 11
2.2. Resource Based View Perspective ... 12
2.2.1. Pengertian Resource Based View Perspective ... 13
2.2.2. Konsep Resource Based View ... 19
2.3. Business Performance ... 20
2.3.1. Pengertian Business Performance ... 21
2.3.2. Faktor yang Memperngaruhi Kinerja ... 21
2.3.3. Indikator Kinerja Perusahaan Konstruksi ... 21
2.3.4. Penilaian Kinerja ... 23
2.4. Daya Saing ... 24
2.4.1. Pengertian Daya Saing ... 25
2.4.2. Konsep Daya Saing Perusahaan ... 26
2.5. Jasa Konstruksi ... 27
2.5.1 Pengertian Jasa Konstruksi ... 28
2.5.2 Kualifikasi Jasa Konstruksi ... 30
2.6. Penelitian Terdahulu ... 31
2.7. Kerangka Pemikiran ... 34
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
3.1. Bentuk Penelitian ... 35
3.2. Lokasi Penelitian ... 35
3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 35
3.6. Informan Penelitian ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 39
4.1 Gambaran Umum Perusahaan ... 39
4.1.1 Visi dan Misi PT. Agung Cakra Nusantara ... 39
4.1.2 Struktur Organisasi ... 41
4.2 Penyajian Data ... 41
4.2.1 Pola Pikir Strategik Pada PT. Agung Cakra Nusantara .... 44
4.2.2 Resource Based View PT. Agung Cakra Nusantara ... 46
4.2.3 Business Performance PT. Agung Cakra Nusantara ... 52
4.2.4 Daya Saing Bisnis PT. Agung Cakra Nusantara ... 58
4.3 Pembahasan ... 61
BAB V PENUTUP ... 72
5.1 Kesimpulan ... 72
5.2 Saran... 74 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Tabel 1.1 Usaha-usaha Jasa Konstruksi di Medan ... 5
Tabel 2.1 Kualifikasi Usaha Pelaksana Konstruksi ... 29
Tabel 4.1 Daftar Client PT. Agung Cakra Nusantara ... 40
Tabel 4.2 Identitas Informan Kunci ... 43
Tabel 4.3 Identitas Informan Utama ... 43
Tabel 4.4 Identitas Informan Tambahan ... 43
Tabel 4.5 Analisis VRIO RBV Pada PT. Agung Cakra Nusantara... 52
Tabel 4.6 Analisis VRIO Business Performance ... 58
Tabel 4.7 SO PT. Agung Cakra Nusanatara Tahun 2020 ... 59
Gambar 2.1 Skema Pola Pikir Strategik ... 12
Gambar 2.2 Pendekatan Berbasis Sumber Daya Terhadap Analisis Strategi Bersaing... 16
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir ... 33
Gambar 4.1 Visi dan Misi PT. Agung Cakra Nusantara... 39
Gambar 4.2 Struktur Organisasi PT. Agung Cakra Nusantara ... 40
1.1 Latar Belakang
Pada umumnya setiap perusahaan telah memiliki suatu strategi, akan tetapi terkadang perusahaan tidak menyadari bahwa rencana dan aktivitas yang sedang dijalankan merupakan salah satu bentuk dari strategi. Bentuk dari suatu strategi sangat beragam dan bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain dan dari satu situasi ke situasi lain yang berbeda. Sehingga setiap perusahaan mempunyai strategi sendiri yang berbeda dengan para pesaing lainnya. Untuk itu setiap perusahaan harus mampu menciptakan strategi yang tepat untuk memenangkan persaingan tersebut.
Dalam menghadapi persaingan, perusahaan dituntut untuk mengembangkan strategi bersaing yang tepat dan efektif dalam menghadapi berbagai perubahan situasi dalam pasar. Oleh karena itu perusahaan sangat memerlukan penilaian strategi untuk melihat apakah strategi yang diterapkan sudah tepat atau tidak .
Kinerja berasal dari pengertian performance. Ada juga yang memberikan pengertian Performance sebagai hasil kerja atau prestasi kerja. kinerja memiliki arti yang lebih luas, tidak hanya hasil kerja, tetapi termasuk juga bagaimana proses suatu pekerjaan terlaksana. Persaingan yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk memaksimalkan kinerjanya.
Salah satu faktor yang penting untuk membantu kelancaran keberhasilan perusahaan dalam persaingan adalah lingkungan. Untuk itu perusahaan perlu mengenali situasi lingkungan di sekitarnya karena banyak kegagalan dalam bisnis
bisa terjadi oleh karena perusahaan tidak bisa menyadari, memahami dan mengidentifikasikan secara tepat dan benar lingkungan dimana mereka berada.
Perlu adanya suatu pendekatan internal yang meliputi sumber daya perusahaan yang dapat menciptakan keunggulan dalam bersaing. Dalam manajemen strategi, pandangan bahwa sumber daya pada akhirnya menentukan keberlangsungan organisasi, seperti menang bersaing dan berkembang disebut dengan RBV (Resource Based View) yang merupakan suatu metode untuk menganalisis dan mengidentifikasikan keunggulan strategis suatu perusahaan berdasarkan pada tinjauan terhadap kombinasi dari aset, keahlian, kapabilitas, dan aset tak berwujud. Adapun suatu pendekatan yang disebut dengan Industrial Organization (IO) yang juga merupakan sebuah konsep menang bersaing, tetapi lebih mengutamakan lingkungan eksternal sebagai masukan utama perusahaan.
Pendekatan RBV memfokuskan pada sumber daya yang dimiliki organisasi, sedangkan IO menganggap kinerja suatu organisasi ditentukan oleh lingkungan eksternal.
Industri konstruksi merupakan industri yang sangat kompleks, berisiko tinggi dengan tingkat persaingan yang tinggi di antara perusahaan penyedia jasa konstruksi. Pada era globalisasi, tantangan besar yang dihadapi setiap perusahaan adalah dampak globalisasi, kompetisi dan strategi. Perusahaan harus mempunyai keunggulan bersaing agar dapat bertahan dan berkembang di pangsa pasar yang ada.
Peran industri konstruksi dalam ekonomi juga dapat dilihat dari segi potensi lapangan kerja, kebutuhan material dan dampaknya, peraturan publik yang mendukung ekonomi dan termasuk dampak perluasan industri konstruksi terhadap
ekonomi, penyaluran pendapatan bagi masyarakat lapisan bawah, dimana pada sebagian besar negara berkembang, menaikkan kapasitas dan kapabilitas konstruksi adalah suatu hal yang penting, termasuk meningkatkan efisiensi biaya, waktu dan kualitas pekerjaan konstruksi. Sebagai usaha yang menghasilkan produk berupa prasarana dan sarana fisik, industri konstruksi mempunyai peran yang sangat penting bagi pertumbuhan perekonomian nasional sehingga perlu diperhatikan berbagai permasalahan yang sering terjadi yang dapat mengakibatkan penurunan kinerja perusahaan jasa konstruksi. Salah satu tolak ukur kesuksesan suatu perusahaan dapat dilihat dari kinerja (performance) perusahaan yang dihasilkan. Semakin tinggi kinerja perusahaan tersebut maka perusahaan tersebut akan semakin sukses.
Dunia industri konstruksi mungkin adalah merupakan salah satu dunia industri yang paling dinamis dibandingkan dengan dunia industri lainnya, terutama di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia. Kondisi pasar yang selalu berubah, periode konstruksi yang relatif sangat singkat, serta adanya fluktuasi harga material yang sangat sulit diprediksi membutuhkan suatu kemampuan manajerial yang handal serta pengetahuan yang baik.
Industri konstruksi pun ada berbagai macam, salah satu jenis konstruksi yang sangat potensial adalah industri konstruksi listrik. Salah satu bagian terpenting yang terdapat di dalam suatu bangunan gedung adalah listrik, yang befungsi sebagai penunjang kenyamanan penghuninya. Di Indonesia saat ini banyak pembangunan seperti perumahan, apartment, dan bangunan-bangunan tinggi lainnya, yang dimana membutuhkan aliran listrik untuk pengoperasiannya.
Melihat dari tingginya tingkat pembangunan di Indonesia pastinya perusahaan yang bergerak pada proyek-proyek yang bersangkutan dengan industri perumahan juga akan mengalami peningkatan permintaan karena perumahan juga membutuhkan dukungan-dukungan dari industri lainnya seperti industri yang bergerak pada bidang pengairan seperti PAM, industri telekomunikasi, industri kontraktor dan industri pengaliran listrik. Semakin berkembangnya industri perumahan, maka permintaan industri perumahan atas jasa pendukung pun semakin tinggi dan secara tidak langsung, kegiatan operasional dan rencana proyek yang dimiliki perusahaan-perusahaan pendukung industri perumahan pun akan meningkat.
Untuk memenangkan persaingan, perusahaan harus memiliki strategi yang cepat dan tepat sehingga mampu mempertahankan keunggulan bersaing secara berkelanjutan. Perusahaan yang fokus terhadap sumber daya dan kemampuan atau yang menerapkan konsep RBV (Resource Based View) akan mampu bersaing secara terus menerus bila dibandingkan dengan perusahaan yang hanya fokus terhadap masalah produk atau market positioning.
Usaha konstruksi di Medan tetap berjalan selama masa pandemi covid-19 jika dibandingkan dengan usaha-usaha lain yang kegiatan usahanya terdampak oleh pandemi covid-19. Bahkan di tengah keadaan pandemi covid-19, tidak sedikit pembangunan yang masih berlangsung di kota Medan dan ada juga perusahaan- perusahaan konstruksi yang bahkan baru memulai proyek-proyek pembangunan di tengah pandemi ini seperti membangun gedung, perumahan, konstruksi jalan, dan juga jasa penginstalan jaringan listrik bangunan, sehingga membuat para pengusaha jasa konstruksi harus lebih berhati-hati dalam memperhatikan pesaing-
pesaingnya agar tidak mengalami penurunan business performance (kinerja usaha) dalam daya saing perusahaan. Oleh karena itu penting bagi perusahaan untuk memperhatikan sumber daya yang dimiliki dan memanfaatkannya dengan efektif agar perusahaan dapat memenangkan persaingan dan dapat terus berkembang, metode yang tepat untuk menganalisis dan mengidentifikasikan sumber daya serta keunggulan strategis suatu perusahaan adalah dengan menggunakan Resource Based View (RBV).
Ada banyak perusahaan yang menawarkan jasa konstruksi di Medan sehingga membuat perusahaan harus mampu bersaing dan memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimiliki dengan efektif dan efesien agar dapat memenangkan persaingan tersebut. Oleh karena itu, dalam menjalankan kegiatan usahanya kerap kali diikuti dengan persaingan yang ketat dari pesaingnya. Lanjutan Tabel 1.1
Tabel 1.1
Usaha-usaha Jasa Konstruksi di Medan
No. Nama Usaha
1 PT. Medcomm Solution 2 PT. Eracipta Binakarya 3 PT. Duta Marga Lestarindo 4 PT. Dirga Bintang
5 PT. Karya Putra Aditama 6 CV. Abadi Lestari 7 CV. Arena Simco
8 PT. Anugerah Tetap Cemerlang Corp 9 PT. Asri Karya
10 CV. Ayu Raya 11 CV. Bahari Jaya
Lanjutan Tabel 1.1
12 PT. Bangun Nusa Indah Hutama 13 CV. Bangun Prima Lestari 14 PT. Berkat Kurnia Mitra Abadi 15 PT. Berkat Jaya Pengestu 16 CV. Bina karya
17 CV. Cahaya Baru 18 CV. Cynthia Permata 19 PT. Dalanta Perkasa Agung 20 PT. Daya Alam Timur 21 PT. Deli Karya 22 CV. Dermawan 23 CV. Duta Alumunium 24 PT. Duta Prima Takkimdi 25 PT. Esa Dani
26 CV. Gema Guntur 27 CV. Graha Tiga-Tiga 28 PT. Intikarya Melvisindo 29 PT. Jaya Catur Prima 30 PT. Jaya Mitra Konstruksi 31 PT. Johari Teknik Jaya 32 PT. Kaharutama 33 PT. Kalpataru Jaya 34 PT. Kesatria
35 PT. Kongwo Prima Perkasa 36 CV. Kurnia Putra Mulia 37 PT. Deli Grand City 38 PT. Pangripta Conf
Lanjutan Tabel 1.1
39 PT. Perkasa Internusa Mandiri 40 PT. Pilaren
41 PT. Sinwa Perdana Mandiri 42 PT Supra Uniland Utama 43 PT. Triroyal Timurraya 44 PT. Bintang Harapan Mulia 45 PT. Arthur Mulia Abadi 46 CV. Bina Jati
47 PT. Bina Sarana Persada Utama 48 CV. Bintang Rantau
49 PT. Bintang Saudara 50 CV. Karya Mulia Utama Sumber : id.indonesiayp.com (2020)
PT. Agung Cakra Nusantara adalah perusahaan lokal indonesia yang menjalankan usaha dibidang konstruksi, jasa instalasi jaringan listrik, pembangunan dan pengadaan. Berdasarkan tingkatan kualifikasi pengusaha konstruksi, PT. Agung Cakra Nusantara termasuk di dalam kualifikasi usaha kecil K1 dengan kisaran nilai satu pekerjaan >Rp 300 juta – Rp 1 Milyar. Meskipun di tengah situasi pandemi covid-19, PT. Agung Cakra Nusantara masih tetap menjalankan kegiatan usahanya, usaha yang saat ini sedang dikerjakan yaitu melakukan aktivasi dan instalasi jaringan listrik. Persaingan ini juga dialami oleh PT. Agung Cakra Nusantara yang bersaing dengan usaha jasa sejenis yakni perusahaan jasa konstruksi di Medan, yakni adanya pekerjaan-pekerjaan
adanya pesaing sejenis perusahaan perlu melakukan suatu pendekatan internal yakni RBV yang meliputi sumber daya perusahaan sehingga dapat menciptakan keunggulan dalam bersaing meningkatkan daya saing, yakni pendekatan Resource Based View dalam berkompetisi agar perusahaan terus dapat berjalan dengan semestinya.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa penelitian kali ini mengenai pendekatan RBV (Resource Based View) digunakan untuk menganalisis, mengevaluasi dan mengetahui strategi bersaing pada PT. Agung Cakra Nusantara.
Pendekatan tersebut mencakup sumber daya internal yang dimiliki oleh perusahaan yang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki sumber daya dan kapabilitas yang tidak dimiliki oleh perusahaan lain dan memberikan nilai berharga bagi perusahaan itu sendiri. Berdasarkan permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk meneliti PT. Agung Cakra Nusantara (ACN) dan menarik judul penelitian yaitu “Analisis Resource Based View Perspective dan Business Performance Terhadap Daya Saing Bisnis Pada Perusahaan Konstruksi (Studi Pada PT. Agung Cakra Nusantara Medan)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Resouce Based View dan Business Performance dalam PT. Agung Cakra Nusantara Medan ?
2. Bagaimana Resouce Based View terhadap daya saing usaha pada PT. Agung Cakra Nusantara Medan ?
3. Bagaimana Business Performance terhadap daya saing usaha pada PT. Agung Cakra Nusantara ?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis Resouce Based View dan Business Performance dalam PT. Agung Cakra Nusantara Medan.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis Resouce Based View terhadap daya saing usaha pada PT. Agung Cakra Nusantara Medan.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis Business Performance terhadap daya saing usaha pada PT. Agung Cakra Nusantara.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan serta pemahaman peneliti mengenai masalah yang diteliti.
2. Bagi Pemilik Usaha
Penelitian ini diharapkan dapat memberi solusi, masukan, dan bahan pertimbangan dalam mengembangkan strategi menghadapi persaingan.
3. Bagi Program Studi Administrasi Bisnis
Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi program studi dan memberikan informasi tambahan yang berguna bagi mahasiswa/i dalam melakukan penelitian dengan objek maupun masalah yang sama untuk penelitian berikutnya yang relevan.
2.1 Manajemen Strategik
Manajemen Strategis adalah keputusan dan tindakan manajerial terkait dengan kinerja jangka panjang organisasi. Manajemen strategis mencakup semua fungsi dasar manajemen, yaitu mulai dari merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengendalikan strategi. Manajemen strategis berperan penting dalam meningkatkan kinerja organisasi. Melalui strategi yang terancang dengan baik, perusahaan dapat meningkatkan laba, menguasai pangsa pasar, menciptakan keunggulan kompetitif serta meningkatkan kemakmuran atau hasil pengembalian bagi pemegang saham (Hery, 2018:2).
2.1.1 Pengertian Manajemen Strategik
Nawawi (Mappasiara, 2018:76) menyebutkan bahwa strategik menurut etimologi berasal dari kata strategic yang berarti kiat, cara, taktik utama. Secara historis kata strategik berawal dari dunia militer dan secara populer diartikan sebagai kiat yang digunakan oleh para komandan militer (jenderal) untuk memenangkan peperangan.
Menurut Nawawi (Mappasiara, 2018:76) Manajemen strategik adalah usaha manajerial menumbuhkembangkan kekuatan organisasi untuk mengeksploitasi peluang yang muncul guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sesuai misi yang telah ditetapkan. Menurut R. Edward Freeman (Mappasiara, 2018:76) manajemen strategik adalah suatu proses terus menerus dan walaupun pada waktunya harus dipilih titik-titik yang berlainan dengan
2.1.2 Pola Pikir Strategik
Manajemen Strategik sebagai suatu konsep yang terkait dengan faktor waktu melibatkan suatu proses yang kontinu dan iteratif dalam mencapai tujuan organisasi yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang dihadapinya (Hubeis dan Najib, 2014:6). Manajemen strategik dapat digunakan untuk mengidentifikasi kegiatan yang menjanjikan dan berfokus pada sumber daya (Alam, Manusia dan Buatan untuk pengembangan jangka panjang serta menguntungkan). Untuk memenangkan persaingan bisnis pada kondisi pasar yang semakin tersegmentasi kecil, para pelaku bisnis dituntut untuk melakukan berbagai upaya, baik melalui penanganan produk secara nyata (Perbaikan dan peningkatan mutu, layanan, informasi, kerja sama dengan pihak terkait, diversifikasi pasar, promosi dan lain - lain) maupun pendapatan pola pikir terpadu (Gambar 2.1) untuk mendeteksi lebih dini gangguan yang akan terjadi pada bisnis yang berjalan, tanpa harus mengganggu keseluruhan sistem. Hal ini menunjukkan pentingnya penanganan metode terpadu yang didukung oleh perangkat analisi data / informasi yang tepat, akurat dan andal untuk memproses penganalisisan dan pengambilan keputusan.
Ekonomi
Politik Sosial
Teknologi Legal
Alami
Gambar 2.1 Skema Pola Pikir Strategik
Sumber: Manajemen Strategik Dalam Pengembangan Daya Saing Organisasi (2014).
Musiman, Siklus, Perubahan dan Struktural
Pola pikir strategik mengajak pimpinan perusahaan untuk tidak sekedar melihat perusahaan atau bisnisnya berdiri sendiri dan terpisah dari lingkungannya karena pertumbuhan dan keberlanjutan bisnisnya bergantung pada kemampuan mengenali lingkungan yang dihadapi dan perumusan serangkaian tindakan strategik untuk dapat memanfaatkan peluang yang tersedia dan menghindari ancaman yang datang. Dengan pola pikir strategik, pengelola organisasi didorong untuk melihat kedepan mengenai apa yang diinginkan terjadi pada organisasinya dan sejauh mana organisasi diharapkan dapat bertumbuh.
2.2 Resource Based View Perspective
Konsep Rersource Based View (RBV) pertama kali dibuat dan dikembangkan oleh Barney, menurut Barney (Siregar, 2019:2) Resource-based theory yang bersumber dari prinsip bahwa sumberdaya utama perusahaan untuk menciptakan keunggulan bersaing berada di dalam lingkungan internal mereka. Keunggulan bersaing ditentukan oleh keunikan dan kemampuan sumberdaya internal yang dimiliki. Menurut konsep RBV, perusahaan merupakan kumpulan sumber daya strategis dan produktif yang unik, langka, kompleks, saling melengkapi dan sulit ditiru pesaing yang bisa dimanfaatkan sebagai elemen untuk mempertahankan strategi bersaingnya. Dalam konsep Resource Based View dibutuhkan keahlian kapabilitas dan cara untuk menggabungkan aset, tenaga kerja, dan proses yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk mengubah input menjadi output.
Menurut Sampurno (Tricahyono, D, 2017:4), model berbasis sumber daya (Resource Based View) percaya bahwa suatu perusahaan ditentukan oleh karakteristik yang ada didalam perusahaan itu sendiri. Model ini memfokuskan pada pengembangan dan perolehan sumberdaya dan kapabilitas yang berharga
sehingga sulit untuk ditiru oleh pesaing. Menurut perspektif RBV perbedaan dalam kinerja perusahaan disebabkan terutama oleh faktor keunikan sumber daya dan kapabilitas perusahaan dan bukan kerena karakteristik struktur industri.
2.2.1 Pengertian Resource Based View Perspective
Menurut Barney dan Clark (Susanto, 2014:83-84) konsep Resource Based View (RBV) perusahaan dikembangkan dari literatur ekonomi dan strategi pada tahun 1950-an. Inti dari pandangan tersebut adalah untuk mencari dan mengidentifikasi karakteristik sumber daya yang dapat dipergunakan untuk mengembangkan keunggulan bersaing dan untuk memelihara keunggulan bersaing tersebut perusahaan harus mengembangkan keterampilan, sumber daya dan proses yang dapat meningkatkan nilai (value) bagi pelanggan, yaitu:
1. Menggunakan sumber daya yang efektif dengan mengkombinasikan sumber daya yang ada dengan sumber daya lainnya;
2. Mengelola manusia dan sumber daya manajerial sebagai hal yang sangat penting;
3. Menciptakan kohesivitas dari masing - masing bagian membantu untuk menciptakan pengetahuan;
4. Memanfaatkan lingkungan eksternal sebagai suatu citra di dalam benak wirausahawan, dengan mengatur aktivitas perusahaan sebagai ‘productive opportunity’;
5. Menciptakan wirausaha sebagai upaya untuk mencari keuntungan dan meningkatkan ‘total long-term profits’ melalui investasi; dan
6. Menciptakan profitabilitas, pertumbuhan dan kemampuan untuk bertahan tergantung pada adaptasi perusahaan terhadap perubahan dan kompetensi.
Suatu perusahaan yang berbasis terknologi dan produksi perlu mencapai suatu kompetensi melalui teknologi yang berbeda.
Pengertian resources menurut Wernerfelt (Mulyono, 2013:60) di atas dapat dikategorikan menjadi dua hal, yaitu:
1. Merupakan aset, baik yang berwujud maupun tidak berwujud. Artinya resources merupakan ’harta’ perusahaan, baik yang berwujud seperti pabrik, kendaraan, mesin dan tidak berwujud seperti merk perusahaan, reputasi perusahaan, keahlian yang dimiliki karyawan.
2. Terikat semi permanen kepada perusahaan. Arti terikat secara semi permanen adalah sebagian besar resources itu secara umum dapat berpindah ke pihak lain, terutama resources yang akan diubah wujudnya menjadi produk perusahaan.
Barney & Hesterly (Amin, R & Rahayu, 2018:5) mendefinisikan RBV sebagai model dari kinerja perusahaan yang berfokus pada sumber daya dan kapabilitas yang dikendalikan oleh perusahaan sebagai sumber dari keunggulan kompetitif.
Hal ini berarti bahwa RBV menjadi suatu kerangka acuan untuk meneliti kekuatan dan kelemahan perusahaan dengan mempelajari keunikan semua sumber daya internal yang dimiliki dan dikontrol oleh perusahaan. Lebih lanjut lagi Barney &
Hesterly mengemukakan bahwa RBV merupakan suatu proses perumusan strategi untuk membangun suatu keunggulan bersaing melalui analisis kekuatan internal perusahaan.
Menurut Pearce dan Robinson (Laongan, C & Rofiaty, 2018:7) Resource Based View (RBV) merupakan metode untuk menganalisis dan mengidentifikasi
kombinasi dari aset, keahlian, kapabilitas suatu organisasi. Menurut Pearce dan Robinson (Pratiwi, D & Pradana, 2016:4) kemampuan RBV untuk menciptakan pendekatan yang lebih terfokus dan dapat diukur untuk analisis internal adalah dengan memisahkan tiga jenis sumber daya inti yang ada pada organisasi.
Menurut Collis (Pradhanti, N, 2018:2) Resource Based View memiliki asumsi dasar bahwa sumber daya dalam perusahaan tergabung menjadi satu dan kapabilitas yang mendasari produksi tidak sama satu dengan yang lainnya (Collis, 1991). Menurut Kostopaulos (Listiana, L, 2016:9) pemikiran dasar Resource- Based View sesungguhnya ingin mengetahui dan memahami apa yang membuat suatu perusahaan berbeda, memperoleh, dan bertahan dalam keunggulan kompetitif, melalui pemanfaatan keberagaman sumberdaya yang dimilikinya.
Menurut David (2015:82) RBV menyatakan bahwa beberapa sumber daya internal lebih penting bagi perusahaan dibandingkan faktor-faktor eksternal dalam mencapai dan melanjutkan keunggulan bersaing. Menurut Lestari (2011:47) sumber daya adalah input-input dalam proses produksi perusahaan, misalnya peralatan, keuangan, hak paten, keahlian pegawai dan manajer-manajer berbakat.
Sumber daya mempunyai fenomena yang lebih luas dari sekedar pengertian individu, sosial dan organisasi. Untuk menciptakan keunggulan bersaing yang berkesinambungan, manajemen harus mampu menggabungkan seluruh sumber daya yang dimiliki sehingga menghasilkan kemampuan yang akhirnya menjadi sumber bagi kompetensi inti.
Sumber daya yang dimiliki perusahaan dapat dikelompokkan menjadi:
1. Sumber Daya Berwujud (Tangible)
Sumber daya berwujud adalah aktiva yang dapat disentuh, dilihat dan dihitung, sehingga dapat diidentifikasi dan diperkirakan nilainya. Sumber daya yang termasuk dalam kelompok ini adalah sumber daya keuangan, sumber daya organisasi, sumber daya fisik, dan sumber daya teknologi.
2. Sumber Daya Tidak Berwujud (Intangible)
Sumber daya tidak bewujud adalah kebalikan dari sumber daya berwujud yaitu tidak dapat dilihat atau disentuh meliputi aktiva-aktiva yang berurat akar dalam sejarah perusahaan dan telah terakumulasi sepanjang waktu. Sumber daya yang termasuk kelompok ini adalah sumber daya manusia, sumber daya inovasi, dan sumber daya reputasi.
3. Kapabilitas Organisasi (Organizational Capabilities)
Bukan merupakan input khusus seperti aset berwujud atau tak berwujud, melainkan keahlian kapabilitas dan cara untuk menggabungkan aset, tenaga kerja, dan proses yang digunakan oleh suatu perusahaan untuk mengubah input menjadi output. Kapabilitas yang dibangun dengan baik dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkesinambungan. Kemampuan ini memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan faktor input yang sama seperti pesaingnya dan mengubah input tersebut menjadi produk atau jasa, baik dengan proses yang lebih efisien maupun dengan output yang lebih berkualitas, atau keduanya (Siregar, 2019:7).
Menurut Metekohy asumsi dasar RBV (Resource Based View) adalah bahwa sumber daya dalam perusahaan bergabung menjadi satu (bundles) dan
kemampuan yang mendasari produksi tidak sama satu dengan lainnya. Menurut Wernerfelt (Khotimah, 2017:52), menjelaskan bahwa RBV merupakan dasar keunggulan kompetitif yang utamanya terletak pada sekumpulan aset berwujud atau tidak berwujud perusahaan. Substansi utama resource based view adalah sumber daya yang mampu menghasilkan keunggulan bersaing berkelanjutan yaitu sumber daya yang bernilai, langka atau unik, sulit untuk ditiru, dan tidak ada substitusinya.
Gambar 2.2
Pendekatan Berbasis Sumber Daya Terhadap Analisis Strategi Bersaing
Sumber :R.M,Grant, The Resource-Based Theory of Competitive Advantage: Implication for Strategy Formulation
4. Pilih satu strategi yang mengeksploitasi sumber daya dan kapabilitas relatif perusahaan terhadap peluang-peluang eksternal
3. Menilai potensi sumber daya dan kapabilitas dari segi:
a.Potensi untuk keunggulan kompetitif yang dapat bertahan
b.kelayakan hasil kembaliannya.
2. Klarifikasi kepabilitas perusahaan:
Apa yang dapat dilakukan perusahaan dengan lebih baik dari persaingannya?
Identifikasi input sumber daya pada setiap kepabilitas dan kompleksitas masing-masing.
1. Klarifikasi dan kelompokkan sumber daya perusaahaan. Nilailah kekuatan dan kelemahan relatif terhadap pesaing.
Identifikasi peluang untuk pemanfaatan sumber daya yang lebih baik
Strategi
Kunggulan kompetitif
kapabilitas
Sumber daya
5. Identifikasi kesenjangan sumber daya yang harus dipenuhi. Investasi pada pemolesan, penambahan, dan peningkatan sumber daya
Penjelasan gambar 2.2:
1. Identifikasi dan kelompokkan sumber daya-sumber daya perusahaan dari segi kekuatan dan kelemahannya.
2. Menggabungkan sumber daya perusahaan ke dalam kapabilitas khusus. Ini merupakan kompetensi inti atau kompetensi khusus perusahaan yang merupakan pembelajaran kolektif dalam organisasi, khususnya bagaimana mengkoordinasi keahlian dan mengintegrasi berbagai aliran teknologi.
3. Evaluasi potensil laba dari sumber daya dan kapabilitas dari segi potensinya untuk menghasilkan keunggulan kompetitif yang dapat dipertahankan, dan kelayakan kembaliannya (kapabilitas untuk menghasilkan laba yang berasal dari penggunaan sumber daya-sumber daya dan kapabilitas tersebut).
4. Pilih strategi yang mengeksploitasi sumber daya-sumber daya dan kapabilitas relatif perusahaan terhadap peluang-peluang eksternal.
5. Identifikasi kesenjangan-kesenjangan sumber daya dan curahkan investasi dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan.
Menurut Rahadian (2017:84) pada hakekatnya RBV merupakan suatu pendekatan klasik dalam manajemen strategis yang berkaitan dengan masalah kompetensi dan sumber daya perusahaan. Menurut Khotimah (2017:53) asumsi RBV yaitu bagaimana perusahaan dapat bersaing dengan perusahaan lain untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya, sesuai dengan kemampuan perusahaan. Barney (Purnomo, 2011:6), menyatakan bahwa budaya organisasi dapat menjadi sumber keunggulan bersaing perusahaan karena dapat menghasilkan kinerja keuangan yang unggul, dan
menyatakan bahwa budaya organisasional yang dapat menghasilkan keunggulan bersaing adalah budaya yang memberikan nilai ekonomis bagi perusahaan, langka, dan sulit diimitasi oleh pesaing.
2.2.2 Konsep Resource Based View
Dalam konsep RBV, yang menjadi fokus perhatian adalah masalah sumber daya internal. Menurut Barney (Rahadian, 2017:84), keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh sumber daya internal yang dikelompokkan kedalam 3 kategori:
1. Sumber daya fisik, meliputi semua pabrik, peralatan, lokasi, teknologi, dan bahan baku.
2. Sumber daya manusia, meliputi seluruh pegawai, pelatihan, pengalaman, kepandaian, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dimilkinya.
3. Sumber daya organisasi, meliputi struktur perusahaan, proses perencanaan, sistem informasi, hak paten, merek dagang, hak cipta, database, dan sebagainya.
Menurut Fahy (Murdapa, A. 2016:216), teori RBV menjelaskan mengenai sumber daya internal yang dimiliki oleh perusahaan. Sukses atau tidaknya sebuah perusahaan akan sangat ditentukan oleh kekuatan dan kelemahan yang ada dalam internal perusahaan. Menurut Ferreira (Murdapa, A. 2016:216), keberhasilan perusahaan amat ditentukan oleh sumber daya yang dimilikinya dan kapabilitas perusahaan yang mampu mengubah sumber daya itu menjadi sebuah economic benefit. Dalam pandangan Hit (Siregar, 2019:7) beberapa sumber daya perusahaan bersifat berwujud (tangible), sedangkan lainnya tidak berwujud
(intangible). Sumber daya berwujud (tangible resources) adalah aktiva yang dapat dilihat, disentuh dan atau dihitung.
Bates dan Flynn (Sukma, 2017:78) menekankan bahwa sumber daya akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan juga menyatakan sesuatu yang langka, sulit ditiru oleh yang lain mendorong timbulnya keunggulan bersaing. Sementara Litz (Sukma, 2017:78) menyatakan bahwa karakteristik sumber daya itu bersifat simultan dari sifat yang berkaitan dengan kelangkaan, sulit ditiru dan tergantikan.
Kepemilikan sumber daya menurut Michalitin Smith dan Kine (Sukma, 2017:78) dapat menentukan apakah organisasi dapat memperoleh profit yang tinggi atau tidak, jadi pengontrolan atas aset yang strategis sangat dibutuhkan.
Mahoney dan Pandian (Khotimah, 2017:32) menyatakan bahwa RBV menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memberikan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan ketika sumber daya dikelola sedemikian rupa sehingga apa yang dihasilkan sulit untuk ditiru atau dibuat oleh pesaing, yang pada akhirnya menciptakan hambatan kompetisi.
2.3 Business Performance
Menurut Fahmi (2017:127) kinerja (performance) adalah hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented maupun non profit oriented yang dihasilkan selama satu periode tertentu.
Menurut Baron et al (Fahmi, 2016:127-128) kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis, kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Dengan demikian, kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut.
Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.
2.3.1 Pengertian Business Performance
Kinerja berasal dari perngertian Performance. Ada juga yang memberikan pengertian performance sebagai hasil kerja atau prestasi kerja. Namun, sebenarnya kinerja mempunyai makna yang lebih luas, bukan hanya hasil kerja, tetapi termasuk bagaimana proses pekerjaan berlangsung (Wibowo, 2017:7).
Nasucha (Fahmi, 2016:129) mengemukakan bahwa kinerja organisasi adalah sebagai efektifitas organisasi secara menyeluruh untuk memenuhi kebutuhan yang ditetapkan dari setiap kelompok yang berkenaan dengan usaha - usaha yang sistemik dan meningkatkan kemampuan organisasi secara terus menerus mencapai kebutuhan secara efektif.
2.3.2 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Kinerja suatu perusahaan dipengaruhi oleh faktor - faktor yang terdiri dari faktor internal, faktor eksternal dan faktor situasi pasar. Menurut Venegas (Tumelap, 2014:137), ketiga faktor tersebut terdiri dari beberapa hal, yaitu:
1. Faktor internal perusahaan yang terdiri dari sumber daya manusia, manajemen, organisasi pelanggan dan manajemen sumber daya manusia;
2. Faktor eksternal perusahaan yang terdiri dari lingkungan sosial politik, lingkungan yang menurut hukum, lingkungan yang kompetitif, lingkungan yang berteknologi dan lingkungan ekonomi makro; dan
3. Faktor situasi pasar yang dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
2.3.3 Indikator Kinerja Perusahaan Konstruksi
Menurut Sudarto (Tumelap, 2014:137), ada empat indikator kinerja perusahaan jasa pelaksana konstruksi, yaitu:
1. Indikator Kinerja Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dibandingkan terhadap pendapatan. Menurut David dan Harry Supangkat (Tumelap, 2014:137), untuk menilai kondisi keuangan dan kinerja perusahaan kita dapat menggunakan rasio keuangan yang terdiri dari:
a. Rasio Likuiditas. Perusahaan yang likuid mempunyai uang tunai cukup atau mempunyai suatu aset yang dapat dijual menjadi bentuk uang tunai dalam waktu yang relatif cepat untuk membayar hutang jangka pendek perusahaan. Rasio ini diperoleh denga membandingkan harta lancar dan hutang lancar.
b. Rasio Solvabilitas. Kemampuan perusahaan atau pemegang saham dalam memberikan proteksi, bilamana terjadi proses likuidasi pada saat kewajibannya telah jatuh tempo. Rasio Solvabilitas terdiri dari total hutang dibagi dengan total harta, total hutang dibagi dengan total dana pemegang saham dan hutang jangka panjang dibagi dengan total dana pemegang saham.
c. Rasio Profitabilitas. Rasio Profitabilitas terdiri dari pendapatan bersih dibagi dengan penjualan, pendapatan sebelum pajak dibagi dengan penjualan, pendapatan bersih dibagi dengan total harta dan pendapatan bersih dibagi dengan total dana pemegang saham.
d. Rasio Pertumbuhan. Rasio pertumbuhan terdiri dari tingkat pertumbuhan yang ditunjukkan dengan penjualan dan tingkat pertumbuhan yang ditunjukkan dengan laba.
2. Indikator Kinerja Pertumbuhan
Menurut Triwidodo (Tumelap, 2014:137), Pertumbuhan dalam pengertian yang luas, meliputi pertumbuhan pasar, pertumbuhan ragam produk atau jasa yang ditawarkan, serta pertumbuhan teknologi yang digunakan untuk penyediaan produk atau jasa tersebut. Pertumbuhan semacam ini seringkali menghasilkan peningkatan daya saing perusahaan.
3. Indikator Kinerja Berkelanjutan
Kemampuan perusahaan untuk mempertahankan usahanya secara berkelanjutan merupakan sebuah konsep yang dinamis. Konsep ini dibangun melalui berbagai interaksi yang intens antara perusahaan dan lingkungan bisnisnya yang dinamis. Kotler et al (Tumelap, 2014:137) memperkenalkan suatu model berkelanjutan yang merupakan unsur utama bisnis perusahaan dalam pasar yang terus berubah. Kinerja berkelanjutan harus dipertimbangkan sejak menentukan jenis infrastruktur yang akan dibangun melalui desain dan spesifikasi, pada saat pelaksanaan konstruksi, operasi infrastrukturnya termasuk pemeliharaan dan perbaikan serta pada saat dekonstruksi.
4. Indikator Kinerja Daya Saing
Menurut Porter (Tumelap, 2014:138) untuk mengukur kinerja daya saing pada level nasional dapat dilihat dari produktivitas serta market share perusahaan.
Kondisi ekonomis global secara signifikan dapat memperluas dan membuat lingkungan persaingan perusahaan semakin kompleks.
2.3.4 Penilaian Kinerja
Menurut Bacal (Wibowo, 2017:187) pengertian penilaian kinerja atau performance appraisal adalah proses dengan mana kinerja individual diukur dan
dievaluasi. Penilaian kinerja menjawab pertanyaan, seberapa baik pekerja berkinerja selama periode waktu tertentu.
Menurut Harvard Business Essentials (Wibowo, 2017:188) penilaian kinerja adalah suatu metode formal untuk mengukur seberapa baik pekerja individual melakukan pekerjaan dalam hubungan dengan tujuan yang diberikan.
Maksud utama penilaian kinerja adalah mengomunikasikan tujuan personal, memotivasi kinerja baik, memberikan umpan balik konstruktif, dan menetapkan tahapan untuk rencana pengembangan yang efektif.
Allen (Wibowo, 2017:193) menunjukkan manfaat penilaian kinerja, antara lain adalah:
1. Penilaian kinerja dapat dilakukan dengan berhati-hati dapat membantu memperbaiki kinerja pekerja sepanjang tahun.
2. Proses penilaian yang efektif merupakan bagian dari manajemen sumber daya manusia yang dapat membantu organisasi berhasil.
3. Merupakan komponen kunci dari strategi kompetitif.
2.4 Daya Saing
Menurut Porter (Purnomo dan Hadi, 2018:53) daya saing adalah produktivitas yang didefinisikan sebagai output yang dihasilkan oleh tenaga kerja. Daya saing merupakan konsep yang merujuk pada kemampuan suatu perusahaan dalam bersaing dengan perusahaan lainnya untuk menciptakan nilai. Daya saing dapat diciptakan maupun ditingkatkan dengan penerapan strategi bersaing yang tepat, salah satunya dengan pengelolaan sumber daya secara efektif dan efisien. Selain itu, penentuan strategi yang tepat harus disesuaikan dengan seluruh aktivitas dari
fungsi perusahaan, sehingga akan menciptakan kinerja perusahaan sesuai dengan yang diharapkan bahkan lebih dan dapat menghasilkan nilai.
2.4.1 Pengertian Daya Saing
Menurut Blocher (Purba dan Limakrisna, 2017:59) menyatakan bahwa strategi kompetitif adalah seperangkat kebijakan, prosedur, dan pendekatan - pendekatan yang mengarahkan pada keberhasilan bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Menentukan suatu strategi dimulai dengan menentukan dari arah bisnis dalam jangka panjang dan oleh karena itu termasuk menentukan misi perusahaan.
Misi kemudian dikembangkan kepada tujuan kinerja yang lebih spesifik, kemudian diimplementasikan melalui strategi perusahaan (corporate strategy) yang spesifik, yang berupa tindakan - tindakan spesifik untuk mencapai tujuan yang dapat memenuhi misi perusahaan.
Menurut Henderson (Purba dan Limakrisna, 2017:65) terdapat tiga jenis pesaing sasaran yaitu pesaing langsung (direct competitor), pesaing tidak langsung (indirect competitor), dan pesaing potensial (potential competitor) dilihat dari sisi ketertarikan (area of interest), kedekatan (contaguous zone), dan pengaruhnya (area of influence). Pesaing yang ada pada satu area yang saling mempengaruhi disebut sebagai pesaing langsung, pesaing tidak langsung adalah para pesaing yang berada pada kedekatan area yang sama, sedangkan pesaing potensial yaitu para pesaing yang ada pada area ketertarikan yang sama.
Daya saing strategik dicapai apabila perusahaan berhasil merumuskan serta menerapkan suatu strategi penciptaan nilai. Pada saat perusahaan menerapkan strategi tersebut dan perusahaan pesaing tidak secara berkelanjutan
tersebut, perusahaan memiliki keunggulan bersaing yang berkelanjutan (Susanto, 2014:82).
2.4.2 Konsep Daya Saing Perusahaan
Memiliki daya saing yang tinggi, kini bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan suatu keharusan. Tanpa daya saing yang tinggi, mustahil suatu bisnis dapat bertahan apalagi memenangkan persaingan. Tuntutannya menjadi sangat strategis, terutama jika ekstensi bukan merupakan pilihan yang diambil tetapi memenangkan persaingan yang justru diharapkan untuk dapat dicapai (Susanto, 2014:205).
Porter (Susanto, 2014:205) menjelaskan beberapa konsep tentang daya saing sebagai berikut:
1. Daya saing mencakup aspek yang lebih luas dari sekedar produktivitas atau efisiensi pada level mikro. Pelaku ekonomi bukan saja perusahaan, akan tetapi juga rumah tangga, pemerintah, dan lain-lain.
2. Hasil akhir dari meningkatnya daya saing perekonomian tak lain adalah meningkatnya kesejahteraan penduduk dalam perekonomian tersebut.
3. Kata kunci konsep daya saing adalah kompetisi, dengan peran keterbukaan terhadap kompetisi dan peran keterbukaan dari para kompetitor menjadi sangat relevan.
Menurut Susanto (2014:205) suatu perusahaan dikatakan memiliki daya saing atau keunggulan kompetitif (competitive advantage) adalah ketika perusahaan tersebut mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki pesaing, melakukan sesuatu yang lebih baik dari perusahaan lain, atau mampu melakukan sesuatu yang tidak mempu dilakukan oleh perusahaan lain.
Menurut Porter (Susanto, 2014:206) terdapat dua tipe dasar dari keunggulan kompetitif, yaitu: cost advantage dan differentiation advantage. Suatu keunggulan kompetitif muncul ketika sebuah perusahaan dapat yang menghasilkan produk yang sama dengan yang dihasilkan pesaingnya dengan biaya yang lebih rendah (cost advantage), atau menghasilkan produk/jasa yang berbeda dan lebih baik dari yang dihasilkan pesaingnya (differentiation advantage). Keunggulan kompetitif akan memungkinkan perusahaan untuk menciptakan nilai lebih kepada pelanggannya dan perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.
Kombinasi dari pengelolaan yang baik atas resources dan capabilities, serta pemilihan untuk menjalankan cost atau differentiation advantage akan menghasilkan keunggulan kompetitif bagi perusahaan dalam menghadapi para pesaingnya (Susanto, 2014:206).
2.5 Jasa Konstruksi
Menurut Patiarsa (2015:6) kata konstruksi berasal dari Construction yang berarti penyusunan, pembuatan, pembangunan, seperti building construction (pembanguna gedung), road construction (pembangunan jalan) dan lain sebagainya.
Mengacu pengertian dan istilah dari PERPRES NO. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, sebagai mana dirubah keempat kalinya dengan PERPRES No. 4 Tahun 2015 (Patiarsa, 2015:6), “Pekerjaan Konstruksi adalah seluruh pekerjaan yang berhubungan dengan pelaksanaan konstruksi bangunan atau pembuatan wujud fisik lainnya”.
2.5.1 Pengertian Jasa Konstruksi
UU NO. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, Bab I, Pasal 1 ayat 3 (Patiarsa, 2015:6), mendefinisikan “Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan mencakup pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing - masing beserta kelengkapannya, untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk fisik lain”.
Berdasarkan penjelasan UU tersebut:
1. Pekerjaan arsitektural mencakup antara lain: pengolahan bentuk dan masa bangunan berdasarkan fungsi serta persyaratan yang diperlukan setiap pekerjaan konstruksi.
2. Pekerjaan sipil mencakup antara lain: pembangunan pelabuhan, bandara udara, jalan kereta api, pengamanan pantai, saluran irigasi/kanal, bendungan, terowongan, gedung, jalan dan jembatan, reklamasi rawa, pekerjaan pemasangan perpipaan, pekerjaan pemboran, dan pembukaan lahan.
3. Pekerjaan mekanikal dan elektrikal merupakan pekerjaan pemasangan produk- produk rekayasa industri. Pekerjaan mekanikal mencakup antara lain:
pemasangan turbin, pendirian dan pemasangan instalasi pabrik, kelengkapan instalasi bangunan, pekerjaan pemasangan perpipaan air, minyak, dan gas.
Pekerjaan elektrikal mencakup antara lain: pembangunan jaringan transmisi dan distribusi kelistrikan, pemasangan instalasi kelistrikan, telekomunikasi beserta kelengkapannya.
4. Pekerjaan tata lingkungan mencakup antara lain: pekerjaan pengolahan dan penataan akhir bangunan maupun lingkungannya.
Definisi dari “Federal Transit Administation (FTA)–Construction Project Management Handbook”, revision 1, April 2007 (Pastiarsa, 2015:6), suatu proyek adalah sekumpulan kegiatan yang saling terkait yang dibatasi oleh suatu bidang tertentu, anggaran dan jadwal yang tertentu untuk menyampaikan aset kapital yang diperlukan untuk mencapai tujuan strategis organisasi.
Jadi Proyek Konstruksi merupakan proyek pembangunan fisik untuk menghasilkan tidak hanya infrastruktur untuk publik seperti jalan, jembatan, waduk, jaringan irigasi dan sebagainya, namun juga meliputi pembangunan fasilitas milik swasta dan perorangan seperti perumahan, pertokoan, gedung kantor, pabrik, dan sebagainya. Proyek konstruksi dibedakan menjadi:
1. Konstruksi Bangunan Gedung, membangun properti seperti: gedung, rumah tapak, apartemen, gedung kantor, pertokoan, dan lain-lain.
2. Konstruksi Bangunan Sipil, membangun fasilitas umum seperti: membangun jembatan, jalan, saluran irigasi, bendungan, dan lain-lain.
3. Konstruksi Bangunan Industri, membangun fasilitas industri seperti: pusat pembangkit tenaga listrik, pabrik pengolahan logam, pabrik kertas, pabrik kimia dan petrokimia, unit pengolah limbah, dan lain-lain.
Sedangkan proyek konstruksi yang dilaksanakan secara terintegrasi menurut peraturan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 08/PRT/M/2011 (Patiasra, 2015:7), meliputi proyek konstruksi yang diselenggarakan secara:
1. Rancang bangun (Design & Build)
2. Perencanaan, Pengadaan dan Pelaksanaan Terima Jadi (EPC/Engineering, Procurement, and Construction)
3. Terima Jadi (Turn-key project)
4. Berbasis Kinerja (Perfomance Based).
2.5.2 Kualifikasi Jasa Konstruksi
Di dalam Lampiran 3 Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.
08/PRT/M/2011 diatur tentang Kualifikasi Usaha Pelaksana Konstruksi (Pastiarsa, 2015:5), yaitu kecil, menengah dan besar yang dipilah berdasarkan batasan nilai pekerjaannya, maka salah satu ukuran atau skala proyek konstruksi dapat ditentukan berdasarkan nilai proyek. Proyek skala kecil bernilai sampai dengan maksimum Rp 2,5 Milyar, proyek skala menegah bernilai > Rp 2,5 Milyar sampai dengan Rp 50 Milyar, sedangkan proyek skala besar bernilai diatas Rp 50 Milyar.
Proyek skala kecil, umumnya mempunyai resiko kecil dan menggunakan teknologi yang sederhana. Proyek skala besar, bersifat kompleks, memerlukan teknologi tinggi, mempunyai resiko tinggi, dan memerlukan biaya besar.
Tabel 2.1
Kualifikasi Usaha Pelaksana Konstruksi
KUALIFIKASI SUBKUALIFIKASI BATASAN NILAI
SATU PEKERJAAN
Orang Perseorangan P 0 – Rp 300 Juta
K1
>Rp 300 Juta – Rp 1 Milyar
Usaha Kecil K2
>Rp 1 Milyar – Rp 1,75 Milyar
K3
>Rp 1,75 Milyar – Rp 2,5 Milyar
Lanjutan table 2.1
Usaha Menengah M1
>Rp 2,5 Milyar – Rp 10 Milyar
M2
>Rp 10 Milyar – Rp 50 Milyar
Usaha Besar B1
>Rp 50 Milyar – Rp 250 Milyar
B2 >Rp 250 Milyar
Sumber: Manajemen Proyek Konstruksi Bangunan Industri;
Perspektif Pemilik Proyek (2015) 2.6 Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian terdahulu yang digunakan sebagai referensi penelitian ini antara lain:
1. Siti Munglimah (2017) Program studi teknik industri, Fakultas sains dan teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga melakukan penelitian berjudul, “Analasis Keunggulan Kompetitif Dengan Pendekatan Berbasis Sumber Daya Pada Sentra Batik Tulis Giriloyo Yogyakarta”. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menganalisis sumber daya dan kapabilitas sentra batik tulis Giriloyo menggunakan pendekatan berbasis sumber daya untuk mendapatkan sumber keunggulan kompetitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sentra batik tulis Giriloyo memiliki beberapa sumber daya dan kemampuan yang menjadi keunggulan bersaing berkelanjutan.
2. Nurul Rahmadhani (2018) Program studi strata 1 Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh Resource Based View Perspective dan Kinerja Bisnis Terhadap Daya Saing Usaha (Studi Kasus Pada Cafe di
Resource Based View Perspective berpengaruh positif dan signifikan terhadap Daya Saing usaha. Dengan kata lain tingkat Resource Based View Perspective semakin tinggi dimiliki oleh responden maka cenderung akan meningkatkan daya saing usaha. Hal ini karena semakin baik sumber daya yang dimiliki oleh sebuah usaha akan menumbuhkan daya saing usaha yang baik pula dan membantu untuk mencapai laba bagi usaha yag dijalankan.
3. Lisa Listiana (2016) Program studi strata 1 Manajemen, Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara melakukan penelitian berjudul, “Pengaruh Strategi Resource based View dan Orientasi Kewirausahaan Terhadap Keunggulan Bersaing UMKM (Studi Kasus Pada Kerajinan Rotan di Medan)”. Hasil penelitian secara simultan menunjukkan bahwa strategi resource-based view dan orientasi kewirausahaan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing pada anggota Koperasi Industri dan Kerajinan Rotan di Medan. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa strategi resource-based view berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing pada anggota Koperasi Industri dan Kerajinan Rotan di Medan;
orientasi kewirausahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keunggulan bersaing pada anggota Koperasi Industri dan Kerajinan Rotan di Medan.
4. Irpan Winardi (2015) jurusan Ekonomi Pembanguna, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara melakukan penelitian berjudul “ Analisis Daya Saing Ekonomi Kreatif di Kota Medan ”. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan cara untuk meningkatkan daya saing usaha ekonomi kreatif
di kota Medan yaitu dengan menggunakan stategi SO yaitu dengan mengoptimalkan atau memanfaatkan produk yang telah dikenal masyarakat dan meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan dan memberikan harga yang terjangkau pada konsumen, sehingga dapat meningkatkan daya saing usaha kreatif di kota Medan.
5. Gilang Prasidya Jati (2014) jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro melakukan penelitian berjudul “Pengaruh Keunggulan Bersaing Melalui Kinerja Bisnis (Studi Kasus pada Warung Makan di Wilayah Tlogosari Semarang)”. Hasil penelitian ini, pengaruh keragaman produk dan kualitas produk terhadap keunggulan bersaing yang berdampak pada kinerja bisnis pada warung makan di Pusat Kuliner di Wilayah Tlogosari.
6. Annisa Bella Astriatika (2018) jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Lampung melakukan penelitian berjudul
“Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Usaha Industri Perdagangan Pakaian Jadi di Pasar Bambu Kuning Kota Bandar Lampung”. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja usaha industri perdagangan pakaian jadi di pasar bambu kuning kota Bandar Lampung. Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi produk, strategi harga, strategi promosi, dan strategi kerjasama bepengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja usaha industri perdagangan pakaian jadi di Pasar Bambu Kuning Kota Bandar Lampung.
2.7 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan teori yang telah diuraikan sebelumnya, penelitian ini akan membahas mengenai analisis resource based view perspective dan business performance terhadap peningkatan daya saing usaha. Melihat teori dan penjelasan, maka dibentuklah kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir
PT. Agung Cakra Nusantara Medan
Resource Based View Business Performance
Daya Saing Bisnis PT. Agung Cakra Nusantara Meningkatkan nilai (Value) bagi pelanggan:
1. Mengkombinasikan sumber daya.
2. Sumber daya manajerial.
3. Menciptakan kohesifitas.
4. Memanfaatkan sumber daya eksternal dan membangun citra.
5. total long term profits.
6. Profitabilitas, pertumbuhan dan kemampuan bertahan.
7. Sumber daya internal:
a. Sumber daya fisik.
b. Sumber daya manusia.
c. Sumber daya organisasi.
Pola Pikir Strategik:
1. Proses yang kontinu dan iteratif.
2. Berfokus pada sumber daya.
3. Kondisi pasar.
4. Mendeteksi gangguan pada bisnis yang berjalan.
1. Faktor internal.
a. Sumber Daya Manusia 2. Faktor eksternal.
a. Lingkungakn Sosial Politik b. Lingkungan Hukum c. Lingkungan Teknologi d. Lingkungan Ekonomi Makro 3. Faktor situasi
4. Indikator kinerja
a. Indikator Kinerja Profitabilitas b. Indikator Kinerja Pertumbuhan c. Indikator Kinerja Berkelanjutan d. Indikator Kinerja Daya Saing 5. Penilaian kinerja
1. Produktifitas
2. Pengaruh pada kesejahteraan penduduk 3. Keterbukaan dalam kompetisi
4. Keunggulan kompetitif
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh bersifat deskriptif berupa kata-kata tertulis/lisan.
Dalam penelitian ini peneliti berusaha untuk menganalisis dan mendeskripsikan Resource Based View Perspective dan Business Performance terhadap daya saing usaha PT. Agung Cakra Nusantara.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT. Agung Cakra Nusantara yang beralamat di Jl. Asrama No 36 P. Brayan Bengkel Baru, Medan, Sumatera Utara.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
3.3.1 Data Primer
Metode yang digunakan dalam memperoleh data primer adalah melakukan wawancara dengan informan yang dinilai mampu memberikan jawaban yang baik dan tepat. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin yaitu pewawancara membawa kerangka pertanyaan untuk disajikan kepada narasumber.