• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistematic Mapping Study. Terhadap Peran Usaha Informal. Sebagai Antisipasi Krisis Ekonomi di Era Covid 19. Oleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Sistematic Mapping Study. Terhadap Peran Usaha Informal. Sebagai Antisipasi Krisis Ekonomi di Era Covid 19. Oleh"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

Sistematic Mapping Study

Terhadap Peran Usaha Informal

Sebagai Antisipasi Krisis Ekonomi di Era Covid 19

Oleh

Dr. Harimurti Wulandjani, S.E., M.M Dr. Erwinn Permana., SP., ME Drs. Murthada Sinuraya., M.M

Arya Putra Darmawan

Latar Belakang

Kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Data hari ini, Senin (22/6) menunjukkan terjadi penambahan sebanyak 954 kasus. Penambahan ini membuat kasus positif Covid-19 naik menjadi 46.845 orang. Selain kasus baru, pasien sembuh dari Covid-19 juga bertambah 331 orang. Peningkatan ini membuat total kasus sembuh di Indonesia mencapai 18.735. Kasus kematian karena Covid-19 juga bertambah 35 orang. Total akumulatif kasus kematian akibat Covid-19 menjadi 2.500 orang. (https://www.merdeka.com/peristiwa/data-terkini-jumlah-korban- virus-corona-di-indonesia.html). Berdasarkan total kasus infeksi Covid-19 di Indonesia, tercatat menjadi yang terbanyak di tingkat ASEAN (https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/17/175103265/lewati-singapura- kasus-covid19-di-indonesia-kini-terbanyak-di-asean).

Kapan pandemi COVID-19 ini akan berakhir, tidak ada satupun negara yang dapat memprediksi. Cara sederhana beradaptasi dan menghadapi pandemi ini adalah dengan menyiapkan strategi-strategi jangka pendek dan jangka panjang

(2)

massal. Kebijakan jangka pendek yang dapat diterapkan adalah bantuan keuangan baik dalam bentuk pinjaman lunak atau bantuan tunai langsung dengan melibatkan pemerintah dan sektor swasta. Sementara strategi jangka panjang difokuskan pada pengenalan dan penggunaan teknologi digital bagi UMKM sekaligus persiapan untuk memasuki era Industri 4.0.

Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenkopUKM) menunjukkan bahwa pada tahun 2018 terdapat 64.194.057 UMKM yang ada di Indonesia (atau sekitar 99 persen dari total unit usaha) dan mempekerjakan 116.978.631 tenaga kerja (atau sekitar 97 persen dari total tenaga kerja di sektor ekonomi). Penyebaran virus Covid-19 masih menjadi konsen berbagai negara, terutama yang sudah mengonfimasi kasus positif terinfeksi di negaranya (worldometers.info, 17 Maret 2020).

Dalam periode krisis, UMKM relatif tahan banting, Usaha Mikro Kecil dan Menengah selanjutnya UMKM dianggap sebagai satu alternatif penting yang mampu mengurangi beban berat yang dihadapi perekonomian nasional dan daerah.

Pengembangan kegiatan UMKM relatif tidak memerlukan kapital yang besar, terutama UMKM yang berkaitan dengan kegiatan usaha pertanian. Depresiasi rupiah terhadap dollar Amerika telah menyebabkan UMKM dalam sektor pertanian dapat mengeruk keuntungan yang relatif besar. Sebaliknya, UMKM yang tergantung pada input import mengalami keterpurukan dengan adanya gejolak depresiasi rupiah ini. Sebagaimana di seluruh dunia, UKM sedang dipertimbangkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi (Ardic et al., 2011; Caner, 2010). Salah satu peran paling penting dari UKM dalam konteks ini termasuk pengentasan

(3)

kemiskinan melalui penciptaan pekerjaan (Jasra et al., 2011). Di negara berkembang, UKM adalah sumber pendapatan utama, tempat berkembang biak bagi pengusaha dan penyedia pekerjaan (UNIDO, 2000).

Khususnya di Jawa Barat, UKM dianggap sebagai salah satu pilar terpenting pembangunan sosiol-ekonomi karena bisnis ini berfungsi sebagai dasar untuk meningkatkan kapasitas produksi serta berkontribusi terhadap penurunan kemiskinan dan masalah pengangguran. Lebih mendalam jika dicermati, terdapat fenomena ketidakstabilan dalam perkembangan jumlah UMKM di Indonesia terutama untuk kategori usaha mikro dan usaha kecil. Dari tahun ke tahun jumlahnya bisa bertambah dan bisa berkurang.

Riset terdahulu tentang daya saing berbagai penelitian telah dilakukan. Ini dapat dikategorikan ke dalam tiga tingkatan: mikro, meso, dan makro. Ini dapat lebih lanjut berlaku untuk daya saing organisasi "tingkat mikro," daya saing industri

"tingkat meso," dan daya saing nasional "tingkat makro" (Nelson, 1992). Seperti yang disebutkan oleh Man et al. (2002), apa pun tingkat fokusnya, daya saing pada akhirnya berkaitan dengan kinerja jangka panjang dari subjek tersebut dibandingkan dengan pesaingnya, hasil dari persaingan. Dari perspektif mikro- meso, konsep daya saing di tingkat perusahaan dan industri juga telah diadopsi dalam konteks yang berbeda.

Konsep kelompok bisnis di Indonesia sudah lazim dalam komunitas pengembangan bisnis. Kelompok usaha secara geografis pun sudah diterapkan seperti IKABOGA, komunitas UMKM bidang kuliner telah tersebar pada tiap kota.

(4)

al., 2014) menggambarkan beberapa faktor yang menjadi permasalah perkembangan UMKM di Indonesia. Persoalan utama yang dihadapi UMKM, antara lain keterbatasan infrastruktur dan akses pemerintah terkait dengan perizinan dan birokrasi serta tingginya tingkat pungutan (Pongwiritthon, 2015; van den

terhambat. Meskipun UMKM dikatakan mampu bertahan dari adanya krisis global namun pada kenyataannya permasalahan-permasalahan yang dihadapi sangat banyak dan lebih berat. Hal itu dikarenakan selain dipengaruhi secara tidak langsung krisis global tadi, UMKM harus menghadapi persoalan domestik yang tidak kunjung terselesaikan seperti masalah upah buruh, ketenaga kerjaan dan pungutan liar, korupsi dan lain-lain (Kang, Moretti, & Park, 2016; Lin & Chaney,

adalah kurangnya akses informasi (Celuch & Murphy, 2010; Maguire, Koh, &

Magrys, 2007; Olatokun & Kebonye, 2010; Pongwiritthon & Awirothananon, 2014; Yunis et al., 2017), khususnya informasi pasar (Ishak, 2005). Hal tersebut

Hal ini dikuatkan oleh konsep yang disebut "cluster Porterian" dan didefinisikan sebagai "kelompok proksimat geografis dari perusahaan yang saling berhubungan dan institusi terkait dalam bidang tertentu, dihubungkan oleh kesamaan dan eksternalitas" (Porter, 1990a; Kaplan dan Norton, 2004; Kaplan, 2010).

Riset terdahulu tentang daya saing UMKM ditingkat global (Sudaryanto et

Heuvel et al., 2011).

Dengan segala persoalan yang ada, potensi UMKM yang besar itu menjadi

2007).

Masalah lain yang dihadapi dan sekaligus menjadi kelemahan UMKM

(5)

terbatasnya akses informasi pasar yang mengakibatkan rendahnya orientasi pasar dan lemahnya daya saing di tingkat global. Miskinnya informasi mengenai pasar tersebut, menjadikan UMKM tidak dapat mengarahkan pengembangan usahanya secara jelas dan fokus, sehingga perkembangannya mengalami stagnasi (Kaur &

Mantok, 2015; Naidoo, 2010).[CO1]

Kendala lain yang dihadapi UMKM adalah keterkaitan dengan prospek usaha yang kurang jelas serta perencanaan, visi dan misi yang belum sesuai dengan harapan perusahaan. Hal ini terjadi karena umumnya UMKM bersifat income gathering yaitu menaikkan pendapatan, dengan ciri-ciri sebagai berikut: merupakan usaha milik keluarga, menggunakan teknologi yang masih relatif sederhana, kurang memiliki akses permodalan (bankable) dan tidak ada pemisahan modal usaha dengan kebutuhan pribadi.

Agar tetap mampu bertahan demi kestabilan perekonomian Indonesia, kemampuan UMKM perlu mendapatkan perhatian serius dalam menghadapi terpaan arus persaingan global. Berdasarkan permasalahan yang timbul dari fenomena yang terjadi, penelitian ini memfokuskan kajian tentang UMKM subsektor industri kuliner. Hal ini dilakukan jika memperhatikan UMKM bidang kuliner yang mendominasi di kota Depok, dibuktikan oleh penelitian pada buku Strategi Pengembangan UKM (Haryani, Iha., Setiyowati, Harlis. (2018). CV.

Landasan Ilmu.

menjadi kendala dalam hal memasarkan produk-produknya, karena dengan

(6)

1.1. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian disertasi ini disusun sebagai berikut:

1. Apakah pengelompokan berpengaruh signifikan terhadap keberlangsungan UMKM di Depok ?

2. Apakah ICT capabilities berpengaruh signifikan terhadap firm agility?

3. Apakah orientasi entrepreneurial berpengaruh signifikan terhadap firm agility?

4. Apakah ICT capabilities berpengaruh signifikan terhadap competitive advantage?

5. Apakah orientasi entrepreneurial berpengaruh signifikan terhadap competitive advantage?

6. Apakah firm agility berpengaruh signifikan terhadap competitive advantage?

7. Apakah competitive advantage berpengaruh signifikan terhadap firm performance?

1.2. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah: untuk memetakan pengelompokan, yang merupakan agregasi dari perusahaan terkait, atau pemasok yang ada di wilayah Depok, dan dihubungkan bersama melalui beberapa saling ketergantungan umum untuk memasok kelompok produk atau layanan terkait, dan menyelidiki bagaimana pengelompokan dapat

(7)

meningkatkan daya saing industri, dan menjawab pertanyaan tentang pengaruh klaster industri terhadap daya saing perusahaan. Menggunakan analisis persamaan struktural (SEM) analisis, kami fokus pada evaluasi dampak cluster dan variabel lain pada ... UKM, yang terletak di Depok. Dampak dari faktor-faktor yang diidentifikasi dari penerapan SEM pada daya saing UKM dinilai secara ekonometris.

1.3. Manfaat Penelitian 1.3.1. Manfaat Teoritik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis sebagai berikut:

1.3.2. Manfaat Praktis

Penelitian ini secara praktis berusaha memberikan berkontribusi pada aspek-aspek sebagai berikut:

1. Menjadi bahan referensi untuk meningkatkan kinerja dan keunggulan bersaing UMKM kedepan.

2. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi untuk memperkuat keunggulan daya saing (competitive advantage) UMKM dengan melakukan berbagai pembinaan untuk menumbuhkan sifat-sifat entrepreneurial dan kecakapan penggunaan informasi teknologi (ICT capabilities) bagi UMKM.

(8)

3. Hasil Penelitian ini dapat memberi inspirasi serta bahan rujukan penelitian yang akan datang terutama yang terkait dengan keunggulan daya saing UMKM pada kondisi globalisasi.

(9)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Skala dan Kelompok Perusahaan

Karakter Perusahaan Mikro adalah a) Memiliki kekayaan bersih paling banyak 50 juta tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. b) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak 300 juta. (UU RI No. 20 Tahun 2008). c) Tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legal lainya. Jenis komoditi / barang yang diproduksi tidak selalu tetap. (Anonim, 2012).

Kelebihan Kekurangan

Kedudukannya sebagai pemain utama dalam kegiatan ekonomi di berbagai sektor.

Rendahnya produktifitas

Penyedia lapangan kerja yang terbesar Terbatasnya akses UMKM kepada sumberdaya produktif.

Sebagai pemain penting dalam pengembangan kegiatan ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat.

Masih rendahnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi.

(Sebastian,2012).

Pencipta pasar baru dan sumber inovasi.

Turut berperan besar dalam memberikan sumbangan dalam menjaga neraca pembayaran melalui kegiatan ekspor.

(Sebastian,2012).

(10)

Contoh Perusahaan Mikro : a) Perusahaan mikro keripik Hayun, Jl. Agam Tanah Cimo, Tanah Baru, Depok. b) Perusahaan mikro kerupuk, di Kec. Baso,Kab.Agam. (Sriwijaya, 2012).

Karakter Perusahaan Kecil : a) Memiliki kekayaan bersih lebih dari 50 juta hingga 500 juta tidak termasuk tanah dan bangunantempat usaha. b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari 300 juta sampai 2,5 milyar.(UU RI. No. 20 Tahun 2008). c) Manajemen berdiri sendiri, tidak ada pemisahan yang tegas antara pemilik dan pengelola perusahaan. d) Pemilik adalah sekaligus pengelola perusahaan kecil tersebut. Modal terbatas karena disediakan oleh pemilik atau sekelompok kecil pemilik modal. Daerah operasinya umumnya bersifat lokal (Rahman, 2010).

Kelebihan Kekurangan

Memiliki pandangan Production Oriented yaitu dengan memproduksi sebaik mungkin apa yang bisa dilakukan.

Sulit secara individual untuk bersaing dengan usaha berskala besar dalam suatu aktivitas bisnis yang sama.

Jika usaha kecil dapat mengembangkan jaringannya, maka konsep Global Production dapat dipenuhi.

Kurangnya aspek presisi dan kesulitan untuk distandarisasi.

Dapat menciptakan lapangan kerja lebih banyak bagi masyarakat. (Rahman, 2010).

Manajemen pengelolaan masih sederhana dan belum berstatus badan hukum (Rahman, 2010).

(11)

Contoh Usaha Kecil : a) Perusahaan kecil kerupuk labu di Kec.Matur, Kab.Agam. b) Perusahaan kecil batik di Kec.Sitiling,Kab.Dharmasraya. (Sriwijaya, 2012)

Karakterisitik Perusahaan Menengah: a) Memiliki kekayaan bersih lebih daari 500 juta sampai 10 milyar tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari 2,5 milyar sampai 50 milyar.(UU RI No. 20 Tahun 2008).

Kelebihan Kekurangan

Pembangunan Usaha skala menengah diyakini dapat memperkuat fondasi perekonomian nasional.

Masih kurangnya pengetahuan tentang teknologi produksi, pemasaran dan manajemenkeuangan.

Penyedia lapangan kerja yang besar. (Rahman, 2010).

Keterbatasan modal dan Sumber Daya Manusia. (Rahman, 2010)

Contoh Perusahaan Menengah : a) Perusahaan menengah galamai di Kota Payakumbuh. b) Perusahaan menengah kerupuk karang kaliang di Kota Bukittinggi (Sriwijaya, 2012).

Perusahaan Besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari usaha menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta, usaha patungan, dan usaha asing yang melakukankegiatan ekonomi di Indonesia.

(UU RI No. 20 Tahun 2008).

(12)

Karakteristik : a) Memiliki kekayaan bersih lebih dari 10 milyar tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. b) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari 50 milyar.(UU RI No. 20 Tahun 2008).

Kelebihan : Kekurangan :

1. Kewajiban yang terbatas pada modal 2. Lebih banyak investasi

3. Hidup terus menerus

4. Kemudahan dalam menarik karyawan berbakat

5. Pemisahan Manajemen(Sebastian,2012)

1. Pendiriannya cukup sulit

2. Biaya pembentukan relative tinggi 3. Kepemilikan mudah berpindah,

sehingga sering mengganti kebijakan perusahaan

4. Karena sebagai subyek pajak, jadi harus menyetorkan pajak kepada pemerintah.(Sebastian, 2012).

Contoh Perusahaan Besar : a) PT Semen Gresik b) PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. c) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (Sriwijaya, 2012).

Sebagaimana Pengaruh globalisasi dan perubahan teknologi yang cepat pada pasar global modern, menyebabkan perusahaan perlu bersaing tidak hanya dengan pesaing nasional tetapi juga dengan perusahaan internasional (Brenes et al., 2011; Ickis, 2006). Tekanan global tersebut merubah lingkungan operasional perusahaan, dimana strategi industri tradisional menjadi kurang efektif untuk diterapkan (Kharub & Sharma, 2017; Walsh & Sanderson, 2008).

Untuk menjaga keberlangsungan bisnis, perusahaan harus membangun keunggulan yang memiliki daya saing, melalui dan memanfaatkan teknologi

(13)

informasi dan komunikasi (ICT capabilities), pada akhirnya perusahaan akan menciptakan inovasi produk yang berkualitas dimana akan mampu bersaing dengan kompetitor dipasar global (Chobanyan & Leigh, 2006; Gupta & Nanda, 2015;

Lynch & Ariely, 2000; Sharma & Kharub, 2015).

2.2 Cluster dan Inisiatif kelompok

Dalam beberapa tahun terakhir, klaster dianggap sebagai faktor penting dalam meningkatkan pembangunan ekonomi di seluruh dunia, di mana banyak pemerintah dan lembaga pengembangan strategi menganggap klaster sebagai pemicu potensial untuk pengembangan perusahaan, dan perusahaan, dan peningkatan inovasi, dan kegiatan inovatif dalam area tertentu, atau sektor ekonomi (UNIDO, 2013).

Konsep klaster dan manfaat ekonominya pertama kali dijelaskan oleh Marshall (1890) oleh konsep "distrik industri," di mana klaster merupakan aglomerasi perusahaan yang beroperasi di sektor industri yang sama di wilayah geografis yang terdefinisi dengan baik dan kecil, dan sebagian besar adalah daerah perkotaan, dan manfaatnya adalah pengurangan biaya transportasi, akses ke lebih banyak sumber daya, kumpulan tenaga kerja yang berkualitas, dan akses ke informasi . Cluster, tidak seperti jaringan, tidak bergantung pada keanggotaan.

Namun, Michael Porter (1990a, b, c) adalah yang pertama tahu dan menggunakan kluster di Harvard Business School. Porter (1990a, c) mendefinisikan klaster sebagai "konsentrasi geografis perusahaan dan institusi yang saling berhubungan

(14)

dalam bidang tertentu. Cluster mencakup berbagai industri terkait dan entitas lain yang penting untuk kompetisi. ”

Kelompok dipandang sebagai faktor penting untuk penjelasan tentang fenomena empiris konsentrasi geografis dari kegiatan ekonomi dan inovasi yang terkait satu sama lain, dan sebagai pendorong utama daya saing dan inovasi di wilayah tertentu dan oleh karena itu untuk pertumbuhan atau peningkatan / peningkatan pekerjaan dan kondisi hidup penduduk (Vlasceanu, 2014). Banyak definisi klaster yang berbeda, tergantung pada tujuan dan konteks di mana mereka digunakan. Namun, dalam banyak definisi ini, tidak ada perbedaan yang jelas antara definisi "klaster" dan "inisiatif klaster." Perbedaan ini harus jelas, klaster dianggap sebagai fenomena nyata dan inisiatif klaster sebagai struktur/entitas yang bertujuan untuk membangun. klaster baru atau perluasannya (Zahradník, 2012).

Cluster adalah sekelompok perusahaan, pemasok khusus, penyedia layanan, perusahaan dalam industri terkait, dan lembaga terkait (misalnya universitas, lembaga standar, pusat penelitian dan pengembangan (R & D), dan asosiasi perdagangan), dalam bidang tertentu yang berlokasi di wilayah geografis tertentu dan dihubungkan oleh interdependensi dalam menyediakan kelompok produk dan/atau layanan terkait (Porter, 1990c, 1998), sementara Tallman et al. (2004) mendefinisikan klaster sebagai perusahaan yang terkonsentrasi secara geografis yang berfungsi sebagai entitas strategis dalam industri, dan berbagi minat yang besar untuk lembaga pembangunan ekonomi regional, manajer perusahaan, pakar strategi internasional, dan lembaga pendukung.

(15)

Secara umum, klaster dapat didefinisikan sebagai sekelompok perusahaan, lembaga dan agen ekonomi, yang terletak di dekat satu sama lain dan telah mencapai skala yang cukup untuk mengembangkan keahlian khusus, layanan, sumber daya, pemasok dan keterampilan (Clipa et al., 2012) . Unsur umum dalam definisi klaster adalah aspek konsentrasi satu atau lebih sektor dalam wilayah tertentu, serta penekanan pada jaringan dan kerja sama antara perusahaan dan lembaga lain dalam kelompok itu (Haviernikova, 2013). Di sisi lain, inisiatif klaster dapat dipahami sebagai "upaya terorganisir untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya saing kelompok dalam suatu wilayah, melibatkan perusahaan klaster, ekonomi dan politik dan/atau komunitas ilmiah" (Sölvell et al., 2003). Inisiatif cluster sering memainkan peran penting sebagai penyedia layanan untuk mendukung pengelompokan. Inisiatif kelompok dapat didefinisikan sebagai badan hukum yang mendukung, mengelola dan mengarahkan suatu kelompok tertentu (Adumitroaei et al., 2013).

Karena klaster sering dikaitkan dengan industri, kedua istilah tersebut digabungkan satu sama lain dan membentuk konsep kluster industri, yang merupakan konsentrasi teknis, ekonomi, sumber daya manusia, pengetahuan, dll., Yang mencerminkan tingkat pengembangan perusahaan. , pengembangan kawasan yang komprehensif, dan menawarkan lingkungan untuk meningkatkan kapasitas inovasi dan kemampuan kompetitif di kawasan (Zhang dan Luo, 2014).

Cluster industri adalah jenis klaster spesifik yang diidentifikasi oleh kegiatan industri mereka dan dianggap sebagai sistem industri berbasis jaringan, yang bertujuan untuk menyesuaikan dan mengubah pasar dan teknologi di seluruh

(16)

organisasi dengan cepat (Niu et al., 2012). Banyak negara, pemerintah, dan perencana mendorong pembentukan klaster industri karena klaster menghasilkan manfaat eksternal dan kedekatan geografis seperti penghematan biaya yang dihasilkan dari biaya input yang lebih rendah dan peningkatan produktivitas (Marshall, 1890).

Menurut Long dan Zhang (2011), klaster industri memiliki banyak dampak positif seperti akses yang lebih baik ke pasar dan pemasok, sumber daya manusia, dan teknologi tumpahan pengetahuan yang mudah. Sementara mereka mengatakan bahwa keuntungan utama dari pengelompokan negara berkembang dengan perkembangan keuangan terbatas adalah untuk mengatasi beberapa hambatan keuangan yang dihadapi perusahaan dalam kelompok. Cluster juga dapat dianggap sebagai salah satu sumber penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan dalam kelompok karena potensi mereka untuk memfasilitasi pengembangan perilaku yang berorientasi pasar dan inovatif (Najib et al., 2011).

Hsu dkk. (2013) berpendapat bahwa pengelompokan adalah tren masa depan. Kelompok industri telah mengalami pertumbuhan pesat selama sepuluh tahun terakhir. Kecepatannya tetap relatif cepat, meskipun ada dampak krisis keuangan global. Bahkan, pengelompokan adalah salah satu jalan menuju peningkatan daya saing perusahaan. Namun, Hsu dkk. (2013) telah menjelaskan bahwa perusahaan dalam kelompok memperoleh keunggulan kompetitif atas perusahaan lain karena mereka dapat memperoleh manfaat dari sumber daya dari cluster dan hubungan klaster yang ada antara pihak-pihak dalam kelompok.

(17)

Menurut penelitian sebelumnya, jelas bahwa semua definisi berbagi aspek umum yang terkait dengan arti gugus, yaitu sebagai berikut: • kedekatan lokasi geografis; • industri terkait, atau penyedia layanan; dan • berbagi minat yang besar dan dihubungkan bersama melalui beberapa interdependensi. Dan jelas bahwa klaster industri diistilahkan sebagai industri di area tertentu yang dihubungkan bersama melalui hubungan vertikal dan horizontal. Mereka memberi indikasi pada tingkat pengembangan daerah, selain menawarkan perbaikan dan inovasi di lingkungan. Daya Saing Berbagai penelitian telah dilakukan tentang masalah daya saing. Ini dapat dikategorikan ke dalam tiga tingkatan: mikro, meso, dan makro. Ini dapat lebih lanjut dicirikan sebagai yang berlaku untuk daya saing organisasi

"tingkat mikro," daya saing industri "tingkat meso," dan daya saing nasional

"tingkat makro" (Nelson, 1992). Seperti yang disebutkan oleh Man et al. (2002), apa pun tingkat fokusnya, daya saing pada akhirnya berkaitan dengan kinerja jangka panjang dari subjek tersebut dibandingkan dengan pesaingnya, hasil dari persaingan. Dari perspektif mikro-meso, konsep daya saing di tingkat perusahaan dan industri juga telah diadopsi dalam konteks yang berbeda. Daya saing industri dianggap sebagai kemampuan perusahaan atau industri untuk menghadapi tantangan yang diajukan oleh pesaing asing (Ketels, 2006). Najib dkk. (2011) mendefinisikan daya saing perusahaan sebagai "Sejauh mana suatu perusahaan dapat, dalam kondisi pasar bebas dan adil, menghasilkan barang dan jasa yang memenuhi ujian pasar internasional sambil mempertahankan atau memperluas pendapatan riil karyawan dan pemiliknya."

(18)

Keberhasilan perusahaan kompetitif diukur dengan kriteria obyektif dan subyektif. Tujuan pertama adalah investasi, pangsa pasar, manfaat dan penjualan, tetapi kriteria subjektif berkaitan dengan reputasi pelanggan atau pembeli, penyedia, pesaing, dan peningkatan layanan (Barney, 2002). Porter (1985) mengatakan bahwa perusahaan memiliki keunggulan kompetitif jika "industri memiliki nilai ekonomi dan tidak banyak perusahaan yang bersaing bergabung dalam tindakan yang sama." Namun, Porter (1990b) menggambarkan daya saing sebagai kemampuan warga untuk memiliki cara yang lebih baik dan lebih tinggi dari hidup. Dan itu bisa terjadi dengan melanjutkan pengembangan produktivitas (Porter, 1990a, b). Porter (2000b) menunjukkan tiga cara pengelompokan mempengaruhi daya saing untuk mencerminkan dan memperkuat bagian-bagian berlian: meningkatkan jumlah industri dan perusahaan baru-baru ini; untuk meningkatkan kemampuan peserta untuk berinovasi dan menghasilkan; dan membentuk bentuk bisnis untuk mendukung inovasi dan memperluas klaster. Juga, manfaat didasarkan pada ekonomi dan spillovers, industri, dan institusi berbeda.

Dan pengaruh kelompok didasarkan pada hubungan individu atau pribadi, komunikasi tatap muka, dan individu dan Fresno Pada 16:01 26 Oktober 2017 (PT) jaringan lembaga. Organisasi dan bentuk-bentuk budaya dapat memainkan peran yang baik dalam fungsi dan pengembangan kelompok.

Dalam tulisan ini, kita akan mempelajari daya saing perusahaan melalui pengelompokan yang bekerja dalam mengolah kulit dan alas kaki di Hebron dengan menganalisis dampak pengelompokan pada elemen kompetitif yang berbeda seperti waktu, biaya, dan fleksibilitas mengacu pada Porter (1990a, 1998, 2004) model

(19)

berlian. Porter membahas empat elemen dalam model ini: kondisi faktor, kondisi permintaan, industri terkait dan pendukung, serta strategi, struktur, dan persaingan perusahaan. Selain itu, model lima kekuatan Porter (1979) masih digunakan untuk analisis industri dan perusahaan. Untuk mengukur daya saing di tingkat perusahaan, konsep kartu skor seimbang (Kaplan dan Norton, 2004; Kaplan, 2010) digunakan.

Empat ukuran kartu skor seimbang adalah sebagai berikut: kinerja keuangan, kepuasan pelanggan, bisnis internal, dan kemampuan untuk berinovasi dengan mengukur kinerja setiap perusahaan. Para responden ditanya tentang daya saing mereka dengan menanyakan tentang kartu skor seimbang dari perusahaan mereka sebagai indikasi daya saing mereka.

Daya saing didefinisikan untuk dicapai melalui penciptaan, pertumbuhan, dan kewirausahaan untuk perusahaan kecil dan menengah melalui pengukuran sebagai berikut:

(1) dimensi pembelajaran dan pertumbuhan serta kemampuan peningkatan karyawan dan penambahan lainnya pada produk;

(2) itu juga termasuk persentase memperkenalkan produk dan jenis baru (kategori) yang juga bergantung pada hubungan antara pemasok dan pelanggan; dan (3) periode yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk memperkenalkan produk baru.

Proses ini tergantung pada sistem informasi yang tersedia di perusahaan.

Clustering meningkatkan daya saing perusahaan di bidang pembelajaran dan pendidikan dalam jangka panjang daripada jangka pendek (kreativitas mencapai daya saing jangka panjang). Mengenai kreativitas yang mendorong daya

(20)

saing jangka panjang, dan karena fakta bahwa peningkatan kinerja internal lembaga mempengaruhi pencapaian pembelajaran, pertumbuhan, dan kreativitas jangka panjang, penelitian penelitian sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Uyarra dan Ramlogan (2012). ) dan Porter (1990a, c). Selain itu, kapasitas untuk berinovasi telah diidentifikasi oleh para ahli sebagai penentu utama daya saing jangka panjang bagi perusahaan, wilayah dan negara (Porter, 1990a, c; Malmberg, 2003). Telah dicatat bahwa inovasi tampaknya terjadi pada tingkat yang lebih tinggi dalam kelompok daripada di tempat lain (Maskell dan Malmberg, 1999a, b; Porter, 2000a).

Dalam proses penelitian ini, para peneliti berhasil memilih model Porter untuk menilai daya saing industri, karena model ini mencakup seluruh kriteria yang dapat mempengaruhi daya saing dan industri perusahaan. Faktor kondisi strategi perusahaan, permintaan dan status pasar, infrastruktur fisik, dan kebijakan pemerintah dipertimbangkan. Sementara fokus dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan daya saing perusahaan kulit dan sepatu, daya saing ditinjau secara rinci, dan dari perspektif mikro, yaitu, organisasi atau / dan daya saing perusahaan.

2.3 Keunggulan kompetitif dari klaster

Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pengelompokan memainkan peran penting dalam meningkatkan daya saing industri dan kualitas produknya (Porter, 1990b), (Najib et al., 2011), (Zhang dan Luo, 2014). Hsu dkk. (2013) dan SDAG (2001) mengukur keunggulan kompetitif klaster dengan mengukur pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan, efek ini adalah sebagai berikut:

(21)

peningkatan pendapatan, peningkatan laba operasional, penurunan biaya operasi, peningkatan profitabilitas, peningkatan teknologi secara keseluruhan, inovasi dan R & D , dan peningkatan kompetensi, sebagai daya saing yang ditingkatkan secara keseluruhan.

Cluster meningkatkan daya saing semua anggota klaster dan memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi seluruh wilayah, dan ini dimungkinkan karena alasan-alasan berikut (Stejskal dan Hajek, 2012):

(1) klaster meningkatkan produktivitas melalui kemungkinan memiliki akses ke input khusus (termasuk modal manusia), informasi, dan lembaga;

(2) klaster meningkatkan kapasitas inovatif (karena daya saing di dalam cluster);

(3) klaster menstimulasi produksi cepat dan menarik perusahaan baru ke klaster;

dan

(4) klaster membuat perencanaan strategis regional dengan kualitas yang lebih tinggi; ini disebabkan oleh pengetahuan tentang lingkungan wirausaha.

Cluster juga menambahkan keunggulan kompetitif untuk industri dengan menghasilkan kondisi yang mengarah ke lebih banyak perkembangan dan inovasi, kondisi tersebut adalah sebagai berikut: tekanan, tekanan teman sebaya, tekanan kompetitif, perbandingan antara perusahaan, kontak yang lebih baik dengan kebutuhan pasar, daya tarik publik lembaga seperti investasi dalam pelatihan dan pendidikan, pembentukan bisnis baru, dan daya tarik yang baik dari bisnis terkait (Porter, 1998).

(22)

Bekerja dalam kelompok telah ditunjukkan untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, dan persaingan dalam beberapa cara, misalnya, mengurangi biaya berbagi sumber daya, massa kritis yang diciptakan oleh memiliki keahlian khusus, keahlian dan produk bernilai tambah (Sultan, 2014).

2.4. Competitive Advantage

Keunggulan kompetitif adalah keuntungan lebih dari pesaing yang diperoleh dengan menawarkan konsumen nilai yang lebih besar, baik dengan cara harga yang lebih rendah atau dengan memberikan manfaat yang lebih besar dan layanan yang membenarkan harga yang lebih tinggi, Porter (2001). Porter (2001) mendefinisikan keunggulan kompetitif sepanjang tiga dimensi yaitu biaya, diferensiasi dan fokus dengan pesaing yang mencoba untuk mengatur diri mereka untuk dapat lepas dari "kepungan" dengan tanpa keunggulan kompetitif. Porter menunjukkan bahwa diferensiasi menghasilkan sebuah biaya lebih rendah dibandingkan dengan pesaing. Diferensiasi adalah satu-cara untuk meraih keunggulan kompetitif. Biasanya, hal ini berasal dari organisasi skala besar mengembangkan efisiensi mereka karena pengalaman berulang mereka dari proyek yang dikerjakan atau menggunakan kekuasaan mereka untuk meningkatkan biaya yang lebih rendah. Cara lain untuk mendapatkan keuntungan kompetitif adalah berhubungan dengan nilai yang dilihat oleh pelanggan, baik melalui unsur-unsur yang menarik dan spesifik dalam penawaran (diferensiasi) atau membuat konsumen merasa bahwa semua kebutuhan mereka sudah ditemukandengan kualitas terbaik dan harga yang bersaing.

(23)

Keunggulan kompetitif adalah sejauh mana sebuah organisasi mampu menciptakan posisi mempertahankan pasar terhadap pesaing. Perusahaan menciptakan keunggulan kompetitif melalui kemampuan kompetitif atau prioritas yang didefinisikan sebagai preferensi strategis atau dimensi dimana perusahaan memilih untuk bersaing di pasar yang ditargetkan. Banyak prioritas kompetitif diidentifikasi dalam literatur. Bahkan, berbagai literatur menemukan beberapa langkah untuk memperoleh keunggulan bersaing (Russel, Suzana N, 2014).

Dimensi terhadap daya saing UMKM di eksplorasi dari hasil penelitian terdahulu. Beberapa diantaranya: Kaleka (2002) dan Chryssochoidis dan Theoharakis (2004), yang mengelompokkan menjadi tiga dimensi: keunggulan biaya, keunggulan produk, dan keunggulan layanan. Responden diminta untuk menunjukkan sejauh mana posisi penawaran perusahaan mereka dalam usaha ekspor lebih baik atau lebih buruk daripada pesaing utama dalam hal 'biaya produksi,' 'kualitas produk' dan 'kemudahan memesan produk'.

Sirivanh dan Sukkabot, (2014) menyebut ada 6 dimensi keunggulan bersaing Small Medium Enterprise (SME) yakni penguasaan terhadap pengetahuan teknis mutakhir, reputasi, brand awareness, kemampuan manajer, hak paten dan merek dagang. Zebaree dan siron (2017) mendefinisikan sebagai hasil dari proses perumusan strategi yang diadopsi oleh perusahaan dengan tujuan memberikan nilai tambah (diferensiasi dan biaya rendah) kepada pelanggan sehingga menghasilkan posisi yang menguntungkan bagi perusahaan terhadap kompetitornya untuk jangka waktu tertentu. Sehingga dimensi keunggulan terdiri dari dua dimensi yakni diferentiation dan low cost. Mehdi Mohebi and Sakineh Farzollahzade (2014)

(24)

menyatakan bahwa dimensi daya saing terdiri dari tiga dimensi yakni tahan lama, sulit ditiru dan identik.

Berdasarkan eksplorasi terhadap konsep daya saing, beberapa dimensi tentang keunggulan bersaing yakni 1) diferensiasi (Zebaree dan siron, 2017), 2) pengetahuan teknis mutakhir, 3) merek dagang (Sirivanh dan Sukkabot, 2014) dan 4) unik. Unik didefenisikan sebagai suatu nilai yang membedakan produk dengan produk yang lain. Agar UMKM memiliki keunggulan bersaing maka harus menghasilkan produk yang bersifat unik.

2.4.1. Pemetaan Riset Competitive Advantage

Menurut Kitchenham et al., (2007) systematic literature review (SLR) adalah:

“a form of secondary study that uses a well-defined methodology to identify, analyse and interpret all available evidence related to a specific research question in a way that is unbiased and (to a degree) repeatable”.

Pada defenisi ini dapat diketahui bahwa SLR merupakan metode riset terdahulu untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menafsirkan semua literatur yang ada dan relevan yang terkait dengan topik yang diteliti (Kitchenham et al., 2007; Petersen et al., 2008). Alasan paling umum dalam melakukan SLR adalah untuk merangkum bukti penelitian terdahulu yang ada mengenai topik tersebut.

Menurut Kitchenham et al., (2007) SLR bertujauan untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam penelitian yang dilakukan saat ini guna memberikan referensi

(25)

untuk melakukan riset dimasa yang akan datang. Dengan melakukan metode pemetaan topik riset terdahulu, diharapkan mampu melatar belakangi penelitian yang bersifat baru pada topik competitive advantage (Kitchenham B, 2007).

2.5. Upaya Pemerintah Memperkuat UMKM

Tugas besar ada di pundak Pemerintah Indonesia terkait dengan pandemi COVID-19 saat ini: pertama, menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat Indonesia sebagai fokus utama dan kedua, menjaga laju pertumbuhan ekonomi.

Prediksi pertumbuhan ekonomi global perlu dijadikan input bagi pemerintah dalam merancang kebijakan-kebijakan ekonomi terutama solusi bagi UMKM.

Menurut OECD, beberapa solusi perlu dipertimbangkan untuk dilakukan yakni: protokol kesehatan ketat dalam menjalankan aktivitas ekonomi oleh UMKM, penundaan pembayaran hutang atau kredit untuk menjaga likuiditas keuangan UMKM, bantuan keuangan bagi UMKM, dan kebijakan struktural :

 Pertama, protokol kesehatan yang ketat dapat diterapkan ketika pemerintah

memberikan izin bagi UMKM untuk menjalankan aktivitasnya. Kewajiban penggunaan masker, sarung tangan, dan jarak aman antar pekerja dapat dijadikan persyaratan bagi UMKM untuk terus menjalankan aktivitasnya.

 Kedua, pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan untuk memberikan

kelonggaran pembayaran cicilan hutang atau kredit bagi UMKM atau bahkan menunda proses pembayaran tersebut sampai enam bulan kedepan dengan mempertimbangkan likuiditas keuangan UMKM. Termasuk juga menyederhanakan proses administrasi mendapatkan pinjaman di tengah situasi

(26)

darurat ini. Hal ini dapat dilakukan agar supaya para pelaku UMKM termasuk para pekerja tetap dapat menjaga tingkat konsumsi dan daya belinya sekaligus mendukung berjalannya roda perekonomian nasional.

 Ketiga, bantuan keuangan kepada para pelaku UMKM. Pemerintah Indonesia

telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp. 70,1 triliun untuk insentif perpajakan dan stimulus kredit usaha rakyat dari total anggaran Rp. 405,1 triliun mengatasi pandemi Covid-19 melalui APBN 2020.

 Keempat, kebijakan struktural untuk kepentingan jangka panjang, digunakan

untuk menghadapi pandemi COVID-19 tapi juga era Industri 4.0 kedepannya.

Meliputi kebijakan-kebijakan jangka pendek bagi UMKM yakni pengenalan teknologi digital dan pelatihan bagi para pelaku dan pekerja UMKM serta kebijakan panjang bagi UMKM untuk beradaptasi dengan penggunaan teknologi untuk proses produksi, penggunaan media teknologi digital untuk mempromosikan produk UMKM, dan menemukan pasar potensial bagi produk yang dihasilkan. Dalam jangka pendek, perlu adanya pendampingan bagi para pelaku UMKM untuk dapat memanfaatkan media e-commerce (belanja daring) untuk menjual produk-produk mereka.

Sekitar Rp73 miliar bakal digunakan Kementerian Pariwisata untuk menggandeng sejumlah influencer atau pemengaruh asing di media sosial yang bisa mempromosikan Indonesia. Sisanya akan digunakan sebagai insentif maskapai dan agen travel, promosi, serta kegiatan pariwisata (Tempo, 7 Maret 2020). Langkah ini menuai banyak kritik dari masyarakat karena dihawatirkan bakal membuka pintu

(27)

Sebagaimana kondisi ekonomi setelah krisis keuangan global 2008, bersama dengan kendala likuiditas yang terjadi kemudian dan meningkatkan sensitivitas terhadap risiko di pasar keuangan, telah menciptakan masalah signifikan bagi perusahaan yang mencoba membiayai operasi dan mengelola modal kerja mereka secara efisien. Dalam lingkungan likuiditas yang relatif rendah ini, biaya pembiayaan telah meningkat dan pemasok, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), merasa lebih sulit untuk mendapatkan kredit yang mereka butuhkan.

Temuan empiris dalam Campello et al. (2010) menunjukkan bahwa, setelah krisis keuangan 2008, penurunan kapasitas pinjaman UKM sering menyebabkan masalah investasi yang kurang. Kelangkaan pembiayaan eksternal yang murah telah mendorong banyak perusahaan untuk melihat di seluruh rantai pasokan keuangan mereka untuk peluang untuk meningkatkan pengelolaan modal kerja, mengoptimalkan arus kas mereka, dan membuka kunci uang tunai yang terperangkap. Pembiayaan rantai pasokan melibatkan penggunaan instrumen keuangan, proses dan teknologi yang memfasilitasi intervensi dalam rantai pasokan keuangan dengan melacak peristiwa dalam rantai pasokan fisik (mis., Penempatan pesanan pembelian, penambahan persediaan, pengiriman pesanan, persetujuan faktur, dll.).

2.6 Kerangka Berfikir dan Hipotesisi Penelitian 2.6.1. Kerangka Berfikir

Kerangka proses berfikir dimaksud untuk memberi tuntunan berfikir deduktif melalui teori dan konsep yang telah ada, serta memberikan tuntunan

(28)

ICT

Capabilities H4

H2

H1 Firm Agility H6 Competitive

Advantage H7 Firm

Performance

H3 Entrepreneurial

Orientation H5

induktif untuk memperjelas wawasan dalam melakukan analisis melalui studi empiris. Dengan pendekatan deduktif dan induktif yang saling berhubungan ini disusun hipotesis penelitian. Hipotesis penelitian ini merupakan solusi sementara atas rumusan masalah yang perlu dikaji kebenarannya melaui uji statistik yang pada penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS).

Gambar: Kerangka Berfikir Penelitian

2.6.2. Hipotesis Penelitian

H1.Terdapat pengaruh positif signifikan ICT capabilities terhadap entrepreneurial orientation

H2.Terdapat pengaruh positif signifikan ICT capabilities terhadap firm agility

H3.Terdapat pengaruh positif signifikan entrepreneurial orientation terhadap firm agility

H4.Terdapat pengaruh positif signifikan ICT capabilities terhadap

(29)

H5.Terdapat pengaruh positif signifikan entrepreneurial orientation terhadap competitive advantage

H6.Terdapat pengaruh positif signifikan firm agility terhadap competitive advantage

H7.Terdapat pengaruh positif signifikan competitive advantage terhadap firm performance

(30)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif, yaitu pendekatan yang melibatkan verifikasi teori melalui pengujian hipotesis untuk menghasilkan kesimpulan. Penelitian demikian dimaksudkan untuk menguji suatu hipotesis dalam rangka memperkuat atau menolak hipotesis yang sudah ada. Penelitian demikian dikategorikan juga sebagai penelitian eksplanatori (explanatory research) (Leedy & Ormrod, 2005). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian survei. Metode penelitian survei adalah penelitian yang mendeskripsikan secara kuantitatif kecenderungan-kecenderungan, perilaku-perilaku, atau opini- opini dari suatu populasi dengan meneliti sampel populasi serta melakukan generalisasi atau membuktikan klaim-klaim tentang populasi tersebut (Creswell, 2010).

Paradigma dalam penelitian ini termasuk ke dalam pandangan positivisme atau paradigma kuantitatif. Paradigma tersebut berusaha mencari fakta dan fenomena sosial untuk menemukan konsep baru dengan terlebih dahulu mengembangkan hipotesis, digunakan pada populasi dan sampel tertentu, pengumpulan data dengan menggunakan instrument penelitian, pengujian secara statistik, dan ditarik kesimpulan umum (Wollenschläger, 2011). Berkenaan dengan hal tersebut, variabel-variabel yang diteliti adalah ICT capabilities, entrepreneurial orientation, firm agility, competitive advantage, dan firm performance.

(31)

3.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian pada UMKM di Depok. Kota Depok merupakan salah satu wilayah paling strategis di Propinsi Jawa Barat. Letak dan posisinya sebagai penyangga ibu kota dan pengaruhnya yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah di sekitarnya merupakan peluang sekaligus tantangan agar Depok mampu menyelaraskan peluang ekonomi yang dimilikinya dengan potensi dan arah tata pemerintahan yang telah tersusun. Selain itu, separuh lebih penduduk Kota Depok termasuk kelompok usia produktif. Oleh karenanya, tantangan ekonomis dalam jangka pendek adalah menyediakan lapangan kerja dan memperluas kesempatan kerja melalui pengembangan ekonomi lokal yang tepat

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

3.3.2 Sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan probability sampling technique. Teknik sampling tersebut merupakan strategi sampling yang umum dilakukan dalam penelitian kuantitatif dan bertujuan untuk mencapai representativeness (Teddlie & Yu, 2007). Probability sampling technique menurut Teddlie &Yu (2007) pada praktiknya adalah “selecting a relatively large number of units from population, or from specific sub groups of population, in a random manner where the probability of inclusion of for every member of the population is determinable”.

(32)

Berd asa rkan tingkat k epe rca yaan seb esar 95 %, maka diketahui Perhi

Metode probability sampling yang dipergunakan adalah randomsampling.

Random sampling dipilih dengan pertimbangan pertama, setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terlibat dalam sampel. Kedua, disertasi ini hanya berfokus pada UMKM subsektor industri fashion di. Tahap selanjutnya adalah memperhitungkan jumlah sampel. Penentuan jumlah sampel menggunakan rumus Slovin dalam Umar (Umar, 2003).

N n =

1+N𝒅𝟐

8.095

= = 381,16 => 381

1+(8.095)(𝟎. 𝟎𝟓)𝟐

Dimana: tungan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. Jumlah N=8.095.

n = Ukuran Sampel N = Populasi d = Nilai Presisi d=0.0025.

Hasilnya menunjukkan n = 381,16 atau dibulatkan menjadi 381.

3.4. Jenis Data dan Sumber Data.

Jenis dan sumber data yang digunakan didalam penelitian ini adalah data primer. Data primer yaitu data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli dan dan data dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang sesuai dengan keinginan peneliti (Fuad Mas’ud, 2004). Data primer ini khusus dikumpulkan untuk kebutuhan riset yang sedang berjalan. Data primer dalam penelitian ini adalah data tentang profil sosial dan identifikasi responden, berisi data responden yang berhubungan dengan identitas responden dan keadaan sosial seperti: jenis kelamin, usia, status responden, dan pendidikan terakhir dari

(33)

responden yang bertempat tinggal dan juga profile perusahaan. Juga data jawaban responden terhadap kuesioner yang sudah diajukan mengenai fenomena yang teliti.

3.5. Penentuan Jumlah Sampel.

Keterwakilan populasi oleh sampel dalam penelitian merupakan syarat penting untuk melakukan generalisasi. Sehubungan dengan digunakannya model persamaan struktural (Structural Equation Modeling), maka Ferdinand (2002) menyatakan bahwa apabila ukuran sampel terlalu besar, maka model menjadi sangat sensitif sehingga sulit untuk mendapatkan goodness of fit yang baik. Untuk itu disarankan ukuran sampel adalah 5-10 kali jumlah koefisien model yang akan diduga (Hair et al. 2006). Disisi lain, Suharjo dan Suwarno (2002) mengemukakan bahwa jumlah sampel yang memberikan hasil yang cukup stabil berkisar antara 100 responden sampai dengan 200 responden karena kelemahan dari SEM adalah bila jumlah respondennya melebihi dari 200 maka signifikansi hubungan antar variabel semakin mengecil.

3.6 Skala Pengukuran.

Skala pengukuran penelitian ini berdasarkan Skala Likert, yaitu metode penskalaan yang digunakan untuk mengukur respon opini responden terhadap pernyataan angket. Malhotra (2010) menyatakan bahawa skala likert yang disampaikan kepada responden sebaiknya menggunakan 5 poin skala, yaitu 5=Strongly agree, 4=Agree, 3=Neither agree nor disagree, 2=Disagree, 1=Strongly disagree.

(34)

Tabel 3.6. Pengukuran Skala Likert

Poin Simbol Arti Penjelasan

1 STS Sangat Tidak Setuju

Jika pernyataan dipersepsikan sangat tidak benar atau sangat tidak disetujui responden 2 TS Tidak Setuju Jika pernyataan dipersepsikan tidak benar

atau tidak disetujui responden

3 KS Kurang Setuju Jika pernyataan dipersepsikan kurang benar atau kurang disetujui responden 4 S Setuju Jika pernyataan dipersepsikan benar atau

disetujui responden

5 SS Sangat Setuju Jika pernyataan dipersepsikan sangat benar atau sangat disetujui oleh responden Sumber: Malhotra, 2010

3.7 Metode Analisis Data.

3.7.1 Analisis Statistika Deskriptif.

Setelah penyebaran angket dan data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data. Pertama yang dilakukan adalah melakukan data entry;

kedua, mengecek akurasi data entry atau mengecek data yang hilang; ketiga, melakukan analisis deskriptif untuk mengetahui gambaran karakteristik responden dan gambaran tentang kondisi dari konstruk-konstruk yang diteliti. Analisis statistik deskriptif yang digunakan adalah analisa univariate. Analisa univariate pada

(35)

disertasi ini meliputi analisa yang mempelajari kasus-kasus konstruk tunggal dengan memfokuskan pada karakteristik distribusi frekuensi dan rata-rata jawaban responden.

3.7.2 Analisis Statistika Inferensial.

Analisis statistika inferensial dilakukan dengan menggunakan structural equation modeling (SEM) dengan perangkat lunak PLS. SEM merupakan kumpulan teknik analisis yang menguji serangkaian hubungan secara simultan.

SEM dapat dilihat sebagai kolaborasi dari confirmatory factor analysis (analisis faktor), dan regresi atau path analysis (analisa jalur). Selain untuk uji validitas dan reliabilitas model, analisis SEM juga bertujuan untuk melakukan pengujian goodness of fit (kecocokan model).Menurut Hair et al. (1997) SEM cocok untuk:

(1) Mengkonfirmasi unidimensionalitas berbagai indikator sebuah konstruk (2) Menguji kesesuaian/ketepatan model berdasarkan data empiris yang diteliti.

(3) Menguji kesesuaian model sekaligus hubungan kausalitas antar konstruk yang dibangun dalam model tersebut.

Dalam pemodelan PLS tidak diperlukan data dengan distribusi normal. Analisa pada PLS dilakukan dengan tiga tahap:

1. Analisa outer model

Analisa outer model dilakukan untuk memastikan bahwa measurement yang digunakan layak untuk dijadikan pengukuran (valid dan reliabel). Analisa outer model dapat dilihat dari beberapa indikator:

(36)

1) Convergent Validity. Nilai convergen validity adalah nilai loading faktor pada variabel laten dengan indikator-indikatornya. Nilai yang diharapkan

>0.7.

2) Average Variance Extracted (AVE). Nilai AVE yang diharapkan >0.5.

3) Cronbach Alpha. Uji reliabilitas diperkuat dengan Cronbach Alpha. Nilai diharapkan >0.6 untuk semua konstruk.

2. Analisa inner model

Sedangkan analisa inner model/analisa struktural model dilakukan untuk memastikan bahwa model struktural yang dibangun robust dan akurat. Evaluasi inner model dapat dilihat dari beberapa indikator yang meliputi:

1) Koefisien determinasi (R2) 2) Predictive Relevance (Q2)

Untuk menghitung Predictive Relevance (Q2) digunakan dengan rumus:

Q2 =1-(1-R12 ) (1-R22 )……(1-Rpn )…

3) Goodness of Fit Index (GoF)

Untuk menghitung nilai GoF pada SEM with PLS dilakukan secara manual dengan rumus:

GoF= 2 x R2

3. Pengujian Hipotesa.

Untuk pengujian Hipotesa dilakukan dengan melihat nilai probabilitas nya dan t-statistik nya. Untuk nilai probabilitas, nilai p-value dengan alpha 5% adalah

(37)

kurang dari 0,05. Nilai t-tabel untuk alpha 5% adalah 1,96. Sehingga kriteria penerimaan Hipotesa adalah ketika t-statistik > t-tabel.

Untuk menguji model dan hubungan yang dikembangkan dalam penelitian ini diperlukan suatu teknik analisis. Adapun teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM). Model persamaan structural Structural Equation Model (SEM) adalah sekumpulan teknik-teknik statistikal yang memungkinkan pengujian sebuah rangkaian hubungan relatif

“rumit” secara simultan (Ferdinand, 2006, hal:181).

Tampilnya model yang rumit membawa dampak bahwa dalam kenyataannya proses pengambilan keputusan manajemen adalah sebuah proses yang rumit atau merupakan sebuah proses yang multidimensional dengan berbagai pola hubungan kausalitas yang berjenjang. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah model sekaligus alat analisis yang mampu mengakomodasi penelitian multidimensional itu.

Berbagai alat analisis untuk penelitian multidimensional telah banyak dikenal diantaranya 1) Analisis faktor eksplanatori, 2) Analisis regresi berganda, 3) Analisis diskriminan. Alat-alat analisis ini dapat digunakan untuk penelitian multidimensi, akan tetapi kelemahan utama dari teknik-teknik itu adalah pada keterbatasannya hanya dapat menganalisis satu hubungan pada waktu tertentu.

Dalam bahasa penelitian dapat dinyatakan bahwa teknik-teknik itu hanya dapat menguji satu variable dependen melalui beberapa variable independen. Padahal dalam kenyataannya manajemen dihadapkan pada situasi bahwa ada lebih dari satu variable dependen yang harus dihubungkan untuk diketahui derajat interelasinya.

(38)

Keunggulan aplikasi SEM dalam penelitian manajemen adalah karena kemampuannya untuk mengkonfirmasi dimensi-dimensi dari sebuah konsep atau factor yang sangat lazim digunakan dalam manajemen serta kemampuannya untuk mengukur pengaruh hubungan-hubungan yang secara teoritis ada (Ferdinand, 2006). SEM merupakan sekumpulan teknik-teknik statistical yang memungkinkan pengukuran sebuah rangkaian hubungan yang relative rumit secara simultan. Permodelan penelitian melalui SEM memungkinkan seorang peneliti dapat menjawab pertanyaan penelitian yang bersifat regresif maupun dimensional (yaitu mengukur apakah dimensi-dimensi dari sebuah konsep). SEM juga dapat mengidentifikasi dimensi-dimensi sebuah konsep atau konstruk dan pada saat yang sama SEM juga dapat mengukur pengaruh atau derajat hubungan factor yang dapat diidentifikasikan dimensi-dimensinya (Ferdinand, 2006).

(39)

DAFTAR PUSTAKA

Bhwana, Petir Garda, “Ministry Proposes Soft Loans for SMEs Affected by COVID-19.” Tempo.co.

OECD. “SME Policy Responses.” Diakses 23April 2020.

https://read.oecdilibrary.org/view/?ref=119_119680- di6h3qgi4x&title=Covid-19_SME_Policy_Responses.

Hakim, Rakhmat Nur. “Jokowi Gelontorkan Rp 405,1 Triliun untuk Atasi Covid- 19, Ini Rinciannya.” Kompas.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. “Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2017- 2018.”

Kompas, 11 Maret 2020. Dampak Pelambatan Ekonomi Akibat Covid-19 terhadap UMKM.

Pakpahan, Aknolt Kristian. “Tanggung Jawab Pemerintah.” Pikiran Rakyat, 4 Maret 2020, hal. 14.

Rahman, Riska. “37,000 SMEs hit by COVID-19 crisis as government prepares aid.” The Jakarta Post. 16 April 2020. https://www.thejakartapost.com/

news/2020/04/16/37000-smes-hit-by-covid-19-crisis-as-government- prepares-aid.html.

Rais Agil Bahtiar dan Juli Panglima Saragih.. DAMPAK COVID-19 TERHADAP PERLAMBATAN EKONOMI SEKTOR UMKM. Spyridon Damianos Lekkakos Alejandro Serrano, (2016). "Supply chain finance for small and medium sized enterprises: the case of reverse factoring".

Sudaryanto, Ragimun, & Wijayanti, R. R. (2014). Strategi Pemberdayaan UMKM Menghadapi Pasar Bebas Asean. Www.Kemenkeu.Go.Id, 1–32. Retrieved from

http://www.perpustakaan.depkeu.go.id/FOLDERJURNAL/2014_kajian_pke m_Strategi Pemberdayaan UMKM.pdf.

https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/17/175103265/lewati-singapura- kasus-covid-19-di-indonesia-kini-terbanyak-di-asean.

Tempo, 7 Maret 2020. Efek besar dalam UMKM.

Worldometers.info, 17 Maret 2020). Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

Kang, M. S., Moretti, R., & Park, S. K. (2016). A study on entrepreneurship in korea & china: Comparisons among smes business performance in Korea &

China. International Journal of Software Engineering and Its Applications, 10(11), 361–376. https://doi.org/10.14257/ijseia.2016.10.11.29

Celuch, K., & Murphy, G. (2010). SME Internet use and strategic flexibility: The moderating effect of IT market orientation. Journal of Marketing Management, 26(1–2), 131–145.

From

https://doi.org/10.1080/02672570903574296

Gambar

Tabel 3.6. Pengukuran Skala Likert

Referensi

Dokumen terkait

Perusahaan Pembiayaan/Multifinance well literate terdapat kenaikan dari 8,30% menjadi 13,25% artinya terjadi kenaiikan pengus BUMDes yang memiliki pengetahuan

Rasa damai sejahtera ketika sedang berjalan bersama Tuhan dapat muncul karena kita percaya dan beriman bahwa janji Tuhan selalu ya dan amin – Firman yang keluar dari mulut Tuhan

Dengan terjadinya penurunan kadar asetilkolines terase (AChE) pada petani di wilayah ini, perlu dilakukan penyuluhan yang lebih intensif untuk meningkatkan pengetahuan dan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui umpan balik yang berisi tanggapan para pendidik PAUD di wilayah Kabupaten Gunung Kidul terhadap program YKS yang

Covid-19 sangat berdampak pada sektor ekonomi masyarakat, terutama pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mengalami krisis ekonomi. Hal ini dilihat dari daya

Apa yang dapat menjadi pilihan strategi Indosat Ooredoo untuk produk 4G/LTE (mobile broadband) di era data-centric sehingga dapat meningkatkan daya saing dan

Bhatta dan Durgapal (2016) melakukan penelitian tentang persepsi pelanggan terhadap kualitas pelayanan. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hubungan yang kuat

Dialog antarumat beragama di Indonesia tidak dapat dilakukan secara nyata tanpa memahami Pancasila. Sejak Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebagai tanda dimulainya