BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kepentingan dari sebuah negara pada dasarnya akan selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman, dimana isu-isu yang sifatnya tradisional telah digantikan dengan isu modern kontemporer. Salah satunya yaitu isu mengenai perdagangan anak yang sangat marak terjadi di India dan beberapa negara lainnya. Intensitasnya yang terus meningkat telah meyakinkan negara bahwa permasalahan tersebut dapat menjadi sebuah ancaman baru, bukan hanya bagi nasional suatu negara namun juga bagi regional maupun internasional (Bahter, 2020).
India adalah negara di kawasan Asia Selatan yang dapat dikatakan sebagai salah satu negara dengan perkembangan industri paling pesat di dunia, tetapi juga merupakan rumah bagi jumlah terbesar anak-anak yang menderita kekurangan gizi dan berbagai masalah kemanusiaan lainnya. World Bank mencatat sekitar 32,7% dari populasi di India hidup di bawah garis kemiskinan, dimana 68,7% dari mereka hidup dengan pendapatan kurang dari US$ 2 perhari.
India merupakan salah satu negara yang memiliki banyak permasalahan, salah satunya adalah mengenai hak anak. Menurut data dari National Crime Record Bureau (NCRB) dalam Crime in India tahun 2017 dan 2018, di tahun 2018 pemerintah telah melaporkan 1.830 kasus perdagangan anak di bawah naungan IPC (Indian Penal Code), yang mana data tahun itu mengalami pemurunan dari tahun 2016 dengan jumlah sebanyak 5.271 kasus dan di tahun 2017 terdapat sekitar 2.858 kasus (U.S. Departement of State). Dilansir dari web berita Aljazeera (Anand, 2020), pemerintah India sedang mengusahakan untuk pembebasan pekerja anak di India bagian selatan. Terdapat 32 anak perempuan dan 3 anak laki-laki yang telah diselamatkan di Trippur negara bagian Tamil Nadu. Anak-anak tersebut dipaksa bekerja selama 14 jam per hari dan tanpa diberi hari libur. Anak-anak tersebut telah dipekerjakan di berbagai industri.
Permasalahan perdagangan anak telah menyebar di negara berkembang, terutama yang didorong oleh faktor kemiskinan, kurangnya pendidikan yang layak, dan kemampuan pelaku untuk mengeksploitasi kerentanan populasi yang kurang mampu. Perkiraan yang dihitung berdasarkan Sensus India dan Kantor Survei Sampel Nasional India menunjukkan bahwa setidaknya terdapat 3-4juta anak di India yang terlibat dalam child trafficking. Kurangnya kesadaran di masyarakat
maupun di tingkat pengusaha tentang dampak perdagangan anak dan buruknya implementasi undang-undang dan peraturan untuk mencegah hal yang sama telah memperburuk masalah perdagangan anak di India (Sharma, 2013).
Pada tahun 2018, pemerintah India menyelesaikan penuntutan dalam 545 kasus perdagangan anak, menghukum 322 pelaku perdagangan anak dalam 95 kasus, dan membebaskan 1.124 tersangka dalam 450 kasus. Tingkat pembebasan kasus perdagangan anak meningkat menjadi 83% pada tahun 2018. Data statistik ini dibandingkan dengen penanganan pemerintah yang telah menyelesaikan penuntutan dalam 670 kasus, menghukum 249 pelaku perdagangan anak selama tahun 2017 dengan persentase 76% kasus pembebasan (U.S. Departement State).
Dari data korban (GMACL, 2014) yang diselamatkan di Bachpan Bachao Andolan menyebutkan beberapa industri utama yang terlibat dalam pekerja anak di India selama tiga tahun terakhir yaitu garmen, hotel, warung, pekerja rumah tangga anak (Child Domestic Labor / CDL) dan masih banyak lagi. Anak-anak pada umumnya tidak dapat secara tepat dan hati-hati dalam membuat keputusan untuk berpartisipasi dalam dunia kerja di industri manapun. Mereka dipaksa untuk bekerja karena keadaan keuangan keluarga mereka yang buruk atau karena mereka ditipu atau diculik. Sehingga industri ilegal yang menerapkan pekerja anak akan tumbuh subur dengan anak-anak dibawah umur yang mereka pekerjakan (GMACL, 2014).
Dalam mengatasi hal ini, organisasi internasional hadir demi memenuhi kepentingan masyarakat di suatu negara untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di negara tersebut.
Organisasi internasional yang didirikan oleh Pererikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tujuan untuk mendukung pemenuhan terhadap hak-hak anak di seluruh dunia adalah UNICEF (United Nations International Children’s Emergency Fund). Awalnya organisasi ini didirikan setelah Perang Dunia II yaitu pada Desember 1946 yang bertujuan untuk menyediakan makanan, pakaian serta perawatan kesehatan terhadap anak-anak di Eropa, yang kemudian disahkan menjadi salah satu bagian dari PBB pada tahun 1953.
UNICEF telah bekerjasama dengan Pemerintah India untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan anak sejak tahun 1949. Selama lebih dari lima dekade, UNICEF sendiri memiliki peran untuk mengatasi permasalahan sosial yang terdapat di India. Program kinerja UNICEF telah menyebar di India antara lain New Delhi, Telagana, West Bengal, Uttar Pradesh, Tamil Nadu,
Rajasthan, Odisha, Maharasthra, Madhya Pradesh, Karnataka, Jharkhand, Gujarat, Chhattishgarh, Bihar, Andhra Pradesh, dan Assam (UNICEF India).
Pada September 2012 UNICEF bersama dengan Pemerintah India mengeluarkan Country Programme Action Plan 2013-2017 (CPAP) yang menguraikan bagaimana UNICEF harus terlibat dengan pemerintah di tingkat nasional dan tingkat negara bagian. Tujuan dari CPAP 2013-2017 ini adalah untuk memajukan hak-hak anak, remaja dan wanita untuk bertahan hidup, pertumbuhan, pengembangan, partisipasi dan perlindungan dengan mengurangi ketidakadilan berdasarkan kasta, etnis, gender, kemiskinan, wilayah atau agama. Yang mana program ini dilanjutkan dengan program yang sama yaitu CPAP 2018-2022 dengan fokus/tujuan yang sama. Program rencana lima tahun ini mengacu kepada situasi yang terjadi pada anak-anak, remaja, dan perempuan di India.
Anak merupakan aset di masa depan, namun pada kenyataan yang telah ada menunjukkan bahwa masa depan mereka sudah direnggut oleh lingkungan mereka sendiri (Irmalita, 2015). Di India, tidak jarang seorang anak diperdagangkan oleh keluarganya sendiri, hal ini disebabkan oleh keadaan perekonomian keluarga yang mendesak mereka untuk menjual anak-anaknya. Di India, pekerja anak merupakan masalah yang menyebar terutama didorong oleh kemiskinan, kurangnya pendidikan yang layak, dan kemampuan pelaku untuk mengeksploitasi kerentanan populasi yang kurang mampu (Srivastava, 2020). Kurangnya kesadaran di masyarakat maupun di tingkat pengusaha tentang dampak pekerja anak dan buruknya implementasi undang-undang dan peraturan untuk mencegah hal yang sama telah memperburuk masalah pekerja anak paksa (Sharma, 2013).
Permasalahan child trafficking yang marak terjadi di India membuat penulis sangat tertarik untuk membahas isu ini. Alasan utamanya adalah anak-anak merupakan generasi bangsa sehingga hak-haknya sebagai anak harus dipenuhi agar masa depan suatu bangsa terjamin. Dari sini juga penulis melihat bahwa ada keterlibatan organisasi internasional UNICEF untuk mengatasi permasalahan ini melalui program CPAP. Sehingga keefektifitasan kerjasama antara UNICEF bersama dengan Pemerintah India sangat diperlukan guna mengatasi masalah child trafficking melalui program CPAP.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi pertanyaan dalam penelitian ini adalah penulis mencoba menjelaskan tentang bagaimana peran yang dilakukan oleh UNICEF bersama dengan Pemerintah India dalam mengatasi permasalahan perdagangan anak di India melalui program CPAP tahun 2018-2020?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah disebutkan di atas, maka yang menjadi tujuan penulis untuk meneliti topik ini adalah mengetahui bagaimana peran Country Program Action Plan sebagai bentuk kerjasama UNICEF dengan Pemerintah India 2018-2020.
1.4 Manfaat Penelitian
Merujuk pada rumusan dan tujuan dari penelitian yang sudah disebutkan di atas, maka manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai salah satu syarat untuk kelulusan dan mendapat gelar S.Hub.Int. (Sarjana Hubungan Internasional). Penelitian ini secara akademis akan bermanfaat sebagai bahan informasi bagi peneliti lain tentang peran organisasi internasional UNICEF dalam mengatasi perdagangan anak di India melalui program CPAP 2018-2022. Selain itu, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian yang sama di kemudian hari, serta beberapa aspek yang belum terungkap dalam penelitian ini bisa dikembangkan di penelitian selanjutnya.
1.5 Batasan Penelitian
Mengingat terlalu luasnya permasalahan yang akan diteliti, oleh karena itu peneliti akan membatasi pembahasan di dalam penelitian ini. Penelitian ini akan berfokus pada peran organisasi internasional UNICEF dalam menangani kasus perdagangan anak sebagai organisasi yang berdiri demi memenuhi hak asasi terhadap anak. Oleh karena itu peneliti membatasi penelitian ini pada kurun waktu 2018-2020 dilihat dari bagaimana cara penanganan UNICEF bersama dengan Pemerintah India untuk mengatasi masalah perdagangan anak.
Alasan peneliti melakukan penelitian tentang perdagangan anak khususnya di India adalah melihat dari banyaknya kasus kekerasan, pernikahan anak dibawah umur, serta perdagangan anak yang cukup tinggi di India. Selain itu dengan kepadatan penduduk yang mencapai 1,3 miliar jiwa
yang didukung dengan tingkat kemiskinan yang tinggi telah menarik perhatian peneliti untuk mempelajari lebih lanjut tentang peranan organisasi internasional di dalam menangani perdagangan anak, terkhususkan di India. Alasan peneliti memilih kurun waktu pada tahun 2018- 2020 adalah ingin melihat bagaimana upaya dari UNICEF bersama dengan Pemerintah India melalui program CPAP (Country Programme Action Plan) 2018-2022. Selain itu juga peneliti ingin melihat apakah dalam kurun waktu tersebut, program yang sedang dijalankan sudah membuahkan hasil yang positif atau dengan adanya program tersebut permasalahan yang ada semakin membesar.
1.6 Konsep dan Teori yang Digunakan 1.6.1 Organisasi Internasional
Organisasi internasional merupakan aktor non-negara yang memiliki peran sangat penting dalam dinamika hubungan internasional. Clive Archer dalam bukunya yang berjudul International Organization yang dikutip oleh Perwita (2006) menyatakan bahwa organisasi internasional merupakan suatu struktur formal dan berkelanjutan yang dibentuk berdasarkan suatu kesepakatan antara anggota- anggotanya, baik itu pemerintah atau non-pemerintah dari dua atau lebih negara yang berdaulat dengan tujuan mengejar kepentingan bersama dengan anggotanya.
Pada hakekatnya, peran organisasi internasional memang dibutuhkan dalam hubungan internasional demi ketercapaian kepentingan negara dan permasalahan dunia yang tidak terselesaikan sejalan dengan lajunya perkembangan globalisasi.
Permasalahan mengenai sosial, ekonomi, kesehatan, kebudayaan, HAM, human trafficking, dan lain sebagainya tidak dapat diselesaikan hanya dengan peran pemerintah saja, namun diperlukan kerjasama dari berbagai kalangan melalui organisasi internasional.
1.6.2 Child Trafficking
Definisi perdagangan anak yaitu perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penampungan atau penerimaan anak secara hukum atau ilegal di dalam atau lintas batas dengan cara ancaman, penggunaan kekerasan, pemaksaan, penculikan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi untuk mencapai persetujuan dari
orang yang memegang kendali atas orang lain. Perdagangan anak merupakan tindakan dengan tujuan utama eksploitasi terhadap anak yang melibatkan transaksi di mana seseorang menerima keuntungan dari kegiatan ekspoitasi tersebut.
Perdagangan anak merupakan salah satu bentuk tindakan kejahatan yang dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang atau sebuah lembaga terhadap anak-anak yang belum berusia 18 tahun, termasuk yang masih di dalam kandungan.
1.6.3 Country Program Action Plan (CPAP)
Country Program Action Plan (CPAP) merupakan program lima tahunan UNICEF yang bergerak dalam menangani permasalahan hak anak. Dalam hal ini, UNICEF mengkategorikan perdagangan anak sebagai masalah yang berhubungan dengan perlindungan anak. UNICEF menggunakan istilah Child Protection (CP) untuk merujuk pada mencegah dan menanggapi kekerasan, eksploitasi, serta pelecehan terhadap anak seperti eksploitasi seksual komersial, perdagangan anak, pekerja anak paksa, dan praktek tradisional seperti pernikahan anak dini. Program Child Protection ini juga menargetkan anak-anak yang rentan terhadap pelanggaran seperti anak yang hidup tanpa perawatan orang tua, anak yang bertentangan dengan hukum (ilegal), serta anak-anak yang hidup di tengah konflik bersenjata.
1.6.4 Teori Peran
Peran merupakan perilaku dari seseorang atau struktur yang menduduki suatu posisi dalam suatu sistem. Peran dari struktur tunggal, maupun bersusun, ditentukan oleh harapan orang lain atau perilaku peran itu sendiri, selain itu juga ditentukan oleh pemegang peran terhadap tuntutan dan situasi yang mendorong dijalankannya peran tadi. Peran merupakan aspek dinamis kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia telah menjalankan suatu peran.
Teori peran menegaskan bahwa perilaku politik ialah perilaku dalam menjalankan peranan politik. Teori ini beranggapan bahwa sebagian besar perilaku politik adalah akibat dari tuntutan atau harapan terhadap peran yang dipegang oleh
aktor politik. Seseorang yang menduduki posisi tertentu diharapkan berperilaku sesuai dengan posisi yang didudukinya, harapan itulah yang membentuk peranan.