• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 1"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak—Pemecah gelombang merupakan struktur yang

berfungsi untuk mengurangi intensitas gelombang yang menuju pesisir pantai dan berpotensi merusak. Untuk tetap menjaga kestabilan vertical breakwater, digunakan rubblemound yang terbuat dari kantong pasir sebagai pondasi yang diinstal di dasar perairan sebagai penopang struktur caisson. Penggunaan kantong pasir juga menjadi solusi jika bahan batuan susah didapat. Penelitian kali ini bertujuan untuk mengetahui kestabilan pondasi vertical

breakwater dengan melakukan permodelan fisik dalam

skala labolatorium menggunakan tipe rubblemound yang disusun dari sandbag. Pemodelan ini dilakukan dengan menggunakan variasi tinggi gelombang (H), periode gelombang (T) dan lebar puncak susunan kantong pasir (B)

Kata Kunci—Vertical breakwater, sandbag, rubblemound, caisson, stabilitas.

. Gelombang uji yang digunakan adalah gelombang

regular. Dalam pengujian, model vertical breakwater dan sandbag didesain dan dirancang sehingga dapat mewakili prototype vertical breakwater dan sandbag yang sebenarnya. Vertical breakwater yang digunakan dalam pengujian ini

disusun dari model caisson yang berbahan kayu sehingga memenuhi bentuk yang diharapkan. Vertical breakwater disusun dalam wave flum sesuai dengan susunan dan konfigurasi yang diinginkan, gelombang yang di bangkitkan berupa gelombang regular. Berdasarkan penelitian dapat ditunjukan bahwa vertical breakwater model 2 dengan konfigurasi pertama adalah model yang paling stabil dibandingkan model yang lain.

I. PENDAHULUAN

trukur perlindungan perlindungan pantai mempunyai banyak jenis. Jenis struktur ini dibedakan menurut fungsi dan perletakanya. Untuk kawasan pesisir yang berkembang dan terdapat pelabuhan sangat membutuhkan struktur perlindungan pantai guna mencegah terjadinya abrasi maupun sedimentasi terutama yang mampu mereduksi gelombang dengan baik. Salah satu struktur perlindungan pantai yang tepat adalah dengan dibangunya breakwater, karena strukur breakwater mampu meredam energi gelombang secara efektif sehingga energi yang datang akan relatif lebih kecil dan aman akibat tereduksi saat menuju garis pantai.

Pada kawasan pelabuhan akan sangat cocok jika dibangun breakwater, gelombang yang teredam membuat alur pelayaran

pada pelabuhan menjadi relatif aman, hal ini tentunya menjadi faktor yang berpengaruh terhadap perekonomian di kawasan tersebut.

Banyak sekali jenis breakwater yang dapat kita temui salah satunya vertical breakwater. Struktur vertical breakwater yang biasanya digunakan adalah tipe rubblemound. Bahan utama penyusun untuk tipe rubblemound berupa batuan. Namun batuan sangat sulit ditemukan pada daerah pantai, sedangkan material yang sangat mudah didapat di daerah pantai adalah pasir. Salah satu cara untuk mengatasi masalah keterbatasan infrastruktur dan sumber material tersebut adalah penggunaan kantong pasir sebagai penahan gelombang (Fatnanta, 2007). Penggunaan kantong pasir juga terbukti tidak merusak lingkungan sekitar dan lebih hemat dalam penganggaran biaya.

Gambar 1. Contoh Struktur Vertical Breakwater Pada penelitian tugas akhir kali ini saya akan memodelkan secara fisik pondasi kantong pasir untuk vertical breakwater tipe rubblemound pada gelombang reguler dengan variasi terhadap tinggi gelombang (H), periode (T), sarat air (d) serta konfigurasi berat kantong pasir yang telah ditentukan dan diuji dalam flume tank. Hasil dari penelitian ini diharapkan akan diketahui konfigurasi kantong pasir yang optimum dan kestabilan pondasi vertical breakwater.

Stabilitas Pondasi pada Vertical Breakwater

dengan Variasi Lebar dan Konfigurasi Kantong

Pasir

Moch. Sigit Firmansyah, Haryo D. Armono, dan Sujantoko

Jurusan Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111

E-mail: [email protected]

(2)

II. TINJAUANPUSTAKA

Tumpukan batu juga digunakan sebagai fondasi dan pelindung kaki bangunan pantai. Stabilitas bangunan tergantung pada kemampuan pondasi terhadap erosi yang ditimbulkan oleh serangan gelombang-gelombang besar.

Model perumusan stabilitas pada pemecah gelombang tipe rubble mound telah dikembangkan oleh Hudson (1959), dengan kriteria tidak terjadi kerusakan dan tidak overtopping maka hubungan antara gaya gelombang dan berat batuan dapat dirumuskan sebagai berikut:

(1)

Koefisien stabilitas dapat ditentukan dengan menyusun kembali Pesamaan 2.21, diperoleh persamaan sebagai berikut:

(2)

Sesuai dengan van der Meer (1988) perumusan Hudson dapat disederhanakan kembali menjadi:

=

(3)

III. METODOLOGIPENELITIAAN A. Perancangan Model Caisson

Perancangan model fisik caisson harus sebaik mungkin dilakukan agar benar-benar bisa mewakili karakteristik prototipe caisson yang sebenarnya. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam perancangan model fisik caisson sebelum pembuatan model tersebut :

1) Penyekalaan (skala panjang) antara prototipe dan model fisik dengan berpedoman pada keserupaan geometrik, keserupaan dinamik, dan keserupaan kinematik.

2) Perhitungan skala berat model fisik dari prototipe

.

B. Keserupaan Geometrik

Untuk mendapatkan model yang memiliki keserupaan geometrik, maka penyekalaan prototipe harus sebaik mungkin dilakukan agar model benar-benar memiliki rasio semua dimensi linier yang sama. Dimensi linier yang dimaksud adalah panjang, lebar, tinggi, dan kedalaman air. Setelah dilakukan analisa maka perbandingan model diperoleh sebesar 1:20.

Tabel 1. Skala model dan prototype caisson 1

Dimensi (cm) Prototype Skala Model

Panjang 800 1:20 40

Lebar 400 1:20 20

Tinggi 1800 1:20 90

Tabel 2. Skala model dan prototype caisson 2

Dimensi (cm) Prototype Skala Model

Panjang 800 1:20 40

Lebar 400 1:20 20

Tinggi 1600 1:20 80

Tabel 3. Skala model dan prototype caisson 3

Dimensi (cm) Prototype Skala Model

Panjang 800 1:20 40

Lebar 400 1:20 20

Tinggi 1400 1:20 70

Tabel 4. Skala model dan prototype caisson 4

Dimensi (cm) Prototype Skala Model

Panjang 800 1:20 40

Lebar 400 1:20 20

Tinggi 1200 1:20 60

Berikut merupakan hasil penyekalaan dari data percobaan untuk mendapatkan ukuran sebenarnya.

Tabel 5. Skala tinggi gelombang dan kedalaman

Parameter Model (cm) Skala

Prototype (cm) 5 1:20 100 Tinggi Gelombang (H) 10 1:20 200 15 1:20 300 Water Depth (D) 80 1:20 1600

C. Pembuatan Model Kantong Pasir

Pembuatan model dilakukan dengan berdasarkan pertimbangan dari hasil penyekalaan panjang dan berat, baik mulai dari pemilihan bahan maupun bentuk yang akan dibuat untuk model fisik kantong pasir. Pada percobaan ini, model dibuat dari bahan yang sama dengan skala prototype-nya 1 : 20, yakni dengan ukuran (18,55 x 15,20 x 4,88) cm dengan berat jenis

( a

γ

)

adalah 2,65 gr/cm3.

(3)

Gambar 2. Model fisik kantong pasir (Fatnanta, 2007) D. Desain Pengujian Model

Desain pengujian sangat perlu dilakukan agar saat pengujian model di laboratorium peneliti telah terlebih dahulu mengetahui gambaran yang harus dilakukan sehingga percobaan dapat dilakukan dengan sebaik mungkin untuk mendapatkan hasil yang direncanakan. Desain pengujian model fisik caisson dapat terlihat pada gambar model 1 konfigurasi 1 dan 2 berikut:

Gambar 3. Desain pengujian model 1 konfigurasi pertama dengan sarat air di wave flume tampak samping

Gambar 4. Desain pengujian model 1 konfigurasi kedua dengan sarat air di wave flume tampak samping

E. Kalibarasi Alat

Alat-alat yang perlu dikalibrasi adalah wave probe. Kalibrasi untuk wave probe harus sangat teliti karena alat inilah yang nantinya mengukur tinggi gelombang. Penentuan kalibrasi membawa pengaruh dalam akurasi data yang didapat sehingga memudahkan penulis menganalisa hasil yang diperoleh dari proses running.

Berikut ini adalah data hasil kalibrasi dari probe yang digunakan :

F. Pelaksanaan Percobaan dan Pengambilan Data Gambar 5. Grafik Kalibrasi Probe 1 dan Probe 2

Meletakan dan menyusun model vertical breakwater beserta sandbag kedalam wave flume sedemikian rupa agar dapat dilaksanakan proses percobaan vertical breakwater. Melaksanakan running model vertical breakwater dengan variasi tinggi gelombang, periode, konfigurasi dan sarat air. Agar dapat mengetahui berat sandbag yang digunakan sebagai pondasi.

Setelah model sudah terpasang pada flume tank, maka pengujian bisa dilakukan sesuai dengan desain eksperimen model yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan matriks, data yang dimasukkan meliputi tinggi gelombang dan periode gelombang dalam komputer kendali. Gelombang yang dibangkitkan merupakan gelombang reguler. Pada setiap pengujian model, gelombang yang dibangkitkan kurang lebih sebanyak 100 gelombang, selama kurang lebih 90 detik. Pengujian dilakukan sebanyak dua kali untuk setiap konfigurasi dengan tinggi gelombang dan periode gelombang yang sama. Pengujian ini dilakukan agar mendapatkan hasil output dan validasi yang sesuai. Dalam pengambilan data, kantong pasir dianggap tidak stabil apabila bergeser lebih dari 0.5 cm, pada kondisi ini dicatat besar tinggi gelombang dan periodenya. Pengujian dilakukan hingga diperoleh kantong pasir yang paling optimum pada kondisi gelombang tertentu.

Tabel 6. Rencana matriks percobaan untuk model 1 konfigurasi 1 dan 2. MODEL 1 (90cm) LEBAR 1 H 1 = 5 H2 = 10 H3 = 15 18,55 (cm) T1 = 1,3 T2 = 1,5 T3 = 1,7 T1 = 1,3 T2 = 1,5 T3 = 1,7 T1 = 1,3 T2 = 1,5 T3 = 1,7 KONFIGURASI 1 PERGESERAN

(4)

G. Analisa Data

Data yang telah diperoleh dari hasil percobaan dianalisa dengan cara membandingkan hasil uji sandbag di laboratorium dengan perhitungan manual. Kemudian dari hasil perhitungan tersebut diperoleh data yang diinginkan untuk ditampilkan kedalam grafik d/h, H/gt² dan D% (kerusakan).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisa Data

Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil stabilitas sandbag kemudian dibandingkan dengan perhitungan manual. Pada percobaan ini menggunakan tinggi gelombang dan periode gelombang rencana yang ada dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 7. Variasi tinggi gelombang dan periode gelombang rencana No Tinggi Gelombang (cm) Periode ( sec ) 1. 5 1.3 1.5 1.7 2. 10 1.3 1.5 1.7 3. 15 1.3 1.5 1.7 B. Analisa Dimensi

Gelombang yang menghempas ke vertical breakwater akan mengakibatkan adanya gaya hidrodinamis serta gaya gesek pada vertical breakwater yang mempengaruhi sandbag sebagai stabilitas vertical breakwater itu sendiri. Variabel–variabel yang mungkin terkait dengan fenomena stabilitas kantong pasir pada vertical breakwater adalah sebagai berikut:

W, γ, SG, α, H, KD, T, g, d ] Dimana :

W = Berat susunan kantong pasir γ = Berat volume material armour SG = ρ/ρw specific gravity material armour

α = Slope kemiringan armour terhadap bidang horizontal H = Tinggi gelombang

KD = Koefisien stabilitas T = Periode gelombang g = Percepatan gravitasi

d = Struktur kantong pasir yang tercelup

Symbol

Tabel 8. Variabel-variabel analisa dimensi sandbag

Parameter Dimensi

H Tinggi Gelombang (m) L

T Periode (det) T γ Berat volume material armour (kg/ m3) ML-2T α

-2

Sudut antara mooring dengan floaters KD Koefisien stabilitas

SG specific gravity material armour ML W

-3

Berat susunan kantong pasir (kg) ML

g

-3

Percepatan gravitasi L T

d

-2 Struktur kantong pasir yang tercelup L

Dari variabel-variabel diatas nilai tiap parameter kemudian dimasukan dalam perhitungan stabiilitas seperti dalam rumus berikut :

H/ΔD = H/gT², d/H ]

C. Grafik Stabilitas

Kemudian didapat grafik dari hasil analisa dimensi dengan hubungan H/ΔD, H/gT², d/H dan D%

Gambar 6. Grafik hubungan antara H/gT² dengan H/ΔD

Dari gambar 5 baik konfigurasi 1 atau 2 pada model pertama menunjukan nilai stabilitas paling baik. Dapat dilihat bahwa tren grafik menunjukan kenaikan, hal ini disebabkan adanya pada semua model untuk konfigurasi 1 dan 2 dengan T =1,3s

0,000 0,001 0,002 0,003 0,004 0 0,004 0,008 0,012 H/ Δ D H/gT²

B1 dan B2 dengan T = 1,3 s model1 B1 model2 B1 model3 B1 model4 B1 model1 B2 model2 B2 model3 B2 model4 B2

(5)

pengaruh kecuraman gelombang sebagai akibat tinggi gelombang terhadap stabilitas, sehingga semakin besar H/gt² maka nilai H/ΔD yang dihasilkan semakin besar, begitu juga sebaliknya.

Gambar 7. Grafik hubungan antara H/gT² dengan H/ΔD pada model 1 untuk konfigurasi 1 dan 2 (T = 1,3; 1,5 dan 1,7) Dapat dilihat dari gambar 6 bahwa konfigurasi 1 mempunyai nilai kestabilitasan yang lebih baik dari konfigurasi 2, hal ini sebagai akibat pengaruh dari kecuraman gelombang. Besar nilai H/gT² sebagai pengaruh dari periode, yang singkat, dapat dikatakan jika semakin singkat periode maka kecuraman gelombang semakin besar dan akan mempengaruhi besarnya nilai stabilitas. Sehingga semakin besar nilai H/gT² maka nilai H/ΔD juga akan bertambah besar.

Gambar 8. Grafik hubungan antara d/H dengan H/ΔD pada semua model untuk konfigurasi 1 dan 2 dengan T =1,3s Dari tren gambar 7 pada grafik baik konfigurasi 1 atau 2 pada model pertama menunjukan nilai stabilitas paling baik. Dapat disimpulkan adanya pengaruh jarak kedalaman kantong pasir yang tercelup dalam mempengaruhi stabilitas, sehingga semakin dalam kantong pasir yang tercelup maka nilai kestabilitasanya akan semakin baik karena tinggi gelombang yang datang mengenai tumpukan kantong pasir akan sangat

relatif lebih jauh akibat jarak freeboard. Sehingga untuk model dengan nilai d/H yang lebih kecil maka nilai stabilitas (H/ΔD) menjadi besar akibat jarak freeboard yang lebar.

Gambar 9. Grafik hubungan antara d/H dengan H/ΔDpada model 1 untuk konfigurasi 1 dan 2 (T = 1,3; 1,5 dan 1,7) Menunjukan nilai stabilitas pada konfigurasi 1 lebih daripada 2, hal ini sebagai akibat dari perbandingan jarak kantong pasir yang tercelup terhadap tinggi gelombang. Sehingga semakin dalam kantong pasir yang tercelup maka nilai kestabilitasanya akan semakin baik karena tinggi gelombang yang datang mengenai tumpukan kantong pasir akan sangat relatif lebih jauh akibat jarak freeboard. Sehingga untuk model dengan perbandingan nilai d/H yang lebih kecil maka mempunyai nilai stabilitas (H/ΔD) yang baik akibat jarak freeboard yang lebar, begitu juga sebaliknya.

Gambar 10. Grafik hubungan antara H/ΔD dengan D% pada model 3

Gambar 4.13 merupakan grafik analisa dimensi dari hubungan H/ΔD terhadap D% yang menunjukan parameter kerusakan pada model 3. Dari gambar diatas disimpulkan untuk konfigurasi 1 lebih stabil daripada konfigurasi 2 dengan kerusakan sebesar 1%. Hal ini disebabkan karena karena ada perbedaan lebar (B) tumpukan kantong pasir pada susunan

0,000 0,001 0,002 0,003 0,004 0 0,002 0,004 0,006 0,008 0,01 H/ Δ D H/gT²

Model 1 dengan B1 dan B2

B1 T=1,3 B1 T=1,5 B1 T=1,7 B2 T=1,3 B2 T=1,5 B2 T=1,7 0,000 0,001 0,002 0,003 0,004 0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 H/ Δ D d/H B1 dan B2 dengan T=1,3s model1 B1 model2 B1 model3 B1 model4 B1 model1 B2 model2 B2 model3 B2 model4 B2 0,000 0,001 0,002 0,003 0,004 0 0,005 0,01 0,015 0,02 0,025 0,03 H/ Δ D d/H

Model 1 dengan B1 dan B2

B1 T=1,3 B1 T=1,5 B1 T=1,7 B2 T=1,3 B2 T=1,5 B2 T=1,7 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 0 0,001 0,002 0,003 D% H/ΔD Model 3 Konfigurasi 1 Konfigurasi 2

(6)

paling atas, yaitu untuk konfigurasi 1 sepanjang 18,5 cm dan konfigurasi 2 sepanjang 37,1 cm. Semakin lebar tumpukan paling atas maka kekuatan gelombang yang datang relatif lebih, sehingga untuk lebar kantong pasir yang lebih pendek akan menerima kekuatan gelombang yang lebih kecil karena teredam struktur terlebih dahulu.

Gambar 11. Grafik hubungan antara H/ΔD dengan D% pada model 4

Gambar 4.14 merupakan grafik analisa dimensi dari hubungan H/ΔD terhadap D% yang menunjukan parameter kerusakan pada model 4. Dari gambar diatas menunjukan konfigurasi 1 mengalami kerusakan pada H=15 cm dengan T=1,5 detik sebesar 0,65% dan H=15 cm dengan T=1,7 detik sebesar 1,31 %, sedangkan untuk konfigurasi 2 mengalami kerusakan pada H=10 cm dengan T=1,7 detik sebesar 0,45%, H=15 cm dengan T=1,5 detik sebesar 0,45% dan H=15 cm dengan T = 1,7 detik sebesar 0,9%. Dari gambar diatas dapat disimpulkan konfigurasi 1 relatif stabil dengan 2 kerusakan daripada konfigurasi 2 dengan 3 kerusakan. Hal ini disebabkan kekuatan gelombang yang datang relatif lebih besar karena jarak konfigurasi tumpukan kantong pasir yang lebar sehingga belum teredam oleh struktur caisson.

IV. KESIMPULAN/RINGKASAN

Berdasarkan hasil analisa pada grafik, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Jumlah kantong pasir yang stabil terdapat pada model 2 konfigurasi 1 dengan sebanyak 60 kantong pasir dan seberat 120 kg, dalam skala 1 :20 maka total berat kantong pasir sesungguhnya sebesar 1,2 ton. Selain itu model ini tidak terdapat kerusakan dan tidak membutuhkan banyak kantong pasir sehingga selain stabil juga ekonomis.

2. Konfigurasi kantong pasir paling stabil terdapat pada model 1 dengan konfigurasi dan 2, juga model 2 dengan konfigurasi 1 dan 2, ditunjukan tidak ada kerusakan. Namun pada model 3 dan 4 total

kerusakan tidak sampai 5% sehingga bisa dikatakan model 3 dan 4 juga relatif stabil.

UCAPANTERIMAKASIH

Penulisan tugas akhir ini tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas semua petunjuk dan kelancaran yang selalu penulis terima selama penulisan. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Haryo Dwito Armono, S.T., M.Eng., Ph.D selaku dosen pembimbing pertama dan juga Bapak Ir.Sujantoko, MT selaku dosen pembimbing kedua saya yang telah bersabar dan merelakan waktunya dalam membimbing menyelesaikan tugas akhir ini. Kepada kedua orang tua saya yang sangat saya hormati dan cintai, terima kasih selama ini sudah memberi doa, semangat dan doronganya. Para karyawan di Jurusan Teknik Kelautan FTK-ITS atas ilmu dan bimbinganya. Terakhir kepada semua teman-teman seperjuangan dalam kelompok tugas akhir, begitu juga teman-teman labkom yang sangat saya cintai, kepada teman-teman lintas angkatan yang sudah banyak membantu, kalian semua sudah seperti saudara saya sendiri, terima kasih untuk kebersamaan selama ini.

DAFTARPUSTAKA

[1] Carstens, Torkild, Alf Torum dan Anton Traetteberg, 1958, The Stability of Rubblemound Breakwaters Againts Irreguler Waves, University of Norway, Norwegia..

[2] Fatnanta, F., Stabilitas Penahan Gelombang Kantong Pasir Bentuk Guling,

[3] Fatnanta, F., Karakteristik Stabilitas Pemecah Gelombang Kantong Pasir Tipe Tenggelam, Makara, Teknologi, Vol. 14, No.2– November 2010.

[4] Hudson, R.Y. (1959),”Laboratory Investigation Of Rubble-Mound Breakwaters”, Waterways and Harbour Division, Vol 85 No WW3. [5] Hughes, S.A., 1993, Physical Models And Laboratory Techniques in

Coastal Engineering, Coastal Engineering Research Center, USA [6] Kubota, S., et al, 2007, Stability And Durability Of Filter Unit For

Protecting Rubble Mound Of Composite Breakwater, Coastal Structures, Vol.1.

[7] Peiji, Huang, dan Zhao Binglai, 1984, The Probability Characteristics of Waves and Wave Pressure at a Vertical Breakwater, China.

[8] Takahashi, S., Design of Vertical Breakwaters, Port and Airport Research Institute, Japan, August 31, 1996.

[9] Tanimoto, Katsutoshi dan Shigeo Takahashi, 1994, Design and Construction of Caisson Breakwaters the Japanese Experience, Coastal Engineering 22, Jepang.

[10] Triatmodjo, Bambang, 1999, Teknik Pantai, Beta Offset, Yogyakarta. [11] Van der Meer, J.W. (1988), ”Rock slopes and gravel beaches under

wave attack”, Delft Hydraulic Publication No. 396, November 1988.

0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 0 0,001 0,002 0,003 D% H/ΔD Model 4 Konfigurasi 1 Konfigurasi 2

Gambar

Gambar 1. Contoh Struktur Vertical Breakwater  Pada penelitian tugas akhir kali ini saya akan memodelkan  secara fisik pondasi kantong pasir  untuk  vertical breakwater  tipe  rubblemound  pada gelombang reguler  dengan variasi  terhadap tinggi gelombang (
Tabel 1. Skala model dan prototype caisson 1
Gambar 2. Model fisik kantong pasir (Fatnanta, 2007)  D.  Desain Pengujian Model
Tabel 7. Variasi tinggi gelombang dan periode gelombang  rencana  No  Tinggi  Gelombang (cm)  Periode ( sec )  1
+3

Referensi

Dokumen terkait

Konsentrasi aerosol tinggi dengan indeks aerosol adalah dalam kisaran 7-9 dan 5-7 terjadi di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Jawa Timur terus Bali dan Lombok, Nusa Tenggara Barat

Pola hidup sehat berarti kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan teratur menjadi kebiasaan dalam gaya hidup dengan memperhatikan hal-hal yang

Namun, karena tahapan dan kondisi pengujian untuk media kontrol dan perlakuan dibuat sama, kolesterol yang terbuang pada keduanya diasumsikan sama, sehingga

Concept Selection adalah suatu metode untuk memutuskan konsep mana yang akan terus dikembangkan hingga akhirnya menjadi produk jadi dari beberapa konsep yang telah

Concept Selection adalah suatu metode untuk memutuskan konsep mana yang akan terus dikembangkan hingga akhirnya menjadi produk jadi dari beberapa konsep yang telah

Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Peradilan Agama Di Indonesia", Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah, 2017.. "NILAI BUDAYA PADA LIRIK LAGU BERBAHASA REJANG

Pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris dilaksanakan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan peraturan perundang-undangan

Comparative Study of a Pre and Post Clinical Pathway based on Activity based. Costing for Cesarean Section Undata Hospital