DAFTAR ISI
SALAM 1
SURAT PEMBACA 2
ABSTRAK 3 FOKUS 7
Ikhtiar mencegah Pernikahan Anak
OPINI 1 15
Dr. Mia Siscawati
Pencegahan Pernikahan Anak Butuh Kerja- sama Berbagai Pihak
OPINI 39 Zudi Rahmanto: Pernikahan Anak Banyak Mengandung Madharat
TAFSIR ALQURAN 23
Pernikahan Anak
Oleh: KH. Husein Muhammad
FIKRAH 27 Pemahaman Humanistis Maqashid al-Syari- ah ala Jasser Auda: Antara Konstruksi Femi- nitas dan Maskulinitas
Oleh Zuriah
AKHWATUNA 29 Jangan Paksa Anak Jadi Ibu
Oleh: Najmatul Millah
PROFIL 35
Nyai Hj. Shinto Nabilah: Menebar Manfaat Untuk Umat
Oleh: Ulya Izzati
KIPRAH 34 JARINGAN 36 PP Al-Manshur Popongan: Pesantren Thari- qat Yang Peduli Perempuan
Oleh Misykah Nuzaila Birahmatika
KHAZANAH 43
DIRASAH HADIS 44
Masa Depan Suram bagi Pernikahan Anak Oleh: Dr. Hj. Afwah Mumtazah
INFO 49 CERPEN 50
TEROPONG DUNIA 56
Feminis Muslim di Amerika: Dinamika Intelek- tualisme dan Aktivisme
Oleh Dyah Irawati
TANYA JAWAB 55
Minta Cerai Karena Suami Berselingkuh
REFLEKSI 57
Jangan Ada Lagi Pernikahan Anak
Oleh : Luluk Farida
Pembaca Swara Rahima yang kami hor- mati,
Alhamdulillah, rasa syukur yang tak terki- ra patut kita haturkan ke hadirat Allah swt.
yang telah memberikan kita kehidupan dan kesempatan untuk mengisinya dengan hal- -hal yang bermanfaat. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada junjungan kita Ra- sulullah Muhammad saw. yang senantiasa mengajarkan kita untuk beramal saleh dan berbuat baik pada sesama.
Secara khusus, Redaksi ingin mengung- kapkan rasa syukur karena majalah Swara Rahima bisa kembali hadir. Harapan kami, pembaca Swara Rahima yang tersebar di ber- bagai belahan jagad raya tetap bisa mengi- kuti perkembangan informasi dan diskursus keagamaan Islam yang kami sajikan.
Pembaca Swara Rahima yang budiman, Perbincangan mengenai Pernikahan Anak telah dan tetap menjadi concern berbagai pihak. Di daerah pedesaan dengan kultur patriarkhi maupun struktur masyarakat patrilineal yang kuat, perjodohan hingga pernikahan paksa yang menjadikan anak pe- rempuan sebagai korban masih ditemukan.
Sementara di daerah urban dan perkotaan, pernikahan di kalangan anak masih marak terjadi karena masyarakat yang semakin permisif yang menyebabkan terjadinya per- gaulan bebas (free sex) atau kekerasan da- lam pacaran (dating violence) yang acapkali berdampak pada munculnya kasus Kehamil- an Tak Diinginkan (KTD). Demi menutup aib keluarga, pasangan yang masih berusia anak tersebut segera dinikahkan. Suka atau tidak, mereka akan segera menjadi orang tua yang harus mengurus dan membesarkan anak- -anak meskipun mereka sendiri pun pada ha- kikatnya juga masih anak-anak.
Kekhawatiran mendalam atas situasi per- gaulan bebas ini tak jarang mendorong orang tua untuk segera menikahkan putra-putri mereka yang masih remaja dengan alasan untuk menghindari zina, meskipun seringkali pasangan tersebut belumlah baligh bahkan aqil baligh dalam arti dewasa tidak hanya fisik, namun juga matang secara mental, ekonomi, dan sosial. Fenomena itulah yang mendasari Swara Rahima edisi ke-51 ini ha- dir, dengan topik “Ikhtiar Mencegah Praktik Pernikahan Anak”.
Pembaca Swara Rahima yang berbahagia, Topik di atas akan dikaji secara mendalam dalam rubrik Fokus. Tentu saja dilengkapi dengan sajian wawancara di rubrik Opini bersama narasumber Mia Sisvawati (Kapro- di Kajian Gender UI) dan H. Zudi Rahmanto (Kepala KUA Kecamatan Wonosari Kabupa- ten Gunung Kidul, DIY). Beragam artikel de- ngan tema senada karya mitra Rahima tersaji dalam tulisan Luluk Farida (Refleksi), dan Cerpen (Sri Marpinjun). Kajian dari perspek- tif agama tersaji di rubrik Tafsir Alquran yang diasuh oleh KH. Husein Muhammad, dan Di- rasah Hadis yang diasuh oleh Ustadzah Dr.
Hj. Afwah Mumtazah.
Di rubrik Profil, Ulya Izzati, mitra Rahima di Magelang menuliskan keteladanan Nyai Hj.
Shinto Nabilah, Pengasuh PP. Al Hidayat Sa- laman Magelang. Sementara rubrik Jaringan kali ini bertutur tentang PP. Al Manshur Po- pongan, Klaten, sebuah pesantren ‘thariqah’
yang peduli pada hak-hak perempuan. Keu- nikan dan kekhasan ‘feminis muslim Amerika’
dengan pola intellectual activism-nya yang kental menjadi sorotan Diah Irawaty di rub- rik Teropong Dunia dan kekhasan pemikiran seorang Jasser Auda dalam melihat proble- matika Islam kontemporer juga disajikan se- cara menarik di rubrik Fikrah.
Para pembaca yang dimuliakan Allah swt.
Insyaallah, Rahima, bersama Fahmina dan Alimat akan punya gawe besar pada awal Mei 2017 yang akan datang. Tiga lembaga inisiator KUPI -Kongres Ulama Perempuan Indonesia- ini dengan bangga tengah beker- ja keras untuk mempersiapkan even yang mempertemukan ulama-ulama perempuan dari berbagai wilayah di Indonesia pada Se- lasa – Kamis, 2 - 4 Mei 2017 di Pondok Pe- santren Kebon Jambu Al-Islamy, Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat. Ada tiga isu yang akan dibahas pada kongres tersebut:
Pernikahan Anak, Kekerasan Seksual, dan Pembangunan Berkeadilan.
Semoga sajian ini senantiasa bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi perubahan menu- ju kemasalahatan. Akhirnya, kami ucapkan Selamat Membaca!
Wassalam Redaksi
PENANGGUNG JAWAB Masruchah
PEMIMPIN UMUM KH. Husein Muhammad DEWAN REDAKSI
AD Kusumaningtyas, AD Eridani, Mawardi, M. Syafran
REDAKTUR PELAKSANA AD. Kusumaningtyas DEWAN AHLI
Hj. Hindun Anisah, Hj. Afhwah Mumtazah, Dr. Nur Rofiah, Prof.Dr. Saparinah Sadli, KH.
Muhyiddin Abdussomad, Nyai.
Hj. Nafisah Sahal, Prof. Dr.
Azyumardi Azra, Kamala Chandra Kirana, MA, Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, MA, KH. Helmi Ali, Farha Ciciek
PEMBACA KRITIS AD. Eridani ABSTRAK ARAB
Dr. Muhbib Abdul Wahab, MA ABSTRAK INGGRIS AD. Kusumaningtyas KARTUNIS Basuki
DESAIN GRAFIS & TATA LETAK [email protected] KEUANGAN
M. Syafran DISTRIBUSI Rizal Rahmat Tulloh
Salam Redaksi
R E D A K S I
SWARA RAHIMA adalah majalah berkala terbitan Perhimpunan RAHIMA untuk me- menuhi kebutuhan dialog dan informasi tentang Islam dan hak-hak perempuan.
SWARA RAHIMA berusaha menghadirkan fakta dan analisis berita, serta wacana Is- lam dan hak-hak perempuan. SWARA RA- HIMA mengharapkan partisipasi pembaca melalui saran dan kritik. SWARA RAHIMA menanti kiriman tulisan pembaca sesuai dengan visi Rahima. Bagi yang dimuat akan diberi imbalan. Redaksi berhak mengedit semua naskah yang masuk. Semua tulisan menjadi milik redaksi, jika hendak direpro- duksi harus ada izin tertulis dari redaksi. 5 rubrik dari SWARA RAHIMA (Fokus, Tafsir Alquran, Dirasah Hadis, Fikrah dan Re- fleksi) diterjemahkan dalam bahasa Ing- gris, dan dapat diakses di website Rahima, www.rahima.or.id.
Rahima Swara
Jl. Haji Shibi No 70 Rt. 007/01 Srenseng Sawah Jakarta Selatan 12640 Telp.
OFFICE:
anyak lembaga juga melakukan studi maupun advo- kasi sebagai upaya untuk menghapus atau setidak- nya mencegah maraknya praktik pernikahan anak ini. Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) dan para mitranya termasuk Rahima serta Koalisi 18 yang terpaksa menelan pil pahit atas gagalnya proses Judicial Review (JR) untuk me- naikkan usia minimum menikah perempuan sehingga sesuai dengan usia anak, Rumah KitaB dengan studinya tentang fenomena pernikahan anak di pedesaan maupun faktor so- sial budaya termasuk interpretasi agama yang berkembang di masyarakat.
Pemerintah sendiri telah memiliki program Wajib Belajar 9 tahun dan BKKBN sejak lama telah mengkampanyekan usia ideal untuk menikah adalah 20 tahun. Namun semua upaya itu belum juga berhasil untuk menghentikan praktik perka- winan anak di negeri kita tercinta Indonesia.
Di lapangan, memang masih banyak ditemui anak-anak usia di bawah 18 tahun terutama anak perempuan yang te- lah menikah dengan berbagai alasan. Mulai dari dijodohkan oleh orang tua, alasan ekonomi karena kemiskinan dengan asumsi akan terjadi perpindahan tanggung jawab, alasan sosial budaya karena tabu menolak lelaki yang pertama kali melamar, ketakutan akan mitos menjadi perawan tua, sikap permisif masyarakat, banyaknya kasus Kehamilan Tak Di- inginkan (KTD) yang membuat orang tua harus segera me- nikahkan anaknya untuk menutup aib keluarga, maupun alasan moralitas untuk menghindari zina, dll. sebagaimana banyak digunakan sebagai alasan saat masyarakat menga- jukan permohonan dispensasi untuk menikah ke Peradilan Agama (PA).
Singkatnya, bila disimpulkan pernikahan anak hampir se- lalu berada dalam 3 katori: pernikahan paksa, dipaksa meni- kah (yang biasanya didahului dengan proses tangkap tangan oleh aparat keamanan maupun sekelompok masyarakat), dan terpaksa dinikahkan (karena terlanjur hamil dan diang- gap menjadi aib keluarga).
Di sisi lain, sosialisasi tentang tujuan pernikahan, bagai- mana mempersiapkan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, maupun pengetahun tentang reproduksi sehat di masyarakat secara sistematis sangat kurang diberikan.
Pandangan masyarakat ini seringkali juga diwarnai oleh
interpretasi atas beragam teks keagamaan yang berkem- bang. Diskursus baligh, seringkali hanya dimaknai kema- tangan fisik yang menandai siapnya laki-laki dan perempuan untuk menikah. Padahal, untuk menikah diperlukan kesiap- an mental, ekonomi, dan sosial, bukan hanya tanda kede- wasaan fisik seperti pertama kali terjadinya ihtilam (mimpi basah) bagi laki-laki dan haid (menstruasi) bagi perempuan.
Menarik, mengapa isu baligh sedemikian popular, padahal term-term senada seperti baáh, asyuddah, rusyd, áqil, dll.
yang seringkali dikaitkan dengan perbincangan ini menjadi tak banyak dikaji. Selain itu, perkembangan kontemporer di dunia Islam menunjukkan bahwa kini banyak negara ber- penduduk mayoritas Muslim yang telah mengubah aturan tentang usia minimum menikah di negara mereka menjadi 18 tahun, dimana itu mungkin saja diberlakukan pada laki-laki dan perempuan.
Persoalan pernikahan anak merupakan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender, karena korbannya lebih banyak adalah anak perempuan. Baik karena kerentanan status me- reka sebagai anak maupun kerentanan mereka sebagai pe- rempuan dimana dalam relasi gender yang timpang, beragam bentuk ketidakadilan gender akan sangat gampang ditemu- kan.
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau yang kita kenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang tujuan kelimanya adalah gender equality (kesetaraan gender), me- netapkan bahwa berkurangnya angka pernikahan anak ada- lah salah satu indikator keberhasilan.
Menjadi tugas kita bersama untuk saling bersinergi untuk melakukan perubahan. Baik dalam aturan perundangan mu- lai dari Undang-undang, Perpres, Inpres, Perda dan kebijak- an lainnya, namun juga dalam mengubah cara pandang di masyarakat.
Sosialisasi melalui tokoh agama dan tokoh masyarakat, kurikulum dan materi ajar terkait kesehatan reproduksi di pesantren dan sekolah, dan forum-forum dialog lainnya juga melalui interaksi langsung di masyarakat.
Mudah-mudahan, tak akan lagi anak-anak perempuan yang masa depannya dikorbankan akibat terlalu dini menga- lami pernikahan. {}
B
Fenomena pernikahan anak telah menjadi keprihatinan dunia.
Beragam data statistik menyebutkan betapa tingginya angka pernikahan anak, sebagaimana dilansir oleh beragam institusi seperti Girls Not Bride, Coram International, Plan, UNICEF, BPS, SDKI, dan lain-
lain berdasarkan hasil penelitian dan studi mereka
A B S T R A K
ABSTRAK 5
any institutions also had done several studies and advocacy as their efforts to eliminate or at least to prevent the child marriage cases. Yayasan Ke- sehatan Perempuan (YKP) and its partners including Rahima and Koalisi 18 should accept defeat in the failure of the trial in the Constitutional Court to increase the minimum age of marriage so that it will be suitable with that had been men- tioned in the Law on Children Rights Protection. Rumah Ki- taB with its study on child marriage phenomena in the rural areas as well as socio-cultural factors including the religious interpretation that had been spread out in the society.
The government itself had announced the 9 Years Com- pulsory Education and the BKKBN or National Body on Fa- mily Planning Coordination had campaigned that ideal age of marriage is 20 years old. But those efforts had not been succeeded to stop child marriage practices in our beloved co- untry Indonesia.
In the daily life, it is still found that some girls aged un- der 18 years old who had got married under several reasons.
Starting from married off by her parents, under the economic reason because of poverty with the assumption that there will be a responsibility shifting from her parents to her hus- band, under the socio-cultural reason because of the ‘taboo’
of reject of proposal from a prospective husband, fear from myth of becoming old maid, the permissive community atti- tude, the high number of unwanted pregnancy cases that force the parents to marry her quickly under the reason to protect family honor, or under morality reason to protect them from adultery, as usually used by the society to propo- se the dispensation for getting married to Religious
Court. Briefly, if it will be concluded the child marriage will be in three catagories : forced marriage, forced to mar- ry under several reasons (which usually initiated by a hand- -capture process by the security section or a group of mass), and then forced to marry because of the pregnancy that will cause family disgrace.
In another side, socialization on the purpose of marria- ge and how to prepare them to prepare a tranquil, love and compassionate family, or on the knowledge on reproductive health in the society is still less to be given systematically.
The public perspective sometimes are also influenced by
the interpretation of various religious texts that spread out in the society. The discourse on ‘baligh’ (or maturity issue), sometimes are merely interpreted as physical maturity as the readiness for a man and a woman to get marry.
Although, in a marriage the mental, economical, and social readiness are needed, instead of merely physical signs of ma- turity such as ihtilam (wet dream) for boys and haid (men- struation) for girls. It is interesting on why the baligh issues become so popular, eventhough the similar terms such as baáh, asyuddah, rusyd, áqil , etc.had not been studied com- prehensively.
In addition to that, the contemporary development in the Islamic world shows that nowadays some predominantly muslim countries who had changed their minimum age of marriage to become 18 years old, which are possible to be implemented for men and women.
The child marriage problems is a kind of Gender Based Violence (GBV), because most of the victims are girls (girl- -children). Whether because of their vulnerable status as a
‘child’ as well as their status as women, which in the unequal gender relation , various forms of gender inequalities and in- justices are easy to find. The Sustainable Development Goals (SDGs) which in the goal number 5 is gender equality, add- ressed that the decreasing number of child marriage cases is one of the success indicator.
So, it is our duty to build synergy and cooperate together for social-change. Whether in Laws and Public Policies both in the national and local level. But we also should change the public perspective. The various public awareness effor- ts through religious leaders and community leaders, school’s curricula and subjects related to reproductive health in the pesantren, public schools, and other dialogue forum, and also through the direct social interactions .
Hopefully, there will be no more girls and children whose future will be sacrificed because of too early to get marry. {}
M
A B S T R A C T
The child marriage phenomena had become concerns of the people in all over the world. Various statistical data stated the high number of child marriages, as launched by many institutions such as
Girls Not Bride, Coram International, Plan, UNICEF, BPS or Indonesian Statistical Beareau, SDKI or Basic Survey on Indonesian Population, etc. based on the result of their research and studies.
ABSTRAK
6
. ةلوامح اهراتبع ب� تاعفارلماو ثوحبل ب� تائيلها نم ي�ثكلا تماقو ةأرلما ةصح ةسسومعلتبتو .دلاوألاا جاوز ةسرمما ة ث�ك عنلم وأ ولمح ةيلعم لشفب ّرلما ءاودلا رابجإ كلب ث�ع نماثلا فلاحتلاو اهؤكا ث�و مما ،ةأرلمل ةحومسلما جاوزلا نس نم ن�دألاا دلحا عفرل ةيئاضق ةعجارم ي ن� دلاوألاا جاوز ةرهاظ ين� ا ة�ساردب انلن ن�م ةئيهو ،دلاوألاا نس بساني ن ي�دلا ي�لاعت ضعب ي�سفت ا ي�ف ا ب� ،ةيفاقثلاو ةيع ة�جلاا لماوعلاو ىرقلا يميلعتلا مازل إلاا طيطن ة� ين� ةموكلحا تع ث� دقو .عمتبلمحا ين� ةيلحا ذنم يلئاعلا طيطختلل ةينطولا ةيقيسنتلا ةئيلهاو تاونس عست ةدلم 20 يه حكانلل ةيلاثلما نسلا نأ اهدافم ةلم ب� تماقو ،نامزلا ي�دق ي ن� دلاوألاا جاوز ةسرمما فاقيإلا حجنت لم ةلوالمحا هذه نأ ي�غ ،ةنس ةبوبلمحا ايسينودنإ ن�دلاب.
نم ةنس 18 نود دلاوألاا نم ا ي�ثك نأ عقاولا ضرأ ي ن�و بترلم جاوزلا ا ن�م ،بابسأ ة ّدعب اوجون ة� دق ،ةأرلما ةصان ب�و ،رمعلا ل ّدبت ضا ة�ف ب� رقفلا نم يداصتقلاا ببسلاو ، ن ي�دلاولا لبق نم لجرلا ضفر م ّرلمحا نم هنألا ي ن�اقثلاو يع ة�جلاا ببسلاو ،ةيلوئسلما حبصت نأب� ةلئاق ةروطسأ نم فونلحاو ،ةرم لوألا ةأرلما بطخ يذلا ة ث�كو ،عمتجلمل يح ب� إلاا فقولماو ،)نسلا ة ي�بك ءارذع( ةسناع ةأرلما جاوز عا�إ ن ي�دلاولا ب� ب ة� يذلاو ،هيف بوغرلما ي�غ لملحا تلااح بنجتل ي ة�لاخ ألاا ببسلا وأ ،ة�ألاا بيع ة�س لجأ نم اهمدلاوأ امدنع ة بح اهلعج دق تار ب�لما هذهو .كلذ هبشأ امو ،ءاغبلاو ن�زلا نك ي� ،راصتخ ب�و .ةيع ث�لا ةكملمحا لىإ جاوزلا ءافعإ ب� عمت بلمحا م ّدقتي
،ي�ق جاوز يهو ،ماسقأ ةثلاث لىإ سمقني دلاو ألاا جاوز نأب� صيخلتلا نمألاا زا ب� ىدل دحأ ضبق ةيلعم هتقبس يذلا( جاوزلا رابجإو قبسلما لملحا ببسب( جاوزلا لع رابجإو ،)عمت بلمحا نم ةئف وأ
،حكانلا فادهأ ةعمتج نإف ،كلذ بناج لىإو.)ة�ألال ابيع ب�تعيو ةفرعلماو ،ةحمرلاو ةدولماو ةنيكسلا اهدوست ةديعس ة�أ دادعإ فيكو ملاع إلاا ةليلق لان ة� لا مظنم كلشبو عمت بلمحا ي ن� يحصلا ي�لسلا لسانتل ب� ث�نلاو.
صخلملا
.ةروطتم ةينيد صوصن ة ّدعل ُ ي�سافت َعمت بلمحا دوسي دقو ايمسج اجضن هرابتع ب� ءالمعلا نم ي�ثكلا هم ن�ي دق غولبلا باطن ن�
بلطتي حكانلا نأ قلحاو .جاوزلل ةأرلماو لجرلا دادعتسا لع لدي لثمتي يمسج جضن د ّر بمح سيلو ،ايع ة�جاو ي�داصتقاو ايلقع ادادعتسا ةيضق ر ة�شت اذالم قّيش هنإو .ةأرلمل ضيلحاو لجرلل ملاتحلاا ي ن�
اه ي�غو ،لقاعلاو ،دشرلاو ،)ه ّدشأ( ّدشألااو ةعابلا ةركف لنت لمو ،غولبلا كلذ لىإ ةفاضإلا ب� .باطنلحاو ةساردلاو م ة�هلاا نم تاحلطصلما نم لودلا نم ا ي�ثك نأ لع لدي يملاسإلاا لماعلا ي ن� صراعلما روطتلا نأ ن�دألاا دلحا نأشب ة أ�لا ت ّي�غ دق مويلا نولمسم اهـنكاس ةيلبغأ ي ة�لا ةأرلماو لجرلل ا ة�ابطنا نك ي� ثي ب� ،ةنس 18 حبصتل جاوزلا نسل.
فنعلا لكاشأنم كلاش ب�تعت دلاوألاا جاوز ةيضق نإو ءاوس ،تانبلا يه ث�ك ألاا فنعلا ةي نصح نألا ،)يردنبلحا( يسنبلحا نأ ثي ب� ةأركم ن ة�ضرع مأ لفطك ّنعهضو ةضرع ببسب تنكاأ مدعل لكاشأ ةدع دجوتو .)ةلداع ي�غ( ةنزاوتم ي�غ ةيردنبلحا ن ة�قلاع مسي ام وأ ةلصاوتلما ةيمنتلا نم فادهألااو .ةلوسهب ةردن بلحا ةلادع ـبSustainable Development Goals )SDGs(سمانلحا ا ن�ده ي ة�لا ىدحإ يه دلاوألاا جاوز ددع ةلق نأ ررقت ، ن ي�سنبلحا ن ي�ب ةاواسلما يه كراشتلا انبجاو نم حبصأ ، ث� نمو .ةيمنتلا ي ن� حاجنلا تا ث�ؤم نم ةينوناقلا أ�اوللا رادصإ ي ن� نكاأ ءاوس ، ي�غتلا ثادحإ ي ن�
ةموكح ة أ�لاو ،سيئرلا ت ي�لعتو ،يروهمبلحا سيئرلا ة أ�لاو ،نوناقلا .عمت بلمحا راظنأ تا ب�و ي�يغت ي ن� مأ ،تاسايسلا نم اه ي�غو ،ةظفالمحا قيرط نع روكذلما سمانلحا فدلها ةعمتج اضيأ يرو ن�لا نمو ةيساردلا داولماو يساردلا ج ن�لما للاخ نمو ،عمتبلمحاو ن ي�دلا لاجر تايقتللما ي ن�و سرادلماو ةيملاسإلاا دهاعلما ي ن� لسانتلا ةحصب ةلصتلما لا هنأ ن�متنو .عمت بلمحا دارفأ عم ث�ابلما لماعتلا قيرط نعو ،ةيراولحا لمعأ اللهو .ةركبم نس ي ن� جاوزلا ةجيتن ةي نصح تانبلا لبقتسم نوكي باوصل ب�.
نأ ةيئاصحإ تانايب ةدع تتبثأ دقو .ةيملاعلا فواخملا نم ّدعت دلاولأا جاوز وأ حاكن ةرهاظ نإ لاثمأ نم ،تائيه ةدع اهتردصأ املثم ،ةياغلل عفترم دلاولأا جاوز ددع Girls Not Bride(تانب يزكرملا بتكملاو ،فيسينويلاو ،(ةيلودلا ماروك ةطخ( نلاب لانوشانرتنإ ماروكو ،(سورع لاب جئاتن ىلع ةينبملا تائيهلا نم اهريغو ،ايسينودنلإ يحصلاو يفارغوميدلا حسملاو ،تاءاصحلإل
اهل ةيملعلا تاساردلاو ثوحبلا
ABSTRAK 7
Di Indonesia
Ikhtiar Mencegah Praktik
S eperti diungkapkan Suwan- di, pegawai pencacat nikah di Tegaldowo Rembang,Ja- wa Tengah, ”Adat orang sini kalau punya anak perempuan sudah ada yang ngelamar harus diterima, kalau tidak diterima bisa sampai lama ti- dak laku-laku..”
1Selain kisah Sutik di atas, masih ada lagi beberapa pemberitaan yang hangat terkait pernikahan anak.
Peristiwa menghebohkan ini terjadi di Desa Gantarang, Kecamatan Ke- lara, Kabupaten Jeneponto, Sulawe- si Selatan. Seorang bocah yang baru menginjak usia remaja, yakni laki- -laki berusia 13 tahun dan bocah perempuan berusia 14 tahun resmi menikah.
Dalam foto, pasangan pengan- tin remaja tersebut mengenakan busana adat Bugis-Makassar yang lengkap. Tampak pasangan pengan- tin remaja ini tak memperlihatkan kebahagiaan. Ekspresi keduanya datar dan dingin. Seperti dilansir makassarterkini.com, berita perni- kahan tentang pernikahan anak ini
Pernikahan Anak
Oleh: AD Kusumaningtyas
Sutik perempuan asal Tegaldowo, Rembang, Jawa Tengah ini, pertama kali dijodohkan orang tuanya pada usia 11 tahun. Kuatnya tradisi turun temurun membuatnya tak mampu menolak. Terlebih lagi, Sutik juga belum mengerti arti sebuah pernikahan. Sutik adalah satu dari sekian banyak anak perempuan di wilayah Tegaldowo, Rembang, yang dinikahkan karena tradisi yang mengikatnya. Kuatnya tradisi memaksa anak-anak perempuan melakukan pernikahan dini.Mengakarnya tradisi pernikahan dini ini terkait dengan masih adanya kepercayaan kuat tentang mitos anak perempuan.
mulai beredar di Facebook pada 5 Juni 2016. Fotografer yang meng- unggah pertama kali foto pengantin pasangan remaja ini menginforma- sikan, bocah laki-laki itu baru saja menyelesaikan sekolahnya di sebu- ah SD di Janeponto.
2Sementara itu, J, yang masih berumur 13 tahun, merupakan siswi Sekolah Dasar di Kabupa- ten Bangli, Bali. Suami J, WC (40), ditetapkan sebagai tersang- ka atas pelanggaran Undang Undang Perlindungan Anak (UUPA) dengan ancaman hu- kuman 15 tahun penjara. Infor- masi mengenai alasan keduanya menikah simpang siur.
Ada yang menduga J sudah di- hamili WC sehingga dipaksa meni- kah, namun WC membantahnya. Ia mengaku menikah atas dasar suka sama suka. WC sudah memiliki is- tri pada saat itu. J melahirkan bayi pada usia kandungan enam bulan.
Setelah delapan jam proses per- salinan normal, bayi dengan berat
600 gram dan panjang 21 cm itu berhasil dilahirkan. Namun, setelah perawatan intensif di RSUD Bang- li, nyawanya tak tertolong. Setelah pulih, J tidak kembali ke sekolah.
“Dia tidak mungkin lagi kem- bali ke sekolah, sehingga kami akan memfasilitasi agar bisa tetap melan- jutkan pendidikannya di jalur kejar paket,” kata istri Camat Tembuku, Agung Bintang, pada 2013, seperti dikutip media.
3Sedikit berbeda dengan kedua kisah di atas, jagad nusantara dihe- bohkan dengan pernikahan anak le- laki da’i kondang Arifin Ilham yang bernama Muhammad Alvin Faiz (17 tahun) dengan seorang gadis mualaf keturunan Tionghoa berna- ma Larissa Chou (20 tahun).
Alvin yang masuk usia remaja ini terlihat bangga dengan perni- kahannya. Ia menyematkan tagar
#NikahMuda yang akhirnya me- nyebar di dunia maya. Yang men- jadikannya berbeda bukan saja karena usia mempelai lelaki lebih muda dibandingkan usia mempelai
FOKUS
8
perempuan, namun karena juga ma- sih belum memenuhi usia 19 tahun sebagaimana usia mempelai laki- -laki yang dipersyarakatkan dalam Undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
Saat banyak pihak mendorong agar tidak ada lagi pernikahan di usia anak (di bawah 18 tahun) yang selama ini banyak terjadi di kalang- an anak perempuan, Alvin seolah ingin menantang publik untuk mendukung langkahnya dan meng- ajak remaja seusianya untuk mengi- kuti jejaknya menikah muda.
Beberapa kasus di atas menun- jukkan bahwa fenomena pernikah- an anak di Indonesia, masih terjadi hingga beberapa tahun terakhir ini.
Tentu dengan latar belakang dan alasan yang beragam. Seberapa se- riuskah persoalan pernikahan anak ini masih terjadi di Indonesia?
I stilah ”pernikahan anak” adalah sebuah definisi yang diadopsi dari UNICEF dan disepakati oleh para pengiat hak-hak perem- puan dan perlindungan anak untuk menyebutkan kasus-kasus perka- winan yang terjadi pada anak atau mereka yang berusia di bawah 18 tahun.
Pernikahan anak dianggap me- rupakan pelanggaran hak asasi manusia, mengorbankan perkem- bangan para perempuan dan sering berakhir pada kehamilan dini serta isolasi sosial, karena mereka me- nikah tanpa dibekali pengetahuan dan pelatihan yang cukup sehingga akhirnya mengakibatkan kemis- kinan.
4Definisi ini digunakan un- tuk lebih mempertegas penyebutan
fenoma kasus “pernikahan dini”, yang sejatinya terjadi saat si mem- pelai atau pengantin masih berusia anak.
Situs GirlsNotBride menyatakan bahwa setiap tahun 15 juta anak pe- rempuan menikah sebelum mereka berusia 18 tahun. Yang artinya, ada 28 anak perempuan yang menikah sebelum berusia 18 tahun setiap menitnya, atau 1 orang anak perem- puan di bawah 18 tahun yang me- nikah setiap 2 menit sekali. Lebih dari 700 juta perempuan yang hi- dup saat ini menikah ketika masih anak - anak, dimana satu dari tiga di antaranya menikah sebelum usia 15 tahun.
Berdasarkan penjelasan Direk- tur Rumah KitaB, Lies Marcoes Natsir, faktor terbesar terjadinya praktiek perkawinan anak ada- lah kemiskinan struktural. Banyak orangtua harus bermigrasi dan anak dibiarkan menjadi yatim piatu seca- ra sosial dengan tanda-tanda putus sekolah dan tanpa perlindungan.
Kondisi ini di antaranya menyebab- kan sang anak tidak memiliki pilih- an lain kecuali dipaksa oleh situasi untuk menikah. Selain itu, praktik perkawinan anak juga terjadi kare- na dipaksakan untuk kepentingan orang dewasa di sekitarnya seperti atas nama baik, ikatan kekerabatan, karena takut hamil atau memang sudah hamil.
5Di Indonesia, prevalensi perka- winan usia anak telah mengalami penurunan lebih dari dua kali lipat dalam tiga dekade terakhir, akan tetapi masih merupakan salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Ti- mur dan Pasifik. Laporan UNICEF dan Biro Pusat Statistik (BPS) ber- dasarkan Survei Sosial dan Ekono- mi Nasional (Susenas) yang dila- kukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, menun- jukkan bahwa di antara perempuan pernah kawin usia 20 - 24 tahun, 25 %-nya menikah sebelum usia 18
tahun. Sementara itu, berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, disebutkan bahwa 17 % persen perempuan di Indonesia yang pernah kawin usia 20 - 24 tahun, menikah sebelum mereka berusia 18 tahun.
Zoemrotin dari Yayasan Kese- hatan Perempuan (YKP) dalam pe- maparannya tentang Proses Judicial Review (JR) Pasal 7 ayat 1 UU No.
1 tahun 1974 tentang Perkawin- an di Mahkamah Konstitusi (MK) dengan Nomor Perkara: 30/PUU- -XII/2014, menyebutkan sejumlah data tentang Trend Perkawinan Anak. Data Dunia: 60% anak pe- rempuan menikah pada usia kurang dari 18 tahun (sumber UNICEF 2010), 34,5 % anak perempuan di Indonesia menikah pada usia ku- rang dari 19 tahun (BPS 2008).
Angka perkawinan anak di Indo- nesia berada pada posisi nomor
Indonesia:
Darurat
Pernikahan Anak
Istilah ”pernikahan anak” adalah sebuah definisi yang diadopsi dari UNICEF dan
disepakati oleh para pengiat hak- hak perempuan dan perlindungan anak untuk menyebutkan kasus-kasus
perkawinan yang terjadi pada anak atau mereka yang berusia di bawah 18 tahun.
FOKUS 9
dua se-ASEAN sesudah Kamboja (UGM), Indonesia sendiri berada pada peringkat 22 dibandingkan negara-negara Islam (Iran, Arab Saudi) yang hampir 0 % perkawin- an anak.
Sri Danti Anwar dari Kemente- rian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP & PA), dalam presentasinya pada seminar Pernikahan Anak yang diselengga- rakan oleh Prodi Kajian Gender UI di Jakarta 2016 yang lalu menyata- kan bahwa Indonesia termasuk ne- gara dengan persentase pernikahan usia muda tinggi di dunia (rangking 37), tertinggi ke dua di ASEAN (World Fertility Policies 2012).
Dan pada tahun 2010 terdapat 158 negara dengan usia legal minimum menikah adalah 18 tahun ke atas, dan Indonesia masih di luar itu
Menurut laporan Badan Peren- canaan Pembangunan Nasional, Bappenas, di tahun 2008, dari 2 juta lebih pasangan yang melakukan pernikahan, angka pernikahan dini di bawah 16 tahun mencapai ham- pir 35%.
6Sementara itu, Laporan Coram International 2015 menye- butkan bahwa 7,8 % dari mempelai
perempuan di Indonesia masih berusia 12-14 tahun, sedangkan 30,6 % lainnya menikah saat usia mereka masih 15-17 tahun (pada- hal undang-undang di Indonesia menyebutkan bahwa usia minimum untuk menikah adalah 16 tahun un- tuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki).
7Beragam data statistik tersebut menunjukkan bahwa kita tengah menghadapi problem yang sangat serius terkait dengan pernikahan anak. Tidak saja karena jumlahnya yang besar, namun karena pernikah- an anak juga membawa sejumlah implikasi persoalan serius terutama di kalangan anak-anak perempuan.
Di antaranya adalah:
1) Prevalensi perkawinan usia anak di Indonesia tidak mengalami perubahan dan tetap tinggi. Perka- winan usia anak di Indonesia masih berada di angka yang tinggi dengan satu dari empat anak perempuan menikah sebelum mencapai kede- wasaan.
2) Angka perkawinan usia anak di Indonesia tertinggi terjadi pada perempuan berusia 16-17 tahun.
Pernikahan yang terjadi pada anak perempuan berusia di bawah 15 dan 16 tahun telah mengalami pe- nurunan terbesar sejak tahun 2008, sedangkan angka pernikahan pada usia 16-17 tahun tidak mengalami perubahan (dengan 20,2 % perni- kahan di tahun 2008 dan 19,3%
pernikahan di tahun 2015). Hal ini menunjukkan kebutuhan untuk memberdayakan atau melindungi anak pada usia atau sebelum usia 16 tahun, karena kebanyakan anak perempuan yang menikah di bawah usia 16 tahun menikah setelah me- reka berusia 16 tahun.
3) Perkawinan usia anak dan capaian pendidikan saling berka- itan. Di tahun 2015, anak perem- puan yang menikah di bawah 18 tahun berpeluang enam kali lebih besar untuk tidak menyelesaikan
pendidikan tingkat menengah atas dibandingkan anak perempuan yang menikah di usia 18 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa sekolah menengah atas dapat mendorong pernikahan sampai anak tersebut mencapai kedewasaan.
4) Walau kemiskinan membuat anak perempuan lebih rentan terha- dap perkawinan usia anak, praktik ini diterima secara sosial budaya di seluruh tingkatan ekonomi. Perka- winan usia anak berpeluang terjadi 1,5 lebih besar di daerah pedesaan dibandingkan di daerah perkotaan, dan angka perkawinan anak me- ningkat seiring menurunnya kon- disi rumah dari layak (21,9 %) ke tidak layak (31,0 %). Anak perem- puan dari keluarga dengan tingkat pengeluaran rendah berpeluang dua kali lebih besar untuk menikah di- bandingkan anak perempuan yang berasal dari rumah tangga dengan tingkat pengeluaran yang tinggi.
Namun data juga menunjukkan bahwa norma sosial yang menerima praktik perkawinan anak bepenga- ruh pada semua tingkat ekonomi masyarakat Indonesia. Pada tahun 2015, hampir satu dari delapan anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun berasal dari kelu- arga dengan tingkat pengeluaran yang tertinggi di Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa keamanan finansial tidak dapat memberikan perlindungan yang sepenuhnya.
5) Angka perkawinan usia anak dan remaja yang sangat tinggi dite- mukan di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia; dll.
8Sri Danti Anwar menambahkan bahwa pro- vinsi dengan persentase perkawinan dini (15-19 tahun) tertinggi adalah Kalimantan Tengah (52,1 %), Jawa Barat (50,2 %), Kal.Sel (48,4 %), Babel (47,9 %) dan Sulawesi Te- ngah (46,3 %). *
FOKUS
10
Faktor
Penyebab
Pernikahan Anak
M engapa kecenderungan pernikahan anak sema- kin hari semakin me- ningkat? Tak sadarkah masyarakat bahwa di balik fenomena pernikah- an anak terdapat persoalan yang se- demikian kompleks dan beragam?
Bahkan potret pernikahan anak sendiri pun memiliki bentuk yang beragam. Pada masa lalu, di In- donesia kita melihat bahwa fenomena ‘pernikahan anak’
cenderung bermodus perni- kahan paksa atas kehendak orang tua dengan motif sosial ekonomi di belakangnya. Se- mentara, kasus pernikahan seorang anak perempuan belia (yang masih benar- -benar dalam usia anak) dengan seorang lelaki dewa- sa bernama Pujiono Cahyo Widianto (Syekh Puji) yang menikahinya sebagai istri ke- dua sempat membuat geger pemberitaan lebih dari satu dasawarsa yang lalu.
Namun kini banyak juga kita temui pernikahan remaja yang terjadi “atas nama cinta” atau dengan alasan untuk “menghin- dari zina”. Ironisnya trend perni- kahan anak -–setidaknya yang bisa terdeteksi dari banyaknya kasus dispensasi permohonan izin meni- kah- di Pengadilan Agama (untuk perempuan di bawah usia 16 tahun ataupun laki-laki di bawah usia 19 tahun) atau yang diistilahkan Mar- ried By Accident (MBA) akibat kasus Kehamilan Tak Diinginkan (KTD). Kebanyakan latar bela- kang pengajuan dispensasi untuk menikah di bawah usia minimum
pernikahan, adalah karena calon pe- ngantin (catin) perempuan terlanjur hamil atupun karena catin laki-laki harus bertanggungjawab untuk me- nikahi pacarnya yang terlanjur ha- mil.
Dalam konteks pernikahan anak, baik dalam kasus pernikah- an paksa, dipaksa menikah (karena tertangkap tangan), atau terpaksa menikah (karena alasan KTD), fak- tor utama tujuan pernikahan yakni untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah cen- derung diabaikan atau bahkan di- tinggalkan.
Menikah hanya dimaknai
Meskipun, dalam beberapa ru- jukan dalam teks Alqur’an, disana sangat ditekankan soal pentingnya
“tasa’aalauuna bihi wal arhaam” atau saling tolong menolong dan beker- jasama dan merajut hubungan yang penuh kasih sayang.
Berikut beberapa faktor yang turut mendorong masih terjadinya pernikahan anak :
Faktor Kultural:
Di beberapa daerah, terdapat tradisi yang turun temurun sehing- ga banyak terjadi kasus pernikahan anak. Ada juga pandangan kultural misalnya mitos bahwa anak perem- puan yang menolak laki-laki yang
melamarnya akan menyebab- kan dirinya tak laku-laku atau menjadi perawan tua.
Di beberapa desa pada 2 kecamatan di Sumenep, Madu- ra perjodohan atau pertunang- an semasa masih kanak-kanak masih lazim dilakukan oleh
orang tua ataupun kakek atau neneknya; dengan alasan agar saat mereka masih hidup me- reka sudah mengetahui siapa jodoh cucunya.
Dalam sebuah peneliti- an tentang Pernikahan Anak yang dilakukan bersama oleh Rahima, Rumah Kitab dan UNICEF yang dilakukan awal tahun ini, ditemukan beberapa responden anak perempuan yang ternyata mengalami proses perjodo- han ini, bahkan pernah dinikahkan secara sirri meskipun selanjutnya berakhir dengan perceraian karena si istri memilih kembali ke rumah orang tiuanya.
9Selain itu, budaya permisif di masyarakat misalnya ‘ngenger’ pada beberapa daerah di Jawa Tengah (menitipkan calon mempelai laki- -laki pada keluarga calon istri), pergeseran nilai-nilai sosial budaya sehingga batas pergaulan semakin longgar serta semakin mudahnya Dalam konteks pernikahan anak,
baik dalam kasus pernikahan paksa, dipaksa menikah (karena tertangkap tangan), atau terpaksa
menikah (karena alasan KTD), faktor utama tujuan pernikahan yakni untuk membentuk keluarga
yang sakinah, mawaddah, wa rahmah cenderung diabaikan atau
bahkan ditinggalkan.
sebatas ‘legalisasi atas hubungan seksual’ yang dalam konteks perni- kahan paksa menghadirkan relasi kuasa dalam kehidupan pelamar dan yang dilamar sebelum perni- kahan dimana hal ini terkait de- ngan ‘bargaining’ sosial ekonomi dan antara suami dan istri (dimana istri masih berusia anak dan bersta- tus ‘anak’ yang merasa harus me- nurut sebagai wujud bakti kepada orang tua, dan saat dalam perni- kahan dia cenderung diperlakukan sebagai ‘hak milik’ lelaki yang me- nikahinya).
FOKUS 11
akses terhadap media sosial dan teknologi informasi. Seringkali da- lam kasus KTD orang tua mendo- rong anaknya segera menikah untuk menutup aib keluarga. Di samping itu, juga minimnya pemahaman tentang hak dan kesehatan repro- duksi karena oleh masyarakat mem- bincang hal ini dipandang sebagai sesuatu yang tabu.
Mia Siscawati menemukan da- lam penelitiannya, bahwa di sebuah sekolah di suatu daerah, kerangka
manusia di laboratorium IPA dipa- kaikan sarung. Hal ini karena pe- mahaman sebagian masyarakat di sana yang menilai bahwa mengajar- kan anatomi tubuh manusia adalah hal yang tabu.
Faktor Struktural:
Belum adanya batas yang tegas mengenai usia dewasa dan masih adanya ruang di dalam undang- -undang yang memungkinkan ter- jadinya pernikahan anak serta ma- sih minimnya penegakan hukum.
Beberapa undang-undang masih menyisakan kontradiksi mengenai berapa batasan usia anak?
Dalam UU tentang Adminis- trasi dan Kependudukan (Admin- duk), seseorang berhak mendapat- kan KTP bila ia telah berusia 17 tahun. Sementara UU Perkawinan menyatakan bahwa usia minimum untuk menikah adalah 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi
laki-laki, meski telah ada UU Per- lindungan Anak yang menyatakan bahwa anak adalah mereka yang berada di bawah usia 18 tahun.
Kegagalan proses JR di MK juga turut mempengaruhi pelayanan publik dan kegamangan para aparat negara dalam bertindak (misalnya:
petugas KUA tentang boleh tidak- nya menikahkan anak di bawah ketentuan usia minimum menurut UU) dan munculnya berbagai ben- tuk pelanggaran dalam sistem ad- ministrasi kependudukan maupun adanya masyarakat yang memanfa- atkan celah hukum.
Misalnya dengan menyata- kan bahwa anaknya mengalami KTD- dalam sidang permohonan dispensasi menikah di PA untuk mendapatkan putusan hakim sesuai dengan kehendaknya berdasarkan jurisprudensi putusan pengadilan.
10Faktor Sosial-Ekonomi
Kebanyakan orang tua mendo- rong anaknya untuk menikah muda adalah untuk segera mengalihkan beban atau tanggung jawab ekono- mi dari mereka ke pundak suami.
Meskipun suami dari anak perem- puannya tersebut bukanlah orang yang berkecukupan (mapan secara sosial ekonomi), dalam perspektif orang tua dia sudah menjadi tang- gung jawab suaminya. Dalam ba- nyak kasus, terutama pernikahan anak karena KTD orang tua sering- kali justru harus men-support ke- butuhan ekonomi keluarga anaknya.
Faktor Pendidikan
Pendidikan ini tidak selalu ber- makna pendidikan formal, namun lebih mencakup pengetahuan dan keluasan wawasan orang tua mau- pun anak tersebut.
Menurut Indeks Pembangunan Manusia (IPM), rata-rata tingkat pendidikan orang Indonesia adalah jenjang SMP. Cara pandang ma- syarakat dalam tingkatan pendidik- an inilah yang membuat orang tua
yang terbatas wawasannya, minim keterampilan maupun kesempatan kerjanya cenderung membebankan nasib keluarganya pada anak-anak mereka. Di antaranya dengan meni- kahkan anak perempuan segera.
Pada tingkat pendidikan ini pula, mereka cenderung untuk tidak mendorong anaknya sekolah tinggi dan tidak mempersiapkan mereka secara matang untuk berkeluarga dan menjalani secara baik kehidup- an berumah tangga.
Faktor Interpretasi Agama Bagi laki-laki yang ingin me- nikahi perempuan di usia anak, mereka banyak menyandarkan ar- gumennya pada riwayat tentang pernikahan Siti Aisyah yang dini- kahi Nabi saat masih berusia 6 ta- hun dan hidup bersama pada saat berusia 10 tahun. Meskipun, riwa- yat mengenai hal ini masih perlu dikaji ulang.
Sementara pada orang tua yang mendorong anaknya segera meni- kah karena kekhawatiran mereka terhadap lingkungan yang permi- sif, ‘menghindari zina’ adalah alasan yang banyak dikemukakan. Sedang- kan pada orang tua yang memiliki anak yang menghadapi KTD, me- reka akan mengajukan dispensasi di pengadilan yang akan segera meng- izinkan anak tersebut menikah atas argumen
“seorang anak perempuan yang telah hamil di luar nikah, hanya di- perbolehkan menikah dengan laki- -laki yang menghamilinya”
Terlepas nantinya apakah me- reka juga akan kembali mendorong pasangan tersebut untuk bercerai setelah janin dalam kandungan anak perempuannya dilahirkan. *
FOKUS
12
lebih berisiko mengalami gangguan mental.
Risiko gangguan mental pada pasangan suami istri (pasutri) rema- ja cukup tinggi, yaitu hingga 41%.
Gangguan kejiwaan yang dilapor- kan dalam penelitian tersebut an- tara lain depresi, kecemasan, gang- guan disosiatif (kepribadian ganda), dan trauma psikologis seperti Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).
12Hal ini juga dikarenakan pa- sangan usia muda belum siap ber- tanggung jawab secara moral, pada setiap apa saja yang merupakan
tanggung jawabnya. Mereka sering mengalami kegoncangan mental, karena masih memiliki sikap mental yang labil dan belum matang emo- sinya.
13Secara sosial, masa remaja me- rupakan masa untuk mencari iden- titas diri dan membutuhkan perga- ulan dengan teman-teman sebaya.
Pernikahan dini secara sosial akan menjadi pembicaraan teman-teman
Dampak
Pernikahan Anak
B erbagai studi menunjukkan bahwa ada beragam kondi- si yang merupakan dampak dari pernikahan anak. Dampak tersebut berupa dampak kesehatan, dampak ekonomi, dampak psikolo- gis, dampak sosial, dampak hukum, dan beragam dampak yang lainnya.
Berikut ulasan tentang beragam dampak pernikahan anak tersebut:
Secara kesehatan, pernikahan di usia muda sangat berisiko tinggi bagi perempuan, terutama pada saat hamil dan melahirkan antara lain, risiko terjadinya kanker pada mulut rahim.
Karena saluran rahim belum sempurna sehingga berbahaya jika melahirkan. Meskipun perempu- an tersebut sudah mengalami masa menstruasi atau haid, hamil di usia muda cukup rentan terjadi penda- rahan ataupun kemungkinan terbu- ruknya adalah keguguran.
Ketidaksiapan organ intim atau alat reproduksi perempuan untuk melakukan suatu hubungan seksual juga menjadi pengaruh besar ter- hadap kesehatan. Sel-sel di saluran vagina perempuan yang menikah terlalu muda bisa menjadi sel ganas yang mengakibatkan kanker saat melakukan aktivitas seksual dengan frekuensi yang tinggi.
Ketika seorang perempuan te- lah mengalami gangguan kesehat- an reproduksi, maka sangat ber- potensi terhadap dirinya sendiri ketika ingin memiliki keturunan pada masa selanjutnya.
11Secara psikologis, pernikahan anak mengandung resiko gangguan mental. Sebuah penelitian terbaru dalam jurnal Pediatrics menujuk- kan bahwa remaja yang menikah sebelum menginjak usia 18 tahun
remaja dan masyarakat, kesempatan untuk bergaul dengan teman sesa- ma remaja hilang, sehingga remaja kurang dapat membicarakan masa- lah yang dihadapinya. Pernikahan dini dapat mengakibatkan remaja berhenti sekolah sehingga kehi- langan kesempatan untuk menun- tut ilmu sebagai bekal hidup untuk masa depan.
14Situasi putus sekolah hal ini juga berdampak pada rendahnya tingkat pengetahuan dan akses informasi pada anak. Selain itu dominasi pa- sangan akibat kondisi psikis yang masih labil menyebabkan emo- si sehingga bisa berdampak pada Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
15Disharmoni dalam ke- luarga dan KDRT, juga sangat ren- tan berujung pada perceraian.
Secara ekonomi, dua orang anak yang menikah dini cenderung be- lum memiliki penghasilan yang cu- kup atau bahkan belum bekerja. Hal inilah yang menyebabkan pasangan yang melakukan pernikahan anak rentan dengan kemiskinan
16, yang juga acapkali menjebak mereka menjadi korban perdagangan ma- nusia (trafficking).
Anak-anak perempuan yang sudah bercerai secara sah dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap trafficking disebabkan oleh kerapuhan ekonomi mereka, dan lain-lain. Tanggung jawab yang besar untuk menopang hidup ke- luarga, membayar semua pengelu- aran dan pendidikan anak, saudara, dan lainnya sering menjadi pemicu mencari pekerjaan di luar negeri yang tidak jelas kepastian pekerja- annya.
17**Secara psikologis, pernikahan anak mengandung resiko
gangguan mental.
Sebuah penelitian terbaru dalam jurnal Pediatrics menujukkan bahwa remaja yang menikah
sebelum menginjak usia 18 tahun lebih berisiko mengalami
gangguan mental.
FOKUS 13
A njuran Islam agar kaum muda yang masih lajang segera menikah, memang secara tegas tercantum dalam Al- quran. Hal ini termaktub dalam QS.
An Nisa: 32 sebagai berikut:
Artinya :
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah
akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Menge- tahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).
Hal tersebut juga dipertegas dengan salah satu Hadis Nabi saw.
yang menyatakan:
berikutnya, apakah yang disebut dengan ba’ah itu? Para Ulama ber- beda pendapat mengenai makna al- -ba’ah dalam redaksi hadis tersebut.
Kelompok pertama berpendapat bahwa al-ba’ah berarti jima’ (hu- bungan badan atau kawin), sedang- kan kelompok yang lain berpenda- pat bahwa al-ba’ah berarti mu’nat an-nikah (beban perkawinan).
Menurut Kiai-kiai Muda Pon- dok Pesantren Krapyak, al-ba’ah secara bahasa berarti jima, namun di samping arti kebahasaannya, al- -ba’ah juga mempunyai beberapa makna, yaitu kemampuan biologis yang tercakup di dalamnya kesi- apan umur, kemampuan finansial secara minimal, kemampuan psikis yang tercakup di dalamnya kema- tangan emosi dan mental, kemam- puan secara ilmu dan kesiapan mo- del peran.
Hal ini dikarenakan nikah tidak hanya diartikan sebagai bergaul da- lam artian hubungan badan antara suami dan isteri, namun nikah juga merupakan akad yang mengandung beberapa konsekuensi. Pemaknaan al-ba’ah mempunyai implikasi seca- ra langsung dalam pembentukan hukum ni- kah namun tidak secara mutlak. Artinya, seseorang yang
telah
ْ ُكِداَبِع ْن ِم َن ْي� ِحِل ّصلا َو ْ ُكْن ِم م َي�َلاْا او ُحِكْنَا َو
، ِل ْضَف ْن ِم ُالله ُمِ ِن�ْغُي َءآ َرَق ُف اْوُنْوُكَّي ْنِا ْ ُكِئاَمِا َو
ٌ ْي�ِلَع ٌع ِساَو ُالله َو
Membincang Kembali Pernikahan Anak
Dari Perspektif
َةَءاَبلْا ُ ُكْن ِم َعاَطَت ْسا ِنَم ِباَب َّشلا َ َث�ْعَم َي�
َو . ِجْرَفْلِل ُن َصْحَا َو ِ َ�َبْلِل ُّضَغَا ُهَّنِاَف ، ْجَّوَن َة�َيْلَف
ٌءا َجِو ُ َل ُهَّنِاَف ِم ْو َّصل ِب� ِهْيَلَعَف ْعِطَت ْسَي ْ َل ْنَم
Artinya :
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah men- capai ba’ah, maka kawinlah. Kare- na sesungguhnya kawin lebih bisa menjaga pada pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan. Bila ti- dak mampu melaksanakannya maka berpuasalah karena puasa baginya adalah kendali (dari gairah seksual)”
(HR. Muttafaq ‘Alaih)
Namun pertanyaan berikutnya adalah siapakah “syabab” itu? Syabab biasa diterjemahkan ke dalam ba- hasa Indonesia menjadi “pemuda.”
Berapakah usianya?
Fauzil Adhim dalam buku In- dahnya Pernikahan Dini menjelas- kan, syabab adalah seseorang yang telah memasuki aqil-baligh dan usi- anya belum mencapai tiga puluh ta- hun. Asalkan sudah memiliki ba’ah (kemampuan), maka ia dianjurkan untuk segera meni- kah.
Akan
tetapi per-
ta- nya-
an
Islam
FOKUS
14
memiliki kemampuan-kemampu- an tersebut, ia dianjurkan menikah atau menikah hukumnya sunnah baginya.
18Oleh karenanya, berdasarkan re- ferensi tersebut dapat disimpulkan bahwa ba’ah bukan hanya bermakna kematangan secara biologis semata.
Itulah mengapa se–ringkali dalam setiap perbuatan hukum yang di- lakukan oleh orang dewasa, istilah baligh senantiasa dikaitkan dengan
‘aqil; yang hal ini bisa dimaknai bahwa seseorang disebut dewasa bukan saja karena ia telah menga- lami ihtilam/mimpi basah (bila dia laki-laki) ataupun mengalami haid/
menstruasi (bila dia perempuan) namun karena akal budinya telah sanggup untuk menjalani konse- kuensi perbuatan hukum sebagai orang dewasa. Termasuk di dalam- nya adalah pernikahan; yang menis- cayakan adanya hak dan kewajiban baik sebagai suami maupun istri.
Berbagai rujukan berupa hadis tentang riwayat pernikahan Aisyah yang kini seringkali digunakan se- bagai justifikasi untuk menikahi anak perempuan di bawah umur, mesti dibaca sesuai dengan konteks- nya. Konteks masyarakat Arab pada abad pertengahan sangat berbeda dengan konteks hari ini. Dimana, pada masa itu kedewasaan seorang perempuan tak hanya ditentukan bahwa ia telah mendapatkan haid saja. Namun, pada masa itu secara sosial ia juga dianggap sudah siap menjalani kehidupan perkawinan.
Akan tetapi, beberapa studi tentang hadis tersebut yang mene- lusuri riwayat kehidupan Rasulul- lah dengan pendekatan yang lain, juga telah menemukan kesimpulan yang berbeda tentang kapan Aisyah menikah dengan Rasulullah diban- dingkan dengan informasi yang selama ini berkembang Salah satu pendekatan antropologis yang di- lakukan ulama, berupaya menelaah hal ini melalui penelusuran tentang
selisih umur antara Aisyah dengan Asma kakaknya yang merupakan putri tertua Abubakar yang berkisar 10 tahun.
Menurut Ibnu Hajar Al-Asqa- lani, Asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 H (Al-Asqalani, Taqrib al-Tahzib, hal. 654). Ini berarti bahwa apabila Asma meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal pada tahun 73, maka Asma berumur 27 pada waktu Hijrah, sehingga Siti Aisyah berumur 27 – 10 = 17 tahun pada waktu Hijriyah. Jika Nabi menikahi Aisyah satu atau dua tahun sete- lah berada di Madinah, maka usia Aisyah saat menikah adalah 18 atau 19 tahun.
19Belum lagi, ilmu tentang kese- hatan reproduksi, hasil-hasil peneli- tian, dan tuntutan perubahan sosial untuk selalu melakukan iqra’ dalam situasi kekinian semestinya mem- buat kita lebih arif dalam menyi- kapi perubahan zaman. Tak heran, Fiqh tidak menyebut jelas berapa usia minimum untuk menikah bagi laki-laki dan perempuan. Keputus- an itu harus dilakukan berdasarkan ijma’ dan proses ijtihad yang terus menerus. Oleh karenanya, berba- gai negara muslim memiliki atur- an yang berbeda mengenai hal ini.
Namun, dalam situasi kontemporer telah banyak perubahan aturan ten- tang usia minimum untuk menikah dalam Hukum Keluarga mereka.
Dalam pemaparannya sebagai saksi ahli dalam JR tentang UU No.
1 tahun 1974 tentang Perkawinan, Prof. Dr. Quraish Shihab menya- takan bahwa bila kesepakatan atau kecenderungan pandangan umum para ulama dan intelektual dari beragam disiplin ilmu cenderung melihat bahwa batas usia dewasa adalah 18 tahun, sebaiknya usia mi- nimum untuk menikah juga dinaik- kan menjadi 18 tahun. Bila masih diperlukan dispensasi perkawinan, artinya adalah untuk menyelesaikan
kasus pernikahan yang di bawah 18 tahun tadi, bukan lagi di bawah 16 tahun.
20Sebuah argumen yang sayangnya diabaikan oleh MK saat memutus perkara ini.
Sekedar untuk menyebutkan beberapa aturan baru tentang usia minimum untuk menikah dalam Hukum Keluarga tersebut, Aljazair menetapkan 19 tahun untuk pe- rempuan dan laki-laki, Bangladesh 18 tahun untuk perempuan dan 21 tahun untuk laki-laki, Mesir, Ma- roko, Oman, Siera Leone dan Turki semuanya menetapkan usia mi- nimum untuk menikah adalah 18 tahun.
21Belajar dari pengalaman negara-negara muslim ini, sesung- guhnya mengubah aturan tentang usia minimum perkawinan bukan- lah hal yang mustahil dan tetap bisa merujuk pada prinsip dan nilai-nilai universal ajaran Islam. *
B
eragam upaya untuk mencegah praktik pernikahan anak telah di–lakukan oleh berbagai pihak.Namun upaya ini hendaknya tetap dila- kukan secara terus menerus dan dikon- tekstualisa-sikan pada perkembangan za- man sehingga senantiasa relevan. Belajar dari pengalaman sejarah, sesungguhnya kehadiran UU No. 1 tahun 1974 ten- tang Perkawinan dimana batasan usia minimum ditetapkan, sesungguhnya juga berawal dari semangat untuk mencegah perkawinan anak saat terminologi ‘ba- ligh’ diiterpretasikan secara beragam dan berpotensi menjadikan anak terutama anak perempuan yang masih berusia dini menjadi korban dalam perkawinan. Begi- tu pula, bila kita melihat sejarah kelahir- an BP4 yang kini merupakan singkatan
Membangun
Strategi Bersama
Dalam Rangka Pencegahan dan Penghapusan Praktik Pernikahan Anak
FOKUS 15
dari Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan juga berawal dari kepedulian 3 problem krusial: marak- nya pernikahan anak, poligami yang tak tercatat, serta tingginya perceraian. Be- ragam upaya tersebut harus diapresiasi sebagai bentuk ijtihad yang relevan pada zamannya.
Seiring dengan telah diratifikasinya konvensi Penghapusan Segala Bentuk Penghapusan atas Diskriminasi terhadap Perempuan, Deklarasi Umum Hak-hak Asasi Manusia, Konvensi Perlindung- an Hak Anak, dan lain-lain, serta per- kembangan dunia Islam kontemporer dimana usia minimum untuk menikah juga telah dinaikkan sesuai dengan bera- gam ketentuan tersebut, maka advokasi untuk melakukan perubahan kebijakan juga merupakan keniscayaan. YKP be- serta para mitranya dan Koalisi 18, telah mengupayakan JR ke MK terhadap UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan terkait dengan ketentuan minimum ten- tang usia perkawinan untuk menaikkan batasan usia minimum menikah untuk
perempuan dari 16 tahun ke 18 tahun.
Namun upaya tersebut tampaknya masih kandas di palu MK; sungguh pun MK menyatakan bahwa sesungguhnya upaya tersebut semestinya dilakukan mengajukan perubahan UU Perkawinan kepada DPR.
Selain itu di lapangan, baik pemerin- tah maupun masyarakat sipil tak henti- -hentinya melakukan berbagai upaya un- tuk mencegah perkawinan anak. Seperti yang dilakukan oleh KUA melalui Kur- sus Bagi Calon Pengantin (Suscatin), So- sialisasi dengan melibatkan para penyu- luh di sekolah-sekolah, menghadirkan program Desa Bina Keluarga Sakinah (DBKS) dan lain-lain. Beberapa Kabu- paten seperti Gunung Kidul dan Ku- lon Progo, bahkan telah memiliki Perda Khusus tentang Pencegahan Perkawinan Anak.
BKKBN dan masyarakat sipil juga giat untuk melakukan pendidikan ke- sehatan reproduksi di kalangan remaja melalui beragam programnya seperti Generasi Berencana (GenRe), PIK-R,
Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas (PKRS) dan lain-lain, un- tuk mengajak remaja untuk mengenal kesehatan reproduksi dan memiliki ke- sadaran dan tanggung jawab sehingga mereka bisa terhindar dari kasus-kasus seperti kekerasan dalam pacaran (dating violence), Kehamilan Tak Dikehendaki (KTD), ataupun pernikahan di usia anak.
Beragam intitusi seperti Yayasan Rumah Kitab, UNICEF, Plan, dan lain-lain juga telah melakukan banyak studi tentang pernikahan dan dampaknya ini.
Akan tetapi, seperti yang dijelaskan oleh Mia Siscawati dari Prodi Kajian Gender UI, diperlukan upaya untuk du- duk bersama dan membincang apa yang selama ini sudah dilakukan oleh banyak pihak tersebut serta bagaimana petanya?
Dari upaya itu, nantinya mungkin dapat dirumuskan apa yang bisa kita lakukan bersama dalam mengubah kebijakan maupun mengubah cara pikir dan pola perilaku untuk mencegah bahkan meng- hentikan perkawinan anak segera. Ini tantangan kita bersama.{}
1 Noni Arni, Kuatnya Tradisi, Salah Satu Penyebab Pernikahan Dini, http://www.dw.com/id/kuatnya- -tradisi-salah-satu-penyebab-perni- kahan-dini/a-4897834
2 Heboh Pernikahan Pasangan Bocah 13 tahun di Sulawesi Selatan, Liputan 6, 12 Juni 2016.
3 3 Kasus Pernikahan Dini yang Hebohkan Indonesia, 24 Juni 2014, rappler.com.
4 Lihat tulisan berjudul Mencegah Pernikahan Anak untuk Selamat- kan Kehidupan Perempuan, yang dipublikasikan oleh by Koalisi 18 , 7 Juli 2014 sebagaimana dikutip dari situs http://www.hukumpedia.
com/18Coalition/mencegah-perni- kahan-anak-untuk-selamatkan-kehi- dupan-perempuan.
5 Lihat tulisan Roland Gunawan, Peluncuran Laporan Survei Per- kawinan Usia Anak-anak “Kema- juan yang Tertunda: Analisis Data Perkawinan Usia Anak di Indonesia’, dalam Berita 10 Agustus 2016, yang dikutip dari situs http://rumahkitab.
com/peluncuran-laporan-survei-per- kawinan-usia-anak-anak-kemajuan- -yang-tertunda-analisis-data-perka- winan-usia-anak-di-indonesia/
6 Lihat kembali Noni Arni, Kuatnya Tradisi, Salah Satu Penyebab Pernikahan Dini, dari situs http://
www.dw.com/id/kuatnya-tradisi- -salah-satu-penyebab-pernikahan- -dini/a-4897834.
7 Lihat dalam tulisan Nelly van Door-Harder, Indonesian Muslim Feminists: Islamic Reasoning, Rumah Kitab And The Case Of Child Brides,
Wake Forest University NC, 29 Januari 2016.
8 Lihat Laporan Singkat Penelitian Perkawinan Usia Anak di Indonesia : Kemajuan Yang Tertunda, Badan Pu- sat Statistik dan UNICEF Indonesia.
9 Lihat dalam presentasi Temuan Penelitian tentang Pernikahan Anak di Sumenep dan Probolinggo yang ditulis oleh AD. Eridani dalam needs assesment yang diselenggarakan oleh Rahima, Rumah Kitab dan UNICEF 2010.
10 Lihat wawancara dengan H.
Zudi Rahmanto dalam Rubrik Opini SR 51, 2017.
11 Lihat dalam pemberitaan ber- judul Dampak Negatif Pernikahan Dini Bagi Kesehatan, Rabu, 09 September 2015, sebagaimana dikutip dari situs Dinas Kesehatan Kabupa- ten Berau yang beralamat di http://
dinkes.beraukab.go.id/berita-dampak- -negatif-pernikahan-dini-bagi-kese- hatan.html
12 Lihat dalam tulisan Irene Anindyaputri berjudul Memahami Dampak Psikologis Pernikahan Usia Remaja, sebagaimana dikutip dari situs https://hellosehat.com/dampak- -psikologis-pernikahan-usia-remaja/
yang diakses Jum’at 17 Pebruari 2017 pk. 12.20 WIB.
13 Lihat tulisan Zulfa Fikriana Rahma dari Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta berjudul Resiko Pada Remaja Akibat Pernikahan Dini, sebagaimana dikutip dari situs http://
modalyakin.blogspot.co.id/ 2012/03/
jurnal-resiko-pada-remaja-akibat.
html.
14 Lihat tulisan Lilik Sumarwi, Senin 22 Desember 2014 berjudul Dampak Pernikahan Dini, sebagai- mana dikutip dari situs http://ma- takuliah11.blogspot.co.id/2014/12/
dampak-pernikahan-dini.html, yang diakses Jum’at 17 Pebruari 2017 pk.
12.49 WIB.
15 Lihat pada tulisan berjudul Per- nikahan Dini sebagai Masalah Sosial Kesehatan Masyarakat Indonesia yang diposting oleh Imfatul Tria pada 29 January 2014, dan diunduh dari situs http://imfatul-tria-fkm13.web.unair.
ac.id/ artikel_detail-92162-sosial%20 kesehatan-Pernikah an%20dini%20 sebagai%20masalah% 20sosialkese- hatan %20masyarakat%20Indonesia.
html, yang diakses Jum’at 17 Pebruari 2017 pk. 12.49 WIB).
16 Lihat pada tulisan berjudul Per- nikahan Dini sebagai Masalah Sosial Kesehatan Masyarakat Indonesia yang diposting oleh Imfatul Tria pada 29 January 2014, dan diunduh dari situs http://imfatul-tria-fkm13.web.unair.
ac.id/artikel_detail-92162-sosial%20 kesehatan-Pernikahan%20dini%20 sebagai %20masalah%20sosialkese- hatan%20masyarakat%20Indonesia.
html, yang diakses Jum’at 17 Pebruari 2017 pk. 12.49 WIB.
17 Lihat tulisan berjudul Human Trafficking atau Perdagangan Ma- nusia, sebagaimana dikutip dari situs https://alitayu.wordpress.
com/2010/06/08/human-traffic- king-perdagangan-manusia/, diakses pada Jum’at 17 Pebruari 2017 pk.
1.37 WIB
18 Diambil dari kesimpulan tulisan Akhmad Luthfi Mubarok, NIM 07350027, (2011), Konsep Al Ba’ah Menurut Pandangan Kiai-Kiai Muda Pondok Pesantren Krapyak, Skripsi thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogya- karta, yang dikutip dari situs http://
digilib.uin-suka.ac.id/6582/.
19 Lihat tulisan KH. Husein Muhammad berjudul Perkawinan Anak, di rubrik Tafsir Alquran pada edis ke-51 ini.
20 Lihat dalam Salinan Putusan Perkara Judicial Review Mahkamah Konstitusi No. 30-74/PUU-12/2014 21 Sumber : Lihat dalam laporan Musawah,Global Movement for Equality and Justice in the Muslim Family, yang disampaikan kepada Office of the High Commissioner for Human Rights untuk diusulkan sebagai HRC Resolution A/HRC/
RES/24/23 on Child, Early and Forced Marriage, sebagaimana dikutip dari situs http://www.ohchr.org/
Documents/Issues/Women/ WRGS/
ForcedMarriage/ NGO/Musawah.
pdf)
ENDNO TE
FOKUS
16
Mia Siscawati, biasa dipanggil dengan nama kecil Mia. Ia lahir di Jakarta 29 Mei 1969. Ibu dari 4 orang anak ini menamatkan studinya dari Fakultas Kehutanan IPB. Lalu ia mendapatkan gelar S2-nya di 2 universitas di Amerika yakni pada Program Studi Gender dan Pembangunan di Brandeis University dan pada bidang Antropologi Sosial Budaya pada University of Washington, dimana akhirnya i a melanjutkan jenjang S3 dan mendapatkan gelar Ph.D.-nya. Mia merupakan peneliti
bidang perempuan pedesaan dan lingkungan yang banyak melakukan studi ten- tang ketidakadilan gender dan ketimpangan atas tanah. Ia juga banyak bergiat di berbagai organisasi gerakan sosial terkait perempuan dan lingkungan. Antara lain menjadi salah satu pendiri Rimbawan Muda Indonesia (RMI), pengurus di Yayasan Bina Desa, pendiri dan relawan di Perempuan AMAN (Aliansi Masya- rakat Adat Nusantara) dan anggota Kapal Perempuan. Sejak tahun 2014 hingga saat ini ia dipercaya untuk menjadi Ketua Program Studi (Kaprodi) Kajian Gender Universitas Indonesia.