• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal TLM Blood Smear

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal TLM Blood Smear"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 31 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

Hubungan Kecacingan Dengan Stunting Pada Balita Dengan Menggunakan Metode Sedimentasi Di Kabupaten Bulukumba

The Relationship between Worms and Stunting in Toddlers Using the Sedimentation Method in Bulukumba Regency

Nurfaikatunnisa1, Asdinar2*, dan A.R.Pratiwi Hasanuddin3

1,2,3 Prodi DIII Analis Kesehatan, Stikes Panrita Husada Bulukumba, Indonesia

A B S T R A C T / A B S T R A K Keywords:

Parasitology, Soil Transmitted Helmin, Stunting

Many factors that can cause stunting in toddlers such as toddler characteristics and socioeconomic factors, hygine personal hygiene, environmental sanitation. One of the factors that can affect cases of stunting is the presence of soil transmitted helminthiasis worm egg infection. The goal in this study was to find out how to check STH worm eggs and find out the relationship between disdgy and stunting in toddlers with sedimentation examination methods. This research method is observational analytical with to see the relationship between disdgy and stuntig in toddlers in Bulukumba Regency. Where the sample used as many as 20 subjects. The conclusion of this study obtained the value p = 2.17 means the value of ɑ = 0.05 is greater than the value p, it can be concluded that there is no significant relationship between diatribes with toddlers with sedimentation examination methods in Bulukumba Regency with tests used Chi-squer or alternative fisher tests. The advice in this study is expected to use complete PPE in examination and a relatively longer time.

Kata Kunci:

Parasitology, Soil Transmitted Helmin, Stunting

Latar belakang penelitian adalah Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting pada balita seperti karakteristik balita maupun faktor sosial ekonomi, kebersihan personal Hygine, sanitasi lingkungan. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kasus stunting yaitu adanya infeksi telur cacing Soil Transmitted Helminthiasis. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui cara pemeriksaan telur cacing STH dan mengetahui hubungan antara kecacingan dengan stunting pada balita dengan metode pemeriksaan sedimentasi. Metode penelitian ini adalah observasional analitik denga untuk melihat hubungan antara kecacingan dengan stuntig pada balita di Kabupaten Bulukumba, dimana sampel yang digunakan sebanyak 20 subjek.

Kesimpulan penelitian ini diperoleh nilai p = 2,17 artinya nilai ɑ = 0,05 lebih besar dari nilai p, dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara kecacingan dengan balita dengan metode pemeriksaan sedimentasi di Kabupaten Bulukumba dengan uji yang digunakan Chi-squer atau uji alternatif fisher. Saran dalam penelitian ini yaitu diharapkan untuk menggunkana APD lengkap dalam pemeriksaan dan waktu yang relatif lebih lama.

Corresponding Author:

Asdinar,

Prodi DIII Analis Kesehatan Stikes Panrita Husada Bulukumba, Jln. Pendidikan Taccorong Kec.Gantarang, Bulukumba, Indonesia.

Email: [email protected]

(2)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 32 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

1. PENDAHULUAN

Status gizi adalah satu faktor yang sangat mempengaruhi dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) . Masalah gizi yang terjadi di Indonesia adalah salah satu masalah yang terjadi di masyarakat. Padahal masalah gizi bukan hanya terjadi di kesehatan masyarakat, melainkan juga terjadi di institusi pemerintahan swasta yang erat kaitannya dengan pembangunan sumber daya manusia (SDM). Masalah gizi anak sekolah adalah masalah kesehatan yang menyangkut masa depan dan kecerdasan (Risky Teresia Fauzi, et.

al., 2013). Menurut WHO, pertumbuhan fisik anak dicirikan dilihat dari bertambahnya besar ukuran antropometri. Pengukuran antropometri pada umumnya yang sering digunakan yaitu tinggi badan (Kartono, et.al. 2013). Kondisi tinggi badan seseorang yang tidak sesuai dengan umur, yang penentuannya dilakukan dengan menghitung Z-score indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Kondisi stunting menggambarkan status gizi atau status kesehatan di masa lalu yang kurang baik dan menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan tinggi badan linier pada seseorang. Stunting merupakan dampak dari asupan kurang gizi, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, tingginya kesakitan, atau merupakan kombinasi dari keduanya. Kondisi tersebut sering dijumpai di negara dengan kondisi ekonomi kurang. Penilaian kematangan pertumbuhan tinggi badan (usia tulang) merupakan komponen kunci dalam evaluasi pertumbuhan anak karena dapat memberikan informasi tentang ‘tempo’ pola pertumbuhan anak (melambat atau mengalami percepatan. (Apoina Kartini, et. al., 2016).

Stunting adalah status gizi yang bersifat kronik pada masa awal pertumbuhan dan perkembangan sejak awal. Keadaan ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -3 sampai dengan -2 standar deviasi (SD) berdasarkan standar pertumbuhan menurut WHO tahun 2010. Secara mendunia sekitar 1 dari 4 balita yang ada didunai mengalami kasus stunting. Di Indonesia sendiri berdasarkan data dari riset kesehatan dasat tahun 2013, terdapat sebnayak 37,2% kasus balita stunting. Diketahui dari jumlah data tersebut, prevelensi anak dalam kategori pendek sebanyak 19,2% dan sangat pendek sebanyak 18,0%. (Devi, 2010). Berdasarkan data stunting dari dinas kesehatan Kabupaten Bulukumba sendiri dibulan oktober tahun 2019 memiliki anak balita yang mengalami stunting sebanyak 911 jiwa/orang atau sekitar 3,59 % dari jumlah balita 25.350 jiwa/orang (Haml, 2019).

Masalah stunting, yang merupakan masalah pertumbuhan fisik dari segi bentuk pertumbuhan tinggi badan secara linier, umumnya dikaitkan dengan gizi masa lalu yang tidak baik (buruk). Asupan zat gizi makro, seperti energi, protein, dan zat gizi mikro, seperti Zn yang kurang, terutama pada masa pertumbuhan, akan mengganggu proses pertumbuhan seorang anak yang berdampak pada stunting (pendek). Infeksi berulang (kronis), seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan diare, juga merupakan penyebab utama terjadinya gagl tumbuh kembangnya suatu anak. Status gizi buruk dan infeksi merupakan lingkaran setan yang diduga merupakan faktor determinan utama terjadinya masalah gangguan tumbuh-kembang anak, salah satunya adalah stunting. Permasalahan gizi buruk maupun infeksi sangat berkaitan dengan kondisi sosial-ekonomi dan lingkungan keluarga (Apoina Kartini, et. al., 2016). Di Indonesia terdapat berbagai penyakit yang telah terungkap seperti kurang gizi, infeksi saluran pencernaan, diare, kecacingan dan lain-lain, namun penyakit ini dari satu wilayah ke wilayah merupakan karakteristik yang berbeda.

(Regina,et.al., 2018).

Kecacingan adalah salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih tersebar luas diseluruh dunia terutama di suatu negara berkembang dengan PHBS dan sanitasi yang buruk, pada tahun 2015 WHO melaporkan tentang 24% dunia mengalami infeksi kecacingandan 60% adalah anak-anak, pada tahapan usia anak Sekolah Dasar, yakni berjumlah 189 juta anak. Survei kecacingan yang dilakukan pada anak SD di beberapa daerah, diperoleh prevalensi kecacingan sebesar 24,1%. Penyebaran kasus keccingan dengan terkomntaminasisnya tanah dengan feses yang mengandung telur cacing yang keluar bersama feses. Infeksi ini terjadi bila telur cacing jenis infektif masuk kedalam tubuh

(3)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 33 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

melalui mulut bersama dengan minuman yang telah terkontaminasi dengan kotoran (Desyana, 2018).

Menurut WHO, diperkirakan jumlah penderita infeksi A. lumbricoides adalah sebanyak 1,2 milyar orang, penderita infeksi T. trichiura adalah sebanyak 795 juta orang dan penderita infeksi cacing tambang adalah sebanyak 740 juta orang. Diperkirakan lebih dari dua milyar orang yang terinfeksi cacing di seluruh dunia, sekitar 300 juta orang menderita infeksi helminth (kecacingan) yang berat, dan sekitar 150.000 diantaranya menginggal akibat infeksi STH (Noviastuti, 2015).

Infeksi kecacingan merupakan penyakit yang tergolong negleeted diseases yaitu infeksi yang kurang perhatian dan bersifat kronis dan tidak menimbulkan gejala klinis dan memberikan dambak pada jangka panjang. Soil Transmitted Helminth (STH) merupakan jenis cacing yang infeksinya dapat ditularkan melalui tanah (Elfred, et. al,.2016). Manusia merupakan hospes definitive sebagian besar spesies cacing yang sering kali ditemukan dalam specimen feses pasien terinfeksi. Menurut WHO (2011) faktor risiko yang berhubungan dengan infeksi kecacingan antara lain umur, jenis kelamin, imunitas, PHBS, sumber air bersih, pembuangan tinja serta faktor lingkungan fisik seperti kelembapan tanah, adanya lahan pertanian/ perkebunan, faktor sosial, ekonomi : meliputi pekerjaan, pendidikan dan penghasilan (Desyana, 2018).

Soil Transmitted Helminth adalah jenis cacing golongan nematoda usus yang dapat menginfeksi manusia melalui mulut. Penyakit kecacingan dapat mengakibatkan seseorang anemia defisiensi besi, kurang vitamin A, proses pertumbuhan pekerjaan 40% (Nashiha Alsakina dan Afriani, 2018). Penelitian yang pernah dilakukan oleh Talitha,et.al.,2018 tentang hubungan asupan protein, zat besi, zeng dengan kejadian infeksi kecacingan pada balita di kota Semarang menunjukkan adanya hubungan antara status gizi dengan kecacingan pada balita (Aryu Candra, et.al., 2018).

2. BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Adapun jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan rancangan studi cross sectional untuk melihat hubungan antara kecacingan dan kejadian stuntig pada balita di Kabupaten Bulukumba. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini, yaitu secara proporsional berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Bahan dan alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:Wadah penampung Feses ( pot Sampel ), spatula dan kantong plastik, mikroskop, Deck Glass, Cover Glass, tusuk gigi, gelas Kimia 100 ml (pyrex), sentrifuge, pipet tetes/pasteur (pyrex), rak tabung reaksi, dan spidol permanen.

Bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu: Aquades, larutan esoin 0,2% , sarung tangan, masker, label, tissue, lap halus dan alkohol 70%.

Prosedur Penelitian a. Pra Analitik

1) Pengukuran / pengelompokkan kategori Stunting

a) Dilakakukan pengukuran umur berdasarkan TB/U ke TK, Posyandu dan kunjungan rumah tempat penelitian

b) Dilakukan perhitungan berdasarkan rumus untuk

mengakategorikan kriteria penelitian berdasarkan umur dan TB balita yang diukur

c) Memasukkan kedalam rumus WHO untuk mengetahui Z-score belita.

d) Memberikan kuisoner kepada orang tua responden untuk bersedia dilakukan pemeriksaan telur cacing

e) Membagikan pot / wadah penampung sampel.

2) Pengambilan Sampel Feses

a) Disiapkan wadah penampung yang bersih

b) Diberikan kode sampel menggunakan label pada wadah sampel

c) Dimasukkan sampel fesese kedalam pot/wadah sampel dan ditutup rapat b. Analitik

1) Prosedur Pemeriksaan

(4)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 34 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

a) Setelah pengumpulan sampel dilakukan, maka disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian.

b) Dinyalakan timbangan digital, ditimbang sampel feses sebanyak 2 gram dan di masukkan kedalam gelas kimia

c) Ditambahkan aquades sebanyak 20 ml dan masukkan kedalam gelas kimia yang berisi feses

d) Dihomogenkan

e) Dipipet larutan feses sebanyak 3-5 tetes dan dimasukkan kedalam tabung reaksi

f) Ditambahakan 2 ml aquades kedalam tabung reaksi yang berisi larutan feses g) Disentrifuge dengan kecepanan 2000 rpm selama 2-3 menit

h) Dipipet larutan jernih/supernatan, dan ditambahkan kembali aquades sebanyak 2 ml

i) Diulangi langkah ke-8 sebanyak 2 kali

j) Setelah itu dipipet endapan sebanyak 1 tetes dan disimpan diatas objek glass

k) Ditambahkan 1 tetes larutan eosin 0,2%

l) Ditutup sediaan dengan cover glass

m) Dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop pembesaran 10 X untuk melihat lapang pandang dan 40 X untuk memperjelas lapang pandang.

n) Diamati preparat (Rezki et al., 2018) c. Pasca Analitik

a) Interpretasi Hasil

Positif bila ditemukan telur cacing jenis Ascaris Lumbricoides, Trichuris Trichura, Hookworm, Stongloides Vermicularies.

Negatif Tidak ditemukan telur cacing (Buku Saku Edisi 6) 3. HASIL

Penelitian ini dilakukan uji pendahuluan dengan cara melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan anak balita (24-59 bulan) untuk mengetahui subjek penelitian termasuk kategori yang diinginkan. Uji pendahuluan ini dilakukan di dua kecamatan, yaitu:

Kelurahan Caile, Kecamatan Ujung Bulu dan Kelurahan Matekko, Kecamatan Gantarang yang dilakukan pada bulan Juni sampai Agustus 2020. Dengan jumlah keseluruhan subjek penelitian sebanyak 666 orang. Setelah dilakukan pemilihan subjek menggunakan teknik pengambilan sampel secara proporsi, berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan jumlahresponden sebanyak 20 orang yang masuk dalam kategori stunting.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di dapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 1. Karaskteristik Data Demografi Balita Stunting Di Kabupaten Bulukumba

Variabel N Persentase (%)

Jenis Kelamin Perempuan Laki-Laki

11 9

55%

45%

Pendidikan Orang Tua

Tidak Tamat SD 2 10%

Tamat SD 2 10%

Tamat SMP 4 20%

Tamat SMA 12 60%

Penghasilan Orang Tua

<Rp.2.000.000 13 65%

>Rp.2.000.000 7 35%

(5)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 35 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

Mata Pencaharian Keluarga

Bertani 1 5%

Berkebun 1 5%

Nelayan 1 5%

Berdagang 2 10%

PNS 5 25%

Wiraswasta 6 30%

Lain-lain 4 20%

Jenis Daerah Tempat Tinggal

Pantai 6 30%

Pegunungan Dekat Sungai

- 2 - 10%

Dataran 11 55%

Lain-Lain 1 5%

Sumber Air

Air PDAM 2 10%

Air Sumur 17 85%

Air Sungai

Kombinasi Air PDAM& AirSumur

- 1 - 5%

Kombinasi Air PDAM& Air Sungai - -

Lain-Lain - -

Total 20 100%

Tabel 1. menunjukkan distribusi karakteristik responden. Berdasarkan jenis kelamin,balita laki-laki sebanyak 9 orang dengan persentase sebesar 42,9% dan balita perempuan sebanyak 12 orang dengan persentase sebesar 57,1%. Karakteristik berdasarkan pendidikan orang tua dengan latar belakang pendidikan tertinggi untuk kategori tamat SMA/lebih dengan jumlah sebnyak 12 orang dengan presentase sebesar 60% dan kategori jumlah terendah tamat SD sebanyak 2 orang dengan presentase sebesar 10% . Karakteristik responden berdasarkan penghasilan per bulan diperoleh orang tua responden dengan penghasilan kurang dari Rp.2.000.000 sebanyak 12 orang dengan presentase sebesar 60% dan lebih dari Rp.2.000.000 sebanyak 8 orang dengan presentase sebesar 40%. Karakteristik responden berdasarkan mata pencaharian utama keluarga diperoleh untuk kategori tertinggi pada pekerjaan wiraswasta sebanyak 6 orang dengan presentase sebesar 30% dan terendah pada kategori pekerjaan bertani, berkebun sebanyak 1 orang dengan presentase sebesar 5%. Karakteristik responden berdasarkan daerah tempat tinggal untuk di daerah tempat tinggal tertinggi pada kategori dataran sebanyak 11 orang dengan presentase sebesar 55% dan kategori terendah pada daerah dekat sungai sebanyak 2 orang dengan persentase sebesar 10%. Karakteristik responden berdasarkan sumber kebutuhan air bersih diperoleh untuk kategori tertinggi air sumur sebanyak 17 orang dengan presentase 85% dan terendah pada sumber air PDAM sebanyak 1 orang dengan presentase sebesar 5%.

Tabel 2. Kategori Balita Stunting Berdasarkan Z-Score Di Kabupaten Bulukumba

Kategori Stunting N Persentase (%)

Kategori Balita Stunting Pendek Sangat Pendek

11 55%

9 45%

Total 20 100%

Berdasarkan tabel 2, untuk kategori balita stunting berdasarkan Z-Score dengan

(6)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 36 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

jumlah pendek sebnyak 11 orang dengan presentase sebesar 55% dan sangat pendek sebanyak 9 orang dengan presentase sebesar 45%.

Tabel 3 .Hasil pemeriksaan Feses

Hasil pemeriksaan N Persentase (%)

Kejadian Infeksi STH Positif ( + )

Negatif ( - )

6 14

30 70 Status Infeksi

Tunggal Ganda Negatif

6 - 14

30%

- 70%

Infeksi Tunggal

Ascaris lumbricoides 6 100

Trichuris trichiura -

Necator americanus -

Ancylostoma duodenale -

Total 6 100

Hasil pemeriksaan sampel feses balita ditunjukkan pada Tabel 3. prevalensi yang mengalami infeksi STH banyak 6 orang dengan presentase sebesar 30%, untuk distribusi hasil pemeriksaan sampel feses balita stunting diperolah hasil positif sebanyak 6 orang dengan presentase sebesar 30% dan negatif sebanayak 14 orang dengan presentase sebesar 70%. Sementara itu, untuk status infeksi Soil transmitted helminth berdasarkan infeksi tunggal sebanyak 6 orang dengan presentase sebesar 30%, dan untuk hasil negatif sebanyak 15 orang dengan presentase sebesar 70%. Untuk kategori jenis cacing yang menginfeksi yaitu telur Ascaris lumbricoides sebanyak 6 orang dengan presentase sebesar 30% Kategori Balita Stunting Berdasarkan Z-Score Di Kabupaten Bulukumba

Tabel 4. Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helminth terhadap status gizi berdasarkan TB/U Di Kabupaten Bulukumba

Kategori Hasil Penelitian Total Nilai P

Positif Negatif n (%)

N % n %

Pendek 2 318,2 % 9 81,8% 11 (100%) 2,17

Sangat Pendek 4 44,4% 5 55,6% 9 (100%)

Total 6 30% 14 30% 20 (100%)

Tabel 4. menunjukkan hasil uji ststistik untuk melihat hubungan infeksi Soil transmitted helminth terhadap status gizi balita berdasarkan TB/U di Kabupaten Bulukumba terkhusus untuk wilayah Kelurahan Caile dan Kelurahan Matekko menunjukkan nilai p >0,05, sehingga tidak ada hubungan yang signifikan antara infeksi Soil transmitted helminth terhadap balita yang memiliki status gizi berdasarkan TB/U.

4. PEMBAHASAN

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui hubungan kecacingan dengan stunting pada balita dengan metode pemeriksaan sedimentasi. Pemeriksaan sedimentasi mempunyai prinsip kerja dengan adanya gaya sentrifuge atau pemusingan sehingga mengahasilkan endapan dan supernatan, supernatan di buang dan endapan di periksa di bawah mikroskop,

(7)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 37 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

pemeriksaan ini mengguggunakan pembesaran 10-40X (Buku saku analis kesehatan edisi keenam).

Berdasarkan hasil pemeriksaan tenteng karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin diperoleh laki-laki sebanyak 9 orang dan perempuen sebanyak 11 orang. Sementara itutentang karakteristik responden berdasarkan Z-score balita yang telah dilakukan pengukuran didapatkan kategori pendek sebanyak 11 orang dan sangat pendek sebanyak 9 orang. tentang hasil pemeriksaan infeksi Soil transmitted helminth pada balita didua lokasi pengambilan sampel dengan kasus positif 6 orang dan negatif 14 dari jumlah responden sebanyak 20 orang.

Hal ini hampir sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Resky Tarezia Fauzih, et.al (2013) dengan judul Hubungan kecacingan dengan status gizi siswa sekolah dasar di Kecamatan Pelayanan Kota Jambi menunjukkan hasil tidak ada hubungan yang signifikan antara kecacingan dengan status gizi pada Siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Pelayangan Seberang Kota Jambi dengan kasus positif sebanyak 4 orang dari jumlah anak sebanyak 46 orang. Begitupun dengan penelitian yang dilakukan olah Talita Ulayya, et.al (2018) dengan judul Hubungan asupan protein, zat besi, zeng, dengan kejadian infeki kecacingan pada balita di Malang menujukkan hasil yang jumlah kasus positif sebanyak 3 orang dari total responden sebanyak 50 orang, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian infeksi kecacingan pada balita. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Resky Tarezia Fauzih, et.al dan Talita Ulayya et.al sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilkaukan bahwa tidak ada hubungan antara kecacingan dengan kekurangan malnutris (Stunting). (Rts.Resky Tarezia Faziah,et.al 2013 ; Talitha Ulayya, et.al 2018).

Telur cacing Soil trnasmitted helmint terbagi menjadi 4 jenis diantaranya Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura, Hookxworm (Necator amiricanus dan Ancylostoma duodenal). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan distribusi telur cacing STH yang menginfeksi yaitu jenis cacing Ascaris lumbricoides sebanyak 6 orang. Pada umumnya telur cacing dari ke 4 jenis tersebut yang sering menginfeksi manusia yaitu jenis Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichura, akan tetapi untuk daerah Indonesia jenis telur cacing yang sering di temukan yaitu Ascaris lumbricoides, siklus hidup telur cacing Ascaris lumbricoides dapat bertahan hidup lebih lama di permukaan tanah karena dipengaruhi oleh suhu yang panas. Telur cacing Ascaris lumbricoides bertahan hidup pada suhu tropis.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Aprianti Idris et.al 2017 melakukan penelitian dengan judul identifikasi telur nematoda usus (Soil Transmitted Helminth) pada anak ditempat pembuangan sampah akhir diperoleh hasil jenis cacing yang mendominasi jenis Accaris lumbricoides. Ascaris lumbricoides menghasilkan 240.000 telur setiap hari yang akan terbawa bersama feses, telur dapat bertahan hidup di dalam tanah selama 17 bulan dengan kelembapan tinggi, suhu tropis dan kondidi yanah yang gembur (Sri Apriani Idris dan Fusvita, 2017).

Hasil uji stastistik untuk melihat hubungan infeksi Soil transmitted helminth terhadap status gizi balita berdasarkan TB/U di Kabupaten Bulukumba terkhusus untuk wilayah Kelurahan Caile dan Kelurahan Matekko menunjukkan nilai p >0,05, sehingga tidak ada hubungan proporsi antara infeksi Soil transmitted helminth terhadap balita yang memiliki status gizi berdasarkan TB/U (stunting). Stunting adalah suatu keadaan gagal tumbuh kembangnya balita yang dapat dipenaruhi oleh malnutris, adanya infeksi, personal Hgiene, dan pendidikan orang tua. Faktor determinan lainnya yaitu pewarisan keturunan dan sosial ekonomi. Anak-anak yang dikatakan stunting setelah dilakukan pengukuran antropometri (TB/U). Pengukutan TB/U dilakuan melalui kunjungan sekolah, kunjungan posyandu dan kunjungan rumah. Untuk kriteria yang dilakukan pengukuran TB/U yaitu balita yang berusia 24-59 bulan dan tidak mengomsumsi obat cacing. Pengakategorian balita stunting terbagi menjadi 2 kategori yaitu -3 SD adalah balita stunting yang masuk dalam kategori z-score dibawah grafik garis merah dengan kata lain sangat pendek dan -2 SD balita stunting yang masuk dalam kategori z-score dibawah grafik biru sampai merah dengan kata lain pendek (WHO,2019).

(8)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 38 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

Balita stunting adalah balita yang telah dilakukan pengukuran antropometri (TB/U), pengekategorian balita stunting terbagi manjadi 2 yaitu pendek dibawah -2 standar devesiasi dan sangat pendek dibawah -3 standar devesiasi. Balita stunting sering di hubungan dengan adanya infeksi, salah satu infeksi telur cacing Soil transmitted helminth. Rendahnya angka kejadian terinfeksi Soil transmitted helminth dapat disebabkan karena pemerintah daerah terkhusus Dinas Kesehatan Kabupaten Bulukumba giat melakukan kegiatan bersosialisasi tentang pemberian obat cacing 1 kali dalam 6 bulan dan faskes terdekat terkhusus untuk wilayah kerja Puskesmas Caile dan Puskesmas Ponre mensosialisasikan kepada orang tua tentang perilaku hidup bersih dan sehat, menjanga keberihan lingkungan, penggunaan alas kaki dan mencuci tangan sebelum makan agar terhindar dari infeksi olehSoil transmitted helminth.

5. KESIMPULAN

Pengukuran kategori stunting dilakukan dengan cara mengukur TB/U (antropometri), didapatkan hasil 6 (30%) orang kategori sangat pendek dan 14 (70%) orang dalam kategori pendek dari total responden sebanyak 20 orang.Pemeriksaan tulur cacing Soil transmitted helmith dilakukan dengan metode pemeriksaan sedimentasi dengan hasil pemeriksaan 6 orang positif dari 20 sampel yang terinfeksi telur cacing jenis Ascaris lumbricoides.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai p >0,05,dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan proporsi antara kecacingan dengan balita dengan metode pemeriksaan sedimentasi di Kabupaten Bulukumba.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih banyak untuk kedua orang tua yang selama ini memberikan segalanya, baik dari segi pribadi maupun di bidang Pendidikan dan terima kasih juga buat Yayasan STIKes dan para dosen-dosen yang selama ini membantu saya dalam menyelesaikan Studi D3 saya dan teruntuk juga teman-teman seangkatan TLM 2017 kalian luar biasa.

DAFTAR PUSTAKA

Ariwati, N.L., 2018. Soil Transmitted Helminth. 2019,

Apoina Kartini, Suhartono, Hertanto wahyu subagio, budiyono, irane max emman (2016)

‘Jurnal Kesehatan Masyarakat’, 11(2).

Bedah, S. and Syafitri, A. (2019) ‘Infeksi Kecacingan Pada Anak Usia 8-14 Tahun Di Rw 007zTanjung Lengkong Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, Jakarta Timur’, Jurnal Ilmiah Kesehatan, 10(1), pp. 20–31. doi: 10.37012/jik.v10i1.13.

Caile, D. P. (2019) ‘Data Jumlah Balita PKM Caile’.

Data Primer 2020’ (SPSS).

Desyana, N. (2018) ‘Gambaran Infeksi Kecacingan Pada Siswa Sdn 1-4 Desa Muara Laung Kabupaten Murung Raya Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2017.3(2), pp. 41–

53.\

Devi, M. (2010) ‘Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status gizi balita di pedesaan’, 33(2), pp. 183–192

Elfred, Arwati, H. and Suwarno (2016) ‘Gambaran basofil, TNF-α, dan IL-9 pada petani terinfeksi STH di Kabupaten Kediri’, Jurnal Biosains Pascasarjana, 18(3), pp. 1–13.

Epidemiologi, J. and Komunitas, K. (2016) ‘Faktor Risiko Kejadian InfeksiCacing

(9)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 39 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

Tambang pada Petani Pembibitan Albasia d i Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo’, 1(1).

Gutierrez-jimenez, J. et al. (2016) ‘Original Article Malnutrition and the presence of intestinal parasites in children from the poorest municipalities of Mexico’. doi:

10.3855/jidc.2990.

G. W. H. O. (2019) ‘Grafik WHO Stunting’,

Haml, T. H. (2019) ‘jumlah kasus infeksi kecacingan kabupaten bulukumba tahun’, (1).

Idris, S. A. and Fusvita, A. (2017) ‘Identifikasi Telur Nematoda Usus (Soil Transmitted Helminths) pada anak di tempat pembuangan akhir (TPA) Puuwatu’, Biowallacea, 4(1), pp. 566–571.

Imansyah, T. R. (2010) ‘Infeksi dapat ditutup atau dipanjangkan cukup banyak’.

Kartono, D., Fuada, N. and Setyawati, B. (2013) ‘Stunting anak usia sekolah di Indonesia…

Salimar; et.al (2016) STUNTING’, 36(2), pp. 121–126.

Mustafa, J. et al. (2015) ‘Permasalahan Anak Pendek ( Stunting ) dan Intervensi untuk Mencegah Terjadinya Stunting ( Suatu Kajian Kepustakaan ) Stunting’, 2(5).

Nashiha Alsakina, M. and Afriani, N. (2018) ‘Identifikasi Telur Cacing Soil Transmitted Helminths pada Sayuran Selada (Lactuca Sativa) yang Dijual oleh Pedagang’, Jurnal Kesehatan Andalas, 7(3), pp. 314–318.

Noviastuti, R. A. (2015) ‘Infeksi soil transmitted helminths’, Majority, 4(8), pp. 107–116.

Pejaten, D. I. D. (2016) ‘Identifikasi Telur Cacing Nematoda Usus Pada Kuku Tangan Pengrajin Genteng Di Desa Pejaten, Kediri, Tabanan.’, (1).

Rahmawati, Y., Mustika, S. and Ahmad, H. (2014) ‘Diagnosa Sindrom Loeffler dan Nekatoriasis Duodenum Berdasarkan Endoskopi Case Report: Loeffler’s Syndrome and Duodenal Necatoriasis 1 2 2 Endoscopic Diagnosis of’, Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(1), pp. 58–61.

Regina, M. P., Halleyantoro, R. and Bakri, S. (2018) ‘Perbandingan Pemeriksaan Tinja Antara Metode Sedimentasi Biasa Dan Metode Sedimentasi Formol- Ether Dalam Mendeteksi Soil-Transmitted Helminth’, 7(2), pp. 527–537.

Rezki, N. et al. (2018) ‘Jurnal sains dan teknologi laboratorium medik’, 3(1), pp. 18–21.

Risky Teresia Fauzi, R. et al. (2013) Hubungan Kecacingan Dengan Status Gizi Siswa Sekolah Dasar.

Sriwijaya, M. K. et al. (2018) ‘Hubungan Infeksi Cacing Soil Transmitted Helminths ( STH) dengan Status Gizi pada Siswa Sekolah Dasar Negeri 200 Kelurahan Kemasrindo Kecamatan Kertapati Kota Palembang Helminths ( STH ) 1 Penyakit ini termasuk dalam kelompok Neglected Tropical Diseases ’, (April).

Talitha Ulayya, Aryu Candra, D. Y. F. (2018) ‘Journal of Nutrition College’, 7.

(10)

Vol.2 No.2 Oktober 2021 40 Journal Homepage : http://ojs.stikespanritahusada.ac.id/index.php/JMLT/index

Jurnal TLM Blood Smear

Utara, B. M. and Mayulu, N. (2013) ‘Identifikasi Soil transmitted helmint pada Anak Sekolah Dasar’, 1.

Widiyanto, S. Y. D. and Setyowatiningsih, L. (2016) ‘Jurnal Riset Kesehatan Hubungan Higiene Perorangan Dengan Infeksi Telur Soil Transmitte Helminths ( Sth ) Pada Siswa-Siswi Sdn Rowosari 01 Kecamatan Tembalang Kota Semarang’, 5(1), pp. 7–10.

Referensi

Dokumen terkait

Pengangkatan anak di Bali adalah perbuatan hukum yang melepaskan anak dari pertalian keluarga orang tuanya sendiri dan memasukkan anak itu kedalam keluarga bapak angkat, sehingga

Bobot larva ikan gabus yang diberi pakan cacing sutera memiliki pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian pakan yang lainnya.. Laju pertumbuhan spesifik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan proporsi spermatozoa Y hasil pemisahan semen domba lokal dengan beberapa fraksi albumen telur dan lama penyimpanan

[r]

7 Saya marah jika oaring lain menolak pendapat saya 8 Saya menyelesaikan masalah dengan kekerasan 9 Saya mengancam orang lain untuk mengikuti.

Selama ini jerami padi sangat melimpah dan sudah biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia, khususnya sapi dan kerbau. Pemanfaatan ini semakin meningkat pada saat

Penelitian mengenai “Pembelajaran Gitar Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler di SMP Al-Azhar Syi fa Budi Parahyangan Padalarang” adalah wadah bagi siswa untuk belajar gitar yang

Dapat dilihat pada gambar 4.21 ketika terjadi hubung singkat satu fasa ke tanah maka sudut rotor semua generator pada mengalami osilasi tetapi dapat kembali ke nilai awal,