8 2.1 Koperasi
Koperasi lahir pada permulaan abad ke-19, sebagai realisasi terhadap sistem liberalisme ekonomi, yang pada waktu itu segolongan kecil pemilik- pemilik modal menguasai kehidupan masyarakat. Pada saat itulah tumbuh gerakan koperasi yang menentang sistem liberalisme tersebut dengan asas kerjasama dan bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat.
2.1.1 Pengertian Koperasi
Koperasi berasal dari kata Co dan Operation yang mengandung arti kerjasama untuk mencapai tujuan. Menurut UU RI No.25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian menyatakan bahwa :
“Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-seorang atau badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha kerja sama berdasarkan atas azas kekeluargaan.“
Sedangkan, menurut Sonny Sumarsono (2004:1) pengertian koperasi adalah :
“Koperasi adalah suatu perkumpulan yang beranggotakan orang- orang atau badan hukum koperasi yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota, dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan anggotanya.”
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa koperasi bukan merupakan kumpulan modal, melainkan persekutuan sosial sebab koperasi merupakan milik bersama para anggota, pengurus, dan pengelola usaha tersebut diatur sesuai keinginan para anggota melalui musyawarah rapat anggota.
2.1.2 Tujuan Koperasi
Tujuan koperasi menurut Standar Akuntansi Keuangan No.23 (2009:2.10) adalah untuk mengatur perlakuan akuntansi yang timbul dari hubungan transaksi antara koperasi dengan anggotanya dan transaksi lain yang spesifik pada koperasi.
2.1.3 Fungsi dan Peran Koperasi
Peran serta koperasi secara aktif sangat penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan ekonomi rakyat serta dalam mewujudkan kehidupan demokrasi ekonomi, hal tersebut dipertegas dalam UU RI No. 25 Tahun 1992 Bab III Pasal 4 mengenai fungsi dan peran koperasi adalah :
1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada umumya, untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial
2. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan manusia dan masyarakat
3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai sokoguru
4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas azas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
Sedangkan menurut Rivai Wirasasmita (2003:32) koperasi mempunyai fungsi sebagai berikut :
1. Alat perjuangan ekonomi untuk mempertinggi kesejahteraan rakyat 2. Alat penghimpunan kekuasaan ekonomi yang lemah
3. Sebagai salah satu urat nadi perekonomian bangsa 4. Alat memperoleh kedudukan ekonomi bangsa Indonesia.
2.1.4 Prinsip dan Jenis Koperasi
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, koperasi harus mempunyai pedoman kerja. Pedoman kerja koperasi Indonesia atau disebut dengan prinsip- prinsip koperasi. Menurut UU RI No. 25 Tahun 1992 Pasal 5 disebutkan prinsip koperasi, yaitu :
a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
c. Pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota anggota (andil anggota tersebut dalam koperasi)
d. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal e. Kemandirian
f. Pendidikan perkoperasian g. Kerjasama antar koperasi.
Jenis-jenis koperasi menurut UU RI No. 25 Tahun 1992 Pasal 17, koperasi dapat dikelompokkan menjadi koperasi produsen, koperasi konsumen, dan koperasi kredit (jasa keuangan). Koperasi dapat pula dikelompokkan berdasarkan sektor usahanya, yaitu :
1. Koperasi Simpan Pinjam
Yaitu koperasi yang bergerak di bidang simpan dan pinjaman.
2. Koperasi Konsumen
Yaitu koperasi beranggotakan para konsumen dengan menjalankan kegiatannya jual beli, membeli barang konsumsi.
3. Koperasi Produsen
Yaitu koperasi beranggotakan para pengusaha kecil (UKM) dengan menjalankan kegiatan pengadaan bahan baku dan penolong untuk anggotanya.
4. Koperasi Pemasaran
Yaitu koperasi yang menjalankan kegiatan penjualan produk/jasa koperasinya atau anggotanya.
5. Koperasi Jasa
Yaitu koperasi yang bergerak di bidang usaha jasa lainnya.
2.1.5 Sumber Modal Koperasi
Menurut UU RI No. 25 Tahun 1992 Pasal 41 bahwa Modal Koperasi terdiri dari Modal Sendiri dan Modal Pinjaman. Modal Sendiri dapat berasal dari Simpanan Pokok, Simpanan Wajib, Dana Cadangan, Hibah dari anggota maupun masyarakat. Sedangkan Modal Pinjaman dapat berasal dari Anggota Koperasi, Koperasi Lainnya, dan atau anggotanya, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Penerbitan Obligasi dan Surat Hutang Lainnya yang Sah.
Modal Sendiri.
Yang dimaksud dengan modal sendiri dalam penjelasan Pasal 1 Ayat (2) UU RI No. 25 Tahun 1992 adalah modal yang menanggung resiko atau disebut modal ekuiti. Berikut yang termasuk modal sendiri adalah sebagai berikut :
1. Simpanan Pokok
Yaitu sejumlah uang yang sama banyaknya yang wajib dibayarkan oleh anggota kepada koperasi pada saat masuk menjadi anggota. Simpanan pokok tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota. Mengenai cara penyerahan/penyetoran simpanan pokok dan anggota koperasi diatur dalam AD/ART koperasi.
2. Simpanan Wajib
Yaitu sejumlah simpanan tertentu yang tidak harus sama yang wajib dibayar oleh anggota kepada koperasi dalam waktu dan kesempatan tertentu.
Simpanan wajib tidak dapat diambil kembali selama yang bersangkutan masih menjadi anggota.
3. Dana Cadangan
Yaitu sejumlah uang yang diperoleh dari penyisihan Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dimaksudkan untuk memupuk modal sendiri dan untuk menutup kerugian koperasi bila diperlukan. Dana cadangan tidak boleh dibagikan kepada anggota, meskipun terjadi pembubaran koperasi. Dana ini, pada masa pembubaran oleh penyelesai pembubaran dipakai untuk menyelesaikan hutang-hutang koperasi, kerugian-kerugian koperasi, biaya-biaya penyelesaian, dan sebagainya.
4. Hibah
Yaitu suatu pemberian atau hadiah dari seseorang semasa hidupnya. Hibah ini dapat berbentuk wasiat, jika pemberian tersebut diucapkan atau ditulis oleh seseorang sebagai wasiat atau pesan kehendak terakhir sebelum meninggal dunia dan baru berlaku setelah dia meninggal dunia.
Modal Pinjaman.
Pengembangan kegiatan usahanya, koperasi dapat menggunakan modal pinjaman dengan memperhatikan kelayakan dan kelangsungan usahanya. Modal pinjaman dapat berasal dari :
1. Anggota
Suatu pinjaman yang diperoleh dari anggota, termasuk calon anggota yang memenuhi syarat.
2. Koperasi lain atau Anggotanya
Pinjaman dari koperasi lain dari atau anggotanya didasari dengan perjanjian kerjasama antar koperasi.
3. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
Pinjaman dari bank dan lembaga keuangan lainnya dilakukan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jika tidak terdapat ketentuan khusus, koperasi sebagai debitur dari bank atau lembaga keuangan lainnya diperlakukan sama dengan debitur lain, baik mengenai persyaratan pemberian dan pengembalian kredit maupun prosedur kredit.
4. Penerbitan Obligasi dan Surat Hutang Lainnya
Dalam rangka mencari tambahan modal koperasi dapat mengeluarkan obligasi (surat pernyataan hutang) yang dijual ke masyarakat. Sebagai konsekuensinya, maka koperasi diharuskan membayar bunga atas pinjaman yang diterima (nilai dari obligasi yang dijual) secara tetap, baik besar maupun waktunya.
Penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya dilakukan berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
5. Sumber Lainnya yang Sah
Sumber lain yang sah adalah pinjaman dari bukan anggota yang dilakukan tidak melalui penawaran secara hukum.
2.2 Anggaran
Anggaran adalah suatu alat di dalam proses perencanaan dan pengendalian operasional keuangan dalam suatu perusahaan baik yang bertujuan untuk mendapatkan laba maupun yang tidak bertujuan mendapatkan laba. Oleh karena itu, anggaran merupakan suatu alat yang dapat membantu manajemen perusahaan.
Anggaran perusahaan merupakan suatu proses perencanaan dan pengendalian kegiatan operasi perusahaan yang dinyatakan dalam satuan kegiatan dan satuan uang yang bertujuan untuk memproyeksi operasi perusahaan dalam proyeksi laporan keuangan (Laporan Laba Rugi, Laporan Posisi Keuangan, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas).
2.2.1 Pengertian Anggaran
Ada beberapa pengertian tentang anggaran yang pada intinya mengandung makna yang sama hanya cara perlengkapannya yang berbeda, seperti yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi. Untuk mendapatkan pengertian anggaran yang lebih jelas dan tepat di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian anggaran yang akan dinyatakan oleh para ahli diantaranya:
Menurut M. Munandar (2001:1) mengungkapkan pengertian anggaran adalah sebagai berikut :
”Suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.”
Dari pengertian tersebut, anggaran mempunyai empat unsur, yaitu :
1. Rencana
Yaitu suatu penentuan terlebih dahulu tentang aktivitas atau kegiatan yang akan dilakukan di waktu yang akan datang.
2. Meliputi
Yaitu mencakup semua kegiatan yang akan dilakukan oleh semua bagian- bagian yang ada dalam perusahaan.
3. Dinyatakan dalam unit moneter
Yaitu unit (kesatuan) yang dapat diterapkan pada berbagai kegiatan perusahan yang beraneka ragam. Adapun unit moneter yang berlaku di Indonesia adalah unit “Rupiah”.
4. Jangka waktu tertentu yang akan datang
Yaitu menunjukkan bahwa anggaran berlaku untuk masa yang akan datang.
Ini berarti apa yang dimuat di dalam anggaran adalah taksiran-taksiran tentang apa yang akan terjadi serta apa yang akan dilakukan di masa yang akan datang.
Dari pengertian anggaran yang telah diuraikan di atas dapat diketahui bahwa anggaran merupakan hasil kerja (output) terutama berupa taksiran-taksiran yang akan dilaksanakan di waktu yang akan datang. Karena suatu anggaran merupakan hasil kerja (output), maka anggaran dituangkan dalam suatu naskah tulisan yang disusun secara teratur dan sistematis.
Sedangkan menurut M. Nafarin (2004:11) mendefinisikan bahwa pengertian anggaran adalah sebagai berikut :
“Anggaran merupakan rencana tertulis mengenai kegiatan usaha organisasi yang dinyatakan secara kuantitatif dan umumnya dinyatakan dalam satuan uang untuk jangka waktu tertentu."
Adapun pengertian anggaran menurut Glenn A. Welsch adalah sebagai berikut :
“Comprehensive profit planning and control is defined as a systematic and formalized approach for performing significant phases of management planning and control functions.”
Inti dari definisi adalah :
1. Formal; disusun secara resmi dan tertulis
2. Sistematis; disusun berurutan dan berdasarkan fakta
3. Tanggung jawab; merupakan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan oleh manajer
4. Perencanaan, koordinasi, dan pengawasan merupakan fungsi manajer.
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi di atas jelas bahwa anggaran merupakan alat bantu bagi manajemen dalam melaksanakan fungsinya dan merupakan pedoman dalam usaha pencapaian tujuan di masa yang akan datang, sebagai rencana dengan sasaran tertentu, anggaran membandingkan hasil yang dicapai dengan rencana yang merupakan dasar pengendalian dan pengkoordinasian kegiatan dari seluruh bagian-bagian yang ada dalam perusahaan. Dengan adanya suatu rencana maka seluruh kegiatan yang ada saling menunjang dan secara bersama menuju sasaran yang telah ditetapkan.
Di samping itu, berdasarkan definisi-definisi dan pengertian anggaran dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Bahwa anggaran harus bersifat formal
Artinya anggaran disusun dengan sengaja dan bersungguh-sungguh dalam bentuk tertulis.
2. Bahwa anggaran harus bersifat sistematis
Artinya anggaran disusun dengan berurutan dan berdasarkan logika.
3. Bahwa suatu saat manajer dihadapkan pada suatu tanggung jawab untuk mengambil keputusan
4. Bahwa keputusan yang diambil oleh manajer tersebut merupakan pelaksanaan fungsi manajer dari segi perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.
Anggaran perusahaan dapat dianggap sebagai suatu sistem tunggal yang memiliki ciri khas tersendiri, oleh karena anggaran perusahaan tersebut mempunyai tujuan serta cara kerja tersendiri yang merupakan satu kebulatan dan yang berbeda dengan tujuan serta cara kerja sistem lain yang terdapat dalam perusahaan. Anggaran perusahaan juga dapat dianggap sebagai sub sistem yang memerlukan hubungan dengan sub sistem lain yang terdapat dalam perusahaan oleh karena anggaran perusahaan bukanlah satu-satunya alat perencanaan dan pengendalian yang ada dan diperlukan perusahaan.
Dapat disimpulkan bahwa anggaran adalah suatu rencana yang terinci dan sistematis yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang dinyatakan dalam satuan moneter dan rencana masa depan untuk jangka waktu tertentu dan disusun secara formal, artinya bahwa anggaran tersebut disusun dengan sengaja dan bersungguh-sungguh dalam bentuk tertulis.
2.2.2 Jenis-Jenis dan Isi Anggaran
Jenis-jenis anggaran dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang berikut ini :
Menurut M. Munandar (2001:19) jenis-jenis anggaran dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1. Anggaran Operasional
Yaitu anggaran yang berisi taksiran-taksiran tentang kegiatan-kegiatan perusahaan dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang.
2. Anggaran Financial
Yaitu anggaran yang berisi taksiran-taksiran tentang keadaan atau posisi financial perusahaan pada suatu saat tertentu di masa yang akan datang.
Menurut Jajuk Herawati dan Sunarto (2004:9) berdasarkan ruang lingkup dan fleksibilitasnya ataupun periode waktunya anggaran dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1. Berdasarkan ruang lingkup penyusunannya, anggaran dibedakan menjadi : a. Anggaran Parsial
Yaitu anggaran yang ruang lingkupnya terbatas, misalnya anggaran untuk bidang produksi atau bidang keuangan saja.
b. Anggaran Komperhensif
Yaitu anggaran dengan ruang lingkup menyeluruh, karena jenis kegiatannya meliputi seluruh aktivitas perusahaan di bidang marketing, produksi, keuangan, personalia dan administrasi.
2. Berdasarkan fleksibilitasnya, anggaran dibedakan menjadi : a. Anggaran Tetap (Fixed Budget)
Yaitu anggaran yang disusun untuk periode tertentu dengan volume yang sudah tertentu dan berdasarkan volume tersebut disusun rencana mengenai revenue, cost, dan expenses.
b. Anggaran Kontinyu (Continue Budget)
Yaitu anggaran yang disusun untuk periode waktu tertentu, dengan volume tertentu dan berdasarkan volume tersebut diperkirakan besarnya revenue, cost, dan expenses, namun secara periodik dilakukan penilaian kembali.
3. Berdasarkan periode waktu, anggaran dibedakan menjadi : a. Anggaran Jangka Pendek (1 tahun)
Yaitu anggaran yang dibuat dengan jangka waktu paling lama sampai satu tahun. Anggaran untuk keperluan modal kerja merupakan anggaran jangka pendek.
b. Anggaran Jangka Panjang (lebih dari 1 tahun)
Yaitu anggaran yang dibuat untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Anggaran untuk keperluan investasi barang modal merupakan anggaran jangka panjang.
Sedangkan menurut M. Nafarin (2004:31) jenis-jenis anggaran adalah sebagai berikut:
1. Menurut dasar penyusunannya, anggaran terdiri dari : a. Anggaran Variabel
Yaitu anggaran yang disusun berdasarkan interval kapasitas tertentu dan pada intinya merupakan suatu seri anggaran yang dapat disesuaikan pada tingkat-tingkat aktivitas yang berbeda, anggaran variabel disebut juga dengan anggaran fleksibel.
b. Anggaran Tetap
Yaitu anggaran yang disusun berdasarkan suatu tingkat kapasitas tertentu, anggaran tetap disebut juga dengan anggaran statis.
2. Menurut cara penyusunannya, anggaran terdiri dari : a. Anggaran Periodik
Yaitu anggaran yang disusun untuk satu periode tertentu, pada umumnya periode ini satu tahun yang disusun setiap akhir periode anggaran.
b. Anggaran Kontinyu
Yaitu anggaran yang dibuat untuk mengadakan perbaikan anggaran yang pernah dibuat.
3. Menurut jangka waktunya, anggaran terdiri dari : a. Anggaran Jangka Pendek
Yaitu anggaran yang dibuat dalam jangka waktu paling lama satu tahun.
b. Anggaran Jangka Panjang
Yaitu anggaran yang dibuat lebih dari satu tahun anggaran.
4. Menurut bidangnya, anggaran terdiri dari : a. Anggaran Operasional
Yaitu anggaran untuk menyusun anggaran laporan rugi laba yang terdiri dari :
a) Anggaran penjualan
b) Anggaran biaya pabrik, diantaranya terdiri dari : 1) Anggaran biaya bahan baku
2) Anggaran biaya tenaga kerja langsung 3) Anggaran biaya overhead pabrik c) Anggaran bebas usaha
d) Anggaran laporan laba rugi b. Anggaran Keuangan
Yaitu anggaran untuk menyusun anggaran neraca yang terdiri dari : 1) Anggaran kas
2) Anggaran piutang 3) Anggaran persediaan 4) Anggaran hutang 5) Anggaran neraca
5. Menurut kemampuannya menyusun, anggaran terdiri dari : a. Anggaran Komprehensif
Yaitu rangkaian dari berbagai macam anggaran yang disusun secara lengkap.
b. Anggaran Partial
Yaitu anggaran yang disusun tidak secara lengkap yang hanya bagian tertentu saja.
6. Menurut fungsinya, anggaran terdiri dari : a. Appropriation budget
Anggaran yang diperuntukkan bagi tujuan tertentu dan tidak boleh digunakan untuk manfaat lain.
b. Performance budget
Anggaran yang disusun berdasarkan fungsi aktivitas yang dilakukan dalam perusahaan utuk menilai apakah biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing aktivitas tidak melampaui batas.
Menurut M. Munandar (2001:19) menyebutkan isi anggaran secara garis besar terdiri atas :
1. Anggaran Taksiran
Yaitu anggaran yang berisi taksiran-taksiran kegiatan perusahaan dalam periode tertentu di masa yang akan datang. Serta taksiran-taksiran tentang keadaan atau posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu di masa yang akan datang.
2. Anggaran Variabel
Yaitu anggaran yang berisi tingkat perubahan biaya atau tingkat variabilitas biaya, khususnya biaya semi variabel, sehubungan dengan adanya perubahan produktivitas perusahaan.
3. Analisis Statistika dan Matematika Pembantu.
Yaitu analisis yang dipergunakan untuk membuat taksiran-taksiran serta yang dipergunakan untuk mengadakan penelitian dalam rangka mengadakan pengawasan kerja.
2.2.3 Tujuan dan Manfaat Anggaran
Adapun tujuan-tujuan dan manfaat anggaran yang dikemukakan oleh para ahli ekonomi sebagai berikut :
Menurut M. Nafarin (2004:19) tujuan dan manfaat anggaran adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Penyusunan Anggaran
Ada beberapa tujuan disusunnya anggaran, antara lain :
a. Untuk digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dalam penggunaan dana
b. Untuk mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan digunakan c. Untuk merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis penggunaan
dana, sehingga dapat mempermudah pengawasan
d. Untuk merasionalkan sumber dan penggunaan dana agar dapat mencapai hasil yang maksimal
e. Untuk menyempurnakan rencana yang telah disusun, karena dengan anggaran lebih jelas dan nyata terlihat
f. Untuk menampung dan menganalisa serta memutuskan setiap usulan yang berkaitan dengan keuangan
2. Manfaat Penyusunan Anggaran :
a. Segala kegiatan dapat terarah pada pencapaian tujuan bersama
b. Dapat digunakan sebagai alat menilai kelebihan dan kekurangan pegawai c. Dapat memotivasi pegawai
d. Dapat menimbulkan tanggung jawab tertentu pada pegawai e. Mengindari pemborosan dan pembayaran yang kurang perlu
f. Sumber daya seperti tenaga kerja, peralatan, dan dana dapat dimanfaatkan seefisien mungkin
g. Alat pendidikan bagi para manajer.
Menurut Gunawan Adisaputro (2006:45) mengungkapkan bahwa tujuan dan manfaat anggaran adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Penyusunan Anggaran Tujuan Umum :
a. Ekonomis Financial
Berupa peranan yang diinginkan oleh perusahaan sebagai lembaga yang bergerak di bidang ekonomi. Financial, berupa mencari keuntungan sebagai persyaratan agar perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.
b. Konsumen
Bahwa produk yang dihasilkan harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen, memelihara hubungan baik dengan konsumen.
c. Pemilik Modal
Menjalin hubungan yang baik dengan kaum pemilik modal agar tetap setia memberikan modalnya.
Tujuan Khusus : a. Produk
Misalnya perusahaan ingin dikenal sebagai produsen produk-produk bermutu.
b. Luas daerah pemasaran yang ingin dicapai, nasional atau regional c. Return On Investment tertentu.
2. Manfaat Penyusunan Anggaran
a. Sebagai alat perencanaan dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai perusahaan
b. Sebagai alat pengawasan untuk menghindari pemborosan dan pembayaran yang kurang perlu.
Sedangkan menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:6) tujuan dan manfaat anggaran adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Penyusunan Anggaran
a. Untuk menyatakan harapan/sasaran perusahaan secara jelas dan formal, sehingga bisa menghindari kerancuan dan memberikan arah terhadap apa yang hendak dicapai manajemen
b. Untuk mengkomunikasikan harapan manajemen kepada pihak-pihak terkait sehingga anggaran dimengerti, didukung, dan dilaksanakan c. Untuk menyediakan rencana rinci mengenai aktivitas dengan maksud
mengurangi ketidakpastian dan memberikan pengarahan yang jelas bagi individu dan kelompok dalam upaya mencapai tujuan perusahaan
d. Untuk mengkoordinasikan cara/metode yang akan ditempuh dalam rangka memaksimalkan sumber daya
e. Untuk menyediakan alat pengukur dan mengendalikan kinerja individu dan kelompok, serta menyediakan informasi yang mendasari perlu tidaknya tindakan koreksi.
2. Manfaat Penyusunan Anggaran 1. Di bidang Planning
a. Membantu manajemen meneliti dan mempelajari segala masalah yang berkaitan dengan aktivitas yang akan dilaksanakan
b. Membantu mengarahkan seluruh sumber daya yang ada di perusahaan dalam menentukan arah atau aktivitas yang paling menguntungkan c. Membantu arah atau menunjang kebijaksanaan perusahaan
d. Membantu manajemen memilih tujuan perusahaan e. Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia f. Membantu pemakaian alat-alat fisik secara lebih efektif.
2. Di bidang Coordinating
a. Membantu mengkoordinir faktor sumber daya manusia dengan perusahaan
b. Membantu menilai kesesuaian antara rencana aktivitas perusahaan dengan keadaan lingkungan usaha yang dihadapi
c. Membantu menempatkan pemakaian modal pada saluran-saluran yang menguntungkan sesuai dan seimbang dengan program perusahaan
d. Membantu mengetahui kelemahan dalam organisasi.
3. Di bidang Controlling
a. Membantu mengawasi kegiatan dan pengeluaran b. Membantu mencegah pemborosan
c. Membantu menetapkan standar baru.
2.2.4 Kegunaan dan Keterbatasan Anggaran
Kegunaan dan keterbatasan anggaran dapat diklasifikasikan dari beberapa sudut pandang berikut ini :
Menurut M. Munandar (2001:10), anggaran mempunyai kegunaan pokok yaitu :
1. Sebagai Pedoman Kerja
Anggaran berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arah serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan di waktu yang akan datang.
2. Sebagai Alat Pengkoordinasian
Anggaran berfungsi sebagai alat untuk pengkoordinasian kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat di dalam perusahaan dapat saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik, untuk menuju ke arah sasaran yang telah ditetapkan.
3. Sebagai Alat Pengawasan Kerja
Anggaran berfungsi sebagai tolak ukur, sebagai pembanding untuk menilai (evaluasi) realisasi kegiatan perusahaan.
Keterbatasan-keterbatasan dari anggaran antara lain :
1. Anggaran disusun berdasarkan taksiran-taksiran.
Sebaik apapun taksiran yang dibuat, namun sulit untuk mendapatkan taksiran yang benar-benar akurat dan sama sekali tidak berbeda dengan kenyataan nanti
2. Taksiran-taksiran dalam anggaran disusun dengan mempertimbangkan berbagai data, informasi dan faktor-faktor tertentu. Dengan demikian, jika nantinya terjadi perubahan-perubahan terhadap data, informasi serta faktor- faktor tersebut, akan berubah pulalah ketepatan taksiran-taksiran yang telah disusun tersebut
3. Berhasil atau tidaknya pelaksanaan anggaran sangat tergantung pada manajer selaku pelaksanaannya. Anggaran hanya alat untuk membantu tugas manajer dalam melaksanakannya bukan mengantikannya.
Menurut Gunawan Adisaputro (2006:50) mengemukakan bahwa anggaran mempunyai kegunaan dan keterbatasan sebagai berikut :
Kegunaan anggaran antara lain : 1. Dalam bidang perencanaan :
a. Membantu atau menunjang kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan
b. Menentukan tujuan-tujuan perusahaan
c. Membantu menstabilkan kesempatan kerja yang tersedia
d. Membantu menyokong tujuan akhir perusahaan yaitu keuntungan yang maksimum.
2. Dalam bidang koordinasi :
a. Membantu mengkoordinasikan faktor manusia dengan perusahaan b. Menghubungkan aktivitas perusahaan dengan trend dalam dunia usaha c. Menempatkan penggunaan modal pada saluran-saluran yang
menguntungkan, dalam arti seimbang dengan program-program perusahaan d. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dalam organisasi.
3. Dalam bidang pengawasan :
a. Untuk mengawasi kegiatan-kegiatan dan pengeluaran-pengeluaran perusahaan
b. Untuk pencegahan secara umum pemborosan-pemborosan pada perusahaan.
Keterbatasan-keterbatasan anggaran antara lain :
Walaupun terdapat manfaat yang diperoleh dengan penyusunan anggaran, tetapi masih terdapat keterbatasan-keterbatasan anggaran. Keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Anggaran didasarkan pada estimasi atau proyeksi atas kegiatan yang akan datang, ketepatan dari estimasi sangat tergantung kepada pengalaman dan kemampuan dari estimator atau proyektor, ketidak tepatan anggaran berakibat tidak dapat dipakai sebagai alat perencanaan, koordinasi, dan pengawasan baik
2. Anggaran harus selalu disesuaikan dengan perubahan kondisi dan asumsi.
Anggaran disusun atas dasar kondisi dan asumsi tertentu, oleh karena itu perubahan kondisi dan asumsi yang mendasari penyusunan anggaran mengharuskan adanya revisi anggaran agar anggaran tersebut dapat digunakan sebagai alat pengendalian. Perubahan kondisi dan asumsi misalnya dapat berupa : laju inflasi atau kebijakan pemerintah di bidang ekonomi
3. Anggaran dapat dipakai sebagi alat pengendalian biaya hanya apabila semua pihak, terutama manajer-manajer perusahaan, secara terus menerus secara terkoordinir berusaha dan bertanggung jawab atas tercapainya tujuan yang telah ditentukan di dalam anggaran
4. Semua pihak di dalam perusahaan perlu menyadari bahwa anggaran adalah alat untuk mengendalikan biaya, akan tetapi tidak dapat menggantikan fungsi manajemen dan penilaian manajemen masih diperlukan atas dasar pengetahuan dan pengalamannya.
Selain itu keterbatasan-keterbatasan anggaran antara lain :
1. Karena anggaran disusun berdasarkan estimasi (potensi penjualan, kapasitas produksi, dan lain-lain), maka terlaksananya dengan baik kegiatan-kegiatan tergantung pada ketepatan estimasi tersebut
2. Anggaran hanya merupakan rencana, dan rencana tersebut baru berhasil apabila dilaksanakan sungguh-sungguh
3. Anggaran hanya merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk membantu manajer dalam melaksanakan tugasnya, bukan menggantikannya
4. Kondisi yang terjadi tidak selalu seratus persen sama dengan yang diramalkan sebelumnya, karena itu anggaran perlu memiliki sifat yang luwes.
2.2.5 Syarat-syarat Penyusunan Anggaran
Karena anggaran dapat dimanfaatkan sebaik mungkin, maka anggaran yang baik harus memenuhi persyaratan, syarat-syarat tersebut adalah :
1. Adanya organisasi perusahaan yang sehat
Yaitu organisasi yang membagi tugas dengan jelas dan menentukan garis wewenang dan bertanggung jawab yang jelas.
2. Adanya sistem yang memadai Yaitu uang meliputi :
a. Penggolongan rekening yang sama antara anggaran dengan realisasinya sehingga dapat dibandingkan dan dihitung penyimpangan
b. Pencatatan akuntansi dapat memberikan informasi mengenai realisasi anggaran
c. Laporan didasarkan pada akuntansi pertanggung jawaban.
3. Adanya dukungan para pelaksana, karena anggaran dapat menjadi pengendalian yang baik jika ada dukungan dari para pelaksana dari tingkat atas maupun tingkat bawah.
Menurut Any Agus Kana (2003:5) syarat-syarat penyusunan anggaran adalah sebagai berikut :
1. Anggaran perusahaan harus bersifat realistis, dalam arti bahwa anggaran perusahaan itu tidak terlalu optimis dan tidak pula terlalu pesimis
2. Anggaran perusahaan harus bersifat luwes, yang berarti bahwa anggaran perusahaan tidak terlalu kaku sehingga berpeluang untuk disesuaikan dengan keadaan yang mungkin berubah
3. Anggaran perusahaan harus bersifat kontinyu, dalam arti bahwa anggaran perusahaan memerlukan perhatian secara terus-menerus dan bukan merupakan suatu usaha yang bersifat insidental
4. Perusahaan yang menyusun anggaran perusahaan harus mampu :
a. Mengendalikan berbagai relevan variabel dalam mencapai tujuannya b. Melaksanakan sistem manajemen ilmiah
c. Berkomunikasi secara efektif
d. Memberikan motivasi kepada para anggota e. Mendorong terciptanya partisipasi.
Menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:4) dalam penyusunan anggaran harus diperhatikan syarat-syarat sebagai berikut :
1. Realistis, artinya sangat mungkin untuk dicapai
2. Luwes, artinya tidak kaku sehingga terdapat peluang untuk perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi
3. Kontinyu, artinya bahwa anggaran perusahaan memerlukan perhatian secara terus-menerus dan bukan merupakan suatu usaha yang bersifat insidental.
2.2.6 Metode dan Prosedur Penyusunan Anggaran Penyusunan anggaran dapat dilakukan dengan cara:
1. Top Down
Anggaran disusun dan ditetapkan sendiri oleh pimpinan perusahaan dan anggaran inilah yang harus dilaksanakan bawahan tanpa keterlibatan bawahan dalam penyusunannya.
2. Top Up
Anggaran disusun berdasarkan hasil keputusan karyawan, anggaran disusun mulai dari bawahan sampai ke atasan. Bawahan diserahkan sepenuhnya menyusun anggaran yang akan dicapainya di masa yang akan datang.
3. Top Down dan Bottom Up
Penyusunan anggaran dengan memulainya dari atas dan kemudian adalah selanjutnya dilengkapi dan dilanjutkan oleh karyawan bawahan.
Dalam penyusunan anggran yang berwenang dan bertanggung jawab adalah pimpinan perusahaan. Hal ini disebabkan karena pimpinan tertinggi perusahaan yang paling berwenang dan bertanggung jawab atas seluruh kegiatan perusahaan.
Dengan demikian tugas menyiapkan dan menyusun anggaran pendapatan dan biaya tidak harus ditangani sendiri oleh pimpinan perusahaan, melainkan dapat didelegasikan kepada bagian lain dalam perusahaan yaitu prosedurnya sebagai berikut :
1. Bagian Administrasi
Kegiatan perusahaan tidak terlalu kompleks, sederhana dengan ruang lingkup yang terbatas, sehingga tugas penyusunan anggaran pendapatan dan biaya dapat diserahkan kepada bagian administrasi perusahaan. Penunjukkan bagian administrasi ini (dan bukannya bagian pemasaran, bagian produksi atau bagian yang lain dalam perusahaan) dilakukan dengan pertimbangan bahwa dari bagian administrasi inilah terkumpul semua data-data dan informasi yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan, baik kegiatan di bidang pemasaran,
kegiatan di bidang produksi, kegiatan di bidang pembelanjaan maupun kegiatan di bidang personalia.
2. Panitia Anggaran
Bagi perusahaan besar kegiatan-kegiatan perusahaan cukup luas, sehingga bagian administrasi tidak mungkin akan menyusun anggaran sendiri tanpa partisipasi secara aktif bagian-bagian lain dalam perusahaan. Panitia anggaran ini biasanya diketahui oleh pimpinan perusahaan dengan anggota-anggotanya yang mewakili bagian pemasaran, bagian produksi, bagian pembelanjaan, dan bagian personalia.
Adapun prosedur penyusunan anggaran dikelompokkan oleh beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut :
Dalam penyusunan anggaran, menurut M. Munandar (2001:17) yang berwenang dan bertanggung jawab atas penyusunan anggaran serta kegiatan penganggaran lainnya adalah di tangan pimpinan tertinggi perusahaan. Hal tersebut disebakan karena pimpinan tertinggi perusahaanlah yang paling berwenang dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan secara keseluruhan.
Namun dalam menyiapkan dan menyusun anggaran serta kegiatan-kegiatan penganggaran lainnya tidak harus ditangani sendiri oleh pimpinan tertinggi perusahaan, melainkan dapat didelegasikan kepada bagian lain dalam perusahaan.
Menurut Gunawan Adisaputro (2006:47) mengemukakan bahwa prosedur penyusunan anggaran sebagai berikut :
Dalam garis besarnya, mekanisme penyusunan berjalan paralel dengan pembagian wewenang dan tanggung jawab operasional yang tercermin dalam bagan organisasi perusahaan. Komisi anggaran umumnya berada langsung di bawah direksi, sebab yang utama ialah karena perlunya melibatkan personalia dari beberapa bagian dalam penyusunan maupun pelaksanaan anggaran.
Keanggotaan dari komisi anggaran ini akan meliputi : 1. Salah seorang anggota direksi
2. Manajer Pemasaran 3. Manajer Produksi 4. Manajer Keuangan
5. Manajer Bagian Umum, Administrasi, dan Personalia.
Sedangkan menurut M. Nafarin (2004:9) prosedur penyusunan anggaran adalah sebagai berikut :
1. Tahap penentuan dan pedoman perencanaan anggaran
Sebelum penyusunan anggaran, terlebih dahulu top management melakukan dua hal sebagai berikut :
a. Menetapkan rencana besar perusahaan, seperti tujuan, kebijaksanaan, dan asumsi-asumsi sebagai dasar penyusunan anggaran
b. Membentuk panitia penyusunan anggaran, yang terdiri dari :
Direktur sebagai Ketua, Manajer Keuangan, Sekretaris, dan Manajer Lainnya sebagai Anggota.
2. Tahap persiapan anggaran
Manajer pemasaran sebelum menyusun anggaran terlebih dahulu melakukan penaksiran penjualan.
3. Tahap penentuan anggaran
Pada tahap penentuan anggaran diadakan rapat dari semua manajer beserta direksi (direktur) dengan kegiatan sebagai berikut :
a. Perundingan untuk menyesuaikan rencana akhir setiap komponen anggaran
b. Mengkoordinasi dan menelaah setiap komponen anggaran c. Pengesahan dan pendistribusian anggaran.
4. Tahap pelaksanaan anggaran
Untuk kepentingan pengawasan setiap manajer membuat laporan realisasi anggaran, setelah direalisasi kemudian laporan realisasi anggaran disampaikan pada direksi.
2.2.7 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penyusunan Anggaran
Suatu anggaran dapat berfungsi dengan baik apabila taksiran-taksiran yang termuat di dalamnya cukup akurat, sehingga tidak jauh berbeda dengan
realisasinya nanti. Untuk bisa melakukan penaksiran secara secara lebih akurat, diperlukan berbagai data, informasi dan pengalaman yang merupakan faktor- faktor yang harus dipertimbangkan di dalam menyusun suatu anggaran.
Menurut M. Munandar (2001:11) faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran yaitu :
1. Faktor-faktor Intern
Meliputi data, informasi dan pengalaman yang terdapat di dalam perusahaan sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah :
a. Penjualan tahun-tahun yang lalu
b. Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah harga jual, syarat pembayaran barang yang dijual, pemilihan saluran distribusi dan sebagainya
c. Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan
d. Tenaga kerja yang dimiliki perusahaan, baik jumlahnya (kuantitatif) maupun keterampilan dan keahliannya (kualitatif)
e. Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan
Faktor-faktor intern ini masih dapat mengukur dan menyesuaikan dengan apa yang diingkan untuk masa yang akan datang.
2. Faktor-faktor Ekstern
Yaitu data, informasi dan pengalaman yang terdapat di luar perusahaan, tetapi mempunyai pengaruh terhadap kehidupan perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah :
a. Keadaan persaingan
b. Tingkat pertumbuhan penduduk c. Tingkat penghasilan masyarakat
d. Berbagai kebijaksanaan pemerintah, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan
e. Keadaan perekonomian nasional maupun internasional, kemajuan teknologi, dan sebagainya.
Menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:8) faktor-faktor yang mempengaruhi penyusunan anggaran adalah sebagai berikut :
1. Faktor Intern
Faktor-faktor intern (controllable) antara lain berupa : a. Data penjualan pada tahun-tahun yang lalu
b. Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah harga jual, syarat pembayaran barang yang dijual, promosinya, pemilihan saluran distribusi dan sebagainya
c. Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan d. Tenaga kerja yang dimiliki perusahaan e. Modal kerja yang dimiliki perusahaan
f. Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan
g. Kebijakan-kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perusahaan, baik di bidang pemasaran, produksi, pembelanjaan, administrasi, maupun di bidang personalia.
2. Faktor Ekstern
Faktor-faktor ekstern (uncontrollable) antara lain berupa : a. Keadaan persaingan
b. Tingkat pertumbuhan penduduk c. Tingkat penghasilan masyarakat d. Tingkat penyebaran penduduk
e. Agama, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat
f. Berbagai kebijaksanaan pemerintah, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan
g. Keadaan perekonomian nasional maupun internasional, kemajuan teknologi dan sebagainya.
2.2.8 Prinsip Penyusunan Anggaran
Prinsip-prinsip dasar yang harus dipenuhi dan ditaati agar suatu anggaran dapat disusun dan dilaksanakan menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:9) adalah sebagai berikut :
adalah sebagai berikut :
1. Management Involvement
Keterlibatan manajemen dalam penyusunan rencana mempunyai makna bahwa manajemen mempunyai komitmen yang kuat untuk mencapai segala sesuatu yang direncanakan.
2. Organizational Adaptation
Suatu rencana keuangan harus disusun berdasar struktur organisasi dimana ada ketegasan garis wewenang dan tanggung jawab. Seorang manajer tidak dapat memindahkan tanggung jawab atas suatu pekerjaan walaupun dia dapat melimpahkan sebagian wewenangnya kepada bawahannya.
3. Responsibility Accounting
Agar rencana keuangan dapat dilaksanakan dengan baik, maka harus didukung adanya suatu sistem responsibility accounting yang polanya disesuaikan dengan pertanggung jawaban organisatoris.
4. Goal Orientation
Penetapan tujuan yang realistis akan menjamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang. Jadi konsep management by objective dapat ditetapkan.
5. Full Communication
Suatu perencanaan dan pengendalian dapat berjalan secara efektif apabila antara tingkatan manajemen mempunyai pemahaman yang sama tentang tanggung jawab dan sasaran yang harus dicapai.
6. Realistic Expectation
Dalam perencanaan, manajemen harus menghindari konservatisme dan optimisme yang berlebihan yang menjadikan sasaran tidak dapat dicapai.
Jadi, manajemen harus menerapkan sasaran yang realistis artinya memungkinkan dapat dicapai.
7. Timeliness
Laporan-laporan berupa informasi mengenai realisasi rencana harus diterima oleh manajer yang berkompeten tepat pada waktunya agar informasi tersebut efektif dan berguna bagi manajemen.
8. Flexible Application
Perencanaan tidak boleh kaku tetapi harus terdapat celah untuk perubahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi.
9. Reward and Punishment
Manajemen harus melakukan penilaian kinerja manajer berdasarkan perencanaan yang telah ditetapkan. Jadi manajer yang kinerjanya di bawah atau melebihi standar harus dapat diketahui sehingga pemberian suatu punishment oleh manajemen menjadi transparan.
2.3 Pendapatan
Jika harta yang dimiliki oleh suatu perusahaan mengalami kenaikan, maka berarti perusahaan tersebut mengalami peningkatan atau penambahan pendapatan. Artinya pendapatan adalah peningkatan jumlah aktiva atau penurunan kewajiban yang didapat dari penyerahan barang dagangan/jasa aktivitas usaha lainnya.
2.3.1 Pengertian Pendapatan
Menurut Kamus Istilah Akuntansi (2000:54) pendapatan adalah :
“Hasil yang diperoleh dari penjualan barang-barang dan pemberian jasa-jasa dan dikurangi dengan biaya-biaya untuk memperolehnya. Pendapatan juga mencakup laba atau hasil dari penjualan atau pertukaran akitva-aktiva, bunga dan deviden yang diperoleh atas investasi-investasi, dan penambahan-penambahan lainnya dalam kekayaan sendiri yang timbul dari sumbangan- sumbangan modal dan penyesuaian-penyesuaian modal.”
Adapun pengertian lain mengenai pendapatan menurut Standar Akuntansi Keuangan No.23 (2009:23.2) adalah :
“Arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.”
Pendapatan diakui bila besar kemungkinan manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dan manfaat ini dapat diukur dengan modal.
2.3.2 Pengukuran Pendapatan
Menurut Standar Akuntansi Keuangan No.23 (2009:23.2) pengukuran pendapatan adalah :
1. Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima
2. Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh suatu persetujuan antara perusahaan dan pembeli atau menggunakan aset tersebut. Jumlah tersebut dinilai dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi dengan jumlah diskon dagang dan rabat volume yang diperoleh perusahaan.
Pada umumnya, imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas dan jumlah pendapatan adalah jumlah kas atau setara kas yang diterima atau yang dapat diterima. Nilai wajar itu sendiri adalah suatu jumlah, untuk itu suatu asset mungkin ditukar atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.
2.3.3 Sumber-sumber Pendapatan
Menurut M.Munandar (2000:204), pada dasarnya pendapatan perusahaan dikelompokkan menjadi dua sumber, yaitu :
1. Operating Revenue
Pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan atau koperasi yang berasal dan berhubungan langsung dengan utama pokok perusahaan sesuai dengan jenis usahanya.
2. Non Operating Revenue
Pendapatan yang diperoleh perusahaan yang tidak berasal dan tidak berhubungan dengan usaha utama perusahaan.
2.4 Anggaran Pendapatan
Anggaran pendapatan memproyeksikan anggaran pendapatan perusahaan di masa yang akan datang. Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi anggaran pendapatan perusahaan, yang sebagian besar ada di luar kendali manajemen.
2.4.1 Pengertian Anggaran Pendapatan
Menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:17) pengertian anggaran pendapatan adalah sebagai berikut :
“Anggaran pendapatan adalah anggaran yang berisi rencana pendapatan perusahaan. Anggaran ini mempunyai ketidakpastian yang tinggi, karena anggaran ini lebih bersifat peramalan (forecast).”
2.4.2 Karakteristik Anggaran Pendapatan
Anggaran pendapatan mempunyai beberapa karakteristik sebagai berikut :
1. Anggaran ini dirancang untuk mengukur efektivitas pemasaran, penyimpangan yang tidak menguntungkan dari anggaran ini menunjukkan bahwa volume penjualan atau harga lebih rendah daripada yang diyakini manajemen puncak sebagai sasaran yang pantas
2. Manajemen pemasaran tidak dapat dituntut untuk sepenuhnya bertanggung jawab atas pencapaian sasaran yang dianggarkan seperti halnya dengan anggaran biaya. Banyak ketidakpastian di pasaran yang berada di luar jangkauan manajer ini, terutama dalam jangka pendek. Ini membatasi kegunaan anggaran pendapatan dalam evaluasi manajerial.
2.4.3 Periode Anggaran Pendapatan
Menurut Ellen Christina (2002:15), anggaran pendapatan dibagi menjadi dua yaitu :
1. Anggaran Pendapatan Jangka Panjang (Strategic Sales Plan)
Anggaran jangka panjang biasanya melibatkan analisa yang mendalam dari potensi pasar di masa datang, berdasarkan perubahan populasi penduduk, keadaan ekonomi, proyeksi industri, dan sasaran perusahaan. Umumnya berkisar antara 5 sampai 10 tahun.
2. Anggaran Pendapatan Jangka Pendek (Tactical Sales Plan)
Anggaran jangka pendek merupakan rencana pendapatan perusahaan untuk 1 tahun di muka, yang secara terperinci dibagi dalam triwulan dan dalam bulan untuk setiap kuartal. Anggaran ini disusun dalam bentuk unit fisik dan mata uang, serta terbagi dalam pertanggung jawaban pemasaran (marketing responsibility).
2.4.4 Manfaat Anggaran Pendapatan
Menurut M.Munandar (2000:10) anggaran pendapatan memberikan manfaat bagi para pemakainya, yaitu :
1. Memproyeksikan pendapatan yang akan diterima oleh perusahaan di masa yang akan datang
2. Mengurangi ketidakpastian dari penerimaan kas di perusahaan
3. Adanya koordinasi dan kerja sama antara manajer untuk mencapai target anggaran pendapatan
4. Adanya arahan untuk melaksanakan kegiatan dalam memperoleh pendapatan perusahaan.
2.4.5 Prosedur Penyusunan Anggaran Pendapatan
Mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh dari penggunanaan suatu anggaran pendapatan, maka perlu dilakukan proses penyusunan anggaran induk.
Anggaran induk atau yang umum disebut anggaran komprehensif menurut Tendi Haruman dan Sri Rahayu (2007:15) artinya menyeluruh atau keseluruhan, merupakan jaringan kerja yang terdiri dari beberapa anggaran terpisah yang saling bergantung satu sama lain. Salah satu bentuk kegunaan penyusunan anggaran induk adalah untuk menghitung besarnya modal yang diperlukan oleh perusahaan.
Adapun komponen dan proses dalam penyusunan anggaran induk adalah sebagai berikut :
Menurut Hansen dan Mowen (2004:257) anggaran induk terdiri dari : 1. Anggaran Operasional (Operational Budget)
Yaitu anggaran yang berisi taksiran-taksiran tentang kegiatan perusahaan dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang. Hasil akhir anggaran operasional adalah suatu perkiraan laporan laba rugi.
2. Anggaran Keuangan (Financial Budget)
Yaitu anggaran yang berisi taksiran-taksiran tentang keadaan atau posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu yang akan datang. Posisi keuangan yang diharapkan pada akhir periode anggaran ditunjukkan dalam perkiraan atau proforma neraca. Oleh karena banyak aktivitas keuangan yang tidak dapat diketahui hingga anggaran operasional diketahui, anggaran operasional disarankan terlebih dahulu.
Sedangkan proses dalam penyusunan anggaran induk adalah sebagai berikut :
1. Komite anggaran menyusun prosedur anggaran pendapatan yang menerjemahkan rencana umum ke dalam rumusan operasional tentang sasaran dan program kerja prioritas dan prosedur penyusunan anggaran, asumsi dasar serta skedul kerja/batas waktu
2. Menyetujui prosedur anggaran yang disusun oleh komite anggaran
3. Memberikan laporan realisasi anggaran tahun lalu kepada para kepala pusat pertanggung jawaban operasi
4. Menerima, mengadministrasikan, dan mempelajari konsep anggaran pendapatan dari para kepala pusat pertanggung jawaban operasi
5. Mengkonsolidasi konsep anggaran keuangan dan rekomendasi menjadi anggaran induk
6. Mempelajari, menyetujui, dan menerima anggaran induk yang telah disetujui 7. Menyusun laporan realisasi anggaran induk.
2.5 Biaya
Dalam aktivitas operasional maupun produksi perusahaan, biaya merupakan faktor yang dipertimbangkan perusahaan untuk memenuhi segala kebutuhan aktivitas perusahaan tersebut. Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan merupakan rencana tertulis yang dianggarkan oleh perusahaan untuk memperlancar dan melangsungkan proses operasional atau aktivitas produksi perusahaan. Biaya merupakan semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.
2.5.1 Pengertian Biaya
Menurut Hansen dan Mowen (2004:40), pengertian biaya adalah sebagai berikut :
“Biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa yang akan datang bagi organisasi.”
Pengertian lain tentang biaya menurut Mulyadi (2005:8) adalah :
“Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.”
Adapun pengertian biaya menurut Anak Suryo (2006:24) adalah sebagai berikut :
“Harta atau jasa-jasa yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan dalam satu periode atau dengan kata lain merupakan harta perolehan yang habis dipakai untuk menghasilkan pendapatan.”
2.5.2 Klasifikasi Biaya
Penggolongan biaya menurut Anak Suryo (2006:25) dibagi menjadi tiga jenis, diantaranya adalah :
1. Harga Pokok Penjualan
Merupakan semua pengeluaran dan beban yang dikeluarkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan barang atau jasa yang akan dijual.
2. Biaya Usaha/Operasi
Jenis biaya ini dibagi dalam dua golongan, yaitu : a. Biaya Penjualan
Seluruh biaya yang masuk dalam kelompok ini adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan penjualan barang atau jasa.
Misal : Biaya Promosi, Periklanan, dan lain-lain.
b. Biaya Umum dan Administrasi
Biaya yang dikeluarkan untuk bagian-bagian umum atau lebih pada bagian administrasi. Misal : Biaya Pembelian ATK, Gaji Pegawai, Listrik dan lain-lain.
3. Biaya Lain-lain.
Bagian ini dimuat untuk menampung segala perhitungan yang tidak ada dalam biaya sebelumnya misalnya saja biaya bunga pinjaman atau kerugian-kerugian akibat penjualan aktiva tetap seperti kendaraan atau alat-alat.
Menurut Mulyadi (2005:13), biaya dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara untuk keperluan data yang dapat memenuhi kebutuhan dan dasar tujuan yang hendak dicapai oleh manajemen perusahaan, diantaranya adalah : 1. Biaya menurut objek pengeluaran
Dalam penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya.
2. Biaya menurut kegiatan utama perusahaan a. Biaya Produksi
Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual.
b. Biaya Pemasaran
Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.
c. Biaya Administrasi dan Umum.
Merupakan biaya untuk kegiatan selain pemasaran dan produksi, yaitu biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk.
3. Biaya menurut periode akuntansi
Biaya yang dikeluarkan atas dasar jangka waktu manfaatnya, dibagi menjadi dua yaitu :
a. Pengeluran Modal (Capital Expenditure)
Merupakan pengeluaran yang manfaatnya lebih satu periode akuntansi.
b. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure)
Merupakan pengeluaran yang manfaatnya kurang dari satu periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.
4. Biaya menurut volume produksi dan penjualan
Biaya yang dikeluarkan dalam hubungannya dengan volume produksi atau penjualan terdiri dari :
a. Biaya Variabel (Variable Cost)
Merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh perubahan aktivitas perusahaan.
b. Biaya Semi Variabel (Semi Variable Cost)
Merupakan biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan aktivitas perusahaan.
c. Biaya Semi Tetap (Semifixed Cost)
Merupakan biaya tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.
d. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Merupakan biaya yang besar kecilnya tidak dipengaruhi oleh perubahan aktivitas perusahaan.
5. Biaya menurut objek biaya
Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai atau setiap item dimana biaya diukur dan dibebankan, yang dikelompokkan menjadi dua golongan :
a. Biaya Langsung (Direct Cost)
Yaitu biaya yang dapat diikuti jejaknya pada produk atau item lain. Biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai.
b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost)
Yaitu biaya yang tidak dapat diikuti jejaknya pada pada pusat produk atau item lainnya. Biaya yang terjadinya tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai.
2.6 Realisasi Anggaran
Laporan anggaran, yaitu tentang realisasi pelaksanaan anggaran yang dilengkapi dengan berbagai analisis perbandingan antara anggaran dengan realisasinya, sehingga dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan, baik yang bersifat menguntungkan maupun yang bersifat merugikan, sehingga dapat ditarik kesimpulan dan beberapa tindak lanjut yang segera perlu dilakukan.
Laporan anggaran, yaitu tentang realisasi pelaksanaan anggaran yang dilengkapi dengan berbagai analisis perbandingan antara anggaran dengan realisasinya, sehingga dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan, baik yang bersifat menguntungkan maupun yang bersifat merugikan, sehingga dapat ditarik kesimpulan dan beberapa tindak lanjut yang segera perlu dilakukan.
Laporan realisasi anggaran pendapatan adalah laporan yang menyajikan informasi realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus atau defisit, dan pembiayaan sisa
lebih atau kurang pembiayaan anggaran yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.
2.6.1 Pengertian Laporan Realisasi Anggaran
Menurut Kamus Istilah Akuntansi (2000:697) realisasi adalah :
“Pengakuan penerimaan pada waktu penjualan barang oleh bisnis eceran atau pada waktu jasa diberikan oleh badan usaha yang bergerak di bidang jasa.”
Pada saat realisasi, proses pendapatan adalah lengkap karena transaksi telah diwujudkan, harga jual dapat ditentukan, biaya penjualan diketahui, dan biaya-biaya masa mendatang bisa diperkirakan dengan akurat.
2.6.2 Tujuan Pelaporan Realisasi Anggaran
Menurut M.Nafarin (2004:19) tujuan pelaporan realisasi anggaran adalah memberikan informasi tentang realisasi dan anggaran entitas pelaporan secara periodik. Laporan realisasi anggaran disajikan sedemikian rupa untuk menunjukan tingkat tercapainya target-target yang telah disepakati sehingga menonjolkan berbagai unsur biaya operasional dan pembiayaan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. Laporan realisasi anggaran menyandingkan realisasi biaya operasional dan pembiayaan dengan anggarannya. Laporan realisasi anggaran dijelaskan lebih lanjut dalam catatan atas laporan keuangan yang memuat hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran, seperti kebijakan fiskal dan moneter, sebab-sebab terjadinya perbedaan yang material antara anggaran dan realisasinya, serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut angka- angka yang dianggap perlu dijelaskan.
2.6.3 Manfaat Informasi Realisasi Anggaran
Laporan realisasi anggaran menyediakan informasi mengenai anggaran pendapatan dan biaya pada suatu entitas pelaporan yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya.
Menurut M.Nafarin (2004:19) informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya ekonomi perusahaan, akuntabilitas, dan ketaatan entitas pelaporan terhadap anggaran dengan :
a. Menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi perusahaan
b. Menyediakan informasi mengenai realisasi anggaran secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi kinerja perusahaan dalam hal-hal efisien dan efektivitas penggunaan perusahaan.
Laporan realisasi anggaran menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi sumber daya ekonomi yang akan diterima untuk menandai kegiatan perusahaan dalam periode mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komparatif. Laporan realisasi anggaran dapat menyediakan informasi kepada para pengguna laporan tentang indikasi perolehan dan penggunaan sumber daya ekonomi perusahaan.