• Tidak ada hasil yang ditemukan

pembahasan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "pembahasan"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemanfaatan data merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan jaminana layanan kesehatan. Data adalah catatan tentang sesuatu, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif yang diproses menjadi informasi, kemudian digunakan sebagai petunjuk dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan informasi, kita dapat mempelajari fakta-fakta yang ada, kemudian membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi tersebut.

Tujuan pengumpulan data dan pemanfaatan data dalam konteks jaminan mutu layanan kesehatan adalah untuk memantau dan mengendalikan proses dan menganalisis hal-hal yang tidak sesuai. Jaminan mutu layanan kesehatan merupakan aktivitas teknis dan manajerial yang digunakan untuk mengukur karakteristik mutu dari keluaran, baik itu output maupun outcome yang diinginkan serta melakukan perbaikan yang tepat apabila terjadi kesenjangan antara kinerja actual dengan standar layanan kesehatan yang diterapkan. Agar dapat selalu memenuhi harapan pasien dan atau masyarakat, layanan kesehatan harus selalu memenuhi harapan pasien, layanan kesehatan harus selalu melaksanakan peningkatan mutu yang berkesinambungan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu Data Dan Jaminan Mutu Layanan Kesehatan ?

2. Bagaimana Penggunaan Data Dalam Siklus Pemecahan Masalah Mutu ?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada mahasiswa, dan melalui makalah ini kita bisa mengetahui tentang apa itu Data Dan Jaminan Mutu Layanan Kesehatan serta bagaimana Penggunaan Data Dalam Siklus Pemecahan Masalah Mutu.

(2)

PEMBAHASAN

2.1 Data Dan Jaminana Mutu Layanan Kesehatan a. Data Dan Informasi

Keberhasilan penerapan jaminan mutu layanan kesehatan sangat bergantung pada ketersediaan informasi yang tepat waktu dan akurat yang dapat digunakan.

Apakah informasi itu ? informasi adalah hasil pengumpulan data setelah data itu diolah dianalisis dan diinterpretasi. Suatu keputusan baru dapat dibuat setelah informasi yang diperlukan tersedia. ketetapan suatu keputusan yang diambil akan bergantung pada keakuratan informasi yang tersedia dan ketersediaan informasi yang tepat waktu. Data yang terdapat dalam tabel 1. adalah berat badan bayi yang lahir di Puskesmas Sumber Waras dalam gram selama bulan Januari dan Februari tahun 1999.

Berdasarkan rata-rata hitung berat badan bayi yang lahir pada bulan Januari dan Februari informasi yang diperoleh antara lain :

1. Dalam bulan Januari rata-rata berat badan bayi lahir adalah 2933 gram.

2. Dalam bulan Februari rata-rata berat badan bayi lahir adalah 2700 gram .

3. Dalam bulan Februari rata-rata berat badan bayi lahir Mengalami penurunan.

Table 1. Berat Badan Bayi (dalam gram)

Januari Februari

3500 2700

3300 2200

2800 2900

3400 3100

2200 2400

2900 2400

3100 2800

2400 3100

2800

26.400 21.600

b. Sumber Dan Jenis Data

(3)

kesehatan merupakan salah satu mata rantai kegiatan yang paling lemah Oleh sebab itu sumber jenis data dan metode perolehan data perlu dijelaskan. Data yang berada di lingkungan Puskesmas dapat berasal dari rekam medic, catatan Puskesmas, catatan dan laporan Puskesmas, pasien, petugas Puskesmas, masyarakat dan sebagainya. Data juga dapat dibagi menjadi dua jenis data kualitatif dan data kuantitatif Selain itu data juga dapat dikelompokkan berdasarkan metode pengumpulannya antara lain :

1. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya misalnya keluhan pasien atau hasil wawancara dengan pasien. 2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh tidak langsung dari

sumbernya misalnya diambil dari rekam medik laporan Puskesmas atau catatan Puskesmas.

3. Data saling silang atau Cross sectional data yaitu data yang dikumpulkan pada suatu saat tertentu misalnya jumlah pasien Pada hari Kamis atau Jumlah kelahiran pada tanggal 3 Februari 1999. 4. Data longitudinal yaitu data yang dikumpulkan dari waktu ke

waktu misalnya jumlah kasus diare 3 bulan berturut-turut jumlah layanan arti Natal setiap bulan dalam tiga tahun berturut-turut data longitudinal dapat digunakan untuk melihat kecenderungan pola penyakit musiman atau data di luar Kisaran.

c. Besar Sampel

Ada beberapa rumus yang dapat digunakan untuk menentukan besar sampel pengumpulan data . Besar sampel dalam penggunaan siklus pemecahan masalah mutu layanan kesehatan tidak terlalu penting karena pendekatan jaminan mutu layanan kesehatan bukan kegiatan penelitian atau riset.

Kumpulkan data sampai Anda yakin bahwa anda telah memahami pola jawaban yang terkumpul sehingga dapat membuat suatu keputusan Adakalanya diperlukan 15 sampel saja tetapi ada kalanya juga diperlukan 100 sampel atau lebih. Besar sampel dapat ditentukan berdasarkan variasi data dan jenis keputusan yang akan dibuat. Apabila tidak ada variasi jawaban pengumpulan data tidak perlu banyak. Pengumpulan data dapat dihentikan Jika data telah menunjukkan arah suatu keputusan yang jelas contoh seorang pasien diberi obat cotrimoxazole Sore harinya Pasien itu datang ke Puskesmas dengan keluhan gatal pada seluruh badan disertai wajah yang bengkak akibat reaksi minum obat cotrimoxazole.

Agar pengumpulan data dapat dilakukan dengan mudah dan data yang terkumpul tertata sesuai kebutuhan diperlukan suatu instrumen pengumpulan data yaitu :

(4)

3. Kuesioner atau (Questionnaires) dengan bentuk pertanyaan yang jelas atau spesifik dalam kalimat yang sederhana dan tidak memberikan pengertian ganda serta tidak sugestif.

d. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data yang berbentuk kuesioner ada tiga macam antara lain kuesioner tertutup atau close ended kuesioner terbuka atau Open ended dan kuesioner kombinasi.

1. Kuesioner tertutup, pada kuesioner tertutup responden hanya akan memilih jawaban yang telah disediakan misalnya benar atau salah sering jarang tidak pernah ya atau tidak pengolahan dan analisis data yang dikumpulkan dengan kuesioner tertutup atau close ended relatif lebih mudah karena dapat dikuantifikasikan.

2. Kuesioner terbuka pada kuesioner terbuka responden harus memberikan uraian dari Jawaban pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner sehingga data yang terkumpul relative akan lebih sulit dianalisis.

3. Kuesioner kombinasi dengan membuat kuesioner gabungan yang terdiri dari kuesioner tertutup dan ke-9 terbuka informasi yang diperoleh akan lebih luas data dapat dikumpulkan dengan berbagai cara-cara pengumpulan data yang akan digunakan akan disesuaikan dengan tujuan pengumpulan data dan data apa yang akan diinginkan serta sumber data apa yang diperlukan.

e. Pengamatan langsung.

Data yang diperoleh dari pengamatan langsung merupakan data yang relatif paling baik pengamatan langsung ini dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu:

1. Pengamatan langsung dengan daftar tilik , cara ini sangat lazim digunakan untuk melihat apakah telah terjadi suatu penyimpangan misalnya penyimpangan terhadap prosedur atau standar layanan kesehatan.

2. Pengamatan langsung tanpa daftar tilik, cara ini kurang baik sebab hasil pengamatannya akan menjadi sangat subjektif dan kemungkinan besar setiap pengamat akan memberikan hasil pengamatan yang berbeda sehingga akan menyulitkan dalam membuatkesimpulannya.

(5)

kesehatan terhadap standar layanan kesehatan dari sudut pandang pasien.

f. Pemeriksaan kartu rekam medik.

Rekam medik pasien Puskesmas seringkali tidak lengkap dan tidak akurat namun suatu rekam medik selalu dapat memberikan informasi yang bermanfaat mengenai mutu layanan kesehatan misalnya kesalahan diagnosis kesalahan pengobatan berhenti atau terputusnya suatu pengobatan kegagalan pengobatan pada penyakit kronis gagalnya rencana pemeriksaan ulang atau tindak lanjut yang telah dijatuhkan kelengkapan data dan tidak terlaksananya rujukan pasien.

g. Wawancara

Wawancara adalah salah satu cara pengumpulan data Dengan melakukan tanya jawab pada seseorang atau sekelompok orang atau responden untuk meminta pendapat atau keterangan mengenai sesuatu hal yang dianggap perlu dan penting, ada dua macam wawancara : 1. Wawancara perorangan wawancara perorangan digunakan untuk

mengetahui pengetahuan sikap dan perilaku perorangan.

2. Wawancara kelompok, iyalah wawancara yang dilaksanakan kepada sekelompok responden lima sampai 10 orang wawancara kelompok tidak dapat digunakan untuk memberi informasi pribadi pendapat atau tanggapan pribadi data kuantitatif serta informasi yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh penerimaan masyarakat atau kelompok.

(6)

Di puskesmas banyak sekali data yang telah terkumpul tetapi jarang sekali atau hampir tidak pernah digunakan untuk pengambilan keputusan data tersebut sebaiknya dapat digunakan untuk pemantauan kecenderungan pemanfaatan puskesmas perubahan mendadak dari kejadian penyakit kesinambungan program serta terputus nya atau drop out suatu rencana pengobatan. Data yang dikumpulkan perlu diolah agar menjadi informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan. Pengolahan data adalah kegiatan untuk mengubah data yang terkumpul menjadi suatu bentuk yang dapat dianalisis atau diinterpretasikan. Interpretasi data adalah upaya untuk menggali masalah yang terkandung dalam data sehingga data dapat dimanfaatkan dengan optimal dan upaya itu dilakukan melalui analisis data.

Data yang diolah perlu disajikan dalam bentuk yang mudah dibaca dan mudah disimpulkan. Interprestasi data akan menghasilkan informasi yang merupakan tujuan utama pengumpulan data. Data dapat disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain :

1. Tulisan, 2. Tabel,

3. Grafik. Apabila pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup atau data yang diperoleh dalam bentuk kategori, hasilnya dapat disajikan dalam bentuk grafik.

4. Diagram, misalnya diagram batang, gunanya untuk melihat hubungan antara faktor penyebab terhadap waktu, sedang diagram tebar (scatter diagram), bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara dua variabel dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing, bergantung pada kebutuhan kita.

2.2 Penggunaan Data Dalam Siklus Pemecahan Masalah Mutu

(7)

keputusan. Berdasarkan informasi, kita dapat mempelajari fakta-fakta yang ada, kemudian membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi tersebut.

Tujuan pengumpulan data dan pemanfaatan data dalam konteks jaminan mutu layanan kesehatan adalah untuk memantau dan mengendalikan proses dan menganalisis hal-hal yang tidak sesuai. Jaminan mutu layanan kesehatan merupakan aktivitas teknis dan manajerial yang digunakan untuk mengukur karakteristik mutu dari keluaran, baik itu output maupun outcome yang diinginkan serta melakukan perbaikan yang tepat apabila terjadi kesenjangan antara kinerja actual dengan standar layanan kesehatan yang diterapkan. Agar dapat selalu memenuhi harapan pasien dan atau masyarakat, layanan kesehatan harus selalu memenuhi harapan pasien, layanan kesehatan harus selalu melaksanakan peningkatan mutu yang berkesinambungan.

Dari tiga belas langkah siklus pemecahan masalah mutu layanan kesehatan yang dijelaskan dalam Bab 18, enam langkah diantaranya nmemerlukan kegiatan pengumpulan dan pemanfaatan data dalam pelaksanaannya, yaitu :

a. Identifikasi Masalah b. Pernyataan masalah

c. Pemahaman proses lokasi masalah. d. Pengumpulan data penyebab masalah e. Penentuan penyebab masalah terpilih f. Pemantauan dan evaluasi.

Berikut merupakan penjelasan dari enam langkah tersebut, yaitu : a. Langkah Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah adalah interventarisasi atau pengumpulan segala sesuatu yang dianggap sebagai masalah mutu layanan kesehatan. Setelah semua masalah itu terkumpul, kegiatan dilanjutkan dengan klarifikasi dan konfirmasi terhadap masalah mutu layanan kesehatan yang terkumpul. Adapun langkah-langkah dalam kegiatan klafifikasi masalah, salah satunya adalah melihat kembali apakah masalah mutu yang dikumpulkan tersebut benar-benar marupakan masalah mutu atau tidak. Jika tidak, singkirkan dari kumpulan masalah mutu tesebut, dan pemeriksa apakah terdapat masalah mutu yang mirip atau tumpang tindih. Jika demikian perbaiki masalahnya agar kemiripan dan atau tumpang tindih tersebut dapat dihindarkan atau dihilangkan.

(8)

yang telah lulus klarifikasi tersebut. Data untuk keperluan konfirmasi tersebut dapat berupa data primer dan data sekunder.

Data sekunder, artinya data yang telah ada sehingga tidak perlu mencari data baru, tetapi data itu perlu dikumpulkan misalnya data dalam rekam medik, catatan dan laporan puskesmas. Data primer, artinya datanya belum tersedia sehingga data yang diperlukan harus dicari terlebih dahulu. Pengumpulan data dapat dilakukan melalui pengamatan langsung, wawancara kepuasan pasien, kepuasan petugas puskesmas, keluhan pasien, survey cepat dan lain-lain.

Contohnya : saurat kabar local dalam minggu pertama bulan Februari 1999 memberitakan bahwa dalam lingkungan Kecamatan Sukajadi sejak bulan januari 1999 telah terjadi banyak kematian balita karena menderita batuk dan sesak nafas. Setelah membaca berita yang mengejutkan tersebut, Kepala puskesmas di ibukota kecamatan Sukajadi tentu ingin segera melakukan pemeriksaan terhadap kebenaran atau mengkonfirmasi berita kematian balita tersebut.

Untuk melalukan konfirmasi terhadap berita tersebut, kepala puskesmas perlu melakukan kegiatan sebagai berikut.

1. Memeriksa laporan puskesmas bulan Januari 1999 (bulan lalu) untuk mengetahui apakah benar banyak pasien balita yang menderita batuk dan kesulitan bernafas.

2. Dari jumlah balita yang menderita batuk dan kesulitan bernafas tersebut di cari berapa balita yang tlah didiagnosis menderita pneumonia.

3. Dari pemeriksaan rekam medic, balita yang mempunyai keluhan batuk dan kesulitan bernafas dalam bulan januari 1999, terdapat 19 balita didiagnosis menderita pneumonia.

4. Melalui pemeriksaan rekam medic tersebut dapat ditelusuri bahwa hanya 5 balita yang data berobat kembali ke Puskesmas untuk melakukan tindak lanjut setelah 2 hari berobat di rumah.

5. Sejumlah 3 balita datang kembali berobat ke puskesmas setelah 4 hari. 6. Sejumlah 11 balita tidak pernah datang kembali berobat ke puskesmas

untuk tindak lanjut sesuai standar layanan batuk dan kesulitan bernafas.

Apa penyebab ketidakdatangan 11 balita tersebut ke puskesmas setelah 2 hari berobat di rumah ? apakah baligta meninggal dunia di rumah atau karena penyebab lain ? untuk mengetahui penyebab ketidakhadiran 11 balita di puskesmas, petugas kesehatan melakukan kunjungan rumah pada 11 balita tersebut. Dari hasil kunjungan rumah tersebut dijumpai data berikut :

(9)

3. Sejumlah 2 balita sedang dirawat rumah sakit kabupaten karena menderita pneumonia berat.

Setelah semua data terkumpul, dapat disimpulkan bahwa berita surat kabar tersebut memang benar adanya. Apa yang menyebabkan malapetakan tersebut ? petugas puskesmas dilatih menggunakan standar layanan batuk dan kesulitasn bernafas, tetaoi mengapa masih saja terjadi kematian balita pneumonia, apa yang salah ? sesuai yang tertulis dalam rekam medic tidak seorang pun anak balita itu yang menderita pneumonia berat, tetapi mengapa mereka tidak dibawah kembali berobat ke puskesmas untuk melakukan tindak lanjut setelah 2 hari berobat di rumah agar malapetaka demikian tidak terulang dimasa mendatang, kepala puskesmas perlu memperoleh fakta apa yang menyebabkan para ibu tidak membawa balitanya kembali ke puskesmas untuk melakukan tindak lanjut Untuk mencari fakta penyebab kejadian ini, dilakukan pengamatan terhadap petugas puskesmas yang memberikan layanan kesehatan kepada balita yang menderita batuk dan kesulitan bernafas. Melalui pengamatan langsung, akan di ketahui apakah petugas puskesmas menyampaikan pesan penyuluhan kesehatan agar balita dibawa kembali ke puskesmas untuk diperiksa oleh dokter setelah 2 hari berobat di rumah. Untuk mendapatkan data tersebut, perlu dibuat daftar tilik pengamatan terhadap petugas puskesmas yang sedang menangani balita yang menderita batuk dan kesulitan bernafas.

Table 2.

Balita pneumonia yang datang/tidak datang ke puskesmas untuk tindak lanjut, Januari 1999.

No .

Kembali berobat untuk balita tindak lanjut

Jumlah Anak 1. Setelah 2 hari 5 anak balita 2. Setelah 4 hari 3 anak balita 3. Tidak datang sama sekali 11 anak balita

Table 3. Hasil pengamatan petugas puskesmas dalam menangani kasus batuk dan kesulitan bernafas

No .

Kegiatan Ya Tida

k

(10)

6. Menjelaskan tanda bahaya 50 50 50% 7. Menganjurkan setelah 2 hari kembali 40 60 40% 8. Jika keadaan memburuk segera kembali 60 40 60% Sumber : Dikutip dari Mimeograph Modul Pemanfaatan Data, Pemecahan Masalah Bersumber Daya Tim

Dari data yang terkumpul dalam table 4 dapat disimpulkan bahwa penegakan diagnosis pneumonia telah dilakukan dengan benar, tetapi penyuluhan kesehatan mengenai pengobatan tindak lanjut dan tanda-tanda bahaya pneumonia tidak dilakukan dengan baik. Agar diperolah fakta yang lebih akurat mengenai penyuluhan kesehatan tersebut, dilakukan wawancara terhadap para ibu yang anaknya mendapat diagnosis pneumonia yaitu, pada saat para ibu tersebut hendak meninggalkan puskesmas (exit interview). Sebelumnya, dipersiapkan suatu kuesioner yang sederhana seperti dibawah ini dan hasil wawancara itu terdapat dalam Tabel 2.

Table 4. Hasil wawancara kepada 17 ibu yang anaknya mendapat diagnosis pneumonia 1-27 Februari 1999

No. Pertanyaan Tahu Tidak Tahu

1. Apakah ibu tahu bahwa harus membawa anak ibu kembali ke Puskesmas untuk tindak lanjut ?

5 12

2. Kapan ibu harus membawa anak untuk pemeriksaan tindak lanjut ?

Setelah 2 hari Setelah 2 hari

2

3 12

Dari hasil pengumpulan data wawancara exit terhadap para ibu yang anaknya mendapat diagnosis pneumonia di atas, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan penyebab ketidakdatangan ibu untuk membawa anak balitanya ke Puskesmas setelah 2 hari berobat di rumah ialah karena perawat tidak melakukan penyuluhan kesehatan dengan optimal. Mungkin cara penyampaian penyuluhan kesehatan tidak jelas, terlalu rebut, atau ibu tidak mengerti pesan penyuluhannya, dan lain sebagainya.

b. Langkah pernyataan Masalah

(11)

dan memudahkan penetapan kegiatan untuk mencapai tujuan pemecahan masalah serta pemantauan dan evaluasinya.

Pernyataan masalah tidak boleh menyalahkan seseorang atau menjadikannya “kambing hitam” dan tidak boleh menyebutkan penyebab serta cara pemecahan masalah. Seperti dijelaskan sebelumnya, data yang digunakan dapat berasal dari data sekunder yang bersumber dari laporan puskesmas, rekam medic, dan lain-lain ataupun data primer yang didapat dari pengamatan langsung, wawancara, dan survei.

Berikut ini contoh pernyataan masalah.

1. Pada puskesmas Mayasari selama bulan Januari 1999, 60% dari pasien yang tersangka malaria tidak mau menunggu hasil pemeriksaan sediaan tetes darah tebal. Data diperoleh dari Rekam Medik pasien yang tersangkan menderita malaria selama bulan Januari 1999 pada Puskesmas Mayasari.

2. Seorang bayi meninggal karena tetanus neonarotum dalam bulan Januari 1999 di Desa Karangnyar. Data diperoleh dari laporan kematian/persalinan Desa Karanganyar, bulan januari 1999 yang merupakan salah satu desa di dalam wilayah kerja puskesmas Karanganyar.

3. Hanya 70% ibu hamil yang mendapat vaksinasi TT, dalam tahun 1998 di wilayah kerja puskesmas Karangteruna. Data diperoleh dari laporan pemantauan wilayah setempat imunisasi atau register kohort ibu. c. Langkah Pemahaman Proses Lokasi Masalah

Agar proses lokasi dapat idtentukan terkadang perlu dibuat dahulu suatu bagan alur (flow chart diagramme) layanan kesehatan yang bermasalah tersebut. Bagan alur layanan itu adalah bagan alur yang sekarang digunakan untuk melayani pasien, bukan bagan alur layanan yang ideal atau yang diinginkan. Agar dapat menyususn suatu bagan alur layanan itu harus sudah standardisasikan, artinya hanya bagan alur tersebut satu-satunya yangdigunakan dalam melayani pasien. Yang terpenting ialah bahwa bagan alur layanan itu harus terkait dengan masalah.

Apabila bagan alur layanan yang digunakan dalam melayani pasien bukan satu, tetapi ada beberapa bagan, proses lokasi masalah tidak dapat ditentukan sehingga pemecahan masalah tidak mungkin dilakukan. Ada kalanya setelah sautu bagan alur layanan tersusun, perlu disusun juga bagan alur layanan yang lebih rinci agar proses lokasi masalah yang lebih tepat dapat ditentukan. Data harus dikumpulkan dari setiap simpul bagan alur layanan yang dianggap sebagai lokasi masalah. Pengumpula data tersebut dapat dilakukan antara lain melalui :

1. Pengumpulan data primer, dengan melakukan :

(12)

puskesmas yang sedang melakukan penyuluhan kesehatan kepada beberapa ibu yang sedang membawa anaknya untuk mendapat imunisasi.

b) Wawancara. Contoh masalah ialah pasien yang disangka menderita malaria tidak mau menunggu hasil pemeriksaan sediaan tetes darah tebal yang dilakukan oleh laboratorium puskesmas. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap pasien tersebut, yaitu sewaktu pasien hendak meninggalkan puskesmas (exit interviem). Dalam wawancara, ditanyakan mengapa merak tidak mau menunggu hasil pemeriksaan sediaan tetes darah tebal, padahl hasil pemeriksaan itu sangat penting untuk menentukan pengobatannya. 2. Pengumpulan data sekunder dapat dilakukan melalui pemeriksaan

rekam medic. Contoh masalah ialah hasil pemeriksaan sediaan darah tebal baru dapat selesai dan dapat diambil dari laboratorium puseksmas setelah dua hari. Pemeriksaan rekam medic dilakukan pada semua pasien yang tersangka menderita malaria yang sediaan tetes darah tebalnya diperiksa oleh laboratorium puskesmas. Kemudia perhatikan tanggal dan jam diterimanya sediaan tetes darah tebal tersebut di laboratorium puskesmas dan kapan sediaan darah itu diperiksa oleh petugas laboratorium. Dengan demikian dapat diketahui berapa lama satu sediaan tetes darah tebal harus menunggu sebelum dapat diperiksa oleh petugas laboratorium.

d. Langkah Pengumpulan Data Penyebab Masalah

Kelompok pemecah masalah yang menggunakan teknik curah pendapat dan atau teknik kelompok nominal dengan menggunakan diagram tulang ikan dapat menetukan semua kemungkinan penyebab masalah. Dari daftar penyebab masalah tersebut dapa ditentukan beberapa penyebab masalah yang paling mungkin.

Table 5. Matriks data putus pengobatan TB Paru

Penyebab Yang

Paling Mungkin Pertanyaan Data Sumber Data PengumpulanMetodologi Hasil Setelah 2 bulan

pasien berobat merasa sehat

Berapa pasien TB paru yang merasa sehat setelah 2 bul an berobat ?

Semua pasien drop out TB paru

Wawancara dan kunjungan rumah?

?

Tempat tinggal jauh

Berapa pasien TB paru yang rumahn

Rekam med is

Memeriksa rekam medic,

(13)

ya jauh ? semua pasie n drop out TB

lihat alamat

Obat tidak cukup Berapa pasien TB paru yang tidak cukup mendapat obat ?

-Rekam Medik -stok obat TB

puskesmas

-memeriksa rekam

- stok obat TB di dalam puskesmas ? Penyuluhan kesehatan pasien TB kurang baik

-Berapa penyuluh kesehatan pasien TB?

-Siapa penyuluh kesehatan yang tidak menyuluh pasien TB dengan baik ? -Daftar penyuluh kesehatan pasien TB -Penyuluh kesehatan menyuluh pasien TB paru -Lihat daftar penyuluh kesehatan -pengamatan langsung petugas penyuluhan pasien TB ? ?

Penyebab masalah yang tidak dapat diatasi puskesmas misalnya hambatan seperti jalan buruk, transportasi sulit, kemiskinan, dan tingkat pendidikan rendah, harus disingkirkan daritar penyebab masalah sehingga yang tersisa hanya penyebab yang paling mungkin. Penyebab tersebut kemudia dimasukkan dalam matriks data.

Semua penyebab masalah yang paling mungkin dimasukkan ke dalam kolom paling kiri, pertanyaan data dimasukkan dalam kolom kedua, sumber data dimasukkan dalam kolom ketiga, dan metodologi pengumpulan data dalam kolom keempat, sementara hasilnya dalam kolom kelima. Sebagai contoh akan digunakan masalah putus (drop out) pengobatan pasien TB paru 60%. Penyebab yang paling mungkin antara lain, setelah 2 bulan berobat pasien merasa sehata, tempat tinggalnya jauh, obat TB tidak cukup, dan penyuluhan kesehatan kepada pasien TB paru kurang baik.

Dengan mengumpulkan data melalui matriks data tersebut, setiap penyebab masalah yang paling mungkin dapat dibuktikan atau didukung oleh data. Berdasarkan data tersebut, penyebab masalah terpilih dapat ditentukan dari beberapa penyebab yang mungkin.

e. Langkah Penentuan Penyebab Terpilih

(14)

menentukkan penyebab masalah terpilih dapat juga digunakan matriks data seperti yang dijelaskan sebelumnya.

f. Langkah Pemantauan Dan Evaluasi

Penilaian hasil pemecahan masalah harus dilakukan melalui pengumpulan pemanfaatan data, yaitu bahwa :

1. Jika pemecahan meningkatkan pengetahuan, buktikan apakah telah terjadi penambahan pengetahuan.

2. Jika pemecahannya adalah mengubah perilaku, lakukan pengamatan apakah telah terjadi perubahan perilaku.

3. Jika pemecahannya adalah mengubah prosedur, kaji apakah prosedur telah diubah, kemudian lakukan pengamatan apakah prosedur tersebut telah di terapkan.

4. Jika pemecahannya adalah mendapatkan sumber daya, buktikan apakah sumber daya yang dimaksud telah tersedia.

Cara menilai apakah suatu masalah sudah dipecahkan atau belum tidak termasuk dalam siklus pemecahan masalah mutu layanan kesehatan, kegiatan tersebut akan masuk di dalam langkah pemantauan dan evaluasi penerapan pemecahan masalah. Umumnya data yang sama, yaitu tempat ditemukannya data masalah. Kegiatan pemantauan dan evaluasi itu, antara lain sebagai berikut :

1. Lakukan pengamatan langsung terhadap proses, perhatikan apakah proses dilakukan dengan benar ?

2. Periksa rekam medic, perhatikan apakah sekarang kegiatan telah dilakukan dengan benar (anamnesis, pemeriksaan fisk, klasifikasi/diagnosis, pengobatan/intervensi, penyuluhan kesehatan, rujukan, tindak lanjut, dan lain-lain) ?

3. Baca laporan puskesmas, apakah terjadi peningkatan kinerja puskesmas, seperti cakupan, kesinambungan, dan lain-lain ?

4. Lakukan wawancara dengan pasien untuk membuktikan apakah pengetahuan, sikap atau perilaku pasien berubah kea rah yang diinginkan ?

5. Lakukan wawancara dengan petugas puskesmas, untuk membuktikan apakah pengetahuan, sikap atau perilaku petugas puskesmas berubah kea rah yang dikehendaki ?

(15)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pemanfaatan data merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan jaminana layanan kesehatan. Data adalah catatan tentang sesuatu, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif yang diproses menjadi informasi, kemudian digunakan sebagai petunjuk dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan informasi, kita dapat mempelajari fakta-fakta yang ada, kemudian membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi tersebut.

(16)

3.2 Saran

Hendaknya didalam mengumpulkan data kita harus melihat dengan baik data yang dipilih harus jelas berdasarkan fakta yang terjadi sehingga data yang akan kita kelolah bisa menjadi informasi yang tepat sesuai kebutuhan atau dalam hal ini kita akan memperoleh informasi yang tidak akurat dan tepat karena data yang kita kumpulkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

Gambar

Table 1. Berat Badan Bayi (dalam gram)
Table 4.  Hasil wawancara kepada 17 ibu yang anaknya mendapat diagnosispneumonia 1-27 Februari 1999
Table 5.  Matriks data putus pengobatan TB Paru

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Pedan Klaten. Untuk mendeskripsikan karakteristik balita di wilayah

Keluaran ( Output ) adalah hasil dari suatu penatalaksanaan pneumonia dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan semua balita yang menderita. pneumonia dapat

hubungan antara riwayat status imunisasi dasar tidak lengkap balita dengan kejadian Pneumonia pada balita di Puskesmas Andalas Kota Padang..

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian balita yang menderita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Piyungan Bantul pada bulan Januari 2010 sampai Juni 2010, terpapar oleh

Data – data Kartu Berobat Pasien pada Rekam Medis Puskesmas Medan Labuhan.. Pengertian

Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian balita yang menderita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Piyungan Bantul pada bulan Januari 2010 sampai Juni 2010, terpapar oleh

Hasil dari penelitian ini balita yang status imunisasinya tidak lengkap lebih banyak menderita pneumonia dari pada balita yang status imunisainya lengkap, ini karena kekebalan

Tidak Petugas menanyakan KTP/ KK kepada pasien Petugas mengecek data KTP/KK di e- puskesmas Petugas membuat kartu berobat dan rekam medis baru Petugas mencari berkas rekam