4.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Perikanan Layur di PPN PalabuhanratuSecara geografis, Teluk Palabuhanratu ini terletak di kawasan Samudera Hindia pada posisi 106°10’ - 106°30’ BT dan 6°50’ - 7°30’ LS dengan luas wilayahnya ± 27.210.310 ha. Kisaran suhu di perairan Palabuhanratu berkisar antara 27⁰C - 30⁰C. Tinggi gelombang di Palabuhanratu dapat berkisar antara 1-3 meter. Menurut Pariwono et al. (1988) salinitas di Perairan Palabuhanratu berkisar antara 32,33 – 35,96 ‰ dengan tingkat salinitas tertinggi terjadi pada bulan Agustus, September, dan Oktober, sedangkan salinitas terendah berada pada bulan Mei, Juni, dan Juli.
Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk. Pada periode musim timur (Mei-Agustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat (November-Februari), diantara musim timur dan musim barat terjadi periode peralihan (Wyrtki, 1961 in Anwar 2008) yang disebut musim peralihan timur (Maret-April) dan musim peralihan barat (September-Oktober).
Teluk Palabuhanratu saat ini statusnya telah menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) yang berperan diantaranya sebagai penunjang aktivitas perikanan yang memanfaatkan sumberdaya ikan yang berada di Samudera Hindia. PPN Palabuhanratu juga merupakan tempat pendaratan berbagai jenis ikan, terutama ikan pelagis besar seperti tuna dan cakalang. Ikan layur yang termasuk ikan benthopelagis juga merupakan ikan hasil tangkapan utama di PPN Palabuhanratu. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak PPN Palabuhanratu, pada tahun 1993-1997 ikan layur memiliki nilai ekonomis yang rendah yaitu sekitar Rp 5.000,00 per kilogram. Setelah pihak PPN Palabuhanratu mendatangkan investor asing seperti Korea dan Jepang, nilai ekonomis ikan layur meningkat hingga mampu mencapai Rp 25.000,00 per kilogram. Hal itu dikarenakan negara investor tersebut memanfaatkannya selain sebagai pangan juga dijadikan bahan untuk pembuatan obat bahkan sebagai bahan baku kosmetik. Sehingga saat ini ikan layur menjadi ikan ekonomis penting yang bernilai tinggi.
4.2. Ikan layur (T. lepturus)
4.2.1. Karakteristik ikan layur (T. lepturus)
Ikan layur termasuk ikan benthopelagis yang umumnya berada pada kedalaman 100 – 350 meter (www.fishbase.org) dan seringkali berada pada perairan dangkal berlumpur dan memasuki daerah perairan payau. Ciri-ciri morfologi T. lepturus diantaranya tubuh memanjang dan sangat pipih seperti pita, mulut besar dengan gigi seperti taring, ukuran mata besar dengan diameter mata 5 - 7 kali panjang kepala, sirip punggung tinggi dan panjang dengan jumlah sirip lemah sebanyak 130 – 135. T.
lepturus tidak mempunyai sirip ekor dan sirip perut. Sirip analnya tereduksi menjadi
sejumlah duri terpisah (slit) namun tidak terkubur dalam kulit. T. lepturus mempunyai
slit pada sirip anal kecil dan halus. Panjang maksimum tubuhnya adalah 120 cm, pada
umumnya memiliki panjang tubuh antara 50 - 100 cm (Nakamura & Parin 1993).
Gambar 6. Ikan layur (T. lepturus) (Sumber : dokumentasi pribadi)
Ikan layur juvenil dan dewasanya melakukan migrasi vertikal harian yang berlawanan. Ikan layur dewasa yang berukuran besar biasanya mencari makan ke dekat permukaan pada siang hari dan bermigrasi ke dasar perairan pada malam hari. Juvenil dan ikan layur dewasa berukuran kecil membentuk gerombolan pada kedalaman 100 meter di atas dasar perairan pada siang hari dan menyebar ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan (www.fishbase.org).
4.2.2. Alat tangkap ikan layur di PPN Palabuhanratu
Ikan layur di Palabuhanratu umumnya ditangkap menggunakan pancing ulur dan pancing rawai. Pancing ulur merupakan alat tangkap ikan sederhana berupa seutas tali pancing dengan mata pancing berjumlah sekitar 10 buah yang dipasang secara vertikal dari permukaan hingga ke dasar perairan. Pancing rawai merupakan modifikasi pancing ulur yang dipasang secara horizontal dengan jumlah mata pancing yang lebih banyak. Jumlah mata pancing pada pancing rawai sebanyak 600 – 800 buah dengan panjang tali pancing ± 1-1,5 km. Oleh karena itu, pancing rawai lebih banyak digunakan sekarang ini karena menghasilkan jumlah tangkapan yang lebih banyak dan biaya yang tidak terlalu besar. Ukuran mata pancing yang digunakan yaitu mata pancing nomor 10.
Gambar 7. Alat tangkap ikan layur di PPN Palabuhanratu (Sumber : dokumentasi pribadi)
Perahu yang digunakan untuk menangkap ikan layur di Palabuhanratu dikenal dengan nama kincang. Kincang yang menggunakan motor tempel (gantar) ini berukuran < 6 GT dengan panjang 6-8 meter. Kincang dengan 1 buah gantar biasa menangkap ikan layur di sekitar teluk seperti Karang Hawu, sedangkan kincang dengan 2 buah gantar biasa menangkap lebih ke timur seperti Jampang sampai Ujung Genteng.
Gambar 8 . Perahu penangkapan ikan layur di PPN Palabuhanratu (Sumber : dokumentasi pribadi)
4.2.3. Musim penangkapan ikan layur di PPN Palabuhanratu
Musim penangkapan ikan layur di Palabuhanratu biasanya mengikuti musim timur ketika gelombang dan arus lebih tenang. Tampubolon (1990) in Ambarwati (2008) menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil tangkapan ikan di daerah Palabuhanratu, musim penangkapan ikan dapat digolongkan dalam tiga kelompok yaitu :
2. Musim sedang ikan (Maret-Mei dan Oktober-November) 3. Musim kurang ikan (Desember-Februari).
Namun berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan, cuaca tahun ini sedang tidak baik sehingga musim penangkapan pun menjadi tidak menentu. Hal ini pula yang diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya hasil tangkapan nelayan. Meskipun demikian, menurunnya frekuensi penangkapan merupakan hal yang baik bagi kelestarian stok ikan di perairan.
4.2.4. Produksi ikan layur di PPN Palabuhanratu
Berdasarkan data statistik PPN Palabuhanratu tahun 2005-2008, unit upaya tangkap layur baik perahu maupun alat tangkapnya mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari rata-rata 120 unit per bulan (2005) meningkat menjadi rata-rata 824 unit per bulan (2008). Produksi ikan layur yang dihasilkan rata-rata 13.775 kg per bulan (2005) dan 16.515 kg per bulan (2008). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa CPUE ikan layur menurun dari tahun ke tahun. Dari data statistik perikanan PPN Palabuhanratu juga diketahui bahwa perikanan layur yang meningkat pada tahun 2007 kembali mengalami penurunan pada tahun 2009 (Gambar 9).
Gambar 9. Total produksi ikan layur (kg) tahun 2005-2009
Hasil tangkapan ikan layur di PPN Palabuhanratu cenderung menurun seperti yang ditunjukkan gambar di atas. Dengan demikian, dapat diduga bahwa hasil tangkapan ikan layur untuk tahun 2010 juga akan menurun, terlebih lagi jika unit upaya tangkap yang ada mengalami penambahan terus menerus. Kecenderungan produksi bulanan juga menunjukkan pola yang sama. Produksi cenderung tinggi dari Februari- Maret kemudian turun sampai Desember. Pola tangkapan bulanan seperti ditampilkan pada Gambar 10. Dari pola yang ada, dapat disimpulkan bahwa hasil tangkapan ikan layur tinggi pada saat musim barat (di awal tahun).
188.993 222.642 246.691 203.203 103.230 0 50.000 100.000 150.000 200.000 250.000 300.000 2005 2006 2007 2008 2009 P rod u ksi (K g)
Hasil tangkapan per bulan dari tahun 2005-2009 di PPN Palabuhanratu (Gambar 10) cenderung mengalami penurunan, kecuali pada tahun 2006 yang menunjukkan trend peningkatan pada akhir tahunnya. Kecenderungan penurunan yang terjadi dapat disebabkan oleh kurangnya pengelolaan terhadap jumlah unit upaya tangkap yang dioperasikan berdasarkan waktu-waktu tertentu. Jika diketahui mengenai musim pemijahan ataupun musim rekruitmen, pihak pengelola PPN Palabuhanratu sebaiknya melakukan pengaturan jumlah unit upaya yang beroperasi pada waktu-waktu tersebut dengan tujuan untuk memberikan kesempatan bagi populasi ikan layur mengembalikan ketersediaan stoknya di perairan.
Seperti dapat dilihat bahwa produksi tinggi ditemukan pada permulaan tahun kemudian menurun pada bulan-bulan berikutnya. Sehingga kesempatan bagi populasi ikan layur berkurang untuk menjaga ketersediaan stoknya untuk menghasilkan rekruitmen di bulan-bulan berikutnya.
Gambar 10. Trend produksi tangkapan (kg) ikan layur per bulan di PPN Palabuhanratu
4.3. Sebaran Frekuensi Panjang Ikan Layur (T. lepturus)
Ikan layur yang diukur panjangnya selama penelitian berlangsung berjumlah 631 ekor. Pada Tabel 5 disajikan mengenai panjang minimum, maksimum, rata-rata, dan standar deviasi pada setiap pengambilan contoh, sedangkan sebaran frekuensi berdasarkan selang kelas panjangnya tersaji pada Gambar 11.
Berdasarkan penghitungan yang dilakukan, ukuran panjang ikan layur berukuran antara selang kelas 484 – 513 mm sampai 1174 – 1203 mm. Panjang minimum adalah 484 mm dan panjang maksimum 1175 mm. Menurut Claro (1994) in www.fishbase.org panjang total maksimum ikan layur (T. lepturus) yaitu 2340 mm, sedangkan umumnya memiliki panjang 1000 mm (Sanches JG 1991 in www.fishbase.org). Frekuensi tertinggi dari keseluruhan ikan berada pada selang kelas 844 – 873 mm yang menandakan bahwa ikan paling banyak tertangkap pada selang kelas panjang tersebut.Pergeseran modus kelas panjang ke arah kanan menunjukkan bahwa ikan layur di Perairan Palabuhanratu mengalami pertumbuhan.
Tabel 5. Panjang minimum, maksimum, rata-rata, dan standar deviasi pada setiap pengambilan contoh
Tekanan penangkapan ikan yang terjadi beberapa tahun ini mengakibatkan ikan layur harus mampu beradaptasi untuk mempertahankan hidupnya sekitar 95% pada tahun pertama untuk menjadi matang gonad (Ye & Rosenberg 1991 in Ambarwati 2008). Oleh karena itu, ukuran yang boleh ditangkap seharusnya adalah ukuran ikan yang lebih besar dari ukuran pertama kali matang gonad dan sudah pernah memijah sehingga ikan dapat menghasilkan keturunan untuk melestarikan populasinya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ambarwati (2008) tentang studi biologi reproduksi ikan layur di PPN Palabuhanratu, ukuran pertama kali matang gonad ikan layur (T.
lepturus) yaitu 725 untuk jantan dan 633 untuk betina.
Ikan layur ini memiliki kecenderungan mengalami growth overfishing. Hal tersebut disimpulkan dari adanya ikan-ikan kecil yang sudah mulai tertangkap. Ikan-ikan kecil tersebut belum memasuki fase matang gonad sehingga jika Ikan-ikan-Ikan-ikan tersebut banyak ditangkap maka akan mengurangi jumlah induk di perairan.
4.4. Pertumbuhan
Jumlah ikan yang diukur pada penelitian ini berjumlah 631 ekor yang terdiri atas beberapa kelompok ukuran. Hasil analisis pemisahan kelompok ukuran panjang yang
Pengambilan contoh ke- Panjang minimum (mm) Panjang maksimum (mm) Panjang rata-rata (mm) Standar deviasi Jumlah data 1 100 495 1145 783,24 128,48 5 116 617 998 779,70 88,40 3 100 642 1050 827,26 101,84 4 105 623 1045 825,30 94,10 2 105 490 1175 886,49 143,62 6 105 484 993 675,36 123,26
diukur selama penelitian dengan menggunakan metode NORMSEP disajikan pada Gambar 11.
Gambar 11. Kelompok ukuran panjang ikan layur (T. lepturus) selama penelitian Pada setiap penarikan contoh yang dilakukan selama penelitian, ikan layur yang diukur terdiri atas beberapa kelompok ukuran panjang yang berbeda. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 12, pada pengambilan contoh pertama, kedua, dan keempat terdapat dua kelompok ukuran panjang. Sedangkan pada penarikan contoh ketiga terdapat tiga kelompok ukuran. Penarikan contoh kelima dan keenam terdiri atas satu
kelompok ukuran panjang. Analisis pemisahan kelompok ukuran panjang dengan metode NORMSEP tersebut juga memberikan informasi mengenai jumlah populasi, nilai panjang rata-rata, standar deviasi, dan indeks separasi dari masing-masing kelompok ukuran. Berikut hasil analisis pemisahan kelompok ukuran berdasarkan nilai-nilai tersebut disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Sebaran kelompok ukuran panjang ikan layur (T. lepturus) Tanggal Kelompok Ukuran Nilai Tengah Jumlah contoh Indeks Sparasi 16 Maret 2010 1 597,74 ± 76,06 91 2 782,64 ± 42,24 19 3,13 30 Maret 2010 1 656,54 ± 59,74 42 2 845,48 ± 41,25 49 3,74 13 April 2010 1 2 758,19 ± 19,61 852,94 ± 18,55 41 30 4,97 3 992,61 ± 60,63 53 3,53 27 April 2010 1 768,50 ± 50,16 83 2 961,14 ± 23,38 18 5,24 04 Mei 2010 1 773,98 ± 76,77 98 18 Mei 2010 1 903,50 ± 72,02 80
Kisaran nilai tengah panjang total ikan layur yang diukur selama penelitian beserta standar deviasinya yaitu dari 597,74±76,06 mm sampai 903,50±72,02 mm. Penentuan kelompok ukuran dengan metode Bhattacharya harus memperhatikan nilai indeks separasi (separation index). Indek separasi (SI) didefinisikan sebagai kuantitas yang relevan terhadap studi bila dilakukan kemungkinan bagi suatu pemisahan yang berhasil dari dua komponen yang berdekatan (Sparre & Venema 1992). Nilai SI harus lebih besar atau sama dengan dua (Gayanilo et al. 1996 in Sulistiono et al. 2001). Perhitungan pemisahan kelompok ukuran menghasilkan indeks separasi lebih besar dari dua, yaitu berkisar antara 3,13 – 5,24. Dengan demikian, pada pemisahan kelompok ukuran tersebut tidak terjadi tumpang tindih (overlapping).
Untuk memperoleh pola rekruitmen dengan menggunakan aplikasi FiSAT dibutuhkan beberapa parameter pertumbuhan, diantaranya L∞, K, dan t0 (jika
tersedia). Parameter pertumbuhan tersebut didapatkan menurut model pertumbuhan Von Bertallanfy seperti tersaji pada Tabel 7 dan berikut persamaan yang diperoleh.
Tabel 7. Parameter pertumbuhan ikan layur (T. lepturus)
Parameter pertumbuhan Nilai
L∞ 1247,93
t0 -0,4886
Model pertumbuhan Von Bertallanfy :
Keterangan : Lt = panjang ikan saat umur tertentu/ umur ke-t (mm)
K = koefisien pertumbuhan t0 = umur awal ikan (tahun)
Parameter pertumbuhan diperoleh dengan menggunakan metode ELEFAN I pada FiSAT II. Panjang teoritis (L∞) ikan layur diketahui yaitu 1247,93 mm dengan koefisien pertumbuhan sebesar 0,31. Nilai koefisien yang besar mengindikasikan laju pertumbuhan yang cepat sehingga akan lebih cepat bagi ikan tersebut untuk mendekati panjang teoritis. Nilai t0 yang diperoleh secara empiris yaitu -0,4886. Dari
ketiga parameter pertumbuhan tersebut, dapat diketahui umur maksimum ikan sampai mendekati panjang teoritis (L∞) dengan memplotkan umur (bulan) pada sumbu x dan panjang teoritis (mm) pada sumbu y. Ikan layur akan mencapai umur 517 minggu pada saat mendekati L∞ dan ikan mengalami pertumbuhan minimum yaitu < 1 mm (Gambar 12).
Lamanya waktu yang dibutuhkan ikan layur mencapai L∞ menandakan bahwa ikan layur ini termasuk ikan berumur panjang (long life fish). Jika dihitung berdasarkan koefisien pertumbuhan yang diperoleh (0,31 per tahun), ikan layur membutuhkan waktu selama 2,5 – 3 tahun untuk mencapai ukuran matang gonadnya (725 mm untuk jantan dan 633 mm untuk betina; Ambarwati 2008). Hal tersebut mengakibatkan kecenderungan ikan layur mengalami overfishing lebih besar dibandingkan ikan berumur pendek. Ikan layur membutuhkan waktu yang relatif lama untuk regenerasi. Apabila upaya penangkapan terhadap ikan layur ini terus menerus dilakukan, maka akan membahayakan keberlanjutan sumberdaya ikan tersebut.
Adapun dari hasil penelitian Mustafa et al. (2000) dan Sharif (2009) terhadap ikan layur (Lepturacanthus savala) dihasilkan koefisien pertumbuhan yang bernilai lebih besar (Tabel 8). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ikan layur (Trichiurus lepturus) yang menjadi objek pada penelitian ini memiliki laju pertumbuhan yang lambat dibandingkan dengan laju pertumbuhan ikan layur pada kedua penelitian lainnya. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh perbedaan spesies yang memungkinkan terdapat perbedaan sifat biologis. Selain itu, hal tersebut juga mungkin menunjukkan kondisi lingkungan perairan yang kurang mendukung proses pertumbuhan, baik dilihat dari kondisi ketersediaan makanan, kualitas perairan, maupun kompetisi.
Gambar 12. Kurva pertumbuhan ikan layur (T. lepturus)
Tabel 8. Perbandingan parameter pertumbuhan ikan layur dengan penelitian lain
4.5. Fekunditas
Fekunditas menggambarkan kemampuan reproduksi ikan yang ditunjukkan dengan jumlah telur yang ada di dalam ovarium ikan betina (Bagenal 1978 in Effendie 1997). Fekunditas juga mampu menggambarkan besar kecilnya potensi reproduksi ikan tersebut. Nilai fekunditas yang diperoleh berkisar antara 10.523 – 78.620 butir dengan kisaran panjang total ikan dari 700 mm sampai 1175 mm. Dibandingkan dengan hasil penghitungan fekunditas penelitian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa potensi reproduksi ikan layur (T. lepturus) yang diamati di Teluk Palabuhanratu ini cukup tinggi.
Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Ambarwati (2008) di Teluk Palabuhanratu dan besarnya nilai fekunditas yang diperoleh untuk ikan layur (T.
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 440 460 480 500 Pa nj ang to ta l (m m ) Umur (minggu) 1247,93
Pustaka Spesies pertumbuhan Koefisien Panjang infinitif ( L∞ )
Mustafa et al. (2000)
Teluk Benggala Layur (Lepturacanthus savala) 0,8 1065 mm
Sharif (2009)
Teluk Palabuhanratu Layur (Lepturacanthus savala) 0,56 1348 mm
Hanum (2010)
lepturus) yaitu berkisar antara 2.877 – 16.875 butir dengan kisaran panjang total dari
630 mm sampai 991 mm. Sedangkan ikan layur (T. lepturus) yang berada di Kakinada, India, nilai fekunditasnya berkisar antara 2.380 – 27.320 butir dengan kisaran panjang total 420 – 770 mm (Narasimham 1988). Perbedaan nilai fekunditas ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang berbeda baik karena lokasi yang berbeda ataupun waktu pengamatan yang berbeda. Ukuran juga mempengaruhi fekunditas, ikan layur yang diamati pada penelitian ini berukuran lebih besar sehingga memiliki fekunditas yang lebih besar.
Tabel 9. Perbandingan fekunditas ikan layur dengan ikan lainnya
Pustaka Spesies Fekunditas (butir) total (mm) Panjang
Ambarwati (2008)
Teluk Palabuhanratu Ikan layur (Lepturacanthus savala) 4.399 – 15.261 592 - 927
Ambarwati (2008)
Teluk Palabuhanratu Ikan layur (Trichiurus lepturus) 2.877 – 16.875 630 - 991
Hanum (2010)
Teluk Palabuhanratu Ikan layur (Trichiurus lepturus) 10.523 – 78.620 700 - 1175
McEachran & Fechhlem
(2006) Snake mackerel (Gempylus serpens) 300.000 – 1.000.000 1000 (maks)
Tabel 9 memuat perbandingan nilai fekunditas ikan layur pada penelitian lain dan jenis ikan lain yang memiliki kemiripan. Jika dibandingkan dengan ikan layur sejenis, ikan layur yang dikaji pada penelitian ini memang memiliki potensi reproduksi yang tinggi. Namun jika dibandingkan dengan jenis lainnya yaitu Gempylus serpens (Superfamili Trichiuoridea), ikan layur memiliki potensi reproduksi yang rendah. Ikan parang-parang, sejenis ikan karnivor mirip layur, memiliki potensi yang tinggi dengan menghasilkan telur dalam jumlah besar (high fecundity species) (Laws 1997). Dengan demikian, ikan layur yang diamati dapat dikatakan memiliki potensi reproduksi yang relatif sedang.
Besarnya nilai fekunditas atau tingginya potensi reproduksi perikanan laut seringkali dianggap tidak beresiko tinggi terhadap recruitment overfishing. Namun anggapan tersebut dapat dikritisi terhadap teori dasar populasi dan konflik dengan bukti yang ada mengenai keterbatasan rekruitmen pada sejumlah populasi perikanan laut (Peterson 2002). Ketika ikan berada pada tahapan larva tingkat mortalitasnya relatif tinggi akibat kompetisi, adaptasi terhadap lingkungan, dan daya tahan tubuh ikan itu sendiri yang relatif masih lemah. Dengan demikian, terdapat banyak faktor
dalam maupun luar yang dapat mengganggu populasi ikan tersebut untuk dapat mencapai ukuran rekruit. Secara teknis di lapangan pun banyak faktor yang dapat menyebabkan recruitment overfishing terjadi meskipun nilai fekunditas suatu jenis ikan diketahui sangat tinggi. Faktor tersebut dapat berupa alat tangkap dan jumlah unit upaya tangkap yang dikerahkan.
Fekunditas lebih sering dihubungkan dengan panjang ikan dibandingkan dengan berat, karena pertumbuhan panjang tidak mengalami penyusutan seperti halnya berat. Berikut adalah grafik hubungan panjang total ikan layur (T. lepturus) dengan fekunditas (Gambar 13).
Gambar 13. Hubungan panjang total ikan layur (T. lepturus) dengan fekunditas
Hubungan panjang total ikan layur (T. lepturus) dengan fekunditas ditunjukkan juga oleh persamaan yang diperoleh yaitu F = 5E-07L3,615 dengan koefisien korelasi
sebesar 0,73. Berdasarkan nilai koefisien korelasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa hubungan kedua variabel positif dan kuat. Dengan kata lain, panjang total ikan berpengaruh terhadap nilai fekunditas, yaitu pertambahan panjang berkorelasi kuat dengan pertambahan telur.
4.6. Diameter Telur
Diameter telur ikan layur (T. lepturus) yang diukur berjumlah 1000 butir. Diameternya menyebar dari selang kelas 0,25 – 0,4 mm sampai selang kelas 1,85 – 2 mm. Frekuensi terbanyak berada pada selang kelas 0,89 – 1,04 mm. Sebaran diameter telur ini hanya memiliki satu modus yang membentuk satu puncak (Gambar 14). Hal tersebut mengartikan bahwa ikan layur (T. lepturus) yang diamati memiliki pola pemijahan total spawning, yaitu telur di dalam ovarium akan dikeluarkan seluruhnya pada satu kali memijah.
F = 5E-07L3,615 R² = 0,529 r = 0,73 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 80000 90000 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 Fek u n d it as (b u tir tel u r) Panjang Total (mm)
Gambar 14. Sebaran diameter telur ikan layur (T. lepturus)
Dibandingkan dengan penelitian (Ambarwati 2008) di Teluk Palabuhanratu, ikan layur T. lepturus dan Lepturacanthus savala tergolong kelompok ikan yang memijah secara parsial (partial spawning). Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh perbedaan waktu atau musim dan perbedaan jenis.
4.7. Rekruitmen 4.7.1. Ukuran rekruit
Ukuran rekruit diperoleh melalui analisis relative yield-per-recruit and
biomass-per-recruit (knife-edge selection) Beverton & Holt. Ukuran rekruit ikan layur (T. lepturus) yang dipresentasikan dalam panjang (mm) yaitu sebesar 624 mm. Ukuran
tersebut diperoleh dengan mengasumsikan length at first capture (Lc) sama dengan
ukuran rekruit sebagaimana definisi rekruitmen itu sendiri yaitu masuknya individu baru ke dalam stok dewasa yang dapat ditangkap.
Ukuran rekruit sebesar 624 mm dapat mengindikasikan bahwa kegiatan perikanan layur berpotensi menimbulkan dampak over-exploited. Dari sebaran ukuran panjang total ikan yang dikumpulkan selama penelitian, nilai minimum panjang total ikan layur yang tertangkap yaitu 484 mm dan terdapat ± 8% ikan layur tertangkap di bawah ukuran 624 mm. Hal tersebut menunjukkan bahwa ikan layur sudah mulai tertangkap di bawah ukuran rekruit, sehingga akan berdampak terhadap penurunan populasi ikan layur di masa mendatang, terutama jika pihak pengelola PPN Palabuhanratu dan nelayan penangkap ikan layur tidak melakukan tindakan pencegahan berupa penetapan ukuran alat tangkap yang ideal, pembatasan jumlah upaya penangkapan dan pengendalian musim penangkapan.
0 50 100 150 200 250 Fr ek u ens i ( b u tir) Selang Kelas (mm) n = 1000
4.7.2. Pola rekruitmen
Rekruitmen diartikan sebagai penambahan atau masuknya individu ke dalam area dimana penangkapan terjadi (Beverton & Holt 1957). Setelah diperoleh nilai parameter pertumbuhan yaitu L∞, K, dan t0, maka dapat diketahui dugaan pola
rekruitmen ikan layur (T. lepturus) selama satu tahun. Hasil analisis dugaan pola rekruitmen untuk ikan layur (T. lepturus) di PPN Palabuhanratu disajikan pada Gambar 15. Dari gambar tersebut, dapat dilihat bahwa pola rekruitmen ikan layur (T.
lepturus) di Perairan Teluk Palabuhanratu bersifat kontinu. Rekruitmen terjadi
sepanjang tahun dengan puncak rekruitmen terjadi satu kali yang ditandai dengan adanya satu modus pada grafik.
Puncak rekruitmen tahun ini diduga terjadi pada akhir bulan Mei 2010 tepatnya dengan adanya kenaikan persentase rekruitmen yang tajam dari 8,96% pada bulan April 2010 sampai 17,47%, lalu kembali mengalami penurunan pada bulan-bulan berikutnya. Penurunan persentase rekruitmen tersebut berlangsung sampai akhir tahun dengan persentase rekruitmen terendah terjadi pada bulan November sebesar 2,95%.
Gambar 15. Pola rekruitmen ikan layur (T. lepturus) dalam satu tahun
Nilai persentase rekruitmen tersebut dihubungkan dengan tren estimasi hasil tangkapan ikan layur (T. lepturus) tahun 2010 seperti yang ditampilkan pada Gambar 16. Rekruitmen yang menurun menunjukkan bahwa ikan layur mengalami pertumbuhan dan masuk ke dalam stok dewasa yang merupakan target penangkapan. Proses penambahan individu tersebut meningkatkan jumlah stok ikan layur di perairan sehingga jumlah tangkapan pun dapat meningkat. Dari persamaan regresi
yang dihasilkan, hubungan kedua variabel dikatakan erat dengan koefisien korelasi sebesar 0,61 dan diartikan bahwa rekruitmen dapat mempengaruhi hasil tangkapan (Gambar 17).
Gambar 16. Trend dugaan persentase rekruitmen dan hasil tangkapan ikan layur (T.
lepturus) di PPN Palabuhanratu 2010
Gambar 17. Hubungan persentase rekruitmen dan persentase hasil tangkapan Faktor- faktor yang mempengaruhi rekruitmen diantaranya ketersediaan stok dewasa, keberhasilan reproduksi (hatching rate), mortalitas prerekruitmen baik pada tahap larva maupun juvenil. Rekruitmen atau suplai baru adalah hasil reproduksi yang telah tersedia pada tahapan tertentu dari daur hidupnya dan telah mencapai ukuran tertentu sehingga dapat tertangkap dengan alat penangkapan yang digunakan dalam perikanan. Oleh karena itu, jelas bahwa adanya rekruit ini berasal dari sejumlah stok dewasa yang reproduktif, sehingga ketersediaan stok dewasa berhubungan dengan stok rekruitnya (Effendie 2002).
-5,00 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 Rekruitmen (%) Produksi (%) y = 30.88e-0.24x R² = 0.399 r = 0.63 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 P ro d u k si (% ) Rekruitmen (%) Musim timur Musim barat Musim barat
Namun ketersediaan stok dewasa atau spawning stock yang besar belum dapat memastikan potensi rekruitmen yang tinggi. Stok dewasa yang reproduktif tersebut harus memiliki hatching rate yang tinggi pula. Hatching rate menunjukkan keberhasilan telur untuk menetas menjadi larva. Kualitas telur dan kualitas lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi hatching rate sehingga kedua hal tersebut penting untuk diperhatikan agar keberlangsungan proses penambahan individu berjalan baik.
Mortalitas pada fase pre rekruitmen juga mempengaruhi potensi rekruitmen yang dihasilkan. Faktor alam dan cuaca seperti suhu ekstrim, angin kencang, dan
upwelling merupakan contoh penyebab mortalitas terutama pada fase pre rekruitmen
karena daya tahan tubuh ikan yang masih rendah. Kualitas lingkungan dan kelimpahan makanan juga dapat berakibat pada mortalitas pre rekruitmen. Kualitas lingkungan yang buruk akibat pencemaran dan kelimpahan makanan yang terbatas dapat meningkatkan mortalitas pada fase tersebut. Di samping itu, karena ikan layur bersifat kanibal, maka faktor predasi juga sangat berpengaruh terhadap mortalitas pre rekruitmen.
4.8. Implikasi Pengelolaan Sumberdaya Layur di Teluk Palabuhanratu
Dalam UU perikanan no.31/2004 dengan jelas telah didefinisikan bahwa pengelolaan perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumberdaya ikan dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundan-undangan di bidang perikanan yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumberdaya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati. Penelitian yang dilakukan mengenai sumberdaya layur ini merupakan salah satu langkah untuk memperoleh informasi melalui suatu analisis sehingga diharapkan dapat memberikan suatu kontribusi terhadap pengelolaan sumberdaya layur tersebut.
Kedua aspek yang dikaji, yaitu biologi reproduksi dan rekruitmen, mengacu kepada pertambahan individu ke dalam populasi atau stok. Oleh karena itu, kedua aspek ini perlu untuk diperhatikan. Kelangsungan dan keberhasilan kedua fase dalam daur hidup ikan ini sangat menentukan kelestarian populasi jenisnya. Potensi reproduksi ikan layur (Trichiurus lepturus) yang dikaji tergolong relatif sedang dibandingkan jenis lainnya. Potensi reproduksi digambarkan oleh besarnya fekunditas ikan. Fekunditas dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama ketersediaan makanan. Fekunditas bertambah sebagai respon terhadap perbaikan makanan melalui kematangan gonad yang lebih awal (Nikolsky 1969 in Effendie 1997). Dengan
demikian, kualitas lingkungan perlu diperhatikan agar potensi reproduksi ikan tidak terganggu. Kualitas lingkungan yang baik juga dapat berdampak positif terhadap kualitas telur yang dihasilkan dan hatching rate yang tinggi.
Selain itu diketahui pula bahwa ikan layur (T.lepturus) mengalami rekruitmen sepanjang tahun dengan ukuran rekruit sebesar 624 mm. Untuk mencapai ukuran tersebut, tentunya ikan layur membutuhkan waktu. Dengan koefisien pertumbuhan sebesar 0,31 per tahun, maka ikan layur (T. lepturus) membutuhkan waktu selama 2 – 2,5 tahun untuk mencapai ukuran rekruitnya. Dalam rentang waktu tersebut, ikan layur mengalami fase larva dan juvenil yang diketahui memiliki kecenderungan terhadap mortalitas yang tinggi, baik karena faktor kepadatan, kompetisi atau predasi. Larva dan juvenil biasanya ditemukan di daerah pesisir pantai. Sehingga salah satu langkah pengelolaan yang dapat dilakukan adalah penangkapan dilakukan di perairan yang lebih dalam.
Ikan layur (T. lepturus) juga melakukan migrasi vertikal harian. Ikan layur dewasa dan juvenilnya memiliki migrasi vertikal harian yang berlawanan. Ikan layur dewasa yang berukuran besar biasanya mencari makan ke dekat permukaan pada siang hari dan bermigrasi ke dasar perairan pada malam hari. Juvenil dan ikan layur dewasa berukuran kecil membentuk gerombolan pada kedalaman 100 meter di atas dasar perairan pada siang hari dan menyebar ke permukaan pada malam hari untuk mencari makan. Berkenaan dengan hal tersebut, maka langkah pengelolaan yang dapat dilakukan adalah dengan memasang alat pancing lebih dalam karena penangkapan ikan layur di Palabuhanratu biasa dilakukan pada malam hari. Dengan demikian, langkah tersebut dapat mengurangi kemungkinan dan mencegah ikan layur juvenil tertangkap.
Alternatif pengelolaan lainnya yaitu berkenaan dengan ukuran mata pancing. Meskipun dilihat dari morfologi ikan layur yang bermulut besar sehingga ukuran mata pancing tidak terlalu berpengaruh. Namun demikian, Menurut Rahmat (1998) in Wewengkang (2002), ikan layur mempunyai kecenderungan tertangkap pada salah satu ukuran mata pancing saja. Penelitian yang dilakukannya menggunakan mata pancing 8, 9, dan 10. Ternyata mata pancing nomor 8 menunjukkan hasil tangkapan tertinggi baik dalam berat maupun dalam ekor. Oleh karena itu, pengaturan ukuran mata pancing tetap perlu dilakukan. Ukuran rekruit ikan layur (T. lepturus) diketahui sebesar 624 mm berdasarkan penelitian ini, sedangkan ukuran matang gonad ikan layur (T. lepturus) yaitu 725 untuk jantan dan 633 untuk betina (Ambarwati 2008). Sebaiknya ikan ditangkap setelah melewati ukuran matang gonad. Sehingga diperlukan pengaturan ukuran mata pancing yang menangkap ikan layur lebih besar
dari ukuran matang gonadnya. Berdasarkan wawancara dengan nelayan setempat, mata pancing yang digunakan sekarang adalah ukuran 10. Jika tidak dilakukan pengaturan terhadap ukuran mata pancing tersebut, maka ikan layur yang belum matang gonad akan semakin banyak tertangkap dan berdampak kepada penurunan populasi.
Langkah pengelolaan yang perlu dilakukan selanjutnya adalah pembatasan upaya penangkapan terhadap ikan layur. Berdasarkan data statistik PPN Palabuhanratu 2009, penurunan produksi hasil tangkapan ikan layur disebabkan adanya peningkatan upaya tangkap. Selain itu dapat juga dilakukan pembukaan fishing ground lain jika memungkinkan. Tentunya langkah tersebut membutuhkan pengkajian mengenai pergerakan ikan layur di Teluk Palabuhanratu khususnya dan Samudera Hindia umumnya. Langkah ini ditujukan untuk mencegah terjadinya over exploitation. Jika hanya satu atau dua lokasi penangkapan dan penangkapan dilakukan terus menerus, maka sumberdaya ikan layur di daerah tersebut akan mengalami over
exploitation.
Penangkapan ikan layur sebaiknya juga memperhatikan musim pemijahan dan rekruitmen. Pada musim-musim tersebut penangkapan perlu dikurangi intensitasnya sehingga kedua proses tersebut dapat berlangsung dengan baik. Berdasarkan penelitian Ambarwati (2008), ikan layur (T. lepturus) diduga memijah pada bulan Juli sampai November. Sedangkan berdasarkan penelitian ini diketahui rekruitmen terjadi sepanjang tahun dengan puncaknya pada bulan Mei. Dengan demikian, pada bulan-bulan tersebut intensitas dan jumlah penangkapan perlu dibatasi dan penangkapan dapat dioptimalkan sepanjang bulan Desember hingga April.