• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Desain Interior Museum Tapis Lampung di Kota Bandar Lampung dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Desain Interior Museum Tapis Lampung di Kota Bandar Lampung dengan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 1

BAB I

PENDAHULUAN

JUDUL PROYEK

Desain Interior Museum Tapis Lampung di Kota Bandar Lampung dengan Pendekatan Sai Bumi Ruwa Jurai.

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Tapis Lampung, kain tenun khas Lampung memang tak setenar Batik ataupun Songket. Tapis berupa sarung yang biasa dikenakan pada acara adat seperti acara resepsi pernikahan di Lampung. Penggunaannya saat ini masih jarang membuat eksistensi kain tradisional khas Lampung ini seolah redup di kancah perindustrian tekstil tradisi Indonesia. Padahal, keindahan sulaman dan motif yang terlukis pada tapis mengandung nilai estetika, nilai filosofis, dan nilai ekonomis tinggi menjadikannya benda tradisional yang potensial bila dikembangkan.

Gambar 1.1 Tapis Lampung

Sumber: http://www.wisatatiga.com/2014/11/keragaman-tapis- lampung.html

▸ Baca selengkapnya: laporan kunjungan museum lampung

(2)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 2 Mirisnya lagi, kini Tapis justru dipuja-puja oleh kolektor mancanegara. Roslina Daan berkunjung ke Jepang untuk memamerkan tapis Lampung, November 2012 lalu. Roslina yang menjadi Ketua Himpunan Perajin sangat terkejut saat menemukan ada orang Jepang yang mengoleksi hingga lebih dari 100 tapis.

Bahkan, banyak motif kain yang tidak lagi ditemukan di Lampung, sebagai asal kain tenun ini. (Lampung Post, edisi Minggu, 27 Januari 2013, Lampung). Jenis Tapis Lampung yang mencapai 200-an jenis kini hanya tinggal 50-an jenis saja, sedang sisanya dikoleksi oleh kolektor asing. (Aan Ibrahim dalam Lampung Post, edisi Minggu, 27 Januari 2013)

Pembuatan tapis Lampung membutuhkan proses yang rumit dan waktu yang panjang menjadi faktor penyebab membuat industri Tapis sulit berkembang dan dikenal secara global. Selain itu sebagian besar Tapis kuno yang dikoleksi oleh kolektor asing disebabkan nilai jual Tapis yang tinggi sehingga pada masa itu banyak yang diperjualbelikan dengan pedagang asing dan hingga kini justru menyebar di berbagai negara.

Untuk melestarikan berbagai koleksi tapis, sudah seharusnya pemerintah membangun suatu museum guna mewadahi kegiatan tersebut. Keberadaan museum Tapis itu tidak hanya sebagai tempat untuk memamerkan Tapis saja tetapi juga sebagai tempat memperkenalkan cara pembuatan Tapis. Menurut Raswan, “Di museum itu nantinya banyak menyimpan semua koleksi Tapis kuno dengan berbagai motif. Pengunjung bisa melihat perkembangan jenis Tapis dari jaman nenek moyang hingga ke era modern. Selain itu, bisa ditampilkan juga ada cara membuat Tapis. Museum Tapis bisa menjadi objek wisata yang menarik di mana orang lokal dan asing bisa melihat dan langsung belajar

(3)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 3 membuat Tapis.” (Lampung Post, edisi Minggu, 27 Januari 2013, Lampung).

Peran pemerintah dan orang-orang yang peduli pada keberadaan budaya lokal sangat dibutuhkan dalam mewujudkan pembangunan museum Tapis.

Bertolak dari berbagai faktor itulah penulis ingin merancang desain interior Museum Tapis Lampung yang kelak akan dibutuhkan. Konsep museum ini adalah sebagai tempat menyimpan, merawat, melestarikan sekaligus sarana pendidikan masyarakat yang edukatif dan rekreatif tentang berbagai jenis Tapis Lampung yang hingga kini masih ada. Mengingat sebagian dari jenis Tapis Lampung saat ini dikoleksi oleh kolektor asing, maka koleksi museum tentu akan sangat sedikit dan minim sehingga pembuatan Tapis juga dapat dilakukan di museum ini.. Museum Tapis ini dirancang dengan dengan konsep Sai Bumi Ruwa Jurai untuk memperkenalkan budaya Lampung sekaligus menjadi roh dalam tapis itu sendiri.

B. RUANG LINGKUP PERMASALAHAN

Pada proyek perancangan ini, masalah akan dibatasi agar dalam pembuatan proyek terarah dan tidak menyimpang dari pokok permasalahan dan untuk menghindari meluasnya permasalahan. Berdasarkan pada latar belakang, permasalahan dititik beratkan atau dibatasi pada perancangan interior museum Tapis Lampung pada lahan bangunan 1 lantai seluas 800-1500 m2 (terdiri dari introduction, area resepsionis dan ticketing, ruang pamer tetap, ruang pamer temporer, historical area, ruang audiovisual, dan ruang kontemplasi) yang edukatif, informatif, rekreatif, dan atraktif dengan konsep Sai Bumi Ruwa Jurai.

(4)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 4 C. RUMUSAN MASALAH PERANCANGAN

1. Bagaimana merancang interior museum Tapis Lampung yang edukatif dan informatif sehingga pengunjung dapat memahami informasi tentang koleksi Tapis dengan mudah dan efektif?

2. Bagaimana merancang interior museum Tapis Lampung yang rekreatif dan atraktif sehingga pengunjung dapat merasa rileks dan ceria di dalam museum?

3. Bagaimana merancang interior museum Tapis Lampung dengan konsep Sai Bumi Ruwa Jurai?

D. TUJUAN PERANCANGAN

1. Merancang interior museum Tapis Lampung yang edukatif dan informatif sehingga pengunjung dapat memahami informasi dengan mudah dan efektif.

2. Merancang interior museum Tapis Lampung yang rekreatif dan atraktif sehingga pengunjung dapat merasa rileks, dan ceria di dalam museum.

3. Merancang interior museum Tapis Lampung dengan konsep Sai Bumi Ruwa Jurai.

E. MANFAAT PERANCANGAN 1. Bagi Calon Desainer

(5)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 5 Menambah ilmu dan memperluas pengalaman dalam mendesain interior Museum Tapis Lampung sehingga memperkaya kemampuan dan keahlian untuk selanjutnya dapat diaplikasikan dalam dunia kerja.

2. Bagi Masyarakat

Sebagai sebuah tempat pelestarian budaya tradisional masyarakat khususnya masyarakat Lampung sekaligus sarana penambah wawasan yang edukatif, informatif, rekreatif, dan atraktif.

3. Bagi Ilmu Pengetahuan

Dapat menjadi salah satu referensi atau literatur yang bermanfaat dalam dunia ilmu pengetahuan.

4. Bagi Akademisi

Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan proyek bagi mahasiswa serta sebagai bentuk wacana dari perkembangan desain terutama desain interior.

F. SISTEMATIKA PENULISAN BAB I : PENDAHULUAN

Bab 1 berisi latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan desain, manfaat desain, metode desain, dan sistematika penulisan untuk menjelaskan urutan proses penulisan laporan ini.

BAB II : KAJIAN LITERATUR

(6)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 6 Bab 2 ini berisi kajian teori yang digunakan untuk menambah literatur yang relevan dan pendekatan desain yang akan digunakan sebagai acuan pendekatan desain.

BAB III : KAJIAN LAPANGAN

Bab 3 ini berisi tentang tinjauan umum dan tinjauan khusus berupa pembahasan terkait objek yang telah ada dalam proyek yang direncanakan.

BAB IV : ANALISA DESAIN

Bab 4 berisi pemecahan masalah dan penerapan konsep/pendekatan desain terhadap proyek yang direncanakan.

G. METODE PERANCANGAN

LATAR BELAKANG MASALAH

Merupakan alasan mengapa desainer memilih Museum Tapis Lampung sebagai objek yang dirancang, yaitu semakin menipisnya jumlah koleksi Tapis kuno yang masih ada di Lampung, alih-alih diperjualbelikan dengan kolektor asing karena daya jualnya yang cukup mahal.

BATASAN MASALAH

Merupakan pembatasanluasan ruang yang akan dirancang beserta ruang lingkup perancangan apa saja yang terdapat di dalam Museum Tapis Lampung.

RUMUSAN MASALAH

Masalah-masalah yang akan dipecahkan dalam perancangan Museum Tapis Lampung.

(7)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 7 TUJUAN

Hasil yang ingin dicapai daripemecahan masalah yang telah disebutkan pada pokok rumusan masalah.

MANFAAT

Merupakan manfaat yang didapat dari perancangan Museum Tapis Lampung ini bagi beberapa pihak yaitu bagi desainer, masyarakat, akademisi dan ilmu pengetahuan.

SURVAI

Metode pengumpulan data dengan cara meninjau objek terkait yang sejenis, yaitu museum.

OBSERVASI

Metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap fenomena yang terjadi,yaitu

pengamatan terhadap aktivitas di museum.

INTERVIEW

Metode pengumpulan data dengan wawancara dengan pihak terkait, yaitu pengelola museum

DOKUMENTASI

Metode pengumpulan data dengan menyimpan data melalui beberapa media seperti kamera, rekaman, dsb. sebagai bukti fisik.

PENGUMPULAN DATA

Suatu langkah yang digunakan untuk mengumpukan data guna mendukung literatur terkait proyek museum yang akan dirancang, terdiri dari beberapa cara.

PRA DESAIN (ALTERNATIF 1, ALTERNATIF 2, ALTERNATIF 3)

Merupakan beberapa alternatif dari konsep yang akan digunakan dalam perancangan untuk menyelesaikan masalah.

(8)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 8 PROGRAMMING

Standar-standar dan kebutuhan user/pengguna yang harus dipenuhi, seperti masalah sistem pelayanan, aktivitas, spesifikasi pengguna, interior system, dan sebagainya.

DESAIN TERPILIH

Konsep yang disepakati untuk dijadikan pemecahan masalah dalam perancangan Museum Tapis Lampung.

IDE GAGASAN

Suatu gagasan yang digunakan sebagai pemecahan masalah dalam perancangan, dapat berupa ide tentang fasilitas, sirkulasi, dan bentuk elemen, yang terkait dengan pemilihan tema. Ide gagasan yang dipilih adalah menyatukan dua karakteristik dari klan/suku adat melalui perpaduan motif yang dominan pada Tapis Lampung.

Sedangkan pada fungsi museum itu sendiri untuk menyajikan informasi yang atraktif dan interaktif melalui media interaktif dan replica alat tenun yang melibatkan partisipasi pengunjung

TEMA

Suatu hal yang membentuk suasana dalam ruangan, terkait dengan latar belakang perancangan. Pada museum Tapis ini, tema yang dipilih adalah akulturasi.

PERANCANGAN

Proses perancangan desain yang mengacu pada pemecahan masalah dengan konsep yang terpilih.

(9)

TUGAS AKHIR | YUNI FERIDA | C0812044| 9 Bagan 1.1 Bagan pola pikir perancangan

FINAL DESAIN

Hasil akhir dari perancangan yang akan dipertanggungjawabkan terhadap latar belakang permasalahan

Referensi

Dokumen terkait

Yogyakarta sesuai dengan konsep kearifan lokal, (3) Merancang interior museum yang menampilkan unsur informasi, edukasi, dan rekreasi didalamnya. Dari analisa diatas maka dapat

Digunakan sebagai pilihan penutup dinding interior maupun eksterior pada bangunan Museum Wayang di Kota Surakarta pada lantai 2, dan ditunjukan dengan gambar 4.9

Kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas merupakan masalah yang dihadapi daerah perkotaan, baik kota besar maupun kota berkembang tidak terkecuali Kota Bandar

Permasalahan yang akan dibahas dalam Desain Interior Museum Budaya Sasak di Mataram, Lombok – Nusa Tenggara Barat ini, yaitu (1) Bagaimana merancang

Sesuatu yang tidak ada minat pada masyarakat untuk mempelajari tentang teh sangat besar, walaupun jumlah museum di Indonesia cukup banyak tetapi karena belum adanya museum

Ruang lingkup pada rumah sakit ibu dan anak dengan batasan kebidanan adalah dengan merancang interior main entrance/ lobby rumah sakit, ruang tunggu pasien dan ruang

Sedangkan untuk data angkutan umum yang digunakan dalam penelitian ini hanya dibatasi pada angkutan bis DAMRI, yang bersumber dari Dinas Perhubungan Kota Bandar

Pembangunan pola transportasi massal yaitu Bus Trans Bandar Lampung, merupakan prakasa Pemerintah Kota Bandar Lampung Drs. Herman HN, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandar Lampung